Anda di halaman 1dari 8

Agama Islam adalah agama universal

Barangkali sebagian dari umat Islam terkadang telah melupakan, atau


seluruh umat manusia lainnya bahkan kurang memahami, misalnya:

Bahwa agama Islam adalah agama universal (bisa melewati batas


waktu, ruang dan konteks budaya / bisa berlaku kapanpun, dimanapun dan
bagi siapapun);
Bahwa agama Islam adalah agama yang tidak tergantung sejarah dan
budaya umat manusia (bahkan termasuk para nabi-Nya). Walau para nabiNya memang berperan besar, dalam memberi segala contoh pemahaman
dan pengamalannya, secara relatif sempurna (lengkap, mendalam,
konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan);
Bahwa agama Islam adalah agama yang sesuai kebenaran atau
pengetahuan-Nya di alam semesta ("tanda-tanda kekuasaan-Nya"), yang
justru bersifat 'mutlak' (pasti terjadi / berlaku) dan 'kekal' (pasti konsisten /
tidak berubah-ubah);
Bahwa agama Islam adalah agama yang menyertai atau mengikuti
perjalanan alam semesta, bahkan sampai akhir jaman.
Bahwa agama Islam adalah agama yang berbentuk rahmat-Nya bagi
alam semesta, terutama dalam makin menyempurnakan pemahaman dan
pengamalan seluruh umat manusia di dalamnya, tentang kebenaran-Nya di
alam semesta;
Bahwa agama Islam adalah agama bagi seluruh umat manusia di
muka Bumi (sama sekali bukan hanya semata bagi bangsa Arab ataupun
umat Islam), agar sama-sama bisa kembali ke "agama-Nya yang lurus"
("jalan-Nya yang lurus");
Bahwa agama Islam adalah agama yang membawa kemuliaan dan
keagungan, bagi seluruh umat manusia yang mengikutinya, di dunia dan
terutama lagi di akhirat;
Bahwa agama Islam adalah agama yang sesuai segala "fitrah dasar"
manusia;
Bahwa agama Islam adalah agama hasil perwujudan dari "Fitrah Allah"
(sifat-sifat terpuji dan mulia Allah), secara 'tak-langsung'. Sedangkan
perwujudan 'langsung'-nya berupa "agama-Nya yang lurus" di alam semesta
(segala keredhaan-Nya bagi segala makhluk ciptaan-Nya, dan terkandung
dalam "tanda-tanda kekuasaan-Nya");
Bahwa agama Islam adalah agama yang berdasar hasil usaha
pengungkapan Nabi, atas "agama-Nya yang lurus" di alam semesta, yang

juga telah dipelajari dari nabi ke nabi (bahkan juga dari umat ke umat), dari
jaman ke jaman;

Bahwa agama Islam adalah agama yang terlahir berdasar segala


pemahaman Nabi, yang relatif lengkap dan mendalam, dari segala hasil
usaha mempelajari "tanda-tanda kekuasaan-Nya" di alam semesta,
sekaligus sambil dituntun oleh para malaikat Jibril. Begitu pula halnya,
kelahiran agama-agama tauhid lainnya dari tiap nabi-Nya terkait;

Bahwa agama Islam adalah agama tauhid (selain agama Yahudi dan
Nasrani), yang berasal dari sisi Allah (sesuai kebenaran-Nya di alam
semesta);

Bahwa agama Islam adalah agama tauhid terakhir, yang juga paling
lurus, lengkap dan sempurna, dibanding agama-agama tauhid lainnya
(Yahudi dan Nasrani);

Bahwa agama Islam adalah agama yang sesuai tiap ilmu-pengetahuan


hasil temuan manusia, yang diperoleh secara relatif amat 'obyektif', 'cermat'
dan 'mendalam', dalam mengamati dan mempelajari "tanda-tanda
kekuasaan-Nya" di alam semesta;
Semua keterangan pada poin-poin di atas, tentunya hanya berupa
rangkuman yang amat ringkas. Sedangkan uraian dan penjelasannya yang
lebih lengkapnya bisa dibaca pada buku "Menggapai Kembali Pemikiran
Rasulullah SAW".
Lalu dari semua keterangan di atas, justru juga menimbulkan berbagai
pertanyaan atau persoalan yang amat penting, seperti misalnya:

Agama Islam yang 'bagaimana' atau 'semacam apa' bentuknya, yang


bisa ideal atau sempurna (bisa berlaku 'universal' dan juga sekaligus
berlaku 'aktual', bahkan sampai akhir jaman)?.
Sifat 'universal' dan 'aktual' memang relatif 'saling bertentangan', namun
bagaimana cara menyatukan atau mengaitkan, antara hal-hal yang bersifat
'universal' dan yang bersifat 'aktual', dalam ajaran agama Islam?.
Apakah pemahaman dan pengamalan umat Islam saat ini, atas
ajaran agama Islam, telah ideal atau sempurna (pemahamannya bersifat
'universal' dan pengamalannya bersifat 'aktual')?;
Apakah umat Islam saat ini telah memahami ajaran agama Islam,
'sesuai' dengan pemahaman Nabi, atas keseluruhan wahyu-Nya yang telah
diperolehnya (memahami secara relatif lengkap, mendalam, konsisten, utuh
dan tidak saling bertentangan)?;
Apakah umat Islam saat ini telah benar-benar mengenal agama
Islam?, termasuk bagaimana cara agama Islam dan agama-agama tauhid

lainnya, diturunkan-Nya? dan apa kaitan antara "seluruh agama tauhid",


"agama-Nya yang lurus" (terkandung dalam "tanda-tanda kekuasaan-Nya"
di alam semesta) dan "Fitrah Allah"?;
Berbagai pertanyaan atau persoalan itu akan dicoba dijawab, melalui
uraian-uraian ringkas di bawah. Namun jawaban dan penjelasan yang lebih
lengkapnya bisa dibaca pada buku "Menggapai Kembali Pemikiran Rasulullah
SAW".
Penting diketahui, bahwa "tanda-tanda kekuasaan-Nya" di alam
semesta terkadang disebut sebagai "wajah-Nya", "segala kebenaran atau
pengetahuan-Nya", "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis", "sabda, firman, kalam
atau wahyu-Nya yang sebenarnya" atau sebagai "Al-Qur'an dan kitab-kitabNya lainnya yang berbentuk 'gaib', yang tercatat dalam kitab mulia (Lauh
Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya".
Semua sebutan ini hanya berbeda fokus, sudut pandang atau konteks
pemakaian masing-masing, namun merujuk kepada sesuatu hal yang sama,
berupa "segala sesuatu hal yang bersifat 'mutlak' (pasti terjadi / berlaku) dan
'kekal' (pasti konsisten / tidak berubah-ubah), pada segala zat ciptaan-Nya
dan segala kejadian di alam semesta".
Baca pula artikel "Kitab mulia (Lauh Mahfuzh) dan keragaman
kandungan isinya".

Dalil-dalil naqli, bahwa agama Islam


adalah agama universal
Istilah 'universal' tentunya sama sekali tidak ada dalam kitab suci AlQur'an, karena memang berasal dari bahasa Inggris, dan terkait dengan 'alam
semesta' ('universe'). Tetapi dalam ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an justru amat
banyak disebut 'alam semesta' ('semesta alam', 'sekalian alam', 'seluruh
alam', 'langit dan Bumi', 'segala sesuatu', dsb).
Tentunya juga termasuk amat banyak disebut, segala hal yang terkait
dengan 'alam semesta', seperti: "bukti-bukti nyata", "ayat-ayat-Nya yang taktertulis", "tanda-tanda kekuasaan-Nya", "langit", "bintang", "gugusan bintang
(galaksi)", dsb. Bahkan semua ayat seperti ini ada ratusan jumlahnya.
Lebih penting lagi, hampir semua ayat ini disertai dengan segala
anjuran-Nya, agar umat Islam bisa banyak mengamati, mempelajari,
memikirkan dan memahami penciptaan alam semesta, beserta segala zat
ciptaan-Nya dan segala kejadian di dalamnya. Ayat-ayat seperti ini tentunya

sekaligus telah menunjukkan, bahwa kaitan antara 'agama tauhid' dan 'alam
semesta', memang amat dekat.
Bahkan suatu agama tauhid justru terlahir berdasar seluruh
pemahaman, pada tiap nabi-Nya terkait (seluruh wahyu-Nya), dari segala
hasil usahanya yang relatif amat keras dan maksimal, dalam mengamati,
meneliti dan mempelajari "tanda-tanda kekuasaan-Nya" di 'alam semesta'
("ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis" / "segala kebenaran-Nya"), sekaligus sambil
dituntun oleh para malaikat Jibril.
Tentunya untuk memahami hal di atas, umat Islam mestinya telah
memahami pula, "bagaimana cara proses diturunkan-Nya wahyu, kepada
para nabi-Nya?", serta termasuk, "bagaimana transfomasi perubahan bentuk
wahyu-Nya, sejak dari Allah 'langsung', ke para malaikat Jibril, ke para nabiNya, sampai ke bentuk yang diterima umat para nabi-Nya?". Kedua hal inipun
telah dijawab cukup lengkap, dalam artikel "Cara proses diturunkan-Nya
wahyu" dan "Wahyu dan kitab-Nya memiliki 4 macam bentuk".
Penting diketahui, bahwa "wahyu-Nya yang sebenarnya, dan berasal
'langsung' dari Allah, adalah 'alam semesta'". Sedangkan tiap bentuk wahyuNya selanjutnya (pada para malaikat Jibril, pada pikiran para nabi-Nya dan
pada Al-Kitab), justru hanya berasal dari hasil pemahaman, atas kebenaranNya di 'alam semesta'. Ringkasnya, bentuk wahyu-Nya pada malaikat Jibril
berupa tiap ilham yang positif-benar-baik, pada pikiran para nabi-Nya berupa
tiap pemahaman Al-Hikmah, dan pada Al-Kitab berupa tiap ayatnya.

Selain itu, dalam ayat-ayat kitab suci


Al-Qur'an juga banyak disebut, seperti:

"Tiap nabi-Nya bisa saling membenarkan wahyu dan kitab-Nya pada


para nabi-Nya lainnya"
(QS.5:48, QS.2:41, QS.2:89, QS.2:91, QS.2:97, QS.2:101, QS.3:3, QS.4:47
,QS.6:92, QS.10:37, QS.12:111, QS.35:31, QS.46:12, QS.46:30, QS.37:37
dan QS.3:81).
"Tauhid pada keseluruhan para nabi-Nya relatif 'sama', seperti 'Tiada Tuhan
selain Allah, Tuhan Yang Maha Esa'"
(QS.40:62, QS.27:26, QS.37:35, QS.40:3, QS.40:65,QS.59:22-23, QS.73:9
dan QS.11:84).
Hal ini menunjukkan, bahwa para nabi-Nya memang telah bisa memahami
nilai-nilai universal yang 'sama', dari hasil mempelajari alam semesta yang
'sama', sekalipun antar para nabi-Nya justru tidak saling bertemu atau
muncul terpisah selama berabad-abad.

"Islam, Al-Qur'an dan nabi Muhammad saw, adalah agama, kitab dan
nabi-Nya bagi 'seluruh umat manusia'"
(QS.12:38, QS.5:3, QS.3:138, QS.16:44, QS.68:52, QS.34:28dan QS.4:79).

"Nabi Muhammad saw menjadi saksi bagi 'seluruh umat manusia' di Hari
Kiamat" (QS.16:89 dan QS.22:78).
Hal ini menunjukkan, bahwa ajaran agama Islam 'mestinya' bisa berlaku
'universal' (bisa melewati batas waktu, ruang dan konteks budaya / bisa
berlaku kapanpun, dimanapun dan bagi siapapun), bahkan termasuk juga
'mestinya' berlaku bagi seluruh umat manusia 'terakhir', di akhir jaman.
Namun tentunya juga tidak perlu 'dipaksakan', menjadi "'seluruh umat
manusia' ini termasuk seluruh umat manusia 'sebelum' kemunculan Nabi".

"Tiap-tiap umat memiliki syariatnya masing-masing"


(QS.22:67, QS.42:13 danQS.45:18).
"Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan (untuk melaksanakan)
penyembelihan (kurban). " (QS.22:34).
Hal ini menunjukkan, bahwa syariat yang telah diajarkan oleh para nabiNya, memang bisa berbeda-beda, dari jaman ke jaman (sesuai
perkembangan keadaan umat atau jamannya masing-masing). Walau ada
sebagian syariat, yang juga bersifat 'universal' (tetap terus berlaku / tetap
serupa dari umat ke umat, dari jaman ke jaman).
Namun tentunya juga tidak perlu 'dipaksakan', menjadi "syariat bagi umat
Nabi pada abad sekarang, abad 30, abad 100, saat akhir jaman, dsb, harus
persis 'sama' dengan syariat bagi umat Nabi, pada jaman Nabi".
Umat Islam mestinya memahami prinsip dan tujuan dasar dari timbulnya
suatu syariat.
Syariat bukan tergantung nabi pembawanya, tetapi tergantung
perkembangan keadaan kehidupan umat nabi itu sendiri (tiap nabi
menyesuaikan syariatnya, dengan keadaan kehidupan umatnya, agar bisa
mudah dipahami dan diamalkannya).
Wahyu-Nya dan syariat bukan diturunkan atau diperintahkan-Nya dengan
'begitu saja', namun semuanya justru melalui segala proses yang amat
'alamiah'.

Dsb.
Ayat-ayat dan uraiannya di atas tentunya hanya untuk menunjukkan
'universalitas' dari ajaran agama Islam, secara ringkas. Uraian yang lebih
lengkapnya bisa dibaca pada blog ini, terutama dari buku "Menggapai
Kembali Pemikiran Rasulullah SAW".

Istilah 'universal' dan 'plural' sekilas


serupa, tetapi berbeda
Dalam kamus, tentunya istilah 'universal' memang berbeda daripada
istilah 'plural', walau di dalam pemakaiannya sekilas tampak serupa. Istilah
'universal' bermakna "umum (berlaku bagi semua orang / seluruh dunia);
bersifat melingkupi seluruh dunia" dan istilah 'plural' bermakna "jamak;
majemuk; lebih dari satu".
Hal ini amat perlu ditekankan kembali perbedaannya, selain untuk bisa
mengurangi kecurigaan umat Islam atas istilah 'universal', khususnya lagi
akibat telah makin maraknya gerakan pluralisme dalam kehidupan beragama.
Jika di jaman dahulu, gerakan pluralisme misalnya telah bisa melahirkan
aliran-aliran besar, dalam agama Islam (termasuk aliran Sunni dan Syiah),
dari berbagai aliran pemikiran ilmu kalam ataupun ilmu fiqih yang lebih kecil.
Maka persoalan mulai timbul pada saat ini, dari gerakan pluralisme yang telah
makin meluas, menjadi "antar / lintas agama".
Pluralisme memang bukan hal yang baru atau asing, dalam agama
Islam. Dimana semua aliran pemikirannya telah menetapkan berbagai prinsip
dasar 'bersama' (terutama pada tauhid atau syahadatnya), yang tidak boleh
dilanggar. Sedangkan hal-hal yang di luar berbagai prinsip dasar itu, masih
dibolehkan ada perbedaan antar umat. Namun pluralisme dalam hal-hal
'ketuhanan', 'kebenaran' dan 'keyakinan', justru menjadi persoalan (bahkan
termasuk pluralisme 'kebenaran' dan 'keyakinan' antar umat Islam, dalam
'suatu' aliran).
Padahal telah disebut di dalam kitab suci Al-Qur'an, "bahwa manusia
memang tidak dijadikan-Nya 'satu umat' (satu agama dan pemikiran), sebagai
bentuk ujian-Nya baginya" (QS.5:48, QS.16:93, QS.42:8 dan QS.10:19).
Dengan fitrah dasar manusia yang cenderung saling berselisih (akibat
diciptakan-Nya nafsu-keinginannya), sehingga gerakan pluralisme 'antar
agama' itu berupa langkah yang mustahil dan pasti sia-sia. Hal inipun serupa
dengan kemustahilan, untuk menyatukan keyakinan dan pemikiran antar umat
Islam sendiri.
Lebih tepat, jika gerakan pluralisme 'antar agama' itu bukan terarah,
untuk saling mengakui, menyetujui atau membenarkan, atas tiap 'keyakinan'
yang dimiliki oleh masing-masing agama. Tetapi gerakan itu mestinya hanya
terarah, untuk bisa mengurangi segala perselisihan atau konflik antar agama,
yang benar-benar tidak perlu (diawali kasus kecil / tanpa ada kezaliman dari
suatu pihak), yang justru pasti merugikan semua pihak. Dengan kata lain,

gerakan itu mestinya hanya untuk bisa meningkatkan toleransi atau


kesadaran, "bahwa segala perbedaan / pluralitas antar manusia, adalah
bentuk kehendak-Nya (bagian dari sunatullah), untuk menguji keyakinan atau
keimanannya masing-masing".
Sekali lagi, dalam gerakan itu sama sekali tidak perlu atau tidak
bermanfaat, untuk membicarakan 'keyakinan' dari masing-masing agama.
Jika hal inipun terjadi, justru hanya pihak atau agama yang paling
berpengaruh di dalamnya, yang paling diuntungkan, sebagai sarana bagi
penyebaran agamanya. Apalagi dasar acuan bagi gerakan itu justru tidak ada,
semua bersifat relatif, amat tergantung kekuatan tarik-menarik kepentingan
antar pihak. Bahkan pembicaraan seperti ini hanya makin mengaburkan
keyakinannya masing-masing, serta ada pihak yang diuntungkan dari
pengaburan itu sendiri. Padahal telah jelas disebut dalam kitab suci Al-Qur'an,
"untukmu agamamu, untukku agamaku" (QS.109:6).
Di lain pihak, jauh lebih penting bagi umat Islam (termasuk bagi
penggagas gerakan pluralisme 'antar agama' itu), untuk bisa makin banyak
mengungkap nilai-nilai 'universal' (Al-Hikmah), yang terkandung dalam
ajaran agama Islam, yang juga makin kokoh-kuat segala dalil-alasan-hujjah
dan makin lengkap penjelasannya. Melalui usaha pengungkapan seperti ini,
selain keyakinan umat Islam sendiri justru bisa makin kokoh-kuat, atas
ajaran agama Islam. Bahkan umat penganut agama-agama lainnya juga bisa
ikut mengakuinya, karena nilai-nilai 'universal' itu memang relatif amat sulit
bisa dibantahnya.
Nilai-nilai 'universal' (Al-Hikmah) itu bisa diperoleh dengan mengaitkan,
antara teks ajaran agama Islam, dan hasil pemahaman atas "tanda-tanda
kekuasaan-Nya" di alam semesta. Sedangkan "tanda-tanda kekuasaan-Nya"
itu sendiri bersifat 'mutlak' dan 'kekal', serta memang hanya hasil dari segala
perbuatan Allah, Yang Maha Kuasa dan Maha Kekal.
Maka sesuatu hal yang bersifat 'universal' memang memiliki dasar
acuan yang jelas (bersifat 'mutlak' dan 'kekal'), dan pasti berasal dari Allah.
Nilai-nilai 'universal' justru pasti berlaku bagi segala sesuatu hal di alam
semesta, mau diakui ataupun tidak. Hal ini memang berbalikan dengan
'pluralisme' di atas, yang tanpa memiliki dasar acuan yang jelas (bersfat
'relatif' dan 'fana'), dan pasti berasal dari manusia, meskipun 'pluralitas' justru
pasti berasal dari Allah. Nilai-nilai 'pluralisme' berlaku terbatas, hanya bagi
sebagian manusia yang mau mengakuinya. Agama bukan hasil 'pluralisme',
'demokratisme' dan 'budaya manusia', tetapi berdasar hasil pemahaman para
nabi-Nya, atas nilai-nilai 'universal' di alam semesta.

Walau diakui, memang relatif amat sulit, untuk bisa memahami nilai-nilai
'universal' (Al-Hikmah), serta di jaman dahulu relatif hanya dicapai oleh para
nabi-Nya. Sedangkan di jaman sekarang ini, umat Islam telah relatif
dipermudah dalam memahaminya, khususnya dengan memulai mengacu dari
kitab suci Al-Qur'an dan Hadits Nabi, yang memang penuh 'mengandung' AlHikmah
di
dalamnya
(QS.3:58, QS.10:1,QS.31:2, QS.36:2, QS.43:4 dan QS.44:4).
Selain
itu,
tentunya umat Islam juga mestinya amat berilmu-pengetahuan, dari
mempelajari "tanda-tanda kekuasaan-Nya" di alam semesta (lahiriah dan
batiniah).
Baca pula artikel "Metode pencapaian pemahaman Al-Hikmah".
Hampir seluruh agama di dunia memang membenarkan adanya nilainilai 'universal' di alam semesta, yang berasal dari Tuhan Pencipta alam
semesta, seperti misalnya disebut dalam 'universalisme' (universalism) pada
Wikipedia. Termasuk melalui segala pengajaran dalam seluruh agama itu,
tentang berragam 'kebaikan' atau 'etika' yang bersifat 'universal'. Tetapi amat
ironisnya, pembenaran ini justru juga hanya berlaku 'parsial' (sebagian / tidak
utuh / sepotong-sepotong).
Contoh sederhananya, ke-Maha Esa-an Tuhan (tauhid), adalah nilai
yang bersifat 'universal', dan bahkan diakui oleh hampir seluruh agama.
Namun pada sebagian agama itu justru juga sekaligus tetap berlaku 'musyrik'
(menyekutukan Allah, Tuhan Yang Maha Esa dan Pencipta alam semesta /
memiliki 'banyak' Tuhan), diakui ataupun tidak.
Maka umat Islam (terutama Majelis alim-ulamanya) justru mestinya bisa
memiliki segala dalil-alasan-hujjah dan segala penjelasannya, yang kokohkuat dan lengkap, tentang ke-Maha Esa-an Allah (tauhid), serta sekaligus bisa
membantah dengan kokoh-kuat pula, atas segala bentuk kemusyarikan
(menyekutukan Allah). Hal ini juga amat penting, untuk makin memperkuat
keyakinan umat Islam sendiri, atas ajaran agama Islam.
Contoh sederhananya, telah jelas disebut dalam kitab suci Al-Qur'an,
"Allah, Tuhan Yang Maha Esa, Yang tidak beranak dan tidak diperanakkan"
(QS.112:1 & 3). Namun juga umat Islam mestinya bisa memahami segala
kemustahilan dan kerugian, pada keterangan seperti, "manusia adalah anak
Tuhan". Sebaliknya sekaligus bisa memahami kenapa justru disebut dalam
kitab suci Al-Qur'an, "manusia adalah khalifah-Nya" (bukan anak Tuhan).