Anda di halaman 1dari 64

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bayi Baru Lahir (Neonatus) merupakan salah satu kelompok
yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan. beberapa bayi akan
mengalami depresi saat dilahirkan dengan menunjukan gejala tonus
otot yang menurun dan mengalami kesulitan mempertahankan
pernapasan yang tidak wajar berbeda halnya dengan bayi yang normal
saat dilahirkan bayi biasanya aktif dan segera setelah tali pusat dijepit
bayi menangis merangsang pernafasan. Denyut jantung akan menjadi
stabil pada frekuensi 120 sampai 140 per menit dan sianosis sentral
menghilang dengan cepat. (Saifuddin AB, 2009)
Asfiksia neonatorum merupakan keadaan bayi yang tidak dapat
bernafas secara spontan dan teratur, akibat menurunnya O 2 dan makin
meningkatnya CO2 sehingga menimbulkan akibat buruk pada bayi
baru lahir. Sedangkan asfiksia sedang apabila nilai apgar 4-6 dan
bayi masih bisa bereaksi terhadap rangsangan yang diberikan.
(Dwienda R. dkk, 2014)
Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO) Pada
Tahun 2012, jumlah bayi yang lahir di dunia sebanyak 130 juta, dan
yang mengalami asfiksia neonatorum sebanyak 4,9 juta (53,20%), dan
yang meninggal sebanyak 2,6 juta (26,80%). Pada Tahun 2013 jumlah
bayi yang lahir di dunia sebanyak 120 juta, yang mengalami asfiksia

neonatorum sebanyak 3,6 juta (3%), dan yang meninggal sebanyak 1


juta (27,78%) bayi. (WHO, 2012-2013)
Berdasarkan laporan dari Survei Demografi Kesehatan Indonesia
(SDKI), jumlah bayi lahir Tahun 2013 yakni sebanyak 34.000 bayi dan
yang mengalami asfiksia sebanyak 4.728 bayi

(47%). Sedangkan

pada Tahun 2014 jumlah kelahiran sebanyak 160.681 bayi (74,4%)


yang

lahir di Indonesia, dan yang mengalami asfiksia neonatorum

sebanyak 53.563 bayi (25,6%). (Depkes RI, 2013-2014)


Berdasarkan Data Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan
Pada Tahun 2012 jumlah kelahiran dari 15.354 (85,40%) bayi, terdapat
3.267 (44,60%) yang mengalami asfiksia neonatorum dan yang
meninggal sebanyak 33,1%. Pada Tahun 2013 jumlah kelahiran dari
16.824 (89,92%) bayi, terdapat 5.608 (10,08%) bayi yang mengalami
asfiksia neonatorum, dan yang meninggal sebanyak 26,9%. (Dinkes
Provinsi Sulawesi Selatan, 2012-2013).
Berdasarkan hasil pengumpulan data yang diperoleh dari Dinas
Kesehatan Kabupaten Bone, jumlah kelahiran pada Tahun 2013 yaitu
sebanyak 13.471 bayi (95,78%) dan yang mengalami asfiksia
sebanyak 120 bayi (0,89%). Sementara untuk jumlah kematian bayi
sebanyak 76 bayi (0,75%) dan 15 bayi (0,12%) bayi diantaranya
meninggal akibat asfiksia. Sedangkan pada Tahun 2014, jumlah
kelahiran yakni sebanyak 13.573 (96,51%) dan yang mengalami
asfiksia berjumlah 149 bayi (1,10%). Sementara jumlah kematian bayi

meningkat menjadi 78 bayi (0,58%), dan 38 bayi (0,28%) meninggal


akibat asfiksia. (Data Dinas Kesehatan Kabupaten Bone, 2013-2014)
Berdasarkan data yang diperoleh dari UPTD Puskesmas
Sibulue, jumlah bayi lahir pada Tahun 2013 sebanyak 472 bayi, dan
yang mengalami asfiksia yaitu 2 bayi (0,43%). Sedangkan pada Tahun
2014, jumlah kelahiran meningkat menjadi 491 bayi dan yang
mengalami asfiksia berjumlah 4 bayi (0,82%). (Data UPTD Puskesmas
Sibulue Tahun 2013-2014)
Berdasarkan data yang diperoleh dari Pustu Pattiro Riolo, jumlah
bayi lahir pada Tahun 2013 sebanyak 49 bayi, dan yang mengalami
asfiksia sedang yaitu 1 bayi (2,04%). Sedangkan pada Tahun 2014,
jumlah kelahiran adalah sebanyak 45 bayi dan yang mengalami
asfiksia sedang berjumlah 3 bayi (6,67%). (Data Pustu Pattiro Riolo,
2013-2014)
Sehubungan dengan hal diatas, maka penulis termotivasi untuk
membahas lebih lanjut melalui Karya Tulis Ilmiah ini dengan judul
Asuhan Kebidanan Pada Bayi Ny. H dengan Asfiksia Sedang Di
Pustu Pattiro Riolo Kec. Sibulue Kab. Bone Tanggal 28 s/d 30 Apri
2015.
B. Ruang Lingkup Penulisan
Ruang lingkup penulisan Karya Tulis Ilmiah ini adalah Asuhan
Kebidanan Pada Bayi Ny. H dengan Asfiksia Sedang Di Pustu Pattiro
Riolo Kec. Sibulue Kab. Bone Tanggal 28 s/d 30 Apri 2015.
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum

Dapat melaksanakan asuhan kebidanan Pada Bayi Ny. H dengan


Asfiksia Sedang Di Pustu Pattiro Riolo Kec. Sibulue Kab. Bone
Tanggal 28 s/d 30 Apri 2015.
2. Tujuan Khusus
a. Melaksanakan pengkajian data pada Bayi Ny. H dengan
Asfiksia Sedang Di Pustu Pattiro Riolo Kec. Sibulue Kab. Bone
b.

Tanggal 28 s/d 30 Apri 2015.


Mengidentifikasi diagnosa/masalah aktual pada Bayi Ny. H
dengan Asfiksia Sedang Di Pustu Pattiro Riolo Kec. Sibulue

c.

Kab. Bone Tanggal 28 s/d 30 Apri 2015.


Mengantisipasi diagnosa atau masalah potensial pada Bayi Ny.
H dengan Asfiksia Sedang Di Pustu Pattiro Riolo Kec. Sibulue

d.

Kab. Bone Tanggal 28 s/d 30 Apri 2015.


Melaksanakan perlunya tindakan segera dan kolaborasi pada
Bayi Ny. H dengan Asfiksia Sedang Di Pustu Pattiro Riolo

e.

Kec. Sibulue Kab. Bone Tanggal 28 s/d 30 Apri 2015.


Menyusun rencana asuhan kebidanan Bayi Ny. H dengan
Asfiksia Sedang Di Pustu Pattiro Riolo Kec. Sibulue Kab. Bone

f.

g.

Tanggal 28 s/d 30 Apri 2015.


Dapat melaksanakan tindakan asuhan kebidanan pada Bayi
Ny. H dengan Asfiksia Sedang Di Pustu Pattiro Riolo Kec.
Sibulue Kab. Bone Tanggal 28 s/d 30 Apri 2015.
Mengevaluasi asuhan tindakan yang telah dilaksanakan pada
Bayi Ny. H dengan Asfiksia Sedang Di Pustu Pattiro Riolo

h.

Kec. Sibulue Kab. Bone Tanggal 28 s/d 30 Apri 2015.


Mendokumentasikan semua tindakan asuhan kebidanan yang
telah dilaksanakan pada Bayi Ny. H dengan Asfiksia Sedang

Di Pustu Pattiro Riolo Kec. Sibulue Kab. Bone Tanggal 28 s/d


30 Apri 2015.
D. Manfaat Penulisan
1. Bagi Institusi
Diharapkan karya tulis ini dapat menjadi sumber informasi
dan memperkaya ilmu pengetahuan serta sebagai tambahan
bacaan bagi institusi jurusan kebidanan untuk penulisan Karya
Tulis Ilmiah (KTI) selanjutnya.
2. Bagi Puskesmas Pembantu
Merupakan bahan masukan kepada pihak Puskesmas
Pembantu Pattiro Riolo Kec. Sibulue agar tetap menjaga kualitas
pelayanan yang diberikan serta meningkatkan mutu pelayanan
pada klien agar dapat meningkatkan derajat kesehatan klien
dengan mendapatkan asuhan kebidanan yang tepat dan bermutu .
3. Bagi Tenaga Kesehatan
Merupakan bahan untuk menambah wawasan, memberikan
masukan terhadap tenaga kesehatan dalam meningkatkan asuhan
kebidanan terhadap bayi dengan asfiksia sedang.
4. Bagi Klien/Masyarakat
Dapat menambah pengetahuan klien dan

masyarakat

umumnya dalam perawatan bayi baru lahir serta pasien /


masyarakat dapat mengenali tanda-tanda bahaya pada bayi baru
lahir.
5. Bagi Penulis
Menambah wawasan dan pengetahuan penulis dalam
penyusunan Karya Tulis Ilmiah serta menambah pengalaman
penulis

dalam

penerapan

asuhan

penanganan bayi dengan asfiksia sedang.


E. Metode Penulisan

kebidanan

khususnya

Metode yang digunakan dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah


ini secara sistematis meliputi :
1. Studi Kepustakaan
Mempelajari buku atau literatur, mengambil data dari internet
yang berkaitan dengan masalah asfiksia sedang sebagai dasar
teoritis yang digunakan pada pembahasan Karya Tulis Ilmiah ini.
2. Studi Kasus
Dengan menggunakan pendekatan proses manajemen yang
meliputi pengkajian, merumuskan diagnosa / masalah aktual
maupun masalah potensial, perencanaan tindakan, implementasi,
evaluasi dan dokumentasi. Dalam memperoleh data yang akurat
penulis menggunakan tehnik :
a. Anamnese
Penulis melakukan tanya jawab dengan orang tua dan keluarga
guna memperoleh data yang diperlukan untuk memberikan
b.

asuhan kebidanan pada bayi tersebut.


Pemeriksaan fisik
Melakukan pemeriksaan fisik secara sistematis pada klien
meliputi pemeriksaan secara inspeksi, palpasi, perkusi, dan
auskultasi juga ditunjang dengan pemeriksaan diagnostik

lainnya sesuai dengan kebutuhan dan indikasi.


3. Studi Dokumentasi
Membaca

dan

mempelajari

status

kesehatan

yang

berhubungan dengan keadaan klien yang bersumber dari catatan


dokter/bidan maupun dari sumber lain yang menunjang yaitu hasil
pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan diagnostik yang dapat
memberi kontribusi dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.

4. Diskusi
Mengadakan tanya jawab dengan dokter atau bidan yang
menangani langsung klien, serta berdiskusi dengan dosen
pengasuh atau pembimbing Karya Tulis Ilmiah ini.

F. Sistematika Penulisan
Untuk memperoleh gambaran umum tentang karya tulis ini maka
penulis menyusun dengan sistematis sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Ruang Lingkup Penulisan
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
2. Tujuan Khusus
D. Manfaat Penulisan
E. Metode Penulisan
F. Sistematika Penulisan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum Tentang Bayi Baru Lahir
1. Pengertian Bayi Baru Lahir
2. Ciri-ciri Bayi Baru Lahir
3. Tahap Bayi Baru Lahir
4. Reflek Fisiologis Bayi Baru Lahir

5. Pemeriksaan Fisik Baru Lahir


6. Tanda-tanda Bahaya Pada Bayi Baru Lahir
7. Asuhan Bayi Baru Lahir
B. Tinjauan Umum Tentang Asfiksia
1. Pengertian
2. Etiologi
3. Patofisiologi
4. Klasifikasi
5. Tanda dan Gejala
6. Diagnosis
7. Komplikasi
8. Penatalaksanaan
C. Proses Manajemen Asuhan Kebidanan
D. Pendokumentasian Asuhan Kebidanan (SOAP)
BAB III STUDI KASUS
A. Langkah I Identifikasi Data Dasar
B. Langkah II Merumuskan Diagnosa / Masalah Aktual
C. Langkah III Mengantisipasi Diagnosa/Masalah Potensial
D. Langkah IV Tindakan Segera dan Kolaborasi
E. Langkah V Rencana Asuhan Kebidanan
F. Langkah VI Pelaksanaan Asuhan Kebidanan
G. Langkah VII Evaluasi Asuhan Kebidanan
H. Pendokumentasian Asuhan Kebidanan
BAB IV PEMBAHASAN
Pada bab ini membahas tentang kesenjangan antara teori
dan kasus yang ada pada pelaksanaan manajemen asuhan
kebidanan pada klien dengan asfiksia sedang yang dibahas
secara sistematis sesuai dengan manajemen asuhan kebidanan.

BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

10

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Bayi Baru Lahir


1. Pengertian
a. Bayi Baru Lahir (BBL) atau neonatus adalah bayi umur 0-28
b.

hari. (Kemenkes RI, 2010)


Bayi baru lahir adalah bayi yang baru lahir selama satu jam

c.

pertama kelahiran. (Saifuddin, AB. 2009).


Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dengan umur
kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dan berat lahir 2500

d.

gram sampai 4000 gram. (Dwienda R., 2014)


Neonatus atau Bayi Baru Lahir (BBL) adalah makhluk yang
sangat unik karena merupakan lanjutan fase kehidupan janin
intra uterin yang harus dapat bertahan dan beradaptasi untuk

e.

hidup diluar rahim. (Kosim, MS, 2008).


Neonatus adalah bayi baru lahir yang berusia sampai dengan
28 hari, dimana terjadi perubahan yang sangat besar dari
kehidupan di dalam rahim menjadi di luar rahim. Pada masa ini
terjadi pematangan organ hampir pada semua sistem.

f.

(Kemenkes, 2014)
Masa neonatus adalah periode selama satu bulan (lebih tepat 4

minggu atau 28 hari setelah lahir). (Syafrudin, 2009)


2. Ciri - ciri Bayi Baru Lahir
a.
b.
c.
d.

Berat badan 2500-4000 gram


Panjang badan 48-52 cm
Lingkar dada 30-38 cm 11
Lingkar kepala 33-35 cm

11

e.

Bunyi jantung dalam menit-menit pertama kira-kira 180 x/menit,

f.

kemudian menurun sampai 120-140 x/menit.


Pernafasan pada menit-menit pertama cepat kira-kira 80

g.

x/menit, kemudian menurun setelah tenang kira-kira 40 x/menit.


Kulit kemerah-merahan dan licin karena jaringan subkutan

h.

cukup terbentuk dan diliputi verniks caeseosa.


Rambut lanugo telah tidak terlihat, rambut kepala biasanya

i.
j.

tampak sempurna.
Kuku agak panjang dan lemas.
Genetalia : Labia mayora sudah menutupi labia minora (pada

k.
l.

perempuan), testis sudah turun (pada anak laki-laki).


Refleks hisap dan menelan sudah terbentuk dengan baik.
Refleks morrow sudah baik, bayi bila dikagetkan akan

memperlihatkan gerakan seperti memeluk.


m. Refleks graps sudah baik, apabila diletakkan suatu benda ke
telapak tangan, bayi akan menggenggam/ adanya gerakan
n.
o.

refleks.
Refleks rooting mencari puting susu dengan rangsangan taktil
pada pipi dan daerah mulut terbentuk dengan baik.
Eliminasi baik, urin dan mekonium akan keluar dalam 24 jam,
pertama,mekonium berwarna kecoklatan. (Dwienda R., 2014)

3. Reflek-reflek Fisiologis Bayi Baru Lahir


a. Kedutan anus: Usapan lembut di area anus menyebabkan
sfingter berkonstraksi.
b. Tanda Babinski: Mengusap dengan mantap kebagian lateral
akan menyebabkan jari-jari kaki mengembang dan jari kaki
yang besar menekuk untuk hasil yang positif. Menetap sampai
usia 2-4 tahun.

12

c. Refleks Kornea: Menyentuh kornea dekat kantus luar dengan


gumpalan kapas kering menyebabkan kelopak mata menutup
(menetap seumur hidup).
d. Ekstensi menyilang: Pegang satu tungkai dibawah, tungkai
yang lain akan mendorong tangan.
e. Refleks gag, batuk, konstriksi pupil: Menetap seumur hidup.
f. Kee jerk: Dengan perlahan tepuk lutut, tungkai bawah akan
mengedut kedepan (menetap seumur hidup). Karena traktus
kortikospinal belum sempurna pada bayi, reflex tendon
profunda bervariasi dan tidak spesifik.
g. Refleks Magnet: Dengan tungkai bayi fleksi, letakkan sebuah
pena dengan ringan dibawah jari-jari kaki. Gerakkan pena
kedepan dan kaki akan mengikuti pena kedepan.
h. Refleks Palatun: Juga disebut reflex menelan. Menstimulasi
i.

palatun harus menyebabkan menelan. Menetap seumur hidup.


Inkurvasi Badan: Atur posisi bayi tengkurap, usap punggung
membentuk sebuah garis 2-3 cm dari tulang belakang dari bahu
hingga kebokong. Respons yang normal adalah fleksi lateral
searah usapan tersebut. Hilang setelah 2-3 bulan. Tidak

j.

ditemukan pada bayi dengan lesi spinal melintang.


Gerakan menarik kebelakang: Tungkai menarik kebelakang

sebagai respons terhadap stimulus yang menyakitkan.


k. Automatisme infantil: Refleks primitif yang terdapat saat lahir
dan hilang setelah sekitar 4-6 bulan, ketika control volunter
mulai muncul. Tidak adanya reflex-refleks ini pada saat lahir
dapat mengindikasikan masalah SSP volunter. Jika kondisi ini
menetap, bisa sama beratnya.

13

l.

Mengedip: Bayi berkedip pada pemunculan sinar terang yang


tiba-tiba atau pada pandel atau obyek kearah kornea, harus
menetapkan

sepanjang

hidup,

jika

tidak

ada

maka

menunjukkan adanya kerusakan pada saraf cranial.


m. Refleks moro (Refleks terkejut): Menghasilkan suara yang
keras. Bayi akan mengabduksi kedua lengannya secara
simetris, membentuk huruf C dengan jari-jari membuka,dan
kemudian mengaduksi kedua lengan (memeluk). Menetap
setelah 4-6 bulan hanya jika bayi menderita penyakit serebral.
n. Genggaman telapak tangan (palmar grasp): Usap telapak
tangan bayi, bayi akan mulai memegang dan menggenggam
(berlangsung

3-6

bulan).

Tidak

adanya

gerakan

ini

mengesankan penyakit serebral. Hilang pada bulan ketiga.


o. Refleks Perez: Letakkan ibu jari di sacrum bayi dan gerakkan
keatas menuju kepala. Bayi akan meluruskan kepalanya dan
tulang belakangnya sambil memfleksi lututnya dan dapat
berkemih (menetap selama 2-3 bulan). Tidak adanya gerakan
ini mengindikasikan penyakit pada serebrum atau spinal
servikalis, atau miopati.
p. Placing: Gosok-gosok bagian depan tibia diatyas meja, bayi
akan melakukan gerakan seperti mendaki (berlangsung selama
6 minggu). Paling bagus diamati setelah 4-5 hari kelahiran.
Hilang setelah 2-5 bulan. (Sinclair C., 2009)
4. Pemeriksaan Fisik Bayi Baru Lahir
a. Penilaian skor apgar
1) Hitung ferkuensi jantung
2) Kaji kemampuan bernapas
3) Kaji tonus otot

14

4)
5)
6)
7)

Kaji kemampuan refleks


Kaji warna kulit
Hitung total skor yang didapat dari hasil pengkajian
Tentukan hasil penilaian ke dalam 3 kategori asfiksia, yaitu:
a) Adaptasi baik

: Skor 7-10

b) Adaptasi ringan-sedang

: Skor 4-6

c) Adaptasi berat

: Skor 0-3

Penilaian tersebut dilakukan pada 1 menit, 5 menit, 10 menit


dan 15 menit setelah bayi baru lahir.
Tabel. 2.1. Komponen Penilaian Apgar
Komponen
0
Tidak ada

Frekuensi
jantung
Kemampuan Tidak ada
bernafas
Tonus otot
Lumpuh

b.

c.

d.

e.

Refleks

Tidak ada

Warna kulit

Biru/pucat

Skor
1
<100 x/menit

2
>100 x/menit

Lambat/tidak teratur

Menangis kuat

Ekstremitas
agak Gerakan aktif
fleksi
Gerakan sedikit
Gerakan
kuat/melawan
Tubuh kemerahan / Seluruh tubuh
ekstremitas biru
kemerahan

Sumber : (Hidayat Alimul, 2008)


Pemeriksaan cairan amnion
1) Kaji jumlah cairan amnion
2) Lakukan penilaian jumlah cairan tersebut, dengan kategori:
a) > 2000 ml : Bayi mengalami polihidramnion
b) < 500 ml : Bayi mengalami oligohidramnion
Pemeriksaan plasenta
1) Kaji keadaan plasenta seperti adanya pengapuran, nekrosis,
berat dan jumlah korion.
2) Lakukan penilaian dari hasil pengkajian tersebut
Pemeriksaan tali pusat
1) Kaji keadaan tali pusat, seperti adanya vena atau arteri,
adanya tali simpul atau keadaan lainnya.
2) Lakukan penilaian dari hasil pengkajian tersebut
Pengukuran antropometri

15

Timbang berat badan menggunakan timbangan bayi.


2) Lakukan penilaian hasil penimbangan, dengan kategori :
Pengukuran berat badan:
a) Normal
: 2500-4000 gram
b) Prematur
: < 2500 gram
c) Makrosomia
: > 4000 gram
Pengukuran panjang badan:
a) Ukur panjang badan menggunakan pengukur panjang
1)

badan / metelin.
b) Lakukan penilaian dari hasil pengukuran, dengan
f.

kategori normal adalah 45-50 cm.


Pemeriksaan kepala
1) Ukur lingkar kepala
2) Lakukan penilaian hasil pengukuran, bandingkan dengan
lingkar dada, jika diameter kepala lebih besar 3 cm dari
lingkar dada, bayi mengalami hidrosefalus, dan jika diameter
kepala lebih kecil 3 cm dari lingkar dada, bayi tersebut
mengalami mikrosefalus.
3) Kaji jumlah dan warna adanya lanugo terutama di daerah
bahu dan punggung.
4) kaji adanya moulage, yaitu tulang tengkorak yang saling
menumpuk pada saat lahir, apakah simetri atau tidak.
5) kaji apakah terdapat kaput suksadenum (edema kulit kepala,
lunak, dan tidak berfluktuasi, batas tidak tegas dan
menyebrangi sutura, akan menghilang dalam beberapa hari)
6) Kaji sefal hematom yang terjadi sesaat setelah lahir dan
tidak tampak pada hari pertama karena tertutup kaput
suksadenum, konsistensinya lunak, berfluktuasi, berbatas
tegas pada tepi tulang tengkorak, tidak menyebrangi sutura,
dan jika menyebrangi sutura akan mengalami fraktur tulang

16

tengkorak.

Sefal

hematom

akan

menghilang

dengan

sempurna dalam waktu 2-6 bulan.


7) Kaji adanya perdarah akibat pecahnya pembuluh vena yang
munghubungkan jaringan di luar sinus dalam tengkorak,
batasnya tidak tegas sehingga bentuk kepala tampak
asimetris, dengan palpasi teraba fluktuasi.
8) Kaji adanya fontanel dengan cara melakukan palpasi
menggunakan jari tangan, denyutannya sama dengan
denyut jantung, kemudian fontanel posterior akan dilihat
proses penutupan setelah usia 2 bulan dan fontanel anterior
g.

menutup saat usia 12-18 bulan.


Pemeriksaan mata
1) Kaji adanya strabismus (koordiansi gerakan mata yang
belum sempurna), dengan cara menggoyang kepala secara
perlahan lahan sehingga mata bayi akan terbuka.
2) Kaji adanya kebutaan jika bayi jarang berkedip atau
sensitivitas terhadap cahaya berkurang.
3) Kaji tanda sindrom down jika ditemukan adanya epikantus

yang melebar.
4) Kaji adanya katarak kongenital jika terlihat pupil berwarna
putih.
5) Kaji adanya trauma pada mata seperti adanya edema
h.

i.

palpebra, perdarahan konjungtiva, retina dan lain lain.


Pemeriksaan Telinga
1) Kaji adanya gangguan pendengaran dengan membunyikan
bel atau suara apakah terjadi refleks terkejut.
2) Kaji posisi hubungan mata dan telinga.
Pemeriksaan Hidung dan Mulut
1) Kaji pola pernafasan dengan melihat pola nafas

17

2) Kaji nafas cuping hidung yang menunjukkan gangguan pada


paru.
2) Kaji adanya kista di mukosa mulut.
3) Kaji lidah untuk menilai warna,

kemampuan

refleks

menghisap dengan mengamati saat menyusu.


4) Kaji gusi untuk menilai adanya pigmen gigi apakah terjadi
j.

penumpukan pigmen yang tidka sempurna.


Pemeriksaan Leher
1) Kaji adanya pembengkakan dan benjolan.
2) Kaji pergerakan leher, jika terjadi keterbatasan pergerakan,
kemungkinana terjadi kelainan di tulang leher, seperti

k.

kelainan tiroid, hemangioma, dan lain-lain.


Pemeriksaan Dada dan Punggung
1) Kaji adanya kelainan bentuk.
2) Kaji kesimetrisan, jika tidak simetris, kemungkinan bayi
mengalami pseumotoraks, paresis diafrgama, atau hernia
diafrgamatika.
3) Kaji adanya fraktur klavikula dengan cara meraba iktus

l.

kordis dengan menetukan posisi jantung.


4) Kaji frekuensi jantung dengan auskultasi stetoskop.
5) Kaji bunyi pernafasan.
Pemeriksaan Abdomen
1) Kaji bentuk abdomen, jika ditemukan abdomen membuncit,
kemungkinan disebabkan hepatosplenomegali atau cairan di

dalam rongga perut.


2) Kaji adanya kembung dengan perkusi.
m. Pemeriksaan Tulang Belakang dan Ekstermitas
1) Kaji adanya
kelainan
tulang
belakang

(seperti

skoliosis;
meningokel; spina bifida) dengan cara bayi diletakkan dalam
posisi etngkurap, kemudian tangan pemeriksa meraba
sepanjang tulang belakang.

18

2) Kaji adanya kelemahan dengan cara melihat posisi kedua


kaki, adanya pes equinovarus atau valgus dan keadaan jarin.

jari tangan dan kaki apakah terdapat polidaktili.


Pemeriksaan Genitalia
1) Kaji keadaan labia minora yang tertutup labia mayora,
lubang uretra dan lubang vagina terpisah. Jika ditemukan
satu lubang terjadi kelainan dan jika ada sekret di lubang
vagina, hal tersebut karena pengaruh hormon maternal.
2) Kaji adanya fimosis, hipospadia yang merupakan defek di
bagian ventral ujung penis atau defek sepanjang penis dan

o.

epispadia merupakan kelainan defek pada dorsum penis.


Pemeriksaan Anus dan Rektum
1) Kaji adanya kelainan atresia ani atau mengetahui posisinya.
2) Kaji adanya mekonium. Secara umum mekonium keluar
dalam rentang 24 jam, jika dalam waktu 48 jam belum keluar
kemungkinan meconium plug syndrome, megakolon, atau

p.

obstruksi saluran pencernaan.


Pemeriksaan Kulit
1) Kaji adanya verniks kaseosa yang merupakan zat seperti
lemak berfungsi sebagai pelumas atau sebagai isolasi
panas pada bayi cukup bulan.
2) Kaji adanya lanugo, yakni rambut halus di punggung bayi,
jumlahnya lebih banyak pada bayi kurang bulan daripada

bayi cukup bulan. (Hidayat Alimul, 2008)


5. Tanda-tanda Bahaya Pada Bayi Baru Lahir
Tanda dan gejala sakit berat pada bayi baru lahir dan bayi
muda sering tidak spesifik. Tanda ini dapat terlihat pada saat atau
sesudah bayi lahir, saat bayi baru lahir datang atau saat perawatan
di rumah sakit. Tanda ini mencakup:

19

a.

Tidak bisa menyusu

b.

Kejang

c.

Mengantuk atau tidak sadar

d.

Frekuensi napas < 20 kali/menit atau apnu (pernapasan


berhenti selama >15 detik)

e.

Frekuensi napas > 60 kali/menit

f.

Merintih

g.

Tarikan dada bawah ke dalam yang kuat

h. Sianosis sentral. (Depkes RI, 2008)


6. Asuhan Bayi Baru Lahir
a. Jaga bayi tetap hangat.
b. Isap lendir dari mulut dan hidung (hanya jika perlu).
c. Keringkan.
d. Pemantauan tanda bahaya.
e. Klem, potong dan ikat tali pusat tanpa membubuhi apapun,
f.
g.

kira-kira 2 menit setelah lahir.


Lakukan inisiasi menyusu dini.
Beri suntikan vitamin K1 1 mg intramuskular, di paha kiri

h.
i.
j.

anterolateral setelah inisiasi menyusu dini.


Beri salep mata antibiotika pada kedua mata.
Pemeriksaan fisis.
Beri imunisasi Hepatitis B 0,5 mL intramuskular, di paha kanan
anteroleteral, kira-kira 1-2 jam setelah pemberian vitamin K1.
(Kemenkes, 2010).

B. Tinjauan Umum Tentang Asfiksia


1. Pengertian Asfiksia
a. Asfiksia neonatorum (Apnea Neonatorum) adalah keadaan
dimana bayi yang baru dilahirkan tidak segera bernafas secara
spontan dan teratur setelah dilahirkan. (Triana Ani, 2015)

20

b.

Asfiksia berarti hipoksia yang progesif, penimbunan CO 2 dan


asidosis. Bila proses ini berlangsung jauh dapat mengakibatkan

c.

kerusakan otak atau kematian. (Saifudin AB, 2009)


Asfiksia adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernafas
spontan dan teratur, sehingga dapat menurunkan O 2 dan makin
meningkatkan CO2 yang menimbulkan akibat buruk dalam

d.

e.

kehidupan lebih lanjut. (Dwienda R., 2014; Manuaba, 2010)


Asfiksia neonatorum merupakan kondisi dimana bayi tidak
dapat bernapas secara spontan dan teratur segera setelah lahir
(Hidayat A, 2008).
Asfiksia neonatorum

adalah

keadaan

yang

merupakan

kelanjutan dari kegawatan janin (fetal distress) intrauteri yang


disebabkan oleh banyak hal. (Manuaba, 2007).
2. Etiologi Asfiksia
a. Gangguan sirkulasi darah
b. Gangguan aliran pada tali pusat
1) Lilitan tali pusat
2) Simpul tali pusat
3) Tekanan pada tali pusat
4) Ketuban telah pecah
5) Kehamilan lewat waktu
c. Pengaruh obat
Karena narkosa saat persalinan.
d. Faktor ibu :
1) Gangguan his (tetania uteri/hipertoni).
2) Penurunan tekanan darah dapat mendadak (perdarahan
pada plasenta previa dan solusio plasenta).
3) Hipertensi pada ibu hamil.
4) Gangguan pertukaran nutrisi / O2 (solusio plasenta).
(Dwienda R. dkk, 2014)
Sedangkan menurut Kemenkes RI (2010), faktor penyebab asfiksia
meliputi:
a. Faktor ibu
1) Ibu hamil dengan tekanan darah tinggi, kejang.

21

2) Perdarahan saat hamil dan persalinan.


3) Infeksi pada ibu hamil atau bersalin.
4) Ibu hamil menderita penyakit berat (malaria, TBC).
5) Persalinan lama.
b. Faktor bayi
1) Bayi dengan kelainan bawaan.
2) Bayi lahir dengan tindakan (misalnya vakum).
3) Bayi kembar, BBLR.
c. Faktor tali pusat
1) Tali pusat keluar sebelum bayi lahir.
2) Lilitan tali pusat.
3) Tali pusat pendek.
4) Simpul tali pusat.
3. Patofisiologi
Bayi baru lahir mempunyai karakteristik yang unik. Transisi
dari kehidupan janin intrauterin ke kehidupan bayi ekstrauterin,
menunjukkan perubahan sebagai berikut: Alveoli paru janin dalam
uterus berisi cairan paru. Pada saat lahir dan bayi mengambil
nafas pertama, udara memasuki alveoli paru dan cairan paru
diabsorbsi oleh jaringan paru.
Pada nafas kedua dan berikutnya, udara yang masuk

ke

alveoli bertambah banyak dan cairan paru diabsorbsi sehingga


kemudian seluruh alveoli berisi udara yang mengandung oksigen.

22

Aliran darah paru meningkat secara dramatis. Hal ini disebabkan


ekspansi paru yang membutuhkan tekanan puncak inspirasi dan
tekanan akhir ekspirasi yang lebih tinggi. Ekspansi paru dan
peningkatan tekanan oksigen alveoli, keduanya menyebabkan
penurunan resistensi vaskuler paru dan peningkatan aliran darah
setelah lahir. Aliran intrakardial dan ekstrakardial mulai beralih
arah

yang

kemudian

diikuti

penutupan

duktus

arteriosus.

Kegagalan penurunan resistensi vaskuler paru menyebabkan


hipertensi pulmonal persisten pada bayi baru lahir, dengan aliran
darah paru yang inadekuat dan hipoksemia relative. Ekspansi
paru yang inadekuat menyebabkan gagal bernafas (Kosim MS,
2008).
4. Klasifikasi
a. Asfiksia Berat (nilai APGAR 0-3)
1) Frekuensi jantung kecil (< 40 kali per menit
2) Tidak ada usaha napas
3) Tonus otot lemah bahkan hampir tidak ada
4) Bayi tidak dapat memberikan reaksi

jika

diberikan

rangsangan
5) Bayi tampak pucat bahkan sampai berwarna kelabu
6) Terjadi kekurangan oksigen yang berlanjut sebelum atau
sesudah persalinan
b. Asfiksia Sedang (nilai apgar 4-6)
1) Frekuensi jantung menurun menjadi 60-80 x/menit
2) Usaha napas lambat
3) Tonus otot biasanya dalam keadaan baik
4) Bayi masih bias bereaksi terhadap rangsangan yang
diberikan
5) Bayi tampak sianosis

23

6) Tidak terjadi kekurangan oksigen yang bermakna selama


proses persalinan
c. Asfiksia Ringan (nilai apgar 7-10)
1) Takipnea dengan napas lebih dari 60 kali per menit
2) Bayi tampak sianosis
3) Adanya retraksi sela iga
4) Bayi merintih (grunting)
5) Adanya pernapasan cuping hidung
6) Bayi kurang aktifitas
7) Dari pemeriksaan ronchi, rales, dan wheezing positif.
5. Tanda dan Gejala
a. Bayi lahir tidak menangis
b. Bernafas megap-megap / tersengal-sengal
c. Bayi merintih
d. Bayi lemas
e. Muka bayi kebiruan
(Kemenkes RI, 2010)
6. Diagnosis
Untuk dapat menegakkan diagnosis gawat janin, dapat ditetapkan
dengan melakukan pemeriksaan sebagai berikut:
a. Denyut jantung janin
1) DJJ meningkat 160 kali permenit tingkat permulaan
2) Mungkin jumlah sama dengan normal, tetapi tidak teratur
3) Frekuensi denyut menurun < 100 x / menit, apalagi disertai
irama yang tidak teratur.
4) Pengeluaran mekonium pada letak kepala menunjukkan
gawat janin, karena terjadi rangsangan nervus X, sehingga
peristaltik usus meningkat dan sfingter ani terbuka.

24

b. Mekonium dalam air ketuban


Pengeluaran mekonium pada letak kepala menunjukkan gawat
janin, karena terjadi rangsangan nervus X, sehingga peristaltik
usus meningkat dan sfingter ani terbuka. (Manuaba, 2010)
7. Komplikasi
Komplikasi yang muncul pada asfiksia neonatus antara lain :
a. Edema otak & Perdarahan otak
Pada penderita asfiksia dengan gangguan fungsi jantung yang
telah berlarut sehingga terjadi renjatan neonatus, sehingga
aliran darah ke otak pun akan menurun, keadaaan ini akan
menyebabkan hipoksia dan iskemik otak yang berakibat
terjadinya edema otak, hal ini juga dapat menimbulkan
perdarahan otak.
b. Anuria atau oliguria
Disfungsi ventrikel jantung dapat pula terjadi pada penderita
asfiksia, keadaan ini dikenal istilah disfungsi miokardium pada
saat terjadinya, yang disertai dengan perubahan sirkulasi. Pada
keadaan ini curah jantung akan lebih banyak mengalir ke organ
seperti mesentrium dan ginjal. Hal inilah yang menyebabkan
terjadinya hipoksemia pada pembuluh darah mesentrium dan
ginjal yang menyebabkan pengeluaran urine sedikit.
c. Kejang
Pada bayi yang mengalami asfiksia akan mengalami gangguan
pertukaran

gas

dan

transport

O2

sehingga

penderita

25

kekurangan persediaan O2 dan kesulitan pengeluaran CO2 hal


ini dapat menyebabkan kejang pada anak tersebut karena
perfusi jaringan tak efektif.
d. Koma
Apabila pada pasien asfiksia berat segera tidak ditangani akan
menyebabkan

koma

karena

beberapa

hal

diantaranya

hipoksemia dan perdarahan pada otak. (Amarayah, 2013)


8. Penatalaksanaan
Setelah melakukan penilaian dan memutuskan bahwa BBL
perlu diresusitasi, tindakan harus segera dilakukan.
a.

Tahap I (Langkah Awal)


Tahap awal diselesaikan dalam waktu 30 detik. Langkah awal
tersebut meliputi:
1) Jaga bayi tetap hangat
2) Atur posisi bayi
3) Isap lendir
4) Keringkan dan rangsang bayi
5) Atur kembali posisi kepala bayi
6) Lakukan evaluasi bayi. (Triana Ani, 2015)

b. Tahap II (Ventilasi)
Ventilasi adalah tahapan tindakan resusitasi untuk
memasukkan sejumlah volume udara ke dalam paru-paru
dengan tekanan positif untuk membuka alveoli paru bayi agar
bisa bernapas spontan dan teratur.

26

1) Pasang sungkup
Pasang sungkup agar menutupi dagu, mulut dan hidung.
2) Ventilasi 2 kali
Lakukan peniupan dengan tekanan 30 cm air. Tiupan awal
tabung-sungkup / pompaan awal balon-sungkup sangat
penting untuk membuka alveoli paru agar bayi bisa mulai
bernapas dan menguji apakah jalan napas bayi terbuka.
3) Lihat apakah dada bayi mengembang
Saat melakukan tiupan atau remasan perhatikan apakah
dada bayi mengembang.
4) Ventilasi 20 kali dalam 30 detik
a) Lakukan tiupan dengan tabung dan sungkup atau
pemompaan dengan balon dan sungkup sebanyak 20 kali
dalam 30 detik dengan tekanan 20 cm air sampai bayi
mulai bernapas spontan
b) Pastikan dada mengembang saat dilakukan tiupan atau
peremasan, setelah 30 detik lakukan penilaian ulang
napas.
c) Jika bayi mulai bernapas spontan atau menangis,
hentikan ventilasi bertahap
d) Lihat dada apakah ada retraksi dnding dada bawah
e) Hitung frekuensi napas permenit

27

f) Jika bernapas > 40 per menit dan tidak ada retraksi berat,
jangan ventilasi lagi
g) Letakkan bayi dengan kontak kulit ke kulit dada ibu dan
lanjutkan asuhan bayi baru lahir
h) Pantau setiap 15 menit untuk pernapasan dan kehangatan
i) Katakan pada ibu bahwa bayinya kemungkinan besar
akan membaik
j) Lakukan asuhan pasca resusitasi
k) Jika bayi megap-megap atau tidak bernapas, lanjutkan
ventilasi.
5) Ventilasi, setiap 30 detik hentikan dan lakukan penilaian
ulang napas
a) Lanjutkan ventilasi 20 kali dalam 30 detik (dengan tekanan
20 cm air)
b) Hentikan ventilasi setiap 30 detik, lakukan penilaian bayi
apakah bernapas, tidak bernapas atau megap-megap.
c. Tahap III (Asuhan Pasca Resusitasi)
1) Pemantauan tanda-tanda bahaya pada bayi
a) Tidak dapat menyusu
b) Kejang
c) Mengantuk atau tidak sadar
d) Nafas cepat (> 60 kali permenit)
e) Merintih

28

f) Retraksi dinding dada bawah


g) Sianosis sentral.
2) Pemantauan dan perawatan tali pusat
a) Memantau perdarahan tali pusat
b) Menjelaskan perawatan tali pusat.

3) Bila nafas bayi dan warna kulit normal, berikan bayi kepada
Ibunya dengan cara:
a) Meletakkan bayi di dada ibu (kulit ke kulit), menyelimuti
keduanya
b) Membantu ibu untuk menyusui bayi dalam 1 jam pertama
c) Menganjurkan ibu untuk mengusap bayinya dengan kasih

sayang.
4) Pencegahan hipotermi
a) Membaringkan bayi dalam ruangan > 250C
b) Menunda memandikan bayi sampai dengan 6-24 jam
c) Menimbang berat badan terselimuti, kurangi berat selimut
d) Menjaga bayi tetap hangat selama pemeriksaan, buka
selimut bayi sebagian-sebagian.
5) Pemeliharaan pemberian oksigen 1 liter permenit.
6) Pencegahan infeksi
a) Memberikan salep mata antibiotika
b) Memberikan imunisasi Hepatitis-B dipaha kanan 0,5 mL
intramuscular, 1 jam setelah pemberian vit K

29

c) Memberitahu ibu dan keluarga cara pencegahan infeksi


bayi.
7) Pemeriksaan fisik
a) Mengukur panjang badan dan lingkar kepala bayi
b) Melihat dan meraba kepala bayi
c) Melihat mata bayi
d) Melihat mulut dan bibir bayi
e) Melihat dan meraba lengan dan tungkai, gerakan dan
menghitung jumlah jari
f) Melihat alat kelamin dan menentukan jenis kelamin,
adakah kelainan
g) Memastikan adakah lubang anus dan uretra, adakah
kelainan
h) Memastikan adakah buang air besar dan buang air kecil
i) Melihat dan meraba tulang punggung bayi.
8) Pencatatan dan pelaporan
9) Asuhan pasca lahir dengan cara melakukan asuhan bayi
baru lahir lebih lanjut. (Triana Ani, 2015)
C. Proses Manajemen Asuhan Kebidanan
1. Pengertian Manajemen Kebidanan
a. Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah
yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan
pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuanpenemuan, keterampilan dalam rangkaian tahapan logis untuk

30

pengambilan

keputusan

yang

berfokus

pada

pasien.

(Megasari M, 2015)
b. Manajemen kebidanan adalah pendekatan yang digunakan
oleh bidan dalam menerapkan metode metode pemecahan
masalah secara sistematis mulai dari pengkajian, analisis data,
diagnosa kebidanan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
(Ambarwati, 2008; Muslihatun, 2009)
c. Manajemen kebidanan merupakan suatu metode atau bentuk
pendekatan yang digunakan oleh bidan dalam memberi asuhan
kebidanan. (Hani Ummi, 2010)
d. Manajemen kebidanan memperkenalkan

sebuah

metode

dengan pengorganisasian, pemikiran, dan tindakan berurutan,


logis, dan menguntungkan, baik bagi pasien maupun bagi
tenaga kesehatan. (Purwandari, 2008; Saminem, 2009)
e. Manajemen asuhan kebidanan atau yang sering disebut
manajemen kebidanan adalah suatu metode berpikir dan
bertindak secara sistematis dan logis dalam memberi asuhan
kebidanan, agar menguntungkan kedua belah pihak baik klien
maupun pemberian asuhan. (Soepardan, 2008)
2. Langkah dalam Manajemen Asuhan Kebidanan
Proses manajemen kebidanan terdiri atas tujuh langkah yang
berurutan, yang setiap langkah disempurnakan secara periodik.
Ketujuh langkah tersebut membentuk kerangka lengkap yang dapat
diaplikasikan dalam situasi apapun. Berikut ketujuh langkah
manajemen kebidanan menurut Varney (1997):
a. Langkah I. Pengumpulan dan Analisa Dasar
Pada langkah pertama ini dikumpulkan semua infomasi
yang akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan

31

dengan kondisi klien Untuk memperoleh data dilakukan dengan


cara anamneses, pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan
dan pemeriksaan tanda-tanda vital, pemeriksaan khusus dan
b.

pemeriksaan penunjang. (Purwandari, 2008)


Langkah II. Merumuskan Diagnosa/Masalah Aktual
Pada

langkah

ini

dilakukan

identifikasi

terhadap

diagnosa atau masalah berdasarkan interpretasi atas dasar


data

yang

telah

dikumpulkan.

Data

dasar yang

telah

dikumpulkan, diinterpretasikan sehingga dapat merumuskan


diagnosa dan masalah yang spesifik. Rumusan diagnosa dan
masalah, keduanya digunakan karena masalah tidak dapat
diidentifikasi seperti diagnosa tetapi tetap membutuhkan
penanganan. Masalah sering berkaitan dengan hal-hal yang
sedang dialami wanita yang diidentifikasi oleh bidan sesuai
dengan hasil pengkajian. (Purwandari, 2008)
c.

Langkah III. Merumuskan Diagnosa/Masalah Potensial


Pada langkah ini dilakukan dengan mengidentifikasi
masalah atau diagnosis potensial yang lain berdasarkan
beberapa masalah dan diagnosis sudah diidentifikasi. Langkah
ini membutuhkan antisipasi yang cukup dan apabila
memungkinkan dilakukan proses pencegahan atau dalam
kondisi

d.

tertentu

pasien

membutuhkan

tindakan

segera.

(Wildan Hidayat, 2008)


Langkah IV. Melaksanakan tindakan segera/Kolaborasi
Mengidentifikasi perlu adanya tindakan segera oleh
bidan atau dokter dan atau/untuk dikonsultasikan atau

32

ditangani bersama oleh anggota tim kesehatan yang lain


sesuai dengan kondisi klien. Langkah keempat mencerminkan
kesinambungan

dari

proses

penatalaksanan

kebidanan

sebelumnya. Jadi manajemen bukan hanya selama asuhan


primer priodik atau kunjungan prenatal saja, tetapi selama
wanita tersebut bersama bidan terus menerus, misalnya pada
e.

waktu wanita tersebut dalam persalinan (Muslihatun, 2009).


Langkah V. Perencanaan Tindakan Asuhan Kebidanan
Pada langkah ini direncanakan asuhan yang
menyuluruh, ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya.
Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap
diagnosa atau masalah yang telah diindentifiakasi atau
diantisipasi. Pada langkah ini informasi/data dasar yang tidak
lengkap dapat dilengkapi. Pada langkah ini tugas bidan adalah
merumuskan rencana asuhan dan membuat kesepakatan
dengan pasien sesuai d engan hasil pembahasan rencana
asuhan bersama pasien sebelum melaksanakannnya.

f.

(Purwandari, 2008)
Langkah VI. Pelaksanaan Tindakan Asuhan Kebidanan
Pada langkah ini rencana asuhan menyeluruh dilakukan secara
efisien dan aman. Rencana ini bisa dilakukan seluruhnya oleh
bidan atau sebagian oleh pasien, atau anggota tim kesehatan
lainnya. Jika bidan tidak melakukan sendiri, ia tetap memikul
tanggung

jawab

untuk

mengarahkan

pelaksanaannya

memastikan langkah-langkah tersebut benar-benar terlaksana.


g.

(Muslihatun, 2009)
Langkah VII. Evaluasi Asuhan Kebidanan

33

Pada langkah ini dilakukan evaluasi keaktifan dari


asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan
akan bantuan, apakah benar-benar terpenuhi sesuai dengan
kebutuhan sebagai mana telah diidentifikasi dalam masalah
dan diagnosa. (Muslihatun, 2009)
3. Pendokumentasian Asuhan Kebidanan (SOAP)
a. Pengertian
1) Dokumentasi kebidanan merupakan bukti pencatatan dan
pelaporan berdasarkan komunikasi tertulis yang akurat dan
lengkap yang dimiliki oleh bidan dalam melakukan asuhan
kebidanan. (Wildan Hidayat, 2008)
2) Dokumentasi kebidanan merupakan kemajuan informasi
sistematis

yang

mengorganisasi

temuan

dan

kesimpulan
menjadi suatu rencana asuhan. (Purwandari, 2008)
3) Dokumentasi kebidanan didalamnya tersirat proses berpikir
yang sistematis seorang bidan dalam menhadapi seorang
klien sesuai langkah-langkah dalam proses manajemen
kebidanan. (Hani Ummi, 2010)
4) Dokumentasi kebidanan merupakan
meliputi

status

kesehatan

pasien,

informasi

lengkap

kebutuhan

pasien,

kegiatan asuhan kebidanan serta respons pasien terhadap


asuhan yang diterimanya. (Kurniati, 2011)
5) Dokumentasi kebidanan adalah catatan perkembangan yang
menggambarkan
pelayanan
b.

urutan

kebidanan

(Syafrudin, 2009)
SOAP

kejadian
sampai

pasien
pulang

dari

masuk

atau

pulih.

34

Metode empat langkah yang dinamakan SOAP (Subjektif,


Objektif, Assesment, Planning) disarikan dari proses pemikiran
penatalaksanaan kebidanan, dipakai untuk mendokumentasikan asuhan pasiendalam rekam medis sebagai catatan
kemajuan pasien. (Purwandari, 2008)
Menurut Helen Varney (1997),

alur

berpikir

saat

menghadapi klien meliputi 7 langkah. Untuk orang lain


mengetahui apa yang telah dilakukan oleh seorang bidan
melalui proses berpikir sistematis, didokumentasikan dalam
bentuk SOAP, yaitu :
1) Subjektif (S)
Merupakan

data

yang

berhubungan / masalah

dari

sudut
pandang klien. Ekspresi klien mengenai kekhawatiran dan
keluhan yang dicatat sebagai kutipan langsung atau
ringkasan

yang

akan

berhubungan

langsung

dengan

diagnosis. (Kurniati, 2011)


2) Objektif (O)
Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik
klien, hasil laboratorium dan test diagnostik lain yang
dirumuskan dalam data fokus untuk mendukung asuhan
sebagai langkah I Varney. (Kurniati, 2011)
3) Assesment (A)

35

Menggambarkan
interprestasi

data

pendokumentasian

hasil

subjektif dan objektif

analisa

dan

dalam suatu

identifikasi:
a) Diagnosa/masalah.
b) Antisipasi diagnosa/masalah potensial.
c) Perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter,
konsultasi / kolaborasi dan atau rujukan sebagai langkah
2, 3, dan 4 Varney.
4) Planning (P)
Menggambarkan pendokumentasian dari tindakan (1) dan
Evaluasi perencanaan (E) berdasarkan analisa sebagai
langkah 5, 6, dan 7 Varney. (Dwienda R, 2014)

BAB III
STUDI KASUS
ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI Ny. H DENGAN
ASFIKSIA SEDANG DI PUSTU PATTIRO
RIOLO

KEC. SIBULUE

KAB. BONE

TANGGAL 28 S/D 30 APRIL 2015

No. Register

: 2804015

Tanggal Lahir

: 28 April 2015 Jam 14.00 Wita

Tanggal Pengkajian

: 28 April 2015 Jam 14.30 Wita

36

A. Langkah I : Identifikasi Data Dasar


1. Identitas
a. Identitas Bayi

b.

Nama

: Bayi.H

Tanggal, Jam

: 28 April 2015 Jam 14.00 Wita.

Anak ke

: I (Pertama)

Jenis Kelamin

: (Perempuan)

Identitas Ibu/Ayah

Nama Ibu / Ayah

: Ny.H / Tn.A

Umur

: 34 Tahun / 38 Tahun

Nikah / Lamanya

: 1 kali / 6 Tahun

Suku

: Bugis / Bugis

Agama

: Islam / Islam

Pendidikan

: SMP / SMP

Pekerjaan

41
: IRT / Petani

Alamat

: Dusun Cumene Desa Pattiro Riolo

2. Riwayat kehamilan dan kelahiran


a. Riwayat kehamilan
1) G I P 0 A 0
2) HPHT

: Tanggal 02 - 08 - 2014

3) TP

: Tanggal 09 - 05 - 2015

4) Usia kehamilan

: 37 Minggu 3 Hari

5) ANC 4 kali selama pemeriksaan kehamilan di Pustu Pattiro


Riolo Kec. Sibulue

37

6) Mendapat imunisasi TT sebanyak 2 kali selama kehamilan di


Pustu Pattiro Riolo Kec. Sibulue
b. Riwayat persalinan
1) Ibu masuk kamar bersalin tanggal 28 April 2015
2) Jam 12.15 Wita, dengan keluhan sakit perut tembus ke
belakang disertai dengan pelepasan lendir dan darah sejak
jam 9. 45 Wita.
3) Perlangsungan kala I sepuluh jam
4) Perlangsugan kala II satu jam
5) Bayi lahir pervaginam, Tanggal 28 April 2015, Jam 14.00
Wita dengan hasil penilaian :
a) Pernafasan

: lemah, tidak teratur dalam frekuensi

28 x/ menit
b) Denyut jantung : Frekuensi 148 x/menit
c) Warna kulit

: Badan merah, ekstremitas biru

d) Apgar Score

: 7/8

3. Riwayat Kesehatan Ibu


a. Ibu tidak ada ketergantungan obat dan alkohol.
b. Ibu tidak pernah mengalami gangguan/kelainan selama hamil.
c. Ibu tidak ada riwayat penyakit DM, hipertensi, jantung, malaria
4. Pemeriksaan Fisik Bayi
a. Pemeriksaan umum
1) BBL

: 3000 gram (Normalnya 2500-4000 gr)

2) PBL

: 49 cm (Normalnya 45 50 cm)

38

3) Lingkar kepala

: 32 cm (Normal : 32-35 cm)

4) Lingkar dada

: 31 cm (Normal : 30-38 cm)

5) Jenis kelamin

: Perempuan

b. Pemeriksaan Fisik
1.

Kepala
a) Rambut

: Tipis, hitam, dan lurus

b) Sutura

: Tidak teraba jelas (terdapat caput


succedaneum)

2. Mata
a) Kesimetrisan

: Simetris kiri dan kanan

b) Skrela

: Tidak ikterus

c) Konjungtiva

: Tampak merah muda

d) Kebersihan mata: Bersih


3. Hidung
a) Simetris kiri dan kanan dan tidak ada secret
4. Mulut dan bibir
a) Refleks mengisap kurang baik
b) Bibir kebiru-biruan
5. Kulit
a) Kemerahan
6. Leher
a) Tonus otot leher lemah
7. Dada dan perut

39

a) Gerakan dada

: Sesuai dengan pola napas

b) Tonjolan/tulang dada

: Tidak ada

c) Keadaan tali pusat

: Putih / berpilin

8. Genetalia/anus
a) Labia mayora menutupi labia minora
b) Lubang anus (+)
9. Ekstremitas
a) Tangan
1. Pergerakan

: Lemas

2. Jari tangan

: Lengkap kiri dan kanan

3. Refleks menggenggam

: Baik

b) Kaki
1. Pergerakan

: Lemas

2. Jari kaki

: Lengkap kiri dan kanan

B. Langkah II Merumuskan Diagnosa / Masalah Aktual


Diagnosa : BCB, Asfiksia Sedang
1. BCB (Bayi Cukup Bulan)
DS

1. Ibu mengatakan HPHT tanggal 02 08 2015


2. Tanggal persalinan 28 04 2015, jam 14.00 Wita
DO:
a. Tafsiran persalinan 09 05 2015
b. Gestasi 37 minggu 3 hari

40

c. BBL : 3000 gram, PBL : 49 cm


d. Apgar Score : 7/8
Analisa dan Interpretasi data
Bayi lahir cukup bulan dengan umur kehamilan 37 mingggu 3
hari, dihitung dari HPHT tanggal 02 Agustus 2014, sampai pada
saat pengkajian setelah bayi lahir tanggal 28 April 2015. (Dwienda
R, 2014)
2. Asfiksia Sedang
DS

:-

DO :
a. Bayi lahir tidak segera menangis
b. Tubuh kemerahan dan ekstremitas bawah biru/pucat
c. Bibir pucat
d. Banyak lendir pada hidung dan mulut
e. Apgar Score 7/8
Analisa dan interpretasi data
Bayi dengan asfiksia,yaitu adalah keadaan bayi yang tidak
dapat bernafas spontan dan teratur, sehingga dapat menurunkan
O2 dan makin meningkatkan CO2 yang menimbulkan akibat buruk
dalam kehidupan lebih lanjut. (Dwienda R., 2014; Manuaba, 2010)
.
C. Langkah III Mengantisipasi Diagnosa/Masalah Potensial
Antisipasi terjadi asfiksia berat
DS : DO :

41

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Bayi lahir tidak segera menangis


Frekuensi jantung 148x/menit
Pernafasan 28x/menit
Suhu badan 36,6C
Nadi 120x/menit
Bibir pucat
Apgar Score 7/8

Analisa dan Interpretasi :


Kegagalan penurunan resistensi vaskuler paru menyebabkan
hipertensi pulmonal persisten pada bayi baru lahir, dengan aliran darah
paru yang inadekuat dan hipoksemia relative. Ekspansi

paru yang

inadekuat menyebabkan gagal bernafas afiksia sedang dan tanpa


pertolongan yang lebih lanjut akan berpotensial asfiksia berat. (Kosim
MS, 2008).
D. Langkah IV Tindakan Segera dan Kolaborasi
Kolaborasi dengan dokter untuk meletakkan bayi dibawah
pemancar panas, mengeringkan tubuh bayi, meletakkan bayi pada
posisi kepala lebih rendah dari badan, membersihkan jalan napas,
melakukan rangsangan taktil, melakukan tindakan pemasangan
oksigen 2 liter/menit.
E. Langkah V Rencana Asuhan Kebidanan
Diagnosa

: BCB, , Asfiksia sedang

Diagnosa potensial

: Potensial terjadinya Asfiksia berat

1. Tujuan : Asfiksia sedang teratasi


2. Kriteria :
a.

Bayi dapat bernapas normal (30 - 60 x/menit)

42

b.

Frekuensi jantung sudah teratur (120 - 160 x/menit)

c.

Warna kulit kemerahan

d.

Bayi menangis, dan bergerak aktif

e.

Refleks positif

3. Intervensi
Tanggal 28 April 2015, jam 14.30 Wita
1. Observasi keadaan umum bayi dan tanda-tanda vital khususnya.
Rasional : Dengan observasi tanda-tanda vital dapat mengidentifikasi kemungkinan penyimpangan dari hasil yang
diharapkan

agar

memudahkan

dalam

kenangan

selanjutnya
2. Pertahankan suhu tubuh bayi agar tetap hangat.
Rasional : Perawatan bayi dengan tubuh terbungkus dapat
terhindar dari konduksi dan evaporasi.
3. Atur posisi bayi dengan kepala pada posisi menghidu dengan
menempatkan ganjal bahu sehingga kepala sedikit ekstensi.
Rasional : Agar cairan tidak teraspirasi dan pernapasan menjadi
lancar.
4. Bersihkan jalan nafasdari lendir dengan menggunakan de lee/balon
karet.
Rasional : Untuk kelancaran proses respirasi sehingga bayi dapat
bernafas teratur.
5. Keringkan tubuh bayi mulai dari muka, kepala dan bagian tubuh
lainnya dan menyelimuti bayi dengan selimut bersih dan kering.
Rasional : Rangsangan ini dapat membantu bayi baru lahir mulai
bernafas dan mencegah kehilangan panas pada bayi
melalui evaporasi, konduksi, konveksi dan radiasi
6. Lakukan rangsangan taktil.
Rasional : Dengan rangsangan taktil diharapkan segera menangis.

43

7. Observasi keadaan umum bayi dan tanda-tanda vital khususnya


pernapasan.
Rasional : Dengan observasi dapat mengidentifikasi kemungkinan
penyimpangan

dari

hasil

yang

diharapkan

serta

mengetahui tanda-tanda vital khususnya pernapasan


agar memudahkan dalam penanganan selanjutnya.
8. Pemberian oksigen sesuai dengan kebutuhannya.
Rasional : Oksigen diberikan kepada bayi untuk membantu
pernapasan dan pengembangan pada paru-paru.
9. Pemberian kebutuhan cairan 60 cc/kg BB.
Rasional : Untuk membantu pemenuhan nutrisi pada bayi.
10. Anjurkan ibu untuk menyusui bayinya secara on demand dan
mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang.
Rasional : Pemenuhan asupan gizi pada ibu menyusui sangat
mempengaruhi produksi kualitas ASI.
11. Berikan Vitamin K secara Intramuskular.
Rasioanl : Mencegah terjadinya perdarahan pada otak.
12. Lakukan perawatan tali pusat dengan teknik aseptik.
Rasional : Perawatan tali pusat dilakukan dengan teknik aseptik
untuk menghindari terjadinya infeksi tali pusat.
13. Rawat bayi didalam inkubator.
Rasional : Untuk menghindari terjadinya hipotermi dan mempertahankan suhu tubuh bayi.
F. Langkah VI Pelaksanaan Asuhan Kebidanan
Tanggal 28 April 2015
1. Jam 15.30 wita, Mengobservasi keadaan umum bayi dan tandatanda vital khususnya.
2. Jam 15.35 wita, Mempertahankan duhu tubuh bayi agar tetap
hangat.

44

3. Jam 15.40 wita, Mengatur posisi bayi dengan kepala pada posisi
menghidu dengan menempatkan ganjal bahu sehingga kepala
sedikit ekstensi.
4. Jam 15.45 wita, Membersihkan jalan nafasdari lendir dengan
menggunakan de lee/balon karet.
5. Jam 15. 50 wita, Mengeringkan tubuh bayi mulai dari muka, kepala
dan bagian tubuh lainnya dan menyelimuti bayi dengan selimut
bersih dan kering.
6. Jam 15.55 wita, Melakukan rangsangan taktil.
7. Jam 16.10 wita, Mengobservasi keadaan umum bayi dan tandatanda vital khususnya pernapasan.
8. Jam 16.15 wita, Pelaksanaan pemberian oksigen sesuai dengan
kebutuhannya.
9. Jam 16.20 wita, Memberikan kebutuhan cairan 60 cc/kg BB.
10. Jam 16.30 wita, Menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya secara
on demand dan mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang.
11. Jam 16.40 wita, Memberikan Vitamin K secara Intramuskular.
12. Jam 16.50 wita, Melakukan perawatan tali pusat dengan cara
mengoleskan bethadine pada ujung luka tali pusat kemudian
bungkus dengan kasa steril.
13. Jam 16.55 wita, Merawat bayi didalam inkubator.
G. Langkah VII Evaluasi
Tanggal 28 April 2011, jam 17.00 Wita
1. Asfiksia sedang dapat teratasi, ditandai dengantanda-tanda vital :
a. Bayi menangis kuat
b. Pernapasan bayi 32 x /menit
c. Frekuensi jantung teratur 140 x /menit
d. Warna kulit kemerahan

45

e. Suhu tubuh 36,7C


2. Masih terpasang O2 dengan volume 2 liter/menit
3. Bayi dirawat di dalam incubator dengan suhu 33,2C

46

PENDOKUMENTASIAN ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI Ny. H


DENGAN ASFIKSIA SEDANG DI PUSTU PATTIRO
RIOLO

KEC. SIBULUE

KAB. BONE

TANGGAL 28 APRIL 2015

No. Register

: 2804015

Tanggal Lahir

: 28 April 2015 Jam 14.00 Wita

Tanggal Pengkajian

: 28 April 2015 Jam 14.30 Wita

Identitas Pasien
1. Identitas Bayi
Nama

: Bayi.H

Tanggal, Jam

: 28 April 2015 Jam 14.00 Wita.

Anak ke

: I (Pertama)

Jenis Kelamin

: (Perempuan)

2. Identitas Ibu/Ayah

Nama Ibu / Ayah

: Ny.H / Tn.A

Umur

: 34 Tahun / 38 Tahun

Nikah / Lamanya

: 1 kali / 6 Tahun

Suku

: Bugis / Bugis

Agama

: Islam / Islam

Pendidikan

: SMP / SMP

Pekerjaan

: IRT / Petani

Alamat

: Dusun Cumene Desa Pattiro Riolo

41

47

DATA SUBJEKTIF (S)


1.
2.
3.
4.

HPHT tanggal 28 April 2015


TP tanggal 09 Mei 2015
Usia kehamilan 37 Minggu 3 Hari
Ibu ANC 4 kali selama pemeriksaan kehamilan di Pustu Pattiro

Riolo Kec. Sibulue


5. Ibu pernah mendapat imunisasi TT sebanyak 2 kali selama
kehamilan di Pustu Pattiro Riolo Kec. Sibulue
6. Ibu masuk kamar bersalin Jam 12.15 Wita, dengan keluhan sakit
perut tembus ke belakang disertai dengan pelepasan lendir dan
darah sejak jam 9. 45 Wita.
DATA OBJEKTIF (O)
1. Bayi lahir tanggal 28 April 2015, jam 14.00 Wita
2. Bayi lahir tidak segera bernapas spontan dan teratur, dengan
frekuensi 28 x/menit.
3. BBL : 3000 gram, PBL : 49 cm.
4. Seluruh tubuh merah ekstremitas bawah biru
5. Frekuensi jantung 148 x/menit
6. Apgar Score 5/7
7. Bayi dibungkus dengan kain kering dan bersih
8. Kebutuhan cairan 60 cc/kg BB/hari.
9. Terpasang oksigen dengan volume 2 liter/menit.

ASSESMENT (A)
1. Bayi lahir cukup bulan sesuai masa kehamilan 37 Minggu 3 Hari

48

2. Bayi lahir dengan asfiksia sedang


3. Antisipasi terjadinya asfiksia berat
PLANNING (P)
Tanggal 28 April 2015, jam 14.50 Wita
1. Mengobservasi

keadaan

umum

bayi

dan

tanda-tanda

vital

khususnya.
Hasil : Seperti frekuensi jantung : 148 x/menit, suhu badan : 36,6
o

C,

Pernapasan : 28 x/menit dan kulit kemerahan

ekstremitas biru.
2. Mempertahankan duhu tubuh bayi agar tetap hangat.
Hasil : Bayi terbungkus dengan kain bersih dan kering.
3. Mengatur posisi bayi dengan kepala pada posisi menghidu dengan
menempatkan ganjal bahu sehingga kepala sedikit ekstensi.
Hasil : kepala bayi dalam posisi sedikit ekstensi.
4. Membersihkan jalan nafas dari lendir dengan menggunakan de
lee/balon karet.
Hasil : Lendir telah dikeluarkan dari mulut dan hidung.
5. Mengeringkan tubuh bayi mulai dari muka, kepala dan bagian
tubuh lainnya dan menyelimuti bayi dengan selimut bersih dan
kering.
Hasil : Badan bayi telah dikeringkan dan terbungkus oleh kain
bersih dan kering.
6. Melakukan rangsangan taktil.
Hasil : Bayi mulai menagis.
7. Mengobservasi keadaan umum

bayi

dan

tanda-tanda

vital

khususnya pernapasan.
Hasil : Pernafasan 32x/menit, frekunsi jantung 140x/menit , suhu
36,7C dan kulit agak kemerahan.
8. Pelaksanaan pemberian oksigen sesuai dengan kebutuhannya.
Hasil : Terpasang oksigen dengan volome 2 liter/menit.
9. Memberikan kebutuhan cairan 60 cc/kg BB.

49

Hasil : Bayi diberi susu formula sebanyak 25 cc/4 jam.


10. Menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya secara on demand dan
mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang.
Hasil : Ibu bersedia melakukan anjuran petugas kesehatan.
11. Memberikan Vitammin K secara Intramuskular.
Hasil : Bayi telah di injeksi Vit K secara Intramuskular.
12. Melakukan perawatan tali pusat dengan cara mengoleskan
bethadine pada ujung luka tali pusat kemudian bungkus dengan
kasa steril.
Hasil : Tali pusat terbungkus kasa steril.
13. Merawat bayi didalam inkubator.
Hasil : bayi dirawat didalam incubator dengan suhu 33,2C.

50

PENDOKUMENTASIAN ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI Ny. H


DENGAN ASFIKSIA SEDANG DI PUSTU PATTIRO
RIOLO

KEC. SIBULUE

KAB. BONE

TANGGAL 29 APRIL 2015

DATA SUBJEKTIF (S)


1. Dokter mengatakan keadaan bayi sudah mulai membaik
DATA OBJEKTIF (O)
1. Keadaan umum bayi sudah baik dan aktif.
2. Pernapasan bayi sudah normal, 42 x/menit.
3. Warna kulit kemerahan
4. Tali pusat tidak terbungkus kasa steril.
5. Bayi belum dimandikan
6. Pemberian oksigen dihentikan
7. Kebutuhan cairan 80 ml/kg/BB/hari
8. BBL : 3000 gr, BBS : 3100 gr, PB : 49 cm
ASSESMENT (A)
Bayi lahir dengan BB : 3000 gr,BBS: 3100, PB : 49 cm, keadaan bayi baik
sudah mulai membaik.
PLANNING (P)
Tanggal 29 Mei 2015, jam 10.00 Wita
1. Mempertahankan suhu tubuh bayi dengan menjaga bayi tetap
terbungkus, agar suhu bayi dalam batas normal.

51

2. Mengobservasi tanda-tanda vital seperti : frekuensi jantung : 146


x/menit, suhu badan : 36,7 oC, pernapasan : 42 x/menit.
3. Pemberian kebutuhan cairan 80 cc/kg BB/hari
4. Merawat tali pusat dengan teknik aseptik.
5. Mengganti pakaian/popok bayi setiap kali basah.
6. Menganjurkan ibu untuk memberi ASI secara on demand, setelah
bayinya membaik.
7. Mengingatkan kembali ibu agar mengkonsumsi makanan dengan gizi
seimbang dan ibu bersedia melaksanakan apa yang dianjurkan.
8. Menganjurkan ibu agar merawat payudara dan teknik menyusui yang
benar.

52

PENDOKUMENTASIAN ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI Ny. H


DENGAN ASFIKSIA SEDANG DI PUSTU PATTIRO
RIOLO

KEC. SIBULUE

KAB. BONE

TANGGAL 30 APRIL 2015

DATA SUBJEKTIF (S)


1. Dokter mengatakan keadaan bayi sudah membaik
2. Ibu sudah mulai memberikan ASI pada bayinya
DATA OBJEKTIF (O)
1. Bayi sudah mulai menetek,refleks isap sudah baik.
2. Tanda-tanda vital :
a. Frekuensi jantung

: 142 x/menit

b. Pernapasan

: 36 x/menit

c. Warna kulit

: Seluruh tubuh kemerah-merahan

3. Tonus otot leher baik


4. Gerakan dada sesuai dengan pola napas bayi
5. Tali pusat tidak terbungkus gaas steril.
6. Pergerakan tangan dan refleks menggenggam baik
7. Bayi belum dimandikan
8. Kebutuhan cairan 100 ml/kg/BB/hari
ASSESMENT (A)
Bayi lahir dengan BB : 3000 gr,BBS : 3100 PB : 49 cm, keadaan bayi baik
dan bayi bisa pulang.

53

PLANNING (P)
Tanggal 30 April 2015, jam 10.00 Wita
1. Memperhatikan suhu tubuh bayi

dengan menjaga bayi

tetap

terbungkus, agar suhu tubuh bayi dalam batas normal.


2. Mengobservasi tanda-tanda vital seperti : frekuensi jantung : 142
x/menit, suhu badan : 36,7 oC, pernapasan : 36x/menit
3. Mengajarkan pada ibu cara memandikan bayi dan cara merawat tali
pusat.
4. Menganjurkan ibu untuk tetap memberi ASI
5. Mengingatkan kembali ibu agar mengkonsumsi makanan dengan gizi
seimbang dan ibu bersedia melaksanakan apa yang dianjurkan.
6. Mengingatkan kembali ibu agar merawat payudara dan teknik
menyusui yang benar.

54

BAB IV
PEMBAHASAN

Dalam bab ini penulis akan membahas tentang kesenjangan antara


teori dan hasil asuhan yang telah diberikan pada bayi H dengan Asfiksia
Sedang di Pustu Pattiro Riolo Kecamatan Sibulue Kabupaten Bone pada
tanggal 28 April sampai dengan 30 April 2015.
Pembahasan ini dibuat berdasarkan teori dan asuhan yang nyata
dengan proses pendekatan menajemen asuhan kebidanan yang dibagi
dalam tujuh tahap yaitu : Pengkajian dan analisa data dasar, merumuskan
diagnosa/masalah aktual, mengantisipasi diagnosa/masalah potensial,
tindakan

segera

dan

kolaborasi,

perencanaan

tindakan

asuhan

kebidanan, melaksanakan tindakan asuhan kebidanan, evaluasi hasil


asuhan kebidanan, serta mendokumentasikan asuhan kebidanan.
A. Langkah I Pengkajian dan analisa data dasar
Tahap pengkajian diawali dengan pengumpulan data melalui
anamnese yang meliputi identitas bayi dan ibu, data biologis/fisiologis
riwayat kehamilan, persalinan sekarang dan pemeriksaan fisik yang
berpedoman pada format pengkajian yang tersedia, namun tidak
menutup kemungkinan untuk menambahkan data-data lain yang
ditemukan jika dibutuhkan.
Asfiksia dalam tinjauan pustaka adalah keadaan dimana bayi
tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir.
60

55

Asfiksia terjadi karena gangguan pertukaran gas serta transport O 2 dari


ibu kejanin sehingga terjadi gangguan dalam persalinan O 2 dan dalam
menghilangkan CO2. Data yang diperoleh dari kasus bayi H yaitu
asfiksia sedang dengan melihat data yang diperoleh maka tidak
kesenjangan antara tinjauan teori dengan kasus nyata pada bayi H
dengan asfiksia sedang.
Pada tahap pengkajian ini, penulis tidak menemukan hambatan
yang berarti karena adanya sikap kooperatif dari keluarga bayi H
yang dapat menerima kehadiran penulis saat mengumpulkan data
sampai tindakan yang diberikan serta mau menerima anjuran serta
saran yang diberikan oleh bidan.
B. Langkah II Merumuskan Diagnosa/Masalah Aktual
Asfiksia adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernafas
spontan dan teratur, sehingga dapat menurunkan O2 dan makin
meningkatkan CO2 yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan
lebih lanjut. (Dwienda R., 2014; Manuaba, 2010).
Sedangkan pada studi kasus bayi H pada saat dilahirkan bayi
tidak segera menangis, pernafasan lemah, tidak teratur dalam
frekwensi 28x /menit warna kulit merah dan ekstremitas biru sehingga
ditegakkan diagnosa asfiksia sedang.
Berdasarkan tinjauan teori dan studi kasus pada bayi H tidak
adanya kesenjangan antara tinjauan pustaka dan studi kasus.

56

C. Langkah III Mengantisipasi Diagnosa/Masalah Potensial


Pada
potensial

tinjauan

yang

pustaka

mungkin

diidentifikasikan

terjadi

pada

bayi

adanya
H

masalah

berdasarkan

pengumpulan data, pengamatan yang cermat dan observasi serta


evaluasi didapatkan bahwa jika asfiksia sedang jika tidak ditangani
segera maka dapat mengakibatkan terjadinya asfiksia berat.
Sedangkan pada studi kasus didapatkan data yang mendukung
yaitu pada partus lama, pernapasan lambat dan warna kuli badan
merah, ekstremitas bawah biru, sehingga penulis mengidentifikasi
diagnosa/masalah potensial terjadi asfiksia berat. Berdasarkan hal
tersebut maka tidak adanya kesenjangan antara tinjauan pustaka dan
studi kasus.
D. Langkah IV Tindakan Segera dan Kolaborasi
Pada tinjauan teori bahwa perlunya mengidentifikasi perlu
adanya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan atau/untuk
dikonsultasikan atau ditangani bersama oleh anggota tim kesehatan
yang lain sesuai dengan kondisi klien. (Muslihatun, 2009).
Pada penanganan bayi dengan asfiksia perlunya kolaborasi
dengan dokter untuk meletakkan bayi dibawah pemancar panas,
mengeringkan tubuh bayi, meletakkan bayi pada posisi kepala lebih
rendah

dari

badan,

membersihkan

jalan

napas,

melakukan

rangsangan taktil, melakukan tindakan pemasangan oksigen


liter/menit.

57

Berdasarkan hal tersebut maka tidak ditemukan adanya


kesenjangan antara tinjauan pustaka dan studi kasus.
E. Langkah V Rencana Asuhan Kebidanan
Pada tinjauan teori bahwa pada langkah rencana asuhan
kebidanan adalah yang menyuluruh, ditentukan oleh langkah-langkah
sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap
diagnosa atau masalah yang telah diindentifiakasi atau diantisipasi.
Pada langkah ini informasi/data dasar yang tidak lengkap dapat
dilengkapi. Pada langkah ini tugas bidan adalah merumuskan rencana
asuhan dan membuat kesepakatan dengan pasien
hasil

pembahasan

rencana

asuhan

bersama

sesuai d engan
pasien

sebelum

melaksanakannnya. (Purwandari, 2008).


Pada bayi H dengan asfiksia sedang penulis merencanakan
asuhan

kebidanan

berdasarkan

diagnosa/masalah

aktual

dan

potensial sebagai berikut, rencana tindakannya terdiri dari keringkan


tubuh bayi, ganti kain yang basah dengan kain yang kering dan bersih
kemudian membungkus tubuh bayi, atur posisi bayi dengan kepala
sedikit ekstensi dan bersihkan mulut hingga hidung, nilai usaha
bernapas, warna kulit, dan frekuensi jantung.
Hal ini menunjukkan bahwa ada kesamaan antara tinjauan
pustaka dan tinjauan manajemen asuhan kebidanan pada penerapan
studi kasus dilahan praktek sehingga tidak ditemukan adanya
kesenjangan teori dan kasus.

58

F. Langkah VI Pelaksanaan Tindakan Asuhan Kebidanan


Sesuai tinjauan manajemen kebidanan bahwa rencana asuhan
menyeluruh dilakukan secara efisien dan aman. Rencana ini bisa
dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian oleh pasien, atau
anggota tim kesehatan lainnya. Jika bidan tidak melakukan sendiri, ia
tetap memikul tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya
memastikan

langkah-langkah

tersebut

benar-benar

terlaksana.

(Muslihatun, 2009).
Pada studi kasus bayi H dengan asfiksia sedang semua
tindakan yang telah direncanakan sudah dilaksanakan seluruhnya
dengan baik, tanpa hambatan karena kerjasama dan penerimaan yang
baik dari keluarga klien dan petugas kesehatan yang ada diruang bayi.
Hal ini menunjukkan bahwa ada kesamaan antara tinjauan
pustaka dan tinjauan manajemen asuhan kebidanan pada penerapan
studi kasus dilahan praktek sehingga tidak ditemukan adanya
kesenjangan teori dan kasus
G. Langkah VII Evaluasi Asuhan Kebidanan
Pada tinjauan manajemen asuhan kebidanan evaluasi. Pada
langkah ini dilakukan evaluasi keaktifan dari asuhan yang sudah
diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan, apakah
benar-benar terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagai mana telah
diidentifikasi dalam masalah dan diagnosa. (Muslihatun, 2009).

59

Pada tinjauan teori, evaluasi yang telah ditunjukkan adalah


menilai usaha bernapas, frekuensi denyut jantung dan warna kulit.
Berdasarkan studi kasus bayi H dengan asfiksia sedang, telah
dilakukan asuhan yang tepat maka tidak ditemukan hal-hal yang
menyimpang dan pada hari III asuhan kebidanan maka bayi Ny.H
sudah diperbolehkan pulang. Dari hasil yang diperoleh dapat
disimpulkan bahwa semua asuhan kebidanan yang diterapkan telah
tercapai, sehingga asfiksia sedang dapat teratasi.
Hal ini menunjukkan bahwa ada kesamaan antara tinjauan
pustaka dan tinjauan manajemen asuhan kebidanan pada penerapan
studi kasus dilahan praktek sehingga tidak ditemukan adanya
kesenjangan teori dan kasus.

60

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini akan dikemukakan beberapa kesimpulan dan saran


untuk memberikan gambaran dan informasi tentang Asuhan Kebidanan
Pada Bayi Ny.H Dengan Asfiksia Sedang Di Pustu Pattiro Riolo Kec.
Sibulue Kab. Bone Tanggal 28 sampai dengan 30 April 2015.
A. Kesimpulan
1. Asfiksia adalah suatu keadaan bayi yang tidak dapat bernapas
spontan dan teratur setelah lahir.
2. Dalam mendiagnosa terjadinya Asfiksia neonatorum dapat diamati
berdasarkan warna kulit, frekuensi jantung dan pernapasan.
3. Pada kasus bayi H dengan asfiksia sedang, diagnosa potensial
yang akan muncul adalah Asfiksia berat
4. Pada kasus bayi H dengan asfiksia sedang, kolaborasi dengan
dokter

untuk

meletakkan

bayi

dibawah

pemancar

panas,

mengeringkan tubuh bayi, meletakkan bayi pada posisi kepala lebih


rendah dari badan, membersihkan jalan napas, melakukan
rangsangan taktil, melakukan tindakan pemasangan oksigen

liter/menit.
5. Pada kasus bayi H dengan asfiksia sedang, perencanaan yang
lakukan yaitu keringkan tubuh bayi, ganti kain yang basah dengan
kain yang kering dan bersih kemudian membungkus tubuh bayi,
66

61

atur posisi bayi dengan kepala sedikit ekstensi dan bersihkan


mulut hingga hidung, nilai usaha bernapas, warna kulit, dan
frekuensi jantung.
6. Pada kasus bayi H dengan asfiksia sedang, pelaksanaan telah
dilakukan sesuai dengan rencana tindakan yang telah dibuat.
7. Evaluasi Asuhan kebidanan yang dilakukan telah sesuai dengan
konsep. Dari hasil evaluasi tersebut seluruh diagnosa, masalah
kebutuhan yang ada, seluruhnya dapat diatasi dengan baik.
B. Saran
1. Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan wawasan
ilmu

pengetahuan

tentang

penangan Bayi Asfiksia

kebidanan

khususnya

tentang

bagi ibu pasca melahirkan agar bayi

menjadi sehat.
2. Bagi Puskesmas Pembatu
Diharapkan dapat menjalin kerjasama lintas program maupun lintas
sektoral sehingga diperoleh hasil yang optimal serta memberikan
pelayanan Asuhan kebidanan yang sangat profesional yaitu dengan
cara penyuluhan dalam rangka meningkatkan

pengetahuan ibu

tentang penangan Bayi dengan kasus asfiksia sedang.


3. Tenaga Kesehatan
Petugas kesehatan hendaknya selalu memberikan pendidikan
kesehatan tentang cara penangan bayi baru lahir kepada bayi

62

sehingga ibu pasca melahirkan memiliki pengetahuan dan kesiapan


untuk memberikan menangani bayinya khususnya bayi Asfiksia.
4. Bagi Klien / Masyarakat
Ibu bayi / masyarakat hendaknya memiliki kesadaran dan
pengetahuan yang optimal tentang penangan bayi dengan cara
menggali informasi dari dokter/petugas kesehatan atau sumber
informasi lainnya sehingga ibu bayi/masyarakat dapat melakukan
penanganan bayi Asfiksia dengan baik dan benar untuk mencapai
tingkat kesehatan bayi yang optimal.
5. Bagi penulis
Lebih meningkatkan pengetahuan yang berkelanjutan sampai
jenjang tinggi berikutnya.

63

DAFTAR PUSTAKA

Arief ZR, dkk. 2009. Neonatus dan Asuhan Keperawatan Anak.


Yogyakarta : Nuha Medika
Behrman., Kliegman. & Arvin. 2010. Nelson Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta
: EGC
Bobak. 2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas edisi 4. Jakarta : EGC
Karwati, dkk, 2011. Asuhan Kebidanan (Kebidanan Komunitas). Jakarta:
Trans Info Media
Kemkes, 2010. Buku
Saku Pelayanan
Kesehatan Neonatal
Esensial. Edisi: Revisi. Jakarta: Kementerian Kesehatan, 2010
Kosim, MS, 2007. Dasar-dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat.
Jakarta: EGC
Manuaba, IBG, dkk. 2010. Ilmu Kebidanan Penyakit
KB. Jakarta : EGC

Kandungan Dan

Maryanti, 2011. Buku Ajar Neonatus Bayi Dan Balita. Jakarta:TIM.


Medical Record RSUD Kelas B Tenriawaru Kab. Bone
Muslihatun,2010. Asuhan
Yogyakarta

Neonatus

Bayi

dan

Balita.

Fitramaya.

Profil Kesehatan Provinsi Sul-Sel, 2012


Proverawati, 2010. Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Yogyakarta: Nuha
Medika
Riskesdas, 2013. Riset Kesehatan Dasar. BPPK-Kemenkes Tahun 2013
Rukiyah,2010.Asuhan Neonatus, Bayi dan Anak Balita. CV. Trans Info
Media. Jakarta Timur
Saifudin, AB. 2009. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
Saminem. 2009. Kehamilan Normal Seri Asuhan Kebidanan. Jakarta:EGC

64

Syafrudin. 2009.Kebidanan Komunitas.Jakarta:EGC


Wong, 2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Cetakan I. Jakarta: EGC