Anda di halaman 1dari 22

FRAKTUR TERBUKA

Oleh :
Nama : Hendriawan Putra
NIM : 110100314

Pembimbing:
dr. Otman Siregar, Sp.OT (K)

DEPARTEMEN ILMU BEDAH ORTOPEDI DAN TRAUMATOLOGI


RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2016

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya yang begitu besar sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul FRAKTUR TERBUKA. Makalah ini
disusun sebagai rangkaian tugas kepaniteraan klinik di Departemen Ilmu Bedah
Ortopedi dan Traumatologi RSUP Haji Adam Malik Medan.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada dr. Otman
Siregar, Sp.OT(K) selaku pembimbing yang telah memberikan arahan dalam
penyelesaian makalah ini. Dengan demikian diharapkan makalah ini dapat
memberikan kontribusi positif dalam sistem pelayanan kesehatan secara optimal.
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna,
baik dari segi materi maupun tata cara penulisannya. Oleh karena itu, dengan segala
kerendahan hati, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi
perbaikan makalah ini di kemudian hari.

Medan, 20 Mei 2016

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................ i
DAFTAR ISI .......................................................................................... ii
BAB 1 PENDAHULUAN ..................................................................... 1
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ............................................................ 2
2.1. Definisi Fraktur Terbuka ...................................................... 2
2.2. Klasifikasi Fraktur Terbuka.................................................. 2
2.3. Etiologi Fraktur Terbuka ...................................................... 4
2.4. Diagnosis Fraktur Terbuka ................................................... 5
2.5. Penatalaksanaan Fraktur Terbuka ........................................ 8
2.6. Komplikasi Fraktur Terbuka ................................................ 17
BAB 3 KESIMPULAN ......................................................................... 18
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. 19

BAB 1
PENDAHULUAN
Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan
epifisis, baik yang bersifat total maupun parsial. Trauma yang menyebabkan fraktur
pada tulang dapat berupa trauma langsung dan tidak langsung. Trauma langsung
menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah tekanan.
Trauma tidak langsung, apabila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari
daerah fraktur.
Secara klinis, fraktur dibedakan atas fraktur tertutup dan fraktur terbuka.
Fraktur terbuka merupakan suatu fraktur dimana terjadi hubungan dengan lingkungan
luar melalui kulit sehingga terjadi kontaminasi bakteri sehingga timbul komplikasi
berupa infeksi. Luka pada kulit dapat berupa tusukan tulang yang tajam keluar
menembus kulit (from within) atau dari luar oleh karena tertembus misalnya oleh
peluru atau trauma langsung (from without).
Fraktur terbuka merupakan suatu keadaan darurat yang memerlukan
penanganan yang terstandar untuk mengurangi resiko infeksi. Selain mencegah
infeksi juga diharapkan terjadi penyembuhan fraktur dan restorasi fungsi anggota
gerak. Beberapa hal yang penting untuk dilakukan dalam penanggulangan fraktur
terbuka yaitu operasi yang dilakukan dengan segera, secara hati-hati, debridemen
yang berulang-ulang, stabilisasi fraktur, penutupan kulit dan bone grafting yang dini
serta pemberian antibiotik yang adekuat.1 Makalah ini akan membahas mengenai
fraktur terbuka, diagnosis serta penatalaksanaannya.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi Fraktur Terbuka
Fraktur terbuka merupakan suatu fraktur dimana terjadi hubungan dengan
lingkungan luar melalui kulit sehingga terjadi kontaminasi bakteri sehingga timbul
komplikasi berupa infeksi. Luka pada kulit dapat berupa tusukan tulang yang tajam
keluar menembus kulit (from within) atau dari luar oleh karena tertembus misalnya
oleh peluru atau trauma langsung (from without). 1
2.1.2. Klasifikasi Fraktur Terbuka
Penatalaksanaan fraktur terbuka ditentukan oleh jenis fraktur, sifat cedera
jaringan lunak (termasuk ukuran luka) dan tingkat kontaminasi. Klasifikasi Gustilo
untuk fraktur terbuka merupakan klasifikasi yang digunakan secara luas. Menurut
Gustilo, Merkow, dan Templeman, fraktur terbuka dibagi menjadi 3 kelompok 1,2 :
1. Tipe I
Luka kecil kurang dari 1cm panjangnya, biasanya karena luka tusukan dari
fragmen tulang yang menembus kulit. Terdapat sedikit kerusakan jaringan dan
tidak terdapat tanda-tanda trauma yang hebat pada jaringan lunak. Fraktur yang
terjadi biasanya bersifat simple, transversal, oblik pendek atau sedikit komunitif.
2. Tipe II
Laserasi kulit melebihi 1cm tetapi tidak ada kerusakan jaringan yang hebat atau
avulsi kulit. Terdapat kerusakan yang sedang dari jaringan dengan sedikit
kontaminasi fraktur.
3. Tipe III
Terdapat kerusakan yang hebat dari jaringan lunak termasuk otot, kulit dan
struktur neurovaskuler dengan kontaminasi yang hebat. Tipe ini biasanya di
sebabkan oleh karena trauma dengan kecepatan tinggi.
Tipe III di bagi dalam tiga subtipe:

Tipe IIIA : Jaringan lunak cukup menutup tulang yang patah walaupun
terdapat laserasi yang hebat ataupun adanya flap. Fraktur bersifat segmental

atau komunitif yang hebat.


Tipe IIIB : fraktur disertai dengan trauma yang hebat dengan kerusakan dan
kehilangan jaringan, terdapat pendorongan (stripping) periost, tulang terbuka,

kontaminasi yang hebat serta fraktur komunitif yang hebat.


Tipe IIIC: fraktur terbuka yang disertai dengan kerusakan arteri yang
memerlukan perbaikan tanpa memperhatikan tingkat kerusakan jaringan
lunak.

Gambar 2.1. Klasifikasi Gustilo


The Orthopaedic Trauma Association (OTA) mengeluarkan klasifikasi fraktur
dan dislokasi, fraktur terbuka dikategorikan berdasarkan lima variabel utama, sebagai
berikut 3 :
1. luka kulit :
a. Laserasi dengan tepi yang dapat didekatkan
b. Laserasi dengan tepi yang tidak dapat didekatkan
c. Laserasi yang berkaitan dengan degloving luas

2. cedera otot :

a. Tidak ada nekrosis otot, beberapa cedera otot dengan fungsi otot
yang masih baik
b. Hilangnya otot namun dapat berfungsi, terdapat beberapa nekrosis
lokal di zona cedera yang memerlukan eksisi, otot-tendon utuh
c. Otot mati, hilangnya fungsi otot, kompartemen eksisi parsial atau
lengkap, gangguan lengkap unit otot-tendon, defek otot tidak dapat
didekatkan
3. cedera arteri :
a. Tidak ada gangguan pembuluh darah utama
b. Cedera pembuluh tanpa iskemia distal
c. Cedera pembuluh dengan iskemia distal
4. Kontaminasi :
a. Tidak ada atau kontaminasi minimal
b. Kontaminasi pada permukaan
c. Kontaminan melekat pada tulang atau dalam jaringan lunak; atau
kondisi lingkungan berisiko tinggi (lumbung, tinja, air kotor, dll)
5. Kehilangan tulang :
a. Tidak ada
b. Tulang hilang atau devaskularisasi fragmen tulang, tapi masih
terdapat beberapa hubungan antara fragmen proksimal dan distal
c. Kehilangan tulang segmental
2.3. Etiologi Fraktur Terbuka
Fraktur terbuka disebabkan oleh trauma dengan energi tinggi, paling sering
akibat benturan langsung, seperti akibat dari jatuh atau tabrakan kendaraan bermotor.
Cedera pada jaringan lunak dan tulang setara dengan energi kinetik (EK = mv2 ), di
mana m adalah massa dan v adalah kecepatan tubuh .Dapat juga disebabkan oleh luka
tembak, maupun kecelakaan kerja. Fraktur terbuka ini juga bisa terjadi secara tidak
langsung, seperti tipe cedera memutar dengan energi tinggi. Tingkat keparahan cedera
fraktur terbuka berhubungan langsung dengan lokasi dan besarnya gaya yang
mengenai tubuh. Ukuran luka bisa sangat kecil, misalnya akibat tonjolan ujung tulang
yang tajam. Fraktur terbuka lainnya dapat melibatkan banyak tulang dan otot, dan
dapat merusak saraf dan pembuluh darah sekitarnya. 4,5,6

2.4. Diagnosis Fraktur Terbuka


2.4.1. Anamnesis
Biasanya penderita datang dengan suatu trauma, sehingga mekanisme cedera
harus selalu ditanyakan kepada pasien secara rinci. Gejala yang dirasakan, seperti
nyeri dan bengkak harus diperhatikan. Anamnesis harus dilakukan dengan cermat
karena fraktur tidak selamanya terjadi di daerah trauma dan mungkin fraktur terjadi
pada daerah lain. Perlu diperhatikan apakah ada trauma atau keluhan di daerah
lainnya.1,7
Pada pemeriksaan awal penderita, perlu diperhatikan adanya 1:
1.
2.
3.

Syok, anemia atau pendarahan


Kerusakan pada organ-organ lain, misalnya otak, sumsum tulang belakang atau
organ-organ dalam rongga toraks, panggul dan abdomen
Faktor predisposisi, misalnya pada fraktur patologis.
2.4.2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik muskuloskeletal yang lengkap harus mencakup inspeksi
(look), palpasi (feel), dan lingkup gerak (move) 1 :
Inspeksi (Look)
o Bandingkan dengan bagian yang sehat
o Perhatikan posisi anggota gerak
o Keadaan umum penderita secara keseluruhan
o Ekspresi wajah karena nyeri
o Lidah kering atau basah
o Adanya tanda-tanda anemia karena perdarahan
o Apakah terdapat luka pada kulit dan jaringan lunak untuk membedakan
fraktur tertutup atau fraktur terbuka
o Ekstravasasi darah subkutan dalam beberapa jam sampai beberapa hari
o Perhatikan adanya deformitas berupa angulasi, rotasi dan kependekan
o Lakukan survei pada seluruh tubuh apakah ada trauma pada organ-

organlain
o Perhatikan kondisi mental penderita
o Keadaan vaskularisasi
Palpasi (Feel) Palpasi dilakukan secara hati-hati oleh karena penderita biasanya
mengeluh sangat nyeri. Hal-hal yang perlu diperhatikan:

o Temperatur setempat yang meningkat.


o Nyeri tekan; nyeri tekan yang bersifat superfisial biasanya disebabkan
oleh kerusakan jaringan lunak yang dalam akibat fraktur pada tulang.
o Krepitasi; dapat diketahui dengan perabaan dan harus dilakukan secara
hati-hati.
o Pemeriksaan vaskuler pada daerah distal trauma berupa palpasi arteri
radialis, arteri dorsalis pedis, arteri tibialis posterior sesuai dengan anggota
gerak yang terkena.
o Refilling (pengisian) arteri pada kuku, warna kulit pada bagian distal
daerah trauma , temperatur kulit.
o Pengukuran tungkai terutama pada tungkai bawah untuk mengetahui

adanya perbedaan panjang tungkai.


Pergerakan (Movement)
Krepitus dan gerakan abnormal dapat ditemukan, tetapi lebih penting untuk
menanyakan apakah pasien dapat menggerakan sendi sendi di bagian distal
cedera. Pergerakan dengan mengajak penderita untuk menggerakkan secara aktif
dan pasif sendi proksimal dan distal dari daerah yang mengalami trauma. Pada
pederita dengan fraktur, setiap gerakan akan menyebabkan nyeri hebat sehingga
uji pergerakan tidak boleh dilakukan secara kasar, disamping itu juga dapat
menyebabkan kerusakan pada jaringan lunak seperti pembuluh darah dan saraf.

2.4.3. Pemeriksaan Neurologis


Pemeriksaan neurologis berupa pemeriksaan saraf secara sensoris dan motoris
serta gradasi kelelahan neurologis, yaitu neuropraksia, aksonotmesis atau
neurotmesis.1
2.4.4. Pemeriksaan Radiologis
Macam-macam

pemeriksaan

radiologi

yang

dapat

dilakukan

untuk

menetapkan kelainan tulang dan sendi 1:


o Foto Polos
Dengan pemeriksaan klinik kita sudah dapat mencurigai adanya fraktur.
Walaupun demikian pemeriksaan radiologis diperlukan untuk menentukan
keadaan, lokasi serta ekstensi fraktur. Untuk menghindarkan nyeri serta kerusakan

jaringan lunak selanjutnya, maka sebaiknya kita mempergunakan bidai yang


bersifat radiolusen untuk imobilisasi sementara sebelum dilakukan pemeriksaan
radiologis.
Tujuan pemeriksaan radiologis :
Untuk mempelajari gambaran normal tulang dan sendi
Untuk konfirmasi adanya fraktur
Untuk melihat sejauh mana pergerakan dan konfigurasi fragmen serta
pergerakannya
Untuk menentukan teknik pengobatan
Untuk menentukan apakah fraktur itu baru atau tidak
Untuk menentukan apakah fraktur intra-artikuler atau ekstra-artikuler
Untuk melihat adanya keadaan patologis lain pada tulang
Untuk melihat adanya benda asing, misalnya peluru.
Pemeriksaan radiologi dilakukan dengan beberapa prinsip dua (rule of 2):
Dua posisi proyeksi (minimal antero-posterior dan lateral)
Dua sendi pada anggota gerak dan tungkai harus difoto, dibawah dan

diatas sendi yang mengalami fraktur


Dua anggota gerak
Dua trauma, pada trauma hebat sering menyebabkan fraktur pada dua
daerah tulang. Misal: fraktur kalkaneus dan femur, maka perlu dilakukan

foto pada panggul dan tulang belakang


Dua kali dilakukan foto. Pada fraktur tertentu misalnya tulang skafoid foto
pertama biasanya tidak jelas sehingga biasanya diperlukan foto berikutnya

10-14 hari kemudian.


o CT-Scan. Suatu jenis pemeriksaan untuk melihat lebih detail mengenai bagian
tulang atau sendi, dengan membuat foto irisan lapis demi lapis.
o MRI, dapat digunakan untuk memeriksa hampir seluruh tulang, sendi, dan
jaringan

lunak.

MRI

dapat

digunakan

untuk

mengidentifikasi

cedera

tendon,ligamen, otot, tulang rawan dan tulang.


o Radioisotop scanning
o Tomografi
Umumnya dengan foto polos kita dapat mendiagnosis fraktur, tetapi perlu
ditanyakan apakah fraktur terbuka atau tertutup, tulang mana yang terkena dan

lokasinya, apakah sendi juga mengalami fraktur serta bentuk fraktur itu sendiri.
Konfigurasi fraktur dapat menentukan prognosis serta waktu penyembuhan fraktur. 1
2.5. Penatalaksanaan Fraktur Terbuka
2.5.1. Survei Awal
Kasus fraktur biasanya terjadi akibat adanya trauma oleh karena itu sebelum
dilakukan pengobatan definitif suatu fraktur, maka perlu dilakukan penatalaksaan
sesuai dengan prinsip trauma. Survei awal bertujuan untuk menilai dan memberikan
pengobatan sesuai dengan prioritas berdasarkan trauma yang dialami. Fungsi-fungsi
vital penderita harus dinilai secara tepat dan efisien. Penanganan penderita harus
terdiri atas evaluasi awal yang cepat serta resusitasi fungsi vital, penanganan trauma
dan identifikasi keadaan yang dapat menyebabkan kematian. Survei awal pada kasus
trauma adalah sebagai berikut 1,2 :

A: Airway (saluran napas), penilaian terhadap patensi jalan napas. Apabila


terdapat obstruksi jalan napas, maka harus segera dibebaskan. Apabila
dicurigai kelainan pada vertebra servikalis maka dilakukan pemasangan kolar
leher untuk penyangga. Pada beberapa keadaan kemungkinan terdapat
kesulitan untuk membedakan adanya benda asing dalam jalan napas, fraktur
mandibular dan maksila, robekan trakea atau laring dan trauma vertebra

servikalis.
B: Breathing (pernapasan), perlu diperhatikan dan dilihat secara keseluruhan
daerah toraks untuk menilai ventilasi. Jalan napas yang bebas bukan berarti
ventilasi cukup. Bila ada gangguan atau instabilitas kardiovaskuler, respirasi,
atau gangguan neurologis, kita harus melakukan ventilasi dengan bantuan alat
pernapasan berupa kantong yang disambung dengan masker atau pipa
endotrakeal. Kelainan yang dapat memberikan gangguan pernapasan,
misalnya: pneumotoraks, hemotoraks massif, kontusi pulmoner dengan flail
chest.

C: Circulation (sirkulasi), sirkulasi adalah kontrol perdarahan meliputi 2 hal:


Volume darah dan output jantung; perdarahan baik perdarahan luar maupun
perdarahan dalam, perdarahan luar harus diatasi dengan balut tekan. Ada tiga
tanda klinis yang dengan cepat menunjukkan tanda-tanda hipovolemik yaitu:
penurunan kesadaran, warna kulit yang pucat, perabaan nadi. Jangan
melakukan pengikatan dengan bahan seperti karet, verban dan sebagainya

karena dapat menyebabkan kematian anggota gerak tertentu.


D: Disability (evaluasi neurologis), evaluasi neurologis secara cepat setelah
satu survei awal, dengan menilai tingkat kesadaran, besar dan reaksi pupil.
Menggunakan metode AVPU: A (alert / sadar), V (vokal / adanya respon
terhadap stimuli vokal), P (painful, danya respon terhadap rangsang nyeri), U

(unresponsive / tidak ada respon sama sekali).


E: Exposure (kontrol lingkungan), untuk melakukan pemeriksaan secara teliti
pakaian penderita perlu dilepas (pada pasien tidak sadarkan diri), selain itu
perlu dihindari terjadinya hipotermi.

2.5.2. Penatalaksanaan Fraktur Secara Umum


Ada enam prinsip umum pengobatan fraktur 1:
1.
2.
3.

Jangan membuat keadaan lebih jelek


Pengobatan berdasarkan diagnosis dan prognosis yang akurat
Seleksi pengobatan dengan tujuan khusus
a. Menghilangkan nyeri : dengan imobilisasi fraktur dan pemberian
analgetik
b. Memperoleh posisi yang baik dari fragmen : beberapa fraktur tan
pergeseran fragmen tulang atau pergeseran sedikit tidak memerlukan
reduksi
c. Mengusahakan terjadinya penyambungan tulang : bila terjadi
kerusakan hebat, kemungkinan diperlukan usaha agar terjadi union
misalnya dengan bone graft
d. Mengembalikan fungsi secara optimal : perlu dilakukan latihanuntuk

4.
5.

pencegahan atrofi pada anggota gerak


Mengingat hukum hukum penyembuhan secara alami
Bersifat realistik dan praktis dalam memilih jenis pengobatan

10

6.

Seleksi pengobatan sesuai dengan penderita secara individual


Prinsip pengobatan fraktur secara umum adalah 4R 1 :

Recognition (diagnosis dan penilaian fraktur): mengetahui dan menilai keadaan


fraktur dengan anamnesis, pemeriksaan klinik, dan radiologis. Perlu diperhatikan:
lokasi fraktur, bentuk fraktur, menentukan teknik yang sesuai untuk pengobatan,

komplikasi yang mungkin terjadi selama dan sesudah pengobatan.


Reduction (reduksi fraktu apabila perlu). Restorasi fragmen fraktur dilakukan
untuk mendapatkan posisi yang dapat diterima. Posisi yang baik adalah alignment
yang sempurna dan aposisi yang sempurna. Angulasi < 5o pada tulang panjang
anggota gerak bawah dan lengan atas dan angulasi sampai 10 o pada humerus
dapat diterima. Terdapat kontak sekurang-kurangnya 50%, dan over riding < 0,5
inchi pada fraktur femur. Adanya rotasi tidak dapat diterima dimanapun

lokasinya.
Retention, imobilisasi fraktur.
Rehabilitation, mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin.

2.5.3. Penanggulangan Fraktur Terbuka


Beberapa prinsip dasar pengelolaan fraktur terbuka 1:

Obati fraktur terbuka sebagai satu kegawatan


Adakan evaluasi awal dan diagnosis akan adanya kelainan yang dapat

menyebabkan kematian
Berikan antibiotik dalam ruang gawat darurat, di kamar operasi dan setelah

operasi
Segera dilakukan debrideman dan irigasi yang baik
Ulangi debrideman 24-72 jam berikutnya
Stabilisasi fraktur
Biarkan luka tebuka antara 5-7 hari
Lakukan bone graft autogenous secepatnya
Rehabilitasi anggota gerak yang terkena
Tahap-Tahap Pengobatan Fraktur Terbuka 1,4,5 :

11

1. Pembersihan luka
Pembersihan luka dilakukan dengan cara irigasi dengan cairan NaCl fisiologis
secara mekanis untuk mengeluarkan benda asing yang melekat.
2. Eksisi jaringan yang mati dan tersangka mati (debridemen)
Semua jaringan yang kehilangan vaskularisasinya merupakan daerah tempat
pembenihan bakteri sehingga diperlukan eksisi secara operasi pada kulit, jaringan
subkutaneus, lemak, fascia, otot dan fragmen-fragmen yang lepas. Debridemen
adalah pengangkatan jaringan yang rusak dan mati sehingga luka menjadi bersih.
Pada Gustilo tipe I dan II, untuk melakukan debridemen yang adekuat, luka lama
dapat diperluas, jika diperlukan dapat membentuk irisan yang berbentuk elips
untuk mengangkat kulit, fasia serta tendon ataupun jaringan yang sudah mati.
Debridemen yang adekuat merupakan tahapan yang penting untuk pengelolaan.
Debridemen harus dilakukan sistematis, komplit serta berulang. Diperlukan cairan
yang cukup untuk fraktur terbuka, menggunakan cairan normal saline.
Direkomendasikan dilakukan debridemen dalam waktu 6 jam.
3. Pengobatan fraktur itu sendiri
Stabilisasi fraktur merupakan hal yang penting dalam mengurangi kecenderungan
untuk infeksi dan membantu dalam penyembuhan jaringan lunak. Metode fiksasi
tergantung pada derajat kontaminasi, rentang waktu terjadinya trauma hingga
operasi, dan kerusakan jaringan lunak. Fraktur dengan luka yang hebat
memerlukan suatu fraksi skeletal atau reduksi terbuka dengan fiksasi eksterna
tulang. Fraktur tipe II dan III sebaiknya difiksasi dengan fiksasi eksterna.
4. Penutupan kulit
Apabila fraktur terbuka diobati dalam waktu periode emas (6-7 jam mulai dari
terjadinya kecelakaan), maka sebaiknya kulit ditutup. Hal ini dilakukan apabila
penutupan membuat kulit sangat tegang. Dapat dilakukan split thickness skin-graft
serta pemasangan drainase isap untuk mencegah akumulasi darah dan serum pada
luka yang dalam. Luka dapat dibiarkan terbuka setelah beberapa hari tapi tidak
lebih dari 10 hari. Kulit dapat ditutup kembali disebut delayed primary closure.

12

Yang perlu mendapat perhatian adalah penutupan kulit tidak dipaksakan yang
mengakibatkan sehingga kulit menjadi tegang.
5. Pemberian antibiotik
Pemberian antibiotik bertujuan untuk mencegah infeksi. Antibiotik diberikan
dalam dosis yang adekuat sebelum, pada saat dan sesudah tindakan operasi.
Pemberian antibiotika adalah efektif mencegah terjadinya infeksi pada pada fraktur
terbuka. Untuk fraktur terbuka antibiotika yang dianjurkan adalah golongan
sefalosporin untuk Gustilo tipe I, kombinasi dengan golongan aminoglikosida
untuk tipe II. Pada tipe III diberikan kombinasi sefalosporin, penisilin, dan
aminoglikosida.
Organisme yang paling sering menginfeksi fraktur terbuka yaitu Stafilokokus
aureus dan Stafilokokus koagulasi negatif. Infeksi yang terjadi kemudian di rumah
sakit, biasanya nosocomial dan bisanya disebabkan oleh bakteri gram negatif.
Organisme yang biasanya menginfeksi pada luka tusuk di kaki yaitu Pseudomonas
aerogenosa. Fraktur terbuka yang terjadi di lahan pertanian yang melibatkan
jaringan dalam tanpa debridemen biasanya melibatkan infeksi Clostridium.
Methicillin resistant staph.aureus (MRSA) telah diisolasi biasanya didapatkan dari
komunitas dan nosocomial; berkaitan dengan tingkat morbiditas dan mortalitas
yang lebih tinggi. Lanezolid and Vankomisin efektif terhadap some MRSA.
Antibiotik lain yang efektif, yaitu tetrasiklin, rifampisin, klindamisin dan
trimethoprim-sulfametoksazole tetapi harus dilakukan kultur terlebih dahulu.
6. Pencegahan tetanus
Semua penderita dengan fraktur terbuka perlu diberikan pencegahan tetanus. Pada
penderita yang telah mendapat imunisasi aktif cukup dengan pemberian toksoid
tapi bagi yang belum, dapat diberikan 250 unit tetanus imunoglobulin (manusia).
Dosis toksoid yaitu 0.5ml, tidak tergantung usia. Dosis imunoglobulin pada anak
<5 tahun yaitu 75 unit, 125 unit untuk 5-10 tahun, dan 250 unit untuk anak >10
tahun. Diberikan secara intramuskular.
2.5.4. Pembedahan pada Fraktur Terbuka

13

Debridemen
Prinsip debridemen adalah untuk membersihkan kontaminasi yang terdapat di

sekitar fraktur dengan melakukan pengangkatan terhadap jaringan yang non viabel
dan material asing, seperti pasir yang melekat pada jaringan lunak. Dilakukan
penilaian pada sekitar jaringan sekitar tulang, cedera pembuluh darah, tendon, otot,
saraf. Debridement jaringan otot dipertimbangkan jika otot terkontaminasi berat dan
kehilangan

kontraktilitas.

Debridement

pada

tendon

mempertimbangkan

kontraktilitas tendon, sedangkan debridement pada kulit dilakukan hingga timbul


perdarahan. Pada fraktur terbuka grade IIIb dan IIIc dilakukan serial debridement
yang diulang dalarn selang waktu 24-72 jam untuk tercapainya debridement definitif.
Sebelum dilakukan debridemen, diberikan antibiotik profilaksis yang
dilakukan di ruangan gawat darurat. Yang terbaik adalah golongan sefalosforin.
Biasanya dipakai sefalosforin golongan pertama. Peralatan proteksi diri yang
dibutuhkan saat operasi adalah google, boot dan sarung tangan tambahan. Sebelum
dilakukan operasi, dilakukan pencucian dengan povine iodine, lalu drapping area
operasi. Debridemen dilakukan pertama kali pada daerah kulit. Kemudian rawat
perdarahan di vena dengan melakuan koagulasi. Buka fascia untuk menilai otot dan
tendon. Viabilitas otot dinilai dengan 4C, Color, Contractility, Circulation and
Consistency. Lakukan pengangkatan kontaminasi canal medullary dengan saw atau
rongeur. Curettage canal medulary dihindarkan dengan alasan mencegah infeksi ke
arah proksimal. Irigasi dilakukan dengan normal saline. Penggunaan normal saline
adalah 6-10 liter untuk fraktur terbuka grade II dan III. Tulang dipertahankan dengan
reposisi. Bisa digunakan ekternal fiksasi pada fraktur grade III.
Penutupan luka dilakukan jika memungkinkan. Berdasarkan jumlah jaringan
lunak yang hilang, luka-luka kompleks (complex wound) dapat ditutupi dengan
menggunakan metode yang berbeda, yakni :
a. Lokal Flap

14

Jaringan otot dari ekstremitas yang terlibat diputar untuk menutupi fraktur.
Kemudian diambil sebagian kulit dari daerah lain dari tubuh (graft) dan
ditempatkan di atas luka.
b. Free Flap
Beberapa luka mungkin memerlukan transfer lengkap jaringan. Jaringan ini sering
diambil dari bagian punggung atau perut. Prosedur free flap membutuhkan bantuan
dari seorang ahli bedah mikrovaskuler untuk memastikan pembuluh darah
terhubung dan sirkulasi tetap berjalan.
Pada fraktur tipe III yang tidak bisa dilakukan penutupan luka, dilakukan
rawat luka terbuka, hingga luka dapat ditutup sempurna. 1,4,5

Perawatan Pasca Bedah


Antibiotika post operasi dilanjutkan hingga 2-3 hari pasca debridemen. Kultur

pus, jika ada pus, lakukan kultur pus. Pada fraktur terbuka grade yang memerlukan
debridemen ulangan, maka akan dilakukan debridemen ulangan hingga jaringan
cukup sehat dan terapi definitif terhadap tulang bisa dimulai. Pada penutupan luka
yang tertunda, dilakukan pemasangan split thickness skin flap, vascularized pedicle
flaps (seperti gastrocnemeus flap) dan free flaps seperti fasciocutaneus flaps atau
myocutaneus flaps. Dilakukan penilaian terhadap kondisi jaringan setiap hari dan
pemberian antibiotika, hingga jaringan sehat dan terapi definitif terhadap tulang bisa
dimulai.4

Terapi Definitif Fraktur Terbuka


Hal ini penting untuk menstabilkan patah tulang sesegera mungkin untuk

mencegah kerusakan jaringan yang lebih lunak. Tulang patah dalam fraktur terbuka
biasanya digunakan metode fiksasi eksternal atau internal. Metode ini memerlukan
operasi.
a. Fiksasi Internal
Selama operasi, fragmen tulang yang pertama direposisi (dikurangi) ke posisi
normal kemudian diikat dengan sekrup khusus atau dengan melampirkan pelat

15

logam ke permukaan luar tulang. Karena fraktur terbuka dapat disertai


kerusakan jaringan dan cedera tambahan, mungkin diperlukan waktu sebelum
operasi fiksasi internal dapat dilakukan dengan aman. 8
b. Fiksasi Eksternal
Fiksasi eksternal tergantung pada cedera yang terjadi. Fiksasi ini digunakan
untuk menahan tulang tetap dalam garis lurus. Dalam fiksasi eksternal, pin
atau sekrup ditempatkan ke dalam tulang yang patah di atas dan di bawah
tempat fraktur. Kemudian fragmen tulang direposisi. Pin atau sekrup
dihubungkan ke sebuah lempengan logam di luar kulit. Perangkat ini
merupakan suatu kerangka stabilisasi yang menyangga tulang dalam posisi
yang tepat.8,9

Amputasi
Pada beberapa kasus, amputasi menjadi pilihan terapi. Pada kasus yang berat

digunakan Mangled Extremity Score. Untuk skor <7 biasanya dapat diselamatkan.
Sedangkan skor 7 atau lebih biasanya konsisten dengan kejadian amputasi.
Immediate amputation biasanya diindikasikan pada keadaan berikut 10 :
o Fraktur terbuka derajat IIIC dimana lesi tidak dapat diperbaiki dan iskemia
sudah terjadi >8 jam
o Anggota gerak yang mengalami crush berat dan jaringan viable yang
tersisa untuk revaskularisasi sangat minimal
o Kerusakan neurologis dan soft tissue yang berat, dimana hasil akhir
perbaikan tidak lebih baik dari penggunaan prostesis
o Cedera multipel dimana amputasi dapat mengontrol perdarahan dan
mengurangi efek sistemik/life saving
o Kasus dimana limb salvage bersifat life-threatening dengan adanya
penyakit kronik yang berat, seperti diabetes mellitus dengan gangguan
vaskular perifer berat dan neuropati
o Kondisi bencana / mass disaster
Tabel 2.1. Mangled Extremity Score

16

MANGLED EXTREMITY SEVERITY SCORE


Skeletal/ soft tissue injury:
Low energy (stab; simple fracture; pistol gunshot wound)
Medium energy (open or multiple fractures, dislocation)
High energy (high speed MVA or rifle GSW)
Very high energy (high speed trauma + gross contamination)
Limb ischemia
Pulse reduced or absent but perfusion normal
Pulseless; paresthesias, diminished capillary refill
Cool, paralyzed, insensate, numb
Shock
Systolic BP always > 90 mm Hg
Hypotensive transiently
Persistent hypotension
Age (in years)
<30
30-50
>50
*Score doubled for ischemia> 6hours
MVA- Motor Vehicle Accident, GSW- Gun- shot Wounds

Score
1
2
3
4
1*
2
3*
0
1
2
0
1
2

2.6. Komplikasi Fraktur Terbuka


Komplikasi dari fraktur terbuka antara lain 10 :
1. Komplikasi Umum
Syok, koagulopati difus atau gangguan fungsi pernapasan yang dapat terjadi
dalam 24 jam pertama setelah trauma dan setelah beberapa hari kemudian akan
terjadi gangguan metabolisme berupa peningkatan katabolisme. Komplikasi umum
yang lain dapat berupa emboli lemak, trombosis vena dalam, infeksi tetanus atau gas
gangren.
2. Komplikasi Lokal Dini
Komplikasi dalam 1 minggu pertama pasca trauma disebut sebagai komplikasi
lokal dini dan bila lebih dari 1 minggu pasca trauma disebut komplikasi lokal lanjut.
Macam komplikasi lokal dini dapat mengenai tulang, otot, jaringan lunak, sendi,

17

pembuluh darah, saraf, organ viseral maupun timbulnya sindrom kompartemen atau
nekrosis avaskuler.
3. Komplikasi Lokal Lanjut
Komplikasi pada tulang, osteomielitis kronis, kekakuan sendi, degenerasi
sendi, maupun nekrosis pasca trauma. Dalam penyembuhan fraktur dapat juga terjadi
komplikasi karena teknik, perlengkapan ataupun keadaan yang kurang baik, sehingga
mengakibatkan terjadinya infeksi, nonunion, delayed union, dan malunion.

BAB 3
KESIMPULAN
Fraktur terbuka merupakan suatu keadaan darurat. Penyebabnya bisa berupa
trauma langsung dan tidak langsung. Diagnosis fraktur terbuka didapatkan dari hasil
anamnesa, pemeriksaan fisik serta penunjang berupa pemeriksaan radiologis. Tujuan
dari tatalaksana fraktur terbuka adalah untuk mengurangi resiko infeksi, terjadi
penyembuhan fraktur dan restorasi fungsi anggota gerak. Beberapa hal yang penting
untuk dilakukan dalam penanggulangan fraktur terbuka yaitu operasi yang dilakukan
dengan segera, secara hati-hati, debridemen yang berulang-ulang, stabilisasi fraktur,
penutupan kulit dan bone grafting yang dini serta pemberian antibiotik yang adekuat.

18

DAFTAR PUSTAKA

1. Rasjad, C.,2008. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi: Trauma, Fraktur Terbuka,


Edisi ke-3. Jakarta: PT Yarsif Watampone; 317-478
2. Solomon, L., Warwick, D., dan Nayagam, S., 2010. Apley's System of
Orthopaedics and Fractures. Edisi ke 9. Florida : CRC Press
3. Orthopaedic Trauma Association, 2010. A New Classification Scheme for Open
Fractures. J Orthop Trauma ;24:457465
4. American Academy of Orthopaedics Surgeons, 2011. Open Fractures. Available
from http://orthoinfo.aaos.org/topic.cfm?topic=A00582. Diakses 19 Mei 2016
5. Buteera, A.M., Byimana J., 2010. Principles of Management of Open Fractures.
East Cent. Afr. j. surg.; 14(2) : 2-8
6. Schaller,
T.M.,
2016.
Open
Fractures.
Available
from
:
http://emedicine.medscape.com/article/1269242-overview#aw2aab6b3. Diakses
19 Mei 2016
7. Salter, R.B., 1999. Fractures and Joint Injuries-General Features. Dalam :
Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskeletal System. Edisi Ke-3.
Baltimore : Lippincott William & Wilkins; 447-70
8. Lakatos, R., dan Herbenick, M.A., 2011. General Principles of Internal Fixation.
Available from : http://emedicine.medscape.com/article/1269987-overview.
Diakses 19 Mei 2016
9. American Academy of Orthopaedic Surgeons. Internal Fixation and External
Fixations for Fractures. Available from : http://orthoinfo.aaos.org/topic.cfm?
topic=A00196. Diakses 19 Mei 2016

19

10. Chapman, M.W., 2001. Open Fractures in in Chapmans Orthopaedic Surgery.

Edisi ke 3. Baltimore : Lippincott Williams & Wilkins