Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Profil Universitas Pembangunan Panca Budi Medan


A.
Sejarah Singkat Universitas Pembangunan Panca Budi
Tahun 1956 Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya mendirikan
Sekolah Tinggi Metafisika berdasarkan Akte Notaris No. 97 tahun 1956
tanggal 27 Nopember 1956 terdaftar di Departemen Perguruan Tinggi dan
Ilmu Pengetahuan No. 85/B-SWT/P/64 pada tanggal 13 Juli 1964 untuk
Fakultas

Hukum

dan

Filsafat,

Fakultas

Ekonomi,

Fakultas

Ilmu

Kerohanian dan Metafisika.


Tahun 1961 Sekolah Tinggi Metafisika berubah menjadi Universitas
Pembangunan Panca Budi (UNPAB) dan tanggal 19 Desember 1961 di
tetapkan sebagai tanggal berdirinya Universitas Pembangunan Panca
Budi (UNPAB).
Tahun 1977 berdiri Fakultas Pertanian, dan pada tahun 1978 berdiri
Fakultas Arsitektur Pertamanan (Lansekap) terdaftar di Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan No. 0305/0/1981 tanggal 24 Oktober 1981
untuk Fakultas Pertanian dan Lansekap.
Pada tahun 1985 berdiri Fakultas Teknik dan Fakultas Tarbiyah,
berstatus terdaftar berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan No. 0114/0/1989 tanggal 1 Maret 1989 untuk Fakultas
Teknik.
Pada tahun 1998 Fakultas Teknik membuka Program Studi Sistem
Komputer untuk jenjang Pendidikan Program Strata 1 dan Program Studi
Teknik Komputer untuk jenjang Pendidikan Program Diploma III serta

memperoleh status terdaftar di Departemen Pendidikan Nasional No.


289/DIKTI/Kep/2000 tanggal 23 Agustus 2000. Saat ini Universitas
Pembangunan Panca Budi memiliki 7 fakultas dengan 13 program studi
berstatus Terakreditasi yang dapat digambarkan sebagai berikut:
1. Pasca Sarjana
1. Program Studi Ilmu Hukum, izin Dikti Nomor: 1510/D/T/KI/2010
2. Program Studi Magister Manajemen
2. Fakultas Hukum
1. Program Studi Ilmu Hukum izin Dikti Nomor: 1850/D/T/KI/2010
3. Fakultas Pertanian
1. Program Studi Agroteknologi, izin Dikti Nomor: 5640//D/T/KI/2011
2. Program Studi Peternakan izin Dikti Nomor: 5642/D/T/KI/2011
4. Fakultas Ekonomi
1. Program Studi Manajemen, izin Dikti Nomor: 1511/D/T/KI/2010
2. Program Studi Akuntansi, izin Dikti Nomor: 1512/D/T/KI/2010
3. Program

Studi

Pembangunan,

771/D/T/2008
2

izin

Dikti

Nomor

4. Program Studi Perpajakan


5. Fakultas Teknik
1. Program Studi Teknik Elektro, izin Dikti Nomor: 1849/D/T/Ki/2010
2. Program Studi Teknik Arsitektur Lansekap, izin Dikti Nomor:
5641/D/T/K-I/2011
6. Fakultas Ilmu Komputer
1. Program

Studi

Sistem

Komputer,

izin

Dikti

Nomor:

5639/D/T/K-I/2011
2. Program Studi Teknik Komputer (Diploma III), izin Dikti
Nomor: 1892/D/T/K-I/2009
7. Fakultas Agama Islam
1. Program Studi Pendidikan Agama Islam, Dirjen Pendidikan
Islam dengan Nomor: DJ.I/183/2010
8. Fakultas Filsafat
1. Program Studi Ilmu Filsafat, izin Dikti Nomor: 1513/D/T/KI/2010
Yayasan mendirikan Universitas Pembangunan Panca Budi dengan
maksud :
1. Mengembangkan

Pendidikan

dan

Pengajaran

secara

modern, baik pendidikan umum maupun pendidikan Agama


Islam.

2. Mengembangkan ajaran Agama Islam berdasarkan AlQuran dan Hadist.


3. Terbinanya Insan yang berpengetahuan tinggi baik duniawi
maupun ukhrawi dalam suasana lingkungan yang sehat dan
lestari.
B.

Visi Misi Tujuan Dan Nilai Dasar Universitas Pembangunan


Panca Budi

Visi :
Menjadi Perguruan Tinggi Swasta Yang Terkemuka Berbasis Religius
Dalam Mengembangkan IPTEK Yang Bermanfaat Bagi Kemaslahatan
Umat.
Misi :
1. Melaksanakan Pengabadian Sesuai Dengan Piagam Panca Budi,
Mengabdi Kepada Tuhan YAng Maha Esa, Negara, Nusa, Bangsa
dan Dunia
2. Mengembangkan IPTEK Berdasarkan Al-Quran dan HAdist,
Mencerdaskan Kehidupan Bangsa Dengan Menggali Sumber
-Sumber Ilmu Yang Berfaedah Dalam Bidang IPTEK dan IMTAQ.
3. Melaksanakan Pendidikan, Penelitian dan PEngabdian Untuk
Bangsa dan Negara Republik Indonesia YAng Mutunya Dapat
Bersaing

Secara

NAsional

dan

International

Dalam

Fitrah

Pengabdian Terhadap Allah SWT.


4. Mendorong fungsi kekhalifahan dalam mewujudkan kebahagian
kehidupan menusia dalam dimensi dunia dan akhirat.

5. Melestarikan sumberdaya alam dan lingkungan serta kehidupan


sesuai dengan syariat islam.
Tujuan :
1. Menghasilkan sumber insan yang memiliki kompetensi religius,
moral, intelektual, berketerampilan dan profesional.
2. Menghasilkan sumber insan yang mampu berfikir sistemik, team
building, peran usaha, terampil berkomunikasi dan mengikuti
perkembangan IPTEK.
Nilai Dasar :
1. Beribadat seperti Nabi/Rasul beribadat
2. Berprinsip (dalam hidup) seperti Pengabdi
3. Berabdilah (dalam mental) sebagai Pejuang
4. Berjuanglah (dalam kegigihan dan ketabahan) sebagai Prajurit
5. Berkaryalah (dalam pembangunan) seperti Pemilik
C.

Struktur Organisasi Universitas Pembangunan Panca Budi


1. Rektor: Dr. H. Muhammad Isa Indrawan, S.E, M.M
1. Rektor I

: Ir. Bhakti Alamsyah, M.T, Ph.D

2. Rektor II : Dra. Hj. Irma Fatmawati, S.H, M.Hum


3. Rektor III : Samrin, S.E, M.M
2. Fakultas

1. Dekan Fakultas Ekonomi : Rahmat Hidayat, S.E, M.M


1. Ka. Prodi Manajemen : Drs. Anwar Sanusi, M.Si
2. Ka. Prodi Akuntansi

: Handriyani Dwilita, SE., M.Si

3. Ka. Prodi Ekonomi Pembangunan : Saimara


Sebayang, SE.,M.SI
4. Ka. Prodi Perpajakan : Anggi Pratama Nasution, SE.,
M.Si
2. Dekan Fakultas Hukum : Surya Nita, SH., M.Hum
1. Ka. Prodi Ilmu Hukum : Dina Andiza, S.H, M.Hum
2. Sek. Prodi Fak. Hukum : Fitri Rafianti, S.HI., MH
2 Dekan Fakultas Teknik

: Sri Shindi Indira, ST., M.Sc

1. Ka. Prodi Teknik Elektro

: Solly Aryza Lubis, ST.,

M.Eng
2. Ka. Prodi Teknik Arsitektur : Sri Shindi Indira, ST.,MSc
2 Dekan Fakultas Ilmu Komputer : Darmeli Nasution, S.Kom.,
M.Kom
1. Ka. Prodi Sistem Komputer : Hermansyah, S.Kom,
M.Kom
2. Sek. Ka. Prodi Sistem Komputer : T. Henny Febriana
Harumy, S.Kom., M.Kom

3. Ka. Prodi Teknik Komputer : Muhammad Iqbal,


S.Kom., M.Kom
2 Dekan Fakultas Filsafat : Hasrul Azwar Hasibuan, SE
1. Ka. Prodi Ilmu FIlsafat : Sumarno, SH., M.H
3 Dekan Fakultas Agama Islam : Hadi Suprapto, S.Ag.,
M.Kom.I
1. Ka. Prodi Pendidikan Agama Islam: Manshuruddin,
S.Pdi.,MA.
2 Dekan Fakultas Pertanian : Ir. Armaniar, MP
1. Ka. Prodi Agroekoteknologi : Ismail D, SP.
2. Ka. Prodi Peternakan : Andhika Putra, S.Pt., MP
3 Direktur Pasca Sarjana : Drs. Kasim Siyo, M.Si, Ph.D
1. Ka. Prodi Magister Manajemen : Prof.H.Aldwin Surya,
SE., M.Pd., Ph.D
2. Sek. Prodi Magister Manajemen : Soehartono
Hadibowo, SE., MM
3. Ka. Prodi Magister Hukum : Dr. Darwinsyah Minin,
S.H., M.S.
4. Sek. Ka. Prodi Magister Hukum : Suci Ramadhani,
SH., MH
3. Pelayanan Administrasi dilaksanakan oleh:
1. Biro Pelayanan Akademik

1. Ka. Biro : Arpan, S.Kom


2. Kaur UPBM : Daud Arifin, SE
3. Kaur UPAA : Suria Irwansyah, S.Kom
2. Biro Pengembangan Akademik
1. Ka. Biro : Ir. Marahadi Siregar, MP
2. Kaur Kurikulum & Akreditasi : Ir. Tharmizi Hakim
3. Kaur Kerjasama, Magang & Internasional : Annisa
Sanny, SE
2. Biro Student Advisory Center
1. Ka. Biro : Abdi Setiawan, SE., M.Si
2. Biro Kesejahteraan Mahasiswa dan Alumni
1. Ka. Biro : Adian Hakim Nasution, SP.
2. Biro Sumber Daya Manusia dan Umum
1. Ka. Biro : Adisastra Pengalaman Tarigan, ST., MT
2. Kaur SDM : Roni Edi Wanto, S.H., MHLi
3. Kaur Sarpras : Romimbar Pranata, SE.
2. Biro Keuangan
1. Ka. Biro : Teguh Wahyono, SE
2. Bendahara : Noni Ardian, SE

2. Biro Pengembang Sistem Informasi


1. Ka. Biro : Muhammad Mutaqin, S.Kom
2. Biro Elearning
1. Ka. Biro : M. Doni Lesmana Siahaan, S.Kom
4. Sistem Penjaminan Mutu Universitas
1. Ketua Kantor Jaminan Mutu : Najla Lubis, S.T, M.Si
2. Kaur HKTL : Robi Krisna , SE., MH
5. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
1. Ketua : Rusiadi, S.E, M.Si

5 Lembaga Pengembangan Profesi


1. Ketua : Efrizal Adil, S.E, M.A
5 UKM Center
1. Ketua : Efrizal Adil, SE., MA
5 Unit Pelaksana Teknis (UPT)
1. Ketua UPT. Laboratorium Komputer : Fachrid Wadly, S.Kom
2. Ketua UPT. Perpustakaan : Ir. Sulardi, MM
3. Ketua UPT. Ilmu - ilmu Dasar : M. Wasito, SP

D.

Piagam, Motto Dan Tri Dharma Universitas Pembangunan


Panca Budi

Piagam Panca Budi :


Salah satu nilai luhur universitas, telah dinyatakan dalam piagam
"panca budi" yang menempatkan manusia sebagai insan pengabdi
sebagaimana

fitrah

manusia

diciptakan

dan

dilahirkan

untuk

melaksanakan pengabdian dan menjadi khalifah diatas bumi, pengatur


dan pembimbing bagi orang banyak dengan nilai-nilai pengabdian sebagai
berikut:
1. Abdi kepada Tuhan Yang Maha Esa
2. Abdi kepada Negara
3. Abdi kepada Nusa
4. Abdi kepada Bangsa
5. Abdi kepada Dunia

Motto Mutiara Hikma :


Insan Universitas Pembangunan Panca Budi dalam mengemban
dan melaksanakan tugas sehari-hari mempunyai motto sebagai berikut :
1. Beribadah seperti Nabi/Rasul Beribadah
2. Berprinsip seperti Pengabdi

10

3. Berabdi sebagai Pejuang


4. Berjuang seperti Prajurit
5. Berkarya seperti Pemilik
Tri Dharma Perguruan Tinggi
1. Pendidikan dan Pengajaran
2. Penelitian
3. Pengabdian Masyarakat
E.

Kerjasama Yang Terjalin Dengan Instansi Pemerintah Dan


Swasta
Dalam usaha mengembangkan Perguruan Tinggi, Universitas

Pembangunan Panca Budi menjalin kerjasama baik Instansi Pemerintah,


Swasta, Perguruan Tinggi dalam dan luar negeri, yang diantaranya adalah
:

Kerjasama UNPAB dengan PT. TELKOM INDONESIA

Kerjasama UNPAB dalam MoU yang dijalin dengan PT. DUKINDO


LESTARI

Kerjasama UNPAB dalam MoU yang dijalin dengan PT. PRIMA


KARYA SARANA SEJAHTERA

Kerjasama UNPAB dalam MoU yang dijalin dengan POLITEKNIK


UNGGUL LP3M

11

Kerjasama UNPAB dalam MoU yang dijalin dengan AMIK ROYAL


KISARAN

Kerjasama UNPAB dalam MoU yang dijalin dengan LP3I Medan

Kerjasama UNPAB dalam MoU yang dijalin dengan MAJELIS


ULAMA INDONESIA (MUI Kota Medan)

Kerjasama UNPAB dalam MoU yang dijalin dengan DEWAN


KETAHANAN NASIONAL

Kerjasama UNPAB dalam MoU yang dijalin dengan Universitas


Negeri Medan (UNIMED)

Kerjasama UNPAB dengan MENTERI KEHUTANAN

Kerjasama UNPAB dengan KEPOLISIAN DAERAH SUMATERA

Kerjasama UNPAB dengan BANK INDONESIA MEDAN

Kerjasama UNPAB dengan DINAS PERTANIAN SUMATERA


UTARA

Kerjasama UNPAB dengan DINAS PERKEBUNAN SUMATERA


UTARA

Kerjasama UNPAB dengan BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI


PERTANIAN SUMUT dalam bidang BPTP membantu UNPAB untuk
memberikan pelayanan dalam penelitian, pengkajian, pelatihan dan
konsul.

Kerjasama

UNPAB

dengan

PROVINSI SUMATERA

12

KAMAR

DAGANG

INDUSTRI

Kerjasama UNPAB dengan AKADEMIK TEKNIK KESELAMATAN


PENERBANGAN MEDAN

Kerjasama UNPAB dengan BADAN METEREOLOGI & GEOFISIKA


MEDAN

Kerjasama UNPAB dengan SMKN 1 SINGKIL UTARA ACEH

Kerjasama UNPAB dengan DINAS TENAGA KERJA PROPINSI


SUMATERA UTARA

Kerjasama

UNPAB

dengan

DPD

GERAKAN

NASIONAL

KEPEDULIAN NASIONAL

Kerjasama UNPAB dengan HRTE INDONESIA - PKBI SUMUT

Kerjasama

UNPAB

dengan

DEWAN

KESELAMATAN

DAN

KESEHATAN PROPINSI SUMATERA UTARA

Kerjasama UNPAB dengan ASOSIASI PERGURUAN TINGGI


SWASTA

Kerjasama UNPAB dengan PT. AXA LIFE INDONESIA

Kerjasama UNPAB dengan OPEN UNIVERSITY MALAYSIA

Kerjasama UNPAB dengan UNIVERSITY SELANGOR

1.2. Resiko Dan Manajemen Resiko


Resiko adalah variasi potensiil dari hasil. Sebagai hasil, resiko
memiliki kemungkinan hasil yang menguntungkan dan merugikan. Untuk
hasil yang dipastikan sebagai kerugian disebut sebagai resiko murni. Dan

13

untuk hasil yang memiliki kemungkinan keuntungan dan kerugian disebut


sebagai resiko spekulatif.
Pada umumnya manusia dihadapkan dengan tiga pilihan, yaitu
tidak mengambil resiko, mendapatkan resiko murni, dan mengambil resiko
spekulatif. Tidak mengambil resiko adalah kemungkinan terburuk dari
ketiga pilihan tersebut, mengingat bahwa dengan tidak mengambil resiko
maka ia tentu tidak mendapatkan nilai tambah dari apa yang dimilikinya.
Sedangkan mendapatkan resiko murni tentu tidak diinginkan, karena tidak
ada keuntungan sama sekali di dalamnya dan dapat dipastikan yang
didapati adalah kerugian total. Dan mengambil resiko spekulatif, adalah
kemungkinan yang pada umumnya diambil karena seseorang mungkin
akan mendapatkan keuntungan dari resiko spekulatif yang diambilnya.
Manajemen resiko didefinisikan sebagai fungsi manajemen secara
umum yang mana mencari untuk identifikasi, penilaian, dan tanda-tanda
yang menyebabkan dan berdampak pada ketidakpastian dan resiko pada
organisasi.
Manajemen Resiko di Universitas Pembangunan Panca Budi
Sebagai suatu organisasi, lembaga pendidikan dituntut untuk
mengelola sumber daya yang dimilikinya baik itu man, money, method,
material, machine, dan environment. Man dalam lembaga pendidikan
adalah tenaga pendidik dan kependidikan. Money adalah aspek
kemampuan financial yang dikelola oleh lembaga. Methode yaitu
kemampuan lembaga untuk mengorganisir sumber daya yang dimilikinya.
Material di sini dimaksudkan sebagai kurikulum yang merupakan inti dari
pendidikan yang akan diberikan kepada konsumen (peserta didik).
Machine adalah terkait dengan sarana dan prasarana yang dimiliki
lembaga

untuk

membantu

ketercapaian

tujuan

pendidikan.

Dan

environment adalah suasana lingkungan akademis yang dibentuk oleh


lembaga pendidikan dengan sumber daya yang ada.

14

Demikian itu penting, sebab pendidikan merupakan usaha sadar


yang terstruktur dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan
proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi

dirinya

pengendalian

untuk

diri,

memiliki

kepribadian,

kekuatan
kecerdasan,

spiritual
akhlak

keagamaan,
mulia,

serta

keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Sebagaimana


dalam Undang-Undang Sisdiknas No. 20 tahun 2003.
Sebagaimana diungkapkan bahwa dalam kegiatan manajemen
resiko terdapat berbagai tindakan identifikasi missi, penilaian terhadap
resiko dan ketidakpastian, kontrol terhadap resiko, keuangan resiko, dan
program administrasi. Untuk itu dibutuhkan seorang manajer resiko yang
memiliki tugas sebagai berikut:
1. Menilai organisasi dan mengidentifikasi resiko-resikonya.
2. Mengimplementasikan pencegahan kerugian dan control terhadap
program.
3. Mereview kontrak dan dokumen untuk tujuan dari manajemen
resiko.
4. Menyediakan pelatihan dan pendidikan untuk keamanan terkait isuisu.
5. Memastikan kepatuhan dengan mandat pemerintah.
6. Mengatur asuransi di luar skema keuangan (contoh, asuransi
pribadi atau terikat dengan asuransi subsidi)
7. Klaim manajemen dan bekerja dengan representasi legal untuk
mengelola proses pengadilan.
8. Mendesain dan mengkoordinasikan program imbalan karyawan.
Dalam hal ini, lembaga pendidikan pada umumnya belum
menempatkan seorang manajer resiko atau bahkan belum menjadikan
manajemen

resiko

sebagai

budaya

lembaga.

Pada

umumnya,

menyerahkan hal tersebut kepada kepala sekolah/lembaga, bagian


Human Research and Development (HRD), dan bagian keuangan.

15

Demikian itu tidak menjadi masalah, ketika lembaga tersebut


berukuran kecil, akan tetapi ketika lembaga memiliki jumlah karyawan
yang besar dengan struktur organisasi yang variatif, tentu kemungkinan
resiko banyak terjadi di berbagai bidang dan dalam berbagai bentuk.
Dibutuhkan kesadaran bersama tentang resiko dan manajemen
resiko, dengan demikian tindakan terhadap pengelolaan resiko dapat
dilakukan dengan baik. Mengingat bahwa manajemen resiko merupakan
tindakan yang berkelanjutan.
Dalam mengelola organisasi manajemen resiko tidak berjalan
sendiri, melainkan terintegrasi dengan manajemen operasional, dan
manajemen strategi. Integrasi antara tiga hal ini mengindikasikan bahwa
lembaga pendidikan tidak serta merta menyelesaikan masalahnya dengan
praktik manajemen operasional, akan tetapi dibutuhkan manjemen strategi
dalam menjalankan lembaga pendidikan, demikian itu untuk menjaga
keterarahan atau fokus organisasi terhadap pencapaian tujuan organisasi.
Sedangkan

manajemen

memperhitungkan,

resiko

berperan

untuk

dan

mengelola

mengevaluasi,

mengidentifikasi,
konsekwensi-

konsekwensi logis dari implementasi strategi lembaga pendidikan.


Sebagai contoh, Universitas Pembangunan Panca Budi Medan
memiliki visi yaitu : Menjadi Perguruan Tinggi Swasta Yang Terkemuka
Berbasis Religius Dalam Mengembangkan IPTEK Yang Bermanfaat
Bagi Kemaslahatan Umat. Dari visi tersebut, tentu memiliki resiko-resiko
yang harus dipikirkan oleh lembaga pendidikan. Diantara resiko yang
muncul dari visi tersebut adalah:
1. Ketercukupan sumber daya manusia yang unggul.
2. Untuk menjadikan pendidik berkualitas dibutuhkan pelatihan dan
pengembangan.
3. Dalam pelatihan dan pengembangan membutuhkan biaya yang
tidak sedikit.

16

4. Biaya

tersebut

harus

difikirkan

sumber

dananya

dan

penggunaannya.
5. Setelah dilakukan pelatihan dan pengembangan, dibutuhkan
instrument untuk mengukur peningkatan kualitas tenaga pendidik.
Maka instrument harus dibuat.
6. Untuk pendidik yang meningkat kualitasnya, dan untuk yang tidak
meningkat apa tindakan yang diberikan.
Dari satu visi tersebut menimbulkan resiko diantaranya pada
bidang pengelolaan sumber daya manusia, sehingga manajemen harus
berfikir

cerdas

untuk

meminimalisir

atau

menghindari

kegagalan

pengelolaan sumber daya manusia.


Sebab faktor sumber daya manusia yang unggul memiliki peranan
dalam mencapai visi lembaga pendidikan, selain daripada faktor-faktor
penunjang yang lain. Resiko tersebut tidak dapat dibiarkan, akan tetapi
perlu dikelola dengan baik yaitu dengan :
1. Mengidentifikasi di antara tenaga pendidik, mana yang belum
mencapai standar tenaga pendidik yang belum masuk kategori
berkualitas, atau kualitasnya masih kurang.
2. Setelah diidentifikasi, dikalkulasi sesuai dengan bidang masingmasing untuk materi-materi yang belum dikuasainya atau dengan
melakukan analisa kebutuhan pelatihan dan pengembangan.
3. Dengan melaksanakan dua hal tersebut di atas, tentu
meminimalisir anggaran pelatihan dan pengembangan.
4. Setelah pendidik diberikan pelatihan dan pengembangan, maka
manajemen

dapat

memberdayakan

pendidik

tersebut

untuk

mencapai visi lembaga.


5. Tidak sampai di sini, lembaga pendidikan perlu melakukan control
berkelanjutan terhadap sumber daya manusia yang ada, dengan
harapan terdapat keseimbangan antara harapan yang dicita-citakan
dan ketercukupan sumbe daya.

17

Resiko pada lembaga pendidikan tidak hanya dari satu faktor yaitu
sumber daya manusia saja, namun sangat mungkin muncul dari berbagai
bidang yang lain yaitu sarana prasarana, keuangan, struktur organisasi,
kurikulum, dan lingkungan lembaga pendidikan. Dan utamanya adalah
bermula dari visi, misi, tujuan lembaga pendidikan.
Peningkatan Daya Saing Paradigma Pengelolaan Pendidikan
Untuk saat ini mutu merupakan hal yang sangat penting bagi
keberlangsungan hidup lembaga pendidikan. Orientasi masyarakat
modern telah berubah, dari yang dulunya fokus pada aspek kuantitas,
menjadi fokus pada aspek kualitas.

Perlu
pendidikan

diketahui
yang

bahwa

berkualitas

untuk

menciptakan

dibutuhkan

suatu

suatu

lembaga

paradigma

yang

komprehensip terhadap pengelolaan lembaga pendidikan. Paradigma


yang

komprehensip

dimaksudkan

adalah

suatu

pandangan

yang

menyeluruh atas berbagai komponen dalam lembaga pendidikan.


Paradigma pengelolaan lembaga pendidikan yang berkualitas
adalah terkait dengan organisasi yang sehat. Organisasi yang sehat
terbentuk apabila terdapat akuntabilitias. Akuntabilitas tersebut tidak
hanya difahami pada aspek keuangan, namun juga dibutuhkan penjelasan
akuntabilitas

pelaksanaan

kegiatan.

Selain

daripada

akuntabilitas,

dibutuhkan otonomi atas unit-unit dalam struktur organisasi lembaga, sulit


dibayangkan

apabila

lembaga

berharap

menjadi

organisasi

yang

berkualitas, sehat, dan akuntabel, jika tidak diberikan otonomi pada unitunit yang berada di dalamnya.
Otonomi lembaga pendidikan memiliki hubungan timbal balik
dengan akuntabilitas, memberikan pengaruh terhadap kualitas organisasi,
dan secara tidak langsung membangun organisasi yang sehat. Selain
daripada itu, otonomi memberikan hubungan timbal balik terhadap
18

akreditasi, dan akreditasi memiliki hubungan timbal balik dengan evaluasi


diri. Maksudnya adalah dengan otonomi yang diberikan berimplikasi
terhadap penilaian lembaga dalam hal ini akreditasi.
Akreditasi yang baik tidak dapat diwujudkan jika individu atau unit di
dalam lembaga pendidikan tersebut tidak diberikan otonomi. Karena dari
otonomi itulah timbul inovasi. Sebagai catatan bahwa otonomi adalah
mengenai desentralisasi, desentralisasi dapat terwujud jika suatu lembaga
telah memiliki akuntabilitas.
Dengan akreditasi yang merupakan suatu proses penilaian
lembaga, dapat dilihat kualitas lembaga. Semakin baik akreditasi suatu
lembaga pendidikan, dapat dikatakan baik pula kualitas yang dihasilkan
oleh lembaga tersebut. Dan secara tidak langsung, dapat dikatakan
bahwa lembaga pendidikan itu sehat. Sebaliknya, jika setelah penilaian
akreditasi lembaga pendidikan itu buruk, maka dapat disimpulkan bahwa
lembaga pendidikan tersebut tidak atau kurang berkualitas, dan
cenderung lembaga pendidikan tersebut tidak sehat.
Satu hal lagi, yang menunjang pengelolaan lembaga pendidikan
unggul atau memiliki daya saing adalah tentang evaluasi diri. Evaluasi diri
memiliki hubungan timbal balik dengan akreditasi dan akuntabilitas. Sebab
untuk memberikan nilai akreditasi diawali dengan evaluasi diri. Dan
evaluasi diri yang baik adalah evaluasi yang akuntabel. Dan sebagai
hasilnya adalah organisasi yang sehat, dan lembaga yang berkualitas dan
peningkatan daya saing.
Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan mengenai elemenelemen yang saling terkait dalam menciptakan lembaga pendidikan yang
berdaya

saing

unggul

adalah

kualitas,

organisasi

yang

sehat,

akuntabilitas, otonomi, akreditasi, dan evaluasi diri.


Untuk menciptakan lembaga pendidikan yang berkualitas dan
berdaya

saing

tinggi,

tidak

cukup
19

hanya

mengimplementasikan

manajemen operasional, dan manajemen strategi saja, akan tetapi


diperlukan juga manajemen resiko yang baik.
Dalam membangun manajemen resiko yang baik, dibutuhkan
informasi dan komunikasi yang baik. Informasi yang kredibel atau
akuntabel dapat menurunkan level uncertainty, dan komunikasi yang baik
dapat memberikan nilai lebih dalam menurunkan level uncertainty.
Sebagaimana diketahui bersama, bahwa resiko sangat mungkin
terjadi dalam setiap kebijakan yang diambil oleh lembaga pendidikan.
Menghilangkannya adalah satu kemungkinan yang dapat dilakukan oleh
lembaga pendidikan dalam mengelola resiko. Akan tetapi, ketika resiko
tersebut dapat dihilangkan hampir dapat dikatakan bahwa resiko tersebut
tidak memberikan keuntungan terhadap lembaga pendidikan. Artinya
bahwa resiko tersebut berada pada resiko murni.
Universitas Pembangunan Panca Budi Medan perlu membangun
suatu model atau sistem informasi yang akurat. Terlebih saat ini dapat
dimudahkan dengan fasilitas computer dan jaringan, sehingga informasi
dapat diakses dengan cepat dan tepat.
Kecepatan dan ketepatan informasi merupakan kekuatan lembaga
dalam memberikan analisa dan interpretasi data. Dengan demikian
identifikasi untuk menurunkan level resiko menjadi efektif.
Komunikasi yang baik juga menjadi kekuatan bagi lembaga
pendidikan. Karena pada prinsipnya sesama muslim adalah saudara,
maka tentu bukan hal yang sulit untuk berkomunikasi di Universitas
Pembangunan Panca Budi Medan. Dan dengan kekuatan tersebut
terhindar dari rasa untuk saling menutupi atau bahkan kecurigaan yang
tidak mendasar.
Dua hal tersebut yaitu informasi dan komunikasi merupakan
kekuatan dalam menurunkan level uncertainty. Lembaga pendidikan yang

20

mampu mengelola dua hal tersebut dengan baik, maka dapat dipastikan
manajemen resiko yang berlangsung di dalamnya akan terlaksana dengan
baik, dan sangat membantu dalam pencapaian visi lembaga secara efektif
dan efisien.
Manfaat

mengelola

resiko

pada

lembaga

pendidikan

Jika

Universitas Pembangunan Panca Budi Medan mampu mengelola resiko


dengan baik, maka manfaat yang didapatkan adalah sebagai berikut:
1. Universitas Pembangunan Panca Budi Medan akan terhindar dari
kerugian yang tidak diperlukan, menghemat biaya, terjaminnya
kestabilan proses kegiatan belajar mengajar yang diharapkan, dan
terhindar dari kebangkrutan lembaga pendidikan.
2. Keberlangsungan hidup lembaga pendidikan

lebih

terjamin,

terciptanya daya saing yang berkelanjutan, penggunaan yang


terbaik atas sumber daya lembaga pendidikan, dan memungkinkan
bagi lembaga pendidikan untuk layanan yang terbaik.
3. Proses pelaksanaan kegiatan belajar mengajar terlaksana dengan
baik sesuai rencana, jika terjadi penyimpangan dan gangguan
operasi, lembaga pendidikan dapat langsung mengantisipasinya
dengan mengendalikan resiko secara tepat.
4. Terbangunnya reputasi positif lembaga pendidikan di mata
masyarakat. Lembaga pendidikan dikenal dapat menjalankan
amanah stake holder lembaga pendidikan. Sehingga terbangun
positioning yang baik dalam fikiran masyarakat.

21

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1

Pengertian Manajemen Resiko


Menurut

Wikipedia

bahasa

Indonesia

menyebutkan

bahwa

manajemen resiko adalah suatu pendekatan terstruktur/metodologi dalam


mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman, suatu
rangkaian aktivitas manusia termasuk penilaian resiko, pengembangan
strategi untuk mengelolanya dan mitigasi resiko dengan menggunakan
pemberdayaan/pengelolaan sumber daya. Strategi yang dapat diambil
antara lain adalah memindahkan resiko kepada pihak lain, menghindari
resiko, mengurangi efek negatif resiko, dan menampung sebagian atau
semua konsekuensi resiko tertentu.

Manajemen resiko tradisional

terfokus pada resiko- resiko yang timbul oleh penyebab fisik atau legal
(seperti bencana alam atau kebakaran, kematian, dan tuntutan hukum).
Menurut Vibiznews.com, manajemen resiko adalah suatu proses
mengidentifikasi, mengukur resiko, serta membentuk strategi untuk
mengelolanya melalui sumber daya yang tersedia. Strategi yang dapat
digunakan antara lain mentransfer resiko pada pihak lain, menghindari
resiko, mengurangi efek buruk dari resiko dan menerima sebagian
maupun seluruh konsekuensi dari resiko tertentu.
Sedangkan menurut COSO, manajemen resiko (risk management)
dapat diartikan sebagai a process, effected by an entitys board of
directors, management and other personnel, applied in strategy setting

22

and across the enterprise, designed to identify potential events that may
affect the entity, manage risk to be within its risk appetite, and provide
reasonable assurance regarding the achievement of entity objectives.
Manajemen resiko adalah bagian penting dari strategi manajemen
semua wirausaha. Proses di mana suatu organisasi yang sesuai
metodenya dapat menunjukkan resiko yang terjadi pada suatu aktivitas
menuju keberhasilan di dalam masing-masing aktivitas dari semua
aktivitas. Fokus dari manajemen resiko yang baik adalah identifikasi dan
cara mengatasi resiko. Sasarannya untuk menambah nilai maksimum
berkesinambungan (sustainable) organisasi.

Tujuan utama untuk

memahami potensi upside dan downside dari semua faktor yang dapat
memberikan dampak bagi organisasi. Manajemen resiko meningkatkan
kemungkinan

sukses,

mengurangi

kemungkinan

kegagalan

dan

ketidakpastian dalam memimpin keseluruhan sasaran organisasi.


Manajemen

resiko

seharusnya

bersifat

berkelanjutan

dan

mengembangkan proses yang bekerja dalam keseluruhan strategi


organisasi dan strategi dalam mengimplementasikan. Manajemen resiko
seharusnya ditujukan untuk menanggulangi suatu permasalahan sesuai
dengan metode yang digunakan dalam melaksanakan aktifitas dalam
suatu organisasi di masa lalu, masa kini dan masa depan.
Manajemen resiko harus diintegrasikan dalam budaya organisasi
dengan kebijaksanaan yang efektif dan diprogram untuk dipimpin
beberapa manajemen senior. Manajemen resiko harus diterjemahkan
sebagai suatu strategi dalam teknis dan sasaran operasional, pemberian
tugas dan tanggung jawab serta kemampuan merespon secara
menyeluruh pada suatu organisasi, di mana setiap manajer dan pekerja
memandang

manajemen

resiko

sebagai

bagian

dari

deskripsi

kerja.Manajemen resiko mendukung akuntabilitas (keterbukaan), kinerja

23

pengukuran dan reward, mempromosikan efisiensi operasional dari


semua tingkatan.

Definisi manajemen resiko (risk management) di atas dapat


dijabarkan lebih lanjut berdasarkan kata kunci sebagai berikut:
1. On going process
Manajemen resiko dilaksanakan secara terus menerus dan
dimonitor secara berkala. Manajemen resiko bukanlah suatu kegiatan
yang dilakukan sesekali (one time event).
2. Effected by people
Manajemen resiko ditentukan oleh pihak-pihak yang berada di
lingkungan
manajemen

organisasi.
resiko

Untuk

dirumuskan

lingkungan
oleh

instansi

pimpinan

pemerintah,

dan

pegawai

institusi/departemen yang bersangkutan.


3. Applied in strategy setting
Manajemen resiko telah disusun sejak dari perumusan strategi
organisasi oleh manajemen puncak organisasi.

Dengan penggunaan

manajemen resiko, strategi yang disiapkan disesuaikan dengan resiko


yang dihadapi oleh masing-masing bagian/unit dari organisasi.
4. Applied across the enterprised
Strategi yang telah dipilih berdasarkan manajemen resiko
diaplikasikan dalam kegiatan operasional, dan mencakup seluruh
bagian/unit pada organisasi.

Mengingat resiko masing-masing bagian

24

berbeda, maka penerapan manajemen resiko berdasarkan penentuan


resiko oleh masing-masing bagian.

5. Designed to identify potential events


Manajemen resiko dirancang untuk mengidentifikasi kejadian
atau keadaan yang secara potensial menyebabkan terganggunya
pencapaian tujuan organisasi.
6. Provide reasonable assurance
Resiko yang dikelola dengan tepat dan wajar akan menyediakan
jaminan

bahwa

kegiatan

dan

pelayanan

oleh

organisasi

dapat

berlangsung secara optimal.


7. Geared to achieve objectives
Manajemen resiko diharapkan dapat menjadi pedoman bagi
organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Sasaran dari pelaksanaan manajemen resiko adalah untuk
mengurangi resiko yang berbeda-beda yang berkaitan dengan bidang
yang telah dipilih pada tingkat yang dapat diterima oleh masyarakat. Hal
ini dapat berupa berbagai jenis ancaman yang disebabkan oleh
lingkungan, teknologi, manusia, organisasi, dan politik.

Di sisi lain,

pelaksanaan manajemen resiko melibatkan segala cara yang tersedia


bagi manusia, khususnya entitas manajemen resiko (manusia, staff,
organisasi).

25

Dalam perkembangannya resiko-resiko yang dibahas dalam


manajemen resiko dapat diklasifikasi menjadi:
a)
b)
c)
d)

Resiko Operasional
Resiko Hazard
Resiko Finansial
Resiko Strategis

Hal

ini

menimbulkan

ide

untuk

menerapkan

pelaksanaan

manajemen resiko terintegrasi korporasi (enterprise risk management).


Manajemen resiko dimulai dari proses identifikasi resiko, menganalisa
resiko, monitoring dan evaluasi.
a. Mengidentifikasi resiko
Proses ini meliputi identifikasi resiko yang mungkin terjadi dalam
suatu aktivitas usaha.

Identifikasi resiko secara akurat dan kompleks

sangatlah vital dalam manajemen resiko.

Salah satu aspek penting

dalam identifikasi resiko adalah mendaftar resiko yang mungkin terjadi


sebanyak mungkin.

Teknik-teknik yang dapat digunakan dalam

identifikasi resiko antara lain:


1.
2.
3.
4.
5.

Brainstorming
Survey
Wawancara
Informasi historis
Kelompok kerja

b. Menganalisa resiko
Setelah melakukan identifikasi resiko, maka tahap berikutnya
adalah pengukuran resiko dengan cara melihat seberapa besar potensi
terjadinya kerusakan (severity) dan probabilitas terjadinya resiko tersebut.
Penentuan probabilitas terjadinya suatu event sangatlah subjektif dan
lebih berdasarkan nalar dan pengalaman.
mudah

untuk

diukur,

namun

sangatlah
26

Beberapa resiko memang


sulit

untuk

memastikan

probabilitas suatu kejadian yang sangat jarang terjadi. Sehingga, pada


tahap ini sangatlah penting untuk menentukan dugaan yang terbaik
supaya nantinya kita dapat memprioritaskan dengan baik dalam
implementasi perencanaan manajemen resiko.
Kesulitan

dalam

pengukuran

resiko

adalah

menentukan

kemungkinan terjadi suatu resiko karena informasi statistik tidak selalu


tersedia untuk beberapa resiko tertentu.

Selain itu, mengevaluasi

dampak kerusakan (severity) sering kali cukup sulit untuk asset


immaterial.
c. Monitoring resiko dan evaluasi
Mengidentifikasi, menganalisa dan merencanakan suatu resiko
merupakan bagian penting dalam perencanaan suatu proyek. Namun,
manajemen resiko tidaklah berhenti sampai di sini saja.
pengalaman,

dan

terjadinya

kerugian

akan

Praktek,

membutuhkan

suatu

perubahan dalam rencana dan keputusan mengenai penanganan suatu


resiko. Sangatlah penting untuk selalu memonitor proses dari awal mulai
dari identifikasi resiko dan pengukuran resiko untuk mengetahui
keefektifan respon yang telah dipilih dan untuk mengidentifikasi adanya
resiko yang baru maupun berubah. Sehingga, ketika suatu resiko terjadi
maka respon yang dipilih akan sesuai dan diimplementasikan secara
efektif.
2.2

Konsep Resiko
Resiko berhubungan dengan ketidakpastian ini terjadi oleh karena

kurang atau tidak tersedianya cukup informasi tentang apa yang akan
terjadi.

Sesuatu

yang

tidak

pasti

menguntungkan atau merugikan.

(uncertain)

dapat

berakibat

Istilah resiko memiliki beberapa

definisi. Resiko dikaitkan dengan kemungkinan kejadian, atau keadaan


yang dapat mengancam pencapaian tujuan dan sasaran organisasi.
27

Menurut Vaughan (1978) mengemukakan beberapa definisi resiko


sebagai berikut:
1. Risk is the chance of loss (resiko adalah kans kerugian)
Chance of loss berhubungan dengan suatu exposure (keterbukaan)
terhadap

kemungkinan

kerugian.

Dalam

ilmu

statistik,

chance

dipergunakan untuk menunjukkan tingkat probabilitas akan munculnya


situasi tertentu. Dalam hal chance of loss 100%, berarti kerugian adalah
pasti sehingga resiko tidak ada.
2. Risk is the possibility of loss (resiko adalah kemungkinan
kerugian).
Istilah possibility berarti bahwa probabilitas sesuatu peristiwa berada di
antara nol dan satu. Namun, definisi ini kurang cocok dipakai dalam
analisis secara kuantitatif.
3. Risk is uncertainty (resiko adalah ketidakpastian).
Uncertainty

dapat

bersifat

subjective

dan

objective.

Subjective

uncertainty merupakan penilaian individu terhadap situasi resiko yang


didasarkan pada pengetahuan dan sikap individu yang bersangkutan.
Objective uncertainty akan dijelaskan pada dua definisi resiko berikut.
4. Risk is the dispersion of actual from expected results (resiko
merupakan penyebaran hasil aktual dari hasil yang diharapkan).
Ahli statistik mendefinisikan resiko sebagai derajat penyimpangan
sesuatu nilai di sekitar suatu posisi sentral atau di sekitar titik rata-rata.

28

5. Risk is the probability of any outcome different from the one


expected (resiko adalah probabilitas sesuatu outcome berbeda
dengan outcome yang diharapkan)
Menurut definisi di atas, resiko bukan probabilitas dari suatu
kejadian tunggal, tetapi probabilitas dari beberapa outcome yang berbeda
dari yang diharapkan. Dari berbagai definisi di atas, resiko dihubungkan
dengan kemungkinan terjadinya akibat buruk (kerugian) yang tidak
diinginkan, atau tidak terduga. Dengan kata lain, kemungkinan itu sudah
menunjukkan adanya ketidakpastian.
Konsep lain yang berkaitan dengan resiko adalah peril dan hazard.
Peril merupakan suatu peristiwa yang dapat menimbulkan terjadinya
suatu kerugian. Sedangkan hazard merupakan keadaan dan kondisi yang
dapat memperbesar kemungkinan terjadinya peril.
Hazard terdiri dari beberapa tipe, yaitu:
1. Physical hazard merupakan suatu kondisi yang bersumber pada
karakteristik secara fisik dari objek yang dapat memperbesar
terjadinya kerugian.
2. Moral hazard merupakan suatu kondisi yang bersumber dari orang
yang berkaitan dengan sikap mental, pandangan hidup dan
kebiasaan yang dapat memperbesar kemungkinan terjadinya peril.
3. Morale hazard merupakan suatu kondisi dari orang yang merasa
sudah memperoleh jaminan dan menimbulkan kecerobohan
sehingga memungkinkan timbulnya peril.
4. Legal hazard merupakan suatu kondisi pengabaian atas suatu
peraturan atau perundang-undangan yang bertujuan melindungi
masyarakat sehingga memperbesar terjadinya peril.
Resiko dapat terjadi pada pelayanan, kinerja, dan reputasi dari
institusi yang bersangkutan. Resiko yang terjadi dapat disebabkan oleh

29

berbagai faktor antara lain kejadian alam, operasional, manusia, politik,


teknologi, pegawai, keuangan, hukum, dan manajemen dari organisasi.
Suatu resiko yang terjadi dapat berasal dari resiko lainnya, dan
dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Resiko rendahnya kinerja suatu
instansi berasal dari resiko rendahnya mutu pelayanan kepada publik.
Resiko terakhir disebabkan oleh faktor-faktor sumber daya manusia yang
dimiliki organisasi dan operasional seperti keterbatasan fasilitas kantor.
Resiko yang terjadi akan berdampak pada tidak tercapainya misi dan
tujuan dari instansi tersebut, dan timbulnya ketidakpercayaan dari publik.
Resiko diyakini tidak dapat dihindari. Berkenaan dengan sektor
publik yang menuntut transparansi dan peningkatan kinerja dengan dana
yang terbatas, resiko yang dihadapi instansi Pemerintah akan semakin
bertambah dan meningkat. Oleh karena itu, pemahaman terhadap resiko
menjadi keniscayaan untuk dapat menentukan prioritas strategi dan
program dalam pencapaian tujuan organisasi.
2.3

Kategori Resiko
Resiko dapat dikategorikan ke dalam dua bentuk :

Resiko spekulatif
Resiko

spekulatif

adalah

suatu

keadaan

yang

dihadapi

perusahaan yang dapat memberikan keuntungan dan juga dapat


memberikan kerugian. Resiko spekulatif kadang-kadang dikenal dengan
istilah resiko bisnis (business risk). Seseorang yang menginvestasikan
dananya di suatu tempat menghadapi dua kemungkinan. Kemungkinan
pertama

investasinya

menguntungkan

atau

malah

investasinya

merugikan. Resiko yang dihadapi seperti ini adalah resiko spekulatif.

30

Resiko murni
Resiko murni (pure risk) adalah sesuatu yang hanya dapat

berakibat merugikan atau tidak terjadi apa-apa dan tidak mungkin


menguntungkan.

Salah satu contoh adalah kebakaran, apabila

perusahaan menderita kebakaran, maka perusahaan tersebut akan


menderita kerugian.
Kemungkinan yang lain adalah tidak terjadi kebakaran. Dengan
demikian kebakaran hanya menimbulkan kerugian, bukan menimbulkan
keuntungan kecuali ada kesengajaan untuk membakar dengan maksudmaksud tertentu. Resiko murni adalah sesuatu yang hanya dapat
berakibat merugikan atau tidak terjadi apa-apa dan tidak mungkin
menguntungkan. Salah satu cara menghindarkan resiko murni adalah
dengan asuransi.
Dengan demikian besarnya kerugian dapat diminimalkan. itu
sebabnya resiko murni kadang dikenal dengan istilah resiko yang dapat
diasuransikan ( insurable risk ). Perbedaan utama antara resiko spekulatif
dengan resiko murni adalah kemungkinan untung ada atau tidak, untuk
resiko spekulatif masih terdapat kemungkinan untung sedangkan untuk
resiko murni tidak dapat kemungkinan untung.
Kejadian sesungguhnya terkadang menyimpang dari perkiraan.
Artinya ada kemungkinan penyimpangan yang menguntungkan maupun
merugikan. Jika kedua kemungkinan itu ada, maka dikatakan resiko itu
bersifat spekulatif. Sebaliknya, lawan dari risiko spekulatif adalah resiko
murni, yaitu hanya ada kemungkinan kerugian dan tidak mempunyai
kemungkinan keuntungan. Manajer resiko tugas utamanya menangani
risiko murni dan tidak menangani risiko spekulatif, kecuali jika adanya
31

resiko spekulatif memaksanya untuk menghadapi resiko murni tersebut.


Menentukan sumber resiko adalah penting karena mempengaruhi cara
penanganannya.

Sumber resiko dapat diklasifikasikan sebagai resiko

sosial, resiko fisik, dan resiko ekonomi. Biaya-biaya yang ditimbulkan


karena menanggung resiko atau ketidakpastian dapat dibagi sebagai
berikut:

2.4

Biaya-biaya dari kerugian yang tidak diharapkan


Biaya-biaya dari ketidakpastian itu sendiri
Mengidentifikasi Resiko
Pengidentifikasian

resiko

merupakan

proses

analisa

untuk

menemukan secara sistematis dan berkesinambungan atas resiko


(kerugian yang potensial) yang dihadapi perusahaan. Oleh karena itu,
diperlukan

checklist

menentukan

kerugian

untuk

pendekatan

potensial.

Salah

yang

sistematis

dalam

alternatif

sistem

satu

pengklasifikasian kerugian dalam suatu checklist adalah; kerugian hak


milik (property losses), kewajiban mengganti kerugian orang lain (liability
losses) dan kerugian personalia (personnel losses).

Checklist yang

dibangun sebelumnya untuk menemukan resiko dan menjelaskan jenisjenis kerugian yang dihadapi oleh suatu perusahaan.
Perusahaan yang sifat operasinya kompleks, berdiversifikasi dan
dinamis,

maka

diperlukan

metode

yang

lebih

sistematis

untuk

mengeksplorasi semua segi. Metode yang dianjurkan adalah sebagai


berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Questioner analisis resiko (risk analysis questionnaire)


Metode laporan Keuangan (financial statement method)
Metode peta aliran (flow-chart)
Inspeksi langsung pada objek
Interaksi yang terencana dengan bagian-bagian perusahaan
Catatan statistik dari kerugian masa lalu
Analisis lingkungan
32

Dengan mengamati langsung jalannya operasi, bekerjanya mesin,


peralatan, lingkungan kerja, kebiasaan pegawai dan seterusnya, manajer
resiko dapat mempelajari kemungkinan tentang hazard. Oleh karena itu,
keberhasilannya dalam mengidentifikasi resiko tergantung pada kerja
sama yang erat dengan bagian-bagian lain yang terkait dalam
perusahaan.
Manajer resiko dapat menggunakan tenaga pihak luar untuk proses
mengidentifikasikan resiko, yaitu agen asuransi, broker, atau konsultan
manajemen resiko. Hal ini tentunya memiliki kelemahan, di mana mereka
membatasi proses hanya pada resiko yang diasuransikan saja. Dalam hal
ini diperlukan strategi manajemen untuk menentukan metode atau
kombinasi metode yang cocok dengan situasi yang dihadapi.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1

Analisa
Untuk menciptakan lembaga pendidikan yang berkualitas

dan berdaya saing tinggi, tidak cukup hanya mengimplementasikan

33

manajemen operasional, dan manajemen strategi saja, akan tetapi


diperlukan juga manajemen resiko yang baik. Tujuan dari manajemen
resiko adalah untuk memungkinkan bagi organisasi dalam mencapai
tujuan dan objektif (missi) dengan lebih terarah, efisien, dan efektif.
Organisasi mencari jawaban atas tiga pertanyaan. Apakah
tujuan dari organisasi kita? Bagaimana kita memenuhi tujuan
tersebut?

Dan

apa

konsekwensi

bergerak dalam

pemenuhan

pencapaian tersebut bagi tujuan kita? Untuk pertanyaan pertama


adalah dengan menggunakan manajemen strategi, dan pertanyaan
kedua adalah dengan mengguanakan manajemen operasional, dan
untuk pertanyaan ketiga adalah dengan pendekatan manajemen
resiko. Pada intinya kegiatan manajemen resiko adalah menyangkut
beberapa hal yang utama yaitu;
(1) Identifikasi misi,
(2) Penilaian terhadap resiko dan ketidakpastian,
(3) Control terhadap resiko,
(4) Keuangan resiko, dan
(5) Program administrasi.
Identifikasi Misi adalah barisan dari manajemen resiko
sasaran dan tujuan dengan misi organisasi sebagai tugas dari manajer
resiko. Pada bagian proses manajemen resiko mengidentifikasi
hubungan antara manajemen resiko dan tujuan dari organisasi.
Pembentukan dari manajemen resiko sasaran dan tujuan adalah kritis,
untuk melayaninya sebagai dasar dari aktifitas manajemen resiko.
Pada pelaksanaanya, lembaga pendidikan cenderung untuk mengambil
resiko spekulatif. Dalam resiko spekulatif, memungkinkan lembaga untuk
berkreativitas, berinovasi, dan juga ada keuntungan darinya. Untuk itu
dibutuhkan informasi dan komunikasi.

34

Fungsi

dari

manajemen

resiko

adalah

diantaranya

untuk

menurunkan nilai uncertainty dari level satu ke level yang lebih rendah.
Untuk itu dibutuhkan informasi akurat, dan komunikasi yang kredibel.
Tujuan dan sasaran menyediakan ukuran terhadap kesuksesan atau
kegagalan dari program adalah terukur, dan juga determinasi dari filosofi
yang mendasar dari kegiatan manajemen resiko.
Penilaian terhadap resiko dan ketidakpastian. Penilaian resiko dan
ketidakpastian terdiri dari tiga aktifitas yang berhubungan. Pertama, resiko
dan

ketidakpasatian

yang

akan

mempengaruhi

organisasi

harus

diidentifikasi.
Identifikasi dari resiko biasanya ditemani dengan dua hal
identifikasi bahaya (hazard identication) dan identifikasi pembukaan
(exposure

identification).

kondisi

yang

menciptakan

atau

meningkatkan kemungkinan untuk rugi/untung atau rugi/untung dalam


35

jumlah. Identifikasi diikuti dengan analisis. Ini tidak cukup untuk


mengetahui bahwa bahaya, faktor resiko, dan penampakan akan
keberadaan

keuntungan

dan

kerugian.

Manajer

resiko

harus

memahami sifat dari bahaya tersebut, factor resiko, dan pembukaan,


bagaimana mereka datang dan tinggal, dan bagaimana mereka
berinterasi dalam memproduksi keuntungan atau kerugian. Persepsi
mengenai resiko, adalah sebaik ketidakpastian, juga dianalisis, karena
mereka mungkin sangat penting.
Perguruan tinggi juga harus mampu mengelola resikonya
dimulai dari good governance keorganisasian. Sebuah lembaga yang
sehat harus menjalankan prinsip-prinsip: Pengelolaan terencana,
Responsif, Transparan, Taat aturan hukum, Partisipasi, Tanggung
jawab, Efektifitas dan efisien, Adil dan bersifat umum, dan berorientasi
konsensus. Tanpa menjalankan prinsip tata kelola yang baik ini maka
perguruan tinggi swasta terancam menghadapi konflik yang beresiko
mempercepat kemunduran bahkan kehancuran organisasi.
3.2

Kesimpulan
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa manajemen

resiko adalah suatu proses mengidentifikasi, mengukur resiko, serta


membentuk strategi untuk mengelolanya melalui sumber daya yang
tersedia. Konsekwensi dari aktifitas lembaga pendidikan, pasti akan
menghadapi resiko. Resiko tidak bisa dihindari, karena tanpa adanya
resiko artinya tidak akan ada aktifitas. Olehkarena itu dalam
manajemen resiko terdapat prinsip high risk, high return.
Artinya semakin tinggi peluang resiko akibat sebuah
program atau aktifitas organisasi, maka akan semakin besar peluang
bagi lembaga pendidikan untuk mendapatkan keuntungan (return).
Olehkarena itu lembaga-lembaga pendidikan tidak perlu khawatir
terhadap resiko. Hanya perlu mengantisipasi resiko-resiko karena
ketidakpastian mulai dari merumuskan perencanaan organisasi.

36

Manajemen pendidikan dibuat untuk di implementasikan


sebaik-baiknya pada suatu lembaga pendidikan guna meningkatnya
level kesejahteraan kehidupan bangsa dengan ilmu pengetahuan dan
teknologi, agar pendidikan yang ada dapat bersaing pada tantangan
pendidikan global dengan Negara-negara lain, serta mencapai tujuan
pendidikan yang telah ditetapkan, dengan membentuk manusia
berakhlaq mulia yang harus mendapatkan pembinaan mental, moral,
fisik, dan pembinaan artistik yang dibutuhkan untuk pengembangan
Negara Indonesia, dan itu adalah sumber daya manusia yang pintar,
cerdas dan berilmu pengetahuan luas hingga menjadi bangsa yang
berintelektualitas tinggi.
Manfaat mengelola resiko pada lembaga pendidikan Jika
Universitas Pembangunan Panca Budi Medan

mampu mengelola

resiko dengan baik, maka manfaat yang didapatkan adalah sebagai


berikut:
1. Universitas Pembangunan Panca Budi Medan akan terhindar dari
kerugian yang tidak diperlukan, menghemat biaya, terjaminnya
kestabilan proses kegiatan belajar mengajar yang diharapkan, dan
terhindar dari kebangkrutan lembaga pendidikan.
2. Keberlangsungan hidup lembaga pendidikan

lebih

terjamin,

terciptanya daya saing yang berkelanjutan, penggunaan yang terbaik


atas sumber daya lembaga pendidikan, dan memungkinkan bagi
lembaga pendidikan untuk layanan yang terbaik.
3. Proses pelaksanaan kegiatan belajar mengajar terlaksana dengan
baik sesuai rencana, jika terjadi penyimpangan dan gangguan operasi,
lembaga pendidikan dapat langsung mengantisipasinya dengan
mengendalikan resiko secara tepat.
4. Terbangunnya reputasi positif lembaga pendidikan di mata
masyarakat. Lembaga pendidikan dikenal dapat menjalankan amanah
stake holder lembaga pendidikan. Sehingga terbangun positioning
yang baik dalam fikiran masyarakat.
3.3

Saran

37

Untuk menciptakan lembaga pendidikan yang berkualitas dan


berdaya

saing

tinggi,

tidak

cukup

hanya

mengimplementasikan

manajemen operasional, dan manajemen strategi saja, akan tetapi


diperlukan juga manajemen resiko yang baik. Dalam menjalankan proses
sistem pendidikan harus menciptakan lembaga pendidikan yang berdaya
saing unggul yaitu dengan kualitas, organisasi yang sehat, akuntabilitas,
otonomi, akreditasi, dan evaluasi diri.
Universitas Pembangunan Panca Budi Medan perlu membangun
suatu model atau sistem informasi yang akurat. Terlebih saat ini dapat
dimudahkan dengan fasilitas computer dan jaringan, sehingga informasi
dapat diakses dengan cepat dan tepat.

38