Anda di halaman 1dari 11

Referat

SINDROMA POLIKISTIK OVARIUM

Penyaji :
Ari Hidriansyah
Pembimbing :
dr. Fonda Octarianingsih Shariff, Sp.OG

BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MALAHAYATI
R.S PERTAMINA BINTANG AMIN BANDAR LAMPUNG
2016

LEMBAR PENGESAHAN

Telah dipresentasikan referat berjudul

SINDROMA POLIKISTIK OVARIUM

Pembimbing

dr. Fonda Octarianingsih S, Sp.OG

Penyaji

Ari Hidriansyah

I.

DEFINISI
Sindroma polikistik ovarium adalah gangguan endokrin heterogen
ditandai dengan menstruasi tidak teratur, hiperandrogenisme, dan
gambaran

polikistik ovarium.1 Kelainan ini bukan merupakan suatu

penyakit melainkan suatu kelompok gejala. Sindroma polikistik ovarium


ini erat kaitannya dengan peristiwa anovulasi, sehingga setiap kondisi atau
keadaan yang dapat menyebabkan terjadinya anovulasi kronik akan
II.

menyebabkan terjadinya sindroma polikistik ovarium.2


EPIDEMIOLOGI
Estimasi prevalensi untuk sindroma polikistik ovarium dari data
NIH menunjukan bahwa sindroma polikistik ovarium menyerang 4%-8%
wanita usia produktif. Dari 2869 wanita di 3 negara yaitu Australia, Turki
dan iran sekitar 16,87 % terdiagnosa sindroma polikistik ovarium.1

III.

ETIOLOGI
Etiologi terjadinya sindroma polikistik ovarium belum diketahui,
namun dari faktor genetik saat ini menjadi dugaan terjadinya sindroma
polikistik ovarium.3 Penyebab lain adalah karena adanya gangguan proses
pengaturan ovulasi serta ketidakmampuan enzim yang berperan pada
proses sintesis esterogen pada ovarium.2
Akibat dari ovarium yang tidak bisa mensekresi hormon secara
seimbang yang akan mengakibatkan umpan balik abnormal ke kelenjar
hipofisis. Kemudian hipofisis melepaskan banyak LH untuk mengkoreksi

IV.

masalah.4
PATOFISIOLOGI

Kadar LH meningkat disebabkan oleh peningkatan produksi


esterogen perifer dan peningkatan sekresi GnRH akibat fungsi
neuroendokrin sistem saraf pusat yang terganggu. Akibat peningkatan
kadar LH yang signifikan sehingga kadar FSH tertekan secara kronik,
akibat dari ini pertumbuhan folikel baru terus menerus distimulasi tetapi
tidak sampai titik pematangan dan ovulasi penuh sehingga disini terjadi
anovulasi.5 Peningkatan kadar LH menyebabkan ovarium terstimulasi
mensekresi hormon androgen. Hormon androgen ini berperan dalam
mensekresi hormon testoteron dan metabolisme esterogen dalam lemak
sehingga menyebabkan hirsutisme dan jerawat. Peningkatan hormon
androgen menyebabkan perubahan diperifer esterogen (primer estrone)
perubahan ini terjadi di sel stroma di sel lemak terutama terjadi pada
pasien yang obesitas. Hal tersebut menyebabkan kelainan pada uterus
V.

yaitu hiperplasia endometrium.3


GEJALA KLINIS
Wanita dengan sindroma polikistik ovarium memiliki gejala klinis
yaitu :4
1. Menstruasi tidak teratur
2. Jerawat
3. Hirusutisme
4. Cenderung memiliki berat badan lebih
5. Infertilitas
6. Keguguran berulang
7. Resistensi insulin

VI.

DIAGNOSIS
Diagnosa sindroma polikistik ovarium dapat ditegakan dengan :5
1. Anamnesis

Anamnesis

difokuskan

pada

pola

menstruasi,

kehamilan

sebelumnya, obat-obatan yang dikonsumsi, dan identifikasi riwayat


penyakit keluarga yang sama.5
2. Pemeriksaan fisik
Menunjukan tanda dan gejala yang mengarah ke sindroma
polikistik ovarium seperti kebotakan, jerawat, Klitoromegali, distribusi
rambut pada tubuh, dan tanda-tanda resistensi insulin, pemeriksaan
bimanual bisa menunjukan pembesaran ovarium.5
3. Pemeriksaan laboratorium
Bisa dilakukan pemeriksaan seperti testosteron atau DHEAS
(

dhidropian

drosteron

sulfat)

bermanfaat

untuk

menunjukan

hiperandrogenisme ovarium. Analisis hormonal lainnya harus dilakukan


seperti LH, FSH, prolaktin.5

4. Pemeriksaan USG
Pada sindroma polikistik ovarium selalu dijumpai pembesaran
ovarium yang dapat mudah dideteksi dengan USG. Pada gambaran
USG ovarium, terlihat folikel-folikel kecil berdiameter 7-10 mm.2

Gambar 1.1 USG Sindroma polikistik ovarium6


Menurut konsensus yang dibuat National Institute of Health
National Institute of Child Health and Human Development, maka
untuk mendiagnosis sindroma ovarium polikistik ditetapkan paling
sedikit 1 kriteria mayor dan 2 kriteria minor:2
1. Kriteria mayor
Anovulasi
Hiperandrogenemia
2. Kriteria Minor
Resistensi insulin
Hirsutisme
Obsetias
LH/FSH > 2,5
Pada USG terbukti ditemukan ovarium polikistik
Kriteria diagnosis lain yang bisa menjadi acuan untuk mendiagnosa
sindroma polikistik ovarium bisa dilihat di tabel 1.1 :
Tabel 1.1 Kriteria Diagnosa Sindroma Poliksitik Ovarium1
NIH/NICHD 1992

ESHRE/ASRM

Androgen Excess society

(Rotterdam

2006

criteria)

Semua kriteria harus

2004
2 kriteria yang harus

terpenuhi

terpenuhi

terpenuhi sebagai berikut :

sebagai

berikut :
Gejala klinis

sebagai

berikut :
dan

Gejala

klinis

dan

kriteria

Gejala

yang

klinis

harus

dan

pemeriksaan

pemeriksaan
pemeriksaan

penunjang

penunjang

hiperandrogenisme
Disfungsi ovarium/

penunjang
hiperandrogenisme

Disfungsi menstruasi

hiperandrogenisme
Oligomenorea atau

polikistik ovarium

anovulasi

VII.

DIAGNOSA BANDING
Diagnosa banding sindroma polikistik ovarium adalah :3
a. Gangguan Hormon Tiroid
Kelainan pada hormon tiroid bisa menyebabkan disfungsi
menstruasi sama seperti wanita terdiagnosa sindroma polikistik
ovarium, tetapi hal itu bisa disingkirkan dengan menguji laboratorium
TSH. Diagnosa kelainan hormon tiroid bisa disingkirkan apabila tidak
ada kenaikan nilai dari TSH untuk hipertiroid dan penurununan TSH
untuk hipotiroid.3
b. Hiperprolaktinemia
Hiperprolektinemia terjadi ketika kelenjar pituitari, ditemukan
didasar otak memproduksi hormon prolaktin yang berlebih. Hormon
tersebut dapat mempengaruhi siklus menstruasi pada wanita, biasanya
menyebabkan Amenore dan oligomenore. Untuk menyingkirkan
diagnosis hiperprolaktinemia perlu dilakukan pemeriksaan PRL
biasanya terjadi peningkatan pada gangguan hormon prolaktin.3
c. Tumor Adrenal dan Tumor Ovarium
Tumor ovarium dan tumor adrenal sangat langka ditemukan
namun hal ini menjadi perhatian serius dikarenakan tumor tersebut
baik tipe maligna ataupun benigna bisa menyebabkan sekresi hormon

androgen yang terganggu. Gejala hampir mirip dengan wanita


sindroma polikistik ovarium seperti hirsutisme, pembesaran klitoris,
jerawat dan kelainan lain akibat hiperandrogen. Namun hal ini bisa
disingkirkan dengan pemeriksaan T level untuk tumor ovarium dan
level DHEAS untuk tumor adrenal.
d. Sindroma Cushing
Sindroma ini terjadi ketika kelenjar adrenal pada tubuh terlalu
banyak memproduksi hormon kortisol atau biasa dikenal simptoma
hiperkortisolisme hal ini berkaitan dengan penggunaan glukortikoid
secara terus menerus. Gambaran gejala klinis dari sindroma cushing
mirip dengan wanita yang terdiagnosa sindroma polikistik ovarium
seperti gangguan menstruasi, jerawat, hirutisme, dislipidemia dan
intoleransi glukosa, namun ada gejala khas pada sindroma cushing yaitu
moon face, striae pada perut, dan kegemukan sentralis. Uji
laboratorium biasanya dengan analisis urine 24 jam untuk melihat
VIII.

jumlah kortisol pada urin, dengan nilai norma 90 g per 24 jam.


TATALAKSANA
1. Non Farmakologi
Penurunan berat badan sangat penting bagi wanita dengan
sindroma

polikistik

ovarium

karena

dapat

menghasilkan

dan

mengembalikan siklus ovulasi dengan baik. Selain itu diet makanan


seperti diet tinggi karbohidrat bisa memperbaiki produksi insulin
sehingga dapat menurunkan resiko yang diakibatkan dari resistensi
insulin. Makanan dengan tinggi protein dan rendah lemak bisa
membantu dan mencegah gangguan profil lipid pada wanita dengan
sindroma polikistik ovarium. Olahraga teratur minimal 150 menit dalam

seminggu membantu percepatan penyembuhan sindroma polikistik


ovarium.3
2. Farmakologi
a.
Pengobatan Anovulasi
Pilihan pertama untuk mengatasi gangguan menstruasi
dengan kombinasi kontrasepsi oral. Cara kerja kombinasi
kontrasepsi oral yaitu tersebut menekan pelepasan gonadotropin
sehingga dapat menurunkan produksi androgen pada ovarium.
Progestin yang terkandung dalam obat tersebut bekerja sebagai
antagonis endometrium poliferasi sehingga menurunkan resiko
hiperplasi endometrium.
Untuk memulai terapi wanita dipastikan tidak haid dalam 4
minggu dan hasil uji kehamilan negatif. Jika hal tersebut sudah
terpenuhi makan pengobatan dengan kombinasi bisa dilakukan
yaitu dengan memberikan regimen medroxprogesterone acetate
(MPA), 10 mg oral 1 kali dalam sehari selama 10 hari atau bisa
diberika 2x10 mg dalam 5 hari. Alternatif lain bisa diberikan
micronized progesterone (prometrium), 200 mg sehari satu kali
dalam 10 hari.3
Terapi lain untuk pengobatan anovulasi yaitu dengan
menggunakan insulin senstizing agents yaitu metformin. Cara kerja
metformin

yaitu

menggebalikan

sensitivitas

insulin

untuk

mengolah metabolisme karbohidrat sehingga resistensi insulin pada


wanita dengan sindroma polikistik ovarium berkurang. Selain itu
metformin menurunkan hormon androgen sehingga meningkatan
ovulasi secara spontan. Salah satu studi yang dilakukan fleming

pada tahun 2002 hampir 40 % wanita dengan sindroma polikistik


ovarium berhasil hamil dengan metformin tunggal. Metformin
merupakan obat dengan katagori B yang aman untuk digunakan
induksi ovulasi. Dosis yang digunakan yaitu 1500-2000 mg dosis
terbagi.3
b. Pengobatan Hirutisme dan Jerawat
Keberhasilan terapi ini bisa dilihat dengan penurunan hormon
androgen, tertapi untuk mengatasi gejala-gejala hirutisme yaitu
dengan mencukur rambut secara manual atau dengan teknik
kosmetik yang lebih canggih yaitu dengan elektrolis. Untuk terapi
jerawat atau akne bisa diberikan vitamin A, topikal benzoyl
peroxide karena berifat anti mikroba dan anti inflamasi dan
c.

diberikan antibiotik sistemik.3


Terapi Pembedahan
Terapi alternatif apabila sindroma polikistik ovarium setelah
diterapi dengan oral tapi gagal, tindakan pembedahan disebut

IX.

Laparoscopic ovarian driling and wedge resection.3


PROGNOSIS
Wanita dengan sindroma polikistik ovarium
pemeriksaan

seksama

dan

menyeluruh

agar

dapat

memerlukan
dilakukan

penatalaksanaan yang tepat untuk hasil yang optimal. Secara prinsip


penanganan adalah dengan perangsangan proses ovulasi melalui obatobatan, seperti metformin. Perubahan gaya hidup sangat mempengaruhi
prognosis karena erat kaitannya dengan resistensi insulin dan kelainan
profil lipid yang dapat mengganggu proses ovulasi.7

DAFTAR PUSTAKA
1. Sirmans M .Epidemiology, diagnosis, and management of polycystic
ovary syndrome. 2013. Los Angles: University Of Lousiana. Hal 1
2. Baziad A. Endokrinologi Ginekologi. Media Aesculapius. Jakarta:
2003. Hal 45
3. Hoffman B. Polycystic ovarian syndrome and hyperandrogenism.
Obstetric Williams volume second edition. 2012. China: The mcGrawHill Companies . Hal 461
4. Adrews G. Buku ajar kesehatan reproduksi wanita. EGC. Jakarta:
2003. Hal 541
5. Norwitz R. At a glance obstetri dan ginekologi. Erlangga. Jakarta:
2008. Hal 21-2
6. Anonim. PCOS and infertility. 2015. Diakses pada 21 Maret 2016 di
www.centerforhumanreprod.com
7. Baziad A. Sindroma polikistik ovarium dan penggunaan analog
GnRH.Departemen obstetri dan ginekologi Universitas Indonesia.
Jakarta:2012. Hal 573