Anda di halaman 1dari 28

Antalgin

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Belum Diperiksa

Antalgin
Antalgin atau Levorphanol (nama generik) adalah salah satu obat pengurang rasa sakit.[1]
Antalgin juga dikenal sebagai metampiron atau pun dipiron.[2] Antalgin berupa sebuk hablur
berwarna putih atau putih kekuningan.[2] Antalgin termasuk pada derivat metasulfonat dari
amidopirin yang mudah larut dalam air dan cepat diserap kedalam tubuh.[2] Ia bekerja secara
sentral pada otak untuk menghlangkan nyeri, menurunkan demam, dan menyembuhkan
rheumatik.[2] Antalgin memengaruhi hipotalamus dalam menurunkan sensitifitas reseptor rasa
sakit dan termostat yang mengatur suhu tubuh.[2] Obat ini hanya efektif terhadap nyeri dengan
intensitas rendah sampai sedang, misalnya sakit kepala.[2] Obat ini juga efektif terhadap nyeri
yang berkaitan dengan inflamasi.[2] Efek analgetiknya lebih lemah dari efek analgetik opiat.[2]
Obat ini juga tidak menimbulkan ketagihan (adiksi) dan efek samping sentral yang merugikan.[2]
Pada pemakaian yang teratur dalam jangka waktu yang panjang, antalgin dapat menimbulkan
kasus agranulositosis fatal.[2] Untuk mendeteksi hal tersebut, pengujian darah secara teratur
dianjurkan.[2] Jika gejala tersebut timbul, penggunaan obat ini harus segera dihentikan
Antalgin
Tablet
PT Kimia Farma
Obat Analgetik
direkomandasi oleh 48 orang. Beri rekomendasi

Indikasi:
Karena risiko efek sampingnya, penggunaannya sebagai analgesik-antipiretik sangat dibatasi
yaitu: - Nyeri akut hebat sesudah luka atau pembedahan. - Nyeri karena tumor atau kolik. - Nyeri
hebat akut atau kronik bila analgesik lain tidak menolong. - Demam tinggi yang tidak bisa diatasi
antipiretik lain.
Kontra Indikasi:
Alergi dipiron, granulositopenia, porfiria intermiten, defisiensi G6PD, payah jantung, bayi < 3
bulan, hamil trisemester pertama dan 6 minggu terakhir.
Komposisi:
Tiap tablet mengandung Antalgin 500 mg.
Dosis:
Oral
Dewasa: 500 - 1000 mg 3 - 4 kali sehari (maksimum 3 gram sehari).
Anak-anak: 250 - 500 mg 3 - 4 kali sehari (maksimum 1 gram untuk < 6 tahun dan 2 gram untuk
6 - 12 tahun).
Parental
500 - 1000 mg sekali suntik. Jangan lebih dari 1 gram karena dapat menimbulkan syok.
Perhatian:
Pengobatan harus segera dihentikan bila timbul gejala pertama turunnya jumlah sel darah atau
granulositopenia atau sakit tenggorokan atau tanda infeksi lain.
Hati-hati pada penderita yang pernah memiliki penyakit darah.
Jangan digunakan untuk kelainan yang ringan, masih ada obat lain yang lebih aman.
Efek Samping:
Infeksi lambung, hiperhidrosis.
Retensi cairan dan garam.
Reaksi elaergi cukup sering: reaksi kulit dan edema angioneurotik.
Efek samping yang berat: agranulositosis, pansitopenia dan nefrosis.
Interaksi Obat:
Bila digunakan bersama dengan klorpromazine, dapat menimbulkan hipotermia yang berat.
Penggunaan pada ibu hamil dan menyusui:
Jangan diberikan pada wanita hamil karena potensi karsigonik dari metabolit nitrosamin.
Penggunaan pada anak:
Jangan diberikan pada bayi kurang dari 3 bulan (atau BB < 5 kg).

Antalgin
antalgin adalag Sebagai derivat pyrazolon analgetik nonsteroid
antalgin berkhasiat menghilangkan rasa nyeri ringan seperti neuralgia,
dysmenoorhae dan nyeri trauma.
KONTRA INDIKASI
- Tidak untuk gejala flu
- Pada Penderita yang alergi terhadap pyrazolon, granulocytopenia.
- Selama kehamilan terutama pada trimester 1, dan 6 minggu terakhir bayi kurang
dari3 bulan atau bobot kurang dari 5 kg.
- Pada penderita dengan tekanan darah kurang dari 100 mmHg
INTERAKSI OBAT
Akan mempertinggi efek alkoholik, bila digunakan bersamaan.
EFEK SAMPING
Dapat menimbulkan gejala kepekaan yang berlebihan yang nampak dalam bentuk
kelainan-kelainan pada kulit dan mukosa, pengobatan segera dihentikan.
PERHATIAN
- Dapat menimbulkan agranulocytosis, anemia aplastik dan trombocytopenia.
- Hati-hati dengan penderita dengan kelainan darah.
dosis antalgin
Dewasa : 3 x 500mg sehari
Anak 6-12 thn : 3 x 250mg sehari

Obat Analgetik

Antalgin

Indikasi:
Karena risiko efek sampingnya, penggunaannya sebagai analgesik-antipiretik sangat dibatasi
yaitu:
Nyeri akut hebat sesudah luka atau pembedahan.
Nyeri karena tumor atau kolik.
Nyeri hebat akut atau kronik bila analgesik lain tidak menolong.
Demam tinggi yang tidak bisa diatasi antipiretik lain.
Kontra Indikasi:
Alergi dipiron, granulositopenia, porfiria intermiten, defisiensi G6PD, payah jantung, bayi < 3
bulan, hamil trisemester pertama dan 6 minggu terakhir.
Komposisi:
Tiap tablet mengandung Antalgin 500 mg.
Dosis:
Oral
Dewasa: 500 1000 mg 3 4 kali sehari (maksimum 3 gram sehari).
Anak-anak: 250 500 mg 3 4 kali sehari (maksimum 1 gram untuk < 6 tahun dan 2 gram
untuk 6 12 tahun).
Parental
500 1000 mg sekali suntik. Jangan lebih dari 1 gram karena dapat menimbulkan syok.
Perhatian:
Pengobatan harus segera dihentikan bila timbul gejala pertama turunnya jumlah sel darah atau
granulositopenia atau sakit tenggorokan atau tanda infeksi lain.
Hati-hati pada penderita yang pernah memiliki penyakit darah.
Jangan digunakan untuk kelainan yang ringan, masih ada obat lain yang lebih aman.
Efek Samping:
Infeksi lambung, hiperhidrosis.
Retensi cairan dan garam.
Reaksi elaergi cukup sering: reaksi kulit dan edema angioneurotik.
Efek samping yang berat: agranulositosis, pansitopenia dan nefrosis.
Interaksi Obat:
Bila digunakan bersama dengan klorpromazine, dapat menimbulkan hipotermia yang berat.
Penggunaan pada ibu hamil dan menyusui:
Jangan diberikan pada wanita hamil karena potensi karsigonik dari metabolit nitrosamin.

Penggunaan pada anak:


Jangan diberikan pada bayi kurang dari 3 bulan (atau BB < 5 kg).
Jenis: Tablet
Produsen: PT Kimia Farma

Tinjauan Umum Antalgin ( Dirjen POM, 1995 )


A. Farmakodinamika Antalgin
Sebagai analgetika, obat ini hanya efektif terhadap nyeri dengan intensitas rendah
sampai sedang, misalnya sakit kepala dan juga efektif terhadap nyeri yang berkaitan
dengan inflamasi. Efek analgetiknya jauh lebih lemah dari efek analgetik opiat, obat ini
tidak menimbulkan ketagihan (adiksi) dan efek samping sentral yang merugikan
(Setiabudy, 2007).

B. Farmakologi Antalgin
Antalgin termasuk derivat metan sulfonat dari amidopyrin yang mudah larut dalam
air dan cepat diserap ke dalam tubuh. Bekerja secara sentral di otak dalam
menghilangkan nyeri, menurunkan demam dan menyembuhkan rheumatik. Antalgin
mempengaruhi hipotalamus dalam menurunkan sensitifitas reseptor rasa sakit dan
thermostat yang mengatur suhu tubuh (Lukmanto, 1986).
C. Efek Samping Antalgin
Pada pemakaian yang teratur dan untuk jangka waktu yang lama, penggunaan obatobat yang mengandung metampiron kadang-kadang dapat menimbulkan kasus
agranulositosis fatal. Untuk mendeteksi hal tersebut, selama penggunaan obat ini perlu

dilakukan uji darah secara teratur. Jika gejala tersebut timbul, penggunaan obat ini
harus segera dihentikan (Lukmanto, 1986).
II.3

Metode Penetapan Kadar Antalgin

A. Iodimetri
Penetapan kadar antalgin dilakukan secara iodimetri. Metode ini cukup akurat karena
titik akhirnya cukup jelas sehingga memungkinkan titrasi dengan larutan titer yang
encer. Iodimetri dilakukan terhadap zat yang potensial reduksi lebih tinggi dari sistem
larutan iodin. Iodin merupakan oksidator yang lemah dengan nilai potensial oksidasi
sebesar +0,535 V. Pada saat reaksi oksidasi, iodin akan direduksi menjadi iodida
(Rohman, 2007).
B. Prinsip Iodimetri
Titrasi Iodimetri adalah titrasi berdasarkan reaksi oksidasi antara iodin sebagai pentiter
dengan reduktor yang memiliki potensial oksidasi lebih rendah dari sistem iodin-iodida
dimana sebagai indikator larutan kanji. Titrasi dilakukan dalam suasana netral sedikit
asam (pH 5-8). Pada antalgin (metampiron), gugus SO3Na dioksidasi oleh I2 menjadi
SO4Na (Satiadarma, 2004).
C. Indikator
Biasanya indikator yang digunakan adalah kanji/ amilum. Sensitivitas warnanya
tergantung pada pelarut yang digunakan. Kompleks iodin amilum mempunyai
kelarutan yang kecil dalam air sehingga biasanya ditambahkan pada titik akhir reaksi
(Khopkar, 2007). Larutan kanji dengan iod memberi suatu kompleks yang tak dapat
larut dalam air, sehingga kanji tak boleh ditambahkan terlalu dini dalam titrasi. Karena
itu, dalam titrasi iod, larutan kanji hendaknya tak ditambahkan sampai tepat sebelum
titik akhir ketika warna mulai memudar (Basset, 1994).
D. Larutan Pentiter
Pada titrasi iodimetri digunakan larutan iodin sebagai larutan titer. Iodin adalah
oksidator lemah sedangkan iodida merupakan reduktor lemah. Iodin hanya larut sedikit
dalam air, namun larut dalam larutan yang mengandug ion iodida. Larutan iodin standar
dapat dibuat dengan melarutkan iodin dengan larutan KI pekat. Karena iodin mudah
menguap, maka larutan ini harus dibakukan dengan Natrium tiosulfat segera akan

digunakan (Day, 2002). Kelemahan pelarut beriodida adalah ion ini dapat teroksidasi
oleh O2 dari udara yang dipercepat reaksinya dalam suasana asam atau oleh adanya
cahaya, tetapi bersifat lambat dalam suasana netral. Selain itu, senyawa iodida
(biasanya KI) yang digunakan dipersyaratkan agar bebas iodat (karena iodat bereaksi
dengan I- dalam suasana asam dengan membentuk I2). Persyaratan harus dipenuhi
bila larutan I2 dalam KI akan digunakan sebagai larutan baku (Mulyono, 2006).

BAB III
METODOLOGI
III.1 Sampel yang diperiksa
Obat Generik tablet Antalgin 500mg yang disiapkan dari laboratorium Analisa Obat dan
Makanan.
III.2 Alat dan Bahan
A. Alat
Alat-alat yang digunakan dalam pemeriksaan adalah sebagai berikut :
1. Beaker Glass
2. Erlenmayer
3. Biuret
4. Klem dan statis
5. Pipet Volume
6. Pipet Ukur
7. Gelas Ukur
8. Corong Glass
9. Pipet tetes
10. Tissue
11. Timbangan Analitik
B. Bahan

Bahan-bahan yang digunakan adalah :


1. Larutan Baku Primer
2. Larutan Baku Sekunder
3. Larutan Indikator Amylum 1%
4. Sampel
5. Aquadet

III.3

Pembuatan Reagen

a. KIO3 0,1 N 500 ml


Gram

=
=
=

0,8916 gram.

Cara Kerja : 1. Ditimbang KIO3 kemudian dimasukkan ke dalam beakerglass.


2. Ditambahkan aquadest 250 ml aduk sampai larut.
3. Dimasukkan ke dalam labu ukur 500 ml dan ditambahkan aquadest sampai tanda batas
labu ukur.
b.

Na2S2O3 0,1N 500 ml


Gram

=
=
= 12,409 gram.

Cara Kerja : 1. Ditimbang I2 kemudian dimasukkan ke dalam beakerglass.


2. Ditambahkan aquadest 250 ml aduk sampai larut.
3. Dimasukkan ke dalam labu ukur 500 ml dan ditambahkan aquadest sampai tanda batas
labu ukur.

III.4

PROSEDUR KERJA

A.

Standarisasi Na2S2O3 dengan KIO3


1. Dipipet 10 ml KIO3 dimasukkan ke dalam labu erlenmayer 250 ml.
2. Ditambah 10 ml H2SO4 dan 10 ml KI
3. Dititrasi dengan Na2S2O3 sampai warna kuning muda tepat hilang.

B. Standarisasi I2 dengan Na2S2O3


1. Dipipet 10 ml Na2S2O3 dimasukkan ke dalam labu erlenmayer 250 ml
2. Dititrasi dengan I2 sampai warna kuning kecoklatan.
C. Penetapan Kadar Antalgin
1. Ditimbang setara serbuk tablet sebanyak 300 mg, dimasukkan ke dalam erlenmayer
250 ml.
2. Ditambahkan air bebas CO2 dan 7,5 ml HCl.
3. Dititrasi dengan I2 sampai warna kuning keclokatan.

BAB IV
DATA HASIL PENELITIAN
IV.1

PENIMBANGAN SAMPEL
1. Kertas + sampel

Kertas + Sisa
Sampel
2. Kertas + Sampel

3. Kertas + Sampel

0,2908 gram

0,5688 gram
=

IV.2

Data Titrasi

0,2771 gram

0,2977 gram

0,5919 gram

Kertas + Sisa
Sampel

0,2894 gram

Kertas + Sisa
Sampel

0,5798 gram

=
=

0,2735 gram-

0,3184 gram

A. Standarisasi Na2S2O3 dengan KIO3


Vol KIO3
10 ml
10 ml
10 ml

N
0,1
0,1
0,1

Vol Na2S2O3
10,7 ml
10,4 ml
10,5 ml

Rata-Rata
=

10,54 ml

N1 Na2S2O3 = 0,0955N
B. Standarisasi I2 dengan Na2S2O3
Vol Na2S2O3
10 ml
10 ml
10 ml

Normalitas
0,0955 N
0,0955 N
0,0955 N

Vol I2
10,4 ml
10,3 ml
10,4 ml

Rata-Rata
=

10,37 ml

N1 I2 = 0,0920N

C. Penetapan Kadar Antalgin


Bobot Sampel
290,8 mg
297,7 mg
318,4 mg
PK Antalgin no. 1 =

Volume I2
13,8 ml
14,3 ml
26,6 ml

Normalitas

=
= 475,49 mg
PK Antalgin no.2

=
= 481,30 mg
PK Antalgin no.3

=
= 837,08 mg
D. Penolakan Data
X
475,49 mg
481,30 mg
837,08 mg
Data yang dicurigai = 837,08 mg

X
475,49 mg
481,30 mg

D
112,46
116,65
239,13

597,95 mg

D
2,905
2,905

478,395 mg
Selisih antara data yang dicurigai
= 837,08mg - 478,395 mg

d
2,905
2,905

= 358,685 mg
2,5 x d

= 2,5 x 2,905
= 7,2625

Karena 358,685 > 7,2625 maka data 837,08 ditolak.


Jadi kandungan antalgin dalam tablet adalah 478,395 mg/tab.
% Kadar Tab 1

=
= 95,09%.

% Kadar Tab 2

=
= 96,26%.

% Kadar Tab 3

=
= 67,41%.

Kesimpulan : jadi dari percobaan di atas tablet nomor 3 tidak memenuhi persyaratan
FI IV.

IV.3

DATA KESERAGAMAN BOBOT

X ( mg )
609,6
629,5
613,9
612,9
623,1
619
628,3
618
621,5
621,6
X = 619,87

X X2
105,4729
92,73
35,64
48,58
10.43
0,0009
71,06
1,87
2,65
2,99
371,42

X - X
10,27
9,63
5,97
6,97
3,23
0,03
8,43
1,37
1,63
1,73

Kadar mg/tab
470,46
485,82
473,78
473,01
480,88
478,41
484,90
477,26
479,65
479,73

% Etiket
94%
97,16%
94,756%
94,602%
96,176%
95,682%
96,98%
95,45%
95,93%
95,94%

SB
=
SBR

5,25
=
=
= 0,85%

Syarat yang ditetapkan : Bila SBR 6,0 % maka tablet antalgin memenuhi syarat FI IV.
BAB V
PEMBAHASAN
Farmakodinamika Antalgin
Sebagai analgetika, obat ini hanya efektif terhadap nyeri dengan intensitas rendah
sampai sedang, misalnya sakit kepala dan juga efektif terhadap nyeri yang berkaitan
dengan inflamasi. Efek analgetiknya jauh lebih lemah dari efek analgetik opiat, obat ini

tidak menimbulkan ketagihan (adiksi) dan efek samping sentral yang merugikan
(Setiabudy, 2007).
Metode Penetapan Kadar Antalgin
A. Iodimetri
Penetapan kadar antalgin dilakukan secara iodimetri. Metode ini cukup akurat karena
titik akhirnya cukup jelas sehingga memungkinkan titrasi dengan larutan titer yang
encer. Iodimetri dilakukan terhadap zat yang potensial reduksi lebih tinggi dari sistem
larutan iodin. Iodin merupakan oksidator yang lemah dengan nilai potensial oksidasi
sebesar +0,535 V. Pada saat reaksi oksidasi, iodin akan direduksi menjadi iodida
(Rohman, 2007).
B. Prinsip Iodimetri
Titrasi Iodimetri adalah titrasi berdasarkan reaksi oksidasi antara iodin sebagai pentiter
dengan reduktor yang memiliki potensial oksidasi lebih rendah dari sistem iodin-iodida
dimana sebagai indikator larutan kanji. Titrasi dilakukan dalam suasana netral sedikit
asam (pH 5-8). Pada antalgin (metampiron), gugus SO3Na dioksidasi oleh I2 menjadi
SO4Na (Satiadarma, 2004).
C. Indikator
Biasanya indikator yang digunakan adalah kanji/ amilum. Sensitivitas warnanya
tergantung pada pelarut yang digunakan. Kompleks iodin amilum mempunyai
kelarutan yang kecil dalam air sehingga biasanya ditambahkan pada titik akhir reaksi
(Khopkar, 2007). Larutan kanji dengan iod memberi suatu kompleks yang tak dapat
larut dalam air, sehingga kanji tak boleh ditambahkan terlalu dini dalam titrasi. Karena
itu, dalam titrasi iod, larutan kanji hendaknya tak ditambahkan sampai tepat sebelum
titik akhir ketika warna mulai memudar (Basset, 1994).
Pada penelitian ini uji kadar antalgin dilakukan dengan menggunakan metode titrasi
iodimetri, metode ini merupakan metode yang cukup akurat karena titik akhirnya jelas.
Hasil yang diperoleh dari penetapan kadar adalah sebagai berikut :
1. PK. No 1 = 475,49 mg/tab (95,09% b/b).
2. PK. No.2 = 481,30 mg/tab (96,26% b/b).
3. PK. No.3 = 837,08 mg/tab (67,41% b/b)

Dari ketiga kadar diatas terdapat satu data yang dicurigai yaitu PK. No 3 yaitu
sebesar 837,08mg/tab. Hal ini disebabkan karena pada saat titrasi ataupun
penimbangan sampel yang kurang teliti, sehingga selisihnya besar.
Sedangkan pada uji keseragaman bobot tablet, nilai SBR yang diperoleh adalah
sebesar 0,85%. Uji ini dilakukan dengan cara menimbang tablet antalgin satu persatu
sebanyak 10 tablet yang kemudian dihitung selisih antar tablet.

BAB VI
KESIMPULAN dan PENUTUP
Jadi dari hasil penelitian ini diperoleh hasil penetapan kadar tablet antalgin sebesar
478,39 mg/tab dengan % kadar 95,67% b/b hasil ini memenuhi persyaratan FI IV yaitu
sebesar 95,0 % - 105,0%. Dan nilai keseragaman bobot dengan nilai SBR sebesar
0,85% dengan persyaratan FI IV tidak lebih dari 6,0%. Sehingga tablet antalgin yang di
uji memenuhi persyaratan kadar dan keseragaman bobot.

DATA PREFORMULASI
1. ZAT AKTIF
Antalgin (FI IV hal,538)

an

: Serbuk Hablur, putih/ putih kekuningan.

tan

: Larut dalam air, mudah larut dalam etanol.

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup rapat.

2. ZAT PENGIKAT
a. amilum

an

: Serbuk sangat halus, putih tidak berbau tidak berasa.

tan

: Praktis tidak larut dalam air dingin dan etanol

tan

an

an

an

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik dan kering.

b. Aqua
Pemerian

: cairan jernih tidak berbau

: keasaman-basaan pada 10 ml tambahkan 2 tetes metal P:


Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik

3. ZAT PENGHANCUR DALAM


a. Corn Starch
pemerian

: Serbuk sangat halus dan putih

: Praktis tidak larut dalam air dengan dan dalam etanol.


penyimpanan
4. ZAT PENGISI
a. laktosa
pemerian

:Dalam wadah tertutup rapat dan tidak tembus cahaya.


(F 1V Hal 489)
: Serbuk atau masa hablur ,keras , putih atau putih krem tidak

berbau dan rasa sedikit manis satbil ,tetapi mudah menyerap bau.
:Mudah (dan pelan-pelan) larut dalam air dan lebih mudah larut dalam air mendidih sangat sukar
larut dalam etanol: tidak larut dalam kloroform dan dalam eter.
Penyimpanan

:Dalam wadah tertutup baik.

5. PENGHANCUR LUAR
a. Avicel PH 102
: Bagian selulosa yang terdepolimerasi berbentuk putih, bersih, serbuk kristal, tidak berwarna
tidak berasa.

tan

merian

merian

: Sukar larut di 5% w/v larutan sodium hidroksida, praktis tidak larut dalam air, larutan asam dan
banyak pelarut organik.
Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup rapat, tidak tembus cahaya.

6. GLIDAN/ANTIADHERENT
a. Talk (F1 1V Hal 771)
: Serbuk hablur sangat halus putih/ putih kelabu berkilat mudah melekat pada kulit dan bebas
dari butiran.
Kelarutan
: Tidak larut dalam air dalam etanol dan dalam eter.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
b. Mg. Stearat (F1 1V Hal 515)
: Serbuk hablur putih dan voluminis ,bau lemah khas mudah melekat di kulit bebas dari butiran.
Kelarutan

: Tidak larut dalam air, dalam etanol dan dalam eter.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.


7. PEMANIS
a. Sodium saccharin
Pemerian
`
: serbuk hablur putih tidak berbau atau berbau aromatic lemah.
Larutan encer sangat manis. Larutan bereaksi asam terhadap lakmus.
Kelarutan
: Agak sukar larut dalam air, dalam kloroform dan dalam eter;
larut dalam air mendidih; sukar larut dalam etanol mudah larut dalam ammonia encer.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.

IV.
JENIS ZAT
ZatAktif
Pengikat

FORMULA SEDIAAN
NAMA ZAT
Antalgin
Amilum
Aqua

FORMULA
80 mg
10 %
95

Jumlah per tablet


84 mg
30 mg
95

Penimb

(Jumlah
84
30
95

Penghancur dalam
Pengisi
Penghancur luar
Glidan / anti adheren

Corn Starch
Laktosa
Avicel PH 102
Talk
Mg. Stearate
Sodium sacchrin
Sodium cyclamat
Orange
jumlah

Pemanis
Pewarna

V.

6%
*
10%
1%

18 mg
31,15 mg
30mg
3 mg

18
31,1
30
3

0.80 %
0,80 %
1%
0,35%

2,4 mg
2,4 mg
3mg
1,05 mg
300 mg

2,4
2,4
3g
1,0
300

PROSEDUR PEMBUATAN

1. Pembuatan larutan pengikat : Tuangkan air kedalam wadah gelas sambil


diaduk suspensikan kedalamnya bahan pengikat. Tambahkan air mendidih (95oC) teruskan
pengadukan hingga diperoleh ciran yang jernih.
2. Granulasi : Ayak zat aktif, bahan penghancur dan pengisi sebelum dicampur
mengunakan ayakan mesh 30. Tuangkan zat aktif bahan pengisi dang penghancur dalam kedalam
wadah baskom. Aduk homogeny selama 5 menit. Tambahkan larutan pengikat (suhu 60 oC). aduk
hingga menjadi masa yang kompak. Bila perlu dapat ditambahkan air hangat. Masukan pemanis
(gula) 0,5 gram kedalam beker glas dan tambahkan air 5 ml aduk hingga larut. Dan campurkan
hingga homogeny. Setelah homogeny masukan pewarna dan essence orange tiga tetes saja. Lalu
aduk hingga merata dan berubah warna.
3. Granulasi massa basah ini dengan ayakan mesh 8 atau mesh 12 hingga terbentuk granul yang
baik. Keringkan granulat didalam oven yang telah dilatasi kain betis selama 10 menit.
4. Pen campuran akhir : Ayak granulat yang telah kering dan ayakan mesh 12/
mesh16. Masukan granul ke dalam kantong plastic. Tambahkan kedalamnya bahan penghancur,
glidan dan anti adheren yang telah diayak dengan mesh 30. Kocok kantung plastic selam 5
menit.

VI.

TABULASI DATA DAN EVALUASI GRANUL DAN SEDIAAN


UNTUK TIAP PERCOBAAN

A. EVALUASI GRANUL
Uji Aliran Granul
Waktu seluruh massa (20gram dan 30gram) melewati corong dilakukan 2x (duplo)
Percobaan
I (20g)
II (20g)

Hasil (waktu/ detik)


11,73
13,27

Perhitungan:
=

= 12,5 detik

Tidak memenuhi syarat karna percobaan melebihi dari 10 detik

Uji pemampatan granul


Tinggi awal massa dalam gelas ukur dan tinggi akhir massa dalam gelas ukur.
Percobaan
I
II

Tinggi awal
11 cm
11cm

Perhitungan :
Percobaan I

=
=

Percobaan II :

x 100% = 81,81 %

x 100%

Tinggi akhir
9 cm
9,5 cm

x 100% = 86,36 %

=
=

= 84,085 %

Hasil Akhir Granul (Yield)


Berat akhir granul berbanding berat teoritis granul, syarat : 90 % - 110 %
Berat teoritis granul = 300 g
Berat akhir granul
Perhitungan

x 100%
=

x 100%

= 77,64333 %

VII.

DATA REFERENCE ( Farmakope Indonesia ed III dan IV )

VIII. PEMBAHASAN DAN DISKUSI HASIL PERCOBAAN


A. Pembahasan
Berdasarkan percobaan yang akan kami bahas dalam laporan ini adalah pertama-tama
dihitung formula dari jenis zat, setelah dihitung di masukkan ke dalam tabel yang nantinya akan
digunakan dalam penimbangan.
Setelah semua bahan selesai ditimbang lalu diayak dengan menggunakan mesh 30 , setelah
diayak campurkan semua bahan dalam baskom. Dalam pencampuran dibagi menjadi 2 yaitu:

pencampuran fasa dalam : yang dicampur adalah zat aktif, bahan pengikat, penghancur dan

pengisi. Aduk homogen selama 5 menit.


Pencampuran akhir : yaitu semua bahan dimasukkan ke dalam kantong plastik ukuran 1kg.
Lalu di kocok sampai 10 menit hingga homogen.
Percobaan dalam pembuatan tablet dengan menggunakan metode granulasi chewebel ini
melewati 2 tahap pengujian dalam melakukan evaluasi granul yang nantinya untuk mengetahui
hasil akhir granul apakah sesuai dengan syarat yang telah ditentukan apakah tidak. Pengujian ini
adalah

Uji aliran granul, adalah waktu seluruh massa yang melewati corong, syaratnya kurang dari 10

detik.
Uji pemampatan granul, tinggi awal massa dalam gelas ukur dan tinggi akhir massa dalam gelas
ukur, syaratnya lebih dari 80%.
Untuk mengetahui hasil akhir granul, harus dihitung berat akhir granul berbanding berat teoritis
granul, syaratnya 90%-110%.
Hasil dari evaluasi granul pada percobaan granulasi chewebel yang telah kami lakukan
adalah sebagai berikut:

Uji Aliran Granul


: Selama 12,5detik (Tidak memenuhi syarat)
Uji pemampatan granul
: 84.085 % (Tidak Memenuhi syarat)
dan Hasil akhir granul (yield)
: 77,64333 % (Tidak Memenuhi syarat)

Dikarenakan alat pencetakan tablet tidak memadai jadi kami hanya melakukan percobaan hingga
pencampuran akhir saja tidak sampai pencetakan tablet jadi kami tidak tau apakah formula dari
kelompok kami bagus atau tidak, tapi dari hasil evaluasi nya yaitu cukup
baik.KESIMPULAN
Berdasarkan hasil percobaan yang kami lakukan dapat disimpulkan bahwa pada granulasi cwebel
ini bahan-bahan yang sudah dicampur dilakukan dua pengujian yaitu:
1. Uji aliran granul, syarat 10 detik.
2. Uji pemampatan granul, syarat 80%.
Setelah dilakukan pengujian dihitung hasil akhir granul, dengan syarat 90%-110%. Hasil akhir
granul pada kelompok kami adalah Tidak memenuhi syarat yaitu sebesar 77,64333%.

SARAN
1. Untuk proses dalam pembuatan tablet membutuhkan sarana dan prasarana yang memadai agar
2.

praktikan dapat melakukan praktikum dengan baik.


Pembuatan tablet membutuhkan konsentrasi dan ketelitian sangat tinggi, jadi kepada para
praktikan harap untuk melakukan percobaan dengan sangat teliti dalam menghitung evaluasi
agar dapat mengetahui apakah formula yang dicoba itu sesuai apa tidak dengan syarat yang telah
ditentukan.

Uraian Umum Antalgin


Nama kimia : Natrium 2,3-dimetil-1-fenil-5-pirazolon-4metilaminometanasulfonat
Sinonim :
- Metampiron
- Dipiron
Rumus molekul : C13H16N3NaO4S.H2O
Berat molekul : 351,37
Pemerian : Serbuk hablur putih atau putih kekuningan
Susut pengeringan : Tidak lebih dari 5,5 % pada suhu 1050C hingga bobot tetap
Kelarutan : Larut dalam air dan HCl 0,02 N
Antalgin mengandung tidak kurang dari 99,0 % dan tidak lebih dari 101,0 %
C13H16N3NaO4S, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.
Syarat tablet Antalgin mengandung Antalgin, C13H16N3NaO4S.H2O, tidak kurang
dari 95,0 % dan tidak lebih dari 105,0 % dari jumlah yang tertera pada etiket (Ditjen
POM, 1995).

Analgetik-antipiretik
Analgetika atau obat penghalang nyeri adalah zat-zat yang mengurangi rasa nyeri
tanpa menghilangkan kesadaran. Nyeri adalah perasaan sensoris dan emosional yang
tidak nyaman, juga berkaitan dengan kerusakan jaringan. Nyeri dianggap sebagai tanda
adanya gangguan di jaringan seperti peradangan dan infeksi. Antipiretik adalah obat
yang dapat menurunkan demam (suhu tubuh yang tinggi). Demam adalah suatu gejala
dan bukan merupakan penyakit tersendiri. Pada umumnya (sekitar 90%) analgesik
mempunyai efek antipiretik (Tjay, 2007).
Farmakodinamika Antalgin
Sebagai analgetika, obat ini hanya efektif terhadap nyeri dengan intensitas rendah
sampai sedang, misalnya sakit kepala dan juga efektif terhadap nyeri yang
berkaitan dengan inflamasi. Efek analgetiknya jauh lebih lemah dari efek analgetik
opiat, obat ini tidak menimbulkan ketagihan (adiksi) dan efek samping sentral yang
merugikan (Setiabudy, 2007).
Farmakologi Antalgin
Antalgin termasuk derivat metan sulfonat dari amidopyrin yang mudah larut dalam
air dan cepat diserap ke dalam tubuh. Bekerja secara sentral di otak dalam
menghilangkan nyeri, menurunkan demam dan menyembuhkan rheumatik. Antalgin
mempengaruhi hipotalamus dalam menurunkan sensitifitas reseptor rasa sakit dan
thermostat yang mengatur suhu tubuh (Lukmanto, 1986).
Efek Samping Antalgin
Pada pemakaian yang teratur dan untuk jangka waktu yang lama, penggunaan
obat-obat yang mengandung metampiron kadang-kadang dapat menimbulkan kasus

agranulositosis fatal. Untuk mendeteksi hal tersebut, selama penggunaan obat ini perlu
dilakukan uji darah secara teratur. Jika gejala tersebut timbul, penggunaan obat ini
harus segera dihentikan (Lukmanto, 1986).

Antalgin
Antalgin (Methampyron) mengandung tidak kurang dari 99,0%
dan tidak lebih dari 101,0% C13H16N3NaO4S dihitung ter
hadap zat
yang telah dikeringkan. Pemerian serbuk hablur, putih atau putih
kekuningan (Depkes RI, 1995: 538). Methampyron adalah derivat
sulfonat dari aminofenazon yang larut dalam air. Obat ini sering
dikombinasi dengan obat

obat lain, antara lain denga


n aminofenazon.
Obat ini dapat secara mendadak dan tak terduga menimbulkan
kelainan
darah yang adakalanya fatal karena bahaya agranulositosis. Dosis
oral
methampyron 0,5

4 gram sehari dalam 3

4 dosis (Tan & Kirana,


2007: 315).

METAMPIRON
NAMA GENERIK
Metampiron
NAMA KIMIA
Metampiron, Metamizol, Dipyron. Struktur kimia:
STRUKTUR KIMIA
C13H16N3NaO4S.H2O. BM=351,4. 1
KETERANGAN
Kode ATC: N02BB02
SIFAT FISIKOKIMIA
Serbuk kristal berwarna putih / hampir putih Kelarutan dalam air 1:1,5 ml. Agak kurang larut
dalam etanol; Praktis tidak larut dalam eter, aseton, benzen, kloroform. Larutannya dalam air
bersifat netral, mungkin berubah warna menjadi kekuningan tetapi tidak menurunkan porensi
fisiologisnya.1
SUB KELAS TERAPI
Analgesik non-narkotik
KELAS TERAPI
Analgesik, Antipiretik, Antiinflamasi Nonsteroid, Antipirai.
DOSIS PEMBERIAN OBAT
Analgesik antipiretik: oral, Dewasa: 3-4X sehari 1-2 tablet; SK, IM: 0,5-1 g.
FARMAKOLOGI
Setelah pemberian oral, metampiron diubah menjadi 4-metilamino antipirin dan diabsorpsi
secara sempurna. T1/2: 4-7 jam. Diekskresi melalui ginjal. Urin kadang berwarna merah karena
adanya metabolit.1
STABILITAS PENYIMPANAN
Simpan pada suhu kamar, terlindung dari cahaya.1
KONTRA INDIKASI
Hipersensitivitas
EFEK SAMPING
Agranulositosis, insidennya kurang dari 0,01%, risiko meningkat pada dosis tinggi dan

penggunaan jangka waktu lama, sehingga tes darah harus dilakukan secara berkala. Intoksikasi
akut yang dapat mengakibatkan kejang1
INTERAKSI MAKANAN
Tidak ada data
INTERAKSI OBAT
Antalgin termasuk golongan NSAID yang dapat berinteraksi dengan: antikoagulan
PENGARUH ANAK
Tidak ada data
PENGARUH HASIL LAB
Tidak ada data
PENGARUH KEHAMILAN
Tidak ada data
PENGARUH MENYUSUI
Tidak ada data
PARAMETER MONITORING
Tes hitung darah
BENTUK SEDIAAN
Tablet, kaplet, kapsul, injeksi, sirup
PERINGATAN
Hati-hati pada pasien yang memiliki riwayat gangguan pembentukan sel darah, gangguan fungsi
hati, fungsi ginjal. Tidak diindikasikan untuk nyeri otot pada flu, rheumatism, lumbago, bursitis,
nyeri lengan-bahu.3
KASUS TEMUAN
Tidak ada data
INFORMASI PASIEN
Sebaiknya diminum sesudah makan3
MEKANISME AKSI
Metampiron mengurangi produksi prostaglandin yang dihasilkan oleh kaskade asam arakhidonat
sehingga mengurangi impuls nyeri yang diterima SSP.2

MONITORING
Pada pemakaian jangka panjang: monitor fungsi hati dan lakukan tes hitung sel darah. 1,3
DAFTAR PUSTAKA
1. Martindale , 34th ed., p. 35 2. Drug Action, Basic Principles and Therapeutic Aspect,
Mutschler E, Derendorf H, Medpharm, Stuttgart, 1995, hlm. 168. 3. MIMS Official Drug
Reference for Indonesia.
{BOTTOM}