Anda di halaman 1dari 32

BAB 7 Kewajiban Buku Teori Akuntansi Suwardjono

Pengertian Kewajiban
FASB mendifinisikan kewajiban dalam kerangka konseptual sebagai berikut :
Kewajiban merupakan pengorbanan manfaat ekonomik masa datang yang cukup pasti yang
timbul dari keharusan sekarang suatu entitas untuk mentransfer aset atau menyerahkan jasa
kepada entitas lain di masa datang sebagai akibat dari transaksi atau kejadian masa lalu.

Karakteristik Utama Kewajiban


Kewajiban mempunyai tiga karakteristik utama yaitu:
1. Pengorbanan manfaat ekonomik masa datang
Kewajiban menjadi tegas adanya bila didukung oleh keharusan membayar kas,
teridentifikasinya terbayar, dan terpaksakan secara hukum. Untuk dapat disebut sebagai
kewajiban, suatu objek harus memuat suatu tugas (duty) atau tanggung jawab (responsibility)
kepada pihak lain yang mengharuskan kesatuan usaha untuk melunasi, menunaikan, atau
melaksanakannya dengan cara mengorbankan manfaat ekonomik yang cukup pasti di masa
datang. Pengorbanan manfaat ekonomik diwujudkan dalam bentuk transfer atau penggunaan
aset kesatuan. Cukup pasti di masa datang mengandung makna bahwa jumlah rupiah
pengorbanan dapat ditentukan dengan layak.
2. Menjadi keharusan sekarang (obligations)
Transaksi atau kejadian masa lalu menimbulkan keharusan sekarang pada tanggal pelaporan
yang berarti bahwa seandainya pada saat sekarang perusahaan harus mengorbankan manfaat
ekonomik maka hal tersebut harus dilakukan. Kewajiban sekarang yang menimbulkan
kewajiban bersifat kontraktual, konstruktif, demi keadilan, dan bergantung.

Keharusan kontraktual adalah keharusan yang timbul akibat perjanjian atau peraturan
hukum yang di dalamnya kewajiban usaha bagi suatu kesatuan usaha di nyatakan
secara eksplisit atau implisit yang meningkat.

Keharusan konstruktif adalah keharusan yang timbul akibat kebijakan kesatuan usaha
dalam rangka menjalankan dan memajukan usahanya untuk memenuhi praktik usaha
yang baik.

Keharusan demi keadilan adalah keharusan yang ada sekarang yang menimbulkan
kewajiban bagi perusahaan semata-mata karena panggilan etis atau moral

Keharusan bergantung adalah keharusan pada suatu kondisi atau situasi yang
melibatkan ketidakpastian.

3.Timbul akibat transaksi atau kejadian masa lalu.


Untuk mengikuti sebagai kewajiban, selain definisi, kriteria lain (keterukuran, keberpautan
dan keterandalan) juga harus terpenuhi. Transaksi masa lalu adalah kriteria untuk memenuhi
definisi tapi bukan kriteria pengakuan. Transaksi masa lalu yang dimaksud adalah transaksi
yang menimbulkan keharusan sekarang telah terjadi.

Karakteristik Pendukung
Karakteristik pendukung hanya menegaskan adanya kewajiban tapi tidak membatalkan suatu
objek untuk disebut sebagai kewajiban.

Melibatkan pembayaran kas

Keharusan membayar kas pada waktu dan jumlah rupiah tertentu dimasa datang merupakan
petunjuk yang kuat atau jelas mengenai adanya kewajiban. Tapi untuk menjadi kewajiban,
penyerahan aset bukan satu-satunya kriteria tetapi meliputi pula penyerahan jasa

Identitas terbayar jelas

Untuk menjadi kewajiban di akhir tahun, pada saat itu identitas terbayar tidak harus
diketahui. Jadi yang penting bahwa keharusan sekarang pengorbanan sumber ekonomik
dimasa datang telah ada dan bukan siapa yang harus dilunasi atau dibayar.

Berkekuatan hukum atau dapatdipaksakan secara hukum (legally enforceable)

Adanya daya paksa yuridis hanya menunjukkan bahwa kewajiban tersebut memang ada dan
dapat dibuktikan secara yuridis material. Meskipun demikian, daya paksa yang melekat pada

klaim-klaim hukum bukan merupakan syarat mutlak untuk mengakui adanya kewajiban.
Keharusan melakukan pengorbanan manfaat ekonomik masa datang tidak harus timbul dari
desakan pihak eksternal tapi dari minat dan kebijakan internal manajemen.

http://cesiliaarum.blogspot.co.id/2015/12/bab-7-kewajiban-buku-teori-akuntansi.html

BAB 7
KEWAJIBAN

Pengertian
Menurut FASB : Kewajiban adalah pengorbanan manfaat ekonomik masa datang yang cukup
pasti yang timbul dari keharusan sekarang suatu kesatuan usaha untuk mentransferk aset atau
menyediakan / menyerahkan jasa kepada kesatuan lain dimasa datang sebagai akibat
transaksi atau kejadian masa lalu.
Definisi FASB digunakan sebagai basis pembahasan karena definisi tersebut cukup lengkap
secara semantic. Artinya definisi tersebut telah mencakupi berbagai gagasan atau kata kunci
yang terkandung dalam beberapa definisi kewajiban oleh sumber sumber lain.
Secara umum dapat dikatakan bahwa kewajiban mempunyai tiga karakteristik utama yaitu :
1.

Pengorbanan Manfaat Ekonomik

Untuk dapat disebut sebagai kewajiban, suatu objek harus memuat suatu tugas atau tanggung
jawab kepada pihak lain yang mengharuskan kesatuan usaha untuk melunasi, menunaikan
atau melaksanakan dengan cara mengorbankan manfaat ekonomik yang cukup pasti dimasa
datang. Pengorbanan manfaat ekonomik diwujudkan dalam bentuk transfer atau penggunaan
aset kesatuan usaha.
Transfer manfaat ekonomik kepada pemilik (pemegang saham) tida termasuk dalam
pengertian pengorbanan sumber ekonomik masa datang yang membentuk kewajiban karena
untuk menjadi kewajiban pengorbanan tersebut harus bersifat memaksa dan bukan atas dasar
kebijakan atau keleluasaan manajemen untuk memutuskan baik dalam hal jumlah rupiah
maupun dalam saat transfer.
Secara umum, keharusan mengorbankan sumber ekonomik masa datang tidak dapat menjadi
kewajiban kalau keharusan tersebut bersifat terbuka atau tidak pasti. Kesatuan usaha tidak
mempunyai keharusan untuk mentransfer aset ke pemilik kecuali dalam hal kesatuan usaha
dilikuidasi. Walaupun secara konseptual ekuitas juga merupakan kewajiban bagi perusahaan,
pengorbanan sumber ekonomiknya tidak cukup pasti baik dalam jumlah maupun saat
sehingga kewajiban harus dibedakan dan dilaporkan secara terpisah dengan ekuitas.

2.

Keharusan Sekarang

Untuk dapat disebut sebagai kewajiban, suatu pengorbanan ekonomik masa datang harus
timbul akibat keharusan sekarang. Pengertian sekarang dalam hal ini mengacu pada dua hal
: waktu dan adanya. Waktu yang dimaksud adalah tanggal pelaporan (neraca). Artinya : pada
tanggal neraca kalau perlu atau kalau dipaksakan secara yuridis, etis, atau rasional
pengorbanan sumber ekonomik harus dipenuhi karena keharusan itu telah ada.
Keharusan kewajiban mencakupi keharusan kontraktual, keharusan konstruktif atau
bentukan, keharusan demi keadilan dan keharusan bergantung atau bersyarat.

Keharusan Kontraktual

Keharusan yang timbul akibat perjanjian atau peraturan hukum yang di dalam nya kewajiban
bagi suatu kesatuan udaha di nyatakan secara eksplit atau implicit dan mengikat.
Contoh : utang pajak, utang bunga, utang usaha, utang wesel, dan utang obligasi

Keharusan Konstruktif

Keharusan yang timbul akibat kebijakan kesatuan usaha dalam rangka menjalankan dan
memajukan usahanya untuk memenuhi apa yang disebut praktik usaha yang baik atau etika
bisnis dan bukan untuk memenuhi kewajiban yuridis.
Contoh : servis gratis sepeda motor yang dijanjikan oleh dealer sepeda motor, pengembalian
uang untuk barang yang ternyata cacat atau rusak, dan tunjangan hari raya

Keharusan Demi Keadilan

Keharusan yang ada sekarang yang menimbulkan kewajiban bagi perusahaan semata mata
karena panggilan etis atau moral daripada karena peraturan hukum atau praktik bisnis yang
sehat.
Contoh : kewajiban memberikan donasi untuk badan amal tiap akhir tahun dan kewajiban
member hadiah kepada penduduk yang tinggal di sekitar pabrik karena ketidaknyamanan
yang ditimbulkannya.

Keharusan Bergantung atau bersyarat

Keharusan yang pemenuhannya tidak pasti karena bergantung pada kejadian masa datang
atau terpenuhinya syarat syarat tertentu dimana datang.

3.

Akibat Transaksi atau Kejadian Masa Lalu

Sama seperti definisi aset, criteria ini sebenarnya menyempurkan criteria keharusan sekarang
dan sekaligus sebagai tes pertama pengakuan suatu pos sebagai kewajiban tetapi tidak cukup
untuk mengakui secara resmi dalam system pembukuan. Untuk mengakui sebagai kewajiban,
selain definisi, criteria yang lain seoerti keterukuran, keberpautan, dan keterandalan juga
harus dipenuhi. Transaksi atau kejadian masa lalu adalah criteria untuk memenuhi definisi
tetapi bukan criteria untuk pengakuan. Jadi, adanya pengorbanan manfaat ekonomik masa
datang tidak cukup untuk mengakui suatu objek ke dalam kewajiban kesatuan usaha untuk
dilaporkan via statemen keuangan.

Hak Kewajiban Tak Bersyarat

Konsep hak kewajiban tak bersyarat menyatakan bahwa walaupun kontrak telah
ditandatangani, salah satu pihak tidak mempunyai kewajiban apapun sebelum pihak lain
memenuhi apa yang menjadi hak pihak lain. Jadi, konsep hak kewajiban tak bersyarat
menyatakan tidak ada hak tanpa kewajiban dan sebaliknya tidak ada kewjiban tanpa hak.
Kontrak kontrak semacam ini dikenal dengan nama kontrak saling mengimbangi tak
bersyarat atau kontrak eksekuatori.
Contoh : bila seseorang pembeli menandatangani order pembelian, pada saat itu pembeli
tidak mempunyai kewajiban apapun sampai barang yang dipesan datang dan dikuasai
pembeli walaupun jenis, kuantitas, harga, waktu pengiriman barang sudah jelas.
Masalah timbul dalam kontrak pembelian yang tidak dapat dibatalkan. Ada dua pendapatan
mengenai hal ini, pendapat pertama tetap memperlakukan kontrak tersebut sebagai
eksekutori.sehingga kewajiban tidak perlu diakui. Alasannya, aset atau manfaat ekonomik
masa datang belum dikuasai secara nyata. Pendapatan kedua, menganjurkan bahwa

kewajiban diakui pada saat penandatanganan kontrak bersamaan dengan aset yang terlibat.
Alasannya pada saat itu, pada dasarnya ketiga criteria kewajiban telah di penuhi.
Transaksi atau kejadian yang dapat dijadikan dasar untuk menandai saat, titik, atau tanggal
pengakuan hak dan kewajiban dalam suatu kontrak. Hukum perikatan atau kontrak juga
cukup kompleks untuk menentukan timbulnya hak dan kewajiban yuridis. Dalam Most
menunjukkan bahwa titik atau saat tersebut dapat berupa :
1.

Tanggal kontraj ditandatangani

2.

Tanggal objek kontrak telah diperoleh salah satu pihak

3.

Tanggal objek kontrak telah siap digunakan oleh salah satu pihak

4.

Tanggal objek kontrak telah dipisahkan untuk digunakan oleh pihak lain

5.

Tanggal objek kontak telah diserahkan

6.

Tanggal telah diterima / dibayarnya uang muka, bila ada

7.

Dalam kasus kontrak konstruksi jangka panjang :

a.

Suatu titik selama konstruksi berjalan

b.

Pada saat konstruksi dimulai

Saat

penentuan

transaksi

masa

lampau

perlu

dipertimbangkan

dengan

seksama

memperhatikan kondisi yang melingkupi suatu kontraj. Most mengemukakan hal yang harus
dipertimbangkan untuk memilih saat yang tepat :
a.

Pemenuhan definisi aset dan kewajiban

b.

Kekuatan mengikat yaitu seberapa kuat bahwa pelaksanaan kontrak tidak dapat

dibatalkan
c.

Kebermanfaatan bagi keputusan

Karakteristik Pendukung
FASB menyebutkan beberapa karakteristik pendukung yaitu :

1.

Keharusan membayar kas

Pelunasan kewajiban pada umumnya dilakukan dengan pembayaran kas.


Esensi kewajiban lebih terletak pada pengorbanan manfaat ekonomik masa datang daripada
terjadinya pengeluaran kas. Adanya pengeluaran kas merupakan hal penting untuk
mengaplikasikan definisi kewajiban karena dua hal :
a.

Sebagai bukti adanya suatu kewajiban

b.

Sebagai pengukur atribut atau besarnya kewajiban yang cukup objektif

2.

Identitas terbayar jelas

Bila identitas terbayar sudah jelas, hal tersebut hanya menguatkan bahwa kewajiban memang
ada tetapi untuk menjadi kewajiban identitas terbayar tidak harus dapat ditentukan pada saat
keharusan terjadi.
Jadi, yang penting adalah bahwa keharusan sekarang pengorbanan sumber ekonomik dimasa
datang telah ada dan bukan siapa yang harus dilunasi atau dibayar. Akan tetapi, pada saat
pelunasan kewajiban, terbayar dengan sendirinya harus teridentifikasi.
3.

Berkekuatan hukum

Keharusan melakukan pengorbanan manfaat ekonomik masa deatang tidak harus timbul dari
desakan pihak eksternal tetapi dari minat atau kebijakan internal manajemen. Itulah sebabnya
kewajiban mencakupi pengorbanan sumber ekonomik masa depan yang timbul akibat
keharusan konstruktif dan demi keadilan. Main pihak lain seperti utang usaha tidak harus di
dukung oleh dokumen yang berkekuatan hukum atau mempunyai daya paksa secara hukum
untuk memenuhi definisi kewajiban. Akan tetapi, demi keadilam dan kewajaran, perusahaan
harus membayar utang usaha tersebut. Pendapatan sewa tak terhak, laba kotor tangguhan, dan
beberapa pos lain yang timbuk dalam penyesuaian akhir tahun memenuhi criteria sebagai
kewajiban meskipun tidak dilandasi oleh daya paksa secara hukum dan bahkan bukan
merupakan keharusan pengorbanan sumber ekonomik. Itulah sebabnya, definisi kewajiban
APB memasukkan beberapa pos kredit tangguhan yang non keharusan sebagai kewajiban.
Laba kotor tangguhan adalah contoh kredit tangguhan yang bukan keharusan. Pos kredit
tangguhan yang merupakan keharusan misalnya adalah kredit pajak tangguhan.

Pengakuan, Pengukuran, dan Penilaian


Sebagai bayangan cermin aset, kewajiban juga harus diukur dan diakui pada saat terjadinya.
Kalau aset diukur atas dasar penghargaan sepakatan (kos), demikian juga kewajiban. Jadi, kos
sebagai pengukur tidak hanya diterapkan untuk aset pada saat pemerolehan tetapi juga untuk
kewajiban pada saat terjadinya. Sebagai ketentuan umum, pengukuran kewajiban harus
sejalan dengan pengukuran aset yang berkaitan.
Kalau aset yang direprentasi oleh kos mengalami tiga tahap perlakuan (pemerolehan,
pengolahan, dan penyerahan), kewajiban sebenarnya juga mengalami tiga tahap perlakuan
yaitu: penanggungan (pengakuan terjadinya), penelusuran, dan pelunasan (penyelesaian).
Dalam hal kewajiban, penelusuran berarti penentuan status dan jumlah rupiah (kos)
kewajiban pada setiap saat. Penentuan kos setiap saat (termasuk pada tanggal neraca) dapat
disebut dengan penilaian kewajiban.

Pengakuan
Pada prinsipnya, kewajiban diakui pada saat keharusan telah mengikat akibat transaksi yang
sebelumnya telah terjadi. Mengikatnya suatu keharusan harus dievaluasi atas dasar kaidah
pengakuan (recognition rules). kriteria pengakuan lebih berkaitan dengan pedoman umum
dalam rangka memenuhi karakteristik kualitatif informasi sehingga elemen statemen
keuangan hanya dapat diakui bila kriteria definisi, keberpautan, keterandalan, dan
keterukuran dipenuhi. Kriteria umum ini tidak operasional sehingga diperlukan kaidah
pengakuan sebagai penjabaran teknis kriteria pengakuan umum. Dalam hal kewajiban, kaidah
pengakuan berkaitan dengan saat atau apa yang menandai bahwa kewajiban dapan diakui
(dibukukan). Empat kaidah pengakuan untuk menandai pengakuan kewajiban yaitu:
1.

Ketersediaan dasar hukum

Kaidah ini terkait dengan kualitas keterandalan dan keberpautan informasi. Faktur pembelian
(invoice) dan tanda penerimaan barang (receiving report) merupakan dasar hukum yang
cukup meyakinkan untuk mengakui kewajiban. Telah disebutkan bahwa ketersediaan dasar

hukum yang menimbulkan daya paksa hanya merupakan karateristik pendukung definisi
kewajiban. Jadi, kaidah ini tidak mutlak sehingga kewajiban juga dapat diakui bila terdapat
bukti substantif adanya keharusan konstruktif atau demi keadilan.

2.

Keterterapan konsep dasar

Kaidah ini merupakan penjabaran teknis kriteria keterandalan. Keadaan-keadaan tertentu


yang menjadikan konsep konservatisma terterapkan dapat memicu pengakuan kewajiban.
Implikasi dianutnya konsep konservatisma adalah rugi dapat segera diakui tetapi tidak
demikian dengan untung. Ini berarti kewajiban dapat diakui segera sedangkan aset tidak.

3.

Ketertentuan substansi ekonomik transaksi

Kaidah ini berkaitan dengan masalah relevansi informasi. Utang sewaguna (lease obligations)
dapat diakui pada saat transaksi meskipun tidak ada transfer hak milik dalam transaksi
sewaguna tersebut. Dalam hal ini, kewajiban dapat atau bahkan harus diakui kalau secara
substantif sewaguna tersebut sebenarnya adalah pembelian angsuran (yaitu memenuhi salah
satu kriteria kapitalisasi).

4.

Keterukuran nilai kewajiban

Keterukuran merupakan salah satu syarat untuk mencapai kualitas keterandalan informasi.
Definisi kewajiban mengandung kata cukup pasti (probable) yang mengacu tidak hanya pada
terjadinya pengorbanan sumber ekonomik masa datang tetapi juga pada jumlah rupiahnya.

Yang menjadi masalah teknis adalah kapan keempat kaidah diatas dipenuhi. hal ini berkaitan
dengan penentuan saat (timing) pengakuan kewajiban. Pada umumnya saaat pengakuan
terjadi sangat jelas karena kebanyakan kewajiban timbul dari kontrak yang menyebutkan
secara tegas saat mengikatnya kontrak, jumlah rupiah pembayaran kewajiban, dan saat
pembayaran. Akan tetapi, untuk beberapa kasus, jumlah rupiah (kos) kewajiban bergantung

pada kejadian dimasa datang meskipun cukup pasti bahwa keharusan membayar dimasa
datang tidak dapat dihindari. Saat-saat mengakui kewajiban yaitu:
a.

Pada saat penandatanganan kontrak bila pada saat itu hak dan kewajiban telah

mengikat. Dalam hal kontrak eksekutori, pengakuan menunggu sampai salah satu pihak
memanfaatkan/ menguasai manfaat yang diperjanjikan atau memenuhi kewajibannya (to
perform).
b.

Bersamaan dengan pengakuan biaya bila barang dan jasa yang menjadi biaya belum

dicatat sebagai aset sebelumnya.


c.

Bersamaan dengan pengakuan aset. Kewajiban timbul ketika hak untuk menggunakan

barang dan jasa diperoleh.


d.

Pada akhirnya periode karena penggunaan asas akrual melalui proses penyesuaian.

Pengakuan ini menimbulkan pos utang atau kewajiban akrual (accrued liabilities).

Pengakuan Kewajiban Bergantung


Untuk keharusan bergantung (khususnya rugi bergantung yang menimbulkan kewajiban),
kaidah pengakuan keempat (keterukuran nilai kewajiban) dan pasti tidaknya pengorbanan
sumber ekonimik masa datang akan terjadi menimbulkan masalah pengakuan. Kewajiban
kontraktual, konstuktif , dan demi keadilan dalam beberapa kasus juga bersifat bergantung
terutama bila kewajiban tersebut melibatkan penaksiran jumlah masa datang yang merugikan.
FSAB memberikan contoh keadaan-keadaan kebergantungan rugi (loss contingencies) yang
berpontensi memicu pengakuan kewajiban sebagai berikut:
a.

Ketertagihan piutang usaha.

b.

Keharusan berkaitan dengan jaminan produk dan kerusakan produk.

c.

Resiko rugi atau kerusakan properitas (fasilitas) kesatuan usahan akibat kebakaran,

ledakan, dan bahaya lainnya.


d.

Ancaman pengambilalihan aset oleh pemerintah.

e.

Persengketaan yang memberatkan atau menunggu keputusan.

f.

Klaim atau pungutan yang telah diajukan/dikenakan atau yang mungkin (possible)

terjadi.
g.

Resiko rugi akibat bencana yang ditanggung oleh perusahaan asuransi kerugian dan

kecelakaan dan perusahaan reasuransi.


h.

Jaminan terhadap utang pihak lain.

i.

Keharusan bank komersial dalam ikatan standby letters of credit.

j.

Perjanjian untuk membeli kembali piutang atau aset yang terkait yang telah dijual.

FSAB menetapkan bahwa rugi taksiran yang dapat terjadi kebergantungan rugi harus diakru
(to be accrued) dengan membebankannya ke pendapatan (sebagai biaya atau rugi) bila kedua
kondisi berikut dipenuhi:
a.

Informasi yang tersedia sebelum penerbitan statemen keuangan menunjukkan bahwa

suatu aset cukup pasti telah turun nilainnya (impaired) atau suatu kewajiban cukup pasti telah
terjadi pada tanggal statemen keuangan. Pada tanggal statemen keuangan harus sudah dapat
disimpulkan bahwa kewajiban atau beberapa kejadian, yang menegaskan adanya rugi, cukup
pasti (probable) akan terjadi.
b.

Jumlah rupiah rugi dapat diestimasi dengan cukup tepat (reasonably estimated).

Bila kondisi diatas tidak dipenuhi, jumlah rupiah rugi potensial harus tetap diungkapkan
dengan menjelaskan sfat dan implikasi kebergantungan tersebut. Ketentuan tentang dpat
diakrunya rugi potensial sebelum kejadian yang menegaskan terjadi dilandasi oleh
interpretasi tentang makna kewajiban dan asset serta konsep dasar penandingan (matching)
dan konservatisma.

Pengukuran
Pengakuan dilakukan setelah suatu kewajiban terukur dengan cukup pasti. Penentuan kos
kewajiban pada saat terjadi paralel dengan pengukuran asset. Terjadinya kewajiban pada
umumnya disertai dengan pemerolehan asset atau timbulmnya biaya. Pemerolehan asset
dapat berupa penguasaan barang dagangannya atau asset nonmoneter lainnya yang terjadi
dari transaksi pembelian. Pemerolehan asset dapat juga berupa kas yang terjadi dari transaksi

peminjaman (penerbitan obligasi) atau penerimaan uang muka untuk barang atau jasa. Oleh
karena itu pengukur yang paling objektif untuk menentuka kos kewajiban pada saat
terjadinya adalah penghargaan sepakatan (meansured considerations) dalam transaksitransaksi tersebut dan bukan jumlah rupiah pengorbanan ekonomik masa datang. Hal ini
berlaku khususnya untuk kewajiban jangka panjang.
Untuk kewajiban jangka pendek, kos penundaan dianggap tidak cukup material sehingga
jumlah rupiah kewajiban yang diakui akan sama denga jumlah rupiah pengorbanan sumber
ekonimik (kas) masa datang. Dengan kata lain, untuk kewajiban jangka pendek, kos
pendanaan (financing cost) atau kos penundaan (bunga sebagai nilai waktu uang) dianggap
material.
Penghargaan sepakatan suatu kewajiban merefleksi nilai setara tunai atau nilai sekarang
(current value) kewajiban yaitu jumlah rupiah pengorbanan sumber ekonomik seandainya
kewajiban dilunasi pada saat terjadinya. Dengan demikian, bisnis pencatatan kewajiban
adalah nilai setara tunai bukan nilai nominal utang.

Kewajiban Dalam Pembelian Kredit


Dasar pengukuran asset yang paling objektif adalah kos tunai (cash cost) atau kos tunai
implicit (implied cash cost). Karena kewajiba merupakan bayanga cermin asset,
pengukurannya juga mengikuti pengukuran asset.
Misalnya suatu perusahaan menandatangani kontrak pembelian mesin. Perusahaan
menyepakati harga kontrak mesin Rp 1.600.000 dan dibayar dalam delapan kali angsuran tiap
akhir triwulan sebesar Rp 200.000 tanpa menyebutkan adanya bunga secara eksplisit. Dalam
kasus ini sebenarnya harga nominal (kontrak) tersebut melebihi kos tunai implicit yaitu
jumlah rupiah yang diperlukan seandainya pembelian dilakukan secara tunai. Kalau mesin
tersebut dapat diperoleh juga dari toko yang sama dengan harga tunai Rp 1.465.000 maka
jumlah rupiah ini kos tunai implicit sedangkan selesih sebesar Rp 135.000 adlah setara
dengan bunga dan harus dibebankan terhadap pendapatan selama jangka waktu kontrak.
Bunga ini akhirnya akan menjadi biaya yang sesungguhnya terjadi atau nyata dan buka bunga
hipotetis. Dengan demikian, secara konseptual kewajiban harus diakui pada saat transaksi
sebagai berikut:

Mesin 1.465.000
Utang usaha.. 1.465.000
Secara teknisi pembukuan, dapat saja jumlah rupiah bunga dicatat untuk kepentingan internal
dan jumlah utang dicatat sebesar nominalnya sebagai berikut:
Mesin.1.465.000
Bunga Tangguhan..135.000
Utang usaha1.600.000
Bila cara diatas dilakukan, pelaporan kewajiban harus tetap menunjukkan nilai tunai
implisitnya dengan cara mengurangkan bunga tangguhan terhadap utang usaha. Bunga
tangguhan tidak dilaporkan sebagai asset. Kalau asset dan kewajiban dicatat dan dilaporkan
sebesar Rp 1.600.000 jelas kos asset dan kewajiban tercatat terlalu tinggi. Walaupun
demikian, kalau jangka waktu kontrak adalah pendek maka jumlah kelebihan kos adalah kecil
dan dapat diabaikan atas dasar konsep materialistas.

Diskon dan Premium Utang Obligasi


Nilai nominal atau jatuh tempo utang obligasi sering dianggap sebagai jumlah rupiah
kesepakatan pada saat penerbitan obligasi baik bagi penerbit maupun kreditor. Dasar
pengukuran demikian sebenarnya tidak tepat. Untuk suatu kontrak utang dengan ketentuan
pembayaran bunga periodik dan pokok pinajaman pada akhir jangka kontrak, pengukuran
jumlah rupiah (kos) utang dan asset untuk dasar pencatatan pertama kali yang tepat adalah
kos tunai implicit.
Dalam hal obligasi jangka panjang, jumlah rupiah uang yang diterima oleh penerbit dan yang
dibayarkan oleh kreditor pada saat penerbitan hanyalah merupakan bagian kecil dari jumlah
rupiah pembayaran masa datang (bunga periodik dan nominal obligasi). Pembayaran masa
datang ini sebenarnya terdiri atas dua unsure yaitu 1. Nilai sekarang pembayaran bunga
periodik dan nilai sekarang nominal obligasi dan 2. Bunga efektif yang terlibat dalam
penentuan harga obligasi tersebut.

Makna Harga Efektif Obligasi


Segera setelah transaksi terjadi maka kesepakatan dalam hubungannya dengan obligasi
tersebut mulai menunjukkan makna yang sebenarnya. Dengan telah mulai berjalannya
kesepakatan dalam transaksi obligasi diatas, bunga Rp. 100.000 tiap tahun mulai terhimpun
dan dibayar secara periodik sampai jauh tempo. Bersamaan dengan itu, jumlah rupiah utang
obligasi yang mula-mula tercatat akan berangsur-angsur berubah (bertambah) menuju jumlah
rupiah nilai jatuh tempo atau nominal.

Diskon Obligasi
Diskon obligasi yang belum diamortisasi bukan merupakan suatu rugi karena asset yang
diperoleh sebelumnya tidak ada yang berkurang atau menguap (dissipation). Diskon obligasi
sebenarnya merupakan bunga yang belum dibayar, yaitu bagian bunga efektif total yang
baru akan dibayar pada saat utang obligasi jatuh tempo.

Premium Obligasi
Sejalan dengan penalaran makna diskon obligasi yang dilandasi konsep dasar penghargaan
sepakatan, dapat disimpulkan bahwa premium yang dibayarkan investor untuk obligasi
merupakan unsure dari jumlah rupiah utang perusahaan. Bersamaan denga berjalannya waktu
mendekati jatuh tempo, jumlah rupiah bagian utang yang merupakan premium harus
diamortisasi secara sistematik dengan cara memisahkan dari penghargaan sepakatan bagian
yang diperhitungkan sebagai pembayaran bunga periodik. Mengartikan premium obligasi
sebagai pendapatan tangguhan (defferend income) jelas tidak tepat karena secara
konseptual pendapatan atau laba tidak timbul dari proses pemerolehan utang. Pendapatan
hanya timbul dari kegiatan pembentukan pendapatan (earning process). Atas dasar konsep
kontinuitas usaha, premium obligasi yang belum diamortisasi adalah benar-benar merupakan
utang dan jumlah amortisasi periodik adalah merupakan penyesuaian (pengurang) terhadap
biaya bunga dan bukannya merupakan elemen pendapatan. Tanpa peneysuaian ini biaya
bunga periodik akan menjadi tersaji lebih (overstated).
Dari segi yudiris, utang memang harus diukur sebesar nilai nomnalnya karena kalau terjadi
likuidasi hak menerima pelunasan yang melekat pada investor adalah sebesar nominal.

Pandangan yudiris yang tidak memperhatikan diskon dilandasi konsep pengukuran dengan
asumsi perusahaan likuidasi. Dalam keadaan likuidasi atau reorganisasi memang dapat
dijustifikasi pengukuran dengan menggunakan konsep yang berbeda dengan akuntasi. Akan
tetapi, secara umum akuntansi tidak harus mendasarkan diri pada konsep tersebut.

Kewajiban Moneter dan Nonmoneter


Kewajiban moneter adalah kewajiban yang pengorbanan sember ekonomik masa datangnya
berupa kas dengan jumlah rupiah ada saat yang pasti baik jumlah tunggal maupun beberapa
pembayaran secara berkala. Untuk kewajiban moneter jangka pendek, kewajiban dapat
diukur atas dasar nilai nominal (face value) berdasarkan konsep dasar materialitas. Termasuk
dalam pengertian kewajiban moneter adalah penerimaan dimuka (advances) yang akan
dikompensasi dengan pembelian barang dan jasa dimasa datang. Disebut kewajiban moneter
karena kalau pembelian barang dan jasa batal, uang muka tersebut harus dikembalikan.
Kewajiban nonmoneter adalah keharusan untuk menyediakan barang dan jasa dengan jumlah
saat yang cukup pasti yang bisanya timbul karena penerimaan pembayaran dimuka untuk
barang dan jasa tersebut. Bila pembayaran dimuka penuh, kewajiban nonmoneter harus
diukur atas dasar pembayaran tersebut yang menunjukkan harga yang disepakati untuk
barang dan jasa. Pembayaran penuh dimuka tersebut sebenarnya mereprentasikan jumlah
untuk menutup kos barang dan jasa yang akan diserahkan dan laba. Jumlah yang digunakan
untuk menutup kos itulah yang murni merupaka kewajiban sedangkan jumlah untuk menutup
laba merupakan laba tangguhan (deferred income) yang tidak dapat disebut kewajiban karena
tidak memenuhi definisi kewajiban.
Bila kos barang dan jasa merupakan unsure yang dominan, pembayaran dimuka dapat
dianggap seluruhnya menimbulkan kewajiban (sebagai kewajiban lancar). Aka tetapi, kalau
kos merupakan unsure yang kecil dari seluruh harga jual barang dan jasa, pembayaran
dimuka dapat dianggap seluruhnya menumbulkan kredit atau pendapatan tagguhan atau
pendapatan tak terhak (unearned revenues) yang merupakan kewajiban non keharusan.
Perlakuan ini secara konseptual lebih didukung daripada pemisahan uang muka menjadi
komponen kos (merepresentasi kewajiban) dan laba. Arugumen yang didukung yaitu:
a.

Keharusan menyerahkan barang dan jasa merupakan bagian dari operasi perusahaan

secara keseluruhan sehingga barang dan jasa dinyatakan dalam harga jual dari kaca mata

kedua pihak yang bertransaksi. Dengan demikian, pembayaran dimuka merupakan


pendapatan tangguhan yang menunggu penyerahan barang bukan jumlah untuk menutup kos
barang dan jasa.
b.

Sebagai bagian dari operasi perusahaan secara keseluruhan, penerimaan uang muka

lebih tepat bila diperlakukan seluruhnya sebagai kewajiban. Ini merupakan konsekuensi
argument a diatas.
c.

Laba secara automatis tercipta pada saat pendapatan telah diakui sehingga pemisahan

antara kewajiban dan laba tangguhan tidak ada manfaatnya karena keduanya sama-sama akan
dilaporkan disisi kredit dan bersifat kewajiban yang keduanya terselesaikan pada saat barang
atau jasa telah diserahkan.
d.

Kas yang diterima tidak dapat dikaitkan dengan kos penyediaan barang/produk dan jasa

yang diberi uang muka karena beberapa komponen produk atau jasa pada umumnya sudah
diperoleh perusahaan bahkan beberapa komponen mungkin belum diperoleh perusahaan pada
saat penerimaan uang muka.
e.

Penyerahan barang merupakan saat yang kritis untuk mengakui pendapatan daripada

saat penerimaan kas sehingga laba tidak dapat diakui pada saat penerimaan kas. Jadi,
percuma saja untuk memisahkan uang muka untuk mereprentasi kos dan laba.

Penilaian
Kalau pengukuran mengacu pada penentuan nilai keharusan sekarang (the value of current
obligation) pada saat terjadinya, penilaian mengacu pada penentuan nilai keharusan sekarang
pada setiap saat antara terjadinya kewajiban sampai dilunasinya kewajiban. Makin mendekati
saat jatuh tempo, nilai kewajiban akan makin mendekati nilai nominal (face value)
kewajiban.
Penilaian kewajiban pada saat tertentu adalah penentuan jumlah rupiah yang harus
dikorbankan seandainya pada saat tersebut kewajiban harus dilunasi. Dengan kata lain,
penilaian adalah penentuan nilai sekarang kewajiban. Untuk kewajiban moneter, nilai
sekarangnya biasanya ditentukan atas dasar aliran kas keluar dimasa dtang didiskonan dengan
tingkat bunga pasar sebagai tarif diskon.

Pelunasan
Pelunasan adalah tindakan atau upaya yang segaja dilakukan oleh kesatuan usaha untuk
memenuhi (to satisfy) kewajiban pada saatnya dan dalam kondisi normal usaha (in due
course of business) sehingga bebas dari kewajiban tersebut. Pelunasan biasanya merupakan
pemenuhan secara langsung kepada pihak yang berpiutang. Pelunasan menjadikan kewajiban
tersebut hapus, tiada, atau lenyap (extinguished) secara langsung (kewajiban langsung
didebit).
Perlunasan secara langsung disebut juga perlunasan secara yudiris karena kewajiban kepada
pihak yang berpiutang secara yudiris hapus melalui transaksi langsung yang benar-benar
terjadi. Perlunasan secara tidak langsung terjadi apabila kesatuan usaha melakukan tindakan
yang mengarah ke perlunasan misalnya dengan pembentukan dan khusus untuk perlunasan
(sinking fund) baik dikelola sendiri atau melalui wali amanat (trust agency). Pembentukan
atau penyisihan dana semacam ini menjadikan kesatuan usaha secara substantif menempati
keadaan yang disebut pembatalan atau pembebasan secara substansif (in substance
defeasance).
Masalah akuntansi ysng berkaitan dengan perlunasan langsung maupun tidak langsung adalah
penentuan kapan kewajiban telah dapat dikatakan hapus atau lenyap sehingga jumlah
rupiahnya dapat diakui dari sistem pembukuan. FSAB memberikan pedoman tentang saat
pelenyapan (extiguishment) kewajiban. Pada mulanya FSAB menentukan criteria lenyapan
suatu kewajiban sebagai berikut:
a.

Debitor membayar/melunasi kreditor dan bebas dari semua keharusan yang berkaitan

dengan utang.
b.

Debitor telah dibebaskan secara hukum dari statusnya sebagai penanggung utang utama

baik oleh keputusan pengadilan maupun oleh kreditor dan dapat dipastikan bahwa debitor
tidak akan diharuskan untuk melakukan pembayaran dimasa datang yang berkaitan dengan
utang dengan penjaminan dalam bentuk apapun.
c.

Debitor menaruh kas atau asset lainnya yang tidak dapat ditarik kembali dalam suatu

perwalian yang semata-mata digunakan untuk perlunasan pembayaran bunga serta pokok

suatu pinjaman tertentu dan sangat kecil kemungkinan bagi debitor untuk diharuskan lagi
melakukan pembayaran dimasa dtang yang berkaitan dengan pinjaman tersebut.
FSAB berargumen pendekatan ini tidak tepat sebagai basis untuk pengembangan standar
yang berkaitan dengan peleyapan dan pengakuan kewajiban. Dengan pendekatan ini,
transaksi-transaksi yang tidak cukup mempunyai substansi ekonomik dapat membenarkan
pengakuan kewajiban dan pengakuan untung yang dipandang FSAB tidak menyimbolkan
secara tepat realitas kegiatan yang ada. FSAB menerapkan pendekatan komponen-keuangan.
Dengan pendekatan ini, berbagai transaksi yang berkaitan dengan suatu kewajiban tertentu
dapat dianggap terpisah dan independen sehingga berbagai asset atau kewajiban yang terlibat
harus diperlakukan sebagai komponen-komponen terpisah. FSAB menetapkan bahwa suatu
kewajiban dapat dikatakan lenyap kalau salah satu dari kondisi berikut dipenuhi:
a.

Debobitor membayar kreditor dan terbebaskan dari keharusan yang melekat pada

kewajiban. Membayar kreditor mencakupi penyerahan kas, asset financial lain, barang, atau
jasa atau penebusan sekuritas utang oleh debitor untuk menghapus utang atau untuk
menahannya sebagai utang obligasi treasuri.
b.

Debitor telah dibebaskan secara hukum dari statusnya sebagai penanggung utang utama

baik oleh keputusan pengadilan maupun kreditor.

Transfer Aset Finansial


Untuk melunasi kewajiban, suatu entitas dapat mentransfer asset financial termasuk kas,
barang, atau jasa. Bila kewajiban telah dilunasi dengan mentransfer secara penuh kas,
barang, atau jasa ke debitor maka pada saat itu pelunasan dianggap tuntas. Debitor tidak lagi
terlibat dengan asset atau kreditor secara financial. Perlunasan kewajiban dengan asset
financial juga dapat bersifat tuntas bila penyerahan asset financial bersifat tak bersyarat dan
dianggap sebagai penjualan. Artinya, asset finasial dianggap dijual secara tunai dan kas yang
diterima seketika itu pula dianggap untuk melunasi kewajiban.
Kalau pelunasan kewajiban dilakukan dengan transferan asset financial yang menimbulkan
keterlibatan berlanjut (continuing involvement) pentransferan (transferor) dengan asset
transferan (transferred assets) atau tertransfer (transferee). Dalam hal ini kewajiban tidak
lenyap secara tuntas atau ada kewajiban baru yang berkaitan dengan asset transferan.

Perlunasan Sebelum Jatuh Tempo


Bila kewajiban dilunasi pada saat jatuh tempo, nilai jatuh tempo (nominal) dengan sendirinya
merefleksi nilai sekarang (saat pelunasan) kewajiban sehingga tidak ada selisih antara jumlah
rupiah yang dibayar dan nilai nominal. Nilai jatuh tempo juga akan sama dengan nilai buku
atau nilai bawaan (carrying value) kewajiban karena proses amortisasi selisih antara nominal
dan nilai pasar pada saat penerbitan utang (misalnya obligasi). Selama beredar, nilai pasar
atau nilai sekarang kewajiban berfluktuasi mengikuti tingkat bunga yang berlaku tetapi pada
umumnya fluktuasi tersebut tidak diakui dalam pembukuan debitor.
Penarikan kembali obligasi yang beredar adalah suatu transaksi yang mempengaruhi kontrak
debitor atau kreditor tetapi transaksi ini sangat berbeda dengan transaksi aliran kegiatan
operasi dan transaksi penggunaan asset (investasi). Dengan demikian, terdapat pandangan
bahwa untung atau rugi yang berasal dari transaksi tersebut harus dilaporkan sebagai suatu
penyesusian modal. Bergantung pada sifatnya untung atau rugi dapat dilaporkan sebagai pos
diner atau pos ekstraordiner. Kriteria untuk menentukan hal ini adalah apakah pos tersebut
merupakan akibat dari transaksi atau kejadian yang mempunyai sifat sebagai berikut:
a.

Sangat berbeda dengan kegiatan operasi rutin kesatuan usaha

b.

Tidak diharapkan akan sering terjadi

c.

Berpengaruh material terhadap operasi perusahaan secara keseluruhan

APB berargumen bahwa sifat semula pelunasan utang sebelum jatuh tempo pada dasarnya
sama. Untuk perlunasan dengan pendanaan sebenarnya terdapat tiga perlakuan alternative
untuk selisih yaitu:
a.

Selisih diamortisasi selama sisa umur semula utang yang ditarik kembali

b.

Selisih diamortisasi selama umur utang baru yang diterbitkan

c.

Selisih diakui pada saat penarikan dan dilaporkan distatemen laba rugi tahun

bersangkutan
Perlunasan utang sebelum jatuh tempo sama sifatnya dengan perlunasan pada saat jatuh
tempo tanpa memperhatikan cara untuk melaksanakan hal tersebut (dengan pendanaan

kembali atau tidak). Untung atau rugi dapat dilaporkan sebagai pos ordiner atau ektraordiner
tergantung pada penilaian terhadap kondisi yang melingkupi transaksi.

Utang Terkonversi
Instrument financial pada dasarnya merupakan alat pembayaran atau pinjaman sehingga
dapat digunakan oleh pemegangnya untuk melunasi utang. Utang terkontroversi atau
convertible (convertible debt) merupakan salah satu instrument financial tersebut. Sekuritas
utang semacam ini biasanya mempunyai status sebagai kewajiban dan ekuitas sekaligus.
Artinya, pemegang instrument mempunyai hak istimewa untuk mengubah status utang
menjadi ekuitas setiap saat selama hak tersebut masih berlaku (belum habis). Instumen
semacam ini merupakan salah satu bentuk dari apa yang disebut sekuritas hibrida (hybrid
securities).
Contoh yang paling sering dijumpai dalam praktik adalah obligasi terkonversi. Obligasi
terkontroversi pada umumnya diterbitkan untuk menarik para investor karena mereka dapat
menggeser resiko atau mengubah status sekuritas menjadi lebih menguntungkan. Hak
konversi digunakan untuk menarik investor untuk mengimbangi tingkat bunga nominal yang
terlalu rendah dibandingka tingkat bunga umum. Harga perdana biasanya jauh lebih tinggi
dari obligasi biasa dengan tingkat resiko yang sama. Jadi, investor bersedia membeli hak
konversi dalam bentuk bunga yang lebih rendah dari bunga obligasi setara yang dijual secara
terpisah. Obligasi terkonversi biasanya mempunyai karakteristik sebagai berikut:
1.

Tingkat bunga nominal jauh dibawah tingkat bunga pasar untuk obligasi biasanya yg

setara
2.

Harga konversi yang ditetapkan lebih tinggi dari harga pasar saham biasa

3.

Harga konversi tidak pernah menurun selama masa hak konversi kecuali karena

penyesuaian yang diperlukan akibat pengambilan hak yang melekat pada saham biasa seperti
dalam hal terjadi poemecahan saham atau dividen saham
Hal diatas menjadi karakteristik obligasi terkontroversi karena pada umumnya perusahaan
penerbit merupakan perusahaan yang agresif dan sedang berkembang sehingga memerlukan
dana yang cukup murah. Bila prospek perusahaan sangat baik, obligasi terkontroversi masih
tetap menarik bagi investor. Walaupun harga konversi cukup tinggi pada saat ditawarkan,

pada saatnya harga saham dapat menjadi lebih tinggi dari harga konversi dan prediksi
kenaikan harga saham dapat menjadi cukup pasti memicu investor untuk mengkonversi
obligasinya. Karakteristik obligasi terkontroversi menimbulkan masalah akuntansi pada saat
pengakuan, pengkonversian, dan perlunasan.
Pendukung alokasi berargumen bahwa karena utang terkonversi mengandung sifat utang dan
ekuitas, kedua komponen harus diakui secara terpisah. Pandangan ini didasarkan atas
pemikiran sebagai berikut:
a.

Hak konversi mempunyai nilai ekonomik sehingga tidak berbeda dengan sifat hak opsi

atau waran. Oleh karena itu, nilai tersebut harus dilaporkan secara terpisah dengan nilai utang
sejalan dengan perlakua hak opsi atau waran. Analogi dengan goodwill, nilai hak konversi
secara logis juga harus dipisahkan. Bila tidak dipisahkan, akan terjadi inkonsistensi perlakuan
akuntansi.
b.

Pada saat penerbitan hak konversi atau nilai utang obligasi biasa (tanpa hak konversi)

dapat diukur secara cukup andal sehingga tidak ada kesulitan teknis untuk mengimplementasi
pemisahan tersebut. Nilai ionformasional pemisahan jauh lebih penting dari masalah
kepraktisan sehingga kepraktisan tidak relevan sebagai basis penolakan pemisahan.
c.

Tujuan penerbitan utang terkonversi yang sebenarnya adalah pendanaan dengan

ekuitas. Sifat utang semata-mata untuk melindungi investor dari keadaan jelek yang dapat
menimpa perusahaan (dalam likuidasi, utang diprioritaskan). Oleh karena itu, pelunasan
utang bukan merupakan hal yang diharapkan oleh penerbit.
Sementara itu, pendukung semata-mata utang mengajukan argument sebaliknya. Dasar
pikiran yang melandasi perlakuan sebagai utang semata-mata dapat dikemukakan sebagai
berikut:
a.

Utang obligasi terkonversi merupakan sekuritas hibrida sehingga harus dipandang

sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Hak kontroversi tidak independen
terhadap utang obligasi.
b.

Penilaian hak konversi akan bersifat subjektif karena ketidakterpisahan kedua

komponen (utang dan hak konversi). Alasannya adalah adanya ketidakpastian dalam hal saat
pengambilan hak konversi dan nilai saham pada saat konversi. Kesulitan praktis akan lebih
terasa bila tidak ada sekuritas sejenis yang dijual secara bebas tanpa hak konversi.

Jadi, ketidakterpisahkan dan kepraktisan menjadi ladasan pikiran untuk memperlukan utang
terkonversi semata-mata sebagai utang. Hal ini menjadi bisnis opini APB yang memandang
nilai obligasi dan hak konversi sebagai satu kesatuan. Walaupun demikian, APB lebih
menekankan alasannya pada ketidakterpisahan daripada kepraktisan.
Perdebatan mengenai perlakuan sekuritas hibrida timbul karena pembedaan elemen
kewajiban dan ekuitas secara definisional sehingga selalu timbul masalah klasifikasi terhadap
sekuritas hibrida atau instumen keuangan. Salah satu pemecahan masalah ini adalah
mendefinisi ekuitas dalam arti luas yang mencangkupi utang/kewajiban kemudian
mengklasifikasi ekuitas menjadi beberapa kelas atas dasar hak-hak yang melekat pada tiap
kelas.
Masih ada masalah apabila instrument financial harus diakui dan dilaporkan via statemen
keuangan utama karena selain memenuhi definisi, suatu pos atau objek juga harus memenuhi
kriteria pengakuan yang lain yaitu terukur (meansureable), terandalkan (reliable), dan berpaut
(relevant). Oleh karena itu cara lain untuk mengatasi masalah instrument keuangan adalah
bukan dengan pengakuan melainkan dengan pengungkapan (disclosures).

Pembebasan Substantif
Pada mulanya, FASB menetapkan bahwa kewajiban dapat dianggap lenyap bila
kreditor menaruh kas atau lainnya misalnya obligasi pemerintah yang tidak dapat ditarik
kembali dalam satu perwalian dan aliran kas dari aset tersebut akan cukup untuk pelunasan
pembayaran bunga serta pokok pinjaman.
Bila telah dicapai saat sehingga debitor sehingga tidak perlu lagi melakukan pembayaran di
masa datang yang berkaitan dengan pinjaman tersebut, maka pada saat tersebut secara
substansif debitor sudah bebas dari kewajiban sehingga dapat mengakui kewajiban dan aset
dalam perwalian meskipun utang belum jatuh waktu. Bila debitor membentuk dana pelunasan
utang obligasi, pada saat debitor sudah tidak perlu lagi membayar atau menyetor kas ke dana
tersebut karena kas yang telah disetor dan pendapatan dari dana tersebut sudah pasti akan
cukup untuk menutup utang pada saat jatuh tempo, maka pada saat itu kewajiban debitor

secara substantive dianggap lenyao meskipun kewajiban belum jatuh tempo. Jadi, pada saat
tidak ada lagi keharusan membayar, telah terjadi pembebasan substantif.
Dalam standar ini FASB menegaskan bahwa pada saat terjadi pembebasan substantif,
kewajiban tidak dapat dihapus karena kejadian tersebut tidak memenuhi karakteristik atau
criteria kritis sebagai berikut :
a.

Debitor tidak hanya sendirinya menjadi bebas dari kewajiban secara hukum hanya

lantaran perusahaan menempatkan aset ke dalam suatu perwalian.


b.

Untuk pelunasan kewajiban, sumber dana tidak dibatasi hanya dari dana yang

ditempatkan dalam perwalian.


c.

Kreditor tidak mempunyai kekuasaan untuk menggunakan secara bebas aset dalam

perwalian dan juga tidak dapat menghentikan atau membatalkan perwalian tersebut.
d.

Kreditor ataupun agennya bukan merupakan pihak yang terikat dalam kontrak

pembentukan dana pembebasan utang.


Alasan lain yang sering dikemukakan adalah pengawakan kewajiban pada saat tercapainya
pembebasan substantive sama saja dengan mengkompensasi kewajiban dengan aset. Kritik
lain adalah pengawaakuan kewajiban pada saat terjadinya pembebasan substantive dapat
dimanfaatkan oleh debitor untuk melakukan manajemen laba dan peningkatan kinerja secara
kosmetik. Hal ini dapat dilakukan karena keuntungan bagi debitor sebagai berikut :
a.

Kewajiban dihapus dari neraca sehingga rasio kewajiban ekuitas membaik

b.

Laba tahun berjalan akan meningkat dengan jumlah untung yang terjadi dalam

pengawaakuan kewajiban
c.

Untung pengawaakuan kewajiban tidak dikenai pajak karena untung tersebut

sebenarnya belum terealisasi sehingga perusahaan dapat menghemat atau menunda pajak dan
meningkatkan profitabilitas secara cukup berarti pada saat pembebasan substantive
d.

Bila aset berupa obligasi pemerintah, perusahaan dapat menghemat pajak karena untuk

perhitungan pajak pendapatan bunga obligasi pemerintah dapat dikompensasi oleh biaya
bunga utang

e.

Pembebasan substantive memungkinkan perusahaan untuk memperlakukan kewajiban

jangka seperti mengelola surat surat berharga di sisi aset.

Penyajian
Secara umum, kewajiban disajikan dalam neraca atas dasar urutan kelancarannya sejalan
dengan penyajian aset. PSAK No. 1 (pasal 39) menggariskan bahwa aset lancer disajikan urut
menurut urutan likuidiats sedangkan kewajiban disajikan menurut urutan jatuh tempo. Ini
berarti kewajiban jangka pendek disajikan lebih dahulu daripada kewajiban jangka panjang.
Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pembaca untuk mengevaluasi likuiditas perusahaan.
PSAK No. 1 menentukan bahwa semua kewajiban yang tidak memenuhi criteria
sebagai kewajiban jangka pendek harus diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang.
Suatu kewajiban diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka pendek bila (paragraph 44) :
a.

Diperkirkan akan diselesaikan dalam jangka waktu siklus normal opersi perusahaan

b.

Jatuh tempo dalam jangka waktu dua belas bulan dari tanggal neraca

Suatu kewajiban tetap dapat diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang bila
kewajiban tersebut tidak akan dilunasi tetapi didanai kembali atau diperbarui. Paragraf 47
menyebutkan bahwa kewajiban berbunga jangka panjang tetap diklasifikasikan sebagai
kewajiban jangka panjang, walaupun kewajiban tersebut akan jatuh tempo dalam jangka
waktu dua belas bulan sejak tanggal neraca, apabila :
a.

Kesepakatan awal perjanjian pinjaman untuk jangka waktu lebih dari dua belas bulan

b.

Perusahaan bermaksud membiayai kembali kewajibannya dengan pendanaan jangka

pnjang

Hak Mengkompensasi
Ada kalanya hak mengontra diperbolehkan bila kondisi tertentu dipenuhi. kondisi ini
biasanya berkaitan dengan apa yang disebut sebagai kontrak bersyarat dan kontrak
pertukaran. Kontrak bersyarat adalah kontrak yang hak dan kewajibannya bergantung pada
timbulnya kejadian masa datang tertentu yang belum tentu terjadi dan dapat mengubah saat

penerimaan, penyerahan, atau pertukaran jumlah rupiah atau instrument keuangan. Contoh
kontrak ini adalah futures contracts dan forward purchase sale contracts. Kontrak
pertukaran adalah kontrak yang mewajibkan adanya pertukaran aset dan kewajiban dimasa
datang dan bukan hanya transfer aset dari satu pihak aja. Contoh kontrak ini adalah interest
rate swaps dan currency swaps.
Dalam FASB Interpretation No. 39,45 FASB mendefinisi hak mengontra sebagai berikut
(paragraph 5) :
Hak mengintra adalah hak yuridis debitor, lantaran kontrak antara lainnya, untuk menghapus
semua atau sebagian utang kepada pihak lain dengn cara mengkompensasi utang tersebut
dengan jumlah yang pihak lain berutang kepada debitor. Hak mengontra dikatakan ada
bilamana semua kondisi berikut dipenuhi :
a.

Tiap pihak dari dua pihak yang berkontrak utang kepada yang lain suatu jumlah rupiah

tertentu
b.

Pihak pelapor mempunyai hak mengontra jumlah yang diutangnya dengan jumlah yang

diutang pihak lain


c.

Pihak pelapor memang berniat untuk mengontra

d.

Hak mengontra terpaksakan secara hukum

http://talithacilla.blogspot.co.id/

Kewajiban
PENGERTIAN
Menurut FASB kewajiban diartikan sebagai pengorbanan manfaat ekonomik masa datang
yang cukup pasti yang timbul dari keharusan sekarang suatu kesatuan usaha untuk
menstransfer aset atau menyediakan/menyerahkan jasa kepada kesatuan lain datang sebagai
akibat transaksi atau kejadian masa lalu. Terdapat beberapa pengertian lain selain dari FASB
yaitu seperti pengertian menurut IASC, AASB, dan APB No. 4, tetapi pada umumnya
dijelaskan bahwa kewajiban memiliki tiga kharakteristik utama yang terdiri atas pengorbanan
manfaat ekonomik masa datang, keharusan sekarang untuk menstransfer aset, dan timbul
sebagai akibat transaksi masa lalu.
Pengorbanan Manfaat Ekonomik
Untuk dapat disebut sebagai suatu kewajiban, suatu objek harus memuat suatu tugas atau
tanggung jawab kepada pihak lain yang mengharuskan kesatuan usaha untuk melunasi,
menunaikan, atau melaksanakannya dengan cara mengorbankan manfaat ekonomik di masa
yang akan datang. Berdasarkan pengertian tersebut bisa dikatakan bahwa suatu kewajiban
hanya terjadi antar kesatuan usaha atau paling tidak melibatkan kesatuan usaha lain.
Keharusan Sekarang
Untuk dapat disebut sebagai kewajiban, suatu pengorbanan ekonomik masa datang harus
timbul akibat keharusan sekarang. Pengertian sekarang ini mengandung pengertian (1) waktu,
yaitu tanggal pelaporan, dan (2) adanya. Beberapa keharusan yang tercakup dalam pengertian
kewajiban ini adalah keharusan kontraktual, keharusan konstruktif, keharusan demi keadilan,
dan keharusan bergantung atau bersyarat. Walapun secara definisional keharusan-keharusan
tersebut menimbulkan kewajiban, tidak semua kewajiban diakui dalam akuntansi.
Akibat Transaksi Masa Lalu
Transaksi atau kejadian masa lalu merupakan kriteria untuk memenuhi definisi tetapi bukan
kriteria untuk pengakuan. Transaksi masa lalu yang dimaksud disini adalah transaksi yang
menimbulkan keharusan sekarang telah terjadi.
Suatu transaksi atau kejadian yang dapat disebut sebagai transaksi atau kejadian masa lalu
bukanlah pada penandatanganan order tetapi datangnya dan penerimaan order. Kemudian

terkait dengan kontrak pembelian, terdapat dua pendapat, yang pertama memperlakukan
kontrak sebagai eksekutori sehingga kewajiban tidak perlu diakui. Alasannya adalah manfaat
masa datang belum diakui secara nyata. Pendapat yang kedua menganjurkan bahwa
kewajiban diakui pada saat penandatanganan kontrak bersamaan dengan aset (sediaan) yang
terlibat. Alasannya adalah, pada dasarnya ketiga kriteria kewajiban telah terpenuhi. Most
(1982, hlm. 352) mengemukakan saat yang tepat dalam penentuan transaksi masa lampau,
yaitu:
1. Pemenuhan definis aset
2. Kekuatan mengikat, yaitu seberapa kuat bahwa pelaksanaan kontrak tidak dapat
dibatalkan
3. Kebermanfaatan bagi keputusan.
Selain dari tiga kriteria kewajiban diatas, FASB juga menyebutkan beberapa karakteristik
pendukung yaitu keharusan membayar kas, identitas terbayar jelas, dan terpaksakan secara
atau berkekuatan hukum.
PENGAKUAN, PENGUKURAN, DAN PENILAIAN
Pengertian kewajiban merupakan cerminan dari aset. Transaksi suatu kejadian masa lalu
menimbulkan penguasaan sekarang pemerolehan manfaat ekonomik masa datang untuk aset
sedangkan untuk kewajiban hal tersebut menimbulkan keharusan sekarang pengorbanan
manfaat ekonomik masa datang. Memiliki kesamaan dengan aset yang direpresentasi oleh
tiga tahapan (pemerolehan, pengolahan, dan penyerahan), kewajiban juga direpresentasi tiga
tahapan, yaitu pengakuan, penelusuran, dan pelunasan.
Pengakuan
Kewajiban diakui pada saat keharusan telah mengikat akibat transaksi yang sebelumnya
terjadi. Kewajiban dapat diakui atas dasar kriteria pengakuan yaitu definisi, keterukuran,
keterandalan, dan keberpautan. Kam (hlm 119-120) mengajukan empat kaidah pengakuan
untuk menandai pengakuan kewajiban yaitu ketersediaan dasar hukum, keterterapan konsep
dasar konservatisme, ketertentuan substansi ekonomik transaksi, dan keterukuran nilai
kewajiban. Keempat kaidah tersebut dapat memberikan petunjuk tentang adanya bukti teknis
untuk mengakui kewajiban.

Pengukuran
Penentuan kos kewajiban pada saat terjadinya paralel dengan pengukuran aset, dan pengukur
yang paling objektif untuk menentukan kos kewajiban pada saat terjadinya adalah dengan
penghargaan sepakatan dalam transaksi-transaksi dan bukan jumlah rupiah pengorbanan
ekonomik masa datang. Penghargaan suau kewajiban merefleksi nilai setara tunai atau nilai
sekarang kewajiban yaitu jumlah rupiah pengorbanan sumber ekonomik seandainya
kewajiban dilunasi pada saat terjadinya.
Dasar pengukuran kewajiban yang paling objektif adalah kos tunai atau kos tunai implisit.
Karena kewajiban merupakan cerminan dari aset, maka pengukurannya juga mengikuti
pengukuran aset.
Nilai nominal atau jatuh tempo obligasi sering dianggap sebagai jumlah rupiah kesepakatan
pada saat penerbitan obligasi baik bagi penerbit maupun bagi kreditor. Dasar pengukuran
demikian tidak tepat. Utang obligasi diukur dan diakui atas dasar jumlah rupiah yang diterima
dalam penerbitan obligasi, sedangkan diskun dan premium obligasi merupakan jumlah rupiah
penyesuaian bunga nominal untuk mendapatkan bunga efektif.
Kewajiban dapat bersifat moneter dan nonmeneter. Kewajiban moneter adalah kewajiban
yang pengorbanan sumber ekonomik masa datangnya berupa kas dengan jumlah rupiah dan
saat saat yang pasti. Kewajiban moneter ini dikukur atas dasar nilai diskunan pembayaran kas
masa datang (jangka panjang) dan atas dasar nilai nominal (jangka pendek). Kewajiban
nonmeneter adalah keharusan untuk menyediakan barang dan jasa dengan jumlah dan saat
yang cukup pasti yang biasanya timbul karena penerimaan pembayaran dimuka untuk barang
dan jasa tersebut. kewajiban nonmeneter diukur atas dasar pembayaran tersebut yang
menunjukkan harga yang disepakati untuk barang dan jasa.
Penilaian
Penilaian kewajiban pada saat tertentu adalah penentuan jumlah rupiah yang harus
dikorbankan seandainya pada saat tersebut kewajiban harus dilunasi, dengan kata lain
penilaian adalah penentuan nilai sekarang kewajiban. Atribut pengukuran menurut FASB
adalah nilai pasar sekarang, nilai pelunasan neto, dan Nilai diskunan aliran kas masa
datang. Penilaian dalam tahap penelusuran adalah Penilaian kewajiban setiap saat dalam
perioda dari saat pengakuan sampai pelunasan.

Pelunasan
Pelunasan adalah tindakan atau upaya yang sengaja dilakukan oleh kesatuan usaha untuk
memenuhi kewajiban pada saatnya dan dalam kondisi normal usaha sehingga tia bebas dari
kewajiban tersebut. pelunasan biasanya merupakan pemenuhan secara langsung kepada pihak
yang berpiutang.
Pelunasan secara langsung juga disebut dengan pelunasan secara yuridis karena kewajiban
kepada pihak yang berpiutang secara yuridis hapus melalui transaksi langsung yang benarbenar terjadi. Pelunasan secara tidak langsung terjadi apabila kesatuan usaha melakukan
tindakan yang mengarah ke pelunasan misanya dengan pembentukan dana khusus. Masalah
akuntansi yang berkaitan dengan pelunasan langsung atau tidak langsung adalah penentuan
kapan kewajiban telah dapat dikatakan hapus atau lenyap sehingga jumlah rupiahnya dapat
diakui dari sistem pembukuan.
Kewajiban dapat dinyatakan lenyap dan diawaakui dari catatan bila debitor telah (a)
membayar kreditor dan terbebaskan dari semua keharusan yang melekat pada kewajiban, dan
(b) dibebaskan secara hukum sebagai penanggung utang uama oleh keputusan pengadilan
atau kreditor. Keadaan pembebasan substantif tidak memenuhi kriteria kritis untuk
mengawaakui kewajiban. Kewajiban tidak lenyap dengan sendirinya meskipun perusahaan
telah menyediakan dana yang cukup untuk melunasinya.
MASALAH TEORITIS
Pelunasan Sebelum Jatuh Tempo
Bila kewajiban dilunasi sebelum jatuh tempo, nilai jatuh tempo (nominal) dengan sendirinya
merefleksi nilai sekarang (saat pelunasan) kewajiban sehingga tidak ada selisih antara jumlah
rupiah yang dibayar dan nilai nominal. Namun pada umumnya selisih yang terjadi adalah
selisih antara nilai bawaan dan nilai penebusan atau penarikan. Bila penarikan dilakukan
dengan pendanaan kembali, terdapat tiga perlakuan terhadap selisih tersebut yaitu
diamortisasi selama sisa umur semua piutang yang dilunasi, diamortisasi selama umur utang
baru, dan diakui sebagai laba atau rugi pada saat penarikan.
Utang Terkonversi
Aset dan kewajiban finansial merupkan pos-pos statemen keuangan sebagai konsekuensi
adanya instrumen finansial. Instrumen finansial pada dasarnya merupakan alat pembayaran

atau penjaminan sehingga dapat digunakan oleh pemegangnya untuk melunasi utang. Utang
terkonversi (convertible debt) merupakan salah satu instrumen finansial tersebut.
Karakteristik obligasi konversi menimbulkan maslah akuntansi pada saat pengakuan,
pengkonversian, dan pelunasan.
Karena bersifat kewajiban dan ekuitas, masalah pada saat pengakuan adalah apakah harga
penerbitan (kos) obligasi harus dipecah menjadi porsi yang merepresentasi utang obligasi
(masuk kewajiban) dan porsi yang merepresentasi hak konversi (masuk ekuitas) atau harga
penerbitan tidak dipecah dan utang terkonversi dianggap utang semata-mata.
Terdapat dua perbedaan pendapat mengenai hal tersebut. Pendukung pemisahan berpendapat
bahwa hak konversi dapat dinilai karena hak tersebut tidak berbeda dengan hak beli saham.
Sementara itu, pendukung semata-mata utang mengatakan seballiknya. Landasan mereka
dalam memperlakukan utang terkonversi semata-mata sebagai utang adalah ketidakterpisahan
(inseparability) dan kepraktisan (practicality). Hal ini pula yang menjadi basis APB dalam
memandang nilai obligasi dan hak konversi sebagai satu kesatuan.
Pembebasan Substantif
Pembebasan substantif adalah suatu keadaan yang dicapai pada saat debitor telah
menempatkan kas atau aset lainnya ke perwalian yang ditujukan semata-mata untuk
pelunasan utang tertentu (dan tidak dapat ditarik kembali) dan pada saat itu dapat dipastikan
bahwa debitor tidak lagi harus melakukan pembayaran karena dana yang terkumpul dan
aliran kas dari aset tersebut cukup untuk menutup pokok pinjaman dan bunga.
Masalah teoritis dalam hal pembebasan substantif adalah apakah pada saat terjadi
pembebasan substantif perusahaan dapat mengawaakui kewajiban. Pada awalnya standar
yang terdapat dalam FASB memperbolehkan pengawaakuan kewajiban pada saat tercapainya
pembebasan substantif melalui SFAS No. 76. tetapi kemudian membatalkannya dengan
dikeluarkan SFAS No. 125. Dalam standar tersebut FASB menegaskan bahwa pada saat
terjadi pembebasan substantif, kewajiban tidak dapat dihapus karena kejadian tersebut tidak
memenuhi karakteristik atau kriteria kritis sebagaimana yang tercantum dalam standar.
Alasan yang lain yang sering dikemukakan adalah pengawaakuan kewajiban pada saat
tercapainya pembebasan substantif sama saja dengan mengkompensasi kewajiban dengan
aset. Hal ini merupakan praktik tidak layak.

PENYAJIAN
Secara umum, kewajiban disajikan dalam neraca berdasarkan urutan kelancarannya sejalan
dengan aset. PSAK No. 1 menggariskan bahwa aset lancar disajikan menurut urutan
likuiditas sedangkan kewajiban disajikan menurut urutan jatuh tempo. PSAK No. 1
menentukan bahwa semua kewajiban yang tidak memenuhi kriteria sebagai kewajiban jangka
pendek diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang. Kriteria tersebut adalah (a)
diperkirakan akan diselesaikan dalam jangka waktu siklus normal operasi perusahaan, atau
(b) jatuh tempo dalam jangka waktu dua belas bulan dari tanggal neraca.
Kewajiban tidak selayaknya disajikan di neraca dengan mengkompensasinya atau
mengontranya dengan aset yang dianggap berkaitan, kecuali dalam keadaan khusus yang di
dalamnya pihak pelapor mempunyai hak mengontra. Definisi dari hak mengontra sebagai
dijelaskan oleh FASB adalah hak yuridis debitor, lantaran kontrak atau lainnya, untuk
menghapus semua atau sebagaian utang kepada pihak lain dengan cara mengkompensasi
utang tersebut dengan jumlah yang pihak lain berutang kepada debitor.

https://dwiermayanti.wordpress.com/pokok-bahasan-teori-akuntansi/kewajiban/