Anda di halaman 1dari 129

KARYA TULIS ILMIAH

ASUHAN KEPERAWATAN PADA By.D.D.DENGAN


GASTROENTERITIS AKUT DI RUANGAN ANAK
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
Dr. M. HAULUSSY AMBON

Sebagai Salah Satu Syarat Menyelesaikan Pendidikan Diploma III


Kesehatan Pada Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan
Kemenkes Maluku

Disusun oleh
LA HAJIRIN
NIM : P07120110033

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKESMALUKU
JURUSAN KEPERAWATAN
2013

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat TUHAN YANG MAHA ESA
karena atas berkatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah
ini dengan Judul Asuhan Keperawatan Pada By D.D dengan Gastroenteritis
Akut di Ruang Anak RSUD Dr. M. Haulussy Ambon.
Maksud penulisan karya Tulis Ilmiah adalah sebagai salah satu persyaratan
untuk

menyelesaikan

pendidikan

diploma

III

kesehatan

pada

Jurusan

Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Maluku


Dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini penulis banyak memperoleh
bimbingan baik moral maupun material dari berbagai pihak untuk itu
perkenankanlah penulis untuk mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat
1

Hamdan Tunny, S.Kep., M.Kes selaku Direktur Politeknik Kesehatan


Kemenkes Maluku yang menerima penulis untuk mengikuti pendidikan

pada Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Maluku


Dr. Sri Ananta Widhya, M.Kes selaku Direktur RSUD Dr. M. Haulussy
Ambon yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melaksanakan

penelitian
Ns. Zulfikar Peluw, S.Kep., M.Kep selaku ketua Program Studi
Keperawatan Ambon yang selama ini telah memberikan arahan bimbingan
dan ilmu pengetahuan selama penulis mengikuti pendidikan.

M. Nendissa, S.Pd., S.Kep., M.Kes selaku pembimbing akademik yang


telah meluangkan waktunya untuk membimbing dan mengarahkan penulis

dalam menyusun Karya Tulis Ilmiah


Erniwati Rumra, Amd.Kep selaku pembimbing Rumah Sakit yang telah

membantu dan membimbing penulis dalam melakukan penelitian


Seluruh Staf Dosen pada Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan
Kemenkes Maluku yang telah banyak memberikan ilmu pengetahuan dan

bimbingan selama penulis mengikuti pendidikan.


Khususnya kepada Ayahanda dan Ibunda tercinta serta adik saya, terima
kasih atas dorongan, motivasi, bantuan berupa moral maupun material
serta doa kepada penulis selama penulis mengikuti pendidikan Diploma
III Keperawatan.
Penulis menyadari bawah dalam Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini masih

jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu segala kritik dan saran yang bersifat
membangun sangat penulis harapkan.
Akhir kata tidak ada yang dapat penulis berikan selain ucapan terima kasih
dan harapan, semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi kita semua
serta segala budi baik Bapak/Ibu, Saudara/saudari, teman-teman sekalian akan
mendapatkan imbalan yang setimpal dari Tuhan yang Maha Esa , AMIN.

Ambon,

September 2013

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN
JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN.
KATA PENGANTAR.....
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR...
DAFTAR LAMPIRAN...
INTISARI.
BAB I

i
ii
iii
v
vii
viii
ix
x

PENDAHULUAN
A Latar Belakang...........
B Rumusan Masalah..........
C Tujuan Penelitian...........
D Manfaat Penelitian.........

1
4
4
5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A Konsep Dasar Gastroenteritis Akut...
1 Pengertian......................................
2 Etiologi .....................................
3 Derajat Dehidrasi......................................................
4 Manifestasi Klinis.............
5 Patofisiologi..........
6 Komplikasi............
7 Pemeriksaan Laboratorium...........
8 Penatalaksanaan............
B Konsep Dasar Keperawatan...........
1 Pengertian Keperawatan............
2 Proses Keperawatan..............
C Kerangka Konsep...........

7
7
8
9
10
11
14
14
15
18
18
18
43

BAB III METODE PENELITIAN


A Jenis Penelitian..........
B Waktu dan Lokasi Penelitian.............
C Subjek Penelitian...........
D Variabel dan Defenisi Operasional............
E Alat dan Bahan...............................................................
F Teknik Pengumpulan Data.............
G Pengolahan dan Analisa Data............
H Penyajian Data...............................................................

45
45
45
45
48
48
49
50

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


A Hasil...........................
1 Pengkajian.................................................................
2 Diagnosa dan Prioritas Masalah................................
3 Perencanaan...............................................................
4 Implementasi dan Evaluasi.......................................
B Pembahasan...........................................
1 Pengkajian.................................................................
2 Diagnosa Keperawatan..............................................
3 Perencanaan...............................................................
4 Implementasi.............................................................
5 Evaluasi.....................................................................

51
51
64
66
70
77
77
79
80
82
84

BAB V PENUTUP
A Kesimpulan............

85

B Saran..........

86

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

DAFTAR TABEL
Tabel

Hal

Tabel 1.Distribusi Penyakit Gastroenteritis Akut yang Terjadi di RSUD


Dr.M.Haulussy Ambon Pada Tahun 2010, 2011 dan 2012............
Tabel 2.Nilai Normal Nadi Sesui Tingakat Usia.........................................
Tabel 3.Nilai Normal Pernapasan Sesui Tingat Umur................................
Tabel 4.Nilai Normal Tekan Darah Sesui Tingat Usia................................
Tabel 5.Pemerikasaan Tingkat kesadaran...................................................
Tabel 6.Identitas Saudara Kandung... .............
Tabel 7.Riwayat Imunisasi..........................................................................
Tabel 8.Pola Nutrisi Pada Tiap Tahapan Usia ........................
Tabel 9.Aktivitas Sehari-Hari..........................................
Tabel 10.Pengukuran Antropometri.................................................
Tabel 11.Pemeriksaan Laboratorium........................................
Tabel 12.Klasifikasi Data.............................................................................
Tabel 13.Analisa Data..................................................................................
Tabel 14.Rencana Asuhan Keperawatan......................................................
Tabel 15.Implementasi dan Evaluasi...........................................................

3
21
21
22
22
52
55
56
58
59
62
63
63
66
70

DAFTAR GAMBAR
Gambar

Hal

Gambar 1. Fakor-Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Gastroenteritis...


Gambar 2. Patofisiologi dan Penyimpangan KDM Gastroenteritis...............
Gambar 3. Kerangka Konsep Penelitian..
.......
Gambar 4. Genogram Tiga Generasi..............

9
13
44
54

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Format Pengkajian Pengkajian keperawatan Anak
Lampiran 2. Surat Mohon Izin Pengambilan Data Awal
Lampiran 3. Surat Keterangan Selesai Meneliti
Lampiran 4. Surat Persetujuan Menjadi Responden
Lampiran 5. Satuan Acara Penyuluhan Gastroenteritis Akut
Lampiran 6. Lifleat Gastroenteritis Akut
Lampiran 7. Daftar Konsultasi Karya Tulis Ilmiah (KTI)

INTISARI
Asuhan Keperawatan Pada Klien By. D.D Dengan Gastroenteritis Akut
Di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. M Haulussy Ambon
La Hajirin 1

M. Nendissa, S.Pd., S.Kep., M.Kes 2

Penyakit Gastroenteritis masih menjadi penyebab kematian balita (bayi


dibawah lima tahun) terbesar di dunia. Tingginya kejadian Gastroenteritis dipicu
oleh pengelolaan air yang buruk dan faktor perilaku hidup sehat masyarakat yang
rendah. Angka kejadian Gastroenteritis akut, disebagian besar wilayah Indonesia
hingga saat ini masih tinggi. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT)
tahun 2004 angka kematian akibat Gastroenteritis akut 23 per 100.000 penduduk
dan pada balita 75 per 100.000 balita.
Tujuan dari penulisan ini adalah agar mampu menerapkan asuhan
keperawatan pada By. D.D dengan Gastroenteritis Akut yang dirawat di Ruang

Anak RSUD Dr. M. Haulussy Ambon sesuai dengan pendekatan proses


keperawatan.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif yang berupa
studi kasus yaitu penerapan asuhan keperawatan dengan pendekatan proses
keperawatan,
Dari hasil pengkajian pada pasien dengan Gastroenteritis akut data yang
didapatkan yaitu keadaan umum lemah, bayi tampak rewel, mata cekung, turgor
kulit jelek, membran mokosa bibir kering, terdengar bunyi kembung pada perut
saat diperkusi, Bunyi peristaltik usus terdengar 36x/menit, dibagian anus tampak
kemerahan, konsistensi feses encer, orang tua sering bertanya-tanya tentang kodisi
bayinya, ekspresi wajah tampak gelisah, bayi terlihat takut bila di dekati oleh
perawat.
Dari data tersebut didapatkan diagnosa yang muncul adalah Defisit volum
cairan berhubungan dengan out put yang berlebihan, Perubahan eliminasi BAB
berhubungan dengan peningkatan peristaltik usus, Resiko kerusakan integritas
kulit berhubungan dengan seringnya BAB, Ansietas orang tua dan anak
berhubungan dengan hospitalisasi,
Setelah melakukan asuhan keperawatan selama tiga hari menunjukkan
bahwa masalah. Defisit volum cairan berhubungan dengan out put yang
berlebihan, Perubahan eliminasi BAB berhubungan dengan peningkatan
peristaltik usus, Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan seringnya
BAB, Ansietas orang tua dan anak berhubungan dengan hospitalisasi, sudah
teratasi karena pasien sudah diperbolehkan untuk pulang.
Kata kunci
1
2

: Asuhan Keperawatan, Gastroenteritis Akut.

Mahasiswa pada Jurusan Keperawatan Ambon Angkatan 2010


Dosen pada Jurusan Keperawatan Ambon

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan dilaksanakan dengan memperhatikan dinamika kependudukan,
epidemiologi penyakit, perubahan ekologi dan lingkungan, kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi, serta globalisasi dan demokratisasi dengan semangat
kemitraan, kerja sama lintas sektoral serta mendorong peran serta aktif
masyarakat. Melalui Visi, Misi Masyarakat sehat yang mandiri dan berkeadilan,
Untuk mencapai masyarakat sehat yang mandiri dan berkeadilan ditempuh
melalui. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, melalui pemberdayaan
masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani, Melindungi kesehatan
masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna,
merata, bermutu, dan berkeadilan, Menjamin ketersediaan dan pemerataan
sumberdaya kesehatan, Menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik.
(Kementerian kesehatan 2010)
Salah satu penyakit infeksi saluran pencernaan adalah gastroenteritis akut.
Gastroenteritis akut adalah peradangan akut lapisan lambung dan usus yang ditandai
dengan anoreksia, rasa mual, nyeri abdomendan diare. Gastroenteritis sampai saat ini
masih merupakan masalah kesehatan, tidak saja di negara berkembang tetapi juga
di negara maju. Penyakit ini masih sering menimbulkan KLB (Kejadian Luar
Biasa) dengan penderita yang banyak dalam waktu yang singkat. Gastroenteritis
akut juga sering disebut flu perut tetapi penyakit ini tidak disebabkan oleh virus
influenza. Virus yang dapat menyebabkan gastroenteritis akut meliputi
rotaviruses, adenoviruses, caliciviruses, astroviruses, norwalk virus dan

sekelompok noroviruses. Gastroenteritis akut juga disebabkan oleh bakteri dengan


gejala utama gastroenteritis akut yaitu seperti muntah-muntah, sakit kepala,
demam, dan kadang-kadang abdominal cramps (Powel, 2003).
Penyakit Gastroenteritis masih menjadi penyebab kematian balita (bayi
dibawah lima tahun) terbesar di dunia. Menurut catatan Unicef, setiap detik satu
balita meningggal karena gastroenteritis. Di Afrika anak-anak terserang
gastroenteritis empat kali per tahunnya dibandingkan dengan negara berkembang
lainnya mengalami serangan gastroenteritis tiga kali per tahun. Di Inggris satu
dari lima orang menderita penyakit gastroenteritis setiap tahunnya. Tingginya
kejadian di Negara Barat ini oleh karena (Foodgorne infection and waterborn
infection) yang disebabkan oleh bakteri salmonella, campylobacter jejuni,
stafilococcus aureus, bacillus careus, clostridium perfrigeus dan enterohemorrgie,
ecerchia coli. Di Negara berkembang, menyebabkan kematian sekitar juta
penduduk pertahun (Haryati, 2008).
Tingginya kejadian Gastroenteritis dipicu oleh pengelolaan air yang buruk dan
faktor perilaku hidup sehat masyarakat yang rendah. Berdasarkan hasil studi basic
human service pada tahun 2007, hampir semua rumah tangga (99,20%), di Indonesia
memasak air sendiri untuk minum. Namun akibat tidak dikelola dengan baik,
sekitar 47,5% air yang diminum tetap terkontaminasi bakteri E. coli (Kemal,
2007).
Angka kejadian Gastroenteritis akut, disebagian besar wilayah Indonesia
hingga saat ini masih tinggi. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT)

tahun 2004 angka kematian akibat Gastroenteritis akut 23 per 100.000 penduduk
dan pada balita 75 per 100.000 balita. Selama tahun 2006 sebanyak 41 kabupaten
di 16 provinsi melaporkan Kejadian Luar Biasa (KLB) Gastroenteritis di
wilayahnya. Jumlah kasus Gastroenteritis akut yang dilaporkan sebanyak 10.980
dan 277 diantaranya menyebabkan kematian. Hal tersebut, utamanya disebabkan
rendahnya ketersediaan air bersih, sanitasi buruk dan perilaku hidup tidak sehat
(Astaqauliyah, 2011).
Berdasarkan data yang di peroleh dari medical record Rumah Sakit Umum
Daerah Dr. M. Haulussy Ambon diperoleh data yang menderita penyakit
Gastroenteritis pada 3 tahun terakhir dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini.
TABEL 1
DISTRIBUSI PASIEN DENGAN GASTROENTERITIS AKUT DI RUMAH
SAKIT UMUM DAERAH Dr. M. HAULUSSY AMBON PADA
TAHUN 2011 2013
Jumlah pasien dengan gastroenteritis
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
1
2011
285
198
483
2
2012
373
231
604
3
Jan Juli 2013
191
134
325
Total
849
563
1412
Sumber : Rekam Medik RSUD. Dr. M. Haulussy Ambon, 2013

No

Tahun

Pelayanan

keperawatan

merupakan

bagian

integral

dari

upaya

penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan yang dilaksanakan pada


berbagai sarana pelayanan kesehatan maupun di rumah sakit. Praktik keperawatan
pada dasarnya adalah memberikan asuhan keperawatan. Spektrumnya luas, mulai
dari melaksanakan pengkajian keperawatan, merumuskan diagnosis keperawatan,

menyusun

perencanaan

tindakan

keperawatan,

melaksanakan

tindakan

keperawatan (Soedarmono Soejitno, 2010).


Melihat keterangan di atas maka peran perawat sebagai promotif, preventif
kuratif, akan rehabilatif serta sebagai pemberi pelayanan kesehatan secara umum
ditantang untuk terus mengembangkan agar angka kecacatan dan kematian data
dikurangi

dengan

cara

mengembangkan

kemampuan

dan

mengikuti

perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, maka penulis tertarik untuk


mengambil kasus ini dengan judul Asuhan Keperawatan pada By.D.D dengan
Gastroenteritis Akut di ruang Ruang Anak RSUD Dr.M. Haulussy Ambon.
B.

Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang diatas maka Rumusan masalah


pada penelitian ini adalah "Bagaimana Menerapkan Asuhan Keperawatan Pada
By.D D Dengan Gastroenteritis Akut Di Ruangan Anak RSUD Dr.M. Haulussy
Ambon.
C.

Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian adalah :


1.

Tujuan Umum
Untuk dapat menerapkan asuhan keperawatan dengan menggunakan
pendekatan proses keperawatan untuk mengatasi masalah pada bayi dengan
penyakit gastroenteristis akut.

2.

Tujuan khusus

Diharapkan penelitian ini akan dapat mengembangkan kemampuan


penulis dalam melaksanakan proses keperawatan yakni :
a. Dapat

Melakukan

pengkajian

pada

By.D

yang

menderita

Gastroenteritis akut di Ruangan Anak RSUD Dr. M. Haulussy Ambon.


b. Dapat menentukan masalah dan diagnosa keperawatan pada By.D D yang
menderita Gastroenteritis akut di Ruangan Anak RSUD Dr. M. Haulussy
Ambon.
c. Dapat membuat perencanaan asuhan keperawatan yang menyeluruh pada
By.D.D yang menderita Gastroenteritis akut di Ruangan Anak RSUD Dr. M.
Haulussy Ambon.
d. Dapat melaksanakan tindakan keperawatan yang menyeluruh pada By.D D yang
menderita Gastroenteritis akut di Ruangan Anak RSUD Dr. M. Haulussy Ambon
berdasarkan rencana yang telah ditetapkan dan sesuai dengan kebutuhan pasien.
e. Dapat melaksanakan evaluasi keperawatan untuk mengetahui sejauh mana
keberhasilan asuhan keperawatan yang telah diterapkan pada By.D D
yang menderita Gastroenteritis akut di Ruangan Anak RSUD Dr. M.
Haulussy Ambon.
D.

Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi
pengembangan ilmu pengetahuan dan ilmu kesehatan serta teori-teori
kesehatan, khususnya dalam upaya penerapan asuhan keperawatan pada pasien
dengan gastroenteritis akut.

2. Manfaat Praktis
a.
Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan kepustakaan dalam
mengembangkan ilmu pengetahuan keperawatan, sehingga pendidikan akan
menghasilkan tenaga keperawatan yang terampil dan professional.
b.
Bagi Rumah Sakit
Sebagai bahan masukan dan informasi dalam upaya meningkatkan
asuhan keperawatan di rumah sakit khususnya pada kasus Gastroenteritis
pada Anak.
a. Bagi Penulis
Memperoleh pengalaman yang nyata dalam menerapkan asuhan
keperawatan pada pasien dengan gastroenteritis akut. Disamping itu juga,
merupakan salah satu persyaratan untuk mengikuti ujian akhir program pada
Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Maluku.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Dasar Gastroenteritis akut
1. Pengertian

Gastroenteritis adalah suatu keadaan dimana terjadinya kehilangan cairan


dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi satu kali atau
lebih buang air dengan bentuk tinja yang encer dan cair (Suriadi,2010).
Gastroenteritis adalah peradangan akut lapisan lambung dan usus yang di
tandai denagn anoreksia, rasa mual, nyeri abdomen dan diare (Edelwz, 2009).
Gastroenteritis adalah Suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal
atau tidak seperti biasanya, ditandai dengan peningkatan volume, keenceran,
serta frekuensi lebih dari 3 kali sehari dan pada neonatus lebih dari 4 kali sehari
dengan atau tanpa lendir darah (Aziz, 2006).
Gastroenteritis adalah Penyakit yang ditandai dengan bertambahnya
frekuensi defikasi lebih dari biasanya (>3 kali/hari) disertai perubahan
konsistensi tinja (menjadi cair) dengan/tanpa darah atau lendir (Suratmaja,
2005).
Berdasarkan defenisi penyakit gastroenteritis menurut para ahli maka
penulis dapat menarik suatu kesimpulan bahwa penyakit gastroenteritis
adalah meningkatnya frekwensi buang air besar dimana pada bayi > 4x/
hari dan pada anak >3x/ hari dengan konsistensi tinja encer, cair, dapat
disertai lendir dan darah yang dapat menyebabkan terjadinya kekurangan
cairan dan elektrolit yang berlebihan.
2. Etiologi

Gastroenteritis bukanlah penyakit yang datang dengan sendirinya.


Biasanya ada yang menjadi pemicu terjadinya gastroenteritis. Secara umum,
berikut ini beberapa penyebab gastroenteritis menurut Rofiq (2007), yaitu :
a

Infeksi oleh bakteri, virus atau parasit

Alergi terhadap makanan atau obat tertentu

Infeksi oleh bakteri atau virus yang menyertai penyakit lain seperti :
campak, infeksi telinga, infeksi tenggorokan, dan malaria.

Pemanis buatan, makanan yang tidak dicerna dan tidak diserap usus akan
menarik air dari dinding usus. Dilain pihak, pada keadaan ini proses transit
di usus menjadi sangat singkat sehingg air tidak sempat diserap oleh usus
besar. Hal inilah yang menyebabkan tinja berair pada gastroenteritis. Selain
rotavirus, gastroenteritis juga disebabkan akibat kurang gizi, alergi, tidak
tahan terhadap laktosa, dan sebagainya. Bayi dan balita banyak yang
memiliki intoleransi terhadap laktosa dikarenakan tubuh tidak punya atau
hanya sedikit memiliki enzim laktosa yng berfungsi mencerna laktosa yang
terkandung susu sapi.

Faktor Psikologis : Rasa takut dan cemas (jarang tetapi dapat terjadi pada
anak yang lebih cemas).

Menurut Suratmadja (2005), faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya


gastroenteritis dapat dilihat pada gambar berikut ini :

Keadaan Hygiene & Sanitasi


Sosial Budaya
Penderita Gastroenteritis
Meninggal
Gizi

Kuman/ Penyebab Penyakit gastroenteritis

Masyarakat

Carier

Keadaan Penduduk
Sosial EKonomi Lain-lain faktor

Sumber : Suratmaja, 2005


GAMBAR 1
FAKOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERJADINYA
GASTROENTERITIS
3. Derajat Dehidrasi
Ada beberapa teori tentang menentukan derajat dehidrasi. Menurut
Suratmaja (2006), menilai derajat dehidrasi dengan kehilangan berat badan
yaitu :
a. Dehidrasi ringan : Bila terjadi penurunan berat badan 2 - 5% dengan
volume cairan yang kurang dari 50 ml/Kg
b. Dehidrasi sedang : Bila terjadi penurunan berat badan 5 10% dengan
volume cairan yang kurang dari 50 ml/Kg

c. Dehidrasi berat : Bila terjadi penurunan berat badan > 10 %, dengan


volume cairan yang hilang sama dengan atau lebih dari 100 ml/Kg

4. Manifestasi Klinis
Mula-mula bayi dan anak menjadi cengeng, gelisah, suhu tubuh biasanya
meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada, kemudian timbul
gastroenteritis, tinja cair dan mungkin disertai lendir atau darah. Warna tinja
makin lama berubah menjadi kehijau-hijauan karena bercampur dengan
empedu. Anus dan daerah sekitarnya menjadi lecet karena seringnya defikasi
dan tinja makin lama makin asam sebagai akibat makin banyaknya asam laktat,
yang berasal dari laktosa yang tidak dapat diabsorbsi usus selama
gastroenteritis.

Gejala

muntah

dapat

terjadi

sebelum

atau

sesudah

gastroenteritis dan dapat di sebabkan oleh lambung yang turut meradang atau
akibat gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit, maka gejala dehidrasi
mulai tampak, berat badan menurun, turgor kulit berkurang, mata dan ubunubun besar menjadi cekung, selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak
kering (Abdurrahman, 2000).
Gastroenteritis akut karena infeksi dapat disertai muntah-muntah, demam,
tenesmus, hematoschezia, nyeri perut dan atau kejang perut. Akibat paling fatal
dari gastroenteritis yang berlangsung lama tanpa rehidrasi yang adekuat adalah

kematian akibat dehidrasi yang menimbulkan renjatan hipovolemik atau


gangguan biokimiawi berupa asidosis metabolik yang berlanjut. Seseorang
yang kekurangan cairan akan merasa haus, berat badan berkurang, mata
cekung, lidah kering, tulang pipi tampak lebih menonjol, turgor kulit menurun
serta suara menjadi serak. Keluhan dan gejala ini disebabkan oleh deplesi air
yang isotonik. Karena kehilangan bikarbonat (HCO3) maka perbandingannya
dengan asam karbonat berkurang mengakibatkan penurunan pH darah yang
merangsang pusat pernapasan sehingga frekuensi pernapasan meningkat dan
lebih dalam (pernapasan kussmaul).
Gangguan kardiovaskuler pada tahap hipovolemik yang berat dapat berupa
renjatan dengan tanda-tanda denyut nadi cepat (> 120 x/menit), tekanan darah
menurun sampai tidak terukur. Pasien mulai gelisah, muka pucat, akral dingin
dan kadang-kadang sianosis. Karena kekurangan kalium pada gastroenteritis
akut juga dapat timbul aritmia jantung.
Penurunan tekanan darah akan menyebabkan perfusi ginjal menurun
sampai timbul oliguria/anuria. Bila keadaan ini tidak segera diatasi akan timbul
penyakit nekrosis tubulus ginjal akut yang berarti suatu keadaan gagal ginjal
akut (Iwansain, 2007).
5. Patofisiologi

Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya gastroenteritis menurut


(Iwansain, 2007) yaitu:
a

Gangguan osmotik
Adanya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan
tekanan osmotik dalam lumen usus meningkat sehingga terjadi pergeseran
air dan elektrolit ke dalam lumen usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan
merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul gastroenteritis.

Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan
terjadi peningkatan sekresi, air dan elektrolit ke dalam lumen usus dan
selanjutnya timbul gastroenteritis kerena peningkatan isi lumen usus.

c.

Gangguan mortilitas usus


Hiperperistaltik akan menyebabkan berkurangnya kesempatan usus
untuk menyerap makanan sehingga timbul gastroenteritis. Sebaliknya bila

peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan,


selanjutnya dapat timbul gastroenteritis pula.
Gambar Patofisiologi dan penyimpangan KDM dapat dilihat pada
gambar berikut ini :

Faktor Infeksi
Mikroorganisme patogen

Faktor Malabsorsi
Zat-zat sulit diserap/diabsorsi

Infeksi

Peningkatan tekanan osmotik

Peningkatan sekresi aktif cairan

Pergeseran cairan & elektolit ke dalam


usus

Rx imunologik

Pelepasan toksin

Peningkatan motalitas usus

Distres G.I

Diinvaginasi oleh leucosit

Mual, muntah

Melepaskan zat interleukin I


& prostaglandin E2 kedalam
cairan tubuh

Perubahan Eliminasi
Peristaltik usus meningkat
BAB
DIARE

Pengeluaran isi
lambung
Anoreksia
Intake yang inadekuat

Nutrisi kurang dari


kebutuhan tubuh

Pengeluaran cairan & elektrolit


meningkat
Hipothalamus (set point)
Set point berubah
dari
Titik 0

Defisit volume
cairan

Resiko penigkatan panas


tubuh

Tubuh mengeluarkan panas

Peningkatan metabolisme
tubuh
Hipertermi

Resiko
kerusakan

Resiko syok
Kompenisasi tubuh

Perubahan rasa nyaman


Pelepasan energi
dalam
bentuk
Ansietas
orang
tua dan
panas

Sumber: Carpenito, 2006

GAMBAR 2
PATOFISIOLOGI DAN PENYIMPANGAN KDM GASTROENTERITIS

6. Komplikasi
Menurut Nursalam (2008), akibat diare dan kehilangan cairan serta
elektrolit secara mendadak dapat terjadi berbagai komplikasi sebagai berikut:
a. Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik, atau hipertonik).
b. Renjatan hipovolemik.
c. Hipokalemia (gejala meteorismus, hipotoni otot lemah, dan bradikardi).
d. Intoleransi sekunder akibat kerusakan vili mukosa usus dan defisiensi enzim
laktose.
e. Hipoglikemia.
f. Kejang, terjadi pada dehidrasi hipertonik.
g. Malnutrisi energi protein (akibat muntah dan diare jika lama atau kronik).
7. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium penting artinya dalam menegakan diagnosa
kausal yang tepat sehingga kita dapat memberikan obat yang tepat pula.
Menurut Abdurrahman (2002), pemeriksaan laboratorium yang harus dilakukan
yaitu :

Pemeriksaan tinja
1

Makroskopis dan mikroskopis

pH dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan tablet clinitest,
bila diduga terdapat intoleransi gula.

3
b

Bila perlu dilakukan pemeriksaan biakan dan uji resistensi.

Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam-basa dalam darah, dengan


menentukan pH dan cadangan alkali atau lebih tepat lagi dengan pemeriksaan

Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.

Pemeriksaan elektrolit terutama kadar natrium, kalium, kalsium dan fosfor


dalam serum (terutama pada penderita gastroenteritis yang disertai kejang).

Pemeriksaan intubasi duodenum untuk mengetahui jenis jasad renik atau


parasit secara kualitatif dan kuantitatif, terutama dilakukan pada penderita
gastroenteritis kronik.

8. Penatalaksanaan
Dasar pengobatan gastroenteritis menurut (Abdurrahman, 2002) adalah:
a

Pemberian cairan
1

Cairan dehidrasi oral (oral dehydration salts)

Formula lengkap mengandung NaC, NaHCO3, KCl dan glukosa.


Kadar natrium 90 mEq/l untuk kolera dan gastroenteritis akut pada anak
di atas enam bulan dengan dehidrasi ringan dan sedang atau tanpa
dehidrasi (untuk pencegahan dehidrasi).
Formula sederhana (tidak lengkap) hanya mengandung NaCl dan
sukrosa atau karbohidrat lain, misalnya larutan gula garam, larutan air
tajin garam, larutan tepung beras garam dan sebagainya untuk
pengobatan pertama di rumah pada semua anak dengan gastroenteritis
akut baik sebelum ada dehidrasi maupun setelah ada dehidrasi ringan.
2

Cairan parenteral
DG aa (1 bagian larutan Darrow + 1 bagian glukosa 5%). RG g (1
bagian Ringer laktat + 1 bagian glukosa 5%). RL (Ringer Laktat). 3 @
(1 bagian NaCl 0,9% = 1 bagian glukosa 55 + 1 bagian Nalaktat 1/6
mol/1). DG 1 : 2 (1 bagian larutan Darrow + 2 bagian glukosa 5%).
RLg 1 : 3 (1 bagian Ringer Laktat = 3 bagian glukosa 5-10%). Cairan
4 : 1 (4 bagian glukosa 5-10% + 1 bagian NaHCO 3 1 % atau 4 bagian
glukosa 5-10% 1 bagian NaCl 0,9%).

Pengobatan diatetik
1

Untuk anak di bawah satu tahun dan anak di atas satu tahun dengan
berat badan kurang dari 7 kg. Susu (ASI dan atau susu formula yang
mengandung laktosa rendah dan asam lemak tidak jenuh, misalnya

LLM, Almiron). Makanan setengah padat (bubur susu) atau makanan


sehat (nasi tim) bila anak tidak mau minum susu karena di rumah sudah
biasa diberi makanan padat. Susu khusus yaitu susu yang tidak
mengandung laktosa atau susu dengan asam lemak bernatia
sedang/tidak jenuh, sesuai dengan kelainan yang ditemukan.
2

Untuk anak di atas satu tahun dengan berat badan lebih dari 7 kg. Makanan
padat atau makanan cair/susu sesuai dengan kebiasaan makan di rumah.

Obat-obatan
Prinsip pengobatan gastroenteritis ialah menggantikan cairan yang
hilang melalui tinja dengan atau tanpa muntah, dengan cairan yang
mengandung elektrolit dan glukosa karbohidrat lain (gula, air tajin, tepung
beras dan sebagainya).
1

Obat anti sekresi

Asetasol
Dosis: 25 mg/tahun dengan dosis minimum 30 mg.

Klorpromazin
Dosis: 0,5 1 mg/KgBB/hari.
2

Obat anti spasmolitik

Pada umumnya obat anti spasmolitik seperti papaverine, ekstrak


beladona, opium, loperamid dan sebagainya tidak diperlukan untuk
mengatasi gastroenteritis akut.
3

Obat pengeras tinja


Obat pengeras tinja seperti kaolin, pectin, charcoal, tabonal dan
sebagainya tidak ada manfaatnya untuk mengatasi gastroenteritis.

Antibiotika
Pada umumnya antibiotika tidak diperlukan untuk mengatasi
gastroenteritis akut, kecuali bila penyebabnya jelas seperti: (a) Kolera,
diberikan tetrasiklin 25 50 mgBB/hari; dan (b) Campylobacter,
diberikan eritromisin 40 50 mgBB/hari.
Antibiotika lain dapat diberikan bila terdapat penyakit penyerta
seperti misalnya: (a) Infeksi ringan (OMA, faringitis), diberikan
penisilinprokain 50.000 U/kkbb/hari; (b) Infeksi sedang (Bronkitis),
diberikan penisilin prokain atau ampisilin 50 mg/KgBB/hari; dan (c)
Infeksi berat (misal Bronkopneumonia), diberikan penisilin prokain
dengan kloramfenikol 75 mg/KgBB/hari atau ampisilin 75100
mg/KgBB/hari ditambah gentamisin 6 mg/KgBB/hari atau derivate
sefalosforin 3050 mg/KgBB/hari.

B. Konsep Dasar Keperawatan


1

Pengertian Keperawatan
Keperawatan adalah suatu pelayanan kesehatan profesional yang
merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan pada
ilmu dan kiat keperawatan dengan bentuk pelayanan biologis, psikologis, sosial
dan spiritual yang komprehensif serta ditujukan kepada individu dan
masyarakat baik yang sehat maupun yang sakit dan mencakup seluruh proses
kehidupan manusia (Setiadi, 2008).

Proses Keperawatan
a

Proses keperawatan
1

Pengertian
Proses keperawatan adalah suatu system dalam merencanakan
asuhan keperawatan yang terdiri dari 5 tahap yang meliputi pengkajian,
diagnose

keperawatan,

perencanaan,

pelaksanaan,

dan

evaluasi

(Lismindar,2005).
Proses keperawatan adalah serangkaian tindakan yang sistematik dan
berkesinambungan meliputi tindakan untuk mengidentifikasi masalah
kesehatan individu atau kelompok baik yang aktual maupun potensial,
kemudian merencanakan tindakan untuk menyelesaikan, mengurangi,
atau mencegah terjadinya masalah baru dan melaksanakan tindakan
keperawatan serta mengevaluasi keberhasilan dan tindakan yang
dikerjakan (Rohman dan Walid,2009).

Tahap-tahap Dalam Proses Keperawatan


1) Pengkajian
Pengkajian adalah tahapa awal dari proses keperawatan dan
merupakan suatu proses pengupulan data yang sistematisdari berbagai
sumber untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien.
tahap pengkajian merupakan dasar utama dalam memberikan asuhan
keperawatan sesuai dengan kebutuhan individu (klien), (Nursalam,2009).
Keberhasilan proses keperawatan sangat bergantung pada
kecermatan dan ketelitian dalam tahapan pengkajian, yang terdiri dari
beberapa tahapan yaitu pengumpulan data, analisa data, dan interpretasi
data.
Data-data yang dikaji pada pasien gastroenteritis dengan dehidrasi
sedang adalah :
a) Pengumpulan data
(1) Biodata
Pada biodata diperole data tentang nama, umur, tempat
tinggal,

pekerjaan

dan

pendidikan.

Menunjukan

tingkat

pengetahuan, kehidupan sosial ekonomi pasien dan jenis pekerjaan.


(2) Riwayat kesehatan
(a) keluhan utama
Keluhan utama adalah suatu hal yang dirasakan pasien,
dimana pasien membutuhkan bantuan karena mersakan sakit
dan memerluka bantuan fasilitas kesehatan. Pasien buang air
berkali-kali dengan konsistensi encer.

(b) Riwayat penyakit sekarang


Riwayat penyakit yang menyebabkan pasien masuk
rumah sakit saat ini. Gejala yang diraskan bermacam-macam,
Buang air besar (BAB) yang lebih dari empat kali sehari
dengan konsistensi encer yang menyebabkan kekurangan
cairan tubuh yang berakibat terjadinya syok dan kematian.
(c) Riwayat kesehatan masa lalu
Merupakan keadaan kesehatan pasien di masa lalu yang
mendasari terjadinya gastroenteritis atau penyakit infeksi
lainnya yang menyebabkan terjadinya gastroenteritis.
(d) Riwayat kesehatan keluarga
Yang perlu diketahui apakah anggota keluarga ada yang
menderita penyakit menular apakah ada riwayat penyakit
keturunan serta mempunyai resiko terhadap penyakit tertentu.
(3) Pola aktivitas sehari-hari
Aktivitas sehari-harinya apakah ada suatu gangguan selama
sakit di rumah sakit.
(4) Pemeriksaan fisik
Rahayu (2009), mengemukakan tanda-tanda vital yaitu :
(a) Suhu
Suhu normal anak sebagai berikut : 3 bulan (37,5C), 6
bulan (37,5C), 1 tahun (37,2C), 3 tahun (37,2C), 7 tahun
(36,8C), 9 tahun (36,7C), 11 tahun (36,7C), dan 13 tahun
(36,6C).

berbeda

0,5C-1C

masih

dikategorikan

normal.

Kenaikan 1C memerlukan hidrasi cairan sebanyak 5-10


cc/kgBB/hari (Rahayu,2009).
Nilai normal Nadi sesuai tingkatan usia dapat dilihat pada
tabel dibawah ini :
TABEL 2
NILAI NORMAL NADI SESUAI TINGKATAN USIA
BAYI/ANAK
Baru lahir

BANGUN
100-180x/menit

1 miggu-3 bulan

100-220x/menit

3 bulan-2 tahun
80-150x/menit
2-10 tahun
70-110x/menit
10 thun- dewasa
55-90x/menit
Sumber : Rahayu (2009)

TIDUR
80160x/menit
80120x/menit
70-90x/menit
60-90x/menit
50-90x/menit

DEMAM
220x/menit
220x/menit
220x/menit
220x/menit
220x/menit

Nilai normal pernapasan sesuai tingkatan usia dapat dilihat


pada Tabel berikut ini :
TABEL 3
NILAI NORMAL PERNAPASAN SESUAI
TINGKATAN UMUR
USIA
PERNAFASAN
Bayi baru lahir (1-11 bulan)
35x/menit
2 tahun
30x/menit
4 tahun
23x/menit
6 tahun
20-21x/menit
8 tahun
19x/menit
10-12 tahun
18x/menit
14 tahun
17x/menit
16 tahun
16-18x/menit
Sumber : Rahayu (2009)
Nilai normal Tekanan darah sesuai tingkatan usia dapat
dilihat pada Tabel dibawah ini :
TABEL 4
NILAI NORMAL TEKANAN DARAH SESUAI TINGKATAN USIA

USIA
Neonatus
Bayi
Anak
Dewasa
Sumber : Rahayu (2009

TEKANAN DARAH
70/40 mmHg
90/60 mmHg
110/70-120/80 mmHg
130/80-140/90 mmHg

Rahayu (2009) juga menjelaskan mengenai pemeriksaan


tingkat kesadaran yaitu : dapat dilihat pada table berikut ini :
TABEL 5
PEMERIKSAAN TINGKAT KESADARAN
JENIS PEMERIKSAAN
1
Membuka mata :
1. Spontan
2. Rangsangan verbal
3. Dengan nyeri
4. tidak ada respon
Verbal > 2 tahun :
1. Berorientasi
2. Bingung
3. Acuh
4. Tidak komprehensif
5. Tidak ada respons
Verbal< 2 tahun :
1. Senyum
2. Menangis
3. Menangis yang persistem
4. Lemas
5. Tidak ada respons
Motorik :
1. Spontan
2. Melokalisasi nyeri
3. Menjauh dari nyeri
4. Fleksi terhadap nyeri
5. Ekstensi terhadap nyeri
6. tidak ada respons
Sumber : Ridwan (2000)

NILAI
2
4
3
2
1
5
4
3
2
1
5
4
3
2
1
6
5
4
3
2
1

Skor : 15 (compos mentis), 12-14 (somnolen), 8-11 (sopor),


dan 3-7 (koma).

Tingkat dehidrasi, karakteristi dan eliminasi (frekuensi,


warna, adanya darah, jumlah, penurunan substansi atau gula), kutur
parasit, distensi abdomen, kondisis kulit, reaksi verbal dan non
verbal mengindikasikan nyeri.
(5) Riwayat psikososial
Keadaan

emosi

pasien

mengenai

persepsi

terhadap

penyakitnya yaitu timbul kecemasan dan ketakutan yang


menyebabkan perubahan pada diri pasien.
(6) Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang digunakan untuk menegakkan
diagnose dan tindakan selanjutnya. Pemeriksaan meliputi
pemeriksaan feses, atau cultur (Rektal sweb) dan pemeriksaan
elektrolit.
b) Analisa data
Analisa data adalah kemampuan

mengaitkan data dan

menghubungkan data tersebut dengan konsep teori dari prinsip yang


relevan untuk membuat kesimpulan dalam menentukan masalah
kesehatan dan keperawatan pasien (Lismidar,2005).
Haryanto, (2007), berpendapat bahwa setiap melakukan
pengkajian, kita akan mendapatkan banyak data. selama melakukan
pengalaman klinik kepada pasien dan keluarganya, perawat harus bisa
mengambil keputusan dan memilih mana data yang penting dan tidak.
Data dikumpulkan melalui penglihatan, sentuhan, pengecapan,

pendengaran dan penciuman. Kemampuan menginterpretasi data


bergantung pada pengetahuan, nilai, dan pengalaman perawat. Setelah
data

terkumpul,

data

harus

ditentukan

validasinya.

Untuk

mempraktikkan perawatan dengan baik, perawat harus belajar


membuat validasi secara tepat. Sejalan dengan pengalaman, kita akan
dapat mengumpulkan, interpretasi, dan menentukan validasi data.
Setiap data yang didapat, kemudian di analisis sesuai dengan masalah.
Menentukan validasi data membantu menghindari kesalahan dalam
interpretasi data.
2) Diagnosa Keperawatan
Rohmah dan Walid (2009), memaparkan tentang pengertian dari
diagnosa

keperawatan,

yaitu

merupakan

pernyataan

yang

menggambarkan respons manusia (keadaan sehat atau perubahan pola


interaksi aktual / potensial) dari individu atau kelompok ketika perawat
secara legal mengidentifikasi dan dapat memberikan intervensi secara
pasti untuk menjaga status kesehatan atau untuk mengurangi,
menyingkirkan, atau mencegah perubahan.
Perumusan masalah keperawatan ditulis dalam suatu diagnosa
keperawatan yang merupakan pernyataan dan disertai dengan penjelasan
mengenai status kesehatan atau masalah aktual atau resiko.
Menurut NANDA dalam Nursalam (2001), Diagnosa keperawatan
adalah keputusan klinik mengenai respons individu keluarga dan
masyarakat berkaitan dengan masalah kesehatan aktual atau potensial,

sebagai dasar seleksi intervensi keperawatan untuk mencapai tujuan


asuhan keperawatan sesuai dengan kewenangan perawat.

Diagnosa

keperawatan diangkat dari kumpulan data yang diperoleh dari pengkajian


melalui observasi, wawancara dan studi kepustakaan.
Menurut, M. E. Doenges (2000) diagnosa keperawatan yang sering
muncul pada klien gastroenteritis adalah :
a

Perubahan eliminasi alvi (BAB) gastroenteritis berhubungan dengan


peningkatan peristaltik usus.

Perubahan keseimbangan cairan elektrolit kurang dari kebutuhan


berhubungan dengan out put yang berlebihan.

Perubahan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan


dengan inadekuat absorbsi nutrisi.

Perubahan rasa nyaman berhubungan dengan frekuensi BAB


berlebihan

Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan seringnya


BAB.

Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kontaminasi dengan


organisme patogen

Resiko tinggi gangguan sirkulasi darah berhubungan dengan asidosis


metabolik sekunder terhadap kehilangan cairan dan elektrolit.

Resiko terjadinya syok berhubungan dengan kehilangan cairan dan


elektrolit.

Ansietas dan takut pada anak/orang tua berhubungan dengan


hospitalisasi kondisi anak.

3) Perencanaan
Perencanaan dalam proses keperawatan dimulai setelah data yang
dikumpulkan sudah dianalisa dan masalah-masalah atau diagnosa
keperawatan telah ditentukan. Secara sederhana perlu cara merumuskan
keputusan awal apa yang akan dilakukan, bagaimana, kapan itu
dilakukan, dan siapa yang akan melakukan kegiatan tersebut.
Perencanaan

mencakup

diagnosa

keperawatan

yang

telah

diprioritaskan, tujuan, kriteria standart dan rasionalisasi tindakan.


a) Perubahan eliminasi alvi (BAB) gastroenteritis berhubungan dengan
peningkatan peristaltik usus.
Tujuan : Pola elminasi alvi (BAB) kembali normal sasaran 24 jam
Kriteria :
Frekuensi BAB 1 3 x/hari
(2) Konsistensi lembek
(3) Turgor kulit baik
Intervensi :
1

Kaji pola elminasi BAB : frekuensi dan pengikatan konsistesi


feces
Rasional : Mengetahui pola eliminasi klien

Pertahankan lingkungan bebas bau untuk pasien


(b) Ganti pakaian basah
(c) Beri pengharum ruangan
Rasional : Mencegah terjadinya iritasi

Turunkan aktivitas fisik selama episode gastroenteritis


Rasional : Menghindari efek yang lebih parah

Berikan makanan yang tidak merangsang dan rendah serat


Rasional : Mencegah terjadinya episode gastroenteritis

Obsevasi tanda-tanda vital


Rasional : Memonitor adanya kelainan pada TTV

Anjurkan pada pasien dan keluarga untuk memberikan minum


yang banyak 2 x dari jumlah BAB
Rasional : Mencegah terjadinya dehidrasi

Ukur dan catat input dan output


Rasional : Intake dan output seimbang

Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi


Rasional : Mencegah terjadinya komplikasi yang lebih lanjut

Memberikan HE
Rasional : Ibu dapat mengetahui dan memahami tentang penyakit

b) Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan


out put yang berlebihan.
Tujuan : keseimbangan cairan elektrokit adekuat
Kriteria :
(1) Haluaran urine adekuat dengan berat jenis adekuat
(2) Tanda vital normal
(a) Nadi : 80-150x/menit
(b) Suhu : 36,5 0 C 37,20 C
(c) TD

: 65-115/40-80 mmHg

(d) RR

: 30-40x/menit

(3) Membran mukosa lembab


(4) Turgor kulit baik (< 2 detik kembali)
Intervensi :
1

Kaji tanda-tanda vital


Rasional : dengan mengkaji tanda-tanda vital, maka kondisi
pasien dapat di monitoring sedini mungkin

Observasi kulit kering berlebihan, membran mukosa, penurunan


turgor kulit.
Rasional : adanya perubahan kulit, membran mukosa, turgor kulit
merupakan merupakan indikator untuk meningkatkan tingkat
rehidrasi

Observasi Intake dan output klien


Rasional : Dengan mengobservasi Intake dan output klien dapat
diketahui secara objektif sejauh mana ketidak seimbangan cairan
yang dialami pasien sehingga dapat segera dilakukan intervensi
yang tepat secepatnya

Berikan minum air hangat sesuai kebutuhan tubuh


Rasional : Dengan memberikan minum air hangat sebanyak
mungkin, akan dapat mengurangi rangsangan muntah dan dapat
mengimbangi cairan yang hilang

Awasi hasil laboratrium


Rasional : Menentukan kebutuhan penggantian dan keefektifan
terapi.

Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberia


a

Cairan parenteral

Rasional : Pemberian cairan akan dapat segera mengembalikan


keseimbangan cairan dan elektrolit klien yang hilang.
b

Obat-obatan sesuai indikasi


Rasional : Dengan pemberian obat-obatan sesuai indikasi
dapat mempercepat proses penyembuhan sehingga tujuan
dapat tercapai secara maksimal.

Berikan penjelasan kepada keluarga dan pasien tentang manfaat


minum dan tindakan yang telah dilakukan
Rasionalisasi : Dengan memberikan penjelasan pada klien tentang
manfaat minum dan tindakan yang telah dilakukan akan
memberikan pemahaman kepada keluarga dan pasien sehingga
tercipta hubungan yang teraupetik.

c) Perubahan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan


dengan inadekuat absorbsi nutrisi.
Tujuan : Pemenuhan nutrisi adekuat
Kriteria :
1

Pasien mampu meningkatkan masukan oral dengan menghabiskan


porsi makan yang disediakan.

Berat badan ideal

Intervensi :
1

Kaji kebisaan dan makan kesukaan klien sebelum sakit


Rasional : Dengan mengetahui kebiasan dan makanan kesukaan
klien dapat membantu dalam menentukan pemberian diet

Awasi pemasukan diet, berikan makanan sedikit dalam frekuensi


sering

Rasional : Makanan banyak sulit untuk mengatur klien bila


anoreksia, pemasukan sepanjang hari dapat membantu memenuhi
kebutuhan total
3

Berikan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan


Rasional : Mencegah akumulasi partikel, menghilangkan bau
tidak enak dan meningkatkan nafsu makan

Anjurkan pada pasien makan dalam posisi duduk


Rasional : Menurunkan rasa penuh pada abdomen dan dapat
meningkatkan pemasukan

Kolaborasi
a

Konsul pada ahli gizi dukung tim nutrisi untuk memberikan


diit sesuai kebutuhan
Rasional: Memudahkan pembutan program diet, metabolisme
lemak bervariasi tergantung pengeluaran empedu. Protein
membantu regenerasis

Kalaborasi tim medis dalam pemberian multivitamin


Rasional: Memperbaiki kekurangan dan membantu proses
penyembuhan.

d) Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan seringnya


BAB.
Tujuan : Mempertahankan integritas kuit
Kriteria :
1

Anus bersih dan kering

Tidak tanda-tanda dan gejala-gejala yang membuat diagnosa


aktual.

Intervensi :
1

Kaji adanya tanda-tanda kerusakan integritas kulit ; perubahan


pada turgor, gangguan warna, eritema.
Rasional : Dengan mengkaji adanya tanda-tanda kerusakan
integritas kulit maka kondisi pasien dapat di monitoring sedini
mungkin dan memungkinkan intervensi segera.

Ganti balut / popok bersihkan bagian perianal dengan air bersih


Rasional : Dengan mengganti balut / popok, bersihkan bagian
perianal dengan air bersih akan dapat menghindari kondisi
perianal yang basah dan kotor, dimana kondisi ini akan dapat
meningkatkan populasi bakteri yang dapat menyebabkan infeksi

Lakukan perawatan pada klien dengan tehnik aseptik pada daerah


anus
Rasional : Dengan melakukan perawatan klien dengan teknik
Aseptik akan dapat mempertahankan dan meningkatkan keadaan
Aseptik klien , dengan demikian resiko terjadinya perubahan
integritas kulit dapat ditekan sedemikian mungkin

Angkat pantat klien untuk diangin-anginkan, ketika produk feses


berlebihan
Rasional : Dengan mengangkat pantat klien untuk dianginanginkan,

ketika

produk

feses

berlebihan

akan

dapat

mempercepat proses penguapan sehingga kondisi perianal anak

akan lebih cepat kering, dengan demikian resiko terjadinya


perubahan integritas kulit dapat di tekan sedemikian mungkin
5

Atur posisi klien senyaman mungkin untuk menghindari iritasi


pada kulit
Rasional : Dengan mengatur posisi klien senyaman mungkin akan
mengurangi kemungkinan terjadinya iritasi kulit pada bagian
tertentu dengan posisi ini juga dapat mengurangi keadaan stress
anak sehingga akan dapat membantu menekan faktor predisposisi
terjadinya gastroenteritis.

Berikan penjelasan pada keluarga dan klien tentang pentingnya


untuk menjaga kebersihan khususnya pada daerah perianal setiap
saat.
Rasional: Dengan pemberian penjelasan pada keluarga dan pasien
akan menciptakan kerja sama yang baik dan pengalaman secara
subjek dan objektif pada keluarga dan pasien tentang manfaat
untuk

menjaga

personal

hygiene

yang

berdampak

pada

pencapaian tujuan secara optimal.


e) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kontaminasi dengan
organisme patogen
Tujuan : Perubahan itegritas kulit teatasi.
Kriteria :
(1) Kulit utuh
(2) Tidak terjadi perluasan iritasi

(3) Tekstur kulit baik


Intervensi :
(1) Ganti pembalut / popok yang basah dengan popok yang kering
dan bersihkan dengan air bersih
Rasional : Mencegah terjadinya iritasi
(2) Angkat pantat klien dan angin-anginkan ke udara setelah BAB
dan oleskan bedak.
Rasional : Melembabkan pantat
(3) Instruksikan pada orang tua untuk tidak menggosok dengan kain
pada daerah anal
Rasional : Dapat menimbulkan iritasi pada daerah anal
f) Resiko tinggi gangguan sirkulasi darah berhubungan dengna asidosis
metabolik sekunder terhadap kehilangan cairan dan elektrolit
Tujuan : Tidak terjadi gangguan sirkulasi darah
Kriteria :
(1) Pasien tidak mengeluh lelah dan otot lemas
(2) Pasien ada nafsu makan
(3) Pasien tidak mengeluh sakit kepala
(4) Sesak nafas tidak ada
(5) Tanda-tanda vital dalam batas normal
Nadi : 80-150x/menit
(b) Suhu : 36,5 0 C 37,20 C
(c) TD

: 65-115/40-80 mmHg

(d) RR

: 30-40x/menit

(6) Kesadaran kompos mentis


(7) Pemeriksaan lab :
(a) pH darah : 7,35 7,45 meq/lt
(b) HCO3

: 22-26 Meq/lt

(c) pCo2

: 34-45 mmHg

(d) Serum darah : K+ = 3,5-5,5 Meq/lt, CL = 96-106 Meq/lt, gula


darah = 80 120 mg%, pH urine = 5 7
Intervensi :
1

Kaji dan awasi tingkat kesadaran dan catat bila ada perubahan
status neuromuskuler yang progresif
Rasional : Dapat mengetahui tingkat kesadaran klien

Monitor tekanan darah


Rasional : Mengamati adanya kenaikan atau penurunan tekanan
darah

Berikan pengamanan klien terhadap bahaya perlukaan karena


serangan kejang dan lakukan observasi ketat
Rasional : Mencegah terjadinya kecelakaan yang lebih parah

Monitor denyut nadi dan irama jantung


Rasional : Untuk mengetahui adanya bradikardi atau tidak

Observasi terhadap adanya perubahan kecepatan dan dalamnya


nafas
Rasional : Mencegah terjadinya sesak napas pada klien

Awasi warna dan suhu kulit

Rasional : Mengetahui apakah klien mengalami hipertermi atau


tidak
7

Auskultasi bising usus


Rasional : Untuk mengetahui bising usus termasuk dalam keadaan
normal atau tidak

Monitor asupan dan pengaluran cairan


Rasional : Mengetahui intake dan output agar seimbang

Timbang BB tiap hari


Rasional : Terjadi peningkatan atau penurunan BB

10 Siapkan dan bantu prosedur dialisis bila di perlukan


Rasional : Memenuhi kebutuhan yang diperlukan oleh klien
11 Kolaborasi pemberian obat-obatan :
a

Sidium karbonat

Ponanium klorida (KCL)

Pospat kasium

g) Resiko terjadinya syok berhubungan dengan kehilangan cairan dan


elektrolit.
Tujuan : Tidak terjadi syok
Kriteria :
(1) Tanda vital dalam batas normal
(a) Nadi : 80-150x/menit
(b) Suhu : 36,5 0 C 37,20 C
(c) TD

: 65-115/40-80 mmHg

(d) RR

: 30-40x/menit

(2) Turgor kulit normal


(3) Asupan dan pengeluaran seimbang

Intervensi :
1

Pantau terhadap tanda syok.


a

Peningkatan frekuensi nadi, tekanan darah,.

Gelisah, agetasi, perubahan fungsi mental

Peningkatan frekuensi nafas

Kulit dingin, pucat

Penurunan pH

Penurunan nadi perifer

Keluaran urine

Rasional : Mencegah terjadinya syok.


2

Beri cairan peroral bila pasien mampu untuk mentolerans.


Rasional : Mencegah terjadinya syok juga

Kolaborasi ubtuk pemberian cairan.


Rasional : Mengembalikan intake cairan

h) Perubahan rasa nyaman berhubungan dengan frekuensi BAB


berlebihan
Tujuan : Tercapainya rasa nyaman
Kriteria :
1

Ekspresi wajah pasien menunjukkan rasa nyaman

BAB normal 1 3 x / hari

Pada saat BAB tidak kesakitan

Tidak ada nyeri tekan

Perut tidak kembung

Tidak pucat

Intervensi :
1

Kaji adanya ketidaknyamanan : mual, muntah, gastroenteritis


Rasional : Mengetahui tanda-tanda ketidaknyamanan klien

Istirahatkan pasien pada posisi yang nyaman


Rasional : Meningkatkan koping klien

Dorong masukan cairan jernih dalam jumlah kecil tapi sering.


Rasional : Mencegah terjadinya dehidrasi

Singkirkan pandangan yang tidak menyenangkan dan bau tidak


sedap dari lingkungan klien
Rasional : Mencegah terjadinya rasa ketidaknyamanan klien

Instruksikan pada keluarga dan pasien untuk menghindari


makanan dingin dan panas serta makanan yang berlemak
Rasional : Mencegah rasa ketidaknyamanan klien

i) Ansietas dan takut pada anak/orang tua berhubungan dengan


hospitalisasi kondisi anak
Tuajuan: kecemasan orang tua teratasi dengan kriteria:
(1). Orang tua mengerti keadaan penyakit anaknya
(2). Ekspresi wajah ibu tampak tenang
Intervensi :
1

Kaji rasa cemas yang dialami oleh orang tua klien.


Rasional : Menetapkan tingkat kecemasan yang dialami oleh
orang tua klien.

Jalin hubungan saling pecaya antara orang tua klien, anak, dan
perawat.

Rasional : Agar klien/keluarga bersikap terbuka dengan perawat.


3

Tunjukkan sikap empati, gunakan sentuhan pada saat yang tepat.


Rasional : Sikap empati akan membuat keluarga merasa
diperhatikan dengan sungguh sungguh.

Beri kesempatan keluarga untuk mengungkapkan rasa cemasnya.


Rasional : Meringankan beban pikiran keluarga.

berikan keyakinan kepada keluarga untuk mengungkapkan rasa


cemasnya.
Rasional : Sikap positif yang ditunjukkan tim kesehatan dan
membantu menurunkan kecemasan

Berikan

keyakinan

pada

keluarga

bahwa

tim

kesehatan

memberikan yang terbaik dan pertolongan optimal.


Rasional : Penjelasan tentang proses penyakit (kolaborasi dokter),
menjelaskan tentang proses perawatan, menjelaskan tentang
kemungkinan pemberian perawatan intensif jika memang
diperlukan oleh klien untuk mendapatkan perawatan yang lebih
optimal.
4) Pelaksanaan

Menurut Rohmah dan Walid (2009), pelaksanaan adalah realisasi


rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kegiatan
dalam pelaksanaan juga meliputi pengumpulan data berkelanjutan,
mengobservasi respon pasien selama dan sesudah pelaksanaan tindakan
dan menilai data yang baru.
Sementara tahap-tahap yang harus dilaksanakan dalam pelaksanaan
adalah :
(a) Tahap persiapan : reviuw rencana tindakan keperawatan, analisis
pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan, antisipasi komplikasi
yang akan timbul, mempersiapkan peralatan yang diperlukan (waktu,
tenaga, alat), mengidentifikasi aspek-aspek hukum dan etik,
memperhatikan hak-hak pasien, antara lain hakatas pelayanan
kesehatan sesuai dengan standar pelayanan kesehatan, hakatas
informasi, hak untuk menentukan nasib sendiri, hakatas second
opinion.
(b) Tahap pelaksanaan : berfokus pada pasien, berorientasi pada tujuan
dan kriteria hasil, memperhatikan keamanan fisik dan psikologis
pasien, kompeten.
(c) Tahap

sesudah

pelaksanaan:

menilai

keberhasilan

tindakan,

mendokumentasikan tindakan, yang meliputi aktivitas tindakan


perawat,

hasil/repon

pasien,

keperawatan, tanda tangan.


5) Evaluasi
a) Pengertian

tanggal/jam,

nomor

diagnosis

Evaluasi adalah proses yang disengaja dan sistematik dimana


penilaian dibuat mengenai kualitas, nilai atau kelayakan dari sesuai
dengan membandingkan pada kriteria yang diidentifikasi atau standar
sebelumnya. Dalam proses keperawatan, evaluasi adalah suatu
aktifitas yang direncanakan, terus menerus, aktifitas yang disengaja
dimana setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien,
keluarga dan perawat serta tenaga profesional lainnya menentukan;
kemajuan pasien terhadap outcome yang dicapai dan keefektifan dari
rencana asuhan keperawatan (Nurjanah, 2010).
Menurut Rohmah dan Walid (2009), evaluasi adalah penilaian
dengan cara membandingkan perubahan keadaan pasien (hasil yang
diamati) dengan tujuan dan kriteria hasil yang dibuat pada tahap
perencanaan.
b) Macam evaluasi
Menurut Rohmah dan Walid (2009), macam-macam evaluasi
antara lain :
(1) Evaluasi proses (formatif) ; evaluasi yang dilakukan setiap selesai
tindakan, berorientasi pada etiologi, dilakukan secara terusmenerus sampai tujuan yang telah ditentukan tercapai.
(2) Evaluasi hasil (sumatif) :evaluasi yang dilakukan setelah akhir
tindakan keperawatan secara paripurna, berorientasi pada masalah
keperawatan, menjelaskan keberhasilan / ketidak berhasilan,
rekapitulasi dan kesimpulan status kesehatan pasien sesuai
dengan kerangka waktu yang ditetapkan.
Meskipun tahap evaluasi diletakkan pada akhir proses
keperawatan tetapi tahap ini merupakan bagian integral pada setiap

tahap proses keperawatan. Pengumpulan data perlu direvisi untuk


menentukan kecukupan data yang telah dikumpulkan dan kesesuaian
perilaku yang diobservasi. Diagnosis juga perlu dievaluasi dalam hal
keakuratan dan kelengkapannya. Evaluasi juga diperlukan pada tahap
intervensi untuk menentukan apakah tujuan intervensi tersebut dapat
dicapai secara efektif (Nursalam 2009).
Untuk memudahkan perawat mengevaluasi atau memantau
perkembangan

klien,

digunakan

komponen

SOAP/SOAPIE/SOAPIER. Penggunaannya tergantung dari kondisi


klien.
1

S : Data Subjektif
Perawat menuliskan keluhan klien yang masih dirasakan setelah
dilakukan tindakan keperawatan.

O : Data Objektif
Yaitu data berdasarkan hasil pengukuran atau observasi perawat
secara langsung kepada klien, dan dirasakan klien setelah
dilakukan tindakan keperawatan.

A : Analisis
Interpretasi dari data subyektif dan data obyektif. Merupakan
suatu masalah atau diagnosis keperawatan yang masih terjadi,
atau juga dapat dituliskan masalah/diagnosis baru yang terjadi
akibat perubahan status kesehatan klien yang telah teridentifikasi
datanya dalam data subyektif dan obyektif.

P : Planning

Perencanaan keperawatan yang akan dilanjutkan, dihentikan,


dimodifikasi,

atau

ditambahkan

dari

rencana

tindakan

keperawatan yang telah ditentukan sebelumnya. Tindakan yang


telah menunjukkan hasil yang memuaskan dan tidak memerlukan
tindakan ulang pada umumnya dihentikan. Tindakan yang perlu
dilanjutkan adalah tindakan yang masih kompeten untuk
menyelesaikan masalah klien dan membutuhkan waktu untuk
mencapai keberhasilannya. Tindakan yang perlu dimodifikasi
adalah tindakan yang dirasa dapat membantu menyelesaikan
masalah klien tetapi perlu ditingkatkan kualitasnya atau
mempunyai alternatif pilihan yang diduga dapat membantu
mempercepat proses penyembuhan. Sedangkan rencana tindakan
yang baru/sebelumnya tidak ada dapat ditentukan bila timbul
masalah baru atau rencana tindakan yang ada sudah tidak
kompeten lagi untuk menyelesaikan masalah yang ada.
5

I : Implementasi
Adalah tindakan keperawatan yang dilakukan sesuai dengan
instruksi

yang

telah

teridentifikasi

dalam

komponen

(perencanaan). Jangan lupa menuliskan tanggal dan jam


pelaksanaan.
6

E : Evaluasi
Adalah respons klien setelah dilakukan tindakan keperawatan.

R : Reassesment

Adalah pengkajian ulang yang dilakukan terhadap perencanaan


setelah diketahui hasil evaluasi, apakah dari rencana tindakan
perlu dilanjutkan, dimodifikasi, atau dihentikan.
C. Kerangka Konsep
Menurut Nursalam (2009), tahap yang penting dalam suatu penelitian
adalah menyusun kerangka konsep. Konsep adalah abstraksi dari suatu realitas
agar dapat dikomunikasikan dan membentuk suatu teori yang menjelaskan
keterkaitan anatara variabel (baik variabel yang diteliti maupun yang tidak
diteliti). Kerangka konsep akan membantu peneliti menghubungkan hasil
penemuan dengan teori.

Berdasarkan dari data yang didapatkan maka kerangka konsep dalam


penulisan Karya Tulis Ilmiah ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
Variabel Dependent

Perubahan
eliminasi BAB
Defisit volume
cairan

Variabel Independent
Asuhan Keperawatan:
1. Pengkajian
2. Diagnosa
3. Perencanaan
4. Implementasi
5. Evaluasi

Perubahan nurisi
kurang dari
kebutuhan tubuh

Anak dengan
gastroenteritis

Perubahan rasa
nyaman
Resiko kerusakan
integritas kulit

Resti infeksi

Resiko gangguan
sirkulasi darah
Resiko terjadinya
syok
Ansietas orang
dan anak

Sumber : Doengoes, Marilynn E, 2000


GAMBAR 3
KERANGKA KONSEP PENELITIAN

BAB III
METODE PENELITIAN
A.

Jenis Penelitian

Dalam penulisan karya tulis ilmiah ini, penulis menggunakan jenis


penelitian deskriptif yang berupa studi kasus dengan menggunakan pendekatan
proses

keperawatan

yang

komprehensif

meliputi

pengkajian,

diagnosa

keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.


B.

Waktu dan Lokasi Penelitian

1. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 31 Juli 2013 sampai dengan
tanggal 3 Agustus 2013.

2. Lokasi Penelitian
Penelitian dilaksanakan di ruangan anak Rumah Sakit Umum Daerah Dr.
M. Haulussy Ambon.
C. Subjek Penelitian
Yang menjadi subjek penelitian dalam penelitian ini adalah By.D.D
dengan Gastroenteritis Akut yang dirawat di ruang anak Rumah Sakit Umum
Daerah Dr. M. Haulussy Ambon.
D. Variabel dan Definisi Operasional
1.

Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini terbagi atas dua bagian yaitu variabel
independen dan variabel dependen.

a. Variabel Independen
Variabel independen adalah variabel yang nilainya menentukan
variabel lain, Variabel bebas biasanya diamati dan diukur untuk diketahui
hubungannya atau pengaruhnya terhadap variabel lain. Dalam ilmu
keperawatan,

variabel

bebas

merupakan

stimulus

atau

intervensi

keperawatan yang diberikan kepada klien untuk mempengaruhi tingkah laku


klien (Nursalam, 2008).
Yang menjadi variabel independen adalah asuhan keperawatan pada
By.D.D dengan Gastroenteritis Akut meliputi pengkajian, diagnosa
keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
b. Variabel dependen

Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel


bebas atau independen.
Variabel dependen merupakan variabel yang nilainya ditentukan oleh
variabel yang lainnya . Dengan kata lain variabel dependen adalah vaktor
yang diamati dan diukur untuk menentukan ada tidaknya hubungan atau
pengaruh dari variabel bebas (Nursalam,2008).
Yang menjadi variabel dependen dalam penelitian ini adalah ketidak
seimbangan cairan dan elektrolit, perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
perubahan integritas kulit dan kecemasan orang tua.
2.

Defenisi Operasional
Defenesi operasional adalah penjelasan defenisi dari variabel yang telah
dipilih peneliti.
a

Asuhan keperawatan adalah suatu metode atau cara yang digunakan


penulis dalam memberikan pelayanan keperawatan kepada By.DD
terdiri dari 5 tahap yaitu pengkajian, rumusan diagnosa keperawatan,
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

Pengkajian adalah upaya untuk mengumpulkan data secara sistematis


untuk kemudian diklasifikasikan dan dianalisa sehingga dapat menentukan
masalah yang dihadapi By.DD

Diagnosa keperawatan adalah merupakan suatu pernyataan yang


dirumuskan berdasarkan masalah yang dapat dari hasil pengkajian
padaBy.DD

Perencanaan adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan


dilaksanakan untuk mengatasi masalah yang ada pada By.DD,

Implementasi adalah tindakan perawat dalam melaksanakan rencana


tindakan keperawatan yang telah disusun berdasarkan masalah

pada

By.DD
f

Evaluasi adalah langkah terakhir dari proses keperawatan yang merupakan


pengukuran keberhasilan dari seluruh tindakan keperawatan dalam memenuhi
kebutuhan klien.

Bayi dengan gastroenteritis akut adalah meningkatnya frekwensi


buang air besar dimana bayi > 4x/ hari dengan konsistensi tinja encer,
cair, dapat disertai lendir dan darah yang dapat menyebabkan
terjadinya kekurangan cairan dan elektrolit yang berlebihan.

Defisit volume cairan adalah merupakan penetapan masalah keperawatan


dengan melihat keseimbangan antara input dan output asupan cairan.
Terjadi pengeluaran yang berlebihan pada anak dengan Gastroenteritis
karena frekuensi BAK meningkat.

Perubahan eliminasi yaitu keadaan ketidak normalan frekuensi BAB dan


BAK pada klien.

Resiko integritas kulit merupakan penetapan masalah kesehatan pada klien


karena adanya iritasi pada daerah kulit karena terpajan dengan
kelembaban.

Ansietas adalah suatu kondisi dimana orang tua pasien mengalami


kekhawatiran terhadap kondisi yang dialami anaknya.

E. Alat dan Bahan


a. Alat
Alat bantu yang digunakan seperti stetoskop, thermometer, arloji, pena,
pensil, buku catatan dan timbangan berat serta meteran.
b. Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah format pengkajian
pada By.D.D dengan Gastroenteritis Akut.
F. Teknik Pengumpulan Data
a. Sumber data
Sumber data terbagi atas dua macam yaitu : 1) Data primer adalah data
yang didapatkan langsung dari pasien dan keluarga; 2) data sekunder adalah
data yang didapatkan dari status pasien maupun dari bagian medikal rekor
Rumah Sakit Umum Daerah Dr. M. Haulussy Ambon
b. Teknik pengumpulan data
Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini
meliputi :
1). Observasi; mengadakan pengamatan langsung terhadap klien atau orang
terdekat dengan klien atau keluarga.
2). Wawancara; dilakukan dengan mengadakan komunikasi atau tanya jawab
langsung dengan klien atau orang terdekat klien atau keluarga.
3). Pemeriksaan fisik; melalui inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi. Yang
dimaksud dengan inspeksi adalah pemeriksaan dengan cara melihat bagian
tubuh yang diperiksa melalui pengamatan; Palpasi adalah pemeriksaan
fisik melalui perabaan terhadap

bagian-bagian tubuh yang mengalami

kelainan; Perkusi adalah pemeriksaan fisik dengan cara mengetuk bagian

tubuh dengan menggunakan tangan atau alat bantu seperti perkusi hamer
untuk mengetahui antara lain refleks patela;

dan Auskultasi adalah

pemeriksaan fisik dengan cara pendengaran menggunakan stetoskop.


4). Studi dokumentasi; yaitu suatu cara pengumpulan data melalui catatan
medis, status klien, maupun data statistik.
G. Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan data dilakukan setelah pengumpulan data berdasarkan format
pengkajian dan dituangkan dalam bentuk tekstural. Setelah itu dianalisis, dan
didapatkan masalah-masalah keperawatan yang timbul. Selanjutnya dilakukan
tindakan keperawatan berdasarkan intervensi yang telah ditetapkan dan dilakukan
evaluasi. Setiap kegiatan yang dilakukan selalu didokumentasikan.
H. Penyajian Data
Penyajian data dalam penelitian ini disajikan dalam bentuk tekstular dan
tabular yaitu dengan menggunakan kata-kata secara narasi dan dalam bentuk
tabel.

BAB IV
HASIL PENILITIAN DAN PEMBAHASAN
A.

Hasil Penelitian

1. Pengkajian
a.

Identitas By.D.D
Nama By.D.D lahir di Ambon, pada Tanggal 21 Agustus 2012/Usia
11 bulan, berjenis kelamin perempuan, beragama Kristen protestan dan
belum bersekolah. Saat ini By.D.D, tinggal di Batu gantong. By.D.D.
masuk ke rumah sakit pada tanggal 30 Juli 2013 pukul 20.00 WIT.
Pengkajian dilakukan pada tanggal 31 Juli 2013. By.D.D masuk ke rumah
sakit dengan diagnosa medis GEA. Nomor Register By.D.D 02-13-67.

b.

Identitas orang tua


1). Ayah : Nama Tn. A.D, Umur 39 tahun, pendidikan SMA, pekerjaan
WIiraswasta, agama Kristen protestan, Alamat Batu gantong.

2). Ibu : nama Ny. Y, Umur 39 tahun, pendidikan SMA, pekerjaan Ibu
Rumah tangga, agama kristen protestan, Alamat Batu gantong.
c.

Identitas saudara kandung


Identitas saudara kandung By.D.D, dapat dilihat pada tabel 3
berikut ini :

TABEL 6
IDENTITAS SAUDARA KANDUNG
NO
1.
2.
3.
4.
5.

Nama
An. J.D
An. N.D
An. A.D
An. G.D
An. B.D

Jenis kelamin
Laki laki
Laki laki
Perempuan
Laki laki
Perempuan

Usia
15 Tahun
14 Tahun
8 Tahun
6 Tahun
5 Tahun

Hubungan
Saudara kandung
Saudara kandung
Saudara kandung
Saudara kandung
Saudara kandung

Status kesehatan
Sehat
Sehat
Sehat
Sehat
Sehat

Sumber : Data primer,31 Juli 2013.

d.

Keluhan utama / Riwayat penyakit sekarang


Ibu bayi mengatakan, bayinya BAB lebih dari 6x/Hari, BAB encer, di sertai
muntah 2x, bayinya rewel.

e.

Riwayat
1) Alasan masuk rumah sakit
Ibu bayi mengatakan bayinya BAB lebih dari 7x/Hari, disertai muntah
3x kemudian By.D.D dibawah ke RSUD Dr. M. Haulussy Ambon
pada Tanggal 30-07-2013 pukul 23:30 WIT, untuk mendapatkan
pertolongan melalui Instalasi Gawat Darurat (IRD), setelah By.D.D
mengalami

BAB lebih dari 7x/Hari, disertai muntah 3x. Pada saat

dilakukan pengkajian pada tanggal 31 juli 2013 pukul 09.00 WIT,


didapatkan data bahwa By.D.D : Keadaan umum lemah, BAB lebih
dari 6x/hari, BAB encer, disertai muntah sebanyak 2x, Bayi tampak
rewel. Terapi saat ini Obat-obat yang didapatkan By.D.D saat masuk
rumah sakit yaitu IVFD Tridex 27B 40 tetes/menit (micro), Injeksi
Cefotaxime 3x300 mg/8 jam (IV), Dialac 2x saset (Oral), Diazinc 1x
tablet (Oral).
Riwayat kesehatan lalu
a) Pre natal care
Ibu bayi mengatakan selama hamil ia selalu melakukan
pemeriksaan kesehatan di puskesmas terdekat 1 bulan sekali,
selama hamil ia merasa biasa-biasa saja tidak mengeluh mual
ataupun muntah, selama hamil ia tidak pernah dirawat dirumah
sakit, tidak terkena sinar X, tidak pernah melakukan medikasi
selama kehamilan, selama hamil pola makan baik 3x/Hari porsi
dihabiskan, mendapat imunisasi TT1 dan TT2 untuk mencegah
tetanus pada bayi dalam kandungannya, golongan darah ibu O.
b) Natal
Ibu bayi mengatakan melahirkan bayinya dirumah sakit, lamanya
persalinan 2 jam, jenis persalinan normal, tidak ada kesulitan
selama persalinan, penolong persalinan bidan, cara untuk
memudahkan persalinan dengan menggunakan obat piton S untuk
merasang nyeri saat bersalin, tidak ada komplikasi waktu
melahirkan.
c) Post natal

Ibu bayi mengatakan kondisi bayinya waktu lahir beratnya 4000


gram, panjang badan 52 cm, Apgar scor 7/9 lahir langsung
menangis, keadaan kesehatan setelah 28 hari baik, tidak menderita
penyakit tertentu.
f.
g.

Riwayat alergi
Ibu bayi mengatakan bayinya tidak ada riwayat Alergi.
Riwayat kesehatan keluarga
Ibu bayi mengatakan tidak ada penyakit keturunan yang

diderita oleh

By.D.D, dan tidak ada penyakit menular yang diderita oleh keluarga.
Silsilah keluarga By.D.D, dapat dilihat pada gambar 3 berikut ini :
Genogram :
?

39

15

14

399

o
8

11

Gambar : Bagan Genogram Keluarga


Keterangan :

: Laki-laki
: Klien :
: Tinggal serumah
: Meniggal

Sumber,Data Primer, 31 Juli 2013

Gambar 4
Genogram Tiga Generasi
h.

Riwayat Imunisasi

: Perempuan
: Garis keturunan
: Tidak tau Umur

Jenis-jenis imunisasi yang telah diperoleh By.D.D, dapat dilihat pada


tabel 4 berikut ini :

TABEL. 7
RIWAYAT IMUNISASI
NO
1.
2.
3.
4.
5

Jenis
BCG
DPT (I, II, III)
Polio (I, II, III, III)
Campak
Hepatitis

Waktu
1 bulan
3 bulan
5,7,8 bulan
9 bulan
6 bulan

Reaksi setelah pemberian


Timbul benjolan
Panas
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Sumber : Data primer,31 Juli

i.

Riwayat tumbuh kembang


1) Pertumbuhan fisik
Berat badan saat lahir adalah 4000 gram, berat sekarang 9,5 kg, tinggi
badan saat lahir 52 cm, waktu tumbuh dan tanggalnya gigi pada bayi
usia 5 bulan.
2) Perkembangan tiap tahap
Saat berguling usia 4 bulan, duduk berusia 6-7 bulan, merangkak usia 5
bulan, senyum pertama usia 2 bulan, bicara usia 7 bulan, berdiri tegak

j.

dan berjalan belum bisa.


Riwayat Nutrisi
1) Pemberian ASI
Ny. Y menagatakan pertama kali By D.D, mendapatkan ASI 30 menit
setelah lahir, waktu pemberian saat bayi menagis dan cara pemberian
dengan cara menetek, ASI diberikan sampai usia 2 bulan.
2) Pemberian susu formula
Alasan pemberian susu formula adalah karena Ibu bayi mengatakan
sementara pengobatan karena terdapat benjolan dipayudaranya, jumlah
pemberian 240 ml, cara pemberian dengan menggunakan dot.
3) Pemberian makanan tambahan
Bayi pertama kali mendapatkan makanan tambahan saat usia 6 bulan
yaitu bubur giling ( saring )

TABEL. 8
POLA NUTRISI PADA TIAP TAHAPAN USIA
Usia
1 2 bulan
2 6 bulan
6 9 bulan
9 11 bulan sampai sekarang

Jenis nutrisi
ASI
Susu formula
Bubur sun
Bubur giling ( saring )

Lama pemberian
2 bulan
4 bulan
3 bulan
2 tahun

Sumber: Data primer, 31Juli 2013

k.

Riwayat Psikososial
1) Identitas By.D.D tentang kehidupan sosial
Bayi tinggal di rumahnya sendiri bersama orang tua dan ayah serta
kakaknya, Lingkungan perumahan berada di daerah perkotaan,
hubungan antara keluarga baik-baik saja, bayi di asuh oleh ibu dan
ayahnya. Di rumah bayi memiliki tempat tidur sendiri, tidak ada tangga
yang dapat membahayakan permainan anak dan anak lebih sering
bermain di dalam rumahnya.
2) Identifikasi kehidupan perkawinan orang tua anak
Orang tua memiliki hubungan baik dalam menjalani kehidupan
perkawinan sehingga yang yang mengasuh bayi kedua orang tuanya
ayah dan ibu.
3) Hubungan antar anggota keluarga
Keluarga saling menyayangi dan menopang, ibu dan ayah khawatir
terhadap kesembuhan By.D.D
4) Siapa yang mengasuh anak
Sejak lahir bayi diasuh oleh kedua orang tuanya secara bergantian
5) Penerapan disiplin
Penerapan disiplin sudah diajarkan kepada anak seperti membuang
sampah pada tempatnya, makan siang sesuai waktu bahkan istirahat
siang dan malam pun sudah teratur.
6) Latihan toilet
Toilet training belum bisa diterapkan karena anak belum miliki
kemampuan untuk berjalan dan berdiri secara tegak .
7) Pola bermain

Pola bermain bayi baik, By.D.D sering bermain di dalam rumah


l.

bersama kakak dan para saudaranya


Riwayat spiritual
Ibu bayi mengatakan ia selalu beribadah dan berdoa untuk kesembuhan
bayinya.

m.

Reaksi hospitalisasi
1) Pemahaman keluarga tentang sakit dan rawat inap
Ibu By.D.D mengatakan alasan membawa bayi ke rumah sakit ialah
karena By.D.D BAB lebih dari 6x/hari disertai muntah sebanyak 2
kali.

Dokter

menceritakan

penyakit

bayinya

dicurigai

sakit

Gastroenteritis Akut, orang tua bertanya tanya tetang kondisi bayinya


saat pengkajian, orang tua tampak sedih terhadap kodisi bayinya, kedua
orang tuanya selalu berkunjung dan menjaga By.D.D ibu dan ayah
cemas dengan kondisi bayinya.
n.
Aktifitas Sehari- hari
Berdasarkan pegkajian pada By.D.D pada ruang anak Rumah Sakit
Umum Daerah Dr. M. Haulussy didapat hasil pengkajian sebagai berikut:
TABEL. 9
AKTIFITAS SEHARI HARI
Data
A. Nutrisi
1. Selera makan dalam 24 jam
2. Frekuensi makan dalam 24 jam
3. Makanan yang di sukai/ pantangan
4. Pembatasan pola makan
5. Cara makan (alat makan)
6. Ritual sebelum makan
B. Cairan
1. Jenis minuman dalam 24 jam
2. Frekuensi minum
3. Kebutuhan cairan dalam 24 jam
C. Eliminasi BAB
1. Tempat pembuangan
2. Frekuensi
3. Konsistensi
4. Kesulitan dan cara menangani

Sebelum sakit

Saat sakit

Baik

Tidak baik
4-6 sendok saja
3x1/hari
Bubur giling / tidak
Tidak ada
Disuap (sendok makan)

3x1/hari
Bubur giling / tidak
Tidak ada
Disuap (sendok
makan)
Berdoa

Berdoa

Susu SGM
240 ml
240ml/5 jam

Susu SGMLLM
150 ml
130 ml/5 jam

Pempers
2-3 x/hari
Lembek
Tidak ada

Pempers
4-6x/ hari
Encer
Ya, ada

5. Obat-obat untuk mempelancar


D. Istirahat tidur
1. Apakah cepat tidur
2. Jam tidur (siang dan malam)
3. Bila tidak tidur apa yang dilakukan
4. Apakah tidur secara rutin
5.Apakah ada kebiasaan sebelum tidur
E. olaraga
1. Program olaraga tertentu
2.Berapalama melakukan dan jenisnya
3.Perasaan anak setelah melakukan
olaraga.
F.
Personal hygine
1. Mandi
2. Cuci rambut
3. Guntung kuku
4. Gosok gigi
G. aktifitas /mobilitas fisik
1. kegiatan sehari-hri
2. pengaturan jadwal harian
3. pengunaan alat bantu aktifitas
4. kesulitan pergerakan tubuh
H. Rekreasi
1. bagaimana perasaan anak
2. berapa banyak waktu luang anak
3.apakah keluarga menghabiskan waktu
bersama dengan anak
4. perbedaan hari libur dan hari sekolah

Tidak ada

Tidak ada

Ya
Siang : 3-4 jam
Malam : 7-8 jam
Bermain
Ya
Tidak ada

Tidak
Siang : 1-2 jam
Malam: 5-4 jam
Menangis atau diam saja
Tidak
Tidak ada

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

3x1/hari
1x/minggu
1x/minggu
2x1/ hari

Lap badan saja 2x/hari


Tidak pernah
Tidak pernah
Tidak pernah

Bermain
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Berbaring di tempat tidur


Tidak ada
Tidak ada
Ada (pada tangan yang
terpasang infus)

Senang
4-5 jam
Ya setiap jam makan
dan pada malam hari
Tidak ada

Selama sakit anak tidak


pernah berekreasi

Sumber : Data primer, 31Juli 2013.

o.

Pemeriksaan fisik
1) Keadaan umum By.D.D
Keadaan umum tampak lemah, merasa takut bila di dekati oleh perawat,
penampilan sesuai dengan usia anak, ekspresi bicara sedih, mood rewel,
berpakaian dan kebersihan umum baik
2) Tanda-tanda vital
Pada pemeriksaan Tanda tanda vital diperoleh hasil, Suhu tubuh 36,8C
(nilai normal: 36,5-37C), Nadi 110 x/menit (nilai normal: 100190x/menit), Respirasi 28x/menit (nilai normal: 20-30x/menit).
TABEL. 10
PENGUKURAN ANTROPOMETRI

N
O

Jenis pemeriksaan

Nilai normal (sesui usia)

Hasil

1
2
3
4
5
6

Tinggi badan
Berat badan
Lingkar lengan atas
Lingkar kepala
Lingkar dada
Lingkar perut

68,5 74,9 cm
7,6 kg 9,9 kg
15 21 cm
43 49 cm
45 47 cm
48 50 cm

70,5 cm
9,5 kg
15 cm
45 cm
47 cm
50 cm

Sumber : Data primer, 31Juli 2013.

3) Pemeriksaan head to toe

a) Kulit
Warna kulit putih, turgor kulit jelek, kelainan pada kulit tidak ada,
suhu kulit normal 36,8 C, pembesaran kelenjar getah bening tidak
ada.
b) Kepala
Ukuran lingkar kepala 45 cm, bentuk kepala normochepal, sutura
fontanel dan kranial normal
c) Mata
Mata simetris kiri dan kanan, konjungtiva berwarna merah muda,
skelera tidak ikteric, mata cekung, refleks pupil baik (isokor), reaksi
terhadap cahaya positif, fungsi penglihatan baik.
d) Telinga
Telinga simetris kiri dan kanan, bentuk normal, tidak ada serumen,
tidak ada pendarahan, respon terhadap rangsangan auditorius baik.
e) Hidung
Keadaan lubang hidung simetris kiri dan kanan, tidak ada
pembengkakan, tidak terdengar pernapasan cuping hidung, fungsi
penciuman baik.
f) Mulut

Keadaan mulut normal, membran mukosa bibir kering, gigi 5 buah


tidak ada karies. lidah bersih, tidak ada sariawan, tidak ada
stomatitis, tidak ada tonsil, gusi warna merah muda tidak pucat.
g) Leher
Tidak ada pembesaran kelenjar thyroid, tidak ada lipatan kulit
tambahan, arteri karotis teraba saal dilakukan palpasi.
h) Paru paru
Inspeksi : bentuk dada simetris dan ferkuensi pernafasan 28x/menit,
palpasi : ekspansi paru seirama, adanya pengembangan dada, perkusi
: tidak ada penimbunan ciran paru-paru, auskultasi : tidak terdapat
bunyi ronkhi dan wheezing, tidak terdengar bunyi nafas tambahan.
i) Jantung
Inspeksi : tidak tampak pembesaran pada jantung, auskultasi : tidak
terdapat bunyi murmur, tidak ada bunyi tambahan.
j) Abdomen
Inspeksi : tidak tampak ada masa abdomen, auskultasi : Bunyi
peristaltik usus terdengar 36x/menit (Nilai normal: 15-30x/menit),
palpasi : tidak ada nyeri, perkusi : perut terdengar kembung.
k) Genitalia
Labia mayora dan minora tidak ada kelainan, uretra dan lubang
vagina tidak ada kelainan.
l) Anus dan rectum
Daerah sekitar anus terlihat kemerahan, refleks anal normal.

m) Ekstremitas
Rentang gerak aktif, kekuatan otot baik, tangan kanan terpasang,
IVFD Tridex 27B 40 tetes/menit (micro), ekstremitas atas dan bawah
tidak ada kelainan, tidak menggunakan alat bantu untuk beraktivitas..
n) Neurologi

Tingkat kesadaran composmentis, tidak kejang, pergerakan motorik


baik, motorik kasar maupun halus tidak ada gangguan.
Test diagnostik
Test diagnostik yang dilakukan pada By.D.D dengan Gastroenteritis akut

p.

yang dirawat di ruang anak Rumah Sakit Umum Daerah Dr.M.Haulussy


Ambon pada tanggal 31 juli 2013 dapat dilihat pada tabel berikut
TABEL. 11
PEMERIKSAAN LABOLATORIUM
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Jenis pemeriksaan
Haemoglobin
Laju endap darah
Leokosit
Hematokrit
Trombosit
DDR

Hasil
10,6 gr/dl
88-106 mm/jam
5500 mm
31 vol%
14200 mm
Negatif

Nilai normal
12-15 gr/dl
<15 mm/ 2 jam
4000-10000 mm
37-42 vol%
15000-44000 mm
Negatif

Data Labolatorium 31 Juli 2013 (12.00 WIT)

q.

Therapi saat sakit


IVFD Tridex 27B 40 tetes/menit (micro), Injeksi Cefotaxime 3x300 mg/8
jam (IV), Dialac 2x saset (Oral), Diazinc 1x tablet (Oral).

TABEL. 12
KLASIFIKASI DATA
Nama
: By.D.D
No register
: 02-13-67
Ruang rawat :Ruang anak
Data subjektif
Ibu By.D.D mengatakan:
1.

Bayinya

BAB

lebih dari 6x/hari


2.

Muntah 2x

3.

BAB encer

4.

Bayinya rewel

5.

Cemas

dengan

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Data objektif
Keadaan umum lemah
Bayi tampak rewel
Mata cekung
Turgor kulit jelek
Membran mukosa bibir kering
Terdengar bunyi kembung pada perut saat

diperkusi
7. Bunyi peristaltik usus terdengar 36x/menit
8. Di bagian anus tampak kemerahan

kondisi bayinya
6.

Ingin

anaknya

bisa segera cepat sembuh dan pulang

9. konsistensi feses encer


10. Ekspresi wajah tampak gelisah
11. Orang tua sering bertanya-tanya tentang
kodisi anaknya
12. Bayi terlihat takut bila di dekati oleh
perawat

Sumber : Data primer,31 Juli 2013

TABEL. 13
ANALISA DATA
Nama
Umur
No Register
Ruang Rawat

: By.D.D
: 11 Bulan
: 021748
: Ruang Anak

NO

DATA

ETIOLOGI

MASALAH

1.

Data subjektif :
1. Ibu mengatakan bayinya BAB
lebih dari 6x/hari
2. Ibu bayi mengatakan anaknya
muntah 2x
3. BAB encer
4. Bayinya rewel
Data objektif :
1. Keadaan umum lemah
2. Turgor kulit jelek
3. Membran mukosa bibir kering
4. Mata cekung
5. Konsistensi feses encer
Data subjektif :
1. Ibu mengatakan bayinya BAB
lebih dari 6x/hari
2. BAB encer
5. Bayinya rewel
Data objektif :
1. Keadaan umum lemah
2. Turgor kulit jelek
3. Membran mukosa bibir kering
4. Mata cekung
5. Terdengar kembung pada perut
saat diperkusi
6. Bunyi peristaltik usus terdengar
36x/menit
7. Konsistensi feses encer
Data subyektif :
1. Ibu bayi mengatakan bayinya
BAB lebih 6x/hari
2. BAB encer
6. Bayinya rewel
Data objektif :
1. Di bagian anus tampak
kemerahan

Out put yang berlebihan

Defisit volume
cairan

Peningkatan peristaltik
usus.

Perubahan
eliminasi BAB

Sering BAB

Resiko kerusakan
integritas kulit

2.

3.

2.
4.

Konsistensi feses encer

Data subyektif :
1. Ibu bayi mengatakan cemas
dengan kondisi bayinya
2. Ibu bayi mengataka agar anaknya
bisa segera cepat sembuh dan
pulang
Data objektif :
1. Ekspresi wajah tampak gelisah
2. Orang tua sering bertanya-tanya
tentang kodisi anaknya
3. Bayi terlihat takut bila di dekati
oleh perawat

Hospitalisasi

Ansietas Orang
tua dan anak

2. Diagnosa Dan Prioritas Masalah


a. Diagnosa Keperawatan
Sesuai dengan analisa data yang dibuat maka dengan ini didapatkan
diagnosa keperawatan yaitu:
1) Defisit volume cairan berhubungan dengan out put yang berlebihan
ditandai dengan: Ibu mengatakan bayinya BAB lebih dari 6x/hari,
anaknya muntah 2x, BAB encer, Bayinya rewel, Keadaan umum lemah,
Turgor kulit jelek, Membran mukosa bibir kering, Mata cekung,
Konsistensi feses encer.
2) Perubahan eliminasi BAB berhubungan dengan peningkatan peristaltik
usus ditandai dengan: Ibu mengatakan bayinya BAB lebih dari 6x/hari,
BAB encer, Bayinya rewel, Keadaan umum lemah, Turgor kulit jelek,
Mata cekung, Membran mukosa bibir kering, Terdengar kembung pada
perut saat diperkusi, Bunyi peristaltik usus terdengar 36x/menit,
Konsistensi feses encer,
3) Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan seringnya BAB
di tandai dengan: Ibu bayi mengatakan bayinya BAB lebih 6x/hari,

BAB encer, Bayinya rewel, Tampak kemerahan disekitar anus,


konsistensi feses encer.
4) Ansietas orang tua dan anak berhubungan dengan hospitalisasi di tandai
dengan: Ibu bayi mengatakan cemas dengan kondisi bayinya, agar
anaknya bisa segera cepat sembuh dan pulang, Ekspresi wajah tampak
gelisah, Orang tua sering bertanya-tanya tentang kodisi anaknya, Bayi
terlihat takut bila di dekati oleh perawat.
b. Prioritas masalah
1) Defisit volume cairan berhubungan dengan out put yang berlebihan
2) Perubahan eliminasi BAB berhubungan dengan peningkatan peristaltik
usus
3) Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan seringnya BAB
4) Ansietas orang tua dan anak berhubungan dengan hospitalisasi

3. Perencanaan
Berdasarkan prioritas masalah, maka dapat dibuat intervensi keperawatan pada By D.D dengan Gastroenteritis akut dapat
dilihat pada tabel berikut ini :
TABEL. 14
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
NO.
DX.
1

DIAGNOSA KEPERAWATAN

TUJUAN

2
Defisit volume cairan berhubungan dengan
out put yang berlebihan yang ditandai
dengan
Data subjektif :
7. Ibu mengatakan bayinya BAB lebih
dari 6x/hari
8. Ibu bayi mengatakan anaknya muntah
2x
9. BAB encer
10. Bayinya rewel
Data objektif :
6. Keadaan umum lemah
7. Turgor kulit jelek
8. Membran mukosa bibir kering
9. Mata cekung
10. Konsistensi feses encer

3
Setelah dilakukan asuhan
keperawatan
3x24
jam
diharapakan
keseimbangan
cairan elektrokit adekuat
dengan kriteria :
1. Haluaran
urine
adekuat dengan berat
jenis adekuat
2. Tanda vital normal
3. Membran
mukosa
lembab
4. Turgor kulit baik (<
2 detik kembali)

INTERVENSI
4
1. Kaji tanda-tanda vital

RASIONAL

5
1. mengkaji tanda-tanda vital, maka
kondisi pasien dapat di
monitoring sedini mungkin
2. Observasi
kulit
kering 2. adanya perubahan kulit, membran
berlebihan,
membran
mukosa, turgor kulit merupakan
mukosa, penurunan turgor
merupakan indikator untuk
kulit.
meningkatkan tingkat rehidrasi
3. mengobservasi Intake dan output
klien dapat diketahui secara
3. Observasi Intake dan output
objektif sejauh mana ketidak
klien
seimbangan cairan yang dialami
pasien sehingga dapat segera
dilakukan intervensi yang tepat
secepatnya
4. Dengan memberikan minum air
4. Anjurkan kepada keluarga
hangat sebanyak mungkin, akan
berikan minum air hangat
dapat mengurangi rangsangan
sesuai kebutuhan tubuh
muntah dan dapat mengimbangi
cairan yang hilang
5. Menentukan
kebutuhan

5. Awasi hasil laboratrium

1
2.

2
Perubahan eliminasi BAB berhubungan
dengan peningkatan peristaltik usus di
tandai dengan :
Data subjektif :
3. Ibu mengatakan bayinya BAB lebih
dari 6x/hari
4. BAB encer
5. Bayinya rewel
Data objektif :
8. Keadaan umum lemah
9. Turgor kulit jelek

penggantian dan kefektifan


terapi
6. Cairan parenteral dan Obat-obatan
6. Kolaborasi dengan tim
sesuai indikasi
medis untuk pemberian
a. Pemberian cairan akan
cairan
dapat
segera
a. Cairan parenteral
mengembalikan
b. Obat-obatan
sesuai
keseimbangan cairan dan
indikasi
elektrolit klien yang hilang.
b. Dengan pemberian obatobatan sesuai indikasi dapat
mempercepat
proses
penyembuhan
sehingga
tujuan dapat tercapai secara
maksimal.
7. Dengan memberikan penjelasan
7. Berikan penjelasan kepada
pada klien tentang manfaat
keluarga dan orang tua
minum dan tindakan yang telah
tentang manfaat minum dan
dilakukan akan memberikan
tindakan
yang
telah
pemahaman kepada keluarga
dilakukan
dan pasien sehingga tercipta
hubungan yang teraupetik.
3
4
5
Setelah dilakukan asuhan 1. Kaji pola elminasi BAB : 1. Mengetahui pola eliminasi klien
keperawatan
3x24
jam
frekuensi dan pengikatan
diharapakan Pola elminasi
konsistesi feces
2. Memonitor adanya kelainan pada
alvi (BAB) kembali normal 2. Obsevasi tanda-tanda vital
TTV
Kriteria :
3. Mencegah terjadinya dehidrasi
1. Frekuensi BAB 1-3x/hari 3. Anjurkan pada orang tua dan
2. Konsistensi lembek
keluarga untuk memberikan
3. Turgor kulit baik
minum yang banyak 2 x dari
jumlah BAB
4. Intake dan output seimbang
4. Ukur dan catat input dan output
5. Kolaborasi dengan dokter untuk 5. Mencegah terjadinya komplikasi

10. Membran mukosa bibir kering


11. Mata cekung
12. Terdengar kembung pada perut saat
diperkusi
13. Bunyi peristaltik usus terdengar
36x/menit
14. Konsistensi feses encer
1
3.

pemberian terapi
yang lebih lanjut
6. Berikan HE pada keluarga 6. Ibu
dapat
mengetahui
dan
tentang :
memahami tentang
penayakit
Pengertian
gastoernteritis,
gastroenteritis
tanda
dan
gejala
gastroenteritis,
penyebab
gastroenteritis
dan
pencegahan gastroenteritis .
2
3
4
5
Resiko
kerusakan
integritas
kulit Setelah dilakukan asuhan 1. Kaji adanya tanda-tanda 1 Dengan mengkaji adanya tandaberhubungan dengan seringnya BAB di keperawatan
3x24
jam
kerusakan integritas kulit ;
tanda kerusakan integritas kulit
tandai dengan:
diharapakan
klien
dapat
perubahan pada turgor,
maka kondisi pasien dapat di
Data subyektif :
mempertahankan
integritas
gangguan warna, eritema.
monitoring sedini mungkin dan
3. Ibu bayi mengatakan bayinya BAB
kuit Kriteria :
memungkinkan intervensi segera
lebih 6x/hari
1. Anus bersih dan kering
2 Dengan mengganti balut / popok,
4. BAB encer
2. Dibagian
anus
tidak 2. Ganti balut
/ popok
bersihkan bagian perianal dengan
5. Bayinya rewel
kemerahan lagi
bersihkan bagian perianal
air bersih akan dapat menghindari
Data objektif :
dengan air bersih
kondisi perianal yang basah dan
3. Di bagian anus tampak kemerahan
kotor, dimana kondisi ini akan
4. Konsistensi feses encer
dapat meningkatkan populasi
bakteri yang dapat menyebabkan
infeksi
3. Lakukan perawatan pada 3 Dengan melakukan perawatan klien
klien dengan tehnik aseptik
dengan teknik Aseptik akan dapat
pada daerah anus
mempertahankan
dan
meningkatkan keadaan Aseptik
klien , dengan demikian resiko
terjadinya perubahan integritas
kulit dapat ditekan sedemikian
mungkin
4. Berikan penjelasan pada 4 Dengan pemberian penjelasan pada
keluarga dan orang tua
keluarga dan pasien akan
tentang pentingnya untuk
menciptakan kerja sama yang
menjaga
kebersihan
baik dan pengalaman secara

khususnya pada daerah


perianal setiap saat.

1
4.

2
3
Ansietas orang tua dan anak berhubungan Setelah dilakukan asuhan
dengan hospitalisasi di tandai dengan:
keperawatan
3x24
jam 1.
Data subyektif :
diharapakan kecemasan orang
3. Ibu bayi mengatakan cemas dengan
tua teratasi dengan kriteria:
kondisi bayinya
1. Orang
tua
mengerti
4. Ibu bayi mengataka agar anaknya bisa
keadaan penyakit anaknya
segera cepat sembuh dan pulang
2. Ekspresi
wajah
ibu
2.
Data objektif :
tampak tenang
4. Ekspresi wajah tampak gelisah
5. Orang tua sering bertanya-tanya
tentang kodisi anakya
3.
6. Bayi terlihat takut bila di dekati oleh
perawat
4.

Sumber : Doengoes, 2000

subjek dan objektif pada keluarga


dan pasien tentang manfaat untuk
menjaga personal hygiene yang
berdampak pada pencapaian
tujuan secara optimal.
4
5
1. Menetapkan tingkat kecemasan
yang dialami oleh orang tua
Kaji rasa cemas yang
klien.
dialami oleh orang tua klien.
2. Agar klien/keluarga bersikap
terbuka dengan perawat.
3.
Jalin
hubungan
saling
pecaya antara orang tua 4.
klien, anak, dan perawat.
Beri kesempatan keluarga
untuk mengungkapkan rasa
cemasnya..
Berikan keyakinan pada
keluarga
bahwa
tim
kesehatan memberikan yang
terbaik dan pertolongan
optimal.

Meringankan beban pikiran


keluarga.
Penjelasan
tentang
proses
penyakit (kolaborasi dokter),
menjelaskan tentang proses
perawatan, menjelaskan tentang
kemungkinan
pemberian
perawatan intensif jika memang
diperlukan oleh klien untuk
mendapatkan perawatan yang
lebih optimal.

4. Implementasi dan evaluasi


Berdasarkan rencana tindakan keperawatan yang dibuat maka
implementasi yang dilakukan dan evaluasi yang disusun dapat dilihat pada
tabel di bawah ini.
TABEL. 15
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI PADA By. D.D DI RUANG ANAK
RSUD Dr M. HAULUSSY AMBON PADA TANGGAL 31 JULI 2013
No.
Dx
1
I.

Hari/
Tanggal
2
Rabu,
31 Juli
2013

Jam

Implementasi

3
4
10.00 WIT 8. Mengaji tanda-tanda vital
Hasil: Suhu tubuh 36,8C, Nadi
110x/menit, Respirasi 28x/menit
10.30 WIT 9. Mengobservasi kulit kering
berlebihan, membran mukosa,
penurunan turgor kulit.
Hasil: Turgor kulit jelek,
membran mukosa bibir kering.
11.11 WIT10. Mengobservasi
Intake
dan
output klien
Hasil:
Susu
SGMLLM
240cc/5jam menghabiskan 130cc
saja, IVFD Tridex 27B 40
tetes/menit (micro), muntah 2x,
BAB 6x/hari, BAK 5/hari :150cc
11.15 WIT11. Menganjurkan pada keluarga
berikan minum air hangat sesuai
kebutuhan tubuh
Hasil: air hangat 50cc/jam
dengan gelas
11.45 WIT12. Mengawasi hasil laboratrium
Hasil: Haemoglobin10,6 gr/dl,
Laju endapan darah 88-106
mm/jam, Leokosit 5500 mm,
Hematokrit 31 vol%, Trombosit
14200 mm, DDR Negatif
17.00 WIT13. Kolaborasi dengan tim medis
untuk pemberian cairan
c. Cairan parenteral
d. Obat-obatan sesuai indikasi
Hasil: IVFD Tridex 27B 40
tetes/menit (micro),
Injeksi
Cefotaxime 3x300 mg/8 jam
(IV), Dialac 2x saset (Oral),
Diazinc 1x tablet (Oral).
17:45
14. Memberikan penjelasan kepada
WIT
keluarga dan orang tua tentang
manfaat minum dan tindakan

Evaluasi
5
Jam 19.30 WIT
S:
- Ibu
mengatakan
bayinya BAB lebih
dari 6x/hari
- Ibu
bayi
mengatakan
anaknya muntah 2x
- BABnya encer
- Bayi rewel
O:
- Keadaan
umum
lemah
- Turgor kulit jelek
- Membran mukosa
bibir kering
- Mata cekung
- Konsistensi feses
encer
A : Masalah belum
teratasi
P : Intervensi 1,3,4,5,6
dilanjutkan

Paraf

1
II.

2
Rabu,
31 Juli
2013

1
III.

2
Rabu,
31 Juli
2013

yang telah dilakukan


Hasi: keluarga sudah mengerti
tentang
penjelasan
yang
diberikan
3
4
09.30 WIT5. Mengkaji pola elminasi BAB:
frekuensi
dan
pengikatan
konsistesi feces
Hasil: BAB 6x/hari, feses encer.
10.00 WIT7. Mengobsevasi tanda-tanda vital
Hasil: Suhu tubuh 36,8C, Nadi
110x/menit, Respirasi 28x/menit
16.40 WIT8. Menganjurkan pada orang tua dan
keluarga untuk memberikan
minum yang banyak 2x dari
jumlah BAB
Hasil: Air minum diberikan 50cc
setiap kali BAB
17.15 WIT9. Mengukur dan catat input dan
output
Halil:
Susu
SGMLLM
240cc/5jam menghabiskan 130cc
saja, BAB 6x/hari, IVFD Tridex
27B 40 tetes/menit (micro),
Muntah 2x, BAK 5/hari :150cc
18.00 WIT10. Kolaborasi dengan dokter untuk
pemberian terapi
Hasil: IVFD Tridex 27B 40
tetes/menit
(micro),
Injeksi
Cefotaxime 3x300 mg/8 jam
(IV), Dialac 2x saset (Oral),
Diazinc 1x tablet (Oral)
11. Memberikan HE pada keluarga
tentang:
Pengertian
18:30WIT
gastoernteritis, tanda dan gejala
gastroenteritis,
penyebab
gastroenteritis dan pencegahan
gastroenteritis
Hasil: orang tua sudah mengerti
HE yang diberikan
3
4
10.30 WIT 5. Mengkaji adanya tanda-tanda
kerusakan
integritas
kulit,
perubahan pada turgor, gangguan
warna, eritema.
Hasil: Turgor kulit jelek, warna
kulit putih, tampak kemerahan
disekitar anus
14.00 WIT 6. Mengganti balut / popok
bersihkan
bagian
perianal
dengan air bersih
Hasil: Setiap BAB/BAK pokok
diganti dan bagian perineal
dibersihan

5
Jam 20.00 WIT
S:
- Ibu
mengatakan
bayinya BAB lebih
dari 6x/hari
- BABnya encer
- Bayi rewel
O:
- Keadaan
umum
lemah
- Turgor kulit jelek
- Membran mukosa
bibir kering
- Mata cekung
- Terdengar
kembung
pada
perut saat diperkusi
- Bunyi
peristaltik
usus
terdengar
36x/menit
- Konsistensi feses
encer
A : Masalah belum
teratasi
P : Intervensi 1,3,4,5
dilanjutkan

5
Jam 19.05 WIT
S:
- Ibu bayi
mengatakan
bayinya BAB lebih
6x/hari
- BABnya encer
- Bayi rewel
O:
- Di bagian anus
tampak kemerahan
- Konsistensi feses
encer

15.10 WIT

16.35 WIT

7.

8.

Melakukan perawatan pada klien


dengan tehnik aseptik pada
daerah anus
Hasi: perawatan aseptik telah
dilakukan
Memberikan penjelasan pada
keluarga dan orang tua tentang
pentingnya
untuk
menjaga
kebersihan khususnya pada
daerah perianal setiap saat.
Hasil: keluarga sudah mengerti
dengan apa yang diberikan
4

A : Masalah belum
teratasi
P : Intervensi 1,3,4,5
dilanjutkan

1. Mengkaji rasa cemas yang dialami


oleh orang tua klien.

IV

Rabu,
31 Juli
2013

09.45 WIT

Hasil: orang tua mengatakan


cemas dengan kondisi bayinya.

2. Menjalin hubungan saling pecaya


antara orang tua klien, anak, dan
10.15 WIT perawat.
Hasil: hubungan orang tua, anak,
dan perawat sangat baik
11.30 WIT3. Memberikan kesempatan keluarga
untuk
mengungkapkan
rasa
cemasnya.
14.35 WIT

Hasil: keluarga telah


menggungkapkan rasa cemasnya

4. Memberikan
keyakinan
pada
keluarga bahwa tim kesehatan
memberikan yang terbaik dan
pertolongan optimal
Hasil: penyaji selalu memberikan
keyakinan pada keluarga tim
kesehatan selalu memberikan
pertolongan yang terbaik

1
I.

2
kamis,
1 Agustus
2013

3
06.00 WIT 1.

Jam 20.00 WIT


S:
- Ibu bayi
mengatakan cemas
dengan kondisi
bayinya
- Ibu bayi mengataka
agar anaknya bisa
segera cepat
sembuh dan pulang
O:
- Ekspresi wajah
tampak gelisah
- Orang tua sering
bertanya-tanya
tentang kodisi
bayinya
- Bayi terlihat takut
bila di dekati oleh
perawat
A: Masalah belum
teratasi
P: Intervensi 1,3,4,5
dilanjutkan

4
5
Mengaji tanda-tanda vital
Jam 19.30 WIT
Hasil: Suhu tubuh 36,5C, Nadi S :
110x/menit, Respirasi 28x/menit - Ibu
mengatakan
08.30 WIT 2. Mengobservasi kulit kering
bayinya BAB lebih
berlebihan, membran mukosa,
dari 4x/hari

11.30 WIT 3.

11.45 WIT 4.

12.00 WIT 5.

17.00 WIT 6.

17:45
WIT

1
II.

2
kamis,
1 Agustus
2013

7.

3
05.45 WIT 1.

06.00 WIT 2.
10.45 WIT 3.

1100 WIT 4.

penurunan turgor kulit.


Hasil: Turgor kulit jelek,
membran mukosa bibir kering.
Mengobservasi
Intake
dan
output klien
Hasil:
Susu
SGMLLM
240cc/5jam
menghabiskan
150cc saja, IVFD Tridex 27B 40
tetes/menit (micro), muntah 1x
BAB 4x/hari, BAK 5/hari :150cc
Menganjurkan kepada keluarga
berikan minum air hangat sesuai
kebutuhan tubuh
Hasil: air hangat 70cc/jam
dengan gelas
Mengawasi hasil laboratrium
Hasil: Haemoglobin10,6 gr/dl,
Laju endapan darah 88-106
mm/jam, Leokosit 5500 mm,
Hematokrit 31 vol%, Trombosit
14200 mm, DDR Negatif
Kolaborasi dengan tim medis
untuk pemberian cairan
e. Cairan parenteral
f. Obat-obatan sesuai indikasi
Hasil: IVFD Tridex 27B 40
tetes/menit (micro),
Injeksi
Cefotaxime 3x300 mg/8 jam
(IV), Dialac 2x saset (Oral),
Diazinc 1x tablet (Oral).
Berikan
penjelasan
kepada
keluarga dan orang tua tentang
manfaat minum dan tindakan
yang telah dilakukan
Hasi: keluarga sudah mengerti
tentang
penjelasan
yang
diberikan
4
Mengkaji pola elminasi BAB :
frekuensi
dan
pengikatan
konsistesi feces
Hasil: BAB 4x/hari, feses
encer.
Mengobsevasi tanda-tanda vital
Hasil: Suhu tubuh 36,5C, Nadi
110x/menit, Respirasi 28x/menit
Meganjurkan pada orang tua dan
keluarga untuk memberikan
minum yang banyak 2 x dari
jumlah BAB
Hasil: air minum diberikan 70cc
setiap kali BAB
Mengukur dan catat input dan
output
Halil:
Susu
SGMLLM

Ibu
bayi
mengatakan
bayinya muntah 1x
BABnya encer
Bayi rewel

O:
- Keadaan
umum
lemah
- Turgor kulit jelek
- Membran mukosa
bibir kering
- Mata cekung
- Konsistensi feses
encer
A : Masalah belum
teratasi
P : intervensi 1,3,4,5,6
dilanjutkan

5
Jam 19.05 WIT
S:
- Ibu
mengatakan
bayinya BAB lebih
dari 4x/hari
- BABnya encer
- Bayi rewel
O:
- Keadaan
umum
lemah
- Turgor kulit jelek
- Membran mukosa
bibir kering
- Mata cekung
- Terdengar
kembung
pada
perut saat diperkusi

17.00 WIT 5.

1
III.

2
Kamis,
1 Agustus
2013

1
IV

2
Kamis,
1 Agustus
2013

240cc/5jam
menghabiskan - Bunyi
peristaltik
150cc saja, IVFD Tridex 27B 40
usus
terdengar
tetes/menit (micro), Muntah 1x,
32x/menit
BAB 4x/hari, BAK 5/hari :150cc - Konsistensi feses
Kolaborasi dengan dokter untuk
encer
pemberian terapi
A: Masalah belum
Hasil: IVFD Tridex 27B 40
teratasi
tetes/menit (micro), Injeksi P : Intervensi 1,3,4,5
Cefotaxime 3x300 mg/8 jam
dilanjutkan
(IV), Dialac 2x saset (Oral),
Diazinc 1x tablet (Oral)

17.30 WIT12. Memberikan HE pada keluarga


tentang:
Pengertian
gastoernteritis, tanda dan gejala
gastroenteritis,
penyebab
gastroenteritis dan pencegahan
gastroenteritis
Hasil: orang tua sudah mengerti
HE yang diberikan
3
4
08.30 WIT 1. Mengkaji adanya tanda-tanda
kerusakan
integritas
kulit,
perubahan
pada
turgor,
gangguan warna, eritema.
Hasil: Turgor kulit jelek, warna
kulit putih, terdapat kemerahan
pada sekitar anus
09.00 WIT 2. Menganti
balut
/
popok
bersihkan
bagian
perianal
dengan air bersih
Hasil: Setiap BAB/BAK pokok
diganti dan bagian perineal
dibersihan
10.15 WIT 3. Melakukan perawatan pada klien
dengan tehnik aseptik pada
daerah anus
Hasi: perawatan aseptik telah
dilakukan
16.00 WIT 4. Memberikan penjelasan pada
keluarga dan orang tua tentang
pentingnya
untuk
menjaga
kebersihan khususnya pada
daerah perianal setiap saat.
Hasil: keluarga sudah mengerti
dengan apa yang diberikan
3
4
10.00 WIT
1. Mengkaji rasa cemas yang dialami
oleh orang tua klien.
09.45 WIT

Hasil: Ibu bayi mengatakan


tidak lagi cemas dengan kondisi
bayinya

5
Jam 19.05 WIT
S:
- Ibu bayi
mengatakan
bayinya BAB lebih
4x/hari
- BABnya encer
- Bayi rewel
O:
- Di bagian anus
tampak kemerahan
- Konsistensi feses
encer
A : Masalah belum
teratasi
P : Intervensi 1,3,4,5
dilanjutkan

5
Jam 19.05 WIT
S:
- Ibu bayi
mengatakan tidak
lagi cemas dengan
kondisi bayinya
- Ibu bayi
mengatakan sudah

2. Menjalin hubungan saling pecaya


antara orang tua klien, anak, dan
perawat.
Hasil: hubungan orang tua, anak,
dan perawat sangat baik

mengerti tentang
penyakit yang
dialami bayinya
saat ini

10.45 WIT
3. Memberikan kesempatan keluarga
untuk mengungkapkan rasa O :
cemasnya.
- Ekspresi wajah
tampak tenang
11.35 WIT
Hasil:
keluarga
telah - Orang tua tidak
bertanya tentang
menggungkapkan rasa cemasnya
kondisi bayinya
Bayi tidak takut
4. Memberikan
keyakinan
pada
bila didekati
keluarga bahwa tim kesehatan
perawat lagi
memberikan yang terbaik dan
A
:
Masalah teratasi
pertolongan optimal.
P : Intervensi
dihentikan
Hasil:
penyaji
selalu
memberikan keyakinan pada
keluarga tim kesehatan selalu
memberikan pertolongan yang
terbaik
1
I.

2
Jumat,
2 Agustus
2013

3
06.00 WIT 1.
07.30 WIT 2.

11.00 WIT 3.

11.15 WIT 4.

11.30 WIT 5.

12.00 WIT 6.

4
Mengaji tanda-tanda vital
Hasil: Suhu tubuh 36,5C, Nadi
110x/menit, Respirasi 28x/menit
Mengobservasi kulit kering
berlebihan, membran mukosa,
penurunan turgor kulit.
Hasil: Turgor baik (elastis),
membran mukosa bibir lembab.
Mengobservasi
Intake
dan
output klien
Hasil: Susu SGMLLM
240cc/5jam dihabiskan, BAB
2x/hari, Muntah tidak lagi, BAK
5/hari :150cc
Menganjurkan kepada keluarga
berikan minum air hangat sesuai
kebutuhan tubuh
Hasil: air hangat 100cc/jam
dengan gelas
Awasi hasil laboratrium
Hasil: Haemoglobin10,6 gr/dl,
Laju endapan darah 88-106
mm/jam, Leokosit 5500 mm,
Hematokrit 31 vol%, Trombosit
14200 mm, DDR Negatif
Kolaborasi dengan tim medis
untuk pemberian cairan

5
Jam 15.30 WIT
S:
- Ibu
mengatakan
bayinya BAB lebih
dari 2x/hari
- Ibu
mengatakan
bayinya
tidak
muntah lagi
- BABnya
tidak
encer
- Bayi tidak rewel
O:
- Keadaan
umum
baik
- Turgor
baik
(elastis)
- Membran mukosa
bibir lembab
- Mata tidak cekung
- Konsistensi feses
lembek
A : Masalah teratasi
P : Intervensi
dihentikan

1
II.

2
Jumat,
2 Agustus
2013

a. Cairan parenteral
b. Obat-obatan sesuai indikasi
Hasil:
a. IVFD Tridex 27B 40
tetes/menit (micro) diap
b. Dialac 2x saset (Oral),
Diazinc 1x tablet (Oral)
dilanjutkan dirumah
12:35 7. Berikan
penjelasan
kepada
WIT
keluarga dan orang tua tentang
manfaat minum dan tindakan
yang telah dilakukan
Hasi: keluarga sudah mengerti
tentang
penjelasan
yang
diberikan.
3
4
05.45 WIT 1. Mengkaji pola elminasi BAB :
frekuensi
dan
pengikatan
konsistesi feces
Hasil: BAB 2x/hari, feses
lembek.
06.00 WIT2. Mengobsevasi tanda-tanda vital
Hasil: Suhu tubuh 36,5C, Nadi
124x/menit, Respirasi 28x/menit
10.45 WIT3. Menganjurkan pada orang tua dan
keluarga untuk memberikan
minum yang banyak 2 x dari
jumlah BAB
Hasil: Air minum diberikan
100cc setiap kali BAB
11.00 WIT4. Ukur dan catat input dan output
Hasil:
Susu
SGMLLM
240cc/5jam dihabiskan, BAB
2x/hari, BAK 5/hari :150cc
12.00 WIT5. Kolaborasi dengan dokter untuk
pemberian terapi
Hasil: (IV), Dialac 2x saset
(Oral), Diazinc 1x tablet (Oral)
lanjutkan dan habiskan dirumah
12.45 WIT6. Memberikan HE pada keluaraga
tantang:
Pengertian
gastoernteritis, tanda dan gejala
gastroenteritis,
penyebab
gastroenteritis dan pencegahan
gastroenteritis
Hasil: orang tua sudah mengerti
HE yang diberikan
3
4

Jam `15.15 WIT


S:
- Ibu
mengatakan
bayinya BAB lebih
dari 2x/hari
- BAB tidak encer
- Bayi tidak rewel
O:
- Keadaan
umum
baik
- Turgor kulit baik
(elastis)
- Membran mukosa
lembab
- Mata tidak cekung
- Tidak
terdengar
kembung
pada
perut saat diperkusi
- Bunyi
peristaltik
usus
terdengar
28x/menit
- Konsistensi feses
lembek
A : Masalah teratasi
P : Intervensi
dihentikan

III.

Jumat,
2 Agustus
2013

06.00 WIT 1.

09:30 WIT 2.

10.15 WIT 3.

12.30 WIT 4.

Mengkaji adanya tanda-tanda


kerusakan
integritas
kulit,
perubahan
pada
turgor,
gangguan warna, eritema.
Hasil: Turgor kulit baik (elastis),
warna kulit putih
Menganti
balut
/
popok
bersihkan
bagian
perianal
dengan air bersih
Hasil: Setiap BAB/BAK pokok
diganti dan bagian perineal
dibersihan
Melakukan perawatan pada klien
dengan tehnik aseptik pada
daerah anus
Hasi: perawatan aseptik telah
dilakukan
Memberikan penjelasan pada
keluarga dan orang tua tentang
pentingnya
untuk
menjaga
kebersihan khususnya pada
daerah perianal setiap saat.
Hasil: keluarga sudah mengerti
dengan apa yang diberikan

Jam 15.05 WIT


S:
- Ibu bayi
mengatakan
bayinya BAB lebih
2x/hari
- BABnya tidak
encer lagi
- Bayi tidak rewel
lagi
- disekitar anus lagi
O:
- Di bagian anus
tidak tampak
kemerahan lagi
- Konsistensi feses
lembek
A : Masalah teratasi
P : Intervensi
dihentikan

Sumber: Data Primer, 2013

B. Pembahasan
Setelah penulis melakukan asuhan keperawatan pada By.D.D dengan
Gastroenteritis akut di Ruangan Anak Rumah Sakit Umum Daerah Dr. M.
Haulussy Ambon, maka pada bagian ini penulis akan membahas kesenjangan
antara teori yang ada dengan kenyataan yang ditemukan dari hasil Asuhan
Keperawatan pada klien dengan Gastroenteritis akut yang meliputi pengkajian,
diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi.
1. Pengkajian
Sebagai tahap awal dari proses keperawatan, pengkajian dilakukan
dengan tujuan untuk mengumpulkan data agar dapat mengetahui permasalahan
yang dihadapi oleh klien. Data tersebut dapat diperoleh melalui wawancara

dengan klien maupun keluarga kien, observasi, pemeriksaan fisik dalam bentuk
(inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi), status klien dari dokter yang
merawat klien dan perawat yang ada di ruangan.
Pada saat penulis melakukan pengkajian pada By. D.D data yang
penulis dapatkan yaitu Ibu By.D.D mengatakan: Bayinya BAB lebih dari
6x/hari, BAB encer, Bayinya rewel, Muntah 2x, Cemas dengan kondisi
bayinya, Ingin anaknya bisa segera cepat sembuh dan pulang, Keadaan umum
lemah, Bayi tampak rewel, Mata cekung, turgor kulit jelek, Membran mokosa
bibir kering, terdengar bunyi kembung pada perut saat diperkusi, Bunyi
peristaltik usus terdengar 36x/menit, Di bagian anus tampak kemerahan,
konsistensi feses encer, Ekspresi wajah tampak gelisah, Orang tua sering
bertanya-tanya tentang kodisi anaknya, Bayi terlihat takut bila di dekati oleh
perawat
Berdasarkan data tersebut jika dibandingkan dengan teori menurut
(Abdurrahman, 2000). Mula-mula bayi dan anak menjadi cengeng, gelisah,
suhu tubuh biasanya meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada,
kemudian timbul gastroenteritis, tinja cair dan mungkin disertai lendir atau
darah. Warna tinja makin lama berubah menjadi kehijau-hijauan karena
bercampur dengan empedu. Anus dan daerah sekitarnya menjadi lecet karena
seringnya defikasi dan tinja makin lama makin asam sebagai akibat makin
banyaknya asam laktat, yang berasal dari laktosa yang tidak dapat diabsorbsi
usus selama gastroenteritis. Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah
gastroenteritis dan dapat di sebabkan oleh lambung yang turut meradang atau

akibat gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit, maka gejala dehidrasi
mulai tampak, berat badan menurun, turgor kulit berkurang, mata dan ubunubun besar menjadi cekung, selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak
kering.
Hal ini menunjukan bahwa hampir semua data yang ditemukan saat
pengkajian terhadap By.D.D dengan Gastroenteritis akut di Ruangan Anak
Rumah Sakit Umum Daerah Dr. M. Haulussy Ambon, tidak jauh berbeda
dengan teori yang dikemukakan oleh Abdurrahman (2000).
Pada pasien dengan gastroenteritis akan menunjukan gejala tersebut
berhubungan dengan penyebab dan faktor pencetus yang berbeda. Selain
penyebab dan faktor pencetus, riwayat penyakit sebelumnya juga turut
mempengaruhi kondisi pasien saat dirawat. Sekalipun memiliki respon yang
berbeda - beda terhadap penyakit ini namum gejala-gejala umum yang nampak
tidak jauh berbeda dengan yang dikemukakan dalam teori.
Pada pasien dengan gastroenteritis akut menunjukan gejala tersebut
berhubungan dengan penyebab dan faktor pencetus yang berhubungan. Selain
penyebab dan faktor pencetus, riwayat penyakit sebelumnya juga turut
mempengaruhi kondisi pasien saat dirawat. Sekalipun memiliki respon yang
berbeda - beda terhadap penyakit ini namum gejala-gejala umum yang nampak
tidak jauh berbeda dengan yang dikemukakan dalam teori.
2. Diagnosa Keperawatan
Pada setiap perumusan diagnosa keperawatan penulis berusaha untuk
menganalisa data yang diperoleh dari pengkajian dan mengidentifikasi masalah
keperawatan, baik yang dapat dicegah, dikurangi, maupun dapat diatasi

berdasarkan asuhan keperawatan, 1). Defisit volume cairan berhubungan


dengan out put yang berlebihan, 2). Perubahan eliminasi BAB berhubungan
dengan peningkatan peristaltik usus, 3). Resiko kerusakan integritas kulit
berhubungan dengan seringnya BAB, 4). Ansietas orang tua dan anak
berhubungan dengan hospitalisasi.
Menurut teori yang dikemukakan oleh M. E. Doenges (2000), diagnosa
keperawatan yang sering muncul pada pasien dengan gastroenteritis akut
adalah sebagai berikut: a). Perubahan eliminasi alvi (BAB) gastroenteritis
berhubungan dengan peningkatan peristaltik usus, b). Perubahan keseimbangan
cairan elektrolit kurang dari kebutuhan berhubungan dengan out put yang
berlebihan, c). Perubahan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan
berhubungan dengan inadekuat absorbsi nutrisi, d). Perubahan rasa nyaman
berhubungan dengan frekuensi BAB berlebihan, e). Resiko kerusakan
integritas kulit berhubungan dengan seringnya BAB, f). Resiko tinggi infeksi
berhubungan dengan kontaminasi dengan organisme patogen, g). Resiko tinggi
gangguan sirkulasi darah berhubungan dengan asidosis metabolik sekunder
terhadap kehilangan cairan dan elektrolit, h). Resiko terjadinya syok
berhubungan dengan kehilangan cairan dan elektrolit, i). Ansietas dan takut
pada anak/orang tua berhubungan dengan hospitalisasi kondisi anak.
Sesuai dengan diagnosa keperawatan yang kemukakan oleh M. E.
Doenges (2000), tidak semua diagnosa keperawatan yang ditemukan pada
By.D.D hal ini karena tidak terlihat adanya tanda dan gejala yang menunjang
terjadinya masalah keperawatan tersebut. Dari sembilan diagnosa keperawatan

yang ada secara konseptual penulis hanya mendapatkan empat diagnosa


keperawatan yang ada sesuai teori, hal ini karena setiap individu atau manusia
mempunyai respon yang berbeda-beda terhadap masalah kesehatan.
3. Perencanaan
Perencanaan tindakan keperawatan dilaksanakan berdasarkan prioritas
masalah yang dihadapi oleh pasien, dan dilakukan berdasarkan kebutuhan
dasar pasien dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi pasien serta fasilitas
yang tersedia. Perencanaan keperawatan yang disusun untuk mengatasi
masalah keperawatan yang muncul pada By.D.D dengan Gastroenteritis akut
di Ruangan Anak Rumah Sakit Umum Daerah Dr. M. Haulussy Ambon
disusun berdasarkan teori yang ada.
Menurut M. E Doenges (2000), rencana keperawatan yang dapat dibuat
yaitu untuk diagnosa keperawatan Defisit volume cairan berhubungan dengan
out put yang berlebihan: a). Kaji tanda-tanda vital, b). Observasi kulit kering
berlebihan, membran mukosa, penurunan turgor kuli, c). Observasi Intake dan
output klien, d). Anjurkan kepada keluarga berikan minum air hangat sesuai
kebutuhan tubuh, e). Awasi hasil laboratrium, f.). Kolaborasi dengan tim medis
untuk pemberian cairan: Cairan parenteral. Obat-obatan sesuai indikasi, g).
Berikan penjelasan kepada keluarga dan orang tua tentang manfaat minum dan
tindakan yang telah dilakukan. Untuk diagnosa keperawatan Perubahan
eliminasi BAB berhubungan dengan peningkatan peristaltik usus: a). Kaji pola
elminasi BAB : frekuensi dan pengikatan konsistesi feces, b). Obsevasi tandatanda vital, c). Anjurkan pada orang tau dan keluarga untuk memberikan

minum yang banyak 2 x dari jumlah BAB, d). Ukur dan catat input dan output,
e). Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi, f). Berikan HE pada
keluarga. Untuk diagnosa keperawatan Resiko kerusakan integritas kulit
berhubungan dengan seringnya BAB: a). Kaji adanya tanda-tanda kerusakan
integritas kulit ; perubahan pada turgor, gangguan warna, eritema, b). Ganti
balut / popok bersihkan bagian perianal dengan air bersih, c). Lakukan
perawatan pada klien dengan tehnik aseptik pada daerah anus, d). Berikan
penjelasan pada keluarga dan klien tentang pentingnya untuk menjaga
kebersihan khususnya pada daerah perianal setiap saat. Untuk diagnosa
keperawatan Ansietas orang tua dan anak berhubungan dengan hospitalisasi,
a). Kaji rasa cemas yang dialami oleh orang tua klien, b). Jalin hubungan
saling pecaya antara orang tua klien, anak, dan perawat. c). Beri kesempatan
keluarga untuk mengungkapkan rasa cemasnya, d). Berikan keyakinan pada
keluarga bahwa tim kesehatan memberikan yang terbaik dan pertolongan
optimal.
4. Implementasi
Dalam melaksanakan tindakan keperawatan pada By.D.D dengan
Gastroenteritis akut di Ruangan Anak Rumah Sakit Umum Daerah Dr. M.
Haulussy Ambon, penulis mengacu pada rencana yang telah disusun
sebelumnya berdasarkan prioritas masalah keperawatan yang muncul,
walaupun pada pelaksanaannya ada juga hambatan hambatan yang ditemui,
seperti pengumpulan data yang tidak maksimal karena pasien selalu tidur dan
gelisah, tersedianya fasilitas yang kurang memadai membuat penulis tidak bisa
melaksanakan tindakan keperawatan secara maksimal tetapi berkat kerja sama

yang baik antara penulis dengan petugas kesehatan yang ada di ruangan dan
keluarga pasien maka kendala tersebut bisa teratasi.
Tindakan keperawatan yang dapat penulis lakukan pada By.D.D
dengan Gastroenteritis akut yaitu untuk diagnosa keperawatan Defisit volume
cairan berhubungan dengan out put yang berlebihan: a). Mengkaji tanda-tanda
vital, b). Mengobservasi kulit kering berlebihan, membran mukosa, penurunan
turgor kuli, c). Mengobservasi Intake dan output klien, d).Menganjurkan pada
keluarga berikan minum air hangat sesuai kebutuhan tubuh, e). Mengawasi
hasil laboratrium, f.). Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian cairan:
Cairan parenteral. Obat-obatan sesuai indikasi, g). Memberikan penjelasan
kepada keluarga dan orang tua tentang manfaat minum dan tindakan yang telah
dilakukan.

Untuk

diagnosa

keperawatan

Perubahan

eliminasi

BAB

berhubungan dengan peningkatan peristaltik usus: a). Mengkaji pola elminasi


BAB : frekuensi dan pengikatan konsistesi feces, b). Mengobsevasi tandatanda vital, c). Menganjurkan pada orang tua dan keluarga untuk memberikan
minum yang banyak 2 x dari jumlah BAB, d). Mengukur dan catat input dan
output, e). Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi, f). Memberikan
HE pada keluarga. Untuk diagnosa keperawatan Resiko kerusakan integritas
kulit berhubungan dengan seringnya BAB: a). Mengkaji adanya tanda-tanda
kerusakan integritas kulit ; perubahan pada turgor, gangguan warna, eritema,
b). Menganti balut / popok bersihkan bagian perianal dengan air bersih, c).
Melakukan perawatan pada klien dengan tehnik aseptik pada daerah anus, d).
Memberikan penjelasan pada keluarga dan orang tua tentang pentingnya untuk

menjaga kebersihan khususnya pada daerah perianal setiap saat. Untuk


diagnosa keperawatan Ansietas orang tua dan anak berhubungan dengan
hospitalisasi: a). Mengkaji rasa cemas yang dialami oleh orang tua klien, b).
Menjalin hubungan saling pecaya antara orang tua klien, anak, dan perawat. c).
Memberi kesempatan keluarga untuk mengungkapkan rasa cemasnya, d).
Memberikan keyakinan pada keluarga bahwa tim kesehatan memberikan yang
terbaik dan pertolongan optimal.

5. Evaluasi
Kriteria hasil yang ditetapkan pada saat disusun rencana keperawatan
yang menjadi tolak ukur keberhasilan pelaksanaan asuhan keperawatan,
sedangkan evaluasi setelah tindakan keperawatan pada kasus nyata berupa
catatan perkembangan. Dari kriteria hasil yang ditetapkan pada tujuan rencana
pelaksanaan asuhan keperawatan, tidak semua kriteria tersebut dapat dicapai.
Selain respon pasien yang berbeda terhadap treatment yang diterapkan, pasien
juga terlihat sangat lemah sehingga cukup sulit bagi penulis untuk memacu
pasien mencapai kriteria hasil yang ditetapkan
Dalam mengevaluasi hasil penelitian penulis menggunakan evaluasi
keperawatan selama tiga hari dan dapat disimpulkan bahwa dari empat
diagnosa keperawatan yang didapatkan yaitu diagnosa keperawatan Ansietas
orang tua dan anak berhubungan dengan hospitalisasi dapat teratasi pada
tanggal 1 Agustus 2013, sedangkan diagnosa Defisit volume cairan
berhubungan dengan out put yang berlebihan dapat teratasi pada tanggal 2

Agustus 2013, untuk diagnosa keperawatan Perubahan eliminasi BAB


berhubungan dengan peningkatan peristaltik usus dapat teratasi pada tanggal 2
Agustus 2013, dan Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan
seringnya BAB dapat teratasi tanggal 2 Agustus dan Pasien diperbolehkan
pulang pada Tanggal 2 Agustus 2013 atas instruksi dokter sehingga penulis
menganjurkan kepada pasien untuk tetap mencegah kebersihan pada botol susu
bayi dan makan yang dapat mencetuskan diare.

BAB V
PENUTUP
A Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada By. D.D dengan
Gatroenteritis diruang anak, Rumah Sakit Umum Daerah Dr. M. Haulussy
Ambon, maka dapat disimpulkan sebagai berkut :
1. Pada saat dilakukannya pengkajian, maka didapatkan data sebagai berikut : Ibu
bayi mengatakan, bayinya BAB lebih dari 6x/Hari di sertai muntah 2x,
Keadaan umum lemah, Bayi tampak rewel, Mata cekung, Turgor kulit jelek,
Membran mokosa bibir kering, Terdengar bunyi kembung pada perut saat
diperkusi, Bunyi peristaltik usus terdengar 36x/menit, Di bagian anus tampak
kemerahan, konsistensi feses encer, Ekspresi wajah tampak gelisah, Orang tua
sering bertanya-tanya tentang kondisi anaknya, Bayi terlihat takut bila di dekati
oleh perawat.
2. Didalam penelitian, penulis mendapatkan empat diagnosa keperawatan yang
dialami By. D.D yaitu. Defisit volume cairan berhubungan dengan out put
yang berlebihan, Perubahan eliminasi BAB berhubungan dengan peningkatan

peristaltik usus, Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan


seringnya BAB, Ansietas orang tua dan anak berhubungan dengan
hospitalisasi.
3. Perencanaan keperawatan

dilaksanakan

berdasarkan

prioritas

masalah

keperawatan yang telah disusun dan disesuaikan dengan kondisi kebutuhan


kesehatan klien.
4. Pelaksanaan atau implementasi keperawatan dilakukan selama 3 x 24 jam
berdasarkan rencana tindakan keperawatan yang disusun dengan melibatkan
By.D.D dan keluarga serta tim kesehatan lain dengan memperhatikan sarana
dan prasarana penunjang untuk pelaksanaan tindakan.
5. Evaluasi yang didapatkan pada By. D.D dengan perawatan selama tiga hari
menunjukkan bahwa dari empat diagnosa/masalah keperawatan, yang teratasi
yaitu : Defisit volume cairan berhubungan dengan out put yang berlebihan,
Perubahan eliminasi BAB berhubungan dengan peningkatan peristaltik usus,
Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan seringnya BAB,
Ansietas orang tua dan anak berhubungan dengan hospitalisasi. semua masalah
keperawatan dapat teratasi dan Pasien diperbolehkan pulang pada Tanggal 2
Agustus 2013 sehingga penulis menganjurkan kepada pasien untuk tetap
mencegah kebersihan pada botol susu bayi dan makan yang dapat mencetuskan
diare.
B Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka penulis dapat mengemukakan
beberapa saran yang kiranya dapat bermanfaat dan diterapkan dalam menangani
klien.

1. Bagi pasien dan keluarga diharapkan terus meningkatkan kesehatannya secara


mandiri dan dapat menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan dengan baik
sesuai dengan fungsinya sebagai tempat untuk memberikan pelayanan
kesehatan.
2. Bagi Rumah Sakit diharapkan dapat menggunakan hasil Karya Tulis Ilmiah ini
untuk mengembangkan dan meningkatkan mutu pelayanan dalam memberikan
asuhan keperawatan, serta dapat dijadikan sebagai salah satu Standar
Operasional Prosedur (SOP) di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. M. Haulussy
Ambon khususnya di Ruangan Anak.
3. Bagi Institusi Pendidikan, hendaknya hasil Karya Tulis Ilmiah ini menjadi
salah satu rekomendasi untuk dijadikan sebagai salah satu Standar Operasional
Prosedur (SOP) pada asuhan keperawatan paisen dengan Gastroenteritis akut
di Ruangan Anak.
4. Bagi penulis dalam memberikan tindakan asuhan keperawatan pada pasien
dengan Gastroenteritis akut yang bermutu dan komprehensif, maka perawat
dituntut memiliki pengetahuan dan ketrampilan serta selalu menggunakan
proses asuhan keperawatan yang tepat, agar masalah-masalah yang ditemukan
dapat teratasi dan diharapkan adanya kerjasama yang baik dari keluarga dan
perawat agar bisa tercapainya keberhasilan dalam setiap melakukan tindakan
keperawatan, dan perawat juga hendaknya mengetahui tindakan Keperawatan
mandiri tanpa harus bergantung pada tindakan medis.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, 2002, Ilmu Kesehatan Anak, Buku Kuliah, Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, Jakarta.

Abdurrahman, 2000, Ilmu Kesehatan Anak, Buku Kuliah, Fakultas Kedoktaran


Universitas Indonesia. Jakarta.
Andi, 2007. Jurnal Gastroenteritis. Jakarta.
Alimul Aziz, 2006. Perawatan Anak Sakit, Penerbit Buku Kedokteran, EGC.
Jakarta.
Carpenito, Lynda Juall, 2006, Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Edisi 8, EGC.
Jakarta.
Doengoes, M, E, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk
Perencanaan dan dokumentasi Pasien. EGC. Jakarta.
Hariyanto, 2007, Proses dan Dokumentasi Keperawatan, Edisi II Salemba
Medika, Jakarta.
Hariyati, 2008 Jurnal Gastroenteritis Akut. Jakarta.
Iwansain, 2007. Perawatan Anak Sakit. Penerbit Buku Kedokteran. EGC Jakrata
Indonesia.
Kementerian Kesehatan RI, 2010. Revisi Undang Undang Kesehatan 2010
2014 , Jakarta.
Kemal, 2007. Ilmu Kesehatan Anak. Penerbit Buku Kedokteran. EGC : Jakarta.
Lismidar, H. 2005. Proses Keperawatan. Universitas Indonesia. Jakarta.
Nurjanah, 2010. Proses Keperawatan, SalembaMedika, Jakarta.
Nursalam, 2001, Proses dan Dokumentasi Keperawatan Konsep dan Praktik, Edisi
II Salemba Medika, Jakarta.
Nursalam, 2008, Asuhan Keperawatan pada Bayi dan Anak (Untuk Perawat dan
Bidan), Penerbit Salemba Medika : Jakarta.
Nursalam, 2009, Proses dan Dokumentasi Keperawatan : Konsep dan Praktik,
Salemba Medika, Jakarta.
Powel D. W. 2003. AsuhanKeperawatan. EGC : Jakarta.
Rahayu, 2009. Konsep Dasar Keperawatan, Salemba Medika, Jakarta.
Rekam Medik. 2011. Jumlah Pasien Anak dengan Gastroenteritis di RSUD dr. M.
Haulussy Ambon.

Rekam Medik. 2012. Jumlah Pasien Anak dengan Gastroenteritis di RSUD dr. M.
Haulussy Ambon.
Rekam Medik. 2013. Jumlah Pasien Anak dengan Gastroenteritis di RSUD dr. M.
Haulussy Ambon.
Ridwan, 2000. Proses Keperawatan , EGC. Jakarta.
Rohman dan Walid, 2009. Proses Keperawatan Teori danAplikasi, AR-Ruzz
Media, Jogjakarta.
Setiadi, 2008. Konsep Dasar Keperawatan Dengan Pemetaan Konsep, Salemba
Medika, Jakarta.
Suratmaja, 2005, Buku Pegangan Praktik Klinik, Asuhan Keperawatan pada
Pasien dengan Gastroenteritis. Penebar Swadaya, Jakarta.
Suratmaja, 2006, Buku Pegangan Praktik Klinik, Asuhan Keperawatan pada
Pasien dengan Gastroenteritis. Penebar Swadaya, Jakarta.
Suriadi, 2010, Asuhan Keperawatan Pada Anak, Edisi II, Sagung Seto, Jakarta.
Astaqauliyah, 2011.Diare, http://qilqil.multiply.com/reviews/item/6

Edelwz, 2009. Diare dan Bagaimana Cara Menanganinya. http://momsnbabies.


wordpress.com/2009/03/20/diare-dan-bagaimana-menanganinya/. Diakses
tanggal 28Juni 2012
Rofiq,
2007.
Pendekatan
Diagnostik.
http://www.pdpress.co.id/?show

Penyakit

pada

Anak.

Soedarmono Soejitno, 2010. Pembangunan Kesehatan. http://www.medicastore.


com, Diaksestanggal 28 Juni 2012.

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN AMBON

Jln. Laksdya Leo Wattimena Negeri Lama Ambon


Telp.0911.362943.362947.362948.362950.362951.362952.
Fax. 0911-362949 e-mail : poltekes ambon06@yahoo.com

FORMAT PENGKAJIAN KEPERAWATAN ANAK


I.

BIODATA
A. Identitas Klien
1. Nama / Nama Panggilan

2. Tempat Tanggal Lahir /Usia :


3. Jenis Kelamin

4. Agama

5. Pendidikan

6. Alamat

7. Tanggal Masuk

8. Tanggal Pengkajian

9. Diagnosa Medic

10. Rencana Terapi

B. Identitas Orang Tua


1. Ayah
a. Nama

b. Usia

c. Pendidikan:
d. Pekerjaan/Sumber Penghasilan

e. Agama

f. Alamat

a. Nama

2. Ibu

b. Usia

c. Pendidikan

d. Pekerjaan/Sumber Penghasilan

e. Agama

f. Alamat

C. Identitas Saudara Kandung


No

II.

III.

Nama

Jenis kelamin

Usia

Hubungan

Status Kesehatan

Keluhan Utama/Alasan Masuk Rumah Sakit


Keluhan anak sehingga anak membutuhkan perwatan medik, jika anak
tidak dapat mengungkapkan. Tanya kepada keluarga alas an keluarga
membawa anaknya ke unit pelayanan kesehatan, jika anak tidak
mempunyai keluhan utama, lakukan pemeriksaan fisik untuk mengetahui
penyebab sakitnya.
Riwayat Kesehatan
A. Riwayat Kesehatan Sekarang (Ditulis Secara Narasi )
1. Waktu timbulnyapenyakit, Kapan ? Jam ?
2. Bagaimana awal munculnya ? Tiba-tiba ? Berangsur-angsur ?
3. Keadaan penyakit, apakah sudah membaik, parah atau tetap sama
dengan sebelumnya ?
4. Usaha yang dilakukan untuk mengurangi keluhan ?
5. Kondisi saat dikaji

PQRST

B. Riwayat Kesehatan Lalu


(Khusus untuk anak usia 0-5 tahun)
1. Pre Ntal Care
a. Kapan mulai pemeriksaan kehamilan ?
b. Keluhan ibu saat hamil (perdarahan, PHS, infeksi, ngidam,
muntah-muntah, demam)
c. Pernah dirawat selama hamil ?
d. Apakah pernah :
-

Terkena Sinar X ?

Menerima terapi perlindungan selama kehamilan ?

Melakukan meditasi selama kehamilan ?

e. Bagaimana pola makan ? Kenaikan Berat badan ?


2. Natal
a. Tempat melahirkan ? (RS, Klinik, Rumah)
b. Lama dan jenis persalinan ? Adakah kesulitan ?
c. Penolonh persalinan ?
d. Cara untuk memudahkan persalinan ? (obat, penghilang rasa
nyeri)
e. Pembiusan selama proses melahirkan ?
f. Komplikasi waktu lahir) ?
3. Post Natal
a. Kondisi Bayi (BB, PB, Apgar Score)
b. Keadaan kesehatan anak setelah 28 hari ?
c. Apakah ada oenyakit (kuning, kebiruan, kemerahan, problem
menyusui, BB tidak stabil)
d. Apakah bayi meninggalkan RS dengan ibunya?

(Untuk Semua Usia)


- Penyakit pada masa anaak-anak dan penyakit infeksi yang
pernah dialami
-

Imunisai

Kecelakaan yang pernah dialami termasuk keracunan

Prosedur operasi dan perawatan rumah sakit

Alergi (makanan, obat-obatan, zat/substansi, tekstil)

Pengobatan dini (konsumsi obat-obat bebas)

Perkembangan anaak dibanding dengan saudara-saudaranya

C. Riwayat Alergik
...
D. Riwayat Kesehatan Keluarga
1. Identifikasi
menyerang

berbagai

penyakit

keturunan

yang

umumnya

2. Anggota keluarga yang terkena alergi, asma, TBC, hipertensi,


penyakit jantung, stoke, anemia, hemophilia, arthritis, migraine,
DM, kanker, dan gangguan emosional
3. Genogram
IV.
No
1.
2.
3.
4.
5.
V.

Riwayat Imunisasi
Jenis
Iminisasi
BCG
DPT (I, II, III)
Polio (I, II, III, IV)
Campak
Hepatitis
Lain-lain

Waktu Pemberian

Reaksi
Pemberian

Riwayat Tumbuh Kembang


A. Pertumbuhan Fisik
1. Berat badan (sejak lahir sampai saat ini/per tahapan usia)

Setelah

2. Tinggi badan
3. Waktu tumbuh dan tanggal gigi
B. Perkembangan tiap tahap
Usia anak saat :
1. Berguling
2. Duduk
3. Merangkak
4. Berdiri
5. Berjalan
6. Senyum kepada orang lain pertama kali
7. Bicara pertama kali
8. Bepakain tanpa bantuan
VI.

Riwayat Nutrisi
A. Pemberian ASI
1. Pertama kali disusui
2. Waktu dan cara pemberian
3. Lama pemberian
4. ASI diberikan sampai usia.
B. Pemberian susu formula
1. Alasan pemberian
2. Jumlah pemberian
3. Cara memberikan (dengan dot / sedok)
C. Pemberian Makanan Tambahan
1. Pertama kali diberikan
2. Jenis

D. Pola perubahan nutrisi tiap tahapan usia sampai nutrisi saat ini
Usia

VII.

Jenis Nutrisi

Lama Pemberian

Riwayat Psikososial
A. Identifikasi klien tentang kehidupan sosialnya, apakah tinggal di
apertemen, rumah sendiri, kontrak ? lingkungan berada di kota,
setengah kota, desa ? Apakah dekat dengan sekolah ? Apakah ada
tempat bermain ? punya kamar tidur sendiri ? Apakah dad tangga yang
bisah berbahaya ? Apakah anak punya ruang bermain ?
B. Identifikasi kehidupan perkawinan orang tua anak
C. Hubungan antara anggota keluarga
D. Siapa yang mengasuh anak ? Apakah orang tua menitipkan di tempat
perawatan anak
E. Penerapan
F. Latihan toilet
G. Pola bermain

VIII.

Riwayat Spiritual
A. Kaji ketaatan anak beribadah
B. Support system dalam keluarga
C. Ritual yang biasa dijalankan oleh klien dan keluarga

IX.

Reaksi Hospitalisasi
A. Pemahaman keluarga tentang sakit dan rawat inap
1. Mengapa ibu membawa anaknya ke rumah sakit
2. Apakah dokter menceritakan tentang kondisi anak
3. Bagaimana perasaan orang tua saat ini

4. Siapa yang akan tinggal dengan anak (rawat gabbung)


B. Pemahaman anak tentang sakit dan rawat inap
1. Mengapa keluarga/orang tua membawa kamu ke RS
2. Apakah dokter menceritakan tentang kondisi-Mu
X.

Aktvitas Sehari-hari (Sebelum dan Saat Masuk Rumah Sakit) dibuat dalam
bentuk tabel
A. Nutrisi
1. Selera makan dalam 24 jam
2. Frekuensi makan dalam 24 jam
3. Makanan yang disukai dan makanan pantangan
4. Pembatasan pola makan
5. Cara makan (bersama keluarga, alat makan yang digunakan)
6. Ritual sebelum makan

XI.

Cairan (dibuat dalam bentuk tabel)


1. Jenis minuman yang dikonsumsi dalam 24 jam
2. Frekuensi minum
3. Kebutuhan cairan dalam 24 jam

XII.

Eliminasi (BAK & BAB) dibuat dalam bentuk tabel


1. Tempat pembuangan
2. Frekuensi ? Kapan ? Teratur ?
3. Konsistensi
4. Kesulitan dan cara menanganinya
5. Obat-obatan untuk memperlancar BAB/BAK
B. Istirahat Tidur (dibuat dalam bentuk tabel)
1. Apaka cepat tertidur ?

2. Jam tidur (Siang / malam) ?


3. Bila tidak tidur apa yang dilakukan ?
4. Apakah tidur secara rutin ?
5. Apakah ada kebiasaan sebelum tidur ?
C. Olah raga
1. Program olah raga tertentu ?
2. Berapa lama melakukan dan jenis ?
3. Perasaan anak setelah melakukan olah raga ?
D. Personal Hygine (dibuat dalam tabel)
1. Mandi (frekuensi, cara, alat mandi, kesulitan, mandiri/dibantu) ?
2. Cuci rambut ?
3. Gunting kuku ?
4. Gosok gigi ?
E. Aktivitas/Mobilitas Fisik (dibuat dalam tabel)
1. Kegiatan sehari-hari ?
2. Pengaturan jadwal harian ?
3. Penggunaan alat bantu untuk aktivitas ?
4. Kesulitan pergerakan tubuh ?
F. Rekreasi
1. Bagaimana perasaan anak saat sekolah ?
2. Berapa banyak waktu luang anak diluar sekolah dan les ?
3. Apakah anak puas setelah rekreasi ?
4. Apakah keluarga menghabiskan waktu senggang dengan anak ?
5. Bagaimana perbedaan hari libur dan hari sekolah ?

XIII.

Pemeriksaan Fisik
A. Kedaan Umum Klien
1. Tanda-tanda dari disteres ?
2. Penampilan dihubungkan dengan usia ?
3. Ekspresi bicara, mood ?
4. Berpakain dan kebersihan umum ?
B. Tanda-tanda vital
1. Suhu

2. Nadi

3. Respirasi

4. Tekanan darah

C. Antropometri
1. Tinggi badan

2. Berat badan

3. Lingkar lengan atas

4. Lingkar kepala

5. Lingkar dada

6. Lingkar perut

7. Skin fold

D. Pemeriksaan Head To Toe


a. Kulit
Warna kulit
:.
Turgor kulit
:.
Kelainan pada kuli
:.....

Suhu kulit
:.....
Pembesaran kelenjar getah bening
:.....
b. Kepala
Ukuran (LK)
:.
Bentuk
:..
...
Sutura Fontanel dan Kranial :

c. Mata
Bentuk
:.
Ukuran pupil
:.
Reaksi terhadap cahaya
:.
Fungsi pennglihatan
:.
d. Telinga
Bentuk
:.....
Serumen
:.....
Respon terhadap rangasang auditorius
:....................................................................................
Menggunakan alat bantu pendengaran
:........................................................................................
e. Hidung
Keadaan lubamg hidung
:.........................................................
Fungsi penciuman
:..............................
Pernapasan cuping hidung
:...........................
f. Mulut
Membran mukosa
:................................................................
Gigi
:...................
Faring

:..................
g. Leher
Pembengkakan selaput
:............................
Lipatan kulit tambahan
:.
................................
Distensi vena jugularis
:...................................
h. Paru-paru
Inspeksi
:.
.......
Palpasi
:.
Perkusi
:.....
Auskultasi
:.
i. Jantung
Inspeksi
:.
Palpasi
:.
Perkusi
:.
Auskultasi
:.
j. Abdomen
Inspeksi
:.....
Palpasi
:.....
Perkusi
:.....
Auskultasi
:.....
k. Genetalia
Libia Mayora dan Minora
:.
Uretra dan lubang vagina
:.

Penis
:.....
Maetus urinarius
:.....
Skrotum
:.....
l. Anus dan Rektum
Penampilan umum
:.
Refleks anal
:.
m. Ekstremitas
Rentang gerak
:.
Kesimetrisan
:.
Kekutan otot
:.
Abnormalitas
:.
n. Nuerologi

XIV.

XV.

Refleks-reflek
:.....
Kejang
:.....
Tremor
:.....
Periksaan GCS
:.....
Test Diagnostik

Therapi Saat ini (Tulis dengan rinci)

SATUAN ACARA PENYULUHAN


GASTROENTERITIS AKUT

Materi

:
Gastroenteritis Akut

Pokok Bahasan
Hari/ tanggal
Waktu pertemuan
Tempat
Sasaran

:
:
:
:
:

Mengenal dan Mencegah Gastroenteritis Akut


Rabu 31 Januari 2013
45 menit
Ruang Anak RSUD. Dr. M. Haulussy Ambon
Pada By.D D

I. Latar Belakang
Tingginya kejadian Gastroenteritis dipicu oleh pengelolaan air yang buruk
dan faktor perilaku hidup sehat masyarakat yang rendah. Berdasarkan hasil studi
basic human service pada tahun 2007, hampir semua rumah tangga (99,20%), di
Indonesia memasak air sendiri untuk minum. Namun akibat tidak dikelola dengan
baik, sekitar 47,5% air yang diminum tetap terkontaminasi bakteri E. Coli.
Angka kejadian Gastroenteritis akut, disebagian besar wilayah Indonesia
hingga saat ini masih tinggi. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT)
tahun 2004 angka kematian akibat Gastroenteritis akut 23 per 100.000
penduduk dan pada balita 75 per 100.000 balita. Selama tahun 2006 sebanyak
41 kabupaten di 16 provinsi melaporkan Kejadian Luar Biasa (KLB)
Gastroenteritis di wilayahnya. Jumlah kasus Gastroenteritis akut yang
dilaporkan sebanyak 10.980 dan 277 diantaranya menyebabkan kematian. Hal
tersebut, utamanya disebabkan rendahnya ketersediaan air bersih, sanitasi buruk
dan perilaku hidup tidak sehat.

II.Tujuan
1. Umum

Untuk dapat menerapkan asuhan keperawatan dengan menggunakan


pendekatan proses keperawatan untuk mengatasi masalah pada bayi

dengan penyakit gastroenteristis akut.


2. Khusus Diharapkan penelitian ini akan dapat mengembangkan kemampuan
penulis dalam melaksanakan proses keperawatan yakni :
f. Dapat Melakukan pengkajian pada By.D D yang menderita
Gastroenteritis akut di Ruangan Anak RSUD Dr. M. Haulussy
Ambon.
g. Dapat menentukan masalah dan diagnosa keperawatan pada
By.D D yang menderita Gastroenteritis akut di Ruangan Anak
RSUD Dr. M. Haulussy Ambon.
h. Dapat membuat perencanaan asuhan keperawatan yang menyeluruh
pada By.D.D yang menderita Gastroenteritis akut di Ruangan
Anak RSUD Dr. M. Haulussy Ambon.
i.

Dapat melaksanakan tindakan keperawatan yang menyeluruh pada


By.D D yang menderita Gastroenteritis akut di Ruangan Anak
RSUD Dr. M. Haulussy Ambon berdasarkan rencana yang telah
ditetapkan dan sesuai dengan kebutuhan pasien.

j. Dapat melaksanakan evaluasi keperawatan untuk mengetahui


sejauh mana keberhasilan asuhan keperawatan yang telah
diterapkan pada By.D D yang menderita Gastroenteritis akut di
Ruangan Anak RSUD Dr. M. Haulussy Ambon.

III.

Garis Besar Materi


A.
B.
C.
D.
E.

Pengertian Gastroenteritis Akut


Penyebap Gastroenteritis Akut
Derajat Dehidrasi Gastroenteritis Akut
Patofisiologi Gastroenteritis Akut
Tanda dan gejala Gastroenteritis Akut

G. Cara pencegahan
IV.

Metode
A. Ceramah
B. Tanya jawab
C. Diskusi

V.

MEDIA
Leafleat

VI.

Kegiatan Penyuluhan

N
o
1

Kegiatan Penyuluh
Pendahuluan
Memberi salam
Memberi pertanyaan apersepsi
Mengkomunikasikan
pokok
bahasan
Mengkomunikasikan tujuan
Kegiatan Inti
Memberikan penjelasan tentang
Gastroenteritis Aku
Memberikan kesempatan peserta
untuk bertanya
Menjawab pertanyaan peserta
Penutup
Menyimpulkan materi penyuluhan
bersama peserta
Memberikan evaluasi secara lisan
Memberikan salam penutup

Wakt
u
5
Menit

25
Menit

5
Menit

Kegiatan
Peserta

Menjawab salam
Memberi salam
Menyimak

Menyimak

Menyimak

Bertanya

Memperhatikan

Memperhatikan
menjawab

VII.

Referensi
Abdurrahman, 2002, Ilmu Kesehatan Anak, Buku Kuliah, Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Abdurrahman, 2000, Ilmu Kesehatan Anak, Buku Kuliah, Fakultas
Kedoktaran Universitas Indonesia. Jakarta.
Alimul Aziz, 2006. Perawatan Anak Sakit, Penerbit Buku Kedokteran,
EGC. Jakarta.
Iwansain, 2007. Perawatan Anak Sakit. Penerbit Buku Kedokteran.
EGC Jakrata Indonesia.
Suratmaja, 2006, Buku Pegangan Praktik Klinik, Asuhan Keperawatan
pada Pasien dengan Gastroenteritis. Penebar Swadaya, Jakarta.

Lampiran
Gastroenteritis akut
A. Pengertian
1. Gastroenteritis adalah suatu keadaan dimana terjadinya kehilangan cairan
dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi satu kali atau
lebih buang air dengan bentuk tinja yang encer dan cair
2. Gastroenteritis adalah peradangan akut lapisan lambung dan usus yang di
tandai denagn anoreksia, rasa mual, nyeri abdomen dan diare
3. Gastroenteritis adalah Suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal
atau

tidak seperti biasanya, ditandai dengan peningkatan volume,

keenceran, serta frekuensi lebih dari 3 kali sehari dan pada neonatus lebih
dari 4 kali sehari dengan atau tanpa lendir darah
4. Gastroenteritis adalah Penyakit yang ditandai dengan bertambahnya
frekuensi defikasi lebih dari biasanya (>3 kali/hari) disertai perubahan
konsistensi tinja (menjadi cair) dengan/tanpa darah atau lendir
B. Derajat Dehidrasi
Menilai derajat dehidrasi dengan kehilangan berat badan yaitu :
1. Dehidrasi ringan : Bila terjadi penurunan berat badan 2 - 5% dengan
volume cairan yang kurang dari 50 ml/Kg
2. Dehidrasi sedang : Bila terjadi penurunan berat badan 5 10% dengan
volume cairan yang kurang dari 50 ml/Kg
3. Dehidrasi berat : Bila terjadi penurunan berat badan > 10 %, dengan
volume cairan yang hilang sama dengan atau lebih dari 100 ml/Kg
C. Penyebap
Gastroenteritis bukanlah penyakit yang datang dengan sendirinya.
Biasanya ada yang menjadi pemicu terjadinya gastroenteritis. Secara umum,
berikut ini beberapa penyebab gastroenteritis menurut, yaitu :
f

Infeksi oleh bakteri, virus atau parasit

Alergi terhadap makanan atau obat tertentu

Infeksi oleh bakteri atau virus yang menyertai penyakit lain seperti :
campak, infeksi telinga, infeksi tenggorokan, dan malaria.

Pemanis buatan, makanan yang tidak dicerna dan tidak diserap usus akan
menarik air dari dinding usus. Dilain pihak, pada keadaan ini proses transit
di usus menjadi sangat singkat sehingg air tidak sempat diserap oleh usus
besar. Hal inilah yang menyebabkan tinja berair pada gastroenteritis. Selain
rotavirus, gastroenteritis juga disebabkan akibat kurang gizi, alergi, tidak
tahan terhadap laktosa, dan sebagainya. Bayi dan balita banyak yang
memiliki intoleransi terhadap laktosa dikarenakan tubuh tidak punya atau
hanya sedikit memiliki enzim laktosa yng berfungsi mencerna laktosa yang
terkandung susu sapi.

Faktor Psikologis : Rasa takut dan cemas (jarang tetapi dapat terjadi pada
anak yang lebih cemas).

D. Patofisiologi
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya gastroenteritis menurut
a. Gangguan osmotic
Adanya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan
tekanan osmotik dalam lumen usus meningkat sehingga terjadi pergeseran
air dan elektrolit ke dalam lumen usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan
merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul gastroenteritis.
b. Gangguan sekresi

Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi
peningkatan sekresi, air dan elektrolit ke dalam lumen usus dan selanjutnya
timbul gastroenteritis kerena peningkatan isi lumen usus.
c. Gangguan mortilitas usus
Hiperperistaltik akan menyebabkan berkurangnya kesempatan usus untuk
menyerap makanan sehingga timbul gastroenteritis. Sebaliknya bila
peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan,
selanjutnya dapat timbul gastroenteritis pula.
E. Tanda Dan Gejala
Mula-mula bayi dan anak menjadi cengeng, gelisah, suhu tubuh
biasanya meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada, kemudian timbul
gastroenteritis, tinja cair dan mungkin disertai lendir atau darah. Warna tinja
makin lama berubah menjadi kehijau-hijauan karena bercampur dengan
empedu. Anus dan daerah sekitarnya menjadi lecet karena seringnya defikasi
dan tinja makin lama makin asam sebagai akibat makin banyaknya asam laktat,
yang berasal dari laktosa yang tidak dapat diabsorbsi usus selama
gastroenteritis.

Gejala

muntah

dapat

terjadi

sebelum

atau

sesudah

gastroenteritis dan dapat di sebabkan oleh lambung yang turut meradang atau
akibat gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit, maka gejala dehidrasi
mulai tampak, berat badan menurun, turgor kulit berkurang, mata dan ubunubun besar menjadi cekung, selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak
kering

F. Cara pencegahan
1. Penyediaan air tidak memenuhi syarat:
a. Gunakan air dari sumber terlindung.
b. Pelihara dan tutup sarana agar terhindar dari pencemaran.
2. Pembuangan kotoran tidak saniter.
a. Buang air besar di jamban.
b. Buang tinja bayi di jamban.
c. Apabila belum punya

harus membuatnya baik sendiri maupun

berkelompok dengan tetangga.


3. Perilaku tidak hygienis.
a. Cuci tangan sebelum makan atau menyiapkan makanan.
b. Cuci tangan dengan sabun setelah BAB.
c. Minum air putih yang sudah dimasak.
d. Menutup makanan dengan tudung saji.
e. Cuci alat makan dengan air bersih.

Gastroenteritis Akut

CARA PENCEGAHAN TIMBULNYA

Bagaimana cara
mencegahnya ???

Gastroenteritis akut
A. Pengertian
1. Gastroenteritis adalah suatu keadaan dimana terjadinya
kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi
karena frekuensi satu kali atau lebih buang air dengan bentuk
tinja yang encer dan cair
2. Gastroenteritis adalah peradangan akut lapisan lambung dan
usus yang di tandai denagn anoreksia, rasa mual, nyeri
abdomen dan diare

Oleh :
La Hajirin
P07120110033
Tingkat III A

3. Gastroenteritis adalah Suatu keadaan pengeluaran tinja yang


tidak normal atau tidak seperti biasanya, ditandai dengan
peningkatan volume, keenceran, serta frekuensi lebih dari 3
kali sehari dan pada neonatus lebih dari 4 kali sehari dengan
atau tanpa lendir darah
4. Gastroenteritis adalah Penyakit yang ditandai dengan
bertambahnya frekuensi defikasi lebih dari biasanya (>3
kali/hari) disertai perubahan konsistensi tinja (menjadi cair)
dengan/tanpa darah atau lender

Jurusan Keperawatan
KEMENTRIAN KESEHATAN RI
B. Derajat Dehidrasi
POLITEKNIK KESEHATAN MALUKU
2013
Menilai derajat dehidrasi dengan kehilangan berat badan yaitu :
1.Dehidrasi ringan : Bila terjadi penurunan berat badan 2 - 5%
dengan volume cairan yang kurang dari 50 ml/Kg

C. Penyebap
Gastroenteritis bukanlah penyakit yang datang
dengan sendirinya. Biasanya ada yang menjadi
pemicu terjadinya gastroenteritis. Secara umum,
berikut ini beberapa penyebab gastroenteritis
menurut, yaitu :
1. Infeksi oleh bakteri, virus atau parasit
2. Alergi terhadap makanan atau obat tertentu
3. Infeksi oleh bakteri atau virus yang menyertai
penyakit lain seperti : campak, infeksi telinga,
infeksi tenggorokan, dan malaria.
4. Pemanis buatan, makanan yang tidak dicerna dan
tidak diserap usus akan menarik air dari dinding
usus. Dilain pihak, pada keadaan ini proses transit
di usus menjadi sangat singkat sehingg air tidak
sempat diserap oleh usus besar. Hal inilah yang
menyebabkan tinja berair pada gastroenteritis.
Selain rotavirus, gastroenteritis juga disebabkan
akibat kurang gizi, alergi, tidak tahan terhadap
laktosa, dan sebagainya. Bayi dan balita banyak
yang memiliki intoleransi terhadap laktosa
dikarenakan tubuh tidak punya atau hanya sedikit
memiliki enzim laktosa yng berfungsi mencerna
laktosa yang terkandung susu sapi.
5. Faktor Psikologis : Rasa takut dan cemas (jarang
tetapi dapat terjadi pada anak yang lebih cemas).

THANK YOUUUUUUU

E. Patofisiologi
Mekanisme dasar yang
timbulnya gastroenteritis menurut

D. Tanda Dan Gejala


menyebabkan

1. Gangguan osmotic
Adanya makanan atau zat yang tidak dapat
diserap akan menyebabkan tekanan osmotik
dalam lumen usus meningkat sehingga terjadi
pergeseran air dan elektrolit ke dalam lumen
usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan
merangsang usus untuk mengeluarkannya
sehingga timbul gastroenteritis.
2. Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin)
pada dinding usus akan terjadi peningkatan
sekresi, air dan elektrolit ke dalam lumen usus
dan selanjutnya timbul gastroenteritis kerena
peningkatan isi lumen usus.
3. Gangguan mortilitas usus
Hiperperistaltik
akan
menyebabkan
berkurangnya kesempatan usus untuk
menyerap
makanan
sehingga
timbul
gastroenteritis. Sebaliknya bila peristaltik
usus menurun akan mengakibatkan bakteri
tumbuh berlebihan, selanjutnya dapat timbul

Mula-mula bayi dan anak menjadi cengeng, gelisah,

G. Cara pencegahan :
1. Penyediaan air tidak memenuhi syarat:

suhu tubuh biasanya meningkat, nafsu makan berkurang atau

a. Gunakan air dari sumber terlindung.

tidak ada, kemudian timbul gastroenteritis, tinja cair dan

b. Pelihara dan tutup sarana agar terhindar dari

mungkin disertai lendir atau darah. Warna tinja makin lama

pencemaran.

berubah menjadi kehijau-hijauan karena bercampur dengan

2. Pembuangan kotoran tidak saniter.

empedu. Anus dan daerah sekitarnya menjadi lecet karena

a. Buang air besar di jamban.

seringnya defikasi dan tinja makin lama makin asam sebagai

b. Buang tinja bayi di jamban.

akibat makin banyaknya asam laktat, yang berasal dari laktosa


yang tidak dapat diabsorbsi usus selama gastroenteritis. Gejala
muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah gastroenteritis dan
dapat di sebabkan oleh lambung yang turut meradang atau
akibat gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit, maka
gejala dehidrasi mulai tampak, berat badan menurun, turgor
kulit berkurang, mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung,
selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering

c. Apabila belum punya harus membuatnya baik


sendiri maupun berkelompok dengan tetangga.
3. Perilaku tidak hygienis.
a. Cuci tangan sebelum makan atau menyiapkan
makanan.
b. Cuci tangan dengan sabun setelah BAB.
c. Minum air putih yang sudah dimasak.
d. Menutup makanan dengan tudung saji.
e. Cuci alat makan dengan air bersih.

Anda mungkin juga menyukai