Anda di halaman 1dari 11

PANDUAN

PEMELIHARAAN LIFT

RS. BOGOR MEDICAL CENTER

JL. PAJAJARAN INDAH V NO.97 BOGOR 16143

BAB I
DEFINISI
Perwatan/pemeliharaan adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara berulang-ulang
dengan tujuan agar peralatan khususnya LIFT selalu memiliki kondisi yang sama dengan
keadaan awalnya. Maintenance atau pemeliharaan juga dilakukan untuk menjaga agar
Lift tetap berada dalam kondisi yang dapat di gunakan dengan aman. Pemeliharaan yang
efektif akan mengarah pada hal-hal sebagai berikut :
a. Kapasitas pemeliharaan sarana prasarana terpenuhi secara maksimal.
b. Dapat meminimalkan biaya per unit kerja.
c. Dapat mengurangi resiko kegagalan dalam memenuhi keinginan pelanggan/pasien
yang berkaitan dengan sarana prasarana .
d. Dapat menjaga keselamatan pegawai, lingkungan kerja dan masyarakat sekitar
dari bahaya yang mungkin muncul dengan adanya proses kerja.
e. Dapat memastikan sekecil mungkin resiko yang dapat membahayakan lingkungan
di sekitar Rumah Sakit.

BAB II
RUANG LINGKUP

Pemeliharaan terencana adalah porses pemeliharaan yang diatur dan diorganisasikan


untuk mengantisipasi perubahan yang terjadi terhadap Lift di waktu yang akan datang.
Dalam pemeliharaan terencana terdapat instrument pengendalian dan instrument
pencatatan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya. Pemeliharaan
terencana merupakan bagian dari instrument manajemen pemeliharaan yang terdiri atas
pemeliharaan preventif, pemeliharaan prediktif, dan pemeliharaan korektif.

Pemeliharaan preventif adalah pemeliharaan yang dilakukan pada selang waktu tertentu
dan pelaksanaannya dilakukan secara rutin dengan beberapa instrument yang dilakukan
sebelumnya. Tujuannya untuk mencegah dan mengurangi kemungkinan suatu komponen
tidak memenuhi kondisi normal. Pekerjaan yang dilakukan dalam pemeliharaan preventif
adalah mengecek, melihat, menyetel, mengkalibrasi, melumasi, dan pekerjaan lain yang
bukan penggantian suku cadang berat.
Pemeliharaan preventif membantu agar peralatan dapat bekerja dengan baik sesuai
dengan apa yang menjadi ketentuan pabrik pembuatnya. Semua pekerjaan yang masuk
dalam lingkup pemeliharaan preventif dilakukan secara rutin dengan berdasarkan pada
hasil kinerja alat yang diperoleh dari pekerjaan pemeliharaan prediktif atau adanya
anjuran dari pabrik pembuat alat tersebut. Apabila pemeliharaan preventif dikelola
dengan baik maka akan dapat memberikan informasi tentang kapan mesin atau alat akan
diganti sebagian komponennya.
Pemeliharaan rutin dilakukan selang waktu satu bulan sekali. Tanggal pekerjaan
pemeliharaan dicatat pada Laporan Perwatan Elevator.
Informasi yang dicatat termasuk waktu pakai alat, komponen yang diganti, dan kinerja
peralatan. Dari data yang dicatat tersebut dapat diproyeksikan dan diramalkan waktu
pakai alat, sehingga dapat direncanakan untuk menggantinya pada saat yang ditentukan.
Sebelum instrumen pemeliharaan terencana diterapkan, harus diketahui peralatan apa saja
yang sudah ada dan berapa jumlahnya. Untuk itu, pekerjaan dapat dimulai dengan suatu
daftar inventaris yang lengkap untuk menjawab pertanyaan di atas.
Hal tersebut merupakan persyaratan utama dan layak dijadikan sebagai tugas pertama
untuk menyusun instrumen pemeliharaan yang baik. Daftar inventaris yang akurat dan
rinci dari segi teknis akan sangat berguna untuk instrumen pemeliharaan terencana.
Selanjutnya daftar inventaris peralatan tersebut dikelompokkan menjadi sejumlah
kelompok yang sesuai dengan jenisnya. Sebagai contoh : kelompok alat-alat tangan, alatalat khusus (Special service tool/SST), alat-alat ukur dan sebagainya

BAB III
TATALAKSANA
1. Secara praktis pemeliharaan dikerjakan oleh ahlinya yaitu Oleh PT Jaya Kencana.
Walaupun begitu pihak pengelola bangunan harus mendapat jaminan bahwa
pesawat lif berfungsi baik sebagaimana mestinya. Jaminan lift itu dapat berupa
sebagai berikut :
1. Tiap-tiap kemacetan harus sudah selesai diperbaiki dalam satu jam, atau
dua jam dengan alasan yang wajar.
2. Jumlah kemacetan dalam setahun tiap-tiap satuan pesawat, rata-rata tidak
lebih dari 3 kali.
3. Jumlah jam lift berhenti (tidak jalan) karena dilakukan perawatan dan
perbaikan ialah maksimal 5% dari jumlah jam tugasnya setahun. Lihat box
ilustrasi.
4. Setahun sekali diadakan audit atas pekerjaan fisik dan administrasi oleh
pihak ketiga (ahli bidang lift, kesehatan dan keselamatan kerja) untuk
menilai mutu dan hasil pelaksanaan pemeliharaan.( Ijin Lift setahun
sekali)
5. Sangsi atas jaminan harus jelas tersebut dalam kontrak (surat perjanjian).
Biaya inspeksi atau audit dipikul bersama agar auditur jujur tidak
memihak siapapun.
Catatan :
Jumlah jam operasi lift dalam suatu bangunan kantor kira-kira 3000 jam. Jumlah aktif lift
diizinkan istirahat untuk dirawat ialah 5% atau 150 jam, terdiri atas 100 jam pemeriksaan
berkala dan 50 jam cadangan untuk reparasi dan penyetelan ulang (readjustment). Jika
dalam satu tahun dilakukan 32 kali pemeriksaan (rata-rata 3 kali per bulan), maka tiaptiap kunjungan memakan waktu 3,2 jam diluar jam perjalanan.
Kontrak perawatan harus lengkap mencakup semua aspek, termasuk jadwal pemeriksaan.
Table dibawah ini adalah contoh jadwal untuk satu tahun pemeliharaan lift. Jadwal ini
merupakan lampiran dri kontrak pemeliharaan, dan mengikat untuk dilaksanakan.

Catatan :
Ada satu bulan dalam satu tahun dikosongkan, untuk mengulang pekerjaan yang dirasa
tertunda, dan atau reparasi yang direncanakan dalam rangka pemeliharaan pencegahan
(preventive maintenance).

Jadwal Pemeliharaan Lift


Catatan :
1. Jadwal alternative dapat dibuat untuk tiap-tiap gedung agar menyesuaikan diri
dengan keadaan dan jumlah tenaga kerja yang tersedia. Dasar penjadwalan tetap
berlaku, yaitu jumlah jam pemeriksaan untuk tiap-tiap komponen.
2. Komponen yang lebih sering mengalami pemeriksaan ialah pintu lantai, terutama
pintu di lobby karena tugas kerjanya lebih berat. Dianjurkan tiap-tiap bulan
diperiksa, yaitu door contack, interlock, door hanger roller, excentric roller, air
cord, door closer (weight), stopper, guides, dan cam roller.
Karakteristik dari Pemeliharaan pencegahan.
1. Check list buat khusus untuk individual unit (planning).
2. Dedikasi dan mekanik, teknisi dan adjuster saat memeriksa peralatan.
3. Kecakapan dan keterampilan (skill and competent) teknisi dengan pengetahuan up
to date, melalui field education (pelatihan lapangan).
4. Quality control oleh supervisor untuk memperoleh quality assurance.
5. Tiap-tiap trouble (call back) harus dianalisa sebab-musabahnya dengan dasar
teori, dan disimpulkan oleh suatu tim (bukan perorangan). Kemungkinan
diperlukan perbaikan rencana.
6. Suku cadang dibawah standard (mutu rendah) harus dicari substitusinya dan diuji
lebih dulu (improvement of quality design).

7. Jumlah jam pemeriksaan dan pemeliharaan berkala tidak harus sama seragam
untuk semua unit lift, melainkan harus seimbang menurut work-load, umpama 12
kali setahun untuk lift dan 15 kali setahun .
8. Kontraktor sebaiknya agen tunggal pabrikan atau pabrikan sendiri, karena dia
mempunyai pengalaman yang luas dan paham sifat-sifat lift tertentu.
9. Jadwal reparasi dapat dilaksanakan pada waktu-waktu yang ditentukan oleh
manajemen, setelah keputusan atas laporan evaluasi. Reparasi dilaksanakan tanpa
tergesa-gesa sehingga diharapkan hasil mutu yang baik.
Catatan :
1. Check list : Tiap-tiap suku ada umurnya, dan saat kapan mulai diperiksa, ditest
atau di re-adjust (stel ulang) dan terakhir kapan diganti baru (replacement).
2. Tiap-tiap lift mempunyai jam terbangyang berbeda, sehingga ramalan umur
suku/komponen berbeda.
Performance Guranted Maintenance (PGM).
1. Performance (unjuk atau tampil kerja) mempunyai unsure-unsur sebagai berikut :
a. Kenyamanan (Ride comfort).
b. Keamanan dan keandalan (Safety and Reliability).
c. Tanggap atas permintaan (System response).
d. Hasil guna kerjasama beberapa unit (Handling Efficiency of group
operation).
e. Taraf bising dan getaran (Noise and Vibriation level).
2. Dalam PGM, kontraktor berkewajiban senantiasa menjaga performance sama seperti
awal semula lift diserah terimakan pertama kali untuk dipakai, yaitu dalam kondisi
top performance. Kondisi sesungguhnya yang terjadi pada waktu-waktu tertentu,
harus dibandingkan dengan performance yang diharapkan oleh management (sebagai
acceptable performance). Perbedaan yang mungkin timbul harus diusahakan sekecil
mungkin (minimized), dan perbedaan ini dipakai sebagai ukuran untuk memberikan
insentive atau mengenakan penalty kepada kontraktor.

3. Perjanjian PGM harus jelas apa yang termasuk dan tidak termasuk dalam tanggung
jawab kontraktor, jika lift macet dan atau terjadi call back. Lihat daftar klasifikasi call
back. Jumlah call back service sebaiknya rata-rata 3 kali per unit per tahun. Jika
dalam suatu bangunan ada 10 unit tercakup dalam satu kontrak, maka jumlah CB
tersebut dapat ditoleransi sampai 30 kali per tahun. Jumlah selang waktu lift diam
tidak kerja (shut down hours) diperkenankan berjumlah 75 jam per unit per tahun.
Jumlah selang waktu temasuk reparasi, call back service, routine service dan
inspection, tetapi tidak termasuk kerusakan, karena hal-hal diluar kuasa kontraktor.
Melebihi batasan-batasan wajar tersebut, kontraktor dikenakan penalty.
4. Untuk menanggulangi kewajiban-kewajiban yang berat tersebut diatas kontraktor
harus mempunyai strategy yaitu :
a. Technology back up dari pabrikan : standard mutu yang tinggi dari tiaptiap komponen/suku/part.
b. Persediaan spare part (suku cadang) secara ilmiah cukup, dan berdasar
pengalaman.
c. Dukungan dari specialist sub-contractor dan vendor.
d. Sarana bengkel perbaikan (reparasi)
e. Fasilitas lending part, yaitu persediaan komponen untuk sementara
dipinjamkan, jika ada komponen rusak dan perlu diperbaiki
f.

Informasi improvement atas part/ komponen dari pabrikan. (Lihat box).

5. Semua dukungan tesebut diatas pasti memerlukan biaya yang besar. Part 3
umpamanya, suncontraktor perlu diikat dengan perjanjian dengan up front payment
agar kita memperoleh pelayanan khusus yang cepat dari vendor. Dan semua
dukungan tersebut bertujuan agar tercapai target maximum 75 jam shut down hours
pertahun per lift. Sedangkan call back, harus ditekan dengan cara preventive
maintenance.
6. PGM adalah perluasan dari Full Maintenance, sehingga Preventive Maintenance
termasuk dalam lingkup kerja.
7. Kontraktor harus menjaga catatan atas kejadian call back, dan lamanya lift tidak
beroperasi dengan betul-betul perhitungan, agar pada akhir tahun dapat dipertanggung

jawabkan kepada management. Sebaliknya, management pun harus tanggap dan


waspada atas kejadian incidence, tegangan sumber tenaga atau perbuatan tangan jahil,
dan sebagainya. Hubungan dua arah komunikasi antara management dan teknisi dari
kontraktor harus terbuka dan jujur.
8. Management sebaiknya memanggil consultant (pihak ketiga) untuk membuat quality
audits atas pekerjaan kontraktor selama satu tahun. Tetapi ada beberapa keuntungan
yang dapat dinikmati. Tenants (penyewa) merasa puas, dan yang terpenting umur
instalasi lift dapat mencapai lebih dari 40 tahun atau seumur bangunannya dengan
melaksanakan major refurbishment 5 tahun sekali setelah lift berumur 15 tahun.
Perjanjian PGM sebaiknya ditanda tangani untuk jangka waktu paling sedikit 10
tahun.
Pemeliharaan Lif Terpadu
1. Segera setelah lift dijalankan melayani penumpang, pemeliharaan berkala sudah
harus dimulai. Kewajiban manajemen untuk membuat program atau kontrak
pemeliharaan dengan ahlinya mencakup pelumasan sebagaimana mestinya,
pemeriksaan, penyetelan kembali secara teratur dan bekala dan test-tahunan alatalat keamanan.
2. Penggantian bagian suku-suku cadang yang aus sebelum rusak dan tidak
berfungsi, yang pasti akan menyebabkan operasi (kerja lif) gagal, harus
(tercantum) masuk dalam kontrak.
3. Manajemen harus waspada terhadap isi kontrak. Apa yang tertulis tidak selalu
menjangkau apa-apa yang kita maksud/kehendaki, dan apa-apa yang terjadi di
luar dugaan semu pihak.
4. Pokok-pokok isi kontrak pemeliharaan terpadu harus paling sedikit meliputi halhal ebagai berikut :
a. Lingkup pekerjaan
b. Penggantian suku cadang yang termasuk/ tidak termasuk dalam harga kontrak
c. Reparasi suku cadang pinjaman
d. Call back sevice (24 hours service)

e. Jadwal jam-jam pekerjaan pemeliharaan


f. Orang yang bertanggung jawab dilapangan & penggantinya
g. Laporan bulanan (macet dan sebab-sebabnya)
h. Laporan tahunan (termasuk rencana kerja tahun berikut)
i.

Testing tahunan atau rutin (safeties)

j.

Pemeriksaan (inspection) 2 tahun sekali (quality audit)

k. Tanggung jawab dan kewajiban manajemen


l.

Biaya, penyesuaian dan denda

m. Jangka waktu kontrak dn perpanjangannya


n. Kecelakaan
o. Arbitrasi
p. Penyelesaian hukum
q. Legalitas
Tugas dan kewajiban pengelola bangunan.
1. Pengelola gedung harus memperoleh izin penggunaan lif dari instansi resmi
(Depnaker) yang menyatakan bahwa lif aman dipakai untuk umum dalam jangka
waktu tertentu, kemudian memperpanjang izin setelah dilakukan safety test.
Pengelola gedung wajib mengamati dan mematuhi peraturan Depnaker tentang
keselamatan dan menerapkan instalasi peralatan keselamatan pada pesawt lif.
2. Pengelola gedung harus menyimpan kunci darurat yang sewaktu-waktu dapat
diperoleh dengan mudah (available) untuk membuka pintu lif dalam keadaan
darurat (macet). Pelaksanaan membuka pintu lif dalam keadaan darurat harus oleh
orang-orang yang kompeten dan mengetahui tata caranya.
3. Pengelola gedung harus mempekerjakan teknisi (ahli teknik) terlatih untuk
melakukan

pertolongan

kepada

penumpang-penumpang

lif

yang

membutuhkannya, terutama dalam keadaan darurat. Teknisi tersebut harus siap


siaga sewaktu-waktu dibutuhkan selama pesawat dalam keadaan dioperasikan.
4. Pengelola gedung harus menjaga agar gambar Pengawatan (Straight wiring
diagram) control lif tetap tersimpan didalam kamar mesin lif. Tiap-tiap kali ada
perubahan pengawatan control lif, maka revisi harus tergambar dengan tinta

merah pada gambar pengawatan tersebut, sehingga gambar tersebut menunjukan


keadaan

pengawatan

control

yang

sebenarnya,

termasuk

perubahan-

perubahannya. Pengelola wajib memperoleh surat approval dari pabrikan jika


terjadi bobot kereta, karena perubahan interior (umpama penambahan marmer),
dan melaksanakan static balance antara kereta dan bobot imbang (counterweight).
5. Pengelola gedung harus mempunyai ikatan kerja (kontrak) dengan perorangan
atau badan hukum ahli lif yang diakui resmi (terdaftar) oleh pemerintah, untuk
melakukan pemeliharaan lif secara berkala. Semua catatan dan data-data (logbook) atas masing-masing pesawat yang berhubungan dengan pemeliharaan dan
perbaikan, harus tersimpan rapi.
6. Pengelola gedung wajib mematikan lif jika ternyata pesawat tersebut nyata-nyata
berbahaya untuk dipakai, menurut sepanjang pengetahuannya, sampai perbaikan
dilaksanakan, dan dinyatakan aman oleh ahlinya (kontraktor pemeliharaan).
7. Pengelola gedung wajib memasang plakat pengumuman tata cara memakai lif
untuk kepentingan umum dan terpeliharanya pesawat, termasuk pengumuman
batas maksimum kapasitas (baik dalam kg ataupun jumlah penumpang).
8. Pengelola gedung wajib mengangkat petugas (operator) untuk melayani lif, jika
lif tersebut tidak bekerja secara otomatis. Petugas tersebut tidak harus seorang ahli
teknik, tetapi telah menjalani pelatihan.

Pandangan Pemilik/Pengelola gedung atas perjanjian pemeliharaan dan


Kontraktor
1. Pengelola mempunyai hak untuk menolak teknisi pelaksana pemeliharaan karena
diragukan keahliannya, latar belakang pendidikan dan sikap tidak wajar
dilapangan.
2. Pengelola berhak untuk mengetahui apa yang boleh dikerjakan kontraktor dengan
cara laporan lisan atau tertulis.
3. Pengelola berhak memegang memegang daftar harga suku cadang, jika suku
cadang tidak termasuk dalam kontrak pemeliharaan.

4. Pengelola berhak menunjuk pihak ketiga (AK3) untuk menilai hasil kerja
kontraktor tiap-tiap akhir tahun. Juga dalam hal inspeksi dan pengetesan (uji coba
tahunan). Hasil laporan pihak ketiga AK3 harus dibicarakan dan dipahami dan
diterima oleh kontraktor untuk diambil tindakan, demi keselamatan.
5. Biaya kontrak dipahami akan naik tiap-tiap tahun sesuai dengan kenaikan biaya
tenaga kerja, sparepart dan bahan. Pengelola seringkali sulit menerima kenaikan
biaya (nilai kontrak). Perlu dianalisa bobot komponen biaya. Contoh bobot
komponen biaya harus tercantum dalam kontrak.Jika termasuk dalam kontrak
yang sifatnya terpadu (compretensivr(full)maintenance)
6. Pengelola ingin agar biaya (nilai kontrak) wajar diantara bangunan yang berlokasi
sama dan jenis pesawat yang sama. Hal ini tidak mudah. Akan tetapi dapat dicari
solusi dengan pendapat antara berbagai pihak.
BAB IV
DOKUMENTASI