Anda di halaman 1dari 27

BAB 1

LAPORAN KASUS

I.1 IDENTITAS PASIEN


Nama

Tn. AC

Umur

68 tahun 10 bulan

Jenis Kelamin

Laki-laki

Alamat

Kp. Sumur, klender, duren sawit. Jakarta


Timur

Datang ke Poli

30 November 2015

No RM

2152033

I.2 ANAMNESIS (2 Desember 2015)


AUTOANAMNESIS dan ALLOANAMNESIS (Istri Pasien)
Keluhan Utama
Pasien datang ke poli rujukan dari RS Budi asih dan sudah dilakukan
trakeostomi. Keluhan utama pasien sesak nafas sejak 1 bulan yang lalu.
Keluhan Tambahan
Batuk berdahak dan suara mulai hilang.
Riwayat Penyakit Sekarang
Keluhan pasien muncul sejak 1 tahun yang lalu. Pasien mulai merasakan
suaranya yang menjadi lebih kecil. Selang beberapa bulan setelah suaranya
menjadi kecil, pasien merasa suaranya serak dan pasien berobak ke dokter.
Menurut dokter pada saat itu ada daging tumbuh di pita suara pasien, namun
pasien tidak melanjutkan pengobatannya kembali. 1 bulan sebelum masuk
rumah sakit, pasien mengeluhkan batuk-batuk disertai dahak yang banyak, dan
tiba-tiba pasien merasakan sesak nafas, keluarga langsung membawa pasien ke
RS Budi Asih. RS Budi Asih menyarankan untuk dilakukan trakeostomi
terhadap pasien mengingat masa pada pita suara pasien yang semakin besar.

Pasien menyangkal adanya keluhan di telinga seperti keluar air-air, gangguan


pendengaran dan telinga berdengung. Pasien juga menyangkal adanya keluhan
hidung tersumbat, hidung berair dan adanya darah yang keluar dari hidung.
Keluhan sulit menelan dan nyeri pada saat menelan disangkal pasien. Setiap
hari pasien makan masakan yang di masak oleh istrinya, jarang sekali
memakan makanan kaleng yang mengandung pengawet ataupun MSG.
Riayat Penyakit Dahulu
Dahulu pasien belum pernah menderita penyakit seperti ini. Kondisi
kesehatan pasien sejak dulu baik dan tidak pernah masuk rumah sakit. Namun
pasien mempunyai penyakit hipertensi berdasarkan pemeriksaan tekanan darah,
namun pasien merasa tidak ada keluhan dan merasa baik-baik saja akan
tekanan darahnya yang tinggi. Riwayat kencing manis disangkal pasien.
Riwayat Penyakit Keluarga
Keluarga pasien tidak ada yang menderita penyakit ini seperti pasien, di
keluarga dekat pasien tidak ada yang memiliki riwayat penyakit tumor.
Riwayat Lingkungan dan Sosial
Pasien tinggal di lingkungan padat penduduk. Dahulu pasien bekerja
sebagai buruh meubel, pasien bekerja sebagai buruh meubel sudah lama. Setiap
hari menghirup udara yang terkontaminasi serbuk kayu dan cat meubel. Pasien
merupakan perokok, sehari merokok 1 bungkus sejak kecil.
Riwayat Pengobatan :
Sejak pertama kali berobat 1 tahun yang lalu, pasien hanya di berikan
obat-obat untuk menghilangkan gejalanya saja, sejak dulu dokter sudah
menyarankan pasien untuk berobat lebih lanjut, namun pasien tidak
melakukannya. 1 bulan yang lalu pasien sesak, dan berobat ke RS Budi Asih
dan dilakukan trakeostomi dan di rujuk ke RSUP persahabatan untuk dilakukan
observasi tumor pada pita suaranya.

I.3 PEMERIKSAAN FISIK (2 Desember 2015)


Status Generalis
Keadaan Umum
Kesadaran
BB
TB
BMI

: Sakit Sedang
: ComposMentis
: 55 kg
: 170 cm
: 19 (Underweight)

Tanda vital :
TD : 140 /80 mmHg
RR
: 23 x/menit
HR : 80 x/menit
Suhu : 37 C
Kepala
: Normocephal, tidak ada jejas
Mata
: Konjungtiva : Pucat (-) , Sklera: Ikterik (-), Nystagmus(-)
Wajah
: Simetris
Leher
: Tidak ada pembesaran KGB
Thoraks
: Jantung dan paru dalam batas normal
Abdomen
: Dalam Batas Normal
Ekstremitas
: Akral Hangat, edema (-/-), CRT < 2 detik

STATUS LOKALIS THT


Pemeriksaan Telinga
Pemeriksaan
Daun Telinga

Liang

Kelainan
Bentuk dan ukuran
Hematoma
Edema
Hiperemi
Nyeri tarik
Nyeri Tekan Tragus
Furunkel
Fistula retroaurikula
Sekret
dan Cukup Lapang

Dinding Telinga

Sekret/Serumen

Hiperemis
Edema
Furunkel
Kolesteatoma
Bau
Warna
Jumlah
Jenis

Dekstra
Dbn
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
Lapang
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)

Sinistra
Dbn
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
Lapang
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)

Membran
Timpani

Mastoid

Tes Garpu Tala

Intak
Putih
(+)
(-)
Dextra
(-)
(-)
(-)
(-)
Positif
Sama dengan

Warna
Refleks Cahaya
Bulging, Retraksi
Tanda Radang
Fistel
Sikatrik
Nyeri tekan
Rinne
Schwabach

Intak
Putih
(+)
(-)
Sinistra
(-)
(-)
(-)
(-)
Positif
Sama dengan

pemeriksa
pemeriksa
Tidak ada lateralisasi
Pendengaran normal

Weber
Kesimpulan
Pemeriksaan Hidung

Hidung luar
Vestibulum nasi
Cavum nasi
Septum nasi
Konka nasi inferior
Meatus nasi media

Hidung kanan
Bentuk (dbn), inflamasi (-), nyeri

Hidung kiri
Bentuk (bdn), inflamasi (-), nyeri

tekan (-), deformitas (-)


tekan (-), deformitas (-)
Rinoskopi anterior
dbn, ulkus (-)
dbn, ulkus (-)
Cukup lapang,
Cukup lapang,
mukosa hiperemis (-)
Deviasi (-), benda asing (-),

mukosa hiperemis (-)


Deviasi (-), benda asing(-),

perdarahan (-), ulkus (-)


edema (-), mukosa hiperemi (-),

perdarahan (-), ulkus (-)


edema (-), mukosa hiperemi (-),

livid (-), sekret (-)


Mukosa hiperemis (-),

livid (-),sekret (-)


Mukosa hiperemis (-),

Sekret (-), massa (-)

Secret (-), massa (-)

Pemeriksaan Sinus Paranasal


Palpasi sinus

Dekstra
(-)

Sinistra
(-)

maksila dan frontal

Pemeriksaan Mulut dan Orofaring


Pemeriksaan
Trismus
Bibir
Lidah
Uvula

Kelainan
(-)
Simetris
Merah muda, Coated tongue (-)
Simetris, edema (-)

Arkus Faring
Dinding faring

Simetris
Mukosa hiperemi (-), membran (-), granul (-)

Tonsila palatine

Hiperemis (-), ukuran T1-T1, Kripte melebar (-), detritus (-)

Gigi

Caries dentis (-)

Laringoskopi Indirect
Pemeriksaan
Supraglotis
Aritenoid
Plika
ventrikularis
Plika Vokalis

Kelainan
Bentuk
Warna
Edema, Massa
Pinggir rata/tidak
Warna
Edema, Massa
Gerakan
Massa

Sinus piriformis
Sekret

Dekstra
Sulit dinilai
Kemerahan
Terdapat masa
Tidak rata
Kemerahan
Edema
Simetris

Sinistra
Sulit dinilai
Kemerahan
Terdapat masa
Tidak rata
Kemerahan
Edema
Simetris

Perluasan masa
ke dinding medial
Tidak terdapat

Perluasan masa
ke dinding medial
Tidak terdapat

I.4 RESUME
Anamnesis:
Keluhan muncul sejak 1 tahun yang lalu, pasien mulai merasakan suaranya yang
menjadi lebih kecil. Selang beberapa bulan setelah suaranya menjadi kecil, pasien
merasa suaranya serak dan pasien berobak ke dokter. Menurut dokter pada saat itu
ada daging tumbuh di pita suara pasien, namun pasien tidak melanjutkan
pengobatannya kembali. 1 bulan sebelum masuk rumah sakit, pasien
mengeluhkan batuk-batuk disertai dahak yang banyak, dan tiba-tiba pasien
merasakan sesak nafas, keluarga langsung membawa pasien ke RS Budi Asih. RS
Budi Asih menyarankan untuk dilakukan trakeostomi terhadap pasien mengingat

masa pada pita suara pasien yang semakin besar. Pasien menyangkal adanya
keluhan di telinga seperti keluar air-air, gangguan pendengaran dan telinga
berdengung. Pasien juga menyangkal adanya keluhan hidung tersumbat, hidung
berair dan adanya darah yang keluar dari hidung. Keluhan sulit menelan dan nyeri
pada saat menelan disangkal pasien.
Pemeriksaan Fisik:
Bedasarkan pemeriksaan laringoskopi indirect terdapat masa di supraglotis,
aritenoid edema dan rimaglotis tertutup masa.

I.5 DIAGNOSA KERJA


Tumor Laring
I.6 DIFRENTIAL DIAGNOSA
Hipertensi
I.7 PEMERIKSAAN ANJURAN
1. Rencana : Laringoskopi direct dan biopsi laring
2. Pro staging: CT-Scan dan USG Abdomen
I.8 TERAPI NON-MEDIKAMENTOSA
1
2
3

Makan, minum dan istirahat yang cukup


Menjaga daya tahan tubuh
Diet rendah garam

I.9 TERAPI MEDIKAMENTOSA


1.
2.
3.
4.

Cefazolin Profilaksis
Cefixime 2 x 200 mg
Ambroxol syr 3 x 175 mg
Na diclovenac 2 x 25 mg

5. Rencana operasi tunggu biopsi laring, Ct-Scan dan USG abdomen.

I.10 PEMERIKSAAN LABORATORIUM


Hasil pemeriksan laboratorium :
Nilai normal
HEMATOLOGI :
: 13,37 ribu/mm3

Leukosit

5-10 ribu/mm3

HITUNG JENIS :
Neutrofil

: 66,7%

50-70%

Limfosit

: 20,3%

25-40%

Monosit

: 10,5%

2-8%

Eosinofil

: 2,2%

2-4%

Basofil

: 0.3%

0-1%

Eritrosit

: 5.62 juta/ul

4,5-6,5 juta/ul

Hemoglobin

: 10.7 g/dL

13,0-13,0g/dl

Hematokrit

: 36

MCV

: 63,3 fL

80-100 fL

MCH

: 19,0 pg

26-34 pg

MCHC

: 30,1%

32-36%

RDW-CV

: 15,9%

11,5-14,5%

Trombosit

: 282 ribu/mm3

150-440%

40-52%

HEMOSTASIS
Masa Protrombin/PT : 10,2 menit

9,4-11,3

PT

: 10,1 detik

10-14 detik

INR

: 0.99 detik

0.83-1.16

Control

: 11.6 detik

12-16 detik

APTT OS

: 37.1 detik

28-40 detik

APTT control

: 32.9 detik

26-37 detik

KIMIA KLINIK
GDS

: 106

< 180

SGOT

: 15

0-37 U/L

SGPT

: 10

0-40 U/L
7

Ureum

: 18

20 40

Kreatinin

: 0.6

0.8 1. 5

I.11 HASIL PEMERIKSAAN PENUNJANG


1. Biopsi laring (1 Desember 2015): Karsinoma sel skuamosa berkeratin
bedifrensiasi baik.
2. CT-Scan (3 Desember 2015): Masa laring sisi kiri yang menyempitkan
laring sepanjang +/- 2,2 cm, sugestif maligna.
3. USG abdomen (2 Desember 2015): dalam batas normal.
I.12 DIAGNOSA
Karsinoma sel skumosa laring berkeratin berdifrensiasi baik T3N0M0
I.13 TERAPI
Laringektomi total (11 Desember 2015)
I.14 PROGNOSIS
-

Quo ad Vitam
Quo ad Sanationam
Quo ad Fungsionam

: dubia ad bonam
: dubia ad bonam
: ad malam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 ANATOMI LARING


Menurut Siti, (2004) laring dibentuk oleh sebuah tulang di bagian atas dan
beberapa tulang rawan yang saling berhubungan satu sama lain dan diikat oleh
otot intrinsik dan ekstrinsik serta dilapisi oleh mukosa. Terdapat tulang dan tulang
rawan laring, diantaranya:
1

Os hioid: terletak paling atas, berbentuk huruf U, mudah di raba pada


leher bagian depan. Pada kedua sisi tulang ini terdapat prosesus longus di
bagian belakang dan prosesus brevis bagian depan. Permukaan bagian

atas tulang ini melekat pada otot-otot lidah, mandibula dan tengkorak.
Kartilago tiroid: merupakan tulang rawan laring terbesar, terdiri dari dia

lamina yang bersatu di bagian depan dan mengembang ke arah belakang.


Kartilago krikoid: terletak di belakang kartilago tiroid dan merupakan
tulang rawan paling bawah laring. Di setiap sisi tulang rawan krikoid
melekat ligamentum krikoaritenoid, otot krikoaritenoid lateral dan di
bagian bagian belakang melekat otot krikiaritenoid posterior.

Otot-otot laring terdiri dari 2 golongan otot besar, diantaranya:


1 Otot-otot ekstrinsik: otot elevator (M. Milohioid, M. Geniohioid, M
digrastikus, dan M. Stilohioid), otot depresor (M. Omohioid, M.
2

Sternohioid, dan M. Tirohioid).


Otot-otot intrinsik: otot adduktor dan abduktor (M. Krikoaritenoid, M.
Aritenoid oblique dan transversum), otot yang mengatur ketegangan
ligamentum vokalis (M. Tiroaritenoid, M. Viaklis dan M. Krikotiroid),
otot yang mengatur pintu masuk laring (M. Ariepiglotik, M.
Troepiglotik).

10

11

II.2 TUMOR JINAK LARING


II.2.1 Definisi
Menurut bambang & Hartono, (2007) Tumor laring adalah terdapatnya masa
pada bagian laring yang dapat bermanifestasi sebagai sumbatan jalan nafas atas.
Tumor jinak laring tidak banyak ditemukan, hanya kurang lebih 5 % dari semua
jenis tumor laring. Tumor jinak laring dapat berupa :
1. Papiloma laring (terbanyak frekuensi)
2. Adenoma
3. Kondroma
4. Mioblastoma sel granuler
5. Hemangioma
6. Lipoma
7. Neurofibroma

12

II.2.2 Papiloma Laring


Tumor ini dapat digolongkan dalam 2 jenis :

Papiloma laring juvenil, ditemukan pada anak, biasanya berbentuk


multipel dan mengalami regresi pada waktu dewasa.

Pada orang dewasa biasanya berbentuk tunggal, tidak akan mengalami


resolusi dan merupakan prekanker.
Pada papiloma laring juvenil, tumor ini dapat tumbuh pada pita suara bagian

anterior atau daerah subglotik. Dapat pula tumbuh di plika ventrikularis atau
aritenoid. Secara makroskopik bentuknya seperti buah murbei berwarna putih
kelabu dan kadang-kadang kemerahan. Jaringan tumor ini sangat rapuh dan kalau
dipotong tidak menyebabkan perdarahan. Sifat yang menonjol dari tumor ini
adalah sering tumbuh lagi setelah diangkat, sehingga operasi pengangkatan harus
dilakukan berulang-ulang (Bambang & Hartono, 2007).
II.2.2.1 Gejala dan Diagnosis
Gejala papiloma laring yang utama ialah suara parau. Kadang-kadang
terdapat pula batuk. Apabila papiloma telah menutup rima glotis maka timbul
sesak nafas dengan stridor. Diagnosis dilakukan berdasarkan anamnesis, gejala
klinik, pemeriksaan laring langsung, biopsi serta pemeriksaan patologi-anatomik.

13

II.2.2.2 Pemeriksaan Penunjang


1. Pemeriksaan laring langsung
2. Biopsi
3. Pemeriksaan patologi anatomi.
II.2.2.3 Terapi
1 Ekstirpasi papiloma dengan bedah mikro atau dengan sinar laser. Oleh
karena sering tumbuh lagi, maka tindakan ini diulangi berkali-kali. Kadangkadang dalam seminggu sudah tampak papiloma yang tumbuh lagi. Terapi
terhadap penyebabnya belum memuaskan, karena sampai sekarang etiologinya
belum diketahui dengan pasti.
Untuk terapinya diberikan juga vaksin daari massa tumor, obat anti virus,
hormon, kalsium, atau ID methionin (essential aminoacid). Tidak dianjurkan
memberikan radioterapi oleh karena papiloma dapat berubah menjadi ganas.
Sekarang tersangka penyebabnya ialah virus, tetapi pada pemeriksaan dengan
mikroskop elektron inclusion body tidak ditemukan (Bambang & Hartono, 2007).
II.2.3 Nodul Pita Suara
Penyebab utama dari nodul pita suara ini karenas penggunaan suara yang
berlebihan (vocal abuse), seperti pada guru dan penyanyi profesional. Penggunaan
pita suara yang berlebihan tersebut menyebabkan nodul bilateral terbentuk
diantara bagian anterior dan sepertiga medial pita suara (amplitudo vibrasi
maksimal). Gambaran histologi menunjukan fibrosis dengan penebalan epitel dan
proliferasi jaringan penyambung submukosa (Cindya & Fauziah, 2014).
II.2.3.1 Gejala
Gejala yang muncul berupa suara parau, yang walaupun sudah di terapi
tidak ada perubahan. Pada pemeriksaan laringoskopi tidak langsung, tampak
nodul di pita suara di anterior beras atau lebih kecil lagi berwarna keputihan
(Cindya & Fauziah, 2014).

14

II.2.3.2 Diagnosis
Diagnosis ditegakakn dengan anamnesa, yaitu terdapat perubahan kualitas
suara secara perlahan semakin serak tanpa disertai rasa sakit. Suara serak dapat
terjadi bila pasien menginggikan suaranya. Pasien dengan nodul vokal biasanya
mempunyai kebiasaan berdehem, batuk yang bersifat kronis, serta mempunyai
riwayat penggunaan pita suara berlebihan. Pada pemeriksaan laringoskopi
menggunakan optik dapat ditemukan gambaran penebalan sampai terbentuk
benjolan pada 1/3 anterior pita suara dan biasanya menebal (Cindya & Fauziah,
2014).
II.2.3.3 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan yang diberikan berupa terapi suara (voice therapy) dan
mengistirahatkan suara dengan tidak berbicara (vocal rest). Bila dicurigai ganas,
bisa dilakukan bedah mikro untuk memeriksakan gambaran histopatologinya.
Pengengkatan secara bedah diindikasikan bagi nodul besar atau bila gagal dengan
terapi suara dan medikamentosa (Cindya & Fauziah, 2014).

II.3 TUMOR GANAS LARING


Keganasan di laring bukanlah hal yang jarang ditemukan dan masih
merupakan masalah, karena penanggulangannya mencakup berbagai segi.
Penatalaksanaan keganasan di laring tanpa memperhatikan bidang rehabilitasi
belumlah lengkap. Sebagai gambaran perbandingan, di luar negeri karsinoma
laring menempati tempat pertama dalam urutan keganasan di bidang THT,
sedangkan di RSCM, Jakarta, karsinoma laring menduduki urutan ketiga setelah
karsinoma nasofaring dan tumor ganas hidung dan sinus paranasal. Menurut data
statistik dari WHO (1961) yang meliputi 35 negara, seperti dikutip oleh Batsakis
(1979), rata-rata 1,2 orang per 100.000 orang penduduk meninggal oleh
karsinoma laring (Bambang & Hartono, 2007).

15

II.3.1 Etiologi
Menurut Bambang & Hartono, (2007) Etiologi karsinoma laring belum
diketahui dengan pasti. Dikatakan oleh para ahli bahwa perokok dan peminum
alkohol merupakan kelompok orang-orang dengan resiko tinggi terhadap
karsinoma laring. Penelitian epidemiologik menggambarkan beberapa hal yang
diduga menyebabkan terjadinya karsinoma laring yang kuat ialah rokok, alkohol
dan terpapar oleh sinar radioaktif.
Pengumpulan data yang dilakukan di RSCM menunjukkan bahwa
karsinoma laring jarang ditemukan pada orang yang tidak merokok, sedangkan
resiko untuk mendapatkan karsinoma laring naik, sesuai dengan kenaikan jumlah
rokok yang dihisap.
Yang terpenting pada penanggulangan karsinoma laring adalah diagnosis
dini dan pengobatan /tindakan yang tepat dan kuratif, karena tumornya masih
terisolasi dan dapat diangkat secara radikal. Tujuan utama ialah mengeluarkan
bagian laring yang terkena tumor dengan memperhatikan fungsi respirasi, fonasi
serta fungsi sfingter laring.
II.3.2 Histopatologi
Karsinoma sel skuamosa meliputi 95% sampai 98% dari semua tumor ganas
laring. Karsinoma sel skuamosa dibagi menjadi 3 tingkat difrensiasi:

16

1. Berdifrensiasi baik (grade 1)


2. Berdifrensiasi sedang (grade 2)
3. Berdifrensiasi buruk (grade 3)
Kebanyakan tumor ganas di daerah laring berdifrensiasi baik. Lesi yang
mengenai

hipofaring,

sinus

piriformis

dan

plika

ariepiglotika

kurang

berdifrensiasi baik.
II.3.3 Klasifikasi Letak Tumor
Tumor supraglotik terbatas pada daerah mulai dari tepi atas epiglotis sampai
batas bawah glotis termasuk pita suara palsu dan ventrikel laring.
Tumor glotik mengenaai pita suara asli. Batas inferior glotik adalah 10 mm
di bawah tepi bebas pita suara, 10 mm merupakan batas inferior otot-otot intrinsik
pita suara. Batas superior adalah ventrikel laring. Oleh karena itu tumor glotik
dapat mengenai 1 atau ke dua pita suara, dapat meluas ke sub glotik sejauh 10
mm, dan dapat mengenai komisura anterior atau posterior ataau prossesus vokalis
kartilago aritenoid.
Tumor sub glotik tumbuh lebih dari 10 mm di bawah tepi bebas pita suara
asli sampai batas inferior krikoid. Tumor ganas transglotik adalah tumor yang
menyebrangi ventrikel mengenai pita suara asli dan pita suara palsu, atau meluas
ke subglotik lebih dari 10 mm (Bambang & Hartono, 2007).
II.3.4 Gejala
Bambang & Hartono, (2007) mengatakan terdapat beberapa gejala dari
tumor laring, diantaranya:
1. Serak
Serak adalah gejala utama karsinoma laring, merupakan gejala paling dini
tumor pita suara.

Hal ini disebabkan karena gangguan fungsi fonasi

laring. Kualitas nada sangat dipengaruhi oleh besar celah glotik, besar pita
suara, kecepatan getaran dan ketegangan pita suara. Pada tumor ganas
laring, pita suara gagal befungsi secara baik disebabkan oleh ketidak
teraturan pita suara, oklusi atau penyempitan celah glotik, terserangnya
otot-otot vokalis, sendi dan ligamen rikoaritenoid, dan kadang-kadang

17

menyerang syaraf. Adanya tumor di pita suara akan mengganggu gerak


maupun getaran kedua pita suara tersebut. Serak menyebabkan kualitas
suara menjadi kasar, mengganggu, sumbang dan nadanya lebih rendah dari
biasa. Kadang-kadang bisa afoni karena nyeri, sumbatan jalan nafas atau
paralisis komplit.
Hubungan antara serak dengan tumor laring tergantung letak tumor.
Apabila tumor tumbuh pada pita suara asli, serak merupakan gejala dini
dan mnetap. Apabila tumor tumbuh di daerah ventrikel laring, di bagian
bawah plika ventrikularis atau di batas inferior pita suara serak akan
timbul kemudian. Pada tumor supraglotis dan subglotis, serak dapat
merupakan gjala akhir atau tidak timbul sama sekali. Pada kelompok ini,
gejala pertama tidak khas dan subjektif seperti perasaan tidak nyaman, rasa
ada yang mengganjal di tenggorok. Tumor hipofarig jarang menimbulkan
serak, kecuali tumornya eksentif. Fiksasi dan nyeri menimbulkan suara
bergumun (hot potato voice).
2.

Dispneu dan stridor.


Gejala ini merupakan gejala yang disebabkan oleh sumbatan jalan nafas
dan dapat timbul pada tiap tumor laring. Gejala ini disebabkan oleh
gangguan jalan nafas oleh massaa tumor, penumpukkan kotoran atau
sekret,maupun oleh fiksasi pita suara. Pada tumor supraglotik atau
transglotik terdapat dua gejala tersebut. Sumbatan dapat terjadi secara
perlahan-lahan dapat dikompensasi oleh pasien. Pada umumnya dispneu
dan stridor adalah tanda dan prognosis kurang baik.

1 3.

Nyeri tenggorok.
Keluhan ini dapat bervariasi dari rasa goresan sampai rasa nyeri yang
tajam.

4. Disfagia adalah ciri khas tumor pangkal lidah, supraglotik, hipofaring dan
sinus piriformis. Keluhan ini merupakan keluhan yang paling sering pada
tumor ganas postkrikoid. Rasa nyeri ketika menelan (odinofagi)

18

menandakan adanya tumor ganas lanjut yang mengenai struktur ekstra


laring.
5. Batuk dan hemoptisis.
Batuk jarang ditemukan pada tumor ganas glotik, biasanya timbul dengan
tertekannya hipofaring disertai sekret yang mengalir ke dalam laring.
Hemoptisis sering terjadi pada tumor glotik dan supraglotik.
6. Gejala lain berupa nyeri alih ke telinga ipsilateral, halitosis, batuk
hemoptisis dan penurunan berat badan menandakan perluasan tumor ke
luar jaringan atau metastase lebih jauh.
7. Pembesaran kelenjar getah bening leher dipertimbangkan sebagai
metastasis tumor ganas yang menunjukkan tumor pada stadium lanjut.
8. Nyeri tekan laring adalah gejala lanjut yang disebabkan oleh komplikasi
supurasi tumor yang menyerang kaartilago tiroid dan perikondrium.
II.3.5 Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan klinis.
Pemeriksaan laring dapat dilakukan dengan cara tidak langsung menggunakan
kaca laring atau langsung dengan menggunakan laringoskop. Pemeriksaan
penunjang yang diperlukan selain pemeriksaan laboratorium darah, juga
pemeriksaan radiologik.
Foto thorak diperlukan untuk menilai keadaan paru, ada tidaknya proses
spesifik dan metastasis di paru. CT Scan laring dapat memperlihatkan keadaan
tumor pada tulang rawan tiroid adan daerah pre-epiglotis serta metastasis kelenjar
getah bening leher.
Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan patologik anatomik dari
bahan biopsi laring, dan biopsi jarum halus pada pembesaran kelenjar getah
bening di leher. Hasil patologi anatomik yang terbanyak adalah karsinoma sel
skuamosa (Bambang & Hartono, 2007).

19

II.4 KLASIFIKASI TUMOR GANAS LARING (AJCC DAN UICC 1988)


II.4.1 Tumor Primer (T)
Supra Glotis
Tis Karsinoma insitu
T1

Tumor terdapat pada satu sisi suara/pita suara palsu (gerakan masih
baik).

T2

Tumor sudah menjalar ke 1 dan 2 sisi daaerah supra glotis dan


glotis masih bias bergerak (tidak terfiksir).

T3

Tumor terbatas pada laring dan sudah terfiksir atau meluas ke


daerah krikoid bagian belakang, dinding medial dari sinus
piriformis, dan arah ke rongga pre epiglotis.

T4

Tumor sudah meluas ke luar laring, menginfiltrasi orofaring


jaringan lunak pada leher atau sudah merusak tulang rawan tiroid.

Glotis
Tis Karsinoma insitu.
T1

Tumor mengenai satu atau dua sisi pita suara, tetapi gerakan pita
suara masih baik, atau tumor sudah terdapat pada komisura anterior
atau posterior.

T2

Tumor meluas ke daerah supraglotis atau subglotis, pita suara


masih dapat bergerak atau sudah terfiksir (impaired mobility).

T3

Tumor meliputi laring dan pita suara sudah terfiksir.

T4

Tumor sangat luas dengan kerusakan tulang rawan tiroid atau


sudah keluar dari laring.

Subglotis
Tis karsinoma insitu
T1

Tumor terbatas pada daerah subglotis.

T2

Tumor sudah meluas ke pita, pita suara masih dapat bergerak atau
sudah terfiksir.

T3

Tumor sudah mengenai laring dan pita suara sudah terfiksir.

T4

Tumor yang luas dengan destruksi tulang rawan atau perluasan


keluar laring atau kedua-duanya.

20

II.4.2 Penjalaran ke Kelenjar Limfe (N)


Nx

Kelenjaar limfa tidak teraba

N0

Secara klinis kelenjar tidak teraba

N1

Secara klinis teraba satu kelenjar limfa dengan ukuran diameter 3


cm homolateral.

N2

Teraba kelenjar limfa tunggal, ipsilateral dengan ukuran diameter 3


- 6 cm.

N2a

Satu kelenjar limfa ipsilateral, diameter labih dari3 cm tapi tiak


lebih daari 6 cm.

N2b

Multipel kelenjar limfa ipsilateral, diameter tidak lebih dari 6 cm.

N2c

Metastasis bilateral atau kontralateral, diameter tidak lebih dari 6


cm.

N3

Metastasis kelenjar limfa lebih dari 6 cm.

II.4.3 Metastasis Jauh (M)


Mx

Tidak terdapat/terdeteksi.

M0

Tidak ada metastasis jauh.

21

M1

Terdapat metastasis jauh.

II.4.4 Staging (STADIUM)


ST 1

T1

N0

M0

ST II

T2

N0

M0

ST III

T3

N0

M0, T1/T2/T3 N1 M0

ST IV

T4

N0/N1 M0

T1/T2/T3/T4

N2/N3

T1/T2?T3/T4 N1/N2/N3

M3

II.5 PENANGGULANGAN
Setelah diagnosis dan stadium tumor ditegakkan , maka ditentukan tindakan
yang akan diambil sebagai penanggulangannya. Ada 3 cara penanggulangan yang
lazim dilakukan, yakni pembedahan, radiasi, obat sitostatiska ataupun kombinasi
daripadanya, tergantung pada stadium penyakit dan keadaan umum pasien.
Sebagai patokan dapat dikatakan stadium 1 dikirim untuk mendapatkan
radiasi, stadium 2 dan 3 dikirim untuk dilakukan operasi, stadium 4 dilakukan
operasi dengan rekontruksi, bila masih memungkinkan atau dikirim untuk radiasi.
Jenis pembedahan adalah laringektomi totalis ataupun parsial, tergantung
lokasi dan penjalaran tumor, serta dilakukan juga diseksi leher radikal bila
terdapat penjalaran ke kelenjar limfa leher. Di bagian THT RSCM tersering
dilakukan laringektomi totalis, karena beberapa pertimbangan, sedangkan
laringektomi parsial jarang dilakukan, karena tehnik sulit umtuk menentukan
batas tumor.
Pemakaian sitostatiska belum memuaskan, biasanya jadwal pemberian
sitostatiska tidak sampai selesai karena keadaan umum memburuk, disamping
harga obat yang relatif mahal sehingga tidak terjangkau oleh pasien.
Para ahli berpendapat, bahwa tumor laring ini mempunyai prognosis yang
paling baik diantara tumor-tumor daerah traktus aerodigestivus, bila dikelola
dengan tepat, cepat dan radikal (Bambang & Hartono, 2007).

22

23

II.5.1 Rehabilitasi Suara


Laringotomi

yang

dikerjakan

untuk

mengobati

karsinoma

laring

menyebabkan cacat pada pasien. Dengan dilakukannya pengangkatan laring


beserta pita suara yang ada di dalamnya, maka psien akan menjadi afonia dan
bernafas melalui stoma permanen di leher. Untuk itu diperlukan rehabilitasi
terhadap pasien, baik yang bersifat umum yakni agar pasien dapat memasyarakat
dan mandiri kembali, maupun rehabilitasi khusus yakni rehabilitasi suara (voice
rehabilitation), agar pasien dapat bicara, sehingga dapat berkomunikasi verbal.
Rehabilitasi suara dapat dilakukan dengan pertolongan alat bantu suara, yakni
semacam vibrator yang ditempelkan di daerah submandibula, ataupun dengnan
suara yang dihasilkan dari esofagus (esophageal speech) melalui proses belajar.
Banyak faktor yang mempengaruhi suksesnya proses rehabilitasi suara ini,
tetapi dapat disimpulkan menjadi 2 faktor utama, ialah faktor fisik dan
psikososial. Suatu hal yang sangat membantu adalah pembentukan wadah
perkumpulan guna menghimpun pasien-pasien tuna-laring guna menyokong aspek
psikis dalam lingkup yang luas dari pasien, baik sebelum maupun sesudah operasi
(Bambang & Hartono, 2007).

24

BAB III
PEMBAHASAN

Dari anamnesa, didapatkan pasien Tn. AC datang dengan keluahn utama


sesak nafas sejak 1 bulan yang lalu. Disertai dengan batuk berdahak dan suara
yang serak dan mulai hilang. Keluhan pasien muncul sejak 1 tahun yang lalu.
Pasien mulai merasakan suaranya yang menjadi lebih kecil. Selang beberapa
bulan setelah suaranya menjadi kecil, pasien merasa suaranya serak dan pasien
berobak ke dokter. Menurut dokter pada saat itu ada daging tumbuh di pita suara
pasien, namun pasien tidak melanjutkan pengobatannya kembali. 1 bulan sebelum
masuk rumah sakit, pasien mengeluhkan batuk-batuk disertai dahak yang banyak,
dan tiba-tiba pasien merasakan sesak nafas, keluarga langsung membawa pasien
ke RS Budi Asih. RS Budi Asih menyarankan untuk dilakukan trakeostomi
terhadap pasien mengingat adanya masa pada pita suara pasien yang semakin
besar. Pasien menyangkal adanya keluhan di telinga seperti keluar air-air,
gangguan pendengaran dan telinga berdengung. Pasien juga menyangkal adanya
keluhan hidung tersumbat, hidung berair dan adanya darah yang keluar dari
hidung. Keluhan sulit menelan dan nyeri pada saat menelan disangkal pasien.
Setiap hari pasien makan masakan yang di masak oleh istrinya, jarang sekali
memakan makanan kaleng yang mengandung pengawet ataupun MSG.
Dahulu pasien belum pernah menderita penyakit seperti ini. Kondisi
kesehatan pasien sejak dulu baik dan tidak pernah masuk rumah sakit. Namun
pasien mempunyai penyakit hipertensi berdasarkan pemeriksaan tekanan darah,
namun pasien merasa tidak ada keluhan dan merasa baik-baik saja akan tekanan
darahnya yang tinggi. Riwayat kencing manis disangkal pasien.
Keluarga pasien tidak ada yang menderita penyakit ini seperti pasien, di
keluarga dekat pasien tidak ada yang memiliki riwayat penyakit tumor. Pasien
tinggal di lingkungan padat penduduk. Dahulu pasien bekerja sebagai buruh
meubel, pasien bekerja sebagai buruh meubel sudah lama. Setiap hari menghirup

25

udara yang terkontaminasi serbuk kayu dan cat meubel. Pasien merupakan
perokok, sehari merokok 1 bungkus sejak kecil.
Sejak pertama kali berobat 1 tahun yang lalu, pasien hanya di berikan obatobat untuk menghilangkan gejalanya saja, sejak dulu dokter sudah menyarankan
pasien untuk berobat lebih lanjut, namun pasien tidak melakukannya. 1 bulan
yang lalu pasien sesak, dan berobat ke RS Budi Asih dan dilakukan trakeostomi
dan di rujuk ke RSUP persahabatan untuk dilakukan observasi tumor pada pita
suaranya.
Dari pemeriksaan fisik status lokalis berdasarkan pemeriksaan laringoskopi
indirect terdapat masa di supraglotis, aritenoid edema dan rimaglotis tertutup
masa.
Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik status lokalis ditegakan
diagnosa tumor laring, yang ditunjang dari anamnesa pasien mengeluhkan sejak
setahun yang lalu suaranya mulai kecil dan serak. Kemudian ditunjang dengan
keluhan batuk-batuk berdahak dan sesak nafas secara tiba-tiba. Dari anamnesis
tersebut sudah terfikir bahwa kelainan pada pasien berasal dari laring.
Pemeriksaan fisik mendukung adanya masa di supraglotis, aritenoid edema dan
rimaglotis tertutup masa. Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik tersebut,
untuk menentukan staging tumor dilakukan pemeriksaan biopsi laring, CT-scan
dan USG abdomen. Berdasarkan hasil pemeriksaan penunjang tersebut makan
pasien AC didiagnosa menderita karsininoma sel skuamosa laring T3N0M0.
Dengan diagnosa tersebut dilakukan laringektomi total pada pasien ini.

26

DAFTAR PUSTAKA

Adam, G & Boies, L, dkk, 1997, Buku Ajar Penyakit Telinga Hidung
Tenggorokan, Edisi 6, EGC, Jakarta.
Arifputera, A & Calistania, C, dkk, 2014, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 4,
Media Aesculapius, Jakarta.
Arsyad, E & Iskandar, N, dkk, 2007, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala & Leher, Edisi 6, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.
H. Siti, 2004, Tumor Ganas Laring, Bagian Patologi Anatomi FK USU, Jurnal,
Medan.

27