Anda di halaman 1dari 39

Harga Pokok Penjualan (Cost Of

Goods Sold) Basic


Sebagai pengantar pembahasan Harga Pokok Penjualan (Cost Of Goods Sold) kita akan mulai
dasar-dasarnya terlebih dahulu, gambaran umum mengenai Harga Pokok Penjualan. Dengan
pengetahuan dasar ini, saya berharap anda bisa memperoleh fundament yang cukup untuk
melangkah ke pembahasan dan kasus yang lebih berkembang. Sehingga di akhir serie nanti anda
bisa mendapatkan gambaran yang utuh dan penuh mengenai Harga Pokok Penjualan dan Harga
Pokok Produksi. Sehingga tidak akan pernah bingung lagi walau dibolak balik bagaimanapun juga
kasus-nya, berhadapan dengan jenis usaha apapun, dengan elemen cost yang bermacam-macam,
anda akan tetap bisa memperlakukannya dengan benar dan akurat.

Difinisi Dasar Harga Pokok Penjualan


Pada dasarnya Harga Pokok Penjualan (istilah yang dipakai IAI) adalah segala cost yang timbul
dalam rangka membuat suatu produk menjadi siap untuk dijual. Atau dengan kalimat lain, Harga
Pokok penjualan adalah cost yang terlibat dalam proses pembuatan barang atau yang bisa
dihubungkan langsung dengan proses yang membawa barang dagangan siap untuk dijual.

Struktur Harga Pokok Penjualan


Dengan difinisi di atas, dapat kita peroleh struktur dasar harga pokok penjualan. Harga pokok
Penjualan pada dasarnya terdiri dari dari 3 (tiga) element besar saja:
[-]. Persediaan (Inventory)
[-]. Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor Cost)
[-]. Overhead Cost

Persediaan
Untuk peruhaan dagang, elemen persediaan hanya terdiri dari Persediaan Barang Jadi saja, atau
yang dikenal dengan Inventory.
Sedangkan perusahaan manufaktur persediaannya terdiri dari:
[-]. Persediaan Bahan Baku (Raw Materials)
[-]. Persediaan Barang Dalam Proses (WIP = Work In Pocess)
[-]. Persediaan Barang Jadi (Inventory)
Elemen Persediaan yang dimaksudkan dalam hal ini adalah besarnya Persediaan Terjual. Dan
untuk mengetahui nilai persediaan yang terjual maka perlu mengetahui unsur-unsur dibawah ini
terlebih dahulu :
[-]. Persediaan Awal
[-]. Pembelian (Untuk perusahaan dagang)
[-]. Harga Pokok Produksi (Untuk perusahaan manufaktur)
[-]. Persediaan Akhir
[-]. Persediaan digunakan (IAI menyebutnya Barang Tersedia Untuk Dijual)
Persediaan Awal:
Adalah besarnya (nilai) persediaan yang sudah kita miliki sebelum proses di periode ini dimulai.
Artinya, persediaan tersebut telah ada sebelum aktivitas periode ini dimulai.

Page 1 of 39

Pembeliaan:
Jangan lupa yang kita akui adalah cost yang terjadi, sehingga besarnya nilai pembelian yang kita
akui hanya sebesar cost yang timbul saja, yang diwujudkan dengan Pengeluaran Kas (cash
disbursement) atau pengakuan Utang Dagang. Sehingga nilai pembelian yang kita akui adalah
sebesar nilai bersihnya (net purchase) saja. Hal ini perlu ditegaskan karena dalam praktek bisnis,
seringkali sebagai perusahaan sebagai pembeli, baik itu pembelian barang jadi (untuk perusahaan
dagang) maupun pembelian bahan baku (perusahaan manufaktur) memperoleh potongan harga
(discount), bisa juga terjadi pengembalian barang kepada pihak penjual (Return). Untuk memperoleh
nilai net purchase, maka kita perlu struktur menjadi:
[-]. Gross Purchase (biasa ditulis Purchase saja)
[-]. Discount
[-]. Return
[-]. Net Purchase

Persediaan Akhir:
Adalah besarnya persediaan yang kita bukukan sebagai persediaan diakhir periode.
Persediaan Digunakan/Terjual (Persediaaan Tersedia Untuk Dijual):
Adalah besarnya persediaan:
[-]. Barang dagangan yang terjual (untuk perusahaan dagang)
[-]. Besarnya Bahan Baku yang digunakan & barang dagangan yang terjual (untuk
perusahaan manufaktur).

Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor Cost)


Direct Labor Cost adalah upah yang dibayarkan kepada tenaga kerja yang langsung terlibat pada
proses pengolahan barang dagangan. Dikatakan Direct Labor Cost hanya jika besarnya upah yang
dibayarkan tergantung pada jumlah output product yang dihasilkan.
Yang termasuk ke dalam kelompok tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang dibayar
berdasarkan: Upah Satuan atau Upah Harian/Jam.
Dalam hal tenaga kerja dibayar dengan upah satuan, tentu dengan jelas bisa kita lihat bahwa upah
tenaga kerja tersebut dapat dibebankan langsung pada product yang dihasilkan.
Jika upah yang dibayarkan berdasarkan jumlah jam kerja, maka biasanya perusahaan telah
menentukan jumlah (satuan) yang harus dihasilkan untuk tengang waktu tertentu (per jam atau
perhari). Sehingga pada akhir perhitungan, dapat diketahui berapa direct labor cost yang akan di
bebankan untuk 1 satu unit product, dan total direct labor cost untuk akumulasi product yang
dihasilkan.
Pada perusahaan pedagang kecil (small wholesaler atau retailer), direct labor cost sulit untuk bisa di
alokasikan dengan semestinya. Sehingga Direct Labor Cost hanya bisa kita temukan pada
perusahaan-perusahaan manufaktur atau pertambangan.

Overhead Cost
Adalah cost yang timbul selain dari ketiga kedua elemen tersebut diatas, yang biasanya disebut
dengan indirect cost, jenisnya tentu saja bervariasi, tergantung jenis usaha, sekala usaha dan jenis
sumberdaya yang dipakai oleh perusahaan. Yang jamak kita temui pada usaha manufaktur atau
dagang adalah :
[-]. Sewa (Rental Cost)
[-]. Penyusutan Mesin & Peralatan (Depreciation on Machineries & Equipment)
[-]. Penyusutan Bangunan Pabrik (Factorys Building Depreciation)
[-]. Listrik, Air untuk pabrik (Factorys Utilities)

Page 2 of 39

[-]. Pemeliharaan Pabrik & mesin (Factory & Machineries Maintenance)


[-]. Pengemasan (Packaging/Bottling & labor cost-nya)
[-]. Gudang (Warehousing Cost)
[-]. Sample produksi (Pre-production sampling)
[-]. Ongkos kirim (Inbound & Outbound deliveries)
[-]. Container (Continer)

Siklus dan Alur Jurnal Harga Pokok Penjualan


Inventory
Inventory (yang tercantum di dalam neraca pada periode sebelumnya), akan menjadi persediaan
awal pada periode sekarang (current period). Jika persediaan tersebut terjual pada periode ini, maka
persediaan tersebut di biayakan (expensed) dan diakui sebagai Harga Pokok Penjualan.
Proses pembebanan inventory dilakukan pada saat barang terjual (diserahkan) dengan jurnal:
[Debit]. Harga Pokok Penjualan (Inventory terjual)
[Credit]. Inventory
Catatan: untuk membebankan inventory terjual ke dalam harga pokok penjualan, jurnal di atas:
Sisi debit akan menambah harga pokok penjualan pada laporan laba rugi
Sisi kredit akan mengurangi nilai inventory pada neraca di akhir periode nanti
Jurnal tersebut berpasangan dengan:
[Debit]. Kas (atau piutang)
[Credit]. Penjualan
Catatan: untuk mengakui penjualan dan piutang (penerimaan kas) di periode tersebut
Jika pada periode yang sama terjadi penambahan inventory akibat pembelian barang dagangan,
maka pembelian tersebut akan menambah nilai persediaan barang dagangan (inventory), atas
pembelian tersebut di jurnal dengan:
[Debit]. Inventory
[Credit]. Cash (atau Utang Dagang)
Catatan: Jurnal diatas:
Sisi debit akan menambah nilai inventory pada neraca
Sisi kredit akan mengurangi kas atau menambah utang dagang pada neraca
Selanjutnya jika sebagaian dari barang tersebut laku terjual maka bagian yang laku terjual tersebut
akan dibebankan ke dalam harga pokok penjualan seperti pada alur pertama tadi, dengan jurnal yang
sama (tentu saja dengan nilai yang sesuai)

Work In Process & Raw Material


Untuk perusahaan manufaktur, disamping persediaan barang jadi, juga terdapat persediaan barang
dalam proses (work in process) dan persediaan bahan baku.
Persediaan barang dalam proses & bahan baku pada neraca periode sebelumnya akan menjadi
persediaan awal pada periode berjalan. Jika terpakai dalam proses produksi periode berjalan maka
persediaan yang terpakai dibebankan ke dalam harga pokok penjualan dengan jurnal :
Untuk Bahan Baku:
[Debit]. Persediaan Barang Dalam Proses (WIP-Raw Material)
[Credit]. Persediaan Bahan Baku (Raw Material)

Page 3 of 39

Untuk Barang dalam proses:


[Debit]. Inventory
[Credit]. Persediaan Barang Dalam Proses

Jika terjadi pembelian bahan baku, maka nilai pembelian tersebut akan menambah persediaan bahan
baku pada neraca, atas pembelian bahan baku tersebut di jurnal:
[Debit]. Bahan Baku (Raw Material)
[Credit]. Cash (Utang Dagang)
Selanjutnya jika sebagian dari bahan baku yang dibeli tersebut dipakai, maka dilakukan penjurnalan
seperti saat pembebanan persediaan bahan baku ke dalam Persediaan Work In Process di atas.

Direct Labor Cost & Over Head Cost


Direct Labor Cost aiakumulasikan dengan Raw Material Usage dan Work In Process Usage akan
menghasilkan HARGA POKOK PRODUKSI, selanjutnya Harga Pokok Produksi dan Inventory akan
membentuk Harga Pokok Penjualan.

Perhitungan Dasar Harga Pokok Penjualan


Jika kita buatkan formulasi dasar maka perhitungan Harga Pokok Penjualan dapat dirumuskan
dengan:
HPP = Inventory Usage + Direct Labour Cost + Overhead Cost

Inventory Usage dapat kita turunkan menjadi :


Saldo Awal(+)Pembelian atau Penambahan()Saldo Akhir
Pembelian itu sendiri dapat kita turunkan menjadi:
Purchase atau invoice (-) Discount (-) Return

Format Pelaporan Harga Pokok Penjualan


Dengan Struktur, Alur dan perhitungan Harga Pokok Penjualan seperti di atas, maka format laporan
harga pokok penjualan dapat kita construct. Hanya saja, contoh bentuk laporan akan saya berikan
pada session berikutnya.

Page 4 of 39

HARGA POKOK PENJUALAN


(COGS) Usaha Dagang
(Trading)
Sekarang kita memasuki Harga Pokok Penjulana (COGS) untuk Usaha Dagang (Trading). Di
artikel ini akan dibahas mengenai alur, jurnal, perhitungan, dan pelaporan Harga Pokok Penjualan
(COGS). Inventory Valuation akan menjadi salah satu topic penting. Kajian perpajakan terkait dengan
COGS akan menjadi penutup artikel ini.
Seperti telah disebutkan pada artikel sebelumnya: Harga Pokok Penjualan (COGS) Basic, bahwa
untuk usah dagang (trading), entah itu wholesaler maupun retailer, perhitungan harga pokok
penjualannya lebih sederhana dibandingkan dengan usaha manufaktur (Industry), namun demikian
usaha dagang memiliki characteristic yang khas, antara lain :
[-]. Tidak menggunakan mesin produksi, oleh karenanya tidak akan ada depreciation cost atas mesin.
Mungkin ada depreciation cost atas peralatan. Misal : peralatan vacuum untuk packing.
[-]. Tidak ada Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor Cost), jikapun ada tenaga kerja yang terlibat
dalam membawa barang tersebut menjadi siap untuk dijual, cost-nya sulit untuk dialokasikan sebagai
Upah Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor Cost), oleh karenanya upah tenaga kerja seperti ini
biasanya dibebankan sebagai bagian dari Overhead Cost i.e.: Ongkos packing.
[-]. Cost perusahaan dagang siklusnya lebih pendek.
[-]. Menjadi masalah tersendiri bagi perusahaan dagang yang menjual barang yang relative sama
dalam jenis, ukuran dan kwalitas, oleh karenanya diperlukan penerapan methode tertentu untuk
menilai barang persediaannya (Inventory Valuation) yang tentunya juga akan berpengaruh langsung
terhadap pembebanan inventory cost-nya.

Struktur Harga Pokok Penjualan (COGS) Usaha Dagang


Harga Pokok Penjualan usaha dagang terdiri dari 2 kelompok besar yaitu: Persediaan Barang
(Inventory ) dan Overhead saja.
A. Inventory :
Adalah persediaan barang dagangan yang diperoleh dari sisa persediaan periode sebelumnya yang
dalam akuntansi kita sebut sebagai saldo awal persediaan (opening balance) ditambah dengan
pembelian pada periode yang sama, dikurangi dengan sisa persediaan di akhir periode (Saldo Akhir =
Closing Balance), itulah inventory Cost yang dibebankan sebagai Harga Pokok Penjualan.
Jika kita konstruksi,maka struktur lengkap inventory-nya akan seperti dibawah ini:
A.1. Opening Balance
A.2. Purchase:
A.2.a. Purchase
A.2.b. Freight In
A.2.c. Discount

Page 5 of 39

A.2.d. Return
A.3. Sales
A.4. Closing Balance

B. Overhead:
Elemen HPP (COGS) usaha dagang yang kedua adalah overhead, yaitu cost yang berpengaruh
secara tidak langsung terhadap harga pokok penjualan, berikut adalah overhead cost yang biasa
muncul pada usaha dagang:
B.1. Packing
B.2. Warehousing
B.3. Freight Out
Akumulasi semua element cost diatas itulah Total Harga Pokok Penjualan usaha dagang.
Detail dari masing-masing elemen di atas akan kita bahas pada sub-topic berikut ini.

Alur, Siklus Transaksi dan Jurnalnya


Seperti telah disampaikan sebelumnya bahwa elemen COGS perusahaan dagang terdiri dari
kelompok besar yaitu: Inventory dan Overhead Cost.
Alur dan siklus Transaksi Inventory Cost:
Setiap proses akuntansi yang terkait dengan Neraca selalu berawal dari: Neraca berupa saldo awal
(Opening Balance), dilanjutkan dengan Current Activities (Transaksi Debit [minus] Transaksi Credit),
yang pada akhirnya akan bermuara ke Neraca kembali berupa saldo akhir (Closing Balance).
Demikian halnya dengan Inventory, Inventory adalah bagian dari Neraca. Maka alur inventory juga
berawal dari saldo awal inventory, selanjutnya:
Jika terjadi pembelian barang dagangan, maka saldo inventory akan bertambah juga.
Jurnalnya:
[Debit]. Inventory Menambah saldo inventory di Neraca
[Credit]. Cash / Utang Mengurangi saldo Kas di Neraca
Dan jika terjadi penjualan barang dagangan , maka saldo inventory akan berkurang. Pada saat terjadi
penjualan inilah Inventory Cost diakui:
Jurnalnya:
[Debit]. Cost of Goods Sold Menambah Saldo COGS di Laba Rugi
[Credit]. Inventory Mengurangi saldo Inventory di Neraca
Catatan: COGS adalah cost yang akan menjadi faktor pengurang Laba, seperti kita ketahui Laba
adalah element Neraca. Berkurangnya inventory pada aktiva di seimbangkan oleh berkurangnya laba
pada pasiva. Sehingga Neraca akan tetap dalam kondisi balance.
Karena ini transaksi penjualan, maka penjualan diakui di saat yang sama
Jurnalnya:
[Debit]. Cash/Piutang Menambah Saldo Cash atau Piutang di Neraca

Page 6 of 39

[Credit]. Sales Menambah saldo penjualan di Laba Rugi


Catatan: Sales adalah revenue yang akan menjadi faktor penambah Laba, Laba adalah element
Neraca. Berkurangnya Cash/Piutang pada aktiva di seimbangkan oleh bertambahnya laba pada
pasiva.
Jika kita gambarkan dalam bentuk diagram, maka alur transaksi harga pokok penjualan akan menjadi
seperti dibawah ini:

Perhitungan COGS Usaha Dagang


Perhitungan Harga Pokok Penjualan usaha dagang sederhana saja :
HPP (COGS) = Inventory Cost + Overhead
Inventory Cost :
Opening Balance + Purchase - Closing Balance
Purchase:
Purchase + Freight In Discount - Return

Case:
UD. Sinar Kasih, pedagang kain di Pasar Tanah Abang , pada tanggal 01 Maret memiliki persediaan
kain dengan nilai Rp 1,000,000,- Selama bulan Maret UD. Sinar Kasih, untuk bisa melayani semua
pesanan dan penjualan, UD Sinar Kasih membeli kain dari Bandung senilai Rp 48,000,000 ditambah
ongkos kirim sebanyakRp 1,000,000. Selama bulan Maret UD Sinar kasih berhasil melakukan
penjualan sebesar Rp 65,000,000.pada tanggal 31 Maret UD. Sinar Kasih membayar Listrik Rp
350,000, PAM Rp 50,000, Sewa toko Rp 10,000,000, Gaji pegawai toko Rp 800,000 dan ongkos kirim
barang ke pelanggan sebesar Rp 500,000.Setelah dihitung fisik kainnya, diketahui saldo akhir
persediaan kain adalah Rp 300,000 saja.
Problems:
[1]. Berapa Harga Pokok Penjualan UD Sinar Kasih untuk periode Maret?
[2]. Berapa Laba Kotor UD. Sinar Kasih untuk Maret?

Page 7 of 39

Solving:
[1]. Harga Pokok Penjualan:
HPP = Inventory Cost + Overhead
Inventory Cost = Opening Balance + Purchase Closing Balance
Inventory Cost = 1,000,000 + (48,000,000+1,000,000) 300,000
Inventory Cost = 49,700,000
Overhead Cost :
Apakah listrik termasuk? Tidak karena berapapun jumlah transaksi biaya listrik tetap
Apakah PAM termasuk? Tidak
Sewa Toko termasuk? Tidak
Gaji pegawai toko termasuk? Tidak
Ongkos kirim kain ke pelanggan? Termasuk, Rp 500,000
Overhead Cost = Rp 500,000
Harga Pokok Penjualan = Rp 49,700,000 + 500,000 = Rp 50,200,000
[2]. Laba Kotor : Sales Harga Pokok Penjualan
Laba Kotor = Rp 65,000,000 50,200,000 = Rp 14,800,000,Mudah bukan?
Begitulah typically contoh kasus yang biasa kita jumpai, semudah itu.
Pernahkah berpikir: Darimana Saldo Akhir persediaan sebesar Rp 300,000 ribu di atas
diperoleh?. Ini kuncinya!

Inventory Valuation & Penentuan COGS


Menilai persediaan barang gampang-gampang susah.
Gampangnya?
Kalau barang tersebut sifatnya unique (berbeda antara barang yang satu dengan yang lainnya, dari:
harganya, ukuran, kwalitas, warna, unit price) tentu mudah untuk kita manage, apalagi jika barangnya
sedikit. Tinggal pasang sticker/hanging tag pada masing-masing barang (per batch), isi specification
& unit price di masing-masing sticker. Trus di akhir periode lakukan PHYSICAL COUNT. Bang !
dapat sudah. Itu namanya menggunakan PHYSICAL COUNT METHOD.
Susahnya?
Bagaimana jika barangnya tunggal, dan tidak unique, fisiknya semua sama, warna sama, bentuk
sama, ukuran sama, kwalitas juga sama atau relative sama, yang dijual barang itu-itu saja dari
periode ke periode, tetapi harga belinya variatif, beda-beda, harga jualpun beda-beda tentunya.
Bagaimana menghitungnya? Begaimana menentukan Inventory-nya, Bagaimana menentukan
Inventory Cost-nya?. Bukankah harga beli diketahui, seharusnya bisa menentukan berapa inventory
costnya. Tetapi kadang-kadang sisa barang 2 hari yang lalu harganya Rp 5/biji sebanyak 5 biji, trus
tadi beli sebanyak 10 biji harganya Rp 6, sementara tadi laku 11 biji. Trus harga pokoknya dihitung
berapa? Rp 5/biji atau Rp 6 per biji?.
Okay, kita punya 3 pilihan methode untuk menentukan Harga Pokok sekaligus nilai persediaan
di akhir periode nanti, yaitu:

Page 8 of 39

[1]. Average Method


[2]. FIFO Method
[3]. LIFO Method

Case:
UD. Cahaya Murni adalah toko yang menjual gula tebu. Pada tanggal 01 Maret diketahui Jumlah
persediaan sebanyak 100 Kg, dengan nilai Rp 300,000. Dan dari buku catatan nampak transaksi
seperti dibawah ini:

Jika kita summarize maka menjadi:

Problem:
Berapa Inventory Cost UD. Cahaya Murni di akhir periode Maret?
Berapa Nilai Persediaan UD. Cahaya Murni di akhir periode Maret?
Berapa Laba Kotor UD. Cahaya Murni jika tidak ada Overhead Cost?
Seperti saya sebutkan di atas, bahwa persediaan type ini dapat kita ukur hitung dengan
menggunakan 3 methode. Kita akan coba hitung dengan menggunakan masing-masing methode di
atas:

[1]. Metode Rata-rata (Average Method)


Harga Pokok (Inventory Cost) Barang yang terjual per unit-nya ditentukan dengan menjumlahkan
saldo awal dengan nilai pembelian, lalu dibagi dengan Quantity saldo akhir ditambah dengan Quantity
barang yang dibeli. Formulasinya:
HPP/Unit = (Rp Saldo awal + Rp Pembelian) : (Qty Saldo Awal + Qty pembelian)
Total HPP terjual = HPP/Unit x Qty terjual
Saldo Akhir = Saldo Awal + Pembelian - Penjualan
Pada contoh kasus di atas:
HPP/Unit penjualan 01-Mar:
HPP/Unit = (Rp 300,000+0) : (100+0)
HPP/Unit = Rp 300,000 : 100 = Rp 3,000,Total HPP terjual = Rp 3,000 x 40 = Rp 120,000

Page 9 of 39

Saldo Akhir = Rp 300,000 + 0 120,000 = Rp 180,000


Demikian setrusnya hingga akhir periode.
Jika saya teruskan semua transaksi maka tabelnya akan seperti dibawah ini:

Catatan : Perhatikan summary


COGS = Rp 396,565
Closing Balance = Rp 206,435
Kita uji dengan rumus:
Closing Balance = Opening Balance + Purchase - COGS
Closing Balance = 300,000 + 303,000 - 396,565
Closing Balance = Rp 206,435,-

[2]. FIFO Method


FIFO acronym dari First In First Out maksudnya, barang yang masuk duluanlah yang dijual terlebih
dahulu.
Transaksi 1 Maret:
Karena barang yang ada hanya saldo awal 100 kg, maka yang dijual sebanyak 40 kg menggunakan
unit cost saldo awalnya = 300,000 : 100 = Rp 3,000
Total HPP 1 Maret = Rp 3,000 x 40 kg = Rp 120,000
Closing Balance = Rp 300,000 120,000 = Rp 180,000
Transaksi 10 Mar:
Pembelian 30 kg seharga Rp 3,100/kg, total pembelian = Rp 93,000,Terjual 65 kg, menggunakan unit cost yang mana?
Karena tanggal 1 Mar sudah laku 40 kg, maka sisa barang yang menggunakan unit price sebelumnya
tinggal 60 kg, tidak cukup untuk menutup penjualan yang 65 kg, maka:
60 kg menggunakan unit price Rp 3,000
5 kg menggunakan unit price Rp 3,100
Total HPP 10 Maret:
60 x 3,000 = 180,000
5 x 3,100 = 15,500

Page 10 of 39

----------------------- (+)
Total HPP = 195,500,Jika dimasukkan ke dalam table maka akan menjadi seperti dibawah ini:

Catatan : Perhatikan juga summary


Jika mau uji, silahkan gunakan formula COGS seperti yang saya lakukan di average method.

[3]. LIFO Method


LIFO stand for Last In First Out. Maksudnya Barang yang masuk belakangan dijual terlebih
dahulu. Kedengarannya aneh. Memang aneh karena cara ini akan membuat HPP menjadi tidak
realistic. Pikirkan, cost yang dibebankan menggunakan cost dari pembelian terakhir, tanpa
memperhitungkan adanya kemungkinan barang yang terjual tercampur antara persediaan yang
menggunakan harga lama ditambah dengan barang baru dengan harga baru. Di negara luar
(misalnya USA) methode ini sangat tidak dianjurkan, bahkan dianggap praktek illegal, jikapun ada
yang mengguanakan methode ini, maka akan diawasi sangat ketat oleh pemerintahnya.
Ok, kita coba hitung dengan methode ini seperti apa hasilnya?
Transaksi tanggal 01 maret bisa kita ketahui hasilnya akan sama dengan methode yang lainnya, so
tidak perlu kita coba.
Langsung ke transaksi tanggal 10 Maret:
Saldo awal 60 kg dengan unit cost 3,000
Pembelian 30 kg seharga Rp 3,100/kg, total pembelian = Rp 93,000,Terjual 65 kg, menggunakan unit cost yang mana?
Sesuai konsepnya: Last In First Out, maka:
30 kg x Rp 3,100 = 93,000
35 kg x Rp 3,000 = 105,000
---------------------------- (+)
Total HPP = 198,000,-

Tabelnya menjadi seperti ini:

Page 11 of 39

Catatan: Perhatikan juga summary-nya

Kesimpulan :
Menggunakan masing-masing method di atas hasilnya (perhatikan summary di masing-masing tabel):
Opening Balance tetap sama :
Qty = 100 kg, Rp 300,000
Purchase tetap sama :
Qty = 95 kg, Rp 303,000
COGS quantity sama 135 kg, tapi value-nya berbeda:
Average = 396,565
FIFO = 393,000
LIFO = 398,000
Closing Balance, Qty sama 65 kg, tetapi value berbeda-beda:
Average = 206,435
FIFO = 210,000
LIFO = 205,000

Kajian Perpajakan
COGS atau Harga Pokok Penjualan adalah vital dalam perhitungan pajak, tinggi rendahnya PPh
sangat dipengaruhi oleh Harga Pokok Penjualan. Untuk nilai penjualan yang sama, semakin tinggi
Harga Pokok Penjualannya, maka semakin rendahlah labanya, sudah tentu pajaknya juga akan
makin rendah, and vice versa.
Hal-hal yang perlu diperhatikan:
[1]. Freight: freight adalah elemen COGS, pengakuan biaya freight harus sesuai.
[2]. Discount & Return atas pembelian :
Perhitungkanlah discount dengan semestinya. Lupa memperhitungkan discount akan mengakibatkan

Page 12 of 39

pembebanan COGS menjadi lebih besar dari yang seharusnya, jika tidak ketahuan oleh Ditjend
pajak, tentu itu bagus, artinya COGS lebih tinggi, artinya laba lebih rendah, pajak lebih rendah. Tetapi
jika ketahuan, maka ini akan menjadi koreksi saat pemeriksaan.

[3]. Metode Penentuan HPP & Inventory Valuation.


Jika kita perhatikan dari kesimpulan di atas, jelas bisa kita lihat bahwa menggunakan LIFO method
akan menghasilkan COGS paling tinggi. Mengapa? Karena trend harga pembelian terus
meningkat. Ingat konsep LIFO, unit cost yang dipakai sebagai dasar penghitung HPP adalah harga
pembelian yang the most recent (terkini?). Kita tahu di negara kita tercinta ini Inflasi cenderung
meningkat dari bulan ke bulan and tahun ke tahun. Kejadian harga turun adalah
langka. Menggunakan LIFO method akan menghasilkan PPh paling rendah!
COGS tertinggi berikutnya adalah Average Method, hampir mendekati LIFO, hanya saja value
yang diambil adalah nilai tengahnya.
FIFO, adalah yang paling rendah COGS-nya. Sekaligus yang paling realistic.
Apakah anda akan beralih ke LIFO?
Apapun methode yang anda gunakan boleh saja, sepanjang anda terapkan secara CONSITANT.
Apakah masih mau memakai LIFO? Untuk mengurangi PPh? Mau?.

Reveal this (anggap ini PR)!!!:


Menggunakan LIFO, disatu sisi COGS anda saat ini akan menjadi tinggi, so anggaplah PPH menjadi
lebih rendah dibandingkan 2 method lainnya. Ingat formula COGS?
COGS = Saldo Awal + Purchase Saldo Akhir
Saldo Akhir periode lalu adalah saldo awal periode sekarang, so.?
Saldo Akhir periode sekarang adalah saldo awal periode yang akan datang bukan?.
Jika COGS periode sekarang lebih tinggi, maka saldo akhir akan menjadi lebih rendah bukan?, then?
Artinya saldo awal periode yang akan datang menjadi lebih rendah dari yang seharusnya bukan?.
Untuk purchase yang sama, COGS yang sama, tetapi saldo awalnya lebih rendah dari yang
seharusnya, apakah yang akan terjadi?, COGS jadi lebih rendah juga!. So? COGS sekarang
memang lebih tinggi, tetapi tahun depan?. Lebih rendah dari yang seharusnya bukan? Bukan? Perlu
pengujian yang lebih jauh dan detail. Ada yang berminat untuk mengotak-atiknya selepas kerja?
Daripada nonton sinetron :P
Okay, kalau saya ada cukup waktu PASTI akan saya uji lebih jauh tentang hal ini.
Have a bright day!
Silahkan baca lanjutan serie HARGA POKOK PENJUALAN (COGS) di artikel saya berikutnya, yaitu
:Harga Pokok Produksi - COGS
Diposting oleh PUTRA 8 Klik di sini utk isi komentar
Label: Accounting, Accounting Case Study, COGS, Cost, Cost Analysis

di 4:10 AM Link ke posting ini

Page 13 of 39

HARGA POKOK PRODUKSI &


COGS

khirnya topic COST OF GOODS SOLD (COGS) bisa


saya lanjutkan lagi setelah sempat diselingi oleh topic-topic yang lain, kali ini adalah HARGA POKOK
PRODUKSI COST OF GOODS SOLD untuk perusahaan manufaktur.
Perlu diketahui, mengenai Harga Pokok Penjualan untuk perusahaan manufaktur, scoop-nya sangat
luas, meng-cover semua cost accounting (Akuntansi Biaya) mulai dari awal siklus hingga
terbentuknya harga pokok penjualan. Obviously saya akan post di sini secara bertahap (baca: serial),
jika tidak maka satu artikel mengenai harga pokok penjualan saja bisa menjadi giga article, yang
page loadnya mungkin akan sangat lama. Tetapi jangan khawatir, kita akan lewati itu semua pelanpelan, kita bahas satu persatu, bertahap tentunya.
Pada kesempatan kali ini kita akan bahas basicnya dahulu. Jangan under-estimate dahulu, basic is
always the heart of the whole knowledge. Tanpa penguasaan dasar-dasarnya, saya khawatir akan
membuat kebingungan (bahkan tersesat) ditengah jalan nanti.
Bagi rekan-rekan yang kebetulan saat ini sedang bekerja di perusahaan yang tanpa aktifitas produksi
(non-manufacturer), mungkin perusahaan dagang, jasa, atau bahkan di koperasi, yayasan, LSM
(NGO) atau bentuk organisasi nir-laba (non-profit organization), saya bisa mengerti jika anda tidak
terlalu tertarik dengan topic ini. Tetapi saya ingin argue anda untuk tetap mengikutinya, kenapa?
Sebagai orang accounting (apalagi sarjana akuntansi), sungguh lucu jika anda tidak menguasai cost
accounting (akuntansi biaya). Akuntansi biaya hampir mendominasi seluruh masalah di dalam
akuntansi. Lagipula puncak career dari accounting adalah menjadi seorang CFO (Chief Financial
Officer), atau mungkin menjadi partner di accounting firm (KAP), dan untuk mencapai jenjang itu
harus menguasai semua masalah accounting (the whole circumstances and its all miscellaneous).
Hanya karena saat ini anda tidak bekerja di perusahaan manufaktur (mungkin anda tidak akan
pernah ingin bekerja di pabrik) trus anda jadi tidak menguasai cost accounting? a-a, that is not cool.
Saya cuma pengen jadi konsultan pajak, asal saya menguasai akuntansi in general plus rajin-rajin
mengikuti update peraturan/UU perpajakan, beres sudah
Oh ya?, tahukah anda bahwa anak-anak STAN yang nota bena-nya calon pegawai pajak-pun
mendalami cost accounting. Bagaimana bisa melakukaan assessment (pemeriksaan) pajak jika tidak
menguasai cost accounting which is bagian terpenting dari aktivitas usaha manufaktur.
Sedikit mengenai perkembangan dunia konsultasi pajak (walaupun saya bukan konsultan pajak),
dahulu, di era tahun 2000 ke bawah, iya konsultan pajak cukup menguasai undang-undang dan
tehnis pelaksanaan perpajakan, bisa setting pajak menjadi lebih kecil. Iya sudah cukup ampuh,
bahkan tidak sedikit yang berhasil creating wealth dari sana. Tetapi di tahun 2001 kebelakang ini,
hmmm sepertinya sudah tidak semudah itu lagi. Perpajakan semakin transparent, ruang seperti

Page 14 of 39

dulu makin sempit. So, konsultan yang dibutuhkan di era sekarang dan seterusnya adalah
konsultan yang bisa membuat usaha menjadi effisien lebih profitable dan menguasai
perpajakan in the same time. Masalah pajak bagaimana?, itu sudah ada aturannya, tidak perlu trick
untuk itu, anda tidak perlu jadi ahli pajak untuk bisa mengikuti aturan perpajakan. Jikapun mengelami
proses pemeriksaan pajak yang berliku-liku proposed or un-proposed), toh pada akhirnya yang
berlaku adalah substansi hukum pajaknya. Bukan trick-trick-nya, bukan brabe-nya, bukan juga black
mailing-nya. Setidaknya itulah point view saya.
Ok, saya rasa cukup preamble -nya, sekarang kita ke topic-nya.

Harga Pokok Produksi (Manufacturing/Production Cost)


Ada 3 (tiga) hal yang obviously membedakan HPP (COGS) manufaktur dengan bentuk-bentuk usaha
lainnya, antara lain:
[-]. Adanya Bahan Baku (Raw Material) yang di dalamnya termasuk juga bahan penolong atau
bahan pembantu atau apalah istilahnya lagi.
[-]. Adanya Barang Dalam Proses (Work In Process).
[-]. "Tenaga Kerja Langsung" (Direct Labor) biasanya dapat dibebankan dengan sempurna
[-]. Adanya Depreciation Cost atas penggunaan mesin dan peralatan produksi lainnya yang
masuk dalam kelompok Overhead Cost/Indirect Cost.
Akumulasi dari ke-empat elemen cost tadi disebut dengan harga pokok
produksi (Manufacturing Cost/Production Cost).
A question: Mengapa Inventory tidak termasuk ke dalam harga pokok produksi?
Inventory atau persediaan barang jadi (merchandize) adalah persediaan yang sudah tidak melalui
proses produksi lagi, tidak melalui pengolahan lagi. Artinya, pada saat persediaan diakui sebagai
persediaan barang jadi (inventory), maka sudah tidak diperlukan penglohan lagi Jikapun barang
masih harus melalui proses pengemasan (packaging), proses tersebut tidaklah membuat barang jadi
menjadi bertambah (meningkat) fungsionalnya. Artinya, tanpa dikemaspun sesungguhnya barang
tersebut sudah dapat berfungsi sebagaimana yang seharusnya.
Misalnya: Barang jadi sepatu, tanpa di masukkan ke delam carton box, sepatu sudah befungsi
sebagmana layaknya fungsi sepatu.
Bagaimana dengan bottling & pengalengan?
Bottling ataupun pengelengan dan proses-proses pengemasan lain untuk barang yang tidak wajar
dijual dalam keadaan tidak terbungkus, maka proses packaging maupun bahan packing-nya
digolongankan kedalam bahan baku.
Misalnya: Beer.
Botol maupun proses memasukkan cairan beer ke dalam botolnya hingga botolnya di tutup,
adalah direct costbukan indirect cost. Sedangkan carton box dan proses memasukkan botol beer ke
dalam carton box hingga carton box di seal-tape, adalah indirect cost.
Dari penjelasan di atas maka production cost dapat dihitung dengan menjumlahkan ke-empat unsur
cost diatas:
Harga Pokok Produksi (Production/Manufacturing Cost):
Raw Material Usage+Work In Process Usage+ Direct Labour Cost+Overhead Cost

Page 15 of 39

dimana :
* Raw Material Usage dihitung dengan :
Opening Balance + Purchase Closing Balance
* Work In Process dihitung dengan:
Opening Balance Closing Balance
* Direct Labor Cost = Upah buruh dan tenaga kerja harian di produksi
*Over Head Cost : Indirect cost yang terkait dengan production activity.

Kaitan Harga Pokok Produksi dengan Harga Pokok Penjualan


Harga Pokok Penjualan :
Inventory Usage + Production Cost
So, production cost adalah salah satu elemen dari Harga Pokok Penjualan usaha manufaktur.
Catatan :
Proses pembentukan harga pokok produksi dan harga pokok penjualan pada perusahaan manufactur
mengalami transformasi seiring dengan proses pembentukan barang (product), ada siklusnya.
Disinilah biasanya cost accounting menjadi bagian yang sulit untuk dipahami. Nanti akan kita bahas
di posting-posting berikutnya.

Up-coming topic : Standard Cost & Variance


Standard Cost memainkan peranan yang penting di dalam cost accounting, mengingat sebagian
besar pabrik (manufacturer) menerapkan standard cost dalam penghitungan production cost maupun
cost of goods sold-nya. Apa perlu-nya mengetahui standard cost?, bagaimana model penerapan
standard cost?, apa ituvariance?, mengapa timbul variance? Bagaimana perlakuan akuntansi
untuk variance dalam harga pokok produksi?, akan ada di topic yang akan kita bahas di posting
saya berikutnya.
Sampai ketemu di COST OF GOODS SOLD Standard Cost & Variance
Diposting oleh PUTRA 3 Klik di sini utk isi komentar
Label: Accounting, ARTIKEL, COGS, Cost

di 11:22 PM Link ke posting ini

Apr 8, 2008

Page 16 of 39

STANDARD COST,
VARIANCE & EFFISIENSI

Sampai saat ini STANDARD COST masih banyak diterapkan


oleh perusahaan-perusahaan manufaktur. Untuk perusahaan-perusahaan kecil (small business) di
Indonesia standard cost jarang diterapkan, tetapi itu bisa dimengerti karena terbatasnya sources
tenaga kerja accounting yang benar-benar bisa menguasai cost accounting, utamanya standard cost.
Mengapa standard cost banyak diterapkan?, apa itu VARIANCE?, apa hubungannya
denganEFFISIENSI? lebih penting lagi bagaimana memperlakukan variance?, apa artinya?
Karena luasnya scoop pembahasan, saya tidak akan panjang lebar membahas theories maupun
kajian-kajiannya, melainkan akan lebih berfocus kepada tata cara, perlakuan, dan aktifitas
pengendaliannya. Tentu saja didahului oleh pemahaman logika-nya, agar tetap mudah untuk
dipahami dan diterapkan.
Mudah-mudahan dengan artikel ini, cost accounting bisa lebih dipahami lagi, dannnn. Rekan-rekan
di accounting tidak hanya sekedar bisa menjurnal dan membuat laporan saja, melainkan juga bisa
mengukur effisiensi cost yang timbul di produksi.
Setelah bisa menilai effisiensi tentunya diharapkan bisa memberikan solusi (jalan keluar) dan
menjadi:
[-]. Penyedia alat ukur yang effektif (effective tools provider)
[-]. Penagkap sinyal keborosan (effective lost detector)
[-]. Pencegah kebocoran/pemborosan yang efektif (effective lost preventer)
[-]. Pemecah masalah (trouble shooter NOT trouble maker)
Yang pada akhirnya bisa:
[-]. Menjadi asset sumberdaya manusia yang bisa memberikan kontribusi yang tinggi bagi
perusahaan (dimanapun bekerja),
[-]. Menjadi pribadi yang merupakan bagian dari jawaban (bukan bagian dari masalah)
[-]. Menjadi pribadi-pribadi yang professional dan dapat dihandalkan tentunya.
Wah....hyperbola. Tentu saja tidak. Tidak ada hal yang tak mungkin jika dilakukan dengan
kesungguhan hati.

Sekilas Mengenai Standard Cost & Variance


[Q] = Question (pertanyaan)
[A] = Answer (jawaban)
[Q]. Apa itu Standard Cost?
[A]. Standard Cost adalah Cost yang diharapkan akan terjadi (expected cost), yang ditetapkan

Page 17 of 39

(dipatok) oleh perusahaan.


[Q]. Di dalam perusahaan, dimana standard cost diterapkan?
[A]. Pada: Bahan Baku (Raw Material), Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor Cost)
dan Overhead Cost.
[Q]. Mengapa Standard Cost diterapkan?
[A]. Untuk mengukur effisiensi.
[Q]. Bagiaman menerapkannya?
[A]. "Standard Cost" dibandingkan dengan Actual Cost
[Q]. Apa itu actual cost?
[A]. Kenyataan cost yang timbul
[Q]. Setelah dibandingkan?
[A]. Bisa jadi timbul perbedaan
[Q]. Lalu?
[A]. Perbadaan itulah yang disebut Variance (bahasa penjajah)
[Q]. Ok ada perbedaan (variance lah, apalah), so what gitu loch?
[A]. Jika ada variance itu pertanda ada sesuatu (allert).
[Q]. Wuihhh masalah ya? toloooooong!!! by the way, masalah apa ya?
[A]. Ada sesuatu :P
[Q]. Haaah.., Sesuatu??... sesuatu apaan?!!
Sesuatunya itu, kita bahas sambil jalan, okay? :-), dari Question & Answer tadi, saya berharap anda
sudah mendapat gambaran dasar, apa itu standard cost, apa itu variance. Jika belum, saya yakin itu
akan menjadi lebih jelas lagi setelah melihat contoh penerapannya nanti.
Penerapan Perlakuan: Standard Cost & Variance
Standard cost adalah cost yang ditentukan terlebih dahulu oleh manajemen perusahaan, yang
dalam hal ini biasanya oleh Financial Controller (jika ada) atau oleh General Manager (jika ada) atau
oleh Direktur, atas dasar data-data yang disediakan oleh bagian accounting dan keuangan, yang
sudah dirangkum menjadi Budget tahun tertentu.
Pada pelaksanaanya biasanya akan muncul perbedaan-perbedaan, perbedaan itulah yang disebut
dengan Variance (untuk selanjutnya kita akan selalu sebut dengan variance saja). Variance bisa
terjadi pada bagian manapun, akan tetapi kaitannya dengan standard cost, cost yang di-standard-kan
hanya berada pada cost yang terkait langsung dengan produksi saja, yaitu : Raw Material, Direct
Labor dan Overhead. Sehingga, variance bisa terjadi di antara ketiga jenis cost tersebut. Jenis
variance pun bisa berupa price variance, atau quantity variance, atau hour variance.
Contoh:
PT. Royal Bali Cemerlang, perusahaan manufactur di Tangerang yang khusus memproduksi
dasi(ties) (mungkin dasi yang sedang anda pakai juga hasil produksi dari PT. Royal Bali
Cemerlang?, kidding..:-) ). Manajemen menginginkan agar perusahaan (bagian produksi
khsusunya) disiplin dalam menjalankan budget yang telah ditentukan pada tanggal 01 January 2008,
dan tidak melakukan pemborosan. Oleh sebab itu, perusahaan menentukan standard cost untuk
product dasi (tie) yang dibuat sebagai berikut:

Page 18 of 39

Catatan : yang diatas sekaligus sebagai contoh tabel standard cost (untuk diketahui)

Standard Cost & Variance pada Raw Material


Pada tanggal 25 April, diterima kain sebanyak 1000 meters dari toko kain, pada faktur yang diterima
beserta kain, diperoleh data sebagai berikut:
Kain, Qty = 1500 meters, Unit Price Rp 26,000/meter, Total Amount Rp 39,000,000
Jika dibandingkan dengan standard cost tabel di atas, maka dapat kita temukan perbedaannya, yaitu
di unit price-nya, pada standard cost Rp 25,000/mtr, sedangkan kenyataannya (actual cost di faktur)
Rp 26,000,sehingga ada variance pada harga kain sebesar Rp 1,000/meter, dan total variance
= Rp 1,500,000
Maka dicatat dengan jurnal:
[Debit]. Raw Material = Rp 37,500,000
[Debit]. Raw Material Price Variance = 1,500,000
[Credit]. Account Payable = 39,000,000
Catatan: Raw Material yang dibeli tetap dicatat menggunakan Standard Cost, sehingga nilai
persediaan raw material akan meningkat sebesar Rp 37,500,000 saja (sesuai standard
Cost), meskipun tentu saja hutang tetap diakui sesuai dengan Actual Cost,
sedangkan perbedaan pada harga raw material diakui sebagai variance yang disebut dengan
Raw Material Price Variance.
Tanggal 28 April 2008, datang pengiriman kain yang ke-2, dengan faktur sebagai berikut: Qty 1500
meters, Unit Price Rp 24,500/meter. Jika dibandingkan maka dapat kita temukan adanya perbedaan
lagi, tetapi kali ini harganya lebih rendah Rp 500/meter dibandingkan standard cost.
Dicatat dengan jurnal:
[Debit]. Raw Material = Rp 37,500,000
[Credit]. Account Payable = Rp 36,750,000
[Credit]. Raw Material Price Variance = Rp 750,000

Nantinya di akhir bulan (pada penutupan bulan April 2008), buku besar akan nampak sebagai berikut:
Buku Besar Raw Material :
25 April 2008, Debit = Rp 37,500,000
28 April 2008, Debit = Rp 37,500,000
---------------------------------------------* Saldo, Debit = Rp 75,000,000
(Catatan: sesuai dengan standard cost = 3000 pcs x 25,000 = 75,000,000)

Page 19 of 39

Buku Besar Account Payable:


25 April 2008, Credit = Rp 39,000,000
28 April 2008, Credit = Rp 36,750,000
---------------------------------------------* Saldo, Debit = Rp 75,750,000
Raw Material Price Variance:
25 April 2008, Debit = Rp 1,500,000
28 April 2008, Credit = Rp 750,000
---------------------------------------------* Saldo, Debit = 750,000
Kesimpulan: Total Raw Material Variance, Debit= Rp 750,000
Apa artinya?
Artinya sejauh ini, Actual Raw Material Cost Rp 750,000 lebih tinggi dibandingkan Standard
Cost, artinyacost yang ditanggung oleh perusahaan Rp 750,000 lebih tinggi dibandingkan cost
yang diharapkan (expected cost), karena actual cost lebih tinggi dibandingkan standard
cost, artinya sampai sejauh ini (per 31 april 2008 nanti) laba yang akan diterima oleh perusahaan
nantinya akan lebih rendah Rp 750,000 dibandingkan dengan laba yang direncanakan, tentu
itu pertanda buruk!,
Jika accounting bisa melaksanakan fungsinya: menganalisa bukti transaksi, melakukan validasi,
mencatat dengan akurat, memperlakukan transaksi dengan benar, melakukan analisa dan pelaporan
dengan benar dan TEPAT WAKTU, masalah seperti ini harus langsung diketahui dan diantisipasi
begitu data masuk ke accounting (saat faktur penerimaan kain dan nota pembelian diterima).
Berupa apakah antisipasinya?
Antisipasinya: Melakukan verifikasi ke bagian pembelian (purchasing), mengapa ada perbedaan
harga?.
Jika bagian purchasing tidak melakukan reaksi yang positif, apa artinya?, ada sesuatu!, jika
menunjukkan reaksi yang positif (melakukan verifikasi langsung ke supplier, meminta nego harga ke
harga yang dahulu, dsb), itu pertanda positif.
Apa yang harus dilakukan pihak accounting?: meminta approval/validasi kepada financial controller
atas transaksi tersebut.
Financial Controller: memberi tanda bintang kepada accounting atas ke akuratan dan ketepatan
reaksi yang ditunjukkan, dan memberi tanda Tanya ? untuk bagian purchasing. Diberi tanda Tanya,
artinya masuk dalam daftar pengawasan.
Okay, anyway sudah terjadi, bagian purchasing masih melakukan langkah antisipasi, Financial
Controller tetap mengawasi bagian purchasing. Sementara di accounting, apa yang harus dilakukan
atas variance yang timbul?, bagaimana mencatat dan memperlakukan variances berikutnya
PADA : DIRECT LABOR COST maupun PADA: OVERHEAD COST ?. Bagimana pengaruhnya
terhadap Harga Pokok Produksidan Harga Pokok Penjualan?
Standard Cost dan Variance masih akan berlanjut, akan tetapi akan dilanjutkan di Standard Cost &
Variance Part 2.
Diposting oleh PUTRA 4 Klik di sini utk isi komentar
Label: Accounting, ARTIKEL, COGS, Cost, Cost Analysis, Financial Control, Pengendalian Keuangan
posting ini

di 11:36 PMLink ke

Apr 24, 2008

Page 20 of 39

STANDARD COST,
VARIANCE - Part 2
Kita akan explore lebih jauh lagi mengenai STANDARD COST , VARIANCE dan EFFISIENSI. Di
wilayah mana lagi standard cost diterapkan dan kemungkinan variance timbul akan timbul?,
Bagaimana perlakuannya?.
Masih memakai contoh product dasi yang kita pakai di Standard Cost, Variance & Effisiensi Part 1.
Untuk mengingat kembali dan supaya tidak bolak balik mencarinya, tabel standard cost-nya saya
tampilkan lagi dibawah ini:

Kemungkinan perbedaan (variance) bisa terjadi pada jumlah (quantity) raw material yang dipakai
maupun di wilayah dan aktivitas lainnya.
Kasus:
Setelah product Dasi (Tie) selesai di kerjakan, barang dihitung, dan hasilnya:
- Barang Jadi yang dihasilkan 1750 pcs
- Hasil rekapitulasi upah buruh Rp 11,000,000
- Penggunaan listrik Rp 656,250
Hal itu juga ditunjukkan oleh nota serah terima dari bagian produksi ke gudang penyimpanan barang
jadi yang sudah di validasi, Rekapitulasi upah buruh dan tagihan listrik.
Lalu?
Data tersebut dibandingkan dengan tabel standard cost:
[1]. Penggunaan raw material
Menurut tabel standard cost dari 3000 meters material yang dipakai seharusnya bisa menghasilkan
product dasi sebanyak 2000 pcs, kenyataannya barang yang dihasilkan hanya sebanyak 1750 pcs.
Artinya ada perbedaan sebanyak 50 pcs.
Perbedaan penggunaan raw material dihitungn dengan cara:
Raw Materal Usage Variance = 50 pcs x 0.15 x 25,000 = Rp 187,500

[2]. Direct Labor Cost


Dengan jumlah barang yang dihasilkan yang hanya sebanyak 1750 pcs dimana time required per unit
product-nya adalah 0.25 hour, maka total hournya hanya 437.50 hours, so total upah buruh

Page 21 of 39

seharunya Rp 5,495 x 437.5 hours = Rp 10,937,500. Sedangkan kenyataannya Rp 11,000,000, jadi


ada selisih sebesar Rp 11,000,000 Rp 10,937,500 = Rp 62,500.

[3]. Electricity Usage


Menurut tabel standard cost listrik yang seharusnya dipergunakan dihitung dengan cara:
1750 pcs x 0.25 hours x Rp 1,500 = Rp 656,250, berarti tidak ada variance pada penggunaan listrik.

Kita sudah mendapatkan semua angka variance. Setelah semua di verifikasi dengan semestinya,
selanjutnya tinggal menjurnalnya.
Ada beberapa jurnal yang diperlukan, yaitu :
(a). Pengakuan terhadap pengeluaran kain dari gudang ke bagian produksi
[Debit]. Work In Process (WIP) - Raw Materials = Rp 75,000,000
[Credit]. Raw Materials = Rp 75,000,000
(Catatan: Diakui sebesar Standard Cost-nya = 3000 meters x Rp 25,000)
(b). Pengakuan pengeluaran kas atas upah buruh
[Debit]. Work In Process (WIP) Direct Labour Cost = Rp 10,937,500
[Credit]. Cash = Rp 10,937,500
(c). Pengakuan pengeluaran kas atas pembayaran listrik
[Debit]. Work In Process (WIP) Overhead = Rp 656,250
[Credit]. Cash = Rp 656,250

Catatan: sampai di sini, ada beberapa hal yang perlu saya jelaskan:
* Jurnal di atas dipakai untuk perusahaan manufaktur yang mengakui adanya persediaan barang
dalam process (work in process inventory).
* Dalam kasus ini diakui sebesar standard cost-nya.
(d). Mengakui kenaikan penambahan nilai inventory (finished goods) atas penyerahan barang
jadi ke gudang:
[Debit]. Inventory (Finished Goods) = Rp 86,343,750
[Debit]. Raw Material Usage Variance = Rp 187,500
[Debit]. Direct Labour Cost Variance = Rp 62,500
[Credit]. WIP Raw Material = Rp 75,000,000
[Credit]. WIP Direct Labour Cost = Rp 10,937,500
[Credit]. WIP Overhead (electricity) = Rp 656,250
Catatan:
Sekali lagi, jurnal di atas dipakai jika perusahaan mengakui adanya persediaan barang dalam proses
(WIP = Wor In Process)
Jika tidak, bisa dijurnal dengan 1 tahap saja (tanpa melalui rekening barang dalam process):
[Debit]. Inventory (Finished Goods) = Rp 86,343,750
[Debit]. Raw Material Usage Variance = Rp 187,500
[Debit]. Direct Labour Cost Variance = Rp 62,500

Page 22 of 39

[Credit]. Raw Material = Rp 75,000,000


[Credit]. Cash = Rp 10,937,500
[Credit]. Cash = Rp 656,250

Pengendalian Cost
Dari semua transaksi tadi, kita menemukan adanya variance sejumlah Rp 187,500 akibat
pemborosan (in-efficiency) dalam penggunaan bahan baku, entah karena ada barang rusak atau
memang kenyataan consumption-nya lebih besar dari 0.15 meters. Variance juga timbul pada total
hour yang dipergunakan dalam menyelesaikan pekerjaan, sehingga upah buruh membengkak
sebesar Rp 62,500. Kasus seperti ini hendaknya mendapat perhatian yang serius dari pihak
manajemen, terutama yang bertugas melakukan pengawasan (pengendalian). Tentu saja melalui
verifikasi yang cukup, agar ditemukan letak masalahnya.
Apa kemungkinan penyebabnya? Ada beberapa kemungkinan:
[-]. Variance pada penerimaan raw material (harga lebih tinggi dari standard cost):
Bisa jadi karena harga raw material memang meningkat (inflasi). Jika saja; supplies contract, dan
price quotation atas semua jenis supplies rutin di-review dan di-update regularly, seharusnya hal
seperti tidak perlu terjadi.
Kemungkinan kedua adalah fraud (penyelewengan) yang dilakukan oleh pihak intern perusahaan.
[-]. Variance pada Raw material usage :
Bisa jadi penghitungan consumption sebelum dituangkan ke dalam budget dan standard cost tidak
dilakukan dengan akurat. Atau memang banyak terjadi kesalahan pada saat proses produksi.
[-]. Variance pada Direct Labour Cost:
Bisa jadi karena time motion test (penghitungan jam mesin/tenaga kerja) tidak dilakukan
dengan akurat, sehingga data yang dimasukkan ke dalam budget dan standard cost juga tidak
akurat. Atau karena pada produktifitas tenaga kerja dan mesin memang menurun (in-effisensi), entah
karena kurang bagusnya production set-up atau karena miss-production management.
Semua itu memerlukan verifikasi, penyidikan dan pembuktian lebih lanjut. Diperlukan follow up. Yang
jelas, kemungkinan manapun nantinya yang terjadi seusungguhnya, Jika perusahaan ingin tetap
survive dan sehat, maka hal seperti ini tidak boleh ditoleransi. Harus ada pihak yang bertanggung
jawab. Sampai saat ini Funsihment or Reward approach masih terbukti yang paling effektif untuk
melakukan pengendalian.
Pertanyaan terakhir: lalu variance itu akan dikemanakan?, bukankah kita tidak pernah menemui
adanya rekening variance pada Chart of Account?. Pertanyaan yang sangat bagus. Semua itu akan
kita jawan diStandard Cost, Variance & Effisiensi Part 3.
Diposting oleh PUTRA 0 Klik di sini utk isi komentar
Label: Accounting, ARTIKEL, COGS, Cost, Pengendalian

di 2:21 AM Link ke posting ini

Apr 27, 2008

Page 23 of 39

STANDARD COST,
VARIANCE - Part 3 (Effisiensi)
Masih ada satu sub topic dari serie Standard Cost, Variance & Effisiensi yang belum saya bahas
yaitu:mengalokasikan variance. Seperti kita ketahui bahwa tidak ada rekening (account) variance di
dalam laporan keuangan, jadi dibawa kemanakah variance ini? Bagaimana jurnalnya?. Yet, standard
cost dan analysis variance sangat erat kaitannya dengan effisiensi, justru disinilah pembahasan
Standard Cost dan Analysis Variance yang sesungguhnya. Apakah menurunnya cost sudah
berarti effisiensi? Kita akan bahas sebentar lagi.
Hanya untuk recall saja, jika saya summarize variances yang sudah terjadi dari topic sebelumnya
(Standard Cost, Variance & Effisiensi dan Standard Cost, Variance Part 2), ada 4 (empat)
variances yang ditemukan, yaitu:
[Debit]. Raw Material Price Variance = 1,500,000
[Credit]. Raw Material Price Variance = Rp 750,000
[Debit]. Raw Material Usage Variance = Rp 187,500
[Debit]. Direct Labour Cost Variance = Rp 62,500
Dari keempat variance di atas, Raw Material Price Variance ada 2 (dua) debit dan kredit, bisa
langsung di off-set-kan, sehingga tinggal 3 (tiga) variances saja, yitu:
[Debit]. Raw Material Price Variance = Rp 750,000
[Debit]. Raw Material Usage Variance = Rp 187,500
[Debit]. Direct Labour Cost Variance = Rp 62,500
Selanjutnya dibawa kemanakah variance tersebut?

Mengalokasikan Variance
Kita tahu pada laporan keuangan tidak mengenal rekening (account) variance, oleh sebab itu
variance harus dialokasikan sebelum buku ditutup ke laba rugi dan neraca. Perlu diketahui, bahwa
variance bukanlah rekening permanent, melainkan rekening sementara yang dijadikan salah satu
instrument pengukur effisiensi semata-mata.
Bagaimanapun juga variance yang timbul adalah nyata dan harus diakui. Bagaimanapun juga pada
akhirnya transaksi yang diakui dan dilaporkan adalah actual cost-nya (bukan standard cost-nya).
Selisih antara actual cost dengan standard cost yang tadinya di post ke rekening variance masingmasing harus dikembalikan ke dalam cost-nya, sehingga nantinya cost yang di laporkan di dalam
Profit & Lost Statament maupun Neraca adalah sebesar actual cost-nya.
Kapan variance dialokasikan ke cost?
Peng-alokasi-an dilakukan tentunya setelah semua variance di verifikasi, di analisa, disimpulkan dan
didokumentasikan, selambat-lambatnya, sebelum proses tutup buku di laksanakan.
Kemana dan bagaimana mengalokasikan variance?
Variance pada raw material (either price variance or usage variance)
[-]. Jika pada saat pengalokasian variance ke cost-nya, barang jadi (inventory) sudah terjual
seluruhnya, maka variance langsung di alokasikan ke Cost of Goods Sold (Material Usage), dengan
jurnal (sesuai dengan contoh kasus):
[Debit]. Inventory Usage (COGS) = Rp 937,500
[Credit]. Raw Material Price Variance = Rp 750,000

Page 24 of 39

[Credit]. Raw Material Usage Variance = Rp 187,500


[-]. Jika sebagian sudah terjual, sebagian belum, maka dilihat dahulu nilai variance-nya. Jika nilai
variance-nya dianggap immaterial, maka bisa langsung dialokasikan ke COGS (Inventory
usage) seperti jurnal di atas. Sedangkan jika nilai variance-nya dianggap material, maka
sebagian dialokasikan ke inventory, sebagian keinventory usage (COGS) secara proportional (sesuai
prosentase berapa terjual berapa yang masih berupa persediaan barang jadi), jurnalnya:
[Debit]. Inventory Usage (COGS) = Rp 900,000 (misal: sudah terjual)
[Debit]. Inventory = 37,500 (misal: belum terjual)
[Credit]. Raw Material Price Variance = Rp 750,000
[Credit]. Raw Material Usage Variance = Rp 187,500
Variance pada Direct Labor Cost
Langsung dialokasikan ke cost asalnya (Direct Labor Cost) dengan jurnal:
[Debit]. Direct Labour Cost (COGS) = Rp 62,500
[Credit]. Direct Labour Cost Variance = Rp 62,500
Variance pada Overhead Cost
Walaupun pada contoh kasus ini tidak ada variance, pada kenyataannya, tidak menutup
kemungkinan variance bisa terjadi juga pada overhead cost, jika memang terjadi maka dialokasikan
dengan jurnal:
[Debit]. Overhead Cost (COGS)
[Credit]. Overhead Cost Variance
Catatan: dengan jurnal di atas, maka rekening sementara variance sudah nol (terhapus), variance
sudah dialokasikan ke cost aslinya dan cost yang diakui telah sama dengan actual costnya.
Kalau toh akhirnya dikembalikan ke actual cost-nya, buat apa mencari variance dan buat apa
menerapkan standard cost?.
Tujuan utama penerapan standard cost adalah semata-mata untuk mengukur dan menjaga
effisiensi. Kita lanjutkan ke variance dan effisiensi, disana kita bahas lebih mendalam lagi.

Variance dan Effisiensi


Saya tambahkan sub pokok bahasan ini dengan harapan: mudah-mudahan bisa mengasah
awareness instinct (=kewaspadaan naluriah?) akan potensi in-effisiensi dan bentuk-bentuk
kebocoran yang bisa terjadi.
Ini penting bagi rekan-rekan di accounting dan keuangan, khususnya bagi mereka-mereka yang tidak
merasa cukup puas dengan hanya menjadi clerk atau bookkeeper saja. So, untuk rekan-rekan yang
hanya sekedar ingin tahu perlakuan dan jurnalnya saja, anda tidak perlu membaca (mengikuti)
penjelasan saya lebih lanjut lagi, dont waste your time.
Tapi bagi yang suka berpikir, ingin belajar lebih mendalam, ingin mengerti managerial-nya, saya
encourage untuk mengikuti (membacanya) hingga akhir. You are not going to waste your time, you
are eventually about to learn a more insightful of accounting cost, it will be well worth it.
Kembali ke basic-nya, variance cost (selisih pada cost), entah itu atas raw material, direct
labor maupun overhead cost, jika variance yang timbul:
[-]. Bersaldo debit
Berarti actual cost-nya lebih tinggi dibandingkan standard cost, jika ini yang terjadi, artinya
perusahaan beroperasi di atas budget yang sudah ditetapkan. Apakah ini sudah pasti

Page 25 of 39

kebocoran/inefficiency?, belum tentu, tetapi sudah pasti ada yang tidak beres.
[-]. Bersaldo Credit
Berarti actual cost-nya lebih rendah dibandingkan standard cost, yang artinya perusahaan beroperasi
dibawah budget yang telah di tetapkan. Apakah ini sudah berarti effiseinsi?, belum tentu juga.
Variance manapun yang timbul, masih memerlukan follow-up (=tindak lanjut?) dari pihak manajemen.
Yang bertugas untuk melakukan verifikasi dan analisa tentunya mereka (dia) yang bertanggung
jawab mengelola keuangan perusahaan, mereka (dia) yang diharapkan menjadi pengaman asset
perusahaan. Pada perusahaan kecil dan menengah di Indonesia, tugas ini biasanya ditangani
langsung oleh direktur, sedangkan pada perusahaan yang sudah bersekala corporation (besar)
biasanya ditangani oleh Controller (Financial Controller) dan atau Chief Financial Officer (CFO).
Itulah sebabnya mengapa rekan-rekan di accounting dan keuangan (jika memang ingin
mengembangkan career ke level yang lebih tinggi lagi) sebaiknya mulai pelan-pelan memahami: flow
(alur), mobilty (perpindahan dan pergerakan) fisik barang sekaligus transaksinya secara terintegrasi,
minimal (sekali lagi saya underline minimal).

Catatan: (Permakluman)
Banyak cara dan tempat untuk belajar. Tentu blog ini bukanlah sesuatu yang layak untuk dijadikan
tempat belajar. Blog ini awalnya ingin saya jadikan sebagai wadah bagi diri saya untuk ber-ekspresi,
ber-idealisme, sekaligus untuk tempat mengasah diri saya pribadi, untuk mengingat-ingat kembali
apa yang telah saya kerjakan. Jikapun ada diantara rekan-rekan pengunjung menganggap blog ini
sebagai alternative sarana belajar, bertukar pikiran, dan berbagi, dan lain sebagainya, saya
berterimakasih dan bersukur. Amin!. Atas dasar pemikiran itulah saya merasa perlu membenahi-nya,
agar bisa memberikan sumbangan yang lebih banyak dan lebih baik lagi. Dan untuk maksud tersebut,
saya sadar itu butuh waktu, saya harus belajar lebih banyak hal lagi. Sekalilagi terimakasih untuk
support-nya.
Kembali ke topic
Jika memiliki product knowledge yang kuat, mengetahui tehnis pelaksanaan mulai dari research &
development, marketing, purchasing, production, quality management, packaging, inventory
management, sales sampai ke shipping, ditambah dengan accounting, keuangan dan perpajakan,
maka fungsi pengendalian (controlling) akan bisa dilaksanakan dengan sangat baik. Karena kunci
dari fungsi pengendalian adalah memahami dan menguasai the whole picture secara terintegarsi,
bukan sebagian-sebagian atau sepenggal-sepenggal, apalagi cuma setengah-setengah.
Mengapa perlu?
[-]. Karena tanpa menguasai flow dan mobilitas (pergerakan/perpindahan) fisik barang dari satu
bagian ke bagian yang lain, dari satu section ke section yang lain, dari satu workstation ke
workstation yang lain, dari hulu hingga ke hilir dan balik ke hulu lagi, maka mustahil untuk bisa menginterpretasi-kan transaksi ke dalam pencatatan dan pelaporan dengan benar dan akurat.
[-]. Karena tanpa product knowledge dan tehnis process di semua bagian, section, dan workstation,
mustahil untuk bisa melakukan verifikasi dan analisa yang benar dan akurat juga.
Contoh (sebagai ilustrasi saja):
Ada variance bersaldo negative (note: untuk yang bersaldo positif rasanya saya tidak perlu jelaskan
lagi, sudah banyak saya bicarakan), artinya actual cost lebih rendah dibandingkan standard cost-nya.
Apakah itu sudah berarti effisien? Masih perlu kajian dan analisa lebih jauh lagi dibandingkan sekedar
angka variance. Perlu mengetahui formula-formula dibawah ini:
[-]. Secara alamiah, efficiency sering berbanding terbalik dengan quality of product.
[-]. Naturally, speed (total hour dibagi oleh total quantity atau volume) sering berbanding terbalik

Page 26 of 39

dengan quality.
Artinya apa?, jika menemukan variance negative (actual cost lebih kecil dari standard cost) maka
anda sudah harus melakukan:
[-]. Verifikasi antara angka-angka di buku dengan bukti transaksi dan physical count.
Question: Bagaimana bisa melakukan itu jika tidak menguasai alur fisik barang dan alur transaksi
secara terintegrasi?
Okay, lets say sudah diverifikasi dengan benar, memang matching and its confirmed, memang benar
ada negative variance, apakah itu sudah cukup? Not yet.
[-]. Itu merupakan another alarm bell atau red alert atau sinyal bahaya lainnya pada quality of
product, anda sudah harus cepat-cepat periksa quality barang yang dihasilkan, tentu saja tanpa
meng-intervensi kerja bagian quality control, anda hanya perlu melakukan verifikasi dan analisa,
bagian keuangan berhak untuk melakukan itu, tentunya disesuaikan dengan level dan authority-nya.
Question: Bagaimana bisa melakukan itu jika tidak menguasai quality management and its standard?.
Mustahil bukan?
Kembali ke masalah quality dan effisiensi. Ini formula selanjutnya yang perlu diketahui (di ingat
baik-baik):
[-]. Quality berbanding lurus dengan sales (both in volume & value). Semakin menurun qualitas, most
probably sales akan turun juga.
[-]. Sales sudah pasti (saya yakin anda sudah tahu) berbanding lurus terhadap revenue.
[-]. Revenue berbanding lurus terhadap PROF!T.
So, you are questioning me bagaimana jika produksi berdasarkan pesanan?, toh barang sudah
dipesan.
Tahukah anda bahwa, purchase order tidak berarti orang tidak boleh mengembalikan barang, jika
poor in quality pasti barang dikembalikan, jika quality agak rendah, mungkin barang tetap diterima
tetapi dengan discount.
Okay, lets say, somehow, quality rendah, tetapi barang diterima dan tanpa discount. Does that
sound perfect?. Belum tentu, sangat mungkin back-order atau repeat order-nya akan dikurangi, atau
bahkan tidak ada repeat order lagi. Jika new customer, hampir bisa dipastikan tidak akan pernah
kembali lagi, artinya conversion menurun (kesempatan untuk meng-convert new customer menjadi
regular customer hilang). See, we just through the next cash out of the window.
Tapi, itu kan nanti, yang jelas untuk periode ini perusahaan untung. A-a, perlu diketahui, kehilangan
kesempatan memperoleh keuntungan untuk periode yang akan datang adalah bentuk lain dari cost.
Namanya Opportunity Cost.
apakah opportunity cost dilaporkan di dalam laporan keuangan?. Memang, tidak dilaporkan, tetapi
akan muncul nanti pada laporan yang akan datang dalam wujud "pertumbuhan revenue yang
menurun".
Misalnya:
Dua periode sebelumnya memperoleh revenue Rp 1,000,000 dan periode yang lalu memperoleh
revenue Rp 1,500,000, dan periode berjalan memperoleh revenue Rp 2,250,000. Artinya rata-rata
pertumbuhan revenue adalah 150%. Dengan rata-rata 150% seharusnya revenue di periode
berikutnya seharusnya Rp 3,375,000, tetapi karena menurunnya quality, beberapa customer yang
menerima poor quality product tidak melakukan pesanan lagi, sehingga angka Rp 3,375,000
kemungkinan besar tidak akan tercapai. In worst case, sangat mungkin revenue malah turun ke
angka dibawah Rp 2,250,000.

Contoh lain: (kasus yang berbeda)

Page 27 of 39

Terjadi variance bersaldo negative pada Direct Labour Cost, artinya upah buruh yang dibayarkan
lebih rendah dibandingkan standard cost, apakah sudah berarti effisiensi? Belum tentu juga.
Pada Direct Labor Cost (upah buruh) berlaku formula:
[-]. "Direct Labor Cost" berbanding lurus terhadap descent work(=tingkat kepuasan kerja?).
[-]. "Descent work" berbanding lurus terhadap "employee loyalty"
[-]. "Employee loyalty" berbanding lurus terhadap "productivity"
[-]. "Productivity" berbanding lurus terhadap "Revenue"
[-]. "Descent work" berbanding terbalik terhadap "Employee turnover (arus keluar masuk karyawan)".
[-]. "Employee Turnover" berbanding lurus dengan "Recruitment & Training Expense"
Menurunnya upah buruh sangat mungkin mengakibatkan menurunnya tingkat kepuasan kerja buruh,
dan menurunnya tingkat kepuasan kerja buruh secara alamiah akan menurunkan productivity,
productivity berpengaruh terhadap revenue. Tingkat kepuasan kerja yang menurun juga
mengakibatkan employee turnover yang tinggi, employee turnover yang tinggi akan mengakibatkan
recruitment dan training expense meningkat.Look, thats another big potential cost.
Failure dalam menentukan employee retention policy (=kebijakan dalam pemberian kompensasi,
incentive dan kesempatan berkembang) could directly impact productivity and employee turnover.
Catatan: Approach yang sesuai terhadap "Kebijakan Ketenaga Kerjaan", "Human Resource
Management" adalah salah satu kunci kesuksesan aktifitas pengendalian. Dan, rasanya akan
menjadi sesuatu yang berat jika kedua hal tersebut tidak dikeuasai dengan baik.
Kesimpulan
Dari awal pembahasan hingga sekarang sepertinya in-efficient salah, efficient juga salah, yang benar
yang mana?, mana yang lebih penting; efficient atau quality?, Direct Labor Cost efficiency atau
Descent Work?
Kondisi ideal yang diharapkan tentu: Qualitas product terbaik pada tingat effisiensi yang tinggi
juga, descent work tertinggi pada tingkat effisiensi direct labor cost yang tinggi juga. Goal setting yang
tinggi adalah postif, tapi perlu realistis in the same time.
Dengan melakukan trend analysis dari satu period ke period yang lain, membandingkan unsur-unsur:
variance Vs quality, variance Vs productivity, variance Vs employee turnover yang pada akhirnya
membandingkan revenue Vs cost/expense secara berkesinambungan, akan dapat menentukan
Match Point (titik temu) dan Elasticity antara unsur-unsur yang di bandingkan.
Yang dimaksudkan dengan match point di sini adalah:
titik dimana:
[-]. Effisiensi Vs Quality, mengahasilkan profit tertinggi
[-]. Effisiensi Vs Productivity, menghasilan profit tertinggi
[-]. Effisiensi Vs Employee Turnover, menghasilkan profit tertinggi
Match point tersebutlah nantinya akan dijadikan acuan standard cost berikutnya, standard untuk
mentukan kebijakan-kebijakan perusahaan di semua department diperiode berikutnya. Dengan usaha
yang terus menerus, dari period ke periode berikutnya yang semakin ditingkatkan, suatu saat kondisi
ideal yang diharapkan tentunya bisa diwujudkan.
Last question:
Kalau toh pada akhirnya untuk mencari tingkat profitability maximum, bukankah cukup hanya dengan
menganlisis laporan laba rugi saja?, toh sudah bisa dibandingkan antara revenue dengan cost, antara
sales dengan gross margin, antara sales dengan profit margin, dan sebagainya?

Page 28 of 39

Pszz..wrong conclusion.
Semua analisa perbandingan tadi adalah dengan asumsi, NO ERROR (Zero Error), hanya masalah
mencari titik temu saja. Pada kenyataannya, error sering terjadi, kesalahan bisa timbul dimana saja,
entah karena kurangnya ketrampilan pegawai/buruh, atau adanya pegawai/buruh yang bekerja diluar
system yang telah ditentukan.
Salah satu fungsi pengendalian adalah menangkap sinyal error sejak dini, sehingga bisa
mencegahnya (tidak membiarkan-nya terjadi). Menganalisa dan menyimpulkan apa yang telah terjadi
saja bukanlah tindakan yang smart (jika tidak mau disebut bodoh). Jika pintar, maka harus bisa
meng-identifikasi dan mencegahnya, jikapun tidak bisa dicegah, maka error yang timbul harus
dicari akar masalahnya, lalu shutdown right on the spot (tepat d ititik dimana terjadi-nya error),
jangan sampai meluas atau menjalar, dan tidak akan terjadi lagi. Itu baru smart.
Jika diperusahaan anda menggunakan STANDARD COST, artinya akan ada VARIANCE, artinya
perusahaan sangat care terhadap effisiensi. Semua itu membutuhkan kerja keras dan commitment
yang sungguh-sungguh dari semua element di perusahaan. Jika belum, mungkin ingin mencoba
menerapkan standard cost?
Diposting oleh PUTRA 4 Klik di sini utk isi komentar
Label: Accounting, ARTIKEL, COGS, Cost, Cost Analysis, Financial Control, Pengendalian, Pengendalian
Keuangan

di11:34 PM Link ke posting ini

Apr 29, 2008

Page 29 of 39

COST OF GOODS SOLD


(COGS/HPP) - MANUFAKTUR
(The Alure)
Setelah Standard Cost & Variance dibahas, sekarang lanjut lagi mengenai Harga Pokok Penjualan
(HPP/COGS) perusahaan manufaktur. Yang sering menjadi sumber kesulitan dalam memahami
Harga Pokok Produksi dan Harga Pokok Penjualan perusahaan manufaktur adalah alur dan
jurnalnya. Sekarang akan dibahas khusus alur dan jurnalnya.
Beberapa bulan yang lalu, friends of my friend mengalami kesulitan mengenai alur dan jurnal harga
pokok produksi dan harga pokok penjualan, padahal dia sudah pernah menangani accounting sebuah
pabrik sebelumnya. Hanya saja sebelumnya, pabrik yang ditangani tidak mengakui adanya
persediaan barang dalam proses, sementara perusahaannya yang sekarang mengakui.
Ok, lets keep it short and quick
Sebenarnya alur harga pokok produksi sebagian sudah saya bahas di Standard Cost, hanya saja,
karena di topic itu focus pada standard cost & variance, maka pembicaraan lebih banyak di sekitar
bagaimana penentuan standard cost, terjadinya variance, perlakuan dan approach yang
dipergunakan. Sehingga alurnya kurang difocuskan. Sekarang saya akan berfocus pada alur dan
jurnalnya hingga terbentuknya Harga Pokok Penjualan (tanpa memperhitungkan adanya standard
cost maupun variance).
Jika saya gambarkan dengan diagram, kurang-lebih seperti ini:

Masih memakai kasus PT. Royal Bali Cemerlang, produsen produk dasi, dimana perusahaan
menerima pesanan product dasi sebanyak 20,000 pcs. Pada neraca periode sebelumnya diketahui
saldo akhir persediaan sebagai berikut:
[-]. Raw Material (persediaan bahan baku) = Rp 2,000,000
[-]. Work In Process (persediaan barang dalam proses) = Rp 5,000,000
[-]. Inventory (persediaan barang jadi) = Rp 3,000,000

Untuk memenuhi pesanan, pada tanggal 01 April, PT, Royal Bali Cemerlang membeli kain sebanyak
3000 meters, dengan harga satuan Rp 25,000/meter secara kredit. Atas pembelian tersebut dicatat
dengan jurnal:
[Debit]. Raw Material = Rp 75,000,000
[Credit]. Account Payable = Rp 75,000,000
Jurnal di atas, akan membuat nilai raw material di gudang penyimpanan bahan baku bertambah

Page 30 of 39

sebanyak Rp 75,000,000.
Tanggal 05 April, raw material (kain) di keluarkan dari gudang penyimpanan bahan baku sebanyak
2800 meters, atas pengeluaran kain tersebut dicatat dengan jurnal:
[Debit]. WIP Raw Material = Rp 70,000,000
[Credit]. Raw Material = Rp 70,000,000
( Rp 25,000 x 2800 meters = Rp 70,000,000)
Jurnal pengeluaran raw material di atas akan membuat nilai raw material di gudang penyimpanan
berkurang sebanyak Rp 70,000,000
Dari kedua jurnal di atas, Buku Besar Raw Material akan menjadi sebagai berikut:
01 April, Saldo awal, Debit = Rp 2,000,000
01 April, Raw Material, Debit = Rp 75,000,000
05 April, Raw Material, Credit = (Rp 70,000,000)
-----------------------------------------------------------Saldo, Raw Material, Debit = Rp 7,000,000
Sedangkan Buku Besar Work In Process (WIP), menjadi sebagai berikut:
01 April, Saldo awal, Debit = Rp 5,000,000
01 April, WIP Raw Material, Debit = Rp 70,000,000
----------------------------------------------------------------Saldo, Raw Material, Debit = Rp 75,000,000
Pada tanggal 10 April dibayar ongkos perbaikan mesin produksi sebesar Rp 1,000,000 secara tunai,
dicatat dengan jurnal:
[Debit]. WIP - Overhead Cost (Maintenance) = Rp 1,000,000
[Credit]. Cash = Rp 1,000,000
Pada tanggal 16 April dibayar listrik untuk pabrik sebesar Rp 850,000, untuk itu dicatat denga jurnal :
[Debit]. WIP - Overhead Cost (Electricity) = Rp 850,000
[Credit]. Cash = Rp 850,000
Pada tanggal 29 April dibayarkan upah buruh sebesar Rp 27,000,000 secara tunai. Atas pembayaran
upah tersebut dicatat dengan jurnal:
[Debit]. WIP Direct Labour Cost = Rp 27,000,000
[Credit]. Cash = Rp 27,000,000
Ketiga transaksi di atas, akan membuat Buku Besar Work In Process berubah menjadi sebagai
berikut:
01 April, Saldo awal, Debit = Rp 5,000,000
01 April, WIP Raw Material, Debit = Rp 70,000,000
10 April, WIP - Overhead Cost (Maintenance), Debit = Rp 1,000,000
16 April, WIP - Overhead Cost (Electricity), Debit = Rp 850,000
29 April, WIP Direct Labour Cost = Rp 27,000,000
----------------------------------------------------------------------------------Saldo, Work In Process (WIP), Debit = Rp 103,850,000
Keseluruhan Cost yang masuk ke Work In Process (WIP) di ataslah disebut dengan HARGA POKOK
PRODUKSI (Manufacturing Cost), yaitu sebesar Rp 70,000,000 + Rp 1,000,000 + Rp 850,000 + Rp
27,000,000 = Rp 98,850,000. Sehingga Harga Pokok Produksi untuk setiap unit product dasi
adalah sebesar 98,850,000/20000 = Rp 4,943

Page 31 of 39

Pada tanggal 30 April, barang sebanyak 15000 pcs telah dirampungkan dan diserahkan ke gudang
penyimpanan barang jadi. Atas pemasukan barang jadi ke gudang penyimpanan di catat dengan
jurnal:
[Debit]. Inventory = ?
[Credit]. WIP Raw material = ?
[Credit]. WIP Overhead Cost = ?
[Credit]. WIP Overhead Cost = ?
[Credit]. WIP Direct Labor Cost = ?
Masalahnya sekarang; berapakah besarnya nilai inventory diakui?, berapakah besarnya
persediaan Work In Process di convert menjadi inventory?
Jika dilakukan secara manual, dapat dihitung dengan cara:
Inventory = Total Unit Barang Jadi yang dihasilkan x Harga Pokok Produksi
Inventory = 15000 x Rp 4,943 = Rp 74,137,500
Demikian juga dengan WIP yang diconvert menjadi inventory dihitung dengan cara yang sama.
Sehingga jurnal-nya menjadi seperti dibawah ini:
[Debit]. Inventory = Rp 74,137,500
[Credit]. WIP Raw material = 52,500,000
[Credit]. WIP Overhead Cost = 750,000
[Credit]. WIP Overhead Cost = 637,500
[Credit]. WIP Direct Labor Cost = 20,250,000
Dari jurnal ini, akan menghasilkan buku besar sebagai berikut:
Buku Besar Inventory:
01 April, Saldo Awal, Debit = Rp 3,000,000
30 April, Inventory, Debit = Rp 74,137,500
---------------------------------------------------Saldo, Inventory, Debit = Rp 77,137,500
Sedangkan Buku Besar Work In Process berubah menjadi:
01 April, Saldo awal, Debit = Rp 5,000,000
01 April, WIP Raw Material, Debit = Rp 70,000,000
10 April, WIP - Overhead Cost (Maintenance), Debit = Rp 1,000,000
16 April, WIP - Overhead Cost (Electricity), Debit = Rp 850,000
29 April, WIP Direct Labour Cost = Rp 27,000,000
30 April, WIP Raw material, Credit = (52,500,000)
30 April, WIP Overhead Cost, Credit = (750,000)
30 April, WIP Overhead Cost, Credit = (637,500)
30 April, WIP - Direct Labor Cost, Credit = (20,250,000)
----------------------------------------------------------------------------------Saldo, Work In Process, Debit = Rp 29,712,500
Sampai pada tanggal 30 April barang yang sudah laku terjual baru sebanyak 14950 pcs dengan unit
price Rp 12,000/pc. Atas penjualan tersebut dicatat dengan jurnal:
[Debit]. Cost Of Goods Sold = Rp 73,890,375
[Credit]. Inventory = Rp 73,890,375
(Rp 4,943 x 14950 pcs = Rp 73,890,375)
Dan untuk mengakui penjualan dimasukkan jurnal:

Page 32 of 39

[Debit]. Account Receivable = Rp 105,509,625


[Credit]. Sales = Rp 105,509,625
( Rp 12,000 x 14950 pcs)
Jurnal di atas akan menyebabkan Buku Besar Inventory berubah menjadi:
01 April, Saldo Awal, Debit = Rp 3,000,000
30 April, Inventory, Debit = Rp 74,137,500
30 April, Inventory, Credit = (Rp 73,890,375)
-----------------------------------------------------Saldo, Inventory, Debit = Rp 3,247,125
Saldo Buku Besar Raw Material, Work In Process dan Inventory akan masuk ke "BALANCE
SHEET", sedangkan Cost Of Goods Sold dan Sales akan masuk ke PROFIT & LOST
STATEMENT.
Secara umum seperti itulah alur Harga Pokok Produksi (Manufacturing Cost) dan Harga Pokok
Penjualan(Cost Of Goods Sold/HPP) perusahaan Manufactur.
Diposting oleh PUTRA 1 Klik di sini utk isi komentar
Label: Accounting, ARTIKEL, COGS, Cost, Cost Analysis

di 2:34 AM Link ke posting ini

May 3, 2008

Page 33 of 39

Harga Pokok Penjualan (COGS)


Struktur Laporan
Seperti apakah bentuk dan struktur penyajian Harga Pokok Penjualan (COGS) pada Laporan
Laba/Rugi?. Kita akan bahas sebentar lagi.
Harga Pokok Penjualan (Cost Of Goods Sold) yang sering disingkat
dengan HPP atau COGS strukturnya berbeda-beda tergantung jenis usaha dan tingkat keperluan
management dalam menyajikan laporan.
Ada perusahaan yang menyajikan Laporan Laba/Rugi hanya dengan menyebutkan Harga Pokok
Penjualan (Cost Of Goods Sold) saja, ada juga yang di sertai oleh rincian perhitungan-nya dengan
lampiran terpisah, ada juga yang menyajikan semua element yang membentuknya secara lengkap.
Semakin jelas suatu laporan tentu semakin baik, saya pribadi menyarankan agar menyajikan Harga
Pokok Penjualan (pada Laporan Laba/Rugi) minimal menunjukkan unsur utama yang membentuk
harga pokok penjualan tersebut, sesuai dengan jenis usahanya.

Perusahaan Dagang
Seperti yang sudah sering saya sampaikan, bahwa untuk perusahaan dagang, harga pokok
penjualannya biasanya hanya terdiri dari Inventory dan Overhead saja, untuk itu penyajian harga
pokok penjualannya hendaknya menunjukkan kedua unsur tersebut.
Lebih concrete-nya, bentuknya bisa seperti ini:

Catatan: perhatikan area yang berwarna biru/grey.

Perusahaan Manufaktur
Untuk perusahaan manufaktur, adalah tidak mungkin menyajikan perhitungan dan analysis Inventory
dan contributionnya terhadap Cost Of Goods Sold di dalam Laporan Laba Rugi, terlalu banyak item

Page 34 of 39

dan perhitungan. Untuk itu, pada Laporan laba rugi cukup disebut Cost Of Goods Sold saja.
Sebagai penjelasan, Laporan Laba Rugi perlu disertai lampiran perhitungan dan analysisnya.
Bentuk Profit & Lost Statement mungkin seperti ini:

Sedangkan Inventory/Cost of Goods Sold Analysis yang dijadikan lampiran mungkin bentuknya
seperti ini:

Catatan:
Jika pada Profit & Lost Statement hanya menyebutkan Cost Of Goods Sold dan nilainya saja
(tanpa rincian dan perhitungan), maka lampiran perhitungan/analysis wajib dilampirkan, dimana
lampiran tersebut dapat memberikan penjelasan mengenai bagaimana terbentuknya Cost Of Goods
Sold. Cost Of Goods Sold Analysis ini juga disebut dengan Inventory Valuation Analysis untuk

Page 35 of 39

perusahaan manufaktur.
Memperhatikan lembar lampiran Inventory/Cost Of Goods Analysis di atas, dapat kita lihat bahwa
lembaran analysis terdiri dari 4 (empat) sections yang masing-masing section di sertai oleh detail
perhitungan, yaitu:
[-]. Inventory Unit Analysis
Berisi rincian perhitungan Inventory dalam unit (volume)
[-]. Cost Of Goods Sold Analysis
Berisi rincian perhitungan Cost Of Goods Sold (dalam $/Rp)
[-]. Inventory Costing
Berisi rincian inventory dalam value
[-]. Ending Inventory Breakdown
Berisi rincian jenis inventory (Raw Material, Work In Process & Finished Goods) yang nantinya akan
masuk ke dalam Balance Sheet.
Sayang sekali, wadah yang saya siapkan untuk download belum siap di publish. Nanti jika sudah
siap, lembaran kerja analysis yang sudah disertai formula yang sudah jadi dapat anda
download di sana dalam bentuk template yang siap dipakai (tinggal masukkan angka saja)
lengkap dengan kolom rincian product-nya, sehingga bisa melakukan inventory valuation analysis
lebih rinci ke masing-masing jebis product-nya.
Pertanyaan:
Kemanakah Direct Labor Cost dan Overhead Cost-nya?
Jika anda mengikuti posting saya sebelumnya (Cost Of Goods Sold Manufaktur (The Alure)),
bisa anda temukan bahwa pada perusahaan manufaktur, Direct Labor Cost dan Overhead
Cost telah diconvert ke dalam nilai inventory pada saat barang selesai dan diserahkan ke gudang
penyimpanan barang jadi. Sehingga semua barang jadi (Inventory) yang masuk ke gudang
penyimpanan sudah mengandung Direct Labor Cost & Overhead Cost.
Sebagai penutup serie setelah Harga Pokok Penjualan (COGS) - Struktur Laporan ini, di posting
saya berikutnya, akan kita bahas: Cost Of Goods Sold Taxation Notes. Disana akan saya bahas
mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perhitungan Cost Of Goods Sold (Harga Pokok
Penjualan) terkait dengan perpajakan.
Diposting oleh PUTRA 1 Klik di sini utk isi komentar
Label: Accounting, ARTIKEL, COGS, Cost, Cost Analysis

di 5:59 AM Link ke posting ini

May 9, 2008

Page 36 of 39

Cost Of Goods Sold & Pajak


(Taxation Notes)
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam perhitungan dan pencatatan Harga Pokok
Penjualan (Cost Of Goods Sold) berkaitan dengan perpajakan. Apa saja? Kita bahas di artikel ini
dengan cepat dan singkat (tetapi tanpa meninggalkan substansinya).
Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perhitungan dan pencatatan Cost Of Goods Sold
terkait dengan perpajakan, yaitu:
[-]. Raw Material/Inventory Purchase
Pembelian raw material maupun barang jadi disertai oleh PPN.
Jika pembelian dilakukan dengan cara meng-import, maka akan dikenakan PPn Import, dan atas
pembayaran PPN tersebut tentunya anda akan menerima bukti potong PPN yang dipungut oleh pihak
Ditjend Bea Cukai (DJBC).
Jika pembelian dilakukan di dalam negeri, dimana supplier (pemasok barang) sudah PKP maka
pembelian tersebut akan akan disertai PPN juga, dan sebagai pihak yang dipotong tentu anda akan
menerima bukti potong yang akan anda sebut sebagai PPN Masukan (bagi supplier itu adalah PPN
keluaran).
Apakah PPN tersebut bagian dari Inventory?, jawabannya : Tidak.
Misalnya:
Nilai pembelian lokal anda adalah Rp 1,000,000, atas pembelian tersebut anda dipungut PPN Rp
100,000. Walaupun anda membayar (mengakui hutang) sebesar Rp 1,100,000, nilai Inventory/Raw
Material yang anda akui adalah sebesar nilai barangnya saja (tidak termasuk PPN-nya)
Jurnalnya:
[Debit]. Inventory/Raw Material = Rp 1,000,000
[Debit]. PPN = Rp 100,000
[Credit]. Cash/Hutang Dagang = Rp 1,100,000
Atas PPN Rp 100,000 yang dipungut oleh supplier (yang sudah PKP), nantinya bisa anda
kompensasikan (kreditkan) dengan PPN keluaran nantinya jika sudah terjadi penjualan. Lebih
mendalam mengenai PPN kita akan bahas dikesempatan lain. Sekarang focus pada pengakuan
Inventory/Raw Material saja dahulu.

[-]. Inbound Freight (Bea Angkut) atas Raw Material/Inventory Purchase


Jika pembelian raw material/inventory disertai oleh bea angkut (inbound freight), maka inbound freight
adalah element dari inventory (otomatis akan menjadi element COGS).
Misalnya:
Dilakukan pembelian Rp 1,000,000 dan atas pembelian tersebut anda menanggung bea angkut
sebesar Rp 50,000, maka jurnalnya:
[Debit]. Raw Material/Inventory = Rp 1,050,000
[Credit]. Hutang Dagang = Rp 1,050,000
Bisa juga bea angkut tidak dicatat dengan rekening terpisah, misalnya: rekeningnya di sebut Bea
Angkut, hanya saja bea angkut tersebut dikelompokkan ke dalam Cost Of Goods Sold.

Page 37 of 39

[-]. Penggunaan Inventory/Raw Materials


Tidak menutup kemungkinan sejumlah tertentu dari raw materials atau inventory dipergunakan tidak
untuk aktivitas yang berhubungan dengan produksi dan penjualan. Misalnya: Disumbangkan
(charity), dipergunakan untuk keperluan pribadi (personal use), atau diserahkan kepada pihak
tertentu yang bukan untuk maksud dijual.
Penggunaan Inventory/Raw material yang tidak dimaksudkan untuk berproduksi dan dijual,
tidak boleh diakui sebagai Cost.
Pertanyaan: Kenyataannya inventory atau raw material berkurang, sementara pengurangan atas
inventory/raw material tersebut tidak boleh diakui sebagai cost, lalu diakui sebagai apa dan
bagaimana mencatatnya?.
Berkurangnya inventory/raw material tersebut dicatat sesuai maksudnya, jika di sumbangkan, catat
sebagai biaya sumbangan (charity), jika dipergunakan untuk keperluan pribadi (personal use) maka
dicatat sebagai piutang dagang atau jenis debit tertentu (mungkin: employee advance, atau director
advance atau yang sejenisnya). Dan dijurnal:
[Debit]. Charity (Sumbangan)
[Credit]. Inventory/Raw Material
Catatan: Pada buku Laporan Keuangan komersial, charity dikelompokkan ke dalam expenses (biaya
operasional). Sedangkan bagi Ditjend pajak, sumbangan (charity) tidak diakui sebagai biaya/cost, dan
akan menjadi koreksi fiskal atas laporan komersial yang mengakui adanya sumbangan (charity).
Atau di jurnal dengan:
[Debit]. Employee Advance/Director Advance
[Credit]. Inventory/Raw Material
Catatan: Employee advance, bukan bagian dari Nominal account akan tetapi merupakan Real
Account yaitu pada kelompok "Current Asset", yang nantinya (pada saat tertentu) harus di offset
dengan rekening lain.
Misalnya:
Direktur mengambil beberapa unit inventory/raw material senilai Rp 500,000 untuk dipakai pribadi,
atas pengambilan inventory tersebut dicatat:
[Debit]. Director Advance = Rp 500,000 Ke Balance Sheet
[Credit]. Inventory/raw Material = Rp 500,000 Ke Balance Sheet
Atas penggunaan pribadi inventory/raw material tersebut, akan dipotongkan pada gaji yang akan
diterima oleh director pada bulan depannya, saat pembayaran gaji director dicatat:
[Debit]. Payroll Expense = Rp 10,000,000
[Credit]. Cash = Rp 9,500,000
[Credit]. Director Advance = Rp 500,000
Dengan jurnal ini, maka director advance menjadi nol, biaya gaji tetap sebagaimana seharusnya, dan
cash yang dikeluarkan lebih kecil dari jumlah gajinya, karena sebagian gaji sudah diambil dalam
bentuk inventory/raw material bulan lalunya.

Dengan posting ini ( Cost Of Goods Sold & Pajak (Taxation Notes) ), saya rasa series Cost of
Goods Sold (Harga Pokok Penjualan) sudah cukup. Tapi jangan khawatir, nanti akan ditambahkan
dengan kasus-kasus yang agak controversial, aneh, ajaib, lebih insightful dan pernak-pernik yang

Page 38 of 39

berhubungan dengan Cost Of Goods Sold, termasuk: inventory analysis, Cost of Goods Analysis dan
cost ratio yang terkait, agar menjadi lebih kaya dan lebih advance tentunya.
Diposting oleh PUTRA 0 Klik di sini utk isi komentar
Label: Accounting, Akuntansi Pajak, ARTIKEL, COGS, Cost, Cost Analysis, PAJAK

di 1:49 AM Link ke posting ini

May 11, 2008

Page 39 of 39