Anda di halaman 1dari 5

RINGKASAN MATERI

PERKEMBANGAN TRANSPORTASI KOTA BANDUNG


Disampaikan Oleh
Ricky Gustiadi
Kepala Dinas Perhubungan Kota Bandung
Happy Tiara Asvita
15409001
Kondisi Transportasi
Visi kota bandung adalah memantapkan kota bandung sebagai kota jasa yang
bermartabat, tetapi saat ini jika dilihat dari sisi transportasi, dirasa bahwa
transportasi kota Bandung belum bermartabat. Hal itu dikarenakan transportasi
yang kurang aman, nyaman, menghasilkan banyak emisi dan masih macet
dimana mana. Sehingga perlu dilakukan sesuatu agar tranportasi Kota
Bandung menjadi bermartabat, salah satunya adalah dengan reformasi sistem
transportasi Kota Bandung.
Transportasi yang baik harus memiliki sarana dan prasarana yang baik. Tetapi di
Kota Bandung baik sarana (angkutan umum) atau prasarananya (jaringan)
memiliki masalah. Masalah jaringan jalan di Kota Bandung adalah macet di
berbagai titik, menghasilkan gas emisi sebesar 66,34% dan biaya transportasi
yang tinggi akibat kemacetan. Hal ini disebabkan oleh jaringan jalan yang
terbatas, adanya on-street parking dan hirarki jalan yang kurang jelas serta
banyak persimpangan. Sedangkan masalah pada angkutan umum adalah biaya
angkutan sangat mahal, okupansi yang rendah dan kualitas pelayanan yang
buruk. Hal ini disebabkan karena hirarki trayek tidak rapi, lebih di dominasi
angkutan paratransit seperti ojek dan sistem pengusahaan yang tidak baik.
Kinerja pelayanan umum di Kota Bandung mengalami penurunan, dapat dilihat
dari menurunnya load factor yang berarti kapasitas angkutan umum tidak
digunakan secara maksimum. Hal ini dapat disebabkan karena kualitas angkutan
umum yang kurang baik sehingga banyak masyarakat yang enggan memilih
angkutan umum dan lebih memilih sepeda motor sebagai moda. Pada tahun
2008, terdapat 55,78 % penggunaan sepeda motor, 30,96 % penggunaan mobil
dan penggunaan angkutan umum hanya sebesar 13,25 %. Selain itu kinerja
pelayanan umum yang mengalami penurunan juga dapat dilihat dari tingkat
pelayanan angkutan umum yang belum memenuhi harapan masyarakat,
misalnya kecepatan perjalanan minimum yang diinginkan masyarakat 17,73
km/jam tetapi pada kenyataannya hanya 6,5 km/jam yang dapat disebabkan
karena jalanan macet atau angkutannya mengetem agar mendapatkan
penumpang.
Apabila dilihat dari sisi supply jaringan, yaitu jaringan jalan dan jaringan
angkutan umum, dapat dilihat bahwa penambahan jaringan keduanya tida
terlalu signifikan selama 10 tahun terakhir. Padahal dalam 10 tahun terjadi
perumbuhan penduduk yang signifikan, dimana penduduk tersebut memiliki
kebutuhan akan transportasi.
Dari permasalahan transportasi yang telah diuraikan diatas, maka akan
menimbulkan dampak terhadap beberapa aspek. Aspek utama yang memiliki
1

dampak terhadap permaslahan transportasi di Kota Bandung adalah ekonomo


dan lingkungan. Permasalahan transportasi seperti macet dan kurang baiknya
pelayanan angkutan umum akan mengakibatkan biaya transportasi yang
meningkat, konsumsi bbm yang semakin meningkat dan meningkatkan hasil
emisi gas buang yang dapat mencemari lingkungan.
Melihat dari masalah dan dampak yang ditimbulkannya, maka terdapat beberapa
upaya pemecahan masalah jangka pendek, yaitu manajemen dan rekayasa lalu
lintas di 69 titik dari 72 titik rawan, perbaikan jalan, trotoar dan taman,
penambahan fasilitas perlengkapan jalan (rambu, marka) dan fasilita pendukung
(shelter/halte) serta optimalisasi ATCS, penempatan personil di lapangan untuk
pengaturan dan pengendalian, penertiban PKL di 7 titik dan relokasi PKL di Jl.
Sudirman ke Pasar Ciroyom dan Pasar Andir, sosialisasi pintu masuk Kota
Bandung bukan hanya dari Pintu Tol Pasteur tetapi juga dari Pintu Tol Pasir Koja,
Kopo, M. Toha, Buah Batu (untuk mengurangi kepadatan kendaraan di Pintu Tol
Pasteur dan Jl. Dr. Djunjunan), penertiban pasar tumpah, penertiban terminal liar,
penertiban Angkutan di luar kota, dan memperbaiki kualitas angkutan umum
yang ada.Sedangkan untuk upaya pemecahan masalah jangka panjang adalah
dengan membuat rencana perkembangan transportasi.
Rencana Perkembangan Transportasi
Rencana perkembangan transportasi sangat dibutuhkan untuk mengatasi
permasalahan transportasi dalam jangka panjang dan pembuatannya mengacu
pada rencana Tata Ruang Kota Bandung. Beberapa rencana pengembangannya
adalah pemantapan hirarki jalan pada sistem jaringan primer di Kota Bandung,
pemantapan hirarki jalan kolektor primer di Kota Bandung; restrukturisasi hirarki
jalan pada sistem jaringan sekunder; pembangunan jalan tol; pembangunan
jalan layang; rencana pengembangan terminal terpadu dan terminal kota;
rencana penerapan Manajemen Kebutuhan Transportasi; rencana pengembangan
Sistem Angkutan Umum (SAUM); pemantapan sistem jaringan transportasi
kereta api; pembangunan jalur sepeda dan pemantapan Transportasi Udara.
Rencana Pengembangan Transportasi Angkutan Umum Masal di Kota Bandung
Kota Bandung dengan jumlah penduduk (menurut data base SIAK Jawa Barat
201) 1sebesar 2.536.649 jiwa yang dapat dikategorikan kota metropolitan karena
memiliki jumlah penduduk lebih besar dari 1.000.000 jiwa tentunya perlu
memiliki suatu angkutan umum masal yang dapat mengangkut penduduk
dengan jumlah yang banyak dalam 1 moda, karena jika tidak ada suatu
angkutan umum masal akan mengakibatkan volume kendaraan di jalan
meningkat. Untuk itulah dibuat rencana pengembangan transportasi angkutan
umum masal di Kota Bandung sebagai salah satu solusi mengtasi kemacetan di
Kota Bandung. Sistem angkutan umum masal yang akan dikembangkan di Kota
Bandung adalah MRT (Mass Rapid Transit), LRT (Light Rapid Transit), BRT (Bus
rapid Transit), Monorel dan Cable Car (Kereta Gantung).
Intelligent Transportation System di Kota Bandung
Intelligent transportation system adalah suatu pengaturan lalu lintas yang
menghubungkan sarana dan prasarana lalu lintas dengan jaringan
telekomunikasi secara elektronis menggunakan komputer dan teknologi
pengindraan mutakhir. ITS diperlukan karena pada dasarnya pengemudi
2

umumnya mengabaikan keadaan lalu lintas oleh karena itu semua pengaturan
lalu lintas sebaiknya dapat dikendalikan dengan cara system terpadu.
Dalam pengembangan ITS yang pertama harus dilakukan adalah bagaimana
menentukan manajemen dan sistem pengendalian lalu lintas. Kebijakan
kebijakan yang dapat diimplementasikan dengan ITS adalah parking control,
public transportation, Traffic Demand Management, Traffic Information Centre,
Area Traffic Control.
Dengan adanya ITS ini diharapkan dapat mengurangi antrian lalu lintas, tundaan
lalu lintas dan kecelakan. Sehingga dapat mengurangi pemakaian bahan bakar
dan buangan kendaraan serta mengurangi biaya kerugian yang terjadi akibat
kemacetan. Pada akhirnya diharapkan penerapan ITS dapat mengatasi
permaslahan transportasi di Kota bandung.
Rencana Pengembangan Terminal Terpadu Gedebage
RTRW Kota Bandung menetapkan Cibeunying dan Gedebage sebagai pusat
kegiatan di Kota Bandung bagian Barat dan Timur, sehingga perlunya diadakan
proses pemerataan pembangunan agar aktivitas masyarakat dapat menyebar
secara merata. Gedebage merupakan lokasi direncanakan untuk menjadi Pusat
Pelayanan Kota (PPK) dalam rangka menyeimbangkan aktivitas masyarakat Kota
Bandung. Sehingga perlu adanya penyediaan fasilitas infrastruktur dengan skala
pelayanan Kota dan bahkan Kawasan Metropolitan Bandung. Salah satu fasilitas
yang perlu disediakan adalah pembangunan sarana dan prasarana transportasi
untuk mempermudah aksesibilitas sehingga dapat menarik investor dan
mempermudah pergerakan ke Gedebage, yaitu dibangunnya terminal terpadu
Gedebage.
Gedebage Multipurpose Terminal (GMT) dibagun pada lahan seluas 30 Ha
sehingga dapat mempermudah perencanaan sirkulas kendaraan dan
penumpang. Keberadaan jalan tol cilenyi dan rencana pembangunan jalan tol
gedebage serta rencana overpass dan pelebaran luas jalan cimencrang yang
dapat mempermudah akses dari dan menuju gedebage multipurpose terminal
(GMT). GedeBage Multi purpose Terminal (GMT) nantinya akan berfungsi sebagai
simpul pergerakan masyarakat di kaweasan timur kota Bandung dan akan
berpotensi memberikan pemasukan yang cukup tinggi bagi pemerintah daerah
kota Bandung.
Konsep pengembangan Terminal ini adalah green dan integrated. Maksud dari
konsep green ini adalah Terminal Gedebage akan dibangun dengan konsep
ramah lingkungan dengan mengusung Green Architecture. Sedangkan maksud
dari konsep integrated adalah konsep penataan terminal yang memaksimalkan
sirkulasi yang terpadu antar ruang, antar bangunan, antara zona dengan
memberi kemudahan aksesbilitas antar ruang bagi pengguna serta ketepaduan
dengan sistem transportasi dan tata guna lahan.
Pengembangan Sistem Angkutan Umum Masal Dengan Skema KPS
Dalam pemilihan model kerja sama pemerintah swasta, terdapat faktor faktor
umum yang mempengaruhi pemilihan tersebut, yaitu kontrak pelayanan, kontrak
operasi dan pemeliharaan, bangun serah, BOT, BOOT, ROOT, BOO, ROO dan
privatisasi. Kemudian dilihat apakah faktor faktor tersebut memiliki investasi
sektor swasta, efisiensi, kemampuan manajemen dan kemampuan teknis.
3

Kajian Teknis
Dalam kajian teknis dibahas mengenai biaya pembangunan dari sistem angkutan
umum. Terdapat faktor faktor yang mempengaruhi besarnya biaya
pembangunan tersebut, yaitu panjang total dari sistem tersebut, topografi,
kegunaan, lahan, ukuran dan jumlah wahana yang disyaratkan, kecepatan,
jumlah stasiun, bangunan khusus seperti terowongan, jembatan dan konstruksi,
kondisi geoteknik dan kelonggaran lingkungan.
Sebelum menghitung biaya pembangunan, harus ditentukan terlebih dahulu
koridor angkutan masalnya. Penentuan koridor dilihat dari lokasi-lokasi pusat
kegiatan, simpul-simpul moda, karakteristik lalu lintas, ketersediaan jaringan
jalan dan lain sebagainya. Koridor angkutan massal di Kota Bandung ditetapkan
berdasarkan asal tujuan, lokasi-lokasi pusat kegiatan, jalan-jalan utama,
karakteristik lalu lintas, dan ketersediaan jaringan jalan. Dengan mengetahui
faktor faktor yang mempengaruhi
besarnya biaya pembangunan dan
mengetahui koridor yang akan dibangun, maka dapat dilakukan perhitungan
estimasi biaya pembangunan transportasi massal tersebut.

Kajian Sistem Kelembagaan


Dalam sistem angkutan umum terdapat empat alternative pengoperasian.
Alternatif 1, yaitu Infrastruktur, ticketing dan operation dikelola oleh Badan
Otorita Angkutan Umum (BOAU). Kelebihannya adalah dalam hal perencanaan,
pelaksanaan dan pengendalian lebih terpadu. Kekurangannya adalah
memerlukan personal dan manajemen yang profesional. Alternatif 2, yaitu
dikelola secara terpisah yaitu infrastruktur oleh BOAU, ticketing dan operation
dikelola swasta terpisah. Kelebihannya adalah manajemen bersifat terbuka, bisa
dipilih swasta yang profesional. Kekurangannya adalah memerlukan koordinasi
operasional yang baik.
Alternatif 3, yaitu infrastruktur dikelola oleh BOAU, ticketing dan operation oleh
satu swasta. Kelebihannya adalah untuk koordinasi operasional koleksi tiket dan
operasi bus terpadu. Kekurangannya adalah tanpa audit manajemen, dapat
terjadi subsidi silang internal. Alternatif 4, yaitu infrastruktur dan ticketing
dikelola oleh BOAU, sedangkan operation oleh swasta. Kelebihannya adalah
swasta terfokus dalam pemberian layanan prima. Kekurangan adalah dana
masuk sebagai pendapatan, pengeluaran perlu birokrasi.
Selain alternatif pengoperasian, dalam sistem angkutan umum harus terdapat
sistem badan pengelolaan dan sistem kerjasama operasi. Badan pengelolaan
terdiri dari kepala daerah, dewan transportasi dan konsultan yang memiliki
fungsi dan tugas dalam pengelolaan sarana dan prasarana angkutan umum.
Pada sistem kerjasama operasi, terdapat pengelolaan kerja sama operasi dalam
hal sumber dana dan penggunaan angkutan umum.
Kesimpulan dan Rekomendasi
Kondisi transportasi Kota Bandung saat ini belum baik, hal ini dapat dilihat dari
permasalahan yang ada baik dari sarana maupun dari prasarananya. Solusi dari
permasalahan itu adalah penerapan angkutan umum yang memiliki kapasitas
yang cukup banyak dan pelayanan yang baik. Sehingga dengan adanya solusi
tersebut diharapkan dapat mengurangi volume kendaraan di Kota Bandung.
4

Sistem angkutan umum masal yang akan dikembangkan di Kota Bandung adalah
MRT (Mass Rapid Transit), LRT (Light Rapid Transit), BRT (Bus rapid Transit),
Monorel dan Cable Car (Kereta Gantung). Rencana pengembangan sistem
angkutan umum masal di Kota Bandung tersebut akan dibangun melalui kerja
sama pemerintah swasta, dengan memperhatikan kajian teknis dan kajian
kelembagaan.
Dalam pembangunan sistem angkutan umum tersebut harus disiapkan dana
pembangunan yang cukup besar agar proyek tidak behenti di tengah jalan
karena tidak adanya dana. Selain itu perlu dilakukan sosialisasi kepada stake
holder terakit mengenai rencana pembangunan angkutan umum ini. Kemudian
yang harus diperhatikan adalah integrasi antar moda transportasi dan
pengadaan feeder angkutan massa, sehingga sistem angkutan umum yang
effektif dan effisien dapat terealisasi dan masyarakat akan nyaman dalam
menggunakannya.