Anda di halaman 1dari 13

Batuk Terus-Menerus pada Anak Berusia 4 tahun

Anggraini Hertanti
102012440
Fakultas Kedokteran Umum
Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Terusan Arjuna No.6 Kebon Jeruk, Jakarta Barat
Email: Anggrainy_eny@yahoo.co.id

Pendahuluan
Gangguan pernafasan sering merupakan keluhan seseorang datang ke dokter, keluhankeluhan itu antara lain adalah batuk, sesak napas, nyeri didada dan lain-lain. Batuk adalah
suatu refleks napas yang terjadi karena adanya rangsangan reseptori iritan yang terdapat di
seluruh saluran napas. Batuk juga dapat merupakan akibat penyakit telinga atau gangguan
perut yang mengakibatkan iritasi diafragma. Batuk yang terjadi kadang-kadang dan
berhubungan dengan paparan (hawa dingin, debu, asap, angin, dan lain-lainnya) akan
menggiring kita kepada penyebab batuk tersebut. Batuk berdahak (sputum mukopurulen)
menunjukan adanya kelainan saluran napas bawah.
Keluhan yang biasanya juga disertai ketika batuk adalah sesak napas. Sesak napas atau
dispnea adalah keluhan yang sering memerlukan penanganan darurat tetapi intensitas dan
tingkatnya dapat berupa rasa tidak nyaman di dada yang bisa membaik sendiri, yang
membutuhkan bantuan napas yang serius (severe air hunger) sampai yang fatal. Keluhan awal
akut mungkin disebabkan adanya gangguan fisiologis akut, seperti serangan asma bronkial,
emboli paru, pneumotoraks atau infark miokard. Serangan berkepanjangan lebih sering akibat
eksaserbasi penyakit paru yang kronik atau perkembangan proses sedikit demi sedikit seperti
pada efusi pleura atau gagal jantung kongestif.
Anamnesis
Pada anamnesis, ditanyakan nama, umur, jenis kelamin, keluhan utama, riwayat
penyakit dahulu, riwayat sosial, riwayat keluarga, dan riwayat obat. 2 Anamnesis tidak perlu
lebih terperinci, akan tetapi dapat dilakukan lebih terarah kepada diagnosis banding setelah
dan sewaktu inspeksi.
Batuk Terus Menerus pada Anak Berusia 4 tahun

Page 1

Keluhan Utama : pasien mengeluh saat batuk kesulitan bernafas karena batuk terus
menerus yangtidak kunjung berhenti. Wajah jadi merah kebiruan, kadang disertai

bunyi saat anak berusaha menarik nafas.


Riwayat penyakit sekarang : demam naik turun tapi tidak terlalu tinggi.
Riwayat penyakit terdahulu : Sebaiknya ditanyakan apakah anak tersebut pernah

menderita batuk sebelumnya


Riwayat Sosial : adakah kontak dengan pasien pertusis.
Riwayat Keluarga : Perlu dipastikan apakah terdapat batuk dalam keluarga pasien.
Riwayat Pengobatan : ditanyakan apakah sudah pernah berobat
Riwayat imunisasi DPT

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik (Physical Examination) juga sering disebut sebagai diagnosis fisik.
Untuk keperluan pemeriksaan fisik, pasien diminta untuk melepas baju sehingga dada dan
perut dapat diperiksa dengan leluasa. Diperlukan sinar yang cukup untuk penerangan,
kadang-kadang diperlukan sinar dari arah samping atau tangensial. Mula-mula pasien
diperiksa dalam posisi duduk, kemudian berbaring atau berbaring setengah duduk dengan
sudut 30-45. Ada komponen dasar pemeriksaan fisik, yaitu inspeksi, palpasi, perkusi, dan
auskultasi.3
Inspeksi
Pemeriksaan dengan cara melihat objek yang diperiksa disebut inspeksi. Inspeksi
merupakan fase awal pemeriksaan yang sangat penting untuk mendapatkan informasi tentang
gejala penyakit. Inspeksi yang berkaitan dengan sistem pernapasan adalah observasi dada,
bentuknya simetris atau tidak, gerak dada, pola napas, frekuensi napas, irama, apakah
terdapat ekshalasi yang panjang (sighing), apakah terdapat penggunaan otot pernapasan
tambahan, gerak paradoks, retraksi antara iga, retraksi di atas klavikula, apakah terdapat parut
luka yang kemungkinan bekas operasi. Penghitungan frekuensi napas jangan diketahui oleh
pasien karena akan mengubah pola napasnya. Lakukan penghitungan frekuensi napas seolaholah seperti menghitung frekuensi detak nadi.3

Palpasi
Batuk Terus Menerus pada Anak Berusia 4 tahun

Page 2

Palpasi dimulai dengan memeriksa telapak tangan dan jari, leher, dada, dan abdomen.
Tekanan vena jugularis diperlukan untuk mengetahui tekanan pada atrium kanan.
Pemeriksaan leher bertujuan untuk menentukan apakah trakea tetap di tengah atau bergeser
dari tempatnya, apakah terdapat penonjolan nodus limfa. Pemeriksaan palpasi dada akan
memberikan informasi tentang penonjolan di dinding dada, nyeri tekan, gerakan pernapasan
yang simetris atau asimetris, derajat ekspansi dada, dan untuk menentukan tactile vocal
fremitus. Pemeriksaan gerak dada dilakukan dengan cara meletakkan kedua telapak tangan
secara simetris pada punggung. Kedua ibu jari diletakkan di samping linea vertebralis dengan
jarak yang sama. Pasien diminta untuk melakukan inspirasi dalam. Jika gerak dada simetris,
jarak ibu jari kanan dan kiri terhadap linea vertebralis akan berbeda. Sisi ulnar telapak tangan
diletakkan dengan ringan pada dinding dada kemudian pasien diminta untuk mengucapkan
kata tujuh puluh tujuh.3
Perkusi
Pengetukan dada (perkusi) akan menghasilkan vibrasi pada dinding dada dan organ
paru di bawahnya yang akan dipantulkan dan diterima oleh pendengaran pemeriksa. Nada
dan kerasnya bunyi tergantung pada kuatnya perkusi dan sifat organ di bawah lokasi perkusi.
Perkusi di atas organ yang padat atau organ yang berisi cairan akan menimbulkan bunyi
dengan amplitudo rendah dan frekuensi tinggi yang disebut suara pekak (dull, stony dul).
Perkusi di atas organ yang berisi udara akan menimbulkan bunyi resonansi, hiperresonansi
dan timpani.3
Auskultasi
Auskultasi adalah mendengarkan suara yang berasal dari dalam tubuh dengan cara
menempelkan telinga ke dekat sumber bunyi atau agar lebih mudah dengan menggunakan
stetoskop. Stetoskop mempunyai tiga ujung yaitu satu ujung kepala yang diletakkan di atas
kulit dada atau perut dan dua ujung yang lain ditempelkan di lubang telinga pemeriksa.
Auskultasi dilakukan mulai dari leher, dada, dan kemudian abdomen. Urutan melakukan
auskultasi sebaiknya sistemik. Untuk keperluan ini dinding dada anterior dibagi menjadi
enam (6) lobus sedangkan punggung posterior dibagi menjadi dua belas (12) lokus.3

Pemeriksaan Penunjang

Batuk Terus Menerus pada Anak Berusia 4 tahun

Page 3

Beberapa pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk menegakkan diagnosis


pertusis adalah sebagai berikut: (1) Bahan; lebih disukai bahan dari bilasan hidung dengan
salin. Digunakan usapan nasofaring, kemudian ditanam pada media Bordetgangou atau
droplet batuk yang dikeluarkan ke lempeng batuk yang dipegang di depan mulut penderita
waktu stadium paroksismal, (2) Tes Antibodi Fluoresensi; reagen FA (Fluoresensi Antibodi)
dapat digunakan untuk memeriksa bahan dari usapan nasofaring. Tetapi, dapat ditemukan
hasil negatif-palsu. Tes FA paling bermanfaat untuk mengidentifikasi B. Pertussis setelah
dibiakkan pada perbenihan padat, (3) Biakan; cairan bilasan hidung dengan salin dibiak pada
perbenihan agar padat. Lendir atau droplet yang terkumpul dibiak pada perbenihan agar
padat. Antibiotika dalam perbenihan cenderung menghambat flora pernapasan lain, tetapi
memungkinkan pertumbuhan B. Pertussis. Organisme diidentifikasi dengan pewarnaan
imunofluoresensi atau dengan aglutinasi sediaan mikroskopik dengan antiserum spesifik, (4)
Serologi; tes serologi pada penderita tidak banyak membantu diagnosis, karena kenaikan
antibodi aglutinasi atau presipitasi tidak terjadi sebelum minggu ketiga masa sakit, (5)
ELISA; pemeriksaan kadar IgA terhadap pertusis dengan cara ELISA telah dibandingkan
dengan cara isolasi kuman mikroaglutinasi menunjukan hasil positif yang lebih tinggi. Cara
ini dapat digunakan dalam membantu menegakkan diagnosa pertuis.6
Diferensial Diagnosis
Asma Bronkial
Asma merupakan penyakit dengan karakteristik meningkatnya reaksi trakea dan bronkus
oleh berbagai macam pencetus disertai dengan timbulnya penyempitan luas saluran napas
bagian bawah yang dapat berubah-ubah derajatnya secara spontan atau dengan pengobatan.
Serangan asma dapat berupa sesak nafas ekspiratoir yang paroksismal, berulang-ulang
dengan mengi wheezing dan batuk yang disebabkan oleh konstriksi atau spasme otot
bronkus, inflamasi mukosa bronkus dan produksi lendir kental yang berlebihan. Asma
merupakan penyakit familier, diturunkan secara poligenik dan multifaktorial. Kira-kira 220% populasi anak dilaporkan pernah menderita asma.2
Etiologi dari asma masih belum jelas. Diduga yang memegang peranan utama adalah
reaksi berlebihan trakea dan bronkus (hiperreaktivitas bronkus). Asma ditandai 3 kelainan
utama padabronkus yaitu bronkokonstriksi otot bronkus, inflamasi mukosa dan bertambahnya
sekret yang berada dijalan nafas.
Batuk Terus Menerus pada Anak Berusia 4 tahun

Page 4

Pencegahan serangan asma pada anak-anak, menghindari faktor pencetus seperti alergen,
infeksi saluran nafas bagian atas, iritan, perubahan tekana udara, suhu dan kelembaban,
kegiatan olah raga yang berat, dan refluks gastroesofagus.
Croup (Laringotrakeobronkitis)
Croup, atau laringotrakeobronkitis akut adalah infeksi virus yang mengenai laring dan
trakea. Croup bisa disebabkan oleh semua virus yang berhubungan dengan infeksi saluran
napas atas. Agen penyebab tersebut antara lain adalah virus parainfluenza, ditandai tipe 1-4.
Pada umur 3 tahun, kebanyakan anak mengalami infeksi dengan tipe 1, 2, dan 3. Tipe 3
adalah endemik dan dapat menyebabkan penyakit pada bayi sebelum umur 6 bulan. Tipe 1
dan 2 lebih musiman, meerka terjadi pada musim panas dan gugur dan yang selang setahun
serotipnya paling lazim. Parainfluenza tipe 4 lebih sukar tumbuh pada biakan jaringan. Gejala
dari croup yang sering muncul antara lain koryza, batuk, iritabilitas, anoreksia, suara parau,
ronki basah dan mengi. Gambaran klinis croup, bronkitis dan pneumonia.1
Penelitian sedang berjalan dengan vaksin hidup maupun subunit parainfluenza tipe 3.
Vaksin hidup termasuk virus asal manusia dan virus parainfluenza sapi yang beradaptasidingin yang dilemahkan karena kisaran adaptasi hospes. Selanjutnya, kelembaban dan
pemajanan terhadap udara dingin secara klasik disertai dengan penggurangan edema mukosa
dan pencairan sekresi yang dapat melegakan obstruksi. Epinefrin rasemik yang diaerosol
mungkin memperbaiki aerasi sementara tetapi kita harus yakin bahwa perbaikan akan tetap
sebelum pemulangan anak. Penelitian baru-baru ini memberi kesan bahwa aerosolisasi atau
steroid sistemik bermanfaat pada menejemen croup dalam suasana ruang gawat darurat dan
sesudah rawat inap. Indikasi untuk antibiotik dibatasi pada infeksi bakteri sekunder telinga
tengah atau saluran pernafasan atas yang terdokumentasi dengan baik.1
Tuberkulosis pada Anak
Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksius yang menular yang terutama menyerang
parenkim paru yang disebabkan oleh kuman Mycovacterium tuberculosis yang merupakan
batang tahan asam. Masuknya kuman tuberkulosis ke dalam tubuh tidak selalu menimbulkan
penyakit. Infeksi di pengaruhi oleh virulen atau banyaknya basil tuberkulosis serta daya tahan
tubuh manusia.
Gejala yang timbul biasanya adalah batuk dan demam yang berulang tanpa sebab yang
jelas, dapat disertai keringat malam hari, pembesaran kelenjar limfe superficialis yang tidak
Batuk Terus Menerus pada Anak Berusia 4 tahun

Page 5

sakit biasanya multipel, diare persisten tidak sembuh dengan pengobatan diare, berat badan
yang turun tanpa sebab yang jelas, dan kegagalan dalam tumbuh.2
Permulaan tuberkulosis primer biasanya sukar diketahui karena mulanya penyakit secara
perlahan. Kadang tuberkulosis primer ditemukan pada anak tanpa gejala atau keluhan. Tetapi
secara rutin dengan uji tuerkulin dapat ditemukan penyakit tersebut. Gejala tuberkulosis
primer dapat berupa demam yang naik turun 1-2 minggu dengan atau tanpa batuk dan pilek.
Working Diagnosis
Pertusis adalah suatu penyakit akut saluran pernapasan yang banyak menyerang anak
balita dengan kematian yang tertinggi pada anak usia di bawah satu tahun yang disebabkan
infeksi Bordetella pertusis. Seperti halnya penyakit infeksi saluran pernapasan akut yang
lainnya, pertusis sangat mudah dan cepat penularannya. Tindakan penanggulangan penyakit
ini antara lain dilakukandengan pemberian imunisasi. WHO menyarankan sebaiknya anak
pada usia satu tahun telah mendapatkan imunisasi dasar DPT sebanyak 3 dosis dengan
interval sekurang-kuranngya 4 minggu dan booster diberikan pada usiao 15-18 bulan dan 4-6
tahun untuk mempertahankan nilai proteksinya. Walaupun demikian banyak terjadi
hambatan, antara lain anak tidak dapat menerima vaksin sebanyak tiga kali dan juga jarak
waktu vaksinnya tidak dapat tepat. Hal ini terutama banyak, didapat dinegara-negara yang
sedang berkembang yang menerima vaksin DPT sebanyak 3 dosis.4
Di Indonesia, penyakit ini menempati urutan ke tiga penyebab kematian pada anak balita.
Seccera konvensional pencegahan penyakit ini dilakukan dengan pemberian imunisasi dasar
pada bayi berusia 3 bulan dengan selang waktu antara dosis satu bulan sebanyak 3 dosis.
Booster diberikan pada anak usia 3 dan 5 tahun. Sejak tahun 1975, indonesia telah mengikut
PPI dengan pemberian imunisasi dasar DPT 3 dosis pada anak usia 3-14bulan dengan interval
1-3 bulan. Pada penalaksaannya masih banyak hambatan, mengingat secara geografis
indonesia beriklim tropis dan terdiri dari beribu pulau dan fasilitas kesehatan yang krang
memadai, sedangkan syarat mutlak keberhasilan program adalah tingginya persentase
populasi target yang harus dicakup.
Etiologi
Pertusis pertama kali di isolasi pada tahun 1900 oleh Border dan Gengou, kemudian pada
tahun 1906 kuman pertusis baru dapat dikembangkan dalam media buatan. Genus bordetella
mempunyai 4 sepsis yaitu, B. Pertusis, B. Parapertusis, B. Bronkiseptika, dan B. Avium.
Batuk Terus Menerus pada Anak Berusia 4 tahun

Page 6

Penyebab lain perrtusis adalah bordetella pertusis dan perlu dibedakan dengean syndrm
pertusis yang disebabkan oleh Bordetella parapertusis dan aadenovirus (tipe 1,2,3, dan 5).
Bordetella perstusis termasuk kokobasilus, gram negatif, kecil, oviod, ukuran panajng 0,5 1
um dan diameter 0,2 0,3 um, tidak bergerak, tidak berspora.
Organisme yang didapatkan umumnya tipe irulen (disebut fase 1). Pasase dalam biakan
dapat merangsang pembentukan varian yang avirulen (fase 2,3,atau 4). Strain 1 berperan
untuk penulran penyakit dan menghasilkan vaksin yang efektir. Brodetella persusis dapat
mati dengan pemanasan pada suhu 500C selama setengah jam, tetapu bertahan pada suhu
rendah (00- 100C).2
Faktor virulensi Bordetella Pertusis:

Toksin pertusis: histamin sensitizing factor (HSF), lymphocytosis promoting factor,

Islet activating protein (IAP)


Adenilat siklase luarsel
Hemaglutinin (HA): F-HA (filamentous-HA), PT-HA (pertusis toxin-HA)
Toksin takstabil panas (heat labile toxin)

Secara morfologi terdapat beberapa kuman yang menyerupai Bodetella Pertusis seperti
Bordetella Parapertusis dan Bordetella Bronchoseptica. Untuk membedakan jenis-jenis
kuman ini, maka di temukan dengan reaksi aglutinasi yang khas atau tes tertentu.
Epidemologi
Pertusis merupakan penyakit menular dengan tingkat penularan yang tinggi, diman
penularan in terjadi pada kelompok masyarakat yang padat penduduknya dengan tingkat
panularannya mencapai 100% dan epidemi pada anak. Pertusis dapat ditularkan melalui udara
secara droplet, bahan droplet, dan memegang benda yang terkontaminasi dengan secret
nasofaring.
Epidemi penyakit ini pernah terjasi di beberapa Negara, seperti Amerika serikat selama
tahun 1977-1980 terdapat 102.500 penderita pertusis.di Jepang tahun 1947 terdapat 152.600
penderita dengan kematian 17.000 orang. Pada tahun 1983 di Indonesia diperkirakan 819.500
penderita dengan kematian 23.000 orang.2
Patologi

Batuk Terus Menerus pada Anak Berusia 4 tahun

Page 7

Penularan terutama melalui salura pernapasan dimana Bordetella Pertusis akan terikat
pada silia epitel saluran parnapasan, kemudian kuman ini akan mengalami multiplikasi
disertai pengeluaran toksin, sehingga menyebabkan inflamasi dan nekrose trakea dan
bronkus. Mukosa akan mengalami kongesti dan infiltrasi limfosit dan polimorfonukleus
lekosit. Di samping itu terjadi hiperplasi dari jaringan lomfoid peribronkial diikuti oleh
proses nekrosis yang terjadi pada lapisan basal dan pertengah epitel bronkus. Lesi ini
merupakan tanda khas pada pertusis. Pada pemeriksaan postmortem dapat dijumpai infiltrasi
peribrokial dan pnemonia intrstitial.
Didamping itu dapat dijumpai perubahan-perubahan patologis dari organ lain seperti hati
dan otak. Pada otak dapat dijumpai adanya pendarahan otak atrofi kortikal. Pendarahan pada
otak dapat masif dan mengenai parenkim atau ruang subaraknoid terutama pertusis
ensefalipati.
Patogenesis
Bordetella merupakan cocobasil gram negatif yang sangat kecil yang tumbuh secara
aerobik pada agar darah tepung atau media sintetik keseluruhan dengan faktor pertumbuhan
nikotinamid, asam amino untuk energi, dan arang atau resin siklodekstrin untuk menyerap
bahan-bahan berbahaya. Bordetella pertusis setelah dikeluarkan melalui sekresi udara
pernapasan kemudian melekat pada silia epitel saluran pernapasan. Mekanisme patogenesis
infeksi oleh Bordetella pertusis terjadi melalui 4 tingkatan yaitu perlekatan, perlawanan
terhadap mekanisme pertahanan penjamu, kerusakan lokal, dan akhirnya timbul penyakit
sistemik.3
Filamentous hemaglutinin (FHA), lymphositosis promoting factor (LPF)/ pertusis toxin
(PT) dan protein 69-Kd berperan dalam perlekatan Borderella pertusis pada silia. Setelah
terjadi perlekatanBordetella pertusis, kemudian bermultiplikasi dan menybar ke seluruh
permukaan epitel saluran pernapasan. Proses ini tidak invasif, oleh karena itu pada pertusis
tidak terjadi bakteremia. Selama pertumbuhan bordetella pertusis, maka akan menghasilkan
toksin yang akan menyebakan penyakit yang kita kenal dengan whooping cough. Toksin
terpinting yang dapat menyebabkan penyakit disebabkan oleh karena pertusis toxin. Toksin
pertusis mempunyai 2 sub unit yaitu A dan B. Toksin sub unit B selanjutnya berikatan dengan
reseptor sel target, kemudian menghasilkan sel unit A yang aktif pada daerah aktifitas enzim
membran sel. Efek LPF menghambat migrasi limfosit dan makrofag ke daerah infeksi.3

Batuk Terus Menerus pada Anak Berusia 4 tahun

Page 8

Lesi biasanya terdapat pada bronkus dan bronkiolus, namun mungkin terdapat
perubahan-perubahan pada selaput lendir trakea, laring dan nasofaring. Basil biasanya
bersarang pada silia epitel torak mukosa, menimbulkan eksudasi yang mukopurulen. Lesi
berupa nekrosis bagian basal dan tengah sel epitel torak, disertai infiltrat neutrofil dan
makrofag. Lendir yang terbentuk dapat menymbat bronkus kecil sehingga dapat
menimbulkan empisema dan atelektasis. Eksudat dapat pula sampai ke alveolus dan
menimbulkan

infeksi

sekunder.

Kelainan-kelainan

paru

itu

dapat

menimbulkan

bronkiekstasis.4
Gejala Klinis
Masa tunas 7-14 hari, penyakit dapat berlangsung samapi 6 minggu atau lebih dan
terbagi menjadi 3 stadium:
1. Stadium Kataralis (1-2 minggu)
Gejala awal menyerupai infeksi daluran nafas yaitu menyerupai influenza dengan lendir
yang cair dan jernih. Pada permulaan hanya berupa batuk-batuk ringan terutamapda
malam hari. Batuk-batuk ini makin lama makin bertambah berat dan terjadi siang dan
malam. Sekret pun banyak dan menjadi kental dan melengket. Pada bayi lendir dapat
viskuos mukoid, sehingga dapat menyebabkan obstruksi jalan napas, bayi terlihat sakit
berat dan iritabel.
2. Stadium Spasmodik (2-4 minggu)
Pada akhir minggu batuk makin bertambah berat dan terjadi paroksismal berupa batukbatuk khas. Penderita tampak berkeringat, pembuluh darah leher dan muka melebar. Batuk
sedemikian beratnya hingga penderita tampak gelisah dengan muka merah dan sianotik.
Serangan batuk panjang, tidak ada inspirium diantaranyadan diakhiri dengan whoop
(tarikan napas panjang dan dalam berbunyi melenking). Sering disertai muntah dan
banyak sputum yang kental. Kadang-kadang pada penyakit berat tampak pula pendarahan
subkonjungtiva dan epistaksis oleh karena meningkatnya tekanan pada waktu serangan
batuk. Aktivitas seperti tertawa dan menangis dapat menimbulkan serangan batuk. Dalam
bentuk ringan tidak terdapat whoop, muntah dan batuk spamodik.
3. Stadium Konvalesensi (2 minggu sampai sembuh)
Pada minggu keempat jumlah dan serangan batuk berkurang , muntah juga berkurang,
nafsu makan timbul kembali. Ronki difus yang terdapat pada stadium spamodik mulai
menghilang. Infeksi semacam common cold dapat menimbulkan serangan batuk lagi.5

Batuk Terus Menerus pada Anak Berusia 4 tahun

Page 9

Komplikasi
Frekuensi komplikasi sukar ditentukan karena hasil akhir berat yang terutama
dilaporkan, tetapi bayi seblum umur 6 bulan mempunyai mortalitasi dan morbiditas
berlebihan. Mereka yang berumur sebelum 2 bulan mempunyai frekuensi yang dilaporkan
tinggi, kasus rawat inap karena pertusis (82%),pnemonia (25%), kejang-kejang (4%),
enselopati 1% dan kematian 1%.
Komplikasi pertusis utama adalah apnea, infeksi sekunder (seperti otitis mediadan
pnemonia), dan sekuele fisik batuk kuat. Kebutuhan untuk perawatan intensif dan ventilasi
artifisial biasanya terbatas pada bayi sebelum umur 36 bulan. Apnea,sianosis, dan pnemonia
bakteri sekunder merupakan kejadian-kejadian yang mempercepat intubasi dan ventilasi.
Pnemonia bakteri dan atau sindrom distres pernapasan dewasa merupakan penyebab
kematian yang lazim pada setiap umur, perdarahan paru terjadi pada neonatus. Demam
takipnea atau distres pernapasan antara paroksismal, dan neutrofilia absolut merupakan kunci
terhadap pnemonia. Patogen yang diharapkan adalah staphylococus aureus, S. Pnemoniae,
dan bakteriflora mulut. Bronkiekstasis dilaporkan jarnag pascapertusis tidak berkomplikasi
pada anak sebelum umur 2 tahun.4
Kenaikan tekana intratoraks dan intra-abdomen selama batuk dapat menyebabkan
perdarahan konjungtiva dan sklera, petekie pada tubuh bagian atas, spitaksis, pendarahan
pada sistem saraf sentral dan retina, pnemotoraks, dan empisema subkutan, dan hernia
umbilikalis serta ingunalis. Luka robek frenulum lidak tidak jarang. Prolaps rectum, pernah
dilaporkan sebagai komplikasi lazim pertusis, mungkin karena pada anak yang malnutris atau
salah diagnosis dengan kistik fibrosis. Sangat tidak lazim dan akan memerlukan evaluasi
untuk keadaan yang mendasari. Terutama pada bayi yang sedang berkembang, dehidrasi, dan
malnutrisi pasca muntah atau pasca batuk dapat mempunyai dampak yang berat.
Kelainan sistem sarafsentral terjadi relatif sangat sering dan hampir selalu akibat
hipoksemua atau perdarahan akibat batuk atau apnea pada bayi muda. Apnea dan bradikardi
atau keduanyadapat terjadi karena laringospasme atau rangsangan vagus tepat sebelum
episode batuk, dari obstruksi selama episode atau dari hipoksia pasca-episode. Tidak adanya
tanda-tanda yang menyertai pada beberapa bayi muda dengan apnea menaikan kemungkinan
pengaruh primer pada siste saraf sentral. Kejang-kejang biasanya akibat jipoksemia, tetapi
hiponatrenia karena sekresi hormon antidiuretik yang tidak tepat selama pnemonia dapat
terjadi. Walaupun hipoglikemia, pengaruh langsung TP, atau infeksi sekunder karena virus
Batuk Terus Menerus pada Anak Berusia 4 tahun

Page 10

neurotropik merupakan mekanisme gejala-gejala neurologis yang telah disimpulkan, tidak


ada data binatang yang mendukung teori demikian, dan satu-satu neuropati yang
trdokumentasi pada manusia adalah pendarahna parenkim dan nekrosis iskemia.4
Penatalaksaan
1. Antibiotik
Eritromisin dengan dosis 50 mg/kgbb/hati dibagi dalam 4 dosis. Obat ini
menghilangkan B. Pertusis dari nasofaring dalam 2-7 hari (rata-rata 3-7 hari) dengan
demikian memperpendek kemungkinan pernyebaran infeksi. Eritromisin juga
menyembuhan pertusis bila diberikan dalam stadium kataralis, mencegah dan
menyembuhkan pnemonia dan oleh karena itu sangat penting dalam pengobatan
pertusis khususnya pada bayi muda.5
Ampisilin dengan dosis 100 mg/kgbb/hari, dibagi dalam 4 dosis.
Lain-lain: rivomisin, Kotrimoksazol, kloramfenikol dan tetrasiklin.
2. Imunoglobulin
Belum ada persesuaian faham mengenai pemberian imunoglobulin pada stadium
kataralis. Ada penelitian yang mengatakan pemberian imunoglobulin mengahasilkan
pengurangan frekuensi episode batuk paroksismal, tetapi ada pula yang berpendapat
bahwa imunoglobulin pada stadium paroksismal sama sekali tidak faedah.
3. Ekspektoran dan Mukolitik
4. Kodein diberikan bila terdapat batuk batuk yang hebat sekali.
5. Luminal sebagai sedatif.5
Prognosis
Tergatung ada tidaknya komplikasi, terutama komplikasi paru dan susunan saraf yang sangat
berbahaya khususnya pada bayi dan anak kecil.
Pencegahan
Imunisasi DPT
Imunisasi DPT (diphteria, pertussis, tetanus) merupakan imunisasi yang digunakan
untuk mencegah terjadinya penyakit difteri, pertusis, dan tetanus. Vaksin DPT ini merupakan
vaksin yang mengandung racun kuman diffteri yang telah dihilangkan sifat racunnya, namun
masih dapat merangsang pembentukan zat anti (toksoid). Frekuensi pemberian imunisasi
DPT, diberikan pada usia > 6 minggu, secara terpisah atau secara kombinasi dengan Hepatitis
B atau HiB. Booster DPT diberikan pada usia 18 bulan dan 5 tahun. Usia 12 tahun mendapat
TT saat program BIAS SD kelas 6. Secara aktif adalah dengan memberikan vaksin pertusis
Batuk Terus Menerus pada Anak Berusia 4 tahun

Page 11

dalam jumla 12 unit dibagi dalam 3 dosis dengan interval 8 minggu. Penyelidikan imunilogis
membuktikan bahwa seseorag neonatus yang siberkan vaksin pertusis pada umur 1-15 hari
dapat membentuk antibodi. Oleh karen itu sebenarnya vaksin pertusis telah dpat digunakan
pada pemberian vaksin DPT.
Vaksin pertusis baru diberikan pada usia 2 bulan agar dapat diberikan bersama-sama
dengan toksoin tetanus dan difteria. Dinyatakan bahwa imunisasi yang diberikan 2 kali
dengan interval 60 hari atau mengsailkan imun yang sama dengan imunisasi 3 kali dengan
interval 1 bulan.5
Secara pasif pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan kemoprofilaksis. Ternyata
eritromisin dapat mencegah terjadinya pertusis untuk sementara waktu. Pada anak dibawah
umur 2 tahun yang belum pernah divaksinasi dapat diberikan imunoglobulin pertusis
sebanyak 1,5 ml secara intramuskular dan diulang setelah 3-5 hari.5
Kesimpulan
Pertusis merupakan salah satu penyakit menular yang menyerang saluran pernapasan
bagian atas, disebabkan terutama oleh Bordetella pertussis. Pertusis ditandai dengan batuk
lama dan kadang-kadang terdengar seperti menggonggong (whooping cough) dan episode
diakhir dengan ekspulsi dari secret trakea,silia lepas dan epitel nekrotik.
Pertusis sering menyerang bayi dan anak-anak kurang dari 5 tahun, terutama yang
belum diimunisasi lebih rentan, demikian juga dengan anak lebih dari 12 tahun dan orang
dewasa. Stadium penyakit pertusis meliputi 3 stadium yaitu kataral, paroxsismal, dan
konvalesen. Masing2 berlangsung selama 2 minggu. Pada bayi, gejala menjadi lebih jelas
justru pda stadium konvalesen. Sedangkan pada orang dewasa mencapai puncaknya pada
stadium paroxsismal.
Prognosis baik dengan penatalaksanaan yang tepat dan cepat. Kematian biasanya
terjadi karena ensefalopati dan pneumonia atau komplikasi penyakit paru yang lainnya.

Pertusis ditandai dengan batuk lama, disebabkan oleh Bordetella pertusis.


Sering menyeranf bayi dan anak-anak kurang dari 5 tahun, terutama yang belum
imunisasi lebih rentan.

Batuk Terus Menerus pada Anak Berusia 4 tahun

Page 12

Stadium penyakit pertusis meliputi 3 stadium kataralis, spasmodik/paroxismal, dan


konvalesen.

Daftar Pustaka
1. Sudoyo A.W, Setiyohadi B, Alwi I, Marcellus S.K, Setiati S, Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Edisi V, jilid 3. Jakarta: Interna Publishing Pusat penerbitan ilmu penyakit
dalam 2009. Hal. 2189-95.
2. Hassan R, Alatas H. Bahan kuliah Ilmu kesehatan anak. Edisi 7, volume 2, Cetakan
XI. Jakarta: Penerbit bagian ilmu kesehatan anak FKUI 1985. Hal. 564-8.
3. Nelson E.W, Richard B.E, Robert K, Ann A.M. Nelson textbook Of Pidiatric. Edisi
15, volume 2, cetakan I. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC 2004. Hal 960-5.
4. Rampengan T.H, Laurents I.R. Penyakit Infeksi Tropik pada Anak. Edisi I, cetakan
III. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC 2007. Hal. 20-33.
5. Irawan H, Rezeki S, Anwar Z. Buku ajar Infeksi dan Pediatriks Tropis. Edisi 2,
cetakan I. Jakarta: Penerbit Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI 2008. Gal 331-7.

Batuk Terus Menerus pada Anak Berusia 4 tahun

Page 13

Anda mungkin juga menyukai