Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

MANAJEMEN KALIBRASI PERALATAN MEDIK

Oleh :
ADRIANA BHOKI
1304003

PROGRAM STUDI D-III TEKNIK ELEKTROMEDIK


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIDYA HUSADA
SEMARANG
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena
berkatNyalah makalah Manajemen Pemeliharaan Alat tentang kalibrasi ini
dapat penulis selesaikan. Makalah ini dibuat berdasarkan pengetahuan
dan referensi yang ada.
Selanjutnya bagi pihak-pihak yang telah berusaha membantu penulis
untuk suksesnya makalah ini, penulis ucapkan terimakasih. Makalah ini
tidak akan tersusun jika tidak ada bantuan dari pihak-pihak tertentu.
Semoga makalah yang telah penulis buat ini bisa bermanfaat bagi
siapa saja yang membacanya. Apabila dalam penyusunan makalah ini
terdapat kesalahan, penulis mohon maaf.

Semarang, 26 Mei 2016

ADRIANA BHOKI

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................................................................ii
DAFTAR ISI.............................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................................1
1.1.

Latar Belakang................................................................................................................1

1.2.

Rumusan Masalah...........................................................................................................1

1.3.

Tujuan..............................................................................................................................1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................................................2


2.1. Pengertian Kalibrasi............................................................................................................2
2.2. Arti Pentingnya Kalibrasi....................................................................................................3
2.3. Standar Alat Ukur Tingkat Nasional...................................................................................5
2.4. Jaringan Nasional Kalibrasi................................................................................................7
2.5. Teknik Pembuatan Laporan Hasil.......................................................................................8
2.5.1. Fungsi Sertifikat.........................................................................................................10
2.5.2. Isi Sertifikat................................................................................................................10
2.5.3. Beberapa hal yang dilarang dalam sertifikat kalibrasi................................................11
2.6. Institusi Kalibrasi.............................................................................................................12
2.6.1. Institusi Kalibrasi Eksternal.......................................................................................12
2.6.2. Institusi Kalibrasi Internal..........................................................................................12
2.7. Biaya Pengujian dan Kalibrasi Alat Kesehatan.................................................................12
2.7.1. Tarif Pelayanan Pengujian dan Kalibrasi....................................................................13
2.7.2. Biaya Perjalanan Tugas..............................................................................................13
2.8. Waktu Kalibrasi.................................................................................................................14
BAB III PENUTUP..................................................................................................................15
KESIMPULAN........................................................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................16

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang

Pembangunan Kesehatan adalah bagian dari Pembangunan Nasional yang bertujuan


untuk mewjudkan derajat kesehatan yang optimal. Undang Undang No. 23 tahun 1992
tentang Kesehatan dan Peraturan Pemerintah No. 72 tahun 1998, bertujuan untuk melindungi
pemberi dan penerima jasa pelayanan kesehatan, serta memberikan kepastian dan
perlindungan hukum dalam rangka meningkatkan, mengarahkan dan memberi dasar bagi
pembangunanan kesehatan.

Dalam rangka pembangunan kesehatan, perlu dilakukan peningkatan pelayanan


kesehatan kepada masyarakat. Untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan diperlukan
tersedianya alat kesehatan yang berkualitas, yaitu alat kesehatan yang tejamin ketelitian,
ketepatan dan keamanan penggunaannya. Agar alat kesehatan dimaksud berkualitas maka
perlu dilakukan pengujian dan kalibrasi.

1.2.

Rumusan Masalah
Makalah ini membahas tentang hal yang dilakukan sebelum dan sesudah proses

kalibrasi serta hal-hal yang berhubungan dengan kalibrasi.

1.3.

Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah:


1) Dapat mengetahui manfaatnya kalibrasi.
2) Dapat mengetahui hal yang dilakukan sebelum dan sesudah proses kalibrasi dan halhal yang berhubungan dengan kalibrasi

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Kalibrasi


Kalibrasi adalah proses verifikasi bahwa suatu akurasi alat ukur sesuai dengan
rancangannya. Kalibrasi biasa dilakukan dengan membandingkan suatu standar yang
tertelusur dengan standar nasional maupun internasional dan bahan-bahan acuan
tersertifikasi. (djokosoeprijanto, 2013)
Pengertian/arti kalibrasi menurut ISO/IEC Guide 17025 adalah serangkaian kegiatan
yang membentuk hubungan antara nilai yang ditunjukkan oleh instrumen ukur atau sistem
pengukuran, atau nilai yang diwakili oleh bahan ukur, dengan nilai-nilai yang sudah diketahui
yang berkaitan dari besaran yang diukur dalam kondisi tertentu.
Dengan kata lain, kalibrasi adalah kegiatan untuk menentukan kebenaran
konvensional nilai penunjukkan alat ukur dan bahan ukur dengan cara membandingkan
terhadap standar ukur yang mampu telusur (traceable) ke standar nasional untuk satuan
ukuran dan/atau internasional.
Sistem manajemen, baik itu sistem manajemen mutu ISO 9001 : 2008, sistem
manajemen lingkungan ISO 14001 : 2005, ataupun sistem manajemen kesehatan keselamatan
kerja OHSAS 18001 : 2008 juga mempersyaratkan dalam salah satu klausulnya bahwa
peralatan yang digunakan dalam suatu perusahaan yang berpengaruh terhadap mutu,
lingkungan, ataupun kesehatan harus dikalibrasi ataupun diverivikasi secara berkala.

Catatan :

1. Dari hasil kalibrasi dapat diketahui kesalahan penunjukkan instrument ukur, system
pengukuran atau bahan ukur, atau pemberian nilai pada tanda skala tertentu.

2. Suatu kalibrasi dapat juga menentukan sifat-sifat metrology lain.

3. Hasil kalibrasi dapat dicatat dalam suatu dokumen, disebut sebagai sertifikat kalibrasi
atau laporan kalibrasi.

4. Hasil kalibrasi dapat dinyatakan sebagai suatu faktor kalibrasi, atau sebagai suatu
deret faktor kalibrasi dalam bentuk kurva kalibrasi.
Sesuai dengan Pemenkes RI Nomor 530/MENKES/PER/IV/2007 Balai Pengamanan
Fasilitas Kesehatan menyelenggarakan fungsi :
1) Pengujian dan kalibrasi alat kesehatan.
2) Pengujian dan kalibrasi sarana dan prasarana kesehatan.
3) Pengamanan dan pengukuran paparan radiasi.
4) Pelayanan monitoring dosis radiasi personal.
5) Pengukuran luaran radiasi terapi.
6) Pengendalian mutu dan pengembangan teknologi pengamanan fasilitas kesehatan.
7) Pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi pengujian, kalibrasi, proteksi radiasi,
sarana, dan prasarana kesehatan.
8) Pelaksanaan jejaring kerja dan kemitraan.
9) Pelaksanaan bimbingan teknis di bidang pengamanan fasilitas kesehatan.
10) Pelaksanaan ketatausahaan.

2.2. Arti Pentingnya Kalibrasi


Kalibrasi alat ukur selain digunakan untuk memenuhi salah satu persyaratan / klausul
sistem manajemen mutu ISO 9001 : 2008, sistem manajemen lingkungan ISO 14001 : 2005,
ataupun OHSAS 18001 : 2007 tetapi juga mempunyai manfaat lainnya antara lain :
1. Jaminan mutu terhadap produk yang dihasilkan melalui sistem pengukuran yang valid
2. Menghindari cacat/penyimpangan hasil ukur
3. Menjamin kondisi alat ukur tetap terjaga sesuai spesifikasinya
Tujuan kalibrasi
3

1) Menentukan deviasi kebenaran konvensional nilai penunjukkan suatu instrument


ukur, atau deviasi dimensi nasional yang seharusnya untuk suatu bahan ukur.

2) Menjamin hasil-hasil pengukuran sesuai dengan standard nasional maupun


internasional.

3) Memastikan kesesuaian karakteristik terhadap spesifikasi dari suatu bahan ukur atau
instrumen.
Dalam kegiatan metrologi, memang berlaku azas praduga salah, karena tidak ada satu
pengukuran pun yang tidak mengandung kesalahan. Jadi, sebelum ditelusuri melalui
pengujian dan kalibrasi dengan alat yang memiliki ketelitian lebih tinggi, data hasil
pengukuran tersebut harus dianggap salah. Kalibrasi merupakan istilah yang telah dibakukan
dalam Bahasa Indonesia sebagai terjemahan dari istilah calibration dalam bahasa Inggris.
Kegiatan kalibrasi adalah kegiatan menentukan kebenaran penunjukan suatu alat ukur.
Dengan kalibrasi ini diharapkan kerugian-kerugian yang terjadi akibat salah indikasi atau
penyimpangan penunjukan dan pembacaan pada alat ukur dapat dihindari. (mutumed)
Mengingat kebenaran penunjukan alat ukur mempunyai arti yang sangat penting
dalam hampir semua kegiatan manusia maka pelaksanaan kalibrasi harus mengikuti cara-cara
yang telah dibakukan prosedurnya, baik mengikuti aturan-aturan standar ataupun
rekomendasi dari pabrikan pembuat alat tersebut. Kalibrasi suatu alat ukur dilakukan dengan
cara membandingkan penunjukan alat ukur yang dikalibrasi dengan alat ukur standar yang
lebih tinggi atau sama kelas/ketelitiannya dan telah diketahui kesalahan ukurnya. Dengan
melakukan kalibrasi pada setiap alat ukur, dapat ditentukan penyimpangan atau deviasi
penunjukan alat ukur tersebut, sehingga ketelitian atau akurasi alat yang telah dikalibrasi
terhadap alat ukur standar dapat dijamin. Kalibrasi dimaksudkan untuk mendapatkan tingkat
mutu alat ukur yang paling maksimal.
Semua jenis alat ukur yang perlu dikalibrasi adalah alat ukur untuk besaran-besaran
dasar dan turunan. Alat ukur besaran dasar meliputi alat ukur untuk mengukur panjang,
massa, waktu, arus listrik, suhu, jumlah zat, dan intensitas cahaya. Sedang besaran turunan
terdiri atas alat untuk mengukur luas, isi, kecepatan, tekanan, gaya, frekuensi, energi, daya,
hambatan listrik, dan sebagainya.
4

Dalam metrologi dikenal adanya metrologi legal dan metrologi teknis. Semua jenis
alat ukur yang digunakan untuk transaksi menyangkut kuantitas suatu komoditas (seperti
timbangan, literan dan sebagainya) termasuk metrologi legal. Sedang semua pengukuran di
luar ketentuan legal masuk dalam metrologi teknis.
Pelaksanaan maupun penentuan periode kalibrasi bergantung pada jenis alat ukurnya,
apakah alat ukur itu termasuk dalam katagori legal atau teknis. Untuk katagori legal,
pelaksanaan dan periode kalibrasinya ditentukan oleh peraturan yang berlaku di suatu negara
secara nasional. Untuk Indonesia diatur dalam Undang-Undang Metrologi Legal No. 2 Tahun
1981. Semua alat ukur untuk metrologi legal sebelum dijual wajib ditera yang
pelaksanaannya diawasi oleh Direktorat Metrologi Departemen Perindustrian dan Perdagangan. Pelanggaran terhadap ketentuan ini dapat berakibat tuntutan pidana.
Kalibrasi untuk metrologi teknis di Indonesia baru bersifat anjuran. Pelaksanaan dan
periode kalibrasinya bergantung pada keperluan dan/atau tingkat frekuensi penggunaannya.
Dapat juga disesuaikan dengan rekomendasi dari masing-masing pabrikan pembuat alat
tersebut. Makin tinggi ketelitian yang dipersyaratkan pada pembacaan atau penunjukan suatu
alat ukur, terutama apabila alat itu berfungsi sebagai alat kontrol, maka periode pelaksanaan
kalibrasinya akan lebih pendek atau lebih ketat. Bila dianggap perlu, misal karena
penunjukannya diragukan, alat ini harus dikalibrasi ulang sebagai upaya melakukan tindakan
korektif.
Hasil pengukuran suatu besaran harus tepat, benar, dan dapat dipercaya. Bertitik tolak
dari pentingnya kebenaran informasi yang diberikan oleh alat ukur teknis maka masalah
kalibrasi alat ukur teknis juga menjadi sangat penting, meskipun istilah kalibrasi itu sendiri
masih sangat asing bagi sebagian besar telinga masyarakat awam. Setiap alat ukur teknis
harus dikalibrasi terlebih dahulu sebelum digunakan. Kalibrasinya dilakukan secara berkala
sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan. Alat ukur standar yang digunakan dalam
kegiatan kalibrasi adalah alat ukur yang ketelitian dan juga tingkat presisinya minimal lebih
tinggi atau lebih baik dari pada alat ukur yang dikalibrasi.
Karena ada beberapa tingkatan laboratorium kalibrasi, mulai dari laboratorium primer
(standar tingkat internasional), laboratorium sekunder (standar tingkat nasional setiap
negara), hingga laboratorium lokal (standar untuk kawasan tertentu), maka setiap alat ukur
standar harus mampu telusur atau traceability terhadap standar yang lebih tinggi secara
5

bertingkat dan tidak terputus. Untuk mempertahankan kualitas hasil pengukuran, di antara
laboratorium-laboratorium standar primer selalu melakukan interkomparasi atau antar
banding dalam pengukuran besaran-besaran tertentu secara periodik.

2.3. Standar Alat Ukur Tingkat Nasional


Standar alat ukur tingkat nasional juga harus selalu dikalibrasi untuk menjaga
ketepatannya. Dalam hal ini, alat ukur standar nasional dikalibrasi terhadap alat ukur standar
yang dimiliki negara lain, sehingga alat ukur yang dikalibrasi secara internasional ini akan
bersifat universal. Kalibrasi tingkat internasional ini biasanya dilakukan dengan pusat-pusat
metrologi dan kalibrasi ternama di dunia, seperti Physikalisch Technische Bundensantstalt
(PTB) di Jerman, National Physical Laboratory (NPL) di Inggris, National Bareau of
Standards (NBS) di Amerika Serikat, Electro Technical Laboratory (ETL) di Jepang, Bareau
International des Poids et Mesures (BIPM) di Perancis, dan sebagainya.
Alat ukur yang digunakan dalam aktivitas tertentu dapat dikalibrasi dengan alat ukur
yang dimiliki oleh laboratorium lokal suatu daerah dimana alat itu digunakan. Cara kalibrasi
yang paling mudah dan umum digunakan terutama untuk kegiatan di lapangan adalah metode
komparasi, yaitu dengan membandingkan penunjukan alat ukur yang dikalibrasi dengan alat
ukur standar yang dimiliki laboratorium lokal. Namun, alat ukur standar pada laboratorium
lokal tersebut juga harus dikalibrasi dengan alat ukur standar sejenis yang dimiliki oleh setiap
negara. Sedang alat ukur standar yang ada di laboratorium sekunder atau laboratorium tingkat
nasional itu juga harus dikalibrasi terhadap alat ukur primer tingkat internasional. Dengan
demikian, alat ukur yang dipakai di suatu kawasan dapat ditelusuri tingkat kepercayaan
penunjukannya hingga ke tingkat internasional, meskipun alat tersebut tidak dikalibrasi
dengan alat ukur yang dimiliki laboratorium primer.
Kalibrasi alat ukur teknis mempunyai peran yang sangat penting dalam upaya
mempertahankan dan meningkatkan kualitas suatu produk, baik barang maupun jasa,
sehingga mendukung upaya tercapainya standardisasi produk. Dengan mengkalibrasi alat
ukur teknis yang dimiliki, kegiatan industri, jasa, maupun pelayanan dapat menghasilkan
barang, jasa, maupun pelayanan dengan mutu standar yang disyaratkan sehingga dapat
dipakai untuk memenuhi kebutuhan pasar, baik dalam maupun luar negeri.1 Dalam pelayanan
kesehatan kepada masyarakat, kualitas pelayanan yang bagus akan meningkatkan
kepercayaan masyarakat terhadap suatu lembaga.
6

Kalibrasi alat uji dan alat ukur teknis juga berkaitan dengan masalah keselamatan
kerja dan lingkungan. Alat ukur radiasi, misalnya, biasanya merupakan satu-satunya alat yang
diandalkan untuk mengukur laju dosis radiasi di tempat kerja yang memanfaatkan zat
radioaktif atau sumber radiasi lainnya. Dalam pelayanan kesehatan, penggunaan radiasi ini
bisa ditemui dalam kegiatan radiodiagnostik maupun radioterapi. Kesalahan fatal dapat
terjadi apabila alat tersebut salah dalam memberikan informasi hasil pengukuran intensitas
radiasi di tempat kerja. Dampak negatif terhadap lingkungan juga dapat terjadi karena
kesalahan dalam mengukur kadar bahan-bahan berbahaya di dalam limbah industri.
Setiap alat ukur yang telah dikalibrasi akan mendapatkan sertifikat kalibrasi yang
berlaku untuk jangka waktu tertentu, dan harus dikalibrasi ulang jika jangka waktu
berlakunya sertifikat tersebut telah habis. Pemberian sertifikat ini akan mempermudah
penelusuran kebenaran alat ukur. Hanya dengan alat ukur yang terkalibrasi bisa diperoleh
hasil pengukuran yang tepat dan teliti. Pada alat ini standardisasi produk, jasa dan pelayanan
serta keselamatan kerja dan lingkungan bersandar. Masih berkaitan dengan masalah kalibrasi,
perlu

juga

diperhatikan

persyaratan

lain

dalam

hal

pemeliharaan

alat,

seperti

penyimpanannya harus ditempat atau ruang yang terkondisi, baik suhu maupun
kelembabannya.

2.4. Jaringan Nasional Kalibrasi


Pada prinsipnya, semua jenis alat ukur teknis harus dikalibrasi, baik alat ukur untuk
besaran standar (seperti berat, panjang, waktu, arus listrik, suhu, jumlah zat dan intensitas
cahaya), maupun alat ukur besaran turunan (seperti luas, isi, kecepatan, tekanan, gaya,
frekuensi, energi, daya, tahanan listrik, dan lain-lain). Secara umum, suatu laboratorium
fasilitas kalibrasi mempunyai tugas-tugas sebagai berikut:

Memberikan pelayanan untuk mengkalibrasi alat ukur yang memerlukan ketepatan


dan ketelitian tinggi.

Memelihara dan menyempurnakan metode yang diperlukan dalam pelayanan kalibrasi


dan pengukuran.

Membina dan memberikan bimbingan teknis kepada fasilitas kalibrasi tingkat lokal.

Memelihara dan menyempurnakan alat ukur standar nasional.

Memberikan pengesahan terhadap prosedur kalibrasi di fasilitas kalibrasi tingkat


lokal.

Mengkalibrasi alat ukur standar nasional terhadap alat ukur primer atau membandingkan dengan alat ukur standar yang setingkat.

2.5. Teknik Pembuatan Laporan Hasil

Suatu kegiatan bisa dikatakan merupakan kegiatan kalibrasi, jika kegiatan tersebut
menghasilkan :

1. Sertifikat Kalibrasi.

2. Lembar hasil / laporan kalibrasi yang memuat / mencantumkan / berisi: angka


koreksi, deviasi/penyimpangan, ketidak pastian dan batasan-batasan atau standard
penyimpangan yang diperkenankan.

3. Label/ penandaan.
8

Catatan : Biasanya Lembar hasil / laporan kalibrasi merupakan bagian dari sertifikat
kalibrasi itu sendiri, untuk selanjutnya Sertifikat kalibrasi itu sendiri sudah
berisi data dan hasil atau laporan kalibrasi.

Contoh Label Merah & Label Hijau

Tanda Laik Pakai

Tanda Laik Pakai alat kesehatan berwarna dasar hijau dengan tulisan hitam, ukuran tanda
disesuaikan dengan besar kecilnya alat kesehatan yang akan ditempel tanda tersebut.
Penggunaan tanda dibedakan antara alat kesehatan yang menggunakan radiasi dan yang tidak
menggunakan radiasi.

Tanda Laik Pakai Alat Kesehatan Radiasi, dilengkapi dengan simbol radiasi dengan
warna dasar kuning dan simbol berwarna merah dengan pernyataan " DINYATAKAN
AMAN BAG1 PEKERJA, PENDERITA DAN LINGKUNGAN".

Tanda Laik Pakai Alat Kesehatan non Radiasi, dilengkapi pernyataan "
DINYATAKAN AMAN UNTUK PELAYANAN "

Tanda Laik Pakai, sekurang-hurangnya hams memuat informasi tentang :

Nama dan Lambang Lnstitusi Penguji

Nama alat kesehatan

Merk, Model / Type dan Nomor Seri alat kesehatan

Tanggal Pelaksanaan Pengujian atau Kalibrasi

Nomor SertifiKat Pengujian atau Kalibrasi

Pernyataan Laik Pakai dan jangka waktu berlaku Tanda Pengujian atau Kalibrasi

Nomor 1 Narna Ruangan tempat alat kesehatan dipergunakan.

Tanda Tidak Laik Pakai

Tanda Tidak Laik Pakai alat kesehatan berwarna dasar merah dengan tulisan hitam, besarnya
tanda disesuaikan dengan besar kecilnya alat kesehatan yang akan ditempel tanda tersebut.

Penggunaan tanda dibedakan antara alat kesehatan yang menggunakan radiasi dan yang tidak
menggunakan radiasi.

Tanda Tidak Laik Pakai Alat Kesehatan Radiasi, dilengkapi dengan simbol radiasi
dengan warna dasar kuning dan simbol berwarna merah dengan pernyataan "
DINYATAKAN TIDAK AMAN BAG1 PEKERJA, PENDERITA DAN
LINGKUNGAN ".

10

Tanda Tidak Laik Pakai Alat Kesehatan non Radiasi, dilengkapi pernyataan "
DINYATAKAN TlDAK AMAN UN'TUK PELAYANAN "

Tanda Tidak Laik Pakai, sekurang-kurangnya hams memuat informasi tentang :

Nama dan Lambang Institusi Penguji

Nama alat kesehatan

Tanggal Pelaksanaan Pengujian atau Kalibrasi dan Pernyataan Tidak Laik Pakai

Peringatan: kalibrasi hanya diperuntukkan alat yang sedang dioperasionalkan, bukan


diperuntukkan alat yang rusak. Alat rusak harus diperbaiki dahulu, baru kemudian
dilakukan kalibrasi untuk memastikan bahwa alat tersebut betul-betul baik.
Kalibrasi merupakan bagian dari jaminan Mutu
Alat kesehatan dinyatakan lulus pengujian atau kalibrasi bila :
Penyimpangan hasil pengukuran dibandingkan dengan nilai yang diabadikan pada
alat kesehatan tersebut tidak melebihi penyimpangan yang diijinkan.
Nilai hasil pengukuran keselamatan kerja, berada dalam nilai ambang batas yang
diijinkan.

2.5.1. Fungsi Sertifikat

Data hasil pengukuran kalibrasi yang dilaksanakan oleh laboratoriun harus dilaporkan
secara teliti, jelas, dan obyektif, sesuai dengan petunjuk dalam metode kalibrasi. Hasil
tersebut harus dituangkan dalam sertifikat kalibrasi yang mencakup semua informasi yang
11

diperlukan untuk menginterprestasikan hasil kalibrasi dan semua informasi yang disyaratkan
oleh metode yang digunakan.

Sertifikat kalibrasi, di satu sisi, secara langsung mencerminkan kemampuan teknis atau
kredibilitas Laboratorium kalibrasi yang menerbitkannya. Di sisi lain, sertifikat/laporan
kalibrasi merupakan artikel otentik unjuk kerja laboratorium kalibrasi.

Maraknya sertifikat sistem mutu ISO 9000 di Indonesia telah memberikan dampak
tersendiri pada laboratorium kalibrasi. Dampak yang jelas adalah semakin kritisnya pengguna
jasa kalibrasi. Hal ini timbul karena adanya tekanan asesmen atau audit yang harus mereka
hadapi untuk memenuhi persyaratan sertifikasi ISO 9000, mereka demikian protektonis
terhadap hasil kalibrasi yang mereka peroleh. (1997)

Sikap pelanggan yang demikian tentunya perlu ditanggapi secara positip sebagai masukan
yang konstruktif untuk kepentingan pengembangan kredibilitas laboratorium kalibrasi.

Bentuk dan isi sertifikat kalibrasi memainkan peranan penting dalam pendekatanpendekatan saling pengakuan antar laboratorium kalibrasi dan badan pengakreditasi; baik di
lingkup bilateral, regional maupun internasional.
2.5.2. Isi Sertifikat

Setiap sertifikat kalibrasi setidak-tidaknya mencakup informasi sbb :

a.

Judul (misal, Sertifikat Kalibrasi).


12

b.

Nama dan alamat laboratorium.

c.

Identifikasi khusus dan sertifikat (nomor seri) dan nomor dari tiap halaman,
serta jumlah keseluruhan halaman.

d.

Nama dan alamat pelanggan.

e.

Uraian dan identitas yang jelas dari barang yang dikalibrasi.

f.

Sifat dan kondisi barang yang dikalibrasi.

g.

Tanggal penerimaan barang yang dikalibrasi dan tanggal pelaksanaan kalibrasi

h.

Identitas metode kalibrasi yang digunakan atau uraian yang jelas dari tiap
metode yang belum baku yang digunakan.

i.

Adanya penyimpangan, penambahan atau pengecualian dari metode kalibrasi


dan tiap informasi lainnya yang terkait dengan kalibrasi atau pengujian tertentu, seperti
kondisi Iingkungan (temperatur dan kelembaban).

j.

Hasil pengukuran, pemeriksaan dan hasil yang diperoleh yang ditunjang


dengan tabel, grafik, sketsa, photo dan tiap kegagalan yang terjadi.

k.

Pernyataan ketidak pastian yang diperkirakan dari hasil kalibrasi.

l.

Tanda tangan dan jabatan, atau identitas ekuivalen dari orang yang menerima
tanggung jawab atas isi sertifikat dan tanggal penerbitannya.

m.

Pernyataan yang berkaitan dengan barang yang dikalibrasi.

n.

Pernyataan bahwa sertifikat tidak boleh digandakan tanpa persetujuan tertulis


dari laboratorium secara lengkap.
13

2.5.3. Beberapa hal yang dilarang dalam sertifikat kalibrasi

Beberapa hal yang dilarang dalam sertifikat kalibrasi adalah :


a. Ditandatangani oleh pejabat yang tidak berwenang.

b. Menampilkan logo KAN pada bidang kalibrasi yang tidak di akreditasi.

c. Tidak mencantumkan nilai ketidakpastian pengukuran.

d. Tidak mencantumkan kondisi lingkungan saat berlangsungnya kalibrasi.

Setiap alat kesehatan wajib dilakukan Kalibrasi untuk menjamin kebenaran nilai keluaran dan
keselamatan pemakaian.

Pengujian atau kalibrasi wajib dilakukan terhadap alat kesehatan dengan kriteria sebagai
berikut :

Belum memiliki sertifikat dan tanda lulus pengujian atau kalibrasi

Masa berlaku sertifikat dan tanda lulus pengujian atau kalibrasi telah habis

Diketahui penunjukannya atau keluarannya atau kinerjanya (performance) atau


keamanannya (safety) tidak sesuai lagi, walaupun sertifikat dan tanda masih berlaku

14

Telah mengalami perbaikan, walaupun sertifikat dan tanda masih berlaku

Telah dipindahkan bagi yang memerlukan instalasi, walaupun sertifikat dan tanda
masih berlaku. Atau jika tanda laik pakai pada alat kesehatan tersebut hilang atau
rusak, sehingga tidak dapat memberikan informasi yang sebenarnya.

2.6. Institusi Kalibrasi


2.6.1. Institusi Kalibrasi Eksternal

Kalibrasi eksternal harus dilakukan oleh Instansi Teknik pemerintah/swasta yang


berakreditasi untuk menjalankan kegiatan kalibrasi. Untuk membuktikan kemampuan
teknisnya, laboratorium kalibrasi harus mengikuti persyaratan yang ada di ISO/IEC 170251999 yang sekarang menjadi SNI 19-17025-2000. (1997)

2.6.2. Institusi Kalibrasi Internal

Kalibrasi yang dilakukan oleh Institusi Kalibrasi Internal minimum harus


mempunyai :

1. Alat kalibrasi yang mampu telusur

2. Mempunyai teknisi kalibrasi yang berkualifikasi

3. Mempunyai metode / prosedur kalibrasi

4. Mempunyai kondisi akomodasi lingkungan yang memadai

Secara umum juga harus mempunyai ruangan yang kondisi lingkungannya terjaga.

15

2.7. Biaya Pengujian dan Kalibrasi Alat Kesehatan.

Biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan pengujian atau kalibrasi alat kesehatan,
sepenuhnya menjadi beban sarana pelayanan kesehatan sebagai pemilik alat. Biaya yang
diperlukan meliputi:

Tarif peiayanan pengujian dan Kalibrasi

Biaya perjalanan petugas.


2.7.1. Tarif Pelayanan Pengujian dan Kalibrasi.

Pola tarif pelaksanaan pengujian dan kalibrasi alat kesehatan pada BPFK ditetapkan oleh
Menteri Kesehatan atas persetujuan Menteri Keuangan, dipergunakan sebagai tarif pelayanan
BPFK mencak up :

Biaya operasional

Alat, bahan

Jasa

Besaran tarif tersebut belum termasuk biaya transportasi dan biaya akomodasi petugas
pengujian dan kalibrasi karena biaya tersebut sangat bervariasi untuk masing-masing sarana
pelayanan kesehatan yang dipengaruhi oleh lokasi sarana pelayanan kesehatan clan jenis serta

jumlah alat kesehatan yang akan diuji dan atau dikalibrasi. Jika peralatan kesehatan diuji dan
atau dikalibrasi pada Laboratorium Institusi Penguji, maka biaya transportasi dan biaya
akomodasi petugas pengujian dan kalibrasi ditiadakan.

16

2.7.2. Biaya Perjalanan Tugas


Biaya perjalanan tugas terdiri dari biaya transportasi dan akomodasi, yang akan menjadi
beban sarana pelayanan kesehatan jika pengujian dan atau kalibrasi alat kesehatan
dilaksanakan pada lokasi sarana pelayanan kesehatan. (MEDIK, 2001)

1. Biaya transportasi petugas


Biaya transpotasi petugas adalah biaya dari tempat kedudukan Institusi Penguji ke
lokasi sarana pelayanan kesehatan pergi pulang sesuai peraturan yang berlaku atau
atas kesepakatan bersama.
2. Biaya akomodasi
Biaya akomodasi petugas berlaku biaya limpsum pegawai negeri sipil, sesuai
peraturan yang berlaku.
Besarnya biaya akomodasi dihitung berdasarkan jumlah petugas dan lamanya
pelaksanaan pengujian atau kalibrasi dalam hari.

17

2.8.

Waktu Kalibrasi
Sebagaimana telah ditetapkan path Permenkes Nomor: 36/MENKESI Per/IV/1998

alat kesehatan yang dipergunakan disarana pelayanan kesehatan wajib diuji atau dikalibrasi
secara berkala, sekurang-kurangnya 1 (satu) kali setiap tahun. Pengujian atau kalibrasi wajib
dilakukan terhadap alat kesehatan dengan kriteria:
a) Belum memfliki sertifikat dan tanda lulus pengujian atau kalibrasi
b) Masa berlaku sertifikat dan tanda lulus pengujian atau kalibrasi telah habis
c) Diketahui penunjukannya atau keluarannya atau kineijanya (performance) atau
keamananya (Safety) tidak sesuai lagi, walaupun sertifikat dan tanda masih berlaku.
d) Telah mengalami perbaikan, walaupun sertifikat dan tanda masih berlaku

18

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

Kalibrasi merupakan kegiatan untuk menentukan kebenaran konvensional nilai


penunjukkan alat ukur dan bahan ukur dengan cara membandingkan terhadap standar ukur
yang mampu telusur (traceable) ke standar nasional untuk satuan ukuran dan/atau
internasional. Jadi kalibrasi sangatlah penting dan berguna demi keakurasian alat yang ada di
Rumah Sakit.

Terdapat hal-hal yang perlu dilakukan sebelum kalibrasi dan sesudah kalibrasi dimana
hal-hal tersebut mendukung proses kalibrasi agar dapat berjalan dengan baik.

19

DAFTAR PUSTAKA
djokosoeprijanto /pengertian-dan-cara-kalibrasi-alat.html [Online]. - Maret 2013. http://djokosoeprijanto.blogspot.co.id.
DIREKTORAT JENDERAL PELAYANAN MEDIK PEDOMAN PENGUJIAN DAN
KALIBRASI ALAT KESEHATAN [Buku]. - JAKARTA : DEPARTEMEN KESEHATAN RI
, 2001.
mutumed berita-171-pengertian-dan-cara-kalibrasi-alat-kesehatan-.html [Online]. http://mutumed.co.id.
Pelatihan Baby Incubator Metoda ANSI / AAMI 1136 [Buku]. - Surabaya : Balai
Pengamanan Fasilitas Kesehatan, 1997.
Teori Pengukuran dan Kalibrasi [Buku]. - Surabaya : Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan,
1997.

20