Anda di halaman 1dari 14

Nama : Sukartini

Nim : 201431151
Resume dari desain penelitian cross sectional,cohort dan study kasus.
a. Case control
Case control dalam desain studi epidemiologi adalah studi analitik yang menganalisis
hubungan kausal dengan menggunakan logika terbalik, yaitu menentukan penyakit (outcome)
terlebih dahulu dan kemudian mengidentifikasi penyebab (faktor risiko). Studi case
control biasanya dilakukan dengan memakai kelompok kontrol sehingga disebut sebagai
studi kasus kontrol atau case control study dan bersifat retrospektif. Di dalam studi kasus
kontrol ini dimulai dengan kasus atau sampel yang telah ada atau dengan kata lain sudah
terjadi dan sudah tersedia) dimana digunakan sampel kelompok kontrol sebagai pembanding.
Kelompok kontrol tersebut terdiri dari sekumpulan orang yang bukan kasus (bukan penderita
penyakit yang bersangkutan) yang ciri-cirinya (dalam hal umur, jenis kelamin, ras, tingkat
sosial, dll). Pada case control, dimulai dari pemaparan pada masa lampau untuk melacak
riwayat pengalamannya.
Pada case control, penelitian dimulai dengan menentukan populasi. Populasi penelitian
diambil dari sumber yang sama sehingga memiliki karakteristik yang sebanding kecuali
status penyakitnya.Contoh kasus: Suatu penelitian ingin mengetahui beberapa faktor yang
mempengaruhi terjadinya penyakit thypoid pada anak-anak. Beberapa faktor yang diduga
sebagai faktor risiko terjadinya penyakit thypoid adalah kebiasaan cuci tangan sebelum
makan dan kebiasaan jajan di sekolah. Membagi sasaran penelitian menjadi 2 populasi yaitu
populasi kasus dan populasi control (penyakit thypoid). Peneliti mengukur paparan (penyakit
thypoid) yang dialami subjek pada waktu yang lalu (retrospektif) dengan cara wawancara,
memeriksa catatan medic, dll. Untuk Kasus thypoid sebagai disease(D) yang terjadi pada
anak-anak maka populasi dengan kasus atau penyakit Thypoid memiliki paparan(E)
kebiasaan jajan di sekolah dan tidak mencuci tangan, tidak jajan disekolah dan mencuci
tangan. Sedangkan pada kelompok kontrol memiliki kebiasaan tidak jajan di sekolah dan
sering cuci tangan untuk yang tidak terkena resiko penyakit thypoid.

Penelitian retrospektif sering disebut juga penelitian kasus control, ekspos factor dan untuk
memudahkan agar tidak terjadi kesalahan maka disarankan untuk menggunakan istilah trohok
atau trohoc (Alvan Feinstein) yaitu cohort yang dibaca dari belakang sesui dengan proses
perjalanan nya penyakit yang diikuti, sedangkan pada penelitian kohort proses diikuti
kedepan artinya dari factor resiko mencari insidensi, sedangkan penelitian retrospektif
mengikuti proses ke belakang dari penderita pada keadaan awal untuk mencari factor resiko.
Studi case control adalah rancangan penelitian epidemiologi yang mempelajari hubungan
antara paparan (faktor penelitian) dan penyakit, dengan cara membandingkan kelompok
kasus dan kelompok kontrol berdasarkan status paparannya. Ciri-ciri studi case control adalah
pemilihan subyek berdasarkan status penyakit, untuk kemudian dilakukan pengamatan
apakah subyek mempunyai riwayat terpapar faktor penelitian atau tidak.
Karakteristik case control antara lain :
1.

Merupakan penelitian observasional yang bersifat retrospektif

2.

Penelitian diawali dengan kelompok kasus dan kelompok kontrol

3.

Kelompok kontrol digunakan untuk memperkuat ada tidaknya hubungan sebab-akibat

4.

Terdapat hipotesis spesifik yang akan diuji secara statistik

5.

Kelompok kontrol mempunyai risiko terpajan yang sama dengan kelompok kasus

6.

Pada penelitian kasus-kontrol, yang dibandingkan ialah pengalaman terpajan oleh


faktor risiko antara kelompok kasus dengan kelompok kontrol

7.

Penghitungan

besarnya

risiko

relatif

hanya

melalui

perkiraan

melalui

perhitunganodds ratio
Studi case control bersifat retrospektif, yang maksudnya adalah jika peneliti
menentukan status penyakit dulu, lalu mengusut riwayat paparan ke belakang. Arah
pengusutan seperti itu bisa dikatakan anti-logis, sebab peneliti mengamati akibatnya dulu

lalu meneliti penyebabnya, sementara yang terjadi sesungguhnya penyebab selalu


mendahului akibat.
Pada studi kasus kontrol, peneliti menggunakan kasus kasus yang sudah ada dan
memilih kontrol (non-kasus) yang sebanding. Lalu peneliti mencari informasi status
(riwayat) paparan masing-masing subjek kasus dan kontrol. Jadi pada studi kasus kontrol
peneliti tidak bisa menghitung risiko dan risiko relatif (RR). Sebagai ganti risiko, pada
studi kasus kontrol peneliti menggunakan odd. What is odd? Odd adalah probabilitas dua
peristiwa yang berkebalikan, misalnya sakit verus sehat, mati versus hidup, terpapar versus
tak terpapar. Pada studi kasus kontrol, odd pada kasus adalah rasio antara jumlah kasus
yang terpapar dibagi tidak terpapar. Odd pada kontrol adalah rasio antara jumlah kontrol
terpapar dibagi tidak terpapar. Jika odd pada kasus dibagi dengan odd pada kontrol, diperoleh
Odds ratio (OR). OR digunakan pada studi kasus kontrol sebagai pengganti RR.
Jadi penelitian retrospektif dapat diartikan sebagai suatu penelitian dengan pendekatan
longitudinal yang bersifat observasional mengikuti perjalanan penyakit ke arah belakang
(retrospektif) untuk menguji hipotesis spesifik tentang adanya hubungan pemaparan terhadap
factor resiko dimasa lalu dengan timbulnya penyakit. Dengan kata lain, mengikuti perjalanan
penyakit dari akibat ke sebab dengan membandingkan besarnya pemaparan factor resiko di
masa lalu antara kelompok kasus dengan kelompok control sebagai pembanding. Hal ini
menunjukkan bahwa pada awalnya penelitian terdiri dari kelompok penderita (kasus) dan
kelompok bukan penderita yang akan diteliti sebagai control.
Uraian diatas secata skematis dapat digambarkan sebagai berikut:
YANG LALU
Mencari pemaparan factor resiko
SEBAB

SAAT INI
retrospektif

kelompok kasus dan control


AKIBAT

Kelompok kasus atau kelompok penderita ialah kelompok individu yang menderita penyakit
yang akan diteliti dan ikut dalam proses penelitian sebagai subjek studi. Hal ini penting
dijelaskan karena tidak semua orang yang memenuhi criteria penyakit yang akan diteliti
bersedia mengikuti penelitian dan tidak semua penderita memenuhi criteria yang telah
ditentukan.

Kelompok control ialah kelompok individu yang sehat atau tidak menderita penyakit yang
akan diteliti tetapi memiliki peluang yang sama dengan kelompok kasus untuk terpajan oleh
factor resiko yang diduga sebagai penyebab timbulnya penyakit dan bersedia menjadi subjek
studi
1.

Ciri- Ciri Penelitian Kasus Kontrol/Retrospektif

Penelitian retrospektif memiliki ciri- ciri sebagai berikut:


a.

Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat observasional

b.

Diawali dengan kelompok penderita dan bukan penderita

c.

Terdapat kelompok control

d.

Kelompok control harus memliki resiko terpajan oleh factor resiko yang sama dengan

kelompok kasus
e.

Membandingkan besarnya pengalaman terpajan oleh factor resiko antara kelompok

kasus dan kelompok control


f.

Tidak mengukur insidensi

2.

Keuntungan Dan Kerugian Penelitian Kasus Kontrol

Penelitian case control memiliki beberapa keuntungan sebagai berikut:


a.

Sangat sesuai untuk penelitian penyakit yang jarang tterjadi atau penyakit dengan fase

laten yang panjang atau penyakit yang sebelumnya tidak pernah ada
b.

Pelaksanaannya relative lebih cepat jika dibandingkan dengan cohort karena pada

penelitian case control diawali dengan penderita yang berarti penyakit yang diteliti telah
timbul, sedangkan pada penelitian cohort, insidensi penyakit yang akan diteliti harus
menunggu cukup lama.
c.

Sampel yang dibutuhkan untuk penelitian case control lebih kecil dari pada penelitian

cohort walaupun digunakan beberapa control untuk satu kasus.

d.

Biaya penelitiannya relative lebih kecil dibandingkan dengan penelitian cohort karena

sampel yang lebih sedikit dan waktu yang lebih singkat


e.
f.

Tidak dipengaruhi oleh factor etis seperti penelitian aksperimen


Data yang ada mungkin dapat dimanfaatkan terutama bila penelitian dilakukan di

rumah sakit
g.

Kemungkinan untuk mengadakan penelitian terhadap beberapa factor yang diduga

sebagai factor penyebab


Disamping beberapa keuntungan tersebt, terdapat pula beberapa kerugian sebagai berikut:
a.

Kesalahan pemilihan kasus yang disebabkan kesalahan dalam diagnose

b.

Kesalahan dalam pemilihan control

c.

Berpotensi timbulnya bias informasi

d.

Validitas adat yang diperoleh tidak dapat dilakukan

e.

Pengendalian terhadap factor perancu (confounding factor)sulit dilakukan dengan

lengkap
f.

Perhitungan resiko relative hanya berupa erkiraan

g.

Tidak didapat dilakukan untuk penelitian evaluasi hasil penelitian

3.

Pengukuran Odd Rasio (=psi)

Pengukuran resiko relatif pada penelitian case control tidak dapat dilakukan secara langsung
tetapi hanya berupa perkiraan karena pada penelitian case control tidak mengukur insidensi
tetapi hanya mengukur besarnya paparan. Secara skematis dapat disajikan dalam bentuk tabel
berikut

Penyakit

Odds
Pemaparan

Positif

Negative

Jumlah

penyakit

Positif

m1

a/b

Negative

m2

c/d

Jumlah

n1

n2

Odds pemaparan a/c b/d


Odds ratio () (a/b)/(c/d) atau ad/bc
Contoh:
Suatu penelitian tentang hubungan karsinoma paru- paru dengan rokok yang dilakukan secara
retrospektif dengan mengambil 100 orang penderita Ca paru- paru sebagai kasus dan 100
orang dengan penyakit lain yang tidak ada hubungannya dengan Ca paru- paru sebagai
kelompok control. Kedua kelompok disamakan berdasarkan umur, jenis kelamin, dan social
ekonomi
Hasilnya yang diperoleh adalah pada kelompok kasus dengan 90 orang yang merokok,
sedangkan pada kelompok control terdapat 40 orang yang merokok. Hal ini dapat
digambarkan secara skematis dalam bentuk tabel berikut:

Pajanan

Kasus

Control

Perokok

90

40

Bukan perokok

10

60

Jumlah

100

100

Rate pemaparan pada kelompok kasus= 90/100= 90%


Rate pemaparan pada kelompok control = 40/100= 40%
Odds ratio= (9060)/(40x 10)= 5400/500= 10,8
Ini berarti bahwa diperkirakan resiko bagi perokok terkena karsinoma paru- paru adalah 10,8
kali lebih besar dibandingkan dengan bukan perokok.

a.

Cohort

Studi kohort adalah studi observasional yang mempelajari hubungan antara paparan dan
penyakit dengan memilih dua atau lebih kelompok studi berdasarkan status paparan
kemudian diikuti (di follow up) hingga periode waktu tertentu sehingga dapat diidentifikasi
dan dihitung besarnya kejadian penyakit. Apabila periode induksi yaitu kejadian penyakit
dapat diamati dalam waktu yang panjang maka studi kohort rawan terhadap bias penarikan
responden (banyak yang drop out dari observasi), perlu dana yang besar dan waktu yang
panjang. Namun studi kohort mempunyai kekuatan dalam membuktikan inferensi kausa
dibanding studi observasional lainnya, didapatkan angka incidence rate secara langsung, serta
cocok untuk memeliti paparan yang langka.
Pada desain studi cohort, penelitian memiliki hubungan antara paparan (jajan di sekolah dan
kebiasaan cuci tangan) dan penyakit (thypoid), dengan memilih 2 (atau lebih) kelompokkelompok studi berdasarkan perbedaan status paparan, kemudian mengikuti sepanjang suatu
periode waktu untuk melihat berapa banyak subjek dalam masing-masing kelompok
mengalami penyakit.
Kelebihan penelitian kohort
1. Dapat membandingkan 2 kelompok yaitu kelompok subjek dengan faktor resiko
positifdan dari kelompok kontrol sejak awal penelitian
2. Secara langsung menetapkan besarnya angka resiko dari waktu ke waktu
3. Keseragaman observasi terhadap faktor resiko maupun dari efek waktu ke waktu.
Kekurangan penelitian kohort.
1. Memerlukan waktu penelitian yang relatif cukup lama
2. Memerlukan sarana dan prasarana serta pengolahan data yang lebih rumit
3. Kemungkinan adanya subjek penelitian yang droupout sehingga mengurangi
ketepatan dan kecukupan data untk di analisis
4. Menyangkut etika, sebabfaktor resiko dari subjek yang di amati sampai terjadinya
efek menimbulkan ketidaknyamanan bagi subjek.
b.

Cross sectional

Cross sectional adalah studi epidemiologi yang mempelajari prevalensi, distribusi, dan
hubungan penyakit dan paparan dengan mengamati status paparan, penyakit atau outcome
lain secara serentak pada individu-individu dari suatu populasi pada satu saat. Studi cross
sectional tidak mengenal adanya dimensi waktu sehingga mempunyai kelemahan dalam

menjamin bahwa paparan mendahului efek (disease). Dalam studi ini memiliki kekuatan
dalam teknisnya, yaitu mudah dilakukan, dan murah, tidak memerlukan waktu follow up.
Studi ini dimanfaatkan untuk merumuskan hipotesis hubungan kausal yang akan diuji dalam
studi analitik lainnya. Studi ini mengamati paparan dan penyakit pada waktu kurang lebih
bersamaan (non-directional). Di dalam penelitian dengan desain studi Cross sectional untuk
mengetahui faktor yang diduga sebagai faktor risiko terjadinya penyakit Thypoid pada anakanak dapat dilakukan dengan menentukan sampel yang dilakukan dengan pencuplikan
random (random sampling) agar deskripsi dalam sampel mewakili (representatif) populasi
sasaran.

Pada populasi dilakukan pencuplikan (random), lalu dikelompokkan: kelompok terpapar dan
berpenyakit Thypoid (E+ D+), terpapar dan tidak berpenyakit Thypoid (E+ D-), tak terpapar
dan berpenyakit Thypoid (E- D+), tak terpapar dan tak berpenyakit Thypoid(E- D-).
Studi cross sectional adalah suatu penelitian yang menggunakan rancangan atau desain
observasi dengan ciri-ciri sebagai berikut :
1.

Semua pengukuran variabel (dependen dan indpenden) yang diteliti dilakukan pada

waktu yang sama


2.

Tidak ada periode follow-up

3.

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan prevalensi penyakit tertentu

4.

Pada penelitian ini tidak terdapat kelompok pembanding

5.

Hubungan sebab- akibat hanya merupakan perkiraan saja

6.

Penelitian ini dapat menghasilkan hipotesis

7.

Merupakan penelitian pendahuluan dari penelitian analitis

Cross sectional dapat dilakukan dimana saja sesuai dengan tujuan penelitian dan subjeknya
baik komunitas, institusi, klinik, dll. Cross sectional berguna untuk mendeskripsikan
penyakit dan paparan pada populasi pada satu titik waktu tertentu. Data yang dihasilkan dari
studi potong-lintang adalah data prevalensi. Tetapi studi potong-lintang dapat juga
digunakan untuk meneliti hubungan paparan-penyakit, meskipun bukti yang dihasilkan
tidak kuat untuk menarik kesimpulan kausal antara paparan dan penyakit, karena tidak
dengan desain studi ini tidak dapat dipastikan bahwa paparan mendahului penyakit.
Studi potong lintang (cross sectional) bersifat non-directional sebab hubungan antara
paparan dan penyakit pada populasi diteliti pada satu waktu yang sama. Cara studi
potong lintang meneliti hubungan antara paparan dan penyakit:
1.

Membandingkan prevalensi penyakit pada berbagai subpopulasi yang berbeda status

paparannya;
2.

Membandingkan status paparan pada berbagai subpopulasi yang berbeda status

penyakitnya.
Frekuensi penyakit dan paparan pada populasi diukur pada saat yang sama, maka data
yang diperoleh merupakan prevalensi (kasus baru dan lama), bukan insidensi (kasus
baru saja), sehingga studi potong lintang disebut juga studi prevalensi, atau survei. Pada
studi potong lintang, karena bersifat non-directional, peneliti tidak bisa menghitung
insidensi (kasus baru), yang menunjukkan risiko terjadinya penyakit dalam suatu
periode waktu. Jadi pada studi potong lintang, peneliti tidak bisa menghitung risiko
dan risiko relatif (RR). Data yang diperoleh studi potong lintang adalah prevalensi,
terdiri atas kasus baru dan lama. Prevalensi adalah jumlah kasus yang ada di suatu saat
dibagi dengan jumlah populasi studi. Jika prevalensi penyakit pada kelompok terpapar
dibagi dengan prevalensi penyakit pada kelompok tak terpapar, maka diperoleh
Prevalence Ratio (PR). Demikian pula jika odd penyakit pada kelompok terpapar

dibagi dengan odd penyakit pada kelompok tak terpapar, diperoleh Prevalence Odds Ratio
(POR).
1.

Tujuan Studi Cross Sectional

Secara garis besar, tujuan penelitian cross sectional adalah sebagai berikut
a.

Penelitian cross sectional digunakan untuk mengetahui masalah kesehatan masyarakat

di suatu wilayah, misalnya suatu sampling survey kesehatan untuk memperoleh data dasar
untuk menetukan strategi pelayanan kesehatan atau digunakan untuk membandingkan
keadaan kesehatan masyarakat disuatu saat
b.

Penelitian dengan pendekatan cross sectional digunakan untuk mengetahui prevalensi

penyakit tertentu di suatu daerah tetapi dalam hal- hal tertentu prevalensi penyakit yang
ditemukan dapat digunakan untuk mengadakan estimasi insidensi penyakit tersebut. misalnya
penyakit yang menimbulkan bekas seperti variola karena dari bekas yang ditinggalkan dapat
diperkirakan insidensi penyakittersebut dimasa lalu tetapi akan sulit memperkirakan insidensi
berdasarkan bekas yang ditinggalkan bila bekas tersebut tidak permanen.
c.

Penelitian cross sectional dapat digunakan untuk memperkirakan adanya hubungan

sebab akibat bila penyakit itu mengalami perubahan yang jelas dan tetap, misalnya penelitian
hubungan antara golongan darah dengan karsinoma endometrium
Bila perubahan yang terjadi tidak jelas dan tidak tetap seperti penyakit yang menimbulkan
perubahan biokimia atau perubahan fisiologi dilakukan penelitian cross sectional karena pada
penelitian ini sebab dan akibat ditentukan pada waktu yang sama dan antara sebab akibat
dapat saling mempengaruhi misalnya hubungan antara hipertensi dengan tingginya kadar
kolesterol darah.
d.

Penelitian cross sectional dimaksudkan untuk memperoleh hipotesis spesifik yang akan

diuji melalui penelitian analitis, misalnya dalam suatu penelitian cross sectional di suatu
daerah ditemukan bahwa sebagian besar penderita diare menggunakan air kolam sebagai
sumber air minum. Dari hasil ini belum dapat dikatakan bahwa air kolam tersebut factor
resiko timbulnya diare, tetapi penemuan tersebut hanya merupakan suatu perkiraan atau
hipotesis yang harus diuji melalui penelitian analitis.

2.

Langkah-langkah Studi Cross Sectional

Untuk melakukan penelitian dengan pendekatan cross sectional dibutuhkan langkah-langkah


sebagai berikut.
a.

Identifikasi dan perumusan masalah

Masalah yang akan diteliti harus diidentifikasi dan dirumuskan dengan jelas agar dapat
ditentukan tujuan penelitian dengan jelas
Identifikasi masalah dapat dilakukan dengan mengadakan penelaahan terhadap insidensi dan
prevalensi berdasarkan catatan yang lalu untuk mengetahui secara jelas bahwa masalah yang
sedang dihadapi merupakan masalah yang penting untuk diatasi melalui suatu penelitian. Dari
masalah tersebut dapat diketahui lokasi masalah tersebut berada.
b.

Menentukan tujuan penelitian

Tujuan penelitian harus dinyatakan dengan jelas agar orang dapat mengetahui apa yang akan
dicari, dimana akan dicari, sasaran, berapa banyak dan kapan dilakukan serta siapa yang
melaksanakannya.
Sebelum tujuan dapat dinyatakan dengan jelas, hendanya tidak melakukan tindakan lebih
lanjut. Tujuan penelitian merupakan hal yang sangat penting dalam suatu penelitian karena
dari tujuan ini dapat ditentukan metode yang akan digunakan.

c.

Menentukan lokasi dan populasi studi

Dari tujuan penelitian dapat diketahui lokasi penelitian dan ditentukan pula populasi studinya.
Biiasanya, penelitian cross sectional tdak dilakukan terhadap semua subjek studi, tetapi
dilakukan kepada sebagian populasi dan hasilnya dapat diekstrapolasi pada populasi studi
tersebut.
Populasi studi dapat berupa populasi umum dan dapat berupa kelompok populasi tertentu
tergantung dari apa yang diteliti dan di mana penelitian dilakukan
Agar tidak terjadi kesalahan dalam pengumpulan data, sasaran yang dituju yang disebut
subjek studi harus diberi criteria yang jelas, misalnya jenis kelamin, umur, domisili, dan
penyakit yang diderita. Hal ini penting untuk mengadakan ekstrapolasi hasil penelitian yaitu
kepada siapa hasil penelitian ini dilakukan
d.

Menentukan cara dan besar sampel

Pada penelitian cross sectional diperlukan perkiraan besarnya sampel dan cara pengambilan
sampel. Perkiraan besarnya sampel dapat dihitung dengan rumus Snedecor dan Cochran
berikut.
1)

Untuk data deskrit

n= besar sampel
p= proporsi yang diinginkan
q= 1-p
Z= simpangan dari rata- rata distribusi normal standard
L= besarnya selisih antara hasil sampel dengan populasi yang masihh dapat diterima
2)

Untuk data kontinyu

S2= varian sampel


Cara pengambilan sampel sebaiknya dilakukan acak dan disesuaikan dengan kondisi populasi
studi, besarnya sampel, dan tersediannya sampling frame yaitu daftar subjek studi pada
populasi studi.
e.

Memberikan definisi operasional

f.

Menentukan variable yang akan diukur

g.

Menyusun instrument pengumpulan data

Instrument yang akan digunakan dalam penelitian harus disusun dan dilakukan uji coba.
Instrument ini dimaksudkan agar tidak terdapat variable yang terlewatt karena dalam
instrument tersebut berisi semua variable yang hendak diteliti
Instrument dapat berupa daftar pertanyaan atau pemeriksaan fisik atau laboratorium atau
radiologi dan lain- lain disesuaikan dengan tujuan penelitian
h.

Rancangan analisis

Analisis data yang diperoleh harus sudah dirrencanakan sebelum penelitian dilaksanakan agar
diketahui perhitungan yang akan digunakan. Rancangan analisis harus disesuaikan dengan
tujuan penelitian agar hasil penelitian dapat digunakan untuk menjawab tujuan tersebut.
3.

Keuntungan dan Kekurangan Cross Sectional

Penelitian yang dilakukan dengan pendekatan cross sectional mempunyai beberapa


keuntungan dan kerugian sebagai berikut.
Keuntungan dari cross sectional yaitu :
1.

Mudah untuk dilaksanakan

2.

Hasil segera diperoleh

3.

Dapat menjelaskan hubungan antara fenomena kesehatan yang diteliti dengan faktorfaktor terkait (terutama karakteristik yang menetap)

4.

merupakan studi awal dari suatu rancangan studi kasus-kontrol maupun kohort

5.

Dalam penelitian epidemiologi, pendekatan cross sectional merupakan cara yang


cepat dan murah untuk mendeteksi adanya kejadian luar biasa

6.

Penelitian cross sectional dapat menghasilkan hipotesis spesifik untuk penelitian


analitis (baseline information).

7.

Pendekatan cross sectional dapat digunakan untuk mengetahui prevalensi penyakit


tertentu dan masalah kesehatan yang terdapat dimasyarakat dan dengan demikian dapat
digunakan untuk menyusun perencanaan pelayanan kesehatan

8.

Memudahkan pengumpulan data dalam waktu relative singkat

Disamping beberapa keuntungan yang telah

disebutkan di atas, penelitian dengan

pendekatan cross sectional tidak luput dari beberapa kerugian berikut:


1.

Hanya kasus prevalens atau yang tidak terkena dampak tertentu yang diteliti

2.

Membutuhkan skema sampling yang terencana baik sehingga dapat memberikan


kesempatan yang sama kepada setiap orang untuk terpilih

3.

Penelitian cross sectional tidak dapat digunakan untuk memantau perubahan yang
terjadi dengan berjalannya waktu

Untuk mengatasi kelemahan ini dapat dilakukan dengan mengadakan penelitian cross
sectional berulang- ulang agar dapat diketahui perubahan yang terjadi, misalnya perubahan
prevalensi penyakit TBC di suatu daerah, tetapi cara ini juga mempunyai kelemahan yaitu
pada penelitian berikutnya telah terjadi perubahan dalam distribusi golongan umur dan
orang- orang dengan golongan umur tertentu yang bukan berasal dari kohort yang sama
karena kemungkinan terjadi migrasi ke dalam atau ke luar.
Contoh lain adalah survey untuk memperoleh gambaran kesehatan masyarakat disekitar
bendungan yang dilakukan sebelum dan setelah dibangunnya bendungan PLTA Cirata, Jawa
Barat (Eko Budiarto, dkk., 1982). Penelitian ini menggunakan rancangan pre- intervensi dan
post intervensi tanpa kelompok kontrol
d.

Informasi yang diperoleh tidak mendalam sehingga sering kali masalah kesehatan yang

dicari tidak diperoleh.


5.

Sulit untuk perhitungan besarnya resiko secara akuran dan sulit menentukan besarnya
insidensi penyakit

6.

Lebih membutuhkan subjek yang lebih besar terutama bila variable yang diteliti
cukup banyak

7.

Tidak dapat digunakan untuk penelitian terhadap penyakit yang jarang dalam
masyarakat