Anda di halaman 1dari 41

makalah hadits maudhu'

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar belakang
Masalah hadits maudhu berawal dari pertentangan politik yang terjadi pada masa khalifah
Ali Bin Abi Thalib yang berujung pada pembuatan hadits-hadits palsu yang tujuannya adalah
untuk mengalahkan lawan dan mempengaruhi orang-orang tertentu. Akibat perpecahan politik
ini, hampir setiap golongan membuat hadits maudhu untuk memperkuat golongannya masingmasing.
Ulumul hadits merupakan suatu ilmu pengetahuan yang komplek dan sangat menarik untuk
diperbincangkan, salah satuanya adalah mengenai hadits maudhu yang menimbulkan kontrofersi
dalam keberadaannya. Suatu pihak menanggapnya dengan apa adanya, ada juga yang
menanggapinya dengan beberapa pertimbangan dan catatan, bahkan ada pihak yang menolaknya
secara langsung.
Kemudian kami sebagai Mahasiswa yang dituntut untuk mengkaji dan memahami polemik
problematika umat yang salah satunya ditimbulkan dari adanya hadits maudhu.
2. Rumusan masalah
1) Apa yang dimaksyud dengan hadits maudhu?
2) Mengapa muncul hadits maudhu?
3) Bagaimana realitas hadis maudhu?

BAB II
PEMBAHASAN
HADITS MAUDU (PALSU)
A. Pengertian hadits Maudu
Maudu berasal
seperti

dari

isim

maful

dari

menurut

bahasa

(meletakan atau minyimpan).[1]

Sedangkan menurut istilah hadits maudu adalah hadits yang dibuat-buatatau diciptakan atau
didustakan atas nama nabi[2]

Dan para ahli hadits mendifinisikan hadits maudu adalah:



















hadits yang disandarkan kepada Rasulullah SAW secara dibuat-buat dan dusta, padahal beliau
tidak mengatakan, memperbuat dan mengerjakan [3]


















hadits yang diciptakan dan dibuat oleh seorang (pendusta) yang ciptaan ini dinisbahkan
kepada Rasulullah secara paksa dan dusta, baik disengaja maupun tidak [4]
Dari pengertian diatas tersebut dapat disimpulkan bahwa hadits maudhu adalah segala
sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW, baik perbuatan, perkataan maupun
taqrirnya, secara rekaan atau dusta semata-mata. Dalam penggunaan masyarakat islam,hadits
maudhu disebut juga dengan Hadits palsu.[5]

B. Sejarah Munculnya Hadits Maudhu


Masuknya secara masal penganut agama lain kedalam islam, yang merupakan dari
keberhasilan dakwah islamiyah keseluruh pelosok dunia, secara tidak langsung menjadi faktor
munculnya hadits-hadits palsu. Kita tidak bisa menafikan bahwa masuknya mereka
keislam,disamping ada yang benar-benar ikhlas, ada juga segolongan mereka yang mennganut
agama islam hanya karena terpaksa tnduk pada kekuasaan islam pada waktu itu. Golomngan ini
kita kenal dengan kaum Munafik.[6]
Golongan tersebut senantiasa menyimpan dendam dan dengki terhadap islah dan senantiasa
menunggu peluang yang tepat untuk merusak dan menimbulkan keraguan dalam hati-hati orangorang islam. Maka datanglah waktu yang ditunggu-tunggu oleh mereka, yaitu pada masa
pemerintahan Utsman bin Affan. Golongan inilah yang mulai menaburkan benih-benih fitnah
yang pertama. salah seorang tokoh yang berperan dalam upaya menghancurkan Islam pada masa
Utsman bin Affan adalah Abdullah bin Saba, seorang yahudi yang menyatakan telah memeluk
islam.
Dengan bertopengkan pembelaan kepada saydina Ali dan Ahli Bait, ia menabur fitnah untuk
fitnah kepada orang ramai. Ia menyatakan bahwa Ali lebih berhak menjadi khalifah dari pada

Utsman, bahkan lebih berhak daripada Abu Bakar dan Umar. Halitu karena, menurut Abdullah
bin Saba, sesuai dengan wasiat dari Nabi Saw. Lalu, untuk mendukung propoganda tersebut, ia
membuat suatu haditds maudhu yang artinya setiap Nabi ada penerima wasiatnya dan
penerima mwasiatku dalahali.
Namun penyebaran hadits Maudhu pada masa ini belum begitu meluas karena masih
banyak sahabat utama yang masih hidup dan mengetahui dengan penuh yakin akan suatu
kepalsuan suatu hadits. Setelah zaman shahabat berlalu, penelitian terhadap hadits-hadits Nabi
SAW, mulai melemah. Ini menyebabkan bayaknya periwayatan dan penyebaran hadits secara
tidak langsung telah menyebabkan terjadunya pendustaan terhadap Rasulullah dan sebagian
shahabat. Ditambah lagi dengan adanya konflik politik antara umat Islam yang semakin hebat,
telah membuka peluang kepada golongan tertentu yang memcoba bersengkongkol dengan
penguasa untuk memalsukan hadits.

C. Faktor-faktor penyebab munculnya Hadits maudhu


Terdapat beberapa faktor tentang penyebab hadits maudhu ini muncul, antara lain sebagai
berikut:
1. Pertentangan politik dalamm soal pemilihan khalifah
Kejadian ini timbul sesudah terbunuhnya

Khalifah Utsman bin Affan oleh para

pemberontak. Pada masa itu Umat Islam terpecah-belah menjadi beberapa golongan. Diantara
golongan-golongan tersebut, untuk mendukung golongannya masing-masing, mereka membuat
hadits palsu, yang pertama yang paling banyak membuat hadits Maudhu adalah golongan Syiah
dan Rafidhah.[7]
Diantara hadits-hadits yang dibuat golongan syiah adalah:






Barang siapa tyang ingin melihat Adam tentang ketinggian ilmunya, ingin melihat Nuh
tentang ketakwaannya, ingin melihat Ibrahim tentang kebaikan hatinya, ingin melihat Musa
tentang kehebatannya, ingin melihat isa tentang ibadahnya, hendaklah melihat Ali.

Apabila kamu melihat Muawiyyah atas mimbarku, bunuhlah dia.

Gerakan-gerakan orang syiah tersebut diimbangi oleh golongan jumhur yang bodoh dan
tidak tahu akibat dari pemalsuan hadits tersebut dengan membuat-buat hadits-hadits palsu.
Contoh hadits palsu







,
,

,

.

Tak ada satu pohon pun daklam syurga, melainkan tertulis pada tiap-tiap dahannya: la ilaha
illallah, Muhammadur Rasulullah, Abu bakar Ash-Shiddieq, Umar Al-faruq, dan Utsman
Dzunnuraini.
Golongan yang fanatik kepada Muawiyyah membuat pula hadits palsu yang menertangkan
keutamaan Muawiyyah, diantaranya:

Orang yang terpercaya itu ada tiga, yaitu Aku, Jibril Dan Muawwiyah.
2. Adanya Kesengajaan dari pihak lain untuk merusak Ajaran Islam
Golongan ini adalah dari golongan Zindiq, Yahudi, Majusi, dan Nasrani yang senantiasa
menyimpan dendam terhadap agama Islam. Mereka tidak mampu untuk melawan kekuatan
Islam secara terbuka maka mereka mengambil jalan yang buruk ini. Mereka menciptakan
sejumlah

besar

hadits

Maudhu dengan

tujuan

merusak

ajaran

Islam.[8]

Sejarah

mencatatAbdullah Bin Saba adalah seorang Yahudi yang berpura-pura memeluk Agama Islam.
Oleh sebab itu, dia berani menciptakan hadits Maudhu pada saat masih banyak sahabat utama
masih hidup. Diantara hadits Maudhu yang diciptakan oleh orang-orang zindiq tersebut, adalah:











,


Tuhan kami turunkan dari langit pada sore hari, di Arafah dengan bekendaraan Unta kelabu,
sambil berjabatan tangan dengan orang-orang yang berkendaraan dan memeluk orang-orang
yang sedang berjalan.[9]







Melihat (memandang) muka yang indah adalah ibadah.
Tokoh-tokoh terkenal yang membuat hadits Maudhu dari kalangan Zindiq, adalah:

a)

Abdul Karim bin Abi Al-Auja, telah membuat sekitar 4.000 hadits Maudhu tentang hukum
halal-haram.

b) Muhammad bin Said Al-Mashubi, yang akhirnya dibunuh oleh Abu Jafar Al-Mansur
c) Bayan bin Saman Al-Mahdi, yang akhirnya dihukum mati oleh Khalid bin Abdillah.[10]
3. Mempertahankan Mahzab dalam masalah Fiqh dan masalah Kalam
Mereka yang fanati terhadap Madzhab Abu Hanifah yang menganggaptidak sah shalat
mengagkut kedua tangan shalat, membuat hadits Maudhusebagai berikut.




Barang siapa mengagkat kedua tangannya didalam shalat, tidak sah shalatnya.
4. Membangkitkan gairah beribadah untuk Mendekatkan diri kepada Allah
Mereka membuat hadits-hadits palsu dengan tujuan menarik orang untuk lebih mendekatkan
diri kepada Allah. Melalui amalan-amalan yang mereka ciptakan. Seperti hadits-hadits yang
dibuat oleh Nuh ibn Maryam, seorang tokoh hadits maudhu,tentang keutamaan Al-Quran.
Ketika ditanya alasannya melakukan hal seperti itu, ia menjawab: Saya dapati manusia telah
berpaling dari membaca Al-Quran maka saya membuat hadits-hadits ini untuk menarik minat
umat kembali kepada Al-quran.[11]
5. Menjilat Para Penguasa untuk Mencari Kedudukan atau Hadiah.
Seperti kisah Ghiyats bin Ibrahim An-Nakhai yang datang kepada Amirul mukminin AlMahdi, yang sedang bermain merpati. Lalu iya mentyebut hadits dengan sanadnya secara
berturut-turut sampai kepada nabi Saw., bahwasanya beliau bersabda:

Tidak ada perlombaan, kecuali dalam anak panah, ketangkasan, menunggang kuda, atau
burung yang bersayap.
Ia menambahkan kata, atau burung yang bersayap, untuk meyenagkanAl-Mahdi, lalu AlMahdi memberinya sepuluh dinar. Setelah ia berpaling, sang Amir berkata, Aku bersaksi bahwa
tengkukmu adalah tengkuk pendusta atas nama Rasulullah SAW. Lalu memerintahkanuntuk
menyembelih mengerti itu.[12]

D. Ciri-ciri Hadits Maudhu

1. Ciri-ciri yang terdapat pada Sanad


a) Rawi tersebut terkenal berdusta (seorang pendusta) dan tidak ada seorang rawi yang terpercaya
yang meriwayatkan hadits dari dia[13]
b)

Pengakuan dari sipembuat sendiri, seperti pengakuan seorang guru tasawwuf, ketika ditanya
oleh ibnu ismail tentang keutamaan ayat Al-Quran, maka dijawab: tidak seorang pun yang
meriwayatkan hadits ini kepadaku. Akan tetapi, kami melihat manusia membenci Al-quran,
kami ciptakan untuk mereka hadits ini (tentang keutamaan ayat-ayat Al-Quran), agar mereka
menaruh perhatian untuk mencintai Al-Quran.[14]

c)

Kenyataan sejarah, mereka tidak mungkin bertemu, misalnya ada pengakuan seorang rawi
bahwa ia menerima hadits dari seorang guru, padahal ia tidak pernah bertemu dengan guru
tersebut, atau ia lahir sesudah guru tersebut meninggal, misalnya ketika Mamun ibn Ahmad AsSarawi mengaku bahwa ia menerima Hadits dari Hisyam ibn Amr kepada Ibnu Hibban maka
Ibnu Hibban bertanya, kapan engkau pergi keSyam? Mamun menjawab, pada tahun 250 H.
Mendengar itu Ibnu Hibban berkata, Hisyam meninggal dunia pada tahun 245 H.

d) Keadaan rawi dan faktor-faktor yang mendorongnya membuat hadits maudhu. Misalnya seperti
yang dilakukan oleh Giyats bin Ibrahim, kala ia berkunjung kerumah Al- Mahdi yang sedang
bermain dengan burung merpati yang berkata:

Tidak sah perlombaan itu, selain mengadu anak panah, mengadu unta, mengadu kuda, atau
mengadu burung
Ia menambahkan kata, au janahin (atau mengadu burung), untuk menyenagkan Al-Mahdi, lalu
Al-Mahdi memberinya sepuluh ribu dirham. Setelah ia berpaling, sang Amir berkata: aku
bersaksi bahwa tengkukmu adalah tengkuk pendusta, atas Nama Rasulullah SAW, lalu ia
memerintahkan tentang kemaudhuan suatu Hadits.[15]
2. Ciri-ciri yang terdapat pada Matan
a)

Keburukan susunan lafadznya. Ciri ini akan diketahui setelah kita mendalami ilmu bayan.
Dengan mendalami ilmu bayan ini, kita akan merasakan susunan kata, mana yang keluar dari
mulut Rasulullah SAW, dan mana yang tidak mungkin keluar dari mulut Rasulullah SAW.

b) Kerusakan maknanya.
1) Karena berlawanan dengan akal sehat, seperti Hadits:
















Sesungguhnya bahtera Nuh bertawaf tujuh kali keliling kabah dan bersembahyang dimaqam
Ibrahim dua rakaat.
2)

Karena berlawanan dengan hukum akhlak yang umum, atau menyalahi kenyataan, seperti
Hadits:

Tiada dilahirkan seorang anak sesudah tahun seratus, yang ada padanya keperluan bagi Allah.
3) Karena bertentangan dengan ilmu kedokteran, seperti hadits:

Buah terong itu penawar bagi penyakit.


4)

Karena menyalahi undang-undang (ketentuan-ketentuan) yang ditetapkan akal kepada Allah.


Akal menetapkan bahwa Allah suci dari serupa dengan makhluqnya. Oleh karena itu, kita
menghukumi palsu hadits berikut ini:

Sesungguhnya Allah menjadikan kuda betina, lalu ia memacukannya, maka berpeluhlah kuda
itu, lalu tuhan menjadikan dirinya dari kuda itu.
5)

Karena menyalahi hukum-hukum Allah dalam menciptakan alam, seperti hadits yang
menerangkan bahwa Auj ibnu Unuq mempunyai panjang tigab ratus hasta. Ketika Nuh
menakutinya dengan air bah, ia berkata: ketika topan terjadi, air hanya sampai ketumitnya saja.
Kalu mau makan, ia memasukan tangannya kedalam laut, lalu membakar ikan yang diambilnya
kepanas matahari yang tidak seberapa jauh dari ujung tangannya.

6) Karena mengandung dongeng-dongeng yang tidak masuk akal sama sekali, seperti hadits:

Ayam putih kekasihku dan kekasih dari kekasihku jibril.


7)

Bertentangan dengan keterangan Al-Quran, Hadits mutawatir, dan kaidah-kaidah kulliyah.


Seperti Hadits:

Anak zina itu tidak dpat masuk syurga sampai tujuh turunan.

Makna hadits diatas bertentangan dengan kandungan Q. S. Al-Anam : 164, yaitu:

Dan seorang yang berdosa tidak akanmemikul dosa orang lain.


Ayat diatas menjelaskan bahwa dosa seseorang tidak dapat dibebankan kepada orng lain.
Seorang anak sekali pun tidak dapat dibebani dosa orang tuanya.
8)

Menerangkan suatu pahala yang sangat besar terhadap perbuatan-perbuatan yang sangat kecil,
atau siksa yang sangat besar terhadap perbuatan yang kecil. Contohnya:

Barangsiapa mengucapkan tahlil (la ilaha illallh) maka Allah menciptakan dari kalimat itu
seekor burung yang mempunyai 70.000 lisan, dan setiap lisan yang mempunyai 70.000 bahasa
yang dapat memintakan ampun kepadanya.

E. Hukum membuat dan meriwayatkan hadits maudhu


Umat Islam telah sepakat bahwa hukum membuat dan meriwayatkan hadits maudhu dengan
sengaja adalah haram secara mutkaq, bagi mereka yang sudah mengetahui hadits itu palsu.
Adapun bagi mereka yang meriwayatkan dengan tujuan memberi tahu kepada orang bahwa
hadits ini adalah palsu (menerangkan sesudah meriwayatkan atau membacanya), tidak ada dosa
atasnya.
Mereka yang tidak tahu sama sekali kemudian meriwayatkannya atau mereka mengamalkan
makna hadits tersebut karena tidak tahu, tidak ada dosa atasnya. Akan tetapi, sesudah
mendapatkan penjelasan bahwa riwayat atau hadits yang dia ceritakan atau amalkan itu adalah
hadits palsu, hendaklah segera dia tinggalkannya, kalau tetap dia amalkan, sedangkan dari jalan
atau sanad lain tidak ada sama sekali, hukumnya tidak boleh.

F. Kitab-kitab yang memuat hadits maudhu


Para ulama muhaditsin, dengan menggunakan berbagai kaidah studi kritis hadits, berhasil
mengumpulkan hadits-hadits maudhu dalam sejumlah karya yang cukup banyak, di antaranya;
1. Al-Maudhu Al-Kubra, karya Ibn Al-jauzi (ulama yang paling awal menulis dalam ilmu ini).
2. Al-Laali Al-Mashnuah fi Al-Ahadits Al-Maudhuah, karya As-Suyuti (Ringkasan Ibnu Al-jauzi
dengan beberapa tambahan).

3. Tanzihu Asy-Syariah Al-marfuah an Al-Ahadits Asy-Syaniah Al-Maudhuah, karya Ibnu Iraq


Al-kittani (ringkasan kedua kitab tersebut).
4. Silsilah Al-Ahadits Adh-Dhaifak, karya Al-albani

G. Cara mengetahui hadits maudhu


a) Adanya pengakuan dari pembuatannya
b) Maknanya rusak, dalam arti bertentangan dengan alquran, hadits mutawatir dan hadits shahih
c) Matannya menyebutkan janji yang besar untuk perbuatan kecil.
d) Rawinya pendusta.[16]

BABIII
PENUTUP
KESIMPULAN
Pengertian hadits maudhu mempunyai bermacam-macam pendapat, walaupun demikian
dapat ditarik kesimpulah bahwa hadits maudhu adalah hadis palsu yang dibuat oleh seseorang

dan disandarkan kepada nabi Muhammad saw. Adapun latar belakangnya hadits maudhu tersebut
hakikatnya adalah pembelaan atau pembencian terhadap suatu golongan tertentu.
Hadits maudhu dapat diidentifikasi keberadaannya dengan mengetahuinya berdasarkan
metode-metode tertentu, misalnya mengetahui ciri-ciri yang terdapat pada sanad dan matannya.
Menyikapi terhadap adanya hadits maudhu sangat beragam, ada sekelompok orang yang
menyikapinya dengan menerima tanpa pertimbangan tertentu, ada pula yang menerimanya
dengan berbagai catatan tertentu, bahkan ada pula yang tidak menerimanya sama sekali.

DAFTAR PUSTAKA
Abdul Fatah Abu Ghuddah, lamhat Min Tarikh As-Sunnah wa Ulum Al-Hadits
Fathur Rahman, Ikhtisar Musthalahahul Hadits, Bandung: Al-Maarif, 1974
Drs. Munzier suprapto. M. A, dan Drs. Utang Ranuwijaya, Ilmu Hadits, raja grapindo persada,
Jakarta, 1993
Drs. M. Agus Solahudin, M. Ag, dan Agus Suyadi, Lc. M. Ag, Ulumul Hadits, Bandung: Pustaka
Setia, 2009
Khusniati Rofiah, studi ilmu Hadits, stain po prees, bandung, 2010
Mahmud abu rayah, adlwa ala sunnah al muhammadiyah, Dar al-Maarif, Mekah, 1997
Mahmud At-Tahhan, Tafsir Musthalah Al-Hadits, Beirut: Dar Al-Quran Al-Karim, 1979
M. Ajjaj Al-Khatib. Ushul Al-Hadits. Terj. H. M. Qodirun dan Ahmad Musyafiq, Jakarta: Gaya
Media Pratama. 1997
M. Hasbi Ash-Shiddiqy. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, jakarta: Bulan Bintang, 1987
Subhi as-Salih, ulum al-hadits wa Mustalahahuh, Dar al-ilm al-malayin, 1997

Drs. Munzier suprapto. M. A, dan Drs. Utang Ranuwijaya, Ilmu Hadits, raja grapindo
persada, Jakarta, 1993, h, 191
[2] Mahmud abu rayah, adlwa ala sunnah al muhammadiyah, Dar al-Maarif, Mekah, h 199
[3] Subhi as-Salih, ulum al-hadits wa Mustalahahuh, Dar al-ilm al-malayin, 1997, h, 263
[4] Mahmud abu rayah,Op cit, h 119
[5] M. Ajjaj Al-Khatib. Ushul Al-Hadits. Terj. H. M. Qodirun dan Ahmad Musyafiq, Jakarta:
Gaya Media Pratama. Hlm, 352.
[6] Abdul Fatah Abu Ghuddah, lamhat Min Tarikh As-Sunnah wa Ulum Al-Hadits, hlm 41
[7] M. Hasbi Ash-Shiddiqy. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, jakarta: Bulan Bintang, 1987.
Hlm 246.
[8] Mahmud At-Tahhan, Tafsir Musthalah Al-Hadits, Beirut: Dar Al-Quran Al-Karim, 1979,
hlm 91
[9] Fathur Rahman, Ikhtisar Musthalahahul Hadits, Bandung: Al-Maarif, 1974, hlm 177.
[10] Fathur Rahman. Op. Cit. Hlm179
[11] Ash-Shiddiqy. Op. Cit.hlm. 254.
[12] Al-qaththan. Op. Cit. Hlm. 149.
[13] Ash-Shiddieqy. Op. Cit. Hlm 237
[14] Drs. M. Agus Solahudin, M. Ag, dan Agus Suyadi, Lc. M. Ag, Ulumul Hadits, Bandung:
Pustaka Setia, 2009, hlm. 182.
[15] Rahman. Op. Cit. Hlm. 170.
[16] Khusniati Rofiah, studi ilmu Hadits, stain po prees, bandung, 2010
[1]

Makalah Hadist Maudhu


BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah

Faktor yang paling mendasar dari penyebab pentingnya penelitian terhadap riwayat adalah
timulnya pemalsuan hadits dan banyaknya bermunculan hadits-hadits palsu. Kemunculan
riwayat hadits palsu yang tersebar di masyarakat, menyulitkan masyarakat Islam yang ingin
mengetahui riwayat yang dipertanggungjawabkan.
Hadits-hadits maudhu yang beredar di masyarakat hampir menjadi tradisi, anutan dan pedoman
beragama, bahkan dianggap sebagai hadits yang berasal dari Nabi. Kondisi demikian dapat
mengacaukan, oleh karena itu penelitian terhadap hadits-hadits maudhu sebagai upaya untuk
meluruskan pemahaman masyarakat merupakan suatu misi yang sangat penting untuk dilakukan.
2. Rumusan Masalah

Dalam makalah ini, kami akan mencoba membahas beberapa poin tentang hadits maudhu, yaitu:
1. Pengertian Hadits Maudhu
2. Latar Belakang Munculnya Hadits Maudhu
3. Status Hadits Maudhu
4. Metode Periwayatan Hadits Maudhu
5. Bagaimana kaidah-kaidah untuk Mengetahui Hadits Maudhu
6. Usaha-usaha untuk Menyelamatkan Hadits

BAB II PEMBAHASAN
1. Pengertian Hadits Maudhu

Secara bahasa, kata maudhu merupakan isim maful dari yaitu


yang
mempunyai arti al-isqath (meletakkan atau menyimpan); al-iftira wa al-ikhtilaq (mengada-ada
atau membuat-buat); dan al-tarku (ditinggal).
Rumusan pengertian secara istilah hadits maudhu adalah sebagai berikut:

Artinya:

Hadits yang disandarkan kepada Rasulullah SAW secar dibuat-buat dan dusta, padahal beliau
tidak mengatakan, berbuat ataupun menetapkannya.[1]
Jadi hadits maudhu adalah bukan hadits yang bersumber dari Rasulullah atau dengan kata lain
bukan hadits Rasul, tetapi perkataan atau perbuatan seseorang atau pihak-pihak tertentu dengan
suatu alasan yang kemudian dinisbatkan kepada Rasul.
Pada mulanya para ulama berbeda pendapat tentang benar tidaknya terjadi pemalsuan hadits jika
dilihat dari periwayatannya. Dalam hal ini ada tiga pendapat di kalangan para Muhadditsin.
Pendapat pertama, dianut oleh Ahmad Amin dan Hasyim Maruf Asy-SyiI yang menyatakan
bahwa pemalsuan hadits dan munculnya riwayat hadits maudhu mulai terjadi pada periode Nabi
Muhammad SAW, didasarkan pada hadits Nabi yang mengecam keras terhadap setiap orang
yang berusaha melakukan pendustaan diri Nabi, berupa berita atau pembuatan hadits.
Sebagaiman sabda Nabi:

Artinya:
Barangsiapa berdusta terhadap diriku secara sengaja, dia pasti akan disediakan tempat
kembalinya di neraka.
Pendapat kedua, dingkapkan oleh Akram Al-Umari yang menyatakan bahwa gerakan pemalsuan
hadits mulai terjadi sejak paruh kedua kekhalifahan Utsman Ibn Affan. Pada masa itu timbul
pertentangan dan perpecahan di kalangan umat Islam. Pendapat ini dikuatkan oleh beberapa
riwayat palsu yang beredar dan berawsal dari kalangan sahabat, salah satunya riwayat Ibn Addis
dari Rasulullah SAW:
(sandal Utsman lebih sesat daripada Ubaidah). Dengan riwayat tersebut bisa diduga bahwa Ibn
Addis adalah orangn yang pertama melakukan pemalsuan hadits.
Pendapat ketiga, dikemukakan oleh Abu Syuhbah dan Abu Zahu, yang mengambil dasar
pendapatnya dari masa terjadinya penyusupan musuh-musuh Islam ketika terjadinya masa alfitnah (kekacauan) pada masa kepemimpinan Utsman.[2]
2. Latar Belakang Munculnya Hadits Maudhu

Pemalsuan hadits tidak hanya dilakukan oleh orang-orang Islam, tetapi juga dilakukan oleh
orang-orang non Islam. Hal ini didorong oleh beberapa motif, antara lain:[3]
1. Pertentangan Politik

Perpecahan umat Islam yang terjadi pada masa kekhalifahan ali bin Abi Thalib besar sekali
pengaruhnya terhadap kemunculan hadits-hadits palsu. Masing-masing kelompok berusaha
mencari dalilnya ke dalam Alquran dan sunnah untuk mengunggulkan kelompoknya. Menurut
Ibn Abi Al-Haddad dalam Syarah Nahj Al-Balaghah, bahwa pihak yang pertama membuat hadits
adalah dari golongan Syiah, dan ahlu Al-Sunnah menandinginya dengan hadits lain yang juga
maudhu. Contoh hadits palsu yang dibuat oleh golongan Syiah:
Artinya:
Wahai Ali sesungguhnya Allah SWT telah mengampunimu, keturunanmu, kedua orang tuamu,
keluargamu, (golongan) Syiahmu, dan orang yang mencintai (golongan) Syiahmu.
Sedangkan golongan Khawarij menurut data sejarah tidak pernah membuat hadits palsu.
1. Usaha Kaum Zindik

Kaum Zindik termasuk kaum yang membenci Islam. Mereka tidak mungkin melakukan
konfrontasi dan pemalsuan terhadap Alquran, maka cara yang digunakan adalah melalui
pemalsuan hadits, dengan tujuan menghancurkan agama dari dalam.
Abdul Karim Ibn Auja yang dihukum oleh Muhammad bin Sulaiman bin Ali, mengaku telah
memalsukan hadits sebanyak 4.000 hadits. Contoh hadits golongan Zindik antara lain:
Melihat wajah cantik termasuk ibadah.
1. Fanatik terhadap Suku, Bahasa, Bangsa, Negeri dan Pimpinan

Mereka membuat hadits palsu karena didorong oleh sikap ego dan fanatik serta ingin
menonjolkan seseorang, bangsa, kelompok atau yang lain.
1. Mempengaruhi Kaum Awam dengan Kisah dan Nasihat

Pemalsuan hadits dilakukan untuk memperoleh simpatik dari pendengarnya dan agar mereka
kagum melihat kemampuannya. Hadits yang mereka katakana terlalu berlebih-lebihan dan tidak
masuk akal. Contohnya:
Barangsiapa yang mengucapkan kalimat
Allah akan menciptakan seekor burung
(sebagai balasan dari tiap-tiap kalimat) yang paruhnya terdiri dari emas dan bulunya dari
marjan.
1. Perselisihan Madzhab dan Ilmu Kalam

Munculnya hadits-hadits palsu dalam masalah fiqh dan ilmu kalam ini berasal dari para pengikut
madzhab. Mereka berani melakukan pemalsuan hadits karena didorong sifat fanatik dan ingin
menguatkan madzhabnya masing-masing. Diantara hadits palsu tentang masalah ini adalah:
1. Siapa yang mengangkat kedua tangannya dalam shalatnya tidak sah
2. Jibril menjadi Imamku dalam shalat Kabah, Ia (Jibril) membaca basmalah
dengan nyaring.
3. Yang junub wajib berkumur dan menghisap air tiga kali.
4. Membangkitkan Gairah Beribadat, tanpa Mengerti Apa yang Dilakukan.

Banyak ulama yang membuat hadits palsu dan mengira usahanya itu benar dan merupakan
upaya pendekatan diri kepada Allah, serta menjunjung tinggi agama-Nya. Nuh bin Abi Maryam
telah membuat hadits berkenaan dengan fadhillah membaca surat-surat tertentu dalam Alquran.
1. Menjilat Penguasa

Ghiyats bin Ibrahim merupakan tokoh yang banyak ditulis dalam kitab hadits sebagai pemalsu
hadits tentang perlombaan. Matan asli sabda Rasulullah berbunyi:
Kemudian Ghiyats menambah kata
dalam akhir hadits tersebut, dengan maksud agar diberi
hadiah atau simpatik dari khalifah Al-Mahdy. Setelah mendengar hadits tersebut, Al-Mahdy
memberikan hadiah 10.000 dirham, namun ketika berbalik hendak pergi, Al-Mahdy menegurnya,
seraya berkata aku yakin itu sebenarnya merupakan dusta atas nama Rasulullah. Saat itu juga
khalifah memerintahkan untuk menyembelih burung merpatinya.
3. Status Hadits Maudhu

Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan status hadits maudhu. Alasan yang
dikemukakan berkaitan erat dengan definisi dari hadits maudhu sebagai hadits yang
mengandung unsure yang dibuat-buat, dusta, dengan cara sengaja atau tidak sengaja. Dalam hal
ini ada dua pandangan, pertama, diwakili oleh Ibn Shalah dan diikuti Jumhur Muhadditsin,
berpendapat bahwa hadits maudhu merupakan bagian dari hadits dhaif, tetapi tingkatan
kedhaifannya berada pada tingkat yang paling rendah, paling parah, serta paling rusak nilainya.
Kelompok kedua, diwakili oleh Ibn Hajar Al-Asqalani, berbeda pendapat bahwa hadits maudhu
bukan termasuk hadits dhaif, bahkan bukan bagian dari hadits atau bukan hadits. Sebaliknya para
ulama lainnya tetap berpendirian bahwa hadits maudhu merupakan bagian dari hadits dhaif. Hal
ini berdasarkan pada realitas empirik bahwa kebanyakan para muhadditsin memasukkan hadits
maudhu dalam kitab hadits mereka.[4]

Menurut Al-Hakim (seorang ulama hadits akhir abad ke-4 yang mampu menembus kevakuman
ijtihad pada masanya) berpendapat bahwa hadits ia tidak pernah membenarkan hadits maudhu
sebagai hadits. Ia juga tidak pernah membenarkan bahwa hadits lemah bisa dijadikan sebagai
landasan aqidah dan muamalah. Secara metodologis, al-Hakim sudah mengantisipasi sejak
semula bahwa ada bagian-again tertentu yang diperbolehkan tasahul. [5]
4. Metode Periwayatan Hadits Maudhu

Ada dua metode dalam proses pembentukan atau pembuatan hadits maudhu yang dilakukan oleh
pembuatnya.[6]
1. Dibentuk dari ucapan rawi pembuatnya sendiri kemudian disandarkan
kepada Nabi Muhammad SAW, disertai dengan klaim bahwa
ucapannya itu adalah ucapan, perbuatan atau ketetapan Nabi.
2. Dibentuk dengan cara mengambil salah satu ungkapan yang berasal
dari sahabat, tabiin, para hakim, atau lainnya, kemudian disandarkan
pada Nabi SAW, dibuatkan sanadnya sampai nampak seperti berasal
dari Nabi Muhammad SAW. Sehingga menjadi musnad yang marfu.
5. Kaidah-kaidah Mengetahui Hadits Maudhu

Tidak mudah orang dapat membeda-bedakan hadits-hadits yang dipalsukan orang. Hanya oleh
ahli hadits yang luas pengetahuannya tentang Ilmu Hadits cukup muthalaahnya, tajam otaknya,
kuat pahamnya serta mempunyai malakah yang kuat.[7]Ada beberapa patokan yang bisa
dijadikan alat untuk mengidentifikasi bahwa hadits itu palsu atau shahih, di antaranya
a)

Dalam Sanad
1. Atas dasar pengakuan para pembuat hadits palsu, sebagaimana pengakuan
Abu Ishmah Nuh bin Abi Maryam yang telah membuat hadits tentang
fadhilah membaca Alquran.
2. Adanya qarinah (dalil) yang menunjukkan kebohongannya, seperti menurut
pengakuannya ia meriwayatkan dari seorang Syeikh, tapi ternyata ia belum
pernah bertemu secara langsung.
3. Meriwayatkan hadits sendirian, sementara diri rawi dikenal sebagai
pembohong. Ssementara itu tidak ditemukan dalam riwayat lain. Maka hal ini
ditetapkan sebagai hadits maudhu.

b)

Dalam Matan
1. Buruknya redaksi hadits. Dari redaksi yang jelek akan berpengaruh kepada
makna ataupun maksud dari hadits Nabi SAW, kecuali bila si perawi
menjelaskan bahwa hadits itu benar-benar datang dari Nabi.

2. Maknanya rusak, Ibnu Hajar menerangkan bahwa kejelasan lafadz ini
dititikberatkan pada kerusakan arti.
3. Matannya bertentangan dengan akal atau kenyataan, bertentangan dengan
Alquran atau hadits yang lebih kuat, atau ijma.
4. Matannya menyebutkan janji yang sangat besar atas perbuatan yang kecil
atau ancaman yang sangat besar atas perkara kecil.
5. Hadits yang bertentangan dengan kenyataan sejarah yang benar-benar
terjadi di masa Rasulullah SAW, dan jelas tampak kebohongannya.
6. hadits yang terlalu melebih-lebihkan salah satu sahabat. :[8]
6. Usaha-usaha Menyelamatkan hadits.

Para ulama hadits menyusun berbagai kaidah penelitian hadits untuk menyelamatkan hadits
Nabi SAW di tengah-tengah gencarnya pembuatan hadits palsu. Langkah-langkah yang ditempuh
adalah sebnagai berikut:
1)

meneliti system sandaran hadits.

2)

Memilih perawi-perawi hadits yang terpercaya.

3)

Studi kritik rawi, yang lebih dikonsentrasikan pada sifat kejujuran atau kebohongannya.

4)
Menyusun kaidah-kaidah umum untuk memilih hadits-hadits,yaitu dengan mengetahui
batasan-batasan hadits shahih, hasan dan dhaif.
Mulai saat itu perkembangan ilmu hadits melaju bagitu cepat demi menyelamatkan hadits-hadits
Rasul ini. Pada akhirnya, tujuan penyusunan kaidah-kaidah tersebut untuk mengetahui keadaan
matan hadits. Bersamaan dengan itu muncullah berbagai macam Ilmu hadits, khususnya yang
berkaitan dengan penelitian sanad hadits, antara lain ialah Ilmu Rijal Al-Hadits dan Ilmu Al-Jarh
wa Al-Tadil.
Dengan berbagai kaidah dan ilmu hadits itu, ulama telah berhasil menghimpun berbagai hadits
palsu dalam kitab-kitab khusus, seperti Al-Maudhu Al-Kubra, karangan Abu Al-Fari Abd AlRahman bin Al-Jauzi (508-597 H) dalam 4 jilid, dsb.
BAB III PENUTUP
KESIMPULAN

Hadits Maudhu adalah hadits yang bukan bersumber dari Nabi atau dengan kata lain bukan
hadits Rasul, tetapi perkataan atau perbuatan seseorang atau pihak-pihak tertentu dengan suatu
alasan yang kemudian dinisbatkan pada Rasul.
Apapun alasan membuat hadits palsu, merupakan perbuatan tercela dan menyesatkan karena
bertentangan dengan sabda Rasulullah Saw.
Dengan berbagai kaiddah dan ilmu hadits serta telah dibukukannya hadits mengakibatkan ruang
gerak para pembuat hadits palsu yang sangat sempit. Hadits-hadits yang berkembang di
masyarakat dan termaktub dalam kitab-kitab dapat diteliti dan diketahui kualitasnya.
Demikianlah makalah yang telah kami susun. Kritik dan saran selalu kami harapkan agar dapat
kami buat sebagai pijakan dalam makalah-makalah selanjutnya. Semoga makalah inidapat dapat
bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan kita.
DAFTAR PUSTAKA
Drs. Munzier Suparta, M.A, 2002,Ilmu Hadits, Jakarta, PT Grafindo Persada.
Dr. Mohamad Najib, 2001, Pergolakan Politik Umat Islam Dalam Kemunculan Hadits Maudhu,
Bandung, Pustaka Setia.
Dr. M. Abdurrahman, 1999,Pergeseran Pemikiran Hadits (Ijtihad Al-Hakim dalam Menentukan
Status Hadits Hadits), Jakarta, Paramadina.
A. Qadir Hassan, 1996,Ilmu Musthalah Hadits, Bandung, CV Diponegoro.

[1] Drs. Munzier Suparta, M.A, Ilmu Hadits, Jakarta, PT Grafindo Persada, 2002, hal. 176
[2] Dr. Mohamad Najib, Pergolakan Politik Umat Islam Dalam Kemunculan Hadits Maudhu,
Bandung, Pustaka Setia, 2001, hal. 49.
[3] Drs. Munzier Suparta, MA, op.cit., hal. 181-188
[4] Dr. Mohamad Najib, op.cit., hal. 47.
[5] Dr. M. Abdurrahman, Pergeseran Pemikiran Hadits (Ijtihad Al-Hakim dalam Menentukan
Status Hadits Hadits), Jakarta, Paramadina, 1999, hal. 234.
[6] Dr. Mohamad Najib, op.cit., hal.57.

[7] A. Qadir Hassan, Ilmu Musthalah Hadits, Bandung, CV Diponegoro, 1996, hal. 122.
[8] Drs. Munzier Suparta, op.cit., hal. 189- 191

HADITS MAUDHU (HADITS PALSU)


Januari 25, 2009 pada 12:50 pm Disimpan dalam Ilmu Hadits
Oleh: Dede KS, Mustafa Azmi, Haliman

A. Pengertian Hadits Maudhu

secara bahasa berarti , yaitu sesuatu yang baru, selain itu hadits
pun berarti , berita. Yaitu sesuatu yang diberitakan, diperbincangkan, dan
dipindahkan dari seseorang kepada orang yang lain. Sedangkan merupakan derivasi
dari kata yang secara bahasa berarti menyimpan, mengada-ngada
atau membuat-buat.
Adapun pengertian hadits maudhu (hadits palsu) secara istilah ialah:



Apa-apa yang disandarkan kepada Rasulullah secara dibuat-buat dan dusta, padahal beliau
tidak mengatakan dan memperbuatnya.
Dr. Mahmud Thahan didalam kitabnya mengatakan,

Apabila sebab keadaan cacatnya rowi dia berdusta terhadap Rasulullah, maka haditsnya
dinamakan maudhu. ( Taysiru Musthalahu Alhadits:89)
Dan pengertiannya secara istilah beliau mengatakan


Hadits yang dibuat oleh seorang pendusta yang dibangsakan kepada Rasulullah
( Taysiru Musthalahu Alhadits:89)

B. Sejarah Perkembangan Hadits Palsu


Para ahli berbeda pendapat dalam menentukan kapan mulai terjadinya pemalsuan
hadits. Diantara pendapat-pendapat yang ada sebagai berikut:

a. Menurut Ahmad Amin, bahwa hadits palsu terjadi sejak jaman Rasulullah Saw, beliau
beralasan dengan sebuah hadits yang matannya



. Menurutnya hadits tersebut menggambarkan kemungkinan pada zaman
Rasulullah Saw. telah terjadi pemalsuan hadits. Akan tetapi pendapat ini kurang
disetujui oleh H.Mudatsir didalam bukunya Ilmu Hadits, dengan alasan Ahmad Amin
tidak mempunyai alasan secara histories, selain itu pemalsuan hadits dijaman
Rasulullah Saw. tidak tercantum didalam kitab-kitab standar yang berkaitan dengan
Asbabul Wurud. Dan data menunjukan sepanjang masa Rasulullah Saw. tidak pernah
ada seorang sahabatpun yang sengaja berbuat dusta kepadanya.

b. Menurut jumhur muhadditsin, bahwa hadits telah mengalami pemalsuan sejak jaman
khalifah Ali bin Abi Thalib. Sebelum terjadi pertentangan antara Ali bin Abi Thalib
dengan Muawiyah bin Abu Sufyan, hadits masih bisa dikatakan selamat dari
pemalsuan.

C. Motif-motif yang mendorong pembuatan hadits maudhu


Ada banyak hal yang mendorong seseorang untuk membuat hadits palsu (maudhu),
yaitu diantaranya:

a. Mempertahankan ideologi partai (golongan)nya sendiri dan menyerang golongan


yang lain. Pertentangan politik kekhilafahan yang timbul sejak akhir kekhalifahan
Usman bin Affan dan awal kekhalifahan Ali bin Abi Thalib bisa dikatakan sebagai
sebab munculnya golongan-golongan yang saling menyerang dengan pembuatan
hadits-hadits palsu. Misal munculnya Syiah, kemudian Khawarij. Golongan Syiah yang
paling banyak menciptakan hadits palsu ialah Syiah Rafidhah. Kaum Syafii
mengatakan saya tidak melihat suatu kaum yang lebih berani berdusta selain kaum
Rafidhah.
Mereka membuat hadits-hadits palsu tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib dan Ahlul
Bait, bahkan mereka pun menciptakan hadits tentang keutamaan Fatimah. Misalkan
hadits yang mereka buat sebagai berikut:



Ketika Nabi diisrakan, Jibril datang memberikan buah Safarjalah dari surga.
Kemudian sayyidah Khodijah menghubungkan buah tersebut dengan Fatimah.
Karena itu apabila Rasulullah rindu akan bau-bauan surga, beliau lalu mencium
Fatimah
Kepalsuan hadits ini sangat jelas sekali, sebab Khodijah telah meninggal sebelum
peristiwa Isra. Disamping mereka membuat hadits-hadits palsu untuk memuji
golongan mereka sendiri, mereka pun membuat hadits-hadits untuk menyerang
golongan yang lain. Misalkan mereka membuat hadits untuk menjelek-jelekan
Muawiyah sebagai berikut:

Apabila kamu melihat Muawiyah berada diatas mimbarku, maka bunuhlah dia

a. Untuk merusak dan mengeruhkan agama Islam


Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Zindiq, mereka membenci melihat
kepesatan tersiarnya agama Islam dan kejayaan pemerintahannya. Mereka merasa
sakit hati melihat orang-orang berbondong-bondong masuk Islam. Dengan maksud
untuk merusak dan mengeruhkan agama Islam mereka membuat beribu-ribu hadits
palsu dalam bidang aqidah, akhlaq, pengobatan dan hokum tentang halal dan haram.
Diantara hadits palsu yang mereka ciptakan ialah:
Tuhan kami turun dari langit pada sore hari di Arafah, dengan berkendaraan unta
kelabu, sambil berjabatan tangan dengan orang-orang yang berkendaraan dan
memeluk orang-orang yang berjalan.

a. Fanatik kebangsaan, kesukuan, kedaerahan, kebahasaan, dan kultus terhadap Imam
mereka. Mereka yang taasub (fanatik) kepada bangsa dan bahasa parsi menciptakan
hadits maudhu sebagai berikut:

Sesungguhnya Allah apabila marah, maka Dia menurunkan wahyu dalam bahasa
Arab. Dan apabila reda maka Dia menurunkan wahyu dalam bahasa Parsi

Kemudian golongan yang tersinggung membalas dengan membuat hadits yang palsu
pula, Sesungguhnya Allah itu apabila marah menurunkan wahyu dalam bahasa Parsi
dan apabila reda maka menurunkan wahyu dalam bahasa Arab. Dan diantara contoh
hadits-hadits palsu yang bermotiv karena kultus terhadap imam diantaranya:

Nanti akan lahir seorang laki-laki pada umatku bernama Abu Hanifah an-Numan,
sebagai pelita umatku
Ada juga golongan Syafiiyah yang sempit pandangannya dan melibatkan diri untuk
membuat hadits palsu untuk melawan pengikut-pengikut Abu Hanifah:
Akan lahir seorang laki-laki pada umatku yang bernama Muhamad bin Idris, yang
paling menggetarkan umatku daripada iblis

a. Membuat kisah-kisah dan nasihat-nasihat untuk menarik minat para pendengarnya.

Kisah dan nasihat itu mereka nisbatkan kepada nabi, misalkan kisah-kisah yang
menggembirakan tentang surga:
Didalam surga itu terdapat bidadari-bidadari yang berbau harum semerbak, masa
tuanya berjuta-juta tahun dan Allah menempatkan mereka disuatu istana yang
terbuat dari mutiara putih. Pada istana itu terdapat tujuh puluh ribu papiliun yang
setiap papiliun terdapat tujuh puluh ribu kubah. Yang demikian itu tetap berjalan
selama tujuh puluh ribu tahun tanpa bergeser sedikitpun

a. Mempertahankan madzhab dalam masalah khilafiyah fiqhiyah dan kalamiyah.


Mereka yang menganggap tidak syah shalat dengan mengangkat tangan dikala
shalat, membuat hadits palsu:

Barangsiapa yang mengangkat kedua tangannya dalam shalat maka tidaklah sah
shalatnya

Dan masih banyak lagi motiv-motiv seseorang membuat hadits palsu, diantaranya
dengan motiv untuk mencari muka dihadapan penguasa, dank arena memang
kejahilan seseorang didalam ilmu agama.

D. Ciri-Ciri Hadits Maudhu

a. Dalam hal Sanad


1. Pengakuan dari sipembuat sendiri, seperti pengakuan salah seorang guru
tasawuf ketika ditanya oleh Ibnu Ismail tentang keutamaan ayat-ayat AlQuran, serentak ia menjawab: Tidak seorangpun yang meriwayatkan hadits
kepadaku. Akan tetapi serentak kami melihat manusia-manusia sama benci
terhadap Al-Quran, kami ciptakan hadits ini (tentang keutamaan ayat-ayat AlQuran) agar mereka menaruh perhatian untuk mencintai Al-Quran.

2. Qorinah-qorinah yang memperkuat adanya pengakuan membuat hadits palsu


(maudhu). Misalnya seorang rowi mengaku menerima hadits dari seorang
guru, padahal ia tidak pernah bertemu dengan guru tersebut. Atau menerima
dari seorang guru yang sudah meninggal dunia sebelum ia dilahirkan.

3. Hadits maudhu memang yang paling banyak tidak memiliki sanad.

b. Dalam hal matan


Ciri-ciri yang terdapat pada matan hadits palsu atau hadits maudhu, dapat
ditinjau da
ri segi makna dan segi lafadznya. Dari segi makananya, maka makna hadits itu
bertentangan dengan Al-Quran, hadits mutawatir, ijma dan akal sehat.
Adapun dari segi lafadznya yaitu susunan kalimatnya tidak baik dan tidak fasih.

E. Sumber-Sumber Yang Diriwayatkan


Para pembuat hadits maudhu, dalam menjalankan aksinya kadang-kadang
mengambil dari pikirannya sendiri. Dan kadang-kadang menukil perkataan sesorang yang
dianggap alim pada waktu itu, atau perkataan orang alim mutaqaddimin. Misalnya Hadits
maudhu yang dinukil dari perkataan seorang alim mutaqaddimin: Cinta keduniaan ialah
modal kesalahan. Hadits ini mereka (para pembuat hadits palsu) katakan bersumber dari
nabi, padahal ini merupakan perkataan Malik bin Dinar.

HADIS MAUDHU DAN PERMASALAHANNYA


BAB I
PENDAHULUAN
Suatu fakta yang lumrah. Bila manusia selalu mencoba memalsukan
sesuatu yang berharga, seperti permata, berlian atau segala hasil kerja seni,
dan lain-lain. Bagi orang Islam selain Al-Quran tidak ada yang lebih berharga
dibandingkan dengan sunnah Nabi. Oleh sebab itu, dari motivasi dan untuk
tujuan

berbeda,

berbagai

kelompok

dan

tingkatan

manusia,

telah

memalsukan hadis Nabi. Banyak di antara mereka kelompok ortodoks, dan


lainnya adalah mereka yang telah kehilangan tanah airnya dan masih buta
huruf. Namun mereka terkadang berniat baik terhadap orang muslim dengan
pemalsuan hadis tersebut. Hadis palsu yang disandarkan kepada Nabi dapat
dikelompokkan pada dua kategori yaitu pemalsuan yang disengaja. Itu
disebut hadis maudhu dan pemalsuan yang tidak disengaja.

Akibat yang ditimbulkan oleh kedua kondisi ini adalah sam yaitu
munculnya ungkapan palsu yang disandarkan kepada Nabi. 1[1] Hadis dhaif
merupakan hadis yang tidak memenuhi beberapa persyaratan hadis shahih
misalnya karena tidak bersambung sanadnya (adam al- ittishal) tidak adil
dan tidak dapat diandalkan kekuatan daya ingat atu hafln perawi daalm
seluruh sanadnya (adam adl wa dhabith ar-ruwah), atau karena adanya
keganjilan baik dalam sanad atau matan, dan atau karena adanya cacatcacat yang tersembunyi baik dalam sanad maupun dalam matan.2[2]
Berbagai

dampak

positif

yang

terkandung

dalam

pernyataan-

pernyataan hadis lemah dan hadis palsu tidak dapat menghilangkan dampak
negatifnya. Masyarakat yang tingkat pengetahuan dan pendidikannya makin
tinggi akan mempunyai kesan yang salah tentang sumber ajaran Islam itu
sendiri.

Berbagai

kritik

negative

yang

ditimbulkan

oleh

keyakinan

masyarakat, khususnya umat Islam, tentang ajaran Islam yang mereka


pahami dari petunjuk-petunjuk haids lemah dan palsu. Kalaulah dikaui bahwa
sebagian hadis lemah dan hadis palsu mengandung petunjuk-petunjuk
kebaikan, maka sesungguhnya apa yang dinyatakan sebagai kebaikan itu
masih perlu didiskusikan. Pernyataan ini diajukan karena sumber ajaran
Islam adalah wahyu Allah, baik yang bersifat matlu (yang dibaca, yakini alquran) maupun yang bersifat gair matlu (yang tidak dibca, yaitu hadis nabi)
Tolak ukur utama tentang ajaran Islam haruslah berangkat dari
petunjuk wahyu tersebut. Boleh jadi apa yang dikatakan baik oleh akal
sementara pihak, ternyata tidak baik menurut wahyu, walaupun pada
dasarnya antara akal dan wahyu tidak terdapat pertentangan.3[3]
1[1] M. Mustafa Azami. Metodologi kritik hadis, Bandung, pustaka Hidayah, 1996,
hal. 105
2[2] H. Abdul Majid khon, Ulumul Hadis, Jakarta, amzah, 2009, hal 168
3[3] H.M. Syuhudi Ismail, Hadits Nabi menurut Pembela, Pengingkar, dan
Pemalsunya, Jakarta, Gema Insane Press, 1995, hal 68-69

BAB II
KEDUDUKAN HADIS DHAIF DAN HADIS MAUDHU
A. Hadis dhaif
1. Pengertian
Dari segi bahasa dhif berarti lemah lawan dari al-qawi yang berarti
kuat. Hadis dhaif ialah hadis yang tidak memenuhi syarat-syarat bisa
diterima. Mayoritas ulama menyatakan hadis dhaif yaitu hadis yng tidak
memenuhi syarat-syarat shahih dan syarat-syarat hasan.4[4]
Ulama hadis yang tergolong Mutaakhirin, misalnya Ibn al Shalah (w.
643H=1245 M) dan Al-Nawwi (w. 676 H= 1277 M). membagi kulitas hadis
kepada tiga macam, yakni shahih, hasan dan dhaif. Dalam menerangkan
hadis para ulama mendahulukan pengertian hadis shahih dan hadis hasan,
kemudian barulah mnerangkan pengertian hadis dhaif. Hal tersebut dapat di
maklumi karena pengertian hadis dhaif menurut mereka adalah hadis yang
tidak memenuhi sebagian atau seluruh syarat-syarat hadis shahih dan hadis
hasan. Syarat-syarat hadis shahih dan hadis hasan hampir sama. Perbedaan
keduanya terletak pada tingkat ke-dhabith-an periwayat. Tingkat ke-dhabith4[4] Muhammad Ajaj Al-Khathib, Ushul Al-Hadits Pokok-Pokok Ilmu Hadits, Jakarta,
Dar al-Fikr, 1998, hal 304

an hadis shahih sempurna, sedang tingkat ke-dhabith-an hadis hasan agak


kurang sedikit lazim disebut khafif al dhabith maksudnya, kesetiaan hapalan
periwayat untuk hadis hasan tidak sesempurna kesetiaan hafalan periwayat
hadis shahih.
Adapun pengertian hadis shahih itu sendiri adalah hadis sanatnya
bersambung sampai kepada Nabi, diriwayatkan oleh orang-orang yng
bersifat adil dan dhabith, terhindar dari kejanggalan (syudyudz) dan cacat
(illat). Tiga butir syarat yang disebutkan pertama berkaiatan dengan sanad
(termasuk para periwayat), sedang dua butir berikutnya berkaiatan dengan
sanad dan matan hadis. Jadi keshahihan suatu hadis tidak hanya ditentukan
oleh sanadnya saja, tetapi juga ditentukan oleh matannya. Apabila bobot kedhaif-an sanad terlalu parah misalnya adanya sanad yang sering kacau
hapalannya, maka kualitas hadis yang bersangkutan dinyatakan kualitas
dhaif termasuk matannya. Ulama hadis berpendirian demikian karena
periwayat

yang

sering

kacau

hapalannya

sulit

dipercaya

apa

yang

diriwayatkannya. Kekacauan tentang apa yang diriwayatkannaya itu dapat


saja terjadi dalam sanad, matan, atau dalam sanad dan matan sekaligus.5[5]
Para muhadditsin mengemukakan sebab-sebab tertolaknya hadis dari
dua jurusan. Yakni dari jurusan sanad dan jurusan matan. Dari jurusan sanad
diperinci menajadi dua bagian:
Pertama: terwujudnya cacat-cacat pada rawinya, baik tentang
keadilannya maupun kehafalannya, seperti : dusta, tertuduh dusta, fasik,
banyak salah, lengah dalam menghafal, banyak waham, menyalahi orang
kepercayaan, tidak diketahui identitasnya, penganut bidah dan tidak baik
hafalannya.
Kedua: tidak bersambungnya sanad, dikarenakan adanya seorang
rawi atau lebih, yang digugurkan atau saling tidak bertemunya satu dengan
yang lainnya.

5[5] Op. cit hal 53-54

Sebab-sebab tertolaknya hadis karena sanad digugurkan (tidak


bersambung)
1. Kalau yang digugurkan itu sanad pertama
2. Kalau yang digugurkan itu sanad terakhir (sahabat)
3. Kalau yang digugurkan itu dua orang rawi atau lebih berturut-turut.6[6]
Dari jurusan matan, hadis dhaif yang disebabkan suatu sifat yang
terdapat pada matan ialah:
a.

Hadis maufuq ilah hadis yang disandarkan kepada sahabat, baik berupa
perkataan, perbuatan maupun ketetapan baik sanadnya bersambung atau
tidak, dengan syarat sunyi dari tanda-tanda marfu. Kalau tidak sunyi maka
hukumnya marfu. Seperti riwayat Bukhari : adalah Ibnu Umar dan Ibnu
Abbas keduanya berbuka puasa dan meringkas shalat pada perjalanan

b.

empat burad (12 mil)


Hadis maqthu ialah hadis yang disandarkan kepada tabiin dan orang-orang
yang datang sesudahnya, baik berupa perkataan, perbuatan maupu
ketetapan, baik sanadnya bersambung atau tidak, tetapi dengan syarat
sunyi

dari

tanda-tanda

marfu

dan

mauquf.

Contohnya

perkataan

tabiinberbuat demikian.7[7]
Contoh hadis dhaif


Arinya: Barang siapa menyamarakkan malam dua hari raya hanya semata-mata
mengharap ridha Allah, maka hatinya tidak akan mati di hari ketika manusia
mati.
Hadis ini sangat dhaif. Telah dikeluarkan oleh Ibnu Majah dengan sanad
dari buqayah bin al-walid, dari Tsur bin Yazid dari Khalid bin Madan, dari Abu
Umamlah r.a, sanad riwayat ini dhaif dikarenakan Buqayah dikenal sebagai

6[6] Fatchur Rahman, Ikhtisar Mushthalahul Hadis, Bandung, PT. Alma Arif, 1974, hal
167-168
7[7] Hafid Hasan al-Masudi, Ilmu Musthalah Hadis, Surabaya, Al Hikmah, hal 24-25

orang yang suka mencampur adukkan perawi, dengan demikian yang


dinyatakan al-Hafizh al-Iraqi dalam Tahrij al-Ihya-nya.8[8]
2. Hukum Periwayatan Hadis Dhaif
Ulama hadis mengingatkan agar orang yang meriwayatkan hadis dhaif
tanpa sanad tidak meriwayatkan dengan redaksi yang menunjukkan
kemantapan

penuh

diperkenankan

bahwa

ia

mengatakan:

merupakan

Rasulullah

hadis.

SAW.

Sehingga

Menyabdakan

ia

tidak
begini-

beginidan sejenisnya. Bahkan Ia harus meriwayatkan dengan redaksi yang


menujukkan keraguan akan keshahihannya misalnya; ruwiya (diriwayatkan)
jaa (datang), nuqila (di pindahkan), fima yurwa. (pada sesuatu yang
diriwayatkan) dan sejenisnya. Adapun meriwayatkan hadis-hadis dhaif
lengkap dengan sanadnya tidak di makruhkan menggunakan redaksi yng
menunjukkan kemantapan, bila diriwayatkan kepada ahli ilmu.

Bila

diriwayatkan kepada orang awam, maka menggunakan redaksi yang tidak


menunjukkan kemantapan penuh, sama seperti ketika meriwayatkan tanpa
sanad.9[9] Para ulama memperbolehkan meriwayatkan hadis dhaif sekalipun
tanpa menjelaskan kedhaifannya dengan dua syarat:
a.
b.

Tidak berkaitan dengan akidah seperti sifat-sifat Allah


Tidak menjelaskan hukum syara yang berkaitan dengan halal dan haram,
Tetapi berkaitan dengan masalahh mauizhah, targhib watarhib (hadis-hadis
tentang ancaman dan janji), kisah-kisah dan lain-lain.
Berbeda dengan meriwayatkan hadits shahih, harus menggunakan
kata

aktif

yang

meyakinkan

Rasulullah

SAW

bersabda..

makruh

meriwayatkan dengan menggunakan bentuk kata pasif seperti hadis dhaif.


Kecuali jika hadis dhaif diriwayatkan dengan menyebutkan sanad, sebaiknya
dengan menggunakan bentuk kata aktif dan meyakinkan ketika dikonsumsi

8[8] Muhammad Nashiruddin af-Albni, Sisilah hadis Dhaif dan Maudhu, Jakarta, Gem
Insani Press, 1997 hal 23-24
9[9] Op. cit, hal 316

oleh kalangan ahli ilmu dan untuk kalangan orang umum boleh dengan
menggunakan bentuk pasif tidak sebagaimana tanpa sanad.10[10]
3. Hukum pengamalan hadis dhaif
Para ulama berbeda pendapat

dalam pengamalan hadis

dhaif.

Perbedaan itu dapat dibagi menjadi tiga pendapat yaitu:


a. Hadis dhaif tidak bisa diamalkan secara mutlak baik mengenai fadhilah amal
maupun dalam hukum. Ini diceritakan oleh Ibnu Sayyid an-nas dari Yahya bin
Main dan pendapat inilah yang dipilih Abu Bakar Ibnu Al-Arabi, Al-Bukhari,
Muslim dan Ibnu Hazam
b. Hadis dhaif dapat diamalkan secara mutlak baik dalam fadhilah al-amal atau
dalam masalah hukum (ahkam). Pendapat Abu Daud dan Imam Ahmad.
Mereka berpendapat bahwa hadis dhaif lebih kuat dari pada pendapat
ulama.
c. Hadis dhaif dapat diamalkan dalam fadhail al-amal, mauizah, targhib (janijijanji yang menggemparkan) dan tarhib (ancaman yang menakutkan) jika
memenuhi beberapa persyaratan sebagaimana yang dipaparkan oleh Ibnu
Hajar al-Asqalani yaitu sebagai berikut:
1). Tidak terlalu dhaif, seperti diantara perawinya pendusta (hadis mawdhu) atu
dituduh dusta (hadis matruk), orang yang daya ingat hapalannya sangat
kurang dan berlaku fasik dan bidah baik dalam perkataan atau perbuatan
(hadis munkar)
2). Masuk kedalam kategori hadis yang diamalkan (mamul bih) seperti hadis
muhkan (hadis maqbul yang tidak terjadi pertentangan dengan hadis lain),
nasikh (hadis yang membatalkan hukum pada hdis sebelumnya) dan rajah
(hadis yang lebih unggul dibandingkan oposisinya)
3). Tidak diyakinkan secara unggul yakin kebenaran hadis dari nabi, tetapi
karena berhati-hati semata atau ikhtiyath.11[11]
Hadis-hadis dhaif banyak terdapat pada sebagian karya berikut ini:
a. Ketiga mu;jani at-thabari- al-kabir, al-awsat, as-shaghir
b. Kitab al-afrad, karya ad-daruquthni. Didalam hadis-hadis afrad terdapat
hadis-hadis al-fardu al-muthlaq dan al-frdu an-nisbi
10[10] Ulumul hadis, Op. cit. hal 164
11[11] Ibid. hal 165-166

c.
d.
B.
1.

Kumpulan karya al-khathib al-baghdadi


Kitab hilyatul auliya wa-thbaqtul ashfiyakary abu nuaim al-ashbahani. 12[12]
Hadis Maudhu
Pengertian
Mudhu menurut bahasa adalah sesuatu yang diletakkan. Sedangkan
diletakkan, dibiarkan, digugurkan, ditinggalkan, dan dibuat-buat. Sedangkan
menurut istilah maudhu adalah sesuatu yang disandarkan kepada rasul SAW
secara mengada-ada dan bohong dari apa yang tidak dikatakan beliau atau
tidk dilakukan atau tidak disetujuinya. Sebagian ulama mengartikan bahwa
hadis maudhu adalah hadis yang diada-ada kan, dibuat, dan didustakan
seseorang pada Rasulullah SAW. Jadi hadis mudhu adalah hadis bohong atau
hadis palsu, bukan dari Rasulullah tetapi dikatakan dari Rasulullah oleh
seseorang pembohong. Oleh karena itu, sebagian ulama ada yang tidak
memasukkannya bagian di hadis dhaif karena bukan hadis dalam arti yang
sebenarnya dan ada pula yang memasukkannya, karena walaupun dikatakan
hadis tetapi palsu dan bohong daalm arti palsu dan bohong ini meniadakan
makna hadis
Contoh hadis maudhu:

Artinya: Barang siapa melakukan iktikap pada sepuluh hari terakhir bulan
ramadhan, maka baginya pahala dua ibadah haji dan dua ibadah umrah.
Telah diriwayatkan oleh al-baihaqi dalam Asy-Syib dengan sanad dari
Husain bin Ali ra. Al-baihaqi berkata, sanad riwayat ini dhaif, sebab salah
seorang perawinya yang bernama Muhammad bin Zadan ditolak riwayatnya
oleh jumhur ahli hadis. Imam Bukhari juga menyatakan mengenai
Muhammad bin Zadan ini. Riwayat yng dibawanya tidaklah diterima dan
tidak ada yang mencatatnya. Selain itu perawi sanad yang lain, Anbsah bin
Abdur Rahman, dinyatakan oleh jumhur muhadditsin sebagai tukang
memalsukan hadis. Diantaranya Imam Bukhari sendiri menyatakan, tidak
ada satu pun ulama ahli hadis yang menerima riwayatnya. Mengenai
12[12] Syaikh Manna Al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu Hadis, Jakarta, Pustaka Al
kausar, 2004, hal 132

Anbasah Abu Hatim dengan tegas menyatakannya sebagai pemalsu riwayat.


Wallahu alam.13[13]
2. Hukum meriwayatkan hadis maudhu
Umat Islam telah sepakat bahwa meriwayatkan hadis mudhu adalah
hukumnya secara mutlak tidak ada perbedaan antara mereka. Menciptkan
hadis maudhu sama dengan mendustakan kepada Rasulullah. Karena
perkataan itu dari pencipta sendiri atau dari perkataan orang lain kemudian
diklaim Rasulullah yang menyabdakan berarti ia berdusta atas nama
Rasulullah. Orang yng demikian di ancam dengan api neraka, sebagaimana
sabda Rasulullah SAW yng artinya, batrang siapa yang mendustakanku
dengan sengaja, maka hendaklah siap-siaplah tempat tinggalnya didalam
neraka.14[14]
Jumhur ahli hadis juga berpendapat, bahwa berdusta termasuk dosa
besar. Semua ahli hadis menolak khabar pendusta. Bahkan Syeikh Abu
Muhammad al-juwainiy mengkafirkan pemalsu hadis. Semua hadis maudhu
bathil lagi tertolak dan tidak bisa dijadikan pegangan, karena merupakan
kedustan atas diri rasul SAW.
Disamping sepakat mengenai keharaman membuat hadis palsu, ulama
juga sepakat

mengenai keharaman meriwayatknnya, tanpa menjelaskan

kemaudhuannya

dan

kedustaannya.

Mereka

tidak

memperbolehkan

meriwayatkan sedikit pun hadis palsu, baik berkenaan dengan kisah, tarhib,
targthib, hukum-hukum ataupun tidak, berdasarkan sabda Rasulullah SAW


Artinya: Barang siapa yang meriwayatkan dariku sebuah hadis dan
terlihat bahwa hadis itu dusta, maka Ia juga termasuk satu diantara para
pendusta.
3. Tanda-tanda hadis maudhu
13[13] Silsilah Hadis Dhaif dan Maudhu, Op. Cit hal 21
14[14] Ibid. hal 207

Hadis maudhu dapat diketahui melalui tanda-tandanya baik yang ada


pada sanad maupun pada matan. Tanda-tanda maudhu pada sanad,
diantaranya sebagai berikut:
a.

Pengkuan dari ornag yang membuat sendiri


Sebagaimana pengakuan abdul Karim bin Abu Al-Auja ketika akan
dihukum mati ia mengatakan: demi Allah aku palsukan padamu 4000 buah
hadis. Di dalamnya aku haramkan yang halal dan aku halalkan yang haram.
Kemudian

dihukum

pancung

lehernya

atas

instruksi

Muhammad

bin

Sulaiman bin Ali gubernur Basrah (160-173 H). Maysarah bin Abdi Rabbih alFarisi mengaku banyak membuat hadis maudhu lebih dari 70 hadis.
Demikian Abu Ishmah bin Maryam yang bergelar Nuh Al-Jami mengaku
banyak membuat hadis maudhu yang disandarkan kepada abbas tentang
b.

keutamaan al-quran.
Adanya bukti (qarinah) mengenai pengakuan
Seperti seorang yang meriwayatkan hadis dengan ungkapan yang
mantap serta meyakinkan (jazam) dari seorang syeikh padahal dalam
sejarah ia tidak pernah bertemu atau dari seorang syeikh di suatu negeri
yang ia tidak pernah ke sana atau seorang syeikh yang telah wafat
sementara ia masih kecil atau belum lahir.
Mamun bin ahmad al-kharawi mengaku mendengar hadis dari Hisyam
bin Hammar. Al-hafizh bin Hibban bertanya: kapan anda datang ke syam?,
Mamun menjwab: pada tahun 250 H. Ibnu Hibban menjelaskan bahwa
Hisyam bin Amar meninggal pada tahun 245 H. sambut Mamun : Hisyam
bin Amar yang lain. Hal ini menunjukkan adanya pengakuan bahwa ia tidak

pernah bertemu dengan Hisyam bin Amar.


c. Adanya bukti pada perawi
Adanya indikasi pada perawi yang menujukkan akan kepalsuannya,
misalnya seorang perawi yang rafidhah dan hadisnya berisikan tentang
d.

keutamaan ahlul baith.


Kedustaan perawi
Seorang perawi yang dikenal dusta meriwayatkan suatu hadis sendirian
dan tidak ada seorang tsiqah yang meriwayatkannya.15[15]
15[15] Ibid hal 208-209

4. Tanda-tanda maudhu pada matan


a. Lemah susunan lafal dn maknanya
Dari segi maknanya, maka hadis itu bertentangan dengan al-quran,
hadis, dengan ijma dan logika yang sehat. 16[16] Secara logis tidak di
benarkan bahwa ungkapan itu datang dari Rasul. Banyak hadis-hadis
panjang yang lemah susunan bahasa dan maknanya. Seorang yang memiliki
ketajaman dalam memahami hadis dari Nabi atau bukan hadis maudhu ini
bukan bahasa Nabi yang mengandung sastra (fashahah), karena sangat
rusak susunanya, Ar-Rabi bin Khats yang berkata: sesungguhnya hadis itu
bercahaya seperti cahaya kami mengenalnya dan memilki kegelapan
bagaikan gelap malam kami menolaknya.
Hadis palsu jika diriwayatkan secara eksplisit bahwa ini lafal dari Nabi
dapat terdeteksi oleh pakar yang dalam bidangnya sehingga tercium bahwa
ini hadis yang sesungguhnya dan hadis palsu. Jika tidak dinyatakan secara
eksplisit,

menurut

Hajar

al-Asqalani,

hadis

itu

dikembalikan

kepada

maknanya yang rusak, karena bisa jadi ia beralasan Riwayah Abi Al-Mana
atau tidak bisa menyusunnya secara baik
b. Rusak maknanya
Maksud rusak maknanya karena bertentangan dengan rasio yang
sehat, menyalahi kaidah kesehatan, mendorong pelampiasan biologis seks
dan lain-lain dan tidak bisa ditakwilkan.
Contoh:


Artinya: Memandang wajah yang cantik dapat menerangkan mata, memandang
wajah yang jelek dapat menyebabkan sedih.17[17]

c. Bertentangan teks Al-Quran atau hadis mutawatir


16[16] Ikhtisar Musthalahul Hadis, Op.cit hal 171
17[17] Ulumul Hadis Op.Cit. hal 201-211

Contoh yang bertentangan dengan Al-Quran adalah tentang jangka


usia dunia, yaitu tujuh ribu tahun. Ini jelas tidak shahih, tentu semau orang
akan mengerti kapan kiamat tiba. Padahal Allah Azza Wa Jalla berf irman:
y7tRq=to `t pt$9$# tb$r& $yg8yD ( @% $yJR)
$ygK= yZ n1u ( w $pkk=pg !$pkJ%uq9 w) uqd 4
Mn=)rO NuqyJ9$# F{$#ur 4 w /3?'s? w) ZptGt/ 3
%y7tRq=to y7Rr(x. ;"ym $pk]t ( @
yJR) $ygJ= yZ !$# `3s9ur usY2r& $Z9$# w$
tbqJn=t
Artinya:Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: "Bilakah terjadinya?"
Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada
sisi

Tuhanku;

tidak

seorangpun

yang

dapat

menjelaskan

waktu

kedatangannya selain Dia. kiamat itu amat berat (huru haranya bagi
makhluk) yang di langit dan di bumi. kiamat itu tidak akan datang kepadamu
melainkan dengan tiba-tiba". mereka bertanya kepadamu seakan-akan
kamu

benar-benar

mengetahuinya.

Katakanlah:

"Sesungguhnya

pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan
manusia tidak Mengetahui".(QS. Al-Araf:187)18[18]
Contoh hadis maudhu yang bertentangan dengan hadis mutawatir:

)(
Artinya: Bahwa setiap orang dinamakan dengan nama-nama (Muhammd
Ahmad dan semisalnya) ini, tidak akan dimaksukkan ke neraka.
Contoh hadis palsu yang bertentangan dengan hadis shahih adalah
hadis-hadis tentang pujian terhadap prang yang namanya Muhammad atau
Ahmad dan bahwa orang-orang yang namanya seperti itu tidak akan masuk
neraka. Jadi hadis tersebut jelas bertentangan dengan ajaran agama, bahwa
neraka tidak akan terpengaruh oleh nama-nama tertentu. untuk selamat
darinya hanya bisa dilakukam dengan beriman dan beramal shaleh.19[19]

18[18] Terjemah Al-Quran al-Karim, H Mahmud Yunus, PT Al-Marif, Bandung, tahun


1986, hal 158
19[19] Ikhtisar Mushthalahul Hadis, Op.Cit hal 172

Setiap hadis yang meriwayatkan Ali adalah shahih yang menyatakan


wasiat khalifah ada pada Ali r.a. tidaklah shahih. Karena ia bertentangan
dengan ijma ulama, bahwa nabi SAW tidak menegaskan siapa yang akan
mengganti beliau.
d. Menyalahi realita sejarah
Misalnya hadis yang menjelaskan bahwa Nabi memungut jizyah (pajak)
para penuduk khaibar dengan di saksikan oleh Saad bin Muads padahal
Saad telah meninggal pada masa perang khandaq sebelum kejadian
tersebut.
e. Hadis sesuai dengan mazhab perawi
misalnya, hadis yang diriwayatkan oleh Habbah bin Juwaihi, ia berkata:
saya mendengar Ali berkata



artinya: Aku menyembah Tuhan bersama Rasul-Nya sebelum menyembah-Nya
seorang pun dari umat ini lima atau tujuh tahun.
Hadis ini mengkultuskan Ali sesuai dengan prinsip madzhab syiah,
tetapi mengkultuskan itu juga tidak masuk akal, bagaimana Ali beribadah
bersama rasul lima atau tujuh tahun sebelum umat ini.
f. Mengandung pahala yang berlebih bagi amal yng kecil.
Biasanya motif pemalsuan hadis ini disampaikan para tukang kisah yang
ingin menarik perhatian para pendengarnya atau agar menarik pendengar
agar melakukan amal saleh. Tetapi memang tinggi dalam membesarkan
suatu amal kecil dengan pahala yang berlebihan. Misalnya:


Artinya:Barang siapa yang sholat d uha sekian rakaat diberi pahala 70 nabi.20[20]
g. Sahabat dituduh menyembunyikan hadis
Sahabat dituduh menyembunyikan hadis dan tidak menayampaikan
atau tidak meriwayatkan kepada orang lain, padahal hadis itu secara
transparan harus disampaikan Nabi SAW, misalnya, nabi memegang tangan
Ali bin Abi Thalib di hadapan para sahabat semua, kemudian bersabda: ini
wasiatku dan saudaraku dan khalifah setelah aku. Seandainya ini benar
20[20] Ulumul Hadis Op.Cit. hal 212-213

wasiat

dari

Nabi

SAW

tentu

banyak

diantara

para

sahabat

yang

meriwayatkannya, karena masalahnya adalah untuk kepentingan umum


yakni kepemimpinan. Tidak mungkin para sahabat diam tidak meriwayatkan
jika hal itu terjadi benar pada diri Rasulullah.
5. Usaha para ulama dalam mengatasi hadis palsu
Ada beberapa usaha yang dilakukan

para

ulama

dalam

menanggulangi hadis maudhu, dengan tujuan agar hadis tetap eksis


terpelihara dan bersih dari pemalsuan tangan orang-orang kotor. Disamping
itu agar lebih jelas posisi hadis maudhu tidak tercampur dengan hadis-hadis
shahih. Diantara usaha-usaha itu adalah:
a. Memelihara sanad hadis
Dalam rangka memelihara sunnah siapa saja yang mengaku mendapat
sunnah harus disertai sanad. jika tidak disertai dengan sanad, maka suatu
hadits tidak dapat di terima. Abdullah bin Al-Mubarok berkata : yang mencari
agamanya

tanpa

sanad

bagaikan

orang

yang

naik

loteng

tanpa

tangga.keharusan sanad dalam menerima hadis bukan pada orang-orang


khusus saja, bagi masyarakat umum pun pada saat itu mengharuskan
menerimanya dengan sanad. Hal ini mulai berkembang sejak masa tabiin,
hingga merupakan suatu kewajiban bagi ahli hadis menerangkan sanad
hadis yang ia riwayat kan.
b. Meningkatkan kesungguhan penelitian
Sejak masa sahabat dan tabiin, mereka telah mengadakan penelitian
dan pemeriksaan hadis yang mereka dengar dan yang mereka terima dari
sesamanya. Jika hadis yang mereka terima itu meragukan atau datang bukan
dari sahabat yang langsung terlibat dalam permasalahan hadis, segera
mereka melakukan rihlah (perjalanan) sekalipun dalam jarak jauh untuk
mengecek kebenarannya kepada para sahabat senior atau yang terlibat
dalam kejadian hadis.
Hasilnya mereka bukukan dalam berbagai buku hadis seperti buku
hadis induk enam atau tujuh. Imam syafie menulis ar-risalah dan al-umm
yang memuat ulumul hadis, at-tirmidzi dalam akhir kitab jami-nya.21[21]
21[21] Ibid hal 214

c. Mengisolir para pendusta hadis


Para ulama berhati-hati dalam menerima dan meriwayatkan hadis.
Orang-orang yang dikenal sebagai pendusta hadis dijauhi dan masyarakat
pun di jauhkan dari padanya. Semua ahli hadis juga menyampaikan hadishadis maudhu dan pembuatnya itu kepada murid-muridnya, agar mereka
menjauhi dan tidak meriwayatkan hadis dari padanya. Diantara para ulama
yang dkenal menentang para maudhu adalah Amir Asy-Syabi, Syubah bin AlHajj, Sufyan Ats-Tsauri, Abdullah bin Mubarak dll
d. Menerangkan keadaan para perawi
Para ahli hadis berusaha menelusuri sejarah kehidupan baik mulai dari
lahir hingga wafat atau pun dari segi-segi sifat-sifat para perawi hadis, dari
yang jujur, adil, dan andalnya ingatannya dan sebaliknya. Sehingga dapat
dibedakan mana hadis shahih dan mana hadis yang palsu. Hasilnya mereka
himpun dalam buku Rijal Al-Hadis dan Al-Jarrh wa At-Tadil sehingga oleh
generasi berikutnya.
e. Memberikan kaidah-kaidah hadis
Para ulama meletakkan dasar-dasar secara metodelogis tentang
penelitian hadis untuk menganalisa otensitasnya sehingga dapat diketahui
mana shahih, hasan, dhaif dan maudhu. Kaidah-kidah itu dijadikan standar
penilaian suatu hadis menurut criteria sebagai hadis yang diterima atau
ditolak.22[22]
6. Para pendusta dan kitab-kitab hadis maudhu
Diantara pendusta hadis yang diketahui setelah melakukan penelitian
yang dilakukan para ulama adalah sebagai berikut:
a. Aban bin Jafar Al-Numaiqi, membuat 300 hadis yang disandarkan kepada
abu hanifah
b. Ibrhim bin Zaid Al-Aslami, membuat hadis disandarkan dari malik
c. Ahmad bin Abdullah Al-Juwaini, yang membuat beribu-ribu
kepentingan al-karramiyah
d. Jabir bin Zaid Al-Juafi, membuat 30.000 hadis

22[22] Ibid hal 215

hadis

e. Nuh bin Abu Maryam membuat hadis maudhu tentang fadhail surah-surah
dalam Al-Quran
f. Muhammad bin Syuja Al-Wasithi, Al-Harits bin Said Al-Mashlub, Al-Waqidi
Muqatil bin sulaiman, Muhammad bin Saad Al-Mashlub, Al-Waqidi dan Ibnu
Abu Yahya.
Diantara kitab-kitab yang memuat hadis maudhu adalah sebagai berikut:
a. Tadzkirah al-maudhuat, karya Abu al-Fadhal Muhammad bin Thahir alMaqdisi (448-507 H) didalam kitab ini disebutkan nama perawi yang dinilai
cacat (tarjih)
b. Al-Maudhuat al-Kubra, karya Abu al-Faraj Abdurrahman al-Jauzi (508-597)
c. Al-Laali al-Mashnuah fi al-Maudhuah, karya Jalaluddin as-Suyuti (849-911
H)
d. Al-baits ala al-Khalash Min Hawadits al-Qashash, karya Zainuddin
Abdurahman al-Iaraqi(725-806 H)
e. Al-fawaid al-Majmuah fi al-Ahadits al-Mawdhuah, karya al-Qadhi Abu
Abdullah Muhammad Asy-Syaukani (1173-1255 H)

BAB III
KESIMPULAN
Dari uraian di ats dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Hadis dhaif adalah hadis yang tidak memenuhi sebagian atau seluruh syaratsyarat hadis sahih dan hadis hasan.

2. Hukum periwayatan hadis dhaif, para ulama memperbolehkan meriwayatkan


hadis

dhaif

sekalipun

tanpa

menjelaskan

kedhaifanyadengan

dua

syarat:Tidak berkaitan dengan akidah seperti sifat-sifat Allah dan tidak


menjelaskan hukum syara yang berkaitan dengan halal haram.
3. Hukum pengalaman hadis dhaif .hadis dhaif tidak bisa diamalkan secara
mutlak baik mengenai fadhail amal maupun dalam hukum, Hadis dhaif dapat
diamalkan secara mutlak baik dalam fadhail al-amal atau dalam masalah
hukum

{akham},

Hadis

dhaif

dapat

diamalkan

dalam

fadhail

al-

amal,mauizhah,targhib dan tarhib


4. Hadis maudhu adalah hadis yang diada-adakan, dibuat, dan didustakan
seseorang pada Rasulullah SAW
5. Hukum meriwayatkan hadis maudhu: hukumnya haram secara mutlak tidak
ada perbedaan antara mereka.
6. Tanda-tanda hadis maudhu pada:
a. Sanad : pengakuan dari orang yang membuat sendiri, adanya bukti (qarinah)
mengenai pengakuan, adanya bukti pada keadaan perawi, kedustaan perawi
b. Matan : lemah susunan lafal dan maknanya,rusak maknanya,bertentangan
teks Al Quran atau hadis mutawatir,menyalahi realita sejarah, hadis sesuai
dengan mazhab perawi, mengandung pahala yang berlebihan bagi amal yang
kecil dan sahabat dituduh menyembunyikan hadis
7. Usaha para ulama dalam mengatasi hadis palsu : memelihara sanad hadis,
meningkatkan kesungguhan penelitian, mengisolir para pendusta hadis,
menerangkan keadaan para perawi dan memberikan kaidah-kaidah hadis
KATA PENGANTAR

O0 !$# `uHq9$# Om9$#



.
Rasa syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, berkah rahmat,
taufik, dan hidayah-Nya jualah penulis dapat menyelesaikan penyusunan
makalah ini. Shalawat serta salam semoga tercurah ke haribaan Nabi Besar

Muhammad SAW, juga kepada keluarga, para sahabat dan segenap pengikut
beliau hingga akhir zaman, Amin ya rabbal alamien
Penulisan makalah kedudukan hadits Dhaif dan hadits Maudhu ini
bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah sejarah pemikiran Islam,
dengan dosen pengasuh Dr. Saifuddin, M.Ag dan penulis mengucapkan terima
kasih atas bimbingan yang telah diberikan.
Makalah ini jauh dari kesempurnaan oleh karena itu segala kritik dan
saran sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Akhirnya
penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Banjarmasin, Januari 2012
Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR. i
DAFTAR ISI ii
BAB I :
1
Pendahuluan...
BAB II : KEDUDUKAN HADIS DHAIF DAN HADIS
MAUDHU.
A. Hadis Dhaif..
1. Pengertian..
2. Hukum periwaytan hadis dhaif..
3. Hukum pengamalan hadis dhaif
B. Hadis maudhu..
1. Pengertian.
2. Hukum meriwayatkan hadis maudhu..
3. Tanda-tanda hadis maudhu.
4. Tanda-tanda maudhu pada matan
5. Usaha para ulama dalam mengatasi hadis palsu..
6. Para pendusta dan kitab-kitab hadis

3
3
3
5
6
7
7
8
9
11
14
16

maudhu.
BAB III :

18

KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA

ii

DAFTAR PUSTAKA
Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. 1997. Sisilah hadis Dhaif dan Maudhu. Jakarta:
Gema Insani Press
Al-khatib, Muhammad Ajaj. 1998. Ushul Al-Hadits Pokok-Pokok Ilmu Hadits. Jakarta: dar
al-al-masudi, hafid hasan. Ilmu Musthalah Hadis. Surabaya: Al-Hikmah
Al-qaththan, syaikh manna. 2004. Pengantar Studi Ilmu Hadis. Jakarta : pustaka AlKautsar
Al-adlabi, Shalahudin ibn Ahmad. 2004. Kritik Metodologi Matan Hadis. Jakarta: Gaya
Media Pratama.
Azami, M. Mustafa. 1996. Metedologi Kritik Hadis. Bandung: Pustaka Hidayah Fikr
Ismail, H.M. Syuhudi. 1995. Hadis Nabi Menurut Pembela, Pengikar, dan Pemalsunya.
Jakarta: Gema Insani Press
Khon, H. Abdul Majid. 2009. Ulumul Hadis. Jakarta:Amzah
Rahman, Fatchur. 1974. Ikhtisar Musthalahul hadis. Bandung:PT. Al Maarif
Yunus, H. Mahmud.1986. Terjemah Al-Quran Karim. Bandung: Pt Al-Maarif

Anda mungkin juga menyukai