Anda di halaman 1dari 12

Marmer

Posted: November 30, 2010 in rocks N' minerals


Kaitkata:batu marmer, batuan, marmer, metamorf, proses pembentukan marmer

PENDAHULUAN

Marmer umumnya tersusun oleh mineral kalsit dengan kandungan mineral minor lainya adalah kuarsa,
mika, klhorit, tremolit, dan silikat lainnya seperti graphit, hematit, dan limonit. Nilai komersil marmer
bergantung kepada warna dan tekstur. Marmer yang berkualitas sangat tinggi adalah berwarna putih
sangat jernih, sebab kandungan kalsitnya lebih besar dari 90 %. Marmer yang berwarna abu-abu
dihasilkan dari kandungan grapit pada batuan tersebut, pink dan merah akibat adanya kandungan
hematit, kuning dan krem sebagai pengaruh dari kandungan limonit. Marmerpun dicirikan pula oleh
gores arah jarus dan lapisan grapit atau silikat gelapnya. Berdasarkan besar butirnya, tekstur berkisar
dari halus hingga kasar. Sifat sifat lainnya yang berpengaruh terhadap kualitas marmer adalah
porositas, kekuatan regangan dan kekuatan terhadap cuaca.

Marmer merupakan bahan galian yang sudah sangat dikenal oleh masyarakat luas, bahkan cukup
gencar pula muncul ke permukaan yang menimbulkan sensasi pencarian marmer yang dapat tembus
cahaya dengan harga penawaran sangat menggiurkan, walaupun hanya sebatas orang-per orang dan
diliputi misteri, hobi dan aspek mistik lainnya.

Sebagai bahan galian yang mempunyai nilai jual tinggi karena rona yang sangat indah, artistik, dan
aspek kuat tekan dan geser yang tinggi menjadikan bahan galian ini mempunyai pangsa pasar yang
relatif tinggi hingga pada pasar menengah.

Penggunaan marmer biasanya untuk meja, tegel, hiasan dinding, pelengkapan rumah tangga sepeti
guci, lampu hias dan lain sebagainya. Untuk tegel, dinding dan meja memerlukan diameter yang besar
dan kualitas yang sangat baik dalam artian sedikit sekali adanya retakan dan kandungan minerl
bijihnya, sehingga akan menimbulkan kesan dingin walaupun kenas sinar matahari sekalipun.

Sejak zaman dahulu kala marmer sudah memiliki pasar yang baik, sehingga perburuan ke lokasi-lokasi
penghasil marmerpun cukup tinggi. Italia merupakan negara pengahsil marmer yang sangat terkenal
di dunia, walaupun pada kenyataannya bahanbaku marmer itu sendiri bukan asli dari Italia tetapi dari
negara-negara lainnya yang dimasukan terlebih dahulu ke Italia. Marmer dari luar tersebut diproses
terlebih dahulu di Intalia yang kemudian dikemas sedmikian rupa dan dipasarkan dengan merek Italia.

Pasar marmer atau batu pualam yang sempat kandas saat krisis melanda kini mulai membaik. Meski
dari kualitas pengolahan marmer lokal masih kalah dengan polesan produk impor, namun dari sisi
penjualan marmer lokal lebih baik.

Produk lokal dengan impor memang tidak beda jauh seperti dari segi ornamen. Namun, harga marmer
lokal lebih murah dibanding dengan yang impor. Oleh karena itu rata-rata konsumen menyukai produk
lokal karena selain lebih murah ornamen yang disuguhkan juga hampir sama. Jika belum cukup jeli,
sulit untuk membedakan antara marmer lokal dan impor. Pada umumnya marmer lokal berwarna
terang, sedangkan yang impor warnanya agak gelap, seperti warna coklat. Tetapi, tidak berarti seluruh
marmer impor berwarna gelap. Karena marmer yang asal Cina juga memiliki warna yang hampir sama
dengan marmer lokal, seperti warna krem.

Secara fisik akan nampak jelas dari aspek pori-porinya, dimana marmer impor memiliki pori-pori yang
rapat sedangkan marmer lokal kurang rapat. untuk mengetahui pori-pori marmer tersebut rapat atau
tidakcukup dengan menyiramkan air pada bagian atas marmer, dan jika meninggalkan bekas basah
walau telah dilap dengan kain kering, berarti pori-pori marmer tersebut besar (Mega Sari, Kompas,
2002).

2. GEOLOGI
2.1 Mula Jadi

Marmer atau dikenal pula dengan sebutan batu pualam merupakan batuan hasil proses metamorfosa
atau malihan dari batuan asalnya yaitu batukapur. Pengaruh temperatur dan tekanan yang dihasilkan

oleh gaya endogen kan menyebabkan terjadinya kristalisasi kembali pada batuan tersebut membentuk
berbagai foliasi mapun non foliasi.

Akibat rekristalisasi tersebut akan menghilangkan struktur asal batuan tersebut tetapi akan
membentuk tekstur baru, keteraturan butir. Pembentuk mineral ini di Indonesia yang sudah ditemukan
adalah sekitar 30 60 juta tahun yang lalu atau berumur Kwarter hingga Tersier.

2.2. Potensi:

Marmer akan selalu berasosiasi keberadaanya dengan batugamping. Setiap ada batu marmer akan
selalu ada batugamping, walaupun tidak setiap ada batugamping akan ada marmer. Karena
keberadaan marmer berhubungan dengan proses gaya endogen yang mempengaruhinya baik berupa
tekan maupun perubahan temperatur yang tinggi. Di Indonesia penyebaran marmer tersebut cukup
banyak, seperti dapat dilihat pada Tabel 2.1.

3. PERTAMBANGAN

Untuk mengetahui besarnya cadangan suatu tubuh marmer maka biasanya dilakukan eksplorasi
geofisika agar diketahui baik penyebaran horizontal maupun vertikal, kemudian dbuat sumur uji dan
pemboran untuk mengetahui ketebalan lapisan. Untuk mengetahui kualitas marmer di suatu lokasi
maka diambil sampel yang diuji di laboratorium baik fisika maupun kimia, secara mikroskopis.

Sebelum keluar teknologi baru, penambangan marmer dilakukan dengan 2 tahapan yaitu:

Land clearing (pengupasan), yaitu kegiatan pengupasan lapisan tanah dengan menggunakan
buldozer dan ekskavator menggali tanah yang menutupi tubuh batuan guna menyiapkan kegiatan
penambangan

Kegiatan produksi, yaitu proses pemolaan, pemboran, pemahatan, dan seleksi tiap blok dan
mengangkutnya ke lokasi pengolahan selanjutnya.

Biasanya pemboran dilakukan dengan mengebor vertikal sampai kedalaman 110 cm pada sisi pan jang
dengan ukuran 260 cm dan sisi lebar (mendatar) sebesar 135 cm (Asril Riyanto, 1994). Sedangkan
pemahatan mendatar dimaksudkan untuk melepas blok dengan ukuran standar 260 x 110 x 135 cm.
Kegiatan tersebut dibantu dengan alat angkat/tarik, alat dorong serta alat angkut. Setelah muncul
teknologi baru yaitu dengan menggunakan alat pengerat bermata diamond, maka segala kegiatan
eksploitasi dilakukan di lokasi marmer tersebut berada. Untuk tahap awal dilakukan pemolaan
diameter batu yang akan dibelah dan dipotong, selanjutnya dibor sampai kedalam tertentu lalu
dilakukan pengeratan tersebut.

Pengolahan merupakan proses kegiatan memperhalus produk hingga menjadi produk yang siap
dipasrkan. Adapaun kegiatan tersebut adalah sebagai berikut:

Untuk yang masih menggunakan teknologi lama maka blok batu pualam berukuran ( 260 x 100 x 135 )
cm digergaji menjadi lempengan-lempengan denganketebalan rata-rata 2 cm.

Lempengan batu pualam tersebut kemudian dipotong menjadi barang setengah jadi, sesuai ukuranukuran standar pesanan

Barang setengah jadi tersebut kemudian digerinda dua tahap dan kemudian disempurnakan atau
ditambal da dipoles pada lapisan-lapisan yang berlubang hingga akan dihasilkan marmer yang
mengkilap.

4. KEGUNAAN

Penggunaan marmer atau batu pualam tersebut biasa dikategorikan kepada dua penampilan yaitu tipe
ordinario dan tipe staturio. Tipe ordinario biasanya digunakan untuk pembuatan tempat mandi, mejameja toilt, lanati, dinding dan sebagainya, sedangka tipe staturio sering dipakai untuk seni pahat dan
patung (Asril, 1994).

5. PERKEMBANGAN DAN ROSPEK

Marmer pada saat ini masih merupakan barang mewah, kecuali untuk ukuran yang kecil-kecil sebagai
souvenir. Marmer atau batu pualam yang mengkilap biasanya dijadikan salah satu ciri fisik kemewahan
sebuah bangunan dan rumah. Kemewahan marmer belum ada yang menandingi karena kualitasnya
yang baik dibandingkan produk lantai atau dinding dari bahan lain.

Dilihat dari sisi pembiayaan, membuat lantai dari marmer harus menyiapkan dana yang tidak sedikit.
Hanya orang yang memiliki dana berlebih saja yang mampu membelinya, guna menghiasi gedung
atau rumah mewah mereka.

Perkembangan yang sangat mencolok adalah dari segi penambangannya, karena saat ini telah lebih
simple yaitu dengan menggunakan teknologi mutakhir. Sedangkan prospek ke depan untuk marmer
masih dalam pangsa pasar yang masih terbatas di kalangan menengah samapai kalangan atas,
kecuali hanya untuk souvenir yang kecil kecil saja masih dapat dijangkau oleh kalangan menengah
ke bawah.

Beberapa perusahaan yang bergerak di bidang eksploitasi marmer adalah PT. Dwi Tunggal Marmer
Indah, PT. Gramer, PT. Multi Marmer Alam, PT. Pusaka Marmer Indahraya, PT. Citatah Marble, PT.
Gramaron

Beberapa lokasi tambang marmer sudah dieksploitasi, misalnya daerah Citatah di Jawa Barat oleh PT.
Kurnia, PT. Bakri Prima Moramo telah meeksploitasi tahap uji coba di Kecamatan Moramo Kendari, Kec,
Wolo, Kecamatan Kasusua, dam Pulau Kbaena Buton dengan kapasitas produksi tambang 90 m3/bulan
dan kapasitas pabrik = 1.500 m2/bulan.

PT Citatah Tbk (dikenal dengan PT Citatah Industri Marmer Tbk) bergerak dalam bidang penambangan
dan prosesing marmer, yang beroperasi di Citatah dan Sukabumi (Jawa Barat) dan Maros dan Pangkep
(Sulawesi Selatan).

Anak perusahaan PT Quarindah Ekamaju Marmer (QEM), yang diakuisisi pada bulan Januari 1996, yang
mengelola pabrik Pangkep, sedangkan dua anak perusahaan penjual lainnya Quarindah Citatah
(Malaysia) Sdn. Bhd di Kuala Lumpur dan UGM Citatah Inc., Amerika Serikat yang mengelola penjualan
di pasar utama regional dan Amerika Serikat.

PT. Citatah telah melakukan eksploitasi di Pangkep Sulawesi Selatan dengan kapasitas terpasang pada
tahun 2000 adalah 480.000 meter persegi, ubin 960.000 m 2. Sedangkan di Bandung Jawa Barat produk
lempengan sebesar 60.000 m2, dan ubin 300.000 m2, di Karawang, Jawa Barat sebanyak 396.000
m2 lempengan tiap tahun.

Pada tahun 1998 kapasitas pabrik di perusahaan mencapai 425,000 m 2 termasuk 223,000
m2 lempengan dan 202,000 m2 ubin. Pabrik kedua dibangun di Pangkep untuk melengkapi enam
pemotongan ubin pararel dan line penggosok, sedangkan pabrik yang asli disusun kembali kedalam
dua line prosesing lempengan. Dengan kapasitas output 130,000 per bulan. Pangkep saat ini
merupakan pusat produksi utama bagi perusahaan.

Perkembangan harga marmer di Indonesia, baik yang berasal dari lokasl maupun impor adal marmer
lokal yang berasal dari Bandung, Tulung Agung, Bandar Lampung, dan Ujung Pandang, untuk tiap
meter perseginya dijual dengan kisaran harga Rp 150.000 Rp 250.000. Sementara produk impor,
yang berasal dari Italia, Cina, India, dan Benua Afrika dijual dengan harga termurah Rp 400.000 per
m2 dan tertinggi adalah di atas Rp 1 juta, tergantung pada motifnya serta kehalusan proses pemolesan
akhir.

Untuk perbandingan harga marmer tersebut dapat dilhat seperti pada Tabel 4.1 di bawah ini:

Tabel 4.1 Harga Daftar Marmer Per Meter Persegi

Nama

Harga

Lokal
Milano

Rp 475.000

Mosaic Torano

Rp 375.000

Mosaic Bologna

Rp 350.000

Catona

Rp 150.000

Fucco

Rp 150.000

Diamond Black

Rp 425.000

Misty Grey

Rp 300.000

Moca Cream

Rp 450.000

Empired Red

Rp 600.000

Brecia Damascati

Rp 725.000

Impor
Verde Patricia (Italia)

Rp 450.000

Fantasi Pink (Cina)

Rp 350.000

Parket Antiquewood

Rp 2.000.000

(Italia)
Sumber: Pinangsia, Kompas Cyber Media, 2002

Produksi marmer tidak secara jelas muncul, tetapi hanya beberap perusahaan saja yang sudah
melakukan kegiatan eksploitasinya seperti telah dibahas di atas yaitu adalah PT. Dwi Tunggal Marmer
Indah, PT. Gramer, PT. Multi Marmer Alam, PT. Pusaka Marmer Indahraya, PT. Citatah Marble, PT.
Gramaron.

Dari Tabel 4.2 dapat dilihat bahwa Impor marmer pada atahun 1997 berkisar 40 ribu ton yang
menurun drastis sekitar 24 % menjadi hanya 9,6 ribu ton , begitupula pada tahun 199 hanya menjadi
3,2 ribu ton. Hal ini akibat kondisi perekonomian Indonesia sehingga sangat mempengaruhi tingkat
konsumsi material impor karena dari segi harga tentunya sangat tinggi dengan perubahan nilai tukar

rupiah terhdap dolar. Tetapi pada tahun 2000 hingga 2002 impor akan marmer kembali meningkat
walaupun masih sekitar 50 % dari angka impor tahun 1997.

Kondisi demikian juga mempengaruhi pada tingkat konsumsi marmer tersebut, dan ada peningkatan
pada tahun 1998, para konsumen beralaih sementara pada produk domestik tetapi pada tahun 1999
kembali turun hingga tahun 2002 hanya menjadi 14,3 ribu ton.

Ekspor bahan marmer tercatat di BPS sebagai ekspor barang tambang dan industri yakni pada tahun
200 ekspornya berupa kermamik dan marmer sekitar 596 ton , tetapi turun menjadi 561 ton dan 579
pad atahun 2001 dan 2002. Sedangkan ekspor berupa granit dan marmer adalah sebanyak 28,7 ton
pada tahun 2000 tetapi turun pada tahun 2001 walaupun pad atahun 2002 kembali naik menjadi 28,4
ton.

Marmer atau dikenal pula dengan sebutan batu pualam merupakan batuan hasil proses metamorfosa
atau malihan dari batuan asalnya yaitu batukapur. Pengaruh temperatur dan tekanan yang dihasilkan
oleh gaya endogen kan menyebabkan terjadinya kristalisasi kembali pada batuan tersebut membentuk
berbagai foliasi mapun non foliasi.

Perusahaan yang sudah bergerak dibidang marmer adalah PT. Dwi Tunggal Marmer Indah, PT. Gramer,
PT. Multi Marmer Alam, PT. Pusaka Marmer Indahraya, PT. Citatah Marble, PT. Gramaron dan masih ada
yang belum tercatat.

Impor marmer mengalami penu-runan drastis ejak tahun 1998 akibat dari krisis moneter di Indonesia,
dan konsumen beralih ke produk domestik.

DAFTAR PUSTAKA

1.

Asril Riyanto, 1994, Batu Pualam (Marmer), Bahan Galian Industri) Direktorat Jenderal
Pertambangan Umum, Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral, B.30.94.

2.

Alamanda Gemilang, Alamanda Granit & Marble, 1998, PT. Alamanda Gemilang,
Jakarta,http://www.kompas.com/gayahidup/news/0204/29/22537.htm.

3.

Tushadi, 1990. Bahan Galian Industri Indonesia, Direktorat Sumberdaya Mineral, Direktorat
Jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral, Bandung.

4.

Pinangsia, Gaya Hidup dan Hiburan, 2002, Kompas Cyber Media.

5.

Puslitbang Teknologi Mineral, Buletin Statistik Komoditi Mineral Indonesia Nomor 28 tahun
2001, Bandung: Proyek Pengembangan Manajemen Sumber Daya.

6.

Badan Pusat Statistik, Ekspor dan Impor Non Migas Utama Menurut Sektor, http://www.
dperin.go.id/ind/ statistic/e_isic.asp

Marmer umumnya tersusun atas mineral kalsit atau kalsium karbonat (CaCO3) dengan kandungan
mineral minor lainya yaitu kuarsa, mika, klorit, tremolit, dan silikat lainnya seperti graphit, hematit, dan
limonit. Nilai komersil marmer bergantung kepada warna dan tekstur.
Marmer yang berkualitas sangat tinggi adalah marmer yang berwarna putih jernih, sebab kandungan
kalsitnya lebih dari 90%. Marmer yang berwarna abu-abu dihasilkan dari kandungan grapit pada batuan
tersebut, pink dan merah akibat adanya kandungan hematit, kuning dan krem sebagai pengaruh dari
kandungan limonit. Berdasarkan besar butirannya, marmer bisa bertekstur halus hingga kasar. Sifat
lainnya yang berpengaruh terhadap kualitas marmer adalah porositas, kekuatan regangan, dan
ketahanan terhadap pengaruh suhu dan cuaca.
Marmer merupakan bahan galian yang sudah sangat dikenal oleh masyarakat luas, bahkan cukup gencar
pula muncul ke permukaan yang menimbulkan sensasi pencarian marmer yang dapat tembus cahaya
dengan harga penawaran sangat menggiurkan, walaupun hanya sebatas orang per orang dan diliputi
misteri, hobi, dan aspek mistik lainnya.
PROSES PEMBENTUKAN
Marmer atau dikenal pula dengan sebutan batu pualam adalah batuan hasil proses metamorfosis atau
malihan dari batuan asalnya yaitu batu kapur atau dolomit. Pengaruh temperatur dan tekanan yang

dihasilkan oleh gaya endogen menyebabkan terjadinya kristalisasi kembali pada batuan tersebut
membentuk berbagai foliasi mapun non foliasi.
Akibat rekristalisasi tersebut akan menghilangkan struktur asal batuan tersebut, sehingga membentuk
tekstur baru dan keteraturan butir. Pembentukan mineral ini di Indonesia yang sudah ditemukan adalah
sekitar 30 60 juta tahun yang lalu atau berumur Kwarter hingga Tersier.
Marmer akan selalu berasosiasi keberadaanya dengan batu gamping. Setiap ada batu marmer akan
selalu ada batu gamping, walaupun tidak setiap ada batu gamping akan ada marmer. Karena keberadaan
marmer berhubungan dengan proses gaya endogen yang mempengaruhinya baik berupa tekanan
maupun perubahan temperatur yang tinggi. Di Indonesia penyebaran marmer tersebut cukup banyak.
PERTAMBANGAN
Untuk mengetahui besarnya cadangan suatu tubuh marmer maka biasanya dilakukan eksplorasi
geofisika agar diketahui baik penyebaran horizontal maupun vertikal, kemudian dibuat sumur uji dan
pengeboran untuk mengetahui ketebalan lapisan. Untuk mengetahui kualitas marmer di suatu lokasi
maka diambil sampel yang diuji di laboratorium baik fisika maupun kimia, secara mikroskopis.
Sebelum keluar teknologi baru, penambangan marmer dilakukan dengan 2 tahapan yaitu:

Land clearing (pengupasan), yaitu kegiatan pengupasan lapisan tanah dengan menggunakan
buldozer dan ekskavator untuk menggali tanah yang menutupi tubuh batuan guna menyiapkan kegiatan
penambangan.
Kegiatan produksi, yaitu proses pemolaan, pemboran, pemahatan, dan seleksi tiap blok dan
mengangkutnya ke lokasi pengolahan selanjutnya.
Biasanya pemboran dilakukan dengan mengebor vertikal sampai kedalaman 110 cm pada sisi panjang
dengan ukuran 260 cm dan sisi lebar (mendatar) sebesar 135 cm (Asril Riyanto, 1994). Sedangkan
pemahatan mendatar dimaksudkan untuk melepas blok dengan ukuran standar 260 x 110 x 135 cm.
Kegiatan tersebut dibantu dengan alat angkat/tarik, alat dorong, serta alat angkut. Setelah muncul
teknologi baru yaitu dengan menggunakan alat pengerat bermata diamond, maka segala kegiatan
eksploitasi dilakukan di lokasi marmer tersebut berada. Untuk tahap awal dilakukan pemolaan diameter
batu yang akan dibelah dan dipotong, selanjutnya dibor sampai kedalam tertentu lalu dilakukan
pengeratan tersebut.

Pengolahan merupakan proses kegiatan memperhalus produk hingga menjadi produk yang siap
dipasrkan. Adapaun kegiatan tersebut adalah sebagai berikut:

Untuk yang masih menggunakan teknologi lama maka blok batu pualam berukuran ( 260 x 100 x
135 ) cm digergaji menjadi lempengan-lempengan denganketebalan rata-rata 1,8 sampai 2 cm.
Lempengan batu pualam tersebut kemudian dipotong menjadi barang setengah jadi, sesuai
ukuran-ukuran standar pesanan.
Barang setengah jadi tersebut kemudian digerinda dua tahap dan kemudian disempurnakan atau
ditambal dan dipoles pada lapisan-lapisan yang berlubang hingga akan dihasilkan marmer yang
mengkilap.
PERKEMBANGAN
Marmer pada saat ini masih merupakan barang mewah, kecuali untuk ukuran yang kecil-kecil sebagai
souvenir. Marmer atau batu pualam yang mengkilap biasanya dijadikan salah satu ciri fisik kemewahan
sebuah bangunan dan rumah. Kemewahan marmer belum ada yang menandingi karena kualitasnya yang
baik dibandingkan produk lantai atau dinding dari bahan lain.
Dilihat dari sisi pembiayaan, membuat lantai dari marmer harus menyiapkan dana yang tidak sedikit.
Hanya orang yang memiliki dana berlebih saja yang mampu membelinya, guna menghiasi gedung atau
rumah mewah mereka.
Perkembangan yang sangat mencolok adalah dari segi penambangannya, karena saat ini telah lebih
simple yaitu dengan menggunakan teknologi mutakhir. Sedangkan prospek ke depan untuk marmer
masih dalam pangsa pasar yang masih terbatas di kalangan menengah sampai kalangan atas, kecuali
hanya untuk souvenir yang kecil kecil saja
- See more at: http://www.marmertulungagung.com/blog/item/52-proses-pembentukanmarmer#sthash.glVHSapl.dpuf

Menurut kekasaranya marmer di golongkan berdasarkan kandungan mineral


magnesium karbonatenya dalam kelompok,
1. DOLOMITE, magnesium karbonatnya > 40%
cirinya: keras, warna cenderung gelap, sulit kilap dan tahan lama kilapnya.
2. MAGNESIAN, magnesium karbonatnya 5 - 40%
cirinya: keras hingga sedang, warna mulai terang hingga ke arah gelap, mudah gelap
dan mudah gelap dan mudah buram
3. CALCITE, magnesian carbonatnya <>

cirinya: peka terhadap asam dan alkali, warna sangat terang ( ke arah putih ) sulit kilap
dan cepat buram.
2.Pengolahan
Kegiatan pengolahan pada prinsipnya adalh sebagai pengolah blok-blok batu pualam yang telah
dihasilkan menjadi barang jadi akhir yang siap untuk dipanaskan. Proses pengolahan secara garis
besar adalah sebagai berikut:

blok batu pualam yang berukuran (260x110x135) cm digergaji menjadi lempenganlempengan dengan ketabalan rata-rata 2 cm.

lempengan batu pualam tersebut kemudian dipotong menjadi barang setengah jadi, sesuai
ukuran-ukuran tersebut atau pesanan.

Barang

setengah

jadi

tersebut

kemudian

digerinda

dua

tahap

dan

kemudian

disempurnakan/ditambal bagian-bagian lempeng yang berlubang. Kualitas penambalanakan


tergantung pada kualitas batu yang dihasilkan. Barangsetengah jadi yang telah digerinda
dua tahap dan disempurnakan kemudian digerinda lagi empat tahap dan dipoles hingga
mengkilap.

Seleksi kualitas barang jadi akhir sesuai standar yang teah ditetapkan.

3.Kegunaan
Batu pualam sangat disukai sebagai batu ornament. Batu pualam tipe ordinorio yang berwarna putih
sering digunakan untuk pembuatan tempat mandi, meja-meja, toilet, lantai, dinding dan sebagainya.
Sedangkan untuk batu pualam ari tipe staturio umumnya sering dipakai untuk seni pahat atau
patung. Batu pualam yang terkenal didunia adalah yang berasal dari caraka, italia, yang termasyur
karena penggunaannya untuk pembuatan patung-patung dan gedung-gedung yang indah.Adapun
mengenai persyaratan khusus untuk standar kualitas batu pualam yang baik diantaranya adalah :

Dapat dibuat kepingan-kepingan besar sesuai kapasitas mesin produksi guna memperoleh
efisiensi optimal dalam penentun model. Mempunyai komposisi warna yang bermacammacam dan menarik, hal ini akan terjadi tergantung dari proses metamorfosa yang terjadi.

Mempunyai

Mempunyai daya kehausan yang rendah dan utiran halus.

struktur

yang

padat/pejal

dengan

tekanan

yang

tinggi.