Anda di halaman 1dari 3

Indikator Logam

Indikator logam adalah suatu indicator terdiri dari suatu zat yang umumnya senyawa organic
yang dengan satu atau beberapa ion logam dapat membentuk senyawa kompleks yang
warnanuya berlainan dengan warna indikatornya dalam keadaan bebas. Warna indicator asam
basa akan tergantung, pada pH larutannya, sedangkan warna indicator logam sampai batas
tertentu bergantung pada pM. Oleh karena itu indicator logam sering disebut sebagai "pMslustive indicator" atau metalochrome-indikator (syafei, 1998). Beberapa macam indicator logam
yang digunakan adalah sebagai berikut :
a.Eriochrome Black T
Eriochrome Black T merupakan indikator kompleksometri yang merupakan bagian dari titrasi
kompleksometri, misalnya dalam proses penentuan kekerasan air. Ini adalah dye.It azo juga
dikenal sebagai ET-00. Dalam bentuk terprotonasi nya, Eriochrome Black T biru. Ternyata merah
ketika membentuk kompleks dengan kalsium, magnesium, atau ion logam lainnya. Rumus
kimianya dapat ditulis Eriochrome Black T adalah biru, tapi ternyata merah di hadapan logam.
Ketika digunakan sebagai indikator dalam titrasi EDTA, akhir biru karakteristik titik-tiba saat
EDTA memadai telah ditambahkan dan membentuk kompleks ion logam dengan EDTA bukan
Eriochrome.Eriochrome Black T juga telah digunakan untuk mendeteksi keberadaan logam
tanah . Kelemahan indikator ini, tak stabil dalam larutan,sehingga larutan tidak dapat disimpan
lama.
b. Murexide
Kelat Murexide dengan logam berwarna merah muda dan indikator bebasnya berwarna ungu.
Seperti halnya Calcon, Murexide sangat cocok untuk titrasi penetapan Ca pada pH tinggi, pH
11-13 tanpa gangguan ion Mg++. Perubahan warnanya dari warna merah muda menjadi ungu.
Disini tidak diperlukan Masking Agent untuk menentukan kesadahan Ca karena ion Mg dan
logam lainnya tidak menggangu pada pH diatas 11. Logam-logam tadi mengendap dalam bentuk
hidroksida.
c.Xylanol Orange (XO)
Indikator ini dibuat dengan mereaksikan o-kresolsulfonftalein dengan formaldehid dan asam
iminodiasetat, sehingga diadisikan satu atau dua gugus pengkelat. Sebagai Indikator asam-basa,
Xylenol orange berwarna kuning lemon dalam larutan asam (pH < 5,4) dan merah pada pH 5,5
7,4. Sedangkan kelat indikator logam berwarna violet atau merah. Indikator ini dipakai pada pH
rendah (< 5,4) atau dalam HNO3 0,2 M untuk titrasi kelat EDTA yang kuat. Misal untuk Bi dan
Th sevara langsung pada pH 1,5 3,0 dan tak langsung untuk Zr dan Fe (III).
d.Calmagite

Calmagite merupakan indikator kompleksometri digunakan dalam kimia analitik untuk


mengidentifikasi keberadaan ion logam dalam larutan. Seperti dengan ion logam calmagite
indikator lain akan berubah warna saat itu pasti akan ion. Calmagite akan merah anggur bila
terikat pada ion logam dan mungkin biru, merah, atau oranye jika tidak terikat pada ion logam.
Calmagite sering digunakan dalam hubungannya dengan EDTA, bahan pengikat kuat logam.
Seperti halnya Erio T, calmagite mengkompleks banyak ion logam. Daerah kerjanya mencakup
pH 8,1 12,4 dan warna indikator bebasnya biru. Larutan Calmagite stabil, tetapi dalam hal-hal
lain sifatnya sama dengan Erio T, antara lain mengalami blocking oleh Cu, Ni, Fe (III), dan Al.
e.Arsenazo I
Indikator ini dipakai untuk Ca maupun Mg, sehingga dalam titirasi Ca2+
tidak perlu penambahan Mg2+Selain itu, keuntungan besar ialah, indikator ini tidak diblock
oleh Cu (II) dan Fe (III) dalam jumlah kecil. Keuntungan lain bereaksi cepat sehingga perubahan
warna juga cepat. Arsenazo I merupakan indikator jitu untuk titrasi logam alkali tanah dan Th
(IV) dengan EDTA.
f.NAS
Warna NAS merah-violet dalam larutan yang sangat asam dan merah-jingga pada pH 3,5
keatas. Daerah kerja NAS kira-kira pH 3 9. Kelatnya dengan Cu, Zn, dan Pb berwarna kuning
pucat, dan dengan beberapa ion logam lain kuning atau jingga pucat. Penggunaan NAS cukup
luas dan dianjurkan untuk tittrasi Cu, Co (II), Cd, Ni, Zn,.Al, dan beberapa kation lain dengan
EDTA. Dalm banyak penggunaannya, perlu atau membantu sekali ditambahkan sedikit Cu (II)
supaya bereaksi dengan indikator. Indikator-Cu ini baru terurai kembali bila titrasi sudah selesai.
Penambahan Cu (II) mendekati akhir titrasi, tanpa Cu pun tampak perubahan warna dari jingga
menjadi merah.
Indikator yang banyak digunakan dalam titrasi kompleksometri adalah:
a.Hitam eriokrom
Indikator ini peka terhadap perubahan kadar logam dan pH larutan. Pada pH 8 -10 senyawa ini
berwarna biru dan kompleksnya berwarna merah anggur. Pada pH 5 senyawa itu sendiri
berwarna merah, sehingga titik akhir sukar diamati, demikian juga pada pH 12. Umumnya titrasi
dengan indikator ini dilakukan pada pH 10.
b.Jingga xilenol
Indikator ini berwarna kuning sitrun dalam suasana asam dan merah dalam suasana alkali.
Kompleks logam-jingga xilenol berwarna merah, karena itu digunakan pada titrasi dalam
suasana asam.

c.Biru Hidroksi Naftol


Indikator ini memberikan warna merah sampai lembayung pada daerah pH 1213 dan menjadi
biru jernih jika terjadi kelebihan edetat. Titrasi kompleksometri umumnya dilakukan secara
langsung untuk logam yang dengan cepat membentuk senyawa kompleks, sedangkan yang
lambat membentuk senyawa kompleks dilakukan titrasi kembali.
EDTA
Asam etilen diamin tetra asetat atau yang lebih dikenal dengan EDTA, merupakan salah satu jenis
asam amina polikarboksilat. EDTA sebenarnya adalah ligan seksidentat yang dapat berkoordinasi
dengan suatu ion logam lewat kedua nitrogen dan keempat gugus karboksil-nya atau disebut ligan
multidentat yang mengandung lebih dari dua atom koordinasi per molekul,misalnya asam 1,2diamino etana tetra asetat (asametilenadiamina tetraasetat,EDTA) yang mempunyai dua atom
nitrogen