Anda di halaman 1dari 19

Pengkajian Keamanan Lingkungan terhadap Tanaman

Kedelai
Event GTS 40-3-2 Toleran terhadap Herbisida

HANNI TSAAQIFAH
P051150071

PROGRAM MULTIDISPLIN BIOTEKNOLOGI


SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2015

BAB I
Pendahuluan
1. Latar Belakang
Kedelai merupakan komoditas pertanian bernilai ekonomi tinggi
dan banyak memiliki manfaat. Masyarakat biasa menggunakan
kedelai sebagai bahan pangan, bahan baku industri dan pakan ternak
(Sugesti, 2013). Produk olahan dari kedelai merupakan sumber
protein nabati yang harganya relatif murah dan dikonsumsi oleh
hampir seluruh lapisan masyarakat.
Produksi kedelai lokal pada tahun 2013 menurut data Badan
Pusat Statistik (BPS) sebanyak 847,16 ribu ton biji kering atau hanya
mencapai 33,9% dari total kebutuhan yang mencapai 2,5 juta ton per
tahun. Untuk memenuhi sekitar 70% kebutuhan kedelai dalam negeri,
Indonesia mengimpor sebanyak 1.810.083 ton dari Amerika Serikat,
Argentina Uruguay, dan Brazil. Jenis kedelai yang banyak tumbuh di
Amerika Serikat, Brazil, dan Argentina merupakan kedelai transgenik
dengan spesifikasi tahan terhadap herbisida berbahan aktif glifosat
(Sugesti, 2013).
Dalam hal budidaya kedelai, gulma menjadi salah satu faktor
yang menyebabkan rendahnya nilai produksi kedelai lokal. Salah satu
kedelai produk rekayasa genetik (PRG) yang telah dikomersialkan di
Indonesia yaitu kedelai PRG event GTS 40-3-2. Kedelai PRG galur
tersebut, memiliki sifat toleran terhadap herbisida. Belajar dari
pengalaman negara lain yang sejak lebih dari tiga dekade lalu mampu
meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman kedelai,
diharapkan benih kedelai PRG dapat membantu meningkatan
produksi pangan sehingga dapat memenuhi kebutuhan kedelai di
Indonesia. Di sisi lain, peredaran kedelai PRG GTS 40-3-2
menimbulkan berbagai polemik ditinjau baik secara pangan, pakan
dan lingkungan. Beberapa kalangan menilai kedelai PRG mengandung
resiko yang dapat menimbulkan dampak merugikan terhadap
lingkungan dan kesehatan manusia.
Dengan demikian perlu adanya suatu aturan pemindahan,
penanganan dan pemanfaatan tanaman kedelai PRG event GTS 40-32 agar dapat dijamin tingkat keamanan hayatinya. Untuk mencapai
tingkat keamanan hayati, suatu tanaman PRG harus mendapatkan
sertifikat keamanan hayati yang terdiri dari keamanan pangan, pakan,
dan lingkungan. Keamanan lingkungan diperlukan apabila PRG
tersebut akan dilepas ke lingkungan, dalam hal ini untuk ditanam dan
dibudidayakan. Untuk itu makalah ini membahas tentang regulasi
penanaman dan budidaya tanaman kedelai PRG event GTS 40-3-2
ditinjau dari keamanan lingkungannya.
2. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui
kajian keamanan lingkungan terhadap tanaman kedelai PRG event
GTS 40-3-2 baik di Indonesia dan beberapa negara lain di dunia.
3. Metodologi

Pada makalah ini dilakukan studi pustaka untuk mengumpulkan


data sekunder yang berkaitan dengan kajian keamanan lingkungan
tanaman kedelai PRG event GTS 40-3-2 di Indonesia dan beberapa
negara lain.
4. Tinjauan Pustaka
4. 1. Perkembangan Tanaman Transgenik
Pertumbuhan populasi penduduk dunia yang sangat pesat
menyebabkan konsekuensi terhadap upaya-upaya pengadaan dan
peningkatan suplai pangan dunia. Salah satu alternatif untuk
mengatasi permasalahan tersebut yaitu dengan menerapkan
bioteknologi untuk pertanian (Karmana, 2009).
Menurut Pratiwi (2012), rekayasa genetika merupakan bagian
dari perkembangan bioteknologi yang memperkenalkan produk
transgenik. Bioteknologi dengan transgeniknya dapat digunakan
oleh para pakar dalam pendekatan-pendekatan baru untuk
mengembangkan varietas baru dengan produk yang lebih tinggi,
lebih bergizi, lebih tahan terhadap penyakit dan keadaan
merugikan atau mengurangi kebutuhan pupuk maupun bahanbahan agrokimia lain yang harganya mahal (Herman, 2002).
Faisal (2012) mengemukakan bahwa produk transgenik
dihasilkan melalui rekayasa genetika, memungkinkan dilakukan
perbaikan sifat tanaman. Dengan teknologi ini, gen dari berbagai
sumber dapat dipindahkan kepada tanaman yang akan diperbaiki
sifatnya. Organisme hasil modifikasi genetik dikenal dengan istilah
produk rekayasa genetika (PRG).
Antara tahun 1996-2001, telah terjadi peningkatan yang
sangat drastis dalam penanaman tanaman GMO di seluruh dunia.
Pada tahun 2000 dan 2001, telah terjadi peningkatan luas tanam
sekitar 19% yang meliputi lebih dari 8,4 juta Ha. Peningkatan luas
tanam dari PRG tersebut mengindikasikan semakin banyaknya
petani yang menanam tanaman PRG baik di negara maju maupun
negara berkembang (James, 2006).

Gambar 1. Perkembangan luas lahan tanaman transgenik (James, 2006)

Sebagian besar tanaman PRG ditanam di negara-negara maju.


Pada tahun 2001, sebanyak 68% atau 35,7 juta Ha tanaman
transgenik ditanam di Amerika Serikat. Kanada menanam 3,2 juta
Ha dan Australia hanya 200.000 Ha.
Penanaman GMO juga
ternyata telah banyak dilakukan di negara berkembang. Jumlah
gabungannya pada tahun 2001 meliputi 25% dari luas seluruh
tanaman transgenik dunia.negara sedang berkembang terbanyak
yang menanam PRG adalah Argentina (11,8 juta Ha) dan China (1,5
juta Ha). Negara lainnya, kecuali Afrika Selatan yang menanam
200.000 Ha, maka Meksiko, Uruguay, dan Indonesia menanam PRG
kurang dari 100.000 Ha (James, 2006).
Pada tahun 2006, total lahan di dunia yang ditanami tanaman
transgenik seluas 81 juta hektar dengan laju perkembangan
sebesar 20%, naik 58,7 juta ha dari 2002. Amerika Serikat
memimpin total luasan 48 juta ha, diikuti Argentina (16,2 juta ha),
Kanada (5,4 juta ha), Brazil (5,0 juta ha), dan Cina (3,7 juta ha)
(gambar 2).

Gambar 2. Luas lahan pertanian transgenik di dunia tahun 2006 (James, 2006)

Pada tahun 2006, total lahan di dunia yang ditanami tanaman


transgenik seluas 81 juta hektar dengan laju perkembangan
sebesar 20%, naik 58,7 juta ha dari 2002. Amerika Serikat
memimpin total luasan 48 juta ha, diikuti Argentina (16,2 juta ha),
Kanada (5,4 juta ha), Brazil (5,0 juta ha), dan Cina (3,7 juta ha).
Kedelai merupakan tanaman paling dominan mewakili tanaman
PRG (60%). Dari tahun ke tahun total lahan transgenik mengalami
kenaikan. Kenaikan lahan tanaman transgenik dari tahun 2002
hingga 2006 dapat dilihat di tabel 1.
Tabel 1. Luas tiap jenis tanaman transgenik di dunia
No Tanaman 2002
2005
%
2006
%

(%)

1
Kedelai
2
Jagung
3
Kapas
4
Kanola
5.
Lain-lain
Total

62
21
12
5
100

(juta
ha)
54,4
21,2
9,8
4,6
<0,1
90

50
24
11
5
<1
100

(juta
ha)
58,6
25,2
13,4
4,8
<0,1
102

57
25
13
5
<1
100

4. 2. Kebutuhan Kedelai Indonesia


Pada saat ini kedelai merupakan salah satu komoditas bernilai
ekonomi tinggi dan banyak memiliki manfaat, biasa digunakan
masyarakat sebagai bahan pangan, bahan baku industri dan pakan
ternak. Sekitar 50% dan 40% kedelai yang tersedia untuk bahan
pangan diolah menjadi tempe dan tahu, sedang sisanya untuk 2
pengolahan susu kedelai, kecap, tauge dan tauco. Produk olahan
kedelai tersebut merupakan sumber protein nabati yang relatif
murah harganya dan dikonsumsi oleh hampir seluruh lapisan
masyarakat di Indonesia (Sugesti, 2013).
Produksi kedelai lokal pada tahun 2013 menurut data Badan
Pusat Statistik (BPS) sebanyak 847,16 ribu ton biji kering atau
hanya mencapai 33,9% dari total kebutuhan yang mencapai 2,5
juta ton per tahun. Untuk memenuhi sekitar 70% kebutuhan kedelai
dalam negeri, Indonesia mengimpor sebanyak 1.810.083 ton dari
Amerika Serikat, Argentina Uruguay, dan Brazil. Jenis kedelai yang
banyak tumbuh di Amerika Serikat, Brazil, dan Argentina
merupakan kedelai transgenik dengan spesifikasi tahan terhadap
herbisida berbahan aktif glifosat.
Tabel 2. Impor komoditas dominan pertanian tahun 2010-2013

Menurut data BPS (2014), terjadi peningkatan impor kedelai


dari tahun 2010 sampai 2012. Pada tahun 2013 terjadi penurunan
impor kedelai, namun dengan nilai yang tidak begitu signifikan.
Impor kedelai yang mencapai kisaran 2 juta ton menunjukkan
bahwa produksi kedelai dalam negeri masih jauh untuk memenuhi
kebutuhan pasar.
4. 3. Regulasi Produk Rekayasa Genetik

Untuk dapat dikomersialisasikan, tanaman PRG harus


mencapai tingkat keamanan hayati. Keamanan hayati diperoleh jika
suatu tanaman PRG telah mendapatkan sertifikat keamanan hayati
yang terdiri dari keamanan pangan, pakan, dan lingkungan.
Keamanan pangan dibutuhkan jika PRG tersebut dimaksudkan
untuk diedarkan bagi kepentingan pangan baik yang dapat
dikonsumsi langsung maupun yang merupakan bahan olahan untuk
pangan. Keamanan pakan diperlukan jika PRG tersebut akan
digunakan sebagai pakan ternak atau bahan pakan ternak maupun
bahan tambahan untuk pakan ternak. Keamanan lingkungan
diperlukan apabila PRG tersebut akan dilepas ke lingkungan, dalam
hal ini untuk ditanam dan dibudidayakan.
Di Indonesia sudah ada undang-undang dan peraturan yang
menjadi payung hukum penggunaan teknologi rekayasa genetik, di
antaranya:
a. Undang-undang nomor 7 tahun 1996 tentang Pangan yang
mengatur peredaran produk pangan hasil rekayasa genetik
(pasal 13);
b. Undang-undang nomor 21 tahun 2004 tentang Pengesahan
Protokol Cartagena yang mengatur perpindahan antar batas
negara yang berbasis kepada hasil pengkajian keamanan
hayati terutama mengenai transfer, penanganan dan
pemanfaatan organisme hidup yang termodifikasi, terutama
yang memiliki dampak negatif terhadap keanekaragaman
hayati;
c. Undang-undang nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan
dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang mengatur larangan
pelepasan PRG ke lingkungan tanpa ijin (Pasal 69) dan sangsi
pidana dan/atau denda atas pelanggaran (pasal 111) sehingga
diwajibkan untuk melakukan analisis risiko lingkungan hidup;
d. Peraturan Pemerintah nomor 69 tahun 1999 tentang Label dan
Iklan Pangan yang mengatur wajib pelabelan pangan produk
rekayasa genetik (Pasal 35);
e. Peraturan Pemerintah nomor 21 tahun 2005 tentang Keamanan
Hayati Produk Rekayasa Genetik yang mengatur tentang tata
cara pengkajian keamanan hayati PRG, hal-hal terkait dengan
jenis dan persyaratan PRG, penelitian dan pengembangan PRG,
pemasukan PRG dari luar negeri, pengkajian, pelepasan,
peredaran serta pemanfaatan PRG, pengawasan dan
pengendalian PRG, kelembagaan serta pembiayaan;
f. Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2010 tentang Komisi
Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetik (KKH PRG) yang
mengatur
pembentukan
dan
tupoksi
Komisi
dan
perlengkapannya seperti BKKH;
g. Peraturan
Menteri
Pertanian
Nomor
61/Permentan/OT.140/10/2011 Tentang Pengujian, Penilaian,
Pelepasan dan Penarikan Varietas. Peraturan ini mencakup
pengaturan varietas tanaman pangan, perkebunan, dan hijauan
ternak baik PRG maupun non-PRG. Permentan ini merupakan
perubahan
atas
Permentan
nomor
37/Permentan/OT.140/8/2006 tentang Pengujian, Penilaian,
6

Pelepasan dan Penarikan Varietas yang belum rinci mengatur


tentang pengujian, penilaian, penamaan, pelepasan, dan
penarikan
varietas
PRG,
dan
Permentan
37/Permentan/OT.140/8/2006 masih mengatur pelepasan
tanaman hortikultura yang berdasarkan Undang-Undang nomor
13 Tahun 2010 tentang Hortikutura tidak dikenal lagi istilah
pelepasan varietas bagi hortikultura.
4. 4. Kedelai PRG event GTS 40-3-2
Gulma atau rumput liar merupakan masalah yang umum
dalam pembudidayaan tanaman kedelai. Secara konvensional,
gulma di kendalikan menggunakan kombinasi penanaman (seperti
seleksi varietas dan waktu tanam) dan kontrol dengan bahan kimia.
Tergantung pada area produksi dan spesies gulma umum, herbisida
dapat diterapkan sebelum penanaman (pendimethalin, trifuralin,
dan metribuzin), setelah penanaman tetapi sebelum kemunculan
(pendimethalin, linuron, dan imazethrayr), dan atau setelah
kemunculan (bentazon, acifluorfen, dan fomesafen). Umumnya
herbisida yang berbeda dituntut untuk mampu mengendalikan
gulma di ladang kedelai.
Menurut Balai Kliring Keamanan Hayati Indonesia (BKKHI),
kedelai PRG event GTS 40-3-2 merupakan produk kedelai pertama
yang mengandung protein CP4 EPSPS yang bertanggung jawab
dalam toleransi terhadap herbisida glifosat. Gen EPSPS (5enolpyruvyl
shikimate-3-phosphate
synthase)
berasal
dari
Agrobacterium tumefaciens strain CP4. Glifosat sendiri merupakan
herbisida non-selektif yang memiliki spektrum pengendali yang
luas dan dapat mengendalikan gulma semusim atau tahunan,
berdaun lebar dan digunakan pada peringkat pra-tumbuh. Senyawa
glifosat ini diserap melalui daun dan diangkut ke dalam semua
jaringan tumbuhan. Cara kerjanya mempengaruhi asam nukleat
dan sintesis protein. Tanaman transgenik yang mengandung gen
resisten terhadap herbisida berbahan aktif glifosat di dalamnya
maka kedelai tidak ikut mati ketika herbisida tersebut diaplikasikan
pada gulma disekitarnya, meskipun herbisida bersifat tidak selektif
(Sugesti, 2013).
Menurut informasi pada GM Crop Database, kedelai event GTS
40-3-2 telah diuji secara field trials di Amerika Serikat, Eropa, dan
Kanada sejak 1991. Berdasarkan data yang terkumpul lebih dari
150 lahan uji percobaan selama lebih dari 3 periode sebelum
komersialisasi di Amerika Serikat melaporkan bahwa tanaman
kedelai GTS 40-3-2 tidak menunjukkan adanya perbedaan yang
signifikan dengan kedelai non PRG baik secara morfologi, produksi
benih, karakteristik agronomi (seperti waktu pembungaan dan
pembuahan) serta kecenderungan terhadap weediness. GTS 40-3-2
tidak memberikan efek yang negatif terhadap organisme
menguntungkan dan nontarget serta tidak memberikan pengaruh
membahayakan
pada
spesies
yang
terancam.Selain
itu
karakteristik reproduksi seperti serbuk sari dan kelangsungan hidup

tidak berubah pada GTS 40-3-2 jika dibandingkan dengan tanaman


kedelai non PRG.

BAB II
Pembahasan
1. Kontroversi Keamanan Lingkungan Kedelai PRG event GTS
40-3-2
Kontroversi atas kehadiran tanaman kedelai PRG tidak bisa
dihindarkan. Ada sebagian masyarakat yang belum bisa menerima
kehadiran tanaman PRG dengan berbagai alasan. Kedelai PRG GTS
40-3-2 oleh masyarakat dikhawatirkan dapat menimbulkan
munculnya gulma super (yang lebih kuat atau resisten) di lingkungan.
Kontroversi lain yang berkaitan dengan isu lingkungan adalah
munculnya perpindahan gen secara tidak terkendali dari tanaman
kedelai transgenik ke tanaman lain di alam melalui penyerbukan
(polinasi). Serbuk sari dari tanaman transgenik dapat terbawa angin
dan hewan hingga menyerbuki tanaman lain. Akibatnya, dapat
terbentuk tumbuhan baru dengan sifat yang tidak diharapkan dan
berpotensi merugikan lingkungan (Ridha, 2011).
Untuk itu tanaman kedelai PRG event GTS 40-3-2 yang
dikomersialkan harus mendapatkan sertifikat keamanan hayati yang
terdiri dari keamanan pangan, pakan, dan lingkungan. Keamanan
pangan dibutuhkan jika PRG tersebut dimaksudkan untuk diedarkan
bagi kepentingan pangan baik yang dapat dikonsumsi langsung
maupun yang merupakan bahan olahan untuk pangan. Keamanan
pakan diperlukan jika PRG tersebut akan digunakan sebagai pakan
ternak atau bahan pakan ternak maupun bahan tambahan untuk
pakan ternak. Keamanan lingkungan diperlukan apabila PRG tersebut
akan dilepas ke lingkungan, dalam hal ini untuk ditanam dan
dibudidayakan.
Tanaman kedelai PRG event GTS 40-3-2 sudah dibudidayakan
dan dipasarkan di berbagai negara. Pengelolaan dan pemanfaatan
bahan pangan dan pakan PRG pada prinsipnya dilakukan melalui
pendekatan
kehati-hatian
(precautionary
approach).
Untuk
memberikan informasi secara lengkap kepada pemohon tentang
persyaratan, tata cara pengajuan serta prosedur pengkajian
8

keamanan hayati, maka disusun Panduan Sertifikasi Keamanan Hayati


Produk Rekayasa Genetik.
Di Indonesia, dalam pelaksanaan sertifikasi keamanan hayati
melibatkan beberapa instansi berwenang yaitu Kementerian Pertanian
untuk keamanan pakan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)
untuk keamanan pangan, serta Kementerian Lingkungan Hidup dan
kementerian lainnya yang terkait untuk keamanan lingkungan.
2. Status Keamanan Lingkungan Kedelai PRG event GTS 40-32
Kedelai transgenik hanya dapat dibudidayakan jika sudah
dilakukan pengkajan keamanan lingkungan yang meliputi pengujian
weediness, out crossing, secondary dan non-target (predator, parasit,
serangga berguna), efek merugikan, dan pengaruh pada biodiversitas
di lapangan uji terbatas dan dinyatakan aman lingkungan.
Dibandingkan dengan tanaman non-PRG, tanaman PRG harus
melalui pengkajian keamanan lingkungan, keamanan pangan atau
pakan secara komperhensif dengan metode ilmiah dan sahih.
Ketetapan aman pangan, pakan, dan lingkungan diberikan oleh
Lembaga Pengatur (regulatory bodies) sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang ada di masing-masing negara.
Pada tahun 2006, tanaman kedelai transgenik sudah dinyatakan
aman pangan, pakan, dan aman lingkungan di Jepang. Pada tahun
2006 kedelai transgenik ini ditanam oleh sembilan negara yaitu AS,
Argentina, Brazil, Paraguay, Kanada, Uruguay, Afrika Selatan,
Rumania, dan Meksiko dengan luas 58,6 juta hektar atau 57% dari
total luas tanaman transgenik secara global yaitu 102 juta hektar
(Herman, 2008).
Tabel 3. Daftar regulasi penerimaan keamanan hayati beberapa negara
Negara
Pangan
Pakan
Lingkungan
Afrika Selatan
2001
2001
2001
Amerika Serikat
1994
1994
1994
Argentina
1996
1996
1996
Brazil
1998
1998
1998
Jepang
1996
1996
1996
Kanada
1996
1995
1995
Paraguay
2004
2004
2004
Uruguay
1997
1997
1997
Sumber: GM Crops Database

Menurut Peraturan BPOM nomor HK.00.05.23.3541 tahun 2008


mengenai Pedoman Pengkajian Keamanan Pangan Produk Rekayasa
Genetika (PRG) mengungkapkan lini kedelai PRG event GTS 40-3-2,
dengan glifosat spektrum luas yang mengandung toleransi terhadap
herbisida, dengan toleransi herbisida glifosat ditemukan aman bagi
konsumsi dan pangan. Informasi mengenai profil tanaman kedelai
PRG GTS 40-3-2, sebagai berikut:
2. 1. Elemen Genetik
Kedelai PRG event GTS 40-3-2 mengandung satu gen interes
yaitu CP4 EPSPS. EPSPS adalah 5-enolpyruvyl shikimate-3phosphate synthase yang bertanggung jawab dalam toleransi
terhadap herbisida glifosat. Promoter yang digunakan adalah

CaMV-35S (35S dari cauliflower mosaic virus), dengan terminator


NOS (nopaline synthase) dari Agrobacterium tumefaciens.
2. 2. Sumber Gen Interes
Gen EPSPS berasal dari Agrobacterium tumefaciens strain CP4.
Agrobacterium tumefaciens adalah bakteri tanah yang bukan
merupakan sumber alergen atau zat yang bersifat toksik terhadap
manusia. Gen EPSPS, di dalam kedelai PRG event GTS 40-3-2
mengekspresikan toleransi terhadap herbisida yang mengandung
glifosat.
2. 3. Sistem Transformasi
Kedelai PRG event GTS 40-3-2 dirakit melalui teknik
transformasi dengan penembakan partikel (particle - acceleration /
biolistic) menggunakan plasmid PV-GMGT04 pada sel tanaman
kedelai galur A5403.
2. 4. Stabilitas Genetik
Analisis stabilitas genetik integrasi gen interes dari kedelai PRG
event GTS 40-3-2 dengan Southern blot menunjukkan bahwa gen
CP4 EPSPS stabil sampai enam generasi. Stabilitas genetik
pewarisan sifat toleransi terhadap herbisida glifosat kedelai PRG
event GTS 40-3-2 mengikuti prinsip hukum Mendel. Data dari
analisis Southern blot menunjukkan bahwa kedelai PRG event GTS
40-3-2 mengandung satu kopi insert gen CP4 EPSPS.
3. Kajian Keamanan Lingkungan Kedelai PRG event GTS 40-3-2
Kajian keamanan lingkungan diperlukan apabila PRG tersebut
akan dilepas ke lingkungan, dalam hal ini untuk ditanam dan
dibudidayakan. GM Crop database menginformasikan bahwa telah
dilakukan kajian keamanan lingkungan pada tanaman kedelai PRG
event GTS 40-3-2, melaui serangkaian uji yaitu:
3. 1. Uji Lapangan
Kedelai GTS 40-3-2 sudah diuji lapangan di Amerika Serikat
(1991-1993), Kanada (1992), Puerto Rico (1993), Argentina dan
Costa Rica. Agronomi mempelajari hasil pembenihan dan
observasi visual pada karakter perkecambahan benih, hasil
akhir, penyakit (wabah) dan kerentanan serangga, mendukung
kesimpulan bahwa Kedelai GTS 40-3-2 aman untuk ditumbuhkan
dan dibudidayakan seperti varietas kedelai lainnya dan tidak
memiliki potensi resiko hama tanaman.
3. 2. Penyilangan (outcrossing)
Persilangan gen dari transformasi Kedelai GTS 40-3-2 sangat
tidak mungkin tidak ada hubungan antara pembudidayaan
kedelai di Benua Amerika dan Kanada, serta tanaman kedelai
hampir melakukan penyerbukan sendiri. Lebih jauh, karakteristik
reproduksi seperti produksi serbuk sari dan kelangsungan hidup
tidak terganti oleh modifikasi gen yang dihasilkan GTS 40-3-2.
Kedelai terbudidaya, Glycine max, secara alami berhibridasi
dengan spesies liar tahunan Glycine soja. Bagaimanapun,
Glycine Soja hanya ditemukan secara alami di China, Korea,
Jepang, dan Taiwan, dan tidak secara alami di Amerika Utara,
walaupun mungkin ditumbuhkan pada plot penelitian.
Disimpulkan bahwa potensi untuk transfer uji toleransi glifosat
10

dari garis transgenik ke kerabat kedelai melalui arus gen, dapat


diabaikan dalam ekosistem termanajemen dan bahwa tidak ada
potensi untuk transfer ke spesies liar di Kanada dan Amerika
Serikat.
3. 3. Potensi Merumput (Weediness)
Tidak ada keuntungan kompetitif pada kedelai GTS 40-3-2,
selain ketahanan pada herbisida glifosat. Ketahanan atas
herbisida yang mengandung glifosat, pada dirinya, tidak akan
menyebabkan kedelai berumput atau menginvasi habitat alami
karena tidak ada karakter reproduksi atau pertumbuhan
termodifikasi.
Di dalam ketidakmungkinan terbentuknya herbisida yang
toleran hibrid, tidak akan ada keuntungan kompetitif menilik
pada turunan hibrid di kekosongan dari penggunaan glifosat
sokongan. Tanaman tahan glifosat bisa dengan mudah dikontrol
dengan jalan mekanis atau dengan herbisida yang tidak
berdasarkan glifosat. Kedelai terbudidaya tidak menunjukkan
karakter berumput di Amerika Serikat dan Kanada walaupun
spesies terkait dilaporkan berumput seperti di Jepang dan Cina.
Disimpulkan kedelai event GTS 40-3-2 tidak berumput oleh
serbuan potensial dibandingkan varietas kedelai komersiil.
3. 4. Efek Samping dan Efek merugikan pada Non-Target
Pengamatan lapangan menunjukkan tidak ada efek negatif
dari kedelai GTS 40-3-2 pada organisme non-target, mungkin
bahwa tingkat protein yang lebih tinggi di jaringan tanaman
tidak beracun bagi organisme yang bermanfaat. Protein baru
CP4 EPSPS tidak menghasilkan perubahan beracun dan
alerginitas. Lebih jauh, spesialitas yang tinggi dari enzim untuk
substratnya membuatnya tidak mungkin seperti enzim yang
dikenalkan akan memetabolisme substrasi endogen untuk
memproduksi campuran beracun uuntuk organism berguna.
Intinya, modifikasi genetik kedelai GTS 40-3-2 tidak memiliki efek
negatif signifikan.
3. 5. Dampak pada Biodiversitas
Kedelai GTS 40-3-2 tidak memiliki karakter fenotip baru yang
akan memperpanjang penggunaannya melampaui range
geografi saat ini. Karena tidak ada hubungan liar dari kedelai di
Kanada dan Amerika serta kedelai bukan spesies invasif, sifat
baru tidak akan tertransfer ke lingkungan yang tidak
termanajemen.
Di Indonesia keamanan lingkungan tanaman kedelai GTS 40-3-2
baru dievaluasi pada tahun 2012. Upaya percepatan adopsi
teknologi termasuk produk rekayasa genetik diatur dengan PP No.
21 Tahun 2005 tentang Keamanan Hayati Produk Rekayasa
Genetika, dilengkapi Permentan No. 61/OT.140/XI/2011 tentang
pengujian, penilaian, dan pelepasan varietas tanaman, tanaman
kedelai GTS 40-3-2 sudah mendapat sertifikat aman lingkungan
dan pangan.
Prosedur pengkajian keamanan lingkungan di Indonesia, yaitu
berdasarkan pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2005
yang dapat dilihat pada gambar 3.

11

Gambar 3. Alur pengkajian keamanan lingkungan di Indonesia


Secara garis besar alur untuk memperoleh sertifikat keamanan
hayati melewati beberapa tahapan. Pertama, pemohon mengikuti
semua prosedur yang diatur oleh Kepmentan tahun 1997 tentang
Ketentuan Keamanan Hayati PRG, yaitu dengan mengajukan
permohonan tertulis yang dialamatkan kepada Menteri Pertanian cq
Direktur Jenderal Terkait, yaitu Direktur Jenderal Tanaman Pangan.
Permohonan tertulis tersebut disertai dengan jawaban daftar
pertanyaan dan dokumen keamanan hayati yang telah ada dan
mereka peroleh dari negara tempat asal tanaman PBPHRG tersebut
dirakit, serta sertifikat aman hayati dan izin komersial di luar
negeri.
Dalam proses pengkajian keamanan hayati, tanaman PRG harus
melalui tahapan pengujian di fasilitas uji terbatas (FUT) dan
lapangan uji terbatas (LUT). FUT adalah suatu fasilitas yang
dibangun untuk melaksanakan kegiatan perakitan dan pengujian
tanaman PRG dengan konsep pengelolaan risiko sampai pada suatu
tingkat yang dapat diterima. FUT dibangun sesuai dan mengikuti
standar keamanan hayati internasional. Menurut NIH Guidelines
(Traynor et al., 2001) ada empat tingkat keamanan hayati
(Biosafety Level for Plants, BLP) untuk tanaman PRG, yaitu BL1-P,
BL2- P, BL3-P, dan BL4-P. FUT terdiri atas gedung utama (headhouse), rumah kaca, dan rumah kasa Traynor et al. (2001). Rumah
kaca dibangun dari dinding yang terbuat dari polikarbonat dan kasa
200 mesh, dengan sistem pintu ganda (double door) untuk
mencegah terjadinya penyebaran serbuk sari. Rumah kaca juga
dilengkapi dengan shelldeck dan exhaust fan untuk memperoleh
suhu ruangan mendekati suhu udara luar dan tidak mengganggu
fungsi sebagai containment yang memiliki kesamaan lingkungan
dengan tempat tumbuh terbuka. Sesuai dengan kebutuhan untuk
mengakomodasi tanaman dataran tinggi seperti kentang, rumah
kaca juga dapat dilengkapi dengan chiller dan atau AC. Rumah kasa
dibuat dari kawat kasa, dengan sistem pintu ganda (Herman,
2010).
LUT seperti halnya pengujian tanaman PRG di FUT, LUT yang
digunakan untuk percobaan tanaman PRG juga harus memenuhi
ketentuan pembatasan/ pengamanan (confinement) gen novel dan
bahan tanaman PRG yang diadopsi dari CLI (2005) dan Halsey

12

(2006). Ketentuan tersebut meliputi: (1) pencegahan lepasnya gen


novel dari lokasi percobaan melalui serbuk sari, biji/benih, atau
bagian tanaman lain (genetic confinement), (2) pencegahan bahan
tanaman PRG untuk dikonsumsi oleh manusia dan hewan ternak
(material confinement), dan (3) pencegahan lepasnya tanaman
PRG dari lokasi percobaan (material confinement). Ada beberapa
cara yang dapat dilakukan untuk mencegah atau menghindarkan
pemindahan gen, antara lain: (1) isolasi jarak, isolasi biologis,
misalnya kedelai PRG ditanam di sekitar tanaman melon, jagung,
dan padi gogo; (2) isolasi waktu, misalnya jagung PRG ditanam di
sekitar tanaman jagung lokal yang hampir panen; (3) isolasi fisik,
misalnya kapas PRG ditanam pada lahan bera; dan (4) isolasi
reproduktif. Setelah hasil pengkajian LUT dan dokumen keamanan
hayati dievaluasi, maka TTKH merekomendasikan aman hayati
terhadap tanaman PRG tersebut kepada KKH. Berdasarkan
rekomendasi TTKH, KKH menetapkan aman hayati terhadap kelima
event tanaman PRG yang ciri-cirinya disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Ciri lima jenis tanaman PRG yang memperoleh ketetapan
aman hayati (aman lingkungan) di Indonesia dari Komisi Keamanan Hayati
Tanama Event
Sifat
Gen
Sumber
n
Jagung
GA21
TH
mEPSPS
Jagung
glifosat
Jagung
MON810
TSH
Cry1 Ab
B. thuringiensis
sub. sp. kurstaki
Kapas
MON1445/1698
TH
CP4
A. tumiefaciens
glifosat
EPSPS
strain CP4
Kapas
MON531/757/10
TSH
Cry1 Ac
B. thuringiensis
76
sub. sp. kurstaki
Kedelai
GTS 40-3-2
TH
CP4
A. tumiefaciens
glifosat
EPSPS
strain CP4
TH = toleran herbisida, TSH = tahan serangga hama, mEPSPS =
mutated/modified 5-enolpyruvylshikimate-3-phosphate synthase.
Sumber: KKH (1999a, 1999b), Herman (2009).

Data dan dokumen keamanan lingkungan tanaman PRG


meliputi informasi genetik dan informasi keamanan lingkungan.
Informasi genetik, yang diperlukan antara lain informasi mengenai
elemen genetik, sumber gen interes, sistem transformasi, dan
stabilitas genetik. Sedangkan informasi keamanan lingkungan
terdiri atas dampak terhadap organisme non target, dampak
terhadap keanekaragaman hayati, perpindahan gen, dan potensi
menjadi gulma.
a. Informasi genetik, terdiri atas informasi elemen genetik,
sumber gen interes, sistem transformasi, dan stabilitas
genetik. Elemen genetik menerangkan informasi tentang gen
interes, promoter dan terminator yang ada dalam tanaman
PRG. Sumber gen interes menerangkan dari organisme asal
dari gen interes diperoleh, misalnya bersumber dari virus,
cendawan,
bakteri,
tanaman,
atau
hewan.
Sistem
tranformasi menerangkan teknik transfer gen yang
digunakan, misalnya melalui penembakan partikel (particle
bombardment) atau mediasi dengan vektor Agrobacterium
13

tumefaciens. Stabilitas genetik dilakukan untuk melihat


sampai generasi ke berapa gen interes masih berada di
dalam genom tanaman PRG, dan berapa jumlah kopi gen
interes tersebut, serta apakah segregasi gen interes
mengikuti kaidah pewarisan Mendel.
b. Informasi Keamanan Lingkungan, mencakup:
1) Dampak terhadap organisme non target, dampak
terhadap keanekaragaman hayati, perpindahan gen, dan
potensi menjadi gulma. Dampak terhadap organisme non
target Informasi dampak tanaman PRG terhadap organisme
non target dapat diperoleh dari studi di laboratorium, rumah
kaca, dan lapang. Percobaan tersebut meliputi feeding study
pada tanaman PRG terhadap organisme non target.
2) Dampak terhadap keanekaragaman hayati. Dalam kajian
ini diperlukan informasi cara penyerbukan tanaman PRG,
asal usul tanaman PRG, dan keberadaan kerabat liarnya di
Indonesia. Tanaman yang asalnya dari Indonesia dan
mempunyai kerabat liar adalah pisang dan kelapa (Harlann,
1991). Indonesia bukan merupakan center of origin dari
beberapa komoditi seperti kapas, kedelai, jagung, kacang
tanah. Di samping itu, diperlukan penjelasan bahwa tanaman
PRG yang dirakit tidak menjadikan tanaman PRG tersebut
menjadi lebih invasive dan lebih bersifat seperti gulma
dibandingkan dengan tanaman tetuanya (non PRG). Sifat
baru (novel) tidak akan ditransfer ke daerah atau lingkungan
yang tidak dikelola (unmanaged environment).
3) Perpindahan gen atau dalam bahasa pemuliaan
diistilahkan sebagai penyerbukan silang atau hibridisasi
silang adalah suatu peristiwa alami yang terjadi secara rutin.
Perpindahan gen dari suatu tanaman ke tanaman lain sangat
dipengaruhi oleh cara penyerbukannya (silang atau sendiri)
dan
kompatibilitas
seksual
antara
tanaman
yang
memindahkan gen dan tanaman yang menerima. Informasi
perpindahan gen diperlukan dalam pengkajian keamanan
lingkungan untuk mengetahui apakah ada kemungkinan
berpindahnya gen ke tanaman budi daya sejenis dan untuk
menentukan jarak isolasi tanaman PRG ke tanaman non PRG
sesuai dengan ketentuan percobaan LUT.
4) Potensi menjadi gulma. Kajian ini diperlukan untuk
mengetahui apakah sifat baru tanaman PRG dari
transformasi gen interes menyebabkan tanaman PRG
berubah menjadi gulma. Sehubungan dengan itu diperlukan
studi kesepadanan agronomis di rumah kaca dan lapang
untuk mengetahui karakter fenotipik tanaman PRG apakah
sepadan dengan tanaman non PRG. Beberapa karakter
gulma antara lain: pertumbuhan sangat cepat pada fase
vegetatif ke generatif, mampu bertahan hidup tanpa
bantuan manusia, mempunyai toleransi yang sangat tinggi
terhadap cekaman biotik atau abiotik, produksi biji yang
sangat banyak pada beragam jenis lingkungan dapat

14

berkompetisi secara interspesies dengan berbagai cara


(seperti
pembentukan
roset
dan
terdapatnya
allelochemicals), mempunyai sifat dormansi tinggi, dan
bersifat non shattering (Holzner, 1982).
4. Status Keamanan Pangan Kedelai PRG event GTS 40-3-2
Galur (event) kedelai transgenik toleran herbisida GTS 40-3-2
mengandung gen CP4 epsps (toleran herbisida glifoosat) memperoleh
ketetapan aman pangan di Jepang pada tahun 1996 menyusul
ketetapan aman pangan di Switzerland (1996), Republik Ceko (2001),
Rusia (2002), dan Uni Eropa (2005). Berdasarkan Peraturan Kepala
Badan POM Nomor HK.00.05.23.3541 Tahun 2008 tentang Pedoman
Pengkajian Keamanan Pangan Produk Rekayasa Genetik, TTKHKP telah
melakukan pengkajian keamanan pangan kedelai PRG event GTS 403-2 berdasarkan informasi genetik dan informasi keamanan pangan
yang terdiri atas kesepadanan substansial, alergenisitas, dan
toksisitas sebagaimana diuraikan di bawah ini.
4. 1. Kesepadanan substansial
Dalam pengkajian kesepadanan substansial ini, kedelai PRG
event GTS 40-3-2 dibandingkan dengan kedelai non PRG komersial
varietas A5403. Bersamaan dengan ini dibandingkan pula hasilnya
dengan kedelai PRG event GTS 61-67-1 non komersial (McCann,
2005).
Penanaman kedelai untuk percobaan ini dilakukan di 9 lokasi di
USA pada tahun 1992, yaitu di Macon, MO; Washington, LA;
Martinsville, IN; Greenville, MS; Newport, AR; Proctor, AR;
Winterville, GA; Seven Springs, NC dan Marion, AR. Penanaman
pada tahun 1993 dilakukan di Gordon, AL; Salisbury, MD; Steele,
MO dan Marion, AR. Selain terhadap biji kedelai segar, percobaan
juga dilakukan terhadap biji kedelai yang sudah diproses,
khususnya toasting, baik dalam skala kecil maupun besar.
Analisis laboratorium yang dilakukan adalah analisis asamasam amino yang tahan asam, asam-asam amino bersulfur,
triptofan, karbohidrat, lemak, profil asam lemak, serat kasar,
isoflavon bebas dan terikat, lesitin, kadar air, protein, asam fitat,
gula, inhibitor tripsin dan urease.
Hasil dari semua analisis yang dilaporkan menunjukkan bahwa
komposisi kedelai PRG event GTS 40-3-2 serta bagian yang
diproses (bungkil yang dipanggang, bungkil tanpa lemak, isolat
protein, konsentrat protein, Refined Bleached Deodorized Oil
(RBDO) dan lesitin) sepadan dengan biji kedelai non PRG dan
fraksi-fraksinya. Dilaporkan bahwa komposisi dari kedelai PRG
event GTS 40-3-2 selama tiga tahun pemuliaan, tetap sepadan
dengan komposisi kedelai non PRG.
Isoflavon dan zat anti gizi (inhibitor tripsin dan lektin) kedelai
diuji baik tanpa pengolahan maupun setelah pemanasan. Zat anti
gizi lainnya, yaitu fitat, stakiosa dan rafinosa hanya diuji pada
kedelai setelah pemanasan, dan urease diuji pada kedelai tanpa
pengolahan. Dari hasil pengujian dapat disimpulkan bahwa zat anti
15

gizi pada kedelai PRG event GTS 40-3-2 tidak berbeda dengan
kedelai non PRG.
4. 2. Alergenisitas
Protein EPSPS diproduksi oleh gen EPSPS yang berasal dari
Agrobacterium tumefaciens strain CP4. Protein ini bertanggung
jawab untuk toleransi terhadap herbisida glifosat. Umumnya
bakteri ini hidup di tanah dan rhizosphere tanaman, tidak
menimbulkan alergi dan tidak ada populasi penduduk yang peka
terhadap protein dari bakteri tersebut (FAO/WHO, 1991).
Studi bioinformatik dilakukan untuk membandingkan sekuen
asam amino protein hasil ekspresi dengan sekuen asam amino
berbagai protein yang sudah diketahui bersifat alergen yang sudah
ada di berbagai database. Hasil studi menunjukkan tidak ada
kemiripan sekuen asam amino dan tidak ditemukan pula active site
homology.
Tidak ada homologi antara sekuen asam amino protein CP4
EPSPS dengan protein-protein yang diketahui bersifat toksin yang
terdapat pada database PIR, Swiss-Prot, EMBL dan GenBank. Hal ini
didukung dengan beberapa hasil pengujian lainnya, yaitu analisis
protein CP4 EPSPS di dalam sistem pencernaan dan uji toksisitas.
Kedelai sebagai sumber protein CP4 EPSPS tidak dikenal
sebagai bahan pangan yang mengandung alergen. Kemungkinan
adanya protein yang bersifat alergen dari kedelai PRG event GTS
40-3-2 secara kualitatif maupun kuantitatif dianalisis dengan
immunoblot assay. Hasilnya menunjukkan bahwa antibodi IgE
sebagai respons spesifik alergenisitas dari tubuh individu yang
normal maupun sensitif terhadap alergi tidak mengalami
perubahan selama mengkonsumsi kedelai PRG event GTS 40-3-2.
Analisis glikosilasi protein menunjukkan bahwa protein CP4
EPSPS tidak mengalami glikosilasi (Harrison et al., 1993). Pada
tumbuhan, reaksi glikosilasi terjadi di dalam retikulum endoplasma
dan badan golgi (Taiz dan Zieger, 1991), dan protein CP4 EPSPS
tidak terdapat didalamnya. Selain itu CP4 EPSPS dibawa ke
kloroplas yaitu tempat sintesis asam amino dan diketahui bahwa di
dalam kloroplas tidak dilakukan proses glikosilasi. Berdasarkan hal
tersebut, protein CP4 EPSPS tidak mengalami glikosilasi.
Sifat biokimia protein CP4 EPSPS menunjukkan bahwa protein
ini tidak bersifat alergen. Protein CP4 EPSPS memiliki berat molekul
47,6 kD dan bersifat labil terhadap protease yang ada pada saluran
pencernaan mamalia sehingga kemungkinan untuk diabsorpsi oleh
mukosa usus sangat kecil.
Uji daya cerna protein in vitro telah dilakukan terhadap protein
CP4 EPSPS pada Simulated Mammalian Gastric Fluid (SGF). Hasil
menunjukkan protein CP4 EPSPS terdegradasi dalam waktu 15
detik setelah inkubasi seperti dibuktikan dengan analisis Western
blot. Berdasarkan hasil ini diperkirakan protein CP4 EPSPS akan
terdegradasi dalam saluran pencernaan manusia dalam waktu
yang sangat cepat. Sebagai perbandingan, 50% dari bahan padat
dikosongkan dari lambung dalam waktu 2 jam, sedangkan bahan
cair dikosongkan dari lambung dalam waktu 25 menit (Sleisenger
16

dan Fordtran, 1989). Dapat disimpulkan bahwa protein CP4 EPSPS


dapat dicerna dengan cepat.
4. 3. Toksisitas
Pengujian toksisitas dilakukan melalui uji toksisitas terhadap
protein CP4 EPSPS kedelai PRG event GTS 40-3-2. Protein yang diuji
adalah protein CP4 EPSPS yang diproduksi oleh E. coli strain GB100,
dengan kemurnian >90%, kemudian disimpan pada suhu -80C
sampai saatnya dianalisis. Hewan coba yang digunakan adalah CD1 Albino mice (50 jantan, 50 betina), berumur 5,5 minggu (jantan)
dan 7 minggu (betina) dengan berat badan 25,2 - 29,8 g (jantan)
dan 22,7 - 27,2 g (betina) yang diperoleh dari Charles River
Breeding Laboratory, Portage, MI. Ransum basal yang digunakan
adalah Purina Certified Rodent Chow no. 5002 (Horrison, 1996).
Pengujian diawali dengan pemberian makan dan minum ad
libitum pada mencit. Protein yang diuji dilarutkan dalam larutan
dapar (Na-bikarbonat, sistein dan sukrosa). Larutan protein
diberikan pada mencit secara gavage dengan dosis target 40
mg/kg BB, 100 mg/kg BB dan 400 mg/kg BB (masing-masing dosis
target tersebut setara dengan dosis aktual 49 mg/kg BB, 154
mg/kg BB dan 572 mg/kg BB). Hewan kontrol diberi bovine serum
albumin (BSA) dengan dosis protein yang disesuaikan dengan
perlakuan. Mencit dimatikan pada hari ke-8 atau ke-9 setelah diberi
larutan protein, kemudian organ dalam diperiksa. Pengujian
menunjukkan hasil bahwa tidak terdapat perbedaan berat badan
mencit, berat badan kumulatif dan konsumsi ransum antara grup
perlakuan dan grup kontrol. Tidak terdapat kelainan pada organ
mencit yang disebabkan oleh perlakuan pemberian protein CP4
EPSPS. Tidak terdapat pengaruh merugikan akibat pemberian
protein CP4 EPSPS pada mencit secara gavage pada dosis tinggi
572 mg/kg BB. Dosis tersebut melebihi 1000 kali perkiraan tingkat
konsumsi kedelai yang mengandung protein CP4 EPSPS. Dari hasil
pengkajian toksisitas dapat disimpulkan bahwa protein CP4 EPSPS
termasuk dalam golongan zat yang dianggap tidak toksik.

BAB III
Penutup
Kesimpulan
Kedelai transgenik hanya dapat dibudidayakan jika sudah
dilakukan pengkajian keamanan lingkungan. Berdasarkan database
dari GM Crops, tanaman kedelai GTS 40-3-2 berstatus aman
lingkungan setelah melalui beberapa uji, yaitu: Uji Lapangan,

17

Penyilangan (outcrossing), Potensi merumput (weediness), efek


samping dan merugikan pada non-target, dan dampak pada
biodiversitas.
Di Indonesia, tanaman kedelai GTS 40-3-2 baru dievaluasi pada
tahun 2012 dan sudah mendapat sertifikat keamanan lingkungan.
Kajian keamanan lingkungan tanaman kedelai GTS 40-3-2 di Indonesia
berdasarkan prosedur pada Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun
2005 tentang tata cara pengkajian keamanan hayati PRG.
Daftar Pustaka
BPS Database. 2014. Impor Kedelai 2014. (http://bps.go.id). Diakses
tanggal 2/11/2015.
Faisal. 2012. Tanaman Transgenik dan Kebijakan Pengembangannya di
Indonesia. Pusat Pengkajian Kebijakan Inovasi Teknologi-BPPT.
Ginting, E., S. Satya dan S. Widowati. 2009. Varietas Unggul Kedelai untuk
Bahan Baku Industri Pangan. Jurnal Litbang Pertanian, 28(3).
GM Crop Database. 2012. Database Product Description. (online.
http://ceragmc.org/index). Diakses tanggal 02/11/2015.
Harrison, L. A., Bailey M.R., Naylor M.W., Ream J.E., Hammond B.G., Nida
D.L., Burnette B.L., Nickson T.E., Mitsky T.A., Taylor M.L., Fuchs R.L.
dan Padgette S.R. 1996. The Expressed Protein in GlyphosateTolerant Soybean, 5-enolpyruvyl-shikimate-3-phosphate Synthase
from Agrobacterium sp. strain CP4, is Rapidly Digested In Vitro
and Not Toxic to Acutely Gavaged Mice. Journal of Nutrition, 126:
728-740.
Herman, M. 2002. Perakitan Tanaman Tahan Serangga Hama melalui
Teknik Rekayasa Genetik. Buletin AgroBio, 5(1):1-13.
Herman, M. 2010. Empat Belas Tahun Perkembangan Peraturan
Keamanan Hayati dan Keamanan Pangan Produk Rekayasa
Genetika dan Implementasinya di Indonesia. Jurnal AgroBiogen,
6(2): 113-125.
Holzner, W. 1982. Concepts Categories and Characteristics of Weeds. P 320. In W. Holzner and N. Numata (Eds) Biology and Ecology of
Weeds. W. Junk, Hague, Netherlands.
James, C. 1996. Global Review of The Field Testing and Commercialized
Transgenic Plants: 1986 to 1995. The First Decade of Crop
Biotechnology. ISAAA Brief No. 1.ISAAA, Ithaca, New York.
Karmana, I Wayan. 2009. Adopsi Tanaman Transgenik dan Beberapa
Aspek Pertimbangannya. GaneC Swara, 3(2).
Komisi Keamanan Hayati (KKH). 1999a. Surat Penetapan Komisi
Keamanan Hayati No. LB. 150.905.155 tentang Aman
Lingkungan Tanaman Kedelai Transgenik Roundup Ready,
Tanaman Jagung Transgenik Roundup Ready, dan Tanaman
Jagung Transgenik Bt.
Komisi Keamanan Hayati (KKH). 1999b. Surat Penetapan Komisi
Keamanan Hayati No. LB. 150.905.156 tentang Aman
Lingkungan Tanaman Kedelai Transgenik Roundup Ready,
Tanaman Jagung Transgenik Roundup Ready, dan Tanaman
Jagung Transgenik Bt

18

McCann, M. C., Liu K., Trujillo W.A., dan Dobert R.C. 2005. GlyphosateTolerant Soybeans Remain Compositionally Equivalent to
Conventional Soybeans Glycine max L. during Three Years of Field
Testing. Journal of Agricultural and Food Chemistry 53: 5331-5335.
Pratiwi, Sri. 2012. Kajian tentang Transgenik di Beberapa Negara. Badan
Pengkajian dan Penerapan Teknologi Pusat Pengkajian Inovasi
Teknologi.
Rusman, Arif. 2010. Ringkasan Pengkajian Keamanan Pangan Kedelai PRG
event GTS 40-3-2. Balai Kliring Keamanan Hayati Indonesia.
Ridha, R. 2011. Tanaman Transgenik dan Pengaruh terhadap Keamanan
Lingkungan.
Sugesti, Tri Linda. 2013. Deteksi Transgenik GTS 40-3-2 Tahan Herbisida
Berbahan Aktif Glifosat menggunakan PCR.

19