Anda di halaman 1dari 39

GLAUKOMA

A. RIZQI RIDLOIN
14710145

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Glaukoma merupakan penyebab kebutaan yang ketiga
di Indonesia. Terdapat sejumlah 0,40 % penderita
glaucoma di Indonesia yang mengakibatkan kebutaan
pada 0,16 % penduduk. Prevalensi penyakit mata
utama di Indonesia adalah kelainan refraksi 24,72 %,
pterigium 8,79 %, katarak 7,40 %, konjungtivitis 1,74 %,
parut kornea 0,34 %, glaucoma 0,40 %, retinopati 0,17
%, strabismus 0,12 %. Prevalensi dan penyebab buta
kedua mata adalah lensa 1,02 %, glaucoma dan saraf
kedua 0,16 %, kelainan refraksi 0,11 %, retina 0,09 %,
kornea 0,06 %, lain-lain 0,03 %, prevalensi total 1,47 %

Diperkirakan di Amerika serikat ada 2 juta


orang yang menderita glaucoma. Di antara
mereka, hampir setengahnya mengalami
gangguan penglihatan, dan hamper 70.000
benar-benar buta, bertambah sebanyak
5500 orang buta tiap tahun.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Glaukoma berasal dari kata Yunani
glaukos yang berarti hijau kebirauan,
yang memberikan kesan warna tersebut
pada
pupil
penderita
glaukoma.
Kelainan mata glaukoma ditandai
dengan meningkatnya tekanan bola
mata, atrofi saraf optikus, dan
menciutnya lapang pandang.

Fisiologi Humor Aquos


Tekanan
intraokuler
ditentukan
oleh
kecepatan pembentukan humor aquos dan
tahanan terhadap aliran keluarnya dari mata.
Humor aquos merupakan cairan jernih yang
mengisi kamera okuli anterior dan posterior.
Volume humor aquos sekitar 250 L, dan
kecepatan pembentukannya 2,5 L/menit.
Komposisi humor aquos hampir sama dengan
komposisi
plasma,
yaitu
mengandung
askorbat, piruvat, laktat, protein, dan glukosa

Tabel 1. Perbandingan komposisi plasma dan


humor aquos
Komponen
mmol/KgHO

Plasma

Humor Aquos

Na

146

163

Cl

109

134

HCO

28

20

Askorbat

0,04

1,06

Glukosa

Humor aquos merupakan media refrakta


jadi harus jernih. Sistem pengeluaran humor
aquos terbagi menjadi 2 jalur, yaitu sebagian
besar melalui sistem vena dan sebagian
kecil melalui otot ciliaris

Gambar 1. Aliran humor aquos normal

Pada sistem vena, humor aquos


diproduksi oleh prosesus ciliaris masuk
melewati kamera okuli posterior menuju
kamera okuli anterior melalui pupil. Setelah
melewati kamera okuli anterior cairan humor
aquos menuju trabekula meshwork ke
angulus iridokornealis dan menuju kanalis
Schlemm yang akhirnya masuk ke sistem
vena. Aliran humor aquos akan melewati
jaringan trabekulum sekitar 90 %.

Sedangkan sebagian kecil humor


aquos keluar dari mata melalui otot
siliaris menuju ruang suprakoroid untuk
selanjutnya keluar melalui sklera atau
saraf maupun pembuluh darah. Jalur ini
disebut juga jalur uveosklera (10-15%).

Glaukoma adalah suatu penyakit dimana


tekanan di dalam bola mata meningkat,
sehingga terjadi kerusakan pada saraf
optikus dan menyebabkan penurunan fungsi
penglihatan

2.2 Epidemiologi
Di seluruh dunia, glaukoma dianggap
sebagai penyebab kebutaan yang tinggi.
Sekitar 2 % dari penduduk berusia lebih dari
40 tahun menderita glaukoma. Glaukoma
juga didapatkan pada usia 20 tahun,
meskipun jarang. Pria lebih banyak diserang
daripada wanita.

2.3 Etiologi
Glaukoma
terjadi
apabila
terdapat
ketidakseimbangan antara pembentukan dan
pengaliran humor akueus. Pada sebagian
besar kasus, tidak terdapat penyakit mata
lain (glaukoma primer). Sedangkan pada
kasus
lainnya,
peningkatan
tekanan
intraokular, terjadi sebagai manifestasi
penyakit mata lain (glaukoma sekunder).

2.4 Patofisiologi
Aqueus humor secara kontinue diproduksi
oleh badan silier (sel epitel prosesus ciliary
bilik mata belakang untuk memberikan nutrien
pada lensa. Aqueua humor mengalir melalui
jaring-jaring trabekuler, pupil, bilik mata depan,
trabekuler mesh work dan kanal schlem.
Tekana intra okuler (TIO) dipertahankan dalam
batas 10-21 mmhg tergantung keseimbangan
antara produksi dan pegeluaran (aliran) AqH di
bilik mata depan.

Peningaktan TIO akan menekan aliran


darah ke syaraf optik dan retina sehingga
dapat merusak serabut syaraf optik menjadi
iskemik dan mati.
Selanjutnya menyebabkan kesrusakan
jaringan yang dimula dari perifir menuju ke
fovea sentralis. Hal ini menyebabkan
penurunan lapang pandang yang dimulai
dari derah nasal atas dan sisa terakhir pada
temporal

2.5 Klasifikasi Glaukoma


2.5.1. Glaukoma Sudut Terbuka
2.5.1.1. Glaukoma Primer Sudut
Terbuka/Primary Open Angle Glaucoma
(POAG)
2.5.1.2. Glaukoma dengan Tensi Normal
2.5.1.3. Glaukoma Suspek
2.5.1.4. Glaukoma Sekunder Sudut
Terbuka

2.5.2. Glaukoma Sudut Tertutup


2.5.2.1. Glaukoma Primer Sudut Tertutup dengan
Blok Pupil Relatif
2.5.2.2 Glaukoma Sudut Tertutup Akut
2.5.2.3. Glaukoma Sudut Tertutp Subakut
(Intermiten)
2.5.2.4. Glaukoma Sudut Tertutup Kronik
2.5.2.5. Glaukoma Sekunder Sudut Tertutup
dengan Blok Pupil
2.5.2.6. Glaukoma Sudut Tertutup tanpa Blok Pupil
2.5.2.7. Sindrom Plateau

2.5.3. Glaukoma pada Anak


2.5.3.1. Glaukoma Kongenital Primer
2.5.3.2. Glaukoma disertai dengan
Kelainan Kongenital
2.5.3.3. Glaukoma Sekunder pada bayi
dan anak

2.6 Manifestasi Klinis


Umumnya dari riwayat keluarga ditemukan
anggota keluarga dalam garis vertical atau
horizontal memiliki penyakit serupa, penyakit ini
berkembang secara perlahan namun pasti,
penampilan bola mata seperti normal dan
sebagian besar tidak menampakan kelainan
selama stadium dini. Pada stadium lanjut
keluhan klien yang mincul adalah sering
menabrak akibat pandangan yang menjadi jelek
atau lebih kabur, lapangan pandang menjdi
lebih sempit hingga kebutaan secara permanen

Gejala yang lain adalah :


a. Mata merasa dan sakit tanpa kotoran.
b. Kornea suram.
c. Disertai sakit kepala hebat terkadang sampai
muntah.
d. Kemunduran penglihatan yang berkurang cepat.
e. Nyeri di mata dan sekitarnya.
f. Udema kornea.
g. Pupil lebar dan refleks berkurang sampai hilang.
h. Lensa keruh.

Selain
itu
glaucoma
akan
memperlihatkan gejala sebagai berikut :
a. Tekanan bola mata yang tidak normal
b. Rusaknya selaput jala
c. Menciutnya lapang penglihatan akibat
rusaknya selaput jala yang dapat
berakhir dengan kebutaan.

2.7 Faktor Resiko


Beberapa faktor resiko yang dapat
mengarah pada glaukoma adalah :
a. Umur
b. Riwayat anggota keluarga yang terkena
glaukoma
c. Tekanan bola mata
d. Obat-obatan

2.8 Penyebab
a. Bertambahnya produksi cairan mata oleh
badan cilliary.
b. Berkurangnya pengeluaran cairan mata di
daerah sudut bilik mata atau dicelah pupil

2.9 Pemeriksaan Glaukoma


a. Pemeriksaan tekanan bola mata
b. Pemeriksaan kelainan papil saraf optik
c. Pemeriksaan Sudut Bilik Mata
d. Pemeriksaan Lapangan Pandang
e. Tes Provokasi

A. Untuk glaukoma sudut terbuka


- Tes minum air
- Pressure congestion test
Kombinasi tes air minum dengan pressure
congestion test
Tes Steroid

B. Untuk glaukoma sudut tertutup


Tes kamar gelap
Tes membaca
Tes midriasis
Tes bersujud (prone position test)

3.0 Penatalaksanaan
Pengobatan terhadap glaukoma adalah
dengan cara medikamentosa dan operasi.
Obat-obat anti glaukoma meliputi :
Prostaglandin analog-hypotensive lipids
Beta adrenergic antagonist (nonselektif dan
selektif)
Parasimpatomimetik (miotic) agents,
termasuk cholinergic dan anticholinergic
agents.

Carbinic anhydrase inhibitor (oral, topikal)


Adrenergic agonists (non selektif dan selektif
alpha 2 agonist)
Kombinasi obat Hyperosmotics agents.

Tindakan operasi untuk glaukoma:


Untuk glaukoma sudut terbuka
- Laser trabekuloplasti
-Trabekulektomi
- Full-thickness Sclerectomy
- Kombinasi bedah katarak dan filtrasi

Untuk glaukoma sudut tertutup


- Laser iridektomi
- Laser gonioplasti atau iridoplasti perifer

Prosedur lain untuk menurunkan tekanan


intraokuli
- Pemasangan shunt
- Ablasi badan siliar
- Siklodialisis
- Viskokanalostomi

Untuk glaukoma kongenital


- Goniotomi dan trabekulotomi

3.1 Pencegahan Glaukoma


a. Periksa kesehatan mata secara teratur
b. Segera periksakan mata jika pandangan
terasa kabur, remang dan sempit
c. Waspada jika memiliki penyakit hipertensi
atau diabetes
d. Waspada jika di dalam keluarga ada yang
memiliki riwayat penyakit ini
e. Jika divonis menderita penyakit ini, harus
disiplin berobat agar tidak menjadi buta

3.2 Komplikasi
1. Glaukoma kronis
2. Katarak
3. Kerusakan saraf optikus
4. Kebutaan

3.3 Diagnosis Banding


1. Hipertensi okular
2. Glaukoma tekanan normal (tekanan
rendah)

3.4 Prognosis
Apabila terdeteksi dini, sebagian besar
pasien glaukoma dapat ditangani
dengan baik secara medis.

Gambar Mata normal dan glaukoma

Saraf dan retina normal

Saraf penderita glaukoma

TERIMA
KASIH