Anda di halaman 1dari 7

Delik Kesusilaan

Cut Putri Riska*, Riyanda Furqan*, Umi Salamah*,


Taufik Suryadi**
* Dokter Muda SMF Forensik Medikolegal Fakultas Kedokteran Unsyiah/RSUDZA Banda Aceh
**
Spesialis Forensik/Kepala SMF Forensik Medikolegal Fakultas Kedokteran Unsyiah/RSUDZA Banda Aceh

Pendahuluan
Kekerasan
seksual
merupakan
kejahatan yang universal. Kejahatan ini
dapat ditemukan di seluruh dunia, pada tiap
tingkatan masyarakat, tidak memandang
usia maupun jenis kelamin. Besarnya
insiden yang dilaporkan di setiap negara
berbeda-beda.1 Di Indonesia, menurut
Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap
Perempuan (Komnas Perempuan) sejak
tahun 1998 sampai 2011 tercatat 93.960
kasus
kekerasan
seksual
terhadap
perempuan di seluruh Indonesia. Hal yang
lebih mengejutkan adalah bahwa lebih dari
3/4 dari jumlah kasus tersebut (70,11%)
dilakukan oleh orang yang masih memiliki
hubungan dengan korban.2 Terdapat dugaan
kuat
bahwa
angka-angka
tersebut
merupakan fenomena gunung es, yaitu
jumlah kasus yang dilaporkan jauh lebih
sedikit
daripada
jumlah
kejadian
sebenarnya di masyarakat. Banyak korban
enggan melapor, mungkin karena malu,
takut disalahkan, mengalami trauma psikis,
atau karena tidak tahu harus melapor ke
mana. Seiring dengan meningkatnya
kesadaran hukum di Indonesia, jumlah
kasus kekerasan seksual yang dilaporkan
pun mengalami peningkatan. 1

Definisi
Delik atau tindak pidana adalah suatu
perbuatan yang pelakunya dapat dikenai
hukuman pidana atau dapat juga diartikan
sebagai perbuatan yang diancam dengan
pidana.
1

Menurut kamus hukum kesusilaan diartikan


sebagai tingkah laku, perbuatan percakapan
bahwa sesuatu apapun yang berpautan
dengan norma-norma kesopanan yang
harus/dilindungi
oleh
hukum
demi
terwujudnya tata tertib dan tata susila
dalam
kehidupan
bermasyarakat.
Kesopanan (zeden) pada umumnya
mengenai adat kebiasaan yang baik dalam
hubungan
antara
berbagai
anggota
masyarakat.
Sedangkan
kesusilaan
(Zedelijkheid)
juga
mengenai
adat
kebiasaan yang baik itu, tetapi khusus
setidaknya mengenai kelamin (sex)
seseorang. 3
Kekerasan seksual merupakan segala
kekerasan, baik fisik maupun psikologis,
yang dilakukan dengan cara-cara seksual
atau dengan mentargetkan seksualitas.
Definisi kekerasan seksual ini mencakup
pemerkosaan, perbudakan seksual, dan
bentuk-bentuk lain kekerasan seksual
seperti penyiksaan seksual, penghinaan
seksual di depan umum, dan pelecehan
seksual.4
Di Indonesia, pada umumnya definisi
dan jenis kekerasan seksual yang dianut
diambil dari Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana (KUHP), khususnya dalam Bab
XIV
tentang
Kejahatan
terhadap
Kesusilaan. Salah satu pasal utama adalah
pasal 285 tentang Perkosaan yang berbunyi,
Barang siapa dengan kekerasan atau
ancaman kekerasan memaksa seorang
wanita bersetubuh dengan dia di luar
perkawinan, diancam karena melakukan

perkosaan dengan pidana penjara paling


lama dua belas tahun. Sedangkan
Persetubuhan dengan wanita di bawah
umur diatur dalam pasal 287 ayat 1 yang
berbunyi, Barang siapa bersetubuh
dengan
seorang
wanita
di
luar
perkawinan, padahal diketahuinya atau
sepatutnya harus diduganya bahwa
umumya belum lima belas tahun, atau
kalau umurnya tidak jelas, bahwa belum
waktunya untuk dikawini, diancam dengan
pidana penjara paling lama sembilan
tahun. Dalam pasal 289 sampai 294
KUHP, juga diatur tentang perbuatan cabul
sebagai salah satu kejahatan terhadap
kesusilaan; perbuatan cabul diartikan
sebagai semua perbuatan yang dilakukan
untuk mendapatkan kenikmatan seksual
sekaligus
mengganggu
kehormatan
kesusilaan. Selain dalam KUHP, pasal
tentang kekerasan seksual terdapat pula
dalam pasal 81 UU RI No. 23 tahun 2002
tentang Perlindungan Anak serta pasal 5
dan 8 UU RI No. 23 tahun 2004 tentang
Penghapusan Kekerasan dalam Rumah
Tangga. Pemahaman definisi dan jenis
kekerasan seksual tersebut penting dimiliki
oleh seorang dokter. Tujuannya adalah
untuk dapat menentukan hal-hal apa saja
yang harus diperiksa dan bukti-bukti apa
saja yang harus dicari pada P3K kekerasan
seksual. Dalam pasal-pasal tersebut
terkandung unsur-unsur apa saja yang harus
dipenuhi dalam upaya pembuktian bahwa
telah terjadi suatu tindak pidana berupa
kekerasan seksual.1

Klasifikasi
Pelanggaran
menjadi:

kesusilaan

dapat

dibagi

1. Perkosaan
Perkosaan
adalah
pelanggaran
kesusilaan (natural sexual offences) sebagai
2

manifestasi birahi yang tidak terkendali dan


tertuju kepada objek yang wajar yaitu
kelamin berlawanan jenis. (heterosexual).5
Perkosaan sebagai delik kesusilaan
diartikan: pertama, kekerasan atau ancaman
kekerasan dengan memaksa perempuan
untuk bersetubuh diluar perkawinan.
Kedua, kekerasan atau ancaman kekerasan
dengan memaksa perempuan yang bukan
istrinya untuk melakukan hubungan seksual
sebagaimana dalam Pasal 285 KUHP. Oleh
karena itu, sebuah perbuatan disebut
perkosaan jika di dalamnya terdapat unsur:
(1) kekerasan atau ancaman kekerasan yang
membuat si perempuan tidak mampu
menolak, (2) keterpaksaan perempuan
dalam melakukan hubungan biologis, dan
(3) hubungan biologis yang terjadi secara
nyata.
Unsur-unsur
perkosaan
yang
melekat pada Pasal 285 KUHP itu
dikembangkan lagi oleh pasal 389
Rancangan KUHP Nasional. Dalam
Rancangan KUHP Nasional, perbuatan
disebut perkosaan bila: (1) bertentangan
dengan kehendak korban, (2) tanpa
persetujuan korban, (3) dengan persetujuan
korban, tapi persetujuan itu dicapai lewat
ancaman, (4) dengan persetujuan korban,
sebab korban percaya bahwa pelaku adalah
suaminya yang sah atau pelakunya adalah
orang yang seharusnya disetujui, dan (5)
dengan persetujuan korban, namun korban
berumur dibawah 14 tahun. 6
2. Penyimpangan seksual
Ini
merupakan
pelanggaran
kesusilaan yang tidak wajar (unnatural
sexual offences) seperti: incest, sodomi,
ekshibitionisme, pedofili dan lain-lain.
Objek dan cara yang digunakan untuk
mencapai kepuasan seksual tidak wajar

Aspek Etik dan Medikolegal


Dalam
melakukan
Prinsip
Pemeriksaan dan Penatalaksanaan Korban
kekerasan seksual (P3K), terdapat beberapa
aspek etik dan medikolegal yang harus
diperhatikan. Karena korban juga berstatus
sebagai pasien, dan yang akan diperiksa
adalah daerah sensitif, hal utama yang
harus diperhatikan adalah memperoleh
informed consent. Informasi tentang
pemeriksaan harus diberikan sebelum
pemeriksaan dimulai dan antara lain,
mencakup
tujuan
pemeriksaan
dan
kepentingannya
untuk
pengungkapan
kasus, prosedur atau teknik pemeriksaan,
tindakan pengambilan sampel atau barang
bukti, dokumentasi dalam bentuk rekam
medis dan foto, serta pembukaan sebagian
rahasia kedokteran guna pembuatan visum
et repertum. Apabila korban cakap hukum,
persetujuan untuk pemeriksaan harus
diperoleh dari korban. Syarat-syarat cakap
hukum adalah berusia 21 tahun atau lebih,
atau belum 21 tahun tapi sudah pernah
menikah, tidak sedang menjalani hukuman,
serta berjiwa sehat dan berakal sehat.
Apabila korban tidak cakap hukum
persetujuan harus diminta dari walinya
yang sah. Bila korban tidak setuju
diperiksa, tidak terdapat ketentuan undangundang yang dapat memaksanya untuk
diperiksa dan dokter harus menghormati
keputusan korban tersebut. 1
Ilmu Kedokteran Forensik berguna
dalam fungsi penyelidikan. Bantuan yang
diharapkan dari dokter dalam kasus
pelanggaran kesusilaan adalah:5
1. Menentukan
adanya
tanda-tanda
persetubuhan
Persetubuhan adalah masuknya alat
kelamin laki-laki ke dalam alat kelamin
3

perempuan sebagian atau seluruhnya


dengan atau tanpa mengeluarkan air
mani yang mengandung sperma atau
tidak. Untuk membuktikan adanya
persetubuhan tergantung dari alat
kelamin laki-laki dan perempuan. Besar
dan ketegangan penis, cairan mani dan
sperma akan menentukan derajat trauma
dan penilaian tanda persetubuhan.
Keadaan selaput dara (himen) dan
besarnya
liang
senggama
akan
memberikan tanda adanya persetubuhan.
Ada perempuan yang mempunyai himen
yang masih utuh, ada yang telah robek,
tinggal sisa- sisa himen atau sudah tidak
ada sama sekali. Ketebalan dan
elastisitas himen pun berbeda. Lubang
himen berbentuk anular, bulan sabit
(semilunar), labiriformis (celah seperti
bibir),
fimbriformis
(bergelambir),
cribriformis
(lubang-lubang
kecil),
biseptus, imperforatus (tidak ada lubang)
dan telah robek. Pada pemeriksaan
diharapkan adanya robekan pd selaput
dara. Jika elastis, tentu tidak akan ada
robekan. Adanya pancaran air mani
(ejakulasi) di dalam vagina merupakan
tanda pasti adanya persetubuhan. Pada
orang mandul, jumlah spermanya sedikit
sekali (aspermia), sehingga pemeriksaan
ditujukan untuk menilai adanya zat-zat
tertentu dalam air mani seperti asam
fosfatase, spermin dan kholin. Namun
nilai persetubuhan lebih rendah karena
tidak mempunyai nilai deskriptif yang
mutlak atau tidak khas.4 Besar liang
senggama (introitus vaginae) tergantung
umur dan besar tubuh korban. Posisi
korban
saat
disetubuhi
dapat
berpengaruh pada kerusakan vagina.
Begitu pula rentang waktu antara
persetubuhan
dan
pemeriksaan.
Perlawanan korban terhadap pelaku dan

jumlah pelaku tentu akan memberikan


derajat perlukaan yang berbeda.

bentuk tubuh, rambut ketiak, rambut


pubis dan sebagainya.5

2. Menentukan
adanya
tanda-tanda
kekerasan
Kekerasan
tidak
selamanya
meninggalkan bekas/luka, tergantung
dari penampang benda, daerah yang
terkena kekerasan, serta kekuatan dari
kekerasan itu sendiri. Tindakan membius
juga termasuk kekerasan, maka perlu
dicari juga adanya racun dan gejala
akibat obat bius/racun pada korban. 1
Adanya luka berarti adanya kekerasan,
namun tidak ada luka bukan berarti tidak
ada kekerasan. Faktor waktu sangat
berperan. Dengan berlalunya waktu,
luka dapat sembuh atau tidak ditemukan,
racun/obat bius telah dikeluarkan dari
tubuh. Faktor waktu penting dalam
menemukan sperma.

4. Menentukan pantas tidaknya korban


buat dikawini
Secara biologis jika persetubuhan
bertujuan untuk mendapatkan keturunan,
pengertian pantas/tidaknya untuk kawin
tergantung dari: apakah korban telah
siap dibuahi yang artinya telah
menstruasi, namun untuk bukti hal ini
korban perlu diisolir untuk waktu cukup
lama. Bila dilihat Undang-Undang
Perkawinan, yaitu pada Bab II pada
pasal 7 ayat 1 berbunyi: perkawinan
hanya diizinkan jika pria sudah
mencapai 19 tahun dan wanita sudah
mencapai 16 tahun. Namun terbentur
lagi pada masalah penentuan umur yang
sulit diketahui kepastiannya.

3. Memperkirakan umur
Tidak ada satu metode tepat untuk
menentukan
umur,
meskipun
pemeriksaannya memerlukan berbagai
sarana seperti alat rontgen untuk
memeriksa pertumbuhan tulang dan gigi.
Perkiraan umur digunakan untuk
menentukan apakah seseorang tersebut
sudah dewasa (> 21 tahun) khususnya
pada homoseksual/lesbian serta pada
kasus pelaku kejahatan.
Ada beberapa pedoman yang dapat
dipakai untuk menentukan perkiraan
umur korban yaitu diantarnya gigi molar
dua permanen tumbuh usia 12 tahun,
gigi molar tiga permanen tumbuh usia
17-25 tahun, haid mulai terjadi pada usia
12 tahun, penutupan garis epifise tulang
panjang dinilai melalui foto rontgen, dan
adanya tanda-tanda seks sekunder mulai
terlihat pada usia 12-15 tahun seperti
pertumbuhan payudara, perkembangan
4

Pemeriksaan Medis
1. Anamnesis
Pada korban kekerasan seksual,
anamnesis harus dilakukan dengan bahasa
awam yang mudah dimengerti oleh korban.
Gunakan bahasa dan istilah-istilah yang
sesuai tingkat pendidikan dan sosioekonomi korban, sekalipun mungkin
terdengar vulgar. Anamnesis dapat dibagi
menjadi anamnesis umum dan khusus. 1
a. Anamnesis Umum
Hal-hal yang harus ditanyakan dalam
anamnesis umum adalah umur atau
tanggal lahir, status pernikahan,
riwayat paritas dan/atau abortus,
riwayat haid (menarche, hari pertama
haid terakhir, siklus haid), riwayat
koitus (sudah pernah atau belum,
riwayat koitus sebelum dan/atau
setelah kejadian kekerasan seksual,
dengan siapa, penggunaan kondom
atau
alat
kontrasepsi
lainnya,

penggunaan obat-obatan (termasuk


NAPZA), riwayat penyakit (sekarang
dan dahulu) serta keluhan atau gejala
yang dirasakan pada saat pemeriksaan.
b. Anamnesis Khusus
Sedangkan
anamnesis
khusus
mencakup keterangan yang terkait
kejadian kekerasan seksual yang
dilaporkan dan dapat menuntun
pemeriksaan fisik, seperti:
What & How: Jenis tindakan
(pemerkosaan,
persetubuhan,
pencabulan, dan sebagainya), adanya
kekerasan
dan/atau
ancaman
kekerasan, serta jenisnya
adanya
upaya perlawanan, apakah korban
sadar atau tidak pada saat atau setelah
kejadian, adanya pemberian minuman,
makanan, atau obat oleh pelaku
sebelum atau setelah kejadian, adanya
penetrasi dan sampai mana (parsial
atau komplit, apakah ada nyeri di
daerah kemaluan, apakah ada nyeri
saat buang air kecil/besar, adanya
perdarahan dari daerah kemaluan,
adanya ejakulasi dan apakah terjadi di
luar atau di dalam vagina, penggunaan
kondom, dan tindakan yang dilakukan
korban setelah kejadian, misalnya
apakah korban sudah buang air,
tindakan membasuh/douching, mandi,
ganti baju, dan sebagainya.
When: tanggal dan jam kejadian,
bandingkan dengan tanggal dan jam
melapor, dan apakah tindakan tersebut
baru satu kali terjadi atau sudah
berulang.
Where: tempat kejadian, dan jenis
tempat kejadian (untuk mencari
kemungkinan trace evidence dari
tempat kejadian yang melekat pada
tubuh dan/atau pakaian korban).
Who: apakah pelaku dikenal oleh
korban atau tidak, jumlah pelaku, usia
5

pelaku, dan hubungan antara pelaku


dengan korban.
2. Pemeriksaan Fisik
Dalam semua kasus pemeriksaan
harus dilakukan secara privasi, dalam
cahaya yang baik dan dengan cara yang
sensitif dan penuh perhatian. Pemeriksaan
pasien dapat dibagi menjadi kategori
berikut: penampilan umum dan sikap
pasien, kondisi pakaian, tubuh secara
umum, genitalia eksterna, vagina dan leher
rahim, dan anus dan rektum.7
Pemeriksaan tubuh korban meliputi
pemeriksaan
umum:
gambaran
penampilannya (rambut dan wajah), rapi
atau kusut, keadaan emosional, tenang atau
gelisah/sedih.
Adakah
tanda-tanda
kehilangan kesadaran atau diberikan obat
bius/tidur, apakah ada needle marks.
Adakah tanda-tanda bekas kekerasan
seperti memar, luka lecet pada daerah
mulut, leher, pergelangan, paha bagian
dalam dan pinggang. Pemeriksa menilai
tanda perkembangan alat kelamin sekunder,
pupil, reflex cahaya, pupil pinpoint, tinggi
dan berat badan, tekanan darah, keadaan
jantung, paru dan abdomen.
Pemeriksaan
pakaian
perlu
dilakukan dengan teliti. Pakaian diteliti
helai demi helai, apakah terdapat: robekan
lama atau baru, sepanjang jahitan atau
melintang pada pakaian. Kancing terputus
akibat tarikan, bercak darah, air mani,
lumpur dan sebagainya yang berasal dari
tempat kejadian. Pemeriksa mengamati
apakah pakaian dalam keadaan rapi atau
tidak, benda-benda yang melekat dan
pakaian yang mengandung trace evidence
dikirim ke laboratorium kriminologi untuk
pemeriksaan lebih lanjut.
Pada pemeriksaan daerah genital
biasanya pasien dalam posisi litotomi

(Gambar 1.1). Pemeriksaan daerah genital


meliputi ada tidaknya rambut kemaluan
yang saling melekat menjadi satu karena air
mani yang mengering, gunting untuk
pemeriksaan laboratorium. Cari pula bercak
air mani di sekitar kelamin, kerok dengan
sisi tumpul scalpel atau swab dengan kapas
lidi yang dibasahi dengan larutan garam
fisiologis. Pada vulva diteliti adanya tandatanda bekas kekerasan, seperti: hiperemi,
edema dan luka lecet (goresan kuku).
Introitus vagina mengalami hiperemis atau
edema. Dengan kapas lidi diambil bahan
untuk pemeriksaan sperma dari vestibulum.
Pemeriksaan pada selaput dara (hymen)
untuk memudahkan pemeriksaan dilakukan
teknik pemisahan labia (Gambar 1.2). Catat
bentuk, diameter ostium, elastisitas atau
ketebalan, adanya perlukaan seperti
robekan, memar, lecet, atau hiperemi)..

atau tidak, dan adanya perdarahan atau


tanda penyembuhan pada tepi robekan.
Ukuran selaput dara perawan adalah 2,5
cm. Lingkaran yang memungkinkan
persetubuhan menurut Voight adalah
minimal 9 cm. Periksa pula apakah
prenulum
labiorum
pudenda
dan
commisura labiorium posterior utuh atau
tidak. Periksa vagina dan serviks dengan
spekulum jika memungkinkan, apakah ada
tanda penyakit kelamin. Pada anak-anak
atau bila selaput dara utuh, pengambilan
bahan sebaiknya dibatasi dari vestibulum
saja.

Gambar 1.2 Teknik pemisahan labia

Gambar 1.1 Posisi litotomi


Apabila ditemukan robekan hymen,
catat jumlah robekan, lokasi dan arah
robekan (sesuai arah pada jarum jam,
dengan korban dalam posisi litotomi),
apakah robekan mencapai dasar (insersio)
6

Pengambilan bahan dilakukan untuk


pemeriksaan
laboratorium.
Untuk
pemeriksaan cairan mani dan sel mani
dalam lender vagina, lakukan dengan
mengambil lendir vagina dengan pipet
pasteur atau diambil dengan ose batang
gelas atau swab.
Pemeriksaan
tersangka
dapat
dilakukan terhadap pakaian, apakah
terdapat bercak semen, darah dan
sebagainya.
Bercak
semen
tidak
mempunyai arti dalam pembuktian
sehingga tidak perlu dilakukan. Darah
mempunyai nilai karena kemungkinan
berasal dari darah deflorasi. Dalam hal ini
pemeriksaan golongan darah penting untuk
dilakukan. Mungkin dapat ditemukan tanda
bekas kekerasan, akibat perlawanan oleh

korban. Dapat juga diperiksa kerokan kuku


korban
apabila
korban
melakukan
perlawanan dengan mencakar pelaku maka
mungkin terdapat sel epitel atau darah
pelaku di bawah kuku korban.
Untuk mengetahui apakah seorang
pria baru melakukan persetubuhan, dapat
dilakukan pemeriksaan ada tidaknya sel
epitel vagina pada glans penis.
Pemeriksaan terhadap sel epitel
vagina pada glans penis dapat dilakukan
dengan menekan kaca objek pada glans
penis, daerah corona atau frenulum,
kemudian diletakkan terbalik di atas cawan
yang berisi larutan lugol. Uap yodium akan
mewarnai lapisan pada kaca objek tersebut.
Sitoplasma sel epitel vagina akan berwarna
coklat tua karena mengandung glikogen.
Warna coklat tadi cepat hilang namun
dengan meletakkan kembali sediaan di atas
cairan lugol, maka warna coklat akan
kembali lagi. 1,8
DAFTAR PUSTAKA
1. Meilia, P.D.I. 2012. Prinsip Pemeriksaan
dan Penatalaksanaan Korban (P3K)
Kekerasan Seksual. Departemen Ilmu
Kedokteran Forensik dan Medikolegal.
Fakultas Kedokteran Indonesia.

2. Komnas
Perempuan.
Kekerasan
seksual: Kenali dan tangani. Komnas
Perempuan; 2011. p. 1-5.
3. Pustikasari, Rani Suryani. 2010. Delik
dan Sanksi Kesusilaan dalam KUHP
Indonesia dan Singapura. Jurnal
Hukum. FH UNISBA.
4. Tim Roman. 2009. Romans Forensik.
Padang:
Fakultas
Kedokteran
Universitas Andalas Padang.
5. Amir, Amri. 2009. Ilmu Kedokteran
Forensik.
Medan:
Percetakan
Ramadhan.
6. Marlia, Mirda. 2007. Marital Rape :
Kekerasan Seksual terhadap Istri.
Yogyakarta: Pustaka Pesantren.
7. Mason, D.M. ; Friedman, B.P.C and
Dada, Mahomed. 2002. Crimes
Against Woman and Children: A
Medicolegal Guide. Department of
Forensic Medicine. University of
Dundee.
8. Gani, M.Husni. 2006. Ilmu Kedokteran
Forensik. Padang: Bagian Kedokteran
Forensik
Fakultas
Kedokteran
Universitas Andalas.