Anda di halaman 1dari 3

Cinta di Ufuk Barat...

..Dan cinta tidak selalu


hadir di ufuk timur..
Kala itu mentari
bersinar dengan
semangatnya di ufuk timur,
memancarkan sinarnya yang
begitu hangat, kuat dan
lembut. Tak ayal
membangunkan burung kecil
yang dengan lembut
bernyanyi indah sangat
merdu, membisikan katakata yang menyejukkan hati.
Ditengah lemahnya jiwa sang
alam menunjukkan sisa
baiknya pagi itu. Terasa sekali butiran embun menjamah raga,
terasa sekali hembusannya mengalir dalam paru.
Sang Agung begitu sempurna memberikan hadiah ini
untuk karyaNya.

Ufuk timur tidak pernah sekalipun keberatan


dengan hadirnya mentari di sudut itu, beliau selalu
memberikan sudut yang terbaik bagi mentari
melakukan pahalanya. Tak lagi belia usia yang
dicapainya, tak lagi besar dayanya, hanya ufuk barat
yang
setianya
menunggunya.
Sinarnya
menyenandungkan kesejukan, teriknya menggerakan
raga dan terbenamnya menggambarkan jerih.
Tak ada satupun karya Sang Agung mengetahui
lintasannya,
hanya
ufuk
barat
yang
setia

menunggunya. Tidak mudah lintasannya, arungan yang


dilaluinya tak pelak dari aral untuk dihadapinya.
Langit biru nan indah dihiasi awan pun kadang
membelakanginya,
bertolak
untuk
menghalang
cahyanya. Menyerah bukan kata yang ada dalam
dirinya, menyadari dan tahu cahyanya adalah hidup.
Di bawah cahyanya karyaNya berasmara, berjanji
untuk hidup dalam gubuk jerih, seakan tahu bahwa
besok sang mentari akan datang kembali untuk
menyempurnakan kata selamanya yang dijanjikan.
Ya, sang Agung menganugrahi lagi karyaNya
dengan hal indah, cinta. Memadukan rasa yang begitu
banyak dalam jiwa, begitu rumit untuk dipahami indra
dan hadiah yang terbaik untuk dirasa.
Menapaki
lintasan
perjalanan
merupakan
kesempatan untuk menemuinya, bertemu untuk
menyelarasakan langkah, menyelaraskan janji untuk
membangun sebuah bahtera yang kokoh.
Aku menamakannya dengan anugerah, ya! rasa
yang pada saat bersamaan dapat kita rasakan. Tak jauh
anganku merentang semesta, tak harus menantang
Sang Kuasa yang agung. Dihadirkannya sesosok
kesempatan untukku jiwa ini pun kembali sejuk. Asaku
luber pada setiap sosok kesempatan anugerah yang
hadir.

Perjalanan yang aku lalui tak seorang pun mampu


memahami, hanya sesosok anugerah yang kuyakini
menungguku di sana. Tidak mudah lintasanku, arungan
yang aku lalui tak pelak dari aral untuk ku hadapi.

Serupa hal dengan mentari, didalam letihnya


mengarungi hari, aku terus berjalan.
Aku tahu, cinta yang aku sebut anugerah tidak
selalu hadir di ufuk timur. Aku menemukannya di ufuk
barat. Sesosok anugerah yang aku temukan dan yang
telah aku namai dengan cinta.
Beradu hati saling mencinta, beradu hati saling
mengasihi, beradu hati untuk menjaga, cinta lebih dari
rasa.
Tak lagi belia usia mentari, tak lagi besar dayanya,
hanya ufuk barat yang setianya menunggunya.
Sinarnya
menyenandungkan
kesejukan,
teriknya
menggerakan raga dan terbenamnya menggambarkan
jerih. Dan mentari menambatkannya di ufuk barat.. .