Anda di halaman 1dari 36

HUKUM ISLAM Prof. H. Mohammad Daud Ali, S.H.

RESUME
HUKUM ISLAM
Prof. H. Mohammad Daud Ali, S.H.
Dosen : Drs. H.Munawar Rois., M.Pd
Di Susun Oleh :
Agus Syahryal
NPM : 01020201090161

PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SURYAKANCANA CIANJUR
Kampus : Jl. Pasir Gede Raya Telp. (0263) 270106 268672 Cianjur 43216

BAB 1
PENDAHULUAN, ISLAM, DAN HUKUM ISLAM
PENDAHULUAN : HUKUM ISLAM DALAM KURIKULUM FAKULTAS HUKUM
Hukum islam dalam kurikulum fakultas hukum yang isinya tentang apa sebabnya
kurikulum tentang hukum islam ada dalam kurikulum fakultas hukum? Ada beberapa
alasannya yaitu; pertama karena alasan sejarah, hukum islam atau yang mereka sering sebut
Mohammedaansch Recht diajarkan disemua sekolah tinggi (fakultas) hukum yang didirikan
oleh pemerintah Belanda zaman dahulu, akan tetapi nama tersebut tidak tepat dengan hukum
islam sebab berbeda dengan hukum- hukum lainnya. Hukum islam adalah hukum yang
bersumber dari agama islam yang berasal dari Allah Tuhan Yang Maha Esa. Yang kedua
karena alasan penduduk, menurut sensus hampir 90% penduduk Indonesia mengaku
beragama Islam ini berati mayoritas memeluk agama islam kalau dibanding negara lain,
penduduk agama islam yang terbanyank adalah di Indonesia, oleh karena itu selalu dibekali
dengan pengetahuan keislaman baik mengenai lembaga maupun hukumnya yang tumbuh dan
berkembang didalam masyarakat muslim di Indonesia. Ketiga karena alasan Yuridis, ditanah
air kita hukum islam berlaku secara normative dan secara formal yuridis. Yang berlaku secara
normative adalah hukum islam yang mempunyai sanksi kemasyarakatan apabila norma-

normanya dilanggar, sedangkan secara formal yuridis adalah hukum islam yang mengatur
hubungan manusia dengan manusia lain dan benda dalam hubungan masyarakat. Yang ke
empat alasan konstitusional, dalam bab agama alasan ini tercantum dalam pasal 29 ayat 1
UUD 1945 dinyatakan bahwa negara republic Indonesia berdasarkan ketuhanan yang maha
esa merupakan dasar kehidupan hukum bidang keagamaan. Yang kelima alasan ilmiah, secara
ilmiah bukan halnya orang- orang islam sendiri tetapi orang-orang non muslim juga
mempelajari hukum islam.

ISLAM
Sebelum kita bicara tentang hokum islam yang menjadi pusat perhatian kajian ini,
terlebih dahulu kita harus mengetahui makna islam yang menjadi induk atau sumber hukum
islam itu sendiri. Dalam system hukum islam, selain dengan agama atau iman, hukum jg
tidak boleh dicerai pisahkan dari kesusilaan atau akhlak. Islam sendiri mempunyai pedoman
yaitu Al-Quran, orang yang secara bebas telah memilih untuk patuh dalam makna
menyesuaikan kehendaknya dengan kehendaknya dengan kehendak Allah disebut muslim.
Sejak diturunkan, islam terus menerus didasarkan dan memusatkan kepada perhatian Tuhan,
ia didasarkan pada tauhid (keesahan Tuhan). Hal- hal yang tidak dapat dipisahkan antara lain:
spiritual (kerohanian), material (kebendaan) religious (keagamaan) dengan provan
(keduniawian) didalam segala bidang.
Kerangka Dasar Agama dan Ajaran Islam
Kerangka dasar agama dan ajaran islam juga perlu dijelaskan disini, yang perlu
dipahami ialah agama islam bersumber dari wahyu (Al-Quran) dan sunah (Hadits), ajaran
islam bersumber dari rayu (akal pikiran). Dengan mengikuti sistematik iman, islam, dan
ihsan yang berasal dari hadits Nabi Muhammad, kerangka dasr agama islam, seperti sudah
disinggung diatas terdiri dari: akidah, syariah dan akhlak. Pada komponen syariah dan
akhlak ruang lingkupnya jelas mengenai ibadah, muammalah dan sikap terhadap khalik
(Allah) serta makhluk. Pada komponen akidah ruang lingkup itu akan tampak pula jika
dihubungkan dengan iman kepada Allah dan para nabi serta rasul-Nya.
HUKUM ISLAM
Hukum islam adalah hukum yang bersumber dari dan menjadi bagian agama islam,
sebagai system hukum ia mempunyai beberapa istilah yaitu hukum, hukm, ahkam, syariah
atau syariat dan fiqih atau fikh dan istilah- istilah lainnya.

Hukum
Dalam konsep hukum Barat, hukum adalah peraturan yang sengaja dibuat oleh
manusia untuk mengatur kepentingan manusia dlm masyarkat tertentu.
Hukm dan Ahkam
Menurut konsepsi hukum Islam, yang dasar dan kerangka hukumnya ditetapkan oleh
Allah, hukum (bahasa Arab: hukm, jamak: ahkam) itu tidak hanya mengatur hubungan
manusia dengan manusia lain dan benda dalam masyarakat, tetapi juga hubungan hubungan

manusia dengan Tuhan (Allah), hubungan manusia dengan diri sendiri, hubungan manusia
dengan benda dalam masyarakat serta alam sekitar.
Interaksi manusia dalam berbagai tata hubungan diatur oleh seperangkat ukuran
tingkah laku yang disebut hukm, jamak: ahkam.
Hukm adalah patokan, tolok ukur, ukuran atau kaidah mengenai perbuatan atau benda. Dalam
sistem hukum Islam ada lima (5) hukum atau kaidah yang digunakan sebagai patokan
mengukur perbuatan manusia baik di bidang ibadah maupun muamalah. Kelima jenis kaidah
tersebut disebut al-ahkam al-khamsah atau penggolongan yang lima, yaitu: (1) jaiz atau
mubah atau ibahah, (2) sunnat, (3) makruh, (4) wajib, dan (5) haram.
Penggolongan hukum ini disebut juga hukum taklifi yakni norma atau kaidah hukum
Islam yang mungkin mengandung kewenangan terbuka yaitu kebebasan memilih untuk
melakukan atau tidak melakukan sesuatu perbuatan, disebut jaiz atau mubah. Hukum taklifi
mengandung anjuran untuk dilakukan karena jelas manfaatnya (sunnat) mungkin juga
mengandung kaidah yang seyogyanya tidak dilakukan karena jelas tidak berguna (makruh)
mungkin juga mengandung perintah yang wajib dilakukan (fardhu atau wajib) dan
mengandung larangan untuk dilakukan (haram).
Syariat
Dilihat dari segi ilmu hukum, syariat merupakan norma hukum dasar yang ditetapkan
Allah, yang wajib diikuti oleh orang Islam berdasarkan iman yang berkaitan dengan akhlak,
baik dalam hubungannya dengan Allah maupun dengan sesama manusia dan benda dalam
masyarakat. Norma hukum dasar ini dijelaskan lebih lanjut oleh Nabi Muhammad sebagai
Rasul-Nya. Menurut sunnah qauliyah Nabi Muhammad, umat Islam tidak pernah akan sesat
dalam perjalanan hidupnya selama mereka berpegang teguh atau berpedoman kepada AlQuran dan Sunnah Rasul.
Norma hukum dasar didalam al-Quran dan sunnah Nabi Muhammad masih bersifat
umum, ini perlu dirinci lebih lanjut yaitu dalam ilmu fikih. Ilmu fikih adalah ilmu yang
berusaha mempelajari atau memahami syariat dengan memusatkan perhatian pada perbuatan
manusia mukallaf. Orang yang paham tentang ilmu fikih disebut fakih, jamak fukaha.
Fikih
Ilmu fikih adalah ilmu yang bertugas (berusaha) memahami/ menentukan dan
menguraikan norma-norma hukum dasar yang terdapat didalam Al-Quran dan ketentuan
umum yang terdapat dalam Sunnah Nabi Muhammad yang direkam dalam kitab-kitab hadist,
untuk diterapkan pada perbuatan manusia yang telah dewasa yang sehat akalnya (mukallaf),
yang berkewajiban melaksanakan hukum Islam.
Hasil pemahaman tentang hukum Islam disusun secara sistematis dalam kitabkitabfikih.
Contoh :
Hukum fikih Islam karya H. Sulaiman Rasyid, Al Um artinya kitab induk karya Mohammad
Idris as-Syafii, dialihbahasakan oleh Tengku Ismail Yakub. Dalam kepustakaan hukum Islam
berbahasa Inggris syariat Islam disebut Islamic Law, sedangfikih Islam disebut Islamic
Jurisprudence. Didalam bahasa Indonesia untuk syariat Islam sering digunakan kata-kata
hukum syariat atau hukum syara, untuk fikih Islam digunakan istilah hukum fikih.
Syariat adalah landasan fikih, fikih adalah pemahaman tentang syariat. Didalam AlQuran Surah al-Jatsiah (45) ayat 18, surat at-Taubah (9) ayat 122 terdapat perkataan syariah
dan fikih

Pada pokoknya perbedaan antara keduanya adalah sebagai berikut :


1. Syariat.
Terdapat dalam al-Quran dan Kitab-kitab Hadis.
Fikih terdapat dalam kitab-kitab fikih.
2. Syariat bersifat fundamental dan mempunyai ruang lingkup yang lebih luas. Fikih bersifat
instrumental, ruang lingkupnya terbatas.
3.
Syariat adalah ketetapan Allah dan ketentuan rasul-Nya, karena itu berlaku abadi;
fikih adalah karya manusia yang tidak berlaku abadi, dapat berubah dari masa ke masa.
4.
Syariat hanya satu, sedang fikih mungkin lebih dari satu.
5.
Syariat menunjukkan kesatuan dalam Islam, sedang fikih menunjukkan
keragamannya.
Hukum fikih, sebagai hukum yang diterapkan pada kasus tertentu dalam keadaan
konkrit, mungkin berubah dari masa ke masa dan mungkin pula berbeda dari satu tempat ke
tempat lain. ini sesuai dengan ketentuan yang disebut juga dengan kaidah hukum fikih yang
menyatakan bahwa perubahan tempat dan waktu menyebabkan perubahan hukum. Perubahan
tempat dan waktu yang menyebabkan perubahan hukum itu, dalam sistem hukum Islam
disebutillat (latar belakang yang menyebabkan ada atau tidak adanya hukum atas sesuatu
hal). Kesimpulan bahwa hukum fikih itu cenderung relatif, tidak absolut seperti hukum
syariat yang menjadi sumber hukum fikih itu sendiri. Sifatnya zanni yakni sementara belum
dapat dibuktikan sebaliknya, ia cenderung dianggap benar. Sifat ini terdapat pada hasil karya
manusia dalam bidang apapun juga.
Berlawanan dengan hukum fikih yang semuanya bersifat zanni (dugaan), hukum
syariat ada yang bersifat pasti. Yang pasti, karena itu berlaku absolut, disebut qathi, seperti
misalnya ayat-ayat al-Quran yang menentukan kewajiban shalat, zakat, puasa, haji dan ayatayat kewarisan. Juga sunnah Nabi yang mewajibkan manusia menuntut ilmu pengetahuan.
Contoh :
Hukum syariat membolehkan perceraian, para ahli hukum (fikih) Islam tidak boleh
menggariskan ketentuan hukum fikih yang melarang perceraian. Hukum syariat menentukan
bahwa wanita dan pria sama-sama menjadi ahli waris dari almarhum orangtua dan
keluarganya. Hukum fikih tidak boleh merumuskan ketentuan yang menyatakan bahwa
wanita tidak berhak menjadi ahli waris.
Hukum Islam, baik dalam pengertian syariat maupun dalam pengertian fikih, dapat
dibagi dua :
(1) bidang ibadah dan
(2) bidang muamalah.
Tata cara berhubungan dengan Tuhan melaksanakan kewajiban sebagai seorang
muslim dalam mendirikan (melakukan) salat, mengeluarkan zakat, berpuasa selama bulan
Ramadhan dan menunaikan ibadah haji, termasuk dalam kategori ibadah. Mengenai
(1) ibadah yakni cara dan tata cara manusia berhubungan langsung dengan Tuhan, tidak
boleh ditambah-tambah atau dikurangi. Sifatnya tertutup, yakni semua perbuatan ibadah
dilarang kecuali perbuatan yang dengan tegas di suruh.
Mengenai (2) muamalah dalam pengertian yang luas, terbuka sifatnya untuk
dikembangkan melalui ijtihad manusia yang memenuhi syarat untuk melakukan usaha itu.
Dalam soal muamalah berlaku asas umum, semua perbuatan boleh dilakukan, kecuali ada
larangan didalam al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad.

Contoh, misalnya larangan membunuh, mencuri, merampok, berzina, menuduh orang lain
melakukan perzinaan, meminum minuman yang memabukkan (mabuk), memakan riba.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Ruang Lingkup Hukum Islam


Adapun bahasan tentang ruang lingkup Hukum Islam , yang membandingkan Hukum
Islam bidang muamalah dengan hukum barat yang membedakan tentang hukum privat
(hukum perdata) dengan hukum hukum publik .
Ciri-ciri hukum islam
Ciri-ciri hukum islam itu sendiri adalah :
Merupakan bagian dan bersumber dari agama islam
Mempunyai hubungan yang erat dan tidak dapat dipisahkan dari iman atau akidah dan
kesusilaan atau akhlaq islam.
Mempunyai dua istilah kunci yakni syariat dan fiqih
Terdiri dari dua bidah utama yakni ibadah dan muamalah
Strukturnya berlapis
Mendahulukan kewajiban dari hak , amal dari pahala
Dapat dibagi menjadi dua hukum taklifi dan hukum wadhi
Hukum Islam dan Hak Asasi Manusia
Hukum islam dibandingkan dengan pandangan atau pemikiran barat tentang hak asasi
manusia. perbedaan itu barat memandang hak asasi manusia semata-mata antroposentris
sedangkan menurut pandangan hukum islam yang bersifat teoritis.

Salah Paham Terhadap Islam dan Hukum Islam


kesalahpahaman terhadap islam disebabkan karena banyak hal, namun yang relevan
pada kajian ini yaitu :
1. Salah memahami ruang lingkup ajaran
2. Salah menggambarkan kerangka dasar ajaran islam
3. Salah menggunakan metode mempelajari islam.

BAB 2
SUMBER, ASAS-ASAS HUKUM ISLAM DAN AL-AHKAM AL-KHAMSAH
PENGERTIAN SUMBER HUKUM ISLAM
Pengertian sumber hukum islam adalah asal atau tempat pengambilan hukum islam
dari hadits Muaz bin jabal dapat disimpulkan sumber hokum islam ada tiga yaitu Al-Quran,
As-sunnah, dan akal pikiran manusia yang memenuhi syarat untuk berijtihad, karena
pengetahuan dan pengalamannya dengan menggunakan jalan atau cara antara lain ijmak,
qiyas, istidal, al-mursalih, al-mursalah, istihan, istisab dan urf.
SUMBER-SUMBER HUKUM ISLAM
Al-Quran
Al-Quran adalah sumber agama (juga ajaran) Islam yang pertama dan utama. AlQuran adalah kitab suci yang memuat firman-firman Allah, sama benar dengan yang
disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad sebagai Rasul Allah sedikit demi
sedikit selama 22 tahun 2 bulan 22 hari, mula-mula di Makkah kemudian di Madinah.
Tujuannya, untuk menjadi pedoman atau petunjuk bagi umat manusia dalam hidup dan
kehidupannya mencapai kesejahteraan di dunia ini dan kebahagiaan di akhirat kelak.
Alquran adalah kitab yang pali ng banyak dibaca bahkan di hafal oleh manusia,
Menurut para ahli, pada garis besarnya Alquran memuat soal-soal yang berkenaan dengan:
1. Aqidah
2. Syariah baik
3. Akhlaq dalam semua ruang lingkupnya

a.
b.
4.
5.
6.

Ibadah, maupun
Muammalah
Kisah-kisah ummat manusia masa lalu
Berita-berita tentang zaman yang akan dating
Benih atau prinsip ilmu pengetahuan.
Menurut peneliti para ahli, ayat-ayat Alquran yang berkenaan dengan ibadah dan ayatayat hukum yang berkenaan dengan keluarga pada umumnya adalah jelas dan pasti, karena
sifatnya taabudy harus diikuti apa adanya. Hukum keluarga, temasuk hukum perkawinan dan
kewarisan didalamnya, juga terinci dan jelas dalam alquran. Jumlahnya pun lebih banyak
(70ayat) dari hukum-hukum lainya, misalnya hukum tata Negara (10 ayat) dan hukum
Internasional (25 ayat).Mengenai kelompok hukum-hukum muammalah tersebut terakhir ini,
yaitu hukum-hukum perdata (70 ayat), pidana (30 ayat), tata Negara (10 ayat), ekonomi
keuangan (10 ayat), hokum acara (13 ayat), ketentuanketentuanya bersifat dasar dan umum,
disebabkan kaedah hukum-hukum fundamental itu bersifat terbuka dan taaquly (dapat di
pikirkan) di kembangkan oleh manusia dan rumuskan seiring waktu perkembangan
masyarakat.
Menurut surat Al-imron ayat 7, ayat Alquran ada yang (a) muhkam ada pula yang
(b)muatasyabih. Ayat muhkam adalah ayat yang memuat ketentuan-ketentuan pokok yang
jelas artinya, dapat dipahami dengan mudah oleh orang yang mempelajarinya. Sedangkan
ayat mutasyabih adalah ayat perumpamaan yang mengandung kiasan, yang dapat dipahami
oleh orang yang ahli dalam ilmu Alquran.
Alquran yang menjadi sumber nilai dan norma ummat Islam itu terbagi dalam 30 juz,
114 surat, lebih dari 6000 ayat, 74.499 kata atau 325.345 huruf. Menurut keputusan Mentri
Agama tanggal 6 Desember 1946, ayat Alquran pertama ditrunkan kepada Nabi Muhammad
ketika beliau berumur 40 tahun, terjadi pada tanggal 17 romadlon bertepatan dengan 6 Agutus
610 M.
As-Sunnah atau Al-Hadits
As-Sunnah atau Al-Hadits adalah sumber hukum islam yang kedua setelah Alquran,
berupa perkataan, perbuatan dan sikap diam Rasul yang tercatat dalam kitab-kitab hadits.
Oleh karena pentingnya kedudukan sunnah sebagai sumber nilai dan norma hukum
Islam, terjadilah gerakan untuk mencatat dan mengumpulkan Sunnah nabi yang di sampaikan
secara turun menurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Muncullah kemudian satu
disiplin ilmu tersendiri mengenai ini yang di sebut dengan istilah Ulum Al-Hadist yang mana
sekarang dengan kumpulan ini di buat menjadi sebuah kitab dan menjadi pedoman ummat
Islam sebagai sumber hokum Islam yang kedua setelah Alquran yang kedudukanya sebagai
penjelas dan penegas Alquran.
ASAS-ASAS HUKUM ISLAM
Pengertian Asas
Pengertian asas itu sendiri adalah kebenaran yang digunakan sebagai tumpuan dan
alasan,pendapat, terutama, dalam penegakan dan pelaksanaan hukum. Asas hukum pada
umumnya berfungsi sebagai rujukan untuk mengembalikan segala masalah yang berkenaan
dengan hokum.

Asas-Asas Umum
(1) Asas keadilan,

(2) Asas kepastian kepastian hukum, dan


(3) Asas kemanfaatan.
Asas-Asas dalam Lapangan Hukum Pidana
(1) Asas legalitas,
(2) Asas larangan memindahkan kesalahan pada orang lain,
(3) Asa praduga tidak bersalah.
Asas-Asas dalam Lapangan Hukum Perdata
(1) Asas kebolehan atau mubah,
(2) Asas kemaslahatan hidup,
(3) Asas kebebasan dan kesukarelaan,
(4) Asas menolak mudarat, mengambil manfaat
(5) Asas kebajikan,
(6) Asas kekeluargaan,
(7) Asas adil dan berimbang
(8) Asas mendahulukan kewajiban dari hak,
(9) Asas larangan merugikan diri sendiri dan orang lain,
(10) Asas kemampuan berbuat,
(11) Asas kebebasan berusaha,
(12) Asas mendapatkan hak karena usaha dan jasa,
(13) Asas perlindungan hak,
(14) Asas hak milik berfungsi social
(15) Asas yang beritikad baik harus dilindungi,
(16) asas resiko dibebankan pada benda atau harta, tidak pada tenaga atau pekerja
(17) Asas mengatur, sebagai petunjuk, dan
(18) Asas perjanjian tertulias atau diucapkan didepan saksi.

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)

Asas-Asas Hokum Perkawinan


Kesukarelaan,
Persetujuan kepada kedua belah pihak,
Kebebasan memilih,
Kemitraan suami-istri,
Untuk selama- lamanya dan,
Monogamy terbuka,
Asas-Asas Hukum Kewarisan
Ijbari (wajib melaksanaan),
Bilateral,
Individual,
Keadilan berimbang,
Akibat kematian
AL- AHKAM AL- KHAMSAH
Mengenai Al-Ahkam, al-Khamsah merupakan lima macam kaidah atau lima macam
kategori penilaian mengenai benda dan tingkah laku manusia dalam islam. Menurut system
al-ahkam al-khamsah ada lima kemungkinan penilaian mengenai benda atau perbuatan

manusia. Penilaian itu, menurut Hazairin, mulai dari jaiz atau mubah di lapangan kehidupan
pribadi atau muamalah atau kehidupan social. Jaiz adalah ukuran penilaian bagi perbuatan
dalam kehidupan kesusilaan (akhlak atau moral) pribadi. Kalau mengenai benda, misalnya
makanan, disebut halal (bukan jaiz); sunnat dan makruh adalah penilaian bagi hidup
kesusilaan (akhlak atau moral) masyarakat, wajib dan haram adalah ukuran penilaian atau
kaidah atau norma bagi lingkungan hukum duniawi.

BAB 3
SEJARAH PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN HUKUM ISLAM

I.
II.
III.
IV.
V.

TAHAP-TAHAP PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN


Pada umumnya tahap pertumbuhan dan perkembangan hukum islam adalah 5 masa
berikut ini:
Masa Nabi Muhammad (610 M XIX M)
Masa Khulafa Rasyidin (632 M 662 M)
Masa pembinaan, Pengembangan dan Pembukuan (abad VII X M)
Masa kelesuan Pemikiran (abad X M XIX M)
Masa Kebangkitan Kembali (abad XIX M sampai sekarang)
MASA NABI MUHAMMAD (610 M 632 M)
Agama islam sebagai induk hukum islam muncul di semenanjung arab, di suatu
daerah tandus yang dikelilingi oleh laut pada ketiga sisinya dan lautan pasir pada sisi
keempat. Daerah ini adalah daerah yang sangat panas, ditengah gurun pasir yang amat luas
yang mempengaruhi cara berpikir orang-orang Badui yang tinggal ditempat itu. Perjuangan
memperoleh air dan padang rumput merupakan sumber-sumber perselisihan antar mereka.

Dan karena itu pula mereka hidup dalam klen-klen yang disusun berdasarkan garis
patrilineal, yang saling bertentangan (Philip K. Hitti, 1970 : 13-16). Klen dipimpin oleh
seorang yang diberi gelar Sayyid atau syaikh yang dipilih berdasarkan keahlian, keberanian
atau kearifannya. Kepala klen berfungsi sebagai abritatornya. Pada masa ini wanita hanya
dibebani kewajiban tanpa imbalan hak sama sekali. (Philip K. Hitti 1970 :23). Karena itu
pula, kalau lahir anak perempuan dalam satu rumah tangga, seluruh keluarga menjadi malu
karena melahirkan anak yang kelak tidak bisa mempertahankan nama klennya. Demikian
rendahnya kedudukan wanita pada masa itu sehingga laki- laki dengan mudah mengucapkan
satu dua patah kata saja untuk menceraikan istrinya.sejak dahulu sampai sekarang kedudukan
kota Makkah sangat penting dalam kehidupan manusia. Disamping ia terletak persimpangan
jalan perdagangan transito seperti dikemukakan diatas, disana juga terdapat rumah suci yang
disebut Baitullah atau Kabah yang sengaja dibuat untuk tempat manusia tawaf: berjalan
mengelilingi kabah dengan tubuh bagian kiri berada di arah kabah.

1.
2.
3.
4.

MASA KHULAFA RASYIDIN (632 M 663 M)


Dengan wafatnya Nabi Muhammad berhentilah wahyu selama 22 tahun 2 bulan 22
hari, yang beliau terima melalui malaikat jibril baik waktu beliau masih berada dimekah
maupun setelah hijrah ke Madinah. Demikian juga halnya dengan sunnah berakhir pula
meninggalnya rosulluloh itu. Kedudukan Nabi Muhammad sebagai utusan Tuhan tidak
mungkin diganti tetapi tugas beliau sebagai pemimpin masyarakat islam dan kepala negara
harus dilanjutkan oleh orang lain. Pengganti nabi Muhammad sebagai kepala negara dan
pemimpin umat islam ini disebut Khalifah, suatu kata yang dipinjam dari Al- Quran (surat
2 : 30). Pengangkatan seorang Khalifah dapat terjadi : (1). Dengan persetujuan masyarakat
sebagaimana yang terjadi dalam kasus Abu Bakar, atau dengan (2) penunjukan khalifah
sebelumnya seperti dalam kasus umar.
Untuk menggantikan kedudukan Nabi Muhammad sebagai pemimpin umat dan
kepala negara, dipilah seorang pengganti yang disebut kalangan khalifah dari kalangan
sahabat nabi itu sendiri ( sahabat Nabi artinya orang yang hidup semasa dengan, menjadi
teman atau kawan Nabi Muhammad dalam menyebar luaskan ajaran islam). Masa
pemerintahan khulafaur rasydin ini sangat penting dilihat dari perkembangan hukum islam
dijadikan model atau contoh oleh generasi-generasi berikutnya, terutama generasi ahli hukum
islam dijaman mutakhir ini, tentang cara mereka menemukan dan menerapkan hukum islam
pada waktu itu. Ada 4 sahabat nabi yang terpilih menjadi khulafaur rasidin yaitu :
Abu Bakar Sidiq. Beliau adalah ahli hukum yang tinggi mutunya, Ia memerintah dari tahun
632 M sampai 634 M.
Umar bin khattab, peerintahannya berlangsung dari tahun 634 M sampai tahun 644 M.
Usman bin Affan, pemerintahannya berlangsung dari tahun 644 M sampai 656 M.
Ali bin Abithalib, pemerintahannya berlangsung dari tahun 656 M samapai tahun 662 M.
MASA PEMBINAAN, PENGEMBANGAN DAN PEMBUKUAN (abad VII-X M)
Disamping periode Nabi Muhammad dan periode Khulafaurasidin terdapat juga
periode pembinaan pengembangan dan pembukuan hukum fiqih perode tersebut berlangsung
lebih kurangnya 250 lamanya, dimulai pada bagian ke dua abad VII-X masa ini berlangsung
pada pemerintahan khalifah umayah (662-750) dan khalifah abasiyah (750-1258). Hukum
Fiqih islam sebagai salah satu aspek kebudayaan islam mencapai puncak perkembangannya
dizaman khalifah abasiyah dan memerintah kurang lebih 500 tahun. Dimasa inilah (1) lahir
para ahli hukum islam yang menemukan dan merumuskan garis-garis huum fiqih islam serta

(2) muncul berbagai teori hukum yang masih dianut dan dipergunakan oleh umat islam
sampai sekarang.

1.
2.
3.
4.

MASA KELESUAN PEMIKIRAN (ABAD X-XI -XIX M)


Sejak permulaan abad IV hijriah atau kea bad ke X-XI M, ilmu hukum islam mulai
berhenti berkembang terjadi diakhir pemerintahan atau dinasti abasyah, pada masa ini para
ahli hukum hanya mebatasi diri mempelajari pikiran-pikiran para ahli sebelumnya yang telah
dituangkan kedalam buku berbagai mazhab. Factor-factor yang menyebabkan kemunduran
atau kelesuan pemikiran hukum islam dimasa itu adalah sebagai berikut
Kesatuan wilayah islam yang luas telah retak dengan munculnay beberapa negara baru baik
di Eropa, Afrika utara, di kawasan timur tengah dan Asia.
Ketidak stabilan politik menyebabkan pula ketidak stabilan kebebasan berpikir
Pecahnya kesatuan kenegaraan/pemerintahan itu menyebabkan merosotnay pula kewibawaan
dan pengendalian perkembangan hukum.
Timbulah gejala kelesuan berpikir dimana-mana.

MASA KEBANGKITAN KEMBALI ( ABAD KE XIX SEKARANG )


Setelah megalami kelesuan, kemunduran beberapa abad lamanya, pemikiran islam
bangkit kembali ini terjadi pada bagian kedua abad ke XIX. Kebangkitan kembali pemikiran
islam timbul sebagai reaksi terhadap sikap taklit tersebut diatas yang telah membawa
kemunduran hukum islam. Sebagai reaksi terhadap sikap taklit diatas sesungguhnya pada
periode kemunduran itu sendiri telah muncul beberapa ahli yang ingin tetap melakukan
ijtihad, untuk menanggung persoalan-persoalan dan perkembangan masyarakat. Zaman
kebangkitan pemikiran hukum islam ini dilanjutkan sekarang dengan system baru dalam
mempelajari dan menulis hukum islam. Dahulu studi hukum islam hanya terbatas pada
pemikiran yang terdapat pada salah satu mazhab saja, kini keadaannya telah berubah.
Diindonesia atas kerjasama mahkamah agung dengan departemen agama telah
dikomplikasikan hukum islam tentang perkawinan pewarisan dan perwakafan. Kompilasi ini
telah disetujui oleh para ulama dan ahli hukum islam pada bulan februari 1988 dan tahun
1991 telah diberlakukan umat islam Indonesia yang menyelesaikan sengketa mereka
diperadilan agama (salah satu unsur kekuasaan kehakiman ditanah air kita) sebagai hukum
terapan.

BAB 4
HUKUM ISLAM DI INDONESIA

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Sistem hokum Indonesia adalah system hokum yang mejemuk, karena di tanah air
kita berlaku berbagai system hokum adat, islam dan barat, untuk itu akan membicarakan
Hukum adat, hukum islam dan hukum barat,
Hubungan hukum adat dengan hukum islam,
Hukum islam dalam tata hukum indonesia
Hukum islam dan pembinaan hukum nasional
Peradilan agama
Kompilasi hukum islam.
HUKUM ADAT, HUKUM ISLAM DAN HUKUM BARAT
Keadaannya ketiga system hukum tersebut telah berlaku diindonesia, walaupun
keadaan saat berlakunya tidaklah sama. Hukum Adat telah lama berlaku di tanah air kita,
hukum islam baru dikenal di indoesia setelah agama islam disebarkan dianah air kita.
Sedangkan hukum barat diperkenalkan diindonesia bersamaan dengan kedatangan orangorang belanda dinusantara ini.
Bentuknya pada dasarnay Hukum Adat adalah hukum yang tidak tertulis. Yang
tumbuh, berkembang dan hilang sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan
masyarakat.Hukum islam tidak tertulis dalam peraturan perundang-undangan, melainkan
hukum yang bersumber dan disalurkan dari hukum syriat islam yang terdapat dalam AlQuran dan sunnah nabi Muhammad.
Tujuannya Hukum Adat untuk menyelenggarakan kehidupan masyarakat yang aman,
tentram dan sejahtera. Hukum islam bertujuan untuk mekasanakan perintah dan kehendak
Alloh SWT serta menjauhi larangannya. Sedangkan hukum barat manusia akan mencapai
kebahagiaan hidup didunia akhirat.
Sumber ketiga hukum tersebut dapat dikategorika lagi kedalam 1) sumber pengenal,
2) sumber isi 3) sumber pengikat.
Struktur, yang dimaksud dengan struktur dalam hubungan pembicaraan ini adalah
tumpukan logis lapisan-lapisan yang ada pada system hukum yang bersangkutan. Dalam
hukum adat minangkabau misalnya ada teori struktur menurut pandangan ahli-ahli adat
setempat.hukum adat dapat dibagi menjadi 2 yaitu adat nan sabana adat (adat yang sebenarbenarnya) dan adat pusaka.
Lingkup masalah, ysng diatur dalam ketiga hukum tersebut berbeda, sedangkan
hukum adat dengan hukum barat pada dasarnya ruang lingkupnya mempunyai kesamaan
karena keduanya hanya mengatur hubungan antara mansia dengan manusia dan
masyarakat.sedangkan hukum islam tidak hanya manusia dengan masyarakat tetapi juga
mengatur hubungan manusia dengan Alloh SWT.
Sedangkan mengenai pembidangan ketiga system hukum dapat dikemukakan hal-hal
berikut yaitu hukum adat yang mengenal asas asas kerukuna, kepatutan, keselarasan, dalam
pergaulan dan yang bersifat religio magis, tidak mengenal pembidangan hukum perdata dan
hukum publikseperti halnya dengan hukm barat.
Mengenai hak dan kewajiban, yang akan dibandingkan hanyalah hukum islam dengan
hukum barat. Dalam system hukum islam kewajiban telah diutamakan dari hak, sedang dalam
hukum barat hak didahulukan dari kewajiban.

1.
2.
3.
1.
2.
3.
4.
5.

Adapun norma atau kaidah hukum, dalam system hukum barat yang berasal dari
hokum Romawi, dikenal tiga norma atau kaidah yaitu
Impere (perintah)
Prohibire (larangan),
Permittere (yang dibolehkan) .
Dalam hukum islam juga terdapat lima macam kaidah adalah
Fard (kewajiban),
Sunnat (anjuran),
Jaiz atau mubah atau ibahah (kebolehan)
Makruh (celaan) dan
Haram (larangan).

HUBUNGAN HUKUM ADAT DENGAN HUKUM ISLAM


Hubungan hukum islam dengan hukum adat sangatlah akrab artinya hukum islam
dengan hukum adat tidak dapat tidak bisa dicerai pisahkan karena erat sekali hubungannya
seperti hubungan zat dengan sifat sesuatu barang atau benda. Misalnya di minangkabau,
Sulawesi Selatan dan Jawa yang hubungan hukum adat dan hukum islamnya sangat erat.
Sementara itu perlu dicatat bahwa setelah Indonesia merdeka, khususnya di alam
Minangkabau telah berkembang pula suatu ajaran yang mengatakan hukum islam adalah
penyempurnaan hukum adat.

1.
2.
3.
4.

KEDUDUKAN HUKUM ISLAM DALAM TATA HUKUM INDONESIA


Selain itu kedudukan hukum islam dalam tata hukum Indonesia, sebagai akibat dari
perkembangan sejarahnya bersifat majemuk. Disebut seperti itu karena sampai sekarang
didalam negara republik Indonesia berlaku beberapa system hukum yang mempunyai corak
dan susunan sendiri. Yang dimaksud adalah system hukum adat, sitem hukum islam, system
hukum barat, jadi kini di Indinesia :
Hukum islam yang disebut dan ditentukan oleh peraturan perundang-undangan dapat berlaku
langsung tanpa harus melalui hukum adat
Republik Indonesia dapat mengatur sesuatu masalah sesuatu dengan hukum islam, sepanjang
pengaturan itu hanya berlaku bagi pemeluk agama islam.
Kedudukan hukum islam dalam system hukum Indonesia adalah sama dan sederajat dengan
hukum adat dan hukum barat
Hukum islam juga menjadi sumber pembentukan hukum nasional yang akan datang di
samping hukum adat, hukum barat dan hukum lainnya yang tumbuh dan berkembang dalam
negara republik Indonesia.
HUKUM ISLAM DAN PEMBINAAN HUKUM NASIONAL
Pada bab ke IV ini juga membahas mengenai hukum islam dan pembinaan hukum
nasional, dimana hukum islam itu sendiri adalah hukum yang bersifat universal, karena ia
merupakan bagian dari agama islam yang universal sifatnya. Sedangkan untuk membangun
dan membina hukum nassional diperlukan politik hukum tertentu.politik hukum nasional
Indonesia pokok-pokoknya ditetapkan dalam garis-garis besar haluan negara, yang dirinci
lebih lanjut oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia. Untuk melaksankannya, kini
didirikan satu lembaga yang disingkat BPHN (Badan Pembinaan Hukum Nasional).

SKETSA PERADILAN AGAMA


Selanjutnya dibahas pula mengenai sketsa peradilan agama. Penegrtian peradilan
agama itu sendiri adalah proses pemberian keadilan berdasarkan hukum agama islam kepada
orang-orang islam yang dilakukan di pengadilan agama da peradilan tinggi agama.disamping
peraddilan umum, peradilan militer, peradilan tata usaha negara, merupakan salah satu
pelaksanaan kekuasaan kehakiman dalam republik Indonesia. Sebagai lembaga peradian,
peradilan agama dalam bentuknya sederhana berupa tahkim yaitu lembaga penyelesaian
sengketa antara oaring-orang islam yang dilakukan oleh para ahli agama, telah lama ada
dalam masyarakat Indonesia yakni sejak agama islam datang ke Indonesia. Kemudian pada
Undang-Undang Peradilan Agama yang telah disahkan dan diundangkan itu terdiri dari VII
bab, 108 pasal dengan sistematik dan garis-garis besar isinya sebagai berikut :
Bab I tentang ketentuan umum,
Bab II sampai
Bab III tentang susunan peradilan agama,
Bab IV tentang Hukum Acara,
Bab V ketentuan-ketentuan lain,
Bab VI ketentuan peradilan dan
Bab VII ketentuan penutup.
Sedangkan kalau dilihat dari susunannya diatur dalam tiga bagian di Bab II, bagian
pertama dan bagian umum.dan pada bagian Kekauasaan Peradilan Agama diatur pada Bab III
dan diatur dalam pasal 49.
Kemudian dibahas pula mengenai hokum Acara Peradilan Agama diatur dalam Bab
IV. Bagian pertama mengatur hal-hal yang bersifat umum sedang pada bagiab kedua bersifat
khusus dalam undang-undang yaitu pemeriksaan sengketa perkawinan mengenai
a) Cerai talak yang datang dari pihak suami
b) Cerai gugat yang datang dari istri atau suami dan
c) Cerai karena alasan zina.
Dan ketentuan ketentuan lain dibahas pada bab V menegnai administrasi peradilan,
pembagian tugas para hakim dan paniteradalam melaksanakan pekerjaan masing-masing.
Sedangkan pada ketetuan penutup pada bab VII ditegaskan bahwa pada saat berlakunya
undang-undang peradilan agama, semua perturan-tentang peradilan agama di jawa Madura,
dibagian (bekas) Residen Kalimantan selatan dan timur, dan bagian lain wilayah Republik
Indonesia, dinyatakan tidak berlaku lagi.
KOMPLIKASI HUKUM ISLAM
Rancangan komplikasi Hukum Islam yang terdiri dari tiga buku yaitu
Buku I tentang Hukum perkawinan,
Buku II tentang hukum kewarisan, dan
Buku III tentang hukum perwakafan.
Asas-asas kewarisan islam yang disalurkan dari Al-Quran dan Al-Hadis menurut Amir
Syarifudin adalah
a. Ijbari,
b. Bilateral,
c. Individual,
d. Keadilan berimbang, dan
e. Akbiat kematian.

Judul Buku

: Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia

Pengarang

: Prof.H. Mohammad Daud Ali, S.H

Penerbit

: PT RajaGrafindo,2009:Jakarta

Panjang Buku

: 21 cm

Jumlah Halaman

: 370 halaman

Dalam buku berjudul Pengantar Ilmu Hukum dan Tata hukum Indonesia yang ditulis
oleh Prof.H. Mohammad Daud Ali, S.H, yang dilahirkan di desa Bintang , Takengon Aceh
Tengah 4 april 1930 dan wafat tanggal 6 oktober 1998.Beliau adalah Guru besar Fakultas
Hukum UI dan beberapa fakultas lain di Jakarta ,buku ini berisikan 4 bab yaitu
Pada Bab I Islam dan Hukum Islam,
Pada Bab II Sumber Asas- Asas Hukum Islam dan Al-Ahkam Al-Khamsah
Pada Bab III Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Hukum Islam
Pada Bab IV Hukum Islam di Indonesia.
Pada ringkasan ini saya akan mengutip sebagian dari buku tersebut sebagai sebuah
gambaran. Yaitu hukum islam dalam kurikulum fakultas hukum yang isinya tentang apa
sebabnya kurikulum tentang hukum islam ada dalam kurikulum fakultas hukum? Ada
beberapa alasannya yaitu; pertama karena alasan sejarah, hukum islam atau yang mereka
sering sebut Mohammedaansch Recht diajarkan disemua sekolah tinggi (fakultas) hukum
yang didirikan oleh pemerintah Belanda zaman dahulu, akan tetapi nama tersebut tidak tepat
dengan hukum islam sebab berbeda dengan hukum- hukum lainnya. Hukum islam adalah
hukum yang bersumber dari agama islam yang berasal dari Allah Tuhan Yang Maha Esa.
Yang kedua karena alasan penduduk, menurut sensus hampir 90% penduduk Indonesia
mengaku beragama Islam ini berati mayoritas memeluk agama islam kalau dibanding negara
lain, penduduk agama islam yang terbanyank adalah di Indonesia, oleh karena itu selalu
dibekali dengan pengetahuan keislaman baik mengenai lembaga maupun hukumnya yang
tumbuh dan berkembang didalam masyarakat muslim di Indonesia. Ketiga karena alasan
Yuridis, ditanah air kita hukum islam berlaku secara normative dan secara formal yuridis.

Yang berlaku secara normative adalah hukum islam yang mempunyai sanksi kemasyarakatan
apabila norma- normanya dilanggar, sedangkan secara formal yuridis adalah hukum islam
yang mengatur hubungan manusia dengan manusia lain dan benda dalam hubungan
masyarakat. Yang ke empat alasan konstitusional, dalam bab agama alasan ini tercantum
dalam pasal 29 ayat 1 UUD 1945 dinyatakan bahwa negara republic Indonesia berdasarkan
ketuhanan yang maha esa merupakan dasar kehidupan hukum bidang keagamaan. Yang
kelima alasan ilmiah, secara ilmiah bukan halnya orang- orang islam sendiri tetapi orangorang non muslim juga mempelajari hukum islam.
Didalam buku ini juga mengkaji tentang islam, terlebih dahulu kita harus mengetahui
makna islam yang menjadi induk atau sumber hukum islam itu sendiri. Dalam system hukum
islam, selain dengan agama atau iman, hukum jg tidak boleh dicerai pisahkan dari kesusilaan
atau akhlak. Islam sendiri mempunyai pedoman yaitu Al-Quran, orang yang secara bebas
telah memilih untuk patuh dalam makna menyesuaikan kehendaknya dengan kehendaknya
dengan kehendak Allah disebut muslim. Sejak diturunkan, islam terus menerus didasarkan
dan memusatkan kepada perhatian Tuhan, ia didasarkan pada tauhid (keesahan Tuhan). Halhal yang tidak dapat dipisahkan antara lain: spiritual (kerohanian), material (kebendaan)
religious (keagamaan) dengan provan (keduniawian) didalam segala bidang.
Sedangkan kerangka dasar agama dan ajaran islam juga perlu dijelaskan disini, yang
perlu dipahami ialah agama islam bersumber dari wahyu (Al-Quran) dan sunah (Hadits),
ajaran islam bersumber dari rayu (akal pikiran). Dengan mengikuti sistematik iman, islam,
dan ihsan yang berasal dari hadits Nabi Muhammad, kerangka dasr agama islam, seperti
sudah disinggung diatas terdiri dari: akidah, syariah dan akhlak. Pada komponen syariah
dan akhlak ruang lingkupnya jelas mengenai ibadah, muammalah dan sikap terhadap khalik
(Allah) serta makhluk. Pada komponen akidah ruang lingkup itu akan tampak pula jika
dihubungkan dengan iman kepada Allah dan para nabi serta rasul- Nya.
Buku ini juga membahas tentang hukum islam. Hukum islam adalah hukum yang bersumber
dari dan menjadi bagian agama islam, sebagai system hukum ia mempunyai beberapa istilah
yaitu hukum, hukm, ahkam, syariah atau syariat dan fiqih atau fikh dan istilah- istilah
lainnya.
Adapun bahasan tentang ruang lingkup Hukum Islam , yang membandingkan Hukum Islam
bidang muamalah dengan hukum barat yang membedakan tentang hukum privat (hukum
perdata) dengan hukum hukum public .
Cirri cirri hukum islam itu sendiri adalah
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Merupakan bagian dan bersumber dari agama islam


Mempunyai hubungan yang erat dan tidak dapat dipisahkan dari iman atau akidah dan
kesusilaan atau akhlaq islam.
Mempunyai dua istilah kunci yakni syariat dan fiqih
Terdiri dari dua bidah utama yakni ibadah dan muamalah
Strukturnya berlapis
Mendahulukan kewajiban dari hak , amal dari pahala
Dapat dibagi menjadi dua hukum taklifi dan hukum wadhi

Buku ini juga membahas mengenai hukum islam dan hak asasi manusia.kalau hukum
islam dibandingkan dengan pandangan atau pemikiran barattentang hak asasi
manusia.perbedaan itu barat menmandang hak asasi manusia semata mata antroposentris

sedangkan menurut pandangan hukum islam yang bersifat teoritis. Buku ini juga selakigus
membahas mengenai salah paham terhadap islam dan hukum islam . kesalah pahaman
terhadap islam disebabkan karena banyak hal,namun yang relevan pada kajian ini yaitu 1.
Salah memahami ruang lingkup ajaran 2. Salah menggambarkan kerangka dasar ajaran islam
3. Salah menggunakan metode mempelajari islam.
Pada bab II membahas tentang sumber, Asas asas hukum islam dan al- ahkam al
khamsah. Pengertian sumber hukum islam adalah asal atau tempat pengambilan hukum islam
dari hadits Muaz bin jabal dapat disimpulkan sumber hukumislam ada tiga yaitu Al-Quran,
As-sunnah, dan akal pikiran manusia yang memenuhi syarat untuk berijtihad, karena
pengetahuan dan pengalamannya dengan menggunakan jalan atau cara antara lain ijmak,
qiyas, istidal, al-mursalih, al-mursalah, istihan, istisab dan urf. Asas- asas hukum islam juga
termasuk bahasan dalam buku ini. Pengertian asas itu sendiri adalah kebenaran yang
digunakan sebagai tumpuan dan alasan,pendapat, terutama, dalam penegakan dan
pelaksanaan hukum. Asas hukum pada umumnya berfungsi sebagai rujukan untuk
mengembalikan segala masalah yang berkenaan dengan hukum. Asas hukum islam dibagi
menjadi beberapa yaitu:
1.

Asas asas umum


Asas- asas umum hukum islam yang meliputi semua bidang dan segala lapangan
hukum islam adalah (1) asas keadilan, (2) asas kepastian kepastian hukum, dan (3)
asas kemanfaatan.

2.

Asas- asas dalam lapangan hukum pidana


Asas- asas dalam lapangan hukum pidana islam antara lain adalah (1) asas
legalitas, (2) asas larangan memindahkan kesalahan pada orang lain, (3) asa
praduga tidak bersalah.
3.

Asas- asas dalam lapangan hukum perdata


Asas- asas dalam lapangan hukum perdata islam antara lain adalah (1) asas
kebolehan atau mubah, (20 asas kemaslahatan hidup, (3) asas kebebasan dan
kesukarelaan, (4) asas menolak mudarat, mengambil manfaat (5) asas kebajikan,
(6) asas kekeluargaan, (7) asas adil dan berimbang, (8) asas mendahulukan
kewajiban dari hak, (9) asas larangan merugikan diri sendiri dan orang lain, (10)
asas kemampuan berbuat, (11) asas kebebasan berusaha, (12) asas mendapatkan
hak karena usaha dan jasa, (13) asas perlindungan hak, (14) asas hak milik
berfungsi social, (15) asas yang beritikad baik harus dilindungi, (16) asas resiko
dibebankan pada benda atau harta, tidak pada tenaga atau pekerja, (17) asas
mengatur, sebagai petunjuk, dan (18) asas perjanjian tertulias atau diucapkan
didepan saksi. Selain asas- asas dilapangan hukum perdata itu, khusus mengenai
hukum perkawinan asas- asasnya adalah (1) kesukarelaan, (2) persetujuan
kepada kedua belah pihak, (3) kebebasan memilih, (4) kemitraan suami-istri, (5)
untuk selama- lamanya dan, (6) monogamy terbuka, sedang mengenai hukum
kewarisan terdapat beberapa asas, yaitu (1) ijbari (wajib melaksanaan), (2)
bilateral, (3) individual, (4) keadilan berimbang, (5) akibat kematian (Amir
Syarifuddin, 1984: 18-23).

Mengenai Al- Ahkam, al- Khamsah merupakan lima macam kaidah atau lima macam
kategori penilaian mengenai benda dan tingkah laku manusia dalam islam. Menurut system

al-ahkam al-khamsah ada lima kemungkinan penilaian mengenai benda atau perbuatan
manusia. Penilaian itu, menurut Hazairin, (Hazairin, 1982, 68) mulai dari jaiz atau mubah di
lapangan kehidupan pribadi atau muamalah atau kehidupan social. Jaiz adalah ukuran
penilaian bagi perbuatan dalam kehidupan kesusilaan (akhlak atau moral) pribadi. Kalau
mengenai benda, misalnya makanan, disebut halal (bukan jaiz); sunnat dan makruh adalah
penilaian bagi hidup kesusilaan (akhlak atau moral) masyarakat, wajib dan haram adalah
ukuran penilaian atau kaidah atau norma bagi lingkungan hukum duniawi.
Pada bab III membahas pertumbuhan dan perkembangan hukum islam. Pertama
mengenai tahap- tahap pertumbuhan dan perkembangan. Pada umumnya tahap pertumbuhan
dan perkembangan hukum islam adalah 5 masa berikut ini:
I.
II.
III.
IV.
V.

Masa Nabi Muhammad (610 M XIX M)


Masa Khulafa Rasyidin (632 M 662 M)
Masa pembinaan, Pengembangan dan Pembukuan (abad VII X M)
Masa kelesuan Pemikiran (abad X M XIX M)
Masa Kebangkitan Kembali (abad XIX M sampai sekarang)
MASA NABI MUHAMMAD (610 M 632 M)
Agama islam sebagai induk hukum islam muncul di semenanjung arab, di suatu
daerah tandus yang dikelilingi oleh laut pada ketiga sisinya dan lautan pasir pada
sisi keempat. Daerahini adalah daerah yang sangat panas, ditengah gurun pasir
yang amat luas yang mempengaruhi cara berpikir orang- orang Badui yang tinggal
ditempat itu. Perjuangan memperoleh air dan padang rumput merupakan sumbersumber perselisihan antar mereka. Dan karena itu pula mereka hidup dalam klen
klen yang disusun berdasarkan garis patrilineal, yang saling bertentangan (Philip
K. Hitti, 1970: 13-16). Klen dipimpin oleh seorang yang diberi gelar Sayyid atau
syaikh yang dipilih berdasarkan keahlian, keberanian atau kearifannya. Kepala
klen berfungsi sebagai abritatornya. Pada masa ini wanita hanya dibebani
kewajiban tanpa imbalan hak sama sekali.( Philip K. Hitti 1970:23). Karena itu
pula, kalau lahir anak perempuan dalam satu rumah tangga, seluruh keluarga
menjadi malu karena melahirkan anak yang kelak tidak bisa mempertahankan
nama klennya. Demikian rendahnya kedudukan wanita pada masa itu sehingga
laki- laki dengan mudah mengucapkan satu dua patah kata saja untuk menceraikan
istrinya.sejak dahulu sampai sekarang kedudukan kota Makkah sangat penting
dalam kehidupan manusia. Disamping ia terletak persimpangan jalan perdagangan
transito seperti dikemukakan diatas, disana juga terdapat rumah suci yang disebut
Baitullah atau Kabah yang sengaja dibuat untuk tempat manusia tawaf: berjalan
mengelilingi kabah dengan tubuh bagian kiri berada di arah kabah.

MASA KHULAFA RASYIDIN (632 M 663 M)


Dengan wafatnya Nabi Muhammad berhentilah wahyu selama 22 tahun 2
bulan 22 hari , yang beliau trima melalui malaikat jibril baik waktu beliau masih
berada dimekah maupun setelah hijrah kemadinah. Demikian juga halnya dengan
sunnah berakhir pula meninggalnya rosulluloh itu. Kedudukan Nabi Muhammad
sebagai utusan Tuhan tidak mungkin diganti tetapi tugas beliau sebagai pemimpin
masyarakat islam dan kepala negara harus dilanjutkan oleh orang lain. Pengganti nabi

Muhammad sebagai kepala negara dan pemimpin umat islam ini disebut Khalifah,
suatu kata yang dipinjam dari Al- Quran ( surat 2 .30 ). Pengangkatan seorang
Khalifah dapat terjadi : (1). Dengan persetujuan masyarakat sebagaimana yang terjadi
dalam kasus Abu Bakar, atau dengan (2) penunjukan khalifah sebelumnya seperti
dalam kasus umar. Untuk menggantikan kedudukan Nabi Muhammad sebagai
pemimpin umat dan kepala negara, dipilah seorang pengganti yang disebut kalangan
khalifah dari kalangan sahabat nabi itu sendiri ( sahabat nabi artinya orang yang hidup
semasa dengan, menjad teman atau kawan Nabi Muhammad dalam menyebar luaskan
ajaran islam). Masa pemerintahan khulafaur rasydin ini sangat penting dilihat dari
perkembangan hukum islam dijadikan model atau contoh oleh generasi generasi
berikutnya, terutama generasi ahli hukum islam dijaman mutakhir ini, tentang cara
mereka menemukan dan menerapkan hukum islam pada waktu itu.Ada 4 sahabat nabi
yang terpilih menjadi khulafaur rasidin yaitu:
Abu Bakar Sidiq. Beliau adalah ahli hukum yang tinggi mutunya, Ia
memerintah dari tahun 632 M sampai 634 M.
2. Umar bin khattab, peerintahannya berlangsung dari tahun 634 M sampai
tahun 644 M.
3. Usman bin Affan, pemerintahannya berlangsung dari tahun 644 M sampai
656 M.
4. Ali bin Abithalib, pemerintahannya berlangsung dari tahun 656 M samapai
tahun 662 M
1.

MASA PEMBINAAN, PENGEMBANGAN DAN PEMBUKUAN ( abad VII - X M )


Disamping periode Nabi Muhammad dan periode Khulafaurasidin terdapat
juga periode pembinaan pengembangan dan pembukuan hukum fiqih perode tersebut
berlangsung lebih kurangnya 250 lamanya, dimulai pada bagian ke dua abad VII X
masa ini berlangsung pada pemerintahan khalifah umayah ( 662-750) dan khalifah
abasiyah ( 750 1258 ). Hukum Fiqih islam sebagai salah satu aspek kebudayaan
islam mencapai puncak perkembangannya dizaman khalifah abasiyah dan memerintah
kurang lebih 500 tahun. Dimasa inilah (1) lahir para ahli hukum islam yang
menemukan dan merumuskan garis garis huum fiqih islam serta (2) muncul
berbagai teori hukum yang masih dianut dan dipergunakan oleh umat islam sampai
sekarang.
MASA KELESUAN PEMIKIRAN ( ABAD X XI XIX M )
Sejak permulaan abad IV hijriah atau kea bad ke X XI M, ilmu hukum islam mulai
berhenti berkembang terjadi diakhir pemerintahan atau dinasti abasyah, pada masa ini
para ahli hukum hanya mebatasi diri mempelajari pikiran pikiran para ahli
sebelumnya yang telah dituangkan kedalam buku berbagai mazhab. Factor factor
yang menyebabkan kemunduran atau kelesuan pemikiran hukum islam dimasa itu
adalah sebagai berikut 1) kesatuan wilayah islam yang luas telah retak dengan
munculnay beberapa negara baru baik diEropa,Aafrika utara, dikawasan timur tengah
dan Asia. 2) ketidak stabilan politik menyebabkan pula ketidak stabilan kebebasan
berpikir 3) pecahnya kesatuan kenegaraan / pemerintahan itu menyebabkan
merosotnay pula kewibawaan dan pengendalian perkembangan hukum. 4) Timbulah
gejala kelesuan berpikir dimana mana.

MASA KEBANGKITAN KEMBALI ( ABAD KE XIX SEKARANG )


Setelah megalami kelesuan, kemunduran beberapa abad lamanya, pemikiran
islam bangkit kembali ini terjadi pada bagian kedua abad ke XIX. Kebangkitan
kembali pemikiran islam timbul sebagai reaksi terhadap sikap taklit tersebut diatas
yang telah membawa kemunduran hukum islam. Sebagai reaksi terhadap sikap taklit
diatas sesungguhnya pada periode kemunduran itu sendiri telah muncul beberapa ahli
yang ingin tetap melakukan ijtihad, untuk menanggung persoalan persoalan dan
perkembangan masyarakat. Zaman kebangkitan pemikiran hukum islam ini
dilanjutkan sekarang dengan system baru dalam mempelajari dan menulis hukum
islam. kalo dahulu studi hukum islam hanya terbatas pada pemikiran yang terdapat
pada salah satu mazhab saja, kini keadaannya telah berubah. Diindonesia atas
kerjasama mahkamah agung dengan departemen agama telah dikomplikasikan hukum
islam tentang perkawinan pewarisan dan perwakafan. Kompilasi ini telah disetujui
oleh para ulama dan ahli hukum islam pada bulan februari 1988 dan tahun 1991 telah
diberlakukan umat islam Indonesia yang menyelesaikan sengketa mereka diperadilan
agama ( salah satu unsure kekuasaan kehakiman ditanah air kita ) sebagai hukum
terapan
Selanjutnya pada BAB IV memebahas hukum islam yang ada di Indonesia. Pada bab
ini akan dibicarakan 1) Hukum Adat, Hukum Islam dan Hukum Barat, 2) hubungan Hukum
Adat dengan Hukum Islam, 3) Hukum Islam dalam tata Hukum Indonesia, 4) Hukum Islam
dan pembinaan Hukum Nasional 5) peradilan Agama 6) kompilasi Hukum Islam.
Keadaannya ketiga system hukum tersebut telah berlaku diindonesia, walaupun keadaan saat
berlakunya tidaklah sama. Hukum Adat telah lama berlaku di tanah air kita, hukum islam
baru dikenal di indoesia setelah agama islam disebarkan dianah air kita. Sedangkan hukum
barat diperkenalkan diindonesia bersamaan dengan kedatangan orang orang belanda
dinusantara ini.
Bentuknya pada dasarnay Hukum Adat adalah hukum yang tidak tertulis. Yang
tumbuh, berkembang dan hilang sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan
masyarakat.Hukum islam tidak tertulis dalam peraturan perundang undangan , melainkan
hukum yang bersumber dan disalurkan dari hukum syriat islam yang terdapat dalam AlQuran dan sunnah nabi Muhammad.
Tujuannya Huku Adat untuk menyelenggarakan kehidupan masyarakat yang aman,
tentram dan sejahtera. Hukum islam bertujuan untuk mekasanakan perintah dan kehendak
Alloh serta menjauhi larangannya. Sedangkan hukum barat manusia akan mencapai
kebahagiaan hidup didunia akhirat.
Sumber ketiga hukum tersebut dapat dikategorika lagi kedalam 1) sumber pengenal,
2) sumber isi 3) sumber pengikat.
Struktur, yang dimaksud dengan struktur dalam hubungan pembicaraan ini adalah
tumpukan logis lapisan lapisan yang ada pada system hukum yang bersangkutan. Dalam
hukum adat minangkabau misalnya ada teori struktur menurut pandangan ahli ahli adat
setempat.hukum adat dapat dibagi menjadi 2 yaitu adat nan sabana adat ( adat yang sebenar
benarnya ) dan adat pusaka.

Lingkup masalah, ysng diatur dalam ketiga hukum tersebut berbeda, sedangkan
hukum adat dengan hukum barat pada dasarnya ruang lingkupnya mempunyai kesamaan
karena keduanya hanya mengatur hubungan antara mansia dengan manusia dan
masyarakat.sedangkan hukum islam tidak hanya manusia dengan masyarakat tetapi juga
mengatur hubungan manusia dengan Alloh.
Sedangkan mengenai pembidangan ketiga system hukum dapat dikemukakan hal
hal berikut yaituhukum adat yang mengenal asas asas kerukuna, kepatutan, keselarasan,
dalam pergaulan dan yang bersifat religio magis, tidak mengenal pembidangan hukum
perdata dan hukum publikseperti halnya dengan hukm barat.
Mengnai hak dan kewajiban , yang akan dibandingkan hanyalah hukum islam dengan
hukum bara. Dalam system hukum islam kewajiban telah diutamakan dari hak, sedang dalam
hukum barat hak didahulukan dari kewajiban.
Adapun norma atau kaidah hukum dimanan , Dalam system hukum barat yang berasal
dari hukum romawi, dikenal tiga norma atau kaidah yaitu (1) impere (perintah) , (2)
prohibire (larangan), (3) permittere (yang dibolehkan) . dan dalam hukum islam juga terdapat
lima macam kaidah adalah (1) fard (kewajiban), (2) sunnat (anjuran),(3) jaiz atau mubah
atau ibahah (kebolehan) (4) makruh (celaan) dan (5) haram (larangan).
Sedangkan hubungan hukum islam dengan hukum adat sangatlah akrab artinya
hukum islam dengan hukum adat tidak dapat tidak bisa dicerai pisahkan karena erat sekali
hubungannya seperti hubungan zat dengan sifat sesuatu barang atau benda.misalnya di
minangkabau,Sulawesi selatan dan jawa yang hubungan hukum adat dan hukum islamnya
sangat erat.sementara itu perlu dicatat bahwa setelah Indonesia menrdeka, khususnya di alam
minangkabau telah berkembang pula suatu ajaran yang mengatakan hukum islam adalah
penyempurnaan hukum adat.
Selain itu kedudukan hukum islam dalam tata hukum Indonesia , sebagai akibat dari
perkembangan sejarahnya bersifat majemuk.disebut seperti itu karena sampai sekarang
didalam negara republic Indonesia berlaku beberapa system hukum yang mempunyai corak
dan susunan sendiri.yang dimaksud adalah system hukum adat, sitem hukum islam, system
hukum barat, jadi kini di Indinesia : 1) hukum islam yang disebut dan ditentukan oleh
peraturan perundang undangan dapat berlaku langsung tanpa harus melalui hukum adat 2)
Republik Indonesia dapat mengatur sesuatu masalah sesuatu dengan hukum islam, sepanjang
pengaturan itu hanya berlaku bagi pemeluk agama islam., 3) kedudukan hukum islam dalam
system hukum Indonesia adalah sama dan sederajat dengan hukum adat dan hukum barat ,
karena itu 4) hukum islam juga menjadi sumber pembentukan hukum nasional yang akan
datang di samping hukum adat, hukum barat dan hukum lainnya yang tumbuh dan
berkembang dalam negara republic Indonesia.
Pada bab ke IV ini juga membahas mengenai hukum islam dan pembinaan hukum
nasional, dimana hukum islam itu sendiri adalah hukum yang bersifat universal, karena ia
merupakan bagian dari agama islam yang universal sifatnya.sedangkan untuk membangun
dan membina hukum nassional diperlukan politik hukum tertentu.politik hukum nasional
Indonesia pokok pokoknya ditetapkan dalam garis garis besar haluan negara, yang dirinci
lebih lanjut oleh Menteri Kehakiman Republic Indonesia. Untuk melaksankannya , kini
didirikan satu lembaga yang disingkat BPHN ( Badan Pembinaan Hukum Nasional).
Selanjutnya dibahas pula mengenai sketsa peradilan agama.penegrtian peradilan
agama itu sendiri adalah proses pemberian keadilan berdasarkan hukum agama islam kepada

orang orang islam yang dilakukan di pengadilan agama da peradilan tinggi


agama.disamping peraddilan umum,peradilan militer, peradilan tata usaha negara, merupakan
salah satu pelaksanaan kekuasaan kehakiman dalam republic Indonesia.sebagai lembaga
peradian, peradilan agama dalam bentuknya sederhana berupa tahkim yaitu lembaga
penyelesaian sengketa antara oaring orang islam yang dilakukan oleh para ahli agama, telah
lama ada dalam masyarakat Indonesia yakni sejak agama islam datang ke Indonesia.
Kemudian pada Undang Undang Peradilan Agama yang telah disahkan dan diundangkan itu
terdiri dari VII bab, 108 pasal dengan sistematik dan garis garis besar isinya sebagai berikut
: Bab I tentang ketentuan umum , Bab II sampai Bab III tentang susunan peradilan agama,
Bab IV tentang Hukum Acara, Bab V ketentuan ketentuan lain, Bab VI ketentuan peradilan
dan Bab VII ketentuan penutup. Sedangkan kalau dilihat dari susunannya diatur dalam tiga
bagian di Bab II,bagian pertama dan bagian umum.dan pada bagian Kekauasaan Peradilan
Agama diatur pada Bab III dan diatur dalam pasal 49.
Kemudian dibahas pula mengenai hukumAcara Peradilan Agama diatur dalam Bab
IV. Bagian pertama mengatur hal hal yang bersifat umum sedang pada bagiab kedua
bersifat khusus dalam undang undang yaitu pemeriksaan sengketa perkawinan mengenai a)
cerai talak yang datang dari pihak suami b) cerai gugat yang datang dari istri atau suami dan
c) cerai karena alasan zina.Dan ketentuan ketentuan lain dibahas pada bab V menegnai
administrasi peradilan, pembagian tugas para hakim dan paniteradalam melaksanakan
pekerjaan masing masing. Sedangkan pada ketetuan penutup pada bab VII ditegaskan
bahwa pada saat berlakunya undang undang peradilan agama, semua perturan tentang
peradilan agama di jawa Madura, dibagian (bekas) Residen Kalimantan selatan dan timur ,
dan bagian lain wilayah Republik Indonesia, dinyatakan tidak berlaku lagi.
Selanjutnya pada bab ini dibahas juga mengenai rancangan komplikasi Hukum Islam
yang terdiri dari tiga buku yaitu buku I tentang Hukum perkawinan , buku II tentang hukum
kewarisan, dan buku III tentang hukum perwakafan.
Dalam bab ini juga membahas mengenai asas- asas kewarisan islam yang disalurkan
dari Al Quran dan Al- Hadis menurut Amir Syarifudin adalah (i) ijbari, (ii) bilateral, (iii)
individual, (iv) keadilan berimbang, dan (v) akbiat kematian.dan membahas pula mengenai
komlikasi Hukum Islam dan Fiqih Mawaris dan kodifikasi Hukum kewarisan Islam dalam
rangka pembinaan hukum nasional.
Setelah saya meresensi buku yang bejudul Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum
Indonesia Adapun kelebihan dan kekurangan yang saya temukan .Kelebihan buku ini yaitu
buku ini sudah mencakup aspek semuanya dari hukum islam itu sendiri sampai ke tata hukum
islam yang ada diindonesia. Buku ini juga menampilkan contoh- contoh yang relefan.buku
hukum islam ini sangat bagus untuk menambah pengetahuan hukum islam dari sejarahnya
sampai pada perkembang hukum islam di Indonesia saat ini.buku hukum islam ini selain
sebagai pengantar ilmu hukum dan tata hukum islam diindonesia juga menjadi buku silabus
untuk mata kuliah hukum islam jadi buku ini sangat baik untuk dibaca oleh kalangan
manapun khususnya mahasiswa agar pengetahuan tentang agamanya semakin baik dan dapat
lebih berkembang.
Sedangkan Kekurangannya yaitu bahasanya sulit dimengrti karena susunannya kurang
tepat seharusnya memacu pada kamus besar bahas Indonesia misalnya kurang lebihnya tapi
disini ditulis lebih kurang. Semoga buku ini bisa memberikan inspirasi kepada kita semua
agar bisa hidup bahagia dunia akhirat, dan menjalani hidup sesuai dengan tuntunan nabi besar
Muhammad SAW.

Pengantar dan Sejarah Hukum Islam (resume)

Buku
Pengarang
Penerbit
Tahun terbit
Tebal buku

: Pengantar Dan Sejarah Hukum Islam


: Ahmad Hanafi, MA
: Bulan Bintang Jakarta
: 1970
: 253 halaman

BAB I
ARTI DAN FUNGSI HUKUM ISLAM
Pasal Pertama
SYARIAH DAN FIQIH
Syariah ialah hukum yang diadakan oleh Tuhan untuk
hambanya, yang dibawa oleh seorang NabiNya, baik hukum tersebut
berhubungan dengan cara mengadakan perbuatan yang disebut
sebagai hukum cabang dan amalan, dan untuknya maka
dihimpunlah ilmu fiqih atau berhubungan dengan cara mengadakan
kepercayaan (itikad), yaitu yang disebut sebagai hukum pokok dan
kepercayaan, dan untuknya maka dihimpunlah ilmu kalam. Syariat
(syara) disebut juga agama (addin dan al-milan).
Al Jurjani mengatakan dalam bukunya At Tarifat sebagai
berikut :
Fiqih menurut bahasa berarti faham. Menurut istilah, fiqih
ialah mengetahui hukum-hukum syara yang mengenai perbuatan
dengan melalui dalil-dalil yang terperinci. Fiqih adalah ilmu yang
dihasilkan oleh fikiran serta ijtihad (penelitian) dan memerlukan
pemikiran serta perenungan. Oleh karena itu Tuhan tidak bisa
disebut sebagai faqih (ahli dalam fiqih) karena bagiNya tidak ada
sesuatu yang tidak jelas.
Cakupan Syariat lebih luas daripada fiqih, karena cakupan
syariat dalah apa yang tercakup dalam ilmu kalam (tauhid) dan ilmu
fiqih. Dengan kata lain, fiqih adalah sebagian dari isi syariat, karena
syariat ialah keseluruhan agama bukan hanya fiqih saja. Fiqih
sebagai ilmu adalah nuatan manusia sedangkan syariat datang dari
Tuhan.

Pasal Kedua
TUJUAN HUKUM ISLAM
Tujuan hukum islam bersifat lebih tinggi daripada hukum positif
dan abadi, artinya tidak terbatas pada lapangan materiil yang
bersifat sementara karena faktor individu, masyarakat dan
kemanusiaan pada umumnya selalu diperhatikan dan dirangkaikan
satu sama lain dan dengan hukum islam dimaksudkan agar kebaikan
mereka semua dapat terwujud.

Dalam lapangan ibadah misalnya : sholat, puasa, zakat, haji


dimaksudkan untuk membersihkan jiwa dan mempertemukannya
dengan Tuhan, kesehatan jasmani dan kebaikan individu maupun
masyarakat bersama dengan berbagai seginya.
dalam lapangan administrasi pemerintahan pada hukum positif,
suatu jabatan diserahkan kepada seseorang yang mempunyai
kecakapan dan ukuran kecakapan tersebut adalah tingkat keilmuan
(ijazah) yang diperkirakan ada pertalian dengan kecakapan.
Akan tetapi, menurut hukum islam ukuran kecakapan adalah
kesanggupan yang sebenarnya, bukan kepandaian ilmu sematamata. Sesuai sabda Nabi yang artinya Barang siapa menguasai
urusan kaum muslim, kemudian ia mengangkat seseorang sedang
diketahuinya ada orang lain yang lebih pantas daripadanya untuk
kaum muslimin, maka ia telah menghianati Allah dan RosulNya.
Pasal Ketiga
CIRI-CIRI KHAS HUKUM ISLAM
Diantara ciri-ciri tersebut ialah :
1.

Kewahyuan dasar-dasarNya yang umum


Perbedaan hukum islam dengan hukum buatan manusia yaitu:
Pertama
: kehendak Tuhan tidak bisa disamakan dengan
kehendak manusia.

edua

: teks-teks AlQuran dan Hadist terjamin dari kesalahan, sedang


manusia tidak terlepas dari kesalahan.
: hukum positif tidak memperoleh penghormatan yang tinggi dan
suci seperti yang diperoleh hukum islam.

etiga
2.

Pendasaran ketentuan dalam hukum islam dengan akhlaq dan


agama
Tujuan
pembuatan
suatu
hukum
akan
tercapai
apabila
dilaksanakan dengan baik dengan kerelaan (kepuasan) jiwa.
Kesadaran ini bisa terwujud apabila ada keimanan dan kepuasan
terhadap keadilan suatu Undang-Undang dan harapan mendapat
pahala dari pembuatnya. Sama halnya dengan hukum islam, semua
ketentuan didasarkan atas pertimbangan agama dan akhlaq.
Sebagai contoh dalam ketentuan zakat dan jihad. Zakat
merupakan sedekah wajib yang dikenakan terhadp suatu harta
tertentu seorang muslim yang harus dibayarkan untuk kemakmuran
dan kebaikan masyarakat. Quran menanamkan bahwa pemberian
zakat bahkan sedekah yang lain juga adalah untuk kebaikan si
pemberi itu sendiri disamping untuk masyarakat.

Aturan tersebut tidak akan kita temukan dalam aturan-aturan


pemerintah misalnya pembayaran pajak atau beban-beban lain untuk
pemerintah dan negara.
3.

Rangkapnya balasan
Unsur-unsur hukum ada tiga yaitu aturan, hubungan dalam
masyarakat dan balasan. Balasan pada hukum islam ada dua macam
yaitu balasan didunia dan balasan di akhirat. Balasan di akhirat lebih
besar daripada didunia.

4.

Sifat Collectivisme hukum islam


Perbedaan pandangan hukum islam dengan pandangan hukum
positif berpangkal pada perbedaan pendirian tentang sifat hak-hak
individu. Pada hak positif, menganggap hak individu sebagai hak
alam, dimana ia boleh memakainya dengan leluasa meskipun
merugikan orang lain. Sedangkan hak islam manganggap bahwa
individu dengan haknya merupakan milik Tuhan yang diberikan
kepada hamba-hambaNya, dengan tujuan yang mulia.
Pasal Keempat
DASAR-DASAR HUKUM ISLAM

1.
2.
3.
4.

Tidak memberatkan dan tidak banyak beban.


Berangsur-angsur dalam penentuan hukum.
Sejalan dengan kebaikan orang banyak.
Dasar persamaan dan keadilan.

BAB II
LAPANGAN HUKUM ISLAM
Hukum islam merupakan kumpulan tata aturan yang mencakup
keseluruhan tanpa diragukan lagi, karena ia memberi ketentuan
hukum terhadap semua perbuatan manusia dalam semua keadaan
baik dalam urusan pribadinya atau dalam hubungan dengan
masyarakat juga dengan umat lain atau dengan negara lain.
Pasal Pertama
USAHA PEMBAGIAN LAPANGAN DALAM HUKUM ISLAM
Para fuqaha pada masa yang lampau tidak pernah mengadakan
pembagian lapangan hukum islam dan penyusunan yang rapi
terhadap bab-babnya, sehingga tidak begitu mudah untuk
mengetahui letak sesuai persoalan hukum islam. Keadaan demikian
boleh jadi disebabkan oleh adanya ketunggalan sistem peradilan
pada masa lalu, yakni tidak adanya pemisah antara peradilan
perdata dengan peradilan pidana.

Pada masa sekarang ada yang membagi lapangan hukum


islam selain ibadah menurut sistem pembagian pada hukum positif
(Barat) yaitu menjadi hukum privaat (al-qanunul-khas) dan hukum
umum (al-qanunul-aamm). Hukum privaat islam meliputi hukum
perdata (muamalat) hukum dagang (at-tijarah) dan hukum acara (almurafaat) dan hukum internasional (ad-dauliyyul-khas). Yang
termasuk hukum umum ialah hukum pidana (al-janai), hukum
ketatanegaraan administrasi dan keuangan.
Pasal Kedua
IBADAH
Pembicaraan tentang ibadah meliputi Taharah meliputi suci dari
kotoran. Wudhu, mandi, dan tayamum. Shalat dengan berbagai
macam jenis dan caranya, zakat, puasa, haji, jihad, sumpah, nazar,
kurban dan sebagainya.
Pasal Ketiga
HUKUM KELUARGA
Hukum keluarga mengatur hubungan seorang laki-laki sengan
istri dan keluarganya. Hukum keluarga meliputi pernikahan, warisan,
wasiat, dan wakaf.
Pasal Keempat
HUKUM PRIVAAT
Hukum privaat adalah hukum yang berisi tentang hak-hak
manusia dalam hubunganmya satu sama lain, seperti haknya penjual
untuk menerima uang harga dari si pembeli dan haknya si pembeli
menerima barang yang dibelinya.
Pasal Kelima
HUKUM PIDANA
Hukum pidana islam ialah kumpulan aturan yang mengatur cara
melindungi dan menjaga keselamatan hak-hak dan kepentingan
masyarakat dan anggotanya dari perbuatan yang tidak dibenarkan.
Asas-asas hukum pidana islam membicarakan pengertian
jariman, unsur-unsurnya dan pembagiannya, prinsip legalitas,
prinsip territorialitas dan nasionalitas, sumber-sumber hukum pidana
islam, penafsiran aturan pidana islam, pertanggung jawab pidana,
hukuman , tujuan dan penbagiannya, hapusnya hukuman,
pengulangan jariman.
Pasal Keenam
SIASAH SYARIIYYAH
Siasah Syariiyyah yaitu hubungan antara negara dan
pemerintah dengan warga negaranya. Yaitu soal imamah (pemimpin
negara), menegakkan pemerintah islam, teori-teori tentang
timbulnya
negara,
dan
syarat-syarat
diadakannya
serta
kewajibannya.

Pasal Ketujuh
HUKUM INTERNASIONAL
Hukum internasional ada dua, yaitu :
a.

Hukum
perdata internasional yaitu kumpulan
aturan yang
menerangkan hukum mana yang berlaku dari dua hukum atau lebih
apabila ada unsur orang asing dalam persoalan hukum.
b. Hukum pidana internasional yaitu mengatur hubungan antara
warga negara ialam dengan negara lain, atau atara negara islam
dengan warga negara lain bukan dalam lapangan keperdataan.
BAB III
SUMBER-SUMBER HUKUM ISLAM
Banyak pendapat yang mengatakan tentang sumber-sumber
hukum tersebut. Ada yang mengatakan hanya ada dua saja, namun
ada yang mengatakan ada empat bahkan lebih.
Pasal Pertama
ALQURAN
Alquran adalah kitab Tuhan yang diturunkan kepada Rosulnya,
yaitu Nabi Muhammad saw sebagai kitab suci agama islam. Diantara
ciri khas AlQuran ialah bahwa ia diturunkan dari Tuhan dengan
pengertian dan bahasa Arabnya. Ciri lain yaitu bahwa AlQuran
diriwayatkan bertubi-tubi, masa demi masa, keturunan demi
keturunan tanpa mengalami perubahan atau pemalsuan.
AlQuran sebagai sumber pokok bagi semua hukum islam telah
menjelaskan dasar-dasar hkum secara terperinci dalam lingkup
kepercayaan. Akan tetapi dalam hal ibadah dan muamalat hanya
diberikan dalam garis besarnya saja.
Pasal Kedua
HADIST NABI SAW
Hadist ialah apa yang diriwayatkan dari Nabi saw baik berupa
kata-kata, perbuatan maupun penetapan (taqrir). Kedudukan hadist
sebagai sumber hukum sesudah AlQuran adalah sebagai penerang.
Pasal Ketiga
IJMA
Ijma adalah kebulatan pendapat fuqaha mujtahidin pada suatu
masa atau suatu hukum sesudah masa Rosul.
Pasal Keempat
QIYAS
Qiyas ialah mempersamakan hukum suatu perkara yang belum
ada kedudukan hukumnya dengan suatu perkara yang sudah ada
kedudukan hukumnya. Segi-segi persamaan diantara keduanya
disebut illat.
Pasal Kelima
ISTIHSAN

Istihsan ialah mengecualikan (memudahkan) hukum suatu


peristiwa dari hukum peristiwa lain yang sejenis dan memberikan
kepadanya hukum yang lain karena ada alasan yang kuat bagi
pengecualian tersebut.
Pasal Keenam
MASLAHAT-MURSALAH
Maslahat-Mursalah adalah penetapan hukum berdasarkan
maslahat (kebaikan bersama) yang tidak ada ketentuan dari Syara.
Pasal Ketujuh
URF
Secara bahasa urf berarti mengetahui. Kemudian dipakai
dalam arti sesuatu yang diketahui, dikenal baik dan diterima oleh
pikiran yang sehat. Unsur pembentukan urf ialah pembiasaan
bersama diantara orang banyak.
Syarat pemakain urf sebagai sumber hukum :
1.
2.
3.
4.

urf harus berlaku terus-menerus


urf harus pada waktu diadakannya tindakan tersebut
Tidak ada penegasan (nas) yang berlawanan dengan urf
Pemakaian urf tidak mengakibatkan dikesampingkan nas yang
pasti dari syariat

BAB IV
ALIRAN-ALIRAN DALAM HUKUM ISLAM
Perbedaan pendapat dalam lapangan hukum sebagai penelitian
(ijtihad) perseorangan tidak perlu dianggap sebagai faktor yang
melemahkan kedudukan hukum islam, bahkan sebaliknya bisa
memberikan kelonggaran kepada orang banyak.
Jadi perselisihan diantara para fuqaha adalah suatu hal yang
wajar dan sesuai dengan corak ijtihad, dan mereka sendiri masih
tetap berada di sekitar apa yang dituju oleh Syaara.
Pasal pertama
SEBAB-SEBAB TIMBULNYA PERSELISIHAN PENDAPAT
Berbagai sebab telah menimbulkan perbedaan pendapat
dikalangan fuqaha, yang pada garis besarnya dapat dibagi menjadi
dua yaitu :
A. Kedudukan Sumber-Sumber Hukum

Sumber-sumber hukum yang diperselisihkan kedudukannya


tersebut ialah Hadist Nabi saw, Ijma, Qiyas, Istihsan, Maslahat
Mursalah dan Urf. Tentang kedudukan AlQuran sebagai sumber
hukum tidak diperselisihkan lagi.
B. Pemahaman Nas Sebagai Faktor Timbulnya Perbedaan Pendapat
Hal-hal yang menimbulkan pemahaman yang berbeda terhadap
nas-nas yaitu pengertian kata-kata tunggal dan pengertian susunan
kata.
Pasal Kedua
ALIRAN-ALIRAN DALAM HUKUM ISLAM
1.

Mazhab Dhahiri
Unsur-unsur mazhab Dhahiri ialah lahir bunyi AlQuran dan
Hadist selam tidak ada yang mengharuskan ditinggalkannya bunyi
tersebut. Apabila tidak ada nas maka mengambil ijma dengan syarat
ijmanya seluruh umat. Olah karena syarat ini tidak mungkin
terwujud maka mazhab ini seolah-olah menolak ijma

2.

Mazhab Syiah
Orang-orang Syiah yaitu pembela dan pendukung Khalifah Ali
dan keturunannya, juga mempunyai kegiatan dalam lapangan hukum
islam dengan berpusat pada Alquran yang difahamkan menurut
dasar-dasar pendirian mereka. Mereka juga memakai Hadist sebagai
sumber hukum.

3.

Mazhab Hanafi
Mazhab Hanafi memakai AlQuran, Hadist, Fatwa sahabat,
selain itu mereka juga memekai ijma, istihsan, dan urf.

4.

Mazhab Maliki
Fatwa-fatwa Imam Malik pada awalnya berdasarkan AlQuran
dan Hadist. Akan tetapi ia lebih mengutamakan perbuatan penduduk
madinah atas hadist Ahad jika terjadi perlawanan diantara keduanya.

5.

Mazhab Syafii
Dasar-dasar mazhab Syafii ialah AlQuran dan Sunnah Rosul
yang sahih, termasuk hadist Ahad kemudian ijma. Kalau ketiga
sumber hukum tersebut tidak memberikan keterangan, baru
memakai pendapat sahabat.

6.

Mazhab Hambali

Dasar-dasar mazhabnya didasarkan pada AlQuran, kemudian


atas sunah yang sahih, apabila tidak terdapat sunah yang sahih
maka dicarinya dalam fatwa dan keputusan sahabat, apabila tidak
diperselisihkan tetapi apabila diperselisihkan maka dipilih pendapat
sahabat yang lebih mendekati Quran dan Hadist.

BAB V
IJTIHAD SEBAGAI ALAT PENGGALI HUKUM ISLAM
Pasal Pertama
PENGERTIAN IJTIHAD
Ijtihad menurut hukum islam ialah mencurahkan tenaga
(memeras fikiran) untuk menemukan hukum agama (Syara) melalui
salah satu dalil Syara dan dengan cara tertentu.
Pasal Kedua
PERLUNYA IJTIHAD
Para fuqaha telah sepakat bahwa hukum ijtihad aladah wajib.
Alasannya ialah :
1.

Firman Allah
Bagi orang-orang yang mempelajari Quran dan Hadist supaya
meneliti hukum-ukum yang ada alasannya agar bisa diterapkan pada
peristiwa hukum yang lain dan hal ini adalah ijtihad.

2.

Sabda Nabi saw ijtihadlah kamu, karena tiap-tiap orang akan


mudah mencapai apa yang diperuntukkan kepadanya.
3. Sahabat Nabi dan para tabiin selalu melakukan ijtihad terhadap
setiap peristiwa yang terjadi dan tidak ada ketentuan hukumnya.
Pasal Ketiga
SYARAT-SYARAT MELAKUKAN IJTIHAD
1.
2.

Mengetahui bahasa Arab dengan segala seginya.


Mengetahui Quran yaitu hukum yang dibawa oleh Quran beserta
ayat-ayatnya.
3. Mengetahui Hadist-Hadist Nabi saw yang berhubungan dengan
hukum Syara.
4. Mengetahui segi-segi pemakaian qiyas.
5. Pandai menghadapi nas-nas yang berlawanan.

Syarat-syarat diatas hanya diperlukan bagi mujtahid mutlak,


yang mengadaka ijtihadnya dalam lapangan hukum. Akan tetapi bagi
orang yang mengadakan ijtihad dalam lapangan sebagian-sebagian
misal dalam lapangan nikah saja, maka hanya diperlukan
mengetahui hukum yang berhubungan dengan lapangan tersebut.
Pasal Keempat
LAPANGAN IJTIHAD
Lapangan ijtihad ada dua yaitu perkara yang tidak ada nas
(ketentuannya) sama sekali dan perkara yang ada nasnya, tetapi
tidak qati wurud dan dalalahnya. Pembatasan ijtihad seperti ini
sama dengan apa yang diikuti oleh hukum positif, karena selama
undang-undang menyatakan dengan jelas maka tidak boleh ada
penawilan dan peubahan terhadap nas-nasnya dengan dalih bahwa
jiwa undang-undangnya menghendaki adanya perubahan tersebut.
Pasal Kelima
TAQLID
Taqlid ialah menerima pendapat orang lain tanpa dikemukakan
alasan-alasannya. Taqlid berbeda dengan ittiba yaitu mengambil
pendapat orang lain dengan mengetahui alasannya.
Pasal Keenam
TALFIQ
Tafliq adalah penyelesaian persoalan dengan penggabungan
antara satu mazhab dengan mazhab yang lain.

BAB VI
FASE-FASE KEHIDUPAN HUKUM ISLAM
Penelitian tentang hukum islam selama hampir 14 abad ini
dibagi menjadi beberapa fase, dimana masing-masing fase
mempunyai ciri khasnya sendiri.
Pasal Pertama
FASE PERMULAAN HUKUM ISLAM
Fase permulaan hukum islam dimana sejak kebangkitan
Rosulullah sampai wafatnya. Fase ini berjalan selama 22 tahun dan
beberapa bulan.

Masa pertama ialah sewaktu Rosul masih berada di Makkah,


dimana
ia
melakukan
dawah
perorangan
yang
bertujuan
mengarahkan bani insan kepada akidah tauhid dan kebesaran Tuhan
yang terbentang luas di alam semesta. Masa kedua ialah semenjak
Rosul hijrah ke Madinah.
Sumber hukum pada masa Rosul saw yaitu hukum yang
diwahyukan kepada Nabi ialah kata-kata dan pengertiannya dari
Tuhan, yaitu AlQuran. Pengertiannya saja dari Tuhan sedang katakatanya dari Nabi yaitu Hadist.
Pasal Kedua
FASE PERSIAPAN HUKUM ISLAM
Fase persiapan hukum islam dimulai dari masa khalifah
pertama sampai selesainya masa sahabat, atau dari tahun 11 hijrah
sampai akhir abad pertama hijrah. Fase ini disebut juga fase
sahabat, karena kekuasaan menetapkan hukum berada ditangan
sahabat.
Pada masa ini timbul banyak penafsiran hukum dan
pengambilan alasan hukum (istinbat) untuk peristiwa yang tidak ada
nas atau ketentuannya. Oleh sahabat banyak dikeluarkan pendapat
sebagai penafsiran terhadap nas AlQuran dan hadist juga
dikeluarkan fatwa-fatwa hukum peristiwa yang tidak ada nasnya.
Sumber hukum pada masa sahabat yaitu AlQuran, Sunnah, dan
Ijtihad sahabat.
Usaha-usaha pengamanan sumber hukum yaitu Quran dengan
menuliskan keseluruhan isi Quran dan disiarkan kepada seluruh
kaum muslimin dengan keputusan yang sesuai. Hadist belum
dibukukan pada waktu itu karena takut bercampur dengan Quran.
Begitu pula Ijtihad belum dibukukan.
Pasal Ketiga
FASE PEMBINAAN DAN PEMBUKUAN HUKUM ISLAM
Fase ini berlangsung selama 250 tahun hijrah yakni dari awal
abad pertama hijrah sampai pertengahan abad ke-4 hijrah. Fase ini
disebut masa keemasan, karena pada masa itu hukum islam
mengalami perkembangan dan kemajuan yang pesat. Sumber hukum
pada masa ini yaitu Quran, Hadist, Ijma dan Qiyas. Faktor-faktor
yang menimbulkan gerak ijtihad yang pesat : a) Meluasnya daerah
kekuasaan islam. b)Karya-karya dari masa yang sebelumnya. c)
Munculnya tokoh-tokoh besar.
Pasal Keempat
FASE KEMUNDURAN HUKUM ISLAM
Fase ini berlangsung lama yaitu pertengahan abad ke-4 hijrah
hingga akhir abad ke-13 hijrah. Faktor yang menyebabkan
kemunduran hukum islam antara lain :

1.

Pergaulan politik telah mengakibatkan terpecahnya negeri islam


menjadi negeri-negeri kecil dan kurangnya perhatian terhadap
kemajuan ilmu.
2. Pada fase ke-3 telah muncul mazhab-mazhab yang mempunyai
metode dan cara berfikir sendiri dibawah seorang imam mujtahid.
3. Pembukuan
trehadap
mazhab
menyebabkan
orang
mudah
mencarinya.
4. Penutupan pintu ijtihad.
Tingkatan-tingkatan fuqaha
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Mujtahid mutlak
Mujtahid mazhab
Mujtahid terbatas
Ahli takhrij
Ahli tarjih
Fuqaha-taqlid semata

Pasal Kelima
FASE KEBANGUNAN HUKUM ISLAM
Kemunduran hukum islam sangat erat hubungannya dengan
kebangunan kaum muslimin dan kemundurannya dibidang politik.
Tanda-tanda kebangunan hukum islam pada masa modern dapat
terlihat pada sistem mempelajari dan segi-segi penulisan tentang
hukum islam, kedudukan hukum islam dalam perundang-undangan
negara dan penilaian orang-orang orientalist terhadap hukum islam.