Anda di halaman 1dari 32

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Berdasarkan pedoman yang telah dibuat oleh organisasi-organisasi berikut :

The European Branch of the International Union against Sexually Transmitted In


fection (IUSTI Eropa); The European Dermatology Federation (EDF); The Union
of European Medical Specialists (UEMS), kondiloma akuminata merupakan lesi
proliferatif jinak yang disebabkan oleh HPV (Human papilloma virus) tipe 6 dan
11, yang ditemukan pada >95% lesi. Infeksinya sering bersamaan dengan HPV
beresiko tinggi seperti HPV tipe 16. Kondiloma akuminata menular secara
seksual, dengan angka transmisi 60% antar pasangan. (1,2)
Human papilloma virus memiliki kemampuan infeksius tinggi dengan masa
inkubasi 3 minggu sampai 8 bulan. Individu dengan kondiloma akuminata lesinya
timbul setelah terinfeksi HPV dua sampai tiga bulan sebelumnya. Tanpa
pengobatan kondiloma akuminata dapat mengecil atau menghilang, menetap atau
bertambah besar ukurannya dan bertambah banyak jumlahnya. (3,4,5)
Penyakit ini dijumpai pada usia produktif terutama pada orang dewasa.
Diperkirakan bahwa 30% sampai 50% orang dewasa aktif seksual terinfeksi oleh
HPV. Kebanyakan individu yang aktif seksual terinfeksi HPV subklinis dan
asimptomatik. Kondiloma akuminata dapat menyerang semua bangsa dimana
frekuensi antara laki-laki dan perempuan adalah sama. (6,7,8)
Transmisi HPV dapat terjadi melalui kontak seksual langsung, genito
genital, orogenital dan anogenital. Selama kehamilan, prevalensi kondiloma
akuminata meningkat menjadi dua kali lipat dan memiliki kecenderungan untuk
tumbuh lebih banyak, namun secara signifikan mengalami penurunan setelah
periode post partum. Bayi dengan ibu yang mengalami kondiloma akuminata
selama kehamilan mempunyai resiko menderita Juvenille Onset Recurrent
Respiratory Papillomatosis atau papillomatosis laring. Lesi terjadi terutama pada
laring, pita suara serta mukosa mulut dan hidung. Papillomatosis laring ini terjadi
1-4 dari 100.000 kelahiran, serta kira-kira 7 dari 1000 ibu yang terinfeksi HPV
tipe 6 dan 11. (4,9,10)

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis. Pada lesi yang meragukan


dapat dilakukan pemeriksaan penunjang seperti dermatopatologi (biopsi),pap
smear, deteksi DNA Human papilloma virus dan pemeriksaan serologis. (9)
Eradikasi kondiloma akuminata selama kehamilan tidak selalu diperlukan
karena umumnya membaik dan mengalami regresi setelah persalinan.Terapi yang
dapat diberikan pada ibu hamil antara lain adalah Trichloroacetic Acid (TCA) atau
Bichloroacetic Acid yang diberikan secara topikal. Pada lesi yang besar dilakukan
pengangkatan dengan eksisi, elektrokauter atau cryosurgery. (1,11)
Persalinan pervaginam tidak menjadi kontraindikasi pada pasien dengan
kondiloma akuminata apabila tidak terdapat lesi yang menghalangi jalan lahir atau
yang diperkirakan mengalami perdarahan banyak oleh karena trauma persalinan.
Meskipun seksio sesarea dapat mengurangi kemungkinan transmisi HPV dari ibu
kepada janin, seksio sesarea bukan diindikasikan untuk pencegahan transmisi
vertikal HPV tersebut. (12,13)
Dewasa ini telah tersedia vaksinasi untuk pencegahan kondiloma akuminata,
yaitu vaksin Gardasil. Vaksin ini adalah suatu vaksin rekombinan HPV
kuadrivalen untuk pencegahan penyakit yang disebabkan oleh HPV tipe 6, 11, 16
dan 18. (14)
Berikut ini akan dilaporkan suatu kasus yang didiagnosis kondiloma
akuminata pada primigravida yang ditangani dengan seksio sesarea di
Bagian/SMF Obstetri Ginekologi FK Unsyiah/ RSUDZA Banda Aceh.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Kondiloma Akuminata

2.1.1 Definisi
Kondiloma akuminata adalah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh
Human papilloma Virus (HPV) tipe 6 dan 11 dengan kelainan berupa fibroepiteli
oma pada kulit dan mukosa. Kondiloma akuminata seringkali disebut juga
penyakit jengger ayam, kutil kelamin, genital warts. (15)

Gambar 2.1 Kondiloma Akuminata (16)


2.1.2 Etiologi
Kondiloma akuminata disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV) tipe
tertentu. Human Papilloma Virus termasuk dalam famili Papovaviridae, genus
polyomavirus. Terdapat lebih dari 100 tipe HPV, namun hanya 30 tipe yang bisa
menyebabkan kondiloma akuminata, di antaranya yaitu HPV tipe 6, 11, 42, 43, 44
dan 54. HPV tipe 6 dan 11 termasuk HPV yang menimbulkan kondiloma
akuminata eksofitik dan displasia derajat rendah. Sedangkan sebanyak 15 tipe
HPV telah dapat diidentifikasi beresiko tinggi menimbulkan displasia derajat
tinggi dan kanker, yaitu HPV tipe 16, 18, 31, 33, 35, 39, 45, 51, 52, 56, 58, 59, 68,
73 dan 82. (17,18)

2.1.3 Epidemiologi
Frekuensi terjadinya kondiloma akuminata pada pria dan wanita sama,
penyebarannya kosmopolit dan transmisinya bisa melalui kontak kulit langsung
maupun hubungan seksual. Risiko seorang perempuan tertular kondiloma
akuminata dari partner seksualnya adalah sebesar 30%. Kondiloma akuminata
bersifat asimptomatis. Dari semua total kasus kondiloma akuminata yang ada,
60% nya tanpa gejala, hanya 1% yang muncul manifestasi klinis sebagai vegetasi
genital, 4% hanya bisa dideteksi lewat kolposkopi, 10% hanya bisa dideteksi
lewat pemeriksaan DNA/RNA dan 25% adalah infeksi menetap kondiloma
akuminata. Hal ini berarti bahwa kasus kondiloma akuminata merupakan ice berg
phenomen sehingga kasus yang muncul

ke permukaan bukanlah kasus yang

sebenarnya. (19)
Sebagaimana kasus infeksi menular yang lain, prevalensi kondiloma
akuminata di tiap negara berbeda tergantung praktek seksual dan distribusi umur
penduduk. Di Amerika Serikat, kasus baru kondiloma akuminata menyerang 5,5
6,2 juta penduduk Amerika Serikat setiap tahunnya, tahun 2005 sebanyak 20 juta
penduduk Amerika Serikat terinfeksi kondiloma akuminata dan diperkirakan 80
juta penduduk telah terinfeksi kondiloma akuminata pada waktu sebelumnya, ini
berarti 75% penduduk Amerika Serikat umur seksual aktif pernah terinfeksi
kondiloma akuminata. Di Inggris, tahun 19711994 terjadi peningkatan prevalensi
kondiloma akuminata dari 39% menjadi 59% pada penduduk Inggris. Peningkatan
yang signifikan terjadi sejak tahun 1992 yaitu sebesar 15%. Sejak tahun 1993
prevalensi kondiloma akuminata meningkat 25% pada pria dan 28% pada wanita.
Tahun 1999, insidens kondiloma akuminata dilaporkan sebanyak 72.233 kasus
kondiloma akuminata baru. (20,21)
2.1.4 Faktor Resiko
a. Aktivitas Seksual
Aktivitas seksual menjadi salah satu faktor yang menjadi resiko besar untuk
terkena kondiloma akuminata ini karena Human papilloma virus ditularkan
melalui hubungan seksual, terutama pada para pekerja seks komersial. Mereka
akan lebih beresiko karena sering melakukan hubungan seksual dengan orang
yang tidak diketahui riwayat kondilomanya. (22)

b. Imunitas
Imunitas tubuh berperan dalam pertahanan tubuh terhadap HPV. Imunitas
tubuh yang rendah beresiko 1,99 kali lebih besar untuk terinfeksi kondiloma
akuminata. Imunitas tubuh terhadap kondiloma akuminata dapat juga diperoleh
dari vaksin HPV, efektivitas vaksin HPV ini masih dalam tahap penelitian. (22)
c. Penyakit Penyerta Lainnya
Penyebab terjadinya kondiloma akuminata ada hubungannya dengan
penyakit menular seksual lainnya seperti HIV, AIDS, sifilis. Kemampuan tubuh
dalam melawan HPV pun menurun. (22)
2.1.5 Manifestasi Klinis
Masa inkubasi kondiloma akuminata berlangsung antara 1 8 bulan, ratarata selama 23 bulan. Kondiloma akuminata sering timbul di daerah yang mudah
mengalami trauma pada saat hubungan seksual, yaitu sekitar vulva, dinding
vagina, perineum, fourchette posterior dan leher uterus. Kondiloma akuminata
juga dapat berkem bang di mulut atau tenggorokan, terutama pelaku orogenital
seks. (23)
Tanda dan gejala yang sering timbul pada penderita kondiloma akuminata
adalah sebagai berikut : (23)
1. Bintil kecil berwarna abu-abu, merah muda atau agak kemerahan pada
alat kelamin dan tumbuh secara cepat.
2. Beberapa bintil berkembang saling berdekatan, hampir menyerupai
bunga kol.
3. Panas di sekitar alat kelamin.
4. Nyeri, perdarahan dan rasa tidak nyaman pada saat melakukan hubungan
seksual.
Bentuk kondiloma akuminata dibagi menjadi 3 untuk penegakan diagnosis
secara klinis, yaitu : (23)
a. Bentuk akuminata
Sering dijumpai di daerah lipatan dan lembab. Terlihat vegetasi bertangkai
dengan permukaan berjonjot seperti jari. Kutil bentuknya kecil (berdiameter 12
mm), namun dapat berkembang dalam kelompok yang lebih besar dan banyak.
Jika berkembang dalam jumlah banyak bisa menyerupai bunga kol. (23)

b. Bentuk papul
Kelainan berupa papul dengan permukaan halus dan licin, multipel dan
menyebar secara diskret. Terdapat di daerah dengan keratinisasi sempurna (batang
penis, vulva bagian lateral, perianal dan perineum). (23)
c. Bentuk datar (flat)
Berbentuk bintil sangat kecil yang jarang bisa dilihat dengan mata telanjang.
Untuk mendiagnosisnya, diberikan larutan asam asetat pada daerah yang dicurigai
terdapat bintil kondiloma akuminata. Selanjutnya pemeriksaan dapat ditegakkan
dengan menggunakan mikroskop khusus (kolposkopi). (23)
2.1.6 Patofisiologi
Kondiloma akuminata dapat disebabkan kontak dengan penderita yang
terinfeksi HPV. Human Papilloma Virus masuk melalui mikrolesi pada kulit,
biasanya pada daerah kelamin dan melakukan penetrasi pada kulit sehingga
menyebabkan abrasi permukaan epitel. Human Papilloma Virus adalah
epiteliotropik yang mempunyai afinitas tinggi pada sel sel epitel. Replikasinya
tergantung pada adanya diferensiasi epitel skuamosa. Virus DNA (Deoxyri
bonucleic Acid) dapat ditemukan pada lapisan superfisial sel-sel yang
berdiferensiasi. Human Papilloma Virus dapat masuk ke lapisan basal,
menyebabkan respons radang. Pada wanita dapat menyebabkan keputihan dan
infeksi mikroorganisme. Human Papilloma Virus yang masuk ke lapisan basal sel
epidermis dapat mengambil alih DNA dan mengalami replikasi yang tidak
terkendali. Fase laten virus dimulai dengan tidak adanya tanda dan gejala yang
dapat berlangsung sebulan bahkan setahun. Setelah fase laten, produksi virus
DNA, kapsid dan partikel dimulai. Sel host menjadi infeksius dari struktur koilosit
atipik dari kondiloma akuminata (morphologic atypical koilocytosis of condiloma
acuminate) berkembang. Lamanya inkubasi sejak pertama kali terpapar virus
sekitar 3 minggu sampai 8 bulan atau dapat lebih lama. Human Papilloma Virus
yang masuk ke sel basal epidermis ini dapat menyebabkan nodul kemerahan di
sekitar genitalia. Penumpukan nodul merah ini membentuk gambaran seperti
bunga kol. Nodul ini bisa pecah dan terbuka sehingga terpajan mikroorganisme
dan bisa terjadi penularan karena pelepasan virus bersama epitel. (24,25)

Human Papilloma Virus yang masuk ke epitel dapat menyebabkan respons


radang yang merangsang pelepasan mediator inflamasi yaitu histamin yang dapat
menstimulasi sistem saraf perifer. Stimulasi ini menghantarkan pesan gatal ke
otak dan timbul impuls elektrokimia sepanjang nervus ke dorsal spinal cord
kemudian ke talamus dan dipersepsikan sebagai rasa gatal di korteks serebri. Pada
wanita yang terinfeksi HPV dapat menyebabkan keputihan dan disertai infeksi
mikroorganisme yang berbau, gatal dan rasa terbakar sehingga tidak nyaman pada
saat melakukan hubungan seksual. (24,25)
2.1.7 Diagnosis
Diagnosis kondiloma akuminata ditegakkan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang sebagai berikut : (26)
A. Anamnesis
1. Partner seksual multipel dan usia koitus yang lebih muda merupakan
faktor resiko kondiloma akuminata.
2. Umumnya, 2/3 dari individu yang memiliki pasangan kontak seksual
dengan kondiloma akuminata, lesi dapat berkembang dalam waktu 3
bulan.
3. Keluhan utama biasanya salah satu benjolan nyeri, pruritus, discharge.
Terlibatnya lebih dari satu area sering terjadi. Riwayat lesi multipel.
4. Lesi pada mukosa oral, laring/trakea (tapi jarang) mungkin terjadi karena
kontak oral genital.
5. Riwayat hubungan seksual anal baik pada laki-laki maupun perempuan
dapat menyebabkan lesi pada perianal.
6. Perdarahan uretra atau obstruksi uretra meskipun jarang dapat terjadi,
dapat disebabkan oleh kondiloma akuminata yang terdapat di meatus.
7. Riwayat pasien dengan PMS sebelumnya atau sedang terjadi.
8. Perdarahan saat koitus dapat terjadi. Perdarahan selama kehamilan terjadi
karena erupsi dari kondiloma.
B. Pemeriksaan Fisik
1. Erupsi papular single atau multiple dapat diobservasi. Erupsi mungkin
muncul seperti mutiara, viliform, kembang kol (cauliflower) atau
plaquelike. Semuanya ini dapat secara halus (terutama pada penis),
verukosa atau lobular. Erupsi ini mungkin tidak berbahaya atau dapat
mengganggu penampilan.

2. Warna erupsi mungkin sama dengan warna kulit atau dapat juga eritema
atau hiperpigmentasi. Periksa ketidakteraturan dalam bentuk, warna yang
menunjukkan ke arah melanoma atau keganasan.
3. Kecenderungan pada gland penis pada pria dan daerah vulvovagina dan
serviks pada perempuan.
4. Lesi meatus uretra dan mukosa dapat terjadi.
5. Mencari adanya klinis dari PMS lainnya (misalnya ulserasi, adenopati,
vesikel discharge.
6. Melihat lesi perianal, terutama pada pasien dengan riwayat atau risiko dari
imunosupresi atau hubungan seksual secara anal.
C. Pemeriksaan Penunjang
1) Kolposkopi (Stereokopi Mikroskopik)
Hal ini sangat berguna untuk mengidentifikasi (sebagian besar) lesi pada
serviks, dimana lebih baik mengidentifikasi dengan menggunakan asam asetat.
2) Biopsi
Biopsi diindikasikan untuk lesi yang atipikal, rekuren setelah terapi awal
berhasil atau resisten terhadap pengobatan atau pasien dengan resiko tinggi untuk
neoplasia atau imunosupresi. Biopsi tidak diperlukan untuk kutil anogenital yang
khas.
2.1.8 Diagnosis Banding
Adapun diagnosis banding dari kondiloma akuminata sebagai berikut : (27)
a. Veruka Vulgaris
Vegetasi yang tidak bertangkai, kering dan berwarna abu-abu atau sama
dengan warna kulit. Terutama terdapat pada anak-anak, tetapi dapat juga pada
dewasa dan orang tua. Tempat predileksinya terutama di ektremitas bagian
ekstensor, walaupun penyebarannya dapat ke tubuh bagian lain termasuk mukosa
mulut dan hidung. Kutil ini bentuknya bulat dan berwarna abu-abu, besarnya
lentikular,

permukaan

kasar

(verukosa).

Dengan

goresan

dapat

timbu

autoinokulasi sepanjang goresan (fenomena Kobner).


b. Kondiloma Latum
Pada sifilis, biasanya dengan permukaan rata, ditemukan banyak
Spirochaeta pallidum dengan mikroskop lapangan gelap.
c. Karsinoma Sel Skuamosa

Vegetasi seperti kembang kol, mudah berdarah dan berbau. Karsinoma sel
skuamosa berasal dari sel epidermis yang mempunyai beberapa tingkat
kematangan, dapat intraepidermal, dapat pula bersifat invasif dan bermetastase
jauh. Umur yang paling sering terkena adalah 40-50 tahun.
d. Moluskum Kontangiosum
Penyakit yang disebabkan oleh pox virus, klinis berupa papul-papul, pada
permukaannya terdapat lekukan, berisi massa yang mengandung badan
moluskum. Penyakit ini merupakan akibat hubungan seksual. Transmisinya
melalui kontak kulit langsung. Lokalisasi di daerah muka, badan dan ekstremitas,
sedangkan pada orang dewasa di genitalia eksterna.
2.1.9 Tatalaksana
Secara umum, efektivitas terapi pada infeksi menular seksual dinilai dalam
4 aspek, yaitu : kemampuan menanggulangi manifestasi klinis, pencegahan
morbiditas dan komplikasi jangka panjang, eradikasi etiologi infeksi dan
pencegahan transmisi.

(28)

Manifestasi klinis utama pada lesi kondiloma akumi

nata, terkait tampilan klinis lesi yang menyebabkan berbagai dampak psikologik
dan merupakan morbiditas utama pada pasien. Komplikasi jangka panjang infeksi
HPV tipe resiko rendah jarang terjadi.

(29)

Lesi kondiloma akuminata dapat

berkembang menjadi kondiloma raksasa maupun tumor Buschke-Lowenstein yang


bersifat invasif lokal namun tidak bermetastasis, namun kejadiannya sangat
jarang. (28)
Terapi lesi kondiloma akuminata mampu menurunkan jumlah virus yang
terdapat pada keseluruhan lesi kondiloma akuminata, namun eradikasi infeksi
secara sempurna sulit dicapai. Terapi lesi kondiloma akuminata kerap
meninggalkan area sekitar lesi yang masih terinfeksi HPV, namun subklinis.

(28)

Pencegahan transmisi pada pasanganpun kerap sulit dilakukan. Sebanyak 65%


kontak seksual individu dengan lesi kondiloma akuminata mengalami infeksi
HPV. Lesi kondiloma akuminata mengandung jumlah virus yang tinggi. Bahkan
individu

yang

mengalami

infeksi

HPV

subklinis

pun

sudah

mampu

mentransmisikan HPV. (30)


Tanpa terapi, lesi kondiloma akuminata dapat menghilang, menetap,
maupun tumbuh lebih besar. Hal ini sangat bergantung respons imun pasien.

(31)

10

Target utama terapi kondiloma akuminata adalah eradikasi lesi kondiloma


akuminata dan stimulasi sistem imun untuk mengenali virus, mengeliminasi dan
menghambat replikasi virus maupun pertumbuhan lesi. (32) Tidak ada terapi tunggal
yang ideal untuk semua pasien maupun untuk berbagai kondiloma akuminata.
Hal-hal yang menjadi pertimbangan dalam pemilihan terapi adalah manifestasi
klinis lesi (jumlah,ukuran, keratinisasi/non keratinisasi) lokasi lesi, komplikasi
terkait terapi, kondisi pasien (kehamilan, usia, status imunitas), preferensi pasien,
ketersediaan terapi dan keterampilan/ pengalaman dokter. Secara umum, eradikasi
lesi kondiloma akuminata tercapai dalam 3 bulan terapi, namun terdapat
kemungkinan rekurensi/relaps. (33,34)
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) memberikan panduan
pilihan terapi berdasarkan lokasi anatomi kondiloma akuminata. Pada Vagina,
pilihan terapi adalah bedah beku N2 cair dan TCA/BCA 80-90%. Pada meatus
uretra, pilihan terapi adalah bedah beku N2 cair dan podofilin 10-25%. Pada anus,
pilihan terapi adalah dengan bedah beku N2 cair, TCA/BCA 80-90% dan bedah
eksisi.

(33,34)

A. Bahan Kimiawi Topikal


Terapi topikal yang diaplikasikan oleh pasien
1) Podofilotoksin
Podofilotoksin merupakan hasil purifikasi ekstrak bahan aktif
podophyllum resin. Cara kerjanya adalah sebagai antimitotik melalui
hambatan polimerisasi tubulin menjadi mikrotubulus, sehingga
pembelahan sel terhenti pada metafase dan induksi nekrosis jaringan
lokal. Indikasi penggunaannya adalah lesi kondiloma akuminata pada
area eksternal anogenital. Kontraindikasi adalah penggunaan pada area
vagina, uretra, serviks dan kehamilan. Penggunaan kontrasepsi direko
mendasikan pada wanita usia reproduktif. Sediannya beragam dalam
0,5% solusio, 0,5% gel dan 0,15% krim (Condilox). Anjuran
penggunaanya adalah 2x/hari selama 3 hari dalam 1 minggu. Pada satu
sesi aplikasi maksimal digunakan pada luas area 10 cm2 dan jumlah
podofilotoksin yang digunakan maksimal 0,5 ml/hari. (33) Evaluasi ulang
dilakukan dalam 4 minggu. (34,32,29)

11

Penelitian penggunaan podofilitoksin 0,5% gel yang melibatkan 167


pasien, mendapatkan efektivitas terapi superior terhadap plasebo dalam
kurun waktu terapi 4-6 minggu.

(35)

Pada penelitian yang melibatkan

1036 pasien, dibandingkan plasebo podofilitoksin lebih efektif dalam


mengeradikasi lesi kondiloma akuminata lesi kondiloma akuminata
dalam 16 minggu terapi. Buck melakukan meta-analisis terhadap
berbagai uji klinis acak penggunaan podofilotoksin sebanding dengan
penggunaan podofilin. Efektivitas terapi podofilitoksin sebanding
dengan podofilin dalam mengeradikasi lesi kondiloma akuminata
selama 4 minggu terapi. Efek samping yang sering dialami pasien
berupa inflamasi dan iritasi lokal, erosi, nyeri, rasa terbakar dan gatal.
Efek samping yang sedikit dilaporkan berupa dispareuni, perdarahan,
skar dan insomnia. (36)
2) Imiquimod
Imiquimod/ imidazoqquilinamine tidak memiliki aktivitas antivirus
secara invitro, namun memiliki kemampuan memodifikasi respons
imun pejamu melalui peningkatan produksi sitokin, yaitu interferon ,
tumor necrosis factor (TNF) dan interleukin. Berbagai sitokin ini akan
meningkatkan jumlah dan kinerja sel natural killer (NK), Polymor
phonuclear (PMN), makrofag dan sel T, yang memiliki efek antitumor
dan eradikasi virus. Senyawa ini juga mampu menginduksi memori
sistem imun sehingga mencegah terjadinya rekurensi. Indikasi
penggunaan adalah lesi kondiloma akuminata terbatas pada area
eksternal anogenital. Kontraindikasi adalah penggunaan pada membran
mukosa dalam (uretra,vagina dan serviks). Dan kehamilan (kategori C).
Penggunaan kontrasepsi direkomendasikan pada wanita usia produktif.
Imiquimod tersedia dalam bentuk krim dengan konsentrasi 1% dan 5%
(Aldara). Anjuran penggunaannya adalah 3x/minggu (selang sehari) dan
dapat digunakan sampai 16 mingggu. Pasien dianjurkan untuk
menggosok saat aplikasi krim untuk meningkatkan absorbsi. Sediaan
dapat diaplikasikan pada area sekitar lesi, tidak terbatas pada lesi KA
saja. Setyelah 6-10 jam area yang diterapi hendaknya dibersihkan
dengan sabun yang lembut.

12

Hasil meta analisis berbagai uji klinis acak mendapatkan baik


imuquimod 1% maupun 5% lebih efektif dibandingkan plasebo dalam
eradikasi lesi kondiloma akuminata selama kurun waktu terapi 12
minggu. Imiquimod 5% lebih efektif dibandingkan imiquimod 1%.
Efek samping lebih jarang ditemukan dibandingkan podofilotoksin,
berupa eritema ringan-sedang, erosi, gatal, sensasi terbakar, iritasi,
indurasi, nyeri pada perabaan. Efek samping ini lebih sering dijumpai
pada konsentrasi yang lebih tinggi. (34)
3) Sinecatechins
Sinecatechins merupakan polifenon E yang terdiri dari ekstrak 8
catechins yang dipurifikasi dari teh hijau (Camellia sinensis). Aktivitas
biologisnya meliputi efek antivirus, efek antikarsinogenik (menginduksi
apoptosis dan hambatan total siklus sel, antioksidan, antiangiogenik dan
efek modulasi respons imun melalui peningkatan sitokin; iterferon,
TNF, dan interleukin. Indikasi penggunaannya adalah lesi kondiloma
akuminata pada area eksternal anogenital. Sediaan berupa salep 15%
(veregen). Sediaan ini tidak direkomendasikan pada pasien yang hamil,
usia dibawah 18 tahun, immunocompromized dan pasien dengan herpes
genetalis, karena belum ada uji klinis keamanan dan efektivitas pada
populasi tersebut. Penggunaannya dapat mencapai 3x/hari dan dapat
digunakan sampai eradikasi total lesi tercapai/maksimal 16 minggu.
Uji klinis acak yang dilakukan di Eropa dan Afrika Selatan dengan
melibatkan 5503 pasien kondiloma akuminata, mendapatkan bahwa
sediaan ini superior dibandingkan dengan plasebo dalam kurun waktu
12 minggu terapi. Dibandingkan imiquimod dan prodofilotoksin,
efektivitas sinecatechins dalam eradikasi lesi kondiloma akuminata
lebih superior. Efek samping yang ditemukan berupa reaksi lokal kulit,
yaitu: eritema, edema, dan erosi yang puncaknya terjadi dalam kurun
waktu 2-4 minggu terapi. (36)
Terapi pilihan yang diaplikasikan oleh dokter
1) Podofilin
Podofilin resin berkerja sebagai antimiotik yang menginduksi nekrosis
jaringan, sebagaimana podofilotoksin yang merupakan ekstrak bahan

13

aktif utama dari podofilin resin. Podofilin mengandung flavonoid


mutagen, quercetin dan kamferol. Kehamilan merupakan kontraindikasi
sediaan ini. Penggunaan kontrasepsi direkomendasikan pada wanita
usia produktif. Sediaan ini merupakan salah satu terapi tertua
kondiloma akuminata. Sediaan berupa solusio podofilin dengan
konsentrasi 10-25%. Penggunaan maksimal pada satu sisi terapi adalah
luas area 10 cm2 atau jumlah total podofilin kurang dari 0,5 ml. Hal ini
terkait resiko absorbsi dan toksisitas sistemik. Efek samping yang dapat
timbul berupa supresi sumsum tulang, gangguan neurologi, halusinasi,
psikosis, mual, muntah, diare, gangguan fungsi hati dan nyeri akut
abdomen pernah dilaporkan dalam 20 tahun terakhir. (35,29,36)
2) Bichoracetic acid (BCA) dan Trichloracetid acid (TCA)
Baik BCA maupun TCA merupakan agen yang bersifat korosif.
Senyawa ini dengan cepat menjadi inaktif setelah kontak dengan
kulit/lesi. Hal ini menyebabkan penggunaannya tergolong aman selama
kehamilan. Konsentrasi penggunaan BCA maupun TCA tidak
terstandarisasi dan biasanya merupakan sediaan yang disiapkan atas
pesanan kepada farmasi. Konsentrasi yang digunakan dapat mencapai
95%. Cara penggunaannya adalah diaplikasikan pada lesi kondiloma
akuminata dengan menggunakan tusuk gigi atau cotton bud. Jadwal
terapi umumnya 3x/minggu selama 4 minggu. Bikarbonat, talkum,
sabun maupun air digunakan untuk netralisasi kelebihan aplikasi
BCA/TCA. Komplikasi yang mungkin terjadi adalah berupa ulserasi.
Efektivitas respons terapi dan tingkat rekurensi superior dibandingkan
plasebo. (34,35)
B. Injeksi Interferon Intralesi dan Interferon Topikal
Interferon yang memiliki efek antivirus luas diproduksi sebagai respons
imun pada infeksi virus. Selain digunakan sebagai agen injeksi intralesi, interferon
juga digunakan dalam sediaan topikal. Keduanya memiliki efektivitas superior
dibandingkan

plasebo

dalam

mengeliminasi

lesi

kondiloma

akuminata.

Penggunaannya secara sistemik tidak dianjurkan baik sebagai terapi primer


maupun tambahan dalam tatalaksana kondiloma akuminata. (34,35,37,36)

14

Dosis injeksi interferon intralesi adalah 1-2 juta UI. Dapat diulang setiap
hari dengan dosis maksimal 5 juta U/pasien. Jumlah lesi kondiloma akuminata
maksimum yang mendapat injeksi pada satu sesi terapi adalah 5 lesi. Efek
samping yang dapat dijumpai berupa demam, mialgia, nyeri kepala, lelah dan
leukopenia. (37) Penggunaannya secara topikal dapat diaplikasikan 1x/hari, selama
4 minggu. Penggunaan interferon topikal kerap menjadi terapi tambahan
modalitas terapi yang lain. (37,36)
C. Bedah
Terapi bedah secara langsung, baik eksisi maupun ablasi lesi kondiloma
akuminata, merupakan pilihan pertama lesi kondiloma akuminata yang besar dan
lesi yang menyebabkan obstruksi. Tindakan ini dapat dilakukan pada berbagai
lokasi lesi. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan tindakan ini adalah
anestesi dan kontrol infeksi. Anestesi yang digunakan dapat berupa anestesi
umum, lokal infiltrasi, maupun tumesen, bergantung kebutuhan pasien, ukuran
dan luas distribusi lesi. Lesi umumnya hanya sampai ke bagian atas dermis,
sehingga tindakan hendaknya tidak lebih dalam dari lapisan ini. (35,38)
1. Bedah Eksisi
Bedah eksisi, baik menggunakan skalpel, gunting dan kuretase, secara
langsung, mampu menghilangkan lesi kondiloma akuminata.
Tindakan ini

dapat

dikombinasi

(34,29)

dengan elektrokauter untuk

hemostasis dan sebagai modalitas terapi penyerta. Anatomi area


sekitar lesi yang akan diterapi harus dikuasai dengan baik. Hindari
trauma pada otot sfingter. Apabila tindakan perlu bertahap, interval
antar tindakan yang direkomendasikan berkisar 1-3 bulan.

(37)

Keuntungan tindakan ini adalah hasil terapi dapat dilihat segera pasca
terapi dan jumlah kunjungan yang lebih sedikit bahkan pada beberapa
kasus dapat dilakukan dalam 1 sesi. Efek samping berupa nyeri,
jaringan parut dan perdarahan. (29)
2. Bedah Listrik
Tindakan ini dapat digunakan untuk lesi kondiloma akuminata
eksternal, maupun internal. Operator hendaknya menguasai anatomi
dan mengontrol kedalaman kauterisasi. Hal ini penting untuk
mencegah terjadinya jaringan parut dan cedera sfingter. Targetnya

15

adalah luka baar derajat 1-2. Luka bakar sirkumferensial pada area
perianal, hendaknya dihindari untuk menghindari stenosis ani.
Komplikasi yang dapat terjadinya berupa nyeri, iritasi lokal, infeksi,
hipopigmentasi pasca-inflamasi dan skar. (29,34)
3. Bedah Beku
Bedah beku menggunakan N2 cair, CO2 padat, cryoprobe untuk
membekukan kandungan air pada jaringan dan menginduksi
terjadinya lisis sel. Target pada aplikasi terapi adalah terbentuknya
halo beberapa mm di sekitar lesi. Terapi dikatakan berhasil bila timbul
lepuh dalam beberapa hari, dengan proses inflamasi pada area lesi dan
perilesi, lepasnya lesi dan diikuti fase penyembuhan. Sesi terapi
selanjutnya dapat dilakukan dalam interval waktu 1-2 minggu. Efek
samping dapat berupa nyeri, infeksi, ulserasi, hipopigmentasi pasca
inflamasi dan skar. (34,37)
4. Laser CO2
Bedah laser secara ablatif menyebabkan vaporisasi lesi kondiloma
akuminata yang akan menyebabkan destruksi jaringan. Teknik ini
cukup efektif mengatasi lesi kondiloma akuminatayang berukuran
besar. Asap yang timbul pada saat terapi dapat mengandung partikel
virus. Operator hendaknya menggunakan masker dan penghisap asap
yang adekuat untuk proteksi diri terhadap infeksi HPV respiratorik.
Komplikasi yang timbul dapat berupa nyeri, gatal, bengkak dan skar.
Tindakan ini dapat dilakukan pada anak dan wanita dengan kehamilan.
(29,37)

D. Terapi lain dengan bukti sahih terbatas


Terapi lain berupa injeksi Bleomisin intralesi, Kantaridin topikal, 5Fluorouracyl (5-FU) topikal dan injeksi intralesi 5-FU, cidofovir topikal,
tretinoin oral dan terapi topikal 5-aminolaevulinic acid 20% photodynamic
therapy (ALA-PDT) penelitiannya masih sangat terbatas dan sebagian
berupa laporan kasus anekdotal. Regimen tersebut belum mendapatkan
persetujuan FDA sebagai agen standar yang digunakan dalam terapi
kondiloma akuminata. (34,35,37)
2.2

Kondiloma Akuminata pada Kehamilan

16

Lesi kondiloma akuminata mengalami perburukan/ progresivitas pada


kehamilan. Faktor yang mendasari progresivitas ini adalah efek hormon selama
kehamilan, peningkatan aliran darah dan penurunan respons imun secara umum.
(35,39)

Pasca kehamilan, lesi kondiloma akuminata umumnya akan mengalami

mengalami regresi. Lesi kondiloma akuminata dapat menghambat vagina


meregang optimal dan kerap menyebabkan laserasi pada persalinan. Terapi
kondiloma akuminata perlu dilakukan selama kehamilan adalah : BCA/TCA,
bedah beku, eksisi dan laser. Namun, persalinan seksio sesarea dapat
dipertimbangkan untuk mengurangi resiko transmisi vertikal melalui jalan lahir,
menurunkan resiko kejadian papilomatosis laring onset juvenilis pada bayi.

(40)

Papilomatosis laring onset juvenilis pertama kali dilaporkan oleh Hajek pada
1956. Penyakit ini merupakan penyakit terkait infeksi HPV tipe resiko rendah
yang jarang (resiko kejadian <0,04%) namun memiliki morbiditas yang tinggi. (41)
Infeksi HPV selama kehamilan sering dikaitkan dengan kejadian transmisi
vertikal. Secara umum, transmisi vertikal merupakan terminologi yang
menggambarkan transfer virus dari orang tua kepada bayi. Dari ibu hal ini dapat
terjadi : selama kehamilan melalui plasenta, selama persalinan melalui jalan lahir
yang terinfeksi HPV dan setelah kelahiran melalui air susu ibu (ASI). Pada infeksi
HPV dan pada sperma laki-laki. (40) Penelitian mengenai transmisi vertikal HPV
masih sangat terbatas, penelitian yang ada lebih banyak terfokus pada infeksi
genitalia HPV. Transmisi vertikal HPV perinatal terjadi, namun angka kejadiannya
kecil. (41)
Infeksi HPV tidak menyebabkan viremia dan virus ini tidak ditransmisikan
melalui ASI.

(40)

Namun, penelitian Wolff, dkk menemukan deteksi DNA HPV

pada 10 (4%) dari 223 sampel ASI pada 3 hari pasca partum pada wanita dengan
infeksi HPV anogenital yang baru melahirkan. Pada penelitian ini, 9 dari 10
sampel tersebut mengandung HPV tipe 16 (resiko tinggi). Pada HPV umumnya
tidak terjadi viremia, peneliti berpendapat HPV pada ASI merupakan transmisi
retrograde manner dari jaringan pada nipel dan areola. Hal ini dipikirkan
menyebabkan transmisi horizontal HPV dari ibu kepada anak.
2.3

Papillomatosis Laring

17

Papilomatosis laring merupakan tumor jinak pada laring yang jarang terjadi.
(42,43)

Virus sebagai etiologi papilomatosis laring pertama kali dibuktikan oleh

Ullman pada tahun 1923 dan human papilloma virus (HPV) dideteksi pada tumor
ini pada tahun 1982. (44) Human papilloma virus tipe 6 dan 11 merupakan virus
yang paling sering ditemukan pada papilomatosis laring. (44,45) Pada anak, kejadian
papillomatosis laring hampir sama di antara laki-laki dan perempuan. Pada
dewasa, kejadian ini lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan.
(44,46)

Diagnosis papilomatosis laring ditegakkan berdasarkan anamnesis,

pemeriksaan fisik THT lengkap meliputi laringoskopi indirek dengan kaca laring,
laringoskopi kaku dan serat optik, pemeriksaan mikrolaringoskopi dan biopsi. (47)
Terapi papilomatosis laring berupa terapi operasi dengan teknik mikrola
ringoskopi-ekstirpasi dan laser serta terapi adjuvan.

(48)

Papilomatosis laring

memiliki tingkat rekurensi yang tinggi, yaitu sekitar 70%. (49)


Kejadian papilomatosis laring pada anak dapat terjadi akibat transmisi HPV
pada saat kelahiran. Risiko transmisi infeksi HPV dari ibu ke anak diperkirakan
berkisar antara 1:80 hingga 1:500. Risiko ini meningkat pada anak pertama yang
lahir per vaginam pada ibu usia muda yang menderita infeksi HPV genital.

(48,50)

Shah dan Kashima (48) menemukan satu dari 109 kasus papilomatosis laring pada
anak yang lahir dengan operasi Caesar. Pada kasus papilomatosis laring neonatal,
perkembangan penyakit mungkin telah terjadi saat di dalam kandungan.

(48)

Papilomatosis laring pada dewasa dapat terjadi akibat penularan HPV secara
seksual dengan banyak pasangan dalam jangka waktu yang lama dan kontak
orogenital. Namun, papilomatosis laring pada dewasa mungkin telah terjadi pada
usia remaja yang bersifat laten dan teraktivasi bila imunitas tubuh menurun. (44,45)
Papilomatosis laring memiliki manifestasi klinis berupa suara serak yang
progresif, stridor dan distres respirasi. (44) Kebanyakan pasien terutama pada anak
datang dengan obstruksi jalan nafas dan sering salah diagnosis sebagai asma,
bronkitis kronis atau laringotrakeobronkitis.
oleh Poenaru M, et al

(52)

(51)

Dari penelitian yang dilakukan

gambaran klinis yang sering ditemukan pada

papilomatosis laring adalah suara serak (95,65%), sensasi mengganjal di


tenggorok (78,26%), batuk kronis (65,21%), stridor (56,52%) dan dispnea
(47,82%). Penyebaran papilomatosis laring ke ekstralaring diidentifikasi pada 13-

18

30% anak dan 16% dewasa. Lokasi ekstralaring yang paling sering
adalahkavitasoris, trakea dan bronkus.

(44)

Kejadian papilomatosis paru adalah

jarang, tetapi jika terjadi dapat menimbulkan komplikasi yang berat seperti
perdarahan dan pembentukan abses.

(48,53)

Papilomatosis laring pada dewasa

biasanya tidak bersifat agresif dibandingkan pada anak.

(48)

Angka remisi pada

papilomatosis laring tipe dewasa sulit diperkirakan. Papilomatosis tipe ini dapat
tumbuh cepat dan berbahaya terhadap jalan nafas jika terjadi perubahan hormon,
seperti pada kehamilan. (48)
PENATALAKSANAAN
Tatalaksana papiloma laring,mempunyai prinsip sama yaitu mengangkat
papiloma laring dan menghindari rekurensi. Umumnya terapi dapat dikategorikan
sebagai berikut :
a. Bedah
Terapi bedah harus berdasarkan prinsip pemeliharaan jaringan normal untuk
mencegah penyulit seperti stenosis laring. Prosedur bedah ditujukan untuk
menghilangkan papiloma dan/atau memperbaiki dan mempertahankan jalan
napas. Beberapa teknik yang digunakan antara lain: trakeostomi, laringofissura,
mikrolaringoskopi langsung, mikrolaringoskopi dan ekstirpasi dengan forseps,
mikrokauter, mikrolaringoskopi dengan diatermi, mikrolaringoskopi dengan
ultrasonografi, cyosurgery, carbondioxide laser surgery.17,18 Pada kasus papiloma
laring yang berulang, terapi bedah pilihan adalah pengangkatan tumor dengan
laserCO2.
b. Medikamentosa
Pemberian obat (medikamentosa) pernah dilaporkan baik digunakan secara
sendiri maupun bersama-sama dengan tindakan bedah. Obat yang digunakan
antara lain antivirus, hormon (dietilstilbestrol), steroid, dan podofilin topikal.
Terapi medikamentosa ini tidak terlalu bermanfaat.(18-20)
c. Imunologis

19

Terapi imunologi untuk papiloma laring umumnya hanya suportif menggu


nakan interferon.(18)
d. Terapi Fotodinamik
Terapi ini merupakan satu dari perangkat terbaru dalam tatalaksana
papilomatosis laring rekuren.14 Terapi ini menggunakan dihematoporphyrin ether
(DHE) yang tadinya dikembangkan untuk terapi kanker. Jika diaktivasi dengan
cahaya dengan panjang gelombang yang sesuai (630 nm), DHE menghasilkan
agen sitotoksik yang secara selektif menghancurkan sel-sel yang mengandung
substansi tersebut. Basheda dkk. melaporkan bahwa terapi fotodinamik efektif
menghilangkan

lesi

endobronkial,

tetapi

tidak

untuk

lesi

parenkim.

KOMPLIKASI
Pada umumnya papiloma laring pada anak dapat sembuh spontan ketika
pubertas; tetapi dapat meluas ke trakea, bronkus, dan paru, diduga akibat tindakan
trakeostomi, ekstirpasi yang tidak sempurna.(13) Meskipun jarang, radiasi diduga
menjadi faktor yang mengubah papiloma laring menjadi ganas.

PROGNOSIS
Prognosis papiloma laring umumnya baik. Angka rekurensi (berulang) dapat
mencapai 40%. Sampai saat ini belum diketahui secara pasti faktor-faktor yang
mempengaruhi rekurensi pada papiloma.16 Diagnosis dini dan penanganan yang
tepat diduga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap rekurensi. Penyebab
kematian biasanya karena penyebaran ke paru.

BAB III
LAPORAN KASUS
3.1 Identitas Pasien
Nama : Ny. Ely Ernawati

20

Umur : 24 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
No CM : 0-60-73-45
Pekerjaan: Ibu Rumah Tangga
Alamat : Sabang
Status : Menikah
3.2 Anamnesis
a. Keluhan Utama
Keluar-keluar air sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit.
b. Keluhan Tambahan
Benjolan di kemaluan sejak 8 bulan yang lalu.
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mengaku hamil 9 bulan, HPHT lupa. ANC di dokter kandungan 4
kali mulai usia kandungan 5 minggu, USG terakhir usia kandungan 8
bulan dan kondisi janin baik. Pasien mengeluhkan adanya benjolan di
kemaluan sejak usia kehamilan 8 bulan. Pada awal kehamilan tidak ada
benjolan. Keluar-keluar air (+) sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit,
keluar lendir darah (+), mules-mules (+), gerakan janin aktif dirasakan,
riwayat keputihan (+) gatal dan berbau. Gigi berlubang (+), nyeri
berkemih (-)
d. Riwayat Penyakit Dahulu
Disangkal
e. Riwayat Penyakit Keluarga
Ibu kandung pasien menderita hipertensi,
f. Riwayat Penggunaan Obat
Pasien pernah berobat ke dokter spesialis kulit dan kelamin, namun tidak
diberikan terapi apapun.
g. Riwayat Kebiasaan Sosial Ekonomi, Kejiwaan dan Kebiasaan :
Riwayat Menstruasi : menarche usia 14 tahun, teratur, lama 7 hari, 2-3 kali
Ganti pembalut, dismenore (+).
Riwayat Menikah : 1x, usia 23 tahun.
Riwayat Persalinan : Gravida 1 (Kehamilan saat ini)
Riwayat Pemakaian KB : disangkal

21

Riwayat Sosial Ekonomi : Istri bekerja sebagai ibu rumah tangga


Suami bekerja sebagai pedagang
3.3

Pemeriksaan Fisik

3.3.1 Status Generalisata


Kesadaran

: Compos Mentis

Keadaan umum : Baik

Tekanan Darah : 130/80 mmHg

Nadi

: 84 x/menit

Pernafasan

: 19 x/menit

Suhu

: 36,6 0C

Tinggi Badan

: 152 cm

Berat Badan

: 58 kg

Konjungtiva

: anemis (-/-)

Sklera

: ikterik (-/-)

Cor/Pulmo

: dbn

Ekstremitas

: edema (-)

Genitalia

: tampak massa bertangkai ukuran 1x1 cm, 05x0,5 cm


Warna seperti kulit

3.3.2 Status Obstetrik


TFU

: 32 cm

TBJ

: 3100 gram

Letak Janin : punggung kanan


His

: negatif

Kepala : 5/5
3.3.3 Pemeriksaan Dalam
I : Vulva/Uretra tenang, tampak benjolan di daerah labia mayora dan labia minor
serta di bagian perineum, tidak berdarah.
Io : Flour albus (+), fluksus (-), valsava (+), lakmus (+), LEA (-)
VT : Portio kenyal, posterior T-3 cm, pembukaan 1 cm, kepala Hodge 1, ketuban
negatif
3.3.4 Pemeriksaan Panggul
Pintu Atas Panggul
Promontorium

: tidak teraba

Linea Inominata

: Teraba 1/3 1/3

Bidang Tengah Panggul


Sakrum

: Konkaf

Spina Ishiadika

: Tidak menonjol

Dinding samping

: lurus

Pintu Bawah Panggul

22

Arkus Pubis
Kesan Panggul

: >900
: Cukup luas

3.3.5 Laboratorium
Tanggal : 03/10/2014
Jenis Pemeriksaan
Darah Rutin
Hemoglobin
Hematokrit
Eritrosit
Leukosit
Trombosit
Hitung Jenis
Eosinofil
Basofil
Netrofil Segmen
Limfosit
Monosit
Faal Hemostasis
Waktu Perdarahan
Waktu Pembekuan
Imunoserologi
Hepatitis
HbsAg
Kimia Klinik
Elektrolit
Natrium (Na)
Kalium (K)
Klorida (Cl)
Diabetes
Glukosa Darah Sewaktu
Ginjal-Hipertensi
Ureum
Kreatinin

Hasil
11,3 g/dL
36 %
4,5 . 106/mm3
11,6 . 103/mm3
264 . 103 U/L

12,0-15,0
37-47
4,2-5,4
4,5-10,5
150-450

1%
0
77 %
17 %
5%

0-6
0-2
50-70
20-40
2-8

2 Menit
7 Menit

1-7
5-15

Negatif
Negatif

140 mmol/L
4,1 mmol/L
109 mmol/L

135-145
3,5-4,5
90-110

86 mg/dL

<200

10 mg/dL
0,60 mg/dL

13-43
0,51-0,95

3.3.6 Ultrasonografi
Janin Presentasi Kepala Tunggal Hidup
BPD : 95

Pukul : 14.00
Nilai Rujukan

FL : 73

23

AC : 320

ICA : 4

EFW : 3.250 gram

Plasenta implantasi di korpus anterior

DJJ : positif

Lilitan tali pusat : tidak ada

Kesan : Hamil aterm


3.3.7 Kardiotokografi
BHR : 120-150 bpm
Akselerasi : (+)
Deselerasi : (-)
Variabilitas : 10-20 bpm
Kesimpulan : Reaktif
3.4 Diagnosis
G1P0A0 24 tahun hamil 40-41 minggu belum inpartu + kondiloma
akuminata, janin presentasi kepala tunggal hidup.
3.5 Rencana Penatalaksanaan
1. Hemodinamik Ibu dan Janin Stabil

Observasi tanda-tanda vital, his, DJJ/jam


Observasi tanda kompresi tali pusat
Observasi tanda infeksi intrauterine

2. Penegakkan Diagnosis

Cek darah rutin, KGDS, PT/aPTT


Ultrasonografi
Kardiotokografi

3. Terminasi Kehamilan

Rencana terminasi perabdominal (SC Cito)


SIO
Konsul anestesi
Konsul Perinatologi

3.6 Laporan Operasi Seksio Sesarea


1. Penderita dibaringkan terlentang di atas meja operasi
2. Dalam general anestesia dilakukan tindakan a dan antisepsis pada daerah
abdomen dan sekitarnya, kemudian ditutup dengan doek steril kecuali
lapangan operasi.

24

3. Dilakukan insisi linea mediana inferior, insisi diperdalam lapis demi lapis
sampai fascia.
4. Fascia dijepit dengan dua kocher, diperlebar ke atas dan ke bawah.
5. Otot disisihkan secara tumpul ke lateral.
6. Identifikasi peritoneum, dijepit dengan dua pinset, setelah yakin usus tidak
ikut terjepit dibawahnya, digunting kecil dan diperlebar ke atas dan ke
bawah.
7. Setelah peritoneum dibuka tampak uterus gravidarum. Identifikasi plika
vesikouterina, digunting kecil dan diperlebar ke kanan dan ke kiri, vesika
urinaria disisihkan ke bawah dan dilindungi dengan haak abdomen.
8. Identifikasi segmen bawah rahim, diinsisi semilunar, insisi diperdalam dan
ditembus secara tumpul dengan jari, keluar cairan putih keruh 200 cc.
9. Identifikasi bayi letak kepala, dilahirkan dengan cara meluksir kepala.
10. Pukul 16.00 lahir bayi perempuan, BBL 3400 gram, PBL 49 cm, AS 8/9.
11. Sementara jalan napas dibersihkan, tali pusat diklem di dua tempat
kemudian digunting di antaranya, selanjutnya bayi diserahkan kepada
sejawat neonatus untuk penanganan selanjutnya.
12. Luka segmen bawah rahim dijepit dengan beberapa ringtang, identifikasi
plasenta implantasi di korpus anterior, plasenta dilahirkan dengan tarikan
ringan pada tali pusat.
13. Kavum uteri dibersihkan dari sisa selaput dan bekuan darah.
14. Luka SBR dijahit jelujur dua lapis. Kontrol perdarahan (-).
15. Eksplorasi uterus bentuk normal, kedua tuba dan ovarium baik.
16. Kavum abdomen dibersihkan dari sisa darah dan bekuan darah.
17. Peritoneum dijahit secara jelujur dengan plain catgut, otot dijahit secara
simpul dengan plain catgut, fascia dijahir secara jelujur dengan dexon
no.1, lemak dijahit secara simpul dengan plain catgut, kulit dijahit sub
kutikuler dengan chromic catgut.
18. Luka operasi ditutup dengan op site.
19. Jalan lahir dibersihkan.
20. Tindakan selesai.
3.7 Keadaan Pasien Post Operasi Seksio Sesarea
Kesadaran : Compos mentis

TD : 140/70 mmHg

N : 92 x/menit

RR : 20 x/ menit

T : 36,80C

Perdarahan : 500 cc

Diuresis : 200 cc
Instruksi Post Operasi
1. Observasi tanda-tanda vital, kontraksi uterus dan perdarahan

25

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Puasa sampai peristaltik usus normal


Infus Ringer Laktat : Dekstrose 5% 2 : 2 30 gtt/menit
Antibiotik : Ceftriaxone 2 gram/24 jam (IV)
Metronidazole 2 x 0,5 gram drip (IV)
Oksitosin 3 x 1 amp (IV)
Vitamin C 1 x 1 amp (IV)
Kaltrofen Supp 1 x II (Per rektal)
Cek Hb post operasi, bila Hb < 10 gr/dL Transfusi darah

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Pembahasan
Dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, pasien saat
masuk rumah sakit didiagnosis dengan G1P0A0, usia 24 tahun hamil 9 bulan
belum inpartu + kondiloma akuminata ; janin presentasi kepala tunggal hidup,
letak kepala H1.
Diagnosis kondiloma akuminata pada kasus ini ditegakkan dari anamnesis
bahwa pasien merasakan adanya benjolan pada kemaluan sejak awal kehamilan,
serta pada pemeriksaan fisik ditemukan beberapa massa bertangkai dengan ukuran
1x1 cm, 1x1 cm, 0,5 x 0,5 cm, warna seperti kulit pada komisura posterior.
Kepustakaan menyebutkan bahwa diagnosis suatu kondiloma akuminata
umumnya dapat ditegakkan secara klinis. Kondiloma akuminata umumnya terjadi
pada area yang mudah mengalami trauma pada hubungan seksual. Pada wanita,

26

lesi paling sering terjadi pada fourchette/ komisura posterior, labia minora dan
labia mayora. Kutil umumnya bersifat eksofitik, rapuh, berwarna seperti daging
berkulit, dengan dasar yang luas atau terdapat tangkai. Bila vegetasi banyak dapat
menyerupai gambaran bunga kol. Bila terdapat keraguan, penggunaan asam asetat
yang dioleskan pada lesi dapat membantu diagnosis. Pada keadaan subklinis,
dapat dilakukan beberapa pemeriksaan penunjang diagnosis diantaranya
pemeriksaan sitologi, biopsi jaringan dan teknik hibridisasi DNA in situ.
Kolposkopi dilakukan untuk memeriksa kondiloma yang bersifat endofitik.
Pada kasus ini, diagnosis kondiloma akuminata sudah dapat ditegakkan
secara klinis dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik, tanpa perlu pemeriksaan
penunjang.
4.2

Penanganana yang Dilakukan terhadap Pasien


Setelah diagnosis kondiloma akuminata ditegakkan, pasien dikonsulkan ke

bagian kulit dan kelamin untuk mendapatkan advis penanganan terhadap


kondiloma akuminata. Pasien direncanakan untuk mendapatkan penanganan
lanjutan setelah masa nifas.
Dalam kepustakaan disebutkan bahwa kondiloma akuminata dapat
mengalami perbaikan dan regresi spontan setelah persalinan, sehingga tidak selalu
diperlukan penanganan khusus terhadap kondiloma akuminata tersebut. Apabila
perlu dapat diberikan obat topikal, serta pengangkatan melalui pembedahan.
Sebagian besar obat topikal adalah kontraindikasi untuk kehamilan, sehingga
pemakaian obat-obat topikal sedapat mungkin dihindari selama kehamilan. (54,13)
Sehubungan dengan metode persalinan, pasien direncanakan untuk seksio
sesarea secara elektif, tetapi dalam observasi pasien mengalami tanda-tanda
inpartu sehingga diputuskan untuk dilakukan seksio sesarea cito.
Keputusan seksio sesarea didasarkan pada dua alasan, yaitu :
1. Pasien adalah seorang primigravida dengan kemungkinan besar perlukaan
jalan lahir bila melalui persalinan per vaginam, sedangkan lokasi lesi
berada pada area yang sering mengalami perlukaan jalan lahir. Kondiloma
dapat mengalami perdarahan banyak bila mengalami trauma pada
persalinan, di lain pihak penyembuhan luka dapat terhambat karena
adanya kondiloma tersebut sehingga meningkatkan resiko infeksi.

27

2. Memperkecil Resiko Transmisi HPV pada Bayi


Kepustakaan menyebutkan bahwa persalinan pada pasien dengan
kondiloma akuminata dapat dilakukan per vaginam. Kontraindikasi
persalinan per vaginam pada pasien dengan kondiloma akuminata adalah
adanya kondiloma yang menghalangi jalan lahir atau yang kemungkinan
menyebabkan perdarahan banyak pada persalinan per vaginam. Seksio
sesarea tidak semata-mata ditujukan untuk mencegah penularan infeksi
pada bayi, karena resiko transmisi sebenarnya sangat jarang terjadi,
bahkan terdapat kemungkinan transmisi meskipun persalinan dilakukan
dengan seksio sesarea. Pilihan seksio sesarea harus didiskusikan dengan
pasien, mengingat seksio sesarea berhubungan dengan resiko lebih besar
dibandingkan persalinan per vaginam.
Keputusan seksio sesarea pada pasien ini cukup tepat sehubungan dengan
alasan-alasan yang telah dikemukakan.
Pasien dirawat sampai 4 hari pasca operasi dan dipulangkan dengan keadaan
baik, serta nasehat untuk pengobatan lanjutan kondiloma akuminata yang diderita.
BAB V
KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
Telah dilaporkan satu kasus primigravida dengan kondiloma akuminata
yang ditangani dengan seksio sesarea di Bagian/SMF Obstetri Ginekologi FK
Unsyiah/RSUD Zainal Abidin Banda Aceh.
Diagnosis kondiloma akuminata ditegakkan secara klinis, melalui anamne
sis dan pemeriksaan fisik.
Seksio sesarea dilakukan pertimbangan dua hal :
1. Pasien adalah seorang primigravida dengan kemungkinan besar perlukaan
jalan lahir bila melalui persalinan per vaginam, sedangkan lokasi lesi
berada pada area yang sering mengalami perlukaan jalan lahir. Kondiloma
dapat mengalami perdarahan banyak bila mengalami trauma pada
persalinan, di lain pihak penyembuhan luka dapat terhambat karena
adanya kondiloma tersebut sehingga meningkatkan resiko infeksi.
2. Memperkecil Resiko Transmisi HPV pada Bayi

28

Pasien dirawat sampai 4 hari pasca operasi dan dipulangkan dengan keadaan
baik, serta nasehat untuk pengobatan lanjutan kondiloma akuminata yang diderita.

DAFTAR PUSTAKA
1. Lacey C, Woodhall S, Wikstorm A, Ross J. 2012 European Guideline for the
Management of Anogenital Warts. J Eur Acad Dermatol Venereol. 2013
March; 27(3).
2. HIV BAfSHa. United Kingdom National Guideline on the Management of
Anogenital Warts. In Clinical Effectiveness Group; 2007; United Kingdom.
3. Guidelines STDT. Morbidity and Mortality Weekly Report. Weekly. United
Kingdom:, Dermatology in General Medicine; 2010.
4. Murtiastutik D, Barakbah J, Lumintang H, Martodiharjo S. Infeksi Menular
Seksual : Kondiloma Akuminata Surabaya: Fakultas Kedokteran Universitas
Airlangga; 2008.
5. Winer R, Koutsky L. Genital Human Papilloma Virus Infection. Sexually
Transmitted Disease. 2010;: p. 489-508.
6. Faharuddin A, Adriani A, Tabri F. Penyakit Menular Seksual : Kondiloma
Akuminata Makassar: Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas
Kedokteran Universitas Hasanuddin; 2014.
7. Zubier F. Infeksi Menular Seksual : Kondiloma Akuminata. 4th ed. Fahmi S,

29

Indriatmi D, editors. Jakarta: Balai Pustaka FK UI; 2008.


8. Habif T. Clinical Dermatology a Colour Guide to Diagnosis and Therapy. 4th
ed. Edinburgh: Mosby; 2014.
9. Androphy E, Lowy D. Warts. In Fitzpatrick's Dermatology in General
Medicine. 7th ed. Wolff K, Goldsmith L, Katz S, Gilchrest B, Paller A, Leffel
D, editors. New York: Mc Graw Hill; 2008.
10. Wolff K, Johnson R. Fitzpatrick's Colour Atlas and Synopsis of Clinical
Dermatology. 6th ed. New York: Mc Graw Hill; 2009.
11. David C, Hookworm G, Daniel C. Intraurethral Fluorouracil and Lidocaine
for Intraurethral Condiloma acuminata. Am J Health-Syst Pharm. 2008; 65: p.
1830-1833.
12. Sweer R, Minkoff H. Maternal Infections, HIV and Sexually Transmitted
Disease in Pregnancy In Clinical Obstetrics the Fetus & Mother Reece E,
Hobbin J, editors. Massachuccets: Blackwell Publishing; 2007.
13. Cunningham F, Leveno K, Bloom S. Sexually Transmitted Diseases. In :
Williams Obstetrics. 23rd ed. United States : McGraw Hill Companies,Inc.
14. Higgins R, Che L. Condyloma Acuminatum. E-Medicine. 2010.
15. Koutsky L, Kiviat N. Genital Human Papilloma Virus. 3rd ed. New York:
McGraw Hill; 2012.
16. Marshall S, Runge M, Andrew M. Sexually Transmitted Infections:
Condyloma Acuminata. Netter Medicine. 2011.
17. Moscicki A, Hils N, Shiboski S. Risk for Incident Human Papilloma Virus
Infection and Low Grade Squamos Intraepithelial Lesion Development in
Young Females. J Am Med Assc. 2011; 23: p. 285.
18. Clinic M. Genital Warts. Mayo Clinic. 2013.
19. Munoz N, Bosch G, Sanjose S. Epidemiologic Classification of Human
Papilloma Virus Types Associated with Cervical Cancer. New England J Med.
2013; 348: p. 518-527.
20. Amo J, Gonzalez B, Losana K. Sex Workers : Influence of Age and
Geographical Origin in the Prevalence of High Risk Human Papillomavirus in
Migrant Female Sex Workers in Spain. Sex Transm Infect. 2013; 81: p. 25-37.
21. Gilson R, Mindel A. Recent Advances : Sexually Transmitted Infections.
British Med J. 2011; 320: p. 1160-1164.
22. Karl R. External Genital Warts : Report of the American Medical Association
Consesus Conference. United Kingdom: American Medical Association,

30

Medical; 2013.
23. Bunker B, Christopher T. Diseases and Disorders of the Male Genitalial. In
Medicine FDiG.. New York: McGraw Hill; 2008. p. 663-664.
24. Eassa B, Bakr A. Intradermal Injection of PPD as a Novel Approach of
Immunotherapy in Anogenital Warts in Pregnant Women. Dermatologic
Therapy. 2011; 24: p. 137-143.
25. Kirnbauer R, Lenz P, Okun M. Human Papillomavirus. Dermatology. 2008;:
p. 1183-1197.
26. Clarke P, Oriel J, Sonnex D. Natural History of Genital Warts. Health
Protection Agency. 2012.
27. Penney N. Condyloma Acuminata What is in a Name ? J Am Acad Dermatol.
2010; 63.
28. Wilson J. Treatment of Genital Warts : What is the Evidence? International
Journal Sexual Transmitted Disease AIDS. 2014; 15: p. 357-364.
29. Maw R. Critical Appraisal of Commonly Used Treatment for Genital Warts.
International Journal Sexual Transmitted Diseases AIDS. 2014; 13.
30. Winer R, Kiviat N, Hughes J, Adam D, Lee S, Kuypers J. Development and
Duration of Human Papilloma Virus Lesions, after initial Injection. J Infect
Dis. 2013; 191(5): p. 731-738.
31. Winner L, Koutsky L. Genital Human Papilloma Virus in Sexually
Transmitted Diseases. Sexually Transmitted Diseases. 2010.
32. O Mahony C. Genital Warts : Current and Future Management Options. Am J
Clin Dermatol. 2013; 6(4): p. 239-243.
33. Prevention CfDCa. Sexually Transmitted Diseases treatment Guidelines
2010 : Genital Warts. Morb Mortal Weekly Rep. 2010; 59(12): p. 70-74.
34. Mayeaux E, Dunton C. Modern Management of External Genital Warts. J
Low Genit Tract Dis. 2008; 12(3): p. 185-192.
35. Wiley D, Douglas J, Beutner K, Cox T, Fife K, Moscicki A. External Genital
Warts : Diagnosis, Treatment and Prevention. Clin Infect Disease. 2012; 35: p.
210-224.
36. Buck H. Warts (genital). Clinical Evidence. 2007; 8: p. 1-20.
37. Chang G, Welton M. Human Papilloma Virus, Condiloma Acuminata and
Anal Neoplasia. Clin in Col Rec Sung. 2014; 17(4).
38. Gunter J. Genital and Perianal Warts : New Treatment Opportunities for

31

Human Papilloma Virus Infection. Am J Obstet Gynecol. 2013; 10: p. 3-11.


39. Nigam A, Mishra A. Condyloma Acuminatum : Atypical Presentation during
Pregnancy. International Journal Sexual Transmitted Diseases AIDS. 2011;
10: p. 52-58.
40. Cason J, Mant C. High Risk Mucosal Human Papilloma Virus Infection
during Infancy and Childhood. J Clin Viral. 2014; 32(2): p. 2-5.
41. Castelsague X, Drudis T. Human Papilloma Virus (HPV) Infection in
Pregnant Women and Mother to Child Transmission of Genital HPV
Genotypes : A Prospective Study in Spain. BMC Infect Dis. 2009; 9: p. 74.
42. Houtte E. The Prevalence of Laryngeal Pathology in a Treatment-seeking
Population with Dysphonia. Laryngoscope. 2010; 120: p. 306-311.
43. Agar N, Vallance N. Hoarseness : What is the Voice Trying to Tell you. Austr
Fam Phys. 2008; 37(4): p. 300-304.
44. Ridley R. Recurrent Respiratory Papillomatosis : Grand Rounds Presentation.
Otolaryngology. 2008; 17(2): p. 1-11.
45. Louw L, Claassen A. HPV Induced Reccurrent Laryngeal Papillomatosis :
Rational for Adjuvant Fatty Acid Therapy. Asia Pac J Clin Nutr. 2012; 16(2):
p. 187-193.
46. Roy S, Vivero R. Recurrent Respiratory Papillomatosis. ENT J. 2012; 87(1):
p. 18-19.
47. Bastian R. Benign Vocal Fold Mucosal Disorders. Cummings Otolaryngology
Head and Neck Surgery. 2013; 3.
48. Rebeiz E, Shapshay S. Benign Lesion of the Larinx. Head and Neck SurgeryOtolaryngology. 2011; 1: p. 617-626.
49. Pernas F. Benign Lesions
Otorrinolaringol. 2010 March.

on

Vocal

cords

causing

Hoarseness.

50. Stamataki S. Juvenille Reccurent Respiratory Papillomatosis : Still a Mystery


disease with difficulty Management. Head and Neck. 2007;: p. 155-162.
51. Zacharisen M, Conley S. Recurrent Respiratory Papillomatosis in Children.
Pediatrics. 2006; 118(5): p. 1925-1931.
52. Poenaru M. The Use of Combined Treatment with CO2 laser, Microsurgery
and interferon alpha 2B in Juvenile reccurent laryngeal papillomatosis. TMJ.
2010; 56(1): p. 48-54.
53. Anggunlu L, Erbas G. Recurrent Respiratory Papillomatosis with Lung
Involvement. Diagn Interv Radiol. 2009; 15: p. 93-95.

32

54. Ho T. Condyloma acuminata management guidelines. Dermatology and


Venerology Bulletin. 2011; 9(1): p. 36-37.