Anda di halaman 1dari 57

MAKALAH SISTEM PENCERNAAN

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas terstruktur dalam mata kuliah
TUTOR
Apendisitis

Disusun Oleh : Kelompok 4


1.
2.
3.
4.
5.
6.

ANNISA FEBRIANI PUTRI


DIANA ZULHIJAH
ELSA MAYORI
KEZZIA PUTRI WAZANE
NIA NURHAYATI
NOVI FEBRIANI
7.

8. MUTIAWATI
9. RAHMAD ALHAMDA
10. RAHMI DAFAT MAYENI
11. RINI SUNDARI
12. WITRI ANWAR
13. YULITA AYU PURNAMA
SARI

14. Dosen Pembimbing :


15. Ns. Nuraini, S.Kep
16. PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
17. SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
(STIKES)
18.

YARSI BUKITTINGGI SUMATERA BARAT


19. TA : 2015 / 2016

20.KATA PENGANTAR
21.
22.

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, yang telah

melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga pemakalah dapat


menyelesaikan penyusunan makalah

yang berjudul Apendisitis.

Penulisan makalah ini adalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan
untuk menyelesaikan tugas TUTOR.
23.

Dalam penulisan makalah ini, penulis merasa masih banyak

kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi,


mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan
saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan
pembuatan makalah ini.
24.

Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan

pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi penulis


sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai, Amiin.
25.
26.

Bukittinggi,

Mei 2016,
27.

28.
29.

enulis
30.

31.DAFTAR ISI
32.
33. KATA PENGANTAR ...........................

34. DAFTAR ISI..........................................

ii

35. BAB 1 PENDAHULUAN....................

Latar Belakang .............................................................................


Rumusan Masalah.........................................................................
Tujuan Penulisan...........................................................................
Metode Penulisan..........................................................................

1
3
3
4

36. BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA...........

2.1 Anatomi dan Fisiologi Apendiks...................................................


A. Anatomi Apendiks.................................................................
B. Fisiologi Apendiks.................................................................

5
5
18

37. BAB 3 PEMBAHASAN.......................

28

3.1 Apendisitis...................................................................................

28

38. BAB 4 ASKEP APENDISITIS..............

43

39. BAB 5 PENUTUP................................

56

5.1.Kesimpulan..................................................................................
5.2.Saran ...........................................................................................

56
56

40. DAFTAR PUSTAKA............................

57

1.1
1.2
1.3
1.4

41.BAB I
42.PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
43.
Apendisitis atau radang apendiks merupakan kasus infeksi
intra abdominal yang sering dijumpai pada anak. Di Amerika 60.000-80.000
kasus apendisitis didiagnosa per tahun, rata-rata usia anak yang mengalami
apendisitis adalah 10 tahun. Di Amerika Serikat angka kematian akibat
apendisitis 0.2-0.8% (Santacroce & Craig, 2006). Di Indonesia Apendisitis
menjadi penyakit terbanyak diderita dengan urutan keempat tahun 2006
setelah dyspepsia, gastritis dan duodenitis (DepKes RI, 2006). Kelompok usia
yang umumnya mengalami apendisitis yaitu pada usia 10 30 tahun. Satu
dari 15 orang pernah mengalami apendisitis dalam hidupnya (Sisk, 2004).
44.

Apendisitis lebih sering terjadi di negara-negara maju, pada

masyarakat barat. (Sulu, Gunerhan, Ozturk & Arslan, 2010). Sebuah hasil
penelitian

menunjukkan

masyarakat

urban

Afrika

Selatan

yang

mengkonsumsi makanan rendah serat daripada orang Caucasian, insiden


apendisitis terjadi lebih rendah pada orang Caucasian (Carr, 2000). Urbanisasi
mempengaruhi transisi demografi dan terjadi perubahan pola makan dalam
masyarakat seiring dengan peningkatan penghasilan yaitu konsumsi tinggi
lemak dan rendah serat (Sjamsuhidajat & Jong, 2005).
45.

Apendisitis dapat disebabkan oleh gaya hidup dan kebiasaan

sehari-hari yang tidak sehat seperti kurangnya mengkonsumsi makanan


berserat dalam menu sehari-hari. Makanan rendah serat memicu terbentuknya
fecalith yang dapat menyebabkan obstruksi pada lumen appendiks (Marianne,
Susan & Loren, 2007). Apendisitis dapat disebabkan oleh penyebab lainnya
antara lain; hyperplasia jaringan limfoid, infeksi virus, parasit Enterobius
vermicularis yang dapat menyumbat lumen appendiks (Hockenberry &
Wilson, 2007). Gejala klasik yang terjadi pada anak yang menderita
apendisitis antara lain nyeri periumbilikal, mual, muntah, demam, dan nyeri

tekan pada kuadaran kanan bawah perut, (Marianne, Susan & Loren, 2007).
Beberapa tanda nyeri yang terjadi pada kasus apendisitis dapat diketahui
melalui beberapa tanda nyeri antara lain; Rovsings sign, Psoas sign, dan
Jump Sign, (Lynn, Cynthia & Jeffery, 2002).
46.

Peradangan akut pada apendiks memerlukan tindakan

pembedahan segera untuk mencegah terjadinya kompilkasi berbahaya


(Sjamsuhidajat

&

Jong,

2005).

Apendiktomi

merupakan

tindakan

pembedahan untuk mengangkat apendiks dilakukan segera mungkin untuk


mengurangi risiko perforasi (Brunner & Suddarth, 2001). Apendisitis yang
tidak tertangani segera maka dapat terjadi perforasi dan diperlukan tindakan
operasi laparatomi. Tindakan pasca bedah untuk mengatasi masalah
apendisitis tentunya dapat menimbulkan masalah keperawatan lainnya.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep penyakit Apendisitis?
2. Bagaimana penatalaksanaan keperawatan pada pasien dengan kasus
penyakit Apendisitis?
3. Bagaimana Asuhan keperawatan pada pasien dengan kasus penyakit
Apendisitis?
47.
1.3 Tujuan Penulisan
48.
Tujuan umum mahasiswa mampu memahami tentang konsep
penyakit Apendisitis.
49. Tujuan khusus :
1. Mampu menjelaskan pengertian penyakit Apendisitis
2. Mampu menjelaskan jenis-jenis Apendisitis
3. Mampu menjelaskan penyebab penyakit Apendisitis
4. Mampu menjelaskan perjalanan penyakit Apendisitis
5. Mampu menjelaskan tanda dan gejala penyakit Apendisitis
6. Mampu menjabarkan komplikasi penyakit Apendisitis
7. Mampu menjelaskan pemeriksaan penunjang penyakit Apendisitis
8. Mampu menjelaskan penatalaksanaan dari peyakit Apendisitis
9. Mampu melakukan pengkajian pada klien yang mengalami penyakit
Apendisitis
10. Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada klien yang
mengalami Apendisitis
11. Mampu membuat rencana tindakan asuhan keperawatan pada klien
yang mengalami penyakit Apendisitis

50.
1.4 Metode Penulisan
51.
Metode penulisan yang digunakan adalah : Studi Kepustakaan
yaitu dengan mempelajari berbagai sumber berupa buku-buku yang
membahas tentang penyakit Apendisitis yang sesuai dengan judul karya tulis
ini, dan juga mencari sumber dari internet.
52.

53.BAB II
54.TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi dan Fisiologi Apendiks
2.1.1.
Anatomi Apendiks
55. Saluran pencernaan (traktus digestivus) pada dasarnya adalah
suatu saluran (tabung) dengan panjang sekitar 30 kaki (9m). yang
berjalan melalui bagian tengah tubuh dari mulut sampai ke anus
(sembilan meter adalah panjang saluran pencernaan pada mayat;
panjangnya pada manusia hidup sekitar separuhnya karena kontraksi
terus menerus dinding otot saluran). Saluran pencernaan mencakup
organ_organ berikut: mulut; faring; esophagus; lambung; usus halus;
(terdiri dari duodenum, jejunum, dan ileum); usus besar (terdiri dari
sekum, apendiks, kolon dan rectum); dan anus (Lauralee Sherwood,
2001).
56. Apendiks merupakan organ berbentuk tabung, panjangnya
kira-kira 10 cm (kisaran 3-15 cm), dan berpangkal di sekum.
Lumennya sempit di bagian proksimal dan melebar di bagian distal.
Namun demikian, pada bayi, apendiks berbentuk kerucut, lebar pada
pangkalnya dan menyempit pada ujungnya. Keadaan ini mungkin
menjadi sebab rendahnya insiden apendisitis pada usia itu. Pada 65%
kasus,

apendiks

terletak

intraperitoneal.

Kedudukan

itu

memungkinkan apendiks bergerak dan ruang geraknya bergantung


pada panjang mesoapendiks penggantungnya. Pada kasus selebihnya,
apendiks terletak retroperitoneal, yaitu di belakang sekum, di belakang
kolon asendens, atau di tepi lateral kolon asendens. Gejala klinis
apendisitis ditentukan oleh letak apendiks.
57. Persarafan parasimpatis berasal dari cabang n.vagus yang
mengikuti a.mesenterika superior dan a.apendikularis, sedangkan

persarafan simpatis berasal dari n.torakalis X. oleh karena itu, nyeri


visceral pada apendisitis bermula di sekitar umbilikus. Pendarahan
apendiks berasal dari a.apendikularis yang merupakan arteri tanpa
kolateral. Jika arteri in tersumbat, misalnya karena trombosis pada
infeksi, apendiks akan mengalami gangren(Wim De Jong,2004).

58.

59.
2.1.2.

Fisiologi Apendiks
60. Apendiks menghasilkan lendir 1-2ml per hari. Lendir itu

normalnya dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke


sekum. Hambatan aliran lendir di muara apendiks tampaknya berperan
pada pathogenesis apendisitis(Wim De Jong,2004).
61. Immunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (gut
associated lymphoid tissue) yang terdapat di sepanjang saluran cerna
termasuk apendiks , ialah IgA. Imunoglobulin itu sangat efektif
sebagai pelindung terhadap infeksi. Namun demikian, pengangkatan

apendik tidak memengaruhi system imun tubuh karena jumlah


jaringan limf di sini kecil sekali jika dibandingkan dengan jumlahnya
di saluran cerna dan di seluruh tubuh(Wim De Jong,2004).
62.

63.BAB III
64.PEMBAHASAN
3.1 Apendisitis
A. Defenisi Apendisitis
65. Apendisitis merupakan peradangan pada appendiks dan
menjadi penyebab umum terjadinya tindakan emergency bedah
abdomen pada anak (Hockenberry & Wilson, 2008).
66. Definisi lain Apendisitis merupakan peradangan pada
appendiks, sebuah kantung buntu yang berhubungan dengan bagian
akhir secum yang umumnya disebabkan oleh obstruksi pada lumen
appendiks (Luxner, 2005).
67. Jadi dapat disimpulkan apendisitis merupakan peradangan
yang terjadi pada appendiks (kantung buntu yang berhubungan dengan
akhir secum) yang disebabkan oleh obstruksi pada lumen appendiks.
68.
B. Etiologi
69. Apendisitis akut merupakan infeksi bakteria. Berbagai hal
berperan sebagai factor pencetusnya. Sumbatan lumen apendiks
merupakan faktor yang diajukan sebagai factor pencetus disamping
hyperplasia jaringan limf, fekalit, tumor apendiks, dan cacing askaris
dapat pula menyebabkan sumbatan.
70. Penyebab yang lain yang diduga dapat menyebabkan
apendisitis ialah erosi mukosa apendiks karena parasit seperti
E.histolytica. Namun menurut E. Oswari, kuman yang sering ditemukan
dalam apendiks yang meradang adalah Escherichia coli dan
Streptococcus (E. Oswari, 2000).
71. Para ahli menduga timbulnya apendisitis ada hubungannya
dengan gaya hidup seseorang, kebiasaan makan dan pola hidup ayang
tidak teratur dengan badaniah yang bekerja keras. Penelitian
epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan makanan rendah
serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis.
konstipasi akan menaikkan tekanan intrasekal, yang berakibat
timbulnya

sumbatan

fungsional

apendiks

dan

meningkatnya

pertumbuhan

kuman

flora

kolon

biasa.

Semuanya

ini

akan

mempermudah timbulnya apendisitis akut.


72.
C. Patofisiologi
73. Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen
apendiks oleh hiperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur
karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya, atau neoplasma.
Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa
mengalami bendungan. Semakin lama mucus tersebut semakin banyak,
namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga
menyebabkan

peningkatan

tekanan

intralumen.

Tekanan

yang

meningkat tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan


edema, diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi
apendisitis akut lokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium.
74. Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus
meningkat. Hal tersebut akan menyebkan obstruksi vena, edema
bertambah, dan bakteri akan menembus dinding. Peradangan yang
timbul

meluas

dan

mengenai

peritoneum

setempat

sehingga

menimbulkan nyeri didaerah kanan bawah. Keadaan ini disebut


apendisitis supuratif akut. Bila kemudian aliran arteri terganggu akan
terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan gangren. Stadium
ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. Bila dinding yang telah
rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis perforasi.
75. Bila semua proses diatas berjalan lambat, omentum dan usus
yang berdekatan akan bergerak kearah apendiks hingga timbul suatu
massa lokal yang disebut infiltrate apendikularis. Peradangan pada
apendiks tersebut dapat menjadi abses atau menghilang. Pada anakanak, kerena omentum lebih pendek dan apendiks lebih panjang, maka
dinding apendiks lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan daya
tahan tubuh yang masih kurang sehingga memudahkan terjadinya
perforasi. Sedangkan pada orang tua, perforasi mudah terjadi karena
telah ada gangguan pembuluh darah (Mansjoer, 2000).
76.
D. Klasifikasi Apendisitis

77. Klasifikasi apendisitis terbagi menjadi dua yaitu apendisitis


akut dan kronis (Sjamsuhidayat & Jong, 2005).
1. Apendisitis Akut
78.
Peradangan pada appendiks dengan gejala khas
yang memberikan tanda setempat. Gejala apendisitis akut antara
lain nyeri samar-samar dan tumpul yang merupakan nyeri visceral
di daerah epigastrium di sekitar umbilicus.
79.
Keluhan ini disertai rasa mual muntah dan
penurunan nafsu makan. Dalam beberapa jam nyeri akan berpindah
ke titik McBurney. Pada titik ini nyeri yang dirasakan lebih tajam
dan lebih jelas letaknya sehingga merupakan nyeri somatic
setempat (Sjamsuhidayat, 2005).
80.
Nyeri tekan dan nyeri lepas disertai rigiditas pada
titik McBurney sensitive untuk apendisitis akut. Komplikasi dari
apendisitis akut yang paling sering terjadi adalah perforasi.
Perforasi dari appendiks dapat menimbulkan abses periapendisitis
yaitu terkumpulnya pus yang terinfeksi bakteri. Appendiks menjadi
terinflamasi, bias terinfeksi dengan bakteri, dan bisa dipenuhi pus
hingga pecah, jika appendiks tidak diangkat tepat waktu.
81.
Pada apendisitis perforasi isi pus yang di dalam
appendiks dapat ke luar ke rongga peritoneum. Gejala dari
apendisitis perforasi mirip dengan gejala apendisitis akut biasa,
namun keluarnya pus dari lubang appendiks menyebabkan nyeri
yang lebih saat mencapai rongga perut (Lee, 2009).
2. Apendisitis Kronis
82.
Diagnosis apendisitis kronik baru dapat ditegakkan
jika ditemukan 3 hal yaitu; pertama, pasien memiliki riwayat nyeri
pada kuadran kanan bawah abdomen selama paling sedikit 3
minggu tanpa alternative diagndosis lain. Kedua, setelah dilakukan
appendiktomi gejala yang dialami pasien akan hilang dan yang
ketiga, secara histopatologik gejalanya dibuktikan sebagai akibat
dari inflamasi kronis yang aktif pada dinding appendiks atau
fibrosis pada appendiks, (Santacroce & Craig, 2006).
83.
Gejala yang dialami oleh pasien apendisitis kronis
tidak jelas dan progresifnya lambat. Terkadang pasien mengeluh

merasakan nyeri pada kuadran kanan bawah yang intermiten atau


persisten selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan.
84.
E. Manifestasi Klinis
85. Apendisitis akut sering tampil dengan gejala yang khas yang
didasari oleh radang mendadak umbai cacing yang memberikan tanda
setempat. nyeri kuadran bawah terasa dan biasanya disertai oleh demam
ringan, mual, muntah dan hilangnya nafsu makan.
86. Pada apendiks yang terinflamasi, nyeri tekan dapat dirasakan
pada kuadran kanan bawah pada titik Mc.Burney yang berada antara
umbilikus dan spinalis iliaka superior anterior. Derajat nyeri tekan,
spasme otot dan apakah terdapat konstipasi atau diare tidak tergantung
pada beratnya infeksi dan lokasi apendiks.
87. Bila apendiks melingkar dibelakang sekum, nyeri dan nyeri
tekan terasa didaerah lumbal. Bila ujungnya ada pada pelvis, tandatanda ini dapat diketahui hanya pada pemeriksaan rektal. nyeri pada
defekasi menunjukkan ujung apendiks berada dekat rektum. nyeri pada
saat berkemih menunjukkan bahwa ujung apendiks dekat dengan
kandung kemih atau ureter. Adanya kekakuan pada bagian bawah otot
rektus kanan dapat terjadi. Tanda rovsing dapat timbul dengan
melakukan palpasi kuadran bawah kiri yang secara paradoksial
menyebabkan nyeri yang terasa dikuadran kanan bawah. Apabila
apendiks telah ruptur, nyeri menjadi menyebar.
88. Distensi abdomen terjadi akibat ileus paralitik dan kondisi
pasien memburuk. Pada pasien lansia, tanda dan gejala apendisitis
dapat sangat bervariasi. Tanda-tanda tersebut dapat sangat meragukan,
menunjukkan obstruksi usus atau proses penyakit lainnya. Pasien
mungkin tidak mengalami gejala sampai ia mengalami ruptur apendiks.
Insidens perforasi pada apendiks lebih tinggi pada lansia karena banyak
dari pasien-pasien ini mencari bantuan perawatan kesehatan tidak
secepat pasien-pasien yang lebih muda (Smeltzer C. Suzanne, 2002).
89.
F. Penatalaksanaan
1. Non bedah (non surgical

10

90. Penatalaksanaan ini dapat berupa :


a. Batasi diet dengan makan sedikit dan sering (4-6 kali perhari)
b. Minum cairan adekuat pada saat makan untuk membantu
proses fase makanan
c. Makan perlahan dan mengunyah sempurna untuk menambah
saliva pada makanan
d. Hindari makan pedas, berlemak, alkohol, kopi, coklat, dan jus
jeruk
e. Hindari makan dan minum 3 jam sebelum istirahat untuk
mencegah masalah refluks nonturnal
f. Tinggikan kepala tidur 6-8 inchi untuk mencegah refluks
nonturnal
g. Turunkan berat badan bila kegemukan untuk menurunkan
gradient tekanan gastro esophagus
h. Hindari tembakan, salisilat, dan fenibutazon yang dapat
memperberat esofagistis
2. Pembedahan
a. Sebelum operasi :
1. Observasi : dalam 8-12 jam setelah timbulnya keluhan,
tanda dan gejala apendisitis seringkali belum jelas. Dalam
keadaan ini observasi ketat perlu dilakukan. Pasien
diminta melakukan tirah baring dan dipuasakan. Laksatif
tidak boleh diberikan bila dicurigai adanya apendisitis
ataupun bentuk peritonitis lainnya. Pemeriksaan abdomen
dan rektal serta pemeriksaan darah (leukosit dan hitung
jenis) diulang secara periodik. Foto abdomen dan toraks
tegak dilakukan untuk mencari kemungkinan adanya

11

penyulit

lain.

Pada

kebanyakan

kasus,

diagnosis

ditegakkan dengan lokalisasi nyeri di daerah kanan bawah


dalam 12 jam setelah timbulnya keluhan.
2. Antibiotik : ampicillin, gentamisin, klindamicin
b. Tindakan operatif : Operasi Appendiktomi
91. Terapi yang standar adalah pembedahan dini.
Apendektomi

(operasi

pengangkatan

usus

buntuuntuk

mengobati apendisitis) dilakukan secepat mungkin untuk


mengurangi risiko perforasi. Metodanya insisi abdominal
bawah di bawah anestesi umum atau spinal. Pada kasus ringan
atau bila pembedahan dikontraindikasikan, perbaikan dapat
dicapai dengan pemberian cairan IV dan antibiotik, namun
pemantauan yang cermat adanya deteriorisasi atau tanda-tanda
perforasi sangatlah penting. Analgesik dapat diberikan setelah
diagnosa ditegakan. Massa yang terfiksasi menunjukkan
pembentukan abses akibat perforasi yang dirapatkan kembali
dan pengobatan yang tepat adalah pengobatan konservativ dan
menunda operasi. Perforasi menyebabkan angka kematian
yang bermakna dan resolusi dari abses apendiks mungkin
memerlukan waktu beberapa minggu.
92. Penatalaksanaan yang lain adalah pengangkatan
apendiks secara bedah. Apabila apendiks pecah sebelum
tindakan bedah, diperlukan pemberian antibiotik untuk
mengurangi risiko peritonitis (peradangan yang biasanya
disebabkan

oleh

infeksi

pada

selaput

rongga

perut

(peritoneum) dan sepsis (kondisi medis serius di mana terjadi


peradangan di seluruh tubuh yang disebabkan oleh infeksi).
93.
c. Tindakan post operatif:
94. Satu hari pasca bedah klien dianjurkan untuk duduk
tegak di tempat tidur selama 2 x 30 menit, hari berikutnya
makanan lunak dan berdiri tegak di luar kamar, hari ketujuh
luka jahitan diangkat, klien pulang.
95.
G. Pemeriksaan Diagnostik
a.Anamnesis
12

96.

Pada saat dilakukan anamnesa, biasanya keluhan utama yang

dialami klien yaitu nyeri di sekitar epigastrium menjalar ke perut


kanan bawah, maupun timbul keluhan nyeri perut kanan bawah
mungkin beberapa jam kemudian setelah nyeri di pusat atau di
epigastrium dirasakan dalam beberapa waktu lalu. Sifat keluhan
nyeri dirasakan terus-menerus, dapat hilang atau timbul nyeri
dalam waktu yang lama. Keluhan yang menyertai biasanya klien
mengeluh rasa mual dan muntah, panas. Riwayat kesehatan masa
lalu biasanya berhubungan dengan masalah kesehatan klien
sekarang. Klien yang mengalami apendisitis biasanya memiliki
kebiasaan pola makan makanan yang rendah serat sehingga klien
mengalami gangguan pada saat eliminasi.
b. Pemeriksaan Fisik
97.
Pasien apendisitis jarang memperlihatkan tanda toksisitas
sistemik. Ia bisa berjalan dalam cara agak membungkuk. Sikapnya
diranjang cenderung tak bergerak, sering dengan tungkai kanan.
Status generalis dari pasien biasanya:
1. Tampak kesakitan
2. Demam (37,7 oC)
3. Perbedaan suhu rektal > oC
4. Fleksi ringan art coxae dextra
98. Ada 2 cara memeriksa klien dengan apendisitis, yaitu :
1. Aktif : Pasien telentang, tungkai kanan lurus ditahan
pemeriksa, pasien memfleksikan articulatio coxae kanan
maka akan terjadi nyeri perut kanan bawah.
2. Pasif : Pasien miring kekiri, paha kanan dihiperekstensikan
pemeriksa, nyeri perut kanan bawah
99.

Pada

pemeriksaan

fisik

biasanya

pada

saat

dilakukan inspeksi langsung abdomen tak jelas serta auskultasi atau


13

perkusi tidak sangat bermanfaat untuk pasien apendisitis. Palpasi


abdomen yang lembut kritis dalam membuat keputusan, apakah
operasi diidikasikan pada pasien yang dicurigai apendisitis. Palpasi
seharusnya dimulai dalam kuadran kiri atas, kuadran kanan atas
dan diakhiri dengan pemeriksaan kuadran bawah. Kadang-kadang
pada apendisitis yang lanjut, dapat dideteksi suatu massa. Adanya
nyeri tekan kuadran kanan bawah dengan spasme otot kuadran
kanan bawah merupakan indikasi untuk operasi, kecuali bila ada
sejumlah petunjuk lain bahwa apendisitis mungkin bukan diagnosis
primer.
100.

Pemeriksaan rektum dan pelvis harus dilakukan

oleh semua pasien apendisitis. Pada apendisitis atipik, nyeri


mungkin tidak terlokalisasi dari daerah periumbilikus, tetapi nyeri
tekan rectum kuadran kanan bawah dapat dibangkitkan. Adanya
nyeri tekan atau sekret cervix pada wanita muda dengan nyeri
kuadran kanan bawah membawa ke arah diagnosis penyakit
peradangan pelvis. Tanda rovsing bisa positif dengan adanya
apendisitis supuratif. Tanda psoas dan obturator bisa juga ada
dalam apendisitis, tetapi ia kurang dapat diandalkan dibandingkan
dengan tanda Rovsing.
1. Inspeksi
101.

Pada apendisitis akut sering ditemukan adanya

abdominal swelling, sehingga pada pemeriksaan jenis ini biasa


ditemukan distensi abdomen.
2. Auskultasi
102.
Peristaltik usus sering normal. Peristaltik dapat
hilang karena ileus paralitik pada peritonitis generalisata akibat
appendicitis perforate
103.
3. Palpasi
104.
Pada daerah perut kanan bawah apabila ditekan
akan terasa nyeri. Dan bila tekanan dilepas juga akan terasa
nyeri. nyeri tekan perut kanan bawah merupakan kunci

14

diagnosis dari apendisitis. Pada penekanan perut kiri bawah


akan dirasakan nyeri pada perut kanan bawah, ini disebut tanda
Rovsing (Rovsing sign). Dan apabila tekanan pada perut kiri
dilepas maka juga akan terasa sakit di perut kanan bawah, ini
disebut tanda Blumberg (Blumberg sign).
105.
Tanda-tanda khas yang didapatkan pada palpasi
apendisitis yaitu:
i.
Nyeri tekan (+) Mc.Burney
106. Pada palpasi didapatkan titik nyeri tekan kuadran
kanan bawah atau titik Mc Burney dan ini merupakan
ii.

tanda kunci diagnosis.


Nyeri lepas (+)
107. Rebound tenderness (nyeri lepas tekan ) adalah rasa
nyeri yang hebat (dapat dengan melihat mimik wajah) di
abdomen kanan bawah saat tekanan secara tiba-tiba
dilepaskan setelah sebelumnya dilakukan penekanan yang

perlahan dan dalam di titik Mc Burney.


4. Pemeriksaan colok dubur
108.
Pemeriksaan ini dilakukan pada apendisitis untuk
menentukkan letak apendiks apabila letaknya sulit diketahui.
Jika saat dilakukan pemeriksaan ini terasa nyeri, maka
kemungkinan apendiks yang meradang di daerah pelvis.
Pemeriksaan ini merupakan kunci diagnosis

apendisitis

pelvika. Nyeri tekan biasanya dirasakan pada jam 9-12


5. Uji psoas dan uji obturator
109.
Pemeriksaan ini dilakukan juga untuk mengetahui
letak apendiks yang meradang. Uji psoas dilakukan dengan
rangsangan otot psoas mayor lewat hiperekstensi sendi
panggul kanan, kemudian paha kanan ditahan. Bila apendiks
yang meradang menempel pada m.psoas mayor, maka tindakan
tersebut akan menimbulkan nyeri. Sedangkan pada uji
obturator dilakukan gerakan fleksi dan andorotasi sendi
panggul pada posisi terlentang. Bila apendiks yang meradang
kontak dengan m.obturator internus yang merupakan dinding
panggul kecil, maka tindakan ini akan menimbulkan nyeri.

15

Pemeriksaan ini dilakukan pada apendisitis pelvika (Akhyar


Yayan, 2008 ).
a. Psoas sign (+)
110. M. Psoas ditekan maka akan terasa sakit di titik
McBurney

(pada

appendiks

retrocaecal)

karena

merangsang peritonium sekitar app yang juga meradang.


b. Obturator Sign (+)
111. Obturator sign adalah rasa nyeri yang terjadi bila
panggul dan lutut difleksikan kemudian dirotasikan kearah
dalam dan luar (endorotasi articulatio coxae) secara pasif,
hal tersebut menunjukkan peradangan apendiks terletak
pada daerah hipogastrium.
1.
2.
3.
4.

Peritonitis umum (perforasi)


Nyeri diseluruh abdomen
Pekak hati hilang
Bising usus hilang.

112.
113.
6. Defenmuskuler (+) m. Rectus abdominis
114.
Defence muscular adalah nyeri tekan seluruh
lapangan abdomen yang menunjukkan adanya rangsangan
peritoneum parietale.
7. Rovsing sign (+) pada penekanan perut bagian kontra
McBurney (kiri) terasa nyeri di McBurney karena tekanan
tersebut merangsang peristaltic usus dan juga udara dalam
usus, sehingga bergerak dan menggerakkan peritonium sekitar
apendiks yang sedang meradang sehingga terasa nyeri.
c. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium

16

i. Pemeriksaan darah terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan test protein reaktif
(CRP). Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah leukosit antara10.00020.000/ml (leukositosis) dan neutrofil diatas 75%, sedangkan pada CRP
ditemukan jumlah serum yang meningkat.
ii. Pemeriksaan urin : untuk melihat adanya eritrosit, leukosit dan bakteri di dalam
urin. Pemeriksaan urin untuk melihat adanya eritrosit, leukosit dan bakteri di
dalam urin. Pemeriksaan ini sangat membantu dalam menyingkirkan diagnosis
banding seperti infeksi saluran kemih atau batu ginjal yang mempunyai gejala
klinis yang hampir sama dengan apendisitis.
2. Radiologis
115.

Terdiri dari pemeriksaan ultrasonografi dan CT-

scan. Pada pemeriksaan ultrasonografi ditemukan bagian


memanjang pada tempat yang terjadi inflamasi pada apendiks.
Sedangkan pada pemeriksaan CT-scan ditemukan bagian yang
menyilang dengan apendikalit serta perluasan dari apendiks
yang

mengalami

inflamasi

serta

adanya

pelebaran

sekum.adapula pemeriksaan lainya seperti dibawah ini.


3. Abdominal X-Ray
116.

Digunakan untuk melihat adanya fecalith sebagai

penyebab appendicitis.Pemeriksaan ini dilakukan terutama


pada anak-anak
4. Foto polos abdomen
117.

Pada appendicitis akut yang terjadi lambat dan telah

terjadi komplikasi (misalnya peritonitis)


a.
b.
c.
d.

Scoliosis ke kanan
Psoas shadow tak tampak
Bayangan gas usus kananbawah tak tampak
Garis retroperitoneal fat sisi kanan tubuh tak tampak

17

e. 5% dari penderita menunjukkan fecalith radio-opak


5. USG
118.
Bila hasil pemeriksaan fisik meragukan, dapat
dilakukan pemeriksaan USG, terutama pada wanita, juga bila
dicurigai adanya abses. Dengan USG dapat dipakai untuk
menyingkirkan diagnosis banding seperti kehamilan, ektopik,
adnecitis dan sebagainya.
6. Barium enema
119.
Yaitu
suatu

pemeriksaan

X-Ray

dengan

memasukkan barium ke colon melalui anus. Pemeriksaan ini


dapat menunjukkan komplikasi-komplikasi dari appendicitis
pada jaringan sekitarnya dan juga untuk menyingkirkan
diagnosis

banding.

Foto barium enema yang dilakukan perlahan pada appendicitis


akut memperlihatkan tidak adanya pengisian apendiks dan efek
massa pada tepi medial serta inferior dari seccum; pengisisan
menyingkirkan appendicitis.
7. CT-Scan
Dapat menunjukkan tanda-tanda dari appendisitis. Selain itu
juga dapat menunjukkan komplikasi dari appendisitis seperti
bila terjadi abses.
8.

Laparoscopi
Yaitu suatu tindakan dengan menggunakan kamera fiberoptic
yang

dimasukkan

dalam

abdomen,

appendix

dapat

divisualisasikan secara langsung. Tehnik ini dilakukan di


bawah pengaruh anestesi umum. Bila pada saat melakukan
tindakan ini didapatkan peradangan pada appendiks maka pada
saat itu juga dapat langsung dilakukan pengangkatan
appendiks.
120.
H. Komplikasi
121. Komplikasi

terjadi

akibat

keterlambatan

penanganan

appendicitis. Faktor keterlambatan dapat berasal dari penderita dan


tenaga medis. Faktor penderita meliputi pengetahuan dan biaya,

18

sedangkan tenaga medis meliputi kesalahan diagnosa, menunda


diagnosa, terlambat merujuk ke rumah sakit, dan terlambat melakukan
penanggulangan.

Kondisi

ini

menyebabkan

peningkatan

angka

morbiditas dan mortalitas. Proporsi komplikasi appendicitis 10-32%,


paling sering pada anak kecil dan orang tua. Komplikasi 93% terjadi
pada anak-anak di bawah 2 tahun dan 40-75% pada orang tua. CFR
komplikasi 2-5%, 10-15% terjadi pada anak-anak dan orang tua.43
Anak-anak memiliki dinding appendiks yang masih tipis, omentum
lebih pendek dan belum berkembang sempurna memudahkan terjadinya
perforasi, sedangkan pada orang tua terjadi gangguan pembuluh
darah.24 Adapun jenis komplikasi diantaranya:
1. Abses
122.

Abses merupakan peradangan appendiks yang berisi

pus. Teraba massa lunak di kuadran kanan bawah atau daerah


pelvis. Massa ini mula-mula berupa flegmon dan berkembang
menjadi rongga yang mengandung pus. Hal ini terjadi bila
appendicitis gangren atau mikroperforasi ditutupi oleh omentum.
123.
124.
2. Perforasi
125.
Perforasi adalah pecahnya appendiks yang berisi
pus sehingga bakteri menyebar ke rongga perut. Perforasi jarang
terjadi dalam 12 jam pertama sejak awal sakit, tetapi meningkat
tajam sesudah 24 jam.19 Perforasi dapat diketahui praoperatif
pada 70% kasus dengan gambaran klinis yang timbul lebih dari
36 jam sejak sakit, panas lebih dari 38,50C, tampak toksik, nyeri
tekan seluruh perut, dan leukositosis terutama polymorphonuclear
(PMN).

Perforasi,

baik

berupa

perforasi

bebas

mikroperforasi dapat menyebabkan peritonitis.


3. Peritonitis
126.
Peritonitis
adalah
peradangan

maupun

peritoneum,

merupakan komplikasi berbahaya yang dapat terjadi dalam


bentuk akut maupun kronis. Bila infeksi tersebar luas pada
permukaan peritoneum menyebabkan timbulnya peritonitis

19

umum. Aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus


paralitik, usus meregang, dan hilangnya cairan elektrolit
mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi, dan oligouria.
Peritonitis disertai rasa sakit perut yang semakin hebat, muntah,
nyeri abdomen, demam, dan leukositosis.
127.
I. Pencegahan
1. Pencegahan Primer
128.

Pencegahan primer bertujuan untuk menghilangkan

faktor risiko terhadap kejadian appendicitis. Upaya pencegahan


primer dilakukan secara menyeluruh kepada masyarakat. Upaya
yang dilakukan antara lain:
a. Diet tinggi serat
129. Berbagai penelitian telah melaporkan hubungan
antara konsumsi serat dan insidens timbulnya berbagai
macam penyakit. Hasil penelitian membuktikan bahwa diet
tinggi serat mempunyai efek proteksi untuk kejadian penyakit
saluran pencernaan.40 Serat dalam makanan mempunyai
kemampuan mengikat air, selulosa, dan pektin yang
membantu mempercepat sisi-sisa makanan untuk
diekskresikan keluar sehingga tidak terjadi konstipasi yang
mengakibatkan penekanan pada dinding kolon.
b. Defekasi yang teratur
130. Makanan adalah faktor utama yang mempengaruhi
pengeluaran feces. Makanan yang mengandung serat penting
untuk memperbesar volume feces dan makan yang teratur
mempengaruhi defekasi. Individu yang makan pada waktu
yang sama setiap hari mempunyai suatu keteraturan waktu,

20

respon fisiologi pada pemasukan makanan dan keteraturan


pola aktivitas peristaltik di kolon.
131. Frekuensi defekasi yang jarang akan mempengaruhi
konsistensi feces yang lebih padat sehingga terjadi konstipasi.
Konstipasi menaikkan tekanan intracaecal sehingga terjadi
sumbatan fungsional appendiks dan meningkatnya
pertumbuhan flora normal kolon. Pengerasan feces
memungkinkan adanya bagian yang terselip masuk ke saluran
appendiks dan menjadi media kuman/bakteri berkembang
biak sebagai infeksi yang menimbulkan peradangan pada
appendiks.
2. Pencegahan Sekunder
132.

Pencegahan sekunder meliputi diagnosa dini dan

pengobatan yang tepat untuk mencegah timbulnya komplikasi.


133.

21

134.
135.

BAB IV

ASKEP APENDISITIS

1. Pengkajian
a. Identitas pasien
136.
Nama :
137.
Umur :
138.
MR
:
139.
Pekerjaan
:
140.
2. Riwayat Kesehatan Pasien
1. Keluhan Utama
141. Klien akan mendapatkan nyeri di sekitar epigastrium menjalar
ke perut kanan bawah. Timbul keluhan Nyeri perut kanan bawah
mungkin beberapa jam kemudian setelah nyeri di pusat atau di
epigastrium dirasakan dalam beberapa waktu lalu. Nyeri dirasakan terusmenerus. Keluhan yang menyertai antara lain rasa mual dan muntah,
panas.
2. Riwayat Kesehatan Sekarang
142. Pasien merasa nyeri disekitar perut kanan bawah, nyeri ini
dirasakan terus menerus dan terkadang merasa mual dan muntah,
peningkatan suhu tubuh, peningkatan leukosit
3. Riwayat Kesehatan Masa Lalu
143. Perlu dikaji apakah klien pernah mengalami penyakit yang
sama atau penyakit organ pencernaan lainnya.
4. Riwayat Kesehatan Keluarga
144. Perlu dikaji apakah dalam keluarga ada yang pernah
mengalami yang sama atau penyakit organ pencernaan lainnya.
3. Pola Fungsi Kesehatan
1) Aktivitas/ istirahat: Malaise
2) Sirkulasi : Tachikardi
3) Eliminasi
a) Konstipasi pada awitan awal
b) Diare (kadang-kadang)
c) Distensi abdomen
d) Nyeri tekan/lepas abdomen
e) Penurunan bising usus
4) Cairan/makanan : anoreksia, mual, muntah
5) Kenyamanan

50

145. Nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilikus yang


meningkat berat dan terlokalisasi pada titik Mc. Burney meningkat
karena berjalan, bersin, batuk, atau nafas dalam
6) Keamanan : demam
7) Pernapasan
a) Tachipne
b) Pernapasan dangkal (Marilynn E. Doengoes, 2000)
4. Pemeriksaan Fisik
1) Inspeksi
146. Pada apendisitis akut sering ditemukan adanya abdominal
swelling, sehingga pada pemeriksaan jenis ini biasa ditemukan distensi
perut.
2) Palpasi
147. Pada daerah perut kanan bawah apabila ditekan akan terasa
nyeri. Dan bila tekanan dilepas juga akan terasa nyeri. Nyeri tekan perut
kanan bawah merupakan kunci diagnosis dari apendisitis. Pada
penekanan perut kiri bawah akan dirasakan nyeri pada perut kanan
bawah. Ini disebut tanda Rovsing (Rovsing Sign). Dan apabila tekanan
di perut kiri bawah dilepaskan juga akan terasa nyeri pada perut kanan
bawah.Ini disebut tanda Blumberg (Blumberg Sign).
3) Pemeriksaan uji psoas dan uji obturator
148. Pemeriksaan ini juga dilakukan untuk mengetahui letak
apendiks yang meradang. Uji psoas dilakukan dengan rangsangan otot
psoas lewat hiperektensi sendi panggul kanan atau fleksi aktif sendi
panggul kanan, kemudian paha kanan ditahan. Bila appendiks yang
meradang menempel di m. psoas mayor, maka tindakan tersebut akan
menimbulkan nyeri. Sedangkan pada uji obturator dilakukan gerakan
fleksi dan endorotasi sendi panggul pada posisi terlentang. Bila
apendiks yang meradang kontak dengan m.obturator internus yang
merupakan

dinding

panggul

kecil,

maka

tindakan

ini

akan

menimbulkan nyeri. Pemeriksaan ini dilakukan pada apendisitis


pelvika.
4) Pemeriksaan colok dubur
149. Pemeriksaan ini

dilakukan

pada

apendisitis,

untuk

menentukan letak apendiks, apabila letaknya sulit diketahui. Jika saat


dilakukan pemeriksaan ini dan terasa nyeri, maka kemungkinan

51

apendiks yang meradang terletak didaerah pelvis. Pemeriksaan ini


merupakan kunci diagnosis pada apendisitis pelvika.
5. Pemeriksaan Penunjang
1) Laboratorium
150. Terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan test protein reaktif
(CRP). Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah leukosit
antara 10.000-20.000/ml (leukositosis) dan neutrofil diatas 75%,
sedangkan pada CRP ditemukan jumlah serum yang meningkat.
2) Radiologi
151. Terdiri dari pemeriksaan ultrasonografi dan CT-scan. Pada
pemeriksaan ultrasonografi ditemukan bagian memanjang pada tempat
yang terjadi inflamasi pada apendiks. Sedangkan pada pemeriksaan
CT-scan ditemukan bagian yang menyilang dengan apendikalit serta
perluasan dari apendiks yang mengalami inflamasi serta adanya
pelebaran sekum.
6. Analisa Data
1. Pre Operasi

153.

154.

155.

ET

157.

161.

176.

Fe

162.

177.

Klien mengeluh nyeri di


bagian perut
158.

163.
Ob

159.
D

164.

Posisi

klien

tampak
165.

52

menahan nyeri

Su

Eksperesi klien tampak

166.

menahan nyeri (meringis)

Tingkah

laku

167.
Inf

klien

berhati-hati, menghindari
pergerakan

168.

Klien tampak mengalami


gangguan

tidur

(mata

169.
Al

sayu, tampak capek, sulit


atau

gerakan

kacau,

menyeringai)

Tingkah

170.

laku

klien

ekspresif

(gelisah,

merintih,

menangis,

171.
Pe

waspada, iritabel, nafas


172.

panjang/berkeluh kesah)

Perubahan dalam nafsu


173.

makan dan minum

M
160.

174.

175.
Ny

179.

182.
53

200.

D
-

Pasien
tidak
makan

mengatakan
nafsu

Mual, muntah

Diare atau konstipasi

Malaise

Fe

183.

201.

184.
Ob

185.

180.
D
-

Nafsu makan menurun

Berat badan menurun

Porsi makan
dihabiskan

186.
Su

187.

tidak

188.
M

181.

189.

190.
Inf

191.

192.
Di

193.

54

194.
M

195.

196.
Pe

197.

198.
M

199.

203.

206.

207.

Ku

208.

Klien mengaku tidak


mengetahui

tentang

penyakitnya
204.
-

209.

DO:
ketidakakuratan
mengikuti

instruksi,

perilaku tidak sesuai


205.

55

210.
2. Post Operasi

212.

213.

214.

ET

216.
D

218.

234.

Fe

Klien mengatakan Rasa


sakit hilang timbul

219.

Klien mengeluh Sakit


di daerah epigastrum
hingga perut bagian
bawah

220.
Ob

Klien
mengeluh
Tungkai kanan tidak
dapat diluruskan

221.

217.
D
-

Tampak
menahan
sakit.

222.
Su

meringis

Nyeri
tekan
MC.Burney

223.
titik

Skala nyeri ( 1 10 )

Pasien
memegang
daerah perut

Pernapasan tachipnea

Sirkulasi tachycardia

Gelisah

224.
Inf

225.

226.
Al

227.
56

Pasien tampak meringis


karena
nyeri
di
perutnya

228.
Pe

229.

230.
M

231.

232.
Ny

233.

236.

240.

258.

Fe

237.

241.

259.

H
242.
Ob

238.
D

243.

57

Usia lanjut
Kelebihan berat badan
Defisit pengetahuan
Immobilitas fisik
Pengobatan (diuretik)

244.
Su

245.

239.
246.
M

247.

248.
Inf

249.

250.
Di

251.

252.
M

253.

254.
Pe

255.

58

256.
M

257.

261.

264.

279.

Fe

265.

280.

Nyeri
Mual
Muntah

266.
Ob

262.
D

267.
-

Penurunan berat badan


Anorexia
Infeksi epigastrium

268.
Su

263.

269.

270.
M

271.

272.
Inf

59

273.

274.
Pe

275.

276.
Ap

277.
Ins

278.

281.
282.
283.
284.
7. Diagnosa Keperawatan NANDA, NOC, NIC
285.
Diagnosa yang muncul pada anak dengan kasus apendiksitis
berdasarkan rumusan diagnosa keperawatan menurut NANDA antara lain:
286.
1. Pre Operasi
i. Nyeri akut berhubungan dengan proses penyakit.
ii. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan mual,muntah, anoreksia.
iii. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakitnya berhubungan
dengan ansietas informasi kurang.
2. Post Operasi

60

i. Nyeri akut berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan.


ii. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan asupan
cairan yang tidak adekuat.
iii. Resiko infeksi berhubungan dengan penyakit.
J.

Nursing Care Planning

287.

288.

289.NIC

290.

291.

292.

PR

293.

294.

300.Manajemen

Ny

nyeri
Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif

295. termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi,


Ha kualitas dan faktor presipitasi

Status kenyamanan:fisik
Tingkat ketidaknyamanan
Mengontrol rasa sakit
Tinkat nyeri
Tingkat stress
Tanda-tanda vital

Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan


Menggunaakan strategi komunikasi terapeutik untuk
mengetahui

mengalami

rasa

sakit

dan

menyampaikan penerimaan respon pasien terhadap


nyeri.

296.
Menetukan dampak dari pengalaman nyeri pada
kualitas hidup.
297.
301.
Ti

Pengaturan lingkungan : kenyamanan

Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan


menemukan dukungan

Melaporkan nyeri

61

Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri

Persen respon tubuh


Frekuensi nyeri
Lamanya nyeri

Ekspresi nyeri lisan


Ekspresi wajah saat nyeri
Melindungi bagian tubuh

seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan

yang nyeri
Kegelisahan
Ketegangan otot

Perubahan
frekuensi

intervensi

pernafasan
Perubahan tekanan darah
Perubahan ukuran pupil
Berkeringat
Hilangnya nafsu makan

Kurangi faktor presipitasi nyeri


Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan

Ajarkan tentang teknik non farmakologi: napas dala,


relaksasi, distraksi, kompres hangat/ dingin

Tingkatkan istirahat

Berikan informasi tentang nyeri seperti penyebab


nyeri, berapa lama nyeri akan berkurang dan

298.

antisipasi ketidaknyamanan dari prosedur


302.

299.
Ko 303.

Recognize lamanya nyeri


Gunakan ukuran pencegahan
Penggunanaan mengurangi
nyeri dengan non analgesic
Penggunaan analgesic yang
tepat
Gunakan

Monitor kemempuan klien untuk perawatan diri


yang mandiri.

Monitor kebutuhan klien untuk alat-alat bantu


untuk kebersihan diri, berpakaian, berhias,
toileting dan makan.

TTV

memantau

perawatan
Laporkan tanda/gejala nyeri
pada

Self care assistance

tenaga

Sediakan bantuan sampai klien mampu secara


utuh untuk melakukan self-care.

kesehatan

professional
Gunakan sumber yang
tersedia
Menilai gejala dari nyeri
Gunakan catatan nyeri
Laporkan bila nyeri terkontrol

Dorong klien untuk melakukan aktivitas seharihari yang normal sesuai kemampuan yang
dimiliki.

Dorong untuk melakukan secara mandiri, tapi


beri

bantuan

ketika

klien

tidak

mampu

melakukannya.

Ajarkan klien/ keluarga untuk mendorong


kemandirian, untuk memberikan bantuan hanya

62

jika pasien tidak mampu untuk melakukannya.

Berikan aktivitas rutin sehari- hari sesuai


kemampuan.

Pertimbangkan usia klien jika mendorong


pelaksanaan aktivitas sehari-hari.
304.

305.

Positioning
Menempatkan pasien di tempat tidur yang
nyaman, yang bersifat terapeutik.

Menyediakan tempat tidur yang kuat/kokoh.

Menempatkan pada posisi yang terapeutik.

Memposisikan tubuh pasien dengan tepat.

Menghentikan atau mendukung pengaruh


bagian tubuh.

Meningkatkan pengaruh bagian-bagian


tubuh.

Mencegah terjadinya amputasi pada posisi


flexi.

Memposisikan pasien untuk mengurangi


dyspnea.

Memberikan tindakan keperawatan untuk


mengurangi edema seperti memberi alas di
bawah lengan.

Memposisikan pasien agar pertukaran gas


menjadi lancar.

63

Memberi dorongan pada pasien untuk


melakukan latihan secara aktif.

Memberikan bantuan pada leher yang


mengalami trauma.

Menggunakan papan kaki pada kasur.

Kembali menggunakan teknik.

Memposisikan saluran urin dengan tepat.

Memposisikan pasien untuk mencegah nyeri


pada luka.

Menyanggah punggung dengan


menggunakan penopang punggung dengan
tepat.

Meningkatkan efek anggota badan pada


tingkat 20 atau lebih di atas tingkat jantung
untuk memperbaiki aliran pembuluh balik.

Memberikan arahan pada pasien tentang


bagaimana menggunakan postur tubuh yang
baik ketika melakukan kegiatan.

Mengontrol penggunaan alat penarik yang


tepat.

Mempertahankan posisi dan integritas daya


tarik.

Meninggikan tempat tidur pada posisi


kepala.

Membalikkan tubuh pasien dengan


memperhatikan kondisi kulit.

64

Mengistirahatkan pasien setidaknya setiap 2


jam sesuai jadwal.

Menggunakan alat yang tepat untuk


menopang tungkai/lengan.

Menempatkan pasien pada tempat yang


mudah dicapai.

Penempatan tempat tidur-tombol yang


mudah dijangkau.

Tempatkan lampu tanda panggilan yang


mudah dilihat.

306.
307.

308.

310.
Sta

317.Pengontrolan
Nutrisi
318. Aktivitas:

Intake nutrisi
Intake makanan dan cairan
Energy
Massa tubuh
Berat tubuh
Ukuran biokimia

Menanyakan apakah pasien mempunyai alergi


terhadap makanan
Menetukan makanan pilihan pasien
Menentukan jumlah kalori dan jenis zat makanan
yang diperlukan untuk memenuhi nutrisi, ketika

berkolaborasi dengan ahli makanan, jika diperlukan


311.
Tunjukkan intake kalori yang tepat sesuai tipe

tubuh dan gaya hidup


Anjurkan menambah intake zat besi makanan, jika

312. diperlukan
Memastikan bahwa makanan meliputi makanan
Sta

tinggi serat untuk mencegah konstipasi


Memberi pasien makanan dan minuman tinggi

313. protein, tinggi kalori, dan bernutrisi yang siap


dikonsumsi, jika diperlukan
Memberi pilihan makanan
Membenarkan makanan dalam gaya hidup pasien,

65

Intake makanan di mulut


Intake di saluran makanan
Intake cairan di mulut
Intake cairan

jika diperlukan
Mengajarkan pasien bagaimana membuat buku

harian tentang makanan, jika diperlukan


Membuat catatan yang berisi intake nutrisi dan

kalori
314.
Menimbang berat badan pasien pad jarak waktu

yang tepat
Memberi informasi yang tepat tentang kebutuhan

315. nutrisi dan bagaimana memenuhinya


Ajarkan teknik pengolahan dan pemeliharaan
Sta

Intake kalori
Intake protein
Intake lemak
Intake karbohidrat
Intake vitamin
Intake mineral
Intake zat besi
Intake kalsium
316.

makanan yang aman


Memantau kemampuan pasien untuk memenuhi

kebutuhan nutrisi
Mengajarkan dan merencanakan makan, jika
diperlukan
319.
320.Terapi Nutrisi
321. Aktivitas:

Mengontrol

menghitung intake kalori harian, jika diperlukan


Memantau ketepatan urutan makanan untuk

memenuhi kebutuhan nutrisi harian


Menentukan jimlah kalori dan jenis zat makanan

309.

penyerapan

makanan/cairan

dan

yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan


nutrisi, ketika berkolaborasi dengan ahli makanan,

jika diperlukan
Menentukan

mempertimbangkan budaya dan agama


Menetukan kebutuhan makanan saluran nasogastric
Memilih makanan gandum, minuman kocok, dan es

krim sebagai suplemen nutrisi


Memastikan bahwa makanan berupa makanan yang

tinggi serat untuk mencegah konstipasi


Memberi pasien makanan dan minuman tinggi

makanan

pilihan

dengan

protein, tinggi kalori, dan bernutrisi yang siap

66

dikonsumsi, jika diperlukan


Mengatur pemasukan makanan, jika diperlukan
Mengontrol cairan pencernaan, jika diperlukan
Memastikan keadaan terapeutik terhadap kemajuan

makanan
Memberi

batas makanan yang ditentukan


Anjurkan membawa masakan rumah ke tempat

bekerja, jika diperlukan


Mengontrol keadaan lingkungan untuk membuat

udara teras menyenangkan dan relaks


Memberi makanan yang punya daya tarik, dengan

pemeliharaan yang diperlukan dalam

cara yang menyenangkan, memberi penambahan

warna, tekstur, dan variasi


Mengajarkan pasien dan kelurga tentang memilih

makanan
Memberi pasien dan keluarga contoh tertulis
makanan pilihan

322.

324.

327.Pengetahuan :
proses penyakit

Kowlwdge : disease process


Kowledge : health Behavior

325.
Set

Pasien dan keluarga

Kaji tingkat pengetahuan pasien dan keluarga


Jelaskan

patofisiologi

dari

penyakit

dan

bagaimana hal ini berhubungan dengan anatomi


dan fisiologi, dengan cara yang tepat.
Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul
pada penyakit, dengan cara yang tepat

menyatakan pemahaman
tentang penyakit, kondisi,

prognosis dan program


pengobatan
Pasien dan keluarga mampu
melaksanakan prosedur

tepat

Identifikasi kemungkinan penyebab, dengan cara


yang tepat

yang dijelaskan secara


benar

Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang

326.
Pa

Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi,


dengan cara yang tepat
Sediakan

bagi

keluarga

informasi

kemajuan pasien dengan cara yang tepat

67

tentang

Diskusikan pilihan terapi atau penanganan

Dukung

pasien

untuk

mengeksplorasi

atau

mendapatkan second opinion dengan cara yang


tepat atau diindikasikan

Eksplorasi kemungkinan sumber atau dukungan,


dengan cara yang tepat
328.
329.Teaching
preoperative

Informasikan klien dan keluarga tentang jadwal


pembedahan
Informasikan klien dan keluarga berapa lama
pembedahan
Tanyakan pengetahuan klien yang berhubungan
dengan pembedahan
Gambarkan apa saja yang dilakukan sebelum operasi
Perkuat kenyamanan klien dengan staff yang terlibat
Menyediakan informasi tentang apa yang akan
didengar, dicium,dilihat, dirasakan selama operasi
Gambarkan apa saja kegiatan setelah operasi.
Informasikan klien tentang proses pemilihan.
330.

323.

68

331.

332.

333.

PO

334.

336.

338.Manajemen

Ko

Mengenali faktor penyebab


Mengenali onset (lamanya

sakit)
Menggunakan metode

pencegahan
Menggunakan metode
nonanalgetik untuk

kualitas dan faktor presipitasi

Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan

Menggunaakan strategi komunikasi terapeutik untuk


mengetahui

professional
Gunakan sumber yang

mengalami

rasa

sakit

dan

menyampaikan penerimaan respon pasien terhadap

sesuai kebutuhan
Laporkan tanda/gejala nyeri
pada tenaga kesehatan

terkontrol
337.
Tingkat Nyeri
Melaporkan adanya nyeri
Luas bagian tubuh yang

Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif


termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi,

mengurangi nyeri
Menggunakan analgetik

tersedia
Menilai gejala dari nyeri
Gunakan catatan nyeri
Laporkan bila nyeri

nyeri

nyeri.
Menetukan dampak dari pengalaman nyeri pada
kualitas hidup.
339.
340.Pemberian
analgesic

Menentukan lokais, karakteristik, mutu,dan intensitas


nyeri sebelum mengobati pasien.
Periksa order dokter untuk obat/dosis dan frekuensi

terpengaruh
Frekuensi nyeri
yang ditentukan analgesic
Panjangnya episode nyeri Cek riwayat alergi obat
Pernyataan nyeri
Tentukan analgesic yang cocok, rute pemberian dan
Ekspresi nyeri pada wajah
dosis optimal
Posisi tubuh protektif
Utamakan pemberian secara IV dibanding IM sebagai
lokasi penyuntikan, jika mungkin
Monitor TTV sebelum dan sesudah pemberian obat
narkotik dengan dosis pertama atau jika ada catatan
luar biasa
Cek pemberian analgesic selama 24 jam

69

341.Self care
assistance

335.

Monitor kemempuan klien untuk perawatan diri


yang mandiri.

Monitor kebutuhan klien untuk alat-alat bantu


untuk kebersihan diri, berpakaian, berhias,
toileting dan makan.

Sediakan bantuan sampai klien mampu secara


utuh untuk melakukan self-care.

Dorong klien untuk melakukan aktivitas seharihari yang normal sesuai kemampuan yang
dimiliki.

Dorong untuk melakukan secara mandiri, tapi


beri

bantuan

ketika

klien

tidak

mampu

melakukannya.

Ajarkan klien/ keluarga untuk mendorong


kemandirian, untuk memberikan bantuan hanya
jika pasien tidak mampu untuk melakukannya.

Berikan aktivitas rutin sehari- hari sesuai


kemampuan.

Pertimbangkan usia klien jika mendorong


pelaksanaan aktivitas sehari-hari.
342.
343.Positioning
344.Tindakan:

Menempatkan pasien di tempat tidur yang


nyaman, yang bersifat terapeutik.

70

Menyediakan tempat tidur yang kuat/kokoh.

Menempatkan pada posisi yang terapeutik.

Memposisikan tubuh pasien dengan tepat.

Menghentikan atau mendukung pengaruh


bagian tubuh.

Meningkatkan pengaruh bagian-bagian


tubuh.

Mencegah terjadinya amputasi pada posisi


flexi.

Memposisikan pasien untuk mengurangi


dyspnea.

Memberikan tindakan keperawatan untuk


mengurangi edema seperti memberi alas di
bawah lengan.

Memposisikan pasien agar pertukaran gas


menjadi lancar.

Memberi dorongan pada pasien untuk


melakukan latihan secara aktif.

Memberikan bantuan pada leher yang


mengalami trauma.

71

Menggunakan papan kaki pada kasur.

Kembali menggunakan teknik.

Memposisikan saluran urin dengan tepat.

Memposisikan pasien untuk mencegah nyeri

pada luka.

Menyanggah punggung dengan


menggunakan penopang punggung dengan
tepat.

Meningkatkan efek anggota badan pada


tingkat 20 atau lebih di atas tingkat jantung
untuk memperbaiki aliran pembuluh balik.

Memberikan arahan pada pasien tentang


bagaimana menggunakan postur tubuh yang
baik ketika melakukan kegiatan.

Mengontrol penggunaan alat penarik yang


tepat.

Mempertahankan posisi dan integritas daya


tarik.

Meninggikan tempat tidur pada posisi


kepala.

Membalikkan tubuh pasien dengan


memperhatikan kondisi kulit.

Mengistirahatkan pasien setidaknya setiap 2


jam sesuai jadwal.

Menggunakan alat yang tepat untuk


menopang tungkai/lengan.

Menempatkan pasien pada tempat yang


mudah dicapai.

Penempatan tempat tidur-tombol yang


mudah dijangkau.

72

Tempatkan lampu tanda panggilan yang

mudah dilihat.
345.
346.Exercise
promotion
347. Aktivitas :
-

Menilai keyakinan
348.

kesehatan individu

349.

tentang latihan fisik.

Memeriksa

terlebih

dahulu

pengalaman-

pengalaman latihan sebelumnya


-

Menentukan motivasi pasien untuk memulai atau


melanjutkan program latihan

Memeriksa halangan untuk melakukan gerakan


badan.

Menganjurkan pasien
350.

mengungkapkan

perasaan

tentang

menggerakkan tubuh atau kebutuhan untuk


menggerakkan tubuh
-

Menganjurkan

pasien

untuk

memulai

atau

melanjutkan latihan
-

Membantu klien mengindentifikasi peran positif


untuk mempertahan program latihan

Bantu pasien untuk membangun sebuah program


latihan yang tepat untuk memenuhi kebutuhan

Membantu pasien untuk mengatur tujuan jangka


panjang atau jangka pendek untuk program

73

latihan
-

Membantu individu untuk menjadwalkan periode


secara teratur program latihan secara rutin
perminggu

Menampilkan aktivitas latihan dengan pasien

Melibatkan keluarga atau perawat lain dalam


pembuatan rencana dan program latihan

Menginformasikan pasien tentang keuntungan


kesehatan dan efek psiologis dari latihan

Mengintruksikan pasien tentang tipe latihan yang


tepat untuk meningkatkan kesehatan dalam
kolaborasi dengan dokter.

Mengintruksikan pasien tentang frekuensi, durasi,


dan intensitas dari program latihan.

Memonitor kepatuhan pasien untuk melakukan


program latihan

Monitor respon pasien terhadap program latihan

-Memberikan respon positiv dari usaha pasien.


351.

352.
a.

Faktor Resiko

358.

Pembedahan abdominal

Penurunan perdarahan : GIT

Ascites

Penurunan perdarahan pada luka

Luka Bakar

Balutan

Obstruksi intestinal

Manajemen elektrolit

74

Pankreatitis

Manajemen cairan

Receiving apheresis

Monitoring cairan

Sepsis

Pengaturan hemodinamik

Luka

traumatic

(misalnya Tindakan pencegahan pembedahan

fraktur pinggul)
Persiapan pembedahan
354.
Identifikasi resiko
355.
Perawatan selang : GIT
Ha
Monitoring tanda-tanda vital
356.
Eli

Pola eliminasi dalam rentang


yang diharapkan
Control gerakan usus
Warna BAB dalam batas
normal
Jumlah feses untuk diet
Kelembekan

dan

pembentukan feses
Lemak dalam fesek dalam
batas normal
Pengosongan
feses
mucus
Konstipasi

yang

dari
tidak

ditujukan
357.

75

353.

359.
a.

Kontrol resiko
360. Indikator :
Faktor resiko kurangnya

a.

KONTROL INFEKSI
366. Aktifitas :
Bersihkan lingkungan setelah digunakan oleh

pengetahuan
Mengontrol faktor resiko

pasien lain
Ganti peralatan yang digunakan untuk merawat

b.d lingkungan
Mengontrol faktor resiko

pasien untuk mencegah timbulnya infeksi


Beikan saran dan aturan kepada keluarga untuk

b.d kebiasaan
Memodifikasi gaya hidup

membatasi jumlah pengunjung yang datang

untuk mengurangi faktor


resiko
Menggunakan dukungan
pribadi untuk
mengurangi faktor resiko
361.
b. Status nutrisi
362. Indikator :
363. -Diharapkan
normal:
Intake nutrisi cukup
Intake makanan cukup
Intake cairan cukup
Hematokrit
Hidrasi
Hemoglobin
364.
365.

kepada pasien untuk mencegah infeksi lain.


Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan

aktifitas terhadap pasien


Promosikan intake nutrisi yang seimbang
Ajarkan pasien dan keluarga tentang tanda dan

gejala infeksi dan melaporkan segera.


b. TERAPI NUTRISI
367. aktifitas :
Atur makanan dan cairan serta hitung berapa

jumlah kalori yang seharusnya masuk


Tentukan makanan yang seharusnya dimakan

untuk mencukupi kebutuhan tubuh klien


Tentukan apakah klien butuh alat bantu makan

atau tidak
PROTEKSI TERHADAP INFEKSI
368. Aktivitas :
Monitor sistem, lokasi tanda dan gejala infeksi
Monitor tingkat kerentanan terkena
Berikan tindakan isolasi
Lakukan perawatan kulit
Memberikan pemasukan cairan seseui yang

dibutuhkan
Monitor perubahan energi/ malaise
Laporkan hasil kontrol infeksi yang terhadap

c.

Albumin darah
.

klien.

76

K. Implementasi
1. Mengurangi nyeri
Lakukan pengkajian nyeri, secara komprhensif meliputi lokasi,

keparahan.
Observasi ketidaknyamanan non verbal
Gunakan pendekatan yang positif terhadap pasien, hadir dekat
pasien untuk memenuhi kebutuhan rasa nyamannya dengan cara:
masase, perubahan posisi, berikan perawatan yang tidak terburu-

buru.
Kendalikan factor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon

pasien terhadap ketidaknyamanan.


Anjurkan pasien untuk istirahat dan menggunakan tenkik relaksai

saat nyeri.
Kolaborasi medis dalam pemberian analgesic.
2. Mempertahankan keseimbangan cairan
Pertahankan catatan intake dan output yang akurat.
Monitor vital sign dan status hidrasi.
Monitor status nutrisi
Awasi nilai laboratorium, seperti Hb/Ht, Na+ albumin dan
waktu pembekuan.
Kolaborasikan pemberian cairan intravena sesuai terapi.
Atur kemungkinan transfusi darah.
3. Memenuhi kebutuhan nutrisi
Tentukan kemampuan pasien untuk memenuhi kebutuhan

nutrisi.
Pantau kandungan nutrisi dan kalori pada catatan asupan.
Berikan informasi yang tepat tentang kebutuhan nutrisi dan

bagaimana memenuhinya.
Minimalkan faktor yang dapat menimbulkan mual dan muntah.
Pertahankan higiene mulut sebelum dan sesudah makan.
369.
4. Mengurangi kecemasan
Memberikan informasi kepada klien mengenai prosedur dan

tujuan dilakukan tindakan pembedahan


Berbincang dengan klien mengenai apa yang akan dikerjakan
Menggunakan pendekatan yang tenang untuk meyakinkan klien
Memotivasi keluarga untuk selalu menemani klien
5. Menghindari infeksi

54

Melakukan pencucian tangan yang baik dan perawatan luka

aseptic
Mengobservasi tanda-tanda vital dan tanda-tanda infeksi
Memberikan antibiotic sesuai indikasi
6. Memberikan pendidikan kesehatan
Memberikan penjelasan pada klien tentang penyakitnya
Memberikan informasi kepada klien dan keluarga tentang
tindakan dan perkembangan kondisi klien
370.
L. Evaluasi
1. Melaporkan berkurangnya nyeri
Melaporkan nyeri hilang atau terkontrol
Klien tampak rileks, mampu tidur/istirahat
2. Cairan tubuh seimbang
Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB, BJ

urine normal, HT normal.


Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal.
Tidak ada tanda-tanda dehidrasi, elastisitas, turgor kulit,

membran mukosa lembab.


Tidak ada rasa haus yang berlebihan
3. Nutrisi terpenuhi
Mempertahankan berat badan.
Toleransi terhadap diet yang dianjurkan.
Menunjukan tingkat keadekuatan tingkat energi.
Turgor kulit baik.
4. Kecemasan berkurang
Klien tampak tenang
Klien mengatakan mengerti tentang penyakitnya dan prosedur

tindakan yang akan dilakukan


Menunjukan tidak ada tanda infeksi
Luka sembuh tanpa tanda infeksi
Cairan yang keluar dari luka tidak purulen
371.
372.
373.

55

374.
375.
376.
377.
378.
379.
380.
381.
382.
383.
384.

385.
386.
5.1.

BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan
387. Apendiksitis, peradangan perpanjangan vermiform, adalah
suatu penyebab umum nyeri abdominal akut dan merupakan alasan yang
paling umum untuk pembedahan kegawatdaruratan abdominal.
388. Apendiktomi adalah pembedahan untuk mengangkat apendiks
dilakukan sesegera mungkin untuk menurunkan resiko perforasi
389. Pencegahan pada appendiksitis yaitu dengan menurunkan
resiko obstuksi dan peradangan pada lumen appendiks. Pola eliminasi
klien harus dikaji,sebab obstruksi oleh fekalit dapat terjadi karena tidak
adekuatnya diet tinggi serat. Perawatan dan pengobatan penyakit cacing
juga menimbulkan resiko. Pengenalan yang cepat terhadap gejala dan

56

tanda appendiksitis menurunkan resiko terjadinya gangren,perforasi dan


peritonitis.
5.2.

Saran
390. Melalui makalah ini diharapkan nantinya, kita sebagai calon
perawat dapat mengkaji penyakit klien dan memberikan asuhan
keperawatan yang tepat sesuai dengan indikasi keluhan klien dan dapat
mempraktekkan tindakan-tindakan keperawatan yang sesuai dengan
konsep yang telah teruji kebenarannya sehingga kesalahan-kesalahan yang
terjadi di lapangan dapat diminimalisir dan tim perawat pun semakin
diakui kelayakkannya sebagai salah satu tim pelayanan kesehatan
391.
392.
393.
394.
395.
396.
397.
398.

399.

DAFTAR PUSTAKA

Schwartz,

Seymour,

(2000),

Intisari

Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah, Penerbit Buku


400.

Kedokteran, EGC. Jakarta. 4.Smeltzer,

Suzanne C, (2001), Buku Ajar


401.

Keperawatan Medikal-Bedah, Volume 2,

Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. Betz,


Cecily L, dkk. 2002.
402.

Buku Saku Keperawatan Pediatri, Edisi 3.

Jakarta: EGC Johnson, Marion,dkk. Nursing


Outcome

Classification

(NOC).

Missouri: Mosby Yearbook,Inc.

57

St.

Louis,

403.

Mansjoer. A. Dkk. 2000. Kapita Selekta

Kedokteran. Jilid 2. Edisi 3. Jakarta : Media


Aesculapius.
404.

Syamsuhidayat. R & De Jong W. 2004.

Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2 .Jakarta : EGC.


405.

Wong, Donna L. 2003. Pedoman Klinis

Keperawtan Pediatrik, Edisi 4. Jakarta: EGC

58