Anda di halaman 1dari 10

Portofolio

No ID dan Nama Peserta

: dr. Luki Ertandri, dr. Septarian Wulandika P., dr. Elsa Safitry

Masrul
Nama Wahana

: RSUD Kota Solok

Topik

: Kasus Etik

Tanggal (Kasus)

: 25 Agustus 2015

Nama

: dr. X

Nama Pendamping

: dr. Elsis Mareta E, dr. Jenny Triyuspita S.

Tempat Presentasi

: Ruang Komite Medik RSUD Solok

Objektif Presentasi

: Keilmuan dan Diagnostik

Bahan Bahasan

: Kasus

Cara Membahas

: Diskusi

PENDAHULUAN
KODE ETIK KEDOKTERAN INDONESIA

Etik profesi kedokteran mulai dikenal sejak 1800 tahun sebelum Masehi dalam bentuk
Code of Hammurabi dan Code of Hittites, yang penegakannya dilaksanakan oleh penguasa
pada waktu itu. Selanjutnya etik kedokteran muncul dalam bentuk lain, yaitu dalam bentuk
sumpah dokter yang bunyinya bermacam-macam, tetapi yang paling banyak dikenal adalah
sumpah Hippocrates yang hidup sekitar 460-370 tahun SM. Sumpah tersebut berisikan
kewajiban-kewajiban dokter dalam berperilaku dan bersikap, atau semacam code of conduct
bagi dokter.
World Medical Association dalam Deklarasi Geneva pada tahun 1968 menghasilkan
sumpah dokter (dunia) dan Kode Etik Kedokteran Internasional. Kode Etik Kedokteran
Internasional berisikan tentang kewajiban umum, kewajiban terhadap pasien, kewajiban
terhadap sesama dan kewajiban terhadap diri sendiri. Selanjutnya, Kode Etik Kedokteran
Indonesia dibuat dengan mengacu kepada Kode Etik Kedokteran Internasional.
Selain Kode Etik Profesi di atas, praktek kedokteran juga berpegang kepada prinsipprinsip moral kedokteran, prinsip-prinsip moral yang dijadikan arahan dalam membuat
keputusan dan bertindak, arahan dalam menilai baik-buruknya atau benar-salahnya suatu
keputusan atau tindakan medis dilihat dari segi moral. Pengetahuan etika ini dalam
perkembangannya kemudian disebut sebagai etika biomedis. Etika biomedis memberi
pedoman bagi para tenaga medis dalam membuat keputusan klinis yang etis (clinical ethics)
dan pedoman dalam melakukan penelitian di bidang medis.
Nilai-nilai materialisme yang dianut masyarakat harus dapat dibendung dengan
memberikan latihan dan teladan yang menunjukkan sikap etis dan profesional dokter, seperti
autonomy (menghormati hak pasien, terutama hak dalam memperoleh informasi dan hak
membuat keputusan tentang apa yang akan dilakukan terhadap dirinya), beneficence
(melakukan tindakan untuk kebaikan pasien), non maleficence (tidak melakukan perbuatan
yang memperburuk pasien) dan justice (bersikap adil dan jujur), serta sikap altruisme
(pengabdian profesi).
Pendidikan etik kedokteran, yang mengajarkan tentang etik profesi dan prinsip moral
kedokteran, dianjurkan dimulai dini sejak tahun pertama pendidikan kedokteran, dengan
memberikan lebih ke arah tools dalam membuat keputusan etik, memberikan banyak latihan,
dan lebih banyak dipaparkan dalam berbagai situasi-kondisi etik-klinik tertentu (clinical
2

ethics), sehingga cara berpikir etis tersebut diharapkan menjadi bagian pertimbangan dari
pembuatan keputusan medis sehari-hari. Tentu saja kita pahami bahwa pendidikan etik belum
tentu dapat mengubah perilaku etis seseorang, terutama apabila teladan yang diberikan para
seniornya bertolak belakang dengan situasi ideal dalam pendidikan.
IDI (Ikatan Dokter Indonesia) memiliki sistem pengawasan dan penilaian pelaksanaan
etik profesi, yaitu melalui lembaga kepengurusan pusat, wilayah dan cabang, serta lembaga
MKEK (Majelis Kehormatan Etik Kedokteran) di tingkat pusat, wilayah dan cabang. Selain
itu, di tingkat sarana kesehatan (rumah sakit) didirikan Komite Medis dengan Panitia Etik di
dalamnya, yang akan mengawasi pelaksanaan etik dan standar profesi di rumah sakit. Bahkan
di tingkat perhimpunan rumah sakit didirikan pula Majelis Kehormatan Etik Rumah Sakit
(Makersi).
Pada dasarnya, suatu norma etik adalah norma yang apabila dilanggar hanya akan
membawa akibat sanksi moral bagi pelanggarnya. Namun suatu pelanggaran etik profesi
dapat dikenai sanksi disiplin profesi, dalam bentuk peringatan hingga ke bentuk yang lebih
berat seperti kewajiban menjalani pendidikan / pelatihan tertentu (bila akibat kurang
kompeten) dan pencabutan haknya berpraktik profesi. Sanksi tersebut diberikan oleh MKEK
setelah dalam rapat/sidangnya dibuktikan bahwa dokter tersebut melanggar etik (profesi)
kedokteran.
Dengan maksud untuk lebih nyata menjamin dan mewujudkan kesungguhan dan
keluhuran ilmu kedokteran, para dokter Indonesia yang tergabung dalam Ikatan Dokter
Indonesia, membakukan dan membukukan nilai-nilai tanggungjawab profesional profesi
kedokteran dalam suatu Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI), yang diuraikan dalam
pasal-pasal berikut :
KEWAJIBAN UMUM
Pasal 1
Setiap dokter wajib menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah dan atau janji
dokter.
Pasal 2
Seorang dokter wajib selalu melakukan pengambilan keputusan profesional secara
independen, dan mempertahankan perilaku profesional dalam ukuran yang tertinggi.
Pasal 3
Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang dokter tidak boleh dipengaruhi oleh
sesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi.
Pasal 4
Seorang dokter wajib menghindarkan diri dari perbuatan yang bersifat memuji diri.
3

Pasal 5
Tiap perbuatan atau nasihat dokter yang mungkin melemahkan daya tahan psikis maupun
fisik, wajib memperoleh persetujuan pasien/ keluarganya dan hanya diberikan untuk
kepentingan dan kebaikan pasien tersebut.
Pasal 6
Setiap dokter wajib senantiasa berhati-hati dalam mengumumkan atau menerapkan setiap
penemuan teknik atau pengobatan baru yang belum diuji kebenarannya dan terhadap hal-hal
yang dapat menimbulkan keresahan masyarakat.
Pasal 7
Seorang dokter waajib hanya memberi surat keterangan dan pendapat yang telah diperiksa
sendiri kebenarannya.
Pasal 8
Seorang dokter wajib, dalam setiap praktik medisnya, memberikan pelayanan secara
kompeten dengan kebebasan teknis dan moral sepenuhnya, disertai rasa kasih sayang
(compassion) dan penghormatan atas martabat manusia.
Pasal 9
Seorang dokter wajib bersikap jujur dalam berhubungan dengan pasien dan sejawatnya, dan
berupaya untuk mengingatkan sejawatnya pada saat menangani pasien dia ketahui memiliki
kekurangan dalam karakter atau kompetensi, atau yang melakukan penipuan atau
penggelapan.
Pasal 10
Seorang dokter wajib menghormati hak-hak- pasien, teman sejawatnya, dan tenaga kesehatan
lainnya, serta wajib menjaga kepercayaan pasien.
Pasal 11
Setiap dokter wajib senantiasa mengingat kewajiban dirinya melindungi hidup makhluk
insani.
Pasal 12
Dalam melakukan pekerjaannya seorang dokter wajib memperhatikan keseluruhan aspek
pelayanan kesehatan (promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif ), baik fisik maupun psikososial-kultural pasiennya serta berusaha menjadi pendidik dan pengabdi sejati masyarakat.
Pasal 13
Setiap dokter dalam bekerjasama dengan para pejabat lintas sektoral di bidang kesehatan,
bidang lainnya dan masyarakat, wajib saling menghormati.
4

KEWAJIBAN DOKTER TERHADAP PASIEN


Pasal 14
Seorang dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan seluruh keilmuan dan
ketrampilannya untuk kepentingan pasien, yang ketika ia tidak mampu melakukan suatu
pemeriksaan atau pengobatan, atas persetujuan pasien/ keluarganya, ia wajib merujuk pasien
kepada dokter yang mempunyai keahlian untuk itu.
Pasal 15
Setiap dokter wajib memberikan kesempatan pasiennya agar senantiasa dapat berinteraksi
dengan keluarga dan penasihatnya, termasuk dalam beribadat dan atau penyelesaian masalah
pribadi lainnya.
Pasal 16
Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang pasien,
bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia.
Pasal 17
Setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu wujud tugas
perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain bersedia dan mampu memberikannya.
KEWAJIBAN DOKTER TERHADAP TEMAN SEJAWAT
Pasal 18
Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan.
Pasal 19
Setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien dari teman sejawat, kecuali dengan
persetujuan keduanya atau berdasarkan prosedur yang etis.
KEWAJIBAN DOKTER TERHADAP DIRI SENDIRI
Pasal 20
Setiap dokter wajib selalu memelihara kesehatannya, supaya dapat bekerja dengan baik.
Pasal 21
Setiap dokter wajib senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
kedokteran/ kesehatan.
Untuk menetapkan sanksi atas pelanggaran Kode Etik Kedokteran, dibutuhkan
pedoman penegakan disiplin profesi kedokteran. Konsil Kedokteran Indonesia telah
menetapkan Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 4 Tahun 2011Tentang Disiplin
Profesional Dokter Dan Dokter Gigi. Pada peraturan tersebut yaitu pada pasal 13 ayat 1, dan
2, yang merupakan pelanggaran disiplin kedokteran terdiri dari 28 bentuk yaitu :
5

a. melakukan Praktik Kedokteran dengan tidak kompeten;


b. tidak merujuk pasien kepada Dokter atau Dokter Gigi lain yang memiliki kompetensi yang
sesuai;
c. mendelegasikan pekerjaan kepada tenaga kesehatan tertentu yang tidak memiliki
kompetensi untuk melaksanakan pekerjaan tersebut;
d. menyediakan Dokter atau Dokter gigi pengganti sementara yang tidak memiliki
kompetensi dan kewenangan yang sesuai atau tidak melakukan pemberitahuan perihal
penggantian tersebut;
e. menjalankan Praktik Kedokteran dalam kondisi tingkat kesehatan fisik ataupun mental
sedemikian rupa sehingga tidak kompeten dan dapat membahayakan pasien;
f. tidak melakukan tindakan/asuhan medis yang memadai pada situasi tertentu yang dapat
membahayakan pasien;
g. melakukan pemeriksaan atau pengobatan berlebihan yang tidak sesuai dengan kebutuhan
pasien;
h. tidak memberikan penjelasan yang jujur, etis, dan memadai (adequate information) kepada
pasien atau keluarganya dalam melakukan Praktik Kedokteran;
i. melakukan tindakan/asuhan medis tanpa memperoleh persetujuan dari pasien atau keluarga
dekat, wali, atau pengampunya;
J. tidak membuat atau tidak menyimpan rekam medis dengan sengaja;
k. melakukan perbuatan yang bertujuan untuk menghentikan kehamilan yang tidak sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
I. melakukan perbuatan yang dapat mengakhiri kehidupan pasien atas permintaan sendiri atau
keluarganya;
m. menjalankan Praktik Kedokteran dengan menerapkan pengetahuan, keterampilan, atau
teknologi yang belum diterima atau di luar tata cara Praktik Kedokteran yang layak;
n. melakukan penelitian dalam Praktik Kedokteran dengan menggunakan manusia sebagai
subjek penelitian tanpa memperoleh persetujuan etik (ethical clearance) dari lembaga yang
diakui pemerintah;
o. tidak melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, padahal tidak
membahayakan dirinya, kecuali bila ia yakin ada orang lain yang bertugas dan mampu
melakukannya;
p. menolak atau menghentikan tindakan/asuhan medis atau tindakan pengobatan terhadap
pasien tanpa alasan yang layak dan sah sesuai dengan ketentuan etika profesi atau peraturan
perundang-undangan yang berlaku;
6

q. membuka rahasia kedokteran;


r. membuat keterangan medis yang tidak didasarkan kepada hasil pemeriksaan yang
diketahuinya secara benar dan patut;
s. turut serta dalam perbuatan yang termasuk tindakan penyiksaan (torture) atau eksekusi
hukuman mati;
t. meresepkan atau memberikan obat golongan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya
yang tidak sesuai dengan ketentuan etika profesi atau peraturan perundang-undangan yang
berlaku;
u. melakukan pelecehan seksual, tindakan intimidasi, atau tindakan kekerasan terhadap
pasien dalam penyelenggaraan Praktik Kedokteran;
v. menggunakan gelar akademik atau sebutan profesi yang bukan haknya;
w. menerima imbalan sebagai hasil dari merujuk, meminta pemeriksaan, atau memberikan
resep obat dan alat kesehatan;
x. mengiklankan kemampuan/pelayanan atau kelebihan kemampuanl pelayanan yang dimiliki
baik lisan ataupun tulisan yang tidak benar atau menyesatkan;
y. adiksi pada narkotika, psikotropika, alkohol, dan zat adiktif lainnya;
z. berpraktik dengan menggunakan surat tanda registrasi, surat izin praktik, dan/atau sertifikat
kompetensi yang tidak sah atau berpraktik tanpa memiliki surat izin praktik sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
aa. tidak jujur dalam menentukan jasa medis;
bb. tidak memberikan informasi, dokumen, dan alat bukti lainnya yang diperlukan MKDKI I
MKDKI-P untuk pemeriksaan atas pengaduan dugaan pelanggaran Disiplin Profesional
Dokter dan Dokter Gigi;

Sanksi terhadap disiplin tersebut ditetapkan melalui Undang-Undang Nomor 29


Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran pada pasal 69 ayat 3, yaitu :
1. Pemberian peringatan tertulis.
2. Rekomendasi pencabutan STR/SIP. Pencabutan dapat dilakukan minimal 1 tahun,
maksimal selama-lamanya.
3. Kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di Institusi pendidikan kedokteran
atau kedokteran gigi. Dapat berupa pendidikan formal, atau berupa pelatihan atau
magang di Institusi pendidikan kedokteran minimal 3 bulan atau maksimal 1 tahun.

Borang Portofolio Kasus Etik

No. ID dan Nama Peserta


No. ID dan Nama Wahana
Topik
Tanggal (kasus)
Nama
Tanggal Presentasi

dr. Elsa Safitry M., dr.Luki Ertandri, dr. Septarian Wulandika


Putri
RSUD Kota Solok
Kasus Etik
25 Agustus 2015
dr. X
No. RM
Pendamping

dr. Elsis Mareta E.

dr. Jenny Triyuspita S.


Ruang Komite Medik RSUD Kota Solok

Tempat Presentasi
Objektif Presentasi
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan Pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Neonatus
Bayi
Anak
Remaja
Dewasa
Lansia
Bumil
Deskripsi
dr. A melakukan pelanggaran etik kedokteran
Tujuan
Mengetahui jenis pelanggaran etik kedokteran beserta sanksinya
Bahan
Tinjauan
Riset
Kasus
Audit
Bahasan
Pustaka
Cara
Membahas

Diskusi

Presentasi dan Diskusi

Data
Nama : dr. X
Nama RS : RSUD Kota X
Data Utama untuk Bahan Diskusi :
Seorang dokter pamer foto

Telp :

E-mail

Pos

No. Registrasi :
Terdaftar sejak :

selfie saat melakukan pemeriksaan fisik (memeriksa

kemaluan )seorang pasien


Daftar Pustaka :
1. Purwadianto, Agus, dkk. 2012. Kode Etik Kedokteran Indonesia 2012. Pengurus Besar
Ikatan Dokter Indonesia.
2. Adam K, Hadad T, Rafly A, dkk. 2007. Penyelenggaraan Praktik Kedokteran yang Baik di
Indonesia. Jakarta: Konsil Kedokteran Indonesia
3. Hanafiah, Jusuf, dkk. 1999. Etika Kedokteran & Hukum Kesehatan, edisi 3. Jakarta: EGC
Hasil Pembelajaran :
1. Mengetahui dan memahami kode etik kedokteran Indonesia.
2. Mengetahui sanksi pelanggaran kode etik kedokteran Indonesia.

KASUS

Seorang dokter X bekerja di Rumah S.I.H. di kawasan Taman Mount Austin Johor
Baru dengan melakukan tindakan berfoto saat melakukan pemeriksaan kemaluan seorang
pasien.
DISKUSI

Berdasarkan Kode Etik Kedokteran Indonesia, dokter X melanggar beberapa pasal


yaitu :
1. pasal 8 yaitu seorang dokter wajib, dalam setiap praktik medisnya, memberikan
pelayanan secara kompeten dengan kebebasan teknis dan moral sepenuhnya,
disertai rasa kasih sayang (compassion) dan penghormatan atas martabat manusia.
2. Pasal 10 yaitu seorang dokter wajib menghormati hak-hak- pasien, teman
sejawatnya, dan tenaga kesehatan lainnya, serta wajib menjaga kepercayaan
pasien.
3. Pasal 16 yaitu setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya
tentang seorang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia.
Tindakan dokter X pada kasus ini tidak hanya kasus etik tetapi juga kasus disiplin
profesi. Pada pedoman penegakan disiplin profesi kedokteran, yang merupakan bentuk
pelanggaran disiplin kedokteran yang terdapat pada KKI yaitu pada point berikut :
1. Poin q yaitu membuka rahasia kedokteran
Untuk kasus etik, dokter X hanya mendapat sanksi moral. Untuk kasus disiplin profesi,
apabila terjadi pengaduan, dokter X dapat diproses oleh Majelis Kehormatan Disiplin
Kedokteran Indonesia (MKDKI) dan apabila dinyatakan bersalah dapat dijatuhi sanksi.

Sanksi terhadap disiplin tersebut ditetapkan melalui Undang-Undang Nomor 29


Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran pada pasal 69 ayat 3, yaitu :
4. Pemberian peringatan tertulis.
5. Rekomendasi pencabutan STR/SIP. Pencabutan dapat dilakukan minimal 1 tahun,
maksimal selama-lamanya.
6. Kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di Institusi pendidikan kedokteran
atau kedokteran gigi. Dapat berupa pendidikan formal, atau berupa pelatihan atau
magang di Institusi pendidikan kedokteran minimal 3 bulan atau maksimal 1 tahun.

10