Anda di halaman 1dari 18

I.

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya akan budaya, suku, ras dan agama. Hal tersebut
sangat berkaitan erat dengan jiwa nasionalisme bangsa Indonesia. Berbagai masalah yang
dihadapi oleh Bangsa Indonesia mulai dari masalah kemiskinan, pengangguran, terorisme dan
lain sebagainya,menimbulkan banyak permasalahan. Salah satunya adalah rendahnya rasa
nasionalisme Bangsa Indonesia. Hal itu tidak bisa dipungkiri, karena masyarakat lebih memilih
untuk kelangsungan hidupnya dari pada memikirkan untuk nrgara. Tinggi atau rendahnya rasa
nasionalisme juga dapat dipengaruhi dari budaya-budaya barat yang dengan sangat mudahnya
masuk dan mempengaruhi budaya Indonesia yang jati dirinya adalah budaya timur.
Rasa nasionalisme sangat penting sekali bagi bangsa Indonesia untuk bisa menjadi bangsa yang
maju, bangsa yang modern , bangsa yang aman dan damai, adil dan sejahtera. Pada masa
penjajahan Belanda, Bangsa Indonesia mencapai puncak kejayaan rasa nasionalime Dimana
pejuang-pejuang terdahulu kita bersatu dari sabang sampai merauke untuk membebaskan diri
dari penjajah.Hal itu bisa terwujud jika adanya rasa nasionalisme yang tinggi di masyarakat
Indonesia dan telah terbukti kita bisa memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia
dengan semangat juang yang tinggi. Hal tersebut berpengaruh pada ketahanan nasional bangsa
Indonesia.
ASN harus memilki nasionalisme dan wawasan kebangsaan yang kuat dan mampu
mengaktualisasikann nasionalisme dalam menjalankan fungsi dan tugasnya sebagai pelaksana
kebijakan publik, pelayan public, dan pemersatu bangsa berlandaskan pancasila dan UUD 1945.
Nilai-nilai dasartentu saja setiap pegawai ASN harus memiliki yang senantiasa berorientasi
publik (Kepublikan) menjadi nilai dasar yang haru dimiliki oleh setiap ASN.
Sebagai pelaksana kebijakan publik tentu setiap pegawai ASN harus bersikap adil dan tidak
diskriminasi dalam memberikan pelayanan. Tidak boleh mengejar keuntungan pribadi dan
instansinya belaka. Adapun fungsinya sebagai perekat dan pemersatu bangsa dan Negara, setiap
pegawai ASN harus memiliki jiwa nasionalisme yang kuat, memiliki kesadaran sebagai penjaga
kedaulatan Negara, menjadi pemersatu bangsa, dan menjaga keutuhan NKRI.

BAB II
NILAI-NILAI NASIONALISME PANCASILA BAGI ASN

2.1 Pemahaman dan Implementasi Nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa bagi Aparatur
Sipil Negara (ASN) dalam Menjalankan Tugasnya.
Dalam mengimplementasikan nilai-nilai ketuhanan, kita perlu mendudukkan Pancasila
secara proporsional. Dalam hal ini, Pancasila bukan agama yang bermaksud mengatur
sistem keyakinan, sistem peribadatan, sistem norma, dan identitas keagamaan masyarakat.
Ketuhanan dalam kerangka Pancasila bisa melibatkan nilai-nilai moral universal agamaagama yang ada. Pancasila bermaksud menjadikan nilai-nilai moral ketuhanan sebagai
landasan pengelolaan kehidupan dalam konteks masyarakat yang majemuk, tanpa
menjadikan salah satu agama tertentu mendikte negara.
Sila ketuhanan dalam Pancasila menjadikan Indonesia bukan sebagai negara sekuler yang
membatasi agama dalam ruang privat. Pancasila justru mendorong nilai-nilai ketuhanan
mendasari kehidupan bermasyarakat dan berpolitik. Namun, Pancasila juga tidak
menghendaki negara agama, yang mengakomodir kepentingan salah satu agama. Karena
hal ini akan membawa pada tirani yang memberangus pluralitas bangsa. Dalam hal ini,
Indonesia bukan negara sekuler sekaligus bukan negara agama.
Adanya nilai-nilai ketuhanan dalam Pancasila berarti negara menjamin kemerdekaan
masyarakat dalam memeluk agama dan kepercayaan masing-masing. Tidak hanya
kebebasan dalam memeluk agama, negara juga menjamin masyarakat memeluk
kepercayaan. Namun dalam kehidupan di masyarakat, antar pemeluk agama dan
kepercayaan harus saling menghormati satu sama lain.
Nilai-nilai ketuhanan yang dianut masyarakat berkaitan erat dengan kemajuan suatu
bangsa. Ini karena nilai-nilai yang dianut masyarakat membentuk pemikiran mereka dalam
memandang persoalan yang terjadi. Maka, selain karena sejarah ketuhanan masyarakat
Indonesia yang mengakar, nilai-nilai ketuhanan menjadi faktor penting yang mengiringi
perjalanan bangsa menuju kemajuan.
Nilai-nilai ketuhanan yang dikehendaki Pancasila adalah nilai ketuhanan yang positif, yang
digali dari nilai-nilai keagamaan yang terbuka (inklusif), membebaskan, dan menjunjung
2

tinggi keadilan dan persaudaraan. Dengan menempatkan nilai-nilai ketuhanan sebagai sila
tertinggi di atas sila-sila yang lain, kehidupan berbangsa dan bernegara memiliki landasan
rohani dan moral yang kuat. Sebagai landasan rohani dan moral dalam berkehidupan, nilainilai ketuhanan akan memperkuat etos kerja. Nilai-nilai ketuhanan menjadi sumber
motivasi bagi masyarakat dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.
Implementasi nilai-nilai ketuhanan dalam kehidupan berdemokrasi menempatkan
kekuasaan berada di bawah Tuhan dan rakyat sekaligus. Demokrasi Indonesia tidak hanya
berarti daulat rakyat tapi juga daulat Tuhan, sehingga disebut dengan teodemokrasi. Ini
bermakna bahwa kekuasaan (jabatan) itu tidak hanya amanat manusia tapi juga amanat
Tuhan. Maka, kekuasaan (jabatan) harus diemban dengan penuh tanggung jawab dan
sungguh-sungguh. Kekuasaan (jabatan) juga harus dijalankan dengan transparan dan
akuntabel karena jabatan yang dimiliki adalah amanat manusia dan amanat Tuhan yang
tidak boleh dilalaikan.
Nilai-nilai ketuhanan diimplementasikan dengan cara mengembangkan etika sosial di
masyarakat. Nilai-nilai ketuhanan menjiwai nilai-nilai lain yang dibutuhkan dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara seperti persatuan, kemanusiaan, permusyawaratan, dan
keadilan sosial. Dalam hal ini nilai-nilai ketuhanan menjadi sila yang menjiwai sila-sila
yang lain dalam Pancasila.
Dengan berpegang teguh pada nilai-nilai ketuhanan diharapkan bisa memperkuat
pembentukan karakter dan kepribadian, melahirkan etos kerja yang positif, dan memiliki
kepercayaan diri untuk mengembangkan potensi diri dan kekayaan alam yang diberikan
Tuhan untuk kemakmuran masyarakat.
2.2 Pemahaman dan Implementasi Nilai-nilai Kemanusiaan bagi Aparatur Sipil Negara
(ASN) dalam Menjalankan Tugasnya
Embrio bangsa Indonesia

berasal

dari pandangan kemanusiaan universal yang

disumbangkan dari berbagai interaksi peradaban dunia. Penjajahan yang berlangsung di


berbagai belahan dunia merupakan upaya masif internasional dalam merendahkan martabat
kemanusiaan. Sehingga perwujudan Indonesia merdeka merupakan cara dalam memuliakan
nilai-nilai kemanusiaan universal.

Kemerdekaan Indonesia merupakan ungkapan kepada dunia bahwa dunia harus dibangun
berdasarkan kesederajatan antarbangsa dan egalitarianisme antar umat manusia. Dalam hal
ini semangat nasionalisme tidak bisa lepas dari semangat kemanusiaan. Belum disebut
sebagai seorang yang nasionalis jika ia belum menunjukkan jiwa kemanusiaan.
Dalam hal ini, para pendiri bangsa bukan hanya sekedar hendak merintis dan membangun
negara, tetapi mereka jugamemikirkan bagaimana manusia Indonesia tumbuh sebagai
pribadi yang berbudaya dan bisa berkiprah di pentas pergaulan dunia. Pada massa
kemerdekaan ini, membangun bangsa tidak sekedar terlibat dan sibuk dalam pemerintahan
dan birokrasi, tapi juga mempertimbangkan bagaimana membangun manusia Indonesia yang
ada di dalamnya.
Bung Hatta memandang sila kedua Pancasila memiliki konsekuensi ke dalam dan ke luar.
Ke dalam berarti menjadi pedoman negara dalam memuliakan nilai-nilai kemanusiaan dan
hak asasi manusia. Ini berarti negara menjalankan fungsi melindungi segenap bangsa
Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, dan
mencerdaskan kehidupan bangsa. Konsekuensi ke luar berarti menjadi pedoman politik luar
negeri bebas aktif dalam rangka, ikut serta melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Dalam gempuran globalisasi, pemerintahan yang di-bangun harus memperhatikan prinsip
kemanusiaan dan keadilan dalam penyelenggaraan pemerintahan dalam negeri dan
pemerintahan global atau dunia. Jangan sampai lebih memperhatikan kemanusiaan dalam
negeri tapi mengabaikan pergulatan dunia, atau sebaliknya, terlibat dalam interaksi global
namun mengabaikan kemanusiaan masyarakat bangsanya sendiri. Perpaduan prinsip sila
pertama dan kedua Pancasila menuntut pemerintah dan peyelenggara negara untuk
memelihara budi pekerti kemanusiaan yang luhur dan memegang cita-cita moral rakyat yang
mulia.
Dengan melandaskan pada prinsip kemanusiaan ini, ber-bagai tindakan dan perilaku yang
bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan tidak sepatutnya mewarnai kebijakan dan
perilaku aparatur negara. Fenomena kekerasan, kemiskinan, ketidakadilan, dan kesenjangan
sosial merupakan kenyataan yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Sehingga

aparatur negara dan seluruh komponen bangsa perlu bahu membahu menghapuskan masalah
tersebut dari kehidupan
Di tengah globalisasi yang semakin meluas cakupannya, masyarakat Indonesia perlu lebih
selektif dalam menerima pengaruh global. Pengaruh global yang positif, yakni yang sesuai
dengan nilai-nilai kemanusiaan tentu lebih diterima di-banding pengaruh yang negatif, yakni
yang merendahkan nilai-nilai kemanusiaan. Untuk itu, diperlukan pemimpin yang mampu
menentukan kebijakan dan arah pembangunan dengan mempertimbangkan keselarasan
antara kepentingan nasional dan kemaslahatan global.
2.3 Pemahaman Dan Implementasi Sila Persatuan Indonesia Bagi Aparatur Sipil Negara
(ASN) Dalam Menjalankan Tugasnya.
Keberadaan Bangsa Indonesia terjadi karena memiliki satu nyawa, satu asal akal, yang
tumbuh dalam jiwa rakyat sebelumnya yang menjalani satu kesatuan riwayat, yang
membangkitkan persatuan karakter dan kehendak untuk hidup bersama dalam suatu
wilayah geopolitik nyata. Sebagai persenyawaan dari ragam perbedaan suatu bangsa
mestinya memiliki karakter tersendiri yang bisa dibedakan dari karakter unsur unsurnya.
Selain kehendak hidup bersama, keberadaan bangsa Indonesia juga didukung oleh
semangat Gotong Royong. Dengan kegotong Royongan itulah, Negara Indonesia harus
mampu melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia, bukan membela atau
mendiamkan suatu unsur masyarakat
atau bagian tertentu dari territorial Indonesia. Negara juga diharapkan mampu memberikan
kebaikan bersama bagi warganya tanpa memandang siapa dan dari etnis mana, apa
agamanya. Semangat gotong royong juga dapat diperkuat dalam kehidupan masyarakat
sipil dan politik dengan terus menerus mengembangkan pendidikan kewarganegaraan dan
multikulturalisme yang dapat membangun rasa keadilan dan kebersamaan dilandasi dengan
prinsip prinsip kehidupan public yang lebih partisipatif dan non diskriminatif.
Ada dua tujuan nasionalisme yang mau disasar dari semangat gotong royong, yaitu
kedalam dan keluar. Kedalam, kemajemukan dan keanekaragaman budaya, suku, etnis,
agama yang mewarnai kebangsaan Indonesia, tidak boleh dipandang sebagai hal negatif
dan menjadi ancaman yang bisa saling menegaskan. Sebaliknya, hal itu perlu disikapi
5

secara positif sebagai limpahan karunia yang bisa saling memperkaya khazanah budaya
dan pengetahuan melalui proses penyerbukan budaya. Keluar, nasionalisme Indonesia
adalah nasionalisme yang memuliakan kemanusiaan universal dengan menjunjung tinggi
persaudaraan, perdamaian, dan keadilan antar umat manusia.
2.4 Pemahaman dan Implementasi Nilai-nilai Kerakyatan Dalam Hikmat Kebijaksanaan
dalam Permusyawaratan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) menjalankan Tugasnya.
Tradisi musyawarah yang dilandasi semangat kekeluargaan telah lama ada dalam
masyarakat nusantara. Keragaman masyarakat nusantara memunculkan keinginan yang kuat
untuk menghidupkan semangat persaudaraan dan kesederajatan semua warga dalam
pergaulan hidup berbangsa. Juga, pengalaman hidup dalam pemerintahan kolonial yang
penuh penindasan dan diskriminasi menggelorakan semangat kemerdekaan dan demokrasi.
Berdasarkan karakter sosiologis dan pengalaman hidup masyarakat inilah muncul keinginan
membangun kehidupan demokrasi yang sesuai dengan karakter dan cita-cita bangsa, yakni
demokrasi yang dilandasi oleh kekeluargaan atau kolektivisme.
Setidaknya ada tiga sumber yang menghidupkan cita-cita demokrasi dalam kehidupan
masyarakat Indonesia. Pertama, tradisi demokrasi yang ada di pemerintahan desa. Kedua,
ajaran Islam yang menuntut persaudaraan dan kesamaan derajat sebagai mahluk Tuhan.
Ketiga, paham demokrasi Barat yang mempengaruhi para pemimpin pergerakan
kemerdekaan.Nilai yang terkandung dalam sila Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat
Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan ini didasari oleh sila pertama, kedua,
ketiga, dan kelima. Nilai filosofi yang terkandung di dalamnya adalah bahwa hakikat negara
sebagai penjelmaan dari sifat kodrat manusia ssebagai makhluk Tuhan yang Maha Esa yang
bersatu yang bertujuan mewujudkan harkat dan martabat manusia dalam suatu wilayah
negara. Negara adalah dari, oleh dan untuk rakyat. Oleh karena itu rakyat merupakan asal
mula kekuasaan negara.
Sila kerakyatan mengandung nilai demokrasi secara mutlak yang harus dilaksanakan dalam
kehidupan bernegara. Nilai-nilai demokrasi yang terkandung antara lain:

1) Adanya kebebasan yang harus disertai dengan tanggungjawab baik terhadap masyarakat
bangsa maupun secara moral terhada Tuhan yang Maha Esa.
2) Menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan.
3) Menjamin dan memperkokoh persatuan dan kesatuan dalam hidup bersama.
4) Mengakui atas perbedaan individu, kelompok, ras, agama, karena perbedaan adalah
merupakan suatu bawaan korat manusia.
5) Mengakui adanya persamaan hak yang melekat pada setiap diri individu, kelompok, ras,
suku, maupun agama.
6) Mengarahkan perbedaan dalam suatu kerja sama kemanusiaan yang beradab.
7) Menjunjung tinggi asas musyawarah sebagai moral kemanusiaan yang beradab.
8) Mewujudkan dan mendasarkan suatu keadilan dalam kehidupan sosial agar tercapainya
tujuan bersama.
Implementasi Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat dalam Permusyawaratan
Perwakilan dalam Kehidupan Sebagai ASN
1) Sebagai warga negara dan warga-masyarakat Indonesia mempunyai kedudukan, hak dan
kewajiban yang sama dalam.
2) Keputusan yang menyangkut kepentingan bersama terlabih dahulu diadakan musyawarah,
dan keputusan musyawarah diusahakan secara mufakat, diliputi oleh semangat
kekeluargaan.
3) Menghormati dan menjunjung tinggi setiap hasil keputusan musyawarah dan
melaksanakannya dengan itikad baik dan rasa tanggungjawab.
4) Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan hati nurani yang luhur, dengan
mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat, serta tidak memaksakan kehendak
kepada orang lain.
7

5) Setiap pekerjaan yang diambil sebagai tanggung jawab dari seorang apararatur Negara
Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan
Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, serta nilai-nilai kebenaran
dan keadilan.
2.5 Pemahaman dan Implementasi Nilai-nilai Keadilan Sosial bagi Aparatur Sipil Negara
(ASN) dalam Menjalankan Tugasnya.
Keadilan Sosial ialah sifat masyarakat adil dan makmur berbahagia untuk semua orang,
tidak ada penghinaan, tidak ada penghisapan, bahagia material dan bahagia spritual, lahir
dan batin. Istilah adil yaitu menunjukkan bahwa orang harus memberi kepada orang lain apa
yang menjadi haknya dan tahu mana haknya sendiri serta tahu apa kewajibannya kepada
orang lain dan dirinya. Sosial berarti tidak mementingkan diri sendiri saja, tetapi
mengutamakan kepentingan umum, tidak individualistik dan egoistik, tetapi berbuat untuk
kepentingan bersama.
Maka di dalam sila ke-5 tersebut terkandung nilai Keadilan tersebut didasari oleh hakekat
keadilan manusia yaitu keadilan dalam hubungan manusia dengan dirinya sendiri, manusia
dengan manusia lain, manusia dengan masyarakat, bangsa dan negaranya serta hubungan
manusia dengan Tuhannya.oleh karena itu manusia dikatakan pula sebagai makhluk
Monopruralisme
Konsekuensinya nilai-nilai keadilan yang harus terwujud dalam kehidupan bersama adalah
meliputi:
1.

Keadilan Distributif

Aristoteles berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana bilamana hal-hal yang sama
diperlukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama diperlukan tidak sama. Keadilan
distributif sendiri yaitu suatu hubungan keadilan antara negara terhadap warganya, dalam
arti pihak negaralah yang wajib memenuhi keadilan dalam bentuk keadilan membagi, dalam
bentuk kesejahteraan, bantuan, subsidi serta kesempatan dalam hidup bersama yang
didasrkan atas hak dan kewajiban.

2.

Keadilan Legal (Keadilan Bertaat)

Yaitu suatu hubungan keadilan antara warga negara terhadap negara dan dalam masalah ini
pihak wargalah yang wajib memenuhi keadilan dalam bentuk mentaati peraturan perundangundangan yang berlaku dalam negara. Plato berpendapat bahwa keadilan dan hukum
merupakan subtansi rohani umum dari masyarakat yang membuat dan menjadi kesatuannya.
Dalam masyarakat yang adil setiap orang menjalankan pekerjaan menurut sifat dasarnya
paling cocok baginya. Pendapat Plato itu disebut keadilan moral, sedangkan untuk yang
lainnya disebut keadilan legal.
3.

Keadilan Komulatif

Yaitu suatu hubungan keadilan antara warga satu dengan yang lainnya secara timbal balik.
Keadilan ini bertujuan untuk memelihara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan umum.
Bagi Aristoteles pengertian keadilan ini merupakan asan pertalian dan ketertiban dalam
masyarakat. Semua tindakan yang bercorak ujung ekstrem menjadikan ketidak adilan dan
akan merusak atau bahkan menghancurkan pertalian dalam masyarakat.
Nilai-nilai keadilan tersebut haruslah merupakan suatu dasar yang harus diwujudkan dalam
hidup bersama kenegaraan untuk mewujudkan tujuan negara yaitu mewujudkan
kesejahteraan

seluruh warganya serta melindungi seluruh warganya dan wilayahnya,

mencerdaskan seluruh warganya. Demikian pula nilai-nilai keadilan tersebut sebagai dasar
dalam pergaulan antara negara sesama bangsa di dunia dan prinsip ingin menciptakan
ketertiban hidup bersama dalam suatu pergaulan antar bangsa di dunia dengan berdasarkan
suatu prinsip kemerdekaan bagi setiap bangsa, perdamaian abadi serta keadilan dalam hidup
bersama (keadilan bersama).

BAB III
ASN SEBAGAI PELAKSANA KEBIJAKAN PUBLIK

Untuk dapat menjalankan tugas pelayanan publik, tugas pemerintahan, dan tugas pembangunan
tertentu, Pegawai ASN harus memiliki profesi dan Manajemen ASN yang berdasarkan pada
Sistem Merit atau perbandingan antara kualifikasi, kompetensi, dan kinerja yang dibutuhkan oleh
jabatan dengan kualifikasi, kompetensi, dan kinerja yang dimiliki oleh calon dalam rekrutmen,
pengangkatan, penempatan, dan promosi pada jabatan yang dilaksanakan secara terbuka dan
kompetitif, sejalan dengan tata kelola pemerintahan yang baik.
Masalah yang harus diatasi oleh pemerintah adalah masalah publik yaitu nilai, kebutuhan atau
peluang yang tak terwujudkan. Meskipun masalah tersebut dapat diidentifikasi tapi hanya
mungkin dicapai lewat tindakan publik yaitu melalui kebijakan publik (Dunn dalam Nugroho,
2003:58). Karakteristik masalah publik yang harus diatasi selain bersifat interdependensi
(berketergantungan) juga bersifat dinamis, sehingga pemecahan masalahnya memerlukan
pendekatan holistik (holistic approach) yaitu pendekatan yang memandang masalah sebagai
kegiatan dari keseluruhan yang tidak dapat dipisahkan atau diukur secara terpisah dari yang
faktor lainnya. Untuk itu, diperlukan kebijakan publik sebagai instrumen pencapaian tujuan
pemerintah melalui kerja ASN secara profesional.
Setiap kebijakan publik mempunyai tujuan-tujuan baik yang berorientasi pencapian tujuan
maupuan pemecahan masalah ataupun kombinasi dari keduanya. Secara padat Tachjan (Diktat
Kuliah Kebijakan Publik, 2006ii:31) menjelaskan tentang tujuan kebijakan publik bahwa tujuan
kebijakan publik adalah dapat diperolehnya nilai-nilai oleh publik baik yang bertalian dengan
public goods (barang publik) maupun public service (jasa publik). Nilai-nilai tersebut sangat
dibutuhkan oleh publik untuk meningkatkan kualitas hidup baik fisik maupun non-fisik.
Adapun proses kebijakan publik adalah serangkian kegiatan dalam menyiapkan, menentukan,
melaksanakan serta mengendalikan kebijakan. Efektivitas suatu kebijakan publik ditentukan oleh
proses kebijakan yang melibatkan tahapan-tahapan dan variabel-variabel. Jones (1984:27-28)
10

mengemukakan sebelas aktivitas yang dilakukan pemerintah dalam kaitannya dengan proses
kebijakan yaitu: perception/definition, aggregation, organization, representation, agenda setting,
formulation, legitimation, budgeting, implementation, evaluation and adjustment/termination.
Tachjan (2006i:19) menyimpulkan bahwa pada garis besarnya siklus kebijakan publik terdiri dari
tiga kegiatan pokok, yaitu:

Perumusan kebijakan
Implementasi kebijakan serta
Pengawasan dan penilaian (hasil) pelaksanaan kebijakan.

Jadi efektivitas suatu kebijakan publik sangat ditentukan oleh proses kebijakan yang terdiri dari
formulasi, implementasi serta evaluasi. Ketiga aktivitas pokok proses kebijakan tersebut
mempunyai hubungan kausalitas serta berpola siklikal atau bersiklus secara terus menerus
sampai suatu masalah publik atau tujuan tertentu tercapai.
Implementasi kebijakan merupakan tahap yang krusial dalam proses kebijakan publik. Suatu
kebijakan atau program yang dibuat suatu unit aparatur negara harus diimplementasikan agar
mempunyai dampak atau tujuan yang diinginkan. Implementasi kebijakan dipandang dalam
pengertian luas merupakan alat administrasi publik dimana aktor, organisasi, prosedur, teknik
serta sumber daya diorganisasikan secara bersama-sama untuk menjalankan kebijakan guna
meraih dampak atau tujuan yang diinginkan.
Dalam menjalankan perannya, pegawai ASN sebagai pelayanan publik dan demikian pentingnya
pelayanan publik yang diberikan pemerintah kepada masyarakat, sehingga sering dijadikan
indikator keberhasilan suatu sistem penyelenggaraan pemerintahan. Demikian juga dengan
program reformasi nasional, tidak akan ada artinya apa-apa manakala pelayanan publik ternyata
masih buruk. Apalagi dalam rangka mewujudkan good governance dimana akuntabilitas menjadi
salah satu prinsip yang harus dikedepankan dalam penyelenggaraan pemerintahan oleh ASN
sebagai pelayanan publik harus

11

mampu memberikan pelayanan yang akuntabel (pelayanan prima) di sektor publik yang tidak
bisa ditunda-tunda. Kepercayaan masyarakat terhadap Pegawai ASN (ASN) yang cenderung
negatif (malas, korup, kurang melayani, tidak produktif, dan lain sebagainya) membutuhkan
reformasi/perubahan terhadap pola pikir yang berorientasi pada pelayanan masyarakat
.Reformasi birokrasi membutuhkan reformasi mendasar yang harus dilakukan terlebih dahulu,
yakni reformasi pola pikir (mindset). Pola pikir sendiri terbentuk karena imprint yaitu suatu
peristiwa masa lalu yang
sangat membekas. Imprint sendiri dapat bersifat positif maupun negatif. Selain itu faktor
lingkungan juga sangat mempengaruhi pola pikir penyelenggara pemerintahan, oleh karenanya
bagi CASN/ASN yang sudah terbentuk yang disebabkan karena imprint maupun lingkungan
yang bersifat negatif perlu
dilakukan perubahan agar dapat menunjukkan perilaku-perilaku positif guna menjalankan
pekerjaannya sehari-hari sesuai dengan konsep diri yang perlu dimiliki seorang pegawai ASN.
Oleh karena itu Pegawai ASN harus selalu mengedepankan konsep diri,
antara lain :
(1) bekerja sebagai Ibadah,
(2) menghindari sikap tidak terpuji,
(3) Bekerja secara profesional,
(4) berusaha meningkatkan kompetensi dirinya secara terus menerus, (5) Pelayan dan pengayom
masyarakat,
(6) Bekerja berdasarkan peraturan yang berlaku
(7) tidak rentan terhadap perubahan dan terbuka serta bersikap realistis
(8) mampu bekerja dalam tim, dan
(9) Bekerja secara profesional.

12

BAB IV
ASN SEBAGAI PELAYAN PUBLIK

Dalam rangka mencapai tujuan nasional sebagaimana tercantum dalam alinea ke-4 Pembukaan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945), diperlukan ASN
yang profesional, bebas dari intervensi politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme,
mampu menyelenggarakan pelayanan publik bagi masyarakat dan mampu menjalankan peran
sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Tujuan
nasional seperti tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 adalah melindungi segenap bangsa
Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Untuk mewujudkan tujuan nasional, dibutuhkan Pegawai ASN. Pegawai ASN diserahi tugas
untuk melaksanakan tugas pelayanan publik, tugas pemerintahan, dan tugas pembangunan
tertentu. Tugas pelayanan publik dilakukan dengan memberikan pelayanan atas barang, jasa,
dan/atau pelayanan administratif yang disediakan Pegawai ASN. Adapun tugas pemerintahan
dilaksanakan dalam rangka penyelenggaraan fungsi umum pemerintahan yang meliputi
pendayagunaan kelembagaan, kepegawaian, dan ketatalaksanaan. Sedangkan dalam rangka
pelaksanaan tugas pembangunan tertentu dilakukan melalui pembangunan bangsa (cultural and
political development) serta melalui pembangunan ekonomi dan sosial (economic and social
development) yang diarahkan meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran seluruh masyarakat.
Korps Pegawai Aparatur Sipil Negara Republik Indonesia (Korps ASN RI) harus terus menjaga
kode etik profesi dan standar pelayanan profesi aparatur sipil negara, serta mewujudkan jiwa
Korps ASN sebagai pemersatu negara. Seiring dengan semangat otonomi daerah pasca reformasi
1998, peran Korpri sebagai pemersatu bangsa mulai terkikis, ketika setiap daerah dalam proses
rekrutmen pegawai negeri sipil (ASN), yang tak lain kemudian menjadi anggota Korpri, acap

13

kali mensyaratkan latar belakang putra/putri daerah, sehingga ikut memunculkan sikap
primordialisme.
Oleh karena itu sebagai bagian integral dari pemerintahan, Korpri juga diminta melaksanakan
fungsinya sebagaimana telah diatur dalam peraturan perundang-undangan. Juga diharapkan dapat
melaksanakan tugas pokok dan fungsinya secara bertahap, dengan tetap berpedoman pada
amanat Panca Prssetya Korpri. Pada usia yang tergolong sudah dewasa ini, semua jajaran Korpri
diminta untuk menjadi tauladan bagi perubahan yang diharapkan oleh masyarakat. Antara lain
menjadikan birokrasi bersih, kompeten dan melayani masyarakat lebih cepat lagi, serta
memegang teguh komitmen sebagai ASN. Warga ASN diharapkan dapat mempercepat
perubahan, menuju pola pikir yang cerdas, inovatif dan tanggap terhadap dinamika perubahan
lingkungan. Mengutamakan pelayanan lebih cepat, akurat dan murah. ASN juga harus mulai
meninggalkan budaya penguasa, sebaliknya menunjukan sikap pelayan.

14

BAB V
ASN SEBAGAI PEREKAT DAN PEMERSATU BANGSA
Dalam UU No 5 tahun 2014 pasal 66 ayat 1-2 terkait sumpah dan janji ketika diangkat menjadi
ASN, disana dinyatakan bahwa ASN akan senantiasa setia dan taat sepenuhnya kepada
Pancasila, UUD 1945, negara dan pemerintah. ASN juga senantiasa menjunjung tinggi martabat
ASN serta senantiasa mengutamakan kepentingan Negara dari pada kepentingan diri sendiri,
seseorang dan golongan. Dengan sumpah tersebut, seorang ASN sudah terikat oleh sumpah dan
janjinya untuk loyal, setia dan taat kepada pilar dasar Negara Indonesia yaitu Pancasila dan UUD
1945, serta kepada pemerintahan yang sah. Seorang ASN tidak boleh memiliki pemikiran,
pandangan dan melakukan tindakan yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.
Bagi seorang ASN, Pancasila, UUD 1945 dan NKRI adalah sesuatu yang final dan harga mati.
Dia siap mengorbankan jiwa dan raganya untuk mempertahankan keutuhan Negara Indonesia.
Menurut Edi M. Toha dalam Papernya Separatism and The Unity of Indonesia (2009) kenapa
Persatuan Indonesia dijadikan sila ketiga dari Pancasila, karena diambil dari pengalaman bangsa
Indonesia dimasa penjajahan, dimana bangsa Indonesia sulit untuk bisa mendapatkan
kemerdekaan dari penjajah Belanda yang sudah mulai berada di Indonesia pada abad ke 16. Pada
masa sebelum 20 Mei 1908 yaitu berdirinya organisasi pergerakan yang bersifat nasional,
keinginan untuk melepaskan diri dari penjajahan bersifat lokal bahkan bersifat kesukukan,
sehingga Belanda bisa menggunakan suku lain yang berada di Indonesia untuk ikut membantu
memadamkan pemberontakan lokal, sehingga bangsa Indonesia sulit bisa mendapatkan
kemerdekaan.
Dalam UU No 5 tahun 2014 pasal 66 ayat 1-2 terkait sumpah dan janji ketika diangkat menjadi
ASN, disana dinyatakan bahwa ASN akan senantiasa setia dan taat sepenuhnya kepada
Pancasila, UUD 1945, negara dan pemerintah. ASN juga senantiasa menjunjung tinggi martabat
ASN serta senantiasa mengutamakan kepenting an Negara dari pada kepenting-an diri sendiri,
seseorang dan golongan. Artinya dalam menjalankan tugas dan fungsinya, seorang ASN juga
wajib untuk menjunjung tinggi persatuan agar keutuhan bangsa dapat terjaga.
15

Sebagai Aparatur Negara ASN dituntut untuk memiliki perilaku mencintai tanah air Indonesia,
dan mengedepankan kepentingan nasional ditengah tengah persaingan dan pergaulan global.
Pentingnya peran ASN sebagai salah satu pemersatu bangsa, secara implisit disebutkan dalam
UU No 5 tahun 2014 terkait asas, prinsip, nilai dasar dan kode etik dan kode perilaku, dimana
dalam pasal 2 ayat 1 disebutkan bahwa asas-asas dalam penyelenggaraan dan kebijakan
manajemen ASN ada 13, salah satu diantaranya asas persatuan dan kesatuan. Hal ini berarti,
seorang ASN dalam menjalankan tugas-tugasnya senantiasa mengutamakan dan mementingkan
persatuan dan kesatuan bangsa.
Kepentingan kelompok, individu, golongan harus disingkirkan demi kepentingan yang lebih
besar yaitu kepentingan bangsa dan Negara diatas segalanya. ASN dalam menjalankan tugas dan
fungsinya harus berpegang pada prinsip adil dan netral. Netral dalam artian tidak memihak
kepada salah satu kelompok atau golongan yang ada. Sedangkan adil, berarti ASN dalam
melaksanakan tugasnya tidak boleh berlaku diskriminatif dan harus obyektif, jujur, transparan.
Dengan bersikap netral dan adil dalam melaksanakan tugasanya, ASN akan mampu menciptakan
kondisi yang aman, damai, dan tentram dilingkung an kerjanya dan di masyarakatnya.

16

BAB VI
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Nasionalisme Pancasila adalah pandangan atau paham kecintaan manusia Indonesia


terhadap bangsa dan tanah airnya yang didasarkan pada nilai-nilai Pancasila. Prinsip
nasionalisme bangsa Indonesia dilandasi nilai-nilai Pancasila yang diarahkan agar bangsa
Indonesia senantiasa:menempatkan persatuan kesatuan, kepentingan dan keselamatan
bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau kepentingan golongan; menunjukkan
sikap rela berkorban demi kepentingan bangsa dan negara; bangga sebagai bangsa Indonesia
dan bertanah air Indonesia serta tidak merasa rendah diri; mengakui persamaan derajat,
persamaan hak dan kewajiban antara sesama manusia dan sesama bangsa; menumbuhkan
sikap saling mencintai sesama manusia; mengembangkan sikap tenggang rasa.
Adanya toleransi antara otoritas agama dan otoritas negara membuat agama tidak bisa
dibatasi hanya dalam ruang privat. Agama punya kemungkinan terlibat dalam ruang publik.
Jika agama hanya berada dalam ruang privat, kehidupan poblik menjadi kering dalam
makna. Adanya nilai-nilai ketuhanan dalam Pancasila berarti negara menjamin kemerdekaan
masyarakat dalam memeluk agama dan kepercayaan masing-masing. Tidak hanya kebebasan
dalam memeluk agama, negara juga menjamin masyarakat memeluk kepercayaan. Namun
dalam kehidupan di masyarakat, antar pemeluk agama dan kepercayaan harus saling
menghormati satu sama lain.

B. SARAN

Dalam gempuran globalisasi, pemerintahan ASN diharapkan terus memperhatikan prinsip


kemanusiaan dan keadilan dalam penyelenggaraan pemerintahan dalam negeri dan
pemerintahan global atau dunia. Perpaduan prinsip sila pertama dan kedua Pancasila
menuntut pemerintah dan peyelenggara negara untuk memelihara budi pekerti kemanusiaan
yang luhur dan memegang cita-cita moral rakyat yang mulia. Dengan asas musyawarah
untuk mufakat dalam raka mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
17

BAB VII
DAFTAR PUSTAKA
UUD 1945
UU ASN NO. 5 Tahun 2014
Yudi Latief, Adi Suryono , Abdul Aziz Muslim ; Nasionalisme ; Lembaga Administrasi Negara;
2015

https://id.wikipedia.org/wiki/Nelson_Mandela
http://www.biografipahlawan.com/2015/01/biografi-martha-christina-tiahahu.html
www.menlhk.go.id

18