Anda di halaman 1dari 99

LAPORAN PENDAHULUAN

1
1.1

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Sampah merupakan salah satu isu perkotaan yang perlu diperhatikan dari

pemerintah, masyarakat maupun swasta. Seiring dengan pesatnya pertumbuhan dan


perkembangan suatu kota dan berbagai macam aktivitas yang dilakukan masyarakatnya,
baik aktivitas sosial maupun ekonomi, memberikan pengaruh terhadap peningkatan volume
timbulan sampah yang dihasilkan dari kegiatan-kegiatan tersebut. Adapun sampah yang
ditimbulkan dalam bentuk sampah padat, sampah cair dan sampah gas. Peningkatan
timbulan sampah ini akan berdampak terhadap kebutuhan suatu kota untuk mendapatkan
pelayanan di bidang persampahan secara efektif, efisien dan berkelanjutan.
Pengelolaan sampah sangat dibutuhkan dalam perkembangan suatu kota, dimana
jaringan persampahan merupakan salah satu aspek yang berpengaruh terhadap citra suatu
kota. Pengelolaan sampah yang baik dan terarah akan menciptakan keindahan dan
kebersihan pada suatu kota ataupun lingkungan permukiman. Oleh sebab itu, pengelolaan
sampah yang baik harus segera diadakan sebagai bentuk dari pengendalian dan
penanggulangan atas segala dampak negatif yang mungkin ditimbulkan dari keberadaan
sampah yang tidak tertangani dengan baik.
Kota kota di Indonesia sebagian besar dihadapkan dengan permasalahan sampah
dan pengelolaannya. Pengelolaan sampah yang dilakukan sampai saat ini belum sesuai
dengan metode dan teknik pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan. Oleh karena
itu, Pemerintah Pusat menerbitkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang
Pengelolaan Sampah yang mengatur tentang kewajiban Pemerintah Daerah untuk
menyediakan sistem pengelolaan sampah dengan standar tertentu sesuai dengan kondisi
dan situasi masing-masing daerah. Kemudian salah satu amanat dari Undang-Undang
Nomor 18 Tahun 2008 ini adalah kewajiban pemerintah daerah untuk meningkatkan kinerja
pengelolaan TPA yang masih menggunakan sistem terbuka (open dumping) dalam upaya
untuk mewujudkan citra lingkungan kota yang sehat dan bersih dari sampah.

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

I-1

LAPORAN PENDAHULUAN

Kabupaten Balangan merupakan wilayah pemekaran dari Kabupaten Hulu Sungai


Utara, Provinsi Kalimantan Selatan. Sebagai kabupaten yang berkembang cukup pesat,
terutama dalam hal pembangunan fisik dan jumlah penduduknya, hal itu berimbas pada
peningkatan volume timbulan sampah yang dihasilkan. Sampah organik dan rumah tangga
mendominasi komposisi sampah yang dihasilkan. Sampai dengan saat ini, luasan lahan TPA
yang dibangun di kawasan Perkotaan Paringin cukup melayani seluruh kebutuhan
pengelolaan akhir sampah, akan tetapi TPA yang terletak di Desa Batumerah Kecamatan
Lampihong dengan luas lahan 8,1 Ha dan kapasitas TPA 50,60 m3 ini masih menggunakan
sistem open dumping. Berdasar pada prospek perkembangan Kabupaten Balangan serta
sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008, maka saat ini sedang
diupayakan adanya peningkatan sistem pengelolaan TPA dengan menggunakan sistem
controlled landfill hingga sanitary landfill.
Secara umum, karakteristik pengelolaan sampah di bagian hulu di Kabupaten
Balangan sama dengan kondisi di daerah perkotaan lain di Indonesia, khususnya di Pulau
Kalimantan. Dengan kharakteristik masyarakat masih terbiasa membuang sampah dan
limbah langsung ke badan sungai karena kurangnya pemahaman dan tidak adanya
kesadaran masyarakat. Hal ini didukung dengan mudahnya akses pembuangan ke sungai
karena sementara ini sugai masih menjadi background dari semua bangunan permukiman.
Selain itu sistem pembuangan sampah di Kabupaten Balangan pada umumnya masih
dilakukan secara konvensional, yakni langsung ditangani oleh masyarakat setempat secara
individual.
Untuk meningkatkan situasi dan kondisi pengelolaan persampahan, sangat
diperlukan kajian tersendiri secara cermat agar proses pengelolaan sampah dapat
ditingkatkan sehingga menjadi lebih baik dan terpadu dalam menyikapi volume timbulan
sampah. Secara khusus, kajian pengelolaan persampahan seharusnya dititikberatkan pada
teknik inovasi pengelolaan persampahan, kajian kelayakan, dan pelibatan pihak ketiga. Dari
kajian tersebut diharapkan dapat menjadi pedoman sebagai acuan dalam pembangunan
pengelolaan persampahan yang dapat mengakomodir perkembangan-perkembangan di
Kabupaten Balangan saat ini serta menjalankan amanat Undang-Undang RI Tahun 2008
tentang Pengelolaan Sampah dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Balangan tahun
2013 2032. Dengan demikian, review terhadap masterplan persampahan Kabupaten
Balangan menjadi perlu untuk membangun acuan pelaksanaan kebijakan pengelolaan
sampah di Kabupaten Balangan untuk periode 2014 2033.

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

I-2

LAPORAN PENDAHULUAN

1.2

MAKSUD, TUJUAN DAN SASARAN

1.2.1

Maksud
Maksud dari Review Penyusunan Master Plan Pengelolaan Persampahan Kabupaten

Balangan adalah membantu Pemerintah Daerah Kabupaten Balangan, khususnya Badan


Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Balangan untuk mewujudkan pelaksanaan
pengelolaan persampahan yang berwawasan dan berkelanjutan.

1.2.2

Tujuan
Tujuan dari Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

adalah:
1.

Meningkatkan pengelolaan persampahan di Kabupaten Balangan;

2. Meningkatkan pelayanan kebersihan di Kabupaten Balangan sesuai dengan


ketentuan, standar, dan prosedur yang telah ditetapkan;
3. Menghasilkan dokumen rencana induk persampahan, yang dapat menjadi pedoman
pengelolaan persampahan di Kabupaten Balangan hingga tahun 2034.

1.2.3

Sasaran
Sasaran dari dilaksanakan Review Penyusunan Master Plan Persampahan

Kabupaten Balangan, antara lain:


1.

Tersusunnya dokumen masterplan persampahan Kabupaten Balangan 2014-2034;

2. Terlaksananya pengelolaan sampah Kabupaten Balangan sesuai dengan Masterplan


Persampahan yang telah disusun.

1.3

RUANG LINGKUP

1.3.1

Ruang Lingkup Lokasi


Lokasi pelaksanaan studi meliputi seluruh wilayah administrasi Kabupaten Balangan,

Propinsi Kalimantan Selatan, Indonesia, dengan luas wilayah 1.878,3 km2. Kabupaten
Balangan terletak di koordinat geografis 1145024 sampai 115 5024 Bujur Timur dan
20137 sampai dengan 23558 Lintang Selatan. Berdasarkan pembagian wilayahnya
Kabupaten Balangan terbagi atas 8 (delapan) kecamatan, yaitu Kecamatan Lampihong,
Kecamatan Batu Mandi, Kecamatan Awayan, Kecamatan Tebing Tinggi, Kecamatan

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

I-3

LAPORAN PENDAHULUAN

Paringin, Kecamatan Paringin Selatan, Kecamatan Juai, dan Kecamatan Halong, dengan
batas batas wilayah administrasi, yaitu :
Sebelah Utara

: Kab. Tabalong dan Kabupaten Paser, Prop. Kalimantan Timur

Sebelah Barat

: Kab. Hulu Sungai Utara

Sebelah Selatan : Kab. Hulu Sungai Tengah


Sebelah Timur

1.3.2

: Kab. Paser, Prop. Kalimantan Timur dan Kab. Kota Baru

Ruang Lingkup Materi


Ruang lingkup materi Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten

Balangan meliputi:
1. Identifikasi kondisi pengelolaan persampahan di Kabupaten Balangan, hal ini terkait
kondisi faktual yang sekarang berjalan dalam hal pengelolaan persampahan di
Kabupaten Balangan dari berbagai aspek, antara lain:
a. Aspek Regulasi;
b. Aspek Kelembagaan;
c. Aspek Pendanaan;
d. Aspek Partisipasi Masyarakat/Sosial Budaya;
e. Aspek Teknis dan Operasional.
2. Inventarisasi Sarana dan Prasarana Pengelolaan Persampahan di Kabupaten
Balangan. Pada lingkup ini diharapkan konsultan dapat mengiventarisasi sarana dan
prasarana eksisting yang dimiliki oleh Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan
(BLHK) Kabupaten Balangan, baik dari tahapan di pemilahan, pengumpulan,
pengangkutan, pengolahan dan pemrosesan akhir sampah yang dimiliki BLHK
Kabupaten Balangan, swasta dan instansi lain.
3. Membuat dan memetakan pola penanganan eksisting berikut ketersediaan sarana
dan prasarana di wilayah Kabupaten Balangan dengan mengacu pada RTRW
Kabupaten Balangan;
4. Melakukan identifikasi dan analisa timbulan sesuai dengan daerah pelayanan
pengelolaan sampah di Kabupaten Balangan serta menganalisa komposisi dan
karateristik sampah;
5. Menganalisa hasil kajian pada point 1 s/d 4 serta memanfaatkan data sekunder
terkait.
6. Menyusun Standar Pelayanan Minimal dan Pengumpulan Sampah.

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

I-4

LAPORAN PENDAHULUAN

7. Konsultan diharapkan dapat merekomendasikan kriteria dan standar pelayanan


pemilahan

dan

pengumpulan

sampah

termasuk

konsep

desain

dan

modifikasi/perbaikan desain tempat pemilahan sampah dan sarana pengumpulan


sampah yang memamsukkan konsep pemilahan sampah secara praktis mulai dari
sumber.
8. Menyusun sistem pelayanan pengangkutan dari sumber dan atau tempat
penampungan sampah sementara atau dari tempat pengolahan sampah terpadu
menuju ke tempat pemrosesan akhir;
9. Mengkaji tempat pemrosesan akhir sampah yang berbasis teknologi lingkungan
tinggi ramah lingkungan.
10. Membuat rekomendasi teknis pemanfaatan tempat pengelolaan sampah terpadu
(TPST) berbasis teknologi tinggi ramah lingkungan;
11. Mengkaji aspek kelembagaan yang dapat meningkatkan efisiensi dan efektifitas dari
pengelolaan persampahan;
12. Mengkaji aspek regulasi yang dapat meningkatkan efisiensi dan efektifitas dari
pengelolaan persampahan;
13. Mengkaji aspek pendanaan yang meliputi perkiraan biaya kegiatan pengelolaan
sampah jangka pendek (tahunan), jangka menengah (lima tahunan), dan jangka
panjang, termasuk juga perhitungan besaran tipping fee pengolahan sampah;
14. Mengkaji aspek peran serta masyarakat dan sosial budaya sesuai yang diamanatkan
dalam UU No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dan kemungkinan
kerjasama dengan pihak swasta dalam pengelolaan sampah.
15. Membuat skala prioritas program pengelolaan sampah di Kabupaten Balangan dan
menyusun strategi dan program pengelolaan persampahan dengan pola investasi
dan lainnya.
16. Menyusun materi Master Plan persampahan dengan memperhatikan rencana
pengelolaan persampahan, rencana tata ruang wilayah (RTRW), kebijakan dan
strategi pembangunan di Kabupaten Balangan.

1.4

DASAR HUKUM
Landasan hukum yang dipergunakan pada Review Penyusunan Master Plan

Persampahan Kabupaten Balangan adalah sebagai berikut.

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

I-5

LAPORAN PENDAHULUAN

1.

Undang-Undang No. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi;

2.

Undang-undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahanan Daerah;

3.

Undang-undang No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Persampahan;

4.

Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan


Lingkungan Hidup;

5.

Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem


Penyediaan Air bersih;

6.

Peraturan Pemerintah No. 65 Tahun 2005 tentang Standar Pelayanan Minimal;

7.

Peraturan Pemerintah No.81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah


Tangga dan Sampah Sejenis Rumah Tangga;

8.

Peraturan Menteri PU No. 21/PRT/M/2006 tentang Kebijakan dan Srategi Nasional


Pengembangan dan Pengelolaan Persampahan;

9.

Peraturan Menteri PU No. 03/PRT/M/2013 tentang Penyelenggaraan Prasarana dan


Sarana Persampahan dalam Penanganan Sampah Rumah Tangga dan Sampah
Sejenis Sampah Rumah Tangga.

10. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 33 Tahun 2010 tentang Pedoman Pengelolaan
Persampahan;
11.

Peraturan Daerah Kabupaten Balangan No. 2 Tahun 2012 tentang pengelolaan


sampah dan kebersihan lingkungan;

12. Peraturan Daerah Kabupaten Balangan No. 12 tahun 2012 tentang retribusi
pelayanan persampahan/ kebersihan; dan
13. SNI 19-2454-2002 Teknik Operasional Pengelolaan Sampah Perkotaan.

1.5

SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Laporan Pendahuluan ini merupakan proses Review Penyusunan Master Plan

Persampahan Kabupaten Balangan. Adapun sistematika pembahasan yang disajikan dalam


Laporan Pendahuluan ini adalah sebagai berikut.
BAB I

: PENDAHULUAN
Bab ini berisikan mengenai latar belakang, maksud dan tujuan, lingkup lokasi,
lingkup materi dan landasan hukum pengerjaan Penyusunan Master Plan
Persampahan Kabupaten Balangan dan sistematika pembahasan.

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

I-6

LAPORAN PENDAHULUAN

BAB II

: TINJAUAN KEBIJAKAN
Pada bab ini berisikan mengenai kedudukan Kabupaten Balangan dalam RTRW
Provinsi Kalimantan Selatan dan tinjauan kebijakan terkait Master Plan
Persampahan Kabupaten Balangan.

BAB III

: GAMBARAN UMUM KABUPATEN BALANGAN


Pada bab ini berisikan mengenai gambaran umum wilayah Kabupaten Balangan
yang meliputi wilayah administrasi, fisik dasar Kabupaten Balangan dan
kependudukan, serta gambaran sistem pengelolaan sampah Kabupaten
Balangan, yang meliputi aspek teknis, aspek ekonomi dan pembiayaan, aspek
hukum dan kelembagaan, dan aspek peran serta masyarakat.

BAB IV

: METODOLOGI STUDI
Pada bab ini berisikan mengenai metodologi studi yang digunakan dalam
pengerjaan Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan,
metodologi tersebut berupa pendekatan studi yang meliputi: pendekatan
teknologi, pendekatan kelembagaan/institusional, pendekatan sosial-ekonomibudaya, kajian kebijakan, metode pelaksanaan yang meliputi: tahap persiapan,
survei dan pendataan, tahap analisa, dan tahap studi pengelolaan
persampahan, Metodologi Perencanaan.

BAB V

: MOBILISASI TENAGA KERJA


Bab ini berisikan mengenai mobilisasi tenaga kerja yang meliputi kewajiban
konsultan dan susunan tenaga ahli dan struktur organisasi pelaksanaan
kegiatan dalam penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan.

BAB VI

: JADWAL KEGIATAN
Bab ini berisikan mengenai jadwal kegiatan pelaksanaan penyusunan Master
Plan Persampahan Kabupaten Balangan yang meliputi jadwal kegiatan dan
waktu penyelesaian kegiatan, serta sistem pelaporan yang meliputi materi
pelaporan dan teknik penyajian laporan.

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

I-7

LAPORAN PENDAHULUAN

Contents
1.1

LATAR BELAKANG ............................................................................................... 1

1.2

MAKSUD, TUJUAN DAN SASARAN ........................................................................ 3

1.2.1

Maksud ............................................................................................................... 3

1.2.2

Tujuan ................................................................................................................. 3

1.2.3

Sasaran ............................................................................................................... 3

1.3

RUANG LINGKUP ................................................................................................. 3

1.3.1

Ruang Lingkup Lokasi .......................................................................................... 3

1.3.2

Ruang Lingkup Materi .......................................................................................... 4

1.4

DASAR HUKUM ................................................................................................... 5

1.5

SISTEMATIKA PEMBAHASAN ................................................................................ 6

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

I-8

LAPORAN PE NDAHULUAN

2 TINJAUAN KEBIJAKAN
2.1

KEBIJAKAN PENATAAN RUANG KABUPATEN BALANGAN

2.1.1

Rencana Struktur Ruang Wilayah


Rencana struktur ruang wilayah Kabupaten Balangan meliputi pusat-pusat Kegiatan.

Sesuai dengan Peraturan Daerah RTRW Kabupaten Balangan Tahun 2013-2032, rencana
pengembangan pusat-pusat kegiatan yang ada di Kabupaten Balangan meliputi:
1.

PKL (Pusat Kegiatan Lokal)


Sesuai dengan RTRW Kabupaten Balangan, wilayah yang menjadi pusat kegiatan
lokal adalah kawasan Perkotaan Paringin yang terbagi menjadi dua kawasan
Perkotaan yaitu Kawasan Perkotaan Kecamatan Paringin dan Kawasan Perkotaan
Kecamatan Paringin Selatan. Fungsi pelayanan yang terdapat di kawasan Perkotaan
Paringin adalah sebagai berikut.
a. Perkotaan Paringin di Kecamatan Paringin, dengan fungsi pelayanan:
Pusat pelayanan perekonomian, yaitu sebagai kawasan perdagangan skala
regional Kabupaten dan Provinsi, meliputi pusat perbelanjaan dan pasar skala
regional Kabupaten.
1) Pusat pelayanan jasa yaitu perbankan cabang, lembaga asuransi cabang,
perhotelan dan perusahaan jasa swasta lainnya;
2) Pusat pelayanan kesehatan berupa rumah sakit tipe C, dokter spesialis,
apotik;
3) Pusat pengembangan fasilitas pendidikan (PAUD, TK, SD, SLTP dan SLTA /
Kejuruan, pesantren dan Perguruan tinggi);
4) Pusat olah raga/rekreasi meliputi gedung olah raga (GOR) yang merupakan
kompleks fasilitas olahraga dan gedung hiburan;
5) Pengembangan ruang terbuka hijau yang dapat dijadikan tempat rekreasi
bagi masyarakat;
6) Pengembangan sarana transportasi terminal tipe C;
7) Pengembangan wisata buatan dan budaya atau spiritual;

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

II - 1

LAPORAN PE NDAHULUAN

8) Pusat pengembangan perkantoran Kabupaten meliputi kantor-kantor


Pemerintahan skala Kabupaten;
9) Pusat pelayanan pertahanan dan keamanan;
10) Pusat pengembangan industri pengolahan hasil pertanian dan perkebunan,
perbengkelan dan pergudangan; dan
11) Pusat pengembangan permukiman perkotaan dan fasilitas penunjang.
b.

Perkotaan Paringin Selatan di Kecamatan Paringin Selatan, dengan fungsi


pelayanan:
1) Pusat jasa pendukung kegiatan Pemerintahan (perkantoran), pelayanan
umum dan layanan sosial;
2) Pusat pelayanan jasa yaitu perbankan cabang, lembaga asuransi cabang,
perhotelan dan perusahaan jasa swasta lainnya;
3) Pusat pelayanan kesehatan;
4) Pusat pengembangan fasilitas pendidikan (PAUD, TK, SD, SLTP dan
SLTA/Kejuruan, Pesantren dan Perguruan Tinggi);
5) Pengembangan ruang terbuka hijau yang dapat dijadikan tempat rekreasi
bagi masyarakat;
6) Pengembangan sarana transportasi terminal tipe C;
7) Pengembangan wisata buatan dan budaya atau spiritual;
8) Pusat pengembangan industri pengolahan hasil pertanian dan perkebunan;
9) Pusat pengembangan permukiman perkotaan dan fasilitas penunjang; dan
10) Pusat kegiatan keagamaan.

2.

PKLp (Pusat Kegiatan Lokal Promosi)


Sesuai dengan RTRW Kabupaten Balangan, wilayah yang menjadi pusat kegiatan
lokal promosi adalah kawasan Perkotaan Batumandi di Kecamatan Batumandi.
Fungsi pelayanan yang terdapat di kawasan Perkotaan Batumandi adalah sebagai
berikut.
a.

Pusat Pemerintahan Kecamatan;

b.

Pusat perdagangan dan jasa meliputi perbankan, pasar lokal dan pasar hewan
serta pelayanan kesehatan berupa Puskesmas, bidan;

c.

Pusat pengembangan fasilitas pendidikan (PAUD, TK, SD, SLTP dan SLTA dan
Kejuruan serta Pesantren);

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

II - 2

LAPORAN PE NDAHULUAN

d.

Transportasi terminal tipe C dan terminal agribisnis untuk mendukung


agropolitan;

3.

e.

Pelayanan pemerintah, meliputi kantor Kecamatan dan depo kebersihan;

f.

Pusat pelayanan lintas Kecamatan;

g.

Pusat pengembangan perumahan dan fasilitas penunjangnya;

h.

Pusat kegiatan industri kecil rumah tangga pengolahan hasil pertanian;

i.

Pusat pengembangan komoditas pertanian dan hortikultura; dan

j.

Pusat pengembangan kegiatan keagamaan.

PPK (Pusat Pelayanan Kawasan)


Sesuai dengan RTRW Kabupaten Balangan Tahun 2013-2032, wilayah yang menjadi
pusat pelayan kawasan di Kabupaten Balangan adalah sebagai berikut.
a. PPK Muara Pitap berada di Kecamatan Paringin Selatan, dengan fungsi
pelayanan:
1) Pusat Pemerintahan Kecamatan.
2) Pusat pelayanan sosial, kesehatan dan umum.
3) Pusat pengembangan permukiman dan fasilitas penunjang.
4) Pusat pengembangan perkantoran.
5) Pusat pengembangan fasilitas pendidikan meliputi PAUD, TK, SD, SLTP, SLTA
atau sederajat.
b.

PPK Simpang Tiga berada di Kecamatan Lampihong dengan fungsi pelayanan:


1) Pusat Pemerintahan Kecamatan.
2) Pusat pelayanan sosial, kesehatan dan umum.
3) Pusat pengembangan komoditas hasil pertanian dan hortikultura, perikanan
dan peternakan.
4) Pusat pengembangan industri kecil.
5) Pusat pengembangan permukiman dan fasilitas penunjang.
6) Pusat pengembangan fasilitas pendidikan meliputi PAUD, TK, SD, SLTP,
SLTA.

c.

PPK Putat Basiun berada berada di Kecamatan Awayan dengan fungsi


pelayanan:
1) Pusat Pemerintahan.
2) Pusat pelayanan sosial, kesehatan, dan umum.

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

II - 3

LAPORAN PE NDAHULUAN

3) Pusat

pengembangan

komoditas

hasil

pertanian,

hortikultura

danpeternakan.
4) Pusat pengembangan permukiman dan fasilitas penunjang.
5) Pusat pengembangan fasilitas pendidikan meliputi PAUD, TK, SD, SLTP, SLTA
atau sederajat.
d.

PPK Tebing Tinggi berada di Kecamatan Tebing Tinggi dengan fungsi


pelayanan:
1) Pusat Pemerintahan Kecamatan.
2) Pusat pelayanan sosial, kesehatan dan umum.
3) Pusat pengembangan pariwisata alam dan budaya.
4) Pusat pengembangan komoditas hasil pertanian dan hortikultura.
5) Pusat pengembangan permukiman dan fasilitas penunjang.
6) Pusat pengembangan fasilitas pendidikan meliputi PAUD, SD, SLTP, SLTA
atau sederajat.

e.

PPK Mungkur Uyam berada di Kecamatan Juai dengan fungsi pelayanan:


1) Pusat Pemerintahan Kecamatan.
2) Pusat pelayanan sosial, kesehatan, dan umum.
3) Pusat pengembangan industri kecil.
4) Pusat pengembangan komoditas hasil pertanian dan hortikultura.
5) Pusat pengembangan permukiman dan fasilitas penunjang.
6) Pusat pengembangan fasilitas pendidikan meliputi PAUD, SD, SLTP, SLTA
atau sederajat.

f.

PPK Halong berada di Kecamatan Halong dengan fungsi pelayanan:


1) Pusat Pemerintahan Kecamatan.
2) Pusat pelayanan sosial, kesehatan, dan umum.
3) Pusat pengembangan pariwisata alam dan budaya
4) Pusat pengumpul komoditas pertanian dan hortikultura.
5) Pusat pengembangan komoditas hasil pertanian dan hortikultura.
6) Pusat pengembangan perdagangan dan jasa lokal.
7) Pusat pengembangan industri kecil.
8) Pusat pengembangan fasilitas pendidikan meliputi PAUD, TK, SD, SLTP, SLTA
atau sederajat.
9) Pusat pengembangan permukiman dan fasilitas penunjang.

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

II - 4

LAPORAN PE NDAHULUAN

g.

PPL (Pusat Pelayanan Lingkungan)


Sesuai dengan RTRW Kabupaten Balangan, wilayah yang menjadi pusat pelayan
lingkungan di Kabupaten Balangan adalah sebagai berikut.

2.1.2

1)

PPL Mantimin berada di Kecamatan Batumandi.

2)

PPL Pudak berada di Kecamatan Awayan.

3)

PPL Bihara berada di Kecamatan Awayan.

4)

PPL Tabuan berada di Kecamatan Halong.

5)

PPL Mauya berada di Kecamatan Halong.

6)

PPL Haur Batu berada di Kecamatan Paringin.

7)

PPL Gunung Pandau berada di Kecamatan Paringin Selatan.

8)

PPL Layap berada di Kecamatan Paringin.

9)

PPL Bungin berada di Kecamatan Paringin Selatan.

Rencana Pola Ruang Wilayah


Terdapat 2 jenis kawasan yang akan ditetapkan dalam rencana pola ruang

Kabupaten Balangan, yaitu kawasan lindung dan kawasan budidaya.


A.

Rencana Kawasan Lindung


Wilayah Kawasan Lindung di Kabupaten Balangan berdasarkan daerah limitasi yang

meliputi 77.840,77 ha atau sekitar 41,44% dari keseluruhan luas Kabupaten Balangan.
Rencana Kawasan Non Budidaya/Kawasan Lindung di Kabupaten Balangan dapat
dikelompokkan kedalam tiga kawasan, masing-masing kawasan mempunyai fungsi yang
berbeda, demikan juga dalam hal penanganannya. Berikut merupakan penjelasan tiap jenis
kawasan lindung di Kabupaten Balangan.
1.

Kawasan Hutan Lindung


Lokasi hutan lindung di Kabupaten Balangan secara umum berada di wilayah
Kabupaten Balangan bagian Timur tepatnya di Kecamatan Halong dan Tebing
Tinggi. Rencana pengelolaan hutan lindung di Kabupaten Balangan perlu dilakukan
dengan cara:
a.

Kawasan lindung yang saat ini berupa hutan lindung, dipertahankan


keberadaannnya dan dijaga keletariannya.

b.

Rehabilitasi hutan lindung pada kawasan hutan lindung yang telah mengalami
kerusakan dan penggundulan hutan secara liar.

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

II - 5

LAPORAN PE NDAHULUAN

c.

Hutan lindung yang terlanjur berubah fungsi harus dievaluasi, apabila menurut
analisis mengenai fungsi lindung, maka perkembangannya harus dicegah dan
fungsi sebagai kawasan lindung dikembalikan secara bertahap.

d.

Perlu adanya rehabilitasi hutan atau reboisasi pada unit lahan pada hutan
lindung saat ini tidak berfungsi sebagai kawasan lindung.

e.

Pembentukan lembaga atau tim khusus yang melibatkan seluruh komponen


masyarakat, swasta dan pemerintah di semua tingkatan pemerintah untuk
mengelola kawasan lindung.

f.

Memonitor dan membina semua kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan secara
terpadu dan berkesinambungan.

2.

Kawasan Perlindungan Setempat


Lokasi yang diduga sesuai untuk kawasan perlindungan setempat adalah
sekitar Sungai Pitap, Sungai Balangan, Sungai Mantuyan, Sungai Tabuan, Sungai
Galombang, Sungai Halong, Sungai Huren, Sungai Ninian, Sungai Jauk, Sungai
Batumandi, Sungai Lokbatu dan Sungai Juai. Berikut merupakan rencana
pengelolaan kawasan konservasi dan resapan air di Kabupaten Balangan.
a.

Kegiatan pada kawasan konservasi dan resapan air harus dapat mendukung
terjaganya siklus hidrologi, seperti pengembangan tanaman perkebunan yang
memiliki akar panjang (berfungsi menyimpan air).

b.

Penguasaan lahan sebagian besar oleh pemerintah pada kawasan peruntukan


konservasi dan resapan air dapat dilakukan dengan cara pemerintah membeli
lahan

(sebagian

besar)

pada

kawasan

konservasi

tersebut

dengan

memanfaatkan sesuai dengan fungsinya.


c.

Pengawasan dan pengendalian pada kawasan konservasi dan resapan air


dilakukan dengan cara pemerintah daerah memberikan wewenang dan
tanggungjawab terhadap pengawasan dan pengendalian kawasan konservasi
dan resapan air pada pemerintahan kecamatan dan desa, pada wilayah terkait
kawasan konservasi dan resapan air.
Rencana pengelolaan sempadan sungai di Kabupaten Balangan dilakukan

dengan cara:
a.

Kawasan sempadan sungai, dipertegas batas-batasnya, segera dikuasai


pemerintah dan diperkuat statusnya.

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

II - 6

LAPORAN PE NDAHULUAN

b.

Perwujudan lahan-lahan sempadan sungai dapat dilakukan dengan cara


partisipatif masyarakat, atau penertiban terutama di kawasan lindung yang
membahayakan kelangsungan penduduk yang tinggal di kawasan sekitarnya.

c.

Sempadan sungai setelah dikuasai pemerintah, maka untuk mempermudah


pengawasan dan pengendaliannya dilakukan pembangunan jalan inspeksi.

d.

Untuk wilayah sekitar sempadan sungai bangunan boleh didirikan setelah


adanya pembangunan jalan inspeksi.

e.

Rehabilitasi dan pengerukan lumpur sungai pada aliran sungai yang telah
mengalami pendangkalan.

f.

Bangunan yang didirikan di sekitar wilayah sempadan sungai harus menghadap


sungai.

g.

Di wilayah yang lahannya sudah memiliki nilai ekonomis tinggi, untuk


mewujudkan sempadan sungai di tanah yang dikuasai oleh masyarakat dapat
dilakukan dengan cara penggantian sesuai dengan kesepakatan.
Rencana pengelolaan kawasan sempadan mata air di Kabupaten Balangan

dilakukan dengan cara:


h.

Kawasan sekitar mata air beserta mata airnya yang bersifat publik dan
menguasai hajat hidup orang banyak, dipertegas batas-batasnya, segera
dikuasai pemerintah dan diperkuat statusnya.

i.

Perwujudan lahan-lahan kawasan sekitar mata air dilakukan dengan cara


partisipatif masyarakat atau penertiban terutama di sekitar mata air yang
membahayakan kelangsungan penduduk yang tinggal di kawasan sekitarnya.

j.

Untuk melindungi dan menjaga kelestarian sumber air ini maka perlu diselidiki
catchment area yang diupayakan untuk dilestarikan pembanguan pada
umumnya.

3.

Kawasan Rawan Bencana


Lokasi Kawasan bencana di Kabupaten Balangan secara umum berada di
wilayah Kabupaten Balangan bagian Timur dan tengah tepatnya di Kecamatan
Halong dan Tebing Tinggi, Sedangkan potensi rawan bencana lainnya adalah rawan
banjir yang berada pada areal sekitar Sungai Balangan dan Sungai Pitap yakni sekitar
Kecamatan Lampihong, Paringin dan Kecamatan Juai. Berikut merupakan rencana
pengelolaan kawasan rawan bencana alam di Kabupaten Balangan.

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

II - 7

LAPORAN PE NDAHULUAN

a.

Perkembangan

penduduk

perlu

diawasi

dan

dikendalikan

dan

atau

menghutankan Kawasan Rawan Bencana Alam dengan cara reboisasi.


b.

Pencegahan terhadap longsor dapat memanfaatkan unsur alam, seperti


penanaman pohon pada wilayah potensial longsor.

c.

Pengembangan organisasi masyarakat, yang siap dan siaga terhadap


kemungkinan tejadinya bencana alam.

d.

Pembuatan Check Dams penahan erosi di lereng gunung dan celah antar bukit
dan atau pembuatan DAM penahan dan kantong-kantong pasir yang mengatur
erosi di daerah pegunungan.

e.

Membangun sumur resapan di area pemukiman untuk meresapkan air hujan ke


tanah.

f.

Melindungi dan meningkatkan fungsi hutan sebagai sarana penyimpan air.

g.

Menjaga kolam-kolam penampungan dan rawa sebagai penyangga air dan


sumber air sungai.

B.

h.

Membangun checkdam di hulu untuk menghambat aliran sediment ke hilir.

i.

Konservasi tumbuhan pada daerah aliran sungai sebagai daerah peresapan air.

Rencana Kawasan Budidaya


Berdasarkan analisis kemampuan lahan diperoleh bahwa sebagian besar wilayah

Kabupaten Balangan tingkat kemampuan lahannya sedang sampai tinggi sehingga sangat
mendukung untuk peningkatan atau pengembangan berbagai jenis kegiatan yang bersifat
budidaya. Rencana kawasan budidaya di Kabupaten Balangan sebesar 109.989,23 ha atau
sebesar 58,56%, yang tersebar diseluruh daerah di Kabupaten Balangan. Berikut merupakan
penjelasan tiap jenis kawasan budidaya di Kabupaten Balangan.
1.

Perwujudan Kawasan Hutan Produksi


hutan produksi merupakan salah satu komponen yang dapat diperhitungkan
dalam rangka mendukung perekonomian wilayah mengingat potensi dari sektor ini
cukup dapat menunjang perekonomian wilayah. Adanya kecenderungan melakukan
penebangan dan pembakaran hutan dan membiarkan kondisi hutan yang telah
ditebang dalam rangka membuka lahan baru untuk kegiatan budidaya, maka akan
menimbulkan ancaman bagi mahluk hidup dan lingkungan sekitarnya. Sehingga
untuk mencegah bencana alam akibat pemanfaatan hutan yang tidak ramah
lingkungan

diperlukan

pengelolaan

hutan

produksi

yang

memperhatikan

kesinambungan lingkungan hidup.

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

II - 8

LAPORAN PE NDAHULUAN

Berdasarkan permasalahan tersebut, maka pengelolaan kawasan hutan


produksi dilakukan dengan cara:
a.

Pengembangan budidaya tanaman industri bernilai ekonomis seperti bahan


baku kertas, kerajinan tangan dan lain-lain.

b.

Untuk menciptakan kondisi tersebut perlu adanya akses (kemudahan) dalam


memperoleh ijin pengelolaan hutan produksi pada swasta dan masyarakat
setempat.

c.

Melakukan pengawasan dan pengendalian kawasan hutan produksi dengan


cara pemerintah daerah memberikan wewenang dan tanggungjawab terhadap
pemerintahan kecamatan dan desa yang terkait dengan kegiatan yang dapat
mengganggu dan merusak kawasan hutan produksi.

d.

Pemerintah memberikan instruksi yang mengikat pada program tebang-pilih


pada kawasan hutan produksi.

e.

Pemerintah memberikan instruksi/arahan yang mengikat pada program tebangtanam pada kawasan hutan produksi dalam rangka memberikan fungsi lindung
pada semua hutan produksi yang ada di wilayah Kabupaten Balangan.

2.

Perwujudan Kawasan Pertanian


Wilayah potensial untuk pengembangan pertanian tersebar di seluruh
kecamatan Kabupaten Balangan. Oleh sebab itu apabila dikembangkan seluruh
lahan potensial pertanian, maka pendapatan daerah dari sektor pertanian dapat
ditingkatkan. Guna meningkatkan produksi pertanian, maka perlu menggalakan
program penggunaan bibit unggul serta menciptakan prasarana irigasi, agar
pengembangan pertanian lahan basah tidak tergantung pada musim, dan
pengembangan irigasi harus memperhatikan kemampuan dan bentuk alam guna
tetap terjangganya bentang alam yang berarti kecilnya biaya fisik, maupun resiko
yang ditimbulkannya terhadap lingkungan.
Berdasarkan hal tersebut, maka bentuk pengelolaan kawasan pertanian adalah
sebagai berikut.
a.

Pengembangan infrastruktur yang mendukung seperti jaringan jalan, irigasi,


dan agroindustri dengan fungsi yang didasarkan pada potensi pertanian.

b.

Pengembangan perusahaan pengumpul dan distribusi (dapat berbentuk


koperasi, pasar khusus, dan lain-lain) bagi pertanian dengan memperhatikan
jarak minimum (mudah dijangkau).

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

II - 9

LAPORAN PE NDAHULUAN

c.

Pemberian penguatan modal bagi petani dalam rangka menunjang


kesinambungan usaha pertaniannya.

d.

Menciptakan prasarana irigasi sehingga pengembangan pertanian lahan basah


agar tidak tergantung pada musim dengan memperhatikan kemampuan alam
dalam pembangunan irigasi.

e.

Memperluas wilayah pemasaran produksi pertanian, baik lokal maupun pasar


ekspor.

f.

Pengembangan agroindustri dengan fungsi yang didasarkan pada potensi


pertanian wilayah pinggiran dan pengembangan pusat pengumpul dan
distribusi bagi pertanian dengan memperhatikan jarak minimum (mudah
dijangkau).

3.

g.

Menjaga stabilitas harga pupuk, obat-obatan, dan bibit.

h.

Membangun balai penyuluhan dan pelatihan usaha tani.

Perwujudan Kawasan Peternakan dan Perikanan


Sektor perikanan Adalah sektor prospektif dalam peningkatan perekonomian
wilayah. Untuk menunjang minat masyarakat dalam pengelolaan kawasan
peternakan dan perikanan, maka diperlukan upaya-upaya yang dapat mendorong
pengembangan pada sektor perikanan dan peternakan. Dalam kondisi eksisting,
manajemen/pengelolaan produksi peternakan dan perikanan belum optimal, yang
ditunjukkan dengan kontribusi ekonomi yang relatif rendah (berbanding terbalik
dengan potensi yang dimiliki). Berdasarkan permasalahan tersebut, maka
diperlukan bentuk pengelolaan kawasan peternakan dan perikanan antara lain:
a.

Peternakan dikembangkan diseluruh kecamatan

b.

Perikanan dikembangkan di seluruh kecamatan dengan prioritas utama :


Perikanan darat di Kecamatan Lampihong dan Juai.

c.

Pemberian penguatan modal bagi usaha peternakan dan perikanan dalam


rangka menunjang kesinambungan usaha peternakan dan perikanan

d.

Menggalakan program penggunaan bibit unggul.

e.

Memperluas wilayah pemasaran produksi peternakan dan perikanan, baik lokal


maupun pasar ekspor.

f.

Pengembangan pusat pengumpul dan distribusi bagi usaha peternakan dan


perikanan dengan memperhatikan jarak minimum (mudah dijangkau).

g.

Membangun balai penyuluhan dan pelatihan.

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

II - 10

LAPORAN PE NDAHULUAN

4.

Perwujudan Kawasan Perkebunan/Tanaman Tahunan


Guna mencapai arahan pengembangan kawasan perkebunan diperlukan intervensi
berupa

pembangunan

yang

dapat

menarik

aktivitas

kegiatan

pertanian

tahunan/perkebunan dan pengembangan infrastruktur yang mendukung kegiatan


tanaman tahunan/perkebunan seperti jaringan jalan, irigasi dan lain-lain.
Berdasarkan

hal

tersebut

tersebut,

maka

pengelolaan

kawasan

perkebunan/tanaman tahunan adalah sebagai berikut.


a.

Kawasan perkebunan/tanaman tahunan dikembangkan di seluruh kecamatan.

b.

Memperluas wilayah pemasaran produksi perkebunan/tanaman tahunan, baik


lokal maupun pasar ekspor.

c.

Menggalakkan program penggunaan bibit unggul, serta menciptakan


prasarana irigasi (pengembangan tidak tergantung pada musim) yang
mendukung perkembangan perkebunan/tanaman tahunan.

d.

Pemberian penguatan modal bagi petani tanaman tahunan/perkebunan dalam


rangka menunjang kesinambungan usaha tanaman tahunan/perkebunan.

e.

Pengembangan

agroindustri dengan fungsi yang didasarkan pada potensi

(basis komoditas) tanaman tahunan/perkebunan dan pengembangan pusat


pengumpul dan distribusi bagi pertanian tanaman tahunan/perkebunan dengan
memperhatikan jarak minimum (mudah dijangkau).
f.

Menjaga

stabilitas

harga

pupuk,

obat-obatan,

dan

bibit

tanaman

tahunan/perkebunan.
5.

Perwujudan Kawasan Pertambangan


Sektor pertambangan dan galian merupakan sektor yang cukup penting dalam
menunjang perekonomian wilayah Kabupaten Balangan dan merupakan sektor
dengan kontribusi terhadap PDRB terbesar (66,45%). Potensi bahan galian di
Kabupaten Balangan berupa bahan galian golongan C, terutama yang terdapat
dalam kawasan hutan di Kabupaten Balangan. Berbagai jenis bahan tambang
lainnya tersebar hampir di seluruh wilayah Kabupaten Balangan seperti bijih besi,
kaolin, lempung, pasir kuarsa, batu gamping sirtu bahkan batu bara.
Diperlukan

upaya-upaya

pengawasan

dan

pengendalian

pada

kawasan

pertambangan pada cara atau teknik pengolahannya dalam rangka menjaga


keseimbangan kawasan pertambangan. Berikut merupakan bentuk pengelolaan
kawasan pertambangan yang dapat dilakukan.

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

II - 11

LAPORAN PE NDAHULUAN

a.

Eksplorasi pertambangan harus didahului dengan studi kelayakan teknis,


ekonomis, dan lingkungan bahkan melalui AMDAL.

b.

Agar ramah lingkungan dan berkelanjutan, maka pengelolaan pertambangan


dilaksanakan harus menerapkan ISO:14000, Sistem Manajemen Lingkungan.

c.

Untuk mengendalikan erosi akibat pertambangan, penanganan utama harus


membuat kolam pengendapan (settling pond).

d.

Perlu adanya program pemenuhan kebutuhan masyarakat yang ada di sekitar


lokasi tambang dengan melibatkan pihak stakeholder melalui Community
Development Programme.

6.

Perwujudan Kawasan Pariwisata


Jumlah lokasi obyek wisata alam yang potensial di Kabupaten Balangan adalah
sebanyak 9 lokasi terdiri dari 8 lokasi obyek wisata alam dan 1 lokasi obyek wisata
religi. Kawasan wisata yang ada di Kabupaten Balangan jika dikelompokkan dapat
dibagi menjadi tiga jenis, yaitu wisata alam pegunungan, wisata religi dan wisata
budaya. Berdasarkan hal tersebut, maka pengelolaan kawasan pariwisata adalah
sebagai berikut.
a.

Pengembangan pemasaran dan promosi kawasan wisata di Kabupaten


Balangan dalam rangka memperluas pangsa pasar wisata.

b.

Membangkitan usaha wisata, sebagai industri pariwisata (mempermudah


upaya investor untuk investasi pada sektor pariwisata).

c.

Pengembangan pemasaran dan promosi kawasan wisata di Kabupaten


Balangan dalam rangka memperluas pangsa pasar wisata melalui kegiatan
pameran, pengadaan sarana promosi, event kepariwisataan (pentas seni,
lomba-lomba wisata) untuk menarik wisatawan berkunjung ke Kabupaten
Balangan.

d.

Pengembangan infrastuktur yang mendukung terrhadap pengembangan


pariwisata di Kabupaten Balangan.

e.

Menciptakan kemudahan jangkauan terhadap obyek wisata.

f.

Pengembangan obyek wisata melalui kegiatan penataan-penataan kawasan


obyek wisata di Kabupaten Balangan.

7.

Perwujudan Kawasan Permukiman Perkotaan dan Perdesaan


Kebutuhan rumah adalah kebutuhan dasar manusia dan merupakan tempat awal
segala aktivitas sehingga pengembangannya harus memperhatikan keterkaitan

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

II - 12

LAPORAN PE NDAHULUAN

dengan kebutuhan dan aktivitas lainnya. Dalam rangka meningkatkan aktivitas


sosial ekonomi, diperlukan pengembangan kegiatan permukiman sehingga aktivitas
non permukiman dapat meningkat akibat bertambahnya penduduk yang
ditimbulkan oleh pengembangan permukiman. Oleh sebab itu bentuk pengelolaan
kawasan permukiman di Kabupaten Balangan yang dapat dilakukan antara lain:
a.

Pengembangan

kegiatan

permukiman

dengan

kepadatan

kegiatan

permukiman tinggi adalah pada kawasan perkotaan/perdesaan yang meliputi


Kecamatan Halong dan Juai dengan rata-rata jumlah bangunan pada kawasan
terbangunnya adalah > 25 unit/km2.
b.

Pengembangan

kegiatan

permukiman

dengan

kepadatan

kegiatan

permukiman sedang adalah kawasan perkotaan/perdesaan yang meliputi


Kecamatan Lampihong, Batumandi dan Paringin dengan rata-rata jumlah
bangunan pada kawasan terbangunnnya adalah 10 - 25 unit/km2.
c.

Pengembangan

kegiatan

permukiman

dengan

kepadatan

kegiatan

permukiman rendah adalah pada kawasan perkotaan/perdesaan yang meliputi


Kecamatan Awayan, Tebin Tinggi dan paringin Selatan dengan rata-rata jumlah
bangunan pada kawasan terbangunnya adalah < 10 unit/km2.
d.

Pembangunan Kasiba dan Lisiba (kawasan siap bangun dan lahan siap bangun)
di kecamatan-kecamatan dengan rencana pengembangan kegiatan sosial
ekonomi dan atau perkotaan tinggi seperti Paringin, Halong dan Juai dengan
mempersiapkan lahan siap bangun dan pembuatan prasarana permukiman
pendukungnya seperti jalan lingkungan, prasarana air bersih dan atau limbah,
jaringan telekomunikasi dan penerangan pada kawasan yang sesuai dengan
peruntukkan Kasiba dan Lisiba.

2.1.3

Sistem Transportasi Wilayah


Sistem transportasi Kabupaten Balangan terdiri dari:

1.

Jaringan Jalan Raya


a.

Jaringan jalan arteri primer (A1) yang merupakan jalan Nasional, terdiri atas
ruas jalan:
1)

Desa HamparayaBatumandiMantimin

2)

MantiminParingin

3)

ParinginDahai

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

II - 13

LAPORAN PE NDAHULUAN

b.

Jaringan jalan kolektor primer (K1) yang merupakan jalan Provinsi, terdiri atas
ruas jalan:
1) Desa Teluk KaryaBampihong
2) LampihongMantimin
3) LampihongParingin
4) ParinginHalong
5) BatumandiLokbatuTariwin

c.

Jaringan jalan Kabupaten terdiri atas:


1) Rencana pengembangan jalan kolektor primer (K1) yang menghubungkan
ibu kota Kebupaten dengan Kecamatan, terdiri atas:
a) ParinginAwayan
b) Awayan ebing Tinggi
c) Jalan lingkar barat dan jalan lingkar timur di Kecamatan Paringin dan
Kecamatan Peringin Selatan
2) Rencana pengembangan jalan kolektor sekunder (K2) yang menghubungkan
antar ibu kota Kecamatan, terdiri atas ruas jalan:
a) Lokbatu (Kecamatan Batumandi)Muara Jaya (Kecamatan Awayan)
b) Muarainian-Awayan
3) Rencana pengembangan jalan lokal yang menghubungkan ibukota
Kecamatan dengan pusat Desa serta menghubungkan antar Desa dan jalan
lingkungan.

d.

Jaringan jalan khusus


1) Jaringan jalan yang melalui Desa Lasung Batu, Desa Sungai Ketapi, Desa
Dahai di Kecamatan Paringin
2) Jaringan jalan pada ruas UrenMamantangBatas Kabupaten Paser Provinsi
Kalimantan Timur
3) Jaringan jalan pada ruas HandiwinGunung RiutPuyunBatas Kabupaten
Paser Kalimantan Timur
4) Jaringan jalan pada ruas TundakanPamurusBalang

e.
2.

Jaringan jalan strategis Provinsi pada ruasMagalau (Kabupaten Kotabaru)

Sarana Angkutan Umum

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

II - 14

LAPORAN PE NDAHULUAN

Moda transportasi umum yang ada d I Kabupaten Balangan terdiri atas Bis Umum
(besar), Bis Umum (sedang), Bis Umum (kecil),

dan MPU. Terdapat 5 trayek

angkutan umum baik Bis Umum maupun MPU yang beroperasi hampir 24 jam.
3.

Terminal
Rencana terminal penumpang adalah:
a.

Terminal penumpang tipe C di Kelurahan Paringin Kota, Kecamatan Paringin.

b.

Rencana pengembangan terminal penumpang tipe C di Kelurahan Batu Piring.

c.

Rencana pengembangan sub terminal penumpang di Desa Batumandi, desa


Halong, Desa Simpang Tiga, Desa Mungkur Uyam, Desa Putat Basiun, dan desa
Simpang Nandung.

2.1.4

Sistem Prasarana Wilayah

A.

Air Bersih
Sistem jaringan air bersih di wilayah Kabupaten Balangan terdiri dari saluran air

bersih Perusahaan Air Minum Balangan yang merupakan Saluran Air Bersih (SAB) Nasional
dan jaringan air bersih Nasional. Dalam arahan perencanaanya, akan dibentuk rencana
Instalasi Pengolahan Air (IPA) bersih, meliputi:
1.

IPA Buntu Pilanduk di Kecamatan Halong;

2. IPA Sungai Batung di Kecamatan Juai;


3. IPA Mantimin di Kecamatan Batumandi;
4. IPA Sungai Balangan di Kecamatan Lampihong;
5. IPA Simpang Nadung di Kecamatan Tebing Tinggi;
6. IPA Awayan di Kecamatan Awayan;
7. IPA Paringin I;
8. IPA Paringin II; dan
9.

IPA Paringin III


Selain itu akan diadakan penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat

berupa penyediaan sarana air bersih meliputi sumur bor, sumur gali, dam hidran umum di
seluruh kecamatan.
B.

Persampahan
Rencana jaringan sistem prasarana persampahan di Kabupaten Balangan antara

lain:
1.

Rencana pengembangan sistem jaringan prasarana persampahan berupa Tempat


Pemrosesan Akhir Batu Merah di Desa Batu Merah, Kecamatan Lampihong.

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

II - 15

LAPORAN PE NDAHULUAN

2.

Rencana pengembangan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dilakukan dengan


pengelolaan sampah bersistem sanitary landfill atau dengan sistem control traffic
untuk sampah domestik dan non domestik.

3.

Rencana pengembangan tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) diarahkan


untuk diletakkan di pusat-pusat permukiman dan pusat kegiatan di seluruh kawasan
perkotaan di daerah.

C.

Sanitasi
Terdapat dua sistem pengolahan air limbah di Kabupaten Balangan yaitu

pengolahan secara individu (on site system) dan secara kolektif atau komunal (off site
system). Pengolahan limbah secara off site system bisa disebut juga dengan Instalasi
Pengolahan Air Limbah (IPAL) Domestik.

2.2

KEBIJAKAN

PENGELOLAAN

PERSAMPAHAN

KABUPATEN

BALANGAN
Upaya melakukan pengelolaan persampahan sangat diperlukan adanya kebijakan
yang berupa produk peraturan-peraturan sistem pengelolaan sampah kota. Dasar hukum
perencanaan pengelolaan sampah di Kabupaten Balangan yang sudah ada maupun
beberapa peraturan yang memayungi kegiatan pengelolaan sampah adalah sebagai berikut.
1.

Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

2.

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 21/PRT/M/2006 tanggal 15 September


2006 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional dalam Rangka Pengembangan Sistem
Pengelolaan Persampahan (KSNP-SPP).

3.

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2010 tentang Pedoman


Pengelolaan Sampah.

4.

Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 13 Tahun


2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Reduce, Reuse, dan Recycle melalui Bank
Sampah.

5.

Peraturan

Menteri

Pekerjaan

Umum

Nomor

03/PRT/M/2013

tentang

Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana Persampahan dalam Penanganan Sampah


Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.
6.

Peraturan Daerah Nomor 2 tahun

2012 tentang Pengelolaan Sampah dan

Kebersihan Lingkungan.

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

II - 16

LAPORAN PE NDAHULUAN

7.

Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2012 tentang Retribusi Pelayanan Persampahan.


Mengacu kepada Kebijakan dan Strategi Nasional dalam rangka pengembangan

Sistem Pengelolaan Persampahan (KSNP-SPP), maka Pemerintah mengeluarkan Peraturan


Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 21/PRT/M/2006 tanggal 15 September 2006 yang didasari
oleh pertimbangan:
1.

Bahwa dalam rangka penyehatan lingkungan permukiman yang berkelanjutan, perlu


dilakukan

pengembangan

sistem

pengelolaan

persampahan

yang

ramah

lingkungan.
2.

Bahwa permukiman yang sehat dengan lingkungan yang bersih sangat diperlukan
dalam rangka peningkatan derajat kesehatan masyarakat Indonesia sehingga
masyarakat dapat menjadi lebih produktif.

3.

Bahwa dalam upaya mewujudkan situasi dan kondisi permukiman yang sehat yang
diinginkan, diperlukan rencana program dan pelaksanaan kegiatan yang terpadu,
efesien dan efektif.
Dalam Peraturan Menteri yang dimaksud dengan Kebijakan dan Strategi Nasional

Pengembangan Sistem Pengelolaan Persampahan yang selanjutnya ditingkat KNSP-SPP


merupakan Pedoman untuk Pengaturan, Penyelenggaraan dan Pengembangan Sistem
Pengelolaan Persampahan baik bagi Pemerintah Pusat maupun Daerah, dunia usaha, dan
masyarakat.

2.3

PERATURAN

PERUNDANGAN

TERKAIT

PENYUSUNAN

MASTERPLAN PERSAMPAHAN
2.3.1

Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah


Sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang

berbentuk padat. Pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan
berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Sampah yang
dikelola berdasarkan Undang-undang ini terdiri atas:
1.

Sampah rumah tangga, berasal dari kegiatan sehari-hari dalam rumah tangga, tidak
termasuk tinja dan sampah spesifik.

2.

Sampah sejenis sampah rumah tangga, berasal dari kawasan komersial, kawasan
industri, kawasan khusus, fasilitas sosial, fasilitas umum, atau fasilitas lainnya.

3.

Sampah spesifik, meliputi:

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

II - 17

LAPORAN PE NDAHULUAN

a.

Sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun;

b.

Sampah yang mengandung limbah bahan berbahaya dan beracun;

c.

Sampah yang timbul akibat bencana;

d.

Puing bongkaran bangunan;

e.

Sampah yang secara teknologi belum dapat diolah;

f.

Sampah yang timbul secara tidak periodik.

Pengelolaan sampah diselenggarakan berdasarkan asas tanggung jawab, asas


berkelanjutan, asas manfaat, asas keadilan, asas kesadaran, asas kebersamaan, asas
keselamatan, asas keamanan, dan asas nilai ekonomi. Pengelolaan sampah ditujukan untuk
meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan serta menjadikan sampah
sebagai sumber daya. Kemudian untuk pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah
sejenis sampah rumah tangga terdiri atas:
1.

2.

Pengurangan sampah, meliputi:


a.

Pembatasan timbulan sampah;

b.

Pendauran ulang sampah; dan/atau

c.

Pemanfaatan kembali sampah.

Penanganan sampah, meliputi:


a.

Pemilahan dalam bentuk pengelompokan dan pemisahan sampah sesuai


dengan jenis, jumlah, dan/atau sifat sampah;

b.

Pengumpulan dalam bentuk pengambilan dan pemindahan sampah dari


sumber sampah ke Tempat Penampungan Sementara (TPS) atau Tempat
Pengolahan Sampah Terpadu (TPST);

c.

Pengangkutan dalam bentuk membawa sampah dari sumber dan/atau dari


tempat

penampungan sampah sementara atau dari tempat pengolahan

sampah terpadu (TPST) menuju ke tempat pemrosesan akhir (TPA);


d.

Pengolahan dalam bentuk mengubah karakteristik, komposisi, dan jumlah


sampah; dan/atau

e.

Pemrosesan akhir sampah dalam bentuk pengembalian sampah dan/atau


residu hasil pengolahan sebelumnya ke media lingkungan secara aman.

Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membiayai penyelenggaraan pengelolaan


sampah. Pembiayaan tersebut bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara
serta anggaran pendapatan dan belanja daerah. Pemerintah dan pemerintah daerah secara
sendiri-sendiri atau bersama-sama dapat memberikan kompensasi kepada orang sebagai

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

II - 18

LAPORAN PE NDAHULUAN

akibat dampak negatif yang ditimbulkan oleh kegiatan penanganan sampah di tempat
pemrosesan akhir sampah. Kompensasi dapat berupa:
1.

relokasi;

2.

pemulihan lingkungan;

3.

biaya kesehatan dan pengobatan; dan/atau

4.

kompensasi dalam bentuk lain.


Pemerintah daerah dapat melakukan kerja sama antar pemerintah daerah dalam

melakukan pengelolaan sampah. Kerja sama tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk
kerja sama dan/atau pembuatan usaha bersama pengelolaan sampah.
Dalam pasal 29 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2018, terdapat ketentuan larangan
setaip orang berupa:
1.

memasukkan sampah ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

2.

Mengimpor sampah.

3.

Mencampur sampah dengan limbah berbahaya dan beracun.

4.

Mengelola

sampah

yang

menyebabkan

pencemaran

dan/atau

perusakan

lingkungan.
5.

Membuang sampah tidak pada tempat yang telah ditentukan dan disediakan.

6.

Melakukan penanganan sampah dengan pembuangan terbuka di tempat


pemrosesan akhir.

7.

Membakar sampah yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis pengelolaan


sampah.
Dalam pasal 44 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2018, terdapat ketentuan

peralihan berupa:
1.

Pemerintah daerah harus membuat perencanaan penutupan tempat pemrosesan


akhir sampah yang menggunakan sistem pembuangan terbuka paling lama 1 (satu)
tahun terhitung sejak berlakukanya Undang-undang ini.

2.

Pemerintah daerah harus menutup tempat pemrosesan akhir sampah yang


menggunakan sistem pembuangan terbuka paling lama 5 (lima) tahun terhitung
sejak berlakunya Undang-Undang ini.
Berdasarkan pasal 29 dan pasal 44 dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008

tentang Pengelolaan Sampah, penanganan sampah dengan pembuangan terbuka (open

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

II - 19

LAPORAN PE NDAHULUAN

dumping) di TPA telah dilarang dilakukan. Konsekuensinya adalah bahwa pada tahun 2013
TPA open dumping harus ditutup atau ditingkatkan menjadi controlled landfill maupun
sanitary landfill.

2.3.2

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 21/PRT/M/2006 tentang Kebijakan


dan Srategi Nasional Pengembangan dan Pengelolaan Persampahan
Kebijakan dan Strategi Nasional Sistem Pengelolaan Persampahan (KSNP-SPP)

dimaksudkan sebagai pedoman dalam penyusunan kebijakan teknis, perencanaan,


pemrograman dan kegiatan lain yang terkait dengan pengelolaan persampahan baik di
lingkungan Departemen, Lembaga Pemerintah Non Departemen, Pemerintah Daerah,
maupun bagi masyarakat dan dunia usaha. Kebijakan dan Strategi Nasional Sistem
Pengelolaan Persampahan (KSNP-SPP) bertujuan untuk mendukung pencapaian sasaran
pembangunan persampahan melalui rencana, program, dan pelaksanaan kegiatan yang
terpadu, efektif dan efisien.
Kebijakan dan Strategi Nasional Sistem Pengelolaan Persampahan (KSNP-SPP)
dirumuskan sebagai berikut.
1.

Kebijakan (1)

: Pengurangan sampah semaksimal mungkin dimulai dari


sumbernya
a. Meningkatkan pemahaman masyarakat akan upaya 3R (ReduceReuse-Recycle) dan pengamanan sampah B3 (Bahan Buangan
Berbahaya) rumah tangga
b. Mengembangkan

dan

menerapkan

system

insentif

dan

disinsentif dalam pelaksanaan 3R


c. Mendorong koordinasi lintas sektor terutama perindustrian &
perdagangan
2.

Kebijakan (2)

: Peningkatan peran aktif masyarakat dan dunia usaha/swasta


sebagai mitra pengelolaan
a. Meningkatkan pemahaman tentang pengelolaan sampah sejak
dini melalui pendidikan bagi anak usia sekolah.
b. Menyebarluaskan

pemahaman

tentang

pengelolaan

persampahan kepada masyarakat umum.


c. Meningkatkan

pembinaan

masyarakat

khususnya

kaum

perempuan dalam pengelolaan sampah.


d. Mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

II - 20

LAPORAN PE NDAHULUAN

e. Mengembangkan sistem insentif dan iklim yang kondusif bagi


dunia usaha/swasta.
3.

Kebijakan (3)

: Peningkatan cakupan pelayanan dan kualitas sistem


Pengelolaan.
a. Optimalisasi pemanfaatan prasarana dan sarana persampahan.
b. Meningkatkan cakupan pelayanan secara terencana dan
berkeadilan.
c. Meningkatkan kapasitas sarana persampahan sesuai sasaran
pelayanan.
d. Melaksanakan rehabilitasi TPA yang mencemari lingkungan.
e. Meningkatkan kualitas pengelolaan TPA ke arah sanitary landfill.
f. Meningkatkan Pengelolaan TPA Regional.
g. Penelitian, pengembangan, dan aplikasi teknologi penanganan
persampahan tepat guna dan berwawasan lingkungan.

4.

Kebijakan (4)

: Pengembangan kelembagaan, peraturan dan perundangan


a. Meningkatkan Status dan kapasitas institusi pengelola.
b. Meningkatkan kinerja institusi pengelola persampahan.
c. Memisahkan fungsi / unti regulator dan operator.
d. Meningkatkan kerjasama dan koordinasi dengan pemangku
kepentingan lain.
e. Meningkatkan kualitas SDM manusia.
f. Mendorong

pengelolaan

kolektif

atas

penyelenggaraan

persampahan skala regional.


g. Meningkatkan kelengkapan produk hukum/NPSM sebagai
landasan dan acuan pelaksanaan pengelolaan persampahan.
h. Mendorong penerapan sistem pengawasan dan penerapan
sanksi hukum secara konsisten dalam rangka pembinaan aparat,
masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya.
5.

Kebijakan (5)

: Pengembangan alternatif sumber pembiayaan


a. Penyamaan persepsi para pengambil keputusan.
b. Mendorong peningkatan pemulihan biaya persampahan.

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

II - 21

LAPORAN PE NDAHULUAN

2.3.3

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2010 tentang Pedoman


Pengelolaan Sampah
Pemerintah daerah menyusun rencana pengurangan dan penanganan sampah yang

dituangkan dalam rencana strategis dan rencana kerja tahunan SKPD. Rencana
pengurangan dan penanganan sampah tersebut sekurang-kurangnya memuat:
1. Target pengurangan sampah;
2. Target penyediaan sarana dan prasarana pengurangan dan penanganan sampah
mulai dari sumber sampah sampai dengan TPA;
3. Pola pengembangan kerjasama daerah, kemitraan, dan partisipasi masyarakat;
4. Kebutuhan penyediaan pembiayaan yang ditanggung oleh pemerintah daerah dan
masyarakat; dan
5. Rencana pengembangan dan pemanfaatan teknologi yang ramah lingkungan dalam
memenuhi kebutuhan mengguna ulang, mendaur ulang, dan penanganan akhir
sampah.
Pada tahap pelaksanaan, pemerintah daerah dalam mengurangi sampah dilakukan
dengan cara pembatasan timbulan sampah, pendauran ulang sampah, dan/atau
pemanfaatan kembali sampah. Pengurangan sampah dilakukan melalui kegiatan:
1. Pemantauan dan supervisi pelaksanaan rencana pemanfaatan bahan produksi
ramah lingkungan oleh pelaku usaha; dan
2. Fasilitasi kepada masyarakat dan dunia usaha dalam mengembangkan dan
memanfaatkan hasil daur ulang, pemasaran hasil produk daur ulang, dan guna ulang
sampah.
Pemerintah daerah dalam menangani sampah dilakukan dengan cara:
a. Pemilahan, dilakukan melalui memilah sampah rumah tangga sesuai dengan jenis
sampah. Pemilahan sampah dilakukan dengan menyediakan fasilitas tempat
sampah organik dan anorganik di setiap rumah tangga, kawasan permukiman,
kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas umum, fasilitas
sosial, dan fasilitas lainnya.
b. Pengumpulan, dilakukan sejak pemindahan sampah dari tempat sampah rumah
tangga ke TPS/TPST sampai ke TPA dengan tetap menjamin terpisahnya sampah
sesuai dengan jenis sampah.
c. Pengangkutan, dilaksanakan dengan cara:

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

II - 22

LAPORAN PE NDAHULUAN

1) Sampah rumah tangga ke TPS/TPST menjadi tanggung jawab lembaga


pengelola sampah yang dibentuk oleh RT/RW;
2) Sampah dari TPS/TPST ke TPA, menjadi tanggung jawab pemerintah daerah;
3) Sampah kawasan permukiman, kawasan komersial, kawasan industri, dan
kawasan khusus, dari sumber sampah sampai ke TPS/TPST dan/atau TPA,
menjadi tanggung jawab pengelola kawasan; dan
4) Sampah dari fasilitas umum, fasilitas sosial, dan fasilitas lainnya dari sumber
sampah dan/atau dari TPS/TPST sampai ke TPA, menjadi tanggung jawab
pemerintah daerah.
3. Pelaksanaan pengangkutan sampah tetap menjamin terpisahnya sampah sesuai
dengan jenis sampah. Alat pengangkutan sampah harus memenuhi persyaratan
keamanan, kesehatan lingkungan, kenyamanan, dan kebersihan.
4. Pengolahan, dilakukan dengan mengubah karakteristik, komposisi, dan jumlah
sampah yang dilaksanakan di TPS/TPST dan di TPA. Pengolahan sampah
memanfaatkan kemajuan teknologi yang ramah lingkungan.
5. Pemrosesan akhir sampah, dilakukan dengan pengembalian sampah dan/atau residu
hasil pengolahan ke media lingkungan secara aman.
Pemerintah daerah menyediakan TPS/TPST dan TPA sesuai dengan kebutuhan.
Penyediaan TPS/TPST dan TPA tersebut harus memenuhi persyaratan teknis sistem
pengolahan sampah yang aman dan ramah lingkungan sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan. Penyediaan TPS/TPST dan TPA sesuai dengan rencana tata ruang
wilayah kabupaten/kota. Pemerintah daerah memfasilitasi pengelola kawasan untuk
menyediakan TPS/TPST di kawasan permukiman, kawasan komersial, kawasan industri, dan
kawasan khusus.
Pemerintah daerah dapat melakukan kerjasama antar pemerintah daerah atau
pemerintah daerah bermitra dengan badan usaha dalam pengelolaan sampah. Kerja sama
antar pemerintah daerah dapat melibatkan dua atau lebih daerah kabupaten/kota pada satu
provinsi atau antarprovinsi. Lingkup kerja sama bidang pengelolaan sampah mencakup:
1. Penyediaan/pembangunan TPA;
2. Sarana dan prasarana TPA;
3. Pengangkutan sampah dari TPS/TPST ke TPA;
4. Pengelolaan TPA; dan/atau
5. Pengolahan sampah menjadi produk lainnya yang ramah lingkungan.

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

II - 23

LAPORAN PE NDAHULUAN

Pemerintah daerah juga dapat bermitra dengan badan usaha dalam pengelolaan
sampah. Lingkup kemitraan dengan badan usaha ini meliputi:
1. Penarikan retribusi pelayanan persampahan;
2. Penyediaan/pembangunan TPS atau TPST, TPA, serta sarana dan prasarana
pendukungnya;
3. Pengangkutan sampah dari TPS/TPST ke TPA;
4. Pengelolaan TPA; dan/atau
5. Pengelolaan produk olahan lainnya.
Pemerintah daerah dapat mengenakan retribusi atas pelayanan persampahan.
Retribusi pelayanan persampahan tersebut digolongkan pada retribusi jasa umum.
Komponen biaya perhitungan retribusi pelayanan persampahan meliputi:
1. Biaya pengumpulan dan pewadahan dari sumber sampah ke TPS/TPST;
2. Biaya pengangkutan dari TPS/TPST ke TPA;
3. Biaya penyediaan lokasi pembuangan/pemusnahan akhir sampah; dan
4. Biaya pengelolaan.

2.3.4

Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 13


Tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Reduce, Reuse dan Recycle
melalui Bank Sampah
Kebijakan ini bertujuan untuk memberikan pedoman kepada pelaksana kegiatan 3R

melalui bank sampah. kegiatan 3R melalui bank sampah sebagaimana dimaksud adalah
dilaksanakan terhadap sampah rumah tangga dan sampah sejenis rumah tangga.
Mekanisme kerja bank sampah antara lain meliputi:
1. Pemilahan sampah;
2. Penyerahan sampah ke bank sampah;
3. Penimbangan sampah;
4. Pencatatan;
5. Hasil penjualan sampah yang diserahkan dimasukkan ke dalam buku tabungan;
6. Bagi hasil penjualan sampah antara penabung dan pelaksana.
Mekanisme kerja bank sampah antara lain meliputi:
1. Penetapan jam kerja;
2. Penarikan buku tabungan;
3. Peminjaman uang;

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

II - 24

LAPORAN PE NDAHULUAN

4. Buku tabungan;
5. Jasa penjemputan sampah;
6. Jenis tabungan;
7. Jenis sampah;
8. Penetapan harga;
9. Kondisi sampah;
10.Berat minimum;
11. Wadah sampah;
12. Sistem bagi hasil;
13. Pemberian upah karyawan.
Kegiatan 3R melalui bank sampah dilaksanakan oleh:
1. Menteri dan menteri terkait lainnya, meliputi:
a. Pembinaan teknis;
b. Pembangunan bank sampah percontohan;
c. Pengintegrasian antara bank sampah dengan penerapan EPR;
d. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan bank sampah di daerah;
e. Pengembangan kerjasama internasional dalam pelaksanaan bank sampah.
2. Gubernur atau bupati/walikota, meliputi:
a. Memperbanyak bank sampah;
b. Pendampingan dan bantuan teknis;
c. Pelatihan;
d. Monitoring dan evaluasi bank sampah;
e. Membantu pemasaran hasil kegiatan 3R.
3. Masyarakat
a. Pemialahan sampah;
b. Pengumpulan sampah;
c. Penyerahan ke bank sampah;
d. Memperbanyak bank sampah.
Extended Producer Responsibility (EPR) yang dimaksud dalam pelaksanan 3R oleh
menteri dan menteri terkait lainnya diartikan sebagai strategi yang didisain dalam upaya
mengintegrasikan biaya-biaya lingkungan ke dalam seluruh proses produksi suatu
barang sampai produk itu tidak dapat dipakai lagi (post consumer) sehingga biaya-biaya
lingkungan menjadi bagian dari komponen harga pasar produk tersebut. Dengan strategi

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

II - 25

LAPORAN PE NDAHULUAN

EPR tersebut, para produsen harus bertanggungjawab terhadap seluruh life cycle
produk dan/atau kemasan dari produk yang mereka hasilkan. Ini artinya, perusahaan
yang menjual dan/atau mengimpor produk dan kemasan yang potensi menghasilkan
sampah wajib bertanggungjawab, baik secara finansial maupun fisik, terhadap produk
dan/atau kemasan yang masa pakainya telah usai.
Mekanisme EPR yang umum digunakan adalah melalui penarikan kembali
produk dan/atau kemasan yang habis masa pakainya (take-back systems). Melalui
skema ini, produsen (dalam hal ini termasuk di dalamnya pabrik, importer, distributor,
dan retailer) yang dikenai ketentuan EPR wajib menarik kembali produk dan/atau
kemasan yang sudah habis masa gunanya (post consumer) dari masyarakat. Sementara
itu, masyarakat wajib memilah, mengumpulkan, dan menyerahkan produk dan/atau
kemasan yang sudah habis masa gunanya ke tempat-tempat yang ditentukan
(collection point atau droping point).
Secara praktis, EPR bisa dilakukan dengan mengintegrasikan ke dalam aktivitas
Bank Sampah (Gambar 2.1).

Gambar 2.1 Integrasi Bank Sampah dengan Penerapan Extended Producer Responsibility

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

II - 26

LAPORAN PE NDAHULUAN

2.3.5

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 03/PRT/M/2013 tentang


Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana Persampahan dalam Penanganan
Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga
Perencanaan umum penyelenggaraan prasarana dan sarana persampahan meliputi:

1.

Rencana induk;

2. Studi kelayakan; dan


3. Perencanaan teknis dan manajemen persampahan.
Perencanaan umum penyelenggaraan PSP untuk kota besar dan metropolitan
terdiri dari rencana induk dan studi kelayakan. Sementara itu, perencanaan

umum

penyelenggaraan PSP untuk kota sedang dan kecil berupa perencanaan teknis dan
manajemen persampahan.
Rencana induk penyelenggaraan prasarana dan sarana persampahan ini dapat
berupa:
1.

Rencana induk di dalam satu wilayah administrasi kota;

2.

Rencana induk lintas kabupaten dan/atau kota; dan

3.

Rencana induk lintas provinsi.


Rencana induk penyelenggaraan prasarana dan sarana persampahan tersebut

memuat rencana:
a.

Daerah pelayanan;

b.

Kebutuhan dan tingkat pelayanan;

c.

Penyelenggaraan PSP yang meliputi aspek teknis, kelembagaan, pengaturan,


pembiayaan dan peran serta masyarakat; dan

d.

Tahapan pelaksanaan.

Aspek teknis antara lain meliputi kegiatan pembatasan timbulan sampah,


pendauran ulang sampah, pemanfaatan kembali sampah, pemilahan sampah, pengumpulan
sampah, pengangkutan sampah, pengolahan sampah; dan pemrosesan akhir sampah.
Penyusunan rencana induk penyelenggaraan prasarana dan sarana persampahan
didasarkan pada:
a.

Kondisi kota;

b.

Rencana pengembangan kota;

c.

Kondisi penyelenggaraan PSP; dan

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

II - 27

LAPORAN PE NDAHULUAN

d.

Permasalahan penyelenggaraan PSP.

Penyusunan rencana induk penyelenggaraan prasarana dan sarana persampahan


harus memperhatikan:
a.

Kebijakan dan strategi penyelenggaraan PSP;

b.

Norma, standar, prosedur, dan kriteria yang ditetapkan oleh pemerintah;

c.

Rencana Tata Ruang Wilayah; dan

d.

Keterpaduan dengan pengembangan sistem penyediaan air minum, sistem


pembuangan air limbah, dan sistem drainase perkotaan.

Rencana induk disusun dan ditetapkan oleh Pemerintah sesuai dengan


kewenangannya. Rencana induk ditetapkan untuk jangka waktu paling sedikit 10
(sepuluh) tahun dan dilakukan peninjauan secara berkala untuk disesuaikan dengan
kondisi yang berkembang. Rencana induk harus disosialisasikan oleh pemerintah sesuai
dengan kewenangannya dalam bentuk konsultasi publik sekurang-kurangnya satu kali
dalam kurun waktu 12 (dua belas) bulan.
Studi kelayakan diperlukan untuk kegiatan penyediaan prasarana dan sarana
persampahan yang menggunakan teknologi pengolahan dan pemrosesan akhir berupa
proses biologi, termal atau teknologi lain dengan kapasitas lebih besar dari 100 ton/hari.
Studi kelayakan disusun berdasarkan:
a.

Rencana induk penyelenggaraan PSP yang telah ditetapkan;

b.

Kelayakan teknis, ekonomi, dan keuangan; dan

c.

Kajian lingkungan, sosial, hukum dan kelembagaan.

Kelayakan teknis antara lain memuat:


a.

Rencana teknik operasional;

b.

Kebutuhan lahan;

c.

Kebutuhan air dan energi;

d.

Kebutuhan prasarana dan sarana;

e.

Gambaran umum pengoperasian dan pemeliharaan;

f.

Masa layanan sistem; dan

g.

Kebutuhan sumber daya manusia.

Kelayakan teknis didasarkan atas kajian:


a.

Timbulan, komposisi, dan karakteristik sampah;

b.

Teknologi dan sumber daya setempat;

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

II - 28

LAPORAN PE NDAHULUAN

c.

Keterjangkauan pengoperasian dan pemeliharaan; dan

d.

Kondisi fisik setempat.

Kelayakan teknis dilakukan dengan membandingkan usulan atau perencanaan


teknik dengan norma, standar, prosedur dan kriteria. Kegiatan dinyatakan layak teknis, jika
sesuai dengan norma, standar, prosedur dan kriteria.
Kelayakan ekonomi berdasarkan:
a.

Nisbah hasil biaya ekonomi (Economic Benefit Cost Ratio (EBCR));

b.

Nilai ekonomi kini bersih (Economic Net Present Value (ENPV));

c.

Laju pengembalian ekonomi internal (Economic Internal Rate of Return


(EIRR)).

Kelayakan ekonomi memperhitungkan:


a.

Manfaat yang dapat diukur dengan nilai uang (tangible) berupa manfaat
langsung dan manfaat tidak langsung; dan

b.

Manfaat yang tidak dapat diukur dengan nilai uang (intangible).

Manfaat langsung antara lain:


a.

Pendapatan dari material yang dapat didaur ulang;

b.

Pemanfaatan kompos sebagai pupuk dan/atau pengganti tanah penutup


TPA;

c.

Pemanfaatan gas bio sebagai sumber energi; dan

d.

Pendapatan dari pemanfaatan lahan bekas TPA untuk keperluan ruang


terbuka hijau.

Manfaat tidak langsung antara lain:


a.

Peningkatan nilai harga tanah dan bangunan; dan

b.

Pengurangan biaya pengolahan air baku air minum.

Manfaat yang tidak dapat diukur dengan nilai uang antara lain:
a.

Pengurangan tingkat pencemaran;

b.

Terjaganya kelestarian sumber daya air; dan

c.

Penurunan derajat konflik yang disebabkan oleh pencemaran persampahan.

Kelayakan ekonomi dilakukan dengan membandingkan manfaat yang diterima oleh


masyarakat dengan biaya yang ditimbulkan, baik berupa biaya operasi, pemeliharaan
maupun biaya pengembalian modal. Kegiatan dinyatakan layak ekonomi, jika manfaat

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

II - 29

LAPORAN PE NDAHULUAN

ekonomi lebih besar dari biaya yang ditimbulkan, baik berupa biaya operasi, pemeliharaan
maupun biaya pengembalian modal.
Kelayakan keuangan diukur berdasarkan:
a.

Periode pengembalian pembayaran (Pay Back Period);

b.

Nilai keuangan kini bersih (Financial Net Present Value (FNPV));

c.

Laju pengembalian keuangan internal (Financial Internal Rate of Return


(EIRR)).

Kelayakan keuangan memperhitungkan antara lain:


a.

Tingkat inflasi;

b.

Jangka waktu proyek;

c.

Biaya investasi;

d.

Biaya operasi dan pemeliharaan;

e.

Biaya umum dan administrasi;

f.

Biaya penyusutan;

g.

Tarif retribusi; dan

h.

Pendapatan retribusi.

Kelayakan keuangan dilakukan dengan membandingkan pendapatan dari tarif


atau retribusi dengan biaya yang ditimbulkan, baik berupa biaya operasional maupun
biaya pengembalian modal. Kegiatan yang dinyatakan layak keuangan, jika pendapatan dari
tarif atau retribusi lebih besar dari biaya yang ditimbulkan, baik berupa biaya operasi,
pemeliharaan maupun biaya pengembalian modal.
Kajian lingkungan didasarkan atas studi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
(AMDAL) atau Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan
Lingkungan (UPL), dan dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Kajian sosial harus mempertimbangkan aspirasi masyarakat untuk menerima rencana
penyelenggaraan PSP.
Kajian hukum antara lain:
a.

Ketentuan peraturan perundang-undangan;

b.

Kebijakan; dan

c.

Perijinan yang diperlukan.

Kajian kelembagaan meliputi:


a.

Sumber daya manusia;

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

II - 30

LAPORAN PE NDAHULUAN

2.3.6

b.

Struktur dan tugas pokok institusi penyelenggara; dan

c.

Alternatif kelembagaan kerjasama pemerintah dan swasta.

Peraturan Daerah Kabupaten Balangan Nomor 2 Tahun 2012 tentang


Pegelolaan Sampah dan Kebersihan Lingkungan
Pengelolaan sampah yang dimaksud adalah pengelolaan sampah rumah tangga dan

sampah sejenis sampah rumah tangga yang terdiri dari pengurangan sampah dan
penanganan sampah. kegiatan pengurangan sampah meliputi:
1.

Kegiatan pembatasan timbulan sampah

2. Pendaur ulang sampah


3. Pemanfaatan kembali sampah
Kegiatan penanganan sampah yang dimaksud meliputi:
1.

Pemilahan dalam bentuk pengelompokan dan pemisahan sesuai dengan jenis,


dan/atau sifat sampah;

2. Pengumpulan dalam bentuk pengambilan dan pemindahan sampah dari sumber


sampah ke tempat penampungan sementara atau tempat pengelolaan sampah
terpadu;
3. Pengangkutan dalam bentuk membawa sampah dari sumber dan/atau dari tempat
penampungan sampah sementara atau dari tempat pengelolaan sampah terpadu
menuju ketempat pemrosesan akhir;
4. Pengelolaan dalam bentuk mengubah karakteristik, komposisi, dan jumlah sampah;
dan/atau
5. Pemrosesan akhir sampah dalam bentuk pengembalian sampah dan/atau residu
hasil pengolahan sebelumnya ke media lingkungan secara aman.
Dalam pengelolaan sampah, peran serta masyarakat sangat dibutuhkan melalui:
1.

Pemberian usul, pertimbangan dan saran kepada Pemerintah Daerah.

2.

Perumusan kebijakan pengelolaan sampah.

3.

Pemberian saran dan pendaat dalam penyelesaian sengketa persampahan.


Dalam proses pembiayaan, Pemerintah Daerah wajib membiayai penyelenggaraan

pengelolaan sampah. Pembiayaan tersebut bersumber dari Anggaran Pendapatan dan


Belanja Daerah dan/atau sumber pembiayaan lainnya yang tidak mengikat dan sah.
Dalam hal kompensasi, Pemerintah Daerah dapat memberikan kompensasi kepada
orang yang terpengaruh dampak negatif yang ditimbulkan oleh kegiatan penanganan
sampah di tempat pemrosesan akhir sampah. Kompensasi tersebut berupa:

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

II - 31

LAPORAN PE NDAHULUAN

1.

Relokasi

2.

Pemulihan lingkungan

3.

Biaya kesehatan dan pengobatan

4.

Kompensasi dalam bentuk lain


Dalam hal kemitraan, Pemerintah Daerah secara mandiri atau bersama-sama dapat

bermitra

dengan

badan

usaha

pengelolaan

sampah untuk menyelenggarakan

pengelolaan sampah. Kemitraan sebagaimana dimaksud

dituangkan dalam bentuk

perjanjian antara Pemerintah Daerah dan badan usaha yang bersangkutan.

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

II - 32

LAPORAN PE NDAHULUAN

Contents
2.1

KEBIJAKAN PENATAAN RUANG KABUPATEN BALANGAN ............................................ 1


2.1.1 Rencana Struktur Ruang Wilayah ............................................................................. 1
2.1.2 Rencana Pola Ruang Wilayah .................................................................................. 5
A. Rencana Kawasan Lindung .............................................................................................. 5
B. Rencana Kawasan Budidaya ............................................................................................ 8
2.1.3 Sistem Transportasi Wilayah................................................................................... 13
2.1.4 Sistem Prasarana Wilayah ....................................................................................... 15
2.2
KEBIJAKAN PENGELOLAAN PERSAMPAHAN KABUPATEN BALANGAN ..................... 16
2.3
PERATURAN
PERUNDANGAN
TERKAIT
PENYUSUNAN
MASTERPLAN
PERSAMPAHAN ........................................................................................................................... 17
2.3.1 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah .............. 17
2.3.2 Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 21/PRT/M/2006 tentang Kebijakan dan
Srategi Nasional Pengembangan dan Pengelolaan Persampahan .................................. 20
2.3.3 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2010 tentang Pedoman
Pengelolaan Sampah...........................................................................................................22
2.3.4 Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 13
Tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Reduce, Reuse dan Recycle melalui Bank
Sampah ............................................................................................................................... 24
2.3.5 Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 03/PRT/M/2013 tentang
Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana Persampahan dalam Penanganan Sampah
Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga ..........................................27
2.3.6
Peraturan Daerah Kabupaten Balangan Nomor 2 Tahun 2012 tentang
Pegelolaan Sampah dan Kebersihan Lingkungan ............................................................. 31

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

II - 33

LAPORAN PENDAHULUAN

GAMBARAN UMUM

3.1

GAMBARAN UMUM KABUPATEN BALANGAN

3.1.1

Wilayah Administrasi Kabupaten Balangan


Kabupaten Balangan terletak di Provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Secara

geografis Kabupaten Balangan terletak pada koordinat 114 5024 sampai 115 5024 Bujur
Timur dan 2 0137 sampai dengan 2 3558 Lintang Selatan. Berdasarkan pembagian
wilayahnya, Kabupaten Balangan terbagi atas 8 (delapan) Kecamatan, yaitu Kecamatan
Lampihong, Kecamatan Batu Mandi, Kecamatan Awayan, Kecamatan Tebing Tinggi,
Kecamatan Paringin, Kecamatan Paringin Selatan, Kecamatan Juai, dan Kecamatan Halong.
Berikut merupakan batas administrasi wilayah Kabupaten Balangan.
Sebelah Utara

: Kab. Tabalong dan Kab. Paser Prov. Kalimantan Timur;

Sebelah Barat

: Kab. Hulu Sungai Utara;

Sebelah Selatan : Kab.Hulu Sungai Tengah;


Sebelah Timur

: Kab. Paser Prov. Kalimantan Timur dan Kab. Kotabaru.


Tabel 3.1 Kondisi Administratif Kabupaten Balangan

KECAMATAN
Lampihong

IBUKOTA
Simpang Tiga

LUAS WILAYAH
(KM2)

PRESENTASE DARI LUAS


KABUPATEN (%)

96,9

5,16

Batu Mandi

Batu Mandi

147,96

7,88

Awayan

Putat Basiun

142,57

7,59

Tebing Tinggi

Tebing Tinggi

257,25

13,70

Paringin

Paringin Kota

100,04

5,33

Paringin Selatan

Muara Pitap

86,80

4,62

Mungkur Uyam

386,80

20,59

Halong

659,84

35,13

Juai
Halong

Sumber: Kabupaten Balangan dalam Angka, 2013

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

III - 1

LAPORAN PENDAHULUAN

3.1.2

Fisik Dasar

A. Kondisi iklim
Iklim yang berada di Kebupaten Balangan merupakan iklim hutan tropika humid
dengan curah hujan rata-rata 1.962 2.671,5 mm. Curah hujan terendah jatuh sekitar
bulan Juni, Juli, Agustus dan September, sedangkan curah hujan tertinggi jatuh sekitar
bulan Desember, Januari, Februari dan Maret. Terdapat tiga stasiun pengamatan hujan
di Kabupaten Balangan yang data curah dan hari hujannya diuraikan sebagai berikut.
Tabel 3.2 Curah Hujan dan Hari Hujan Menurut Stasiun Pengamatan
JUMLAH CURAH
HUJAN

JUMLAH HARI
HUJAN

RATA-RATA CURAH
HUJAN/ HARI

Batu Mandi

1.962

94

20,9

Paringin

1.316,2

133

9,9

Juai

2.671,5

129

20,7

1.983,2

118,7

16,7

STASIUN PENGAMATAN

Rata-Rata

Sumber: Kabupaten Balangan Dalam Angka, 2013

B. Topografi dan Kelerengan


Wilayah Kabupaten Balangan terletak pada ketinggian antara 25-500 meter diatas
permukaan laut (mdpl). Kecamatan Halong merupakan kecamatan yang sebagian besar
wilayahnya berada di dataran tinggi (ketinggian 100 500 mdpl). Kecamatan
Lampihong merupakan kecamatan yang sebagian besar wilayahnya berada di dataran
rendah (ketinggian 0-25 mdpl).
Tabel 3.3 Ketinggian Wilayah Tiap Kecamatan (dalam Ha)
KECAMATAN

KELAS KETINGGIAN (M DPL)


0-7

7-25

25-100

100-500

>500

Lampihong

1.512

8.136

48

Batu Mandi

2.018

7.462

5.262

54

Awayan*)

17.326

13.206

9.450

Tebing Tinggi

Paringin

7.384

11.300

Paringin Selatan**)

Juai

7.170

19.346

12.172

Halong

6.230

18.802

33.450

7.502

3.530

36.382

72.084

58.882

16.952

BALANGAN

*) Termasuk Kecamatan Tebing


**) Termasuk Kecamatan Paringin Selatan
Sumber: Kabupaten Balangan Dalam Angka, 2013

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

III - 2

LAPORAN PENDAHULUAN

Kemudian untuk kondisi kemiringan atau kelerengan lahan pada wilayah Kabupaten
Balangan terdiri dari 6 (enam) kelas, yaitu kurang dari 2%, 28%, 815%, 2540% serta
lebih besar dari 40%. Kemiringan lahan ini terkait dengan kepekaan tanah terhadap
erosi. Semakin tinggi/terjal lereng maka lahan semakin peka terhadap erosi. Berikut
diuraikan kondisi kemiringan lereng lahan pada wilayah Kabupaten Balangan secara
umum, yaitu:
1. Sekitar 68% wilayah Kabupaten Balangan, memiliki kemiringan lereng 0-2%. Kondisi
ini sangat cocok bagi pengembangan fungsi budidaya ataupun kegiatan perkotaan.
2. Sekitar 24% wilayah Kabupaten Balangan memiliki kemiringan lereng 2-15%. Pada
kelas kemiringan lereng ini, hingga kemiringan 15%, kegiatan budidaya terbangun
dapat dilaksanakan, namun harus menggunakan teknologi yang tepat sebagai
bentuk antisipasi agar tidak terjadi erosi tanah.
3. Sekitar 8% wilayah Kabupaten Balangan memiliki kemiringan lereng 15-40%. Kondisi
ini masih memungkinkan bagi pengembangan perkebunan atau kehutanan dengan
jenis tanaman berakar dalam.
4. Pada wilayah Kabupaten Balangan tidak ditemui adanya lahan dengan kemiringan
lereng > 40%.
Tabel 3.4 Kondisi Wilayah Kabupaten Balangan Menurut Kemiringan Lahan
KECAMATAN

0-2%

2-8%

8-15%

15-25%

Lampihong

9.696

Batu Mandi

14.561

120

115

7.122

5.325

3.625

3.675

12.654

3.380

1.200

1.450

Juai

33.256

4.240

740

450

Halong

54.405

86

130

Balangan

131.694

13.151

5.810

Awayan

25-40%

>40%

3.305

16.930

120

201

13.040

5.695

3.506

29.970

Tebing Tinggi*)
Paringin
Paringin Selatan*)

*) Termasuk Kecamatan Tebing


**) Termasuk Kecamatan Paringin Selatan
Sumber: Kabupaten Balangan Dalam Angka, 2013

C. Hidrologi dan Hidrogeologi


Kondisi hidrologi dapat ditinjau dari beberapa hal, diantaranya kondisi sumber daya
air dan pola drainase. Sumber daya air di Kabupaten Balangan berupa sungai, dan
embung (kolam-kolam retensi). Sungai-sungai utama yang mengalir di daerah

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

III - 3

LAPORAN PENDAHULUAN

Kabupaten Balangan adalah Sungai Pitap, Sungai Balangan, Sungai Mantuyan, Sungai
Tabuan, Sungai Galombang, Sungai Halong, Sungai Huren, Sungai Ninian, Sungai Jauk,
Sungai Batumandi, Sungai Lokbatu, dan Sungai Juai. Berdasarkan pola pengaliran
sungai utama dan anak sungai, maka daerah penelitan dibagi menjadi 4 pola pengaliran
sungai, yaitu pola pengaliran anastomatik, pola pengaliran dendritik, pola pengaliran
rektangular, dan pola pengaliran subdendritik. Penjelasan pada masing-masing pola
adalah sebagai berikut.
1. Pola Pengaliran Anastomatik
Pola pengaliran anastomatik adalah pola pengaliran modifikasi yang membentuk
meander yang terbentuk di dataran banjir, delta ataupun rawa. Pola pengaliran
ini menempati daerah Kabupaten Balangan dengan luas kira-kira 25% dari luas
Kabupaten Balangan. Pola pengaliran ini terdapat di bagian Barat - Selatan
Kabupaten Balangan. Pola pengaliran ini dibentuk oleh Sungai Pitap, Sungai
Muning, Sungai Lok batu, Sungai Juuh, Sungai Batumandi, Sungai Jauk, Sungai
Pelasan, serta Sungai Kambiyani dengan anak-anak sungainya.
2. Pola Pengaliran Dendritik
Pola pengaliran dendritik adalah pola pengaliran dasar yang bentuk umum
seperti daun, berkembang pada batuan dengan kekerasan relatif sama,
perlapisan batuan sedimen relatif datar serta tahan akan pelapukan, kemiringan
landai, kurang dipengaruhi struktur geologi. Pola pengaliran ini menempati
daerah Kabupaten Balangan sekitar 25% dari luas Kabupaten Balangan. Pola
pengaliran ini terdapat di bagian barat hingga bagian tengah daerah Kabupaten
Balangan. Pola pengaliran ini dibentuk oleh Sungai Balangan, Sungai Ninian I,
Sungai Ninian II, Sungai Juai, Sungai Jungkal, serta Sungai Jingah dengan anakanak sungainya.
3. Pola Pengaliran Rektangular
Pola pengaliran rektangular adalah pola pengaliran dasar dimana induk sungai
dengan anak sungai yang memperlihatkan arah lengkungan menganan,
pengontrol struktur atau sesar yang memiliki sudut kemiringan, tidak memiliki
perulangan perlapisan batuan dan sering memperlihatkan pola pengaliran yang
tidak menerus. Pola pengaliran ini menempati daerah Kabupaten Balangan
sekitar 30% dari luas Kabupaten Balangan. Pola pengaliran ini terdapat di bagian
timur daerah Kabupaten Balangan. Pola pengaliran ini dibentuk oleh Sungai

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

III - 4

LAPORAN PENDAHULUAN

Balangan, Sungai Halong, Sungai Huren, Sungai Mantuyan, serta Sungai Tabuan
dengan anak-anak sungainya.
4. Pola Pengaliran Subdendritik
Pola pengaliran subdendritik adalah pola pengaliran modifikasi yang berbentuk
mendaun yang umumnya terbentuk di daerah yang mempunyai kekerasan
batuan relatif sama. Dapat berkembang pada batuan beku, sedimen, maupun
metamorf. Pola pengaliran ini menempati daerah Kabupaten Balangan sekitar
20%. Pola pengaliran ini terdapat di bagian utara daerah Kabupaten Balangan.
Pola pengaliran ini dibentuk oleh Sungai Galombang, Sungai Lalapau, serta
Sungai Tutupan dengan anak-anak sungainya.
D. Geologi dan Jenis Tanah
Kondisi geologi terdiri dari kumpulan batuan tersier dengan formasi Tanjung (Tet),
formasi Berai (Tomb), fromasi Warukin (Tmw), formasi Dahor (TQd) dan endapan
Alluvium Kuarter (Qa).
1. Jenis Batuan
Pada bagian utara formasi Tanjung (Tet) memiliki sebaran sekitar 5%, tersusun
atas perselingan antara batu pasir, batu lempung, batu lanau, batu gamping, dan
konglomerat aneka bahan. Sedangkan bagian timur sebaran formasi Berai
(Tomb) ada di sekitar Gunung Berai Kecamatan Awayan, tersusun oleh batu
gamping bersisipan napal dan batu lempung dengan ketebalan lapisan rata-rata
1-6 meter. Formasi Warukin (Tmw) merupakan tutupan dominan yang hampir
mencapai 70% tersebar di bagian utara dan timur Paringin, tersusun dengan
perselingan batu pasir kuarsa dan batu lempung bersisipan serpih dan batu bara
dengan ketebalan lapisan rata-rata 2 meter. Formasi Dahor tersebar sekitar 15% di
bagian tengah dan barat, tersusun oleh batu pasir kuarsa bersisipan lempung dan
limonit. Endapan Quarter (Qa) tersebar di daerah dataran bagian selatan.
2. Jenis Tanah
Jenis tanah didominasi oleh jenis tanah podsolik merah kuning seluas 13.524 Ha
dengan sebaran hampir mencapai 72% dan sisanya 28% adalah litosol seluas 5.160
Ha. Data ini menunjukkan bahwa jenis tanah di wilayah Kota Paringin kurang
subur dan rentan erosi. Walaupun jenis tanah yang sesuai bagi peruntukan lahan
pertanian yakni alluvial tidak terdapat di wilayah ini, bukan berarti bahwa
kegiatan pertanian tidak dapat dilakukan. Pada kenyataannya perekonomian

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

III - 5

LAPORAN PENDAHULUAN

kota banyak didominasi oleh kegiatan pertanian, khususnya tanaman pangan


(padi). Hal ini berarti kegiatan pertanian dapat dikembangkan dengan suatu pola
pengolahan dan pengelolaan yang tepat.
3. Tekstur Tanah
Tekstur tanah dapat dibagi menjadi tekstur halus, sedang, dan kasar. Tekstur
tanah, sebagian besar bertekstur halus yaitu sekitar 88%, tekstur sedang seluas
8%, dan tektur kasar 4%. Kondisi ini mengindikasikan adanya potensi
pengembangan tanaman budidaya sesuai dengan sifat tanah yang bertekstur
halus cenderung dapat ditanami dengan baik dan tahan erosi.
4. Drainase Tanah
Drainase tanah dibagi dalam 3 (tiga) kelas yaitu tidak pernah tergenang,
tergenang periodik, dan tergenang terus menerus. Kota Paringin memiliki
potensi pengembangan yang baik karena seluruh tanah di wilayah ini termasuk
pada kelas tidak pernah tergenang.
5. Erosi Tanah
Erosi tanah terjadi pada sebagian kecil saja yaitu sekitar 15% dari luas keseluruhan
atau sekitar 2.820 Ha. Dengan demikian sebagian besar lahan Kota Paringin dapat
dikembangkan sebagai lahan budidaya yang berfungsi ekonomis dengan tetap
mempertahankan kelestarian sumber daya tanah.

3.1.3

Kondisi Penggunaan Lahan


Penggunaan lahan berupa hutan negara pada Kabupaten Balangan memiliki luas

sebesar 39.341 ha atau sekitar 20,27% dari total luas wilayah kabupaten. Kemudian untuk
guna lahan berupa perkebunan memiliki proporsi luas paling besar yakni mencapai 58.074
ha atau sekitar 29,92% dari total luas wilayah kabupaten. Jenis penggunaan lahan lainnya
yang juga memiliki proporsi luasan yang cukup besar adalah sawah tadah hujan yang
sebesar 30.011 ha atau sekitar 15,46% dari total luas wilayah kabupaten. Sementara itu, jenis
penggunaan lahan dengan proporsi yang cukup kecil adalah sawah irigasi sederhana,
kolam/empang serta rawa-rawa dengan luas masing-masing sebesar 260 ha (0,13% luas
wilayah kabupaten), 19 ha (0,01% luas wilayah kabupaten) dan 330 ha (0,17% luas wilayah
kabupaten). Berikut merupakan jenis penggunaan lahan beserta luasannya di wilayah
Kabupaten Balangan.

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

III - 6

LAPORAN PENDAHULUAN

Tabel 3.5 Luas Wilayah Kabupaten Balangan Berdasarkan Jenis Penggunaan Lahan
JENIS PENGGUNAAN LAHAN

LUAS (HA)

Lahan Sawah

38.742

Irigasi Setengah Teknis

1.799

Irigasi Sederhana

260

Irigasi Desa

1.505

Tadah Hujan

30.011

Lebak Polder dan lainnya

5.167

Lahan Bukan Sawah

102.534

Tegal/Kebun

7.835

Ladang/Huma

8.581

Perkebunan

58.074

Hutan Rakyat

5.109

Kolam/Tebat/Empang

19

Padang Penggembalaan

1.527

Lahan Sementara Tidak Diusahakan

8.666

Lainnya (Pekarangan Ditanami Tanaman Pertanian, dll.)

12.723

Lahan Bukan Pertanian

52.823

Rumah, Bangunan dan Halaman Lainnya

6.638

Hutan Negara

39.341

Rawa-rawa (Tidak Ditanami)

330

Lainnya (Jalan, Sungai, Danau, Lahan Tandus, dll)

6.514

Total

194.099

Sumber: Kabupaten Balangan Dalam Angka, 2013

3.1.4

Kondisi Kependudukan

A. Jumlah Penduduk
Dalam penyusunan Review Penyusunan Masterplan

Pengelolaan Sampah

Kabupaten Balangan, data kependudukan sangat penting karena jumlah timbulan


sampah yang dihasilkan sangat bergantung pada dinamika perkembangan jumlah
penduduk yang ada. Berikut merupakan data jumlah penduduk Kabupaten Balangan.
Tabel 3.6 Jumlah Penduduk Kabupaten Balangan Tahun 2012
KECAMATAN

JUMLAH
PENDUDUK (JIWA)

KEPADATAN
PENDUDUK (JIWA/KM2)

RATA-RATA
PENDUDUK PER DESA

Lampihong

16.183

167

599

Batu Mandi

16.764

113

931

Awayan

12.459

87

542

Paringin

17.916

24

514

Paringin Selatan

12.149

179

1.120

Juai

16.298

140

759

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

III - 7

LAPORAN PENDAHULUAN

KECAMATAN

JUMLAH
PENDUDUK (JIWA)

Halong
Tebing Tinggi
BALANGAN

KEPADATAN
PENDUDUK (JIWA/KM2)

RATA-RATA
PENDUDUK PER DESA

19.307

42

776

6.172

29

804

17.248

62

747

Sumber: Kabupaten Balangan Dalam Angka, 2013

B. Tenaga Kerja
Lapangan usaha utama yang terdapat di wilayah Kabupaten Balangan meliputi
bidang pertanian, industri berat, pariwisata, dan jasa pertambangan. Jumlah tenaga
kerja tertinggi adalah tenaga kerja yang bergerak di bidang pertanian sebanyak 11.651
jiwa, sedangkan jumlah tenaga kerja terendah yaitu berada di bidang pertambangan
sebesar 637 jiwa.
Tabel 3.7 Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas Menurut Jenis Kegiatan Utama
JENIS KEGIATAN UTAMA

2010

2011

2012

Angkatan Kerja

77,55

77,55

83,82

- Bekerja

97,68

97,68

96,05

- penganggur

2,32

2,32

3,95

Bukan Angkatan Kerja

23,03

22,45

16,18

- Sekolah

27,97

5,76

1,52

- Mengurus ruta

52,29

75,34

70,63

- Lainnya

19,74

18,90

27,85

Tingkat partisipasi Angkatan Kerja (TPAK)

76,97

77,55

83,82

Tingkat Pengangguran

2,45

2,32

3,95

Sumber: Kabupaten Balangan Dalam Angka, 2013

3.2

GAMBARAN

UMUM

SISTEM

PENGELOLAAN

SAMPAH

KABUPATEN BALANGAN
3.2.1

Aspek Teknis
Dalam pengelolaan sampah sangat berkaitan dengan aspek fisik. Adapun aspek fisik

yang dilakukan guna mendapatkan pengelolaan sampah terpadu meliputi:


1.

Identifikasi sumber sampah yang ada di Kabupaten Balangan,

2.

Identifikasi jenis pewadahan yang digunakan di Kabupaten Balangan,

3.

Identifikasi sistem pengumpulan sampah,

4.

Identifikasi sistem pemindahan dan pengangkutan,

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

III - 8

LAPORAN PENDAHULUAN

5.

Identifikasi kondisi TPS, sistem pengelolaan dan jenis kendaraan untuk mengangkut
sampah yang ada di Kabupaten Balangan.

A. Sumber, Karakteristik, dan Volume Sampah


Sumber sampah dapat dibedakan berdasarkan guna lahan yang ada di Kabupaten
Balangan, seperti sumber sampah yang berasal dari permukiman penduduk, sumber
sampah yang berasal dari daerah komersial (pasar, pusat perdagangan, dll), sumber
sampah yang berasal dari fasilitas umum (perkantoran, industri, jalan, dan
saluran/drainase). Berikut merupakan persebaran timbulan sampah dilihat dari tempat
penimbunan sampah di Kabupaten Balangan.
Tabel 3.8 Timbulan Sampah berdasarkan Tempat Timbulan Sampah
VOLUME (m3)

DAPAT DIANGKUT TIAP HARI (m3)

Permukiman Penduduk

215,27

184,66

Pasar

31,06

30,64

Pusat Perdagangan

15,36

14,95

Perkantoran

5,79

5,79

Penyapuan Jalan

2,90

2,90

Fasilitas Umum

2,03

2,03

Industri

5,55

4,27

Saluran/ Drainase

7,48

6,21

TEMPAT PENIMBUNAN

Sumber: Kabupaten Balangan Dalam Angka, 2013

Volume sampah selain dilihat dari jenis tempat penimbunan sampah juga dapat
dilihat berdasarkan jenis komponen sampah. Jenis komponen sampah antara lain
sampah basah/organik, kertas, plastik, kayu, logam, kaca/gelas, karet, kulit, kain, dan
lain-lain. Berikut merupakan data persebaran timbulan sampah di Kabupaten Balangan
berdasarkan jenis komponen sampah.
Tabel 3.9 Timbulan Sampah bersasarkan Jenis Komponen Sampah
NO

KOMPONEN SAMPAH

VOLUME (M3)
2011

2012

2013

a)

Sampah basah/organik

49,48

52,3

53,15

b)

Kertas

7,25

8,05

8,14

c)

Plastik

5,38

6,58

7,46

d)

Kayu

0,69

0,80

0,99

e)

Logam

1,38

1,61

1,98

f)

Kaca/gelas

1,16

1,32

1,52

g)

Karet/kulit

0,37

0,46

0,57

h)

Kain

1,05

1,17

1,29

i)

Lain-lain

0,79

0,88

0,99

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

III - 9

LAPORAN PENDAHULUAN

NO

VOLUME (M3)

KOMPONEN SAMPAH
Jumlah

2011

2012

2013

67,56

73,16

76,09

Sumber: Kabupaten Balangan Dalam Angka, 2013

B. Pengumpulan dan Pengangkutan Sampah


Sistem pengumpulan sampah adalah suatu cara pengambilan sampah mulai dari
tempat pewadahan sampai ke TPS (Tempat Penampungan Sementara) atau langsung
menuju TPA (Tempat Pemrosesan Akhir). Ada beberapa faktor yang mempengaruhi
pola pengumpulan sampah antara lain seperti, jumlah penduduk, kepadatan penduduk,
luas daerah operasi, tingkat penyebaran rumah, kondisi fisik, dan kondisi sarana
penghubung.
Sistem pengumpulan sampah yang terdapat di Kabupaten Balangan menggunakan
sistem pengumpulan individu tak langsung dan komunal langsung, yaitu dengan
memanfaatkan gerobak dan becak sampah berukuran 1,5 m3 menuju ke TPS (Tempat
Penampungan Sementara). Pola pengumpulan dan pengangkutan dilakukan dengan
berbagai cara, yaitu: pewadahan, pengumpulan, dan pemindahan.
1. Pewadahan
Pewadahan sampah adalah kegiatan yang dilakukan sebelum sampah yang telah
dikumpulkan dikirim dan dikelola lebih lanjut di TPA (Tempat Pemrosesan Akhir).
Lokasi dari tempat pewadahan ini juga diusahakan berada di tempat yang
terjangkau dan mudah ditemui oleh produsen sampah.
Tabel 3.10 Jumlah Bak Sampah Daerah Perumahan Tiap Kecamatan
NO.

KECAMATAN

JUMLAH BAK SAMPAH (UNIT)

Lampihong

Batu Mandi

40

Awayan

Tebing Tinggi

Paringin

155

Paringin Selatan

160

Juai

Halong

Sumber: Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Balangan, 2013

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

III - 10

LAPORAN PENDAHULUAN

Gambar 3.1 Bak Sampah di Kecamatan Paringin

a. Pewadahan di daerah Perumahan


Pelaksanaan pewadahan yang dilakukan pada daerah perumahan di Kabupaten
Balangan adalah dengan menggunakan pewadahan individu di masing-masing
rumah tangga. Umumnya daerah perkotaan, pewadahan yang terbuat dari karet
atau tong besi dan diletakkan di depan rumah, sedangkan di daerah kecamatan
lain warga masih membakar sampah.
b. Pewadahan di daerah komersial dan fasilitas pelayanan umum
Pelaksanaan pewadahan sampah yang dilakukan di daerah ini hampir sama
dengan pewadahan di daerah perumahan, yang membedakan adalah sampah
yang dihasilkan langsung dibuang ke TPS Komunal. Khusus pada area pasar
terdapat beberapa titik TPS khusus sampah pasar yang dikelola oleh petugas
kebersihan dari Badan Lingkungan Hidup.
Tabel 3.11 Jumlah Bak Sampah Daerah Komersial dan Fasilitas Umum
NO.

KECAMATAN

JUMLAH BAK SAMPAH (UNIT)

Lampihong

Batu Mandi

10

Awayan

Tebing Tinggi

Paringin

165

Paringin Selatan

185

Juai

Halong

Sumber: Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Balangan, 2013

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

III - 11

LAPORAN PENDAHULUAN

2. Sistem Pengumpulan Sampah


Pengumpulan sampah adalah kegiatan mengumpulkan sampah dari beberapa
sumber sampah lalu kemudian membawanya ke TPS (Tempat Penampungan
Sementara). Sistem pengumpulan sampah biasanya dilakukan dengan alat angkut
gerobak atau becak sampah.
Pengumpulan sampah pada daerah perumahan dilakukan oleh petugas kebersihan
dengan gerobak sampah yang berkapasitas 1.5 m3. Pengumpulan sampah
dilakukan tiap satu atau dua hari sekali dengan menggunakan gerobak sampah dan
biasanya dilakukan tiap pagi hari sekitar pukul 06.00 WITA.
Tabel 3.12 Daftar Alat Pengumpul Sampah yang Beroperasi Tiap Kecamatan
NO.

KECAMATAN

JUMLAH ALAT (UNIT)


GEROBAK SAMPAH

BECAK SAMPAH

MOTOR SAMPAH

Lampihong

Batu Mandi

Awayan

Tebing Tinggi

Paringin

13

Paringin Selatan

12

Juai

Halong

Sumber: Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Balangan, 2013

Gambar 3.2 Gerobak Sampah di Kecamatan Paringin

3. Sistem Pemindahan dan pengangkutan Sampah


Pemindahan adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk membantu proses
pengumpulan dan pengangkutan sampah untuk dibawa ke TPA (Tempat
Pemrosesan Akhir). Tipe pemindahan dipengaruhi oleh cakupan pelayanan,

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

III - 12

LAPORAN PENDAHULUAN

kapasitas, dan jenis yang digunakan. Sebagian besar alat untuk pemindahan
menggunakan container atau transfer depo.
Proses pengangkutan sampah sangat dipengaruhi oleh pola jaringan jalan yang
dilalui dan jangkauan pelayanan alat pengankutan tersebut. Pola pengangkutan
sampah di Kabupaten Balangan dilakukan dengan dua cara yaitu sistem
pemindahan (transfer depo) dan pengangkutan dengan sistem pengosongan
container. Pemindahan dan Pengangkutan Sampah dari daerah Komersial dan
Fasilitas Umum adalah sebagai berikut.
a. Pemindahan
Pemindahan sampah pada daerah ini dilakukan oleh petugas kebersihan. Proses
pemindahan sampah ke TPA menggunakan TPS yang menjadi satu bagian
dengan transfer depo dan sarananya berupa container dengan kapasitas 6m3.
Sampah yang dihasilkan terdiri dari sampah organik dan non organik. Hanya pada
area pasar saja yang sampahnya hampir seluruhnya sampah organik.
b. Pengangkutan
Pengangkutan sampah dilakukan oleh petugas dari Badan Lingkungan Hidup dan
Kebersihan untuk dibawa ke TPA Lampihong. Dilakukan dengan cara diangkut
dengan menggunakan truk container yang apabila sudah penuh diangkut dan
ditempatkan kembali container yang masih kosong.
C. Tempat Penampungan Sementara (TPS)
TPS (Tempat Pemrosesan Sementara) adalah tempat pembuangan sampah sebelum
dibuang pada TPA (Tempat Pemrosesan Akhir).

Terdapat 3 (tiga) jenis TPS yang

terdapat di Kabupaten Balangan yaitu TPS Permanen, TPS Kayu, dan TPS 3R. TPS
Permanen merupakan bentuk TPS yang tidak dapat dipindah karena terbuat dari batu
bata dan semen dan menempel di tanah. TPS ini biasanya terbagi lagi menjadi dua jenis
yaitu terbuka dan tertutup. TPS Kayu adalah TPS yang dapat dipindah-pindah dan
terbuat dari kayu seperti namanya. TPS ini biasanya berbentuk mirip seperti bak sampah
dan berada di tempat-tempat komersil atau fasum. Sedangkan untuk TPS 3R sendiri
merupakan TPS yang berfungsi untuk pengolahan sampah-sampah dengan metode 3R
sebelum akhirnya dibawa ke TPA.

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

III - 13

LAPORAN PENDAHULUAN

III - 14

Gambar 3.3 Peta Persebaran TPS di wilayah Kecamatan Paringin dan Paringin Selatan

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

LAPORAN PENDAHULUAN

III - 15

Gambar 3.4 Peta Persebaran TPS di wilayah Kecamatan Batu Mandi

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

LAPORAN PE NDAHULUAN

III - 16

Tabel 3.13 Jumlah TPS Tiap Kecamatan


NO.

JENIS TPS (UNIT)

KECAMATAN

TPS PERMANEN

TPS KAYU

TPS 3R

Lampihong

Batu Mandi

Awayan

Tebing Tinggi

Paringin

23

Paringin Selatan

Juai

Halong

Sumber: Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Balangan, 2013

D. Sistem Pengolahan Sampah


Sampai saat ini sistem pengolahan sampah berupa kegiatan 3R (reduce, reuse, dan
recycle) masih belum dilaksanakan hampir di semua TPS yang ada di Kabupaten
Balangan. Kegiatan composting yang dilakukan masih tersebar

di tempat-tempat

kegiatan atau aktivitas berlangsung, seperti sekolah (SMK PP N Paringin), perkantoran


(Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan), dan juga perumahan. Berikut merupakan
data kegiatan 3R pada lokasi-lokasi di Kabupaten Balangan.
Tabel 3.14 Lokasi Kegiatan 3R di Kabupaten Balangan
LOKASI
Perumahan

ALAMAT

Perkantoran

RT 07 Paringin
Timur, RT 03
Paringin Kota, RT
14 Batu Piring
BLHK

Sekolah

SMK PP N Paringin

JENIS PEMANFAATAN
SAMPAH
Kompos cair

Kompos cair dan bank


sampah
Kompos cair, kompos
padat, kerajinan daur
ulang, dan bank
sampah

VOLUME YANG
DIOLAH
(m3/Bulan)
0.5

3.5
4

PELAKSANA
Pokmas
(setiap 2
bulan)
Karyawan
BLHK
Guru dan
siswa

Sumber: Daftar Isian Non Fisik Adipura kabupaten Balangan 2013-2014

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

LAPORAN PE NDAHULUAN

Gambar 3.5 Kegiatan 3R di BLHK Kabupaten Balangan

E. Jenis dan Karakteristik Kendaraan Pengangkutan Sampah


Sarana pengangkut sampah dari data Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan
untuk pengangkutan sampah dari TPS ke TPA adalah dengan menggunakan sarana
berupa gerobak sampah , becak sampah, motor sampah, dump truck, arm roll, danpick
up. Data jumlah kendaraan angkutan sampah di Kabupaten Balangan pada tabel
berikut.
Tabel 3.15 Sarana Pengangkutan Sampah Kabupaten Balangan
NO.

KECAMATAN

1
2
3
4
5
6
7
8

Lampihong
Batu Mandi
Awayan
Tebing Tinggi
Paringin
Paringin Selatan
Juai
Halong

GEROBAK
SAMPAH
13
12
-

JUMLAH ALAT ANGKUT (UNIT)


BECAK
MOTOR
DUMP
SAMPAH
SAMPAH
TRUCK
1
3
4
1
1
-

ARM
ROLL
1
1
-

PICK
UP
1
-

Sumber: Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Balangan, 2013

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

III - 17

LAPORAN PE NDAHULUAN

Gambar 3.6 Truk Pengangkut Sampah di Kecamatan Paringin

F. Tempat Pemrosesan Akhir (TPA)


Kabupaten Balangan memiliki satu buah Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang
berlokasi di Desa Batu Merah, Kecamatan Lampihong yang berjarak 15 km dari Kota
Paringin. Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) tersebut seluas 8,1 hektar dengan jarak TPA
dengan permukiman terdekat adalah 0,5 km dan dengan sungai/badan air terdekat
adalah 0,75 km. Dalam penggunaannya, TPA yang memiliki kapasitas ebesar 50,60 m3
tersebut hanya 7 hektar yang terpakai dengan rincian:
1. Seluas 4 Ha, dimana sampah lama masih belum dikubur, tetapi direncanakan akan
mulai dikubur dengan bantuan CSR PT Adaro Indonesia, sedangkan untuk sampah
baru dikubur dengan membangun instalasi penangkapan gas metan.
2. Seluas 3 Ha, dimana dalam proses Pembangunan TPA dengan Sistem Control Landfill
yang merupakan bantuan dari Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian
Pekerjaan Umum.
Saat ini Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) masih menggunakan sistem open dumping,
yaitu menutup sampah dengan lapisan tanah pada lubang yang sudah disediakan tanpa
adanya sistem linier atau saluran lindi dan pengolahannya. Diperlukan sistem barrier
(buffer zone) di sekeliling TPA untuk melindungi air tanah dan mengurangi efek bau dan
kebisingan.
Berikut merupakan peta persebaran TPA dan jalur pengangkutan sampah di
Kabupaten Balangan.

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

III - 18

LAPORAN PENDAHULUAN

III - 19

Gambar 3.7 Peta Persebaran TPA dan Jalur Pengangkutan Sampah di Kabupaten Balangan

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

LAPORAN PENDAHULUAN

Berikut merupakan sarana yang ada pada Tempat Pemrosesan Akhir (TPA)
Kabupaten Balangan.
Tabel 3.16 Sarana Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Kabupaten Balangan
JUMLAH

KAPASITAS PER UNIT


(M3)

RITASI

Gerobak sampah

25

1,125

2 kali

Becak sampah

1,125

2 kali

Dump truck

2 kali

Arm roll kecil

2 kali

Traler container

2 kali

Motor sampah

1,5

>2 kali

Mobil operasional kebersihan pick-up

2,5

2 kali

JENIS ALAT ANGKUT

Sumber: Daftar Isian Non Fisik Adipura kabupaten Balangan 2013-2014

3.2.2

Aspek Pembiayaan
Berdasarkan data dari Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah

Kabupaten Balangan dijelaskan tentang retribusi jasa umum dimana terdiri dari:
1. Retribusi pelayanan kesehatan pada puspkesmas.
2. Retribusi pelayanan persampahan/kebersihan.
3. Retribusi penggantian biaya KTP dan Akte Catatan Sipil.
4. Retribusi pelayanan parker di tepi jalan umum.
5. Retribusi pelayanan pasar.
6. Retribusi pengujian kendaraan bermotor.
7. Retribusi pelayanan kesehatan pada RSU.
Dalam Peraturan Daerah Kabupaten Balangan Nomor 12 tentang Retribusi
Pelayanan

Persampahan/Kebersihan,

retribusi

pelayanan

persampahan/kebersihan

termasuk golongan retrbusi jasa umum, dimana tingkat penggunaan jasa diukur
berdasarkan jenis pelayanan, fasilitas, dan volume sampah yang dibuang. Berikut
merupakan tarif retribusi yang ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Balangan.
Tabel 3.17 Tarif Retribusi Persampahan/Kebersihan Kabupaten Balangan
KLASIFIKASI
Rumah Hunian
1. Rumah dengan daya 100-900 VA
2. Rumah dengan daya 1300-2200 VA
3. Rumah dengan daya 2200 VA ke atas
Rumah + Toko (Ruko)
1. Satu lantai

TARIF
(RUPIAH)

SATUAN

1.000
2.000
3.000

Bulan
Bulan
Bulan

15.000

Bulan

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

III - 20

LAPORAN PENDAHULUAN

KLASIFIKASI
2. Dua lantai
3. Tiga lantai
Asrama/Dormitori
1. Skala kecil
2. Sedang
3. Besar
Gudang
1. Skala kecil
2. Sedang
3. Besar
Tempat Usaha/kegiatan Berbentuk Profit
1. Toko pada pasar lantai I
2. Toko pada pasar lantai II
3. Toko pada pasar lantai III
4. Meja sayur/ikan/buah
5. Pedagang bertempat setiap hari/pujasera
6. Kios/los dalam pasar
7. Kios pinggir jalan
8. Kios gerobak
9. Emperan
10. Swalayan standar/mini market
11. Swalayan menengah
12. Swalayan besar
13. Variasei alat kendaraan bermotor
14. Bengkel kendaraan bermotor roda 2 skala kecil
15. Bengkel kendaraan bermotor roda 2 skala sedang
16. Bengkel resmi pabrikan kendaraan bermotor roda 2
17. Bengkel kendaraan bermotor roda 4 skala kecil
18. Bengkel kendaraan bermotor roda 4 skala sedang
19. Bengkel resmi pabrikan kendaraan bermotor roda 4
20. Warung kecil
21. Warung sedang
22. Rumah makan skala kecil
23. Rumah makan skala sedang
24. Rumah makan skala besar
25. Restoran standar
26. Restoran besar
27. Restoran bertaraf nasional
28. Catering resmi berbadan usaha
29. Tempat wisata/rekreaasi yang dikelola swasta
30. Tempat hiburan karaoke
31. Bioskop
32. Cinema mini studio
33. Pertunjukan/showbiz skala kecil
34. Pertunjukkan/ showbiz skala sedang
35. Pertunjukan/showbiz skala besar
36. Arena permaian anak anak

TARIF
(RUPIAH)
25.000
35.000

SATUAN
Bulan
Bulan

100.000
300.000
700.000

Bulan
Bulan
Bulan

100.000
200.000
300.000

Bulan
Bulan
Bulan

30.000
25.000
15.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
1.000
150.000
500.000
1.000.000
300.000
30.000
60.000
100.000
150.000
300.000
500.000
30.000
50.000
60.000
120.000
250.000
200.000
300.000
750.000
200.000
1.000.000
500.000
150.000
100.000
100.000
250.000
1.000.000
300.000

Bulan
Bulan
Bulan
Hari
Hari
Hari
Hari
Hari
Hari
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Kegiatan
Kegiatan
Kegiatan
Bulan

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

III - 21

LAPORAN PENDAHULUAN

KLASIFIKASI
37. Kolam pemancingan/wisata kuliner
38. Golf club
39. Gedung olahraga (Non Pemerintah)
40. Hotel bintang 1
41. Hotel bintang 2
42. Hotel bintang 3
43. Hotel melati 1
44. Hotel melati 2
45. Hotel melati 3
46. Cottage
47. Losmen/penginapan
48. Villa
49. Industri/pabrik skala kecil
50. Industri/pabrik skala menengah
51. Industri/pabrik skala besar
52. Pencucian motor roda 2
53. Pencucian motor roda 4
54. Pertukangan/Meubel
Tempat/sarana kesehatan non pemerintah
1. Apotek standar
2. Apotek besar
3. Rumah sakit kelas A
4. Rumah sakit kelas B
5. Rumah sakit kelas C
6. Balai pengobatan
7. Klinik bersalin kelas C
8. Klinik bersalin kelas B
9. Klinik bersalin kelas A
10. Laboratorium
11. Praktek dokter umum dan gigi
12. Praktek dokter spesialis
Perkantoran swasta
1. Skala kecil
2. Sedang
3. Besar
Pendidikan Swasta
1. Skala kecil
2. Sedang
3. Besar
Terminal
1. Angkutan umum dalam kota
2. Bus antar kota
Pelabuhan swasta
1. Skala kecil
2. Sedang
3. Besar
Insidentil

TARIF
(RUPIAH)
300.000
1.000.000
300.000
1.000.000
1.500.000
2.000.000
150.000
300.000
400.000
1.000.000
150.000
300.000
200.000
500.000
1.000.000
50.000
100.000
50.000

SATUAN
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan

30.000
60.000
250.000
500.000
1.000.000
30.000
100.000
150.000
500.000
60.000
30.000
50.000

Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan

60.000
120.000
500.000

Bulan
Bulan
Bulan

10.000
20.000
100.000

Bulan
Bulan
Bulan

30.000
60.000

Bulan
Bulan

500.000
1.500.000
3.000.000

Bulan
Bulan
Bulan

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

III - 22

LAPORAN PENDAHULUAN

KLASIFIKASI
1.
2.
3.

Domestik/khusus jasa
Sisa bangunan
Pembuangan sampah ke TPA dengan alat angkut sendiri

TARIF
(RUPIAH)
75.000
100.000
5.000

SATUAN
Kegiatan
Rit
3
M

Sumber: Peraturan Daerah Kabupaten Balangan Nomor 12 Tahun 2012

Berdasarkan data dari Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan (BLHK) Kabupaten
Balangan terdapat rincian anggaran untuk pengelolaan sampah dan RTH di Kabupaten
Balangan seperti pada tabel berikut.
Tabel 3.18 Anggaran Pengelolaan Sampah dan RTH
JUMLAH ANGGARAN
NO.
1.
2.

JUMLAH ANGGARAN
APBD total
Lembaga pengelola
lingkungan hidup.
APBD Pengelola Kebersihan
Dana CSR Pengelolaan
Sampah
APBD Pengelola RTH.
Dana CSR Pengelolaan RTH
Pendapatan asli daerah
(PAD)

3.
4.
5.
6.
7.

TAHUN 2012

TAHUN 2013

PROSENTASE
(TAHUN
TERAKHIR)

720.252.878.681,26

720.817.062.439,80

2.732.211.300

12.492.329.500

1,73 %

776.971.800

3.413.545.300

0,47 %

450.000.000
648.545.800

4.117.413.000
750.000.000

25.505.575.884,26

91.783.740.362,80

0,57 %

Sumber: Daftar Isian Non Fisik Adipura Kabupaten Balangan 2013-2014

3.2.3

Aspek Hukum dan Kelembagaan

A. Pemangku Kepentingan (Stakeholders) dalam Pengelolaan Sampah & Kebersihan


Kelompok pemangku kepentingan (stakeholders) yang terlibat dalam upaya
pengelolaan persampahan di Kabupaten Balangan dapat diidentifikasi sebagai berikut.
Tabel 3.19 Daftar Pemangku Kepentingan dalam Pengelolaan Sistem Persampahan
PEMANGKU KEPENTINGAN (STAKEHOLDERS)
PEMERINTAH
SWASTA
MASYARAKAT
KAB./KOTA

FUNGSI
PERENCANAAN
Menyusun target pengelolaan sampah skala
kab/kota
Menyusun rencana program persampahan
domestik dalam rangka pencapaian target
Menyusun
rencana
angggaran
program
persampahan
domestik
dalam
rangka
pencapaian target
PENGADAAN SARANA
Menyediakan sarana pewadahan sampah di
sumber sampah

BLHK
BLHK
BLHK

BLHK

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

III - 23

LAPORAN PENDAHULUAN

FUNGSI
Membangun
sarana
pengumpulan
(pengumpulan dari sumber sampah ke TPS )
Menyediakan sarana Tempat Penampungan
Sementara (TPS)
Membangun sarana pengangkutan sampah dari
TPS ke Tempat Pembaungan Akhir (TPA)
Membangun sarana TPA
Menyediakan sarana komposting
PENGELOLAAN
Mengumpulkan sampah dari sumber ke TPS
Mengelola sampah di TPS
Mengangkut sampah dari TPS ke TPA
Melakukan pemilahan sampah*
Melakukan penarikan retribusi sampah
Memberikan izin usaha pengelolaan sampah
PENGATURAN DAN PEMBINAAN
Mengatur prosedur penyediaan layanan sampah
(jam pengangkutan, personil, peralatan, dll)
Melakukan sosialisasi peraturan, dan pembinaan
dalam hal pengelolaan sampah
Memberikan sanksi terhadap pelanggaran
pengelolaan sampah
Monitoring Dan Evaluasi
Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap
capaian target pengelolaan sampah skala
kab/kota
Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap
kapasitas infrastruktur sarana pengelolaan
persampahan
Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap
efektivitas layanan persampahan, dan atau
menampung serta mengelola keluhan atas
layanan persampahan

PEMANGKU KEPENTINGAN (STAKEHOLDERS)


PEMERINTAH
SWASTA
MASYARAKAT
KAB./KOTA
BLHK
BLHK
BLHK
BLHK & DPU
BLHK & DPU
BLHK
BLHK
BLHK
BLHK
BLHK
BLHK
BLHK
BLHK
Satpol PP

BLHK

BLHK

BLHK

Sumber: Buku Putih Sanitasi Kabupaten Balangan, 2013

Sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Balangan Nomor 3 Tahun 2008,


dijelaskan bahwa organisasi yang berwenang dalam pengelolaan sistem persampahan di
wilayah Kabupaten Balangan adalah BLHK (Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan).
Lebih jauh, bagian yang khusus menangani permasalahan kebersihan dan sampah dalam
SKPD BLHK adalah bidang kebersihan yang tugas dan kewenangan sebagai berikut:
1.

Bidang Kebersihan mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan penyusunan


program serta petunjuk teknis penyehatan lingkungan, pengelolaan kebersihan
lingkungan dan persampahan.

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

III - 24

LAPORAN PENDAHULUAN

2. Uraian tugas tersebut meliputi:


a. melaksanakan penyusunan rencana dan program kerja bidang kebersihan
sebagai pedoman pelaksanaan tugas;
b. merencanakan operasional, mengatur dan mengevaluasi pelaksanaan kegiatan
pembinaan dan pengembangan bidang kebersihan;
c. menyiapkan bahan pembinaan, pemantauan dan evaluasi kegiatan bidang
kebersihan;
d. menyusun rencana program dan melaksanakan kegiatan penyehatan lingkungan;
e. mengatur

dan

mengawasi

terselenggaranya

pembangunan,

rehabilitasi

peningkatan sarana dan prasarana penyehatan lingkungan dan persampahan;


f. mengoordinasikan dengan bidang lain di lingkungan Badan Lingkungan Hidup
dan Kebersihan sesuai dengan tugas bidangnya;
g. melaksanakan koordinasi dan kerja sama dengan bidang dan instansi terkait di
bidang pengelolan kebersihan;
h. membagi tugas dan kegiatan kepada bawahan sesuai dengan bidang tugasnya;
i. memberi petunjuk, arahan kepada bawahan dalam pelaksanan tugas sesuai
dengan petunjuk dan ketentuan yang berlaku;
j. memeriksa, mengontrol dan menilai hasil kerja bawahan agar sesuai dengan
rencana;
k. menilai prestasi kerja bawahan berdasarkan hasil kerja yang dicapai berdasarkan
ketentuan yang berlaku sebagai bahan peningkatan karier;
l. menyiapkan bahan dan mengolah laporan dalam berbagai bentuk sesuai sumber
data dan laporan bawahan kepada atasan sebagai bahan masukan serta
memelihara arsip;
m. memberikan saran, pertimbangan dan telaahan serta melaporkan hasil
pelaksanaan tugas sebagai bahan evaluasi dan informasi untuk kebijakan dan
petunjuk selanjutnya; dan
n. melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan sesuai dengan bidang tugas.
3. Bidang Kebersihan terdiri dari:
a. Sub Bidang Kebersihan Lingkungan dan Persampahan mempunyai tugas
melaksanakan
pengawasan
melaksanakan

perencanaan,
sarana

dan

kegiatan

prasarana

pengumpulan

dan

operasional,
kebersihan

pengolahan

pemeliharaan

lingkungan
serta

kota,

dan
dan

operasionalisasi

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

III - 25

LAPORAN PENDAHULUAN

penyelenggaraan penataan dan penanggulangan masalah persampahan mulai


dari TPS sampai TPA. Uraian tugas sub bidang ini meliputi:
1) Melaksanakan penyusunan rencana dan program kerja sebagai pedoman
pelaksanaan tugas;
2) Menyusun langkah kegiatan sub bidang berdasarkan rencana kerja tahunan
sebagai pedoman;
3) Melaksanakan pengelolaan, pemeliharaan, pengendalian dan pengawasan
kebersihan lingkungan kota/perkotaan;
4) Melaksanakan perencanaan pembangunan, rehabilitasi dan peningkatan
sarana dan prasarana kebersihan;
5) Melaksanakan penyimpanan, pemeliharaan, perawatan sarana/peralatan
kebersihan;
6) Melaksanakan pengelolaan, pemeliharaan, pengendalian dan pengawasan
sarana dan prasarana persampahan mulai dari TPS sampai dengan ke TPA;
7) Melaksanakan

penyimpanan,

pemeliharaan/perawatan

operasional

persampahan;
8) Melaksanakan pengendalian dan pengawasan proses sampah di tempat
pembuangan akhir (TPA);
9) Membagi tugas dan kegiatan kepada bawahan sesuai dengan bidang
tugasnya;
10) Memberi petunjuk dan arahan kepada bawahan dalam pelaksanaan tugas
sesuai dengan petunjuk dan ketentuan yang berlaku;
11) Memeriksa, mengontrol dan menilai hasil kerja bawahan agar sesuai dengan
rencana;
12) Menilai prestasi kerja bawahan berdasarkan hasil kerja yang dicapai
berdasarkan ketentuan yang berlaku sebagai bahan peningkatan karier;
13) Menyiapkan bahan dan mengolah laporan dalam berbagai bentuk sesuai
sumber data dan laporan bawahan kepada atasan sebagai bahan masukan
serta memelihara arsip;
14) Memberikan saran, pertimbangan dan telaahan serta melaporkan hasil
pelaksanaan tugas sebagai bahan evaluasi dan informasi untuk kebijakan M
tugas lain yang diberikan oleh atasan sesuai bidang tugas.

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

III - 26

LAPORAN PENDAHULUAN

15) Sub Bidang Kebersihan Pasar dan Drainase mempunyai tugas melaksanakan
kegiatan pembinaan dan perumusan kebijakan teknis penataan, perawatan
dan pemeliharaan kebersihan pasar dan drainase lingkungan. Uraian tugas
nya meliputi:
16) Melaksanakan penyusunan rencana dan program kerja sebagai pedoman
pelaksanaan tugas;
17) Menyusun langkah kegiatan sub bidang berdasarkan rencana kerja tahunan
sebagai pedoman;
18) Menghimpun, mengolah dan menganalisa data penataan, perawatan dan
pemeliharaan kebersihan pasar dan drainase lingkungan;
19) Membina operasional dan mengatur pelaksanaan kegiatan dan perumusan
kebijakan teknis penataan, perawatan dan kebersihan pasar dan drainase
lingkungan;
20) Menyiapkan bahan penyusunan petunjuk teknis dan pembinaan penataan,
perawatan dan kebersihan pasar dan drainase lingkungan;
21) Melaksanakan peningkatan fungsi jaringan drainase lingkungan;
22) Melaksankan

evaluasi dan analisa pelaksanaan kegiatan penataan,

perawatan, dan pemeliharaan kebersihan pasar dan drainase lingkungan;


23) Menyiapkan bahan kerjasama dengan instansi terkait dalam perencanaan,
pengelolaan, penataan, perawatan pemeliharaan kebersihan pasar dan
drainase lingkungan;
24) Membagi tugas dan kegiatan kepada bawahan sesuai dengan bidang
tugasnya;
25) Memberi petunjuk dan arahan kepada bawahan dalam pelaksanaan tugas
sesuai dengan petunjuk dan ketentuan yang berlaku;
26) Memeriksa, mengontrol dan menilai hasil kerja bawahan agar sesuai dengan
rencana;
27) Menilai prestasi kerja bawahan berdasarkan hasil kerja yang dicapai
berdasarkan ketentuan yang berlaku sebagai bahan peningkatan karier;
28) Menyiapkan bahan dan mengolah laporan dalam berbagai bentuk sesuai
sumber data dan laporan bawahan kepada atasan sebagai bahan masukan
serta memelihara arsip;

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

III - 27

LAPORAN PENDAHULUAN

29) Memberikan saran, pertimbangan dan telaahan serta melaporkan hasil


pelaksanaan tugas sebagai bahan evaluasi dan informasi untuk kebijakan dan
petunjuk selanjutnya; dan
30) Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan sesuai dengan bidang
tugas.
b. UPT mempunyai tugas untuk melaksanakan tugas sebagian tugas pokok Badan
Lingkungan Hidup dan Kebersihan yang mempunyai wilayah kerja 1 (satu) atau
beberapa kecamatan. UPT mempunyai fungsi perencanaan teknis operasional,
pelaksanaan teknis fungsional dan evaluasi perencanaan dan pelaksanaan teknis
fungsional. UPT dipimpin seorang Kepala UPT yang berada di bawah dan
bertanggung

jawab

kepada

Kepala

Badan

dan

secara

operasional

dikoordinasikan oleh Camat. UPT terdiri dari Sub Bagian Tata Usaha dan
kelompok jabatan fungsional yang dapat ditetapkan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

III - 28

LAPORAN AKHIR

III - 29L A P O R A N

PENDAHULUAN

III - 29

Gambar 3.8 Struktur Organisasi Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan Daerah Kabupaten Balangan

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

LAPORAN PENDAHULUAN

B. Sumber Daya Manusia


Sumber Daya Manusia (SDM) terdiri dari bentuk pelayanan persampahan dan juga
petugas kebersihan pengelola sampah. Aspek hukum dan kelembagaan dalam pelayanan
persampahan antara lain:
1.

Untuk efektifnya pelayanan persampahan, Pemerintah Daerah dapat menunjuk


Pemerintah Kelurahan dan Pemerintah Daerah dapat menunjuk Pemerintahan
Kelurahan dan Pemerintahan Desa untuk pelayanan persampahan yang tidak dapat
dilalui mobil angkutan persampahan.

2.

Pelayanan persampahan sebagaimana dimaksud dilakukan melalui penyediaan


peralatan persampahan (TPS, gerobak pengangkut dan sejenisnya, sapu) oleh
Pemerintah.

3.

Penunjukan petugas sampah dilakukan oleh pemerintahan desa dan kelurahan.


Petugas kebersihan pengelola atau dapat disebut tenaga lepas harian memiliki

tugas antara lain:


1.

Menjaga, memelihara dan meningkatkan kebersihan, keindahan dan kenyamanan


Kota Paringin dan sekitarnya.

2.

Mengelola dan menangani masalah sampah, baik sampah rumah tangga, sampah
jalanan maupun sampah pasar dalam rangka mencipatakan dan memelihara
kebersihan, keindahan dan kenyamanan kota.

3.

Menangani pembuangan sampah, baik dri TPS ke TPA maupun proses pemusnahan
akhir di TPA.
Dalam pengaturan pelaksanaan penanganan sampah, terdapat beberapa aturan

hukum yang bertujuan untuk mempertegas teknis dan aturan pelaksanaan dalam
pengelolaan sampah. Berikut merupakan beberapa peraturan yang memayungi kegiatan
pengelolaan sampah di Kabupaten Balangan.
1.

Peraturan Daerah Nomor 5 tahun 2005 tentang Pembentukan, Organisasi, dan Tata
Kerja Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Balangan.

2.

Keputusan Kepala Kantor Kebersihan dan Tata Kota Kabupaten Balangan Nomor:
650/023/KABERTAKO-BLG/2007 tentang Penetapan honorarium (upah tenaga kerja
lepas harian) Petugas Kebersihan Kabupaten Balangan.

3.

Keputusan Bupati Balangan Nomor 40 Tahun 2006 Tentang Pelimpahan


Kewenangan Pemungutan Sampah di Kabupaten Balangan.

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

III - 30

LAPORAN PENDAHULUAN

4.

Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2006 tentang Kabupaten Balangan tentang


retribusi pelayanan persampahan/kebersihan.

3.2.4

Aspek Peran Serta Masyarakat


Peran serta masyarakat dalam hal pengelolaan sampah tergolong masih rendah. Hal

tersebut dapat dilihat dari kebiasaan masyarakat dalam pengelolaan sampah. masyarakat di
Kabupaten Balangan masih membuang sampah secara sembarangan, tidak melakukan
pemilahan sampah, dan lebih memilih untuk membakar sampah. Dalam hal ini masyarakat
tidak dapat disalahkan sepenuhnya, kebiasaan buruk seperti itu juga terjadi karena masih
kurangnya pelayanan, dan keterbatasan sumber daya yang dimiliki oleh pemerintah daerah.
Pengolahan sampah berupa komposting dan pemilahan sampah pun masih terpusat di
beberapa tempat pusat kegiatan atau aktivitas, seperti di sekolah, perkantoran dan juga
beberapa kelompok masyarakat di daerah perumahan, tidak menyeluruh ke tiap kecamatan
di Kabupaten Balangan.
Bank Sampah merupakan sebuah lembaga berbentuk koperasi yang didirikan untuk
membina, melatih, mendampingi sekaligus membeli dan memasarkan hasil dari kegiatan
pengelolaan sampah demi mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan. Di Kabupaten
Balangan sendiri sudah ada 4 Bank Sampah yang telah berdiri yaitu di Kantor Badan
Lingkungan Hidup dan Kebersihan (BLHK) Daerah Kabupaten Balangan, SMK PP N Paringin,
SMPN 1 Paringin, dan SMPN 4 Paringin. Meskipun begitu partisipasi masyarakat untuk
mengikuti bank sampah ini masih kurang, terbukti keberadaan bank sampah yang telah
berdiri hanya ada di sekolah-sekolah, juga di kantor dinas BLHK. Masih belum ada program
bank sampah terpusat yang dalam melayani tiap kecamatan di seluruh Kabupaten
Balangan.

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

III - 31

LAPORAN PENDAHULUAN

Contents
3.1

3.2

GAMBARAN UMUM KABUPATEN BALANGAN ............................................................................. 1


3.1.1
Wilayah Administrasi Kabupaten Balangan ..................................................................... 1
3.1.2
Fisik Dasar .......................................................................................................................... 2
A. Kondisi iklim ............................................................................................................................... 2
B. Topografi dan Kelerengan ......................................................................................................... 2
C. Hidrologi dan Hidrogeologi ....................................................................................................... 3
D. Geologi dan Jenis Tanah ............................................................................................................ 5
3.1.3
Kondisi Penggunaan Lahan .............................................................................................. 6
3.1.4
Kondisi Kependudukan ..................................................................................................... 7
A. Jumlah Penduduk....................................................................................................................... 7
B. Tenaga Kerja ............................................................................................................................... 8
GAMBARAN UMUM SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH KABUPATEN BALANGAN ..................... 8
3.2.1
Aspek Teknis ...................................................................................................................... 8
A. Sumber, Karakteristik, dan Volume Sampah ............................................................................ 9
B. Pengumpulan dan Pengangkutan Sampah ............................................................................ 10
C. Tempat Penampungan Sementara (TPS) ................................................................................13
D. Sistem Pengolahan Sampah .................................................................................................... 16
E. Jenis dan Karakteristik Kendaraan Pengangkutan Sampah ...................................................17
F. Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) ............................................................................................ 18
3.2.2
Aspek Pembiayaan .......................................................................................................... 20
3.2.3
Aspek Hukum dan Kelembagaan.................................................................................... 23
A. Pemangku Kepentingan (Stakeholders) dalam Pengelolaan Sampah & Kebersihan ........... 23
B. Sumber Daya Manusia ............................................................................................................. 30
3.2.4
Aspek Peran Serta Masyarakat ........................................................................................31

Tabel 3.1 Kondisi Administratif Kabupaten Balangan ................................................................................ 1


Tabel 3.2 Curah Hujan dan Hari Hujan Menurut Stasiun Pengamatan ...................................................... 2
Tabel 3.3 Ketinggian Wilayah Tiap Kecamatan (dalam Ha) ....................................................................... 2
Tabel 3.4 Kondisi Wilayah Kabupaten Balangan Menurut Kemiringan Lahan ......................................... 3
Tabel 3.5 Luas Wilayah Kabupaten Balangan Berdasarkan Jenis Penggunaan Lahan ............................. 7
Tabel 3.6 Jumlah Penduduk Kabupaten Balangan Tahun 2012 ................................................................. 7
Tabel 3.7 Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas Menurut Jenis Kegiatan Utama..................................... 8
Tabel 3.8 Timbulan Sampah berdasarkan Tempat Timbulan Sampah ...................................................... 9
Tabel 3.9 Timbulan Sampah bersasarkan Jenis Komponen Sampah ........................................................ 9
Tabel 3.10 Jumlah Bak Sampah Daerah Perumahan Tiap Kecamatan .................................................... 10
Tabel 3.11 Jumlah Bak Sampah Daerah Komersial dan Fasilitas Umum ................................................... 11
Tabel 3.12 Daftar Alat Pengumpul Sampah yang Beroperasi Tiap Kecamatan ........................................12
Tabel 3.13 Jumlah TPS Tiap Kecamatan .................................................................................................... 16
Tabel 3.14 Lokasi Kegiatan 3R di Kabupaten Balangan............................................................................ 16
Tabel 3.15 Sarana Pengangkutan Sampah Kabupaten Balangan .............................................................17
Tabel 3.16 Sarana Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Kabupaten Balangan ............................................ 20
Tabel 3.17 Tarif Retribusi Persampahan/Kebersihan Kabupaten Balangan ............................................ 20
Tabel 3.18 Anggaran Pengelolaan Sampah dan RTH ............................................................................... 23
Tabel 3.19 Daftar Pemangku Kepentingan dalam Pengelolaan Sistem Persampahan .......................... 23
Gambar 3.1 Bak Sampah di Kecamatan Paringin ....................................................................................... 11
Gambar 3.2 Gerobak Sampah di Kecamatan Paringin ..............................................................................12
Gambar 3.3 Peta Persebaran TPS di wilayah Kecamatan Paringin dan Paringin Selatan ....................... 14
Gambar 3.4 Peta Persebaran TPS di wilayah Kecamatan Batu Mandi .....................................................15

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

III - 32

LAPORAN PENDAHULUAN

Gambar 3.5 Kegiatan 3R di BLHK Kabupaten Balangan ...........................................................................17


Gambar 3.6 Truk Pengangkut Sampah di Kecamatan Paringin ............................................................... 18
Gambar 3.7 Peta Persebaran TPA dan Jalur Pengangkutan Sampah di Kabupaten Balangan .............. 19
Gambar 3.8 Struktur Organisasi Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan Daerah Kabupaten
Balangan .................................................................................................................................................... 29

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

III - 33

LAPORAN PENDAHULUAN

4 METODOLOGI
4.1

PENDEKATAN STUDI
Pendekatan studi yang dipilih dalam pelaksanaan Review Penyusunan Master Plan

Persampahan Kabupaten Balangan merupakan pendekatan teknologi, pendekatan sosialekonomi-budaya, serta pendekatan institusional. Pendekatan-pendekatan tersebut cukup
penting

diperlukan

dalam

meningkatkan

aspek

teknis

operasional

pengelolaan

persampahan di wilayah Kabupaten Balangan, terutama karena upaya perwujudan dan


pengembangan pengelolaan sampah yang berkelanjutan tidak lepas dari peran serta atau
partisipasi aktif dari masyarakat dan pemerintah.

4.1.1

Pendekatan Teknologi
Prinsip dalam pendekatan teknologi adalah pemusatan perhatian pada alternatif-

alternatif cara-cara teknologi yang tepat dan dapat digunakan secara berhasil guna dan
berdaya guna dalam menangani persampahan dari sumber sampah sampai pemrosesan
akhir sampah (TPA). Pendekatan teknis dan operasional digunakan terkait dengan efisensi
yang

hendak

dicapai,

teknologi

yang

dapat

diterapkan,

dan

kemungkinan

pengembangannya. Berikut merupakan peninjauan aspek teknis dan operasional dalam


setiap tahap kegiatan pengelolaan sampah.
1. Sumber sampah
Tinjauan terhadap sumber penghasil sampah untuk mengetahui perkiraan jumlah
dan jenis sampah beserta komposisinya dari masing-masing sumber sampah.
2. Pewadahan sampah
Tinjauan terhadap sistem penampungan sampah sebelum diangkut ke TPS, model
dan bahan wadah sampah, serta kemudahan penanganannya pada saat sampah
dipindahkan dari wadah sampah ke sarana pengumpul sampah.
3. Pengumpulan sampah
Tinjauan terhadap ketersediaan sarana, sistem pengumpulan sampah, area
pelayanan dan jarak menuju TPS.

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

IV - 1

LAPORAN PENDAHULUAN

4. Pemindahan dan pengangkutan sampah


a. Pemindahan,

meliputi: sarana penampungan sementara

dan

kapasitas

penampungan.
b. Pengangkutan sampah, meliputi: jumlah, kondisi, jenis dan kapasitas kendaraan
pengangkut, zona pelayanan, jarak ke TPA, serta ritasi.
5. Pengelolaan dan daur ulang sampah
Tinjauan terhadap teknik, peralatan, fasilitas, hasil daur ulang/konversi produk,
reduksi volume yang dicapai pada masing-masing sistem pengolahan, yang
memunculkan potensi ekonomi dari proses pengolahan dan daur ulang sampah.
6. Pemrosesan sampah akhir
Sistem pemrosesan akhir yang dilaksanakan seharusnya merupakan sistem
pembuangan sampah yang tidak bisa diolah, didaur ulang atau merupakan sisa dari
pengolahan yang tidak bisa dimanfaatkan lagi. Hal tersebut dikarenakan adanya
peningkatan jumlah sampah yang dihasilkan. Adanya penerapan sistem tersebut
diharapakan kondisi TPA yang saat ini dioperasikan dapat ditingkatkan umur
pakainya dan tidak menutup kemungkingan adanya peran masyarakat atau swasta
dalam pengelolaan TPA khususnya pengolahan sampah di TPA.

4.1.2

Pendekatan Kelembagaan/Institusional
Pendekatan kelembagaan/institusional dilakukan melalui mekanisme kerjasama

antar kelembagaan, baik kelembagaan pemerintah ataupun swasta yang akan ditempuh
dalam upaya penanganan sampah. Kegunaan pendekatan kelembagaan/institusional terkait
dengan pengelola yang bertanggung jawab terhadap kegiatan pengelolaan sampah pada
sarana dan prasarana pengelolaan sampah yang direncanakan untuk disediakan pada
wilayah Kabupaten Balangan.

4.1.3

Pendekatan Sosial-Ekonomi-Budaya
Dalam pendekatan sosial-ekonomi-budaya ini, peran serta masyarakat merupakan

faktor penting dalam aspek pembangunan berkelanjutan. Peran serta masyarakat dalam
pengelolaan sampah ini sangat penting selain karena sebagian besar volume sampah yang
dihasailkan adalah sampah rumah tangga, sehingga keberhasilan dari pengelolaan sampah
tidak hanya merupakan tanggung jawab pemerintah. Dalam pelaksanaannya, efektivitas
dalam aspek peran serta masyarakat dan swasta tersebut sangat erat dipengaruhi oleh

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

IV - 2

LAPORAN PENDAHULUAN

aspek pengaturan manajemen serta organisasi kelembagaan yang mengaturnya, dan tidak
terlepas dari tanggung jawab dan kewenangannya.

4.1.4

Kajian Kebijakan
Dalam Review Penyusunan Masterplan Persampahan di Kabupaten Balangan,

terdapat arahan pengelolaan persampahan berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten


Balangan Nomor 24 Tahun 2013 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Balangan,
antara lain:
a. Pengembangan jaringan prasarana persampahan
Pengembangan jaringan prasarana persampahan yang dimaksud berupa Tempat
Pemrosesan/Pengolahan Sampah Akhir (TPA) dengan cakupan pelayanan seluruh
wilayah Kabupaten Balangan. Selain itu juga direncanakan pengembangan Tempat
Pembuangan Akhir (TPA) yang dilakukan dengan menggunakan sistem sanitary
landfill atau dengan sistem control landfill, baik sampah domestik ataupun sampah
non domestik dengan pemantauan dan evaluasi secara berkala. Bagi pusat-pusat
permukiman dan pusat kegiatan di seluruh kawasan perkotaan Kabupaten Balangan
akan direncanakan untuk disediakan dan dikembangkan Tempat Pengumpulan
Sampah Sementara (TPS).
b.

Pengembangan tempat pengolahan sampah dengan konsep 3R (Reduce, Reuse &


Recycle).
1)

Reduce (R1) atau Pengurangan Volume Sampah


Reduce atau reduksi sampah merupakan upaya untuk mengurangi timbulan
sampah di lingkungan sumber dan bahkan dapat dilakukan sejak sebelum
sampah dihasilkan. Setiap sumber dapat melakukan upaya reduksi sampah
dengan cara merubah pola hidup konsumtif, yaitu perubahan kebiasaan
dari yang boros dan menghasilkan banyak smapah menjadi hemat/efisien
dan sedikit sampah. Namun diperlukan kesadaran dan kemauan masyarakat
untuk merubah perilaku tersebut. Dengan demikian, volume sampah dapat
dikurangi sebelum dibuang ke TPA. Sebagai contoh sebelum limbah kertas
digunakan kembali, biasanya dipak (dikemas) untuk mengurangi biaya
pembokaran ditempat pembuangan.

2) Reuse (R2) atau Penggunaan Kembali Sampah


Reuse berarti menggunakan kembali bahan atau material agar tidak menjadi
sampah (tanpa melalui proses pengolahan), seperti menggunakan kertas bolak

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

IV - 3

LAPORAN PENDAHULUAN

balik, menggunakan kembali botol bekas minuman untuk tempat air,


mengisi kaleng susu dengan susu refill, dan lain-lain. Bahan-bahan yang dapat
digunakankembali meliputi kertas, cardboard, plastik, gelas, logam, dan lainlain.
3)

Recycle (R3) atau Daur Ulang Sampah


Recycle adalah mendaur ulang suatu bahan yang sudah tidak berguna
(sampah) menjadi bahan lain setelah melalui proses pengolahan, seperti
mengolah kertas bekas menjadi bubur kertas dan kembali dicetak menjadi
kertas dengan kualitas sedikit lebih rendah, dan lain-lain.

4.2

METODOLOGI PELAKSANAAN
Pelaksanaan Review Penyusunan Masterplan Persampahan di Kabupaten Balangan

menggunakan metode deskriptif, yang digunakan untuk menjelaskan menjelaskan


permasalahan aktual secara sistematis, faktual dan akurat melalui deskripsi/penggambaran
kondisi pengelolaan sampah yang ada di wilayah kabupaten ini. Kemudian untuk teknik
analisa yang digunakan ini meliputi analisis kualitatif dan kuantitatif.
Analisis kuantitatif digunakan untuk menganalisa data-data yang berupa angka atau
frekwensi kejadian yang dapat dimanipulasikan secara matematis untuk menjelaskan
kondisi pada setiap tahap kegiatan pengelolaan sampah. Dalam tahapan tersebut, data
yang telah dianalisis kemudian diklasifikasikan menurut kriteria yang ada sesuai dengan
pedoman pengelolaan sampah. Dalam analisis kuantitatif tersebut juga diperhatikan
korelasi antara setiap aspek kegiatan dan faktor-faktor dominan yang mempengaruhi dalam
setiap aspek manajemen/pengelolaan sampah, yang digunakan sebagai dasar untuk
pembuatan perencanaan teknis pengelolaan persampahan. Sementara itu, analisa kualitatif
merupakan penunjang dalam memperoleh kesimpulan yang lebih baik. Analisis kualitatif ini
digunakan pada beberapa aspek yang tidak dapat dikuantitatifkan atau untuk data-data
yang bersifat observatif yang perlu diinterprestasikan/diolah terlebih dahulu.
Secara umum, dalam penyusunan perencanaan masterplan persampahan ini
terdapat 4 (empat) tahapan kegiatan dimulai dari persiapan, survei untuk pengumpulan
data, analisa dan rencana yang dapat diuraikan sebagai berikut.

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

IV - 4

LAPORAN PENDAHULUAN

4.2.1

Tahap Persiapan
Dalam tahapan persiapan dilakukan penyusunan metode pelaksanaan pekerjaan,

rencana kerja, persiapan teknis dan administrasi, serta penyiapan materi studi pengelolaan
persampahan yang telah ada serta literatur penunjang. Rencana kerja disusun berdasarkan
target pencapaian hasil tiap tahap kegiatan. Persiapan administrasi berupa surat ijin survei
dan penyiapan tabulasi data yang dibutuhkan serta daftar pertanyaan kepada instansi
terkait, masyarakat dan pihak lainnya.

4.2.2

Tahap Survei dan Pendataan


Pada tahap ini dilakukan survei dan pendataan melalui metode pengamatan di

lapangan dan instansi terkait. Dilakukan pengambilan data eksisting maupun rencanarencana yang terkait dengan manajemen pengelolaan sampah, yang dilakukan pada
masing-masing kecamatan secara rinci untuk mendapatkan gambaran yang jelas dan akurat
terkait pengelolaan sampah beserta masalah-masalah pengelolaan persampahan yang
dihadapi. Berikut merupakan beberapa data yang digunakan sebagai acuan penyusunan
Masterplan Persampahan Kabupaten Balangan.
1.

Sistem pengelolaan sampah eksisting, dimulai dari pewadahan sampai dengan


pemrosesan akhir sampah di TPA beserta permasalahan dan kendalanya.

2. Data dan informasi yang terkait dengan aspek kelembagaan, pengaturan/hukum,


pembiayaan dan peran serta masyarakat di Kabupaten Balangan dalam upaya
penanganan dan pengelolaan sampah.
3. Kondisi sosial ekonomi dan budaya masyarakat di Kabupaten Balangan terkait
dengan pola penanganan sampah lingkup rumah tangga.
4. Volume timbulan sampah/kapita/hari dan komposisi sampah Jumlah, perkembangan
penduduk dan tingkata kepadatan atau penyebaran permukiman penduduk dan
fasilitas lainnya.
5. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Balangan beserta rencana rinci
lainnya meliputi Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kawasan Perkotaan pada
masing-masing kecamatan yang ada di wilayah Kabupaten Balangan.
Berikut merupakan data-data yang harus dikumpulkan baik secara primer maupun
sekunder maupun metode analisisnya dalam Review Penyusunan Masterplan Persampahan
Kabupaten Balangan.

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

IV - 5

LAPORAN PENDAHULUAN

1.

Aspek Teknis
Data dan informasi yang dibutuhkan:

a. Data sarana dan prasarana penanganan dan pengelolaan sampah, meliputi:


jumlah, status kepemilikan, konstruksi, kapasitas serta kondisi-nya.

b. Data atau informasi sumber dan timbulan berupa komposisi sampah, besar
timbulan sampah dan persen pelayanan eksisting dan/atau peta pelayanan
persampahan.

c. Kondisi pewadahan sampah diperlukan tambahan data atau informasi berupa


jenis konstruksi wadah dan kepemilikannya.

d. Kondisi pengumpulan sampah diperlukan tambahan data atau informasi berupa


jumlah ritasi pengumpulan dari wadah ke TPS, lama dan jarak-nya.

e. Kondisi penampungan sementara sampah diperlukan data atau informasi berupa


TPS

(Tempat

Pengumpulan

Sementara

Sampah)

eksisting

dan

peta

persebarannya.

f. Kondisi pengangkutan sampah diperlukan tambahan data atau informasi berupa


rute pengangkutan, jumlah ritasi per hari, jarak tempuh dari TPS menuju TPA.

g. Kondisi TPA (Tempat Pengumpulan Akhir Sampah) diperlukan tambahan data


atau informasi berupa sistem penanganan dan pengelolaan sampah, data
kendaraan pengangkut sampah tiap hari yang masuk ke TPA, kemudian data
teknis dari TPA yang ada di Kabupaten Balangan.

h. Data dan informasi permasalahan dan kendala eksisting yang diperoleh dari
kegiatan survey.
Metode analisa terkait aspek teknis ini meliputi:
a. Proyeksi timbulan sampah.
b. Analisa kecukupan sarana dan prasarana pengelolaan sampah eksisting
didasarkan pada standar pelayanan minimal dan hasil proyeksi.
c. Analisa keefektifan ritasi pengumpulan dan pengangkutan sampah.
d. Analisa khusus terkait penyediaan sarana dan prasarana TPA berdasar SNI.
e. Analisis kondisi dan permasalahan eksisting.
2. Aspek Hukum dan Kelembagaan
Data dan informasi yang dibutuhkan:
a. Perda (Peraturan Daerah) yang terkait dengan upaya penanganan dan
pengelolaan sampah yang ada di Kabupaten Balangan.

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

IV - 6

LAPORAN PENDAHULUAN

b. Struktur Organisasi atau Instansi yang berwenang dalam penanganan dan


pengelolaan sampah.
c. Pembagian Kewenangan dalam penanganan dan pengelolaan sampah.
d. Permasalahan dan potensi dari kondisi eksisting.
Metode analisa terkait aspek hukum dan kelembagaan, meliputi:
a. Analisis kebijakan penanganan dan pengelolaan kebersihan Kabupaten Balangan.
b. Analisis kewenangan dan tanggung jawab pengelolaan sampah.
c. Analisis tata laksana dan personalia kebersihan.
d. Analisis kerjasama dengan pihak lain.
3. Aspek Pembiayaan dan Retribusi Sampah
Data yang dibutuhkan:
a. Data anggaran untuk pelaksanaan penanganan dan pengelolaan sampah.
b. Data retribusi eksisting, besar dan efisiensi terkait penanganan dan pengelolaan
sampah.
Metode analisa terkait aspek pembiayaan dan retribusi sampah, meliputi:
a. Analisis kemampuan pemerintah daerah untuk pendanaan/pembiayaan atas
penanganan dan pengelolaan sampah.
b. Analisis kelayakan retribusi pengelolaan sampah.
c. Analisis biaya operasional pengelolaan sampah.
d. Analisis manfaat ekonomi (business plan).
4. Aspek Peran Serta/Partisipasi Masyarakat
Data yang dibutuhkan:
a. Data penanganan dan pengelolaan sampah yang dilakukan oleh masyarakat
secara mandiri.
b. Data sarana dan prasarana persampahan yang disediakan masyarakat
c. Dengan wawancara untuk mengetahui pola berfikir masyarakat terhadap
pengelolaan persampahan mandiri-untuk mengetahui potensi pengelolaan
persampahan mandiri
Metode analisa terkait dengan aspek peran serta/partisipasi masyarakat, meliputi
a. Analisa kepedulian masyarakat terhadap pengelolaan sampah-penyediaan sarana
dan prasarana oleh masyarakat berikut pola pembuangan sampah mereka

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

IV - 7

LAPORAN PENDAHULUAN

b. Analisa kemungkinan potensi untuk pengolahan sampah mandiri-berdasar hasil


wawancara
Keseluruhan hasil pendataan dan identifikasi diolah dan diklasifikasikan secara
sistematis sehingga data tersebut siap dimanfaatkan untuk analisa proses dan
perencanaan.

4.2.3

Tahap Analisa
Dalam tahapan analisa ini dilakuakan analisa hasil pendataan dan identifikasi

berdasarkan hasil yang diperoleh pada tahap sebelumnya. Identifikasi dilakukan terhadap
permasalahan-permasalahan yang terkait dengan penanganan permasalahan eksisting atau
yang ada di masa kini dan antisipasi permasalahan dimasa depan.
Identifikasi dan analisa dilakukan pada setiap tahap kegiatan dengan penjelasan
terhadap faktor-faktor penyebab permasalahan maupun kendala-kendala yang ada pada
pelaksanaan program atau rencana-rencana yang sedang atau akan dilaksanakan. kemudian
dianalisa berbagai faktor penyebab permasalahan dan kemungkinan penanganannya
dengan menggunakan pendekatan teknis dan operasional, aspek kelembagaan,
pembiayaan, pengaturan dan peran serta masyarakat.
Berikut merupakan rincian beberapa hal yang diperlukan analisa dalam
pelaksanaannya.
1.

Analisa terhadap kondisi dan kedudukan Kabupaten Balangan berdasarkan aspek


fisik (lingkungan, sarana prasarana, tata ruang wilayah, dan sebagainya) maupun
aspek non fisik yaitu sosial, ekonomi dan budaya. Tujuan analisa ini adalah untuk
mengetahui faktor peluang, hambatan, kekuatan dan kelemahan dalam kaitannya
dengan penanganan persampahan di Kabupaten Balangan.

2. Analisa karakteristik sampah dan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah.


3. Analisis terhadap kondisi sistem pengelolaan persampahan saat ini untuk seluruh
komponen sistem, yaitu:
a. Subsistem Organisasi
Terdiri dari bentuk organisasi, Struktur organisasi, personalia (kualitas dan
kuantitas), tata laksana kerja, pendidikan dan latihan, program pengembangan
pegawai.

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

IV - 8

LAPORAN PENDAHULUAN

b. Subsistem Operasional
Terdiri dari tingkat pelayanan, daerah pelayanan, sub-subsistem pewadahan dan
pengumpulan, sub-subsistem pemindahan, sub-subsistem pengangkutan,
sub-subsistem pemrosesan akhir.
c. Subsistem Pembiayaan dan Retribusi
Terdiri dari sumber pendanaan, struktur pembiayaan, meliputi dana operasional
dan pemeliharaan, dana investasi/pembangunan, kemampuan masyarakat dan
Pemda dalam membiayai sistem, serta pola/prosedur penarikan retribusi.
d. Subsistem Pengaturan
Meliputi analisa terhadap peraturan daerah, usia dan kelengkapan dan
kemampuan dalam pelaksanaan perda, Perda pembentukan organisasi, Perda
ketertiban umum di bidang kebersihan lingkungan, Perda pembentukan
struktur tarif retribusi.
e. Komponen Peran Serta Masyarakat
Meliputi analisa bentuk partisipasi masyarakat, materi dan metode pembinaan
masyarakat

di

bidang

kebersihan/

penyuluhan,

Pelaksanaan

program

penyuluhan, evaluasi serta pemeliharaan kondisi.


4. Mempelajari kebijakan nasional yang berkaitan dengan pola pembinaan
peningkatan sistem pengelolaan persampahan.
5. Analisa potensi teknologi berbagai sistem pengolahan sampah yang dapat
diterapkan di Kabupaten Balangan berdasarkan karakteristik sampahnya. Analisa
dilakukan pada teknologi yang diterapkan saat ini maupun teknologi baru yang
mungkin dapat digunakan dan dikembangkan.
6. Analisa strategi pengelolaan persampahan Kabupaten Balangan pada setiap
tahapan kegiatan agar tercapai efisiensi dan efektifitas.

4.2.4 Tahap Rencana Pengelolaan Persampahan


1.

Identifikasi kondisi pengelolaan persampahan di Kabupaten Balangan, hal ini terkait


kondisi faktual yang sekarang berjalan dalam hal pengelolaan persampahan di
Kabupaten Balangan dari berbagai aspek, antara lain:
a. Aspek Regulasi;
b. Aspek Kelembagaan;
c. Aspek Pendanaan;
d. Aspek Partisipasi Masyarakat/Sosial Budaya;

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

IV - 9

LAPORAN PENDAHULUAN

e. Aspek Teknis dan Operasional.


2. Inventarisasi sarana dan prasarana penanganan dan pengelolaan persampahan di
Kabupaten Balangan. Pada lingkup ini diharapkan kegiatan inventarisasi sarana dan
prasarana eksisting yang dimiliki oleh Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan
(BLHK) Kabupaten Balangan dapat dilakukan, baik dari tahapan di pemilahan,
pengumpulan, pengangkutan, pengolahan dan pemrosesan akhir sampah yang
dimiliki BLHK Kabupaten Balangan, swasta dan instansi lain.
3. Membuat dan memetakan pola penanganan eksisting berikut ketersediaan sarana
dan prasarana di wilayah Kabupaten Balangan dengan mengacu pada perda RTRW
Kabupaten Balangan.
4. Melakukan identifikasi dan analisa timbulan sesuai dengan daerah pelayanan
pengelolaan sampah di wilayah Kabupaten Balangan serta menganalisa komposisi
dan karateristik sampah.
5. Menyusun Standar Pelayanan Minimal (SPM) Penanganan dan Pengelolaan
Sampah.
6. Penyusunan rekomendasi kriteria dan standar pelayanan pemilahan dan
pengumpulan sampah termasuk konsep desain dan modifikasi/perbaikan desain
tempat pemilahan sampah dan sarana pengumpulan sampah dengan memasukan
konsep pemilahan sampah secara praktis mulai dari sumber.
7. Menyusun sistem pelayanan pengangkutan dari sumber dan atau tempat
penampungan sampah sementara atau dari tempat pengolahan sampah terpadu
menuju ke tempat pemrosesan akhir.
8. Mengkaji Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPA) yang berbasis pada teknologi
lingkungan tinggi ramah lingkungan.
9. Membuat rekomendasi teknis pemanfaatan Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu
(TPST) berbasis teknologi tinggi yang ramah lingkungan.
10. Mengkaji aspek kelembagaan yang dapat meningkatkan efisiensi dan efektifitas
dari pengelolaan persampahan.
11. Mengkaji aspek regulasi yang dapat meningkatkan efisiensi dan efektifitas dari
pengelolaan persampahan.
12. Mengkaji aspek pendanaan yang meliputi perkiraan biaya kegiatan pengelolaan
sampah jangka pendek (tahunan), jangka menengah (lima tahunan) dan jangka
panjang, termasuk juga perhitungan besaran tipping fee pengolahan sampah.

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

IV - 10

LAPORAN PENDAHULUAN

13. Mengkaji aspek peran serta masyarakat dan sosial budaya sesuai yang
diamanatkan dalam UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah
dan kemungkinan kerjasama dengan pihak swasta dalam pengelolaan sampah.
14. Membuat skala prioritas program pengelolaan sampah di Kabupaten Balangan
dan menyusun strategi dan program pengelolaan persampahan dengan pola
investasi dan lainnya.
15. Menyusun materi masterplan persampahan dengan memperhatikan rencana
pengelolaan persampahan, Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), kebijakan dan
strategi pembangunan di Kabupaten Balangan.

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

IV - 11

LAPORAN PENDAHULUAN

Contents
4.1

PENDEKATAN STUDI ............................................................................................ 1


4.1.1 Pendekatan Teknologi .................................................................................. 1
4.1.2 Pendekatan Kelembagaan/Institusional ...................................................... 2
4.1.3 Pendekatan Sosial-Ekonomi-Budaya ............................................................ 2
4.1.4 Kajian Kebijakan ............................................................................................ 3
4.2
METODOLOGI PELAKSANAAN ............................................................................ 4
4.2.1 Tahap Persiapan ............................................................................................ 5
4.2.2 Tahap Survei dan Pendataan ........................................................................ 5
4.2.3 Tahap Analisa................................................................................................. 8
4.2.4 Tahap Rencana Pengelolaan Persampahan ............................................. 9

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

IV - 12

LAPORAN PENDAHULUAN

5 MOBILISASI TENAGA KERJA


5.1

KEWAJIBAN KONSULTAN
Adapun kewajiban dari konsultan dalam Review Penyusunan Masterplan

Persampahan Kabupaten Balangan, meliputi:


1. Konsultan berkewajiban dan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap pelaksanaan
penyusunan rencana ini dengan berdasarkan ketentuan perjanjian kerjasama yang
telah ditetapkan.
2. Konsultan berkewajiban menyusun rencana sesuai dengan ketentuan teknis yang
telah ditetapkan dalam Kerangka Acuan Kerja (KAK).
3. Perencana dalam melaksanakan pekerjaan dinyatakan berakhir sampai dengan
rencana ini selesai secara keseluruhan.
4. Konsultan berkewajiban mempresentasikan penyusunan rencana dalam bentuk
diskusi.
5. Konsultan dalam melaksanakan pekerjaan dapat meminta bantuan Instansi Pemberi
Tugas dan instansi terkait untuk memperoleh petunjuk dan pengarahan agar
mencapai hasil optimal.

5.2

SUSUNAN TENAGA AHLI


Adapun pelaksanaan Review Penyusunan Master Plan Pengelolaan Persampahan

Kabupaten Balangan menetapkan dan melibatkan tenaga ahli yang meliputi:


1.

Ketua Tim

: 1 orang

2. Tenaga Ahli Lingkungan

: 1 orang

3. Tenaga Ahli Kelembagaan/Manajemen

: 1 orang

4. Tenaga Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota : 1 orang


5. Tenaga Ahli Ekonomi/Keuangan

: 1 orang

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

V-1

LAPORAN PENDAHULUAN

5.3

STRUKTUR ORGANISASI PELAKSANAAN KEGIATAN


Adapun stuktur organisasi pelaksana Review Penyusunan Master Plan Pengelolaan

Persampahan Kabupaten Balangan pada tahun 2014 ini dapat digambarkan sebagai berikut.

KETUA TIM

AHLI LINGKUNGAN

AHLI MANAJEMEN

AHLI
PERENCANAAN
WILAYAH & KOTA

AHLI EKONOMI

Gambar 5.1 Struktur Organisasi Pelaksana Kegiatan

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

V-2

LAPORAN PENDAHULUAN

Contents
5.1

KEWAJIBAN KONSULTAN .................................................................................... 1

5.2

SUSUNAN TENAGA AHLI ...................................................................................... 1

5.3

STRUKTUR ORGANISASI PELAKSANAAN KEGIATAN ......................................... 2

Gambar 5.1 Struktur Organisasi Pelaksana Kegiatan ..................................................... 2

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

V-3

LAPORAN PENDAHULUAN

JADWAL KEGIATAN

6.1

JADWAL KEGIATAN

6.1.1

Pelaksanaan Kegiatan
Tahapan pelaksanaan kegitan Review Penyusunan Master Plan Persampahan

Kabupaten Balangan dapat diuraikan sebagai berikut.


1.

Pengumpulan data sekunder sebagai dasar perencanaan dan pengembangan


dalam evaluasi kondisi kawasan perencanaan;

2.

Evaluasi Sistem Eksisting, yaitu:


a. Teknis;
b. Institusi;
c. Pembiayaan & Peraturan Perundangan;
d. Peran Masyarakat; dan
e. Swasta.

3.

Identifikasi Permasalahan dan Kebutuhan Pelayanan;

4.

Perkiraan Kebutuhan Pelayanan Sampah;

5.

Identifikasi Lokasi TPA/TPST;

6.

Pengembangan alternatif, kelembagaan, dan sumber daya manusia (SDM).

6.1.2

Waktu Penyelesaian Kegiatan


Waktu pelaksanaan penyusunan Review Master Plan Persampahan Kabupaten

Balangan ditentukan selama 3 (tiga) bulan terhitung sejak dikeluarkannya Surat Perintah
Kerja (SPMK) sampai dengan diterimanya seluruh hasil jasa dengan baik dan lengkap oleh
pengguna jasa atau selama waktu yang diperlukan sesuai dengan berita cara rapat
penjelasan umum terhitung sejak penandatanganan kontrak. Berikut merupakan Jadwal
dan waktu Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan yang telah
sesuai dengan Kerangka Acuan Kerja (KAK).

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

VI - 1

LAPORAN PENDAHULUAN

VI - 2

Tabel 6.1 Jadwal Pelaksanaan Review Penyusunan Masterplan Persampahan Kabupaten Balangan
JUNI (Minggu ke-)

KEGIATAN
PELAPORAN

JULI (Minggu ke-)


4

SEPTEMBER (Minggu ke-)


4

Persiapan dan
Kegiatan Survei
Laporan
Pendahuluan
Laporan Antara
Laporan Rencana

6.2

SISTEM PELAPORAN

6.2.1

Materi Pelaporan
Materi pelaporan dalam Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten

Balangan adalah sebagai berikut.


1.

Laporan Pendahuluan
Merupakan laporan awal yang berfungsi untuk mengetahui latar belakang, maksud,
tujuan dan sasaran dan ruang lingkup pekerjaan, metodologi, keterlibatan tenaga
ahli dan jadwal kegiatan.

2.

Laporan Antara
Merupakan laporan hasil kegiatan analisis mengenai analisis pengelolaan sampah.
Laporan antara memuat data-data instansional maupun hasil kegiatan survei
lapangan beserta analisis.

3.

Laporan Akhir
Merupakan laporan seluruh hasil kegiatan analisis pengelolaan persampahan di
Kabupaten Balangan.

6.2.2

Teknik Penyajian Laporan


Teknik penyajian laporan dalam pelaksanaan Review Penyusunan Master Plan

Persampahan Kabupaten Balangan adalah sebagai berikut.


1.

Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan ini merupakan tahapan yang penting untuk mengawali
proses penyusunan pekerjaan Penyusunan Master Plan Persampahan. Pada
laporan ini dirumuskan tentang pemahaman KAK, penyusunan metodologi
kegiatan,

rencana pelaksanaan

kegiatan,

jadwal

diskusi,

serta

kegiatan

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

LAPORAN PENDAHULUAN

inventarisasi data dan informasi dibuat sebanyak 5 (lima) eksemplar berwarna


ukuran A4, sebagai bahan pembahasan harus disediakan 10 eksemplar copy laporan
pendahuluan.
2.

Laporan Antara
Laporan antara berisi tentang gambaran umum wilayah studi, pendekatan dan
strategi, penentuan wilayah dan model pengolahan persampahan, dibuat
sebanyak 5 (lima) eksemplar copy laporan antara dalam format A4.

3.

Laporan Akhir
Laporan

Akhir

berisi

tentang

Masterplan/Rencana

Induk

Pengolahan

Persampahan Kabupaten Balangan, dibuat sebanyak 10 (sepuluh) eksemplar dalam


format A4.
4.

Album Gambar
Album gambar berisi tentang peta dan gambar sebagai berikut.
a) Wilayah administrasi;
b) Sebaran sistem persampahan eksisting (perdesaan dan perkotaan);
c) Rencana pengelolaan persampahan.
Album gambar dibuat dalam format A3 sebanyak 5 (lima) eksemplar.

5.

Soft Copy (CD)


CD berisi tentang file tulisan dan gambar yang meliputi aspek data, analisis
dan rencana; dibuat sebanyak 5 (lima) buah.

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

VI - 3

LAPORAN PENDAHULUAN

Contents
6.1

JADWAL KEGIATAN.......................................................................................................... 1
6.1.1 Pelaksanaan Kegiatan .............................................................................................. 1
6.1.2 Waktu Penyelesaian Kegiatan ................................................................................. 1
6.2
SISTEM PELAPORAN ........................................................................................................ 2
6.2.1 Materi Pelaporan ...................................................................................................... 2
6.2.2 Teknik Penyajian Laporan ........................................................................................ 2
Tabel 6.1 Jadwal Pelaksanaan Review Penyusunan Masterplan Persampahan Kabupaten
Balangan ....................................................................................................................................... 2

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

VI - 4

LAPORAN PENDAHULUAN

KATA PENGANTAR
Puji syukur pada Tuhan Yang Maha Esa atas Rakhmat dan Hidayah-Nya, Laporan
Pendahuluan dari kegiatan penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan
Tahun 2014 ini dapat terselesaikan dengan baik.

Buku Laporan Pendahuluan merupakan produk tahap awal kegiatan yang menjadi
panduan atau pedoman pelaksanaan kegiatan, dimana dalam laporan ini berisi tentang
pendahuluan, tinjauan kebijakan, gambaran umum, metodologi pelaksanaan kegiatan,
mobilisasi tenaga kerja yang akan terlibat serta jadwal pelaksanaan kegiatan. Tiada gading
yang tak retak, kami telah berusaha menampung dan mengakomodasi seluruh masukan
serta kontribusi yang positif yang menunjang kesempuranaan dokumen Laporan
Pendahuluan ini.

Akhir kata, kami sampaikan terima kasih untuk semua pihak yang turut membantu
dalam penyelesaian penyusunan laporan ini.

Balangan,

Juli 2014

Tim Penyusun

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

LAPORAN PENDAHULUAN

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................................................

DAFTAR ISI .........................................................................................................................................

ii

DAFTAR GAMBAR .............................................................................................................................

DAFTAR TABEL ..................................................................................................................................

Vi

BAB I PENDAHULUAN
1.1

LATAR BELAKANG ....................................................................................................................

I1

1.2

MAKSUD, TUJUAN, DAN SASARAN ........................................................................................

I3

1.2.1 Maksud .............................................................................................................................

I3

1.2.2 Tujuan ..............................................................................................................................

I3

1.2.3 Sasaran .............................................................................................................................

I3

RUANG LINGKUP ......................................................................................................................

I3

1.3.1 Ruang Lingkup Lokasi ......................................................................................................

I3

1.3.2 Ruang Lingkup Materi .....................................................................................................

I4

1.4

DASAR HUKUM ........................................................................................................................

I5

1.5

SISTEMATIKA PEMBAHASAN ..................................................................................................

I6

1.3

BAB II TINJAUAN KEBIJAKAN


2.1

KEBIJAKAN PENATAAN RUANG KABUPATEN BALANGAN ....................................................

II 1

2.1.1 Rencana Struktur Ruang Wilayah ...................................................................................

II 1

2.1.2 Rencana Pola Ruang Wilayah .......................................................................................... II 5


A. Rencana Kawasan Lindung ........................................................................................ II 5
B. Rencana Kawasan Budidaya ...................................................................................... II 8
2.1.3 Sistem Transportasi Wilayah ........................................................................................... II 13
2.1.4 Sistem Prasarana Wilayah ............................................................................................... II 15
A. Air Bersih ..................................................................................................................... II 16
B. Persampahan .............................................................................................................. II 16
C. Sanitasi ........................................................................................................................ II 17
2.2

KEBIJAKAN PENGELOLAAN PERSAMPAHAN KABUPATEN BALANGAN ............................... II 16

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

ii

LAPORAN PENDAHULUAN

2.3

PERATURAN PERUNDANGAN TERKAIT PENYUSUNAN MASTER PLAN PERSAMPAHAN .... II 17


2.3.1 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah ....................... II 17
2.3.2 Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 21/PRT/M/2006 tentang Kebijakan dan
Srategi Nasional Pengembangan dan Pengelolaan Persampahan ............................... II 20
2.3.3 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2010 tentang Pedoman
Pengelolaan Sampah ....................................................................................................... II 22
2.3.4 Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 13 Tahun
2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Reduce, Reuse, dan Recycle melalui Bank
Sampah............................................................................................................................. II 24
2.3.5 Peraturan

Menteri

Pekerjaan

Umum

Nomor

03/PRT/M/2013

tentang

Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana Persampahan dalam Penanganan Sampah


Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga ....................................... II 27
2.3.6 Peraturan Daerah Kabupaten Balangan Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pegelolaan
Sampah dan Kebersihan Lingkungan ............................................................................. II 31

BAB III GAMBARAN UMUM


3.1

GAMBARAN UMUM KABUPATEN BALANGAN ....................................................................... III 1


3.1.1 Wilayah Administrasi Kabupaten Balangan .................................................................... III 1
3.1.2 Fisik Dasar ........................................................................................................................ III 2
A. Kondisi iklim ................................................................................................................ III 2
B. Topografi dan Kelerengan ......................................................................................... III 2
C.

Hidrologi dan Hidrogeologi ....................................................................................... III 3

D. Geologi dan Jenis Tanah ............................................................................................ III 5


3.1.3 Kondisi Penggunaan Lahan ............................................................................................. III 6
3.1.4 Kondisi Kependudukan.................................................................................................... III 7
A. Jumlah Penduduk ....................................................................................................... III 7
B. Tenaga Kerja ............................................................................................................... III 8
3.2

GAMBARAN UMUM SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH KABUPATEN BALANGAN ............... III 8


3.2.1 Aspek Teknis .................................................................................................................... III 8
A. Sumber, Karakteristik, dan Volume Sampah ............................................................ III 9
B. Pengumpulan dan Pengangkutan Sampah ............................................................... III 10
C. Tempat Penampungan Sementara (TPS) .................................................................. III 13
D. Sistem Pengolahan Sampah ...................................................................................... III 17
E. Jenis dan Karakteristik Kendaraan Pengangkutan Sampah..................................... III 17
F. Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) .............................................................................. III 18
3.2.2 Aspek Pembiayaan........................................................................................................... III 21

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

iii

LAPORAN PENDAHULUAN

3.2.3 Aspek Hukum dan Kelembagaan .................................................................................... III 24


A. Pemangku Kepentingan

(Stakeholders) dalam Pengelolaan Sampah

&

Kebersihan .................................................................................................................. III 24


B. Sumber Daya Manusia................................................................................................ III 31
3.2.4 Aspek Peran Serta Masyarakat ....................................................................................... III 32

BAB IV METODOLOGI
4.1

PENDEKATAN STUDI ................................................................................................................ IV 1


4.1.1 Pendekatan Teknologi ..................................................................................................... IV 1
4.1.2 Pendekatan Kelembagaan/Institusional ......................................................................... IV 2
4.1.3 Pendekatan Sosial-Ekonomi-Budaya............................................................................... IV 2
4.1.4 Kajian Kebijakan ............................................................................................................... IV 3

4.2

METODOLOGI PELAKSANAAN................................................................................................. IV 4
4.2.1 Tahap Persiapan ............................................................................................................... IV 5
4.2.2 Tahap Survei dan Pendataan ........................................................................................... IV 5
4.2.3 Tahap Analisa ................................................................................................................... IV 8
4.2.4 Tahap Rencana Pengelolaan Persampahan ................................................................... IV 9

BAB V MOBILISASI TENAGA KERJA


5.1

KEWAJIBAN KONSULTAN ........................................................................................................

V1

5.2

SUSUNAN TENAGA AHLI ..........................................................................................................

V1

5.3

STRUKTUR ORGANISASI PELAKSANAAN KEGIATAN ............................................................. V 2

BAB VI JADWAL KEGIATAN


6.1

JADWAL KEGIATAN .................................................................................................................. VI 1


6.1.1 Pelaksanaan Kegiatan...................................................................................................... VI 1
6.1.2 Waktu Penyelesaian Kegiatan ......................................................................................... VI 1

6.2 SISTEM PELAPORAN ................................................................................................................ VI 2


6.2.1 Materi Pelaporan ............................................................................................................. VI 2
6.2.2 Teknik Penyajian Laporan ................................................................................................ VI 2

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

iv

LAPORAN PENDAHULUAN

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1

Integrasi bank sampah dengan penerapan Extended Producer Responsibility ..... II 28

Gambar 3.1

Bak Sampah di Kecamatan Paringin ........................................................................ III 11

Gambar 3.2

Gerobak Sampah di Kecamatan Paringin ................................................................ III 12

Gambar 3.3

Peta Persebaran TPS di wilayah Kecamatan Paringin dan Paringin Selatan ......... III 14

Gambar 3.4

Peta Persebaran TPS di wilayah Kecamatan Batu Mandi ....................................... III 15

Gambar 3.5

Kegiatan 3R di BLHK Kabupaten Balangan ............................................................. III 17

Gambar 3.6

Truk Pengangkut Sampah di Kecamatan Paringin .................................................. III 18

Gambar 3.7

Peta Persebaran TPA dan Jalur Pengangkutan Sampah di Kabupaten Balangan . III 19

Gambar 3.8

Struktur Organisasi Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan Daerah


Kabupaten Balangan ................................................................................................ III 29

Gambar 5.1

Struktur Organisasi Pelaksana Kegiatan ................................................................. V 2

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

LAPORAN PENDAHULUAN

DAFTAR TABEL
Tabel 3.1

Kondisi Administratif Kabupaten Balangan ................................................................ III 1

Tabel 3.2

Curah Hujan dan Hari Hujan Menurut Stasiun Pengamatan ...................................... III 2

Tabel 3.3

Ketinggian Wilayah Tiap Kecamatan (dalam Ha) ....................................................... III 2

Tabel 3.4

Kondisi Wilayah Kabupaten Balangan Menurut Kemiringan Lahan .......................... III 3

Tabel 3.5

Luas Wilayah Kabupaten Balangan Berdasarkan Jenis Penggunaan Lahan ............. III 7

Tabel 3.6

Jumlah Penduduk Kabupaten Balangan Tahun 2012 .................................................. III 7

Tabel 3.7

Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas Menurut Jenis Kegiatan Utama ..................... III 8

Tabel 3.8

Timbulan Sampah berdasarkan Tempat Timbulan Sampah ...................................... III 9

Tabel 3.9

Timbulan Sampah bersasarkan Jenis Komponen Sampah ........................................ III 9

Tabel 3.10

Jumlah Bak Sampah Daerah Perumahan Tiap Kecamatan ........................................ III 10

Tabel 3.11

Jumlah Bak Sampah Daerah Komersial dan Fasilitas Umum ..................................... III 11

Tabel 3.12

Daftar Alat Pengumpul Sampah yang Beroperasi Tiap Kecamatan .......................... III 12

Tabel 3.13

Jumlah TPS Tiap Kecamatan ........................................................................................ III 16

Tabel 3.14

Lokasi Kegiatan 3R di Kabupaten Balangan ............................................................... III 16

Tabel 3.15

Sarana Pengangkutan Sampah Kabupaten Balangan ................................................ III 17

Tabel 3.16

Sarana Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Kabupaten Balangan ................................ III 20

Tabel 3.17

Tarif Retribusi Persampahan/Kebersihan Kabupaten Balangan ................................ III 20

Tabel 3.18

Anggaran Pengelolaan Sampah dan RTH ................................................................... III 23

Tabel 3.19

Daftar Pemangku Kepentingan dalam Pengelolaan Sistem Persampahan .............. III 23

Tabel 6.1

Jadwal Pelaksanaan Review Masterplan Persampahan Kab. Balangan ................... VI 2

Review Penyusunan Master Plan Persampahan Kabupaten Balangan

vi