Anda di halaman 1dari 11

Candidiasis Orifaring dan Penggunaan Antijamur pada Candida Glabrata

pada Pasien dengan Penyakit HIV


A.

Sharifzadeh1, H. Shokri2

Mycology Research Center, Faculty of Veterinary Medicine, University of Tehran,


Tehran, Iran
2
Faculty of Veterinary Medicine, Amol University of Special Modern Technologies,
Amol, Iran

Abstrak
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan prevalensi mikroflora mulut pada
pasien HIV+ dan untuk menguji profil kelemahan antijamur pada isolat Candida glabrata
(C. Glabrata) terhadap agen antijamur standar. Pada penelitian ini, telah dipilih 100
pasien yang terinfeksi HIV dengan candidiasis orofaring (OPC). Kelemaan isolat C.
glabrata terhadap antijamur ditentukan dengan menggunakan metode disk diffusion.
Didapatkan 254 jamur yang telah diisolasi dari pasien. Kondisi klinis yang paling sering
ditemukan baru-baru ini adalah pasien dengan angular cheilitis, yaitu sebesar empat
puluh persen (40%). Genus yang paling banyak ditemukan adalah spesies Candida
dengan persentase 94,4% (p<0,05), diikuti oleh spesies Saccharomyces (2,4%),
Kluyveromyces dan Cryptococcus (1,6%). C. albicans adalah spesies paling umum yang
telah diisolasi dari pasien HIV + dengan OPC dan frekuensinya bertambah tinggi secara
signifikan dibandingkan spesies Candida lainnya (p<0,05). Diantara spesies non-C.
albicans, C. glabrata adalah spesies yang paling banyak ditemukan. Sensitivitas tertinggi
dari C. glabrata terhadap obat antijamur terlihat pada kemampuannya melawan obatobatan polyene seperti nystatin dan amphotericin B. Penelitian ini mengungkap adanya
perbedaan besar dari spesies candida dan isolat oral C. glabrata yang sangat sensitif
terhadap obat-obatan polyene seperti nystatin dan amphotericin B dan kurang sensitif
terhadap flukonazole.

PENDAHULUAN
Spesies candida adalah jamur
patogen oportunistik yang paling
umum pada manusia, dimana
Candidia albicans (C. Albicans)
menjadi jamur patogen yang paling
lazim di mukosa dan infeksi jamur
sistemik. Selama beberapa dekade,
C. glabrata dianggap sebagai jamur
yang tidak pathogen, namun laporan
terbaru
menunjukkan
bahwa
mekanisme resistensi antibiotik dan
tekanan evolusi telah menyebabkan
munculnya varian C. glabrata yang
sangat patogen dan resistan terhadap
obat. Selain itu, terapi seperti terapi
obat imunosupresif, terapi antimycotic
dan
adanya

penyakitAcquired Immunodeficiency
Syndrome
(AIDS),
telah
meningkatkaninfeksi C. glabrata
secara drastis.Dilihat dari tempat
terjadinya infeksi, C. glabrata
sekarang menduduki peringkat kedua
atau ketiga sebagai spesies candida
yang paling sering terisolasi dari
semua kasus candidiasis yang telah
dilaporkan.Baru-baru ini diketahui
bahwa penyakit jamur yang biasanya
disebabkan oleh C. albicans telah
beralih ke spesies candida non
albicans, seperti glabrata, terutama
pada pasien HIV. Selain itu, C.
glabrata
yang
terkait
infeksi
kandidiasis orofaringeal pada pasien
HIV cenderung menjadi lebih parah

dan lebih sulit untuk diobati daripada


infeksi yang hanya disebabkan oleh
C. albicans. Infeksi oral Candida
memang tidak berhubungan dengan
kematian, tetapi mereka menjadi
sumber yang menunjukkan adanya
penyakit, dan memicu rasa sakit
kronis atau ketidaknyamanan pada
saat pengunyahan sehingga dapat
membatasi asupan gizi pada individu
yang
mengalami
immunocompromised atau orang tua.
Diagnosa yang salah dan
interpretasi positif yang salah akan
berdampak pada pemilihan obat
danterapi kemoterapi antijamur. Oleh
karena itu, pemilihan agen antijamur
untuk pengobatan infeksi C. glabrata
bisa agak bermasalah, terutama pada
pasien yang mengalami sakit kritis.
Dalam kasus tersebut, adanya hasil
uji
tes
kerentanan
dapat
memudahkan
pengambilan
keputusanterapi.
Penelitian
ini
bertujuan
untuk
menentukan
prevalensi mycoflora oral pada
pasien HIV + dan untuk menguji
kerentanan profil dari C. glabrata
terhadap
obat-obat
antijamur
flukonazol, ketokonazol, nistatin,
clotrimazole, amfoterisin B dan
flusitosin.
MATERIAL DAN METODE
Pasien
Pasien yang digunakan dalam
penelitian ini merupakan warga
negara Iran dengan jenis kelamin
pria dan wanita yang positif
menderita HIV di Iranian Research
Center for HIV/AIDS, Rumah Sakit
Imam Khomeini, Tehran, Iran
(IRCHA). Mereka adalah pasien
rawat jalan yang datang untuk
menerima perawatan. Infeksi HIV
pada
pasien
telah
dipastikan

menggunakan ELISA dan teknik


western blot. Pasien didaftarkan
sebagai obyek penelitian setelah
memberi persetujuan secara lisan.
Pengumpulan data digunakan untuk
memperoleh informasi seperti jenis
kelamin, usia, HAART, kebiasaan
merokok,
status
perkawinan,
kecanduan, penyalahgunaan obat
secara intravena, Hepatitis B,
Hepatits C, dan penggunaan gigi
tiruan. Informasi dan data mengenai
riwayat
OPC
atau
infeksi
oportunistik lainnya juga diterima.
Wanita hamil dan pasien yang
sedang mengonsumsi obat antijamur
tidak dimasukkan dalam daftar
obyek penelitian.
Pengambilan Spesimen
Diagnosa lesi oral pada
masing-masing pasien, dan specimen
diambil dari lesi, lidah, dan mukosa
bukal oleh operator menggunakan
cotton stick swab steril.
Isolasi dan Identifikasi Jamur
Specimen
jamur
yang
diperoleh
dari
rongga
mulut
kemudian dibiakkan (dikultur) pada
plat Sabourauds Dextrose Agar
(SDA) dan CHROM agar TM
Candida. Plat CHROM agar TM
dibiakkan untuk diagnosa awal dan
untuk membedakan isolasi Candida.
Sediaan basah dengan KOH 10%
digunakan
untuk
pengujian
pseudohifa dan bentukan sel jamur
secara mikroskopis. Plat SDA
diinkubasi secara aerob pada suhu
30oC selama 7 hari. Biakan CHROM
agar TM untuk identifikasi bentukan
dan warna koloni, diinkubasi pada
suhu 35oC selama 72 jam. Setelah
masa inkubasi, jamur diidentifikasi
berdasarkan ciri morfologi dan

parameter pertumbuhan. Uji germ


tube dilakukan dengan fresh rabbit
serum dan fresh yeast colony dan
diinkubasi pada suhu 37oC selama 3
jam. Untuk evaluasi klamidospora
dan produksi bentukan filamen,
isolate dibiakkan pada plat Dalmau
selama 48 jam pada suhu 30oC.
Kemampuan isolat untuk menerima
sumber karbohidrat ditentukan oleh
sistem identifikasi jamur Rap IDTM
sesuai aturan pabrik. Isolat yang
diidentifikasi sebagai C. galbrata
diajukan untuk identifikasi molekul.
Isolat C. galbrata dianalisa dengan
reaksi rantai polimer dengan spesifik
primer.
Ekstraksi DNA
Bagian dari koloni dicuci
dengan PBS yang mengandung 0,5
% SDS dan 50 mM EDTA, sel
diberikan perlakuan menggunakan
metode Freeze-Thawing dan glass
beads, dan disentrifug pada 10.000 g
selama 2 menit. Ditambahkan 500
mL dari buffer lysis, diendapkan, dan
dipertahankan pada suhu ruang
selama
10
menit.
Setelah
ditambahkan
150
mL buffer
potassium asetat pH 4,8 (60 ml dari
5M potassium asetat, 11,5 ml glacial
asetic acid, 28,5 ml air), tabung
diputar secara singkat, sel debris dan
endapan protein dihilangkan dengan
sentifugal sebesar 12.000 g selama 2
menit. Supernatan dipindahkan ke
tabung
Eppendorf
lain
dan
disentrifug seperti yang disebutkan
di atas. Kemudian supernatan
dipindahkan ke tabung Eppendorf
1,5 mL baru, lalu ditambahkan
isopropil alkohol dengan volume
yang sama. Tabung dicampur secara
singkat dengan inversi, disentrifug
pada 12.000 g selama 2 menit dan

supernatan dibuang. DNA pelet yang


dihasilkan dicuci tiga kali dalam 300
mL 70% (V / V) etanol. Setelah
sentifugasi pada 12.000 g selama 1
menit, supernatan dibuang. DNA
dikeringkan dan dilarutkan dalam 30
mL air suling. untuk mengukur
konsentrasi dan pemurnian DNA,
Optical Density (OD) telah terbaca
dan berjalan dalam gel agarosa.
Reaksi PCR
Semua isolat yang diduga C.
glabrata dan telah dilakukan
identifikasi final dengan metode
PCR. Metode ini menggunakan dua
pasang
primer
oligonukleotida.
Primer awal CGL1 (5'TTA TCA
CAC GAC TCG ACA CT-3') dan
primer cabang CGL2 (5'CCC ACA
TAC TGA TAT GGC CTA CAA-3')
spesifik untuk C. glabrata (GenBank
aksesi nos. AB032177, AF167993)
dan diperkuat dengan 423 bp DNA
fragmen dari 5.8S gen rDNA. Untuk
PCR dengan pasangan primer
individu, masing-masing reaksi
campuran berisi 2 uL (1 ng) template
cairan DNA genomik atau 0,5 L
suspensi sel ragi, 20 mM Tris-HCl
(pH 8,4), 50 mM KCl, 1,5 mM
MgCl2, 0,2 mM (masing-masing
empat) trifosfat deoxyribonucleotide,
0,5 pM primer (masing-masing), dan
0,5 U Taq DNA polymerase
(Cinacolon) dengan total volume 25
L. Amplifikasi PCR dikondisikan
pada 5 menit untuk denaturasi pada
95 C, diikuti dengan 40 siklus dari
95 C selama 30 detik, 58 C selama
30 detik, dan 72 C selama 30 detik
dan perpanjangan langkah terakhir
dari 72 C selama 10 menit (Techne
TC512, Inggris). Sampel sebanyak
10 L dari masing-masing produk
PCR dielektroforesis dalam gel

agarosa 1,5% dengan 0,5 g


ethidium bromide / ml dan 1X buffer
Tris-asetat-EDTA selama 1 sampai 2
jam. Pita DNA divisualisasikan pada
transilluminator UV.
Menguji Kadar Logam Antijamur
Semua
cakram
antijamur
diperoleh dari Oxoid (Hampsire,
UK). Determinasi dan interpretasi
dari aktivitas obat anti - C. glabrata
dilakukan oleh metode difusi cakram
agar, menurut protokol M44-A untuk
jamur(14). Secara singkat, suspensi
C. glabrata (0,1 ml dari 106 sel/ml)
tersebar di sabouraud's dextrose
agar plate. Cakram kertas saring dari
antijamur diletakkan di piring
inokulasi. Piring ini, setelah berdiri
di suhu 40C selama 2 jam, diinkubasi
pada suhu 370C selama 48 jam.
Kontrol positif dan negarif dipelihara
dengan kertas saring yang masingmasing dicelupkan ke dalam air
suling steril. Diameter dari zona
inhibisi diukur dengan milimeter
(mm). Kadar logam antijamur
dilakukan
rangkap.
Tes
menghasilkan antijamur terdiri dari
fluconazole
(25
g/disc),
ketoconazole (15 g/disc), nystatin
(50 g/disc), clotrimazole (30

g/disc), amphotericin B (10


g/disc) dan flucytosine (1 g/disc).
Analisis Statistik
Analisis statistik dilakukan
menggunakan SPSS 11.0 untuk
Windows. Tes Chi-square digunakan
untuk
mengetahui
perbedaan
proporsi dari kategori variabel.
Variabel kelanjutan dengan distribusi
mendekati
normal
diuji
menggunakan Student's test. Nilai P
yang kurang dari 0,05 dianggap
signifikan secara statistik.
HASIL
Total 100 individu pengidap
HIV dengan atau tanpa gejala OPC
direkrut ke dalam penelitian ini dari
rumah sakit Imam Khomeini, Tehran,
Iran.
Karakteristik
demografis
populasi penelitian adalah sebagai
berikut, seperti yang digambarkan
pada tabel 1, semua pasien berusia 5
sampai 72 tahun, dengan usia ratarata 32,3 tahun. Mayoritas pasien
(60%) berusia 31-50 tahun, 23%
berusia 11-30 tahun, 15% berusia
diatas 50 tahun, dan 2% berusia 0-10
tahun. 78 subjek adalah laki-laki dan
22 subjek adalah wanita. 56 pasien
sudah menikah, sedangkan sisanya
44 orang belum menikah.

Pasien yg memiliki riwayat merokok


sebanyak 60%, pasien yang sedang
terapi HIV atau HAART (Highly
Active
Antiretroviral
Therapy)
sebanyak 65%, pasien kecanduan
sebanyak 56%, pasien yang pernah
dipenjara 54%, pasien yang memakai
gigi tiruan sebanyak 50% dan pasien
yang menggunakan obat intravena
sebanyak 43%. Dari 100 pasien
terlihat secara klinis OPC, angular
cheilitis
(40%),
candidiasis
pseudomembran (28%), sariawan
(22%), candidiasis eritema dan
hiperplastik (5%).
Sebanyak 254 koloni yeast
diisolasi dari pasien sementara,
mewakili 4 jenis sampel berbeda
yang akan diuji. Diantara sampel
sampel ini, spesies candida (94,4%)
adalah jenis yang paling sering
diperoleh dalam isolasi dari semua
anggota uji (P <0,05), diikuti oleh

Saccharomyces
(2.4%),
Kluyveromyces dan Cryptococcus
(1.6%). C. Albicans (37.2%) adalah
spesies
yang
paling
banyak
ditemukan dalam isolasi pasien
dengan HIV+ dan OPC, dan
frekuensinya secara signifikan lebih
tinggi dari pada spesies Candida
yang lain (P <0,05). Dari semua
pasien yang diteliti, C. Glabrata, C.
dubliniensis, C. tropicalis, C.
parapsilosis, C. krusei, C. lusitaniae,
C.
Guilliermondii,
dan
C.
Norvegensis juga terdeteksi.
Seperti ditunjukkan dalam
Gambar 1, pola ikatan RAPD pada
isolat
klinis
yang
berbeda
menggunakan satu primer spesifik
untuk C. glabrata. Menggunakan
primer CGL, isolasi C. glabrata
menghasilkan profil RAPD dengan
satu ikatan yang kuat, dengan ukuran
molecular yaitu 423 bp.

Dalam penelitian ini, total dari


20 C. glabrata yang terisolasi
teridentifikasi dan terpilih untuk uji
kerentanan
anti
jamur. Hasil
percobaan dari uji kerentanan pada
obat antifungal adalah sebagai
berikut : ketoconazole: terisolasi 17
(85%) rentan, 2 (10%) rentantergantung dosis dan 1 (5%) tahan;
amphotericin B: 20 terisolasi (100%)
rentan; nystatin: 20 terisolasi (100%)
rentan, clotrimazole: 12 terisolasi
(60%) rentan, 8 (40%) rentan-

tergantung dosis, flucytosine: 11


terisolasi (55%) rentan, 7 (35%)
rentan-tergantung dosis dan 2 (10%)
rentan, fluconazole: 11 terisolasi
(55%) rentan, 2 (10%) rentantergantung dosis dan 7 (35%) tahan.
Zona hambat telah diatur dimulai
dari 19 hingga 52 mm (nilai ratarata: 35.45 mm) untuk ketoconazole,
18 hingga 32mm (nilai rata-rata: 23.3
mm) untuk amphotericin B, 20
hingga 30 mm (nilai rata-rata 23.2
mm) untuk nystatin, 15 hingga 35

mm (nilai rata-rata: 21.45 mm) untuk


clotrimazole, 5 hingga 32 mm (nilai
rata-rata:
17,3
mm)
untuk
fluconazole (tabel 2). Berhubungan
dengan data, mengungkapkan bahwa

nystatin dan amphotericin B


merupakan obat antifungal yang
paling efektif dan fluconazole dan
flucytosine memiliki kinerja yang
paling lemah.

DISCUSSION / PEMBAHASAN
Penelitian ini meneliti 100
orang pasien yang positif HIV
dengan menggunakan OPC (salah
satu penanda utamapengembangan
penyakit HIV) dan yang termasuk
kelompok mengenai HIV, beberapa
variabel penting seperti usia,
merokok,kecanduan
dankondisi
mulut (penggunaan gigi palsu
buatan).
Hasil
penelitian
menunjukkan bahwa OPC pada lakilaki
(78
%)
lebih
banyak
dibandingkan dengan perempuan (22
%),sesuai dengan penelitian lainnya
(15, 16).Tampaknya pasien di Iran
yang positif HIV memilikifaktor
resiko seperti kecanduan, penjara,
narkoba intravena, dan merokok.
Agen predisposisiini juga bisa
menjadi
faktor
pentingyang
mempengaruhi
frekuensi
distribusispesies Candidadi antara
kelompok usia yang berbeda dalam

kejadian infeksi HIV (17). Pasien


yang paling banyak terserang usia
31-50 tahun (60%). Meskipun tandatanda klinis yang berbeda dariOPC
nampak juga pada usia yang baru
lahir dan usia tua, tetaapi pada pasien
yang positif HIV oleh karena
penurunan CD4+ limfosit, maka
setiap pasien HIV memiliki risiko
infeksi.
Kami
jugamenemukan
frekuensi
angularcheilitis
yang
tinggisebesar (40 %) pada pasien
yang
positif
HIV
tanpa
memandangfaktor
yang
mendasarinya. Sebaliknya,Katiraeeet
al.(18) mengamati thrush (38%)
sebagai gejala klinis yang paling
sering muncul pada pasien yang
terinfeksi HIV di Iran. Sesuai dengan
penelitian kami, pengambilan jamur
rongga mulut, khususnyaspesies
Candidatelah
dibuktikan
dalampasien positif HIV yang

asimptomatik (17), dantelah tercatat


bahwa terjadi peningkatan frekuensi
Candida
rongga
mulut
yang
asimptomatik pada pasien yang
positif
HIVdibandingkan
dengankelompok risiko lain(18).
Dengan demikian, prevalensi yang
lebih tinggi dari kolonisasi C. dapat
menjadifaktor predisposisi untuk
perkembangan kandidiasis klinis
yang selanjutnya.
Sehubungan dengan spesies
Candida yang diidentifikasi dalam
penelitian ini, C.albicans diisolasi
dari
37,2%
pasien
HIV+.
Berdasarkan temuan kami ini, isolasi
spesies ini dilaporkan oleh Mousavi
et al. (19), Katiraee et al. (16) dan
Shokoohi et al. (17) di rongga mulut
pasien HIV+. Meskipun C. albicans
adalah spesies yang paling umum
pulih, spesies Candida non-albicans
(53,8%) telah menjadi lebih diakui
sebagai sumber utama infeksi. Barubaru ini, beberapa laporan telah
menunjukkan perubahan pada flora
Candida rongga mulut pasien yang
terinfeksi HIV. Penggunaan dari
berbagai
obat-obatan
seperti
antiretroviral agen, antibiotik dan
agen antijamur telah ditunjukkan
sebagai suatu alasan atas perubahan
ini (21,22). Di antara spesies
Candida non-albicans, C. glabrata
adalah spesies yang paling sering
diisolasi dari pasien HIV+ dengan
OPC. Pada sebuah studi yang
dilakukan oleh Redding et al. (23).
C. glabrata telah muncul sebagai
agen patogen penting dalam mukosa
mulut,
baik
sebagai
agen
pendamping infeksi bersama C.
albicans atau sebagai spesies tunggal
terdeteksi dari lesi oral. Selain itu, C.
glabrata yang terkait OPC di pasien
HIV + cenderung lebih parah dan

lebih sulit untuk diobati daripada


infeksi karena semata-mata oleh
C.albicans. Perbandingan frekuensi
dari isolat non albicans dalam
penelitian ini dengan penelitian
sebelumnya rumit karena berbeda
kriteria inklusi dan eksklusi dan
metode pengambilan sampel (24).
C. glabrata secara alami
tahan terhadap berbagai variasi dari
farmakologis dan molekul turunanhost. Ketahanan C. glabrata untuk
antijamur kembali menjadi masalah
signifikan dalam infeksi jamur.
Dalam
penelitian
ini,
isolasi
kerentanan C. glabrata pada
antijamur kimia yang berbeda
seperti, flukonazol, ketokonazol,
nistatin, clotrimazole, amfoterisin B
dan
flusitosin
dibandingkan.
sensitivitas tertinggi dari C. glabrata
kepada obat antijamur terlihat
melawan obat poliena seperti,
nistatin dan amfoterisin B (20 dari
20), diikuti oleh ketoconazole (17
dari 20) dan clotrimazole (12 dari
20). Resistensi terhadap flukonazol
telah diamati pada 7 isolat C.
glabrata. Pada tes dengan flusitosin,
secara mengejutkan diperoleh zona
inhibisi yang luas mungkin karena
berat molekul rendah dan kelarutan
air tinggi dari molekul (25). Hasil
kami menunjukkan bahwa nistatin
dan amfoterisin B adalah obat
antijamur yang paling efektif dan
flukonazol yang memiliki aktivitas
terendah. Ada banyak penelitian
yang menunjukkan bahwa flukonazol
memiliki aktivitas rendah dalam
melawan spesies Candida (26,27).
Data kami memiliki persamaan
dengan laporan sebelumnya juga.
Pada sisi resistensi C. glabrata
terhadap agen antijamur, menarik
bahwa organisme ini secara bawaan

tahan terhadap
antijamur azole,
flukonazol khususnya. Studi terbaru
menunjukkan bahwa,
selain
memiliki ketahanan bawaan, C.
glabrata juga dapat memperoleh
resistensi obat dan menjadi lebih
resisten setelah seleksi dihadapan
flukonazol. Salah satu mekanisme
utama yang digunakan
oleh C.
glabrata untuk mengembangkan
resistensi
adalah
dengan
meningkatkan penghabisan azole
dari sel ragi melalui overekspresi
dari dua ATP-binding transporter,
cdr1 dan cdr2 (28). Selain itu, C.
glabrata dapat mengubah ekspresi
gen Cg ERG11, yang mengkodekan
lanosterol 14- demethylase (29).
Berbeda dengan obat azole yang
mengerahkan efek mereka dengan
penghambatan jamur
enzim
sitokrom P450, antijamur poliena
seperti, nistatin dan amfoterisin B,
bertindak
dengan
mengikat
ergosterol, dalam membran sel
jamur. Resistensi terhadap antijamur
poliena tetap menjadi kejadian jarang

diantara isolat Candida. Poliena


masih memiliki aktivitas yang handal
terhadap sebagian besar spesies
Candida, kecuali C.lusitaniae, yang
sering tahan secara intrinsik (30, 31).

DAFTAR PUSTAKA
1. Jones Pfaller, M. A.; Diekema, D.
J.;, R. N.; Messer, S. A.; Hollis,
R.,
Trends
in
antifungal
susceptibility
of
Candida
spp.isolated from pediatric and
adult patients with bloodstream
infections:
SENTRYAntimicrobial
Surveillance Program, 1997 to
2000. Journal of Clinical
Microbiology40, 852-856, 2002.
2. Trick, W. E.; Fridkin, S. K.;
Edwards, J. R.; Hajjeh, R. A.;
Gaynes,
R.
P.,
National
nosocomial
infections
surveillance system hospitals.
Secular trend of hospital-

acquired candidemia among


intensive care unit patients in the
United States during 19891999.
Clinical Infectious Diseases 35,
627630, 2002.
3. Hitchcock, C. A.; Pye, G. W.;
Troke, P. F.; Johnson, E. M.;
Warnock, D. W., Fluconazole
resistance in Candida glabrata.
Antimicrobial
Agents
and
Chemotherapy 37, 1962-1965,
1993.
4. Komshian, S. V.; Uwaydah, A.
K.; Sobel, J. D.; Crane, L. R.,
Fungemia caused by Candida
species and Torulopsis glabrata
in the hospitalized patient:
frequency, characteristics, and

KESIMPULAN
Ringkasnya,
pemeriksaan
pasien positif HIV mengizinkan kami
untuk
mengamati
perubahan
kolonisasi jamur rongga mulut
dengan terperinci terhadap spesies
dan evolusinya terhadap OPC dan
untuk mengevaluasi nilai prognostik
candida dalam perkembangan AIDS.
Kolonisasi oral dan infeksi jamur
pada pasien berkebangsaan iran
dengan positif HIV mengubah
spesies yg berbeda, termasuk C.
albicans dan spesies non-C. albicans.
Pada rincian C. glabrata. Pengujian
sensitivitas antijamur mengungkakan
bahwa C. glabrata paling sensitif
terhadap obat-obatan polyene seperti
nystatin dan amphotericin B, dan
kurang sensituh terhadap flukonazol.

evaluation of factors influencing


outcome. Reviews of Infectious
Diseases 11, 379-390, 1989.
5. Fidel, P. L.; Vazquez, J. A.;
Sobel, J. D., Candida glabrata:
review
of
epidemiology,
pathogenesis,
and
clinical
disease with comparison to C.
albicans. Clinical Microbiology
Reviews 12, 80-96, 1999.
6. Pfaller, M. A., Nosocomial
candidiasis: emerging species,
reservoirs, and modes of
transmission. Clinical Infectious
Diseases 22, S89-S94, 1996.
7. Masia Canuto, M.; Gutierrez
Rodero, F.; Ortiz de la Tabla
Ducasse, V.; Hernandez Aguado,
I.; Martin Gonzalez, C.; Sanchez
Sevillano, A., Determinants for
the
development
of
oropharyngeal colonization or
infection
by
fluconazoleresistant Candida strains in HIVinfected patients. European
Journal
of
Clinical
Microbiology and Infectious
Diseases 19, 593-601, 2000.
8. Demiraslan, H.; Alabay, S.; UluKilic, A.; Borlu, M.; Doganay,
M.,
Cutaneous
candidiasis
caused by Candida glabrata in a
HIV/AIDS patient. International
Journal of STD AIDS 24, 753755, 2013.
9. Redding, S. W.; Kirkpatrick, W.
R.; Dib, O.; Fothergill, A. W.;
Rinaldi, M. G.; Patterson, T. F.,
The
epidemiology
of
nonalbicans
Candida
in
oropharyngeal candidiasis in
HIV patients. Special Care in
Dentistry 20, 178-181, 2000.
10. Olmos, M. A.; Araya, V.;
Concetti, H.; Ramallo, J.;
Piskorz,
E.;
Perez,
H.,

Oesophageal
candidiasis:
clinical
and
mycological
analysis.
Acta
Gastroenterologica
Latinoamericana 35, 211-218,
2005.
11. Odds, F. C.; Davidson, A., Room
temperature use of CHROM
agar
Candida.
Diagnostic
Microbiology and Infectious
Diseases 38, 147-150, 2000.
12. Kurtezman, C. P.; Fell, J. W.,
The Yeast, a taxonomic study.
4th ed., Amsterdam: Elsevier
Science, 1988.
13. Sanguinetti, M.; Porta, R.; Sali,
M.; La Sorda, M.; Pecorini, G.;
Fadda, G., Evaluation of VITEK
2 and RapID Yeast Plus Systems
for yeast species identification:
experience at a large clinical
microbiology
laboratory.
Journal
of
Clinical
Microbiology 45, 1343-1346,
2007.
14. NCCLS., Reference method for
antifungal
disk
diffusion
susceptibility testing of yeasts;
approved guideline. NCCLS
document
M44-A.
Wayne:
National Committee for Clinical
Laboratory Standards, 2004.
15. Bravo,
I.;
Correnti,
M.;
Escalona, L.; Perrone, M.;
Barito, A., Prevalence of oral
lesions in HIV patients related to
CD4 cell count and viral load in
Venezuelan
population.
Medicina Oral, Patologa Oral
y Ciruga Bucal 11, E3339,
2006.
16. Katiraee, F.; Khosravi, A. R.;
Khalaj, V.; Hajiabdolbaghi, M.;
Khaksar, A. Rasoolinejad, M.,
Oropharyngeal candidiasis and
oral yeast colonization in Iranian

Human Immunodeficiency virus


positive patients. Journal De
Mycolpgie Medicale 20, 8-14,
2010.
17. Pignato, S.; Salvo, S.; Coniglio,
M. A.; Marranzano, M.; Faro,
G.; Giammanco, G., Persistent
oral and urinary Candida spp.
carriage
in
Italian
HIVseropositive
asymptomatic
subjects. Journal of Preventive
Medicine and Hygiene 50,
232235, 2009.
18. Hoshi, N.; Mori, H.; Taguchi,
H.; Taniguchi, M.; Aoki, H.;
Sawada, T., Management of oral
candidiasis in denture wearers.
Journal
of
Prosthodontic
Research 55, 48-52, 2011.
19. Mousavi, S. A.; Salari, S.;
Rezaie, S.; Shahabi Nejad, N.;
Hadizadeh, S.; Kamyabi, H.,
Identification
of
Candida
species isolated from oral
colonization in Iranian HIVpositive patients, by PCRRFLP
method. Jundishapur Journal of
Microbiology 5, 336-340, 2012.
20. Shokohi, T.; Hashemi Soteh, M.;
Pouri, Z. S.; Hedayati, M.;
Mayahi, S., Identification of
Candida species using PCRRFLP in cancer patients in Iran.
Indian Journal of Medical
Microbiology 28, 147, 2010.
21. Masi Canuto, M. M.; Gutirrez
Rodero, F.; Ortiz de la Tabla
Ducasse, V.; Martn Gonzlez,
C.,
Epidemiology
of
oropharyngeal colonization and
infection due to non-Candida
albicans species in HIV infected
patients. Medical Clinics 112,
211-214, 1999.
22. Diz Dios, P.; Ocampo, A.; Otero,
I.; Iglesias, I.; Martinez, C.,

Changes
in
oropharyngeal
colonization and infection by
Candida albicans in human
immunodeficiency
virusinfected patients. Journal of
Infectious Diseases 183, 355356,
2001.
23. Redding, S. W,; Dahiya, M. C.;
Kirkpatrick, W. R.; Coco, B. J.;
Patterson, T. F.; Fothergill, A.
W., Candida glabrata is an
emerging
cause
of
oropharyngeal candidiasis in
patients receiving radiation for
head and neck cancer. Oral
Surgery, Oral Medicine, Oral
Pathology, Oral Radiology and
Endodontology 97, 47-52, 2004.
24. Gonalves, L. S.; Ferreira, S.
M.; Silva, A.; Villoria, G. E.;
Gostinha, L. H.; Colombo, A. P.,
Association
of
T
CD4
lymphocyte levels and chronic
perodontitis in HIVinfected
Brazilian patients undergoing
highly active anti-retroviral
therapy: clinical results. Journal
of Periodontology 76, 915922,
2005.
25. Favel, A.; Chastin, C.; Thomet,
A. L.; Regli, P.; Michel-Nguyen,
A.; Penaud, A., Evaluation of the
E
test
for
antifungal
susceptibility testing of Candida
glabrata. European Journal of
Clinical
Microbiology
and
Infectious Diseases 19, 146-148,
2000.
26. Million,
L.,
Fluconazoleresistant
recurrent
oral
candidiasis
in
human
immunodeficiency virus positive
patients: persistence of Candida
albicans strains with the same
genotype. Journal of Clinical

Microbiology 32, 1115-1118,


1994.
27. Enwuru, C. A.; Ogunledun, A.;
Idika, N.; Enwuru, N. V.;
Ogbonna, F.; Aniedobe, M.,
Fluconazole
resistant
opportunistic
oropharyngeal
Candida and non-Candida
yeast-like isolates from HIV
infected patients attending ARV
clinics in Lagos, Nigeria.
African Health Sciences 8,
142148, 2008.
28. Sanglard,
D.;
Ischer, F.;
Calabrese, D.; Majcherczyk, P.
A.; Bille, J., The ATP binding
cassette
transporter
gene
CgCDR1
from
Candida
glabrata is involved in the
resistance of clinical isolates to
azole
antifungal
agents.
Antimicrobial
Agents
and
Chemotherapy 43, 2753-2765,
1999.

29. Miyazaki, H.; Miyazaki, Y.;


Geber, A.; Parkinson, T.;
Hitchcock, C.; Falconer, D. J.,
Fluconazole
resistance
associated with drug efflux and
increased transcription of a drug
transporter gene, PDH1, in
Candida glabrata. Antimicrobial
Agents and Chemotherapy 42,
1695-1701, 1998.
30. Vandeputte, P.; Tronchin, G.;
Berge`s, T.; Hennequin, C.;
Chabasse, D.; Bouchara, J. P.,
Reduced
susceptibility
to
polyenes associated with a
missense mutation in the ERG6
gene in a clinical isolate of
Candida
glabrata
with
pseudohyphal
growth.
Antimicrobial
Agents
and
Chemotherapy 51, 982-990,
2007.
31. Ellis, D., Amphotericin B:
spectrum and resistance. Journal
of Antimicrobial Chemotherapy 49,
7-10, 2002.