Anda di halaman 1dari 4

Penyusutan Aset Tetap

Penyusutan adalah alokasi yang


sistematis atas nilai suatu aset tetap
yang dapat disusutkan selama masa
manfaat aset yang bersangkutan.

Seluruh aset tetap disusutkan, kecuali untuk tanah dan


konstruksi dalam pengerjaan. Di samping itu, mengacu ke
Lampiran I Permendagri No. 64 Tahun 2013, terdapat juga
aset tetap lainnya yang tidak disusutkan seperti hewan,
tanaman, dan buku perpustakaan. Hewan dan tanaman
langsung dihapuskan (tanpa pengakuan penyusutan) jika
mati, sementara buku perpustakaan langsung dihapuskan
jika sudah tidak dapat digunakan lagi. Metode penyusutan
yang diusulkan di Lampiran I Permendagri No. 64 Tahun 2013
adalah metode garis lurus. Namun demikian, pemerintah
daerah dapat memilih metode penyusutannya sendiri
dengan pilihan yang diberikan menurut SAP, yiatu a) metode
garis lurus, b) metode saldo menurun ganda, dan c) metode
unit produksi.

Kapitalisasi aset tetap


Suatu pengeluaran setelah perolehan atau pengeluaran pemeliharaan
akan dikapitalisasi jika memenuhi kriteria sebagai berikut:
1. Menambah manfaat ekonomi atas aset tetap yang dipelihara yang
dapat berupa:
a) bertambah ekonomis/efisien, dan/atau
b) bertambah umur ekonomis, dan/atau
c) bertambah volume, dan/atau
d) bertambah kapasitas produksi.

2. Nilai pengeluaran belanja atas pemeliharaan aset tetap tersebut


harus sama dengan atau melebihi nilai satuan minimum kapitalisasi
aset tetap. Nilai satuan minimum kapitalisasi adalah penambahan nilai
aset tetap dari hasil pengembangan, reklasifikasi, renovasi, dan
restorasi. Nilai satuan minimum kapitalisasi ini harus dituangkan di
dalam kebijakan akuntansi di masing-masing entitas pelaporan.

Sebagai contoh, SKPD ABC melakukan renovasi aset tetapnya


sehingga masa manfaat aset tetap tersebut bertambah, misalnya
umur ekonomis bertambah dari 10 tahun menjadi 15 tahun. Biaya
renovasi telah melebihi satuan minimum kapitalisasi. Atas transaksi
ini, PPK-SKPD menjurnal kapitalisasi sebagai berikut: