Anda di halaman 1dari 39

Komunikasi Radio

Radio AM

Radio FM

Komunikasi Radio
2

Band standar radio siaran moda amplitudo modulation


(AM)) dimulai dari 540 sampai dengan 1600 kHz.
Di Indonesia lebih dikenal dengan gelombang menengah
(medium wave/MW). Band MW ini adalah tempat
mengudaranya stasiun stasiun radio siaran swasta di
Indonesia sebelum banyak yang pindah ke band FM.
Spektrum frekwensi MW tidak tergolong gelombang
pendek. Spektrum gelombang pendek justru dimulai dari
batas akhir alokasi frekwensi standar untuk radio siaran
AM di MW, yaitu 1600 kHz sampai 30000 kHz atau 30
MHz (1000 kHz = 1 MHz).

SISTEM PEMANCAR RADIO FM

Oleh :

Suthami Ariessaputra

Komunikasi Radio
4

Komunikasi radio memiliki tujuan untuk Mengirimkan informasi dari


sumber ke tujuan (dapat berjauhan letaknya) dengan
memanfaatkan media udara sebagai saluran transmisi.
Informasi yang dimaksud disini adalah sinyal suara, percakapan
atau musik.
Sinyal suara tidak dapat langsung dipancarkan karena sinyal suara
bukan gelombang elektromagnetik. Untuk dapat mengirimkan sinyal
suara dengan lebih mudah maka sinyal suara tersebut terlebih
dahulu ditumpangkan pada sinyal radio dengan frekuensi yang
lebih tinggi dari sinyal suara tersebut.
Jika sinyal suara tersebut dirubah menjadi gelombang
elektromagnetik maka dibutuhkan suatu antena untuk
memancarkannya.

Alokasi Spektrum dan perencanaan Pita


5

Spektrum frekuensi radio adalah sumber daya alam yang dapat digunakan untuk
meningkatkan efisiensi dan produktivitas serta dapat meningkatkan kualitas hidup
masyarakat suatu bangsa. Spektrum frekuensi radio digunakan untuk bermacammacam jasa komunikasi radio termasuk diantaranya komunikasi perorangan dan
perusahaan, navigasi radio, komunikasi radio penerbangan dan maritim, penyiaran,
keselamatan dan marabahaya, radio lokasi dan radio amatir (Dephub RI, 2003).
Tabel pita frekuensi radio yang digunakan untuk keperluan penyiaran terestrial
Servis

Band (MHz)

Radio Siaran AM (MW)

0,5625 1,6065

Radio Siaran AM (SW)

5,95 6,2

HF Broadcasting

7,1 7,3
9,5 9,9
11,65 12,0
15,1 15,8

Radio Siaran FM

88 108

TV VHF

174 230

TV UHF

470 806

Sistem Modulasi Analog


6

Modulasi Frekuensi
(FM)

Modulasi Amplitudo
(AM)

Modulasi Phase (PM)

Sistem Pemancar FM
7

Pemancar FM berfungsi untuk merubah satu atau lebih sinyal input yang berupa
frekuensi audio (AF) menjadi gelombang termodulasi dalam sinyal RF (Radio
Frekuensi) yang kemudian diumpankan ke sistem antena untuk dipancarkan.

Blok Diagram Transmitter FM


Pemancar

Studio

Input
Audio

Mixer

Gambar. Diagram blok pemancar FM

PLL

Rangkaian
Penguat

Input Audio
8

Tape, CD/DVD-player, mp3-player, Ipod,


microphone, komputer

Studio
9

Studio
10

Studio
11

Studio
12

Studio
13

Mixer
14

Fungsi dari Mixer adalah menggabungkan berbagai macam input dari


Audio Generator dan pengaturan secara manual Amplitudo dari input
tersebut.
Sesuai dengan namanya, mixer merupakan terminasi berbagai input dari
audio, yaitu Microphone, Tape Recorder, CD/DVD Player, Tunner,
Computer Multimedia dan Line Telephon Hybrid.

Gambar. Mixer

Pemancar
15

PLL FM
Rangkaian Penguat

PLL FM
16

PLL (Phase Locked Loop). Suatu sistem yang


memungkinkan suatu sinyal tertentu mengendalikan
frekuensi sebuah osilator dalam sebuah Lingkar yang
terkunci.
Frekuensi osilator dapat sama besar atau kelipatannya
dari frekuensi sinyal tersebut (selanjutnya disebut
frekuensi-referensi).
Kalau frekuensi sinyal berasal dari sebuah osilator kristal
maka frekuensi yang lainnya dapat dijabarkan
mempunyai stabilitas yang sama dengan frekuensi kristal.
Inilah yang dijadikan dasar dari pesintesis frekuensi atau
Frequency Synthesizer.

PLL FM
17

Kalau frekuensi-referensi mempunyai nilai yang berubah-ubah


maka frekuensi osilator lingkar akan mengikuti perubahan
tersebut.
Prinsip ini digunakan dalam demodulator FM (Frequency
Modulation), FSK (Frequency Shift Keying) dan Tracking Filter.

PLL FM
18

Bagian-bagian dari PLL terdiri dari :

Fixed Osilator sebagai frekuensi-referensi yang biasanya dibangun


menggunakan kristal kuarsa untuk menjamin kestabilannya
VCO (Voltage Control Oscillator) merupakan osilator yang frekuensi
keluarannya terkendali tegangan
LPF (Low Pass Filter). Pada dasarnya bagian ini mengubah ayunan tegangan
yang begitu cepat dari Phase Detektor menjadi tegangan dc terkendali fasa
LPF-Amplifier. Bagian ini memperkuat keluaran LPF yang masih sangat lemah
sampai ke taraf beberapa volt dc hingga mampu mengendalikan VCO
n-Devider atau pembagi n kali. Bagian ini yang membagi
frekuensi keluaran yang dikehendaki dari VCO supaya sama dengan
frekuensi-referensi
Phase Detector. Bagian ini bekerja dengan membandingkan nilai frekuensi
referensi dengan frekuensi dari n-Devider. Keluaran akan 0 volt jika terjadi
kedua frekuensi sama dan bernilai taraf dc tertentu jika kedua frekuensi
tersebut tidak sama

PLL FM
19

Berikut contoh Blok Diagram Aplikatif sebuah PLL Klasik yang


bekerja pada FM-II 100-MHz :

PLL FM
20

Bagian-bagian dari PLL terdiri dari :

Fixed Osilator sebagai frekuensi-referensi yang biasanya dibangun


menggunakan kristal kuarsa untuk menjamin kestabilannya
VCO (Voltage Control Oscillator) merupakan osilator yang frekuensi
keluarannya terkendali tegangan
LPF (Low Pass Filter). Pada dasarnya bagian ini mengubah ayunan tegangan
yang begitu cepat dari Phase Detektor menjadi tegangan dc terkendali fasa
LPF-Amplifier. Bagian ini memperkuat keluaran LPF yang masih sangat lemah
sampai ke taraf beberapa volt dc hingga mampu mengendalikan VCO
n-Devider atau pembagi n kali. Bagian ini yang membagi
frekuensi keluaran yang dikehendaki dari VCO supaya sama dengan
frekuensi-referensi
Phase Detector. Bagian ini bekerja dengan membandingkan nilai frekuensi
referensi dengan frekuensi dari n-Devider. Keluaran akan 0 volt jika terjadi
kedua frekuensi sama dan bernilai taraf dc tertentu jika kedua frekuensi
tersebut tidak sama

PLL FM
21

Osilator
Pada PLL terdapat Osilator.
Osilator adalah Inti dari sebuah pemancar.
Osilator berfungsi untuk menghasilkan gelombang
sinus yang dipakai sebagai sinyal pembawa.
Sinyal informasi kemudian ditumpangkan pada sinyal
pembawa dengan proses modulasi.

PLL FM
22

Penguat Awal (Penyangga)


Rangkaian Penguat Kecil
Semua jenis osilator membutuhkan penyangga.
Penyangga berfungsi untuk menstabilkan frekuensi
dan/atau amplitudo osilator akibat dari
pembebanan tingkat selanjutnya.
Biasanya penyangga terdiri dari 1 atau 2 tingkat
penguat transistor yang dibias sebagai kelas A.

PLL FM
23

Contoh : Rangkaian PLL

Penguat Akhir
24

Transistor dengan daya keluaran besar biasanya


membutuhkan daya masukan yang besar pula.
Karena itu penguat dengan daya keluaran besar
biasanya dibuat beberapa tingkat agar
didapatkan daya yang cukup untuk menggerakkan
transistor tingkat akhir.

Penguat Akhir
25

Gambar . Penguat RF

Antena
26

Suatu struktur transmisi antara ruang bebas dan peralatan


pengarah (guiding divice), guiding divice bisa berupa
saluran koaksial atau waveguide.
Suatu peralatan untuk menggandengkan atau mengkopel
energi elektromagnetik dari saluran transmisi ke ruang
bebas.
Suatu peralatan untuk penerimaan dan pemancaran
energi gelombang elektromagnetik.

Fungsi Antena
27

Untuk meradiasikan dan menerima energi elektromagnetik atau


gelombang radio.
Untuk merubah suatu guide wave ke free space elektromagnetik
wave.
Untuk mengarahkan atau mengoptimasikan energi
elektromagnetik yang diradiasikan ke arah tertentu yang
diinginkan dan menekan radiasi atau energi pada arah-arah lain
yang tak diinginkan
Sebagai impedansi matching device untuk menyesuaikan saluran
transmisi ke impedansi karakteristik ruang bebas.

Antena
28

Beberapa Spesifikasi dari antenna yang harus diperhatikan antara lain :

Frekuensi Kerja

Pola Radiasi

Power Input

Bandwidth

Impedansi

VSWR

Polarisasi

Berat dari antenna dan bahan yang digunakan.

Biasanya Antena FM disusun dalam bentuk Array

Antena
29

Beberapa parameter-parameter yang perlu diperhatikan


pada antena adalah :

1.

Pola radiasi
Pola radiasi suatu antena adalah pernyataan grafis yang
menggambarkan sifat radiasi suatu antena (pada medan
jauh) sebagai fungsi arah. Pola radiasi ini berbentuk tiga
dimensi atau pola ruang. Pola ini dibuat untuk mengukur kuat
medan pada setiap titik permukaan bola dengan antena
sebagai pusatnya.

Antena
30

Berdasarkan arah pancarannya Pola radiasi dapat dibedakan menjadi 2 yaitu:

a) Directional
Pola radiasi directional adalah pola radiasi dimana arah pancarannya satu arah. Berdasarkan
bentuk pola radiasinya, antena dapat diklasifikasikan dalam bentuk broadside, endfire dan
Intermediate.

b) Omnidirectional
Pola radiasi omnidirectional adalah suatu antena yang arah pancarannya ke segala arah.

Antena
31
2.

Nilai SWR
SWR atau yang sering disebut VSWR (Voltage Standing Wave Ratio) didefinisikan sebagai
perbandingan antara daya keluar (forward power) dengan daya kembali (reflected power).
Nilai SWR yang diperoleh diusahakan antara 1-2, supaya daya yang dipantulkan sedikit.
Hal ini berdasarkan koefisien pantul

3.

Nilai Gain
Gain antena dapat didefinisikan sebagai perbandingan intensitas maksimum antena yang
diukur dengan intensitas radiasi suatu antena pembanding atau antena referensi.

Antena Telex
32

5/8

5/8

Teledata
33

Pada sistem penyiaran FM stereo di pita frekuensi


88~108 MHz, tersedia fasilitas pengiriman data
untuk siaran teledata yang menempati sebagian kecil
pita bagian atas dari seluruh pita siaran.

Teledata
34

Fasilitas penyiaran teledata disediakan oleh setiap


perangkat pemancar FM stereo yang standar.
Ada dua jenis sistem pengiriman teledata yang saat
ini
digunakan : sistem RDS (radio data system) dan
sistem telerate yang menggunakan SCA (subsidiary
communications authorization.

Teledata
35

Sistem RDS (radio data system)


Sistem RDS berasal dari Inggris (tepatnya dari
European Broadcasting Union, EBU).
RDS menggunakan sub-frekuensi pembawa sejauh
57 kHz dari frekuensi pusat dengan sistem modulasi
amplitudo jenis DSBSC (double sideband suppressed
carrier) dan lebar pita sebesar + 2 kHz setelah
terlebih dulu dimodulasikan secara BPSK (bi-phase
shift keying)

Teledata
36

SCA (subsidiary communications authorization


SCA menggunakan sub-frekuensi pembawa sejauh 67
kHz dari frekuensi pusat dengan sistem modulasi
frekuensi (FM) setelah terlebih dulu dimodulasikan
secara FSK (frequency shift keying) dan deviasi
maksimum sebesar 7,5 kHz.
Karena menggunakan modulasi frekuensi, maka
jelaslah bahwa sistem SCA lebih kebal terhadap derau
dibanding sistem RDS.
Keunggulan lainnya adalah laju pengiriman data yang
lebih tinggi (karena lebar pitanya lebih besar) dan
untai penerima yang lebih sederhana.

Teledata
37

Gambar Spektrum Frekuensi Broadcast FM


Keterangan :
L+R = jumlah informasi suara kanal kiri dan kanan
L-R = selisih informasi suara kanal kiri dan kanan
pilot = sinyal pandu penanda siaran stereo
RDS = radio data system
SCA = subsidiary communications authorization

Teledata
38

Pengiriman data teks dilakukan di luar spektrum frekuensi


suara di antara keduanya. Pengiriman dilakukan dengan
sistem modulasi bertingkat :

Stereo (L+R dan L-R yang menempati spektrum dari 0 hingga 53


kHz), sehingga tidak timbul interferensi FSK dan FM.
Modulasi FSK dilakukan pada tahap awal, yakni memodulasikan
data-data digital (berupa informasi "1" dan "0" dari data
digital teks informasi) menjadi sinyal audio DTMF (dual tone
multiplefrequency).
Sinyal ini kemudian dimodulasikan kembali secara FM pada
frekuensi pembawa 67 kHz dengan lebar deviasi maksimum
sebesar 7,5 kHz.
Sinyal SCAFM ini pada akhirnya dijumlahkan dengan sinyal
multipleks FM stereo konvensional.

39

TERIMA
KASIH