Anda di halaman 1dari 16

TASAWUF MODERN

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas Tasawuf


Dosen Pengampu : H. M Solihin, M.Pd.I

Disusun oleh :
1. Lita Liyanti

145111184

2. Andi Sulistyo
3. Fitria Nur Aini

145111191
145111204

JURUSAN MANAJEMEN SYARIAH


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2016

KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabbilalamin, segala puji dan syukur bagi Allah SWT yang
telah memberikan segala rahmat, hidayah, serta inayah-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah Tasawuf Modern yang sederhana ini dengan baik tanpa
suatu kendala apapun.
Maksud dan tujuan dari penulisan makalah ini tidak lain untuk memenuhi
salah satu kewajiban mata kuliah, yaitu Tasawuf serta merupakan bentuk langsung
tanggung jawab penulis pada tugas yang diberikan. Penulis menyadari bahwa
penulisan makalah ini bukanlah pekerjaan yang sangat mudah. Hal ini tak akan
pernah terwujud tanpa bantuan dari berbagai pihak, baik secara materiil maupun
spirituil. Atas segala bantuan dan peran sertanya yang telah diberikannya kepada
penulis, semoga segala bantuan dan dukungan yang diberikan kepada penulis
mendapat imbalan yang berlipat dari Allah SWT, Amin.
Penulis sadar bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu
segala kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan demi perbaikan
dalam penyusunan makalah ini. Atas saran, kritik maupun bantuaannya penulis
ucapkan terima kasih.
Demikian kata pengantar ini kami buat, semoga makalah ini bermanfaat bagi
penulis khususnya dan pembaca pada umumnya. Amin.

Surakarta,

Juni 2016

DAFTAR ISI
Halaman Judul...............................................................................................i
Kata Pengantar..............................................................................................ii
Daftar isi........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................................1

A. Latar Belakang Masalah............................................................................................1


B.

Rumusan
Masalah
....................................................................................................................................
1

C. Tujuan

....................................................................................................................................
1

BAB II PEMBAHASAN.................................................................................... 2
A. Pengertian Tasawuf Modern......................................................................................2
B. Tasawuf di Era Modern..............................................................................................2
C. Tokoh Tasawuf Modern..............................................................................................4
BAB III PENUTUP
....................................................................................................................................
12

Daftar Pustaka
...........................................................................................................
13

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Manusia modern telah dilanda kehampaan spiritual. Kemajuan pesat dalam
lapangan ilmu pengetahuan, teknologi dan filsafat rasionalisme sejak abad XVIII
tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok manusia dalam aspek nilai-nilai
transendental. Suatu kebutuhan vital yang hanya dapat digali dan berasal dari yang
benar-benar mutlak dan berisi amanat yang harus dilaksanakan, sedangkan dunia
beserta isinya dan apa yang dihasilkan oleh manusia besifat nisbi.1
Sejak Renaisance masyarakat Barat asyik berkecimpung dengan masalah
empirik menekuni dimensi luar yang senantiasa berubah, bukan menguak masalah
yang lebih mendalam, yaitu pada tataran hakikat keberadaan manusia dan alam.
Penyakit dari dunia modern adalah paham sekularisme, yaitu suatu paham yang
menjauhkan dari makna spiritual. Di Barat, sekularisme muncul pertama kali dalam
usaha membebaskan negara dari campur tangan agama.2
B. RUMUSAN MASALAH
1.

Apa pengertian Tasawuf Modern?

2.

Bagaimana Peranan Tasawuf Modern dalam Kehidupan Modern?

3.

Siapakah Tokoh Tasawuf Modern?

C. TUJUAN
1

Sayyed Hossein Nasr, Tasawuf Dulu dan Sekarang, (Jakarta : Pustaka Firdaus, 1991), hlm. 198

Agama bangsa Barat secara mayoritas adalah Kristen.

1.

Menjelaskan pengertian tasawuf modern

2.

Mengetahui peranan tasawuf modern dalam kehidupan modern

3.

Mengenal tokoh tasawuf modern

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Tasawuf Modern
Arti tasawuf dan asal katanya secara etimologis menjadi perdebatan para ulama
ahli bahasa. Sebagian mengatakan bahwa tasawuf itu diambil dari kata shafa artinya
suci bersih. Sebagian lagi mengatakan bahwa kata tasawuf itu berasal dari kata shuf
yang artinya bulu binatang domba. Sedangkan secara terminologis, Tasawuf
merupakan suatu system latihan dengan penuh kesungguhan untuk membersihkan,
mempertinggi dan memperdalam nilai-nilai kerohanian dalam rangka mendekatkan
diri kepada Allah, sehingga dengan cara itu, segala konsentrasi seseorang hanya
tertuju kepada-Nya.
Menurut HAMKA Dalam bukunya yang lain seperti Tasauf Modern, Hamka
menjelaskan pula bahwa, Kita tegakkan maksud semula dari tasauf yaitu
membersihkan jiwa, mendidik dan mempertinggi derajat budi, menekan segala
kelobaan dan kerakusan, memerangi sahwat yang terlebih dari keperluan untuk
keperluan diri. Terdapat juga dalam buku Tasawuf dari Abad ke Abad, di mana
Hamka menjelaskan definisi tasawuf sebagai, Orang yang membersihkan jiwa dari
pengaruh benda dan alam, supaya dia mudah menuju Tuhan.
Dari definisi yang dijelaskan Hamka di atas, dapatlah kita melihat kesamaan
misi antara Tazkiyatun Nafs dan tasawuf di mana keduanya menginginkan sebuah
upaya yang satu yaitu; pembersihan diri atau jiwa seseorang dari perangai buruk dan
dosa yang di anggap buruk oleh syariat Islam
B. Tasawuf di Era Modern

Tasawuf sebagai salah satu pilar utama dalam Islam harus dapat menyesuaikan diri di
era modern ini, karena kebanyakan manusia didominasi oleh hegemoni paradigma ilmu
pengetahuan dan budaya Barat yang materialistik-sekularistik. Dominasi ilmu
pengetahuan dan budaya Barat materialisme-sekularisme ini terbukti lebih bersifat
destruktif ke timbang konstruktif bagi kemanusiaan. Jika kemudian hal tersebut
dibenturkan pada ranah agama, maka akan didapati masalah yang bersifat akut. Sebab
filsafat pengetahuan Barat hanya menganggap valid ilmu pengetahuan yang semata
bersifat induktif-empiris, rational-deduktif dan pragmatis, serta menafikan atau menolak
ilmu pengetahuan non-empiris dan non-positivisme, yaitu ilmu pengetahuan yang
bersumber dari wahyu ketuhanan.
Banyak cara diajukan para ahli untuk mengatasi problematika masyarakat
modern, salah satu yang hampir disepakati adalah pengembanagn kehidupan
bertasawuf. Salah satu tokoh yang begitu sungguh-sungguh memperjuangkan
tasawuf untuk mengatasi masalah tersebut adalah Husein Nashr.
Sufisme perlu dimasyarakatkan pada kehidupan modern yang sekarang karena
terdapat 3 (tiga) tujuan penting, yaitu:
1. Turut serta berperan menyelamatkan kemanusiaan dari kondisi kebingungan
akibat hilangnya nilai-nilai spiritual.
2. Memperkenalkan literatur atau pemahaman tentang aspek esoterik (kebatinan) Islam,
baik terhadap masyarakat Muslim yang mulai melupakannya maupun non Muslim.
3. Untuk menegaskan kembali, bahwa aspek esoterik Islam, yakni sufisme merupakan
jantung dari ajaran Islam sehingga bila wilayah ini kering dan tidak berdenyut, maka
keringlah aspek-aspek lain ajaran Islam.
Problematika masyarakat modern dapat disebutkan sebagaimana berikut :
1. Penyalahgunaan ilmu pengetahuan dan teknologi karena terlepas dari spriritualitas.
Kemampuan membuat senjata telah diarahkan untuk tujuan menjajah bangsa lain
menindas yang lemah. Seperti yang ada kawasan timur tengah, seperti Libya, Suriah,
Palestina, Irak, dan lain sebagainnya.
2. Pendangkalan iman. Lebih mengutamakan keyakinan kepada akal pikiran dari pada
keyakinan religius. Pornografi dan budaya hidup liberal menyergap generasi muda.

3. Desintegrasi ilmu pengetahuan. Adanya spesialisasi di bidang ilmu pengetahuan,


masing-masing ilmu pengetahuan memiliki paradigma tersendiri dalam memecahkan
masalah yang dihadapi. Bila seseorang menghadapi masalah, lalu berkonsultasi kepada
teolog, ilmuwan, politisi, psikiater, dan ekonom, misalnya, mereka akan memberi
jawaban yang berbeda-beda dan terkadang saling bertolak belakang. Hal ini pada
akhirnya membingungkan manusia.
4.

Pola hubungan materialistik. Memilih pergaulan atau hubungan yang saling

menguntungkan secara materi.


5. Menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan mengenyampingkan nilai-nilai
ajaran agama.
6. Kepribadian yang terpecah (split personality). Karena kehidupan manusia modern
dibentuk oleh ilmu pengetahuan yang coraknya kering dari nilai-nilai spiritual dan
terkotak-kotak, akibatnya manusia menjadi pribadi yang terpecah. Jika proses keilmuan
yang berkembang tidak berada di bawah kendali agama, maka proses kehancuran pribadi
manusia akan terus berjalan. Dengan demikian, tidak hanya kehidupan saja yang
mengalami kemerosotan, tetapi juga tingkat kecerdasan dan moral.
7. Stress dan frustasi. Jika tujuan tidak tercapai, sering berputus asa bahkan tidak jarang
yang depresi.
8. Kehilangan harga diri dan masa depan. Jika kontrol nilai agama telah terlepas dari
kehidupan, maka manusia tidak lagi punya harga diri dan masa depan.
9. Masyarakat modern mengalami kehampaan dan ketidakbermaknaan hidup.
Keberadaannya tergantung kepada pemilikan dan penguasaan simbol kekayaan,
keinginan mendapatkan harta yang berlimpah melampaui komitmennya terhadap
solidaritas sosial. Hal ini didorong oleh pandangan, bahwa orang yang banyak harta
merupakan manusia unggul
C. Tokoh Tasawuf Modern
Biografi singkat HAMKA3
HAMKA adalah kependekan dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Ia lahir di
Maninjau, Sumatera Barat pada 16 Februari 1908 M yang bertepatan dengan 13
3

Samsul Munir Amin. Ilmu Tasawuf. (Jakarta: Teruna Grafica, 2012), hlm. 372

Muharram, 1326 H. Ia adalah anak seorang ulama pembaharu Minangkabau, Dr. Haji
Abdul Karim Amrullah yang dikenal dengan Haji Rasul. Intelektualisme HAMKA mulai
muncul sejak ia pulang dari Jawa. Akan tetapi, perkembangan pesat baru dapat dicapai
setelah ia pulang dari Mekah dan menikah.
Beberapa buku karya HAMKA
a. Beberapa Tantangan Terhadap Umat Islam di Masa Kini.
b. Said Jamaluddin Al- Afghani (Pelopor Kebangkitan Muslimin).
c. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
d. Tasawuf Modern.
e. Tafsir Al-Azhar, jilid I-XXX, dll4
a.

HAMKA dan Masyarakat Modern Indonesia


Setelah meninggalkan panggung politik, HAMKA kembali ke hidupnya semula;
menjadi mubaligh, pengarang dan pemimpin umum majalah Panji Masyarakat.
Dalam hidupnya, ia telah banyak berbuat dan menorehkan prestasi. Karena kiprah
dan jasa HAMKA yang besar, kaum intelektual Universitas Al-Azhar, Mesir tertarik
untuk memberikan gelar Doctor Honoris Causa dalam bidang keislaman pada tahun
1958. Gelar yang sama juga diperoleh dari Universitas Kebangsaan Malaysia dalam
bidang kesustraan.
HAMKA juga memperoleh gelar profesor karena aktiffitasnya dalam bidang
akademik. Melalui berbagai kegiatan dan karyanya, HAMKA termasuk ke dalam
aspek masyarakat yang mengalami proses modernisasi. Ulama seperti dirinya
merupakan produk interaksi antara kaum reformis Islam dan persoalan empiris sosial
politik Indonesia

b. Pemikiran Tasawuf HAMKA


Pemikiran-pemikiran tasawuf HAMKA banyak dituangkan dalam karyanya,
berikut pemikiran HAMKA yang berkenaan dengan tasawuf sebagai berikut.5
4

Dalam beberapa catatan mengenai biografi HAMKA disebutkan bahwa seluruh karyanya terdapat 72 judul. Jika
karyanya yang berjilid-jilid dihitung satu demi satu, akan berjumlah 110 buku. Lihat Mohammad Damami,
Tasawuf Positif dalam Pemikiran HAMKA, (Yogyakarta: Faajar Pustaka, 2000), hlm. 257-260.

Ibid, hlm. 242 - 244.

Tasawwuf pada hakikatnya adalah usaha yang bertujuan memperbaiki budi dan
membersihkan batin.
Artinya, tasawuf adalah alat untuk membentengi seseorang dari kemungkinan
terpelesetnya ke dalam lumpur keburukan dan kotoran batin. Dari segi struktur,
tasawuf yang ditawarkan HAMKA berbeda dengan tasawuf pada umumnya (tasawuf
modern).
Tasawuf yang ditawarkan adalah tasawuf modern atau tasawuf positif yang
didasarkan pada prinsip tauhid, bukan pencarian pengalaman mukasyafah. Jalannya
melalui sikap zuhud dan tidak perlu terus-menerus menjauhi kehidupan normal.
Penghayatannya berupa pengalaman takwa yang dinamis, bukan ingin bersatu
dengan Tuhan. Refleksinya berupa meningkatnya kepekaan sosial yang disebut
dengan karamah dalam hal sasio-religius, bukan karena ingin mendapat karamah
yang bersifat magis dan matefisis.6
Secara garis besar, konsep dasar tasawuf yang ditawarkan HAMKA adalah
tasawuf yang berorientasi ke depan yang meliputi prinsip tauhid untuk menjaga
hubungan transenden dengan Tuhan sekaligus merasa dekat dengan-Nya. Dalam
konteks tasawuf, selain kita melaksanakan perintah agama, kita juga dituntut untuk
mencari hikmahnya. Konsep dasar tasawuf modern milik HAMKA berlawanan
dengan konsep dasar tasawuf tradisional. Tasawuf modern jika dihadapkan dengan
peranan mengisi kekosongan makna (pencarian makna kemanusiaan) untuk zaman
modern ini, tampaknya relevan.
Hamka merinci beberapa hal sebagai berikut: Tasawuf menjadi negatif, bahkan
sangat negatif kalau tasawuf:
1.

Dilaksanakan dengan berbentuk kegiatan yang tidak digariskan oleh ajaran agama
Islam yang terumus dalam Al-Quran dan As-Sunnah.

2.

Dilaksanakan dalam wujud kegiatan yang dipangkalkan terhadap pandangan bahwa


dunia ini harus dibenci.

Tasawuf akan menjadi positif, bahkan sangat positif kalau tasawuf:


1. Dilaksanakan dalam bentuk kegiatan keagamaan yang searah dengan muatanmuatan peribadahan yang telah dirumuskan sendiri oleh Al-Quran dan
6

Samsul Munir Amin. Ilmu Tasawuf. (Jakarta: Teruna Grafica, 2012), hlm. 376

As-

Sunnah.
2.

Dilaksanakan dalam bentuk kegiatan yang berpangkal pada kepekaan sosial


yang tinggi dalam arti kegiatan yang dapat mendukung pemberdayaan umat Islam
agar kemiskinan ekonomi, ilmu pengetahuan, kebudayaan, politik dan mentalitas.
c.

1.

Konsep konsep Penting dalam Tasawuf Hamka

Konsep Hawa Nafsu.


Al Quran menyebutkan kata haw dalam berbagai bentuk mencapai jumlah 36 kali,
yang sebagian besarnya mengarah kepada perbuatan negatif. Beberapa contoh di
antaranya adalah;

a) Perbuatan orang zalim yang mengikuti hawa nafsunya (QS. Ar Rum: 29).
b) Perbuatan orang sesat mengikuti hawa nafsu (QS. Al Maidah: 77).
c) Perbuatan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Tuhan (QS. Al Anam: 150).
d) Perbuatan orang yang tidak berilmu (QS. Al Jatsiyah: 18).
2.

Konsep Ikhlas
Memaknakan tentang ikhlas, Hamka memulai dengan defnisi ikhlas itu sendiri. Ikhlas

menurut Hamka dari segi arti bahasa adalah; bersih, tidak ada campuran, ibarat emas
tulen, tidak ada campuran perak berapa persenpun. Dan pekerjaan yang bersih terhadap
sesuatu dinamakan al ikhls.
3.

Konsep Khauf
Menurut Hamka, Khauf merupakan rasa takut yang timbul karena adanya azab, siksa

dan kemurkaan dari Allah. Oleh sebab itu diri seseorang mesti meneliti keadaannya
dengan cara bermuhsabah dan bermurqabah, kemudian memberikan perhatian
kepadanya sehingga terlihat mana aib dan cacat diri, serta kekurangan-kekurangan yang
harus diperbaiki.
4.

Konsep Zuhud
Di dalam bukunya Tasawuf Modern Hamka tidak membicarakan tentang istilah zuhd

dalam bab khusus. Akan tetapi bila kita meneliti keseluruhan isi dari buku tersebut, akan
didapatkan gambaran yang cukup mengenai sikapnya tentang zuhd ini. Ilahi Dhahir
menyebutkan istlilah radikalisme untuk para sufi dalam hal taabudiyah sebagai
kebutuhan dan ciri para penganut faham tasawuf. Adapaun radikalisme yang dimaksud
adalah sikap hidup zuhd dalam menghadapi dunia dan kehiduapan. Mensikapi dunia ini

10

beserta isinya, maka Hamka sebagai sosok yang mendukung terhadap tasawuf (menurut
versinya) menjelaskan konsep tentang zuhd dengan sikap moderat.
5. Konsep Tawakkal
Sebagian dari para sufi yang tergelincir pemahamannya telah menyamakan keberadaan
zat antara mahluk dan khalik. Demikian sebagaimana tertera dalam penjelasan Ibnu
Taimiyah dalam kitabnya Iqtidhussirtol Mustaqm Mukholafati Ashbil Jahm. Bagi
mereka, di antara keduanya terdapat esensi yang sama yang tidak dapat diceraiberaikan
bila dengan ketajaman hatinya seseorang itu telah mencapai makrifat kepada al haq
(Allah). Oleh karena itulah, para sufi jenis ini melakukan sikap bergantung kepada apa
yang disebut dengan takdir dengan jalan yang salah.
Masyarakat Modern
Masyarakat modern berarti suatu himpunan orang yang hidup bersama di
suatu tempat dengan ikatan-ikatan aturan tertentu yang bersifat mutakhir. Deliar
Noer, menyebutkan ciri-ciri modern sebagai berikut : 1). Bersifat rasional, yakni
lebih mengutamakan pendapat akal pikiran, daripadapendapat emosi. 2). Berfikir
untuk masa depan yang lebih jauh, tidak hanya memikirkan masalah yang bersifat
sesaat, tetapi selalu dilihat dampak sosialnya secara lebih jauh. 3). Mengargai waktu,
yaitu selalu meihat bahwa waktu adalah sesuatu yang sangat berharga. 4) Bersikap
terbuka, yakni mau menerima saran, masukam, baik berupa kritik, gagasan dan
perbaikan dari manapun datangnya. 5). Berfikir objektif, yakni melihat segala
sesuatu daei sudut fungsi dan kegunaannyan bagi masyarakat.
Bukti Minat Masyarakat Modern Terhadap Tasawuf.
Persoalan besar yang muncul ditengah-tengah umat manusia sekarang ini adalah
krisis spiritualitas. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dominasi,
rasionalisme, empirisisme, dan positivisme ternyata membawa manusia kepada
kehidupan modern dimana sekuralisme menjadi mentalitas jaman dan karena itu
spiritualisme menjadi suatu tema bagi kehidupan modern. Sekalipun krisis
spiritualitas menjadi ciri peradapan modern dan modernitas itu telah memasuki dunia
islam, masyarakat islam tetap menyimpan potensi untuk mengindari krisis itu.

11

Sebabnya adalah sebagian besar dunia islam belum berada pada tahap perkembangan
kemajuan negara-negara barat. Hali ini bisa dilakukan dengan mempertahankan
dasar-dasar spiritualisme islam agar tetap terjaga kehidupan yang seimbang
(ummatan wasathan).
Dalam sejarah islam terdapat khazanah spiritualisme yang sangat berharga,
yakni sufisme. Perkembangan sufisme mencerminkan ragamnya pemahaman
terhadap konsep akhlak dalam kehidupan sosial dan ihsan dalam kehidupan spiritual.
Selama dua abad sejak kelahiran islam, tasawuf merupakan fenomena individual
yang spontan. Ia menjadi ciri dari mereka yang dikenal dengan sebutan zuhhad
(orang-orang zuhud), nussa (ahli ibadah), qurra (pembaca Quran), qushshash
(tukang kisah), dan bukka (penangis). Mereka menjauhkan diri dari hingar bingar
kemewahan dunia dan ketegangan politik dimasanya
Ada empat sebab yang menjadikan tarekat begitu menarik masyarakat Islam
sejak abad ke-6/12. Pertama, ialah faktor Al-Ghazali. Dalam suasana pertentangan
klaim jalan untuk mencapai kebenaran, ia telah mempelajari dengan cermat berbagai
aliran utama islam, dan pada akhirnya, setelah mengalami krisis intelektual, ia
menemukan tasawuf sebagai jalan yang paling valid untuk melihat kebenaran.
Kedua, Ialah jatuhnya imperium islam dan dengan demikian muncul persaan tidak
aman dikalangan masyarakat Islam. Ketiga, ialah keyakinan bahwa tasawuf mampu
mengantarkan manusia berkomunikasi langsung dengan Tuhan dan jaminan itu
diberikan oleh tarekat.
Relefansi Tasawuf Dalam kehidupan modern
Banyak cara yang diajukan para ahli untuk mengatasi masalah, salah satu cara
yang hampir disepakati para ahli adalah dengan cara mengembangkan kehidupan
yang berakhlak dan bertasawuf. Mengapa sufisme perlu dimasyarakatkan pada
mereka? Jawabnya terdapat tiga tujuan.
Pertama, turut serta terlibat dalam berbagai peran dalam menyelamatkan
kemanusiaan dari kondisi kebingungan akibat hilangya niali-nilai spiritual. Kedua,
memperkenalkan literatur atau pemahaman tentang aspek esoteris (batin) Islam, baik
trhadap masyarakat Islam yang mulai melupakannya maupun non Islam, khususnya

12

terhadap masyarakat barat. Ketiga, untuk memberikan penegasan kembali bahwa


sesungguhnya aspek estoteris Islam, yakni sufisme, adalah jantung ajaran Islam,
sehingga bila wilayah ini kering dan tidak berdenyut, maka keringlah aspek-aspek lai
ajaran islam. Dalam hal ini Nashr menegaskan tarikat atau jalan rohani yang
biasnya dikenal sebagai tasawuf atau sufisme adalah merupakan dimensi kedalaman
dan kerahasiaan dalam islam, sebagaimana syariat berakar pada Al-Quran dan AlSunnah.
Intisari ajaran tasawuf sebagaimana faham mistisisme dalam agama-agama lain,
adalah bertujuan memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan,
sehingga seseorang merasa dengan kesadarannya itu berada di hadirat-Nya. Orang
yang telah sampai pada tujuan tersebut diatas akan selamat dari jeratan duniawi.
Dengan demikian, seseorang yang tidak bisa melepaskan kaca mata ilmiahnya, lalu
beralih pada penglihatan mata hatinya, maka sulitlah baginya menangkap bayangbayang Tuhan, mengadakan dialog dengan-nya. Kemampuan berhubungan dengan
Tuhan ini dapat mengintregasikan seluruh ilmu pengetahuan yang nampak
berserakan itu. Karena melalui tasawuf ini seseorang disadarkan bahwa sumber
segala yang ada ini berasal dari Tuhan.
Dengan adanya bantuan dari tasawuf ini maka ilmu pengetahuan satu dan
lainnya tidak akan bertabrakan, karena ia berada dalam satu jalan dan satu tujuan.
Hubungan ilmu dengan ketuhanan yang diajarkan agama islan jelas sekali. Ilmu
mempercepat anda sampai ke tujuan, dan agama menentukan arah yang dituju.
Selanjutnya tasawuf melatih manusia agar memiliki ketajaman batin dan kehalusan
budi pekerti. Demikian pula tarikat yang terdapat dalam tasawuf akan membawa
manusia memiliki jiwa istiqamah, jiwa yang selalu diisi dengan nilai-nilai ketuhanan.
Selanjutnya ajaran tawakkal pada Tuhan, menyebabkan ia memiliki pegangan
yang kokoh, karena ia telah mewakilkan atau menggadaikan dirinya sepenuhnya
pada Tuhan. Selanjutnya sikap frustasi bahkan hilang ingatan alias gila dapat diatasi
dengan sikap ridla yang diajarkan dalam tasawuf, yaitu selau pasrah dan menerima
terhadap segala keputusan Tuhan. Sikap materialistik dan hedonistik yang merajalela
dalam kehidupan modern ini dapat memerapkan dengan konsep zuhud, yang pada

13

intinya sikap yang tidak mau diperbudak atau terperangkap oleh pengaruh duniawi
yang sementara itu.
Peranan Tasawuf Dalam Kehidupan Modern
Pada masa yang akan datang tampaknya perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi serta industrialisasi akan berlangsung terus dan sangat menentukan
peradapan umat manusia. Namun demikian masalah-masalah moral dan etika akan
ikut mempengaruhi pilihan strategi dalam mengembangkan peradapan dimasa depan.
Dengan demikian, kita hanya bisa memperkirakan beberapa kemungkinan corak
agama yang akan menjadi mental masyarakat dimasa mendatang.
Pertama, ialah kecenderungan bahwa islam akan semakin kuat. Disini ulama
tetap memegang peran penting dalam rangka menjaga kemurniaan agama dan karena
itu mereka memiliki otoritas untuk berbicara atas nama Islam yang sesuai dengan
ajaran Al-Quran dan sunnah.
Kedua, ialah kecenderungan bahwa islam akan berfungsi sebagai ajaran etika
akibat proses modernisasi dan sekularisasi yang secara perlahan- lahan hanya
memberikan peluang yang sangat kecil bagi penghayatan keagamaan.
Ketiga, ialah kecenderungan Islam dihayati dan diamalkan sebagai sesuatu yang
spiritual sebagai reaksi terhadap perubahan masyarakat yang sangat cepat akibat
kemajuan ilmu pengetahuan.
Spiritualisme baik dalam bentuk tasawuf, ihsan maupun akhlak menjadi
kebutuhan sepanjang hidup manusia dalam semua tahap perkembangan massyarakat.
Namun demikian, perlu diingat bahwa tasawuf tidak bisa dipisahkan dari kerangka
pengalaman agama, dan karena itu harus selalu berorientasi kepada Al-Quran dan
sunnah.

14

BAB III PENUTUP


KESIMPULAN
Tasawuf di era modern ini, ditempatkan sebagai cara pandang yang rasional
sesuai dengan nalar normatif dan nalar humanis-sosiologis.
Tasawuf atau sufisme diakui dalam sejarah telah berpengaruh besar atas
kehidupan moral dan spiritual Islam sepanjang ribuan tahun yang silam. Selama
kurun waktu itu tasawuf begitu lekat dengan dinamika kehidupan masyarakat luas,
bukan sebatas kelompok kecil yang eksklusif dan terisolasi dari dunia luar.
Maka kehadiran tasawuf di dunia modern ini sangat diperlukan, guna
membimbing manusia agar tetap merindukan Tuhannya, dan bisa juga untuk orangorang yang semula hidupnya glamour dan suka hura-hura menjadi orang yang asketis
(Zuhud pada dunia).

15

DAFTAR PUSTAKA
Anwar Rosihon.,Solihin. 2011. Ilmu Tasawuf. CV PUSTAKA SETIA : Bandung
Munir Amin Samsul. 2012. Ilmu Tasawuf. Teruna Grafica : Jakarta

16