Anda di halaman 1dari 43

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Gangguan tidur merupakan salah satu keluhan yang paling sering ditemukan pada
praktek psikiatri. Gangguan tidur dapat dialami oleh semua lapisan masyarakat baik kaya
miskin, berpendidikan tinggi dan rendah maupun orang muda, serta yang paling sering
ditemukan adalah pada usia lanjut.
Pada orang normal, gangguan tidur yang berkepanjangan akan mengakibatkan
perubahan-perubahan pada siklus tidur biologiknya, menurun dya tahan tubuh serta
menurunkan prestasi kerja, mudah tersinggung, depresi, kurang konsentrasi, kelelahan, yang
pada akhirnya dapat mempengaruhi keselamatan diri sendiri atau orang lain.
Tidur merupakan suatu proses otak yang dibutuhkan oleh seseorang untuk dapat
berfungsi dengan baik. Tidur merupakan suatu bentuk kegiatan dasar yang penting bagi
kehidupan manusia. Otak membutuhkan proses tidur untuk menyeimbangkan kinerja otak
sehingga dapat berfungsi dengan baik. Masyarakat awam belum tentu begitu mengenal
gangguan tidur sehingga jarang mencari pertolongan.
Gangguan tidur yang dialami pada sebagian besar orang adalah insomnia dan 15%
adalah hipersomnia. Gejala ini juga sering mengawali rekurensi depresi. Gangguan tidur yang
disebabkan oleh penyakit organik dan masalah personal dapat menimbulkan depresi.
Ketidakmampuan untuk tidur dalam waktu yang lama juga dapat menjadi tanda penting
bahwa seseorang mungkin cemas, gelisah ataupun depresi.
1.2

Tujuan Penulisan
1. Untuk memenuhi tugas referat di bagian kepaniteraan Ilmu Jiwa Rumah Sakit
Umum Daerah Pasar Rebo
2. Agar lebih mengerti dan memahami mengenai sleeping disorders

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Tidur Fisiologis
1

Tidur merupakan salah satu cara untuk melepaskan kelelahan jasmani dan kelelahan
mental. Dengan tidur semua keluhan hilang atau berkurang dan akan kembali mendapatkan
tenaga serta semangat untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi. Semua makhluk hidup
mempunyai irama kehidupan yang sesuai dengan beredarnya waktu dalam siklus 24 jam.
Irama yang seiring dengan rotasi bola dunia disebut sebagai irama sirkadian. Pusat kontrol
irama sirkadian terletak pada bagian ventral anterior hypothalamus. Bagian susunan saraf
pusat yang mengadakan kegiatan sinkronisasi terletak pada substansia ventrikulo retikularis
medulo oblogata yang disebut sebagai pusat tidur. Bagian susunan saraf pusat yang
menghilangkan sinkronisasi/desinkronisasi terdapat pada bagian rostral medulo oblogata
disebut sebagai pusat penggugah atau aurosal state.
Tidur dibagi menjadi 2 tipe yaitu:
a. Tipe rapid eye movement (REM)
b. Tipe non rapid eye movement (NREM)
Fase awal tidur didahului oleh fase NREM yang terdiri dari 4 stadium, lalu diikuti
oleh fase REM. Keadaan tidur normal antara fase NREM dan REM terjadi secara bergantian
antara 4-7 kali siklus semalam. Bayi baru lahir total tidur 16-20 jam/hari, anak-anak 10-12
jam/hari, kemudian menurun 9-10 jam/hari pada umur diatas 10 tahun dan kira-kira 7-7,5
jam/hari pada orang dewasa.
Tipe NREM dibagi dalam 4 stadium yaitu:
a. Tidur stadium satu.
Fase ini merupakan antara fase terjaga dan fase awal tidur. Fase ini didapatkan
kelopak mata tertutup, tonus otot berkurang dan tampak gerakan bola mata kekanan dan
kekiri. Fase ini hanya berlangsung 3-5 menit dan mudah sekali dibangunkan. Gambaran EEG
biasanya terdiri dari gelombang campuran alfa, betha dan kadang gelombang theta dengan
amplitudo yang rendah.
b. Tidur stadium dua
Pada fase ini didapatkan bola mata berhenti bergerak, tonus otot masih berkurang,
tidur lebih dalam dari pada fase pertama. Gambaran EEG terdiri dari gelombang theta
simetris. Terlihat adanya gelombang sleep spindle, gelombang verteks dan komplek k.
c.

Tidur stadium tiga


Fase ini tidur lebih dalam dari fase sebelumnya. Gambaran EEG terdapat lebih

banyak gelombang delta simetris antara 25%-50% serta tampak gelombang sleep spindle.
d. Tidur stadium empat
2

Merupakan tidur yang dalam serta sukar dibangunkan. Gambaran EEG didominasi
oleh gelombang delta sampai 50% tampak gelombang sleep spindle.
Fase tidur NREM, ini biasanya berlangsung antara 70 menit sampai 100 menit,
setelah itu akan masuk ke fase REM. Pada waktu REM jam pertama prosesnya berlangsung
lebih cepat dan menjadi lebih insten dan panjang saat menjelang pagi atau bangun. Pola tidur
REM ditandai adanya gerakan bola mata yang cepat, tonus otot yang sangat rendah, apabila
dibangunkan hampir semua organ akan dapat menceritakan mimpinya, denyut nadi
bertambah dan pada laki-laki terjadi ereksi penis, tonus otot menunjukkan relaksasi yang
dalam.
Pola tidur REM berubah sepanjang kehidupan seseorang seperti periode neonatal
bahwa tidur rem mewakili 50% dari waktu total tidur. Periode neonatal ini pada EEG-nya
masuk ke fase REM tanpa melalui stadium 1 sampai 4. Pada usia 4 bulan pola berubah
sehingga persentasi total tidur REM berkurang sampai 40% hal ini sesuai dengan kematangan
sel-sel otak, kemudian akan masuk keperiode awal tidur yang didahului oleh fase NREM
kemudian fase REM pada dewasa muda dengan distribusi fase tidur sebagai berikut:
a. NREM 75% yaitu :
stadium 1: 5%; stadium 2 : 45%; stadium 3 : 12%; stadium 4 : 13%
b. REM 25 %.
2.2

Peranan neurotransmiter
Keadaan jaga atau bangun sangat dipengaruhi oleh sistim aras (ascending reticulary

activity system). Bila aktifitas aras ini meningkat orang tersebut dalam keadaan sadar.
Aktifitas aras menurun, orang tersebut akan dalam keadaan tidur. Aktifitas aras ini sangat
dipengaruhi oleh aktifitas neurotransmiter seperti sistem serotoninergik, noradrenergik,
kholonergik, histaminergik.
a. Sistem serotonergik
Hasil serotonergik sangat dipengaruhi oleh hasil metabolisma asam amino trypthopan.
Dengan bertambahnya jumlah tryptopan, maka jumlah serotonin yang terbentuk juga
meningkat akan menyebabkan keadaan mengantuk/tidur. Bila serotonin dari tryptopan
terhambat pembentukannya, maka terjadi keadaan tidak bisa tidur/jaga. Menurut beberapa
peneliti lokasi yang terbanyak sistem serotogenik ini terletak pada nukleus raphe dorsalis di
batang otak, yang mana terdapat hubungan aktifitas serotonis dinukleus raphe dorsalis dengan
tidur rem.
b. Sistem adrenergik
3

Neuron-neuron yang terbanyak mengandung norepineprin terletak di badan sel


nukleus cereleus di batang otak. Kerusakan sel neuron pada lokus cereleus sangat
mempengaruhi penurunan atau hilangnya rem tidur. Obat-obatan yang mempengaruhi
peningkatan aktifitas neuron noradrenergik akan menyebabkan penurunan yang jelas pada
tidur rem dan peningkatan keadaan jaga.
c. Sistem kholinergik
Sitaram et al (1976) membuktikan dengan pemberian prostigimin intra vena dapat
mempengaruhi episode tidur rem. Stimulasi jalur kholihergik ini, mengakibatkan aktifitas
gambaran eeg seperti dalam keadaan jaga. Gangguan aktifitas kholinergik sentral yang
berhubungan dengan perubahan tidur ini terlihat pada orang depresi, sehingga terjadi
pemendekan latensi tidur rem. Pada obat antikolinergik (scopolamine) yang menghambat
pengeluaran kholinergik dari lokus sereleus maka tamapak gangguan pada fase awal dan
penurunan REM.
d. Sistem histaminergik
Pengaruh histamin sangat sedikit mempengaruhi tidur
e. Sistem hormon
Pengaruh hormon terhadap siklus tidur dipengaruhi oleh beberapa hormon seperti
acth, gh, tsh, dan lh. Hormon hormon ini masing-masing disekresi secara teratur oleh kelenjar
pituitary anterior melalui hipotalamus pathway. Sistem ini secara teratur mempengaruhi
pengeluaran neurotransmiter norepinefrin, dopamin, serotonin yang bertugas mengatur
mekanisme tidur dan bangun.
Fungsi Tidur
Fungsi tidur telah diperiksa melalui berbagai cara. Sebagian besar peneliti
menyimpulkan bahwa tidur memberikan fungsi homeostatik yang bersifat menyegarkan dan
penting untuk termoregulasi normal dan penyimpanan energi.
Irama Tidur-Bangun
Setiap makhluk hidup memiliki bioritme (jam biologis) yang berbeda. Bentuk
bioritme yang paling umum adalah ritme sirkadian yang melengkapi siklus selama 24 jam.
Semua bentuk ritme biologis, termasuk ritme circadian, dipengaruhi oleh faktor internal
(endegenous) dan eksternal (exogenous atau disebut dengan zeitgebers). Faktor internal
merupakan faktor yang berasal dari dalam diri individu. Beberapa peneliti percaya bahwa
pusat internal dari ritme ini terletak di suatu area di otak yang disebut suprachiasmatic nuclei
(SCN), namun hal ini belum dapat dibuktikan secara ilmiah dan sampai saat ini masih
4

menjadi perdebatan. Faktor eksternal berhubungan dengan lingkungan natural di luar tubuh
seperti siklus gelap-terang (siang-malam), suhu ruang, perubahan-perubahan musim, interaksi
sosial dengan indivisu yang lain serta waktu/jam makan yang semuanya mempengaruhi
siklus aktivitas fungsi-fungsi tubuh. Dalam hal ini, fluktuasi denyut jantung, tekanan darah,
temperature, sekresi hormon, metabolisme, dan penampilan serta perasaan individu
bergantung pada ritme sirkadiannya. Tidur adalah salah satu irama biologis tubuh yang sangat
kompleks. Sinkronisasi sirkadian terjadi jika individu memiliki pola tidur-bangun yang
mengikuti jam biologisnya: individu akanbangun pada saat ritme fisiologis paling tinggi atau
paling aktif dan akan tidur pada saat ritme tersebut paling rendah.
2.3

Insidensi
Hampir semua orang pernah mengalami gangguan tidur selama masa kehidupannya.

Diperkirakan tiap tahun 20%-40% orang dewasa mengalami kesukaran tidur dan 17%
diantaranya mengalami masalah serius. Prevalensi gangguan tidur setiap tahun cendrung
meningkat, hal ini juga sesuai dengan peningkatan usia dan berbagai penyebabnya. Kaplan
dan sadock melaporkan kurang lebih 40-50% dari populasi usia lanjut menderita gangguan
tidur. Gangguan tidur kronik (10-15%) disebabkan oleh gangguan psikiatri, ketergantungan
obat dan alkohol.
Menurut data internasional of sleep disorder, prevalensi penyebab-penyebab gangguan
tidur adalah sebagai berikut: penyakit asma (61-74%), gangguan pusat pernafasan (40-50%),
kram kaki malam hari (16%), psychophysiological (15%), sindroma kaki gelisah (5-15%),
ketergantungan alkohol (10%), sindroma terlambat tidur (5-10%), depresi (65%), demensia
(5%), gangguan perubahan jadwal kerja (2-5%), gangguan obstruksi sesak saluran nafas (12%), penyakit ulkus peptikus (<1%), narcolepsy (mendadak tidur) (0,03%-0,16%).
2.4

Gangguan Tidur
Kumpulan kondisi yang dicirikan dengan adanya gangguan dalam jumlah, kualitas,
atau waktu tidur pada seorang individu. Pada kelompok remaja, kurangnya durasi tidur
juga dapat terjadi akibat adanya perubahan gaya hidup. Tidur diregulasi oleh beberapa
mekanisme, dan ketika sistem ini salah, gangguan tidur dapat terjadi. Mengantuk adalah
kondisi yang serius dan secara potensial dapat mengancam kehidupan dan berpengaruh
tidak hanya pada individu yang mengalaminya, tetapi juga pada keluarga, partner kerja,
dan teman satu lingkungannya.

2.4.2

Klasifikasi Gangguan Tidur


5

Edisi kelima dari Diagnostic and Stastitical Manual of Mental Disorders (DSM-5)
dalam American Psychiatric Association (APA) menggolongkan sepuluh gangguan tidur
berdasarkan kriteria diagnosis klinis dan perkiraan etiologi. Klasifikasi gangguan tidur
berdasarkan DSM-5 adalah sebagai berikut:
1. Insomnia
2. Hipersomnia
3. Narkolepsi
4. Gangguan Tidur Terkait Pernapasan
a. Sindrom Apnea Tidur Obstruktif
b. Apnea Tidur Sentral
i.
Apnea tidur sentral idiopatik
ii.
Pernafasan Cheyne-stokes
iii.
Apnea tidur sentral dengan komorbid penggunaan opioid
c. Hipoventilasi terkait Tidur
5. Gangguan Tidur Irama Sirkadian
a. Tipe Fase Tidur Tertunda (delayed sleep phase type)
b. Tipe Fase Terlalu Cepat Tidur (advanced sleep phase syndrome).
c. Tipe Bangun-Tidur Irreguler (Irregular Sleep-Wake Type)
d. Tipe Tidur-Bangun Non-24 jam (Non-24-Hour Sleep-Wake Type)
e. Tipe Kerja Giliran (Shift Work Type)
f. Tipe Jet Lag
6. Parasomnia
7. Gangguan Tidur NREM
a. Gangguan Berjalan Sambil Tidur (Sleepwalking type)
b. Gangguan Teror Tidur (sleep terror type)
8. Gangguan Mimpi Buruk
9. Gangguan Perilaku Tidur REM
10. Restless Legs Syndrome
11. Gangguan Tidur yang Dicetuskan Zat
2.4.2.1 Insomnia
Insomnia adalah kesulitan memulai atau mempertahankan tidur, yang merupakan
keluhan tidur yang paling lazim ditemui dan dapat bersifat sementara atau menetap. DSM-
mendefinisikan insomnia sebagai ketidakpuasan dalam kuantitas ataupun kualitas tidur yang
berhubungan dengan satu atau lebih gejala berikut: kesulitan memulai tidur, kesulitan
mempertahankan tidur dengan frekuensi bangun yang sering atau ada masalah saat kembali
mencoba untuk tidur, dan episode bangun yang lebih pagi akibat tidak mampu kembali tidur.
Suatu periode singkat insomnia paling sering disebabkan ansietas, baik sebagai gejala
sisa suatu pengalaman yang mencemaskan atau antisipasi pengalaman yang mencetuskan
ansietas. Pada beberapa orang, insomnia sementara jenis ini dapat disebabkan berkabung,
kehilangan, atau nyaris semua perubahan kehidupan maupun stres.
Insomnia menetap adalah kelompok keadaan yang cukup lazim ditemukan dengan
masalah yang paling sering adalah kesulitan untuk jatuh tertidur bukannya untuk tetap
mempertahankan tidur. Insomnia ini melibatkan dua masalah yang kadang-kadang dapat
6

dipisahkan, tetapi sering saling berkaitan, yaitu: tegangan somatisasi serta ansietas dan
respons asosiatif yang dipelajari. Pasien sering tidak memiliki keluhan yang jelas selain
insomnia. Mereka mungkin tidak mengalami ansietas itu sendiri tetapi melepaskan
ansietasnya melalui saluran fisiologis; mereka terutama dapat mengeluhkan perasaan gelisah
atau pikiran yang mendalam dan tampaknya membuat mereka tetap terjaga. Kadang-kadang
(tetapi tidak selalu), seorang pasien menjelaskan perburukan gejala terjadi saat stres di tempat
kerja atau di rumah dan perbaikan terjadi saat sedang berlibur.
Sleep state misperception (subjective insomnia) adalah karakteristik adanya disosiasi
antara pengalaman tidur pasien dan pemeriksaan objektif poligraf dari tidur. Diagnosa
ditegakkan ketika pasien mengeluh kesulitan untuk memulai atau mempertahankan tidur dan
tidak ada bukti objektif dari gangguan tidur yang ditemukan. Bisa terjadi pada individu yang
bebas dari psikopatologi, adanya delusi somatik atau hipokondriasis.
Insomnia psikofisiologis atau conditioned insomnia, pasien mengeluh kesulitan untuk
memulai tidur, terjadi selama beberapa tahun dan biasanya pasien menyangkal adanya
hubungan dengan periode stress dalam hidupnya. Adanya objek yang berhubungan dengan
insomnia (seperti kasur, kamar tidur), dapat menjadi kondisi yang menstimulasi terjadinya
insomnia. Terjadi akibat beberapa penyebab, stress, ansietas, sindrom tidur tertunda, dan
penggunaan obat-obat hipnotik. Pekerjaan dan hubungan dengan lingkungan cukup
memuaskan.
Insomnia idiopatik, muncul pada awal kehidupan, terkadang saat lahir, dan berlanjut
seumur hidup. Penyebabnya tidak diketahui, kemungkinan ketidakseimbangan neurobiokimia
pada formatio retikulare di batang otak sehingga mengganggu regulasi pusat tidur di batang
A. Keluhan dominan adalah rasa tidak puas dalam kuantitas maupun kualitas tidur,
otak.
berhubungan
dengan
satu atau jika
lebih tidur
gejala yang
dibawah
ini: bersifat menyegarkan, atau
Insomnia
primer,
didiagnosis
tidak
1. Kesulitan memulai tidur
kesulitan 2.
untuk
memulai
atau mempertahankan
tidur, dandengan
keluhanbangun
ini berlangsung
sedikitnya
Kesulitan
mempertahankan
tidur, ditandai
yang sering,
sulit untuk
selama 1 bulan.
Primer
kemabli
tidurmenggambarkan
setelah bangun bahwa insomnia ini bebas dari keluhan fisik dan
3. Pasien
Bangun
pagi yang
lebihprimer
awal akibat
tidakpreokupasi
mampu kembali
untuk
tidur
psikologis.
dengan
insomnia
memiliki
mengenai
tidur
yang cukup.
B. Gangguan tidur ini menyebabkan gangguan fungsi sosial, pekerjaan, pendidikan,
akademik,diagnostic
perilaku, dan
fungsi
yang insomnia
lain.
Tabel 1. Kriteria
DSM-V
untuk
C. Kesulitan tidur terjadi sedikitnya 3 malam dalam seminggu
D. Kesulitan tidur terjadi dalam 3 bulan
E. Kesulitan tidur terjadi meskipun ada kesempatan yang adekuat untuk tidur
F. Insomnia terjadi tidak disebabkan atau selama periode gangguan tidur yang lain
(narkolepsi, gangguan tidur terkait zat, gangguan irama tidur sirkadian, parasomnia)
G. Insomnia tidak terjadi akibat efek fisiologis dari suatu zat atau obat-obatan
H. Tidak ada gangguan mental atau keadaan medis yang dapat menjelaskan terjadinya
insomnia.
7

Terapi Insomnia
Farmakologi. Insomnia primer biasanya diterapi dengan benzodiazepine, zolpidem,
zaleplon, serta hipnotik lainnya. Obat hipnotik harus digunakan dengan hati-hati. Obat tidur
yang bekerja lama (flurazepam, quazepam) paling baik untuk menangani insomnia malam
hari. Obat yang bekerja singkat (zolpidem, triazolam) berguna untuk pasien yang mengalami
kesulitan untuk jatuh tertidur). Pada umumnya, obat tidur sebaiknya tidak diresepkan untuk
waktu lebih dari 2 minggu karena toleransi dan putus obat dapat terjadi. Melatonin
merupakan hormon yang disekresikan oleh glandula pineal. Ia berperan mengatur siklus tidur.
Efek hipnotiknya terlihat pada pasien gangguan tidur primer. Ia juga memperbaiki tidur pada
penderita depresi mayor. Melatonin juga dapat memperbaiki tidur, tanpa efek samping, pada
lansia dengan insomnia. Melatonin dapat ditambahkan ke dalam makanan.
OBAT ANTI-INSOMNIA
Penggolongan obat anti-insomnia
1. Benzodiazepine, contoh : Nitrazepam, Triazolam, Estazolam
2. Non-Benzodiazepine, contoh : Chloral-hydrate, Phenobarbital

Indikasi penggunaan
Indikasi penggunaan obat anti-insomnia terutama pada kasus transient insomnia dan
short term insomnia, sangat berhati-hati pada kasus long term insomnia. Selalu diupayakan
mencari penyebab dasar dari gangguan tidur dan pengobatan ditujukan pada penyebab dasar
tersebut.
Mekanisme Kerja
Obat golongan benzodiazepine tidak menyebabkan REM suppression and rebound.
Pada kasus depresi terjadi pengurangan delta sleep (gelombang delta < 20%), sehingga tidak
pulas tidurnya dan mudah terbangun. Pada awal depresi terjadi defisit REM sleep (0-10%,
dimana pada orang normal sekitar 20%) yang menyebabkan tidur sering terbangun akibat
mimpi buruk (REM sleep bertambah untuk mengatasi defisit), sehingga siklus tidur menjadi
tidak teratur (disorganized).
Obat anti-depresi (trisiklik dan tetrasiklik) menekan dan menghilangkan REM sleep
dan meningkatkan delta sleep, sehingga pasien tidur nyaman tidak diganggu mimpi buruk.
Bila obat mendadak dihentikan terjadi REM rebound dimana pasien akan mengalami mimpimimpi buruk lagi.
Efek Samping

Obat-obatan ini dapat menimbulkan supresi susunan saraf pusat (SSP) pada saat tidur.
Hati-hati pada pasien dengan insufisiensi pernapasan , uremia, dan gangguan fungsi hati, oleh
karena keadaan tersebut terjadi penurunan fungsi SSP dan dapat memudahkan timbulnya
koma. Pada pasien usia lanjut dapat terjadi oversedation sehingga risiko jatuh dan trauma
menjadi besar, yang sering terjadi adalah hip fracture.
Pemilihan Obat
Ditinjau dari sifat gangguan tidur, dikenal dengan :
1. Initial insomnia : sulit masuk ke dalam proses tidur. Obat yang dibutuhkan dalah
bersifat sleep inducing anti-insomnia, yaitu golongan benzodiazepine (short acting).
Misalnya pada gangguan anxietas.
2. Delayed insomnia : proses tidur terlalu cepat berakhir dan sulit masuk kembali ke
proses tidur selanjutnya. Obat yang dibutuhkan adalah bersifat prolong latent phase
anti-insomnia, yaitu golongan heterosiklik antidepresan (trisiklik dan tetrasiklik).
Misalnya pada gangguan depresi.
3. Broken insomnia : siklus proses tidur yang normal tidak utuh dan terpecah-pecah
menjadi beberapa bagian (multiple awakening). Obat yang dibutuhkan adalah bersifat
sleep maintaining anti-insomnia, yaitu golongan phenobarbital atau golongan
benzodiazepine (long acting). Misalnya pada gangguan stress psikososial.

Pengaturan Dosis
Pemberian tunggal dosis anjuran 15-30 menit sebelum pergi tidur. Dosis awal dapat
dinaikkan sampai mencapai dosis efektif dan dipertahankan sampai 1-2 minggu, kemudian
secepatnya tappering off untuk mencegah timbunya rebound dan toleransi obat. Pada usia
lanjut dosis harus lebih kecil dan peningkatan dosis lebih perlahan-lahan, untuk menghindari
oversedation dan intoksikasi.
Lama Pemberian
Pemakaian obat anti-insomnia sebaiknya sekitar 1-2 minggu saja, tidak lebih dari 2
minggu, agar risiko ketergantungan kecil. Penggunaan lebih dari 2 minggu dapat
menimbulkan perubahan sleep EEG yang menetap sekitar 6 bulan lamanya.
Kesulitan pemberhentian obat seringkali oleh karena psychological dependence (habituasi)
sebagai akibat rasa nyaman setelah gangguan tidur dapat ditanggulangi.
10

Perhatian Khusus
Obat anti-insomnia kontraindikasi pada sleep apnoe syndrome, congestive heart
failure, dan chronic respiratory disease. Penggunaan benzodiazepine pada wanita hamil
mempunyai risiko menimbulkan teratogenic effect (misalnya cleft plate abnormalities)
khususnya pada trimester pertama. Benzodiazepine juga diekskresi melalui ASI, berefek pada
bayi, yaitu penekanan fungsi SSP .
Di antara obat anti-insomnia tersebut, benzodiazepin paling sering digunakan dan
tetap merupakan pilihan utama untuk mengatasi insomnia baik primer maupun sekunder.
Kloralhidrat dapat pula bermanfaat dan cenderung tidak disalahgunakan. Antihistamin,
prekursor protein seperti l-triptofan yang saat ini tersedia dalam bentuk suplemen juga dapat
digunakan.
Obat hipnotik hendaklah digunakan dalam waktu terbatas atau untuk mengatasi
insomnia jangka pendek. Dosis harus kecil dan durasi pemberian harus singkat.
Benzodiazepin dapat direkomendasikan untuk dua atau tiga hari dan dapat diulang tidak lebih
dari tiga kali. Penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan masalah tidur atau dapat
menutupi penyakit yang mendasari.
Penggunaan benzodiazepin harus hati-hati pada pasien penyakit paru obstruktif
kronik, obesitas, gangguan jantung dengan hipoventilasi. Benzodiazepin dapat mengganggu
ventilasi pada apnea tidur. Efek samping berupa penurunan kognitif dan terjatuh akibat
gangguan koordinasi motorik sering ditemukan. Oleh karena itu, penggunaan benzodiazepin
pada lansia harus hati-hati dan dosisnya serendah mungkin.
Benzodiazepin dengan waktu paruh pendek (triazolam dan zolpidem) merupakan obat
pilihan untuk membantu orang-orang yang sulit masuk tidur. Sebaliknya, obat yang waktu
paruhnya panjang (estazolam, temazepam, dan lorazepam) berguna untuk penderita yang
mengalami interupsi tidur. Benzodiazepin yang kerjanya lebih panjang dapat memperbaiki
anxietas di siang hari dan insomnia di malam hari.
Sebagian obat golongan benzodiazepin dimetabolisme di hepar. Oleh karena itu,
pemberian obat-obat yang menghambat oksidasi sitokrom (seperti simetidin, estrogen, INH,
eritromisin, dan fluoxetine) dapat menyebabkan sedasi berlebihan di siang hari.
Triazolam tidak menyebabkan gangguan respirasi pada pasien COPD ringan-sedang yang
mengalami insomnia. Neuroleptik dapat digunakan untuk insomnia sekunder
terhadap delirium pada lansia. Dosis rendah-sedang benzodiazepin seperti lorazepam
digunakan untuk memperkuat efek neuroleptik terhadap tidur.
11

Antidepresan yang bersifat sedatif seperti trazodone dapat diberikan bersamaan


dengan benzodiazepin pada awal malam. Antidepresan kadang-kadang dapat memperburuk
gangguan gerakan terkait tidur (RLS).
Mirtazapine merupakan antidepresan baru golongan noradrenergic and specific
serotonin antidepressant (NaSSA). Ia dapat memperpendek onset tidur, stadium 1 berkurang,
dan meningkatkan dalamnya tidur. Latensi REM, total waktu tidur, kontinuitas tidur, serta
efisiensi tidur meningkat pada pemberian mirtazapine. Obat ini efektif untuk penderita
depresi dengan insomnia tidur.
Tidak dianjurkan menggunakan imipramin, desipramin, dan monoamin oksidase
inhibitor pada lansia karena dapat menstimulasi insomnia. Lithium dapat menganggu
kontinuitas tidur akibat efek samping poliuria.
Khloralhidrat dan barbiturat jarang digunakan karena cenderung menekan pernafasan.
Antihistamin dan difenhidramin bermanfaat untuk beberapa pasien tapi penggunaannya harus
hati-hati karena dapat menginduksi delirium.
Cognitive Behavioral Therapy (CBT)
CBT adalah modalitas terapi yang menggunakan kombinasi teknik perilaku dan kognitif
untuk mengatasi adanya gangguan tidur. Teknik perilaku termasuk universal sleep hygiene,
terapi kontrol stimulus, terapi restriksi tidur, terapi relaksasi, dan biofeedback.
Universal Sleep Hygiene
Fokus pada sleep hygiene adalah modifikasi komponen lingkugan dan gaya hidup yang bisa
mempengaruhi tidur, serta perilaku yang meningkatkan tidur. Terapi harus fokus pada satu
sampai tiga area masalah dalam satu waktu. Oleh karena perilaku adalah hal yang sulit untuk
dirubah, hanya satu atau dua item yang dipilih oleh pasien dan klinisi untuk diterapi. Sleep
hygiene terdiri dari:
o
o
o
o
o
o
o
o
o

Tidur dan bangunlah secara reguler/kebiasaan


Hindari tidur pada siang hari/sambilan
Jangan mengkonsumsi kafein pada malam hari
Jangan menggunakan obat-obat stimulan seperti decongestan
Lakukan latihan/olahraga yang ringan sebelum tidur
Hindari makan pada saat mau tidur, tapi jangan tidur dengan perut kosong
Segera bangun dari tempat bila tidak dapat tidur (15-30 menit)
Hindari rasa cemas atau frustasi
Buat suasana ruang tidur yang sejuk, sepi, aman dan enak

Terapi Kontrol Stimulus


12

Tujuan terapi ini untuk memutus siklus yang menjadi masalah yang berhubungan dengan
keluhan kesulitan untuk memulai tidur. Ada beberapa instruksi sederhana yang harus diikuti
secara konsisten oleh pasien. Peraturan pertama, pergi ke tempat tidur hanya jika pasien
sudah merasa mengantuk maksimal. Kedua, gunakan tempat tidur hanya untuk tidur, jangan
menonton tv di tempat tidur, jangan membaca, jangan makan dan jangan berbicara di telepon
di tempat tidur. Ketiga, jangan beemalas-malasan di kasur dan menjadi frustasi apabila tidak
bisa tidur. Setelah beberapa menit, bangun, pergi ke ruangan lain dan lakukan sesuatu hingga
rasa kantuk kembali ada. Tujuannya untuk mempercepat onset tidur. Ketiga aturan ini harus
dilakukan berulang-ulang. Keempat dan terakhir, lakukan instruksi untuk meningkatkan
irama sirkadian, yaitu bangun dipagi hari selalu dengan waktu yang sama dan hindari tidur
siang.
Terapi Restriksi Tidur
Terapi ini adalah strategi yang di design untuk meningkatkan efektivitas tidur dengan cara
mengurangi waktu yang dihabiskan saat terjaga sambil berbaring di tempat tidur. Jika pasien
tidur hanya 5 jam dari yang seharusnya 8 jam, kurangi waktu di tempat tidur.
Terapi Relaksasi dan Biofeedback
Pasien diminta untuk mengikuti instruksi berikut:
Petama: dalam posisi supine, pasien diminta untuk bernafas biasa melalui mulut atau hidung
dengan nyaman
Kedua: pertahankan ritme tersebut, kemudian pasien diminta untuk mulai bernafas
menggunakan perut dan sedikit menggunakan dada
Ketiga: pasien diminta untuk berhenti beberapa detik setelah satu siklus pernafasan dan
keluarkan secara perlahan-lahan. Lakukan secara seragam dan lembut
Keempat: pasien sebaiknya bisa menemukan tempat dimana pasien merasa nyaman dalam
menghirup dan mengeluarkan udara dan harus berkonsentrasi
Kelima: pasien harus menjauhkan pikiran-pikiran yang dapat mengganggu latihan.
2.4.2.2 Hipersomnia
Hipersomnia tampak sebagai tidur yang berlebihan, rasa mengantuk di siang hari yang
berlebihan, atau kadang-kadang keduanya. Istilah somnolen harus diberikan kepada pasien
yang mengeluhkan keadaan mengantuk dan memiliki kecenderungan yang tampak jelas
untuk jatuh tertidur tiba-tiba pada keadaan terjaga, yang mengalami serangan tidur, dan yang
tidak dapat tetap terjaga; istilah ini sebaiknya tidak digunakan untuk orang yang secara fisik
lelah atau letih. Somnolen dapat terjadi akibat tidur yang kurang cukup, adanya disfungsi
13

neurologi pada otak yang mengatur regulasi tidur, tidur yang terganggu, adanya gangguan
pada irama sirkadian seseorang. Jika durasi tidur seseorang berkurang 1-2 jam setiap malam
selama seminggu, maka somnolen ini bisa mencapai level patologis.
Hipersomnia primer, didiagnosis jika tidak ada penyebab lain yang ditemukan untuk
somnolen berlebihan yang terjadi sedikitnya 1 bulan. Pasien tidak mengeluhkan kualitas
tidur, rasa mengantuk di siang hari, kesulitan dengan mood saat bangun, motivasi dan kinerja.
Gangguan ini dikatakan berulang jika pasien memiliki rasa kantuk berlebihan yang
berlangsung selama 3 hari dan terjadi beberapa kali dalam saru tahun, paling sedikit selama 2
tahun.
Tipe-Tipe Hipersomnia
Sindrom Klein-Levin. Sindrom yang jarang, terdiri atas episode berulang tidur yang lama
(pasien dapat dibangunkan) dengan menyelingi periode tidur normal dan bangun. Selama
episode hipersomnia, periode bangun biasanya ditandai dengan penarikan diri dari kontak
sosial dan berusaha kembali ke tempat tidur secepat mungkin; pasien dapat menunjukan
apati, iritabilitas, kebingungan, makan dengan rakus, kehilangan inhibisi seksual, waham,
halusinasi, disorientasi yang jelas, hendaya daya ingat, pembicaraan inkoheren, eksitasi atau
depresi, dan sikap galak. Pada sebagian kecil pasien dapat terjadi demam. Sindrom ini sering
terjadi pada rentang usia 10-21 tahun, tampak akan sembuh sendiri dan remisi penuh terjadi
spontan sebelum usia 40 tahun pada kasus dengan onset dini.
Hipersomnia-Terkait Menstruasi. Sejumlah perempuan mengalami hipersomnia yang
intermitten, perubahan pola prilaku, dan makan dengan rakus pada saat atau segera sebelum
onset menstruasi. Gambaran eeg akan mirip dengan sindrom kleine-levin. Adanya dugaan
keterlibatan dari faktor endokrin, namun pengukuran spesifik secara laboratorium perubahan
endokrin belum ditemukan.
Kriteria Diagnostik untuk Hipersomnia Primer menurut DSM-IV-TR
a. Keluhan yang menonjol adalah mengantuk berlebihan di siang hari selama
sekurangnya satu bulan (atau lebih singkat jika rekuren) seperti yang
ditunjukkan oleh episode tidur yang memanjang atau episode tidur siang hari
yang terjadi hampir setiap hari.
b. Mengantuk berlebihan di siang hari menyebabkan penderitaan yang bermakna
secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting
lain.
c. Mengantuk berlebihan di siang hari tidak dapat diterangkan oleh Insomnia
dan tidak terjadi semata-mata selam perjalan gangguan tidur lain (misalnya,
narkolepsi, gangguan tidur berhubungan pernafasan, gangguan tidur irama
sirkadian, atau parasomnia) dan tidak dapat diterangkan oleh jumlah tidur yang
tidak adekuat.
d. Gangguan tidak terjadi semata-mata selama perjalanan gangguan lain.
e. Gangguan bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya,
obat yang disalahgunakan, medikasi) atau suatu kondisi medis umum.

14

Terapi adalah dengan pemberian obat stimulant berupa amfetamin yang diberikan pada pagi
dan sore hari. Obat antidepresan non-sedasi berupa bupopiron dan stimulant baru seperti
modafinil.
2.4.2.3 Narkolepsi
Narkolepsi terdiri dari rasa ngantuk di siang hari yang berlebihan serta manifestasi
tidur yang abnormal rem (rapid eye movement) yang terjadi setiap hari selama 3 bulan.
Serangan tidur ini khasnya terjadi 2 sampai 6 kali dalam sehari yang berlangsung 10 hingga
20 menit. Sering terjadi pada saat yang tidak tepat, pada saat makan, berbicara, menyetir atau
berhubungan seksual. Tidur rem mencakup halusinasi hipnagogik dan hipnopompik, katalepsi
dan paralisis tidur.
Gangguan ini merupakan kelainan mekanisme tidur, secara spesifik terjadinya
mekanisme penghambatan rem. Narkolepsi bisa terjadi pada usia berapapun tapi sering
terjadi pada usia remaja dan dewasa muda, umumnya kurang dari 30 tahun.
Berbagai bentuk narkolepsi:
a) Narkolepsi kataplesia, adalah kehilangan tonus otot yang sementara baik sebagian atau
seluruh otot tubuh seperti jaw drop, head drop.
b) Hypnagogic halusinasi auditorik/visual adalah halusinasi pada saat jatuh tidur sehingga
pasien dalam keadaan jaga, kemudian ke kerangka pikiran normal.
c) Sleep paralis adalah otot volunter mengalami paralis pada saat masuk tidur sehingga pasien
sadar ia tidak mampu menggerakkan ototnya. Gangguan ini merupakan kelainan heriditer,
kelainannya terletak pada lokus kromoson 6 didapatkan pada orang-orang Caucasian white
dengan populasi lebih dari 90%, sedangkan pada bangsa Jepang 20-25%, dan bangsa Israel
1:500.000. Tidak ada perbedaan antara jenis kelamin laki dan wanita. Kelainan ini diduga
terletak antara batang otak bagian atas dan kronik pada malam harinya serta tidak rstorasi
seperti terputusnya fase REM
Kriteria Diagnostik DSM-5 untuk Narkolepsi
15

A. Adanya episode yang rekuren dari kebutuhan tidur yang tak tertahankan, mudah terjatuh
untuk tidur, mudah tidur siang yang terjadi dalam satu hari yang sama. Hal ini harus
terjadi minimal tiga kali dalam seminggu selama sedikitnya 3 bulan.
B. Adanya satu dari hal berikut:
1. Episode katapleksi, yaitu kriteria (a) atau (b) yang terjadi sedikitnya beberapa kali
dalam sebulan:
a. Individu dengan penyakit berdiri-lama, onset singkat (detik ke menit), adanya
episode singkat hilangnya tonus otot bilateral secara tiba-tiba, yang dicetuskan oleh
tertawa atau bercanda.
b. Anak-anak atau individu dengan onset minimal 6 bulan, dengan meringis spontan
atau episode rahang yang membuka dengan lidah yang terdorong atau hipotonia
global, tanpa adanya pencetus emosi yang jelas.
2. Defisiensi hipocretin, yang dihitung menggunakan cairan serebrospinal (CSF)
hipocretin-1 immunoreactivity values (110 pg/mL).
3. Nocturnal sleep polysomnography menunjukan latensi tidur REM 15 menit, atau

latensi tidur multiple 8 menit dan dua atau lebih periode onset tidur REM.

Terapi. Tidak ada penyembuhan pada narkolepsi, tetapi pengelolaan gejala mungkin
dilakukan, seperti dibiasakan untuk tidur siang pada waktu yang teratur. Jika dibutuhkan,
stimulant adalah obat yang lazim digunakan. Penggunaan obat modafinil atau pengobatan
menggunakan ssri (serotonin selective reuptake inhibitors) juga sering diresepkan oleh pakar
gangguan tidur.
2.2.4.4 Gangguan Tidur Terkait Pernapasan
Gangguan tidur terkait pernapasan ditandai dengan penghentian tidur yang
menyebabkan rasa mengantuk berlebihan atau insomnia yang disebabkan oleh gangguan
pernapasan terkait tidur. Gangguan pernapasan yang dapat terjadi pada saat tidur mencakup,
apnea, hipopnea dan desaturasi oksigen. Gangguan sistem pernapasan yang dapat
menyebabkan hipersomnia adalah apnea tidur dan hipoventilasi alveolar sentral.
Tabel 1. Kriteria diagnostic DSM-IV-tr gangguan tidur yang terkait dengan pernapasan
A. Perhentian tidur, yang menyebabkan rasa mengantuk berlebihan atau
16

insomnia yang dinilai disebabkan oleh keadaan pernapasan terkait tidur (cth.
Sindrom apnea tidur sentral atau obstruktif maupun sindrom hipoventilasi
alveolar sentral)
B. Gangguan ini sebaiknya tidak disebabkan oleh gangguan jiwa lain dan tidak
disebabkan oleh efek fisiologis langsung dari suatu zat (cth. Penyalahgunaan
obat, suatu obat) atau keadaan medis umum lain (selain gangguan terkait
pernapasan)
Catatan pemberian kode : beri kode juga gangguan pernapasan yang terkait tidur
pada aksis III

Sindrom Apnea Tidur Obstruktif


Apneu tidur mengacu pada penghentian aliran udara pada hidung atau mulut.
Berdasarkan konvensi, periode apneik adalah periode yang berlangsung selama 10 detik atau
lebih. Apnea tidur dapat memiliki beberapa tipe yang berbeda. Pada apnea tidur sentral
murni, upaya aliran udara dan pernapasan (abdomen dan dada) berhenti saat episode apneik
dan mulai kembali saat bangun. Pada apnea tidur obstruktif murni, aliran udara berhenti
tetapi upaya pernapasan meningkat selama periode apnea, pola ini menunjukkan adanya suatu
obstruksi pada jalan napas dan upaya yang bertambah oleh otot-otot abdomen dan toraks
untuk mendorong udara melewati obstruksi ini. Episode juga berhenti saat bangun. Tipe
campuran meliputi unsur apnea tidur sentral dan obstruktif.
Dikatakan apnea tidur patologis jika penderita mengalami episode apnea sekurang
kurang lima kali dalam satu jam atau 30 episode apnea sepanjang malam. Selama periodik ini
gerakan dada dan dinding perut sangat dominan.
Diagnosis tentatif apnea tidur daoat dibuat bahkan tanpa perekaman polisomnografik.
Gambaran yang paling khas adalah laki-laki berusia pertengahan atau usia tua yang
melaporkan kelelahan dan ketidakmampuan untuk tetap terjaga di siang hari, kadang-kadang
dikaitkan dengan depresi, perubahan mood, dan serangan tidur di siang hari. Ketika
anamnesis diperoleh dari pasangan atau teman tidur, mereka melaporkan adanya mengorok
yang keras, intermiten, disertai megap-megap pada saat tertentu. Pasien seperti itu hampir
pasti memiliki apnea tidur obstruktif.
Pasien yang dicurigai memiliki apnea tidur harus menjalani perekaman di
laboratorium. Perekaman tidur sepanjang malam yang lazim meliputi EEG, EMG, EKG dan
berbagai jenis uji pernapasan juga berguna. Keparahan episode apnea ditentukan dengan
menggunakan oksimetri untuk mengukur saturasi oksigen sepanjang malam.
17

Nasal continuous airway pressure (nCPAP) adalah terapi pilihan untuk apnea tidur
obstruktif. Prosedur lain mencakup penurunan berat badan, operasi hidung, trakeostomi, dan
uvulopalatoplasti.
Apnea Tidur Sentral
Apnea tidur sentral lebih sering terjadi pada usia lanjut, akibar dari kegagalan
mekanisme SSP untuk menstimulasi pernafasan. CSA atau Central sleep apnea di definisikan
sebagai tidak adanya periode pernafasan akibat kurangnya usaha pernafasan. Pada apnea tidur
sentral murni, upaya aliran udara dan pernapasan (abdomen dan dada) berhenti saat episode
apneik dan mulai kembali saat bangun.
a. Idiopatik CSA. Pasien memiliki kadar PaCO2 yang rendah saat terjaga dan memiliki
respon ventilasi yang tinggi terhadap CO2. Pasien memiliki gejala mengantuk di siang
hari, insomnia, atau terbangun dengan sesak nafas. Periode apnea yang terjadi saat
tidur tergantung dari usaha pernafasan (abdomen dan dada). Pada pemeriksaan
polisomnografik didapatkan lima atau lebih apnea sentral setiap jam saat tidur.
b. Pernafasan Cheyne-Stokes. Pernafasan Cheyn-Stokes merupakan pola pernafasan
yang unik, dimana terdapat periode panjang hiperpnea diselingi oleh periode apnea
dan hipopnea. Pola ini sering diumpai pada pasien laki-laki usia lanjut dengan gagal
jantung kongestif dan stroke. Pada CSA primer, pasien mengeluh mengantuk di siang
hari, insomnia dan terbangun karena sesak nafas. Polisomnografik menghasilkan
sepuluh atau lebih episode apnea dan hipopnea sentral setiap jam ketika tidur.
c. Apnea tidur sentral dengan komorbid penggunaan opioid. Ini adalah subtipe
ketiga dari CSA berdasarkan DSM-5, menjadi lebih spesifik jika terdapat riwayat
penggunaan opioid. Ada hubungan antara penggunaan obat-obatan opioid long-acting
secara kronik dan gangguan pada sistem neuromuscular pernafasan yang dapat
menyebabkan terjadinya CSA.
Hipoventilasi Terkait Tidur
Hipoventilasi mengacu pada beberapa keadaan yang ditandai dengan gangguan ventilasi
berupa kelainan pernapasan yang tampak atau sangat memburuk hanya saat tidur tanpa
adanya episode apnea yang signifikan. Disfungsi ventilasi ditandai dengan tidak adekuatnya
volume tidal atau frekuensi pernapasan selama tidur.
2.2.4.5 Gangguan Tidur Irama Sirkadian
18

Sleep wake schedule disorders (gangguan jadwal tidur) yaitu gangguan dimana
penderita tidak dapat tidur dan bangun pada waktu yang dikehendaki,walaupun jumlah
tidurnya tetap. Gangguan ini sangat berhubungan dengan irama tidur sirkadian normal.
Berbagai macam gangguan tidur gangguan irama sirkadian adalah sebagai berikut:
a.

Tipe fase tidur tertunda


Gangguan tidur irama sirkadian tipe fase tidur tertunda ditandai dengan waktu tidur
dan waktu bangun yang lebih lambat dibandingkan yang diinginkan. Sering keluhan utama
pasien adalah kesulitan jatuh tidur pada waktu yang diinginkan seperti biasa, dan gangguan
tidur pasien tampak seperti gangguan tidur insomnia.
Terapi dengan cara menunda waktu tidur beberapa hari secara bertahap, sampai waktu
tidur yang diinginkan tercapai. Jika hal ini tidak berhasil bisa penggunaan singkat agen
hipnotik, seperti trizolam. Terapi lain yang digunakan adalah terapi pajanan cahaya, pajanan
cahaya pagu secara teratur cenderung memajukan waktu tidur.
b. Tipe Fase Tidur Dipercepat
Sindrom memajukan fase tidur ditandai dengan onset tidur dan waktu bangun yang
lebih awal dari yang diinginkan, jumlah jam setiap hari sebenarnya sama saja, tidak ada
laporan mengenai kesulitan untuk mempertahankan tidur begitu tidur dimulai. Aktivitas
sehari-hari tidak terganggu. Keluhan utama adalah ketidakmampuan untuk tetap terjaga di
sore hari dan tidur di pagi hari sampai waktu biasa yang diinginkan.
Tipe ini sangat jarang, lebih sering ditemukan pada pasien usia lanjut,dimana onset
tidur pada pukul 6-8 malam dan terbangun antara pukul 1-3 pagi. Walaupun pasien ini merasa
cukup ubtuk waktu tidurnya. Gambaran tidur tampak normal tetapi penempatan jadwal irama
tidur sirkadian yang tidak sesuai.
c. Tipe Bangun-Tidur Irreguler (Irregular Sleep-Wake Type)
Pola bangun tidur irreguler ini terjadi ketika ritme sirkadian untuk bangun-tidur tidak
ada atau secara patologi hilang. Pola bangun-tidur kacau dan waktu untuk tidur dan bangun
tidak dapat diprediksi. Keadaan ini dikaitkan dengan seringnya tidur siang pada waktu yang
tidak teratur dan istirahat di tempat tidur yang berlebihan. Individu dengan kondisi seperti ini
memiliki waktu tidur yang normal selama 24 jam. Ada gejala insomnia di malam hari dan
rasa mengantuk berlebihan setiap hari. Tidur siang hari yang panjang dan bangun tidur
dimalam hari yang tidak tepat dapat terjadi. Aktivitas sehari-hari dapat terganggu. Tipe ini
berhubungan dengan penyakit neurodegeneratif, seperti Alzheimer dan beberapa penyakit
neurodevelopmental pada anak-anak.
19

d. Tipe Tidur-Bangun Non-24 jam (Non-24-Hour Sleep-Wake Type)


Ketika irama sirkadian memiliki siklus yang lebih atau kurang dari 24 jam dan tidak
diatur ulang setiap pagi, maka seseorang bisa berkembang menjadi gangguan tidur tipe ini.
e.

Tipe Kerja Giliran (Shift Work Type)


Pergeseran kerja terjadi pada orang yang secara teratur dan cepat mengubah jadwal

kerja sehingga akan mempengaruhi jadwal tidur. Gejala yang paling sering adalah periode
campuran antara insomnia dan somnolen, tetapi sering timbul bersama-sama dengan
gangguan somatik seperti ulkus peptikum. Gambarannya berupa pola irreguler atau mungkin
pola tidur normal dengan onset tidur fase REM.
f.

Tipe Jet Lag


Bergantung berapa lama perjalanan dari timur ke barat, dan sensitivitas dari individu.

Tipe ini biasanya hilang spontan dalam 2 hingga 7 hari. Tidak ada terapi spesifik yang
diperlukan. Melatonin yang diresepkan dikonsumsi secara oral sesuai waktu yang ditentukan
berguna bagi beberpa orang.
Terapi. Terapi cahaya: beberapa peneliti mengatakan pemaparan individu terhadap cahaya
(lebih besar dari 10.000 lux) dapat memperbaiki ritme biologis endogen. Melatonin,
penggunaan melatonin pada gangguan irama tidur sirkadian terbukti berhasil.
Kriteria Diagnostik DSM IV-TR Gangguan Irama Tidur Sirkadian
A. Pola gangguan tidur berulang atau menetap yang menyebabkan rasa kantuk yang
berlebihan atau insomnia akibat ketidaksesuaian antara jadwal tidur-bangun yang
dibutuhkan oleh lingkungan seseorang dan pola tidur-bangun sirkadiannya.
B. Gangguan tidur menyebabkan penderitaan yang secara klinis bermakna atau hendaya
fungsi sosial, pekerjaan, atau area fungsi penting lain.
C. Gangguan ini tidak hanya terjadi selama perjalanan gangguan tidur lain atau gangguan
jiwa lain
D. Gangguan ini bukan disebabkan oleh efek fisiologis langsung suatu zat atau keadaan
medis umum.

2.2.4.6 Parasomnia
Parasomnia adalah suatu kelompok gangguan tidur dan bangun yang merupakan
transisi dari tidur yang mencakup gangguan motorik abnormal, perilaku atau pengalaman
sensorik.
1. Gangguan tidur NREM
a. Gangguan teror tidur (night terrors)
20

Gangguan teror tidur merupakan terbangun pada sepertiga awal malam selama tidur
non-rem yang dalam tahap 3 dan 4. Gangguan ini sering diawali dengan jeritan atau tangisan
pilu yang disertai manifestasi perilaku ansietas hebat yang hampir mendekati panik.
Adapun kriteria diagnosis gangguan teror tidur menurut DSM-IV adalah:

Episode berulang bangun tidur secara tiba-tiba, biasanya terjadi pada sepertiga utama

episode tidur utama dan dimulai dengan teriakan panik


Rasa takut yang hebat serta adanya tanda bangkitan otonom, mseperti takikairdi,

pernapasan cepat, dan berkeringat selama episode ini


Relatif tidak responsif terhadap upaya orang lain untuk menenangkan pasien selama

episode ini
Tidak ingat mempi yang rinci dan terdapat amnesia pada periode ini
Episode ini menyebabkan penderitaan yang secara klinis bermakna atau hendaya

fungsi sosial, pekerjaan, atau area fungsi lain


Gangguan ini tidak disebabkan oleh efek fisiologis langsung suatu zat (contoh:
penyalahgunaan zat, atau obat) atau keadaan medis umum.
Khasnya, pasien bangun diatas tempat tidur dengan ekspresi ketakutan, berteriak keras

dan kadang-kadang bangun secepatnya dengan perasaan teror yang intens. Pasien kadang
tetap bangun dalam keadaan disorientasi tetapi lebih sering jatuh tertidur dan seperti berjalan
dalam tertidur, mereka melupakan episode ini. Episode tiror malam setelah teriakan asli
sering berkembang menjadi episode berjalan sambil tidur. Rekaman poligrafik teror malam
mirip pada gangguan berjalan sambil tidur, bahkan keduanya tampak sangat berkaitan. Teror
malam sebagai episode terpisah, sering terjadi pada anak-anak. Kira-kira 1-6% anak-anak
memiliki gangguan ini, yang lebih lazim pada anak laki-laki dibandingkan denga anak
perempuan dan cenderung menurun didalam keluarga.
Teror malam dapat mencerminkan kelainan neurologis ringan, mungkin dilobus
temporalis atau struktur yang mendasari, karena jika teror malam dimulai pada masa remaja
dan dewasa muda, teroir ini menjadi gejala pertama epilepsi lobus temporal. Namun pada
kasus teror malam yang khas, tidak terdapat ktanda-tanda epilepsi lobius temporal atau
bangkitan lain yang terlihat secara klinis maupun EEG.
Meskipun terkait erat dengan berjalan sambil tidur dan kadang-kadang terkait
enuresis, teror malam berbeda dengan mimpi buruk. Teror malam hanya disebabkan bangun
dalam keadaan terteror. Pasien pada umumnya tidak dapat mengingat mimpi dan kadangkadang dapat mengingat kembali satu gambaran yang menakutkan.

21

Terapi spesifik untuk gangguan teror malam jarang diperlukan, pemriksaan situasi
keluarga yang menimbulkan stresmungkin penting, terapi individual dan keluarga sering
berguna. Pada kasus yang jarang, jika diperlukan obat diazepam (valium) dengan dosis yang
kecil pada waktu tidur memperbaiki keadaan dan kadang-kadang benar-benar menghilangkan
serangan.

Sedangkan menurut PPDGJ III, diagnosis gangguan teror tidur adalah sebagai berikut:
Gambaran klinis dibawah ini adalah esensial untuk diagnosis pasti, yaitu:
o Gejala utama adalah salah satu atau lebih episode bangun dari tidur, mulai
dengan berteriak karena panik, disertai anxietas yang hebat, seluruh tubuh
bergetar dan hiperaktivitas otonomik sperti jantung berdebar-debar, napas
cepat, pupil melebar dan berkeringat
o Episode ini dapat berulang. Setiap episode berkisar 1-10 menit, bisanya terjadi
pada sepertiga awal tidur malam
o Secara relatif tidak bereaksi terhadap berbagai upaya orang lain untuk
mempengaruhi keadaan teror tidurnya, dan kemudian setelah beberapa menit
setelah bangun bisanya terjadi disorientasi dan gerakan-gerakan berulang
o Ingatan terhadap kejadian, wlaupun ada sangat minimal (biasanya terbatas

pada satu atau dua bayangn-bayangan yang terpilah-pilah)


o Tidak ada bukti gangguan mental organik
Teror tidur harus dibedakan dengan mimpi buruk (F.51.5), biasanya terjadi setiap saat

dalam tidur, mudah dibangunkan dan teringat dengan jelas kejadiannya


Teror tidur dengan somnambulisme sangat berhubungan erat, keduanya mempunyai
karakteristik klinis dan patofisiologis yang sama

b. Gangguan tidur sambil berjalan (sleepwalking)


Gangguan ini yang juga dikenal sebagai somnambulisme, terdiri atas rangkaian
perilaku kompleks yang diawali pada sepertiga pertama malam selama tidur nrem yang dalam
tahap 3 dan 4, meskipun tidak selalu, dilanjutkan dengan tanpa kesadaran penuh atau ingatan
mengenai episode tersebut untuk meningggalkan tempat tidur dan berjalan berkeliling.
Kriteria diagniosis gangguan berjalan dalam tidur menurut DSM-IV adalah sebagai
berikut:

Episode berulang bangkit dari tempat tidur saat sedang tidur dan berjalan berkeliling,

bisanya terjadi pada sepertiga pertama episode tidur utama


Selama berjalan didalam tidur, orang tersebut memiliki wajah yang kosong, dan
menetap, relatif tidak responsif terhadap upaya orang lain untuk berbicara dengan
mereka dan sangat sulit untuk dibangunkan

22

Saat bangun (baik dari episode berjalan didalam tidur maupun pada keesokan harinya)

orang ini akan mengalami amnesia tentang episode tersebut


Dalam beberapa menit setelah bangun dari episode berjalan diidalam tidur, tidak ada
aktifitas atau perilaku mental yang terganggu (meskipun pada awalnya bisa terdapat

episode singkat bingung dan disorientasi)


Berjlan didalam tidur menyebabkan penderitaan yang secara klinis bermakna atau

hendaya fungsi sosial, pekerjaan, atau area fungsi penting lain


Gangguan ini tidak disebabkan efek fisiologis langsung suatu zat (contoh:
penyalahgunaan zat, atau obat) atau keadaan medis umum.
Pasien duduk dan kadang-kadang melakuikan tindakan motorik pervasif seperti

berjalan, berpakaian, pergi kekamar mandi, berbicara, berteriak dan bahkan menyetir.
Perilaku ini kadang-kadang berakhir dengan terbangun disertai beberapa menit kebingungan,
lebih sering lagi mereka kembali tertidur tanpa mengingat peristiwa berjalan sambil tidur ini.
Bangun yang diinduksikan dari tidur tahap 4 kadang-kadang dapat menimbiulkan keadaan
ini, contoh: pada anak terutama yang memiliki riwayat berjalan sambil tidur, suatu serangan
kadang-kadang dapat dicetuskan dengan membuat mereka berdiiri sehingga menghasilkan
pembangunan parsial selama tidur tahap 4.
Berjalan sambil tidur biasanya dimulai antara usia 4 dan 8 tahun, prevalensi
puncaknya kira-kira pada usia 12 tahun. Gangguan ini lebih lazim pada nak laki-laki
dibandingkan anak perempuan, dan kira-kira 15% anak mengalami episode ini. Gangguan ini
cenderung menurun didalam keluarga, keadaan neurologis ringaan mungkin mendasari
kelainana ini. Episode ini sebaiknya tidak murni dianggap psikogenik, meskipun periode
yang menyebabkan stres dikaitkan dengan peningkatan episode berjalan didalam tidur pada
orang yang mengalami. Kelelahan berat atau kurang tidur sebelumnya memperburuk
serangan. Gangguan ini kadang-kadang berbahaya karena mungkinterjadi cedera kecelakaan.
Terapi terdiri atas upaya mencegah cedera dan obatyang menekan tidur tahap 3 dan 4.
Perilaku berjalan sambil tidur ini dapat dibangunkan selama episode tanpa ada pengaruh
buruk.

Sedangkan menurut PPDGJ III, diagnosis somnambulisme adalah sebagai berikut:


Gambaran klinis dibawah ini adalah esensial untuk diagnosis pasti, yaitu:
o Gejala yang utama adalah satu atau lebih episode bangun dari tempat tidur,
biasanya pada sepertiga awal tidur malam dan terus berjalan-jalan (kesadaran
berubah)
o Selama satu episode, individu menampakkan wajah bengong (blank, staring
face), relatiif tidak memberi respon terhiadap usaha orang lain untuk
23

mempengaruhi keadaan atau untuk berkomunikasi dengan penderita dan hanya


dapat disadarkan dan dibangunkan dari tidurnya dengan susah payah
o Pada wakitu sadar/bangun (setelah satu episode atau besok paginya), individu
tidak inigat dengan apa yang terjadi
o Dalam kurun beberapa menit setelah bangun dari episode tersebut, tidak
adagangguan aktivitas mental, walaupun dapat dimulai dengan sedikiit

bingung dan disorientasi dalam waktu singkat


o Tidak adanya bukti gangguan mental organik
Somnambulisme harus dibedakan dari serangan epilepsipsikomotor dan fugue
disosiatif (f.44.1)
Kriteria Diagnostik Gangguan Tidur NREM berdasarkan DSM-V

2. Gangguan tidur REM


a. Gangguan mimpi buruk (nightmares)
Mimpi buruk adalah mimpi yang lama dan menakutkan membuat orang terbangun
dengan rasa ketakutan. Ada pun kriteria diagnosis adalah:
24

Bangun berulang dari periode tidur utama atau tidur siang dengan ingatan yang rinci
mengenai mimpi yang lama dan sangat menakutkan, biasanya melibatkan ancaman
terhadap kelangsungan hidup, keamanan atau harga diri. Bangun biasanya terjadi pada

paruh kedua periode tidur


Saat bangun dari mimpi yang menakutkan, orang tersebut dengan cepat memiliki
orientasi dan kesiagaan (berlawanan dengan kebingungan dan disorientasi yang

ditemukan paida gangguan teror tidur dan beberapa bentuk epilepsi)


Pengalaman mimpi atau gangguan tidur terjadi akibat bangun, menyebabkan
penderitaan yang secara klinis bermakna atau henidaya fungsi sosial, pekerjaan, atau

area fungsi lain


Mimpi buruk tidak hanya selama perjalanan gangguan jiwa lain (contoh: delirium,
gangguan stres pasca trauma) dan tidak disebabkan oleh efek fisiologis suatu zat
(contoh: penyalahgunaan zat, atau obat) atau keadaan medis umum.
Seperti mimpi lain, mimpi buruk hampir selalu terjadi selama tidur rem dan biasanya

setelah periode rem yang panjang di akhir malam. Beberapa orang sering mengalami mimpi
buruk sebagai keadaan yang berlangsung seumur hidup, yang lainnya mengalami miimpi
buruk terutama saat stres dan sakit. Kira-kira 50% dari populasi dewasa melaporkan tentang
mimpi buruk sewaktu-waktu. Biasanya tidak ada terapi spesifik untuk gangguan mimpi
buruk. Agen yang menekan tidur rem, seperti obat trisiklik dapat mengurangi frekuensi
mimpi buruk dan benzodiazepin juga telah digunakan. Berlawanan dengan keyakinan
populer, tidak ada akibat yang membahayakan dari membangunkan orang yang sedang
mengalami mimpi buruk.

Sedangkan menurut PPDGJ III, diagnosis mimpi buruk adalah sebagai berikut:
Gambaran klinis dibawah ini adalah esensial untuk diagnosis pasti:
o Terbangun dari tidur malam atau tidur siang berkaitan dengan mimpi yang
menakutkan yang dapat diingat kembali dengan rinci atau jelas. Perihal
kelansungan harapan hidup, keamanan atau harga diri, terbangunnya dapat
terjadi kapan saja selama periode tidur, tetapi yang khas pada paruh kedua
masa tidur
o Setelah terbangun dari mimpi yang menakutkan, individu segera sadar penuh
dan mampu mengenali lingkungan nya
o Pengalaman mimpi itu, dan akibat dari tidur yang terganggu, menyebabkan

penderitaan cukup berat bagi individu


Sangat penting untuk membedakan, mimpi buruk mimpi buruk dengan teror tidur,
denigan memperhatikan gambaran klinis yang khas untuk masing-masing gangguan.

25

b. Gangguan perilaku saat tidur


Suatu keadaan kronis dan progresif yang terutama ditemukan pada laki-laki,
gangguan ini ditandai hilangnya atonia saat tidur REM dilanjutkan dengan perilaku kekerasan
dan kompleks. Dengan kata lain, pasien dengan gangguan ini akan melakukan apa yang ada
dalam mimpinya. Cedera berat pada pasien atau teman tidur adalah resiko utama. Timbulnya
perburukan gangguan dilaporkan pada psasien denigan narkolepsi yang telah diterapi dengan
psikostimulan dan obat trisiklik dan obat pada pasein yang gagngguan depresi dan gangguan
obsesif kompulsif yang telah diterapi dengan fluoxentin (prozac). Gangguan perilaku tidur
rem diterapi dengan klonazepam (klonopin), 0,5-2 mg/hari, carbamazepin 100 mg 3 kali
sehari juga efektif untuk mengendalikan gangguan ini.
c. Paralisis tidur
Ditandai dengan ketidak mampuan mendadak melakukan gerakan volunter, baik tepat pada
onset tidur atau saat terbangun dimalam atau pagi hari.
Parasomnia jenis lain
1. Tidur Mengompol atau Sleep enuresis
Adalah gangguan dimana individu mengalami miksi selama tidur. Dapat terjadi secara
primer dan sekunder. Terapi farmakalogi yang dapat diberikan berupa imipramine,
oksibutin chloride, vasopresin sintetik, serta terapi perilaku berupa bladder traininh
dan restriksi cairan.
2. Tidur berhubungan dengan erangan (Catathrenia)
Gangguan kronik yang terdiri dari erangan yang keras dan sering selama tidur, dapat
terjadi kapan saja dalam tahap tidur. Untuk terapi sampai saat ini tidak diketehui
terapi yang terbaik untuk tipe ini.
3. Tidur berhubungan dengan halusinasi
Adanya halusinasi visual yang terjadi selama tidur (hipnogogik) atau saat bangun
(hipnopompik).
4. Gangguan tidur terkait gangguan makan
Suatu sindrom yang ditandai dengan tidak mampu kembali tidur setelah bangun,
kecuali individu tersebut makan atau minum. Setalah makan atau minum, siklus tidur
kembali normal.
Penatalaksanaan parasomnia
Pengobatan parasomnia NREM pada orang dewasa dapat meminimalkan faktor
pencetus seperti film menakutkan, kafein, alkohol atau makan larut malam dan adanya bukti
jadwal tidur-bangun yang stabil. Selain itu dapat juga menjaga pasien terhadap bahaya,
26

seperti mengunci jendela atau pintu sehingga tidak lari lewat pintu atau tidur di lantai, dan
keamanan teman yang tidur disebelahnya atau anak-anak yang berada di dekatnya juga perlu
diperhatian. Clonazepam dengan dosis 3 mg per malam telah dilaporkan memiliki
efektiftifitas yang memadai. Selain clonazepam, dapat juga digunakan paroxetine dan
imipramine. Pemberian hydroxytryptamine selama 3 minggu pada anak-anak dapat
memberikan bukti keberhasilan setelah 6 bulan.
Pada beberapa kasus, alpha-1 adrenergik bloker seperti prazosin menunjukkan efek
menguntungkan dalam mengurangi mimpi buruk yang berhubungan dengan gangguan stres
pasca-trauma. Gangguan mimpi buruk telah dilaporkan dapat dipicu atau diperburuk oleh
banyak terapi obat, termasuk cholinesterase inhibitor, beta-blocker.
Pengobatan gangguan tidur REM, clonazepam 1-4 mg menunjukkan efek yang baik
dalam mengurangi jumlah episode tidur REM, namun harus hati-hati pada pasien dengan
demensia, gangguan gaya berjalan atau keseimbangan. Obat yang dapat memperburuk RBD
(REM Sleep Behavior Disorder) atau memprovokasi gejala termasuk SSRI, venlafaxine,
mirtazapine, bisoprolol, dan tramadol
2.2.4.7 Gangguan Tidur Berhubungan dengan Pergerakkan (Sleep-Related Movement
Disorders)
1. Gangguan gerakan anggota gerak badan secara periodik (periodic limb
movement disorders)/mioklonus nortuknal
Ditandai adanya gerakan anggota gerak badan secara streotipik, berulang
selama tidur. Paling sering terjadi pada anggota gerak kaki baik satu atau kedua kaki.
Bentuknya berupa esktensi ibu jari kaki dan fleksi sebagian pada sendi lutut dan
tumit. Gerak itu berlangsung antara 0,5-5 detik, berulang dalam waktu 20-60 detik
atau mungkin berlangsung terus-menerus dalam beberapa menit atau jam. Bentuk
tonik lebih sering dari pada mioklonus. Sering timbul pada fase NREM atau saat onset
tidur sehingga menyebabkan gangguan tidur kronik yang terputus. Lesi pada pusat
kontrol pacemaker batang otak. Insidensi 5% dari orang normal antara usia 30-50
tahun dan 29% pada usia lebih dari 50 tahun. Berat ringan gangguan ini sangat
tergantung dari jumlah gerakan yang terjadi selama tidur, bila 5-25 gerakan/jam:
ringan, 25-50 gerakan/jam: sedang, danlebih dari 50 kali/jam : berat. Didapatkan pada
penyakit seperti mielopati kronik, neuropati, gangguan ginjal kronik, PPOK,
rhematoid arteritis, sleep apnea, ketergantungan obat, anemia.
27

2.

Sindroma kaki gelisah (Restless legs syndrome)/Ekboms syndrome


Ditandai oleh rasa sensasi pada kaki/kaku, yang terjadi sebelum onset tidur.
Gangguan ini sangat berhubungan dengan mioklonus nokturnal. Pergerakan kaki
secara periodik disertai dengan rasa nyeri akibat kejang otot M. tibialis kiri dan kanan
sehingga penderita selalu mendorong-dorong kakinya. Ditemukan pada penyakit
gangguan ginjal stadium akut, parkinson, wanita hamil. Lokasi kelainan ini diduga
diantara lesi batang otak hipotalamus.

3. Bruksisme-Terkait Tidur
Burksisme atau menggeretakkan gigi, terjadi sepanjang malam, paling
menonjol pada tidur tahap 2. Menurut dokter gigi 5-10% populasi mengalami
burksisme yang cukup berat untuk menimbulkan kerusakan pada gigi. Keadaan ini
sering tidak diperhatikan oleh yang mengalami, kecuali rasa sakit dirahang pada pagi
hari, tetapi teman tidur atau teman sekamar terus terbangun akibat bunyi tersebut.
Terapi mencakup pemasangan dental bite plate dan ortodentik korektif.
4. Berbicara sambil tidur (somniloquy)
Berbicara sambil tidur lazim pada anak dewasa, gangguan ini telah dipelajari
secara luas dilaboatorium tidur dan ternyata terjadi pada semua tahap tidur. Isi
pembicaraan biasanya meliputi beberapa pembicaraan yang sulit deibedakan. Episode
berbicara yang lam berisikan mengenai kehidupan dan kehawatiran orang yang
mengalaminya, tetapi orang ini tidak mengaitkan mimpi mereka selama tidur dan juga
tidak sering rahasia tersembunyi. Episode berbicara sambil tidur kadang-kadang
menyertai teror malam dan berjalan sambil tidur. Berbicara sambil tidur saja tidak
memerlukan terapi.
5. Membenturkan kepala terkait tidur (jactatio capitis nocturna)
Merupakan istilah untuk perilaku tidur terutama terdiri dari membenturkan
kepala kedepan dan kebelakang dengan ritmik, biasanya jarang membenturkan
seluruh tubuh, terjadi tepat atau selama tidur. Biasanya perilaku ini diamati didekat
periode pratidur dan bertahan sampai tidur ringan, perilaku ini jarang bertahan sampai
atau terjadi pada tidur rem dalam. Terpai terdiri atas upaya untuk mencegah cedera.
2.2.4.8 Gangguan Tidur Akibat Gangguan Jiwa Lain

28

DSM-IV TR mendefinisikan gangguan tidur yang berkaitan dengan gangguan jiwa


lainnya sebagai keluhan yang disebabkan oleh gangguan jiwa yang dapat didiagnosis tetapi
cukup berat unituk memperoleh perhatian klinis.
a. Insomnia akibat gangguan jiwa lain (Aksis I Atau Aksis II)
Insomnia yang terjadi selama sedikitnya 1 bulan dan jelas disebabkan oleh gejala
perilaku dan psikologis gangguan jiwa yang dikenal baik secara klinis, menurut kriteria
diagnostik dsm-iv-tr insomnia akibat gangguan jiwa lain digolongkan sebagai berikut:

Keluhan yang dominan adalah sulit untuk memulai atau mempertahankan tidur, atau
tidur yang tidak menyegarkan, untuk sedikitnya 1 bulan yang disertai kelelahan
disiang hari atau gangguan fungsi di siang hari

Gangguan tidur (gejala sisa di siang hari) menyebabkan penderitaan yang secara klinis
bermakna atau henidaya fungsi penting lain

Insomnia dianggap terkait dengan gangguan aksis i atau ii lain (contoh gangguan
depresi berat, gangguan ansietas menyeluruh, gangguan penyesuaian dengan ansietas)
tetapi cukup berat sehingga memerlukan perhatian klinis khusus

Gangguan ini sebaiknya tidak disebabkan oleh gangguan tidur lain (contoh narkolepsi,
gangguan itidur terkait pernapasan, parasomnia)

Gangguan ini tidak disebabkan efek fisiologis secara langsung suatu zat (contoh:
penyalahgunaan zat, atau obat) atau keadaan medis umum.

b. Hipersomnia akibat gangguan jiwa lain (aksis I atau aksis II)


Adapun kriteria diagnostik menurut DSM-IV-TR tentang hipersomnia akibat
gangguanjiwa lain adalah:

Keluhan yang dominan adalah rasa mengantuk yang berlebihan setidaknya 1 bulan
seperti adanya episode tidur lama atau episode tidur siang yang terjadi hampir setiap
hari

Rasa mengantuk yang berlebihan menyebabkan penderitaan yang secara klinis


bermakna atau hendaya fungsi sosial, pekerjaan atau area fungsi penting lain

Hipersomnia dianggap terkait dengan gangguan aksis i atau ii lain (contoh gangguan
depresi berat, gangguan distimik) tetapi cukup berat sehingga memerlukan perhatian
klinis tersendiri

Gangguan ini sebaiknya tidak disebabkan oleh gangguan tidur lain (contoh narkolepsi,
gangguan tidur terkait pernapasan, parasomnia) atau kurang tidur
29

Gangguan ini tidak disebabkan efek fisiologis secara langsung suatu zat (contoh:
penyalahgunaan zat, atau obat) atau keadaan medis umum.

2.2.4.9 Gangguan tidur lain


DSM-IV-TR mendefinisikan gangguan tidur yang disebabkan oleh keadaan medis
sebagai keluhan gangguan tidur akibat efek fisiologis keadaan medis pada sistem tidurbangun. Gangguan tidur terkait zat muncul akibat penggunaan atau penghentian penggunaan
suatu zat.
a.

Gangguan tidur akibat keadaan medis umum


Setiap gangguan tidur (cth: insomnia, hipersomnia, parasomnia, atau kombinasi)
dapat disebabkan oleh keadaan medis umum. Hampir setiap keadaan medis yang disertai rasa
nyeri atau tidak nyaman (cth:arthritis atau angina) dapat menimbulkan insomnia. Beberapa
keadaan disertai insomnia bahkan ketika rasa nyeri dan tidak nyaman tidak khas muncul.
Keadaan-keadaan ini mencakup neoplasma, lesi vaskuler, dan keadaan degeneratif serta
traumatic. Keadaan lain, terutama penyakit endokrin dan metabolic, sering meliputi beberapa
gangguan tidur. Mewaspadai kemungkinan adanya keadaan tersebut serta melakukan
anamnesis medis yang baik biasanya dapat membawa diagnosis yang tepat. Terapinya,
kapanpun memungkinkan, adalah penatalaksanaan keadaan medis yang mendasari.
1. Bangkitan epileptik terkait tidur
Hubungan antara tidur dan epilepsy cukup rumit. Gangguan tidur, apnea tidur
khususnya, dapat memperburuk bangkitan. Bangkitan, pada gilirannya, dapat mengganggu
struktur tidur terutama rem. Ketika bangkitan hampir selalu terjadi saat tidur, keadaan ini
disebut epilepsy tidur.
2. Sakit kepala cluster terkait tidur dan hemikrania paroksismal kronik
Sakit kepala cluster terkait tidur adalah sakit kepala unilateral berat yang sering timbul
saat tidur dan ditandai dengan pola serangan on-off. Hemikrania paroksismal kronik adalah
sakit kepala unilateral sejenis yang terjadi setiap hari dengan onset yang lebih sering tetapi
hanya berlangsung singkat dan tanpa distribusi tidur yang lebih besar. Kedua tipe sakit
kepala vaskuler tersebut merupakan contoh keadaan yang diperberat oleh tidur dan muncul
sehubungan dengan periode tidur rem; hemikrania paroksismal sebenarnya adalah tidur rem
yang terkunci.
3. Sindrom menelan abnormal terkait tidur
Sindrom menelan abnormal merupakan suatu keadaan saat tidur dengan penelanan
yang tidak adekuat sehingga mengakibatkan aspirasi saliva, batuk, dan tersedak. Sindrom ini
disertai dengan terbangun yang singkat dan silih berganti.
30

4. Asma terkait tidur


Asma yang diperberat oleh tidur pada beberapa orang dapat menimbulkan gangguan
tidur yang signifikan.
5. Gejala kardiovaskuler terkait tidur
Gejala kardiovaskuler terkait tidur berasal dari gangguan irama jantung, inkompetensi
miokardial, insufisiensi arteri koronaria, dan variabilitas tekanan darah, yang dapat
dicetuskan atau diperberat oleh fisiologi kardiovaskuler yang diubah oleh tidur atau yang
dimodifikasi oleh keadaan tidur.
6. Refluks gastroesofagus terkait tidur
Refluks gastroesofagus terkait tidur merupakan suatu gangguan berupa pasien
terbangun dari tidur dengan rasa nyeri terbakar di substernal atau rasa nyeri menyeluruh atau
rasa sempit di dada atau rasa pahit di mulut. Batuk, tersedak, dan rasa tidak nyaman
pernapasan yang samar juga dapat terjadi berulang.
7. Hemolisis terkait tidur (hemoglobinuria nokturnal paroksismal)
Hemoglobinuria nokturnal paroksismal adalah anemia hemolitik kronis didapat yang
jarang, berupa adanya hemolisis intravaskuler yang menimbulkan hemoglobinemia dan
hemoglobinuria. Hemolisis dan hemoglobinuria yang ditimbulkan dipercepat saat tidur, dan
urine pagi hari berwarna merah kecoklatan. Hemolisis berkaitan dengan periode tidur, bahkan
jika periode digeser.
Tabel kriteria diagnostik DSM-IV-TR gangguan tidur akibat keadaan medis umum
A. Gangguan tidur menonjol yang cukup berat sehingga memerlukan perhatian klinis
tersendiri.
B. Terdapat bukti dari anamnesis, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratorium bahwa
gangguan tidur merupakan akibat fisiologis langsung suatu keadaan medis umum.
C. Gangguan ini sebaiknya tidak disebabkan oleh gangguan jiwa lain (cth: gangguan
penyesuaian yang stresornya adalah penyakit medis serius).
D. Gangguan ini tidak hanya terjadi selama onset delirium.
E. Gangguan ini tidak memenuhi kriteria gangguan tidur terkait pernapasan atau
narkolepsi.
F. Gangguan tidur menyebabkan penderitaan yang secara klinis bermakna atau hendaya
fungsi sosial, pekerjaan, atau area fungsi penting lain.
Tentukan tipenya:
Tipe insomnia: jika gangguan tidur yang dominan adalah insomnia.
Tipe hipersomnia: jika gangguan tidur yang dominan adalah hipersomnia.
Tipe parasomnia: jika gangguan tidur yang dominan adalah parasomnia.

31

Tipe campuran: jika terdapat lebih dari satu gangguan tidur dan tidak ada yang
dominan.
Catatan kode: masukkan nama keadaan medis umum pada aksis i. Cth: gangguan medis
akibat penyakit paru obstruktif tipe insomnia; juga beri kode keadaan medis umum pada
aksis iii.
b.

Gangguan tidur yang dicetuskan zat


Setiap gangguan tidur (cth: insomnia, hipersomnia, parasomnia atau kombinasi) dapat
disebabkan oleh suatu zat. Menurut dms-iv-tr, klinisi juga harus merinci apakah onset
gangguan terjadi saat intoksikasi atau putus zat. Somnolen yan berkaitan dengan toleransi
atau putus zat akibat stimulant system saraf pusat lazim terjadi pada orang-orang dengan
putus zat amfetamin, kokain, kafein, dan zat terkait. Somnolen dapat dikaitkan dengan
depresi berat, yang kadang-kadang mencapai proporsi bunuh diri. Penggunaan depresan ssp
yang berlangsung lama, seperti alcohol, dapat menyebabkan somnolen. Penggunaan alkohol
berat di sore hari menimbulkan rasa mengantuk dan kesulitan bangun keesokan harinya.
Reaksi ini dapat memberikan masalah diagnostik ketika pasien tidak mengakui
penyalahgunaan alkohol.
Insomnia dikaitkan dengan toleransi atau putus obat sedative-hipnotik, seperti
benzodiazepine, barbiturat, dan kloral hidrat. Dengan penggunaan agen tersebut dalam waktu
lama biasanya dilakukan untuk menerapi insomnia akibat sumber-sumber yang berbeda
toleransi meningkat, dan obat kehilangan efek mencetuskan tidur; pasien kemudian sering
menaikkan dosis. Pada penghentian obat secara tiba-tiba, keadaan tidak dapat tidur yang
parah mencuat, sering disertai ciri umum putus zat. Secara khas, pasien mengalami
peningkatan sementara keparahan insomnia.
Penggunaan agen hipnotik jangka panjang (lebih dari 30 hari) ditoleransi dengan baik
oleh sejumlah pasien, tetapi yang lainnya mulai mengeluhkan gangguan tidur, paling sering
bangun singkat multiple di malam hari. Perekaman menunjukkan gangguan arsitektur tidur,
berkurangnya tidur tahap 3 dan 4, meningkatnya tidur tahap 1 dan 2, serta fragmentasi tidur
sepanjang malam. Klinisi harus waspada akan stimulant ssp sebagai penyebab yang mungkin
untuk insomnia dan harus ingat berbagai obat untuk menurunkan berat badan, minuman yang
mengandung kafein, dan obat adrenergic yang digunakan sekali-sekali oleh asmatik
semuanya dapat menimbulkan insomnia ini. Alkohol dapat membantu mencetuskan tidur,
tetapi sering menyebabkan bangun di malam hari. Penggunaan alkohol di sore hari dapat
menimbulkan kesulitan untuk jatuh tertidur di malam hari.
32

Untuk alasan yang tidak selalu jelas, beragam obat kadang-kadang menimbulkan
masalah tidur sebagai efek samping. Obat ini mencakup antimetabolit dan agen
kemoteraupetik kanker lain, sediaan tiroid, agen antikonvulsan, obat antidepressant obat
mirip hormone adrenokortikotropik (acth), kontrasepsi oral, -metil-dopa, dan antagonis
reseptor -adrenergik. Agen lain tidak menimbulkan gangguan tidur saat digunakan tetapi
memiliki efek ini setelah putus zat. Hampir setiap obat dengan agen sedasi atau tranquilizer,
termasuk saat ini benzodiazepine, phenothiazine, obat trisiklik sedasi, dan berbagai narkotika,
termasuk marijuana dan opioid, dapat memiliki efek ini.
Alkohol adalah depresan ssp dan menimbulkan maslah serius depresan ssp lain, saat
pemberianmungkin terkait dengan timbulnya toleransidan setelah putus zat. Insomnia
setelah mengkonsumsi alkohol jangka panjang kadang-kadang berat dan berlangsung selama
beberapa minggu atau lebih lama. Klinisi sebaiknya tidak memberikan obat yang berpotensi
menimbulkan ketergantungan pada pasien yang baru saja pulih dari ketergantungan; jika
mungkin, obat tidur harus dihindari.
Di antara para perokok, kombinasi ritual relaksasi dan kecenderungan dosis rendah
nikotin untuk menyebabkan sedasi sebenarnya dapat membantu tidur, tetapi dosis tinggi
nikotin dapat mengganggu tidur, terutama onset tidur. Perokok secara khas tidur lebih sedikit
daripada orang yang tidak merokok. Putus zat nikotin dapat menyebabkan pusing atau
terbangun dari tidur.
Tabel kriteria diagnostik dsm-iv-tr gangguan tidur yang dicetuskan zat
A. Gangguan tidur yang menonjol dan cukup berat sehingga memerlukan perhatian klinis
tersendiri.
B. Terdapat bukti dari anamnesis, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratorium baik (1)
atau (2):
1) Gejala pada kriteria a terjadi selama, atau dalam sebulan sejak, intoksikasi atau
putus zat.
2) Penggunaan obat secara etiologis terkait dengan gangguan tidur.
C. Gangguan ini sebaiknya tidak disebabkan oleh gangguan tidur yang bukan dicetuskan
zat. Bukti bahwa gejala sebaiknya disebabkan oleh gangguan tidur yang bukan
dicetuskan zat dapat mencakup hal berikut: gejala mendahului onset penggunaan zat
(atau penggunaan obat), gejala berlangsung untuk suatu periode waktu tertentu (cth:
sekitar satu bulan) setelah penghentian dari putus zat akut atau intoksikasi berat atau
sangat berlebihan jika mengingat jenis atau jumlah zat yang digunakan. Atau durasi
penggunaannya; atau terdapat bukti lain yang mengesankan adanya gangguan tidur
33

yang dicetuskan oleh bukan zat tersendiri (cth: riwayat episode yang terkait dengan
bukan zat)
D. Gangguan ini tidak hanya terjadi selama perjalanan gangguan delirium.
E. Gangguan tidur menyebabkan penderitaan yang secara klinis bermakna atau hendaya
fungsi sosial, pekerjaan, atau area fungsi penting lain.
Catatan: diagnosis harus ditegakkan selain diagnosis intoksikasi atau putus zat hanya jika
gejala tidur berlebihan dengan gejala yang biasanya dikaitkan dengan sindrom intoksikasi
atau putus zat dan jika gejala cukup berat sehingga membutuhkan perhatian klinis
tersendiri.
Kode gangguan tidur yang dicetuskan oleh zat-(sebutkan zatnya)
Alkohol, amfetamin, kafein, kokain, opioid, sedatif, hipnotik, atau ansiolitik, zat
lainnya (atau tidak diketahui)
Tentukan tipenya:
Tipe insomnia: jika gangguan tidur yang dominan adalah insomnia.
Tipe hipersomnia: jika gangguan tidur yang dominan adalah hipersomnia.
Tipe parasomnia: jika gangguan tidur yang dominan adalah parasomnia.
Tipe campuran: jika terdapat lebih dari satu gangguan tidur dan tidak ada yang
dominan.
Tentukan jika:
Dengan onset saat intoksikasi: jika kriteria terpenuhi untuk intoksikasi dengan zat dan
gejala timbul selama sindrom intoksikasi.
Dengan onset saat putus zat: jika kriteria terpenuhi untuk intoksikasi untuk putus zat dan
gejala timbul selama, atau segera setelah sindrom putus zat.
Penatalaksanaan Umum
Tujuan terapi adalah untuk mengurangi morbiditas dan meningkatkan kualitas hidup
bagi pasien dan keluarga. Perawatan yang tepat memiliki potensi mengurangi morbiditas
terkait insomnia, termasuk risiko depresi, cacat, dan gangguan kualitas hidup.

1. Pendekatan Non Farmakologi


a. Pendekatan hubungan antara pasien dan dokter, tujuannya:

34

1) Untuk mencari penyebab dasarnya dan pengobatan yang adekuat.


2) Sangat efektif untuk pasien gangguan tidur kronik.
3) Untuk mencegah komplikasi sekunder yang diakibatkan oleh penggunaan obat
hipnotik,alkohol, gangguan mental.
4) Untuk mengubah kebiasaan tidur yang jelek.
b. Konseling dan Psikoterapi
Psikoterapi sangat membantu pada pasien dengan gangguan psikiatri seperti
(depresi, obsesi, kompulsi), gangguan tidur kronik. Dengan psikoterapi ini kita dapat
membantu mengatasi masalah-masalah gangguan tidur yang dihadapi oleh penderita
tanpa penggunaan obat hipnotik.
c. Tindakan higiene tidur
1) Hindari dan meminimalkan penggunaan kafein, rokok, stimulan, alkohol, dan obat
lainnya.
2) Meningkatkan tingkat aktivitas pada sore atau awal malam (tidak dekat dengan
waktu tidur) dengan berjalan atau berolahraga di luar ruangan.
3) Meningkatkan pajanan cahaya alami dan cahaya terang selama siang hari dan awal
malam.
4) Hindari tidur siang, terutama setelah pukul 2 siang; batasi tidur siang, batas untuk 1
tidur kurang dari 30 menit.
5) Periksa pengaruh obat terhadap tidur.
6) Pergi ke tempat tidur hanya bila mengantuk.
7) Mempertahankan suhu yang nyaman di kamar tidur.
8) Minimalkan paparan kebisingan.
9) Makan makanan ringan kalau lapar.
10) Hindari makanan berat pada waktu tidur.
11) Batasi cairan pada malam hari.
35

12) Buatlah jadwal teratur.


a) Istirahat pada saat yang sama setiap hari.
b) Makan dan olahraga pada jadwal rutin.
c) Manajemen stress :
Toleransi sulit tidur sesekali.
Diskusikan kejadian yang mengkhawatirkan dalam waktu yang cukup sebelum
tidur.
Gunakan teknik relaksasi.
d. Terapi pengontrolan stimulus
Terapi ini bertujuan untuk memutus siklus masalah yang sering dikaitkan dengan
kesulitan memulai atau jatuh tidur. Terapi ini membantu mengurangi faktor primer dan reaktif
yang sering ditemukan pada insomnia.
Ada beberapa instruksi yang harus diikuti oleh penderita insomnia:
1) Ke tempat tidur hanya ketika telah mengantuk.
2) Menggunakan tempat tidur hanya untuk tidur.
3) Jangan menonton TV, membaca, makan, dan menelpon di tempat tidur.
4) Jangan berbaring-baring di tempat tidur karena bisa bertambah frustrasi jika tidak
bisa tidur.
5) Jika tidak bisa tidur (setelah beberapa menit) harus bangun, pergi ke ruang lain,
kerjakan sesuatu yang tidak membuat terjaga, masuk kamar tidur setelah kantuk
datang kembali.
6) Bangun pada saat yang sama setiap hari tanpa menghiraukan waktu tidur, total
tidur, atau hari (misalnya hari Minggu).
7) Menghindari tidur di siang hari.
8) Jangan menggunakan stimulansia (kopi, rokok, dll) dalam 4-6 jam sebelum tidur

Hasil terapi ini jarang terlihat pada beberapa bulan pertama. Bila kebiasaan ini terus
dipraktikkan, gangguan tidur akan berkurang baik frekuensinya maupun beratnya.
36

e. Sleep Restriction Therapy


Membatasi waktu di tempat tidur dapat membantu mengkonsolidasikan tidur . Terapi
ini bermanfaat untuk pasien yang berbaring di tempat tidur tanpa bisa tertidur. Misalnya,
bila pasien mengatakan bahwa ia hanya tertidur lima jam dari delapan jam waktu yang
dihabiskannya di tempat tidur, waktu di tempat tidurnya harus dikurangi. Tidur di siang
hari harus dihindari. Lansia dibolehkan tidur sejenak di siang hari yaitu sekitar 30 menit.
Bila efisiensi tidur pasien mencapai 85% (rata-rata setelah lima hari), waktu di tempat
tidurnya boleh ditambah 15 menit. Terapi pembatasan tidur, secara berangsur-angsur,
dapat mengurangi frekuensi dan durasi terbangun di malam hari.
f. Terapi relaksasi dan biofeedback
Terapi ini harus dilakukan dan dipelajari dengan baik. Menghipnotis diri sendiri,
relaksasi progresif, dan latihan nafas dalam sehingga terjadi keadaan relaks cukup efektif
untuk memperbaiki tidur. Pasien membutuhkan latihan yang cukup dan serius.
Biofeedback yaitu memberikan umpan-balik perubahan fisiologik yang terjadi setelah
relaksasi. Umpan balik ini dapat meningkatkan kesadaran diri pasien tentang perbaikan
yang didapat. Teknik ini dapat dikombinasi dengan higene tidur dan terapi pengontrolon
tidur.
g. Terapi apnea tidur obstruktif
Apnea tidur obstruktif dapat diatasi dengan menghindari tidur telentang,
menggunakan perangkat gigi (dental appliance), menurunkan berat badan, menghindari
obat-obat yang menekan jalan nafas, menggunakan stimulansia pernafasan seperti
acetazolamide, nasal continuous positive airway pressure (NCPAP), upper airway surgery
(UAS). Nasal continuous positive airway pressure ditoleransi baik oleh sebagian besar
pasien. Metode ini dapat memperbaiki tidur pasien di malam hari, rasa mengantuk di siang
hari, dan keletihan serta perbaikan fungsi kognitif.
Uvulopalatopharyngeoplasty (UPP) merupakan salah satu teknik pembedahan
yang digunakan untuk terapi apnea tidur. Efikasi metode ini kurang. Trakeostomi juga
merupakan pilihan terapi untuk apnea tidur berat. Penggunaan kedua bentuk terapi bedah
ini sangat terbatas karena risiko morbiditas dan mortalitas.
Keputusan untuk mengobati apnea tidur didasarkan atas frekuensi dan beratnya
gangguan tidur, beratnya derajat kantuk di siang hari, dan akibat medik yang
ditimbulkannya .
37

2. Pendekatan Farmakologi
Dalam mengobati gejala gangguan tidur, selain dilakukan pengobatan secara
kausal, juga dapat diberikan obat golongan sedatif hipnotik. Pada dasarnya semua obat
yang mempunyai kemampuan hipnotik merupakan penekanan aktifitas dari reticular
activating system (ARAS) di otak. Hal tersebut didapatkan pada berbagai obat yang
menekan susunan saraf pusat, mulai dari obat anti anxietas dan beberapa obat anti
depresan.
Obat hipnotik selain penekanan aktivitas susunan saraf pusat yangdipaksakan dari
proses fisiologis, juga mempunyai efek kelemahan yang dirasakan efeknya pada hari
berikutnya (long acting) sehingga mengganggu aktifitas sehari-hari. Begitu pula bila
pemakaian obat jangka panjang dapat menimbulkan over dosis dan ketergantungan obat.
Sebelum mempergunakan obat hipnotik, harus terlebih dahulu ditentukan jenis gangguan
tidur misalnya, apakah gangguan pada fase latensi panjang (NREM) gangguan pendek,
bangun terlalu dini, cemas sepanjang hari, kurang tidur pada malam hari, adanya
perubahan jadwal kerja/kegiatan atau akibat gangguan penyakit primernya. Walaupun obat
hipnotik tidak ditunjukkan dalam penggunaan gangguan tidur kronik, tapi dapat
dipergunakan hanya untuk sementara, sambil dicari penyebab yang mendasari. Dengan
pemakaian obat yang rasional, obat hipnotik hanya untuk mengkoreksi dari problema
gangguan tidur sedini mungkin tanpa menilai kondisi primernya dan harus berhati-hati
pada pemakaian obat hipnotik untuk jangka panjang karena akan menyebabkan
terselubungnya kondisi yang mendasarinya serta akan berlanjut tanpa penyelesaian yang
memuaskan.
Jadi yang terpenting dalam penggunaan obat hipnotik adalah mengidentifikasi
penyebab yang mendasarinya atau obat hipnotik adalah sebagai pengobatan tambahan.
Pemilihan obat hipnotik sebaiknya diberikan jenis obat yang bereaksi cepat (short action)
dgn membatasi penggunaannya sependek mungkin yang dapat mengembalikan pola tidur
yang normal. Lamanya pengobatan harus dibatasi 1-3 hari untuk transient insomnia, dan
tidak lebih dari 2 minggu untuk short term insomnia. Untuk long term insomnia dapat
dilakukan evaluasi kembali untuk mencari latar belakang penyebab gangguan tidur yang
sebenarnya. Bila penggunaan jangka panjang sebaiknya obat tersebut dihentikan secara
berlahan-lahan untuk menghindarkan withdrawl terapi.
Komplikasi
38

Gangguan tidur atau ketidakmampuan tidur memperngaruhi performa, keamanan, dan


kualitas hidup dari seorang individu. Hampir 20% kecelakaan lalu lintas berhubungan dengan
pengemudi yang mengantuk atau mabuk minuman beralkhohol.
Penelitian terkini mengemukakan bahwa gangguan memiliki neurobehavioral effect, mulai
dari yang paling ringan yakni attensi dan reaksi, dan yang lebih kompleks yakni kesalahan
dalam melakukan penilaian terhadap suatu hal, atau membuat keputusan. Orang yang
memiliki gangguan tidur akan memiliki masalah dalam ingatan jangka pendeknya. Dan
walaupun individu dengan gangguan tiduk mampu melakukan pekerjaan dengan baik, akan
tetapi membutuhkan waktu pengerjaan yang lebih lama.
Meskipun data yang ada sangat terbatas, efek dari gangguan tidur, kehilangan tidur
kronis, dan tidur yang kurang akan mempengaruhi perekonomian Amerika secara signifikan.
Apabila gangguan tidur tidak diobati dengan baik, maka akan menimbulkan kerugian yang
jauh lebih besar daripada biaya yang akan dikeluarkan untuk mengobati gangguan tidur itu
sendiri .
Lebih dari 10 tahun yang lalu, terdapat suatu paradigm yang menyatakan bahwa tidak
terdapat hubungan antara gangguan tidur dengan kesehatan. Akan tetapi, penelitian terkini
menyatakan bahwa sleep loss (kurang dari 7 jam per malam) memiliki efek pada ssystem
kardiovaskuler, endokrin, imun, dan system saraf, yakni :
1. Obesitas pada dewasa maupun anak-anak
Pada suatu studi kohort yang dilakukan selama hampir 13 tahun pada 500 individu
dewasa muda, didapatkan hasil bahwa pada usia 27 tahun, individu dengan durasi tidur yang
lebih pendek (<6 jam), 7,5 kali lebih berisiko memiliki BMI tinggi. Penelitian tersebut sudah
melalui kontroling terhadap faktor riwayat keluarga, tingkat aktivitas fisik, serta faktor
demografik. Penelitian tersebut juga mencoba menganalisa, adakah relasi antara insufisiensi
tidur terhadap hormone-hormon yang berperan dalam peningkatan nafsu makan. Hasilnya,
insufisiensi tidur diketahui dapat menurunkan leptin, yakni hormone yang diproduksi oleh
jaringan adipose dan dapat menghambat nafsu makan. Selain itu, insufisiensi tidur
meningkatkan pengeluaran ghrelin, peptide yang mampu menstimulus nafsu makan.

39

Grafik 1. Hubungan antara


Durasi Tidur dengan BMI
(body mass index)
2. Diabetes dan gangguan toleransi glukosa
Pada studi kohort berbasis komunitas yang dilakukan oleh sleep heart health study,
dilaporkan bahwa individu yang tidur kurang dari 5 jam semalam memiliki risiko memiliki
diabetes 2,5 kali lipat lebih tinggi dibandingkan individu yang tidur 7-8 jam semalam
(Gottlieb, 2005). Selain itu, clearance glucose pada orang dengan gangguan tidur, 40% lebih
rendah daripada individu tanpa gangguan tidur.

Grafik 2. Hubungan Durasi Tidur dengan Odds Ratio Diabetes dan Gangguan Toleransi
Glukosa
3. Penyakit kardiovaskuler dan hipertensi
Kesulitan tidur atau keluhan tidur lainnya berasosiasi dengan timbulnya
serangan jantung (myocardial infarction). Penjelasannya, gangguan tidur akan
menimbulkan peningkatan tekanan darah, hiperaktivitas simpatis, dan gangguan
toleransi glukosa.

40

4. Sindroma kecemasan, gangguan mood, dan penggunaan alcohol.


Sleep loss berhubungan dengan adverse effect pada mood dan perilaku.
Individu dengan gangguan tidur kronis rentan terhadap distress, sindroma depresif,
anxietas, dan penggunaan alcohol. Gangguan tidur mempengaruhi kewaspadaan,
kemampuan dalam memperhatikan, dan fungsi-fungsi kognitif lain dari seorang
individu, akan tetapi, mengkorelasikan antara gangguan tidur dengan prestasi
akademis masih susah untuk dilakukan.
The institute of medicine melaporkan bahwa sekitar 98.000 kematian-yang
berhubungan dengan medical eror-terjadi dari tahun-ke tahun di berbagai Rumah
Sakit di Amerika Serikat. Setelah laporan tersebut diterbitkan, dilakukan berbagai
studi yang menyimpulkan bahwa terdapat relasi yang kuat antara kurangnya waktu
tidur, gangguan seseorang dalam memulai dan mempertahankan tidur dengan medical
eror terutama yang dilakukan oleh residen. Residen bekerja dengan durasi yang lebih
lama dibanding profesi yang lain .
Insomnia berat mempengaruhi delapan domain quality of life, yakni :
1. Kemampuan fisik
2. Perlindungan terhadap penyakit fisik
3. Persepsi nyeri
4. Kesehatan umum
5. Vitalitas
6. Fungsi sosial
7. Perllindungan terhadap instabilitas emosi
8. Kesehatan mental.

41

Grafik 3. Insomnia Berat Mempengaruhi Kualitas Hidup

DAFTAR PUSTAKA

42

Sadock BJ, Sadock VA. 2010. Kaplan & Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis. Edisi 2.
Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC
Sadock BJ, Sadock VA, Ruiz P. 2015. Kaplan & Sadocks Synopsis Of Psychiatry Behavioral
Science /Clinical Psychiatry. Eleventh Edition. Wolters Kluwer, Philadelphia.

43