Anda di halaman 1dari 29

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Uji Coba Terbatas
1. Penyajian Data
Hasil
data
yang
diperoleh
setelah
melakukan
percobaan/penelitian di MTs Al-Karimiyyah dengan mengembangkan
Media LKS Berbentuk Fabel pada Pembelajaran IPA, dapat diketahui
hasilnya melalui langkah-langkah penelitian berikut:
a. Potensi dan Masalah
Langkah pertama yang dilakukan dalam penelitian
pengembangan yaitu mencari tahu potensi dan masalah ditempat yang
akan dijadikan subjek penelitian. Hasil yang diperoleh setelah
melakukan penelitian/percobaan dengan mengobservasi langsung dalam
kelas, kecenderungan siswa MTs Al-Karimiyyah banyak tidak
membawa buku paket IPA pada waktu pembelajaran. Padahal setiap
anak telah mendapatkan pinjaman buku, namun tidak pernah dibaca,
hanya sebagian anak membawa buku paket pada saat pembelajaran.
Anak tersebut yang memang benar-benar mau belajar dan memiliki
kemampuan berpikir yang tinggi dalam belajar. Dari hasil observasi
yang dilakukan dapat diketahui bahwa potensi yang dimiliki siswa MTs
Al-Karimiyyah yaitu senang membaca. Hal ini senang membaca dalam
artian pada buku cerita-cerita daripada buku pelajaran.
Hal tersebut dapat diketahui juga permasalahan-permasalahan
yang terdapat di MTs Al-Karimiyyah yang diantaranya yaitu, siswa sulit
untuk mau membawa buku paket pembelajaran dikarenakan yang mau
membawa buku paket tersebut terlalu besar untuk dibawa dan lain-lain.
Dan juga permasalahan kurangnya siswa dalam membaca buku
pelajaran terutama IPA dikarenakan dalam pelajaran IPA banyak rumusrumus atau terlalu banyak materi
b. Pengumpulan Data
Kegiatan kedua yang dilakukan pada penelitian pengembangan
yaitu mengumpulkan data atau informasi mengenai permasalahan yang
diperoleh dari subjek penelitian yang dilakukan di MTs Al-karimiyyah.
Data atau informasi yang dikumpulkan atau yang telah diperoleh yaitu
dari guru pengajar IPA yang mengatakan bahwa siswa memang kurang
dalam membaca buku pelajaran, namun setelah diberi perlakuan dengan
menggunakan media LKS fabel, tanpa diminta untuk membaca siswa
37

34
lagsung membaca media tersebut. Dan guru pengajar mengatakan
bahwa media fabel tersebut dapat meningkatkan motivasi siswa dalam
belajar, siswa semangat dan giat untuk belajar.
c. Desain Produk
Desain yang ditawarkan untuk meningkatkan semangat dan
motivasi siswa dalam membaca buku pelajaran adalah menggunakan
media LKS berbentuk fabel. Media yang akan diberikan pada siswa ada
tiga karena dibuat dalam tiga kali pertemuan. Desain yang dibuat dalam
penelitian ini terdapat 3 perangkat yaitu RPP, silabus, dan media LKS
fabel IPA. RPP merupakan langkah-langkah yang akan dilakukan oleh
guru dalam kegiatan pembelajaran, yang menggambarkan
skenario/prosedur pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar.
RPP disusun untuk setiap kali pertemuan atau setiap proses
pembelajaran harus menyusun RPP. RPP yang disusun dapat dilihat
pada lampiran 01.
Silabus merupakan suatu rencana yang dijabarkan lebih rinci
dari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang termuat dalam
materi materi pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi untuk
penilaian peserta didik, penilaian, alokasi waktu dan sumber belajar
dalam suatu mata pelajaran. Silabus yang disusun dapat dilihat pada
lampiran 02. Media merupakan segala alat dan bahan yang digunakan
sebagai penyalur informasi atau pesan dari pengirim terhadap penerima,
dalam hal ini adalah guru sebagai penyalur informasi dan siswa sebagai
penerima informasi.
Desain media fabel yang dibuat pertemuan pertama yaitu
menceritakan tentang materi yang dibuat dalam bentuk percakapan atau
cerita seperti dongeng, namun didalamnya terdapat juga rangkuman
atau kata istilah yang sulit dalam media tersebut juga terdapat soal
latihan untuk mengetahui pemahaman siswa setelah membaca media
fabel. Dalam soal LKS terdapat dua latihan yang harus dikerjakan
siswa, latihan yang ada dalam LKS pertama yaitu siswa diminta untuk
mengerjakan setelah membaca tanpa dijelaskan terlebih dahulu
kemudian dibahas oleh guru. Untuk LKS kedua dikerjakan setelah
dijelaskan.
Desain media fabel yang dibuat pertemuan kedua yaitu, melihat
refleksi dari pertemuan pertama hanya sebagian siswa yang mengerti
dalam mengerjakan LKS pertama, dan juga waktu yang ditentukan

35
kurang sehingga ada kegiatan dalam pembelajaran yang dilakukan tidak
sempurna. Jadi desain LKS fabel yang kedua yaitu menggunakan satu
LKS untuk mengetahui pemahaman siswa, namun LKS tersebut dibagi
dua dalam pengerjaannya. Dua soal dikerjakan setelah selesai membaca
media tanpa penjelasan terlebih dahulu dan tiga soalnya lagi dikerjakan
setelah dijelaskan oleh guru.
Desain media fabel yang ketiga yaitu tidak ada perubahan dari
fabel yang kedua tetap menggunakan satu LKS. Namun melihat dari
refleksi kedua siswa masih ada yang tidak bisa menjawab setelah
membaca media tanpa dijelaskan guru, maka LKSnya dikerjakan
setelah guru menjelaskan terlebih dahulu. Media yang dibuat dapat
dilihat pada lampiran 03.
d. Validasi Desain
Desain yang telah dibuat kemudian divalidasi terlebih dahulu
sebelum di uji coba terbatas untuk mengetahui kekurangan apa saja
yang ada dalam LKS fabel tersebut. Setelah mengetahui kekurangannya
kemudian diperbaiki dan divalidasi kembali sampai desainyang dibuat
dapat digunakan. Dalam pembuatan media LKS fabel sudah mengalami
dua kali validasi, validasi yang pertama LKS fabel yang dibuat masih
termasuk dalam kategori tidak dapat digunakan. Karena tidak dapat
digunakan maka diperbaiki kekurangannya yang telah diberi saran oleh
validator. Setelah diperbaiki kemudian divalidasi kembali untuk
mengetahui letak kekurangannya lagi. Validasi yang kedua LKS fabel
IPA yang dibuat telah termasuk dalam kategori dapat digunakan dengan
sedikit revisi. Validasi dilakukan pada seorang ahli bahasa yang juga
merupakan dosen bahasa yaitu pak Rusly.
e. Revisi Produk
Revisi produk merupakan langkah yang kelima dari penelitian
pengembangan. Revisi produk dilakukan untuk melakukan perbaikanperbaikan setelah dilakukan validasioleh validator. Revisi yang
diperoleh dari validator untuk validasi yang pertama yaitu belum
tercantum indikator pembelajaran dalam LKS fabel untuk melihat
kesesuaian soal dengan indikator dan juga soal yang dibuat dalam LKS
fabel masih kurang sistematis. Dari kekurangan tersebut maka
diperbaiki dan ditambahi hal-hal yang kurang dalam media LKS fabel
tersebut yaitu menambahi indikator dalam LKS. Dan validasi kedua
diperoleh saran-saran yaitu, belum tercantumnya SK dan KD dalam

36
media LKS fabel, juga belum ada petunjuk penggunaan LKS fabel.
Perbaikan yang kedua yaitu mencantumkan SK dan KD, juga memberi
petunjuk penggunaan dalam LKS fabel.
f. Uji Coba Produk Terbatas
Desain yang sudah dibuat dan dilakukan perbaikan-perbaikan
kemudian di uji coba terbatas di MTs Al-Karimiyyah Beraji pada
tanggal 19-31 mei 2014 di kelas VIIB. Sebelum di uji coba terbatas
pada siswa kelas VII MTs Al-Karimiyyah, media LKS fabel IPA di uji
cobakan pada siswa lain sebanyak 10 orang yang berasal dari dua SMP
negeri dan swasta. Hasil tes yang diperoleh setelah di uji coba pada
siswa sebanyak 10 orang, semua siswa yang dijadikan sampel uji coba
tersebut mendapatkan nilai di atas KKM dan standart dengan KKM,
artinya siswa tersebut sudah tuntas belajarnya. Hal tersebut dapat
disimpulkan bahwa media fabel dapat dipahami oleh siswa.
Uji coba yang dilakukan langsung pada siswa MTs AlKarimiyyah di dapat bahwa siswa senang dalam belajar menggunakan
media LKS fabel dan juga termotivasi untuk membaca materi. Dari nilai
hasil belajar yang diperoleh setelah menggunakan media LKS fabel
yaitu lebih tinggi hasilnya dari pada sebelum menggunakan mediaLKS
fabel. Peningkatan hasil belajar tersebut dapat dilihat dari hasil belajar
(ulangan) yang lalu atau sebelumnya dan sesudah menggunakan media
LKS fabel IPA, hasil ulangan yang sebelumnya rata-ratanya yaitu 66
dan hasil setelah menggunakan media LKS fabel IPA yaitu sebesar 77
rata-ratanya. Untuk lebih jelas tentang hasil belajar siswa sebelum dan
sesudah menggunakan media LKS fabel dapat dilihat pada tabel data
hasil belajar. Uji coba yang dilakukan di MTs Al-Karimiyyah dibantu
oleh empat orang observer, dua observer untuk mengamati
keterlaksanaan pembelajaran dan dua observer yang lainnya digunakan
untuk mengamati aktivitas yang dilakukan siswa selama mengikuti
pembelajaran dengan menggunakan media LKS fabel IPA. Aktivitas
siswa dalam membaca meningkat pada tiap pertemuan dengan
persentase tiap pertemuan yaitu 21%, 25%, dan 26%. Sedangkan
aktivitas yang menurun dari tiap pertemuan yaitu aktivitas mengerjakan
tugas, persentasenya yaitu 32%, 19%, 17%. Dan keterlaksanaan pada
tiap pertemuan juga meningkat yaitu persentasenya 62%, 75%, dan
84%.

37
2. Analisis Data
a. Analisis Data Hasil Kelayakan Media LKS berbentuk Fabel
Data kelayakan diperoleh melalui lembar kelayakan media LKS
fabel IPA. Lembar kelayakan media LKS fabel bertujuan untuk
mengetahui kelayakan media yang akan dikembangkan di MTs AlKarimiyyah pada kelas VIIB. Data hasil kelayakan media LKS fable
IPA dapat dilihat pada tabel 4.1
Tabel 4.1 Penilaian kelayakan media LKS fabel
Aspek
No
yang
Kriteria Penilaian
.
diamati
Kemudahan
materi
yang
1
disajikan pada siswa
Kesesuaian materi dengan SK
Isi dan
2
dan KD
format
(Pendekata Penulisan huruf dan
dan
3
n penulisan) gambar jelas
Gambar sesuai dengan materi
4
dan cerita
Kesesuaian
kata
dengan
5
perkembangan bahasa siswa
Alur cerita jelas dan mengarah
6
pada pemahaman konsep
Tata
materi
Kebahasaan
Tema cerita sesuai dengan
7
konsep materi
Penggunaan
kata
yang
8
bermakna ganda
Kesesuaian penjabaran konsep
9
dengan teori para ahli
Penyajian
Materi
Materi yang dijabarkan dalam
10
fabel terorganisir dengan baik
Media yang sudah dibuat termasuk dalam
11
jenis fabel

Penilaian
1

Hasil pengisian lembar kelayakan dapat dilihat hasilnya setelah


dijumlah dan ditabulasi yaitu sebesar 35. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada tbel 4.2 berikut:

38
Tabel 4.2 Persentase Hasil Kelayakan Media LKS Fabel
No Aspek yang
Kriteria Penilaian
.
diamati
Kemudahan materi yang disajikan pada
1
Isi dan
siswa
format
Kesesuaian materi dengan SK dan KD
2
(Pendekata Penulisan huruf dan dan gambar jelas
3
n penulisan)
Gambar sesuai dengan materi dan cerita
4
Kesesuaian kata dengan perkembangan
5
bahasa siswa
Alur cerita jelas dan mengarah pada
Tata
6
Kebahasaan pemahaman konsep materi
Tema cerita sesuai dengan konsep materi
7
Penggunaan kata yang bermakna ganda
8
Kesesuaian penjabaran konsep dengan
9
teori para ahli
Penyajian
Materi
Materi yang dijabarkan dalam fabel
10
terorganisir dengan baik
Kemudahan materi yang disajikan pada
11
siswa
Jumlah
Persentase
Kategori

Hasil
3
1
4
4
4
4
3
3
3
3
3
35
79,5
Layak

Hasil rata-rata yang diperoleh berdasarkan tabel 4.1, didapatkan


persentase kelayakan sebanyak 79,5%. Persentase ini diperoleh dari
skor yang diperoleh dibagi dengan skor maksimal dan dikalikan 100.
Rata-rata persentase kelayakan berada dalam rentang 61% - 80%, jika
persentase tersebut di interpretasikan pada skala kriteria interpretasi
skormendapatkan kategori layak. Berdasarkan catatan atau saran dari
validator yang memberi nilai kelayakan, media yang dibuat belum ada
petunjuk penggunaannya dan juga belum tercantum SK dan KD dalam
media LKS fabel IPA yang dibuat.
b. Analisis Data Hasil Observasi keterlaksanaan Pembelajaran
Data
keterlaksanaan
diperoleh
darilembar
observasi
keterlaksanaan pembelajaran. Observasi keterlaksanaan pembelajaran
bertujuan untuk mengetahui kesesuaian penggunaan media LKS fabel

39
IPA dengan rencana yang sudah tertuang dalam RPP. Data hasil
persentase keterlaksanaan pembelajaran dapat dilihat pada gambar 4.1
Gambar 4.1 Keterlaksanaan Pembelajaran

Hasil dari gambar di atas menunjukkan bahwa keterlaksanaan


pembelajaran pada pertemuan pertama mendapatkan persentase
keterlaksanaan sebesar 62%. Persentase tersebut berada dalam rentang
60%-80% dan persentase tersebut berada dalam kategori baik. Namun
meskipun berada dalam kategori baik pada pertemuan pertama terdapat
kegiatan yang belum terlaksana dengan baik, dikarenakan guru masih
canggung dalam mengajar jika sambil diamati. Siswanya pun juga
belum dapat diatur karena baru pertama menggunakan media LKS
berupa fabel membaca terus menerus sehingga waktu untuk
mengerjakan latihan soal tersita karena kebanyakan membaca kembali
medianya. Keterlaksanaan yang belum terlaksana dengan baik yaitu
bagian penutup pada kegiatan menyimpulkan pembelajaran, hal tersebut
dikarenakan latihan yang diberikan pada siswa cukup banyak dan
memakan waktu yang cukup banyak pula sehingga berpengaruh
terhadap keterlaksanaan kegiatan yang telah direncanakan dalam RPP.
Keberhasilan pembelajaran dapat dipengaruhi oleh sikap guru dalam
mengelola pembelajaran, keterampilan guru mengajukan pertanyaan,

40
pengetahuan guru dan keterampilnnya dalam menggunakan media
(Suprihatiningrum, 2013: 93)
Keterlaksanaan pembelajaran pada pertemuan kedua sudah
mulai meningkat dari pada pertemuan pertama. Persentase
keterlaksanaan pada pertemuan kedua yaitu sebesar 75% dan berada
dalam kategori baik pula jika di interpretasikan pada skala interpretasi
skor menurut Arikunto dalam Illa (2012:101). Dalam kegiatan
Keterlaksanaan tersebut sudah mulai terlaksana dengan baik, siswa
sudah mulai bisa menyimpulkan dan tugas atau latihan soal yang
diberikan sudah dikurangi oleh guru agar waktu yang disedikan cukup
untuk kegiatan yang direncanakan dalam RPP. Untuk keterlaksanaan
pembelajaran pertemuan ketiga lebih baik lagi dari pertemuan pertama
dan kedua yaitu mencapai persentase keterlaksanaan sebesar 84% yang
berada dalam rentang >80%, jika di interpretasikan dalam interpretasi
skor menurut Arikunto dalam Illa (2012: 101), persentase tersebut dapat
dikategorikan sangat baik. Persentase hasil keterlaksanaan pembelajaran
diperoleh dari hasil rata-rata penilaian dua observer. Penilaian antar dua
observer/pengamat kemudian dilihat reliabilitasnya. Jika reliabilitas
antar pengamat yang diberikan memiliki koefisien reliabilitas 0,75
atau 75%, maka instrumen dikatakan reliabel. Reliabilitas
keterlaksanaan pembelajaran antar pengamat dapat dilihat pada tabel di
bawah ini.
Tabel 4.3 Reliabilitas Keterlaksanaan Pembelajaran
No
Pertemuan keReliabilitas
Kategori
.
1.
I
100%
Sangat tinggi
2.
II
97%
Sangat tinggi
3.
III
98%
Sangat tinggi

Hasil reliabilitas keterlaksanaan pembelajaran dapat dikatakan


reliabel dari pertemuan pertama sampai pertemuan ketiga dengan
masing-masing persentase yang diperoleh yaitu, pertemuan I 100%,
pertemuan II 97%, dan pertemuan 3 yaitu 98%.
c. Analisis Data Hasil Observasi Aktivitas Siswa
Data aktivitas diperoleh dari hasil lembar observasi aktivitas
siswa yang dilakukan selama tiga kali pertemuan. Untuk pertemuan I

41
dilakukan pada tanggal 19 Mei 2014 di jam 2-3, pertemuan II dilakukan
pada tanggal 20 Mei 2014 di jam 6-7, sedangkan untuk pertemuan III
dilakukan pada tanggal 26 di jam 2-3. Aktivitas yang diamati dalam
kelas
terdapat
enam
indikator
yang
meliputi,
mendengarkan/memperhatiakn penjelasan guru, mencatat hal penting
yang terdapat dalam materi, berpendapat dan bertanya, membaca,
mengerjakan tugas, dan prilaku yang tidak relevan dalam kelas selama
proses pembelajaran. Persentase aktivitas siswa dapat dilihat pada
gambar berikut.
Gambar 4.2 Persentase Aktivitas Siswa Pertemuan I

Gambar di atas dapat dijelaskan bahwa aktivitas yang paling


banyak dilakukan siswa adalah mengerjakan tugas dengan hasil
persentase sebanyak 32% dan aktivitas yang tidak pernah dilakukan
oleh siswa adalah berpendapat dan bertanya dengan persentase yang
diperoleh yaitu 0%. Hal tersebut dikarenakan pada kegiatan ini guru
memberikan tugas setelah membaca media dan siswa juga diminta
untuk mengerjakan tugas setelah mendapat penjelasan dari guru
sehingga untuk mau bertanya siswa sudah sibuk dengan pekerjaan tugas
yang diberikan. Untuk indikator membaca diperoleh persentase sebesar
21%, dalam hal ini siswa sudah mulai mau membaca dan semangat

42
dalam mengikuti pembelajaran, meski memperoleh tugas yang banyak
mereka tetap menikmati dan semangat untuk mengerjakannya.
Aktivitas yang dilakukan di pertemuan I pasti berbeda dengan
aktivitas yang dilakukan siswa di pertemuan II, karena pada pertemuan
II siswa tidak lagi diberi tugas yang banyak, namun di pertemuan II ini
guru lebih banyak menjelaskan sehingga siswa memperhatikan dan
mendengarkan penjelasan dari guru, sebab setelah guru menjelaskan
siswa diminta untuk mengerjakan soal latihan yang ada dalam LKS
fabel IPA. Hasil persentase aktivitas siswa pada pertemuan II dapat
dilihat dari gambar berikut ini.
Gambar 4.3 Persentase Aktivitas Siswa Pertemuan II

Gambar di atas dapat diketahui hasil persentase aktivitas siswa


yang paling menonjol adalah aktivitas dengan indikator
mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru yang memperoleh hasil
persentase sebesar 37% dan yang paling sedikit dilakukan oleh siswa
adalah perilaku yang tidak relevan dengan perentase sebesar 6%. Hal
tersebut dapat dikatakan bahwa aktivitas siswa yang lain meningkat
karena prilaku yang tidak relevan dalam kelas seperti bergurau,
bernyanyi, tidur dan lain-lain sudah mulai menurun dari aktivitas yang
di pertemuan I sehingga dipertemuan II siswa sudah mulai berpendapat
dan bertanya yang memperoleh persentase sebesar 8%, dalam hal ini
aktivitas berpendapat dan bertanya sudah mulai tampak dan meningkat.
Persentase aktivitas prilaku yang tidak relevan dalam kelas pada

43
pertemuan I yaitu 16%. Karena dalam pertemuan kedua latihan soal
yang diberikan sudah dikurangi sehingga guru lebih banyak
menjelaskan dan siswa bisa untuk bertanya dan berpendapat jika
diminta oleh guru.
Aktivitas berpendapat dan bertanya pada pertemuan ketiga
menurun lagi dan aktivitas prilaku yang tidak relavan dalam kelas lebih
meningkat, namun penurunan dan peningkatannya tidak begitu besar
hanya 2%-4%. Jika dibandingkan dengan pertemuan pertama aktivitas
prilaku yang tidak relevan dalam kelas lebih banyak, sedangkan
aktivitas untuk berpendapat dan bertanya tidak ada sama sekali lebih
banyak bertanya dan berpendapat pada pertemuan III. Persentase
aktivitas siswa untuk pertemuan III dapat dilihat pada gambar berikut.
Gambar 4.4 Persentase Aktivitas Siswa Pertemuan III

Persentase yang diperoleh dari aktivitas pertemuan III


berdasarkan gambar di atas dapat diketahui bahwa aktivitas siswa yang
paling banyak dilakukan adalah mendengarkan/memperhatikan
penjelasan guru dengan hasil persentase yang diperoleh setelah
ditabulasi yaitu sebesar 35%, untuk aktivitas membaca juga semakin
meningkat dari pertemuan I sampai pertemuan III dengan persentase
yang diperoleh yaitu sebesar 26%. Namun pada aktivitas prilaku yang
tidak relevan meningkat kembali dari pertemuan kedua yaitu mencapai
persentase sebesar 7%. Pada pertemuan ketiga direncanakan guru
menjelaskan materi terlebih dahulu kemudian siswa diminta untuk

44
mengerjakan soal latihan dalam LKS fabel IPA sehingga siswa
mendengarkan/memperhatikan guru supaya dapat mengerjakan soal
dalam LKS fabel IPA.
Persentase yang diperoleh dari pertemuan I sampai pertemuan
III dapat dilihat dari penjelasan di atas bahwa aktivitas yang paling baik
adalah aktivitas pada pertemuan II, hal tersebut karena aktivitas prilaku
yang tidak relevan seperti tidur, bergurau, bernyanyi dll mulai menurun
jika dilihat dari pertemuan pertama sehingga aktivitas yang lain
meningkat. Pada pertemuan III aktivitas prilaku yang tidak relevan
meningkat kembali sehingga aktivitas yang lainnya ada yang menurun.
Namun untuk aktivitas membaca dari pertemuan I sampai pertemuan III
mengalami peningkatan, hal tersebut dapat dikatakan bahwa siswa
sudah mulai senang untuk membaca dan termotivasi untuk membaca
juga untuk belajar. Jadi dapat dikatakan bahwa media LKS fabel IPA
dapat meningkatkan motivasi siswa dalam membaca. Hal ini sejalan
dengan pendapat Suprihatiningrum (2013:320) yang menyatakan bahwa
media mempunyai fungsi motivai yang berarti dapat menumbuhknan
kesadaran siswa untuk lebih giat belajar dan juga berminat untuk
membaca. Menurut Habibi (2012:4) meyatakan sebelum guru
memunculkan minat pada diri siswa, terlebih dahulu guru harus
memunculkan motivasi siswa untuk semangat belajar sehingga siswa
yang telah termotivasi dengan sendirinya ia akan memiliki rasa minat
pada materi yang akan ia pelajari kemudian siswa akan melakukan
sesuatu dan akan tetap mempertahankan aktivitas tersebut dan
menyelesaikannya. Pengunaan media dapat menambah motivasi siswa,
sehingga dapat meningkatkan perhatian siswa terhadap pembelajaran
(Faizi, 2013: 58). Untuk lebih jelasnya melihat perbandingan aktivitas
pertemuan I sampai pertemuan III dapat dilihat pada gambar
perbandingan aktivitas pertemuan I sampai pertemuan III berikut ini.
Gambar 4.5 Aktivitas Siswa Tiap Pembelajaran/Pertemuan

45

Gambar di atas menunjukkan bahwa aktivitas yang mengalami


peningkatan dari tiap pertemuan adalah aktivitas membaca. Persentase
yang diperoleh dari pertemuan I sebesar 21%, pertemuan II sebesar
25% dan pertemuan III memperoleh persentase sebesar 26%.
Peningkatan yang diperoleh dari pertemuan II dan I adalah sebesar 4%,
sedangkan pertemuan III dan pertemuan II sebesar 1 %. Gambar di atas
dapat di uraikan sebagai berkut:
1. Mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru
Aktivitas mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru pada
pertemuan I ke pertemuan II mengalami peningkatan karena pada
pertemuan I siswa lebih banyak mengerjakan tugas yaitu terdapat dua
LKS sehingga guru sedikit menjelaskan materi. Pada pertemuan II tugas
yang diberikan pada siswa sudah dikurangi sehingga guru cukup banyak
untuk menjelaskan materi dan siswa sudah mulai memperhatikan.
Namun pada pertemuan II ke pertemuan III mengalami penurunan
karena pada pertemuan III siswa mengerjakan tugas yang ada dalam
media Fabel IPA dan ditambahi tugas dari guru sendiri. Kalau pada
pertemuan II siswa hanya mengerjakan tugas yang ada dalam media
LKS fabel IPA saja.
2. Mencatat
Aktivitas mencatat mengalami mengalami penurunan dan
peningkatan. Pada pertemuan I ke pertemuan II mengalami penurunan
yang disebabkan pada pertemuan I guru hanya sedikit menjelaskan

46
namun banyak menulis dipapan. Pada pertemuan II guru lebih banyak
menjelaskan dan sedikit menulis dipapan. Sedngkan peningkatan yang
terjadi pada pertemuan II ke pertemuan III disebabkan karena guru
banyak menjelaskan dan sambil menulis di papan sehingga siswa pun
ikut mencatat, karena menurut siswa apa yang ditulis guru di papan itu
adalah penting.
3. Mengemukakan pendapat dan bertanya
Mengemukakan pendapat dan bertanya sama halnya dengan
aktivitas mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru dan juga
mencatat mengalami peningkatan juga mengalami penurunan. Hal
tersebut dikarenakan pada pertemua I kepertemuan siswa siswa sudah
mulai mengalami kesulitan dikarenakan pada pertemuan II ini materi
yang diberikan lebih banyak dan juga lebih sulit untuk dipahami.
Sedangkan dari pertemuan II ke pertemuan III mengalami penurunan
disebabkan karena materinya sedikit bisa dipahami oleh siswa dan
siswa sudah banyak menemukan materi sendiri dengan membaca media
LKS fabel IPA juga membaca buku paket yang dipinjamkan.
4. Membaca
Aktivitas membaca mengalami peningkatan pada tiap
pertemuan, hal ini menunjukkan bahwa siswa sudah mulai bersemangat
untuk belajar dan juga sudah mulai menunjukkan ketertarikannya dalam
membaca.
5. Mengerjakan tugas
Aktivitas mengerjakan tugas mengalami penurunan pada taip
pertemuan. Hal tersebut diakarenakan tugas yang diberikan oleh guru
pada tiap pertemuan dikurangi.
6. Prilaku tidak relevan
Prilaku tidak relevan mengalami penurunan dan peningkatan.
Petemuan II mengalami penurunan, hal ini menunjukkan bahwa siswa
sudah mulai banyak mengerjakan kegiatan positif seperti membaca dan
lain-lain. Pada pertemuan III mengalami peningkatan yang disebabkan
siswa sudah mulai jenuh dan bosan karena pada tiap peertemuan diberi
perlakuan yang sama menggunakan media LKS fabek IPA, dan siswa
pun mengeluh karena selalu ada latihan soal yang harus dikerjakan.
Prilaku yang tidak relevan yang dilakukan siswa selama
pembelajaran merupakan gangguan-gangguan dalam belajar yang

47
memang selalu ada seperti yang dijelaskan oleh Djamarah (2008: 38)
bahwa gangguan dalam belajar memang selalu ada dan tidak mungkin
untuk di kikis habis. Gangguan-gangguan tersebut muncul karena faktor
lingkungan. Lingkungan yang selalu kurang bersahabat selalu
menimbulkan gangguan bagi para pelajar.
d. Analisis Data Hasil Belajar Siswa
Data hasil belajar siswa diperoleh dari lembar tes kognitif untuk
mengetahui hasil belajar siswa sebelum dan sesudah menggunakan
media LKS fabel IPA. Nilai sebelum diberi perlakuan menggunakan
media LKS fabel IPA di ambil dari nilai ulangan sebelumnya,
sedangkan nilai setelah diberi perlakuan menggunakan media LKS fabel
IPA di ambil dari nilai tes yang diberikan guru setelah menggunakan
media LKS fabel IPA. Untuk nilai rata-rata sebelum menggunakan
media LKS fabel IPA yaitu 66 dan nilai rata-rata setelah menggunakan
media LKS fabel IPA yaitu 77.
Pada tiap pertemuan di adakan tes di akhir pembelajaran untuk
mengetahui pemahaman siswa setelah belajar menggunakan media LKS
fabel IPA. Pada pertemuan I tes yang diberikan memperoleh nilai ratarata kelas sebesar 86. Untuk pertemuan II nilai rata-rata kelas yang
diperoleh menurun yaitu 77, namun pada pertemuan III nilai rataratanya meningkat menjadi 92. Untuk mengetahui hasil tes yang
diperoleh siswa dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.4 Hasil Tes Tiap Pertemuan
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Nama
Adinda Alifiyah Nisrina
Asnama
Dewi Zakiya
Eka Roziana
Fatimatus Suhro
Hafsatul Jamila
Halimatus Sadiya
Hendriyani
Hosniya
Ikawati

Pertemuan
1

Pertemuan
2

Pertemuan
3

90
80
90
90
90
50
90
60
70
90

90
100
100
90
80
70
80
40
90
90

100
90
100
100
100
80
80
90
90
90

48
No.
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39

Nama
Khoirin Nisa
Khuludun Nafila
Lilis Sagita
Mariyatul Kibtiya
Mariyatul Qibtiya
Maya Dewi Atika
Mila Fitriya
Najmi Kamili
Nur Khofifah A
Nur Azizah
Nur Khofifah B
Raudatul Hasanah
Rinda Sriayuni
Sadiyah
Silsilia Andika Wardana
Siti Maimona
Siti Nur Alfiah
Sitti Arofa
Sitti Nor Khotijah
Sofiyana
Susi Lastriyani
Syafiqoh Naili Hidayah
Warisatus Syafaah
Wildatul Kholifah
Ulfatul Hasanah
Fina Wafiroh
Anna Soleha
Rofiyatul Hasanah
Yulis Ananda

Pertemuan
1

Pertemuan
2

Pertemuan
3

100
60
90
90
100
100
100
100
100
90
90
80
100
90
100
50
40
70
70
100
90
90
40
60
60
100
50
100
100

60
60
50
50
100
100
100
90
60
90
70
90
100
50
60
70
40
60
100
90
80
100
70
90
50
80
60
100
100

80
70
90
50
100
90
90
80
70
100
70
90
90
80
80
80
60
30
80
90
100
80
60
80
70
90
70
80
90

49
No.
40
41
42

Nama
Nisaatil Mabruroh
Lusi Rohimawati
Hosriyani
Rata-rata

Pertemuan
1

Pertemuan
2

Pertemuan
3

70
30
60

100
20
70

80
30
70

80

77

81

Keterangan :
= Tuntas
= TidakTuntas
Tabel 4.4 memaparkan hasil belajar siswa tiap pertemuan,
dimana pada tabel di atas dapat diketahui bahwa pada pertemuan I nilai
rata-rata kelas yang diperoleh sebesar 80, namun ada siswa yang belum
tuntas sebanyak 11 orang karena nilai yang diperoleh tidak mencapai
KKM yang ditentukan sekolah yaitu 70. Nilai rata-rata kelas yang
diperoleh pada pertemuan II yaitu 77 dan pada pertemuanII siswa yang
tidak tuntas juga banyak yaitu 13 orang. Pertemuan III nilai rata-rata
yang diperoleh yaitu 81, pada pertemuan III juga masih ada siswa yang
belum tuntas namun tidak begitu banyak seperti pertemuan I dan II.
Siswa yang tidak tuntas pada pertemuan III sebanyak 5 orang.
Banyaknya siswa yang tidak tuntas dapat berpengaruh terhadap nilai
rata-rata kelas.
Hasil rata-rata dari pertemuan I ke pertemuan II dikatakan
menurun. Perbandingan persentase hasil belajar siswa dapat diketahui
pada gambar dibawah ini. Siswa yang tidak tuntas belum paham
terhadap materi yang djelaskan oleh guru dan dikarenakan siswa kurang
senang terhadap mata pelajaran tersebut sehingga hasil belajarnya pun
tidak seperti yang diharapkan oleh guru. Hal tersebut sejalan dengan
pendapat Suprihatiningrum (2013: 336) yang mengatakan bahwa
ketuntasan belajar seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor,
salah satunya yaitu dipengaruhi oleh bakat dan minat siswa terhadap
materi pelajaran dan juga dapat dipengaruhi oleh cara pengajaran yang
disampaikan oleh guru. Menurut Maulana (2002: 1) mengatakan bahwa

50
keberhasilan seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik
dari faktor diri siswa atau faktor dari luar diri siswa, seperti penyajian
materi apakah sudah membuat siswa tertarik atau malah sebaliknya
membuat siswa jenuh.
Gambar 4.6 Perbandingan Persentase Hasil Belajar Siswa

Tabel 4.6 sudah jelas bahwa pada pertemuan II siswa yang tidak
tuntas lebih banyak yaitu mencapai 31%. Dan ketuntasan hasil belajar
siswa yang meningkat dapat dilihat pada pertemuan III yang telah
mencapai 88% siswa yang sudah tuntas hasil belajarnya. Peningkatan
hasil belajar dari pertemuan II ke pertemuan III yaitu sebesar 17%,
sedangkan pada pertemuan I ke pertemuan II mengalami penurunan
sebesar 5 %. Penurunan yang dialami di pertemuan II disebabkan
karena materinya yang terlalu banyak dan sulit untuk dipahami
sehingga masih ada siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar.
Sedangkan peningkatan hasil belajar yang dialami di pertemuan III
disebabkan karena materi yang diberikan guru sedikit dan mudah dalam
menjelaskannya sehingga siswa gampang untuk mengingatnya dalam
mengejakan tes. Penjelasan di atas merupakan hasil tes di akhir
pembelajaran.
Hasil belajar yang diperoleh setelah menggunakan media LKS
fabel IPA lebih meningkat hasilnya jika dibandingkan dengan tes
ulangan maateri sebelumnya tanpa menggunakan media LKS fabel IPA.

51
Peningkatan tersebut dapat dilihat pada tabel hasil belajar siswa
sebelum dan setelah menggunakan media LKS fabel IPA dibawah ini.
Tabel 4.5 Hasil Belajar Sebelum dan Setelah menggunakan media LKS fabel
IPA
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24

Nama
Adinda Alifiyah
Nisrina
Asnama
Dewi Zakiya
Eka Roziana
Fatimatus Suhro
Hafsatul Jamila
Halimatus Sadiya
Hendriyani
Hosniya
Ikawati
Khoirin Nisa
Khuludun Nafila
Lilis Sagita
Mariyatul Kibtiya
Mariyatul Qibtiya
Maya Dewi Atika
Mila Fitriya
Najmi Kamili
Nur Khofifah A
Nur Azizah
Nur Khofifah B
Raudatul Hasanah
Rinda Sriayuni
Sadiyah

Sebelum

Sesudah

80

100

56
76
82
55
60
74
67
50
96
67
90
49
74
80
82
81
68
84
75
70
66
51
64

100
90
70
90
60
90
40
80
100
70
30
60
80
100
90
100
90
90
90
90
90
100
70

52
No

Nama

25

Silsilia Andika
Wardana
Siti Maimona
Siti Nur Alfiah
Sitti Arofa
Sitti Nor Khotijah
Sofiyana
Susi Lastriyani
Syafiqoh Naili Hidayah
Warisatus Syafaah
Wildatul Kholifah
Ulfatul Hasanah
Fina Wafiroh
Anna Soleha
Rofiyatul Hasanah
Yulis Ananda
Nisaatil Mabruroh
Lusi Rohimawati
Hosriyani

26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42

Rata-rata

Sebelum

Sesudah

40

40

40
70
54
90
55
70
75
60
60
45
45
45
80
78
78
45
60
66,357142
9

80
70
70
50
80
100
60
80
50
70
80
80
90
80
60
60
80
77,3809523
8

Keterangan :
= Tidak Tuntas
= Tuntas
Hasil belajar yang di peroleh pada tabel 4.5 dapat diketahui nilai
hasil belajar sebelum menggunakan media LKS fabel IPA siswa yang
tidak tuntas lebih banyak dari pada siswa yang tuntas. Kenudian setelah
diberi perlakuan dengan menggunakan media LKS fabel IPA. Maka
nilai yang diperoleh sangat bagus dan siswa yang tuntas lebih banyak
daripada yang tidak tuntas. Siswa yang tuntas setelah menggunakan
media LKS fabel IPA sebanyak 32, sedangkan yang tidak tuntas hanya

53
10 orang. Berbeda dengan sebelum menggunakan media LKS fabel
IPA, siswa yang tidak tuntas sebanyak 22 siswa sedangkan yang tuntas
hanya 20 siswa. Siswa yang tidak tuntas dan yang tuntas sebelum dan
setelah menggunakan LKS fabel IPA berbeda-beda. Hal tersebut
disebabkan karena perkembangan kognitif/pegetahuan siswa berbedabeda. Siswa yang tuntas belajarnya adalah siswa yang sebelumya sudah
belajar sebelumnya, sehingga mereka sudah mempunyai pengalaman
mengenai materi tersebut. Pernyataan tersebut sejalan dengan teori
Suprihatininrum (2013: 25) yang menyatakan bahwa perkembangan
kognitif anak sebagai suatu proses, dimana anak akan aktif membangun
pengetahuan dan pemahamannya melalui pengalaman-pengalaman dan
interaksi mereka dengan lingkungannya. Persentase ketuntasan secara
klasikal dalam kelas tersebut yaitu sebesar 76%, dan dikatakan belum
tuntas, karena menurut Trianto (2010: 241) mengatakan, jika dalam
suatu kelas dikatakan tuntas belajarnya jika dalam kelas tersebut
mencapai nilai 85%. Untuk mengetahui persentase hasil belajar siswa
sebelum dan sesudah menggunakan media LKS fabel dapat dilihat pada
gambar berikut.
Gambar 4.7 Persentase Hasil Belajar Siswa Sebelum dan Sesudah
Menggunakan Media LKS fabel IPA

54
Gambar 4.7 menunjukkan bahwa persentase hasil belajar siswa
lebih meningkat saat menggunakan media LKS fabel IPA dari pada
tanpa menggunakan media LKS fabel IPA. Persentase yang diperoleh
siswa yang tuntas setelah menggunakan media LKS fabel IPA yaitu
mencapai 76% dibanding yang sebelumnya yaitu hanya 48%. Jadi dapat
dikatakan bahwa hasil belajar siswa setelah menggunakan media fabel
IPA lebih meningkat. Peningkatan yang diperoleh yaitu mencapai
persentase sebesar 32%. Hal tersebut dapat dikatakan bahwa siswa lebih
senang belajar jika menggunakn behan ajar yang berbentuk cerita. Jika
dikaitkan dengan potensi dan permasalahan yang ada di MTs AlKarimiyyah yang senang membaca buku cerita dan susah untuk
membaca buku pelajaran, media LKS fabel IPA dapat membantu untuk
mengatasi permasalahan tersebut. Selain siswa membaca cerita, siswa
juga mempelajari materi pelajaran yang diceritakan dalam media LKS
fabel IPA. Hal ini selaras dengan respon siswa dan guru yang merespon
positif terhadap media yang dikembangkan. Respon siswa dan guru
dapat dilihat pada tabel 4.6 dan 4.7. Meskipun hasil belajar siswa
banyak yang tuntas sesudah menggunakan media LKS fabel IPA namun
belum tentu indikator penapaian kompetensi dalam suatu KD dikatakan
tuntas. Setelah dianalisis ternyata ada indikator yang masih belum
tuntas yaitu pada nomor 4 dan 5 dengan indikator pertemuan II, 1)
mengidentifikasi kelompok monera dan protista, 2) menyebutkan
kelompok bakteri yang menguntungkan dan merugikan. Pada
pertemuan II materi yang diberikan memang cukup sulit dipahami oleh
siswa sehingga siswa mengalami kesulitan dalam mengerjakan tes yang
diberikan oleh guru. Masing-masing persentase yang diperoleh pada
indikator yang tidak tuntas yaitu sebesar 63% dan 64%. Untuk indikator
pada pertemuan I dan pertemuan II sudah tuntas karena persentase yang
diperoleh sudah di atas KKM yang ditentukan sekolah. Ketuntasan KD
dapat dilihat dari indikator yang tidak tuntas melalui tabel 4.6 berikut.
Tabel 4.6 Persentase Ketuntasan KD
No.

Indikator Pembelajaran

Persentase
Ketuntasan

1.

Mengidentifikasi tujuan dan manfaat klasifikasi

88%

55
2.
3.
4.
5.
6.
7.

makhluk hidup
Menjelaskan
urutan kelompok (takson)
berdasarkan klasifikasi makhluk hidup
Menuliskan nama ilmiah makhluk hidup
berdasarkan tata nama Binomial Nomenklatur
Mengidentifikasi kelompok monera dan protista
Menyebutkan
kelompok
bakteri
yang
menguntungkan dan merugikan
Mengidentifikasi kelompok jamur atau fungi
Mengidentifikasi bentuk-bentuk jamur

86%
95%
63%
64%
80%
86%

Perbandingan hasil belajar sebelum dan sesudah menggunakan


media LKS fabel IPA dapat di analisis dengan bantuan Software SPSS
16 menggunakan uji t dua sampel berpasangan (paired sample t-test).
Sebelum dilakukan pengujian, data hasil belajar pembelajaran sebelum
dan sesudah menggunakan media LKS fabel IPA di uji normalitasnya
terlebih dahulu, dan hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.7 Output Uji Normalitas Data

Tabel 4.6 menunjukkan bahwa nilai sig. Pada data hasil belajar
sebelum menggunakan media LKS fabel IPA yaitu 0,772>, dimana =
0,05 sehingga dapat diambil keputusan terima H 0, berarti dapat
dikatakan bahwa data terdistribusi normal. Sedangkan data hasil belajar
setelah menggunakan media LKS fabel IPA juga terdistribusi
normalkarena nilai signifikansinya 0,147> dan dapat dilakukan uji
paired sample t test pada kedua data tersebut. Pengujian yang dilakukan

56
bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan rata-rata pada kedua
data tersebut secara signifikan. Hasil output SPSS dapat dilihat pada
tabel 4.7 berikut.
Tabel 4.8 Output Paired Sample t-Test sebelum dan sesudah menggunakan
media LKS fabel IPA

Tabel di atas menunjukkan t hitung = 3,294. Untuk mengetahui ada


atau tidaknya perbedaan rata-rata, maka menggunakan kaidah pengujian
jika thitung> t tabel, maka tolak H0 yang menunjukkan bahwa ada perbedaan
rata-rata hasil belajar sebelum dan sesudah menggunakan media LKS
fabel IPA secara signifikan. Nilai t tabel yang diperoleh dengan df = 41
dan = 0,05, sebesar 1,682 < 3,294. Setelah melihat nilai t hitung dan t tabel
dapat dikatakan bahwa ada perbedaan rata-rata yang signifikan pada
pembelajaran sebelum dan sesudah menggunakan media LKS fabel
IPA. Rata-rata hasil belajar yang diperoleh sebelum menggunakan
media LKS fabel IPA adalah 66,36 dan setelah menggunakan media
LKS fabel IPA adalah 77,38. Dari peningkatan hasil belajar yang terlihat
pada tabel di atas dapat dikatakan bahwa hasil pekerjaan siswa selama
pembelajaran terjadi kemajuan dalam belajar sehingga dapat
mendorong siswa untuk lebih giat dan semangat dalam belajar.
Pernyataan tersebut sependapat dengan teori yang dikemukakan oleh
Suprihatiningrum dalam Sardiman (2013: 38) bahwa semakin
mengetahui grafik hasil belajar meningkat, maka ada motivasi pada diri

57
siswa untuk terus belajar, dengan suatu harapan hasilnya terus
meningkat. Hasil belajar akan menjadi optimal jika ada motivasi.
Semakin tepat motivasi yang diberikan, maka semakin berhasil pula
pelajaran tersebut (Sardiman, 2012: 93)
e. Analisis Data hasil Respon Siswa dan Guru
Media LKS fabel IPA telah diuji cobakan terbatas pada siswa
MTs Al-Karimiyyah kelas VIIB. Media yang dikembangkan
memberikan respon yang baik terhadap siswa untuk lebih semangat
dalam belajar dam mebaca materi pelajaran. Respon siswa terhadap
media LKS fabel IPA dikatakan sangat baik dan menerima media LKS
fabel IPA sebagai bahan ajar yang dapat dibawa kemana-kemana. Hasil
respon terhadap media LKS fabel IPA dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.9 Respon Siswa terhadap media LKS Fabel IPA
No
.
1
2
3
4
5

Pertanyaan
Apakah kalian menyukai pelajaran IPA pada
materi klsifikasi makhluk hidup?
Apakah kalian senang belajar IPA jika
menggunakan media LKS berupa fabel?
Apakah kalian menyukai media LKS berupa
fabel sebagai bahan bacaan atau bahan ajar?
Apakah media LKS berupa fabel yang
diberikan guru dapat memberi manfaat bagi
kalian pada saat belajar?
Apakah kalian lebih paham terhadap materi
setelah menggunakan media LKS berupa
fabelyang telah diberikan guru?
Jumlah
Persentase

Jawaban
3
4

18

12

16

12

11

15

1
4

12

13

8
5

7
4

25
15

61
37

64
39

Tabel 4.6 memaparkan hasil respon siswa terhadap media LKS


fabel IPA yang dikembangkan. Dari tabel tersebut dapat diperoleh
bahwa jumlah jawaban siswa yang memilih sangat setuju sebanyak 39%
Siswa yang menjawab setuju sebesar 37%. Hal ini menunjukkan bahwa
siswa memberikan respon positif dengan dikembangkannya media LKS
fabel IPA. Siswa yang menjawab tidak setuju atau sangat tidak setuju
dengan bahan ajar yang berbentuk cerita seperti media LKS fabel IPA

58
hanya 4%-5%. Siswa yang menjawab sangat tidak setuju dan tidak
setuju dikarenakan siswa memang tidak suka pelajaran IPA dengan
alasan IPA banyak materinya dan juga IPA sulit dipahami. Siswa yang
menjawab setuju dan sangat setuju mempunyai alasan karena media
LKS fabel IPA dapat dipahami, dapat meningkatkan semangat dan
motivasi siswa dalam belajar dan juga dalam membaca. Pernyataan
tersebut sesuai dengan respon guru yang mengatakan bahwa siswa
termotivasi untuk belajar dan membaca dengan menggunakan media
LKS fabel IPA. Hasil yang diperoleh dari respon guru dapat dilihat pada
tabel berikut.
Tabel 4.10 Respon Guru terhadap Media LKS Fabel IPA
No
.
1.
2.
3.
4.
5.

Pertanyaan
Apakah media LKS berupa fabel IPA dapat membantu
siswa memahami materi?
Apakah dengan menggunakan media LKS berupa fabel
IPA dapat meningkatkan hasil belajar siswa?
Apakah dengan menggunakan media LKS berupa fabel
IPA dapat meningkatkan motivasi siswa untuk
membaca?
Apakah Ibu merasa terbantu dalam mengajar dengan
adanya media LKS berupa fabel?
Apakah media LKS berupa fabel merupakan media
yang efektif untuk digunakan dalam pembelajaran
khususnya pelajaran IPA?
Jumlah
Persentase

Jawaban
4
4
5
4
4
21
84

Tabel di atas memaparkan bahwa respon guru terhadap media


LKS fabel IPA memberikan respon yang positif dengan persentase
sebesar 84%. Respon guru sudah terlihat sebelum diberi angket respon
tentang media LKS fabel IPA. Setelah selesai pertemuan I guru
langsung merespon bahwa media LKS fabel IPA yang telah
dikembangkan dapat meningkatkan motivasi siswa dalam membaca dan
belajar, siswa lebih semangat mengikuti pembelajaran dibandingkan

59
dengan sebelum-sebelumnya. Siswa juga mengatakan bahwa lebih
paham saat mengikuti pembelajaran dari sebelum-sebelumnya. Dari
tabel di atas juga dapat dikatakan bahwa media LKS fabel IPA dapat
membantu guru saat mengajar sehingga dapat meningkatkan hasil
belajar siswa. Dapat dilihat hasil belajar siswa pada tabel 4.4 dan tabel
4.5 bahwa hasil belajar siswa meningkat dari sebelum-sebelumnya.
Persentase respon siswa yang menjawab sangat tidak setuju, setuju,
ragu-ragu, setuju dan sangat tidak setuju dapat dilihat melalui gambar
berikut.
Gambar 4.8 Persentase Respon Siswa

Gambar di atas menunjukkan bahwa persentase respon siswa


yang paling banyak adalah menjawab sangat setuju dengan persentase
yang diperoleh yaitu sebesar 39% dan ikuti dengan respon siswa yang
menjawab setuju yaitu sebesar 37%. Sedangkan respon yang paling
sedikit dijawab oleh siswa yaitu sangat tidak setuju dengan persentase
hanya sebesar 5%. Siswa juga menjawab ragu-ragu yang memperoleh
hasil persentase yaitu 15%. Siswa yang menjawab ragu-ragu
dikarenakan siswa takut tidak mengerti pada pembelajaran berikutnya
yang tanpa menggunakan media LKS fabel IPA, sebab tidak selamanya
akan menggunakan media LKS fabel IPA saat pembelajaran. Dari
gambar di atas dapat dikatakan bahwa siswa suka atau senang terhadap
media LKS fabel IPA diliahat dari responnya yang memberikan respon

60
lebih banyak positifnya daripada respon negatif. Respon yang negatif
berarti siswa menjauhi dan menghindari objek atau media yang
diberikan, namun dalam hal ini siswa lenih banyak yang mendekati,
menyukai, menyenangi dan lain-lain seperti yang dijelaskan oleh (Farid
dalam Kusuma dan Aisyah, 2012: 48) bahwa Tanggapan siswa yang
positif mempunyai kecenderungan tindakan untuk mendekati,
menyukai, menyenangi, dan mengharapkan sesuatu dari objek.
Tanggapan siswa yang negatif mempunyai kecenderungan tindakan
untuk menjauhi, menghindari objek tersebut.
3. Revisi Produk
Desain produk yang telah dibuat di uji cobakan terbatas pada
siswa MTs Al-Karimiyyah kelas VIIB. Setelah mengetahui kekurangan
dari produk yang dibuat dengan meminta siswa untuk melingkari kata
atau kalimat yang tidak dimengerti oleh siswa, maka dilakukan
perbaikan dengan mengubah kata atau kalimat yang tidak dimengerti
atau dipahmi oleh siswa. ada beberapa kata yang tidak dipahami oleh
siswa, misalnya pada LKS pertemuan II yang membahas tentang materi
monera dan protista. Dalam LKS tersebut siswa melingkari kata Pusat
Komando, siswa tidak mengerti dengan kata tersebut sehingga dapat
diperbaiki dengan kata yang lebih di mengerti oleh siswa. kata tersebut
diganti dengan kata Pengatur. Perbaikan tersebut dilakukan untuk
memperbaiki media jika ingin dilakukan untuk uji yang lebih luas.

61