Anda di halaman 1dari 14

penerapan PDCA di Pabrik Kelapa Sawit (PKS)

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Organisasi industri merupakan salah satu mata rantai dari sistem perekonomian,
karena ia memproduksi dan mendistribusikan produk (barang atau jasa). Produksi
merupakan fungsi pokok dalam setiap organisasi, yang mencakup aktivitas yang
bertanggung jawab untuk menciptakan nilai tambah produk yang merupakan output
dari setiap organisasi industri itu.
Produksi adalah bidang yang terus berkembang selaras dengan perkembangan
teknologi, dimana produksi memiliki suatu jalinan hubungan timbal balik (dua arah)
yang sangat erat dengan teknologi. Kebutuhan produksi untuk beroperasi dengan
biaya yang lebih rendah, meningkatkan kualitas dan produktivitas, dan menciptakan
produk baru telah menjadi kekuatan yang mendorong teknologi untuk melakukan
berbagai terobosan dan penemuan baru. Produksi dalam sebuah organisasi pabrik
merupakan inti yang paling dalam, spesifik serta berbeda dengan bidang fungsional
yang lain seperti keuangan, personalia, dan lain-lain. Sistem pendukung kegiatan
produksi antara lain :
a.

perencanaan dan pengendalian produksi

b.

pengendalian kualitas

c.

penentuan standar operasi

d.

penentuan fasilitas produksi

e.

perawatan fasilitas produksi

f.

penentuan harga pokok produksi.

Dalam makalah ini akan dibahas tentang PDCA pada perusahaan Pabrik Kelapa Sawit
(PKS). PDCA adalah singkatan dari Plan,Do,Check,and Action.PDCA merupakan
rangkaian kegiatan yang terdiri dari penyusunan rencana kerja,pelaksanaan rencana
kerja,pemeriksaan rencana kerja,perbaikan yang terus menerus dan
berkesinambungan.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah:
a.
Penerapan PDCA pada perusahaan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) agar dapat
menghasilkan CPO yang berkualitas.

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah :
a.

Untuk Dapat menerapkan PDCA pada perusahaan Pabrik Kelapa Sawit (PKS)

1.4 Manfaat
Adapun manfaat dari makalah ini adalah sebagai media ataupun sarana untuk
menambah wawasan kita tentang pentingnya PDCA pada setiap perusahaan agar
dapat menghasilkan produk-produk yang bekualitas dan kompetitif. Penulis berharap
semoga makalah ini dapat memberikan manfaat baik bagi diri penulis pribadi maupun
pembaca pada umumnya dan dapat menjadi sumber referensi bagi kita di kemudian
hari.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Plan (Rencana)
2.1.1 Definisi Masalah

Untuk mendefinisikan masalah yang ada,terlebih dahulu kita harus menganalisa


masalah yang terjadi. Contoh kasus yang akan kami ambil adalah faktor apa saja
yang mempengaruhi rendemen CPO di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) ?
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Rendemen CPO di PKS
Untuk menghasilkan minyak atau CPO yang baik dari kelapa sawit harus
mengandung Asam Lemak Bebas (ALB) yang rendah dan memiliki rendemen yang
tinggi. Ada beberapa factor yang mempengaruhi rendemen CPO di PKS,antara lain:

Varietas tanaman

Umur tanaman

Pemeliharaan tanaman

Mutu Tandan Buah Segar (TBS)

Derajat Kematangan Buah (Mutu Panen)

Pengangkutan TBS ke pabrik

Kondisi proses pengolahan di PKS

2.1.2 Analisa Penyebab


Untuk menghasilkan CPO yang berkualitas, maka kita harus menganalisa
penyebabnya. Mengapa kualitas CPO yang dihasilkan tidak memenuhi standar ?

Varietas Tanaman

Faktor penentu buruknya kualitas CPO di antaranya disebabkan oleh pemilihan


Varietas tanaman yang salah.
Varietas kelapa sawit berdasarkan ketebalan cangkang terbagi atas 4 (empat),yaitu:
1.
Macrocarya, merupakan tipe jenis kelapa sawit yang memiliki cangkang paling
tebal yaitu sekitar > 8 mm.
2.
Dura, merupakan tipe kelapa sawit yang memiliki mesocarp sekitar 35-50% dari
buah,dengan tebal cangkang sekitar 2-8 mm dan ketebalan inti (kernel) yang cukup
besar. Tipe kelapa sawit jenis ini merupakan tipe kelapa sawit yang juga dikategorikan
memiliki cangkang yang cukup tebal,sehingga dianggap memperpendek umur mesin
pengolah,namun biasanya tandan buahnya besar-besar dan kandungan minyak per
tandannya cukup rendah yaitu berkisar 18 %.
3.
Pisifera, merupakan tipe kelapa sawit yang memiliki mesocarp sangat tebal yaitu
sekitar 70-80% dengan cangkang yang sangat tipis yaitu <0,5 mm (bahkan kadang
hampir tidak ada), namun bunga betinanya steril sehingga sangat jarang
menghasilkan buah sehingga tidak ditanam secara komersial di perkebunan.

4.
Tenera, merupakan tipe kelapa sawit yang memiliki mesocarp cukup tebal yaitu
sekitar 60-70% dengan ketebalan cangkang hanya 0,5-4 mm. Tenera adalah
persilangan antara induk Dura dan jantan Pisifera. Jenis ini dianggap bibit unggul
sebab melengkapi kekurangan masing-masing induk dengan sifat cangkang buah tipis
namun bunga betinanya tetap fertile. Beberapa Tenera unggul memiliki persentase
daging per buahnya mencapai 90% dan kandungan minya per tandannya yang cukup
tinggi yaitu sekitar 22-28%. Tipe kelapa sawit ini lebih cocok untuk penanaman
komersial.

Umur Tanaman

Umur tanaman juga sangat mempengaruhi kualias CPO,Tingkat produktivitas tanaman


kelapa sawit akan meningkat secara tajam dari umur 3-7 tahun (periode tanaman
muda,young),mencapai tingkat produksi maksimal pada umur sekitar 15 tahun
(periode tanaman remaja,prime) dan mulai menurun secara gradual pada periode
tanaman tua (old) sampai saat-saat menjelang peremajaan (replanting). Setiap pohon
sawit dapat menghasilkan 10-15 TBS per tahun dengan berat 3-40 kg per
tandan,tergantung umur tanaman. Dalam satu tandan terdapat 1000-3000 brondolan
dengan berat brondolan berkisar 10-20 g.

Pemeliharaan Tanaman

Untuk mendapatkan kualitas CPO yang baik maka kualitas tanamannya juga harus
baik, tanaman yang baik harus dibutuhkan pemeliharaan yang baik pula.Salah satu
tindakan yang amat penting dalam teknik budidaya kelapa sawit adalah dengan
melakukan pemeliharaan tanam sejak mulai tanaman. Hal ini akan menentukan masa
non produktifnya. Dengan pemeliharaan yang intensif sejak mulai tanam diharapkan
kelapa sawit mempunyai masa non-produktif yang pendek.

Mutu TBS

Mutu CPO yang dihasilkan sangat ditentukan oleh mutu TBS,sedangkan mutu TBS
dipengaruhi oleh system panen. Kesalahan pada langkah pengumpulan hasil dapat
mengakibatkan mutu CPO tidak memenuhi syarat. Sebagai akibatnya dapat
memperkecil efisiensi pengolahan. Pelaksanaan panen dipengaruhi oleh system panen
yang ditetapkan di suatu perkebunan. Panen yang tidak terkendali akan menyebabkan
kehilangan CPO serta penurunan mutu produksi.

Derajat Kematangan Buah (Mutu Panen)

Komposisi fraksi tandan yang biasanya ditentukan di pabrik sangat dipengaruhi


perlakuan sejak awal panen. Faktor penting yang cukup berpengaruh adalah
kematangan buah. Dalam hal ini pengetahuan mengenai derajat kematangan buah
mempunyai arti penting sebab jumlah dan mutu minyak yang akan diperoleh sangat

ditentukan oleh factor ini. Apabila pemanenan buah dilakukan dalam keadaan lewat
matang,maka minyak yang dihasilkan akan mengandung ALB dalam persentase tinggi
(lebih dari 5%). Sebaliknya,jika pemanenan dilakukan dalam keadaan buah belum
matang,selain kadar ALB-nya rendah,rendemen minyak yang diperoleh juga rendah.
Berdasarkan hal tersebut di atas,ada beberapa tingkatan atau fraksi dari TBS yang
dipanen. Fraksi-fraksi TBS tersebut sangat mempengaruhi mutu panen,termasuk
kualitas minyak sawit yang dihasilkan. Dikenal ada 5 fraksi TBS.berdasarkan fraksi TBS
tersebut,derajat kematanganyang baik adalah tandan-tandan yang dipanen berada
pada fraksi 1,2,dan 3.
Table 2.1 Kematangan TBS yang akan dipanen
No.

Fase Buah

Fraksi Buah

Jumlah berondolan yang telah


jatuh

Tingkat
kematangan

1.

Mentah

00

Tidak ada buah yang berwarna


hijau atau hitam

Sangat
mentah

1% - 12,5% buah luar atau 0-1


berondolan tiap kg tandan
memberondol

Mentah

12,5% - 25% buah luar atau 2


berondolan tiap kg tandan 25%
dari buah luar memberondol

Kurang
matang

25%-50% buah luar


memberondol

Matang

50%-75% buah luar


memberondol

Matang

75%-100% buah luar


memberondol

Lewat matang
(ranum)

100% buah luar memberondol


dan sebagian berbau busuk

Lewat matang
(busuk)

2.

3.

Matang

Lewat

Pengangkutan TBS ke Pabrik

TBS hasil pemanenan harus segera diangkut ke pabrik untuk diolah lebih lanjut.pada
buah yang tidak segera diolah, maka kandungan asam lemak bebas (ALB) nya
semakin meningkat dan dapat memperkecil kadar rendemen. Pengangkutan yang
menempuh jarak terlalu jauh akan mempertinggi derajat kelukaan buah yang dapat
mempengaruhi kualitas minyak yang dihasilkan.

Kondisi Proses di PKS

Pengolahan kelapa sawit yang dilakukan secara mekanis dan fisika dapat berperan
dengan baik jika tersedia bahan baku yang sesuai dan kinerja pabrik yang baik.

Untuk mengendalikan proses pengolahan diperlukan pengetahuan dan penguasaan


terhadap proses pengolahan,kinerja mesin dan alat serta memadukan setiap proses
pengolahan dan kemampuan untuk mengoperasikan serta mendiagnosa suatu
penyimpangan.
Pada stasiun penerimaan buah,buah yang diterima ditimbang dengan teliti agar
didapat perhitungan rendemen yang tepat. Kemudian langsung diolah agar tidak
terjadi pelukaan pada buah yang dapat meningkatkan ALB dan menurunkan
rendemen.
Stasiun perebusan menggunakan system triple peak. Dimana tekanan yang digunakan
adalah 2-3 kg/cm3. Apabila tekanan < 2 kg/cm3,maka waktu perebusan akan semakin
lama. Hal ini akan menyebabkan kehilangan minyak pada tandan kosong dan pada air
kondensat akan meningkat.
Pada stasiun penebahan, thresher berputar dengan kecepatan 23-25 rpm. Bila putaran
dibawah 23 rpm maka berondolan buah tidak terlepas sempurna dari tandannya
sehingga dapat menurunkan rendemen minyak.
Pada stasiun kempa, tekanan berkisar 30-50 bar. Bila tekanan kempa terlalu rendah
dapat mengakibatkan ampas masih basah (mengandung minyak) sehingga kehilangan
minyak pada ampas tinggi. Dan apabila tekanan kempa terlalu tinggi akan
mengakibatkan kadar biji pecah tinggi dan kehilangan minyak pada biji juga tinggi.
Selain itu, kinerja mesin pada stasiun klarifikasi yang kurang baik dapat
mengakibatkan minyak terikut bersama sludge maupun air.

2.1.3 Merencanakan Tindakan


Sebelum melakukan tindakan terhadap kasus/masalah yang ada, kita perlu membuat
rencana untuk waktu jangka panjang.
Untuk menghasilkan CPO yang berkualitas maka perlu perencanaan sebagai berikut :

Pemilihan varietas tanaman yang unggul. Dalam kasus ini maka sebaiknya kita
memilih varietas tanaman jenis Tenera

Pada umur sekitar 15 tahun (periode tanaman remaja,prime), tanaman sawit


mencapai tingkat produksi maksimal dan setelah itu tingkat produksi mulai menurun
secara gradual pada periode tanaman tua (old), maka sebaiknya segeralah melakukan
peremajaan kembali (replanting)

Pemeliharaan tanaman meliputi : penyulaman (mengganti tanaman yang mati


atau kurang baik), pemberantasan gulma, pemupukan, pemangkasan (memotong
daun-daun tua),penyerbukan buatan,dll.

Agar TBS mempunyai mutu yang baik maka kita harus mengendalikan system
panen. Pengawasan pada saat panen sangatlah penting.

Derajat kematangan buah harus selalu kita pantau saat melakukan proses
pemanenan agar TBS yang di panen memang benar-benar termasuk kriteria matang.

Segeralah mengangkut buah yang sudah dipanen ke pabrik untuk diolah.

Pada saat proses pengolahan harus selalu terkendali serta dibutuhkan


pengetahuan dan penguasaan terhadap proses pengolahan, kinerja mesin dan alatalat harus selalu dalam kondisi yang baik.

2.2 Do (Melaksanakan)
Tindakan yang kita laksanakan harus sesuai dengan rencana yang sudah dibuat
sebelumnya.
2.3 Check (Periksa)
Pemeriksaan sangatlah penting dilakukan untuk dapat memastikan hasil dari
pemecahan suatu masalah.
2.4 Act (Tindakan)
2.4.1 Cara Mengatasi Kehilangan Minyak Selama Proses Pengolahan
Kehilangan minyak selama proses dapat ditanggulangi dengan angka kerja
pengolahan (Standar Fisik Kerja Pengolahan) yang diperlihatkan pada table berikut:
Tabel 2.2 Standar Fisik Kerja Pengolahan
No.

Uraian

Satuan

Standar Fisik

1.

Tekanan Rebusan

Kg/cm3

2,8-3

2.

Masa Rebusan

Menit

85-90

3.

Pola Rebusan

Puncak

2 atau 3

4.

Suhu Massa dalam Digester

90-95

5.

Tekanan Kerja Single Pressing

Bar

30-50

6.

Tekanan Kerja Double Pressing


Firs Pressing

Bar

30-40

Second Pressing

Bar

40-50

7.

Suhu Kerja Stasiun Klarifikasi

90-95

8.

Tekanan Vacum Dryer

Torr

50

9.

Suhu Hot Water Tank

90-95

10.

Pemakaian Air Pengencer di


Screw Press terhadap TBS

15-20

11.

Kebutuhan Air Stasiun

Klarifikasi terhadap TBS

5-10

12.

Kebutuhan Air Pabrik per ton


TBS

m3

1,2-1,5

13.

Kebutuhan Listrik per ton TBS

KwH

15-17

14.

Kebutuhan Uap per ton TBS

Kg

500-600

Selain pengaruh standart fisik kerja pengolahan di atas, kualitas minyak kelapa sawit
juga dipengaruhi oleh system panen yang diberlakukan. Kriteria matang panen yang
bervariasi akan menyebabkan perbedaan kualitas minyak kelapa sawit.
Pemanenan yang sesuai norma-norma panen tidak akan menimbulkan pengaruh
negatif terhadap kualitas. Namun, penyimpangan akan selalu terjadi sehingga
menyebabkan penurunan kualitas seperti pengutipan brondolan yang kotor serta
pemotongan buah mentah.
Operasi panen,operasi pengangkutan buah dan operasi pengolahan hendaknya saling
mendukung satu sama lain. Ketiga kegiatan ini merupakan subsistem-subsistem dari
satu tujuan system induk yaitu objektif PAO (Panen Agkut Olah).
Untuk mendukung suksesnya tujuan pengangkutan perlu diperhatikan tersedianya
buah di TPH mulai jam 9.00 WIB, jumlah armada angkutan yang cukup,serta jalan
yang baik dan sistem komunikasi yang lancar.

BAB III
PENUTUP
A.

Kesimpulan

Untuk menghasilkan minyak atau CPO yang baik dari kelapa sawit harus
mengandung Asam Lemak Bebas (ALB) yang rendah dan memiliki rendemen yang
tinggi.
Ada beberapa factor yang mempengaruhi rendemen CPO di PKS,antara lain:
o Varietas tanaman
o Umur tanaman
o Pemeliharaan tanaman
o Mutu Tandan Buah Segar (TBS)
o Derajat Kematangan Buah (Mutu Panen)
o Pengangkutan TBS ke pabrik
o Kondisi proses pengolahan di PKS

Untuk menghasilkan CPO yang berkualitas maka perlu perencanaan sebagai


berikut :
o Pemilihan varietas tanaman yang unggul. Dalam kasus ini maka sebaiknya kita
memilih varietas tanaman jenis Tenera
o Pada umur sekitar 15 tahun (periode tanaman remaja,prime), tanaman sawit
mencapai tingkat produksi maksimal dan setelah itu tingkat produksi mulai menurun
secara gradual pada periode tanaman tua (old), maka sebaiknya segeralah melakukan
peremajaan kembali (replanting)
o Pemeliharaan tanaman meliputi : penyulaman (mengganti tanaman yang mati atau
kurang baik), pemberantasan gulma, pemupukan, pemangkasan (memotong daundaun tua),penyerbukan buatan,dll.
o Agar TBS mempunyai mutu yang baik maka kita harus mengendalikan system
panen. Pengawasan pada saat panen sangatlah penting.
o Derajat kematangan buah harus selalu kita pantau saat melakukan proses
pemanenan agar TBS yang di panen memang benar-benar termasuk kriteria matang.
o Segeralah mengangkut buah yang sudah dipanen ke pabrik untuk diolah.
o Pada saat proses pengolahan harus selalu terkendali serta dibutuhkan
pengetahuan dan penguasaan terhadap proses pengolahan, kinerja mesin dan alatalat harus selalu dalam kondisi yang baik.

BAB III
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 1990. Pertemuan Teknis Kelapa Sawit. Riau: Direktorat Jenderal
Perkebunan
Anonymous 1997. Standarisasi pengolahan Kelapa Sawit. Medan: Direktorat
Jenderal
Perkebunan.
Naibaho,P.M. 1998. Teknologi pengolahan kelapa sawit. Medan: Pusat penelitian Kelapa
Sawit (PPKS).
Pahan,I.2006. Kelapa Sawit: Manajemen Agribisnis dari Hulu Hingga Hilir.Cetakan
1.Jakarta: Penebar Swadaya.

http://chairilamry4.blogspot.co.id/2013/11/penerapan-pdca-di-pabrik-kelapa-sawit.html

Implementasi PDCA

Siklus Plan-Do-Check-Act (PDCA) merupakan step-step penyelesaian masalah yang sistemat


diaplikasikan di perusahan besar di Indonesia namun sudah lama diterapkan di negara-negara m
dapat mngeimplementasikan PDCA dalam konteks semangat perbaikan yang berkesinambungan
tidak hanya memerlukan pemahaman tentang konsep PDCA itu sendiri, tetapi juga memerlukan
keterampilan dalam penggunaan alat-alat manajemen kualitas. Bagaimanapun implementasi dar
(Plan) sampai A (Act) memerlukan seperangkat alat bantu yang dapat digunakan untuk mengefe
Kaitan antara setiap tahapan dalam PDCA dan seperangkatan alat kualitas dapat dilihat pada ga

Alat kualitas yang diperlukan dalam setiap tahapan dalam PDCA akan terkait dengan hal-hal y
tahapan. Hal-hal yang perlu dilakukan dalam Implementasi setiap tahap dari PDCA dapat dilihat

Pada tahap perencanaan, ada empat hal yang harus dilakukan dalam implementasinya yakn
mencari faktor penyebab, urutan penyebab, dan perumusan. Artinya PDCA tahap ini diimplemen
menentukan proses mana yang perlu diperbaiki dan perbaikan apa yang perlu dilakukan serta ba
pada tahap ini, disusun rencana yang akan dilakukan, atau menentukan masalah yang akan diat
dan mencari solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Menjadi kewajiban pimpinan organisasi u
yang diperlukan agar dapat memilih hipotesis mana yang paling relevan untuk melakukan perba
"perencanaan" pimpinan menyusun, merencanakan, mengkoordinasikan, mensosialisasikan, dan
persoalan inti yang hendah diselesaikan. Pada tahap ini diperlukan alat kualitas untuk membantu
menyusun rencana perbaikan seperti misalnya pemetaan layanan pelanggan, flowchart, analisis
kelompok, analisis pohon, matriks evaluasi, diagram sebab akibat (fishbone)

Tahap "Melakukan" diimplementasikan mengerjakan apa yang telah direncanakan. Melaksan


sebelumnya dan memantau proses pelaksanaannya. Pada tahap ini, ambilah keputusan berdasar
melihat problem-problem yang mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap proses atau p
perbaikan/solusi terhadap masalah terbesar saja (mungkin hanya terdapat 2 atau 3 masalah uta
besar). pada tahap "mengerjakan, pimpinan melakukan, melaksanakan, menerapkan, mengimple
pada tahap "perencanaan". Alat-alat kualitas yang biasa digunakan untuk membantu implement
memimpin kelompok kecil, desain eksperimen, resolusi konflik, dan pelatihan sambil kerja.

Tahap Pengecekan diimplementasikan dengan mengawasi proses "mengerjakan" dan meng


menentukan keadaan nyata sekarang mengenai jalannya proses apakah hasil yang terjadi sesua
telah dilaksanakan dan menemukan kelemahan-kelemahan yang perlu diperbaiki. Berdasarkan k
rencana perbaikan untuk dilaksanakan selanjutnya. Dengan kata lain, tahap "mengerjakan" diim
evaluasi terhadap hasil perbaikan. Pada tahap ini, anda harus melakukan evaluasi terhadap peru

proyek yang telah anda lakukan. Kemudian harus anda pelajari, seberapa efektifkah dan seberap
tersebut terhadap proyek anda. Pimpinan organisasi memeriksa, memonitor, mengecek, menguk
dikerjakan pada tahap "mengerjakan". Ada tiga kemungkinan hasil yang dapat diamati dari imple
1) Hasilnya bermutu sesuai yang direncanakan, sehingga prosedur bersangkutan dapat dipergun
bermutu, tidak sesuai yang direncanakan sehingga prosedur yang bersangutan tersebut tidak se
masa mendatang. 3) Prosedur yang bersangkutan mungkin dapat dipakai untuk keadaan berbed
sesungguhnya tidak berakhir pada langkah Act, tetapi kembali lagi pada langkah pertama dan se
digunakan dalam implementasi tahap ini antara lain Check sheet, analisis grafik, control chart, in

Tahap Tindak Lanjut diimplementasikan dengan membuat usulan standard dan menetapkan
temuan dari tahap "mengawasi". Implementasi tahap ini dimaksudkan untuk menjawab bagaima
di kemudian hari dan melaksanakan keseluruhan rencana peningkatan perbaikan, termasuk perb
ditemukan. Pada tahap ini adfa kemungkinan dilakukan standarisasi ulang proses dan persiapan
tahap ini, proses perbaikan yang terbaik efeknya terhadap proyek akan digunakan/diterapkan da
kemudian distandarisasi sebagai suatu prosedur standar. Setelah proses/ proyek anda mengalam
lakukan persiapan lagi untuk melakukan perbaikan yang lebih baik lagi. Dan begitu seterusnya. P
mempertanggungjawabkan, menindaklanjuti, memperbaiki, dan meningkatkan performansi. Le
perubahan yang akan diimplementasikan; Bila berhasil, perlu disusun prosedur yang baku. Memu
ulang dan tambahan bagi karyawan terkait serta mengkaji perubahan tersebut punya efek negat
tidak. Selanjutnya, memantau terus perubahan tersebut. Implementasi tahap ini memerlukan se
proses, standardisasi proses, informasi pengendalian, pelatihan formal untuk kepentingan standa

Konsep PDCA yang pada hakekatnya merupakan siklus yang pada implementasinya dimaksu
berbasis perbaikan terus menerus. Implementasi konsep PDCA untuk desain wewenang dan tang
(perencanaan) yaitu apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya? Pada tahapan per
pada mengembangkan sasaran dan proses-proses yang diperlukan untuk mencapai hasil yang se
sesuai persyaratan pengguna. Do (melaksanakan), yaitu mengerjakan yang direncanakan. Pada
desaindiarahkan pada melaksanakan strategi, kebijakan, dan proses-proses yang diperlukan untu
dalam sasaran mutu atau sesuai persyaratan pengguna. Check (memeriksa), yaitu apakah hasil
direncanakan. Pada tahapan memeriksa ini, rumusan desain diarahkan pada memantau, mengev
proses yang telah dijalankan dan produk yang telah dihasilkan dengan kebijakan organisasi, sas
telah ditetapkan. Diperlukan untuk mencapai hasil yang sesuai dengan kebijakan organisasi atau
(tindaklanjut), yaitu apakah tindaklanjut yang akan diambil dengan hasil yang diperoleh dan upa
hasil yang diperoleh? Pada tahapan tindaklanjut ini, rumusan desain WT-nya diarahkan pada upa
kinerja proses secara bekesinambungan. Penjabaran dari konsep PDCA ini ke dalam kata-kata op
PDCA dan Level Manajemen

Dengan pendekatan PDCA ini, perumusan wewenang dan tanggungjawab lebih mudah dilak
wewenang dan tanggungjawab yang sesuai dengan kedudukan sehingga beban tanggungjawab
level kedudukan unit organisasi. Tentunya semakin tinggi level unit tersebut dalam organisasi m
lebih banyak dibandingkan level di bawah.

Level Top Management, fungsi Plan akan lebih besar dibandingkan fungsi lainnya. Level Mid
sedikit dibandingkan dengan Top Management. Sebaliknya, level Middle Management fungsi Do a

Management. Demikian pula di level Lower Management fungsi Do lebih besar dibandingkan den
seterusnya.

Perlu diperhatikan, ketika mendisain wewenang dan tanggungjawab itu perlu meletakan das
tanggungjawab secara jelas. Dasar pijakan dari sebuah jabatan antara lain bahwa setiap kegiata
tanggungjawab, setiap kegiatan yang dilakukan dibatasi oleh kewenangan. Setiap kegiatan diura
hasil kegiatan yang dilakukan secara periodik harus dipertanggungjawabkan.

Bertolak dari dasar pijakan tersebut maka rumusan level atau tingkatan pertanggungjawaba
dari wewenang dan tanggungjawab antara jabatan strategis dan jabatan operasional jadi semaki
strategis dimensi plan akan lebih banyak daripada jabatan level operasional. Sebaliknya jabatan
operasional lebih banyak dibanding jabatan level strategis.
Implementasi PDCA dalam Suatu Perusahaan

Dalam hal mengimplementasikan PDCA, kunci terlaksana atau tidaknya suatu aktivitas ada
disinilah tempat fungsi perencanaan aktivitas yang akan dilaksanakan yang merupakan deskrips
dilaksanakan oleh orang yang menduduki jabatan di divisi suatu perusahaan tersebut. Wewenan
dalam bentuk dokumen untuk memudahkan dalam mengidentifikasi aktivitas yang telah dilakuka
dari tiap divisi tidaklah sama, masing-masing sesuai dengan kedudukannya, karena itulah, dalam
dengan baik. Artinya, wewenang dan tanggungjawab tersebut bukan sekedar kumpulan semua a
tetap perlu diharmonisasikan atau diseimbangkan. Jangan sampai wewenang dan tanggungjawab
tidak dapat dijalankan karena tidak sesuai dengan fungsinya.

Dalam suatu pengalaman menangani sebuah percetakan untuk mendapatkan sertifikasi ISO
dalam memecahkan suatu permasalan, konsep PDCA ini sangat efektif untuk diterapkan, namun
Management sangatlah penting. Sebagai contoh, saat ditemukan bahwa banyak pelat dari Dept.
entah karena teknis atau non teknis, ini sangat tidak efisien. Untuk itu, perlu dibuat langkah-lang
waktu dan jumlah yang ingin dicatat sebagai penyelesaiannya. Ketika menerapkan proses PDCA
bisa dianalisa dan direview bahwa target efisiensi pelat dipracetak sudah dapat dikendalikan dan
tersebut secara terus menerus. Seringkali kita terjebak emosi sesaat saat menghadapi permasal
tidak tuntas, sehingga permasalahan tersebut muncul kembali karena akar permasalahan yang t
tepat.

Contoh implementasi PDCA dalam pencetakan plat:

Konsep PDCA ini sangat efektif untuk diterapkan, namun komitmen dan konsistensi dari Top
contoh, saat ditemukan bahwa banyak pelat dari Dept. Prepress yang bermasalah saat dicetak e
sangat tidak efisien. Untuk itu, perlu dibuat langkah-langkah/rencana kongret, serta target waktu
penyelesaiannya. Ketika diterapkan proses PDCA tersebut, maka dalam waktu tiga bulan bisa di
efisiensi pelat dipracetak sudah dapat dikendalikan dan untuk selanjutnya dipertahankan proses
kita terjebak emosi sesaat, saat menghadapi permasalahan di percetakan, hanya temporary dan
tersebut muncul kembali karena akar permasalahan yang tidak ditemukan dan dianalisa dengan

Contoh Implementasi PDCA dalam pendidikan

Sebagai contoh, seorang ayah telah menentukan goal bahwa anaknya harus kuliah di Unive
muncul. Dia tidak memiliki biaya yang cukup untuk kuliah anaknya tersebut. Goal tersebut selan
yang diambil oleh sang ayah adalah mencari jalan keluar berkaitan dengan biaya. Dia pun memp
menabung atau mengikuti program asuransi syariah pendidikan. Sementara sang anak tetap fok
baik, dia akan mendapatkan prestasi. Dengan demikian, harapan untuk mendapatkan beasiswa t
pada masalah yaitu keterbatasan dana maka bisa jadi dia mengundurkan niat menyekolahkan an
pun tingkat belajarnya menjadi biasa-biasa saja. Jadi, fokuslah pada goal jangan fokus pada masa
adalah untuk dihadapi dan dipecahkan, bukan untuk dihindari! Cara yang terbaik untuk keluar da
memecahkannya bukan melarikan diri dari padanya. (Hendra Poerwanto G)
https://sites.google.com/site/kelolakualitas/PDCA/Implementasi-Plan-Do-Check-ActPDCA