Anda di halaman 1dari 27

Hubungan Struktur dan

Pengembangan Senyawa
Agonis dan Antagonis
Kelompok 5BD
Elsa Rahmi
Agung Fitria N
Umi Kulsum
Rifa Arifah R
Ahmad Thantowi
Rizki Amelia
Nihayatul Mardliyah
Fakhrun Nisa
Qurry Mawaddana

1112102000034
1112102000041
1112102000043
1112102000052
1112102000085
1112102000090
1112102000096
1112102000108
1111102000019

Agonis dan Antagonis


Senyawa
agonis

senyawa yang dapat


menghasilkan respon
biologis tertentu sama
dengan senyawa agonis
endogen

Senyawa
antagonis

senyawa yang dapat


menetralisir atau
menghilangkan respon
biologis senyawa agonis

Pada umumnya senyawa antagonis mempunyai dasar


struktur yang mirip dengan senyawa agonis

Tujuan rancangan senyawa agonis


dan antagonis untuk
mengembangkan antagonis
spesifik terhadap biokatalis utama
atau metabolit endogen.
Pengetahuan tentang agonisantagonis sangat penting untuk
mengetahui dan mengantisipasi
kemungkinan terjadinya bahaya
interaksi obat

Berdasarkan fase kerja obat, senyawa


antagonis dikelompokan sebagai berikut:
Antagonis ketersediaan farmasetik
Menyebabkan berkurangnya ketersediaan obat dalam fase farmasetik
karena berkurangnya jumlah bentuk aktif obat yang dilepaskan atau
menurunnya kecepatan pelepasan senyawa aktif dari sediaan farmasi.
Penyebab utamanya : ketidaksesuaian (incompatibility) antara
obat-obat yang dikombinasikan dan ketidaksesuaian kimia atau fisika.

Antagonis ketersediaan biologis (antagonis farmakokinetik)

Menyebabkan ketersediaan biologis obat menurun sehingga kadar obat


dalam darah dan jaringan menurun.

Dapat disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:


Menurunnya absorpsi obat dalam saluran cerna
Meningkatnya ekskresi obat aktif
Meningkatnya proses bioinaktivasi obat
Menurunnya proses bioaktivasi obat
Menurunnya kadar obat aktif karena ada interaksi kimia secara
langsung antar obat kombinasi

Antagonis pada tingkat jaringan atau plasma dan reseptor


(antagonis farmakodinamik)

Mempengaruhi proses interaksi obat dengan reseptor spesifik sehingga


menurunkan respon biologis obat

KOMBINASI OBAT Terjadi Jika?


melibatkan campuran 2 atau lebih obat dalam satu formulasi
Formulasi berbeda dan diminum bersama
Penggunaan
2
obat
dengan
waktu
berbeda,
tapi akan bersama saat dalam peredaran darah

Dapat menimbulkan interkasi agonis


(peningkatan efek) atau antagonis (penurunan efek)

(incompatible). kombinasi obat tidak


sesuai untuk menurunkan efek obat yang
tak diinginkan.
(desensitisasi / pencegahan aksi obat).
Obat antagonis menyerang objek biologis,
sehingga objek biologis tidak sensitif
terhadap obat kedua.
(efek kuratif). Senyawa antagonis
diberikan setelah agonis dengan tujuan
efek agonis atau efek sampingnya
hilang.
Contoh: saat keracunan obat, senyawa
antagonis berperan antidotum

Kombinasi Obat dapat meningkatkan


aktivitas obat
1. Efek potensiasi
Senyawa punya efek yang kecil, tapi jika ditambah
senyawa lain akan menimbulkan efek yang besar. ( 0
+ 2 = 10).
Efek ini terjadi dengan cara:
Meningkatkan ketersediaan farmasetik
Meningkatkan ketersediaan obat dalam tubuh
dengan menghalangi proses bioinaktivasi
Menurunkan aktivasi obat
Meningkatkan proses bioaktivasi

Contoh: Iso propanoltidak bersifat hepatotoksik tetapi bila zat tersebut


diberikan di samping pemberian CCl4, efek hepatotoksik
dari CCl4 akan menjadi jauh lebih besar dibandingkan
bila diberikan secara sendiri

2. Efek sinergisme
Kondisi efek gabungan dua senyawa jauh
melampaui jumlah dari tiap zat senyawa jika
diberikan secara sendiri-sendiri. (2 + 3 = 20).

Contoh: CCl4 (Karbon tetrakorida) dan C2H5OH (etanol) yang keduanya


adalah senyawa hepatotoksik bila secara bersamaan diberikan akan
menghasilkan kerusakan hati yang jauh lebih berat
daripada jumlah masing-masing efek secara individual.

Kapan Kombinasi Obat


Diperlukan?
Obat kombinasi yang punya efek potensiasi, gunakan dosis yang
rendah sehingga dapat menghasilkan efek terapeutik yang sama
dengan efek samping yang kecil
Obat A menyembuhkan infeksi, obat B menghilangkan gejala
akibat infeksi
Contoh : pada infeksi pernafasan, antibiotik digunakan untuk
penyebab infeksi. Analgetik atau antihistamin untuk
menurunkan gejala

Untuk mencegah resistensi mikroorganisme

Dalam kasus penyebab infeksi tak diketahui secara cepat, namun


pasien butuh pertolongan segera

Penyakit yang disebabkan oleh parasit,


kombinasi obat dengan mekanisme aksi
berbeda akan mempercepat aktivitas
terhadap parasit
Saat terjadi infeksi ganda
Contoh : Infeksi kulit yang terjadi karena
bakteri gram-positif dan gram-negatif
atau bakteri aerob dan anaerob
Kombinasi obat lebih murah dan efektif
dibandingkan jika diberikan terpisah

Kombinasi Obat Menjadi Tidak


Rasional Atau Tidak Diinginkan Jika?
Salah satu obat punya efek potensisasi berlebihan
dengan obat lain

Salah satu obat tak dapat dicampur dengan obat lain


karena berinteraksi secara kimia atau bersifat
antagonis terhadap efek terapeutik obat yang lain

Jika kombinasi obat antibiotik tidak lebih baik


dibandingkan obat tunggal. Maka kombinasi obat dapat
meningkatkan resistensi parasit

Adakah Kerugian Lain Dari Kombinasi


Obat?

Jarang penggunaan obat lebih dari


satu untuk pengobatan kelainan
fungsi organik.
Dalam penyimpanan dapat
terjadi reaksi kimia antar
obat kombinasi.

Mempengaruhi
identifikasi atau
diagnosa
penyakit

Toksisitas obat
A mungkin
mempengaruhi
dosis obat lain
yang diberikan

Dosis obat
tidak
fleksibel

Sering dosis
yang
diberikan tak
akurat, dapat
terjadi
pengobatan
Toksisitas
kombinasi obat
sering
dianggap
sebagai
toksisitas satu
obat saja.

Antagonis farmakokinetk

Antagonis pada Fasa


Farmakokinetik
Menghambat senyawa agonis untuk
berespon
Tidak berikatan dengan reseptor
Disebut antagois kimia atau
netralisasi
Mekanisme : mengubah senyawa
agonis menjadi tidak aktif
Potensi antagonis kimia bergantung
pada kemampuan senyawa antagonis
berinteraksi dengan agonis

Contoh :
Heparin-Protamin

Ion logam dengan dimercaprol

Antagonis Antar Obat pada Fasa


Farmakodinamik
Antagonis farmakodinamik antagonis yang
mempengaruhi proses interaksi obat reseptor,
sehingga respon biologis obat menurun

Antagonis berperan pada proses


biokimia atau dapat memblok pada
reseptor spesifik.
Interaksi dapat bersifat reversibel,
kompetitif, ataupun irreversibel

Antagonis Kompetitif
Senyawa agonis dan
antagonis saling
berkompetisi dalam
memperebutkan
tempat reseptor
sehingga agonis
yang berinteraksi
dengan reseptor
menurun
penurunan aktivitas
agonis.
Agonis (A) + Reseptor (R) Kompleks A-R Stimulus efek biologis
Antagonis kompetitif

Berikut kurva hubungan antara


efek biologis dengan log dosis :

log dosis

Contoh :
Antihistamin (ex : Simetidin, ranitidin, nizatidine) dan histamin
Kolinergik dan antikolinergik
Spironolakton dan aldosteron

Antagonis kompetitif dapat diatasi dengan


meningkatkan kadar senyawa agonis.
Potensi antagonis kompetitif bergantung
pada afinitas senyawa tersebut terhadap
reseptor.

Antagonis Nonkompetitif

Antagonis Nonkompetitif
Pengurangan afinitas
pada reseptor
Pengurangan aktivitas
intrinsik
Menghalangi transmisi
implus
Interaksi dengan
makromolekul

Antagonis nonkompetitif dapat bekerja dengan


mekanisme sebagai berikut :
a. Pengurangan Afinitas Pada Repseptor
Obat yang bekerja pada sel yang sama tetapi pada
tempat yang berbeda atau penghambatan alosetrik.
Interaksi senyawa antagonis dengan reseptor
menyebabkan perubahan bentuk konformasi reseptor
yang dapat afinitas senyawa agonis efek

Hal ini berarti afinitas senyawa agonis dan antagonis


terhadap reseptor sama, tetapi aktifitas nya
berbeda

b. Pengurangan Aktifitas Intrinsik


Senyawa antagonis bekerja pada sel yang berbeda dengan
senyawa agonis menyebabkan aktifitas instrinsik sehingga
efek biologis juga

Contoh :
1) Agonis : spasmolitik (papaverin) dengan antagonis (histamin,
asetilkolin, serotonin, atau metakolin)
2) Agonis : antimetabolit (aminopterin) dengan antagonis : normal
metabolit (asam p- aminobenzoat)

c. Menghalangi transmisi Impuls


interaksi senyawa antagonis dengan sel yang
berbeda halangan transmisi impuls senyawa
agonis efek biologis

Contoh Agonis : Striknin (perangsang SSP)


dengan antagonis Prokain (Anastesi Setempat)

d. Interaksi Dengan Makromolekul


Interaksi dengan makromolekul
(membran, sel atau jaringan) yang sama
obat agonis, yang merupakan bagian dari
sistem reseptor efektor efek
biologis

Contoh : Striknin dengan antagonis :


Kurare

Kombinasi Antagonis Kompetitif dan


Antagonis Nonkompetitif
Kombinasi satu senyawa yang menimbulkan
efek antagonis kompetitif dan non-kompetitif
dengan senyawa agonis sering terjadi.
Aksi dari kompenen non-kompetitif akan
terlihat pada kadar yang tinggi dari senyawa
antagonis.
Efek yang terjadi pada kurva log dosis-respon
adalah pergeseran paralel dan penekanan dari
respon maksimal.
Contoh: kombinasi antikolinergik dengan
adinefin atau kamilofen (papaverine-like action).

TERIMA
KASIH