Anda di halaman 1dari 4

uji disolusi

Uji disolusi adalah penetapan jumlah atau persentasi zat aktif dari suatu sediaan padat yang
terlarut pada suatu waktu tertentu dalam kondisi baku yaitu pada suhu, kecepatan pengadukan dan
komposisi media tertentu. Uji disolusi merupakan suatu parameter penting dalam pengembangan
produk dan pengendalian mutu obat. Kecepatan disolusi yang dinyatakan dalam persen per satuan
waktu, adalah suatu karakteristik mutu yang penting dalam menilai mutu obat yang digunakan peroral
untuk mendapatkan efek sistemik.
1.1 faktor yang berpengaruh terhadap kecepatan disolusi
a.

Suhu

Untuk zat-zat yang memiliki sifat kelarutan endotermik, semakin tinggi suhu, nilai koefisien difusi akan
meningkat sehingga kecepatan disolusi juga meningkat.
b.

Viskositas

Berdasarkan persamaan Einstein, semakin rendah viskositas maka nilai koefisien difusi akan meningkat
sehingga kecepatan disolusi juga akan meningkat.

c.

Ukuran partikel

Ukuran partikel berpengaruh pada nilai koefisien difusi dan luas permukaan efektif yang kontak dengan
pelarut. Bila ukuran partikel yang didisolusikan semakin halus, maka koefisien difusinya semakin tinggi
dan luas permukaan efektifnya juga semakin besar sehingga kecepatan disolusi meningkat.
d.

Kecepatan pengadukan

Pengadukan akan berpengaruh pada tebal tipisnya lapisan difusi. Semakin tinggi kecepatan
pengadukan, maka tebal lapisan difusi akan semakin menipis.
e.

pH pelarut

pH pelarut berpengaruh pada partikel-partikel yang bersifat asam atau basa lemah. Partikel tersebut
akan membentuk garam dengan pasangan asam atau basa kuat yang akan meningkatkan kelarutan
sehingga kecepatan disolusinya meningkat.
f.

Polimorfisme

Perbedaan struktur internal suatu zat akan berpengaruh pada kekuatan ikatan atau kestabilan partikel
dalam medium pelarutnya, khususnya untuk kristal-kristal metastabil yang lebih mudah melarut
sehingga kecepatan disolusinya juga tinggi.
g.

Sifat permukaan zat

Sifat permukaan zat yang terutama diperhatikan adalah sifat hidrofobkarena akan berpengaruh pada
disolusi dalam cairan tubuh. Sifat hidrofobyang sangat kuat akan menyebabkan zat sulit terbasahi
karena tegangan permukaannya besar, maka dapat digunakan surfaktan agar zat lebih mudah terbasahi
dan lebih mudah terdisolusi.
Selain dari faktor-faktor tersebut, dalam bentuk sediaan seperti tablet, formulasi obat juga sangat
berpengaruh seperti misalnya pengaruh bahan tambahan yang digunakan dan tekanan kompresi yang
digunakan saat mencetak tablet. Bahan tambahan dalam hal ini berpengaruh terutama jika membentuk
kompleks yang tidak larut seperti kalsium karbonat dan kalsium sulfat yang membentuk kompleks
dengan tetrasiklin atau penggunaan bahan tambahan yang bersifat hidrofob seperti magnesium stearat.
1.2 Alat Uji Disolusi
a.

Alat Uji Disolusi Tipe 1

Alat ini terdiri dari sebuah wadah bertutup yang terbuat dari kaca atau bahan transparan lain yang
inert, suatu motor, suatu batang logam yang digerakkan oleh motor dan keranjang berbentuk silinder.
Wadah tercelup sebagian di dalam sebuah tangas air yang sesuai berukuran sedemikian sehingga dapat
mempertahankan suhu dalam wadah pada 37C 0,5C selama pengujian berlangsung dan menjaga
agar gerakan air dalam tangas air halus dan tetap. Bagian dari alat, termasuk lingkungan tempat alat
diletakkan harus tidak dapat memberikan gerakan, goncangan atau getaran signifikan yang melebihi
gerakan akibat perputaran alat pengaduk. wadah disolusi sebaiknya berbentuk silinder dengan dasar
setengah bola tinggi 160 mm hingga 175 mm, diameter dalam 98 mm hingga 106 mm dan kapasitas
nominal 1000 mL. Pada bagian atas wadah ujungnya melebar, untuk mencegah penguapan dapat
digunakan penutup yang pas. Batang logam berada pada posisi sedemikian sehingga sumbunya tidak
lebih dari 2 mm pada tiap titik dari sumbu vertikal wadah, berputar dengan halus dan tanpa goyangan
yang berarti. Terdapat suatu alat pengatur kecepatan sehingga memungkinkan kita untuk mengatur
kecepatan putaran yang dikehendaki dan mempertahankan kecepatan seperti yang tertera dalam
masing-masing monografi dalam batas lebih kurang 4%. Komponen batang logam dan keranjang yang
merupakan bagian dari pengaduk terbuat dari baja tahan karat tipe 316 atau yang sejenis sesuai
dengan spesifikasi pada gambar kecuali dinyatakan lain dalam masingmasing monografi, gunakan kasa
40 mesh. Dapat juga digunakan keranjang berlapis emas setebal 0,0001 inci (2,5 m). Sediaan
dimasukkan ke dalam keranjang yang kering pada tiap awal pengujian. Jarak antara dasar bagian dalam
wadah dan keranjang adalah 25 mm 2 mm selama pengujian berlangsung.

Gambar 1. Alat Uji Disolusi Tipe 1


b.

Alat Disolusi Tipe 2 (Tipe Dayung)

Alat disolusi tipe 2 (tipe dayung) terdiri dari sebuah wadah bertutup yang terbuat dari kaca atau bahan
transparan lain yang inert, suatu motor, berbentuk dayung yang terdiri dari daun dan batang sebagai
pengaduk. Batang berada pada posisi sedemikian sehingga sumbunya tidak lebih dari 2 mm pada setiap
titik dari sumbu vertikal wadah dan berputar dengan halus tanpa goncangan yang berarti. Daun
melewati diameter batang sehingga dasar daun dan batang rata. Dayung memenuhi spesifikasi pada
gambar. Jarak 25mm 2mm antara daun dan bagian dalam dasar wadah dipertahankan selama
pengujian berlangsung. Daun dan batang logam yang merupakan satu kesatuan dapat disalut dengan
suatu penyalut inert yang sesuai. Sediaan dibiarkan tenggelam ke dasar wadah sebelum dayung mulai
berputar. Sepotong kecil bahan yang tidak bereaksi seperti gulungan kawat berbentuk spiral dapat
digunakan untuk mencegah mengapungnya sediaan.

Gambar 2. Alat Uji Disolusi Tipe 2


1)

Batang dan daun terbuat dari baja tahan karat berukuran 303 atau yang setara.

2)

Bila alat berputar pada sumbu E, besarnya A dan B tidak boleh menyimpang lebih dari 0,5 mm.

3)

Kecuali dinyatakan lain, toleransi adalah 1.0 mm. Salah satu faktor yang mempengaruhi laju disolusi
adalah suhu. Dalam persamaan Einstein, suhu akan mempengaruhi koefisien disolusi. Perubahan
koefisien disolusi tentu akan mengubah laju disolusi. Peningkatan suhu akan memperbesar harga
koefisien disolusi sehingga meningkatkan laju disolusi. Kenaikan suhu akan mengakibatkan peningkatan
energy kinetik zat, baik pelarut, maupun zat terlarut. Untuk zat dalam panadatn, kenaikan suhu akan
memperkecil kekuatan ikatan intermolekul sehingga molekul padatan lebih mudah terbebaskan ke
dalam larutan. Energk kinetic zat pelarut yang semakin besar akan memperbesar kemungkinan
tumbukan dengan molekul zat padatan yang ada dipermukaan padatan. Tumbukan ini dapat
menimbulkan interaksi antara pelarut dan padatan, yaitu adanya tarik-menarik. Gaya tarik-menarik ini
bisa menyebabkan molekul dalam padatan terbawa ke dalam larutan. Karena kemungkinan tumbukan
semakin tinggi akibat kenaikan suhu, penarikan molekul padatan menuju larutan akan semakin tinggi
intensitasnya.