Anda di halaman 1dari 4

PL 4010 Kapita Selekta

RINGKASAN MATERI
Key Challenges in Financing Infrastructure PPP Projects in
Indonesia
Disampaikan Oleh
Bernadus Djonoputro
Managing Director PT Nusantara Infrastructure Tbk.
Happy Tiara Asvita
15409001
Infrastruktur merupakan suatu sistem yang besar dan merupakan modal yang
penting dapa sektor public dan private. Infrastruktur melayani beberapa
kegiatan, yaitu perumahan, komersial, industri dan konsumen publik. Pola
perkotaan dan lokasi dari aktivitas masyarakat di kota biasanya dibentuk karena
adanya investasi dalam infrastruktur seperti jalan tol. Ketika terjadi perubahan
pada zona pengembangan, akan terjadi penyebaran pengembangan sampai
pada area desa. Hal ini dapat disebabkan karena banyak orang yang dibebaskan
dari kota kota oleh telekomuting dan mengambil keuntungan dari ketersedian
pekerjaan yang tersebar dalam informasi ekonomi. Pola ini mengakibatkan
adanya tiga perubahan dalam bentuk kota, yaitu kota perbatasan, intensifikasi
pengembangan dalam area perkotaan dan penyebaran populasi ke area desa
dan kota kecil.
Sistem infrastruktur merupakan dasar dari pelayanan publik yang merupakan hal
penting dalam ekonomi dan dibutuhkan untuk kehidupan yang lebih baik. Tetapi
menjaga sistem tersebut tetap berfungsi dan keamanannya merupakan sesuatu
yang paling penting pada kebutuhan kebijakan nasional. Oleh karena itu
infrastruktur digunakan sebagai fokus utama pada cluster kebutuhan nasional.
Jika inovasi pada sistem infrastruktur sukses, maka masalah biaya energi,
keamanan, mobilitas yang lebih baik perjalanan udara yang lebih efektif dan
meningkatnya populasi dapat terselesaikan.
Kualitas hidup dan kesuksesan masa depan dalam menyelesaikan masalah
nasional akan bergantung pada seberapa efektif pengembangan dan menajemen
sistem infrastruktur. Hal ini juga bergantung pada manajemen sektor publik dan
investasi sektor privat. Investor, manajer sektor ublik dan membuat kebijakan
memiliki peran kritis dalam pembentukan bentuk baru dari kerjasama pub;ikprivat untuk membuat pemerintah efisien dan responsif. Kerjasama ini
menghentikan keseimbangan diantara kemajuan ekonomi, kesamaan sosial dan
keberlanjutan lingkungan. Hal ini akan membuat kesempatan baru diantara
sektor infrastruktur
Indonesia memilki luas area 5.020.606 km2 dengan luas lahan sebesar
1.904.443 km2 dan luas area lautan sebesar 3.116.163 km2. Kemudian pada
tahun 2008 area perkotaan Indonesia sudah mencapai 51 % dan diperkirakan
1

akan terus meningkat mencapai 60 % pada tahun 2030. Indonesia memang


memiliki luas area dan area perkotaan yang cukup besar, tetapi infrastruktur
kualitas infrastrukturnya jika dibandingkan dengan beberapa negara di Asia
(Singapur, Malaysia, Thailand, China, India dan Filipina) termasuk yang rendah
yaitu 3,7 dari 7. Kondisi Infrastruktur yang kualitasnya rendah adalah faktor
utama mencegah ekonomi Indonesia untuk berkembang pada angka yang
potensial yaitu 7% - 8%.
Bappenas menyatakan bahwa sebesar 3% dari besarnya GDP (Gross Domestic
Products) Indonesia, yaitu
sekitar USD143 milyar dibutuhkan untuk
pengembangan infrastruktur pada tahun 2010 2014 agar mencapai target
pertumbuhan ekonomi sebesar 6% -7% per tahun dari 2010-2014. Berdasarkan
jumlah tersebut, anggaran pemerintah hanya dapat menutupi sekitar 35% dari
total investasi infrastruktur yang dibutuhkan yaitu sebesar USD50 milyar.
Sedangkan 65% sisanya yaitu USD93 millyar diharapkan dapat diperoleh dari
investasi sektor non-pemerintah.
Keterlibatan sektor non-pemerintah (private), menjadi salah satu opsi dalam
penyediaan dan pembangunan infrastruktur. Kerja sama antara publik dan
private ini disebut Public Private Partnership (PPP). Keseimbangan diantara
keterlibatan sektor publik dan privat dalam infrastruktur merupakan isu utama
politik yang sedang dihadapi Indonesia. Dengan kondisi financial yang saat ini
defisit besar besaran dan obligasi publik yang melimpah, maka muncul
kebutuhan
untuk mengalihkan beban pada sektor privat. Seiring dengan
semakin berkembangnya infrastruktur, hubungan mengenai keuangan sistem
dan layanan publik yang berhubungan pada gambaran makroekonomi nasional
semakin dekat. Dukungan pemerintah untuk infrastruktur membutuhkan
pendapatan yang sehat dari pembayar pajak dan kebijakan untuk menggunakan
perbendaharaan untuk memanfaatkan sistem infrastruktur yang produktif. Model
public-private dibedakan berdasarkan sektor, mereka menemukan kembali
pemerintah dengan lebih kecil dan pendekatan yang lebih efisien, mekanisme
baru public-private, solusi yang berdasarkan pasar, deregulasi pelayanan dan
pendekatan finansial yang inovatif.
PPP telah dilaksanakan pada beberapa negara, seperti Perancis, Irlandia,
Belanda, Romania, Spanyol dan Inggris. PPP di Perancis menggunakan struktur
konsesi dalam pelaksanaannya, dimana PPP tersebut tidak diperbolehkan pada
infrastruktur sosial. Contoh hasil PPP di negara ini adalah terowongan PradoCarrenage di Marseille. Penerapan PPP di Irlandia diawali dengan adanya
program pembangunan jalan raya dan light rail system. Terdapat komitmen yang
kuat pada program PPP, yaitu kerangka kerja legislatif yang jelas, unit PPP yang
telah diatur dan komite utama untuk memfasilitasi PPP. Belanda memulai PPP
pada tahun 1999 dimana proyek pertamanya adalah high speed rail. Selanjutnya
proyek PPP yang dilaksanakan di Belanda adalah jalan, rel kereta api, pelabuhan
dan air. Penerapan PPP di Rumania dimulai pada tahun 2000 oleh perusahaan
Perancis yang berhasil meyediakan air dan rehabilitasi jalur pipa ke Bucharest,
dengan membuat sistem perawatan baru dan memodernisasi sistem perairan
yang ada. Pemerintah Spanyol memiliki program jalan menggunakan struktur
2

shadow toll. Keterlibatan sektor private dicari dalam tiga jalur kereta api dan
inisiatif lainnya. Proyek PPP di Spanyol juga direncakan pada sektor kesehatan
dan pengelolaan sampah. Walaupun kerangka kerja legalnya tidak suportif dan
tidak ada hukum untuk melindungi konsesi. Pemerintah Inggris mengeluarkan
kebijakan PPP pada tahun 1992 dibawah Private Finance Initiative. Sejak saat itu,
tekniknya telah diapliasikan secara sistematis hampir semua wilayah, ditempat
pengeluaran modal pemerintah yang signifikan. Kerjasama Inggris dikeluarkan
pada tahun 2000 untuk mempromosikan konsep PPP/PFI yang digunakan pada
proyek lokal.
Pemerintah Indonesia telah memilih PPP sebagai model pilihan untuk
implementasi proyek infrastruktur, karena menyadari bahwa dana yang dimiliki
pemerintah terbatas dan solusinya adalah dengan membagi beban untuk
menyediakan infrastruktur dengan investor sektor private. Setengah dari
investasi private diantisipasi berada dari model PPP. Bappenas telah mengatur
Pusat Kerjasama Pemerintah dan Sektor Private untuk memfasilitasi kerjasama
dalam proyek infrastruktur diantara pemerintah dan investor private. Pada
laporan Public Private Partnership Infrastructure Project in Indonesia 2010
2014 yang dikeluarkan oleh Bappenas, menunjukkan bahwa terdapat 100
proyek yang bernilai sekitar USD47,3 jta yang direncanakan direalisasikan
dengan program PPP. Proyek proyek tersebut mencakup 5 sektor dan
subsektor, yaitu transportasi, rel kereta api, jalan tol, air dan sanitasi, serta
listrik. Dengan sektor yang nilai proyeknya paling besar adalah penyediaan jalan
tol yaitu sebesar USD26,852 juta dan sektor yang nilai proyeknya paling kecil
adalah penyediaan air dan sanitasi, yaitu sebesar USD2,126 juta.
Pada proyek jalan tol, Bappenas menyatakan terdapat 35 proyek pembangunan
jalan tol sepanjang 1.589 km dengan biaya USD26,9 milyar pada tahun 2010
2014 yang akan diimplementasikan melalui skema PPP dengan Kementrian
Pekerjan Umum. Dari 35 proyek yang ada, 18 diantaranya merupakan proyek
prioritas
yang diestimasikan menghabiskan biaya USD7,6 milyar yang
diharapkan ditenderkan sekitar tahun 2013. Sedangkan 17 proyek sisanya
diestimasikan bernilai USD19,3 juta yang dicantumkan pada proyek potensial.
Pada pembangunan pelabuhan, pertumbuhan industri perkapalan di Indonesia
dengan rata rata pertumbuhan diantara 15%-21% dan memiliki nilai
perdagangan yang meningkat sebesar USD 318 juta pada 2010 hingga USD 719
milyar pada 2015. Bappenas menyatakan adana 12 proyek bernilai USD 3,486
juta yang dilaksanakan melalui PPP.
Penyediaan air di Indoesia dianggap sangat buruk dan kualitas airnya tergoong
tidak bersih, dimana terdapat lebih dari 80% penduduk Indonesia tidak memiliki
akses terhadap air bersih. Dari 220 juta penduduk, lebih dari 100 juta penduduk
tidak mendapatkan akses terhadap air bersih dan hanya 2% yang memiliki akses
terhdapat air bersih. Penyediaan air ini memiliki 12 proyek dengan total biaya
USD 1,623 juta. Dari sektor energi, PLN mengestimasikan bahwa negara
membutuhkan USD 9,75 milyar dalam investasi untuk mencapai target
pertumbuhan dalam memproduksi listrik. Pertumbuhan produks listrik 9% per
tahun telah ditargetkan oleh negara. Untuk mengerjakan proyek tersebut,
3

investasi yang dibutuhkan untuk penanaman energi sebesar USD 6,61 milyar,
untuk transmisi energi USD 2,05 milyar dan sebesar USD 1,09 untuk distribusi
fasilitas. Sedangkan untuk pembangunan jalur kereta api dan airport masih
terhambat karena pertimbangan resiko yang tinggi oleh investor disebabkan
ketidakjelasan hukum dan apabila diimplementasikan, diprediksi akan
mengalami kegagalan.
Sebagian besar rencana penyediaan infrastruktur di Indonesia akan dilaksanakan
dengan menggunakan model PPP konsesi. Model ini biasanya memiliki waktu
yang panjang, yaitu berkisar pada jangka waktu 20 tahun. Kemudian dibiayai
dengan equity dan hutang, alokasi resiko pendapatan yang beragam, memiliki
nilai NPV (Net Present Value) yang rendah dan menciptakan budaya maintance.
Jadi pengertian dari model PPP konsesi adalah suatu model yang dilaksanakan
pada pembangunan infrastruktur yang dibangun dan dioperasikan oleh private.
Setelah jangka waktu yang lama berkisar 20 tahun, infrastruktur tersebut akan
diserahkan kembali kepada pemerintah seperti keadaan yang baru dibangun.
Motivasi pemerintah untuk mendukung adanya PPP adalah biaya, jadwal, kontrol
kualitas, alokasi dana dalam jangka panjang, dan keuntungan politik lainnya.
Sedangkan hal hal yang membuat investor mendukung adanya model ini
adalah dengan model ini terdapat IRR yang tinggi dan investor mendapatkan
keuntungan kembali. Selain itu resiko yang ada juga tidak besar.
Terdapat beberapa tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan PPP, pertama
persiapan proyek yang belum optimal. Persiapan proyek ini mencakup feasibility
study dan solid preparation mencakupm penyediaan lahan yang merupakan
elemen utama untuk meyakinkan kesuksesan dari proyek tersebut. Kedua adalah
financial, tidak adanya dukungan garansi dari pemerintah untuk menutupi
kebangkrutan perusahaan yang telah dikontrak, tidak adanya penengahan
pembiayaan jangka panjang untuk menunjang pembiayaan proyek infrastruktur.
Ketiga politik, legal dan peraturan. Pengembangan infrastruktur jasa dipengaruhi
oleh peraturan yang berhubungan dengan kondisi politik. Keempat, pembebasan
lahan. Pembebasan lahan merupakan bagian yang membutuhkan biaya yang
besar dan memiliki resiko. Kelima, adalah lemahya manajemen pengembangan
PPP dalam infrastruktur. Lemahnya manajemen pengembangan PPP dalam
infrastruktur berhubungan dengan lemahnya koordinasi diantara para
stakeholders, gtermasuk diantara kontrol dan institusi pemerintah wilayah.
Tantangan yang terakhir adanya terbatasnya sumber daya . Terbatasnya sumber
daya ini menunjukkan rendahnya kapasitas teknik sektor institusi dalam
menyiapkan proyek PPP.