Anda di halaman 1dari 14

TUGAS TERSTRUKTUR

STRATIGRAFI ANALISIS
LINGKUNGAN PENGENDAPAN BARRIER ISLAND DAN
ESTUARINE

Oleh:

1. Aditya Prakasa

H1F013023

2. Bambang H.E.P

H1F013024

3. Fauzy Sukma N

H1F013025

4. Muhammad Zidny Ilma

H1F013027

5. Muhammad Nur Siddiq

H1F013029

6. Maulana Malik Fikri

H1F013033

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
PURBALINGGA
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Didalam sedimen umumnya turut terendapkan sisa-sisa organisme
atau tumbuhan, yang karena tertimbun,terawetkan. Dan selama proses Diagenesis
tidak rusak dan turut menjadi bagian dari batuan sedimen atau membentuk lapisan
batuan sedimen. Sisa-sia organisme atau tumbuhan yang terawetkan ini
dinamakan fossil. Jadi fosil adalah bukti atau sisa-sisa kehidupan zaman lampau.
Dapat berupa sisa organisme atau tumbuhan, seperti cangkang kerang, tulang atau
gigi maupun jejak ataupun
dapat

digambarkan

cetakan.

Dari

studi

lingkungan

pengendapan

atau direkontruksi geografi purba dimana pengendapan

terjadi. Lingkungan pengendapan merupakan keseluruhan dari kondisi fisik, kimia


dan biologi pada tempat dimana material

sedimen terakumulasi. (Krumbein

dan Sloss, 1963) Jadi, lingkungan pengendapan merupakan suatu lingkungan


tempat terkumpulnya material sedimen yang dipengaruhi oleh aspek fisik, kimia
dan biologi yang dapat mempengaruhi karakteristik sedimen yang dihasilkannya.
Secara umum dikenal 3 lingkungan pengendapan, lingkungan darat transisi, dan
laut. Beberapa contoh lingkungan darat misalnya endapan sungai dan endapan
danau, ditransport oleh air, juga dikenal dengan endapan gurun dan glestsyer yang
diendapkan oleh angin yang dinamakan eolian. Endapan transisi merupakan
endapan yang
delta,lagoon,

terdapat
dan

di

daerah

antara

darat

dan

laut

seperti

litorial. Sedangkan yang termasuk endapan laut adalah

endapan-endapan neritik, batial, dan abisal.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dari makalah tentang Sistem Pengendapan
Barrier Island dan Estuarine antara lain adalah:
1. Bagaimana Pengertian dan Parameter Lingkungan Pengendapan?
2. Bagaimana Klasifikasi Lingkungan pengendapan?
3. Bagaimana Konsep Fasies dan model Fasies?

4. Bagaimana

Sistem

Pengendapan

Barrier

Island

dan

Estuarine

dapat berlangsung?
5. Bagaimana batas pemisah lingkungan Barrier Island dan Estuarine?
6. Bagaimana ciri ciri keterdapatan Lingkungan Barrier Island dan
Estuarine?

1.3 Maksud Dan Tujuan


Maksud dan tujuan dari makalah tentang Sistem Pengendapan Barrier
Island dan Estuarine, antara lain adalah:
1. Mengetahui
2.
3.
4.
5.
6.

pengertian

dan

parameter

yang

ada

dalam

suatu

Lingkungan Pengendapan
Mengetahui Klasifikasi suatu Lingkungan pengendapan
Mengetahui Bagaimana Konsep Fasies dan Model Fasies
Mengetahui Sistem pengendapan Barier Island dan Estuarine
Mengetahui batas pemisah dari Lingkungan barrier Island dan Estuarine
Mengetahui ciri ciri keterdapatan Lingkungan Barrier Island dan
Estuarine

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Lingkungan Pengendapan
Lingkungan

pengendapan adalah

tempat

mengendapnya

material

sedimen beserta kondisi fisik, kimia, dan biologi yang mencirikan terjadinya
mekanisme pengendapan
pengendapan

tertentu

(Gould,

1972). Interpretasi

lingkungan

dapat ditentukan dari struktur sedimen yang terbentuk. Struktur

sedimen tersebut digunakan secara meluas dalam memecahkan beberapa macam


masalah geologi, karena struktur ini terbentuk pada tempat dan waktu
pengendapan, sehingga struktur ini merupakan kriteria yang sangat berguna untuk
interpretasi lingkungan pengendapan. Terjadinya struktur-struktur
tersebut

disebabkan

oleh

mekanisme

lingkungan pengendapan tertentu.

pengendapan

sedimen

dan kondisi serta

Lingkungan pengendapan adalah bagian dari permukaan bumi dimana


proses fisik, kimia dan biologi berbeda dengan daerah yang berbatasan dengannya
(Selley, 1988). Sedangkan menurut Boggs (1995) lingkungan pengendapan
adalah karakteristik dari suatu tatanan geomorfik dimana proses fisik, kimia dan
biologi berlangsung yang menghasilkan suatu jenis endapan sedimen tertentu.
Nichols (1999) menambahkan

yang

dimaksud

dengan

proses

tersebut

adalah proses yang berlangsung selama proses pembentukan, transportasi dan


pengendapan sedimen. Perbedaan fisik dapat berupa elemen statis ataupun
dinamis. Elemen statis antara lain geometri cekungan, material endapan,
kedalaman air dan suhu, sedangkan elemen dinamis adalah energi, kecepatan dan
arah pengendapan serta variasi angin, ombak dan air. Termasuk dalam perbedaan
kimia adalah komposisi dari cairan pembawa sedimen, geokimia dari batuan asal
di daerah tangkapan air (oksidasi dan reduksi (Eh), keasaman (Ph), salinitas,
kandungan karbon dioksida dan oksigen dari air, presipitasi dan solusi mineral).
Sedangkan perbedaan biologi tentu saja perbedaan pada fauna dan flora di
tempat

sedimen

diendapkan

maupun

daerah

sepanjang perjalanannya

sebelum diendapkan.
Permukaan bumi mempunyai morfologi yang sangat beragam, mulai dari
pegunungan, lembah sungai, pedataran, padang pasir (desert), delta sampai ke
laut. Dengan analogi pembagian ini, lingkungan pengendapan secara garis besar
dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yakni darat (misalnya sungai, danau dan
gurun), peralihan (atau daerah transisi antara darat dan laut; seperti delta, lagun
dan daerah pasang surut) dan laut. Banyak penulis membagi lingkungan
pengendapan berdasarkan

versi

masing-masing. Selley (1988)

misalnya,

membagi lingkungan pengendapan menjadi 3 bagian besar: darat, peralihan dan


laut (Tabel VII.1). Namun beberapa penulis lain membagi lingkungan
pengendapan ini langsung menjadi lebih rinci lagi. Lingkungan pengendapan
tidak akan dapat ditafsirkan secara akurat hanya berdasarkan suatu aspek fisik dari
batuan saja. Maka dari itu untuk menganalisis lingkungan pengendapan harus
ditinjau mengenai struktur sedimen, ukuran butir (grain size), kandungan
fosil

(bentuk

dan

jejaknya),

kandungan

mineral, runtunan tegak dan

hubungan lateralnya, geometri serta distribusi batuannya.

Beberapa aspek lingkungan sedimentasi purba yang dapat dievaluasi dari


data struktur sedimen di antaranya adalah mekanisme transportasi sedimen, arah
aliran arus purba, kedalaman air relatif, dan kecepatan arus relatif. Selain itu
beberapa struktur sedimen dapat juga digunakan untuk menentukan atas dan
bawah suatu lapisan.
2.2. Parameter Lingkungan Pengendapan
Parameter dari suatu lingkungan pengendapan antara lain:
1. Parameter fisik
- Elemen fisik statis meliputi geometri cekungan(Basin); material
yang diendapkan seperti kerakal silisiklastik, pasir, dan lumpur; kedalaman
air; suhu; dan kelembapan.
- Elemen fisik dinamik adalah faktor seperti energy dan arah aliran dari
angin, air dan es; air hujan; dan hujan salju.
2. Parameter kimia termasuk salinitas, pH, Eh, dan karbondioksida dan
oksigen yang merupakan bagian dari air yang terdapat pada lingkungan
pengendapan.
3. Parameter
biologi
dipertimbangkan
organism,

seperti

dari

lingkungan

untuk meliputi
pertumbuhan

pengendapan

kedua-duanya

dari

dapat
aktifitas

tanaman, penggalian, pengeboran,

sedimen hasil pencernaan, dan pengambilan dari silica dan kalsium


karbonat yang berbentuk material rangka. Dan kehadiran dari sisa
organism disebut sebagai material pengendapan.
2.3. Klasifikasi Lingkungan Pengendapan
Terdapat tiga pembagian lingkungan pengendapan utama
(Selley, 1988) , yaitu :
1. Lingkungan Darat (Continental)
2. Lingkungan Transisi (Transition)
3. Lingkungan Laut (Marine)
Setiap lingkungan pengendapan utama tersebut dapat terbagi lagi menjadi
beberapa sub-lingkungan. Pemaparan yang

komprehensif

mengenai

lingkungan pengendapan salah satunya telah dilakukan oleh Crosby (1972).


Namun Pembagian menurut Crosby tersebut tidak begitu praktis karena
mengandung terlalu banyak jenis lingkungan. Praktisnya lingkungan Pengendapan
adalah yang memiliki jumlah sub- lingkungan yang sederhana namun dapat
digunakan untuk membedakan lingkungan satu dengan lainnya dengan
menggunakan interpretasi lingkungan pengendapan yang ada. Berikut

adalah

table yang membagi lingkungan pengendapan secara umum. Memang dalam


pengklasifikasian lingkungan pengendapan terdapat banyak pendapat dan
kepentingan, sehingga suatu pengklasifikasian tidak semuanya dapat diterima oleh
geologis maupun pihak lain yang menggunakan.
Tabel 1. Penyederhanaan Klasifikasi Lingkungan Pengendapan (Boggs, 1955)

2.4. Pengertian Fasies Dan Model Fasies


Fasies merupakan suatu tubuh batuan yang memiliki kombinasi
karakteristik yang khas dilihat dari litologi, struktur sedimen dan struktur biologi
memperlihatkan aspek fasies yang berbeda dari tubuh batuan yang yang ada di
bawah, atas dan di sekelilingnya. Menurut Slley (1985), fasies sedimen adalah
suatu satuan batuan yang dapat dikenali dan dibedakan dengan satuan batuan yang
lain atas dasar geometri, litologi, struktur sedimen, fosil, dan pola arus purbanya.
Fasies sedimen merupakan produk dari proses pengendapan batuan sedimen
di dalam suatu jenis lingkungan pengendapannya. Diagnosa lingkungan

pengendapan

tersebut

dapat

dilakukan berdasarkan analisa faises sedimen,

yang merangkum hasil interpretasi dari berbagai data, diantaranya :


1. 1.Geometri
a) regional dan lokal dari seismik (misal : progradasi, regresi, reef dan
chanel)
b) intra-reservoir dari wireline log (ketebalan dan distribusi reservoir)
2. Litologi : dari cutting, dan core (glaukonit, carboneous detritus)
dikombinasi dengan log sumur (GR dan SP)
3. Paleontologi : dari fosil yang diamati dari cutting, core, atau side wall core
4. Struktur sedimen : dari core
Model fasies dapat diiterpretasikan sebagai urutan ideal dari fasies dengan
diagram blok atau grafik dan kesamaan. Ringkasan model ini menunjukkan
sebagai ukuran

yang

bertujuan untuk

membandingkan

framework

dan

sebagai penunjuk observasi masa depan. model fasies memberikan prediksi dari
situasi geologi yang baru dan bentuk dasar dari interpretasi lingkungan. pada
kondisi akhir hidrodinamik. Model

fasies

merupakan

suatu

cara

untuk

menyederhanakan, menyajikan, mengelompokkan, dan menginterpretasikan data


yang diperoleh secara acak. Ada bermacam-macam tipe fasies model, diantaranya
adalah :
a) Model Geometrik berupa peta topografi, cross section, diagram blok tiga
dimensi, dan

bentuk

lain

ilustrasi

grafik

dasar

pengendapan

framework. Model Geometrik empat dimensi adalah perubahan portray


dalam erosi dan deposisi oleh waktu .
b) Model statistik digunakan oleh pekerja teknik, seperti regresi linear
multiple, analisis trend permukaaan dan analisis faktor. Statistika model
berfungsi untuk mengetahui beberapa
pengendapan

atau

parameter

memprediksi respon dari suatu elemen dengan

elemen lain dalam sebuah proses-respon model.

2.5. Barrier Island dan Estuarine


A. Barrier Island

lingkungan

Dalam pemahaman yang mudah, Kepulauan Barrier modern terdiri dari


tubuh pasir yang dipisahkan sedimen lumpur lepas pantai yang berasal dari
sedimen lumpur laguna. Bagaimanapun, system kepulauan barrier jarang
menghasilkan geometri dan hubungan fasies yang dibutuhkan dalam rekaman
geologi. Fluktuasi relative dari muka laut disajikan sebagai Endapan backbarrier dan laguna transgresif, atau sebagai suksesi regresif muka pantai
(prograding).
Bagian ini memfokuskan pada kepulauan barrier trangresif dan
berhubungan dengan lingkungan laguna dan estuary dalam dominasi ombak,
dimana rentang tidal berukuran mikro (0 - 2 m), atau mesotidal (2 4 m). Telah
diperkirakan bahwa hanya 10 persen barrier di dunia berada pada garis pantai
dimana rentang tidal sampai 3 m(Glaeser, 1978), dan kepulauan barrier jarang
secara ekstrim berukuran makrotidal (lebih dari 4 m) pada area pantai.
Paper ini secara objektif menjelaskan : 1) menggambarkan fasies dan
lingkungan

kepulauan

mendokumentasikan

barrier

berbagai

transgresif
suksesi

fasies

dan

system

yang

estuary,

terbentuk

2)

selama

evolusi barrier dan mengkompilasikan suksesi tersebut ke dalam model deposisi


untuk digunakan dalam interpretasi batuan purba, dan 3) menghubungkan
model deposisi tersebut ke dalam konsep allostratigrafi dan sekuen stratigrafi.
Tatanan Deposisi pada Kepulauan Barrier dan Sistem Estuari
Garis pantai dengan dominasi ombak pada wilayah pantai inter deltaic dan
non delta dikategorikan oleh endapan pasir pantai parallel. Hal tersebut terhampar
sebagai :
1. kepulauan tunggal utama-bergabung dengan pantai,
2. sebuah dataran tidak rata terdiri dari banyak punggungan parallel pantai,
3. sebuah kenampakkan kepulauan barrier regresif terdiri dari
punggungan parallel pantai, atau
4. sebuah kepulauan barrier transgresif.
Kepulauan

barrier

secara

keseluruhan

atau

sebagian

dipisahkan

dari kepulauan utama oleh sebuah laguna, estuary atau marsh. Sebuah barrier
regresif hampir sama dengan dataran tidak rata, namun lebih lebar dan

berhubungan dengan kepulauan utama. Dataran tidak rata juga secara ekstensif
dekat dengan lingkungan laguna dan saluran tidal. Kepulauan barrier terdiri dari
tiga unsur geomorfologi yaitu;
1. kepulauan barrier berpasir,
2. laguna atau estuarine dibelakang barrier, dan
3. saluran tidal yang memotong sepanjang barrier dan menghubungkan
laguna ke laut terbuka.
Lalu system kepulauan barrier terdiri dari tiga lingkungan endapan klastik
utama,
1. barrier-pantai-kompleks dune subtidal sampai subaerial,
2. laguna subtidal-intertidal, tidal rata dan marsh, dan
3. saluran (channel) subtidal-intertidal dan kompleks delta tidal.
Pada tatanan transgresif, ada pula sebuah spektrum pada rentang dari 1)
kepulauan barrier yang melindungi laguna dengan aliran sungai yang sedikit
hingga ke laguna, 2) laguna yang lebih ekstensif dengan sejumlah mulut sungai
yang tidak aktif, 3) bentuk funnel pada bukit sungai (estuary) dengan sedikit atau
tanpa barrier pada mulut estuary. Hubungan gradasional antara laguna, estuary
laguna dan estuary berdasarkan rentang tidal oleh Hayes (1975, 1979). Hayes
tidak hanya mengobservasi kepulauan barrier yang jarang pada garis pantai
makrotidal, namun perbedaan morfologi antara kepulauan barrier pada garis
pantai mikrotidal dan mesotidal.
Keterdapatan Kepualauan Barrier dan Estuary
Kepualuan Barrier (Barrier Island)
Ada tiga hipotesis utama untuk kepulauan barrier, diantaranya;
1. agradasi konvergen pada endapan bawah laut,
2. progradasi parallel pantai, dan
3. isolasi pantai subkonvergen.
Progradasi pada pantai memodifikasi kepulauan barrier modern. Banyak
kepulauan barrier ekstensif memiliki model asal, keduanya melalui progradasi
dan submergensi pada pantai. Variasi pada suplai sedimen dan iklim-gelombang
dapat dengan mudah menghasilkan perpanjangan periodik pada lokasi spesifik

dimana submergensi pada punggungan pantai terdapat pada skala regional yang
besar.
Kepulauan barrier dan punggungan tidak rata lebih prevalen pada tatanan
pantai yang memiliki dataran benua dengan gradient rendah merujuk pada relief
rendah dataran pantainya,

suplai sedimen melimpah dan rentang tidal rendah

Glaeser, 1978). Dataran pantai dan shelf tersusun oleh sedimen tidak
terkonsolidasi yang menyediakan sumber pada kebutuhan litoral untuk
melengkapi kepulauan barrier.
B. Estuarine
Estuary adalah bagian dari lingkungan perairan yang merupakan
percampuran antara air laut dan air tawar yang berasal dari sungai, sumber air
tawar lainnya (saluran air tawar dan genangan air tawar).Lingkungan estuari
merupakan peralihan antara darat dan laut yang sangat di pengaruhi oleh pasang
surut, seperti halnya pantai, namun umumnya terlindung dari pengaruh
gelombang laut. Lingkungan estuary umumnya merupakan pantai tertutup atau
semi terbuka ataupun terlindung oleh pulau-pulau kecil, terumbu karang dan
bahkan gundukan pasir dan tanah liat.Kita mungkin sering melihat hamparan
daratan yang luas pada daerah dekat muara sungai saat surut. Itu adalah salah satu
dari sekian banyak tipe estuary yang ada. Tidak terlalu sulit untuk memilah atau
menetukan batas lingkungan estuary dalam suatu kawasan tertentu.

Hanya

dengan melihat sumber air tawar yang ada di sekitar pantai dan juga dengan
mengukur salinitas perairan tersebut.Karena perairan estuary mempunyai
Salinitas yang lebih rendah dari lautan dan lebih tinggi dari air tawar.Kisarannya
antara 5 25 ppm.

Estuarin menutupi lembah sungai (incised valley) hasil dari penarikan


muka air laut yang cepat pada kala Holosen. Tubuh pasir estuarin berlokasi dan
berbatasan dengan saluran utama (main channel) dan terdiri dari sedimen yang
dibawa ke bawah oleh sungai dan disuplai dari batas marine shelf, mud flatdan
rawa yang juga terbentuk pada estuarin. Tubuh batupasir marin pada estuarin
didominasi oleh gelombang yang juga merupakan gabungan yang terdiri dari
beberapa

fasies

yang

berlainan.

Pada

fase

tansgresif,

beberapa

atau

semua kompleks bar tererosi di sepanjang perulangan muka pantai (shoreface)


dan ditutupi

oleh

permukaan

ravinement.

Lingkungan

pengendapan

tersebut berhubungan sampai estuary mouth dan central basin area. Tubuh pasir
marin mungkin terlindungi lebih atau kurang

lengkap pada saat progradasi

dengan sedimen muka pantai dan pantai melalui endapan washover, flat tidal dan
tidal inlet. Pada profil vertikal, secara ideal endapan cekungan berbutir
halus memperlihatkan butiran yang simetris.Endapan yang halus terlihat pada
tengah cekungan. Pada estuarin, proses yang dominan adalah pasang-surut, tubuh
pasir seperti erosional truncation atau completely removed oleh migrasi headward
dari saluran pasang-surut (tidal channel) terpisah dari pasir bar (sand bar). Erosi
oleh saluran sepanjang transgresi juga menyebabkan silang siur atau laminasi
sejajar dari sand bar. Pola urutan pengendapan dari fasies sebagai hasil dari
transgresi ini akan menunjukkan kecenderungan menghalus ke atas
Beberapa ahli geologi mengemukakan beberapa pengertian yang
bermacam-macam tentang estuarin. Pritchard, 1967 (Reineck & Singh, 1980)
mengemukakan bahwa estuarin adalah a semi-enclosed coastal body of water

which has a free connection with the open sea and within which sea water is
measurably diluted with fresh water derived from land drainage. Ada dua faktor
penting yang mengontrol aktivitas di estuarin, yaitu volume air pada saat pasang
surut dan volume air tawar (fresh water) serta bentuk estuarin. Endapan sedimen
pada lingkungan estuarin dibawa dua aktivitas, yaitu oleh arus sungai dan dari laut
terbuka. Transpor sedimen dari laut lepas akan sangat tergantung dari rasio
besaran tidal dan disharge sungai. Estuarin diklasifikasikan menjadi tiga daerah,
yaitu :
1. Marine

atau

lower

estuarin,

yaitu

estuarine

yang

secara

bebas

berhubungan dengan laut bebas, sehingga karakteristik air laut sangat terasa pada
daerah ini.
2. Middle estuarin, yaitu daerah dimana terjadi percampuran antara fresh water
dan air asin secara seimbang.
3. Fluvial atau upper estuarin, yaitu daerah estuarin dimana fresh water lebih
mendominasi, tetapi tidal masih masih berpengaruh (harian)
Marine atau lower estuarin adalah estuarine yang secara bebas
berhubungan dengan laut bebas, sehingga karakteristik air laut sangat terasa pada
daerah ini. Daerah dimana terjadi percampuran antara fresh water dan air asin
secara seimbang disebut middle estuarin.Sedangkan fluvial atau upper estuarin,
yaitu daerah estuarin dimana fresh water lebih mendominasi, tetapi tidal masih
masih berpengaruh (harian).Friendman & Sanders (1978) dalam Reineck
& Singh mengungkapkan bahwa pada fluvial estuarin konsentrasi suspensi yang
terendapkan lebih kecil (<160mg/l) dibanding pada sungai yang membentuk delta.

BAB III
KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang didapat dalam pembuatan makalah mengenai
Lingkungan Pengendapan Barrier Island dan Estuarine, antara lain:

1. Lingkungan pengendapan adalah tempat mengendapnya material sedimen


beserta kondisi

fisik,

kimia,

terjadinya mekanisme

dan

biologi

yang

mencirikan

pengendapan tertentu. Dimana

dari suatu Lingkungan pengendapan


kimia dan biologi.
2. Lingkungan pengendapan

dapat

meliputi
di

parameter

parameter

klasifikasikan

fisik,

menjadi

bagian yaitu continental, peralihan dan marine.


3. Fasies adalah suatu tubuh batuan yang memiliki kombinasi karakteristik
yang khas dilihat dari litologi, struktur sedimen dan struktur biologi
memperlihatkan aspek fasies yang berbeda dari tubuh batuan yang yang
ada di bawah, atas dan di sekelilingnya sedangkan Model fasies dapat
diiterpretasikan sebagai urutan ideal dari fasies dengan diagram blok atau
grafik dan kesamaan.
4. Kepulauan Barrier
dipisahkan

modern

terdiri

dari

tubuh

pasir

yang

sedimen lumpur lepas pantai yang berasal dari sedimen

lumpur laguna. Bagaimanapun, system kepulauan barrier jarang


menghasilkan geometri dan hubungan fasies yang dibutuhkan

dalam

rekaman geologi. Sedangkan Estuary adalah bagian dari lingkungan


perairan yang merupakan percampuran antara air laut dan air tawar yang
berasal dari sungai, sumber air tawar lainnya (saluran air tawar dan
genangan air tawar).
5. Kepulauan barrier secara keseluruhan atau sebagian dipisahkan dari
kepulauan utama oleh sebuah laguna, estuary atau marsh. Sedangkan
Estuarine hanya dengan melihat sumber air tawar yang ada di sekitar
pantai dan juga dengan mengukur salinitas perairan tersebut.Karena
perairan estuary mempunyai Salinitas yang lebih rendah dari lautan dan
lebih tinggi dari air tawar.
6. Ciri-ciri lingkungan pengendapan Barrier Island adalah memiliki dataran
benua dengan gradient rendah merujuk pada relief rendah dataran
pantainya,

suplai sedimen melimpah dan rentang tidal rendah (Glaeser,

1978), dataran pantai dan shelf tersusun oleh sedimen tidak terkonsolidasi
yang menyediakan sumber pada kebutuhan litoral
kepulauan
menutupi

barrier.
lembah

Sedangkan
sungai

untuk

melengkapi

lingkungan pengendapan

(incised

valley)

hasil

Estuarin

dari penarikan

muka air laut yang cepat pada kala Holosen. Tubuh pasir

estuarin

berlokasi dan berbatasan dengan saluran utama (main channel) dan terdiri
dari sedimen yang dibawa ke bawah oleh sungai dan disuplai dari batas
marine shelf, mud flatdan rawa yang juga terbentuk pada estuarin.

DAFTAR PUSTAKA
Boggs Sam, Jr. 1964.Principles of Sedimentology and Stratigraphy.
Pearson Education inc. University of Oregon, USA
Walker, R.G. and James, N.P. 1992. Facies Models Response to Sea Level
Change: Geological Association of Canada. p 375-406