Anda di halaman 1dari 7

MAKALAH OSTEOMALASIA

Kelompok 4A
Siska Meliana

G1A112017

Utari Wulandari S

G1A112032

Ariyati

G1A112035

Joni Kurniawan

G1A113022

Yuni Azoya

G1A113023

Isip Roman Syakura

G1A113024

Fiona Mazka

G1A113048

Agus Fathammubin Nst

G1A113049

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERISTAS JAMBI
2014/2015

OSTEOMALASIA
DEFINISI
Gangguan demineralisasi pada tulang orang tua yang epifisenya telah menutup. Defisiensi
yang lama dari pertumbuhan tulang dan proses mineralisasi pembentukan vitamin D, kalsium
dan fosfor yang tidak adekuat dan berlangsung lama sehingga mengakibatkan akumulasi
matriks tulang yang tidak dimineralisasikan menyebabkan kekuatan tulang menurundan
deformitas structural pada tulang penyangga berat badan.
ETIOLOGI

Kurangnya suplemen vitamin D atau fosfor


Penggunaan susu formula yang menggandung kurang dari 20 mg kalsium/dL
Nutrisi total parenteral dangan larutan tanpa kalsium dan vitamin D yang adekuat
Diet tinggi phytate yang mengikat kalsium dalam usus
Hipovitaminosis D desebabkan oleh difesiensi diet kronik
Penurunan sintesis disebabkan oleh paparan sinar matahari yang kurang
Menurunya absorbs vitamin D karena penyakit bilier, pancreatitis, penyakit mukosa

usus kecil proximal


Gastrektomi atau resin penyikat asam empedu
Meingkatnya ekskresi vitamin D pada pasien dengan sindrom nefrotik
Meningkatnya katabolisme vitamin D akibat penggunaan obat seperti fenitoin,
barbiturate, dan rifampisin.

PATOGENESIS
Proses mineralisasi tulang dan tulang rawan sangat kompleks, dimana kalsium dan fosfat
inorganic disimpan dalam matriks organic. Proses ini tergantung pada :

Ketersedian kalsium dalam fosfatdidalam cairan ekstra seliler.


Fungsi metabolic dan transport yang adekuat didalam kondrosit dan osteolas dalam

meregulasi kadar kalsium, fosfat dan ion lainnya pada tempat mineralisasi.
Tersedianya kolagen dalam jenis, jumlah dan distribusi tertentu.
pH yang ottimal untuk deposit kalsium-fosfat kompleks.
Rendahnya kadar inhibitor kalsifikasi pada matriks tuang.

Regulasi mineralisasi tulang yang memadai diperlukan pada turnover tulang. Osteomalasia bisa
terjadi jika regulasi mineralisasi tulang tidak memadai meskipun kadar kalsium-fosfat normal. Pada
beberapa penyakit, pengaruh perubahan pH, matrik kolagen yang abnormal atau konsentrasi inhibitor
kasifikasi yang tinggi melatarbelakangi proses mineralisasi tulang menjadi abnormal. Osteomalasia
juga dapat terjadi dalam keadaan hipofosfatemiayang lama yang mungkin akibat dari eksresi
fosfatlewat ginja yang berlebihan, penggunaan etidronat atau antasida pengikat fosfat dalam jangka
lama.

FAKTOR RESIKO
Faktor resiko sebenarnya dihubungkan dengan penyebab-penyebab.
1. Usia
2. Herediter
3. Orang yang jarang keluar rumah (kurang terpapar sinar matahari)
4. Kurang asupan kalisum seperti Kurang mengkonsumsi susu karena akan terjadi lactose
intolerance
5. Mempunyai penyakit kronis seperti gagal ginjal
6. Adanya kelainan pada gastrointestinal,karena absorbsi lemak tidak memadai sehingga
terjadi kehilangan vitamin D ( bersama dengan vitamin yang larut lemak lainnya) dan
kalsium, kalsium disekresi melalui feces dalam kombinasi dengan asam lemak.
7. Mengkonsumsi obat antikonvulsan berkepanjangan (fenitoin, fenobarbital)
MANIFESTASI KLINIK
1.

Lemahnya tulang

2.

Nyeri tulang

3.

Nyeri tulang spina

4.

Nyeri tulang pelvis

5.

Nyeri tulang panjang

6.

Kelemahan otot

7.

Hipokalsemia

8.

Tulang vertebra mengalami tekanan

9.

Pendataran pelvis
10. Fraktur, baik secara jumlah dan mudahnya patah tulang
Tanda dan gejala yang lain mungkin meliputi, rasa nyeri pada tungkai dan punggung bawah
akibat kolaps vertebra, tungkai yang berbentuk seperti busur, kedua sendi lutut yang saling
menyentuh, gejala rakitis rosary ( pembentukan benjolan seperti biji tasbih pada tulang iga ),
pergelangan tangan dan kaki yang membesar, pigeon breast ( dada burung dengan tulang iga
dan sternum yang menonjol ), penutupan ubun-ubun ( fontanel ) yang terlambat, tulang
tengkorak yang lunak, dahi yang menonjol,
Gangguan perkembangan otot ( pot belly ), kesulitan berjalan dan menaiki tangga,
kifoskoliosis dimana tulang-tulang panjang menjadi bengkok terutama di kaki seta kifosis di
punggung dapat menyebabkan gaya berjalan yang bergoyang-goyang/ waddling gait.
PENEGAKAN DIAGNOSIS

1.

Anamnesis

2.

Pemeriksaan fisik

3.

Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan laboratorium menunjukkan lambatnya rata-rata serum kalsium dan jumlah


fosfat serta kurangnya kenaikan alkalin fosfat. Ekskresi urin kalsium dan kreatinin lambat.
Hasil-hasil pemeriksaan yang menunjukkan defisiensi vitamin D meliputi, kadar kalsium
serum yang kurang dari 7,5 mg/dl, kadar fosfor anorganik serum yang kurang dari 3 mg/dl,
kadar sitrat serum yang kurang dari 4 unit bodansky/dl.
Pemeriksaan radiologis, Foto rontgen tulang yang memperlihatkan deformitas dan
abnormalitas tulang yang khas seperti zona looser ( pita radiolusen yang tegak lurus terhadap
permukaan kasi tulang ini dapat memastikan diagnosis ). Pada foto polos juga didapatkan
adanya osteosklerosis dan erosi
DIAGNOSIS BANDING
1. Aneurysmal boen cyst
2. Calcium pyrophosphate deposition disease
3. Hyperparathyroidism primary
4. Hyperparathyroidism secondary
5. Multiple myeloma
TATALAKSANA

Pada osteomalasia akibat defisiensi vitamin D, pemberian vitamin D dan diet tinggi kalsiium
biasanya akan memperbaiki kalsifikasi matriks organic dan karenanya mengakibatkan
penyembuhan pseudofraktur serta penguatan tulang.
Osteomalasia bentuk hipofosfatemik mungkin memerlukan pengobatan dengan fosfat dan
1,25-dihidroksi vitamin D.

Pada osteomalasia yang resisten terhadap vitamin Djuga dapat di berian 1,25-dihidroksi
vitamin D.
Deformitas residual yang terjadi dapat dikoreksi dengan osteotomi.
KOMPLIKASI

Pada anak-anak yang menderita penyakit rachitis, jikalau penyakit ini tidak segera
diobati, maka pertumbuhannya akan terhalang, anak itu menjadi lambat untuk duduk,
merangkak, dan berjalan. Berat tubuhnya mungkin akan membengkokkan lutut,
tulang, serta persendian lainnya sehingga menyebabkan kaki-O (Genu Varum), dada

busung (Pigeon Chest), dan lutut bengkok kedalam atau kaki-X (Genu Valgum).
Pada orang dewasa, kelemahan tulang akan menimbulkan risiko fraktur. Os vertebra
yang melunak akan tertekan menjadi pendek sehingga orang itu akan berkurang
tingginya ataucebol. Trunkus klien yang memendek sehingga mengubah bentuk toraks
disebut kifosis, dimana klien terlihat seperti bungkuk, dan skoliosis.

1.

Patah tulang

2.

Penyembuhan fraktur yang abnormal

3.

Gangguan petumbuhan karena adanya trauma pada lempeng epifisis

4.

Infeksi persisten pada trauma

5.

Atrofi sudeck

6.

Refraktur

PROGNOSIS
Beberapa orang dengan gangguan kekurangan vitamin akan mendapatkan yang lebih
baik dalam beberapa minggu. Dengan pengobatan, penyembuhan harus terjadi dalam waktu 6
bulan. Prognosis baik jika penyebab yang mendasari kekurangan vitamin D ditangani. Pasien
harus didorong untuk makan diet seimbang dan memastikan paparan sinar matahari yang
cukup.

PERTIMBANGAN KHUSUS
Dapatkan riwayat diet guna mengkaji asupan vitamin D yang terakhir, jika pasien harus
mendapatkan vitamin D dalam jangka waktu lama, beri tahukan kepadanya untuk mengawasi
kemungkinan tanda-tanda intoksikasi vitamin D seperti mual, konstipasi dan sesudah
pemakaian lama berupa batu ginjal, jika keadaan defisiensi vitamin D tersebut tampaknya
berkaitan dengan kondisi sosioekonomi yang buruk, rujuk pasien kepada lembaga masyarakat
atau sosial yang sesuai.
DAFTAR PUSTAKA
1.

Apley, Solomon. Concise system of orthopaedics and fractures, 2nd ed. Arnold,
London (2001).

2.

Kline M. Osteomalacia and Renal osteodystrophy. eMedicine 2001 (available online


@ http://www.emedicine.com/radio/topic500.html)

3.

Sudoyo,dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi V .Jakarta: Internal


Publishing.2009

4.

Sjamsuhidajat, R & Wim de Jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah, edisi 3. Jakarta:EGC

5.

Marie, PJ. Contrasting effect of 1,25 dihidroksivitamin D on bone matrix and mineral
appositional rate :1985