Anda di halaman 1dari 33

Gunung Toba

Bukti ilmiah
Pada tahun 1939, geolog Belanda Van Bemmelen melaporkan, Danau Toba, yang panjangnya
100 kilometer dan lebarnya 30 kilometer, dikelilingi oleh batu apung peninggalan dari letusan
gunung. Karena itu, Van Bemmelen menyimpulkan, Toba adalah sebuah gunung berapi.

Belakangan, beberapa peneliti lain menemukan debu riolit (rhyolite) yang seusia dengan batuan
Toba di Malaysia, bahkan juga sejauh 3.000 kilometer ke utara hingga India Tengah.
Beberapa ahli kelautan pun melaporkan telah menemukan jejak-jejak batuan Toba di Samudra
Hindia dan Teluk Benggala. Para peneliti awal, Van Bemmelen juga Aldiss dan Ghazali (1984)
telah menduga Toba tercipta lewat sebuah letusan mahadahsyat. Namun peneliti lain, Vestappen
(1961), Yokoyama dan Hehanusa (1981), serta Nishimura (1984), menduga kaldera itu tercipta
lewat beberapa kali letusan. Peneliti lebih baru, Knight dan sejawatnya (1986) serta Chesner dan
Rose (1991), memberikan perkiraan lebih detail: kaldera Toba tercipta lewat tiga letusan raksasa.
Penelitian seputar Toba belum berakhir hingga kini. Jadi, masih banyak misteri di balik raksasa
yang sedang tidur itu. Salah satu peneliti Toba angkatan terbaru itu adalah Fauzi dari Indonesia,
seismolog pada Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. Sarjana fisika dari Universitas
Indonesia lulusan 1985 ini berhasil meraih gelar doktor dari Renssealer Polytechnic Institute,
New York, pada 1998, untuk penelitiannya mengenai Toba.

Berada di tiga lempeng tektonik


Letak Gunung Toba (kini: Danau Toba), di Indonesia memang rawan bencana. Hal ini terkait
dengan posisi Indonesia yang terletak di pertemuan tiga lempeng tektonik, yakni Eurasia, IndoAustralia dan Lempeng Pasifik. Sebanyak 80% dari wilayah Indonesia, terletak di lempeng
Eurasia, yang meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Banda.
Lempeng benua ini hidup, setiap tahunnya mereka bergeser atau menumbuk lempeng lainnya
dengan jarak tertentu. Lempeng Eurasia yang merupakan lempeng benua selalu jadi sasaran.
Lempeng Indo-Australia misalnya menumbuk lempeng Eurasia sejauh 7 cm per tahun. Atau
Lempeng Pasifik yang bergeser secara relatif terhadap lempeng Eurasia sejauh 11 cm per tahun.
Dari pergeseran itu, muncullah rangkaian gunung, termasuk gunung berapi Toba.
Jika ada tumbukan, lempeng lautan yang mengandung lapisan sedimen menyusup di bawahnya
lempeng benua. Proses ini lantas dinamakan subduksi atau penyusupan.
Gunung hasil subduksi, salah satunya Gunung Toba. Meski sekarang tak lagi berbentuk gunung,
sisa-sisa kedasahyatan letusannya masih tampak hingga saat ini. Danau Toba merupakan kaldera
yang terbentuk akibat meletusnya Gunung Toba sekitar tiga kali yang pertama 840 ribu tahun
lalu dan yang terakhir 74.000 tahun lalu. Bagian yang terlempar akibat letusan itu mencapai luas
100 km x 30 km persegi. Daerah yang tersisa kemudian membentuk kaldera. Di tengahnya
kemudian muncul Pulau Samosir.

Letusan
Sebelumnya Gunung Toba pernah meletus tiga kali.

Letusan pertama terjadi sekitar 800 ribu tahun lalu. Letusan ini menghasilkan
kaldera di selatan Danau Toba, meliputi daerah Prapat dan Porsea.

Letusan kedua yang memiliki kekuatan lebih kecil, terjadi 500 ribu tahun lalu.
Letusan ini membentuk kaldera di utara Danau Toba. Tepatnya di daerah
antara Silalahi dengan Haranggaol. Dari dua letusan ini, letusan ketigalah
yang paling dashyat.

Letusan ketiga 74.000 tahun lalu menghasilkan kaldera, dan menjadi Danau
Toba sekarang dengan Pulau Samosir di tengahnya.

Gunung Toba ini tergolong Supervolcano. Hal ini dikarenakan Gunung Toba memiliki kantong
magma yang besar yang jika meletus kalderanya besar sekali. Volcano biasa rata-rata kalderanya
ratusan meter, sedangkan Supervolcano dapat mencapai puluhan kilometer.
Yang menarik adalah terjadinya anomali gravitasi di Toba. Menurut hukum gravitasi, antara satu
tempat dengan lainnya akan memiliki gaya tarik bumi sama bila mempunyai massa, ketinggian
dan kerelatifan yang sama. Jika ada materi yang lain berada di situ dengan massa berbeda, maka
gaya tariknya berbeda. Bayangkan gunung meletus. Banyak materi yang keluar, artinya
kehilangan massa dan gaya tariknya berkurang. Lalu yang terjadi up-lifting (pengangkatan).
Inilah yang menyebabkan munculnya Pulau Samosir.
Magma yang di bawah itu terus mendesak ke atas, pelan-pelan. Dia sudah tidak punya daya
untuk meletus. Gerakan ini berusaha untuk menyesuaikan ke normal gravitasi. Ini terjadi dalam
kurun waktu ribuan tahun. Hanya Samosir yang terangkat karena daerah itu yang terlemah.
Sementara daerah lainnya merupakan dinding kaldera.

Saat Toba Meletus, Malapetaka Melanda Bumi

Dampak letusan Toba tak sebatas luncuran awan panas dan


timbunan abu yang mematikan. Letusan itu menimbulkan
perubahan (kekacauan) iklim.

Ima Lolaita/FK

Di balik permai Danau Toba yang menghampar di Sumatera Utara, sebuah daya rusak
mahadahsyat tersembunyi di dalamnya. Terakhir, sekitar 74.000 tahun lampau, Gunung Toba
meletus hebat dan nyaris menamatkan umat manusia.
Letusan yang dikenal sebagai Youngest Toba Tuff (YTT) itu adalah terdahsyat dan membentuk
danau (kaldera) seperti sekarang. Melepaskan sedikitnya 2.800 kilometer kubik magma ke udara,
letusan YTT menjadi yang terbesar di Bumi dalam dua juta tahun terakhir.
Dampak letusan Toba tidak sebatas pada luncuran awan panas dan timbunan abu yang
mematikan. Bencana terbesar dan berskala global dari letusan Toba adalah perubahan iklim.
Rekaman tentang petaka Toba itu awalnya terbaca pada lapisan es beku di sudut Bumi. Pada
awal 1990-an, Gregory A. Zielinski, geolog dari University of Massachusetts, menemukan
lapisan asam belerang sebanyak 2-4 megaton dalam inti es di Greenland. Zielinski ahli dalam

menemukan rahasia yang terkubur di dalam lapisan es kuno.


Dengan menganalisis komposisi lapisan inti es yang terbentuk tiap tahun, dia menemukan
perubahan kimia terkecil yang bisa menjelaskan kondisi iklim dan besaran suhu. Temuan itu
sangat mengejutkan.
Volume asam belerang tersebut setara 25 kali tingkat polusi yang disebabkan seluruh industri
dunia saat ini. Lalu setelah menganalisis usia lapisan, dia menemukan, timbunan asam belerang
itu terbentuk dalam kurun waktu enam tahun pada periode 71.000-75.000 tahun lampau!
Dalam tulisannya di Geophysical Research Letter (1996), Zielinski memperkirakan, bahwa saat
itu seluruh Bumi diselimuti lapisan kuning beracundari asam belerangyang kemudian luruh
dan sebagian terendapkan di Greenland. Peluruhan itu berlangsung selama enam tahun.
Di sudut lain Bumi, Michael Rampino, geolog New York University, mengebor dasar laut untuk
melacak iklim pada masa lalu. Dengan menganalisis dua isotop oksigen (Oksigen-16 dan
Oksigen-18) yzng terdapat dalam cangkang mini yang disebut foraminifera, dia bisa mengetahui
suhu lautan pada masa lalu.
Rampino tersentak kaget saat mengetahui pada suatu masa suhu lautan tiba-tiba turun drastis,
hingga 5 derajat celcius. Dan perubahan itu terjadi tiba-tiba.
"Sistem iklim global seperti diputar tombolnya, tiba-tiba, dari panas menjadi dingin," katanya.
Rampino kemudian melacak kurun peristiwa itu terjadi. Dia menemukan penanda waktu yang
nyaris sama dengan saat hujan asam belerang di Greenland yang ditemukan Zielinski.
Dua peneliti independen, menggunakan metode berbeda, dipertemukan oleh temuan serupa.
Sesuatu yang luar biasa terjadi. Ada apa dengan Bumi pada kurun waktu itu?
Sementara Zielinski dan Rampino masih diliputi teka-teki, John Westgate, ahli dari University of
Toronto, sudah menemukan abu vulkanik berusia 74.000 tahun. Bertahun-tahun lamanya
Westgate bekerja layaknya detektif gunung api, melacak sumber abu vulkanik dari berbagai
belahan dunia.
Tahun 1994, dia mendapat sampel abu yaang dikirimkan seorang kolega, Craig Chesner, dari
sekitar Danau Toba dan... eureka! Setelah bertahun pencarian, penyebab kekacauan iklim di
masa lalu itu akhirnya ditemukan. Gunung itu mengirimkan abunya nyaris ke seantero Bumi,
menimbulkan partikel asam belerang di inti es, serta mendinginkan samudra.
Saat Toba meletus, jutaan ton asam sulfat dilepaskan ke stratosfer sehingga menciptakan
kegelapan total selama enam tahun dan suhu beku sedikitnya 1.000 tahun, lalu diikuti cuaca

dingin ribuan tahun. Fotosintesis melambat, bahkan hampir mustahil terjadi, menghancurkan
sumber pakan manusia dan hewan. Vulkanolog mengadopsi istilah humongous untuk letusan
Toba guna menggambarkan bencana global yang nyaris memunashkan spesies manusia di Bumi
ini.
Walaupun para ahli masih belum bersepakat dengan skala besaran letusannya, semua sepakat:
kehidupan manusia tak lagi mudah setelah Toba meletus.
Namun merekonstruksi kehidupan manusia setelah YTT bukanlah pekerjaan mudah. Jejak
arkeologis sangat terbatas, ditelan Bumi yang terus berubah.
(Ahmad Arif/Kompas. "Hidup Mati di Negeri Cincin Api", pada Bab Letusan-Letusan yang
Mengubah Dunia)

Seluk dan Beluknya Gunungapi


Sudah sering kita mendengar dan melihat bagaimana gunungapi beraksi. Namun
ada baiknya juga dongengan tentang seluk dan beluknya gunungapi dibawah ini
dibaca-baci. Artikel dari VSI (Vulkanological Survey of Indonesia) ini cukup lengkap
menjelaskan bagaimana terbentuknya, asal usul serta jenis-jenisnya.

Selain keindahan dan kemegahannya, gunung api menimpan berbagai cerita ilmiah maupun non
ilmiah bin klenik yang selalu menarik. Yang dibawah ini cerita ilmiahnya gunungapi.
Apa sih gunungapi itu ?

Gunungapi adalah lubang kepundan atau rekahan dalam kerak bumi tempat keluarnya cairan
magma atau gas atau cairan lainnya ke permukaan bumi. Matrial yang dierupsikan kepermukaan
bumi umumnya membentuk kerucut terpancung.
Gunungapi diklasifikasikan ke dalam dua sumber erupsi, yaitu (1) erupsi pusat, erupsi keluar
melalui kawah utama; dan (2) erupsi samping, erupsi keluar dari lereng tubuhnya; (3) erupsi
celah, erupsi yang muncul pada retakan/sesar dapat memanjang sampai beberapa kilometer; (4)
erupsi eksentrik, erupsi samping tetapi magma yang keluar bukan dari kepundan pusat yang
menyimpang ke samping melainkan langsung dari dapur magma melalui kepundan tersendiri.
Looh apakah setiap gundukan
besar itu akibat gunungapi ?
Thole gundukan atau
pegunungan juga dapat dibentuk
oleh aktifitas tektonik atau pengangkatan. Coba baca lagi tulisan bagaimana Pulau Jawa di
dongkrak disini
Berdasarkan tinggi rendahnya derajat fragmentasi dan luasnya, juga kuat lemahnya letusan serta
tinggi tiang asap, maka gunungapi dibagi menjadi beberapa tipe erupsi:
1. Tipe Hawaiian,yaitu erupsi eksplosif dari magma basaltic atau mendekati
basalt, umumnya berupa semburanlava pijar, dan sering diikuti leleran lava
secara simultan, terjadi pada celah atau kepundan sederhana;
2. Tipe Strombolian, erupsinya hampir sama dengan Hawaiian berupa
semburan lava pijar dari magma yang dangkal, umumnya terjadi pada
gunungapi sering aktif di tepi benua atau di tengah benua;
3. Tipe Plinian, merupakan erupsi yang sangat ekslposif dari magma
berviskositas tinggi atau magma asam, komposisi magma bersifat andesitik

sampai riolitik. Material yang dierupsikan berupa batuapung dalam jumlah


besar;
4. Tipe Sub Plinian, erupsi eksplosif dari magma asam/riolitik dari gunungapi
strato, tahap erupsi efusifnya menghasilkankubah lava riolitik. Erupsi
subplinian dapat menghasilkan pembentukan ignimbrit;
5. TipeUltra Plinian, erupsi sangat eksplosif menghasilkan endapan
batuapung lebih banyak dan luas dari Plinian biasa;
6. Tipe Vulkanian, erupsi magmatis berkomposisi andesit basaltic
sampaidasit, umumnya melontarkan bom-bom vulkanik atau bongkahan di
sekitar kawah dan seringdisertai bom kerak-roti atau permukaannya retakretak. Material yang dierupsikan tidak melulu berasal dari magma tetapi
bercampur dengan batuan samping berupa litik;
7. Tipe Surtseyan dan Tipe Freatoplinian, kedua tipe tersebut merupakan
erupsi yang terjadi pada pulau gunungapi, gunungapi bawah laut atau
gunungapi yang berdanau kawah. Surtseyan merupakan erupsi interaksi
antara magma basaltic dengan air permukaan atau bawah permukaan,
letusannya disebut freatomagmatik. Freatoplinian kejadiannya sama dengan
Surtseyan, tetapi magma yang berinteraksi dengan air berkomposisi riolitik.

Tipe Letusan Gunungapi

Bentuk dan bentang alam gunungapi, terdiri atas : bentuk kerucut, dibentuk oleh endapan
piroklastik atau lava atau keduanya; bentuk kubah, dibentuk oleh terobosan lava di
kawah,membentuk seperti kubah; kerucut sinder, dibentuk oleh perlapisan material sinder atau

skoria; maar, biasanya terbentuk pada lereng atau kaki gunungapi utama akibat letusan freatik
ataufreatomagmatik; plateau, dataran tinggi yang dibentuk oleh pelamparan leleran lava.

Penampang suatu gunungapi dan bagian-bagiannya. (Diedit dan modifikasi dari Krafft, 1989)
Struktur gunungapi, terdiri atas : (1) struktur kawah adalah bentuk morfologi negatif atau
depresi akibat kegiatan suatu gunungapi, bentuknya relatif bundar; (2) kaldera,
bentukmorfologinya seperti kawah tetapi garis tengahnya lebih dari 2 km. Kaldera terdiri atas :
kalderaletusan, terjadi akibat letusan besar yang melontarkan sebagian besar tubuhnya; kaldera
runtuhan, terjadi karena runtuhnya sebagian tubuh gunungapi akibat pengeluaran material
yangsangat banyak dari dapur magma; kaldera resurgent, terjadi akibat runtuhnya sebagian tubuh
gunungapi diikuti dengan runtuhnya blok bagian tengah; kaldera erosi, terjadi akibat erosi
terusmenerus pada dinding kawah sehingga melebar menjadi kaldera; (3) rekahan dan graben,
retaka-retakan atau patahan pada tubuh gunungapi yang memanjang mencapai puluhan kilometer
dan dalamnya ribuan meter. Rekahan parallel yang mengakibatkan amblasnya blok diantara
rekahan disebut graben; (4) depresi volkano-tektonik, pembentukannya ditandai dengan deretan
pegunungan yang berasosiasi dengan pemebentukan gunungapi akibat ekspansi volume besar
magma asam ke permukaan yang berasal dari kerak bumi. Depresi ini dapat mencapaiukuran
puluhan kilometer dengan kedalaman ribuan meter.

Ada kisah heroik dibawa oleh Suami-istri Krafft yg membuat penampang diatas :
Maurice dan Katia Krafft adalah volcanologists Perancis yang mengabdikan hidup mereka
untuk mendokumentasikan letusan gunung berapi khususnya dalam foto-foto dan film. Krafft

yang meninggal pada 3 Juni 1991 ketika mereka terkena aliran piroklastik di Unzen gunung
berapi di Jepang. Selama hidup mereka, mereka mengunjungi ratusan, bahkan ribuan, gunung
berapi di seluruh dunia! Mereka juga memiliki keinginan yang kuat untuk melakukan mitigasi
bahaya gunung berapi dan citra mereka digunakan untuk mengakhiri ini sebisa mungkin. Selain
terjadi kematian dari Krafft pada peristiwa saat yang sama, adalah kematian vulkanologi
Amerika Harry Glicken yang berada di lokasi yang sama. Harry telah melakukan beberapa
penelitian perintis pada puing-puing serta longsoran vulkanik dan membantu untuk
mengembangkan pemahaman kita tentang fenomena ini. Sekitar 40 wartawan yang menyertai
Krafft itu juga dibunuh oleh aliran piroklastik yang sama. Mereka adalah pahlawan volkanologi
dunia.
Letusan-letusan ini dapat dikelompokkan juga berdasarkan tipe lavanya seperti dibawah ini:

Bentuk Gunungapi

Sumber: internet
Jadi gunungapi dikenali berdasarkan atas berbagai tipe dan jenisnya.
KAPAN GUNUNGAPI TERJADI ?

Gunungapi yang masih aktif saat ini terbentuk sejak jutaan tahun lalu hingga sekarang.
Pengetahuan tentang gunungapi berawal dari perilaku manusia dan manusia purba yang
mempunyai hubungan dekat dengan gunungapi. Hal tersebut diketahui dari penemuan fosil
manusia di dalam endapan vulkanik dansebagian besar penemuan fosil itu ditemukan di Afrika
dan Indonesia berupa tulang belulang manusia yang terkubur oleh endapan vulkanik. Perlu
dicatat, tentusaja sejak awal pembentukan bumi juga sudah ada aktifitas vulkanisme.
Sebagai contoh banyak ditemukan kerangka manusia di kota Pompeii dan Herculanum yang
terkubur oleh endapan letusan G. Vesuvius pada 79 Masehi. Fosil yang terawetkan baik pada abu
vulkanik berupa tapak kaki manusia Australopithecus berumur 3,7 juta tahun di daerahLaetoli,
Afrika Timur. Penanggalan fosil dari kerangka manusia tertua, Homo babilis berdasarkan
potassium-argon (K-Ar) didapat umur 1,75 juta tahun di daerah Olduvai. Penemuan fosil yang
diduga sebagai manusia pemula Australopithecus afarensis berumur 3,5juta tahun di Hadar,
Ethiopia, dan penanggalan umur benda purbakala tertua yang terbuat dari lava berumur 2,5 juta
tahun ditemukan di Danau Turkana, Afrika Timur. Perkembangan benda-benda purba dari yang
sederhana kemudian meningkat menjadi benda-benda yang disesuaikan dengan kebutuhan
sehari-hari, seperti pemotong, kapak tangan dan lainnya, terbuat dari obsidian yang berumur
Paleolitik Atas.

Di Indonesia hubungan gunungapi dan kebudayaan serta perilakunya pernah dituliskan di


dongengan disini
DIMANA GUNUNGAPI TERJADI ?

Gunungapi terbentuk pada empat busur, yaitu busur tengah benua, terbentuk akibat
pemekarankerak benua; busur tepi benua, terbentuk akibat penunjaman kerak samudara ke kerak
benua;busur tengah samudera, terjadi akibat pemekaran kerak samudera; dan busur dasar
samuderayang terjadi akibat terobosan magma basa pada penipisan kerak samudera.

Penampang yang memperlihat kan batas lempeng utama dengan dengan pembentukan
busurgunungapi. (Modifikasi dari Krafft, 1989)
MENGAPA TERJADI GUNUNGAPI ?

Pengetahuan tentang tektonik lempeng merupakan pemecahan awal dari teka-teki fenomena
alam termasuk deretan pegunungan, benua, gempabumi dan gunungapi. Planet bumi
mepunyaibanyak cairan dan air di permukaan. Kedua factor tersebut sangat mempengaruhi
pembentukandan komposisi magma serta lokasi dan kejadian gunungapi.
Panas bagian dalam bumi merupakan panas yang dibentuk selama pembentukan bumi sekitar 4,5
miliar tahun lalu, bersamaan dengan panas yang timbul dari unsure radioaktif alami,
sepertielemen-elemen isotop K, U dan Th terhadap waktu. Bumi pada saat terbentuk lebih panas,
tetapi kemudian mendingin secara berangsur sesuai dengan perkembangan sejarahnya.
Pendinginan tersebut terjadi akibat pelepasan panas dan intensitas vulkanisma di
permukaan.Perambatan panas dari dalam bumi ke permukaan berupa konveksi, dimana materialmaterial yang terpanaskan pada dasar mantel, kedalaman 2.900 km di bawah muka bumi
bergerakmenyebar dan menyempit disekitarnya. Pada bagian atas mantel, sekitar 7 35 km di
bawah muka bumi, material-material tersebut mendingin dan menjadi padat, kemudian
tenggelam lagi ke dalam aliran konveksi tersebut. Litosfir termasuk juga kerak umumnya
mempunyaiketebalan 70 120 km dan terpecah menjadi beberapa fragmen besar yang disebut
lempeng tektonik. Lempeng bergerak satu sama lain dan juga menembus ke arah konveksi

mantel.Bagian alas litosfir melengser di atas zona lemah bagian atas mantel, yang disebut
jugaastenosfir. Bagian lemah astenosfir terjadi pada saat atau dekat suhu dimana mulai
terjadipelelehan, kosekuensinya beberapa bagian astenosfir melebur, walaupun sebagian besar
masih padat. Kerak benua mempunyai tebal lk. 35 km, berdensiti rendah dan berumur 1 2
miliartahun, sedangkan kerak samudera lebih tipis (lk. 7 km), lebih padat dan berumur tidak
lebih dari200 juta tahun. Kerak benua posisinya lebih di atas dari pada kerak samudera karena
perbedaan berat jenis, dan keduanya mengapung di atas astenosfir.

Penampang bumi. (modifikasi dari Krafft 1989)


Kerak yang menindih mantel hampir seluruhnya terdiri dari oksida yangtidak melebur. Proses
vulkanik membawa fragmen batuan ke permukaan dari kedalaman lk.200 km melalui mantel, hal
tersebut ditunjukkan dengan adanya mineral-mineral olivine, piroksen dan garnet dalam peridotit
pada bagian atas mantel. (Modifikasi dari Krafft, 1989;Sigurdsson, 2000).
BAGAIMANA GUNUNGAPI TERBENTUK ?

Pergerakan antar lempeng ini menimbulkan empat busur gunungapi berbeda :


1. Pemekaran kerak benua, lempeng bergerak saling menjauh sehingga memberikankesempatan
magma bergerak ke permukaan, kemudian membentuk busur gunungapitengah samudera.

2. Tumbukan antar kerak, dimana kerak samudera menunjam di bawah kerak benua.
Akibatgesekan antar kerak tersebut terjadi peleburan batuan dan lelehan batuan ini bergerak
kepermukaan melalui rekahan kemudian membentuk busur gunungapi di tepi benua.
3. Kerak benua menjauh satu sama lain secara horizontal, sehingga menimbulkan rekahan atau
patahan. Patahan atau rekahan tersebut menjadi jalan ke permukaan lelehan batuanatau magma
sehingga membentuk busur gunungapi tengah benua atau banjir lavasepanjang rekahan.
4. Penipisan kerak samudera akibat pergerakan lempeng memberikan kesempatan bagimagma
menerobos ke dasar samudera, terobosan magma ini merupakan banjir lava yangmembentuk
deretan gunungapi perisai. Penampang diagram yang memper lihatkan bagaimana gunungapi ter
bentuk di permukaan melalui kerak benua dan kerak samudera serta mekanisme peleburan
batuan yangmenghasilkan busur gunungapi, busur gunungapi tengah samudera, busur gunungapi
tengahbenua dan busur gunungapi dasar samudera. (Modifikasi dari Sigurdsson, 2000).

Di Indonesia (Jawa dan Sumatera) pembentukan gunungapi terjadi akibat tumbukan


kerakSamudera Hindia dengan kerak Benua Asia. Di Sumatra penunjaman lebih kuat dan
dalamsehingga bagian akresi muncul ke permukaan membentuk pulau-pulau, seperti Nias,
Mentawai, dll. (Modifikasi dari Katili, 1974).
BAHAYA GUNUNGAPI

Bahaya letusan gunungapi dapat berpengaruh secara langsung (primer) dan tidak
langsung(sekunder) yang menjadi bencana bagi kehidupan manusia. Bahaya yang langsung oleh
letusangunungapi adalah :
1. Leleran lava
leleran lava merupakan cairan lava yang pekat dan panas dapat merusaksegala infrastruktur yang
dilaluinya. Kecepatan aliran lava tergantung darikekentalan magmanya, makin rendah

kekentalannya, maka makin jauhjangkauan alirannya. Suhu lava pada saat dierupsikan berkisar
antara 800o 1200o C. Pada umumnya di Indonesia, leleran lava yang dierupsikangunungapi,
komposisi magmanya menengah sehingga pergerakannya cukuplamban sehingga manusia dapat
menghindarkan diri dari terjangannya.
Leleran lava dapat merusak segala bentuk infrastruktur. Foto Macdonald.
2. Aliran piroklastik (awan panas)
Aliran piroklastik dapat terjadi akibat runtuhan tiang asap erupsi plinian,letusan langsung ke satu
arah, guguran kubah lava atau lidah lava dan aliran pada permukaan tanah (surge). Aliran
piroklastik sangat dikontrol oleh gravitasi dan cenderung mengalir melalui daerah rendah atau
lembah.Mobilitas tinggi aliran piroklastik dipengaruhi oleh pelepasan gas darimagma atau lava
atau dari udara yang terpanaskan pada saat mengalir. Kecepatan aliran dapat mencapai 150 250
km/jam dan jangkauan alirandapat mencapai puluhan kilometer walaupun bergerak di atas
air/laut.

Awanpanas Gunung Merapi (Badan Geologi)


Awan panas mempunyai mobilitas dan suhu tinggi sangat berbahaya bagipenduduk sekitar
gunungapi.
3. Jatuhan piroklastik
Jatuhan piroklastik terjadi dari letusan yang membentuk tiang asap cukuptinggi, pada saat
energinya habis, abu akan menyebar sesuai arah anginkemudian jatuh lagi ke muka bumi. Hujan
abu ini bukan merupakan bahaya langsung bagi manusia, tetapi endapan abunya akan
merontokkan daun-daun dan pepohonan kecil sehingga merusak agro dan pada ketebalantertentu
dapat merobohkan atap rumah. Sebaran abu di udara dapatmenggelapkan bumi beberapa saat
serta mengancam bahaya bagi jalur penerbangan.
Hujan abu dapat merusak tanaman, merobohkan rumah, mengganggupernafasan dan
membahayakan jalur penerbangan pesawat.

4. Lahar letusan
Lahar letusan terjadi pada gunungapi yang mempunyai danau kawah. Apabila volume air alam
kawah cukup besar akan menjadi ancamanlangsung saat terjadi letusan dengan menumpahkan
lumpur panas.
5. Gas vulkanik beracun
Gas beracun umumnya muncul pada gunungapi aktif berupa CO, CO2,HCN, H2S, SO2 dll, pada
konsentrasi di atas ambang batas dapat membunuh.
Pengeluaran gas CO2 di G. Dieng membunuh banyak penduduk. Baca tentang Dieng disini
Bahaya sekunder, terjadi setelah atau saat gunungapi aktif:

1. Lahar Hujan
lahar hujan terjadi apabila endapan material lepas hasil erupsi gunungapi yang diendapkan pada
puncak dan lereng, terangkut olehhujan atau air permukaan. Aliran lahar ini berupa aliran lumpur
yangsangat pekat sehingga dapat mengangkut material berbagai ukuran.Bongkahan batu besar
berdiameter lebih dari 5 m dapat mengapung pada aliran lumpur ini. Lahar juga dapat merubah
topografi sungaiyang dilaluinya dan merusak infrastruktur.
2. Banjir bandang
banjir bandang terjadi akibat longsoran material vulkanik lama padalereng gunungapi karena
jenuh air atau curah hujan cukup tinggi. Aliran Lumpur disini tidak begitu pekat seperti lahar,
tapi cukupmembahayakan bagi penduduk yang bekerja di sungai dengan tiba-tiba terjadi aliran
lumpur.
3. Longsoran vulkanik
longsoran vulkanik dapat terjadi akibat letusan gunungapi, eksplosi uap air, alterasi batuan pada
tubuh gunungapi sehingga menjadirapuh, atau terkena gempabumi berintensitas kuat.
Longsoranvulkanik ini jarang terjadi di gunungapi secara umum sehingga dalampeta kawasan
rawan bencana tidak mencantumkan bahaya akibat Longsoran vulkanik.

Lahar G. Merapi di Muntilan (sumber Antara)


PENANGGULANGAN BENCANA GUNUNGAPI

Dalam penanggulangan bencana letusan gunungapi dibagi menjadi tiga bagian, yaitu
persiapansebelum terjadi letusan, saat terjadi letusan dan sesudah terjadi letusan.
1. Sebelum terjadi letusan dilakukan :

Pemantaun dan pengamatan kegiatan pada semua gunungapi aktif,

Pembuatan dan penyediaan Peta Kawasan Rawan Bencana dan Peta Zona
ResikoBahaya Gunungapi yang didukung dengan dengan Peta Geologi
Gunungapi,

Melaksanakan prosedur tetap penanggulangan bencana letusan gunungapi,

Melakukan pembimbingan dan pemeberian informasi gunungapi,

Melakukan penyelidikan dan penelitian geologi, geofisika dan geokimia


digunungapi,

Melakukan peningkatan sumberdaya manusia dan pendukungnya


sepertipeningkatan sarana dan prasarananya.

2. Setelah terjadi letusan :

Menginventarisir data, mencakup sebaran dan volume hasil letusan,

Mengidentifikasi daerah yang terancam bahaya,

Memberikan saran penanggulangan bahaya,

Memberikan penataan kawasan jangka pendek dan jangka panjang,

Memperbaiki fasilitas pemantauan yang rusak,

Menurunkan status kegiatan, bila keadaan sudah menurun,

Melanjutkan memantauan rutin.

Dimana saja gunungapi di Indonesia ?

Gunung tersebar di Indonesia jumlahnya lebih dari seratus :


JUMLAH SEBARAN GUNUNGAPI
Daerah

Tipe-A Tipe-B Tipe-C Jumlah

Sumatera

13

12

31

Jawa

21

35

Bali

2-

Lombok

1-

Sumbawa

2-

Flores

16

Laut Banda

1-

Sulawesi

Kep.Sangihe

5-

Halmahera

24
9

13

2-

7
129

KLASIFIKASI GUNUNGAPI DI INDONESIA


1. Tipe A
Gunungapi yang pernah mengalami erupsi magmatik sekurang-kurangnya
satu kali sesudah tahun 1600
2. Tipe B
Gunungapi yang sesudah tahun 1600 belum lagi mengadakan
erupsimagmatik, namun masih memperlihatkan gejala kegiatan seperti
kegiatan solfatara

3. Tipe C
Gunungapi yang erupsinya tidak diketahui dalam sejarah manusia,namun
masih terdapat tanda-tanda kegiatan masa lampau berupa lapangan
solfatara/fumarola pada tingkah lemah

Pos pengamatan Merapi, Kaliurang (sumber http://jogjasiana.com)


PROSEDUR TETAP TINGKAT KEGIATAN GUNUNGAPI
1. Aktif Normal (Level I)
Kegiatan gunungapi berdasarkan pengamatan dari hasil visual,kegempaan
dan gejala vulkanik lainnya tidak memperlihatkanadanya kelainan
2. Waspada (Level II)
Terjadi peningkatan kegiatan berupa kelainan yang tampak secaravisual atau
hasil pemeriksaan kawah, kegempaan dan gejala vulkanik lainnya
3. Siaga (Level III)
Peningkatan semakin nyata hasil pengamatan visual/pemeriksaankawah,
kegempaan dan metoda lain saling mendukung.Berdasarkan analisis,
perubahan kegiatan cenderung diikutiletusan
4. Awas (Level IV)
Menjelang letusan utama, letusan awal mulai terjadi berupaabu/asap.
Berdasarkan analisis data pengamatan, segera akandiikuti letusan utama

Radio Komunikasi dari Pos-Pos PGA ke DVMBG


Dam pengelak lahar di lereng G. Merapi, Jawa Tengah. (Promer)
Model rumah yang disarankan untuk daerah sekitar gunungapi, agar terhindar dari bebanendapan
abu gunungapi.

Ruman Aman Gunung api (sumber VSI)

Kemiringan atap 45o atau lebih curam lagi

Tiang penopang atap lebih kerap dibantu dengan tiang diagonal

Dianjurkan atap terbuat dari seng agar tahan panas dari lontaran batu (pijar)

Gunung Sinabung, bangun setelah tidur 400 tahun.


Meletusnya Gunung Sinabung di Sumatra sangat mengagetkan. Tidak seperti biasanya sebuh
letusan gunung didahului dengan tanda-tanda sebelumnya. Tetapi Sinabung yang masuk kategori
B ini tidak mendapatkan perhatian seperti gunungapi tipe A. Aktifitasnya ini telah menunjukkan
bahwa dirinya bukanlah gunung mati.
Letusan terakhir dalam catatan sejarah, gunung ini meletus pada tahun 1600. Gunung yang
memiliki ketinggian 2,460 m (8,071 ft) ini telah memuntahkan lava serta debu dan pasir
volkaniknya ke udara pada tanggal 29 Agustus 2010 tengah malam pukul 00.10.
Ternyata tidak hanya gempa yang selalu datang mendadak. Gunungapipun dapat meletus
mendadak ya, Pakdhe ?

Mengungsi (AP)
Karena tidak aktif selama ratusan tahun, gunung yang berketinggian 2.460 meter di atas
permukaan laut itu digolongkan bertipe B. Contoh lain dari gunung tipe tersebut adalah Gunung
Merbabu yang berdampingan dengan Gunung Merapi di Yogyakarta serta Gunung Sibayak di
Sumut. Perlu diketahui bahwa di lereng Gunung Sibayak ini terdapat pembangkit panasbumi.
Tentusaja mengetahui status gunung ini menjadi sangat vital.
Menurut Pak Surono dari Badan Geologi, gunung tipe B adalah gunung api yang tidak
mempunyai karakter meletus secara magmatik. Berdasarkan prioritas ancaman, gunung tipe B
tidak dipantau secara rutin. Akan, tetapi bukan berarti gunung di Indonesia dengan tipe B ini
tidak diamati. Hanya skala prioritasnya lebih rendah dari gunungapi tipe A
Sejak meletus pada pukul 00.10 tengah malam tadi, lanjut Surono, PVMBG mengubah tipe
gunung tersebut menjadi tipe A dengan status awas. Gunung itu selanjutnya akan dipantau setiap
hari selama 24 jam.
Laporan perkembangan aktivitas gunungapi Sinabung

Menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terlihat bahwa gunung ini
berkembang sangat cepat.

G Sinabung dan G Sibayak


Aktivitas letusan dan sifat Gunungapi Sinabung tidak pernah tercatat, oleh karena itu tidak
diketahui aktivitas letusannya. Karena letusannya tidak pernah tercatat sejak tahun 1600, maka
G. Sinabung dikelompokkan dalam tipe B, dan tidak dilakukan pemantauan secara menerus.

Selama ini aktivitas G. Sinabung terpantau hanya


berupa manifestasi solfatara dan fumarola di dalam kawah aktif.
Bahkan gunung ini sering didaki dan memiliki pemandangan sangat indah seperti disebelah ini.
Setiap gunung kenapa banyak gunung memiliki kembaran ya Pakdhe Ada MerapiMerbabu, Sindoro-Sumbing, ada Sinabung-Sibayak
Selama dua hari sebelumnya berdasarkan informasi Tim yang berada di lapangan dilaporkan
pada tanggal 28 Agustus 2010 pada pukul 08.00 16.00 WIB, secara visual terpantau asap putih
tipis, ketinggian sekitar 20 meter dengan tekanan lemah hingga sedang. Kemudian pukul 16.00
19.00 WIB, G. Sinabung tertutup kabut. Sedangkan pengamatan pukul 19.00 24.00 WIB, tidak
terpantau adanya asap dari kawah aktif.
Dengan demikian G. Sinabung tidak menunjukkan adanya tanda-tanda peningkatan kegiatan
yang menjadikan kita siap-siap.

Namun pada 29
Agustus 2010 tengahmalam pukul 00.08 WIB, terdengar suara gemuruh. Dengan aktivitas
tersebut maka G. Sinabung diubah tipenya dari tipe B menjadi tipe A dan statusnya dinyatakan
AWAS terhitung pukul 00.10 WIB tanggal 29 Agustus 2010. Hal ini karena pada pukul 00.10
WIB setelah berkoordinasi dengan tim di lapangan, diputuskan dilakukan pengungsian
masyarakat yang bermukim dan beraktivitas pada radius 6 km dari kawah aktif.

Sekitar pukul 00.12 WIB, tampak asap letusan


dengan ketinggian 1500 meter dari bibir kawah.
Kalau dibandingkan dengan Gunung Kelud yang gagal meletus sebelumnya telah
menunjukkan tanda-tanda dalam waktu yang cukup lama bahkan sempat dituliskan dalam
beebrapa dongengan :

Gunung Kelud Meletus !!!

Memonitor polah tingkah Gunung Kelud yg sedang kritis

Anak Krakatau ngga mau kalah dengan Kelud

Awasi Perigee - Bulan terdekat dengan bumi

Mengenal Gunung Kelud

Gunung Kelud status AWAS !


Dengan adanya aktifitas yang sangat mendadak ini maka Tim Tanggap Darurat telah berada di
lapangan (Desa Bekerah Cimacem, Kecamatan Namanteran) sejak 28 Agustus 2010 dan telah
berkoordinasi dengan pejabat terkait dari Provinsi Sumatera Utara dan Kabupaten Karo

Tim ini akan memasang peralatan pemantauan dan mengikuti perkembangan aktivitas G.
Sinabung secara cermat. Dan karena G. Sinabung dalam status AWAS maka akan dilaporkan
perkembangan aktivitasnya setiap 6 jam.
Direktorat Volkanologi memberikan himbauan kepada masyarakat sbb:

Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas dalam radius 6 km dari kawah


aktif agar diungsikan ke tempat yang aman.

Jika terjadi hujan abu cukup deras, agar masyarakat menggunakan masker
penutup hidung dan mulut serta menutup sumber air untuk keperluan
minum.

Mengingat G. Sinabung tidak diketahui aktivitas dan sifat letusannya, maka


masyarakat agar bersabar mengikuti arahan Pemerintah Daerah
(BPBD/Satlak/Satkorlak) dan Pemerintah Daerah agar senantiasa
berkoordinasi dengan Tim ahli di lapangan.

Mengingat saat ini di wilayah sekitar G. Sinabung sering turun hujan, agar
masyarakat yang bermukim di bantaran sungai yang berhulu di puncak G.
Sinabung agar mewaspadai kemungkinan terjadinya bahaya sekunder berupa
banjir lahar.

Sampai kapan ?

Dalam wawancara dengan TVOne Minggu


malam, Pak Surono tidak dapat memastikan kapan letusan ini akan berakhir, namun beliau
menyampaikan bahwa para pengungsi sudah dipindahkan ketempat yang aman.
Pakdhe, semoga saja letusan semalam itu merupakan titik kulminasinya ya ?

Thole, yang menjadi bahan pembelajaran adalah gunung-gunung api tipe B saat ini harus
diberi perhatian yang sesuai dengan pengalaman saat ini

Setiap terjadinya fenomena dan petaka di bumi ini selalu


didahului dengan tanda-tanda alam. Namun tidak mudah
membaca dan mengerti tanda-tanda alam ini.
banyak pertanyaan kalau Philipina bisa memperkirakan meletusnya Pinnatubo dengan baik,
kenapa ini tidak bisa ? Bukankah kita memiliki gunung api lebih banyak sehingga lebih banyak
belajar ?
Ini mirip mengawasi 100 anak-anak. Tentunya hanya anak yang penyakitan dan sering mengeluh
panas saja yang diukur suhu badannya pakai termometer. Kalau ngga ada keluhan ya ngga
dipasangi thermometer. Ini fenomena keterbatasan sumberdaya manusia, alat, dan waktu. Kalau
tidak ada keluhan, dalam proses prioritasi, tentunya menjadi tipe B. Anak yang dikenal sakitsakitan (tipe A) akan mendapat prioritas pengawasan. Nah, ini si anak B kalau tiba-tiba pulang
sekolah kehujanan cukup lama, akhirnya juga akan sakit batuk-batuk. Uhuk-uhuk !!
Pinatubo itu menunjukkan gejala cukup lama. Yang perlu dicatat Pinatubo didahului gempa
7.7Magnitude pada bulan juli 1990 dan mulai aktif maret 1991 dimana akhirnya meletus June
1991.

Misteri Letusan Gunung Toba, satu-satunya Supervolcano di Indonesia

Gunung Toba adalah gunung api raksasa (super volcano) yaitu gunung aktif dalam kategori
sangat besar, diperkirakan meletus terakhir sekitar 74.000 tahun lalu.
Letusan Gunung Tambora jika dibandingkan dengan letusan maha dahsyat Gunung Toba ini,
maka Gunung Tambora tidaklah ada apa-apanya. Apalagi jika dibandingkan dengan letusan
Gunung Kratakau yang kalah jauh dengan Gunung Tambora.

Perbandingan letusan gunung Tambora dengan gunung Toba supervolcano


Jadi, misalkan letusan gunung St. Helen di Washington USA yang meletus tahun 1980
mempunyai angka letusan pada skala 1, maka gunung Krakatau yang meletus tahun 1883
berskala 18, atau 18 kali lebih besar (1:18).

Letusan gunung St. Helen , 8 Mei 1980


Sedangkan jika dibandingkan dengan skala gunung Tambora, letusan gunung St. Helen sangat
jauh karena gunung Tambora yang meletus tahun 1815 berskala 80, atau 80 kali lebih besar dari
letusan gunung St. Helen (1:80).
Apalagi jika letusan gunung St. Helen dibandingkan dengan letusan gunung Toba yang terakhir,
sekitar 74-75 ribu tahun lalu tersebut sangatlah drastis besaran skalanya yaitu 2800, atau 2800
kali lebih besar dari letusan gunung St. Helen! Alias satu banding 2800 (1:2800)
Letusan Gunung Tambora adalah letusan gunung terdahsyat yang pernah diketahui oleh
peradaban manusia (baca artikel: Misteri dan Kronologi Meletusnya Tambora, Tiga Kerajaan
Lenyap Seketika).
Dan letusan Gunung Krakatau adalah letusan gunung terdahsyat yang pernah tercatat di era
zaman modern.
Sedangkan letusan Gunung Toba sama sekali tak tercatat di dalam buku, namun terlihat buktibukti ilmiahnya dimasa kini.

Bukti ilmiah
Pada tahun 1939, geolog Belanda Van Bemmelen melaporkan, Danau Toba, yang panjangnya
100 kilometer dan lebarnya 30 kilometer, dikelilingi oleh batu apung peninggalan dari letusan
gunung.
Karena itu, Van Bemmelen menyimpulkan, Toba adalah sebuah gunung berapi. Belakangan,
beberapa peneliti lain menemukan debu riolit (rhyolite) yang seusia dengan batuan Toba di
Malaysia, bahkan juga sejauh 3.000 kilometer ke utara hingga India Tengah.

Letusan supervolcano Yellowstone yang terkenal dahsyat masih kalah dengan letusan
supervolcano Toba
Beberapa ahli kelautan pun melaporkan telah menemukan jejak-jejak batuan Toba di Samudra
Hindia dan Teluk Benggala.
Para peneliti awal, Van Bemmelen juga Aldiss dan Ghazali (1984) telah menduga Toba tercipta
lewat sebuah letusan mahadahsyat.
Namun peneliti lain, Vestappen (1961), Yokoyama dan Hehanusa (1981), serta Nishimura
(1984), menduga kaldera itu tercipta lewat beberapa kali letusan.
Peneliti lebih baru, Knight dan sejawatnya (1986) serta Chesner dan Rose (1991), memberikan
perkiraan lebih detail: kaldera Toba tercipta lewat tiga letusan raksasa.
Penelitian seputar Toba belum berakhir hingga kini. Jadi, masih banyak misteri di balik raksasa
yang sedang tidur itu. Salah satu peneliti Toba angkatan terbaru itu adalah Fauzi dari Indonesia,
seismolog pada Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika.
Sarjana fisika dari Universitas Indonesia lulusan 1985 ini berhasil meraih gelar doktor dari
Renssealer Polytechnic Institute, New York, pada 1998, untuk penelitiannya mengenai Toba.

Perbandingan jarak lontaran batu vulkanik antara letusan gunung Krakatau, Tambora dan Toba

Berada di tiga lempeng tektonik


Letak Gunung Toba (kini: Danau Toba), di Indonesia memang rawan bencana. Hal ini terkait
dengan posisi Indonesia yang terletak di pertemuan tiga lempeng tektonik, yakni Eurasia, IndoAustralia dan Lempeng Pasifik. Sebanyak 80% dari wilayah Indonesia, terletak di lempeng
Eurasia, yang meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Banda.
Lempeng benua ini hidup, setiap tahunnya mereka bergeser atau menumbuk lempeng lainnya
dengan jarak tertentu. Lempeng Eurasia yang merupakan lempeng benua selalu jadi sasaran.

Lempeng Indo-Australia menumbuk lempeng Eurasia sejauh 5-7 cm per tahun


Lempeng Indo-Australia misalnya menumbuk lempeng Eurasia sejauh 5-7 cm per tahun. Atau
Lempeng Pasifik yang bergeser secara relatif terhadap lempeng Eurasia sejauh 11 cm per tahun.
Dari pergeseran itu, muncullah rangkaian gunung, termasuk gunung berapi Toba.
Jika ada tumbukan, lempeng lautan yang mengandung lapisan sedimen menyusup di bawahnya
lempeng benua. Proses ini lantas dinamakan subduksi atau penyusupan.
Gunung hasil subduksi, salah satunya Gunung Toba. Meski sekarang tak lagi berbentuk gunung,
sisa-sisa kedasahyatan letusannya masih tampak hingga saat ini.
Danau Toba merupakan kaldera yang terbentuk akibat meletusnya Gunung Toba sekitar tiga kali
yang pertama 840 ribu tahun lalu dan yang terakhir 74.000 tahun lalu.
Bagian yang terlempar akibat letusan itu mencapai luas 100 km x 30 km persegi. Daerah yang
tersisa kemudian membentuk kaldera. Di tengahnya kemudian muncul Pulau Samosir.

Letusan
Sebelumnya Gunung Toba pernah meletus tiga kali.

Letusan pertama terjadi sekitar 800 ribu tahun lalu. Letusan ini
menghasilkan kaldera di selatan Danau Toba, meliputi daerah Prapat dan
Porsea.

Letusan kedua yang memiliki kekuatan lebih kecil, terjadi 500 ribu tahun
lalu. Letusan ini membentuk kaldera di utara Danau Toba. Tepatnya di daerah
antara Silalahi dengan Haranggaol. Dari dua letusan ini, letusan ketigalah
yang paling dashyat.

Letusan ketiga 74.000 tahun lalu menghasilkan kaldera, dan menjadi


Danau Toba sekarang dengan Pulau Samosir di tengahnya.

Gunung Toba ini tergolong Supervolcano. Hal ini dikarenakan Gunung Toba memiliki kantong
magma yang besar yang jika meletus kalderanya besar sekali. Volcano kalderanya ratusan meter,
sedangkan Supervolacano itu puluhan kilometer.

Terlihat pemandangan kaldera gunung Toba yang kini bernama Danau Toba dan ditengahnya
terdapat pulau Samosir yang terbentuk karena adanya gaya up-lifting (pengangkatan). Inilah
yang menyebabkan munculnya Pulau Samosir.
Yang menarik adalah terjadinya anomali gravitasi di Toba. Menurut hukum gravitasi, antara satu
tempat dengan lainnya akan memiliki gaya tarik bumi sama bila mempunyai massa, ketinggian
dan kerelatifan yang sama.
Jika ada materi yang lain berada di situ dengan massa berbeda, maka gaya tariknya berbeda.
Bayangkan gunung meletus.
Banyak materi yang keluar, artinya kehilangan massa dan gaya tariknya berkurang. Lalu yang
terjadi up-lifting (pengangkatan). Inilah yang menyebabkan munculnya Pulau Samosir.
Magma yang di bawah itu terus mendesak ke atas, pelan-pelan. Dia sudah tidak punya daya
untuk meletus. Gerakan ini berusaha untuk menyesuaikan ke normal gravitasi.
Ini terjadi dalam kurun waktu ribuan tahun. Hanya Samosir yang terangkat karena daerah itu
yang terlemah. Sementara daerah lainnya merupakan dinding kaldera.

Toba Supervolcano Lake and Samosir Island


Sedangkan nenek moyang manusia modern, Homo sapiens, mulai muncul dan tinggal di
kawasan Afrika 150.000-200.000 tahun lalu. Mereka mulai bermigrasi ke luar Afrika 70.000
tahun lalu dan menyebar ke seluruh dunia. Pada periode yang lebih kurang sama, 74.000 tahun
lalu, terjadi letusan dahsyat Gunung Toba ini.
Apabila dikaitkan dengan letusan Toba, temuan itu juga menunjukkan bahwa nenek moyang kita
ternyata mampu bertahan dari bencana dahsyat yang berpotensi memusnahkan kehidupan.
Skenario survival tersebut didukung bukti dari rekam jejak DNA pada populasi di kawasan
Wallacea yang menunjukkan campuran gen dengan populasi dari kawasan Sunda Besar (yang
sekarang dikenal sebagai kawasan Asia Tenggara).

Selain itu, ada temuan fosil dan peninggalan manusia purba di Gua Niah, Sarawak. Dari
umurnya, temuan Niah mengindikasikan bahwa manusia tidak musnah karena letusan Toba.
Para ilmuwan sangat meyakini bahwa semua supervolcano yang ada di dunia termasuk Gunung
Toba pasti akan meletus kembali. Namun tidak ada yang dapat memastikan dengan akurat kapan
meletus kembali. Yang ada hanyalah perkiraan.
Letusannya bisa saja terjadi esok hari atau ribuan tahun lagi. Yang jelas suatu saat danau Toba
yang tercipta akibat hasil dari letusan gunung Toba pasti akan meletus kembali. (sumber:
wikipedia, yang juga ditulis oleh penulis sendiri pada 30 Juli 2006)