Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Sumber daya alam (SDA) merupakan modal penting dalam menggerakkan
roda pembangunan, baik dalam konteks negara, propinsi ataupun kabupaten. Berbagai SDA yang ada
secara ekonomi dimanfaatkan untuk mendapatkan dana pembangunan. Pertambangan,kehutanan,
pertanian, kelautan, dan pariwisata merupakan sektor-sektor pembangunan yang menjadi primadona
investasi ekonomi di Indonesia dalam dekade terakhir. Kegiatan pertambangan di Indonesia
terus berkembang, hal ini tentu dapat meningkatkan resiko terhadap kerusakan lingkunagan yang
akan terjadi.
PT. Freeport Indonesia merupakan salah satu perusahaan pertambangan terbesar di Indonesia
bahkan di dunia. Pertambangan Freeport di Indonesia berupa jenis Galian Emas, Perak, Tembaga dan
material ikutan lainnya. Lokasinya di Grasberg dan Eastberg, Pegunungan Jaya Wijaya, Papua. Luas
konsesi adalah19.000 km2 (Grasberg) dan 100 km2(Eastberg).Dengan adanya Kontrak Karya yang
telah diperbaharuisampai 2021 .Pemerintah Indonesia berupaya merebut saham Freeport demi
kestabilan Ketahanan Nasional Indonesia akibat banyaknya ketidak seimbangan keuntungan yang
diperoleh rakyat Indonesia.
Freeport merupakan salah satu penyumbang terbesar bagi devisa Negara.Namun,
pertambangan freeport juga menimbulkan masalah yang kompleks, mulai dari pencemaran
lingkungan, terutama lingkungan sekitar, sampai kepada masalah sosial.Pencemaran yang terjadi di
Freeport di antaranya pencemaran tanah dan air. Dengan adanya kegiatan penambangan yang
dilakukan oleh Freeport, sebenarnya telah menunjukkan ketidakberdayaan kita dalam mengelola
kekayaan alam Indonesia.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1.2.1

Bagaimana Ketahanan Nasional di Indonesia ?

1.2.2

Bagaimana dampak ketahanan nasional dibidang ekonomi?

1.2.3

Bagaimana Dasar Hukum Pertambangan Mineral dan Batu Bara di Indonesia?

1.2.4

Bagaimana Sejarah dan Kondisi PT. Freeport di Indonesia ?

1.2.5

Bagaimana dampak Kesenjangan Ekonomi Yang Ditimbulkan PT. Freeport?

1.2.6

Bagaimana terjadinya konflik yang menimbulkan kerugian perekonomian Indonesia?

1.2.7

Bagaimana usaha yang telah dilakukan pemerintah?

BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 PENGERTIAN KETAHANAN NASIONAL
Ketahanan nasional adalah kondisi dinamika, yaitu suatu bangsa yang berisi keuletan dan
ketangguhan yang mampu mengembangkan ketahanan, Kekuatan nasional dalam menghadapi dan
mengatasi segala tantangan, hambatan dan ancaman baik yang datang dari dalam maupun dari luar.
Juga secara langsung ataupun tidak langsung yang dapat membahayakan integritas, identitas serta
kelangsungan hidup bangsa dan negara.
Ketahanan nasional diperlukan dalam rangka menjamin eksistensi bangsa dan negara dari segala
gangguan baik yang datangnya dari dalam maupun dari dalam negeri. Untuk itu bangsa Indonesia
harus tetap memiliki keuletan dan ketangguhan yang perlu dibina secara konsisten dan berkelanjutan.
2.1.1

Tujuan dan Fungsi Ketahanan Nasional


Srijanti, dkk (2009) menjelaskan tujuan, fungsi, dan sifat dari ketahanan nasional sebagai

berikut:
a)

Tujuan Ketahanan Nasional


Ketahanan nasional diperlukan dalam menunjang keberhasilan tugas pokok

pemerintahan, seperti tegaknya hukum dan ketertiban, terwujudnya kesejahteran dan


kemakmuran, terselenggaranya pertahanan dan keamanan, terwujudnya keadilan hukum dan
keadilan sosial, serta terdapatnya kesempatan rakyat untuk mengaktualisasi diri.
b)

Fungsi Ketahanan Nasional

Ketahanan nasional mempunyai fungsi sebagai:


(1). Daya tangkal, dalam kedudukannya sebagai konsepsi penangkalan, ketahanan nasional
Indonesia ditujukan untuk menangkal segala bentuk ancaman, gangguan, hambatan, dan
tantangan terhadap identitas, integritas, eksistensi bangsa, dan negara Indonesia dalam
aspek: ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan.
(2). Pengarah bagi pengembangan potensi kekuatan bangsa dalam bidang ideologi, politik,
ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan sehingga tercapai kesejahteraan
rakyat.
(3). Pengarah dalam menyatukan pola pikir, pola tindak, dan cara kerja intersektor,
antarsektor, dan multidisipliner. Cara kerja ini selanjutnya diterjemahkan dalam RJP yang
dibuat oleh pemerintah yang memuat kebijakan dan strategi pembangunan dalam setiap
sektor untuk mencapai tujuan nasional mewujudkan masyarakat adil dan makmur.
2.1.2 Perwujudan Ketahanan Nasional
3

Perwujudan Ketahanan Nasional yang dikembangkan bangsa Indonesia meliputi (Bahan


Penataran, BP7 Pusat, 1996) :
a)

Ketahanan ideologi, adalah kondisi mental bangsa Indonesia yang berdasarkan

keyakinan akan kebenaran ideologi Pancasila yang mengandung kemampuan untuk


menggalang dan memelihara persatuan dan kesatuan nasional dan kemampuan untuk
menangkal penetrasi ideologi asing serta nilai-nilai yang tidak sesuai dengan kepribadian
bangsa.
b)

Ketahanan politik, adalah kondisi kehidupan politik bangsa Indonesia yang

berlandaskan demokrasi yang bertumpu pada pengembangan demokrasi Pancasila dan UUD
1945 yang mengandung kemampuan memelihara stabilitas politik yang sehat dan dinamis
serta kemampuan menerapkan politik luar negeri yang bebas aktif.
c)

Ketahanan ekonomi, adalah kondisi kehidupan perekonomian bangsa Indonesia yang

berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 yang mengandung kemampuan menerapkan stabilitas
ekonomi yang sehat dan dinamis serta kemampuan menciptakan kemandirian ekonomi
nasional dengan daya saing yang tinggi dan mewujudkan kemakmuran rakyat yang adil dan
makmur.
d)

Ketahanan sosial budaya, adalah kondisi kehidupan sosial budaya bangsa Indonesia

yang menjiwai kepribadian nasional yang berdasarkan Pancasila yang mengandung


kemampuan membentuk dan mengembangkan kehidupan sosial budaya manusia dan
masyarakat Indonesia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, hidup
rukun, bersatu, cinta tanah air, berkualitas, maju dan sejahtera dalam kehidupan yang serba
selaras, serasi dan seimbang serta kemampuan menangkal penetrasi budaya asing yang tidak
sesuai dengan kebudayaan nasional.
e)

Ketahanan pertahanan keamanan, adalah kondisi daya tangkal bangsa Indonesia yang

dilandasi negara seluruh rakyat yang mengandung kemampuan memelihara stabilitas


pertahanan keamanan negara yang dinamis, mengamankan pembangunan dan hasilnya serta
kemampuan mempertahankan kedaulatan Negara dan menangkal semua bentuk ancaman.
2.1.3

Ciri dan asas ketahanan nasional


Ketahanan nasional yang dikembangkan bangsa Indonesia bertumpu pada budaya yang
dimiliki oleh bangsa Indonesia sehingga berbagai cirri ketahanan nasional yang
dikembangkan tidak dapat dilepaskan dari tata kehidupan bangsa Indonesia (Suhady dan
Sinaga, 2006).
a)

Ciri Ketahanan Nasional

(1). Ketahanan nasional merupakan prasyarat utama bagi bangsa yang sedang membangun
menuju bangsa yang maju dan mandiri dengan semangat tidak mengenal menyerah yang akan
4

memberikan dorongan dan rangsangan untuk berbuat dalam mengatasi tantangan, hambatan
dan gangguan yang timbul.
(2).Menuju mempertahankan kelangsungan hidup. Bangsa Indonesia yang baru membangun
dirinya tidak lepas dari pencapaian tujuan yang dicitacitakan.
(3). Ketahanan nasional diwujudkan sebagai kondisi dinamis bangsa Indonesia yang berisi
keuletan dan ketangguhan bangsa untuk mengembangkan kekuatan dengan menjadikan ciri
mengembangkan ketahanan nasional berdasarkan rasa cinta tanah air, setia kepada
perjuangan, ulet dalam usaha yang didasarkan pada ketaqwaan dan keimanan kepada Tuhan
Yang Maha Esa, keuletan dan ketangguhan sesuai dengan perubahan yang dihadapi sebagai
akibat dinamika perjuangan, baik dalam pergaulan antar bangsa maupun dalam rangka
pembinaan persatuan dan kesatuan bangsa.
b)

Asas Ketahanan Nasional

Pengembangan ketahanan nasional bangsa Indonesia didasari pada asas-asas sebagai berikut:
(1). Kesejahteraan dan keamanan
(2). Utuh menyeluruh terpadu
(3). Kekeluargaan
(4). Mawas diri

http://demokrasiindonesia.blogspot.co.id/2014/08/ketahanan-nasional-pengertian-fungsi.html

2.2 KETAHANAN NASIONAL DIBIDANG EKONOMI


Bagi ketahanan nasional, aspek ekonomi juga merupakan hal yang sangat penting karena dengan
ekonomi yang stabil akan perpengaruh positif terhadap ketahanan nasional suatu Negara.
Perekonomian merupakan salah satu aspek kehidupan nasional yang berkaitan dengan pemenuhan
kebutuhan bagi masyarakat, meliputi produksi, distribusi, serta konsumsi barang dan jasa. Usahausaha untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat secara individu maupun kelompok serta cara-cara
yang dilakukan dalam kehidupan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan. Oleh karena itulah aspek
ekonomi sangat berpengaruh karena terlibat langsung dengan masyarakat. Sebagai contoh adalah
ketahanan nasional dalam bidang pangan. Dengan ekonomi yang baik tentu saja suatu Negara tidak
akan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan warga negaranya. Kelaparan tidak akan terjadi dan
kemiskinan perlahan dapat berkurang. Selain itu suatu Negara akan sangat mudah menerapkan suatu
teknologi baru terhadap sistem pertanian mereka jika Negara tersebut sehat perekonomiannya.
Pertahanan juga merupakan aspek yang tidak kalah penting bagi ketahanan nasional. Bagi negeranegara di dunia, aspek ini merupakan yang banyak menyedot anggaran Negara karena begitu
pentingnya. Pembelian alutsista misalnya, merupakan cara bagi suatu Negara memperkuat pertahanan
5

mereka. Tidak bisa dipungkiri bagi Indonesia yang merupakan Negara kepulauan sangat rentan
terhadap serangan-serangan yang mengancam kesatuan NKRI. Oleh karena itulah kekuatan
pertahanan nasional sangat diperlukan. TNI-AD, TNI-AL dan TNI-AU merupakan ujung tombak kita
dalam menghalau kejadian yang tidak diinginkan. Sehingga perlu perekonomian yang kuat dan stabil
untuk bisa merealisasikannya.
Aspek dalam kehidupan Nasional yang berintegrasi, berisi keuletan dan ketangguhan, yang
banyak mengandung kemampuan dalam mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi dan
mengatasi segala problema dan ancaman-ancaman (gangguan) baik yang datang dari dalam maupun
dari luar, secara langsung maupun tidak langsung.
Ketahanan Nasional dalam bidang Ekonomi itu sendiri dapat tercermin dalam berbagai kondisi
kehidupan pereknomian bangsa yang mana dalam bangsa tersebut dapat memelihara kemandirian
Ekonomi Nasional.
Peranan Negara dalam sistem ekonomi kerakyatan sesuai dengan pasal 33 UUD 1945 lebih
ditekankan bagi segi penataan kelembagaan melalui pembuatan peraturan perundang-undangan.
Penataan itu baik menyangkut cabang-cabang produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak,
maupun sehubungan dengan pemanfaatan bumi, air, dan segala kekayaan alam yang terkandung di
dalamnya. Tujuannya adalah untuk menjamin agar kemakmuran masyarakat senantiasa lebih
diutamakan daripada kemakmuran orang seorang, dan agar tampuk produksi tidak jatuh ke tangan
orang seorang yang memungkinkan ditindasnya rakyat banyak oleh segelintir orang yang berkuasa.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ketahanan di Bidang Ekonomi Negara berkembang seperti
Indonesia dalam pengelolaan factor produksi menjadi barang dan jasa mempunyai cirri sebagai
berikut:
a. Bumi dan sumber alam,
Belum ada kemampuan sepenuhnya untuk memanfaatkan kekayaan alam, yaitu karena,
kurang modal, belum memiliki keterampilan teknologi yang memadai dan tingkat manajemen
yang belum memenuhi harapan.
Bencana alam seperti banjir dan musim kering yang hanya dikuasai dengan pengendalian
sungai dan banjir.
Struktur ekonomi agraris merupakan tekanan berat atas areal tanah dan lingkungan dengan
konsekuensi social yang amat luas.
Negara yang tidak mempunyai kekayaan alam sangat tergantung kepada impor bahan baku
yang banyak memerlukan devisa sehingga perkembangan industrinya lamban.
b. Faktor modal
6

Modal dapat diperoleh dari tabungan, pajak, reinvestasi perusahaan, pendapatan ekspor dan
modal asing. Negara berkembang menghadapi kekurangan modal dan pemupukan modal dalam
negeri terbatas, misalnya disebabkan :

Pendapatan masyarakat rendah, sehingga tidak memungkinkan adanya tabungan


Dasar tariff pajak dan aparatur pemungutan pajak masih terbatas,
Kemampuan investasi modal perusahaan masih kurang.

Untuk mengurangi masalah ekonomi dalam bidang modal perlu ditempuh strategi
pembangunan yang bertujuan:

Memberikan pendidikan keterampilan secara masal dan terarah,


Industrialisasi untuk perluasan lapangan pekerjaan,
Peningkatan produksi barang dan jasa untuk konsumsi dalam negeri dan untuk ekspor

barang setengah jadi dan barang jadi,


Pembinaan permodalan bagi pengusaha golongan ekonomi lemah.

c. Faktor teknologi
Penggunaan teknologi memerlukan pertimbangan-pertimbangan, misalnya:
Labour intensive (Padat karya)
Teknologi intermediate atau teknologi Elektra.
Teknologi mutakhir atau technocratium.
d. Hubungan dengan ekonomi luar negeri
Hal-hal yang harus diperhatikan oleh Negara-negara berkembang di bidang hubungan ekonomi
luar negeri adalah sebagai berikut:
Melebarnya jurang pemisah antara Negara maju dengan Negara berkembang, kerena
pertumbuhan ekonomi yang tidak sama.
Akibat perkembangan tersebut ialah berupa kemerosotan harga bahan ekspor tradisional dan
menurunkan hasil produksi Negara berkembang.
Makin tinggi kapasitas produksi dan volume ekspor Negara industri, makin mudah keadaan
tersebut dipengaruhi oleh perkembangan pasaran internasional.
Adanya pengelompokan Negara maju menjadi masyarakat ekonomi.
e.

Prasarana atau infrastruktur

Prasarana merupakan segal sesuatu yang diperlukan untuk menunjang produksi barang dan
jasa. Prasarana adalah factor utama bagi pertumbuhan dan kelangsungan ekonomi Negara.
Usaha subversip dan infiltrasi baik dalam suasana damai, apalagi dalam keadaan perang selalu
menjadikan prasarana sebagai sasaran utama dari pihak lawan.
f. Faktor manajemen
7

Manajemen adalah tata cara mengelola perusahaan. Public administration adalah manajemen
atau tatacara perusahaan oleh aparatur Negara, sedangkan business managemen adalah tatacara
perusahaanoleh pihak swasta
Dalam pencapaian tingkat ketahanan Ekonomi yang diinginkan pun banyak memerlukan
pembinaan, diantaranya seperti :

Ekonomi kerakyatan harus menghindarkan sistem free fight liberalism, etatisme dan

monopolistis.
Pembangunan ekonomi memotivasi serta mendorong peran serta masyarakat secara aktif
Sistem ekonomi Indonesia diarahkan untuk dapat mewujudkan kemakmuran dan

kesejahteraan yang adil dan merata di seluruh wilayah Indonesia


Pemerataan pembangunan dan pemanfaataan hasil-hasilnya senantiasa memperhatikan

keseimbangan antar sektor dan antar wilayah.


Struktur ekonomi dimantapkan secara seimbang dan saling menguntungkan dalam
keterpaduan antar sektor pertanian, industri serta jasa.

https://kewarganegaraanblog.wordpress.com/2013/11/23/ketahanan-nasional-di-bidang-ekonomi/

2.3 DASAR HUKUM TENTANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATU BARA


2.3.1

Pasal 33 UUD 1945:


a.Ayat (2) Cabang-cabang produksi yang penting dan yang menguasai hajat hidup orang
banyak dikuasai oleh negara
b.Ayat (3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh
negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat

2.3.2

UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara:


a.Pasal 95 huruf c Pemegang IUP dan IUPK wajib meningkatkan nilai tambah sumber daya
mineral dan/atau batubara
b.Pasal 102 Pemegang IUP dan IUPK wajib meningkatkan nilai tambah sumber daya
mineral dan/atau batubara dalam pelaksanaan penambangan, pengolahan dan pemurnian,
serta pemanfaatan mineral dan batubara
c.Pasal 103 ayat (1) Pemegang IUP dan IUPK Operasi Produksi wajib melakukan
pengolahan dan pemurnian hasil penambangan di dalam negeri

d.Pasal 103 ayat (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai peningkatan nilai tambah
sebagaimana dimaksud dalam pasal 102 serta pengolahan dan pemurnian sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah
e.Pasal 170 Pemegang kontrak karya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 169 yang sudah
berproduksi wajib melakukan pemurnian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 ayat (1)
selambat-lambatnya 5 (lima) tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan
2.3.3

PP No 23 Tahun 2010, tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan


Batubara:
a.Pasal 84 ayat (1) Pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi harus
mengutamakan kebutuhan mineral dan/atau batubara untuk kepentingan dalam negeri
b.Pasal 93 ayat (1) Pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi mineral
wajib melakukan pengolahan dan pemurnian untuk meningkatkan nilai tambah mineral yang
diproduksi, baik secara langsung maupun melalui kerja sama dengan perusahaan, pemegang
IUP dan IUPK lainnya
c.Pasal 95 :
(2) Peningkatan nilai tambah mineral logam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
dilaksanakan melalui kegiatan :
a. pengolahan logam; atau
b. pemurnian logarn.
(3) Peningkatan nilai tambah mineral bukan logarn sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf b dilaksanakan melalui kegiatan pengolahan mineral bukan logam.
(4) Peningkatan nilai tambah batuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c
dilaksanakan melalui kegiatan pengolahan batuan.
d.Pasal 96 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara peningkatan nilai tambah mineral dan
batubara sebagaimana dimaksud dalam pasal 95 diatur dengan Peraturan Menteri
e.Pasal 112 angka 4 huruf c Kuasa pertambangan, surat izin pertambangan daerah, dan
surat izin pertambangan rakyat, yang diberikan berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan sebelum ditetapkannya Peraturan Pemerintah ini tetap diberlakukan
sampai jangka waktu berakhir serta wajib melakukan pengolahan dan pemurnian di dalam
negeri dalam jangka waktu paling lambat 5 (lima) tahun sejak berlakunya Undang-Undang
Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara

2.3.4

PP No 52 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah No 1/2007


tentang Fasilitas Pajak Penghasilan Untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha
Tertentu Dan/Atau Di Daerah-Daerah Tertentu

2.3.5

Peraturan Menteri ESDM No 34 Tahun 2009, tentang Pengutamaan Pemasokan Kebutuhan


Mineral dan Batubara untuk Kepentingan Dalam Negeri

2.3.6

Permen No. 7 Tahun 2012 jo. Permen ESDM No 11/2012 jo. Permen ESDM No. 20/2013

http://ramadhanu-adlian.blogspot.co.id/2012_04_01_archive.html

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 SEJARAH DAN KONDISI PT. FREEPORT
PT Freeport Indonesia (PTFI) merupakan perusahaan afiliasi dari Freeport-McMoRan. PTFI
menambang, memproses dan melakukan eksplorasi terhadap bijih yang mengandung tembaga, emas

10

dan perak. Beroperasi di daerah dataran tinggi di Kabupaten Mimika Provinsi Papua, Indonesia. Yang
memasarkan konsentrat yang mengandung tembaga, emas dan perak ke seluruh penjuru dunia.
Freeport-McMoRan merupakan perusahaan publik di bidang tembaga yang terbesar di dunia,
penghasil utama di dunia dari molybdenum logam yang digunakan pada campuran logam baja
berkekuatan tinggi, produk kimia, dan produksi pelumas serta produsen besar emas. Selaku
pemimpin industri, FCX telah menunjukkan keahlian terbukti untuk teknologi maupun metode
produksi menghasilkan tembaga, emas dan molybdenum. FCX menyelenggarakan kegiatan melalui
beberapa anak perusahaan utama; PTFI, Freeport-McMoRan Corporation dan Atlantic Copper.
PT. Freeport Indonesia telah beroperasi selama kurang lebih 46 tahun sejak 1967, dan kini
merupakan perusahaan penghasil emas terbesar di dunia melalui tambang Grasberg. PT. Freeport
Indonesia telah melakukan eksplorasi di Papua di dua tempat yaitu tambang Erstberg dari tahun 1967
dan tambang Grasberg pada tahun 1988 tepatnya dikawasan tembaga puri, kabupaten Mimika,
provinsi Papua.
PT. Freeport Indonesia telah mengetahui bahwa tanah di daerah Mimika Papua memiliki potensi
besar ada pertambangan emas terbesar di dunia, sehingga PT. Freeport Indonesia mulai memasuki
daerah Mimika pada tahun 1971 dengan membuka lahan awalnya di Erstberg.
Penandatanganan Kontrak Karya (KK) I pertambangan antara pemerintah Indonesia dengan Freeport
pada 1967, menjadi landasan bagi perusahaan ini mulai melakukan aktivitas pertambangan. Tak hanya
itu, KK ini juga menjadi dasar penyusunan UU Pertambangan Nomor 11/1967, yang disahkan pada
Desember 1967 atau delapan bulan berselang setelah penandatanganan KK.
Keberadaan dan operasional PT. Freeport Indonesia sejak 1967 hingga kini telah memberi
keuntungan yang sangat besar bagi perusahaan induknya, yakni Freeport McMoran di Amerika
Serikat. Hal ini terlihat dari jumlah penjualan Freeport pada tahun 2012, yaitu menjual 915.000 ons
(28,6 ton) emas dan 716 juta pon (358 ribu ton) tembaga dari tambang Grasberg di Papua. Hasil
penjualan emas itu menyumbang 91% penjualan emas perusahaan induknya.
Berdasarkan laporan keuangan Freeport McMoran, total penjualan emas Freeport sebanyak
1,01 juta ons (31,6 ton) emas dan 3,6 miliar pon ( 1,8 juta ton) tembaga. Penjualan tembaga asal
Indonesia menyumbang seperlima penjualan komoditas sejenis bagi perusahaan induknya.
Harga komoditas pertambangan memang turun belakangan ini lantaran rendahnya permintaan
di pasar dunia. Namun, kondisi ini tidak terlalu berpengaruh terhadap keuntungan perusahaan.
Buktinya, laba Freeport naik sekitar 16 persen pada kuartal keempat tahun lalu menjadi USD 743 juta
11

(Rp 7,2 triliun). Total pendapatan juga meningkat menjadi USD 4,51 miliar dari USD 4,16 miliar pada
periode sama tahun sebelumnya.
Pada Maret 1973, Freeport memulai pertambangan terbuka di Ertsberg, kawasan yang selesai
ditambang pada tahun 1980 dan menyisakan lubang sedalam 360 meter. Pada tahun 1988, Freeport
mulai mengeruk cadangan raksasa lainnya, Grasberg, yang masih berlangsung saat ini. Lubang
tambang Grasberg telah mencapai diameter 2,4 kilometer pada daerah seluas 499 hektar dengan
kedalaman 800 meter. Diperkirakan terdapat 18 juta ton cadangan tembaga, dan 1.430 ton cadangan
emas yang tersisa hingga rencana penutupan tambang pada 2041. Bahkan ada spekulasi bahwa PT.
Freeport Indonesia juga memproduksi uranium, suatu zat yang sangat dicari oleh banyak negara di
dunia untuk kebutuhan energi, walaupun sebenarnya hal ini belum terbukti secara sah.

3.2 KESENJANGAN EKONOMI YANG DITIMBULKAN PT. FREEPORT


Pertambangan Freeport menimbulkan dampak sosial dan budaya. Hal ini dapat dilihat dari sisi
kependudukannya. Pemukiman penduduk semakin tersingkir dan menjadi perkampungan kumuh di
tengah-tengah kawasani industritambang termegah di Asia Dengan demikian perkembangan tambang
ditengah-tengah suku AmungmedanKamoro ini bukannya mendatangkan kehidupan yang lebih baik,
melainkan semakin menyudutkan mereka menjadi kelompok marginal. Hal ini semakin terdorong
oleh semakin besarnya arus urbanisasi ke Timika dari daerah-daerah sekitarnya dan dari pulau lain di
Indonesia.
Dimana kehidupan homogeny di masalalu seketika menghadapi tantangan dari luar dengan
hadirnya berbagai suku dan bangsa yang masuk wilayah adat suku Amungme dan Kamoro.
Penembakan dan penyerangan warga sipil di Nafri, Abepura, Papua. Empat orang tewas.
Belakangan, kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Danny Kogoya mengaku
bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Polisi dan TNI dengan kekuatan 300 personel berhasil
menemukan markas Danny, namun komplotan tersebut telah lari. Di tempat itu ditemukan dokumen
Papua merdeka dan bendera Bintang Kejora.
Hampir dalam waktu bersamaan, kelompok yang menamakan dirinya Tentara Pembebasan
Nasional (TPN) OPM, pimpinan Goliat Tabuni mengklaim telah menyerang helikopter TNI di Puncak
Jaya. Serangan ini menewaskan seorang anggota TNl dan melukai tujuh orang lainnya.
Pengakuan itu disampaikan Goliat Tabuni di markasnya di Tinggi Nambut, Papua Barat. Di
sekeliling markasnya itu dikibarkan bendera beberapa negara, seperti Amerika Serikat, Belanda, dan
Bintang Kejora serta bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa. Sedangkan bendera Merah Putih yang

12

sebelumnya berkibar, diturunkan, lalu dibakar. Ia menegaskan, penembakan itu merupakan wujud
perlawanan mereka terhadap NKRI. Mereka akan terus melawan hingga Papua merdeka terwujud.
Kondisi ini sangat kontras dengan dana yang dikucurkan pemerintah dalam Otonomi Khusus
(Otsus) Papua yang nilainya mencapai lebih dari Rp 30 trilyun. Dana Otsus itu dikucurkan untuk
mendorong pembangunan infrastruktur dan sosial ekonomi masyarakat setempat.Badan Pemeriksa
Keuangan (BPK) pada pertengahan bulan April 2011 menemukan adanya dugaan penyelewengan
Dana Otsus Papua sebesar Rp 1,85 trilyun. Dana sebesar itu dipertanyakan karena parkir dan tidak
diketahui jelas pemanfaatannya dan didepositokan di beberapa bank nasional dan daerah. Namun,
Kepala BPKAD Papua Achmad Hatari menyatakan, semua telah sesuai prosedur.
Keuntungan yang didapatkan Freeport bukannya mengalir ke negara apalagi ke rakyat Papua.
Laba yang jumlahnya trilyunan itu lari ke Amerika. Indonesia hanya mendapatkan bagian sangat kecil
berupa royalti dan pajak yang tak seberapa. Data tahun 2010, yang didapatkan Indonesia hanya sekitar
Rp 10 trilyun. Makanya, Amerika ingin terus mempertahankan daerah kaya emas ini, yang
kandungannya diketahui sekitar 2,16 - 2,5 miliar ton. Itu belum termasuk kandungan tembaga sebesar
22 juta ton lebih.
http://googleweblight.com/?lite_url=http://anapangesti.blogspot.com/2013/05/dampak-penambanganfreeport.html?m%3D1&ei=rv-ghv8r&lc=idID&s=1&m=446&host=www.google.co.id&ts=1463288127&sig=APY536yPBxwjpB86i6w_8JmB1
OLlQXcICA

3.3 KONFLIK DAN KERUGIAN PEREKONOMIAN YANG DIALAMI INDONESIA


3.3.1

Kontrak Karya yang Merugikan dari Generasi ke Generasi


Freeport memperoleh kesempatan untuk mendulang mineral di Papua melalui tambang

Ertsberg sesuai Kontrak Karya Generasi I (KK I) yang ditandatangani pada tahun 1967. Freeport
adalah perusahaan asing pertama yang mendapat manfaat dari KK I. Dalam perjalanannya, Freeport
telah berkembang menjadi salah satu raksasa dalam industri pertambangan dunia, dari perusahaan
yang relatif kecil. Hal ini sebagian besar berasal dari keuntungan yang spektakuler sekaligus
bermasalah yang diperoleh dari operasi pertambangan tembaga, emas, dan perak di Irian Jaya, Papua.
KK I dengan Freeport ini terbilang sangat longgar, karena hampir sebagian besar materi
kontrak tersebut merupakan usulan yang diajukan oleh Freeport selama proses negosiasi, artinya lebih
banyak disusun untuk kepentingan Freeport. Dalam operasi pertambangan, pemerintah Indonesia
tidak mendapatkan manfaat yang proposional dengan potensi ekonomi yang sangat besar di wilayah
pertambangan tersebut. Padahal bargaining position pemerintah Indonesia terhadap Freeport sangatlah
tinggi, karena cadangan mineral tambang yang dimiliki Indonesia di wilayah pertambangan Papua
13

sangat besar bahkan terbesar di dunia. Selain itu, permintaan akan barang tambang tembaga, emas dan
perak di pasar dunia relatif terus meningkat.
Dengan kondisi cadangan yang besar, Freepot memiliki jaminan atas future earning. Apalagi,
bila ditambah dengan kenyataan bahwa biaya produksi yang harus dikeluarkan relatif rendah karena
karakteristik tambang yang open pit. Demikian pula emas yang semula hanya merupakan by-product,
dibanding tembaga, telah berubah menjadi salah satu hasil utama pertambangan.
Freeport sudah sejak lama berminat memperoleh konsesi penambangan tembaga di Irian Jaya.
KK I Freeport disusun berdasarkan UU No 1/67 tentang Pertambangan dan UU No. 11/67 tentang
PMA. KK antara pemerintah Indonesia dengan Freeport Sulphur Company ini memberikan hak
kepada Freeport Sulphur Company melalui anak perusahaannya (subsidary) Freeport Indonesia
Incorporated (Freeport), untuk bertindak sebagai kontraktor tunggal dalam eksplorasi, ekploitasi, dan
pemasaran tembaga Irian Jaya. Lahan ekplorasi mencangkup areal seluas 10.908 hektar selama 30
tahun, terhitung sejak kegiatan komersial pertama. KK I mengandung banyak sekali kelemahan
mendasar dan sangat menguntungkan bagi Freeport. Kelemahan- tersebut utamanya adalah sebagai
berikut:
(1) Perusahaan yang digunakan adalah Freeport Indonesia Incorporated, yakni sebuah
perusahaan yang terdaftar di Delaware, Amerika Serikat, dan tunduk pada hukum Amerika
Serikat. Dengan lain perkataan, perusahaan ini merupakan perusahaan asing, dan tidak tunduk
pada hukum Indonesia.
(2) Dalam kontrak tidak ada kewajiban mengenai lingkungan hidup, karena pada waktu
penandatanganan KK pada tahun 1967 di Indonesia belum ada UU tentang Lingkungan
Hidup. Sebagai contoh, akibat belum adanya ketentuan tentang lingkungan hidup ini, sejak
dari awal Freeport telah membuang tailing ke Sungai Aikwa sehingga mengakibatkan
kerusakan lingkungan.
(3) Pengaturan perpajakan sama sekali tidak sesuai dengan pengaturan dalam UU Perpajakan
yang berlaku, baik jenis pajak maupun strukturnya. Demikian juga dengan pengaturan dan
tarif depresiasi yang diberlakukan. Misalnya Freeport tidak wajib membayar PBB atau PPN.
(4) Tidak sesuainya struktur pajak maupun tarif pajak yang diberlakukan dalam KK I
dirasakan sebagai pelanggaran terhadap keadilan, baik terhadap perusahaan lain, maupun
terhadap Daerah. Freeport pada waktu itu tidak wajib membayar selain PBB juga, land rent,
bea balik nama kendaraan, dan lain-lain pajak yang menjadi pemasukan bagi Daerah.

14

(5) Tidak ada kewajiban bagi Freeport untuk melakukan community development. Akibatnya,
keberadaan Freeport di Irian Jaya tidak memberi dampak positif secara langsung terhadap
masyarakat setempat. Pada waktu itu, pertambangan tembaga di Pulau Bougenville harus
dihentikan operasinya karena gejolak sosial.
(6) Freeport diberikan kebebasan dalam pengaturan manajemen dan operasi, serta kebebasan
dalam transaksi dalam devisa asing. Freeport juga memperoleh kelonggaran fiskal, antara
lain: tax holiday selama 3 tahun pertama setelah mulai produksi. Untuk tahun berikutnya
selama 7 tahun, Freeport hanya dikenakan pajak sebesar 35%. Setelah itu pajak yang
dikenakan meningkat menjadi sekitar 41,75%. Freeport juga dibebaskan dari segala jenis
pajak lainnya dan dari pembayaran royalti atas penjualan tembaga dan emas kecuali pajak
penjualannya hanya 5%.
Keuntungan yang sangat besar terus diraih Freeport, hingga Kontrak Karya I diperpanjang
menjadi Kontrak Karya II yang tidak direnegosiasi secara optimal. Indonesia ternyata tidak
mendapatkan manfaat sebanding dengan keuntungan besar yang diraih Freeport. Ketentuan-ketentuan
fiskal dan finansial yang dikenakan kepada Freeport ternyata jauh lebih rendah jika dibandingkan
dengan yang berlaku negara-negara Asia dan Amerika Latin.
Perpanjangan Kontrak Karya II seharusnya memberi manfaat yang lebih besar, karena
ditemukannya potensi cadangan baru yang sangat besar di Grasberg. Kontrak telah diperpanjang pada
tahun 1991, padahal Kontrak Karya I baru berakhir pada tahun 1997. Pada kenyataannya ini adalah
kehendak dari orang-orang Amerika di Freeport, dan merupakan indikasi adanya kepentingan pihakpihak yang terlibat dalam proses negosiasi untuk mendapat keuntungan pribadi dari pertambangan di
bumi Irian Jaya itu.
Kontrak Karya II tidak banyak mengalami perbaikan untuk memberikan keuntungan finansial
tambahan yang berarti bagi pihak Indonesia. Perubahan yang terjadi hanyalah dalam hal kepemilikan
saham dan dalam hal perpajakan. Sementara itu, besarnya royalti tidak mengalami perubahan sama
sekali, meskipun telah terjadi perubahan jumlah cadangan emas. Penemuan emas di Grasberg
merupakan cadangan emas terbesar di dunia.
Dalam Kontrak Karya II, ketentuan menyangkut royalti atau iuran eksploitasi/produksi (pasal
13), menjelaskan bahwa sistem royalti dalam kontrak Freeport tidak didasarkan atas prosentase dari
penerimaan penjualan kotor (gross revenue), tetapi dari prosentase penjualan bersih. Penjualan bersih
adalah penjualan kotor setelah dikurangi dengan biaya peleburan (smelting), biaya pengolahan
(refining), dan biaya-biaya lainnya yang dikeluarkan Freeport dalam penjualan konsentrat. Prosentase
royalti (yang didasarkan atas prosentase penerimaan penjualan bersih juga tergolong sangat kecil,
15

yaitu 1%-3,5% tergantung pada harga konsentrat tembaga, dan 1% flat fixed untuk logam mulia (emas
dan perak).
Di dalam kontrak Freeport, besaran iuran tetap untuk wilayah pertambangan yang dibayarkan
berkisar antara US$ 0,025-0,05 per hektar per tahun untuk kegiatan Penyelidikan Umum (General
Survey), US$ 0,1-0,35 per hektar per tahun untuk kegiatan Studi Kelayakan dan Konstruksi, dan US$
1,5-3 per hektar per tahun untuk kegiatan operasi eksplotasi/produksi. Tarif iuran tersebut, di seluruh
tahapan kegiatan, dapat dikatakan sangat kecil, bahkan sangat sulit diterima akal sehat. Dengan kurs 1
US$ = Rp 9.000 maka besar iuran Rp 225 hingga Rp 27.000 per hektar per tahun.
Sedangkan menyangkut pengawasan atas kandungan mineral yang dihasilkan, dalam kontrak
Freeport tidak ada satu pun yang menyebut secara eksplisit bahwa seluruh operasi dan fasilitas
pemurnian dan peleburan harus seluruhnya dilakukan di Indonesia dan dalam pengawasan Pemerintah
Indonesia. Pasal 10 poin 4 dan 5 memang mengatur tentang operasi dan fasilitas peleburan dan
pemurnian tersebut yang secara implisit ditekankan perlunya untuk dilakukan di wilayah Indonesia,
tapi tidak secara tegas dan eksplisit bahwa hal tersebut seluruhnya (100%) harus dilakukan atau
berada di Indonesia. Hingga saat ini, hanya 29% saja dari produksi konsentrat yang dimurnikan dan
diolah di dalam negeri. Sisanya (71%) dikirim ke luar negeri, di luar pengawasan langsung dari
pemerintah Indonesia.
Di dalam Kontrak Freeport, tidak ada satu pasal pun yang secara eksplisit mengatur bahwa
pemerintah Indoensia dapat sewaktu-waktu mengakhiri Kontrak Freeport. Pun jika Freeport dinilai
melakukan pelanggaran-pelanggaran atau tidak memenuhi kewajibannya sesuai dengan kontrak.
Sebaliknya, pihak Freeport dapat sewaktu-waktu mengakhiri kontrak tersebut jika mereka menilai
pengusahaan pertambangan di wilayah kontrak pertambangannya sudah tidak menguntungkan lagi
secara ekonomis.

3.3.2

Pemasukan 37 Trilyun dari 1992-2006


Sejak tahun 1992-2006 total pemasukan Freeport kepada negara Indonesia adalah 37 Trilyun,

dari hasil pembayaran Pajak Negara dan daerah. Sedangkan keuntungan Freeport adalah menyuplai
40 ribu ton Emas ke Amerika selama beroperasi.
Pada 1995, ada empat proyek infrastruktur yang mulai dibangun oleh Freeport di Papua Barat, yakni :

16

1. Pengembangan pelabuhan Amamapare, dari mana konsentrat emas dan tembaga diekspor
atau nantinya diantarpulaukan.
Proyek senilai US$ 100 juta ditangani PT ALatief P & O Port Development Company
(APPDC), perusahaan kongsi antara ALatief Nusakarya Corporation dengan maskapai
angkutan laut P & O Australia Ltd. Berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak pada
pertengahan Mei 1995, perusahan itu mendapat hak kelola pelabuhan Amamapare selama 10
tahun dan bisa diperpanjang.
2. Pembangunan sebuah kota baru
Proyek senilai US$ 250 juta, langsung ditangani AFIC. Kota baru yang diresmikan Soeharto
pada awal Desember 1995 dengan nama Kuala Kencana itu berdiri pada ketinggian 4.200
meter di atas permukaan laut, seluas 17.400 hektar. Demi, kenyamanan para kapitalis,
birokrat, serta kapitalis-birokrat, kota itu dilengkapi lapangan golf kelas turnamen yang
dirancang pegolf AS, Ben Crenshaw.
Freeport memindahkan perkantorannya dari Tembagapura yang diresmikan Soeharto 23 tahun
sebelumnya yang hanya dibangun untuk kapasitas penduduk 1.200 jiwa ke Kuala Kencana.
Sedangkan Kuala Kencana sendiri dibangun dengan kapasitas 25.000 jiwa, sangat luas untuk
menampung karyawan Freeport yang sudah mencapai 12.000 jiwa.
3. Pembangunan sarana pembangkit tenaga listrik bagi tambang emas dan tembaga yang
baru, Grasberg, alias Gunung Bijih Timur.
Proyek ini ditangani PT Puncakjaya Power Corporation, usaha patungan antara Freeport
(30%), Power Link Corporation (30%), Duke Energy dari AS (30%), dan PT Catur Yasa
(10%).
4. Pembangunan bandara Timika
Proyek ini mulai dilaksanakan pada Juni 1995 ditangani PT Airfast Aviation Facilities
Company (AVCO), yang 45% sahamnya dikuasai PT Airfast Indonesia, 30% oleh PT Giga
Haksa yang merupakan anak perusahaan Catur Yasa, dan 25% oleh Freeport.
Seluruh proyek itu dikoordinasi oleh PT A Latief Freeport Infrastructure Corporation (AFIC),
yang 67 persen sahamnya dikuasai oleh kelompok A. Latief dan 33 persen sisanya oleh
Freeport
Proyek yang total investasinya mencapai US$50 juta (waktu itu diperhitungkan Rp 125
milyar), terdiri dari pembangunan kawasan bandara terpadu lengkap dengan segala sarana
pendukungnya, serta pengadaan tiga pesawat Twin Otter, dua pesawat Boeing B 737-200,
serta tujuh helikopter.

17

http://www.hukumpedia.com/sangpenandai/gaya-baru-penjajahan-indonesia-freeport-dan-hutangnegara
3.3.3

Pelanggaran Kode Etik oleh Ketua DPR RI


Kasus pelanggaran kode etik oleh ketua DPR RI ini mencuat ke publik sejak tersebarnya

suatu rekaman yang diduga itu adalah rekaman pertemuan antara ketua DPR RI yakni Setya Novanto
beserta dengan seorang pengusaha migas yang bernama Muhammad Reza Chalid dan juga Presiden
Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsuddin di Pasific Place 8 Juni 2015 lalu. Dalam
pertemuan tersebut Setya Novanto menjanjikan bisa membantu perpanjangan kontrak Freeport di
Papua yang berakhir pada 2021. Imbalannya, ia meminta 20 persen saham untuk presiden dan wakil
presiden. Dia sendiri meminta 49 persen saham Pembangkit Listrik Tenaga Air Urumuka di Paniai,
Papua.
Pertemuan tersebut mencuat ketika Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said
menyerahkan transkrip pembicaraan pertemuan Setya Novanto itu kepada Mahkamah Kehormatan
Dewan Perwakilan Rakyat. Diduga rekaman ini sengaja direkam oleh Presiden Direktur dari PT
Freeport yakni Maroef Sjamsuddin untuk bukti pribadinya saja dan ternyata rekaman ini bocor dan
terpublikasikan. Dalam rekaman tersebut mereka sedang membahas tentang kelanjutan proyek PT
Freeport dan dalam rekaman tersebut Ketua DPR RI ini mencatutkan nama Presiden Jokowi dan juga
Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam negoisasi mereka. Dalam rekaman saya dengarkan tersebut, Ketua
DPR RI yakni Setya Novanto memang melanggar kode etik Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia
yang terdapat di dalam Peraturan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Nomor 1 Tahun
2015. Menurut pendapat saya, Ketua DPR RI Setya Novanto ini suah melanggar beberapa pasal
dalam Peraturan DPR RI Nomor 1 Tahun 2015 ini. Yang pertama adalah pada pasal 3 yakni mengenai
integritas yang isinya pada ayat 1 : anggota harus menghindari perilaku tidak pantas atau tidak patut
yang dapat merendahkan citra dan kehormatan DPR baik di dalam gedung DPR maupun di luar
gedung DPR menurut pandangan etika dan norma yang berlaku dalam masyarakat, pada ayat, pada
ayat 2 : anggota sebagai wakil rakyat memiliki pembatasan pribadi dalam bersikap, bertindak, dan
berperilaku, pada ayat 3 : anggota dilarang memasuki tempat prostitusi, perjudian, dan tempat lain
yang dipandang tidak pantas secara etika, moral, dan norma yang berlaku umum di masyarakat,
kecuali untuk kepentingan tugasnya sebagai Anggota DPR dalam wilayah Negara Kesatuan RepubIik
Indonesia, pada ayat 4 : anggota harus menjaga nama baik dan kewibawaan DPR, pada ayat 5 :
anggota dilarang meminta dan menerima pemberian atau hadiah selain dari apa yang berhak
diterimanya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Menurut saya, dalam pasal ini
Setya Novanto sudah melanggar ayat 1, 2, 4 dan jika benar ia menerima suap dari PT Freeport maka
ia juga bisa melanggar ayat 5. Yang kedua adalah pasal 4 yakni mengenai hubungan mitra kerja yang
isinya pada ayat 1 : anggota harus bersikap profesional dalam melakukan hubungan dengan Mitra

18

Kerja, pada ayat 2 : anggota dilarang melakukan hubungan dengan Mitra Kerjanya untuk maksud
tertentu yang mengandung potensi korupsi, kolusi dan nepotisme.
Dimana kehidupan homogeny di masa lalu seketika menghadapi tantangan dari luar dengan
hadirnya berbagai suku dan bangsa yang masuk wilayah adat suku Amungme dan Kamoro.
Persoalan lain yang paling mendasar bagi masyarakat adat Amungme maupun masyarakat adat
Kamoro adalah perlunya pengakuan kepada mereka sebagai Manusia diatas tanah mereka sendiri.
Persoalan martabat manusia harus dihargai oleh siapapun. Kalau martabat suku Amungme dan suku
Kamoro dihargai sebagai manusia, maka persolan PT. Freeport harus diselesaikan dengan melibatkan
kedua suku tersebut sebagai masyarakat adat pemilik sumberdaya alam tambang tersebut.
Meski di tanah leluhurnya terdapat tambang emas terbesar di dunia, orang Papua khususnya
mereka yang tinggal di Mimika, Paniai, dan Puncak Jaya pada tahunhanya mendapa trangking Indeks
Pembangunan Manusiake 212 dari 300an lebih kabupaten di Indonesia. Hampir 70% penduduknya
tidak mendapatkan akses terhadap air yang aman, dan 35.2% penduduknya tidak memiliki akses
terhadap fasilitas kesehatan. Selain itu, lebih dari 25% balita juga tetap memiliki potensi kurang gizi.
Dampak lain dari kehadiran Freeport di Indonesia adalah terjadinya berbagai kasus
pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), sebagai akibat protes masyarakat terhadap Freeport yang
terkesan tidak memperhatikan kesejahteraan masyarakat Adat Suku Amungme dan Komoro yang
disebut sebagai pemilik tanah, emas, tembaga, hutan yang kemudian dikuasai oleh pihak perusahaan.
Dalam aksi protes, masyarakat selalu berhadapan dengan pihak aparat keamanan (TNI/POLRI), yang
bertugas mengamankan Perusahaan, maka terjadilah pelanggaran Hak Asasi Manusia. Kasus
pelanggaran HAM di wilayah penambangan berlangsung cukup lama sejak hadirnya Freeport hingga
kini.
Dari data BPS, Jumlah orang miskin di tiga kabupaten tersebut, mencapai lebih dari 50% total
penduduk. Artinya, pemerataan kesejahteraan tidak terjadi. Meskipun pengangguran terbuka rendah,
tetapi secara keseluruhan pendapatan masyarakat setempat mengalami kesenjangan.Bisa jadi
kesenjangan yang muncul antara para pendatang dan penduduk asli yang tidak mampu bersaing di
tanahnya sendiri. Bisa jadi pula, angka presentase yang menunjukkan kemiskinan, seperti akses
terhadap air bersih, kurang gizi, akses terhadap sarana kesehatan mengandung bias rasisme. Artinya,
kemiskinan dihadapi oleh penduduk asli dan bukan pendatang.
Sedangkan dampak sosial dari pembuangan tailing kesungai Aikwa terhadap kedua suku
tersebut maupun suku-suku lain dari Papua, dapat terlihat dekat dengan mata dimana kota Timika
yang dulunya banyak dusun sagu yang memberimakan bagi masyarakatadat Kamoro, dan suku-suku
lain dari Papua maupun Indonesia yang tinggal di kota Timika telah rusak. Akibatnya masyarakat
tidak bisa mendapatkan sagu sebagai sumber makanan pokok mereka, disamping itu berkembang
pesatnya pembangunan yang didukung oleh Freeport membuat suku Amungme dan Kamoromenja di
minoritas di atas tanahnya sendiri.Dengan peralatan sederhana, mereka, baik pendatang maupun
masyarakat local,berani mempertaruhkan nasib, bahkannyawa, demi mencarikonsentratemas.
19

Kebetulan, metode penambanganoleh Freeport memang tidak bisa 100% menangkap konsentrat emas
yang ada dalam bijih.
http://ekarahmayuliani.web.unej.ac.id/2015/12/16/analisis-konflik-politik-kasus-pt-freeport-papua/

3.4 USAHA YANG DILAKUKAN PEMERINTAH DAN MASYARAKAT


PT Freeport Indonesia saat ini telah menawarkan 10,64 persen saham divestasi pada 14
Januari 2016 dengan harga US$ 1,7 miliar. Mereka mengkalkulasi nilai 100 persen saham
perusahaan itu US$ 16,2 miliar. Freeport mengklaim, perhitungan ini sesuai nilai pasar yang wajar
dengan parameter asetnya hingga 2041. Namun, Bambang mengatakan pemerintah memiliki
parameter sendiri dan berbeda dengan Freeport yang lain.
Oleh karena itu, diadakannya rapat yang berlangsung tertutup dengan durasi kurang lebih
empat jam di Gedung Direktorat Jenderal Minerba. Rapat tersebut dihadiri oleh tim dan perwakilan
dari manajemen Freeport Indonesia yakni Clementio Lamury. Dalam rapat tersebut, Bambang
mengaku tim masih membahas mengenai parameter harga untuk saham tersebut. Parameter ini
sangat penting untuk mengambil keputusan. Terkait dengan nilai divestasi, Sudirman menyatakan
bahwa Kementerian BUMN masih mengkaji dengan melibatkan Mandiri Sekuritas dan Danareksa.
Hasil perhitungannya akan menjadi acuan pemerintah dalam memutuskan
divestasi Freeport yang banyak dinilai oleh sejumlah kalangan terlalu tinggi. Sudirman berharap ada
angka termurah dari hasil evaluasi sehingga tidak sampai US$ 1,7 Miliar seperti yang ditawarkan
Freeport.
Mengenai larangan ekspor konsentrat,Freeport meminta keringanan ekspor. Namun
Kementerian BUMN tidak menyanggupinya sebelum Freeport memenuhi dua syarat, yaitu :
1. Freeport harus membayar bea keluar lima persen dari harga jual untuk setiap hasil
tambang yang mereka kirim ke luar negeri. Hal ini berdasarakan perhitungan
Kementerian Energi bahwa pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnian mineral atau
smelter milik Freeport belum mencapai 60 persen.
2. Freeport harus menunjukkan kesungguhan dalam membangun smelter. Caranya,
perusahaan mesti menyetorkan uang komitmen untuk mendirikan pabrik yang totalnya
ditaksir mencapai US$ 530 juta ke Kementerian Energi.
Renegosiasi Kontrak Freeport seperti :
Kontrak Freeport yang akan habis pada 2021 menimbulkan polemik di dalam tubuh
pemerintah itu sendiri. Sejatinya negosiasi kontrak baru dapat dilakukan dua tahun sebelum
masa kontrak habis yakni 2019. Tetapi ada pihak-pihak yang menginginkan pemerintah untuk
segera renegosiasi kontrak dan memperpanjang hingga 2041.

20

Menko Kemaritiman pun juga menolak untuk melakukan renegosiasi karena di anggap berbau
KKN. Sedangkan menteri ESDM mengusulkan relaksasi batas awal negosiasi dari dua tahun
jadi 10 tahun.
http://ekarahmayuliani.web.unej.ac.id/2015/12/16/analisis-konflik-politik-kasus-pt-freeportpapua/

21

BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Dalam mewujudkan tujuan perjuangan nasional, diperlukan ketangguhan, keuletan, serta
kemampuan bangsa Indonesia untuk mampu menghadapi berbagai ancaman yang dapat
membahayakan kelangsungan hidup suatu bangsa. Dengan adanya asas asas yang menjadi taat
laku, hal itu akan memperkuat bangsa Indonesia dalam mempertahankan negaranya. Ketahanan
nasional adalah cara paling ampuh, karena mencakup banyak landasan seperti Pancasila sebagai
landasan ideal, UUD 1945 sebagai landasan konstitusional dan Wawasan Nusantara sebagai
landasan visional, sehingga ketahanan nasional kita sangat kuat.
Ketahanan Nasional adalah kondisi hidup dan kehidupan nasional yang harus senantiasa
diwujudkan dan dibina secara terus-menerus serta sinergik. Hal demikian itu, dimulai dari
lingkungan terkecil yaitu diri pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara dengan modal
dasar keuletan dan ketangguhan yang mampu mengembangkan kekuatan nasional. Proses
berkelanjutan itu harus selalu didasari oleh pemikiran geopolitik dan geostrategi sebagai sebuah
konsepsi yang dirancang dan dirumuskan dengan memperhatikan konstelasi yang ada disekitar
Indonesia.
Dalam hal ini kasus pertambangan Freeport adalah bukti kesalahan pengurusan pada sektor
pertambangan di Indonesia dan mudah tergodanya pemerintah akan penghasilan devisa yang
instan.. Pemerintah menganggap emas hanya sebatas komoditas devisa yang kebetulan berada di
tanah Papua. Padahal apabila dikelola sendiri, Tambang Freeport akan menghasilkan keuntungan
ratusan kali lipat yang didapatkan sekarang.
4.2 SARAN
Dalam masalah renegosiasi seharusnya Menteri ESDM tetap mematuhi aturan renegosiasi
yakni dua tahun sebelum kontrak habis. Sedangkan presiden juga harus tegas dalam pengambilan
keputusan dalam renegosiasi kontrak agar tidak menimbulkan kerugian kembali bagi bangsa
Indonesia seperti kontrak Freeport sebelumnya.
Segala elemen pemerintah harus dapat bekerja sinergis yang menimbulkan dampak positif
bagi bangsa Indonesia dan menyingkirkan segala kepentingan pribadi dalam pembaharuan UU
Minerba dan Renegosiasi Kontrak Freeport yang bisa menimbulkan kerugian bagi bangsa
Indonesia.

22

DAFTAR PUSTAKA

http://demokrasiindonesia.blogspot.co.id/2014/08/ketahanan-nasional-pengertian-fungsi.html
diakses tanggal 8 Mei 2016 pukul 14.00 WIB
http://ramadhanu-adlian.blogspot.co.id/2012_04_01_archive.html diakses tanggal 11 Mei 2016 pukul
21.00 WIB
http://googleweblight.com/?lite_url=http://anapangesti.blogspot.com/2013/05/dampak-penambanganfreeport.html?m%3D1&ei=rv-ghv8r&lc=idID&s=1&m=446&host=www.google.co.id&ts=1463288127&sig=APY536yPBxwjpB86i6w_8JmB1
OLlQXcICA diakses tanggal 11 Mei 2016 pukul 21.00 WIB
http://www.hukumpedia.com/sangpenandai/gaya-baru-penjajahan-indonesia-freeport-dan-hutangnegara diakses tanggal 11 Mei 2016 pukul 22.00 WIB
http://ekarahmayuliani.web.unej.ac.id/2015/12/16/analisis-konflik-politik-kasus-pt-freeport-papua/
diakses tanggal 11 Mei 2016 pukul 22.20 WIB

23