Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kutil anogenital yang sering disebut kondiloma akuminata adalah penyakit
menular seksual yang disebabkan oleh Human Papilomavirus (HPV). (1,2) Infeksi
HPV dapat menyebar melalui kontak langsung atau autoinokulasi. Masa inkubasi
bervariasi dari 1-12 bulan dengan rata-rata 2-3 bulan. (3) Infeksi HPV pada genital
diduga subklinis sampai 70% dan tidak disadari oleh pasien tetapi terdeteksi
dengan pemeriksaan klinis lengkap, histologis dan sitologi atau analisis
molekular. (4)
Kondiloma akuminata memiliki infektivitas yang tinggi, dimana permukaan
mukosa yang lebih tipis akan lebih rentan terhadap inokulasi virus dibanding kulit
yang memiliki keratin tebal. Infektivitas HPV genital dari ibu sehubungan dengan
papiloma pada anak tampaknya rendah, namun resiko penularan dari ibu ke anak
dengan perkembangan penyakit selanjutnya pada anak diperkirakan 1 antara 80
dan 1 antara 1.500. (4)
Selama kehamilan, kondiloma akuminata dapat berproliferasi dengan cepat
karena perubahan imunitas dan peningkatan suplai darah dan kelainan ini dapat
muncul dalam bentuk klinis atau subklinis (laten). Bentuk klinis lebih
menyebabkan gangguan emosional dan fisik pada pasien karena ibu harus
melahirkan secara sectio caesaria dan jika melahirkan secara spontan akan
terdapat kemungkinan risiko kontaminasi HPV pada bayi. (4,5)
Modalitas terapi utama untuk kondiloma akuminata adalah terapi destruktif,
seperti kauterisasi, krioterapi dengan nitrogen cair, eksisi, tingtura podofilin,
podofilin resin, asam trikloroasetat (TCA), injeksi bleomisin sulfat, krim
imiquimod dan laser vaporisasi, tetapi tidak ada dari modalitas terapi ini yang
memberikan jaminan kesembuhan dan rekurensi biasa terjadi.

(6)

Pada wanita

hamil tidak semua modalitas terapi di atas dapat digunakan, pilihan terapi yang
dapat diberikan antara lain krioterapi, elektrokauterisasi, terapi laser dan asam
trikloroasetat. (7) Dari keempat modalitas terapi di atas, TCA tidak membutuhkan
peralatan khusus karena dapat diaplikasikan langsung di atas lesi, sehingga mudah
digunakan dan biaya lebih murah. Berdasarkan Centers for Disease Control and

Prevention (CDC) 2010, konsentrasi TCA yang digunakan untuk terapi kondiloma
adalah 80%-90%, tetapi ada beberapa laporan kasus yang menyatakan
keberhasilan terapi dengan TCA 50%. (8)
Salah satu cara yang paling praktis untuk menghindari penyakit menular
seksual adalah dengan melakukan hubungan seksual dengan satu orang yang telah
diketahui kesehatannya atau dengan kata lain melakukan hubungan seksual yang
lebih aman. Kondom tidak dapat melindungi dari infeksi HPV karena HPV dapat
ditularkan melalui kontak kulit ke kulit pada area tubuh yang terinfeksi HPV,
seperti kulit genitalia atau anus yang tidak tertutup kondom.

(8)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kondiloma Akuminata


2.1.1 Definisi
Kondiloma akuminata adalah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh
Human papilloma virus (HPV) tipe tertentu dengan kelainan berupa fibroepi
telioma pada kulit dan mukosa. Terdapat lebih dari 100 tipe HPV, 30 tipe HPV di
antaranya merupakan penyebab infeksi kelamin atau kondiloma akuminata. (9,10,11)
Kondiloma akuminata seringkali disebut juga penyakit jengger ayam, kutil
kelamin, genital warts. Cara transmisi kondiloma akuminata menular melalui
kontak langsung dengan penderita kondiloma akuminata, yang berarti cara
transmisi utama kondiloma akuminata adalah melalui hubungan seksual. Juga

dilaporkan adanya transmisi kondiloma akuminata melalui seks oral, perabaan alat
kelamin, tangan dan perantara objek/benda yang terkontaminasi HPV. (10,12,13)
2.1.2 Etiologi
Kondiloma akuminata disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV) tipe
tertentu. Human Papilloma Virus termasuk dalam famili Papovaviridae, genus
polyomavirus. Terdapat lebih dari 100 tipe HPV, namun hanya 30 tipe yang bisa
menyebabkan kondiloma akuminata, di antaranya yaitu HPV tipe 6, 11, 42, 43, 44
dan 54. HPV tipe 6 dan 11 termasuk HPV yang menimbulkan kondiloma
akuminata eksofitik dan displasia derajat rendah. Sedangkan sebanyak 15 tipe
HPV telah dapat diidentifikasi beresiko tinggi menimbulkan displasia derajat
tinggi dan kanker, yaitu HPV tipe 16, 18, 31, 33, 35, 39, 45, 51, 52, 56, 58, 59, 68,
73 dan 82. (14,15)
2.1.3 Epidemiologi
Risiko seorang perempuan tertular kondiloma akuminata dari partner
seksualnya adalah sebesar 30%. Kondiloma akuminata bersifat asimptomatis. Dari
semua total kasus kondiloma akuminata yang ada, 60% nya tanpa gejala, hanya
1% yang muncul manifestasi klinis sebagai vegetasi genital, 4% hanya bisa
dideteksi lewat kolposkopi, 10% hanya bisa dideteksi lewat pemeriksaan DNA/
RNA dan 25% adalah infeksi menetap kondiloma akuminata. Hal ini berarti
bahwa kasus kondiloma akuminata merupakan ice berg phenomen sehingga kasus
yang muncul ke permukaan bukanlah kasus yang sebenarnya. (16)
Sebagaimana kasus infeksi menular yang lain, prevalensi kondiloma
akuminata di tiap negara berbeda tergantung praktek seksual dan distribusi umur
penduduk. Di Amerika Serikat, kasus baru kondiloma akuminata menyerang 5,5
6,2 juta penduduk Amerika Serikat setiap tahunnya, tahun 2005 sebanyak 20 juta
penduduk Amerika Serikat terinfeksi kondiloma akuminata dan diperkirakan 80
juta penduduk telah terinfeksi kondiloma akuminata pada waktu sebelumnya, ini
berarti 75% penduduk Amerika Serikat umur seksual aktif pernah terinfeksi
kondiloma akuminata. Di Inggris, tahun 1971 1994 terjadi peningkatan
prevalensi kondiloma akuminata dari 390% menjadi 594% pada penduduk
Inggris. Peningkatan yang signifikan terjadi sejak tahun 1992 yaitu sebesar 15%.

Sejak tahun 1993 prevalensi kondiloma akuminata meningkat 25% pada pria dan
28% pada wanita. Tahun 1999, insidens kondiloma akuminata dilaporkan
sebanyak 72.233 kasus kondiloma akuminata baru. (17,18)
Di Belgia, prevalensi kondiloma akuminata pada wanita sebesar 11%, di
Amerika Serikat sebesar 20% pada mahasiswa putri, di Italia 36% dan Spanyol
sebesar 46% pada tahanan wanita. Prevalensi tertinggi kondiloma akuminata
adalah pada pekerja seks komersial. PSK berisiko tinggi terinfeksi kondiloma
akuminata karena biasanya PSK berumur muda dan mempunyai kebiasaan
promiskuitas. Prevalensi kondiloma akuminata pada PSK di Meksiko sebesar
43%, di Jepang 48% dan di Calcuta, India sebesar 63%. (17)
Di Indonesia, prevalensi kondiloma akuminata pada perempuan yang datang
ke klinik KB dan klinik universitas sebesar 5-19%. Prevalensi kondiloma
akuminata jauh lebih tinggi pada perempuan yang datang ke klinik IMS yaitu
sebesar 27%. (10)

2.1.4 Faktor Resiko


Faktor resiko dari kondiloma akuminata adalah sebagai berikut :
a. Usia dan Jenis Kelamin
Usia adalah faktor independen pada kondiloma akuminata, 80%
penderita kondiloma akuminata terjadi pada usia 17-33 tahun, puncak usia
menderita penyakit ini adalah di usia 20-24 tahun. Pria rata-rata di usia 22
tahun bisa menderita kondiloma akuminata dan wanita 19 tahun, pria dan
wanita memiliki proporsi 1 : 1,4.
b. Status Perkawinan dan Kehamilan
Perceraian, suami istri yang tidak serumah, janda atau duda, belum
menikah sangat rentan untuk menderita kondiloma akuminata, karena
keadaan di atas mudah terjadinya perilaku seksual yang beresiko tinggi.
Kondiloma akuminata ini tidak mempengaruhi kesuburan, hanya pada
massa kehamilan pertumbuhannya makin cepat dan jika pertumbuhannya
terlalu besar dan menghalangi lahirnya bayi maka dapat menimbulkan

perdarahan pasca persalinan. Selain itu juga dapat menimbulkan


kondiloma akuminata atau papilomatosis laring (kutil pada saluran
pernapasan) pada bayi baru lahir.
c. Fungsi Kekebalan Tubuh Lemah
Kekebalan tubuh lemah individual seperti tumor ganas, kemoterapi,
imunosupresif dan penggunaan Dexamethason. Persentase menderita
kondiloma akuminata serta persentase kekambuhan juga tinggi dan jumlah
kutil pun bertambah banyak.
d. Merokok dan Mengkonsumsi Alkohol
Merokok dapat menurunkan daya tahan tubuh dan persentase menderita
kondiloma akuminata inipun bertambah berdasarkan lama merokok dan
jumlah batang rokok yang dihisap per hari. Mengkonsumsi alkohol juga
dapat merusak sistem kekebalan tubuh.
e. Hubungan Seksual
Penyebab terjadinya kondiloma akuminata karena memiliki banyak
pasangan yang menderita kondiloma akuminata dan tingkat kekambuhan
lebih tinggi dibandingkan pasangan seksual tunggal.
f. Pemakaian Kontrasepsi yang Tidak Tepat
Infeksi HPV bisa dicegah dengan menggunakan alat kontrasepsi.
Penyebab terjadinya kondiloma akuminata lebih tinggi pada wanita
pengguna pil KB.
g. Penyakit Penyerta Lainnya
Penyebab terjadinya kondiloma akuminata ada hubungannya dengan
penyakit menular seksual lainnya seperti HIV, AIDS, sifilis. Kemampuan
tubuh dalam melawan HPV pun menurun.
2.1.5 Manifestasi Klinis
Masa inkubasi KA berlangsung antara 1 8 bulan, rata-rata selama 2 3
bulan. Kondiloma akuminata sering timbul di daerah yang mudah mengalami
trauma pada saat hubungan seksual, yaitu sekitar vulva, dinding vagina, perineum,
fourchette posterior dan leher uterus. Kondiloma akuminata juga dapat berkem
bang di mulut atau tenggorokan, terutama pada pelaku oro genital seks.
Tanda dan gejala yang sering timbul pada penderita kondiloma akuminata
adalah sebagai berikut :
1. Bintil kecil berwarna abu-abu, merah muda atau agak kemerahan pada

alat kelamin dan tumbuh secara cepat.


2. Beberapa bintil berkembang saling berdekatan, hampir menyerupai
bunga kol.
3. Panas di sekitar alat kelamin.
4. Nyeri, perdarahan dan rasa tidak nyaman pada saat melakukan hubungan
seksual.
Bentuk kondiloma akuminata dibagi menjadi 3 untuk penegakan diagnosis
secara klinis, yaitu :
a. Bentuk akuminata
Sering dijumpai di daerah lipatan dan lembab. Terlihat vegetasi bertangkai
dengan permukaan berjonjot seperti jari. Kutil bentuknya kecil (berdiameter 12
mm), namun dapat berkembang dalam kelompok yang lebih besar dan banyak.
Jika berkembang dalam jumlah banyak bisa menyerupai bunga kol.
b. Bentuk papul
Kelainan berupa papul dengan permukaan halus dan licin, multipel dan
menyebar secara diskret. Terdapat di daerah dengan keratinisasi
sempurna (batang penis, vulva bagian lateral, perianal dan perineum).
c. Bentuk datar (flat)
Berbentuk bintil sangat kecil yang jarang bisa dilihat dengan mata telanjang.
Untuk mendiagnosisnya, diberikan larutan asam asetat pada daerah yang dicurigai
terdapat bintil kondiloma akuminata. Selanjutnya pemeriksaan dapat ditegakkan
dengan menggunakan mikroskop khusus (kolposkopi).
2.1.6 Patofisiologi
Kondiloma akuminata dapat disebabkan kontak dengan penderita yang
terinfeksi HPV. Human Papilloma Virus masuk melalui mikrolesi pada kulit,
biasanya pada daerah kelamin dan melakukan penetrasi pada kulit sehingga
menyebabkan abrasi permukaan epitel. Human Papilloma Virus adalah
epiteliotropik yang mempunyai afinitas tinggi pada sel sel epitel. Replikasinya
tergantung

pada

adanya

diferensiasi

epitel

skuamosa.

Virus

DNA

(Deoxyribonucleic Acid) dapat ditemukan pada lapisan superfisial sel-sel yang


berdiferensiasi. Human Papilloma Virus dapat masuk ke lapisan basal,
menyebabkan respons radang. Pada wanita dapat menyebabkan keputihan dan

infeksi mikroorganisme. Human Papilloma Virus yang masuk ke lapisan basal sel
epidermis dapat mengambil alih DNA dan mengalami replikasi yang tidak
terkendali. Fase laten virus dimulai dengan tidak adanya tanda dan gejala yang
dapat berlangsung sebulan bahkan setahun. Setelah fase laten, produksi virus
DNA, kapsid dan partikel dimulai. Sel host menjadi infeksius dari struktur koilosit
atipik dari kondiloma akuminata (morphologic atypical koilocytosis of condiloma
acuminate) berkembang. Lamanya inkubasi sejak pertama kali terpapar virus
sekitar 3 minggu sampai 8 bulan atau dapat lebih lama. Human Papilloma Virus
yang masuk ke sel basal epidermis ini dapat menyebabkan nodul kemerahan di
sekitar genitalia. Penumpukan nodul merah ini membentuk gambaran seperti
bunga kol. Nodul ini bisa pecah dan terbuka sehingga terpajan mikroorganisme
dan bisa terjadi penularan karena pelepasan virus bersama epitel.
Human Papilloma Virus yang masuk ke epitel dapat menyebabkan respons
radang yang merangsang pelepasan mediator inflamasi yaitu histamin yang dapat
menstimulasi sistem saraf perifer. Stimulasi ini menghantarkan pesan gatal ke
otak dan timbul impuls elektrokimia sepanjang nervus ke dorsal spinal cord
kemudian ke thalamus dan dipersepsikan sebagai rasa gatal di korteks serebri.
Pada wanita yang terinfeksi HPV dapat menyebabkan keputihan dan disertai
infeksi mikroorganisme yang berbau, gatal dan rasa terbakar sehingga tidak
nyaman pada saat melakukan hubungan seksual.
2.1.7 Diagnosis
A. Anamnesis
1. Partner seksual multipel dan usia koitus yang lebih muda merupakan
faktor resiko kondiloma akuminata.
2. Umumnya, 2/3 dari individu yang memiliki pasangan kontak seksual
dengan kondiloma akuminata, lesi dapat berkembang dalam waktu 3
bulan.
3. Keluhan utama biasanya salah satu benjolan nyeri, pruritus,
discharge. Terlibatnya lebih dari satu area sering terjadi. Riwayat
lesi multipel.
4. Lesi pada mukosa oral, laring/trakea (tapi jarang) mungkin terjadi
karena kontak oral genital.
5. Riwayat hubungan seksual anal baik pada laki-laki maupun
perempuan dapat menyebabkan lesi pada perianal.

6. Perdarahan uretra atau obstruksi uretra meskipun jarang dapat


terjadi, dapat disebabkan oleh kondiloma akuminata yang terdapat di
meatus.
7. Riwayat pasien dengan PMS sebelumnya atau sedang terjadi.
8. Perdarahan saat koitus dapat terjadi. Perdarahan selama kehamilan
terjadi karena erupsi dari kondiloma.
B. Pemeriksaan Fisik
1. Erupsi papular single atau multiple dapat diobservasi. Erupsi
mungkin

muncul

seperti

mutiara,

viliform,

kembang

kol

(cauliflower) atau plaquelike. Semuanya ini dapat secara halus


(terutama pada penis), verukosa atau lobular. Erupsi ini mungkin
tidak berbahaya atau dapat mengganggu penampilan.
2. Warna erupsi mungkin sama dengan warna kulit atau dapat juga
eritema atau hiperpigmentasi. Periksa ketidakteraturan dalam
bentuk, warna yang menunjukkan ke arah melanoma atau
keganasan.
3. Kecenderungan pada gland penis pada pria dan daerah vulvovagina
dan serviks pada perempuan.
4. Lesi meatus uretra dan mukosa dapat terjadi.
5. Mencari adanya klinis dari PMS lainnya (misalnya ulserasi,
adenopati, vesikel discharge.
6. Melihat lesi perianal, terutama pada pasien dengan riwayat atau
risiko dari imunosupresi atau hubungan seksual secara anal.
C. Pemeriksaan Penunjang
1. Kolposkopi (Stereokopi Mikroskopik)
Hal ini sangat berguna untuk mengidentifikasi (sebagian besar) lesi
pada serviks, dimana lebih baik mengidentifikasi dengan
menggunakan asam asetat.
2. Biopsi
Biopsi diindikasikan untuk lesi yang atipikal, rekuren setelah terapi
awal berhasil atau resisten terhadap pengobatan atau pasien dengan
resiko tinggi untuk neoplasia atau imunosupresi. Biopsi tidak
diperlukan untuk kutil anogenital yang khas.
2.1.8 Diagnosis Banding
a. Veruka Vulgaris
Vegetasi yang tidak bertangkai, kering dan berwarna abu-abu atau sama
dengan warna kulit. Terutama terdapat pada anak-anak, tetapi dapat juga pada

dewasa dan orang tua. Tempat predileksinya terutama di ektremitas bagian


ekstensor, walaupun penyebarannya dapat ke tubuh bagian lain termasuk mukosa
mulut dan hidung. Kutil ini bentuknya bulat dan berwarna abu-abu, besarnya
lentikular,

permukaan

kasar

(verukosa).

Dengan

goresan

dapat

timbu

autoinokulasi sepanjang goresan (fenomena Kobner).


b. Kondiloma Latum
Pada sifilis, biasanya dengan permukaan rata, ditemukan banyak
Spirochaeta pallidum dengan mikroskop lapangan gelap.
c. Karsinoma Sel Skuamosa
Vegetasi seperti kembang kol, mudah berdarah dan berbau. Karsinoma sel
skuamosa berasal dari sel epidermis yang mempunyai beberapa tingkat
kematangan, dapat intraepidermal, dapat pula bersifat invasif dan bermetastase
jauh. Umur yang paling sering terkena adalah 40-50 tahun.
d. Moluskum Kontangiosum
Penyakit yang disebabkan oleh pox virus, klinis berupa papul-papul, pada
permukaannya terdapat lekukan, berisi massa yang mengandung badan
moluskum. Penyakit ini merupakan akibat hubungan seksual. Transmisinya
melalui kontak kulit langsung. Lokalisasi di daerah muka, badan dan ekstremitas,
sedangkan pada orang dewasa di daerah pubis dan genitalia eksterna.
2.2 Pengobatan
Banyak metode pengobatan kondiloma akuminata tetapi secara umum dapat
dibedakan menjadi kemoterapi dan bedah.
1. Kemoterapi
a. Podophyllin
Podophyllin pertama direkomendasikan untuk pengobatan kondiloma
akuminata oleh Culp dan Kaplan pada tahun 1942, bahan ini adalah agen
sitotoksik yang berasal dari resin podofilum emodi dan peltatum podofilum yang
mengandung senyawa lignin biologis aktif, termasuk podofilox yang merupakan
komponen paling aktif terhadap kondiloma akuminata. Podophyllin memiliki
keuntungan menjadi mudah digunakan dan sangat murah, yang digunakan adalah
tingtura podofilin 25%. Kulit sekitarnya dilindungi dengan vaselin atau pasta agar
tidak terjadi iritasi. Jika belum ada penyembuhan dapat diulangi setelah 3 hari.

Setiap kali pemberian jangan melebihi 0,3 cc karena akan bersifat toksik. Gejala
toksisitas ialah mual, muntah, nyeri abdomen, gangguan alat pernapasan dan
keringat yang disertai akral dingin. Dapat pula terjadi supresi sumsum tulang yang
disertai trombositopenia dan leukopenia. Pada wanita hamil sebaiknya jangan
diberikan karena dapat terjadi kematian fetus.
Beberapa kelemahan, termasuk keterbatasan penggunaan toksisitas sistemik.
Podophyllin harus dicuci setelah 6 jam karena sangat mengiritasi kulit normal di
sekitarnya dan menyebabkan reaksi lokal yang parah nerupa dermatitis, nekrosis
dan jaringan parut.
b. Bichloracetic Acid atau Trichloracetic Acid
Bichloracetic Acid adalah keratolitik kuat dan telah berhasil digunakan
untuk terapi kondiloma akuminata. Seperti Podophyllin, Bichloracetic Acid dan
Trichloracetic Acid murah dan mudah diterapkan. Namun, juga dapat
menyebabkan iritasi lokal dan seringkali memerlukan kunjungan beberapa kali,
umumnya pada interval mingguan. Dalam sebua

BAB III
LAPORAN KASUS
3.1 Identitas Pasien
Nama : Ny. Ely Ernawati
Umur : 24 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
No CM : 0-60-73-45
Pekerjaan: Ibu Rumah Tangga
Alamat : Sabang
Status : Menikah
3.2 Anamnesis
a. Keluhan Utama
Keluar-keluar air sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit.
b. Keluhan Tambahan
Benjolan di kemaluan sejak 8 bulan yang lalu.
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mengaku hamil 9 bulan, HPHT lupa. ANC di dokter kandungan 4
kali mulai usia kandungan 5 minggu, USG terakhir usia kandungan 8
bulan dan kondisi janin baik. Pasien mengeluhkan adanya benjolan di
kemaluan sejak usia kehamilan 8 bulan. Pada awal kehamilan tidak ada
benjolan. Keluar-keluar air (+) sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit,
keluar lendir darah (+), mules-mules (+), gerakan janin aktif dirasakan,
riwayat keputihan (+) gatal dan berbau. Gigi berlubang (+), nyeri
berkemih (-)
d. Riwayat Penyakit Dahulu
Disangkal
e. Riwayat Penyakit Keluarga
Ibu kandung pasien menderita hipertensi,
f. Riwayat Penggunaan Obat
Pasien pernah berobat ke dokter spesialis kulit dan kelamin, namun tidak
diberikan terapi apapun.
g. Riwayat Kebiasaan Sosial Ekonomi, Kejiwaan dan Kebiasaan :
Riwayat Menstruasi : menarche usia 14 tahun, teratur, lama 7 hari, 2-3 kali

Ganti pembalut, dismenore (+).


Riwayat Menikah : 1x, usia 23 tahun.
Riwayat Persalinan : Gravida 1 (Kehamilan saat ini)
Riwayat Pemakaian KB : disangkal
Riwayat Sosial Ekonomi : Istri bekerja sebagai ibu rumah tangga
Suami bekerja sebagai pedagang
3.3

Pemeriksaan Fisik

3.3.1 Status Generalisata


Kesadaran

: Compos Mentis

Keadaan umum : Baik

Tekanan Darah : 130/80 mmHg

Nadi

: 84 x/menit

Pernafasan

: 19 x/menit

Suhu

: 36,6 0C

Tinggi Badan

: 152 cm

Berat Badan

: 58 kg

Konjungtiva

: anemis (-/-)

Sklera

: ikterik (-/-)

Cor/Pulmo

: dbn

Ekstremitas

: edema (-)

Genitalia

: tampak massa bertangkai ukuran 1x1 cm, 05x0,5 cm


Warna seperti kulit

3.3.2 Status Obstetrik


TFU

: 32 cm

TBJ

: 3100 gram

Letak Janin : punggung kanan


His

: negatif

Kepala : 5/5
3.3.3 Pemeriksaan Dalam
I : Vulva/Uretra tenang, tampak benjolan di daerah labia mayora dan labia minor
serta di bagian perineum, tidak berdarah.
Io : Flour albus (+), fluksus (-), valsava (+), lakmus (+), LEA (-)
VT : Portio kenyal, posterior T-3 cm, pembukaan 1 cm, kepala Hodge 1, ketuban
negatif
3.3.4 Pemeriksaan Panggul
Pintu Atas Panggul
Promontorium

: tidak teraba

Linea Inominata

: Teraba 1/3 1/3

Bidang Tengah Panggul

Sakrum

: Konkaf

Spina Ishiadika

: Tidak menonjol

Dinding samping

: lurus

Pintu Bawah Panggul


Arkus Pubis
Kesan Panggul

: >900
: Cukup luas

3.3.5 Laboratorium
Tanggal : 03/10/2014
Jenis Pemeriksaan
Darah Rutin
Hemoglobin
Hematokrit
Eritrosit
Leukosit
Trombosit
Hitung Jenis
Eosinofil
Basofil
Netrofil Segmen
Limfosit
Monosit
Faal Hemostasis
Waktu Perdarahan
Waktu Pembekuan
Imunoserologi
Hepatitis
HbsAg
Kimia Klinik
Elektrolit
Natrium (Na)
Kalium (K)
Klorida (Cl)
Diabetes
Glukosa Darah Sewaktu
Ginjal-Hipertensi
Ureum
Kreatinin

Hasil

Pukul : 14.00
Nilai Rujukan

11,3 g/dL
36 %
4,5 . 106/mm3
11,6 . 103/mm3
264 . 103 U/L

12,0-15,0
37-47
4,2-5,4
4,5-10,5
150-450

1%
0
77 %
17 %
5%

0-6
0-2
50-70
20-40
2-8

2 Menit
7 Menit

1-7
5-15

Negatif
Negatif

140 mmol/L
4,1 mmol/L
109 mmol/L

135-145
3,5-4,5
90-110

86 mg/dL

<200

10 mg/dL
0,60 mg/dL

13-43
0,51-0,95

3.3.6 Ultrasonografi
Janin Presentasi Kepala Tunggal Hidup
BPD : 95

FL : 73

AC : 320

ICA : 4

EFW : 3.250 gram

Plasenta implantasi di korpus anterior

DJJ : positif

Lilitan tali pusat : tidak ada

Kesan : Hamil aterm


3.3.7 Kardiotokografi
BHR : 120-150 bpm
Akselerasi : (+)
Deselerasi : (-)
Variabilitas : 10-20 bpm
Kesimpulan : Reaktif
3.4 Diagnosis
G1P0A0 24 tahun hamil 40-41 minggu belum inpartu + kondiloma
akuminata, janin presentasi kepala tunggal hidup.
3.5 Rencana Penatalaksanaan
1. Hemodinamik Ibu dan Janin Stabil

Observasi tanda-tanda vital, his, DJJ/jam


Observasi tanda kompresi tali pusat
Observasi tanda infeksi intrauterine

2. Penegakkan Diagnosis

Cek darah rutin, KGDS, PT/aPTT


Ultrasonografi
Kardiotokografi

3. Terminasi Kehamilan

Rencana terminasi perabdominal (SC Cito)


SIO
Konsul anestesi
Konsul Perinatologi

Laporan Operasi Sectio Caesaria


1. Penderita dibaringkan terlentang di atas meja operasi

2. Dalam general anestesia dilakukan tindakan a dan antisepsis pada daerah


abdomen dan sekitarnya, kemudian ditutup dengan doek steril kecuali
lapangan operasi.
3. Dilakukan insisi linea mediana inferior, insisi diperdalam lapis demi lapis
sampai fascia.
4. Fascia dijepit dengan dua kocher, diperlebar ke atas dan ke bawah.
5. Otot disisihkan secara tumpul ke lateral.
6. Identifikasi peritoneum, dijepit dengan dua pinset, setelah yakin usus tidak
ikut terjepit dibawahnya, digunting kecil dan diperlebar ke atas dan ke
bawah.
7. Setelah peritoneum dibuka tampak uterus gravidarum. Identifikasi plika
vesikouterina, digunting kecil dan diperlebar ke kanan dan ke kiri, vesika
urinaria disisihkan ke bawah dan dilindungi dengan haak abdomen.
8. Identifikasi segmen bawah rahim, diinsisi semilunar, insisi diperdalam dan
ditembus secara tumpul dengan jari, keluar cairan putih keruh 200 cc.
9. Identifikasi bayi letak kepala, dilahirkan dengan cara meluksir kepala.
10. Pukul 16.00 lahir bayi perempuan, BBL 3400 gram, PBL 49 cm, AS 8/9.
11. Sementara jalan napas dibersihkan, tali pusat diklem di dua tempat
kemudian digunting di antaranya, selanjutnya bayi diserahkan kepada
sejawat neonatus untuk penanganan selanjutnya.
12. Luka segmen bawah rahim dijepit dengan beberapa ringtang, identifikasi
plasenta implantasi di korpus anterior, plasenta dilahirkan dengan tarikan
ringan pada tali pusat.
13. Kavum uteri dibersihkan dari sisa selaput dan bekuan darah.
14. Luka SBR dijahit jelujur dua lapis. Kontrol perdarahan (-).
15. Eksplorasi uterus bentuk normal, kedua tuba dan ovarium baik.
16. Kavum abdomen dibersihkan dari sisa darah dan bekuan darah.
17. Peritoneum dijahit secara jelujur dengan plain catgut, otot dijahit secara
simpul dengan plain catgur, fascia dijahir secara jelujur dengan dexon
no.1, lemak dijahit secara simpul dengan plain catgut, kulit dijahit sub
kutikuler dengan chromic catgur.
18. Luka operasi ditutup dengan op site.
19. Jalan lahir dibersihkan.
20. Tindakan selesai.
Keadaan pasien post operasi sectio caesaria
Kesadaran : Compos mentis
TD : 140/70 mmHg
N : 92 x/menit
RR : 20 x/ menit
T : 36,80C

Perdarahan : 500 cc
Diuresis : 200 cc
Instruksi Post Operasi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Observasi tanda-tanda vital, kontraksi uterus dan perdarahan


Puasa sampai peristaltik usus normal
Infus Ringer Laktat : Dekstrose 5% 2 : 2 30 gtt/menit
Antibiotik : Ceftriaxone 2 gram/24 jam (IV)
Metronidazole 2 x 0,5 gram drip (IV)
Oksitosin 3 x 1 amp (IV)
Vitamin C 1 x 1 amp (IV)
Kaltrofen Supp 1 x II (Per rektal)
Cek Hb post operasi, bila Hb < 10 gr/dL Transfusi darah

1. Handoko R. Penyakit Virus. 5th ed. Kelamin IPKd, editor. Jakarta:


Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2007.
2. Murtiastutik D, Barakbah J, Lumintang H, Martodiharjo S. Buku Ajar
Infeksi Menular Seksual Surabaya: Airlangga University Press; 2008.
3. Pfister H, Fuchs P, Majewski S, Jablonska S, Pniewska I, Maleiczyk M.
High Prevalence of Epidermodysplasia Verruciformis associated
HPV-DNA in Actinic Keratosis of Immunocompetent Population. Arch
Dermatol Res. 2013; 295: p. 273-279.
4. Eassa B, Bakr A. Intradermal Injection of PPD as a Novel Approach
of Immunotherapy in Anogenital Warts in Pregnant Women.
Dermatologic Therapy. 2011; 24: p. 137-143.
5. Kirnbauer R, Lenz P, Okun M. Human Papillomavirus. Dermatology.
2008;: p. 1183-1197.
6. Androphy E, Lowy D. Warts. In Wolff K, Goldsmith L, Katz S, Gilchrest
B, Paller A, Leffell D. Fitzpatrick's Dermatology in General Medicine.
7th ed. United States: Mc Graw Hill; 2008. p. 1914-1922.
7. F Z. Kondiloma Akuminata. In Daili S, Makes W, Zubier F. Infeksi
Menular Seksual. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran

Universitas Indonesia; 2009. p. 140-144.


8. Prevention CfDCa. Sexually Transmitted Diseasess Treatment
Guidelines. MMWR. 2010; 55: p. 62-66.
9. Koutsky L, Kiviat N. Genital Human Papillomavirus. 3rd ed. New
York: McGraw Hill; 2002.
10 UI F. Infeksi Menular Seksual. 3rd ed. Jakarta: FK UI; 2005.
.
11 International FH. Control of Sexually Transmitted Infections. FHI.
. 2013.
12 Institute M. www.medinstitute.org. [Online].; 2014.
.
13 Erbelding E, Zenilman J. Toward Better Control of Sexually
. Transmitted Diseases. New England J Med. 2013; 352(7): p. 720721.
14 Moscicki A, Hils N, Shiboski S. Risk for Incident Human
. Papillomavirus Infection and Low Grade Squamos Intraepithelial
Lesion Development in Young Females. J Am Med Assc. 2011;
285(23).
15 Munoz N, Bosch X, Sanjose S. Epidemiologic Classification of Human
. Papillomavirus Types Associated with Cervical Cancer. New England
J Med. 2013; 348: p. 518-527.
16 Clinic M. Genital Warts. Japan: MayoClinic; 2014 [cited 2014
. November 01.
17 Amo J, Gonzalez B, Losana K. Sex Workers : Influence of Age and
. Geographical Origin in the Prevalence of High Risk Human
Papillomavirus in Migrant Female Sex Workers in Spain. Sex Transm
Infect. 2013; 81: p. 25-37.
18 Gilson R, Mindel A. Recent Advances : Sexually Transmitted
. Infections. British Med J. 2011; 320: p. 1160-1164.
19 Anderson R. Transmission Dynamics of Sexually Transmitted
. Infections. In Holmes. 2012 June;: p. 25-37.
20 Wen L, Estcourt C. Risks Factors for the Acquisition of Genital warts :
. are Condoms Protective ? Sex Transm Inf. 2009; 75: p. 312-316.
21 Galloway D. Biology of Genital Human Papillomavirus. Sexually
. Transmitted Diseases. 2012; 24: p. 335-342.
22 Wahyuni C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Infeksi
. Human Papilloma Virus. Thesis. Surabaya: Universitar Airlangga,
Kulit dan Kelamin; 2013. Report No.: 010145678.

23 Ross J. Is Oral Contraceptive Asscociated With Genital Warts ?


. Genitourinary Med. 2006; 72(5): p. 330-333.
24 Samoff B, Koumans E, Markowitz D. Asscociation of Chlamidya
. Trachomatis with Persistance High Risk Types of Human
Papillomavirus in a Cohort of Female Adolescents. Am J of
Epidemiology. 2005; 162(7): p. 668-672.
25 Heard F, Tassie K, Schmitz J. Increased Risk of Cervical Disease
. among Human Immunodeficiency Virus- Infected Women with
Severe Immunosupression and High Human Papilloma Virus Load. J
of Obs & Gyn. 2010; 96(3): p. 403-409.
26 Sun D, Kuhn F, Ellerbrock P. Human Papilloma Virus Infection in
. Women Infected with the Human Immunodeficiency Virus. New
England J Med. 2009; 337(19): p. 1343-1349.
27 Hankins R, Coutlee O, Lapointe W. Prevalence of Risk Factors
. Asscociated with Human Papilloma Virus Infections in Women living
with HIV. Canadian Med Ass J. 2009; 160(2): p. 185-191.
28 Ferenczy T, Coutlee G, Franco V. Human Papilloma Virus and HIV
. coinfection and the risk of neoplasias of the Lower Genital Tract : A
Review of Recent Developments. Canadian Med Ass J. 2013; 169(5):
p. 431-434.
29 Sedjo H, Roe D, Abrahamsen K. Vitamin A, Carotenoids and Risk of
. Persistent Oncogenic Human Papilloma Virus Infection. Ca
Epidemiology, Biomarkers & Prevention. 2012; 11(2): p. 876-884.
30 Soong F, Alvarez H, Butterworth T. A Longitudinal Analysis of Human
. Papilloma Virus 16 Infection, nutritional status and cervical
dysplasia progression. Ca Epidemiology, Biomarkers & Prevention.
2005; 4(4): p. 373-380.
31 Giuliano E, Siegel T, Roe D. Dietary Intake and Risk of Persistent
. Human Papilloma Virus (HPV) Infection : the Ludwig - McGill HPV
Natural History Study. J Infect Dis. 2013; 188(10): p. 528-533.
32 Butterworth S, Hatch K, Macaluso P. Folate Deficiency and Cervical
. Dysplasias. JAMA. 2009; 267: p. 528-533.
33 BPS , Depkes. Laporan Hasil Survei Surveilans Perilaku (SSP). BPS
. Jawa Tengah. 2013.
34 Simms H, Fairley T. Epidemiology of Genital Warts in England and
. Wales : 1971-1994. Sex Transm Inf. 2007; 73: p. 365-367.