Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Mata adalah organ pengelihatan yang mendeteksi cahaya dan merupakan
sensor pada tubuh manusia yang bermanfaat untuk membedakan siang dan malam,
hujan

dan

tidak

hujan

dan

sebagainya.

Seringkali

seiring

dengan

perkembangan jaman, fungsi sensor ini khususnya pada manusia telah banyak
berubah. Dewasa ini banyak orang yang telah memanfaatkan mata sebagai
alat untuk membaca atau melihat. Dengan mata orang dapat menyerap informasi
yang ada dihadapannya, diatasnya, dibelakangnya, dan ditempat lain. Mata
yang lebih kompleks dipergunakan untuk memberikan pengertian visual.
Sistem lakrimal terdiri dari dua bagian, yaitu sistem sekresi yang berupa
kelenjar lakrimal dan sistem ekskresi yang terdiri dari punctum lakrimal, kanalikuli
lakrimal, sakus lakrimal, duktus nasolakrimal, dan meatus inferior. Sistem eksresi
lakrimal cenderung mudah terjadi infeksi dan inflamasi karena berbagai sebab.
Membran mukosa pada saluran ini terdiri dari dua permukaan yang saling
bersinggungan, yaitu mukosa konjungtiva dan mukosa nasal, di mana pada keadaan
normal pun sudah terdapat koloni bakteri. Tujuan fungsional dari sistem ekskresi
lakrimal adalah mengalirkan air mata dari kelenjar air mata menuju ke cavum nasal.
Kelainan yang dapat terjadi pada sistem lakrimal dapat berupa dakriosistitis dan
dakrioadenitis. Tersumbatnya aliran air mata secara patologis menyebabkan

terjadinya peradangan pada sakus lakrimal yang biasa disebut dengan dakriosistitis
(Eva, 2007).
Dakriosistitis dapat berlangsung secara akut maupun kronis. Dakriosistitis
akut ditandai dengan nyeri yang muncul secara tiba-tiba dan kemerahan pada regio
kantus medial, sedangkan pada inflamasi maupun infeksi kronis dari sakus lakrimal
ditandai dengan adanya epifora, yaitu rasa nyeri yang hebat di bagian sakus lakrimal
dan disertai dengan demam. Selain dakriosistitis akut dan kronis, ada juga
dakriosistitis kongenital yang merupakan bentuk khusus dari dakriosistitis.
Patofisiologinya berhubungan erat dengan proses embryogenesis dari sistem eksresi
lakrimal.
Dakriosistitis umumnya terjadi pada dua kategori usia, yaitu anak-anak dan
orang dewasa di atas 40 tahun dengan puncak insidensi pada usia 60 hingga 70 tahun.
Dakriosistitis pada bayi yang baru lahir jarang terjadi, hanya sekitar 1% dari jumlah
kelahiran yang ada. Kebanyakan penelitian menyebutkan bahwa sekitar 70-83%
kasus dakriosistitis dialami oleh wanita, sedangkan pada dakriosistitis kongenital
jumlahnya hampir sama antara laki-laki dan perempuan (Mamoun, 2011).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Dakriosistisis
2.1.1 Definisi
Dakriosistitis adalah peradangan pada sakus lakrimalis akibat adanya
obstruksi pada duktus nasolakrimalis. Obstruksi pada anak-anak biasanya akibat tidak
terbukanya membran nasolakrimal, sedangkan pada orang dewasa akibat adanya
penekanan pada salurannya, misal adanya polip hidung (Gilliland, 2009).
2.1.2 Epidemiologi
Penyakit ini sering ditemukan pada anak-anak atau orang dewasa di atas 40
tahun, terutama perempuan dengan puncak insidensi pada usia 60 hingga 70 tahun.
Dakriosistitis pada bayi yang baru lahir jarang terjadi, hanya sekitar 1% dari jumlah
kelahiran yang ada dan jumlahnya hampir sama antara laki-laki dan perempuan.
Jarang ditemukan pada orang dewasa usia pertengahan kecuali bila didahului dengan
infeksi jamur (Eva, 2007).

2.1.3 Klasifikasi
Berdasarkan perjalanan penyakitnya, dakriosistitis dibedakan menjadi 3 (tiga)
jenis , yaitu:
a. Akut
Pasien dapat menunjukkan morbiditasnya yang berat namun jarang
menimbulkan kematian. Morbiditas yang terjadi berhubungan dengan abses pada
sakus lakrimalis dan penyebaran infeksinya.

Gambar 2.1 Dakriosistisis akut

b. Kronis
Morbiditas utamanya berhubungan dengan lakrimasi kronis yang berlebihan
dan terjadinya infeksi dan peradangan pada konjungtiva.
c. Kongenital
Merupakan penyakit yang sangat serius sebab morbiditas dan mortalitasnya
juga sangat tinggi. Jika tidak ditangani secara adekuat, dapat menimbulkan selulitis
orbita, abses otak, meningitis, sepsis, hingga kematian. Dakriosistitis kongenital dapat
berhubungan dengan amniotocele, di mana pada kasus yang berat dapat menyebabkan
4

obstruksi jalan napas. Dakriosistitis kongenital yang indolen sangat sulit didiagnosis
dan biasanya hanya ditandai dengan lakrimasi kronis, ambliopia, dan kegagalan
perkembangan (Mamoun, 2011).

Gambar 2.2 Dakriosistisis kongenital

2.1.4 Faktor Predisposisi dan Etiologi


Beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya obstruksi ductus
nasolakrimalis:

Terdapat benda yang menutupi lumen duktus, seperti pengendapan kalsium,


atau koloni jamur yang mengelilingi suatu korpus alienum.

Terjadi striktur atau kongesti pada dinding duktus.

Penekanan dari luar oleh karena terjadi fraktur atau adanya tumor pada sinus
maksilaris.

Obstruksi akibat adanya deviasi septum atau polip.

Dakriosistitis dapat disebabkan oleh bakteri Gram positif maupun Gram


negatif. Bakteri Gram positif Staphylococcus aureus merupakan penyebab utama
terjadinya infeksi pada dakriosistitis akut, sedangkan Coagulase NegativeStaphylococcus merupakan penyebab utama terjadinya infeksi pada dakriosistitis
kronis. Selain itu, dari golongan bakteri Gram negatif, Pseudomonas sp. juga
merupakan penyebab terbanyak terjadinya dakriosistitis akut dan kronis (Ilyas, 2012).
Literatur lain menyebutkan bahwa dakriosistitis akut pada anak-anak sering
disebabkan oleh Haemophylus influenzae, sedangkan pada orang dewasa sering
disebabkan oleh Staphylococcus aureus dan Streptococcus -haemolyticus . Pada
literatur ini, juga disebutkan bahwa dakriosistitis kronis sering disebabkan oleh
Streptococcus pneumoniae (Danny, 2001).
2.1.5 Patofisiologi
Awal terjadinya peradangan pada sakus lakrimalis adalah adanya obstruksi
pada duktus nasolakrimalis. Obstruksi duktus nasolakrimalis pada anak-anak
biasanya akibat tidak terbukanya membran nasolakrimal, sedangkan pada orang
dewasa akibat adanya penekanan pada salurannya, misal adanya polip hidung.
Obstruksi pada duktus nasolakrimalis ini dapat menimbulkan penumpukan air
mata, debris epitel, dan cairan mukus sakus lakrimalis yang merupakan media
pertumbuhan yang baik untuk pertumbuhan bakteri (Danny, 2001).
Ada 3 tahapan terbentuknya sekret pada dakriosistitis. Hal ini dapat diketahui
dengan melakukan pemijatan pada sakus lakrimalis. Tahapan-tahapan tersebut antara
lain:

Tahap obstruksi
Pada tahap ini, baru saja terjadi obstruksi pada sakus lakrimalis, sehingga
yang keluar hanyalah air mata yang berlebihan.

Tahap Infeksi
Pada tahap ini, yang keluar adalah cairan yang bersifat mukus, mukopurulen,
atau purulent tergantung pada organisme penyebabnya.

Tahap Sikatrik
Pada tahap ini sudah tidak ada regurgitasi air mata maupun pus lagi. Hal ini
dikarenakan sekret yang terbentuk tertahan di dalam sakus sehingga
membentuk suatu kista.

2.1.6 Gejala Klinis


Gejala umum pada penyakit ini adalah keluarnya air mata dan kotoran. Pada
dakriosistitis akut, pasien akan mengeluh nyeri di daerah kantus medial (epifora)
yang menyebar ke daerah dahi, orbita sebelah dalam dan gigi bagian depan. Sakus
lakrimalis akan terlihat edema, lunak dan hiperemi yang menyebar sampai ke kelopak
mata dan pasien juga mengalami demam. Jika sakus lakrimalis ditekan, maka yang
keluar adalah sekret mukopurulen.
Pada dakriosistitis kronis gejala klinis yang dominan adalah lakrimasi yang
berlebihan terutama bila terkena angin. Dapat disertai tanda-tanda inflamasi yang
ringan, namun jarang disertai nyeri. Bila kantung air mata ditekan akan keluar secret

yang mukoid dengan pus di daerah punctum lakrimal dan palpebral yang melekat satu
dengan lainnya.
Pada dakriosistitis kongenital biasanya ibu pasien akan mengeluh mata pasien
merah pada satu sisi, bengkak pada daerah pangkal hidung dan keluar air mata diikuti
dengan keluarnya nanah terus-menerus. Bila bagian yang bengkak tersebut ditekan
pasien akan merasa kesakitan (epifora) (Danny, 2001).
2.1.7 Diagnosis
Untuk

menegakkan

diagnosis

dakriosistitis

dibutuhkan

anamnesis,

pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Anamnesis dapat dilakukan dengan


cara autoanamnesis dan heteroanamnesis. Setelah itu, dilakukan pemeriksaan fisik.
Jika, dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik masih belum bisa dipastikan
penyakitnya, maka boleh dilakukan pemeriksaan penunjang.
Beberapa pemeriksaan fisik yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui ada
tidaknya obstruksi serta letak dan penyebab obstruksi. Pemeriksaan fisik yang
digunakan untuk memeriksa ada tidaknya obstruksi pada duktus nasolakrimalis
adalah dye dissapearence test, fluorescein clearance test dan John's dye test. Ketiga
pemeriksaan ini menggunakan zat warna fluorescein 2% sebagai indikator.
Sedangkan untuk memeriksa letak obstruksinya dapat digunakan probing test dan
anel test (Ilyas, 2012).
Dye dissapearance test (DDT) dilakukan dengan meneteskan zat warna
fluorescein 2% pada kedua mata, masing-masing 1 tetes. Kemudian permukaan kedua
mata dilihat dengan slit lamp. Jika ada obstruksi pada salah satu mata akan
memperlihatkan gambaran seperti di bawah ini.
8

Gambar 2.3 Terdapat obstruksi pada duktus nasolakrimalis kiri

Fluorescein clearance test dilakukan untuk melihat fungsi saluran ekskresi


lakrimal. Uji ini dilakukan dengan meneteskan zat warna fluorescein 2% pada mata
yang dicurigai mengalami obstruksi pada duktus nasolakrimalisnya. Setelah itu
pasien diminta berkedip beberapa kali dan pada akhir menit ke-6 pasien diminta
untuk beringus (bersin) dan menyekanya dengan tissue. Jika pada tissue didapati zat
warna, berarti duktus nasolakrimalis tidak mengalami obstruksi (Ilyas, 2012).

Gambar 2.4 Irigasi mata setelah ditetesi Flouresin pada jones dye test II

Jones dye test juga dilakukan untuk melihat kelainan fungsi saluran ekskresi
lakrimal. Uji ini terbagi menjadi dua yaitu Jones Test I dan Jones Test II. Pada Jones
9

Test

I,

mata

pasien

yang

dicurigai

mengalami

obstruksi

pada

ductus

nasolakrimalisnya ditetesi zat warna fluorescein 2% sebanyak 1-2 tetes. Kemudian


kapas yang sudah ditetesi pantokain dimasukkan ke meatus nasal inferior dan
ditunggu selama 3 menit. Jika kapas yang dikeluarkan berwarna hijau berarti tidak
ada obstruksi pada duktus nasolakrimalisnya. Pada Jones Test II, caranya hampir
sama dengan Jones test I, akan tetapi jika pada menit ke-5 tidak didapatkan kapas
dengan bercak berwarna hijau maka dilakukan irigasi pada sakus lakrimalisnya. Bila
setelah 2 menit didapatkan zat warna hijau pada kapas, maka dapat dipastikan fungsi
sistem lakrimalnya dalam keadaan baik. Bila lebih dari 2 menit atau bahkan tidak ada
zat warna hijau pada kapas sama sekali setelah dilakukan irigasi, maka dapat
dikatakan bahwa fungsi sistem lakrimalnya sedang terganggu (Ilyas, 2012).
Anel test merupakan suatu pemeriksaan untuk menilai fungsi ekskresi air
mata ke dalam rongga hidung. Tes ini dikatakan positif bila ada reaksi menelan. Hal
ini menunjukkan bahwa fungsi sistem ekskresi lakrimal normal. Pemeriksaan lainnya
adalah probing test. Probing test bertujuan untuk menentukan letak obstruksi pada
saluran ekskresi air mata dengan cara memasukkan sonde ke dalam saluran air mata.
Pada tes ini, punctum lakrimal dilebarkan dengan dilator, kemudian probe
dimasukkan ke dalam sackus lakrimal. Jika probe yang bias masuk panjangnya lebi
dari 8 mm berarti kanalis dalam keadaan normal, tapi jika yang masuk kurang 8 mm
berarti ada obstruksi.

10

Gambar 2.5 Anel Test

Pemeriksaan penunjang juga memiliki peranan penting dalan penegakkan


diagnosis dakriosistitis. CT scan sangat berguna untuk mencari tahu penyebab
obstruksi pada dakriosistitis terutama akibat adanya suatu massa atau keganasan.
Dacryocystography (DCG) dan dacryoscintigraphy sangat berguna untuk mendeteksi
adanya kelainan anatomi pada sistem drainase lakrimal.

11

Gambar 2.6 Conventional dacryocystography


2.1.7 Diagnosis Banding
a. Selulitis Orbita
Selulitis orbita merupakan peradangan supuratif jaringan ikat longgar
intraorbita di belakang septum orbita. Selulitis orbita akan memberikan gejala
demam, mata merah, kelopak sangat edema dan kemotik, mata proptosis, atau
eksoftalmus diplopia, sakit terutama bila digerakkan, dan tajam penglihatan menurun
bila terjadi penyakit neuritis retrobulbar. Pada retina terlihat tanda stasis pembuluh
vena dengan edema papil (Gilliland, 2009).
b. Hordeolum
Hordeolum merupakan peradangan supuratif kelenjar kelopak mata. Dikenal
bentuk hordeolum internum dan eksternum. Horedeolum eksternum merupakan
infeksi pada kelenjar Zeiss atau Moll. Hordeolum internum merupakan infeksi
kelenjar Meibom yang terletak di dalam tarsus. Gejalanya berupa kelopak yang
12

bengkak dengan rasa sakit dan mengganjal, merah dan nyeri bila ditekan. Hordeolum
eksternum atau radang kelenjar Zeis atau Moll akan menunjukkan penonjolan
terutama ke daerah kulit kelopak (Eva, 2007).
2.1.8 Terapi
Pengobatan dakriosistitis pada anak (neonatus) dapat dilakukan dengan
masase kantong air mata ke arah pangkal hidung. Dapat juga diberikan antibiotic
amoxicillin/clavulanate atau cefaclor 20-40 mg/kgBB/hari dibagi dalam tiga dosis
dan dapat pula diberikan antibiotik topikal dalam bentuk tetes (moxifloxacin 0,5%
atau azithromycin 1%) atau menggunakan sulfonamid 4-5 kali sehari.
Pada orang dewasa, dakriosistitis akut dapat diterapi dengan melakukan
kompres hangat pada daerah sakus yang terkena dalam frekuensi yang cukup sering.
Amoxicillin dan chepalosporine (cephalexin 500mg p.o. tiap 6 jam) juga merupakan
pilihan antibiotik sistemik yang baik untuk orang dewasa.
Untuk mengatasi nyeri dan radang, dapat diberikan analgesik oral
(acetaminophen atau ibuprofen), bila perlu dilakukan perawatan di rumah sakit
dengan pemberian antibiotik secara intravena, seperti cefazoline tiap 8 jam. Bila
terjadi abses dapat dilakukan insisi dan drainase. Dakriosistitis kronis pada orang
dewasa dapat diterapi dengan cara melakukan irigasi dengan antibiotik. Sumbatan
ductus nasolakrimal dapat diperbaiki dengan cara pembedahan jika sudah tidak
radang lagi.
Penatalaksaan dakriosistitis dengan pembedahan bertujuan untuk mengurangi
angka rekurensi. Prosedur pembedahan yang sering dilakukan pada dakriosistitis
adalah dacryocystorhinostomy (DCR). Di mana pada DCR ini dibuat suatu hubungan
13

langsung antara sistem drainase lakrimal dengan cavum nasal dengan cara melakukan
bypass pada kantung air mata. Dulu, DCR merupakan prosedur bedah eksternal
dengan pendekatan melalui kulit di dekat pangkal hidung. Saat ini, banyak dokter
telah menggunakan teknik endonasal dengan menggunakan scalpel bergagang
panjang atau laser (Eva, 2007).

Gambar 2.7 Teknik Dakriosistorinostomi Eksternal

Dakriosistorinostomi

internal

memiliki

beberapa

keuntungan

jika

dibandingkan dengan dakriosistorinostomi eksternal. Adapun keuntungannya yaitu,


(1) trauma minimal dan tidak ada luka di daerah wajah karena operasi dilakukan
tanpa insisi kulit dan eksisi tulang, (2) lebih sedikit gangguan pada fungsi pompa
lakrimal, karena operasi merestorasi pasase air mata fisiologis tanpa membuat sistem

14

drainase bypass, dan (3) lebih sederhana, mudah, dan cepat (rata-rata hanya 12,5
menit) (Yuliani, 2009).
Kontraindikasi pelaksanaan DCR ada 2 macam, yaitu kontraindikasi absolut
dan kontraindikasi relatif. Kontraindikasi relatif dilakukannya DCR adalah usia yang
ekstrim (bayi atau orang tua di atas 70 tahun) dan adanya mucocele atau fistula
lakrimalis. Beberapa keadaan yang menjadi kontraindikasi absolut antara lain:
Kelainan pada kantong air mata :
- Keganasan pada kantong air mata.
- Dakriosistitis spesifik, seperti TB dan sifilis
Kelainan pada hidung :
- Keganasan pada hidung
- Rhinitis spesifik, seperti rhinoskleroma
- Rhinitis atopic
Kelainan pada tulang hidung, seperti periostitis

15

Gambar 2.8 Teknik Dakriosistorinostomi Internal

2.1.9 Komplikasi
Dakriosistitis yang tidak diobati dapat menyebabkan pecahnya kantong air
mata sehingga membentuk fistel. Bisa juga terkadi abses kelopak mata, ulkus, bahkan
selulitis orbita (Ilyas, 2008).
Komplikasi juga bisa muncul setelah dilakukannya DCR. Komplikasi tersebut
di antaranya adalah perdarahan pascaoperasi, nyeri transien pada segmen superior
os.maxilla, hematoma subkutaneus periorbita, infeksi dan sikatrik pascaoperasi yang
tampak jelas (Yuliani, 2009).
2.1.10 Prognosis
Dakriosistitis sangat sensitif terhadap antibiotika namun masih berpotensi
terjadi kekambuhan jika obstruksi duktus nasolakrimalis tidak ditangani secara tepat,

16

sehingga prognosisnya adalah dubia ad malam. Akan tetapi, jika dilakukan


pembedahan baik itu dengan dakriosistorinostomi eksternal atau dakriosistorinostomi
internal, kekambuhan sangat jarang terjadi sehingga prognosisnya dubia ad bonam
(OBrien, 2009).

2.2 Dakrioadenitis
2.2.1 Definisi
Peradangan kelenjar lakrimal merupakan penyakit yang jarang ditemukan dan
dapat bersifat unilateral atau bilateral. Dakrioadenitis ialah suatu proses inflamasi
pada kelenjar air mata pars sekretorik. Dibagi menjadi dua yaitu dakrioadenitis akut
dan kronik, keduanya dapat disebabkan oleh suatu proses infeksi ataupun dari
penyakit sistemik lainnya (Nieto, 2008).
2.2.2 Patofisiologi
Patofisiologinya masih belum jelas, namun beberapa ahli mengemukakan
bahwa proses infeksinya dapat terjadi melalui penyebaran kuman yang berawal di
konjungtiva yang menuju ke ductus lakrimalis dan menuju ke kelenjar lakrimalis.
Beberapa penyebab utama dari proses infeksi terbagi menjadi 3,yaitu :
1. Viral (penyebab utama)
Mumps (penyebab tersering, terutama pada anak-anak), Epstein-Barr virus,
Herpes zoster, Mononucleosis, Cytomegalovirus, Echoviruses, Coxsackievirus A
Pada anak dapat terlihat sebagai komplikasi dari kelenjar air liur, campak, influenza
(Rhem, 2000).

17

2. Bacterial
Staphylococcus aureus and Streptococcus, Neisseria gonorrhoeae, Treponema
pallidum,

Chlamydia

trachomatis,

Mycobacterium

leprae,

Mycobacterium

tuberculosis, Borrelia burgdorferi. Dapat terjadi juga akibat infeksi retrograd


konjungtivitis. Trauma tembus dapat menimbulkan reakso radang pada kelenjar
lakrimal ini (Kubal, 2008).
3. Fungal (jarang)
Histoplasmosis, Blastomycosis, aktinomises, nokardiosissporotrikosis.
4. Sarkoid dan idiopati
Pada penyakit sistemik yang memungkinkan terjadinya dakrioadenitis adalah :
1.Sarcoidosis
2.Graves disease
3.Sjogren syndrome
4.Orbital inflammatory syndrome
5.Benign lymphoepithelial lesion

2.2.3 Gejala Klinis


2.2.3.1 Dakrioadenitis Akut
18

Pada dakrioadenitis akut sering ditemukan pembesaran kelenjar air mata di


dalam palpebra superior, hal ini dapat ditemukan apabila kelopak mata atas dieversi,
maka akan kelihatan tonjolan dari kelenjar air mata yang mengalami proses inflamasi.
Gejala Klinis :
Pada perabaan karena ini merupakan suatu proses yang akut maka biasanya
akan ditemukan skit di daerah glandula lakrimal yaitu di bagian depan temporall atas
rongga orbita disertai dengan kelopak atas yang bengkak, konjungtiva kemotik
dengan belek. Pada infeksi akan terlihat bila mata bergerak akan memberikan sakit
dengan pembesaran kelenjar preaurikel (Eva, 2007).
Bila kelopak mata dibalik tampak pembengkakan berwarna merah, diagnosis
banding:
1. Hordeolum internum biasanya lebih kecil dan melingkar
2. Abses kelopak mata terdapat fluktuasi
3. Selulitis orbita biasanya berkaitan dengan penurunan pergerakan mata.
Dapat dibedakan dengan melakukan biopsy kelenjar lakrimal.
2.2.3.2 Dakrioadenitis Kronik
Pada kronis darkrioadenitis gejala klinisnya lebih baik daripada yang akut.
Gejala hampir sama dengan fase akut hanya pada fase ini tidak didapatkan nyeri.
Umumnya tidak ditemukan nyeri , ada pembesaran kelenjar namun mobil, tandatanda ocular minimal, ptosis bisa ditemukan, dapat ditemukan sindroma mata kering
(Eva, 2007).

19

Gambar 2.9 Tampak eritema dan oedem pada kedua mata

Diagnosis bandingnya :
1. Periostitis dari kelopak mata atas sangat jarang terjadi
2. Lipodermoid tidak ada tanda-tanda inflamasi

Gambar 2.10 Tampak kelenjar lakrimalis yang oedem pada eversi

2.2.4 Terapi
Terapi pada dakrioadenitis bergantung dari onset dan etiologinya.

20

Virus self-limiting, terapi supportive seperti kompres air hangat, NSAID


oral

Bakteri dapat diberikan cephalosporin generasi pertama seperti Cephalexin


500 mg

Jamur dapat diberikan antiamoebic atau antifungal

Inflammatory (non-infeksi) dapat dicari etologi sistemiknya dan diterapi


berdasarkan causanya.

Dakrioadenitis kronis diterapi berdasarkan penyakit penyebabnya, apabila


pembesaran tidak hilang dalam 2 minggu, dapat dilakukan biopsy glandula
lakrimalis (Tomita, 2006).

2.2.5 Komplikasi
Dakrioadenitis akut dapat menyebabkan fistula pada kelenjar lakrimal (Ilyas, 2008).

2.2.6 Prognosis
Prognosis dari akut dakrioadenitis adalah baik karena pada kebanyakan kasus
merupakan self-limiting disease. Pada dakrioadenitis kronis, prognosis tergantung
dari manajement terapi yang berhubungan dengan penyakit yang mendasari
terjadinya dakrioadenitis (Massaro, 1996).

BAB III
KESIMPULAN
21

Dakriosistitis adalah suatu infeksi pada kantong air mata (sakus lakrimalis).
Dakriosistitis terbagi atas akut dan kronik. Bentuk spesial dari inflamasi pada saccus
lacrimalis adalah dakriosistitis kongenital, dimana patofisiologinya terkait erat
dengan embryogenesis sistem eksresi lakrimal. Pada orang dewasa, perempuan lebih
sering terkena dakriosistitis. Umumnya dakriosistitis mengenai umur lebih dari 40
tahun, dan tertinggi pada usia 60-70 tahun.
Pada dakriosistitis kongenital, kanalisasi yang tidak lengkap dari duktus
nasolakrimalis memiliki peran yang penting dari pathogenesis yang terjadi. Obstruksi
dari bagian bawah duktus nasolakrimalis seringkali ditemukan pada orang dewasa
yang terkena dakriosistitis. Bakteri aerob dan anaerob bias didapatkan pada kultur
dari anak-anak dan orang dewasa dengan dakriosistitis.
Infeksi menyebabkan nyeri di daerah sekitar kantong air mata yang tampak
merah dan membengkak. Mata menjadi merah dan berair serta mengeluarkan nanah.
Selain itu, penderita juga mengalami demam. Jika infeksi yang ringan atau berulang
berlangsung lama maka sebagian besar gejala mungkin menghilang hanya
pembengkakan ringan yang menetap.
Dakriosistitis akut biasanya berespons terhadap antibiotika sistemik yang
memadai, dan bentuk kronis sering dapat dipertahankan dengan tetesan antibiotika.
Kompres dengan menggunakan desinfektan juga berpengaruh positif terhadap
gangguan klinis. Meskipun begitu, menghilangkan obstruksi adalah penyembuhan
satu-satunya.

22

Pada keadaan menahun terdapat gambaran yang hampir sama dengan keadaan
akut tetapi tidak disertai nyeri. Apabila pembengkakan cukup besar , bola mata
terdorong ke bawah nasal tetapi jarang terjadi proptosis.
Dakrioadenitis ialah suatu proses inflamasi pada kelenjar air mata pars
sekretorik. Dibagi menjadi dua yaitu dakrioadenitis akut dan kronik, keduanya dapat
disebabkan oleh suatu proses infeksi ataupun dari penyakit sistemik lainnya.
Patofisiologinya masih belum jelas, namun beberapa ahli mengemukakan
bahwa proses infeksinya dapat terjadi melalui penyebaran kuman yang berawal di
konjungtiva yang menuju ke ductus lakrimalis dan menuju ke kelenjar lakrimalis.
Pada dakrioadenitis akut sering ditemukan pembesaran kelenjar air mata di
dalam palpebra superior, hal ini dapat ditemukan apabila kelopak mata atas dieversi,
maka akan kelihatan tonjolan dari kelenjar air mata yang mengalami proses inflamasi.
Pada kronis darkrioadenitis gejala klinisnya lebih baik daripada yang akut.
Gejala hampir sama dengan fase akut hanya pada fase ini tidak didapatkan nyeri.
Umumnya tidak ditemukan nyeri , ada pembesaran kelenjar namun mobil, tandatanda ocular minimal, ptosis bisa ditemukan, dapat ditemukan sindroma mata kering .
Biasanya dimulai dengan kompres hangat, antibiotic sistemik dan bila terlihat
abses maka dilakukan insisi. Bila disebabkan oleh radang menahun maka diberikan
pengobatan yang sesuai. Prognosis dari akut dakrioadenitis adalah baik karena pada
kebanyakan kasus merupakan self-limiting disease. Pada dakrioadenitis kronis,
prognosis tergantung dari manajement terapi yang berhubungan dengan penyakit
yang mendasari terjadinya dakrioadenitis.

23

DAFTAR PUSTAKA

AAO. 2007. Orbit, Eyelid, and Lacrimal System. Singapore:American Academy of


Ophtalmology.
Anonim. 2006. Pedoman Diagnosis dan Terapi Bag/SMF. Ilmu Penyakit Mata Ed.III.
Surabaya: Rumah Sakit Umum Dokter Soetomo.
Bahar,

Ardiansyah.

2009.

Dakriosistitis.

[serial

online].

http://arbaa-

fivone.blogspot.com/2009/03/dakrisistitis.html.
Barathi, Ramakrishnan, Maneksha, Shivakumar, Nithya dan Mittal. 2007.
Comparative Bacteriology of Acute and Chronic Dacryocystitis. [serial
online]. http://www.eye.com/.

24

Danny, M. (Ed) 2001-2002, Basic And Clinical Science Course: Orbit, Eyelid, And
Lacrimal System, Section 7, The Foundation Of American Academy Of
Ophthalmology. USA, 2001, P.248-254
Ellis, Harold. 2006. Clinical Anatomy, A Revision and Applied Anatomy for Clinical
Students Eleventh Edition. Massachusetts, USA : Blackwell Publishing, Inc .
Gilliland, G.D. 2009. Dacryocystitis. [serial online]. http://www.emedicine.com/.
Ilyas, Sidharta. 2006. Dasar-Teknik Pemeriksaan Dalam Ilmu Penyakit Mata Edisi
Kedua. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Ilyas, Sidharta. 2008. Ilmu Penyakit Mata Edisi Ketiga. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.
Kassir,

Kari.

2007.

Dacryocystitis.

[serial

online].

http://www.doctorofusc.com/condition/document/237309.htm.
Kubal

A,

Garibaldi

DC.

Dacryoadenitis

caused

by

methicillin-resistant

Staphylococcus aureus. Ophthal Plast Reconstr Surg. 2008 Jan-Feb. 24(1):501.


Leitman, M.W. 2007. Manual for Eye Examination and Diagnosis Seventh Edition.
Massachusetts, USA : Blackwell Publishing, Inc .
Mamoun,

Tarek.

2009.

Acute

Dacryocystitis.

[serial

online].

http://eyescure.com/Default.aspx?ID=85.
Mamoun,

Tarek.

2009.

Chronic

Dacryocystitis.

[serial

online].

http://

eyescure.com/Default.aspx?ID=84.
Mamoun,

Tarek.

2009.

Congenital

http://eyescure.com/Default.aspx?ID=83.
25

Dacryocystitis.

[serial

online].

Massaro BM, Tabbara KF. Infections of lacrimal apparatus. Infections of the Eye.
Boston: Little Brown; 1996. 551-8.
Nieto JC, Kim N, Lucarelli MJ. Dacryoadenitis and orbital myositis associated with
lyme disease. Arch Ophthalmol. 2008 Aug. 126(8):1165-6.
O'Brien,

Terrence

P.

2009.

Dacryocystitis.

[serial

online].

http://www.mdguidelines.com/dacryocystitis.htm.
Rhem MN, Wilhelmus KR, Jones DB. Epstein-Barr virus dacryoadenitis. Am J
Ophthalmol. 2000 Mar. 129(3):372-5
Sanders, Laura. ____. Cosmetic Facial and Eye Plastic Surgery Evaluation. [serial
online]. http://drlaurasanders.com/topics/102-Evaluation/.
Sowka, J.W., Gurwood, A.S., dan Kabat, A.G. 2010. Review of Optometry, The
Handbook of Occular Disease Management Twelfth Edition. [serial online].
http://www.revoptom.com/.
Tomita M, Shimmura S, Tsubota K, Shimazaki J. Dacryoadenitis associated with
Acanthamoeba keratitis. Arch Ophthalmol. 2006 Sep. 124(9):1239-42.

26