Anda di halaman 1dari 3

KASUS POSISI

Kasus ini bermula dari Sugiyanto yang beralamat di Pedurungan


kidul Rt07/ Rw05 Kecamatan Pedurungan kabupaten semarang
yang

berhutang

kepada

Andi

Satria

uang

serjumlah

Rp

30.000.000, dengan jaminan mobil daihatsu dengan nomor


registrasi H-5923-VA beserta STNKnya. Sugiyanto berhutang
kepada Andi Satria pada tanggal 5 Januari 2016, Sugiyanto
berhutang kepada Andi Satria dikarenakan untuk membuka
warung kelontong di Rumahnya. Sugiyanto menjanjikan akan
membayar semua hutangnya selama 3 bulan dengan cara
mencicil dicicil selama 3 kali yaitu dimulai dari tanggal 5 februari
2016 sejumlah 10 Juta, tanggal 5 maret 2016 sejumlah 10 juta,
dan 5 April 2016 sejumlah 10 Juta.
Pada mulanya Sugiyanto membayar pada tanggal 5 Februari
sejumlh 10 juta, dan tanggal 5 maret sejumlah 10 Juta, tapi pada
tanggal 5 April 2016 Sugiyanto tidak membayar sisa hutangnya,
sehingga Andi Satria datang kerumahnya Sugiyanto ketika
ditanyain oleh Andi Satria Sugiyanto beralasan belum punya
uang dikarenakan warungnya sedang sepi, lalu Sugiyanto
meminta keringanan agar dilunasin satu minggu kedepan yaitu
tanggal 12 April 2016 . Pada tanggal 12 April 2016

Sugiyanto

hanya membayar 500 ribu dan ketika ditanyain oleh Andi Satria ,
Sugiyanto

beralasan

bahwa

melunasi hutang ke Andi Satria

uang

yang

digunakan

untuk

dipakai buat membayar biaya

Rumah sakit istrinya yang terkena gejala Kanker. lalu Andi Satria
tetap ingin agar hutangnya tetap dilunasin
kondisi apapun dengan nada kesal.

IDENTIFIKASI MASALAH

meskipun dalam

Pada dasarnya, perbuatan meminjamkan uang tersebut adalah


perjanjian pinjam meminjam atau lazimnya disebut dengan
perjanjian utang piutang. Berdasarkan Pasal 1754 Kitab UndangUndang Hukum Perdata (KUHPer), pinjam meminjam adalah
suatu perjanjian dengan mana pihak yang satu memberikan
kepada pihak yang lain suatu jumlah tertentu barang-barang
yang menghabis karena pemakaian, degan syarat bahwa pihak
yang meminjam akan mengembalikan sejumlah yang sama dari
macam dan keadaan yang sama pula.
Melihat pada pengertian di atas, maka utang piutang adalah
perjanjian,

yang

mana

dalam

sebuah

perjanjian,

tidak

disyaratkan bahwa perjanjian harus dalam bentuk tertulis.


Perjanjian bisa dalam bentuk lisan ataupun tertulis, selama
memenuhi persyaratan perjanjian dalam Pasal 1320 KUHPer.
Berdasarkan Pasal 1338 KUHPer, semua perjanjian yang dibuat
secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang
membuatnya. Perjanjian tersebut tidak dapat ditarik kembali
kecuali ada kesepakatan dari kedua belah pihak dan para pihak
harus melaksanakan perjanjian tersebut dengan iktikad baik.
Berdasarkan

perjanjian

tersebut,

maka

Sugiyanto

memiliki

kewajiban (prestasi) yang harus ia penuhi yaitu mengembalikan


uang Andi.

Menurut Pasal 1 angka 10 UU Arbitrase dan APS, Alternatif


Penyelesaian Sengketa adalah lembaga penyelesaian sengketa
atau beda pendapat melalui prosedur yang disepakati para
pihak, yakni penyelesaian di luar pengadilan dengan cara
konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi, atau penilaian ahli.

Konsultasi: suatu tindakan yang bersifat personal antara suatu pihak


tertentu (klien) dengan pihak lain yang merupakan pihak konsultan, dimana
pihak konsultan memberikan pendapatnya kepada klien sesuai dengan
keperluan dan kebutuhan kliennya.