Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROTEKNIK

PREPARAT SAYATAN ORGAN HEWAN

OLEH :
Kelompok V
HENI ARISTA
(F1071131068)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2016

A. Tujuan
1. Untuk megetahui pembuatan preparat dengan metode parafin hewan
2. Untuk mengetahui struktur jaringan hewan
B. Dasar teori
Mikroteknik merupakan ilmu atau seni mempersiapkan organ, jaringan atau bagian
jaringan untuk dapat diamati dan ditelaah. Penelaahan umumnya dilakukan dengan bantuan
mikroskop, karena struktur jaringan secara terperinci pada galibnya terlalu kecil untuk dapat
dilihat dengan mata telanjang. Ruang lingkup yang mencakup materi mikroteknik dapat
diperoleh dari sejumlah definisi dan peristilahan yang bisa dipakai, hanya saja sebaiknya kita
mencamkan dalam pikiran kita bahwa suatu spesimen mikroteknik dapat merupakan sebagian
atau seluruhan dari struktur yang ditetapkan. Selain dilekapkan dengan kaca preparat,
spesimen tadi umumnya dilindungi dengan kaca penutup, yaitu sepotong kaca yang sangat
tipis ataupun plastik yang tembus pandang yang direkatkan diatas spesimen tersebut.

Metode paraffin merupakan cara pembuatan preparat permanen dengan menggunakan


paraffin sebagai media embedding dengan tebal irisan kurang lebih mencapai 6 m-8 m.
Metode in imemiliki irisan yang lebih tipis dibandingkan dengan menggunakan metode beku
atau metode seloidin yang tebal irisannya kurang lebih mencapai 10 m. Prosesnya juga jauh
lebih cepat dibandingkan metode seloidin. Selain itu metode parafin juga memiliki kejelekan
yaitu jaringan menjadi keras, mengerut dan mudah patah, jaringan-jaringan yang besar
menjadi tidak dapat dikerjakan (Gunarso 1986).
Metode paraffin termasuk metode sayatan yang banyak digunakan, karena hampir semua
jaringan dapat dipotong dengan metode ini. Pengamatan secara mikroskopis dari suatu
jaringan dalam berbagai kondisi dan berbagai elemen jaringan dapat diamati atau diteliti
melalui preparat permanen yang dibuat dengan metode paraffin. Pembuatan preparat dengan
metode paraffin adalah metode yang paling umum digunakan untuk pembuatan preparat
permanen, baik pada tumbuhan ataupun pada hewan (Dasumiati 2008).
Fiksasi merupakan suatu proses yang dilakukan untuk mempertahankan kondisi jaringan.
Tujuan dari fiksasi adalah untuk mempertahankan morfologi sel seperti semula, untuk
mencegah terjadinya otolisis, mempercepat proses pematian jaringan pada organ dan untuk
mencegah pertumbuhan bakteri atau jamur. Beberapa jenis bahan yang biasa digunakan
sebagai bahan penfiksasi suatu jaringan., yaitu formalin, alkohol, larutan carnoi, larutan
zenker, larutan helly, larutan bouin, larutan susa, omium, dan glutaraldehyde (Sudiana 2005:
1).
Dehidrasi pada pembuatan preparat awetan bertujuan untuk menarik air dari dalam
jaringan secara perlahan-lahan gara jaringan tidak mengalami pengkerutan dan dapat

digantikan oleh medium penjernih. Bahan yang digunakan adalah alkohol dengan konsentrasi
yang dinaikan bertahap. (Sudiana 2005: 5).
Setelah pendehidrasian, selanjutnya dilakukan proses clearing atau penjernihan. Bahan
yang biasa digunakan, antara lain xylol,toluol, kloroform, dan benzen. Bahan-bahan tersebut
berguna sebagai mediator antara larutan dehidrasi yang digunakan dengan larutan embeding
yang akan digunakan. Proses penghilangan larutan dehidran dalam jaringan yang disertai
dengan proses infiltarasi larutan embedding ke dalam jaringan disebut sebagai impregnasi.
(Sudiana 2005: 6).
Embedding merupakan proses pelilinan suatu organ dengan menggunakan kotak kertas.
Proses ini memudahkan dalam membuat irisan yang sangat tipis dengan menggunakan
mikrotom. Beberapa keuntungan menggunakan kotak kertas. Dalam embedding yaitu bisa
membuat arah sayatan dan menandai suatu jaringan. Jaringan atau sampel akan ditanam di
ketas kotak, dengan terlebih dahulu parafin membeku pada bagian dasar dalam kotak dan
setelah penempelan jaringan dilanjutkan dengan penutupan dengan parafin sampai membeku.
Proses penyayatan (sectioning) diawali dengan pengirisan blok parafin dengan scalpel,
sehingga permukaan blok parafin yang akan diiris dengan mikrotom berbentuk trapesium.
Letak mata pisau pada mikrotom menentukan hasil yang diperoleh. Hasil sayatan diambil
dengan menggunakan kuas secara hati-hati. Pita hasil sayatan ditempel pada kaca objek
dengan menggunakan meyer albumin. Kaca obyek tersebut diletakkan di atas meja penangas (
haeting plate). Meyer albumin memiliki kandungan putih telur dan gliserin dan merupakan
pelakat alami yang sangat baik). Sedang proses pewarnaan dilakukan setelah preparat
dideparafinasi dengan merendam preparat pada xylol. Salah satu pewarna metode parafin
pada jaringan hewan adalah hematoxylin dan Eosin. Zat warna hematoxilin ini
bersifat mewarnai inti sedang eosin mewarnai sitoplasmanya(Arisworo 2000).
Pewarnaan pada preparat dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu pewarnaan umum dan
pewarnaan khusus. Pewarnaan umum yaitu pewarnaan yang hanya untuk membedakan antara
bagian inti dan sitoplasmanya. Jenis bahan yang biasa digunakan dalam pewarnaan umum
adalah hematoksilin-eousin (HE). Pewarnaan khusus adalah pewarnaan yang digunakan untuk
melihat satu macam jenis organel atau untuk membedakan jaringan tertentu. Beberapa metode
yang digunakan dalam pewarnaa khusus adalah gomori, PAS (periodic acid schiff),
imunohistokimia, dan apotag. Prinsip dari pewarnaan jaringan adalah berdasarkan pada
afinitas antara zat warna dengan bahan yang diwarnai (Sudiana 2005: 17).
C. Metodolgi
1. Waktu dan tempat

2. Alat dan bahan


3. Cara kerja
D. Hasil dan pembahasan
1. Hasil pengamatan
2. Pembahasan
Pada praktikum ini kami melakukan percobaan untuk membuatan preparat sayatan
parafin hewan. Adapun organ yang kami gunakan dalam praktikum ini yaitu hati, ginjal,
paru-paru, usus, limpa dan uterus. Kelompok kami membuat preparat sayatan parafin
hewan pada organ limpa. Pada tahap pertama kami melakukan sampling yaitu dengan
mengambil organ limpa pada mencit dan langsung di cuci dengan larutan NaCl fisiologi
dangan tujuan untuk membersihkan organ dan menghindari mikroorganisme lain
menempel pada organ. Setelah dilakuakan sampling, kami melanjutan ketahap fiksasi
dimana organ direndam dalam larutan fiksatif yang berisi larutan FAA (formalin, alkohol
dan asam asetat glasial) tujuan dari fiksasi ini yaitu untuk mempertahankan morfologi sel
seperti semula, untuk mencegah terjadinya otolisis, mempercepat proses pematian
jaringan pada organ dan untuk mencegah pertumbuhan bakteri atau jamur. Proses ini
dilakukan selama 3 jam atau samapai organ benar-benar matang dan siap untuk
dimasukan pada larutan dehidrasi. Organ yang sudah matang ditandai dengan warna pucat
pada organ dan tidak terlihat lagi adanya darah pada organ. Setelah organ matang tahap
selanjutnya di lakukan dehidrasi dimana masing-masing organ dimasukan kedalam
alkohol yang bertingkat konsentrasinya yaitu 30%, 50%, 70%, 80%, 90%, dan 95%
masing-masing selama 60 menit. Adapun tujuan dari dehidrasi ini yaitu untuk
mengangkat air dalam jaringan dan mengantikannya dengan medium penjernih. Tahap
yang selanjutnya yaitu penjernihan dimana organ dimasukan kedalam larutan xylol
selama kurang lebih 60 menit hingga kelihatan transparan. Hal ini bertujuan untuk
mempermudah dalam memberikan warna pada organ. Tahap selanjutnya proses infiltrasi
yaitu suatu tahapan dimana jaringan dimasukan kedalam media penanaman secara
bertahap. Infiltrasi ini dilakukan dengan cara merendam organ pada parafin cair sebelum
proses penanaman kedalam blok parafin. Infiltrasi dilakukan dengan menggunakan
parafin : xylol (1:1), parafin : xylol (3:1), dan parafin : xylol (1:3) selama 15 menit di
dalam oven dengan suhu 58 drajat celcius. Tujuan perbandingan ini agar parafin dapat
masuk atau mengalami penetrasi lebih mudah karena adanya xylol. Hal ini terjadi karena
pada proses sebelumnya organ telah kontak dengan larutan xylol pada proses clearing.

Penggunaan oven ini di karenakan parafin merupakan senyawa yang memiliki melting
point atau titik leleh pada suhu 58 0C. Jadi tujuannya untuk mencegah agar parafin
tersebut tidak beku. Fungsi infiltrasi ini yaitu untuk mengisi ruang-ruang inter maupun
intra seluler dengan parafin cair sehingga kedudukan dehidrasi dapat digantikan oleh
parafin. Menurut Dasumiati (2008), dalam proses infiltrasi parafin, sebaiknya jangan
dimasukan langsung dari zat penjernih kedalam parafin murni, tetapi sebaiknya sebelum
parafin murni, jaringan dimasukan terlebih dahulu kedalam campuran antara parafin dan
penjernih (parafin : xylol) dengan volume perbandingan yang sama. Hal ini dimaksudkan
agar menghindari perubahan lingkungan yang sangat mendadak terhadap jaringan
tersebut sehingga jaringan dapat mengkerut karena tertarik secara maksimal.

Proses yang dilakukan selanjutnya adalah embedding atau penanaman yang


merupakan proses memasukan organ kedalam blok-blok parafin (cetakan) yang
terbuat dari kertas sehingga memudahkan di dalam penyayatan dengan alat bantu
mikrotom. Keuntungan menggunakan kotak kertas yaitu dapat membuat sayatan
dan menandai jaringan. Pada praktikum ini diinginkan organ yang nantinya
dapat dipotong secara melintang sehingga organ tersebut diletakkan dalam posisi
berdiri. Blok parafin yang telah membeku ini dimasukan kedalam refrigator
dengan tujuan agar blok parafin tersebut dapat membeku secara sempurna.
Parafin yang telah membeku ini dapat segera dipotong menggunakan alat
mikrotom. Pengirisan organ dilakukan dengan mikrotom agar didapat hasil irisan
yang sangat tipis. Namun terlebih dahulu blok parafin dilukis sedimikian rupa
sehingga membentuk suatu persegi dengan organ berada ditengah-tengahnya dan
kemudian blok parafin ditempel pada holder yang sesuai dengan ukuran blok
parafin. Proses section menghasilkan pita-pita sayatan yang nantinya akan disortir
kembali untuk memilih pita dengan sayatan organ yang baik dan tidak rusak.
Proses dilanjutkan dengan affixing yaitu penempelan sayatan organ pada glass
objek dengan albumin. Albumin merupakan suatu senyawa yang terdiri dari putih
telur dan gliserin yang berfungsi untuk merekatkan irisan jaringan pada glass
objek. Albumin dioleskan pada objek glass dengan rata menggunakan kelingking.
Ketika memberikan albumin pada objek glass tidak boleh terlalu banyak, karena
albumin yang terlalu banyak akan mengakibatkan albumin tersebut ikut terwarnai
yang nantinya menyebabkan objek glass menjadi kotor. Setelah pemberian
albumin, objek glass ditetesi dengan akuades. Akuades ini bertujuan agar irisan
mudah direntangkan dan tidak menggulung, karena ketika proses peletakan

sayatan organ diatas hot plate, akuades yang terdapat pada sayatan tersebuat akan
menguap dan pita-pita sayatan akan merentang dengan sendirinya. Akuades yang
diberikan tidak boleh terlalu banyak, karena jika kandungan air terlalu banyak
dapat menyebabkan sayatan terlepas ketika proses staining..
Tahapan setelah affixing yaitu proses staining atau pewarnaan. Proses diawali
dengan proses deparafinisasi yang bertujuan untuk menghilangkan parafin yang
terdapat dalam jaringan. Proses deparafinisasi menggunakan xylol yang di
lakukan selama 3x2 menit. Proses dilanjutkan dengan dialkoholisasi yaitu proses
penarikan alkohol dengan menggunakan alkohol bertingkat turun dari konsentrasi
96% - 30% masing-masing dilakukan dengan cara dicelupkan pada setiap
alkohol. Dilanjutkan dengan pencucian dengan

air mengalir setelah itu

dicelupkan kedalam akuades selama 5-10 menit dan proses pewarnaan dengan
menggunakan pewarna hematoksilin yang di lakukan selama 15 detik dan dicuei
lagi dengan air mengalir setelah dicuci diamati dibawah mikroskop dengan tujuan
untuk melihat apakah warna hematoksilin sudah menempel pada organ.
Digunakan pewarnaan hematoxylin ini karena hematoxylin adalah pewarna yang
bersifat basa sehingga akan mewarnai nukleus yang bersifat basa. Setelah
pewarnaan hematoksilin dilakukan lagi dengan pewarnaan eosin selama 15 menit,
dicuci dengan air mengalir dan dicek dibawah mikroskop. Eosin digunakan dalam
praktikum ini karena eosin merupakan pewarna yang bersifat asam dan akan
mewarnai setoplasma yang bersifat suka asam. Penggunaan pewarnaan ganda
bertujuan agar terjadi kekontrasan antara pewarna yang bersifat asidofilik dengan
pewarna yang besifat basidofilik, sehingga pengenalan bagian tertentu dapat
lebih cepat dan dapat terlihat secara jelas. Proses setelah pemberian warna eosin
di lajutkan dengan proses dehidrasi dan clearing lagi dengan alkohol bertingkat
70%, 80%, 90%, dan 100% dan xylol masing-masing selama 3 menit. Ketika
proses perpindahan preparat dari larutan satu dan yang lainya terutama larutan
yang berupa xylol, preparat sayatan tersebut harus menerima proses lipatan tissue
untuk mehilangkan larutan. Karena jika larutan xylol terkena air, maka xylol akan
rusak. Proses akhir sebelum maunting yaitu pemberian atau di rendam kedalam
larutan xylol selama 2 menit yang berfungsi untuk menjernihkan preparat agar
terlihat lebih transparan antar bagian-bagiannya.
Mounting adalah proses finishing pada tahapan ini dengan menetapkan
sayatan pada proses penutupan objek glass dengan menggunakan perekat berupa

Canada balsam. Dilanjutkan dengan proses labelling dan pengamatan tentang


bagian yang di hasilkan pada suatu sayatan organ.
Berdasarkan tahapan yang telah dilakukan hasil akhir yang kami dapatkan
tidak sesuai dengan yang diinginkan, organ yang didapat terlalu tebal dan hancur
sehingga ketika diamati dibawah mikroskop jaringannya tidak nampak dan
warnanya terlalu tebal. Hal ini dikarenakan pada proses perendaman dalam
larutan fiksatif dilakukan terlalu lama sehingga organnya kematangan dan ketika
proses penyayatan ukuran pisau mikroto yang digunakan terlalu tebal yaitu 20
mikron seharusnya hanya 10-14 mikron saja hal ini dilakukan karena ketika
dipotong dengan mikrotom yang ukurannya 10-14 mikron organnya hancur dan
tak terlihat sama sekali sehinga digunakan pisau mikrotom dengan ukuran 20
mikron.
E.

Kesimpulan dan saran


1. Kesimpulan
Pada praktikum ini kami tidak berhasil melakukan percobaan sesuai dengan yang
diinginkan yaitu hasil akhir yang kami dapat preparatnya terlalu tebal dan ketika
dilakukan pemotongan organ-organnya hancur sehingga untuk mendapat organ
yang bagus dilakukan pemotongan dengan mikrotom yang ukurannya tebal yaitu
20 mikron. Sehingga hasil akhirnya organ yang terlihat terlalu tebal.

Daftar Pustaka
Arisworo D dan Yusa. 2000. General Zoologi. Jakarta: PT. Grafindo Media Pratama.

Dasumiati, 2008. Diktat Kuliah Mikroteknik. Prodi Biologi Fak.Sains dan Teknologi.
Jakarta : UIN Syarif Hidayatullah.

Gunarso, Wisnu. 1989. Bahan Pengajaran Mikroteknik. Bogor : DEPDIKBUD Institiut


Pertanian Bogor.