Anda di halaman 1dari 17

KETAHANAN

NASIONAL di
BIDANG EKONOMI
TT 2A

Edwin Setiyawan Putra 1431130017


Fiska Adelina Jayanti 1431130028
Luluk Nurhayati 1431130007
Nur Muhammad 1431130045
Rizky Puspa Arum Sari 1431130003

Ketahanan Nasional
Ketahanan Nasionaladalah kondisi dinamika, yaitu

suatu bangsa yang berisi keuletan dan ketangguhan


yang mampu mengembangkan ketahanan, Kekuatan
nasional dalam menghadapi dan mengatasi segala
tantangan, hambatan dan ancaman baik yang datang
dari dalam maupun dari luar. Juga secara langsung
ataupun tidak langsung yang dapat membahayakan
integritas, identitas serta kelangsungan hidup bangsa
dan negara.

Perwujudan Ketahanan Nasional


Ketahanan
Ketahanan
Ketahanan
Ketahanan
Ketahanan

ideologi
politik
ekonomi
sosial budaya
pertahanan keamanan

Ketahanan Nasional Dibidang Ekonomi


Ketahanan ekonomi, adalah kondisi kehidupan

perekonomian bangsa Indonesia yang berlandaskan


Pancasila dan UUD 1945 yang mengandung
kemampuan menerapkan stabilitas ekonomi yang
sehat dan dinamis serta kemampuan menciptakan
kemandirian ekonomi nasional dengan daya saing
yang tinggi dan mewujudkan kemakmuran rakyat yang
adil dan makmur.
Dengan ekonomi yang stabil akan perpengaruh positif
terhadap ketahanan nasional suatu Negara.

FaktorfaktoryangMempengaruhiKetahanan
diBidangEkonomiNegaraBerkembang
Bumi dan sumber alam
Modal
Teknologi
Hubungan dengan ekonomi luar negeri
Prasarana atau infrastruktur
Manajemen

PTFreeportIndonesia
PT Freeport Indonesia (PTFI) merupakan perusahaan

afiliasi dari Freeport-McMoRan. PTFI menambang,


memproses dan melakukan eksplorasi terhadap bijih
yang mengandung tembaga, emas dan perak.
Beroperasi di daerah dataran tinggi di Kabupaten
Mimika Provinsi Papua, Indonesia. Yang memasarkan
konsentrat yang mengandung tembaga, emas dan
perak ke seluruh penjuru dunia.

KontrakKaryaPTFI

KK I
KK I Freeport disusun berdasarkan UU No 1/67 tentang Pertambangan

dan UU No. 11/67 tentang PMA.


KK I mengandung banyak sekali kelemahan mendasar dan sangat
menguntungkan bagi Freeport. Kelemahan- tersebut utamanya
adalah sebagai berikut:
1. Perusahaan yang digunakan adalah Freeport Indonesia
Incorporated,
2. Dalam kontrak tidak ada kewajiban mengenai lingkungan hidup
3. Pengaturan perpajakan sama sekali tidak sesuai dengan
pengaturan dalam UU Perpajakan yang berlaku, baik jenis pajak
maupun strukturnya.
4. Tidak sesuainya struktur pajak maupun tarif pajak yang

diberlakukan dalam KK I
5. Tidak ada kewajiban bagi Freeport untuk melakukan
community development.
6. Freeport diberikan kebebasan dalam pengaturan manajemen
dan operasi, serta kebebasan dalam transaksi dalam devisa
asing.

KK II
Dalam KK II mengatur :
Perubahan yang terjadi hanyalah dalam hal kepemilikan

saham dan dalam hal perpajakan.Sementara itu, besarnya


royalti tidak mengalami perubahan sama sekali, meskipun
telah terjadi perubahan jumlah cadangan emas.
Di dalam Kontrak Freeport, tidak ada satu pasal pun yang
secara eksplisit mengatur bahwa pemerintah Indonesia dapat
sewaktu-waktu mengakhiri Kontrak Freeport,sebaliknya pihak
Freeport dapat sewaktu-waktu mengakhiri kontrak tersebut
jika mereka menilai pengusahaan pertambangan di wilayah
kontrak pertambangannya sudah tidak menguntungkan lagi
secara ekonomis.
Menyangkut pengawasan atas kandungan mineral yang
dihasilkan, dalam kontrak Freeport tidak ada satu pun yang
menyebut secara eksplisit bahwa seluruh operasi dan fasilitas
pemurnian dan peleburan harus seluruhnya dilakukan di
Indonesia

Pelanggaran Kode Etik oleh Ketua DPR RI


Mencuat ke publik sejak tersebarnya suatu rekaman yang

diduga itu adalah rekaman pertemuan antara ketua DPR RI


yakni Setya Novanto beserta dengan seorang pengusaha
migas yang bernama Muhammad Reza Chalid dan juga
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsuddin
di Pasific Place 8 Juni 2015 lalu.
Dalam rekaman tersebut mereka sedang membahas
tentang kelanjutan proyek PT Freeport dan dalam rekaman
tersebut Ketua DPR RI ini mencatutkan nama Presiden
Jokowi dan juga Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam negoisasi
mereka.

KesenjanganEkonomiYangDitimbulkan
PT.Freeport
Pemukiman penduduk semakin tersingkir dan

menjadi perkampungan kumuh di tengah-tengah


kawasani industri tambang termegah di Asia.
Kondisi ini sangat kontras dengan dana yang
dikucurkan pemerintah dalam Otonomi Khusus
(Otsus) Papua yang nilainya mencapai lebih dari Rp
30 trilyun. Dana Otsus itu dikucurkan untuk
mendorong pembangunan infrastruktur dan sosial
ekonomi masyarakat setempat.Badan Pemeriksa
Keuangan (BPK) pada pertengahan bulan April 2011
menemukan adanya dugaan penyelewengan Dana
Otsus Papua sebesar Rp 1,85 trilyun.

Dampak yang ditimbulkan pada


Masyarakat Papua
Meski di tanah leluhurnya terdapat tambang emas terbesar

di dunia, orang Papua khususnya mereka yang tinggal di


Mimika, Paniai, dan Puncak Jaya pada tahun hanya
mendapat rangking Indeks Pembangunan Manusia ke 212
dari 300an lebih kabupaten di Indonesia. Hampir 70%
penduduknya tidak mendapatkan akses terhadap air yang
aman, dan 35.2% penduduknya tidak memiliki akses
terhadap fasilitas kesehatan. Selain itu, lebih dari 25%
balita juga tetap memiliki potensi kurang gizi.
Dari data BPS,Jumlah orang miskin di tiga kabupaten
tersebut, mencapai lebih dari 50% total penduduk. Artinya,
pemerataan kesejahteraan tidak terjadi.

Renegosiasi Kontrak Freeport


Kontrak

Freeport yang akan habis pada 2021


menimbulkan polemik di dalam tubuh pemerintah
itu sendiri. Sejatinya negosiasi kontrak baru dapat
dilakukan dua tahun sebelum masa kontrak habis
yakni
2019.Tetapi
ada
pihak-pihak
yang
menginginkan pemerintah untuk segera renegosiasi
kontrak dan memperpanjang hingga 2041.
Menko Kemaritiman pun menolak untuk melakukan
renegosiasi karena di anggap berbau KKN.
Sedangkan menteri ESDM mengusulkan relaksasi
batas awal negosiasi dari dua tahun jadi 10 tahun.

Apa saja yang akan di renegosiasi?


Pembangunan Papua
Konten Lokal
Divestasi Saham
Royalti Emas hingga 6%-7%
Industri Pengolahan
Mengolah hasil tambang di Indonesia

Pihak yang bertanggungjawab


Pemerintah

Yakni Presiden dan Kementerian ESDM. Seharusnya Menteri ESDM


tetap mematuhi aturan renegosiasi yakni dua tahun sebelum kontrak
habis. Sedangkan presiden juga harus tegas dalam pengambilan
keputusan dalam renegosiasi kontrak agar tidak menimbulkan
kerugian kembali bagi bangsa Indonesia seperti kontrak Freeport
sebelumnya.

KONDISI

1967
Sebelum Ekploitasi

Sesudah Ekploitasi

SOLUSI
Segala elemen pemerintah harus dapat bekerja

sinergis yang menimbulkan dampak positif bagi


bangsa Indonesia
Singkirkan segala kepentingan pribadi dalam
pembaharuan UU Minerba dan Renegosiasi Kontrak
Freeport yang bisa menimbulkan kerugian bagi bangsa
Indonesia