Anda di halaman 1dari 9

APAKAH

YANG
DIMAKSUD
DENGAN KATARAK ?
Katarak adalah suatu keadaan
dimana lensa mata yang jernih
dan bening menjadi keruh.

RS PERTAMINA JAYA

TANDA-TANDA KATARAK
1. penglihatan
tidak
jelas,
seperti
terdapat
kabut
menghalangi objek
2. peka terhadap sinar atau
cahaya
3. dapat melihat dobel pada
satu mata
4. memerlukan pencahayaan
yang terang untuk dapat
membaca
5. lensa
mata
berubah
menjadi buram seperti kaca
susu

JALAN AHMAD YANI


JAKARTA
TELP. 4244804

APA PENYEBAB TERJADINYA


KATARAK ?
1. proses penuaan/usia lanjut
2. obat-obatan yang dapat
mengakibatkan kekeruhan
lensa
3. bengkak pada mata karena
pukulan benda asing
4. perokok berat
5. minuman
yang
memabukkan/alkohol

BAGAIMANAKAH
PENCEGAHANNYA ?

CARA

1. jika masih muda maka


dapat
diatasi
dengan
memakan
sayuran
dan
buah-buahan yang banyak

mengandung
vitamin
A,
vitamin C, dan vitamin E
2. jika sudah tua, kebanyakan
sudah mengalami tanda dan
gejala dari penyakit ini, jadi
diperiksakan ke dokter ahli
mata
sebelum
semakin
parah

seperti kacamata hitam untuk


memastikan luka pembedahan
benar-benar sembuh.

PERAWATAN
OPERASI

BAGAIMANAKAH
PENANGANAN KATARAK
Jika penderita katarak masih bisa
melihat
dengan
bantuan
kacamata maka tidak perlu
dilakukan pembedahan. Namun,
jika penderita tidak bisa melihat
lagi bahkan dengan bantuan
kacamata, pembedahan perlu
dilakukan.
Pembedahan terdiri dari dua
langkah penting :
1. pengangkatan lensa
2. penggantian lensa dengan
lensa buatan
operasi
katarak
biasanya
berlangsung aman dan jarang
terjadi
infeksi
setelahnya.
Biasanya
orang
setelah
mengalami operasi katarak diberi
tetes mata atau salep dan harus
menggunakan pelindung mata

dan
kortikosteroid
serta
penderita diabetes.
4. Katarak senilis merupakan
katarak
yang
berkaitan dengan
usia,
merupakan jenis katarak
yang paling umum

SECARA UMUM TERDAPAT 4


JENIS KATARAK :
1. Katarak
congenital
merupakan katarak yang
terjadi sejak bayi lahir dan
berkembang pada tahun
pertama dalam hidupnya.
Jenis katarak ini sangat
jarang terjadi.
2. Katarak
traumatik
merupakan katarak yang
terjadi karena kecelakaan
pada mata.
3. Katarak
komplikata
merupakan katarak yang
disebabkan oleh konsumsi
obat seperti prednisolone

SETELAH

Hindari
keramaian
dan
tempat berdebu, gunakan
kaca mata
Tidur miring ke arah mata
yang tidak di operasi
Lakukan kompres mata jika
gatal, membungkuk atau
bersin
OBAT-OBATAN
MAKAN

DAN

POLA

1.Pertama:
Bersihkan mata yang dioperasi
dengan cairan pembersih mata
steril dengan kapas kemudian
anda
dapat
terus
membersihkan
mata
anda
dengan air matang dan kain
kasa bersih

2.Kedua:
Gunakan obat tetes mata yang
diresepkan oleh Dokter, selalu
cuci
tangan
sebelum
meneteskan obat
3.Ketiga :
Kocok obat tetes mata sebelum
digunakan
4.Keempat :
Anda
diperbolehkan
makan
seperti biasa

KAPAN PERLU MENGHUBUNGI


DOKTER?
1. Jika mengalami nyeri pada
mata yang tidak tertasi oleh
obat-obatan
2. Pengelihatan
memburuk
seketika
3. Cairan
mata
berlebihan
pada mata yang dioperasi
4. Timbulnya bayangan atau
kilatan secara tiba-tiba

1. IMELDA MARLENI PAYUNGALLO


1543700404 FAKULTAS FARMASI
PROGRAM PROFESI APOTEKER

UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945


JAKARTA 2016 DESI RIKA
SILAMBI 1543700403 MAYA
RANTIM 1543700398 DAR
SUBHAN 1543700394 LA ODE
IZZATIL HAQQA 1543700383 1.
MAKALAH PHARMACEUTICAL
CARE THERAPY DRUG
MONITORING (TDM) DISUSUN
OLEH : KELOMPOK VII
2. 2. BAB I PENDAHULUAN A. Latar
Belakang Pemantauan terapi obat
(PTO) adalah suatu proses yang
mencakupkegiatan untuk
memastikan terapi obat yang
aman, efektif dan rasional
bagipasien. Kegiatan tersebut
mencakup: pengkajian pilihan
obat, dosis, carapemberian obat,
respons terapi, reaksi obat yang
tidak dikehendaki (ROTD),)dan
rekomendasi perubahan atau
alternatif terapi. Pemantauanterapi
obat harus dilakukan secara
berkesinambungan dan dievaluasi
secarateratur pada periode
tertentu agar keberhasilan ataupun
kegagalan terapi dapat diketahui.

Pasien yang mendapatkan terapi


obat mempunyai risiko
mengalamimasalah terkait obat.
Kompleksitas penyakit dan
penggunaan obat, sertarespons
pasien yang sangat individual
meningkatkan munculnya
masalahterkait obat. Hal tersebut
menyebabkan perlunya dilakukan
PTO dalampraktek profesi untuk
mengoptimalkan efek terapi dan
meminimalkan efekyang tidak
dikehendaki. Hasil meta-analisis
yang dilakukan di Amerika Serikat
pada pasienrawat inap didapatkan
hasil angka kejadian ROTD yang
serius sebanyak6,7% dan ROTD
yang fatal sebanyak 0,32%.
Sementara penelitian
yangdilakukan di rumah sakit di
Perancis menunjukkan : masalah
terkait obatyang sering muncul
antara lain: pemberian obat yang
kontraindikasi dengankondisi
pasien (21,3%), cara pemberian
yang tidak tepat (20,6%),
pemberiandosis yang sub
terapeutik (19,2%), dan interaksi

obat (12,6%).Data daripenelitian


yang dilakukan di satu rumah sakit
di Indonesia menunjukkan78,2%
pasien geriatri selama menjalani
rawat inap mengalami
masalahterkait obat. Beberapa
masalah yang ditemukan dalam
praktek apoteker komunitasdi
Amerika Serikat, antara lain: efek
samping obat, interaksi
obat,penggunaan obat yang tidak
tepat.3 Sementara di Indonesia,
data yangdipublikasikan tentang
praktek apoteker di komunitas
masih terbatas. Keberadaan
apoteker memiliki peran yang
penting dalam
mencegahmunculnya masalah
terkait obat. Apoteker sebagai
bagian dari tim
pelayanankesehatan memiliki
peran penting dalam PTO.
Pengetahuan penunjangdalam
melakukan PTO adalah
patofisiologi penyakit;
farmakoterapi; sertainterpretasi
hasil pemeriksaan fisik,

laboratorium dan diagnostik.


Selain
3. 3. itu,diperlukan keterampilan
berkomunikasi, kemampuan
membina hubunganinterpersonal,
dan menganalisis masalah. Proses
PTO merupakan prosesyang
komprehensif mulai dari seleksi
pasien, pengumpulan data
pasien,identifikasi masalah terkait
obat, rekomendasi terapi, rencana
pemantauansampai dengan tindak
lanjut. Proses tersebut harus
dilakukan
secaraberkesinambungan sampai
tujuan terapi tercapai. Dalam
rangka mendukung pelaksanaan
PTO di rumah sakit dankomunitas,
Direktorat Bina Farmasi Komunitas
dan Klinik perlu
menyusunpedoman pemantauan
terapi obat. B. Tujuan Sebagai
acuan apoteker melaksanakan
PTO dalam rangka penerapan
pelayanan farmasi klinik di rumah
sakit dan komunitas.
4. 4. Cara pemberian khusus
(contoh: inhalasi) B. Pengumpulan

Data Pasien Variasi aturan pakai


Variasi rute pemberian
Polifarmasi Obat kardiovaskular
(contoh: nitrogliserin). b)
Kompleksitas regimen Obat
yang sering menimbulkan ROTD
(contoh: metoklopramid, AINS)
Antikoagulan (contoh: warfarin,
heparin), Sitostatika (contoh:
metotreksat) Obat yang bersifat
nefrotoksik (contoh: gentamisin)
danhepatotoksik (contoh: OAT)
Obat dengan indeks terapi sempit
(contoh: digoksin,fenitoin) BAB II
TATALAKSANA PEMANTAUAN
TERAPI OBAT A. Seleksi Pasien
Pemantauan terapi obat (PTO)
seharusnya dilaksanakan
untukseluruh pasien. Mengingat
terbatasnya jumlah apoteker
dibandingkandengan jumlah
pasien, maka perlu ditentukan
prioritas pasien yangakan
dipantau. Seleksi dapat dilakukan
berdasarkan: 1. Kondisi Pasien a)
Pasien yang masuk rumah sakit
dengan multi penyakit sehingga
menerima polifarmasi b) Pasien

kanker yang menerima terapi


sitostatika c) Pasien dengan
gangguan fungsi organ terutama
hati dan ginjal d) Pasien geriatri
dan pediatri e) Pasien hamil dan
menyusui f) Pasien dengan
perawatan intensif. 2. Obat a)
Jenis Obat Pasien yang menerima
obat dengan risiko tinggi seperti :
5. 5. Data dasar pasien merupakan
komponen penting dalam
prosesPTO. Data tersebut dapat
diperoleh dari: a) Rekam medik b)
Profil pengobatan
pasien/pencatatan penggunaan
obat c) Wawancara dengan
pasien, anggota keluarga, dan
tenagakesehatan lain. Rekam
medik merupakan kumpulan data
medik seorang pasienmengenai
pemeriksaan, pengobatan dan
perawatannya di rumahsakit. Data
yang dapat diperoleh dari rekam
medik, antara lain: datademografi
pasien, keluhan utama, riwayat
penyakit sekarang, riwayatpenyakit
terdahulu, riwayat penggunaan
obat, riwayat keluarga,riwayat

sosial, pemeriksaan fisik,


laboratorium, diagnostik,
diagnosisdan terapi Data tersebut
di pelayanan komunitas dapat
diperoleh melaluiwawancara
dengan pasien, meskipun data
yang diperoleh terbatas. Profil
pengobatan pasien di rumah sakit
dapat diperoleh daricatatan
pemberian obat oleh perawat dan
kartu/formulir penggunaanobat
oleh tenaga farmasi. Profil tersebut
mencakup datapenggunaan obat
rutin, obat p.r.n (obat jika perlu),
obat denganinstruksi khusus
(contoh: insulin) Semua data yang
sudah diterima, dikumpulkan dan
kemudiandikaji. Data yang
berhubungan dengan PTO
diringkas dandiorganisasikan ke
dalam suatu format yang sesuai
Sering kali data yang diperoleh
dari rekam medis dan
profilpengobatan pasien belum
cukup untuk melakukan PTO, oleh
karenaitu perlu dilengkapi dengan
data yang diperoleh dari
wawancarapasien, anggota

keluarga, dan tenaga kesehatan


lain. C. Identifikasi Masalah Terkait
Obat Setelah data terkumpul, perlu
dilakukan analisis untuk
identifikasiadanya masalah terkait
obat. Masalah terkait obat menurut
Hepler danStrand dapat
dikategorikan sebagai berikut; a.
Ada indikasi tetapi tidak di terapi
Pasien yang diagnosisnya telah
ditegakkan dan membutuhkan
terapiobat tetapi tidak diresepkan.
Perlu diperhatikan bahwa tidak
semuakeluhan/gejala klinik harus
diterapi dengan obat. b.
Pemberian obat tanpa indikasi
Pasien mendapatkan obat yang
tidak diperlukan. c. Pemilihan obat
yang tidak tepat
6. 6. Pasien mendapatkan obat yang
bukan pilihan terbaik
untukkondisinya (bukan
merupakan pilihan pertama, obat
yang tidak costeffective, kontra
indika d. Dosis terlalu tinggi e.
Dosis terlalu rendah f. Reaksi Obat
yang Tidak Dikehendaki (ROTD) g.
Interaksi obat h. Pasien tidak

menggunakan obat karena suatu


sebab Beberapa penyebab pasien
tidak menggunakan obat antara
lain:masalah ekonomi, obat tidak
tersedia, ketidakpatuhan
pasien,kelalaian petugas. Apoteker
perlu membuat prioritas masalah
sesuai dengan kondisipasien, dan
menentukan masalah tersebut
sudah terjadi atau berpotensiakan
terjadi. Masalah yang perlu
penyelesaian segera
harusdiprioritaskan. D.
Rekomendasi Terapi Tujuan utama
pemberian terapi obat adalah
peningkatan kualitas hiduppasien,
yang dapat dijabarkan sebagai
berikut : a. Menyembuhkan
penyakit (contoh: infeksi) b.
Menghilangkan atau mengurangi
gejala klinis pasien (contoh: nyeri)
c. Menghambat progresivitas
penyakit (contoh: gangguan fungsi
ginjal) d. Mencegah kondisi yang
tidak diinginkan (contoh: stroke).
Beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi penetapan tujuan
terapiantara lain: derajat

keparahan penyakit dan sifat


penyakit (akut ataukronis).Pilihan
terapi dari berbagai alternatif yang
ada ditetapkanberdasarkan:
efikasi, keamanan, biaya, regimen
yang mudahdipatuhi. E. Rencana
Pemantauan Setelah ditetapkan
pilihan terapi maka selanjutnya
perlu dilakukanperencanaan
pemantauan, dengan tujuan
memastikan pencapaianefek terapi
dan meminimalkan efek yang tidak
dikehendaki.Apoteker dalam
membuat rencana pemantauan
perlu menetapkanlangkahlangkah: a. Menetapkan parameter
farmakoterapi Hal-hal yang harus
dipertimbangkan dalam
memilihparameter pemantauan,
antara lain: Karakteristik obat
(contoh: sifat nefrotoksik
dariallopurinol, aminoglikosida).
Obat dengan indeks terapisempit
yang harus diukur kadarnya dalam
darah (contoh:digoksin)
7. 7. Biaya pemantauan. b.
Menetapkan sasaran terapi (end
point) Penetapan sasaran akhir

didasarkan padanilai/gambaran
normal atau yang disesuaikan
denganpedoman terapi. Apabila
menentukan sasaran terapi
yangdiinginkan, apoteker harus
mempertimbangkan halhalsebagai berikut: Faktor khusus
pasien seperti umur dan penyakit
yangbersamaan diderita pasien
(contoh: perbedaan kadarteofilin
pada pasien Penyakit Paru
ObstruksiKronis/PPOK dan asma)
Karakteristik obat Bentuk sediaan,
rute pemberian, dan cara
pemberianakan mempengaruhi
sasaran terapi yang
diinginkan(contoh: perbedaan
penurunan kadar gula darah
padapemberian insulin dan anti
diabetes oral) Efikasi dan
toksisitas c. Menetapkan frekuensi
pemantauan Frekuensi
pemantauan tergantung pada
tingkat keparahanpenyakit dan
risiko yang berkaitan dengan terapi
obat.Sebagai contoh pasien yang
menerima obat kanker
harusdipantau lebih sering dan

berkala dibanding pasien


yangmenerima aspirin. Pasien
dengan kondisi relatif stabil
tidakmemerlukan pemantauan
yang sering.Berbagai faktor yang
mempengaruhi frekuensi
pemantauanantara lain:
Kebutuhan khusus dari pasien
Contoh: penggunaan obat
nefrotoksik pada pasien gangguan
fungsi ginjal Karakteristik obat
pasien Contoh: pasien yang
menerima warfarin Biaya dan
kepraktisan pemantauan
Permintaan tenaga kesehatan
lain Ketersediaan (pilih parameter
pemeriksaan yang tersedia)
Kepraktisan pemantauan (contoh:
pemeriksaankadar kalium dalam
darah untuk
penggunaanfurosemide dan
digoxin secara bersamaan)
Efikasi terapi dan efek merugikan
dari regimen Perubahan fisiologik
pasien (contoh: penurunan
fungsiginjal pada pasien geriatri
mencapai 40%) Efisiensi
pemeriksaan laboratorium

8. 8. Pemeriksaan parameter klinis


lebih sering Perubahan pola
makan atau penggunaan nutrisi
parenteral/enteral Pemeriksaan
laboratorium Mengedukasi
pasien Memberikan alternatif
terapi, menghentikan
pemberianobat, memodifikasi
dosis atau interval pemberian,
merubah rute pemberian Data
pasien yang lengkap mutlak
dibutuhkan dalam PTO,tetapi pada
kenyataannya data penting terukur
sering tidakditemukan sehingga
PTO tidak dapat dilakukan dengan
baik. Hal tersebut menyebabkan
penggunaan data subyektif
sebagai dasar PTO. Jika
parameter pemantauan tidak dapat
digantikan dengan data subyektif
maka harus diupayakan adanya
data tambahan. Proses
selanjutnya adalah menilai
keberhasilan atau kegagalan
mencapai sasaran terapi.
Keberhasilan dicapai ketika hasil
pengukuran parameter klinis
sesuai dengan sasaran terapi yang

telah ditetapkan. Apabila hal


tersebut tidak tercapai, maka
dapat dikatakan mengalami
kegagalan mencapai sasaran
terapi. Penyebab kegagalan
tersebut antara lain: kegagalan
menerima terapi, perubahan
fisiologis/kondisi pasien,
perubahan terapi pasien, dan
gagal terapi. Salah satu metode
sistematis yang dapat digunakan
dalamPTO adalah Subjective
Objective Assessment
Planning(SOAP). S : Subjective
Data subyektif adalah gejala yang
dikeluhkan oleh pasien.Contoh :
pusing, mual, nyeri, sesak nafas.
O : Objective Data obyektif adalah
tanda/gejala yang terukur oleh
tenagakesehatan. Tanda-tanda
obyektif mencakup tanda
vital(tekanan darah, suhu tubuh,
denyut nadi,
kecepatanpernafasan), hasil
pemeriksaan laboratorium dan
diagnostik A : Assessment
Berdasarkan data subyektif dan
obyektif dilakukan analisisuntuk

menilai keberhasilan terapi,


meminimalkan efek yangtidak
dikehendaki dan kemungkinan
adanya masalah baruterkait obat.
P : Plans Setelah dilakukan SOA
maka langkah berikutnya
adalahmenyusun rencana yang
dapat dilakukan
untukmenyelesaikan
masalah.Rekomendasi yang dapat
diberikan:
9. 9. F. Tindak Lanjut Hasil
identifikasi masalah terkait obat
dan rekomendasi yang telahdibuat
oleh apoteker harus
dikomunikasikan kepada tenaga
kesehatanterkait. Kerjasama
dengan tenaga kesehatan lain
diperlukan untukmengoptimalkan
pencapaian tujuan terapi.
Informasi dari doktertentang
kondisi pasien yang menyeluruh
diperlukan untuk
menetapkantarget terapi yang
optimal. Komunikasi Dapat
meningkatkan kepatuhan pasien
dalam penggunaan obat, Tidak
menimbulkan keraguan pasien

dalam menggunakan obat Tidak


bertentangan/berbeda dengan
informasi dari tenaga kesehatan
lain yang efektif dengan
tenagakesehatan lain harus selalu
dilakukan untuk mencegah
kemungkinantimbulnya masalah
baru. Kegagalan terapi dapat
disebabkan karena ketidakpatuhan
pasien dankurangnya informasi
obat. Sebagai tindak lanjut pasien
harusmendapatkan Komunikasi,
Informasi dan Edukasi (KIE)
secara tepat.Informasi yang tepat
sebaiknya:
10.
10. BAB III DOKUMENTASI
Setiap langkah kegiatan
pemantauan terapi obat yang
dilakukanharus didokumentasikan.
Hal ini penting karena berkaitan
dengan buktiotentik pelaksanaan
pelayanan kefarmasian yang dapat
di gunakan untuk tujuan
akuntabilitas/pertanggungjawaban,
evaluasi pelayanan,pendidikan dan
penelitian Sistimatika
pendokumentasian harus dibuat
sedemikian rupasehingga mudah

untuk penelusuran kembali.


Pendokumentasian dapatdilakukan
berdasarkan nomor rekam medik,
nama, penyakit, ruangandan usia.
Data dapat didokumentasikan
secara manual, elektronik
ataukeduanya. Data bersifat
rahasia dan disimpan dengan
rentang waktusesuai kebutuhan.
Sesuai dengan etik penelitian,
untuk publikasi hasil penelitian
identitas pasien harus
disamarkan.Petunjuk praktis dalam
pencatatan dokumentasi: a.
Dokumentasi dibuat dalam formulir
khusus yang telah disepakati b.
Informasi sebaiknya ditulis singkat
dan jelas (bentuk frase
bukankalimat lengkap) c. Informasi
yang ditulis hanya berisi data untuk
mendukungassessment dan plans
d. Setiap masalah dan
rekomendasinya dibuat secara
sistematis e. Singkatan yang lazim
f. Data dikategorikan dengan tepat
(contoh: demam adalah
datasubyektif, suhu tubuh 39C
adalah data obyektif) g. Parameter

yang digunakan sedapat mungkin


terukur (contoh:tekanan darah
terkontrol 130/80mmHg) (contoh
format terlampir)
11.
11. BAB IV PENUTUP
Pedoman Pemantauan Terapi
Obat ini diharapkan dapat
digunakan sebagai acuan apoteker
dalam melakukan praktek profesi
terutama dalam pelaksanaan
pelayanan farmasi klinik di rumah
sakit dan komunitas. Pedoman
Pemantauan Terapi Obat, bukan
merupakan standar yang bersifat
mutlak, maka dalam pelaksanaan
di lapangan apoteker perlu
menambah informasi dan referensi
dari sumber lain. Apoteker sebagai
long life learner harus selalu
menambah pengetahuan dan
keterampilannya melalui
pendidikan formal atau non formal
(continuingprofessional
development). Dengan adanya

Pedoman Pemantauan Terapi


Obat, apoteker diharapkan
melaksanakan pemantauan terapi
obat, sehingga masyarakat pada
umumnya dan pasien pada
khususnya serta pihak-pihak
terkait akan lebih merasakan
peran dan fungsi pelayanan
kefarmasian.
12.
12. DAFTAR PUSTAKA
Jason Lazarou et al, Inciden of
drug reactions in
Hospitalizedpatients,JAMA,
Volume 279 No 15 April 1998 dan
J.Simon Bell, et al drug related
problems in the community setting,
download fromwww.medscpe.com
24/05/2009 Arsyanti,L .Identifikasi
masalah terkait obat pada pasien
geriatri di ruang rawat penyakit
dalam RSUPN Dr. Cipto
Mangunkusum.Thesis Program
Magister Ilmu Kefarmasian
Universitas Indonesia, Jakarta,

2005 Pierrick Bedouch,


assessment of clinical
pharmacists interventions in
French Hospitals: Result of a
multicenter Study download from
www.theannals.com, 24/05/2009)
Strand LM, Morley PC, Cipolle RJ,
Pharmaceutical Care Practice,
New York, Mc Graw Hill Company,
1998