Anda di halaman 1dari 82

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
HIV-AIDS merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh
infeksi human immunodeficiency virus (HIV) yang menyerang sistem
kekebalan tubuh. Infeksi tersebut menyebabkan penderita mengalami
penurunan ketahanan tubuh sehingga sangat mudah terinfeksi berbagai
macam penyakit lain. HIV merupakan penyebab penyakit AIDS
(Acquired Immune deficiency) dengan cara menyerang sel darah putih
sehingga dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia (Purwaningsih
dkk tahun 2015). AIDS merupakan kumpulan gejala atau sindrom yang
menyebabkan turunnya kekebalan tubuh, sebelum memasuki fase AIDS,
penderita terlebih dulu dinyatakan sebagai HIV positif (Kemenkes RI,
2014).
Perkembangan

Human

Immunodeficiency

Virus/Acquired

Immunodeficiency Syndrome (HIV/AIDS) berdasarkan data WHO tahun


2007-2009 diketahui bahwa trend penyakit tersebut naik turun. Kasus
HIV-AIDS merupakan fenomena gunung es dengan jumlah orang yang
dilaporkan jauh lebih sedikit dibandingkan dengan yang sebenarnya, hal
ini terlihat dari jumlah kasus AIDS yang dilaporkan tiap tahunnya sangat
meningkat secara signifikan. Berdasarkan data UNAIDS WHO tahun
2016, estimasi jumlah pengidap HIV pada semua kelompok umur di
dunia pada tahun 2010 sebanyak 33,3 juta dan meningkat menjadi 36,7
juta pada tahun 2015.Jumlah pengidap HIV baru pada tahun 2010
dilaporkan sebanyak 2,2 juta penderita dan tahun 2015 sebanyak 2,1
penderita. Negara Asia estimasi jumlah penderita HIV pada semua
kelompok umur sebanyak 4,7 juta penderita pada tahun 2010, dan tahun
2015 sebanyak 5,1 juta penderita. Estimasi Jumlah penderita baru HIV di
Asia pada tahun 2010 sebanyak 1,1 juta penderita dan 960.000 penderita
pada tahun 2015 (UNAIDS WHO, 2016). Seluruh dunia, setiap hari
diperkirakan sekitar 2.000 anak dibawah 15 tahun tertular HIV dan
1

sekitar 1.400 anak dibawah usia 15 tahun meninggal dunia, serta


menginfeksi lebih dari 6.000 orang berusia produktif (Purwaningsih,
Mitsutarno & Imamah 2015).
Epidemi AIDS di Indonesia sudah berlangsung hampir 20 tahun
namun diperkirakan masih akan berlangsung terus dan memberikan
dampak yang tidak mudah diatasi (Nurbani, 2008). Hasil Profil
Kesehatan Indonesia Tahun 2014 menyatakan peningkatan data jumlah
kasus HIV positif dari tahun 2005 sampai tahun 2014. Tahun 2005,
jumlah kasus baru HIV postif adalah 859 kasus dan jumlah kasus baru
HIV positif pada tahun 2012, 2013 dan 2014 berturut-turut adalah
21.511, 29.039 dan 32.711 kasus.
Jumlah kasus baru AIDS di Indonesia berdsarkan Profil
Kesehatan Indonesia tahun 2014 menunjukkan peningkatan mulai dari
tahun 2008 sampai tahun 2013 yaitu mulai dari 5.314 kasus menjadi
10.163 kasus. Tahun 2014 terjadi penurunan kasus AIDS menjadi sebesar
5.494 kasus, diperkirakan hal tersebut terjadi karena jumlah pelaporan
kasus AIDS dari daerah masih rendah.
Jawa Timur merupakan provinsi penyumbang terbanyak kasus
AIDS ketiga setelah DKI Jakarta dan Papua, sampai dengan bulan
Desember tahun 2012, kasus AIDS di Jawa Timur sebanyak 6.900 kasus,
sedangkan kasus HIV mencapai 15.681 kasus (Dinkes Jatim, 2013).
Semua kota di Jawa Timur, kota Surabaya merupakan salah satu kota
yang menyumbang jumlah kasus HIV-AIDS yang paling besar, yaitu
sebanyak 3.889 kasus (Dinkes Jatim, 2013).
Data Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur tahun 2012
mengenai

persebaran

penderita

HIV-AIDS

berdasarkan

profesi,

menunjukkan bahwa penderita HIV-AIDS terbanyak merupakan ibu


rumah tangga. Ibu rumah tangga yang menderita HIV-AIDS di Jawa
Timur mencapai 14.42% atau sebanyak 995 kasus, proporsi kasus untuk
penjajah seks masih dibawah angka proporsi kasus HIV-AIDS pada ibu
rumah tangga, yaitu 7,10% atau sebanyak 490 kasus. Kota Surabaya
sendiri, yang merupakan salah satu penyumbang kasus terbesar di Jawa
2

Timur juga turut menyumbangkan kasus HIV untuk profesi ibu rumah
tangga.
Kerentanan

perempuan

untuk

tertular

umumnya

karena

kurangnya informasi dan pengetahun mereka tentang HIV-AIDS ataupun


kurangnya akses untuk mendapatkan layanan pencegahan HIV
(Kementerian Negara Pemberdayaan Perenpuan RI, 2008). Umumnya
sebagian besar perempuan yang terinfeksi HIV merupakan peremuan
dengan perilaku berisiko terkinfeksi HIV seperti penjaja seks maupun
perepuan pengguna napza suntik, saat ini sudah mulai muncul perempuan
dengan perilaku tidak berisiko tertular HIV telah tertular HIV. Salah satu
perempuan yang tidak memiliki kemungkingan berperilaku berisiko
terinfeksi HIV adalah perempuan yang berprofesi sebagai ibu rumah
tangga (Dinkes Jatim, 2013).
Pengendalian penyakit menular di masyarakat, semua aspek
yang meliputi promotif, preventif, kuratif serta rehabilitatif harus
mendapatkan perhatian secara proporsional dan digunakan secara terpadu
di dalam sistem pengendaliannya. Program pengendalian penyakit
menular di masyarakat dapat berjalan optimal, maka diperlukan suatu
proses pengamatan yang sistematis dan berkelanjutan. Proses ini dikenal
dengan nama surveilans epidemiologi (SE) penyakit menular.
Laporan pada kegiatan magang ini kami akan membahas
mengenai gambaran kasus HIV-AIDS pada ibu rumah tangga di Jawa
Timur dan sistem surveilans HIV-AIDS pada provinsi Jawa Timur serta
upaya pencegahannya.
1.2

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan maka dapat dirumuskan
masalah sebagai berikut :
1) Bagaimana penatalaksanaan kasus HIV-AIDS?
2) Bagaimana pelaksanaan sistem surveilans HIV AIDS di Dinas
Kesehatan Provinsi Jawa Timur?
3) Bagaimana gambaran kasus HIV-AIDS di Jawa Timur?

4) Bagaimana gambaran kasus HIV-AIDS pada ibu rumah tangga di


Jawa Timur?
5) Bagaimana upaya pencegahan yang dilakukan Dinas Kesehatan
Kota Surabaya untuk kasus HIV-AIDS pada ibu rumah tangga?

1. 3

Tujuan

1.3.1

Tujuan Umum
Memperoleh gambaran mengenai kasus HIV-AIDS pada ibu rumah
tangga di Jawa Timur.

1.3.2

Tujuan Khusus
1) Mengetahui tatalaksana HIV-AIDS
2) Mengetahui pelaksanaan sistem surveilans di Dinas Kesehatan Provinsi
Jawa Timur
3) Mengetahui gambaran kasus HIV-AIDS di Jawa Timur
4) Mengetahui gambaran kasus HIV-AIDS pada ibu rumah tangga di Jawa
Timur
5) Mengetahui upaya pencegahan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan
Kota Surabaya untuk kasus HIV-AIDS.

1.4

Manfaat
Kegiatan magang ini diharapkan dapat memberikan manfaat
bagi pihak yang terkait di dalamnya.

1.4.1

Bagi Mahasiswa
1) Memperoleh pengalaman dan keterampilan mengenai dunia kerja.
2) Melatih kemampuan komunikasi dan kerja sama dalam tim kerja.
3) Memperoleh wawasan tentang ruang lingkup dan kemampuan praktek
pengolahan data terutama mengenai HIV-AIDS.
4) Sebagai sarana aplikasi ilmu Surveilens.

1.4.2

Bagi Instansi
Laporan ini diharapkan dapat memabantu Dinas Kesehatan
Propinsi Jawa Timur dalam menyiapkan program ataupun kegiatan
intervensi khususnya mengenai masalah HIV-AIDS.

1.4.3

Bagi fakultas
1) Menjalin kerjasama antara pihak Fakultas Kedokteran Program Studi
2) Magister Ilmu Kedokteran Tropis dan Dinas Kesehatan Propinsi Jawa
Timur.
3) Melatih hard skill dan soft skill sehingga dapat meningkatkan kualitas
lulusan.
4) Memberikan umpan balik bagi pelaksanaan kegiatan magang
selanjutnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

HIV-AIDS

2.1.1

Pengertian HIV-AIDS
HIV-AIDS merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi
Human immunodeficiency virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh.
Infeksi tersebut menyebabkan penderita mengalami penurunan ketahanan
tubuh sehingga sangat mudah untuk terinfeksi berbagai macam penyakit
lain, sebelum memasuki fase AIDS penderita terlebih dulu dinyatakan
sebagai HIV positif (Kemenkes RI, 2014).
HIV adalah virus penyebab AIDS yang menyerang sel darah putih
manusia yang merupakan bagian terpenting dari sistem kekebalan tubuh
manusia. AIDS adalah suatu sindroma atau kumpulan tanda/gejala
penyakit yang terjadiakiat tertular/terinfeksi virus HIV yang merusak
sistem kekebalan tubuh, bukan karena diturunkan atau dibawa sejak lahir.
AIDS adalah tahap akhir dari infeksi virus HIV ketika sistem
kekebalan tubuh telah sangant rusak, sehingga tidak dapat melawan infeksi
ringan sekalipun dan pada akhirnya menyebabkan kematian.

2.1.2

Diagnosis HIV-AIDS
Seseorang terdapat HIV untuk mengetahuinya maka perlu dilakukan
tes, sebelum dan sesudah tes diagnosis HIV akan dilaksankan konseling.
Pelaksanaan konseling HIV telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehtan
RI (Permenkes) Nomor 74 Tahun 2014 mengenai Pedoman Pelaksanaan
Konseling dan tes HIV. Permenkes tersebut, disebutkan bahwa terdapat
dua macam pendektan yang dilakukan untuk konseling dan tes HIV, yaitu:
1) Konseling dan tes HIV atas inisiatif pemberi pelayanan kesehatan
(KTIP), merupakan tes HIV dan konseling yang dilakukan kepada
seorang untuk kepentingan kesehatan dan pengobatan berdasarkan
inisiatif dari pemberi pelayann kesehatan;

2) Konseling dan tes HIV Sukarela (KTS)/Voluntarry Counceling Test


(VCT), merupakan proses konseling sukarela dan tes HIV atas inisiatif
individu yang bersangkutan.
Pelayanan konseling dan tes HIV harus dapat dilaksanakan di setiap
fasilitas pelayanan kesehatan. Pelaksaannya, tes HIV harus mengikuti
prinsip yang telah disepkati secara global yaitu 5 kompnen dasar yang
disebut 5C (inform consent, confidentiality, counseling, correct test result
dan connections to, care,treatment and prevention services) (Kemenkes
RI, 2014):
a. Informed

Consent,

adalah

persetujuan

akan

suatu

tindakan

pemeriksaan laboratorium HIV yang diberikan oleh pasien/klien atau


wali/pengempu setelah mendapatkan dan memahami penjelasan yang
diberikan secara lengkap oleh petugas kesehatan tentangtindakan
medis yang akan dilakukan terhadap pasien/klien tersebut.
b. Condentiality adalah semua isi informasi atau konseling antara klien
dan petugas pemeriksa atau konselor dan hasil tes laboratoriumnya
tidak akan diungkapkan kepada pihak lain tanpa persetujuan
pasien/klien tersebut.
c. Counseling, yaitu proses dialog antara konselor dengan klien bertujuan
untuk memberikan informasi yang jela dan dapat dimengerti klien atau
pasien. Konselor memberikan informasi, waktu, perhatian dan
keahliannya, untuk membantu klien mempelajari keadaan dirinya,
mengenali dan melakukan pemecahan masalah terhadap keterbatasan
yang diberikan lingkungan. Layanan konseling HIV harus dilengkapi
dengan informasi HIV-AIDS, konseling pra-konseling dan tes pasca
tes yang berkualitas baik.
d. Correct test result, hasil tes harus akurat. Layanan tes HIV harus
mengikuti standar pemeriksaan HIV nasional yang berlaku. Hasil tes
harus dikomunikasikan sesegera mungkin kepada pasien/klien secara
pribadi oleh tenaga kesehatan yang memeriksa.
e. Connections to, care, treatment and prevention services, pasien/klien
harus dihubungkan atau dirujuk kelayanan pencegahan, perawatan,
7

dukungan dan pengobatan HIV yang didukung dengan sistem rujukan


yang baik dan terpantau.
Permenkes RI no. 74 tahun 2014 menjelaskan terdapat dua metode
yang dapat dilakukan dalam tes HIV, yaitu tes cepat (Rapid test) dan
ELISA. Tes cepat harus dilakukan sesuai prosedur yang ditetapkan oleh
pabriknya. Hasil tes cepat dapat ditunggu oleh pasien. Tes cepat dapat
dilaksanakan diluar laboratorium, tidak memerlukan peralatan khusus dan
dapat dilaksanakan di fasilitas kesehatan primer oleh paramedik terlatih.
Tes cepat tidak dianjurkan untuk jumlah pasien yang banyak.
Diagnosis

adanya

infeksi

dengan

HIV

dapat

ditegakkan

di

laboratorium dengan ditemukannya antibodi yang khusus terhadap virus


tersebut. Pemeriksaan untuk menemukan adanya antibody tersebut
menggunakan metode ELISA (Enzyme Linked Imunosorbent Assay). Hasil
tes ELISA positif maka dilakukan pengulangan. Jika masih tetap positif
maka selanjutnya dikonfirmasi dengan test yang lebih spesifik yaitu
metode Western Blott. Pemilihan antara menggunakan tes cepat HIV atau
tes ELISA harus mempertimbangkan faktor tatanan tempat pelaksaan tes
HIV, biaya dan ketersediaan perangkat tes, reagen dan peralatan;
pengambilan sampel, transportasi, SDM serta kesediaan pasien untuk
kembali mengambil hasil.

2.1.3

Fase dan Gejala Infeksi HIV-AIDS


Mekanisme utama infeksi HIV dimulai setelah virus masuk
kedalam tubuh pejamu. Setelah masuk kedalam tubuh pejamu, HIV
menyerang sel darah putih (limfosit Th) yang merupakan sumber
kekebalan tubuh untuk menangkal berbagai penyakit infeksi. HIV yang
masuk di limfosit Th, virus memaksa limfosit Th untuk memperbanyak
dirinya, sehingga akhirnya menyebabkan kematian limfosit Th, kematian
limfosit Th itu membuat daya tahan tubuh berkurang, sehingga tubuh
mudah terserang infeksi dari luar (baik virus lain, bakteri, jamur atau
parasit). Kondisi ini menyebabkan kematian pada oang dengan HIVAIDS. Virus HIV selain menyerang limfosit Th, juga memasuki sel tubuh
8

yang lain, organ yang sering terkena adalah otak dan susunan saraf
lainnya. Virus HIV diliputi oleh selubung protein pembungkus yang
sifatnya toksik (racun) terhadap sel, khususnya sel otak serta susunan saraf
pusat dan tepi lainnya, sehingga terjadilah kematian sel otak (Hidayat,
2008).
Gejala klinis penderita AIDS sulit diidentifikasi karena simtom
yang ditujukan pada umumnya bermula dari gejala-gejala umum yang
lazim didapati seperti rasa lelah dan lesu, berat badan menurun secara
drastis, demam yang sering dan berkeringat diwaktu malam, kurang nafsu
makan, bercak-bercak putih di lidah dan didalam mulut, pembengkakan
leher, radang paru-paru, kanker kulit. Manifestasi klinik utama dari
penderita AIDS pada umunya ada tiga hal antara lain tumor, infeksi
oportunistik dan manifestasi neurologi.
Perjalanan infeksi HIV dapat dijelaskan dalam tiga fase, yaitu
(Nasronudin, 2009):
a.

Fase infeksi akut (Sindroma Retroviral Akut)


Fase ini ditandai oleh proses replikasi yang menghasilkan virus-virus
baru (virion) dalam jumlah yang besar. Replikasi virus dalam jumlah
yang besar akan memicu timbulnya sindroma infeksi mononucleosis
akut yakni antara lain: demam, limfadenopati, bercak pada kulit,
faringitis, malaise, dan mual muntah yang timbul sekitar 3-6 minggu
setelah infeksi. Fase ini selanjutnya akan terjadi penurunan jumlah sel
limfosit

T-CD4

dan

kemudian

terjadi

respon

imun

yang

mengakibatkan kenaikan jumlah limfosit T. jumlah limfosit T pada


fase ini masih diatss 500 sel/mm3 dan kemudian akan mengalami
penurunan setelah enam minggu terinfeksi HIV.
b.

Fase infeksi laten


Fase infeksi laten terjadi ketika respon imun sudah dapat
megendalikan jumlah virus dalam darah, sebagian virus masih
menetap didalam tubuh meskipun jarang ditemukan dalam plasma.
Virus terakumulasi didalam kelenjar limfe terperangkap didalam sel
dendritic folikuler dan masih terus mengadakan replikasi, sehingga
9

penurunan limfosit T-CD4 terus terjadi walaupun virion di plasma


jumlahnya sedikit. Fase ini jumlah limfosit T-CD4 menurun hingga
sekitar 500 sampai 200 sel/mm3. Jumlah virus yang bereplikasi setelah
fase primer akan bereplikasi lagi hingga mencapai set point tertentu
yang akan memprediksi onset waktu terjadinya penyakit AIDS.
Jumlah virus kurang dari 1.000 kopi/ml darah, penyakit AIDS
kemungkinan akan terjadi dengan periode laten lebih dari 10 tahun.
Sedangkan jika jumah virus kurang dari 200 kopi/ml darah, infeksi
HIV tidak akan mengarah pada penyakit AIDS. Pasien sebagian besar
dengan jumlah virus lebih dari 100.000 kopi/ml darah mengalami
penurunan jumlah limfosit T-CD4 yang lebih cepat dan mengalami
perkembangan menjadi penyakit AIDS dalam kurun waktu kurang
dari 10 tahun. Fase ini pasien umunya belum menunjukkan gejala
klinis atau asimtomatis dan fase laten berlangusng sekitar 8-10 tahun
(dapat 3-13 tahun) setelah infeksi HIV.
c.

Fase infeksi kronis


Selama fase ini, didalam kelenjar limfa terus terjadi replikasi virus
yang diikuti dengan kerusakan dan kematian sel dendritic folikuler
serta sel limfosit T-CD4. Fungsi kelenjar sebagai perangkat virus
menurun atau bhakan hilang dan virus dicurahkan ke dalam darah.
Respon imun tidk mampu mengatasi jumlah virion yang sangat besar.
Jumlah sel limfosit T-CD4 menurun hingga dibawah 200 sel/mm3,
jumlah virus meningkat dengan cepat sedangkan respon imun semakin
tertekan sehingga pasien semakin rentan terhadap berbagai maam
infeksi sekunder yang dapat disebabkan oleh virus, jamur, protozoa
atau bakteri. Perjalanan infeksi semakin progresif dan mendorong
kearah AIDS, setelah menjadi AIDS pasien jarang bertahan hidup
lebih dari 2 tahun tanpa intervensi terapi.

10

2.1.4. Penanggulangan HIV AIDS di Indonesia


2.1.4.1. Penanggulangan adalah segala upaya yang meliputi pelayanan promotif,
preventif, diagnosis, kuratif dan rehabilitatif yang ditujukan untuk
menurunkan angka kesakitan, angka kematian, membatasi penularan serta
penyebaran penyakit agar wabah tidak meluas ke daerah lain serta
mengurangi dampak negatif yang ditimbulkannya (Permenkes, 2013).
Upaya yang dilakukan meliputi penanggulangan HIV AIDS secara secara
komprehensif dan berkesinambungan yang terdiri atas promosi kesehatan,
pencegahan, diagnosis, pengobatan dan rehabilitasi terhadap individu,
keluarga, dan masyarakat.
2.1.4.2. Penanggulangan HIV/AIDS diatur dalam undang undang yang bertujuan
untuk(Permenkes, 2013);
a. Menurunkan hingga meniadakan infeksi HIV baru
b. Menurunkan hingga meniadakan kematian yang disebabkan oleh
keadaan yang berkaitan dengan AIDS
c. Meniadakan diskriminasi terhadap ODHA
d. Meningkatkan kualitas hidup ODHA
e. Mengurangi dampak sosial ekonomi dari penyakit HIV dan AIDS pada
individu, keluarga dan masyarakat
Program penanggulangan AIDS di Indonesia mempunyai 4 pilar, yang
semuanya menuju pada paradigm Zero new Infection, Zero AIDS-related
death dan Zero Discrimination.Empat pilar tersebut adalah (Pedoman
ARV, Kemenkes, 2011) :
1) Pencegahan (prevention): yang meliputi pencegahan, penularan HIV
melalui transmisi seksual dan alat suntik, pencegahan di lembaga
pemasyarakatan dan rumah tahanan, pencegahan HIV dari ibu ke bayi
(Prevention Mother to Child Transmission, PMTCT), pencegahan
dikalangan pelanggan penjaja seks, dan lain lain;
2) Perawatan, dukungan dan pengobatan (PDP); yang meliputi penguatan
dan penegmbangan layanan kesehatan, pencegahan dan pengobatan
infeksi oportunistik, pengobatan antiretroviral dan dukungan serta
pendidikan dan pelatihan bagi ODHA. Program PDP terutama
11

ditujukan untuk menurunkan angka kesakitan dan rawat inap, angka


kematian yang berhubungan dengan AIDS, dan meningkatkan kualitas
hidup orang yang terinfeksi HIV(berbagai stadium). Pencapaian tujuan
tersebut dapat dilakukan antara lain dengan pemberian terapi
antiretroviral(ARV)
3) Mitigasi dampak berupa dukungan psikososio ekonomi
4) Penciptaan lingkungan yang kondusif (creating enabling environment)
yang meliputi program peningkatan lingkungan yang kondusif adalah
dengan penguatan kelembagaan dan manajemen, manajemen program
serta penyelarasan kebijakan dan lain lain.
Upaya penanggulangan HIV AIDS dituangkan oleh pemerintah dalam
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2013,
tentang Penanggulangan HIV AIDS, meliputi penanggulangan HIV AIDS
secara komprehensif dan berkesinambungan yang terdiri dari promosi
kesehatan, pencegahan, diagnosis, pengobatan dan rehabilitasi terhadap
individu, keluarga dan masyarakat.
2.1.4.3. Penanggulangan HIV dan AIDS harus menerapkan prinsip sebagai
berikut ((Permenkes 21, 2013):
1) Memperhatikan nilai-nilai agama, budaya, dan norma kemasyarakatan;
2) Menghormati harkat dan martabat manusia serta memperhatikan
keadilan dan kesetaraan gender;
3) Kegiatan diarahkan untuk mempertahankan dan memperkokoh
ketahanan dan kesejahteraan keluarga;
4) Kegiatan terintegrasi dengan program pembangunan di tingkat nasional,
provinsi dan kabupaten/kota;
5) Kegiatan dilakukan secara sistimatis dan terpadu, mulai dari
peningkatan perilaku hidup sehat, pencegahan penyakit, pengobatan,
perawatan dandukungan bagi yang terinfeksi HIV (ODHA) serta orangorang terdampak HIV dan AIDS;
6) Kegiatan dilakukan oleh masyarakat dan Pemerintah berdasarkan
kemitraan;

12

7) Melibatkan peran aktif populasi kunci dan ODHA serta orang-orang


yang terdampak HIV dan AIDS;
8) Memberikan dukungan kepada ODHA dan orang-orang yang
terdampak HIV dan AIDS agar dapat mempertahankan kehidupan
sosial ekonomi yang layak dan produktif
2.1.4.4.Srategi yang digunakan dalam kegiatan penanggulangan HIV dan
AIDS meliputi (Permenkes 21, 2013);
1) Meningkatkan pemberdayaan masyarakat dalam penanggulangan HIV
dan AIDS melalui kerjasama nasional, regional, dan global dalam aspek
legal,organisasi, pembiayaan, fasilitas pelayanan kesehatan dan sumber
daya manusia
2) Memprioritaskan komitmen nasional dan internasional
3) Meningkatkan advokasi, sosialisasi, dan mengembangkan kapasitas
4) Meningkatkan upaya penanggulangan HIV dan AIDS yang merata,
terjangkau, bermutu, dan berkeadilan serta berbasis bukti, dengan
mengutamakan pada upaya preventif dan promotif
5) Meningkatkan jangkauan pelayanan pada kelompok masyarakat
berisiko tinggi, daerah tertinggal, terpencil, perbatasan dan kepulauan
serta bermasalah kesehatan
6) Meningkatkan pembiayaan penanggulangan HIV dan AIDS
7) Meningkatkan pengembangan dan pemberdayaan sumber daya manusia
yang merata dan bermutu dalam penanggulangan HIV dan AIDS
8) Meningkatkan
pemeriksaan

ketersediaan,

dan

keterjangkauan

pengobatan,

penunjang HIV dan AIDS serta menjamin keamanan,

kemanfaatan, dan mutu sediaan obat dan bahan/alat yang diperlukan


dalam penanggulangan HIV dan AIDS
9) Meningkatkan manajemen penanggulangan HIV dan AIDS yang
akuntabel, transparan, berdayaguna dan berhasil guna
Pada prinsipnya upaya penanggulangan HIV AIDS perlu melibatkan
semua sektor pembangunan melalui program yang terarah, terpadu dan
menyeluruh. Prinsip dasar penanggulangan HIV/AIDS antara lain
(Syamsul, 2015)
13

1) Upaya

penanggulangan

HIV/AIDS

dilaksanakan

bersama

oleh

masyarakat dan pemerintah


2) Setiap upaya penanggulangan harus mencerminkan nilai-nilai agama dan
budaya yang ada di Indonesia.
3) Setiap kegiatan diarahkan untuk mempertahankan dan memperkukuh
ketahanan dan kesejahteraan keluarga, serta sistem dukungan sosial yang
mengakar dalam masyarakat.
4) Pencegahan HIV/AIDS diarahkan pada upaya pendidikan dan penyuluhan
untuk memantapkan perilaku yang baik dan mengubah perilaku yang
berisiko tinggi.
5) Setiap orang berhak untuk mendapat informasi yang benar untuk
melindungi diri dan orang lain terhadap infeksi HIV
2.1.4.4. Kegiatan penanggulangan HIV AIDS diatur dalam Permenkes 21
tahun 2013 meliputi
1) Kegiatan penanggulangan
(1) Promosi keshatan
(2) Pencegahan penularan HIV
(3) Pemeriksaan diagnosis HIV
(4) Pengobatan, perawatan dan dukungan
(5) Rehabilitasi.
2) Kegiatan diselenggarakan oleh Pemerintah dan masyarakat.
3) Penyelenggaraan

kegiatan

dilakukan

dalam

bentuk

layanan

komprehensif dan berkesinambungan.


4) Layanan komprehensif dan berkesinambungan merupakan upaya yang
meliputi semua bentuk layanan HIV dan AIDS yang dilakukan secara
paripurna mulai dari rumah, masyarakat sampai ke fasilitas pelayanan
kesehatan.
2.1.4.5.Upaya Promosi kesehatan (Permenkes 21, tahun 2013)
1) Promosi Kesehatan
(1) Promosi kesehatan ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan yang
benar dan komprehensif mengenai pencegahan penularan HIV dan
menghilangkan stigma serta diskriminasi.
14

(2) Promosi kesehatan diberikan dalam bentuk advokasi, bina suasana,


pemberdayaan, kemitraan dan peran serta masyarakat sesuai dengan
kondisi sosial budaya serta didukung kebijakan publik.
(3) Promosi kesehatan dilakukan oleh tenaga kesehatan dan tenaga non
kesehatan terlatih.
(4) Sasaran promosi kesehatan meliputi pembuat kebijakan, sektor
swasta, organisasi kemasyarakatan dan masyarakat
(5) Masyarakat diutamakan pada populasi sasaran dan populasi kunci.
(6) Populasi sasaran merupakan populasi yang menjadi sasaran program.
Populasi kunci meliputi
a. Pengguna napza suntik
b. Wanita Pekerja Seks (WPS) langsung maupun tidak langsung;
c. Pelanggan/ pasangan seks WPS
d. Gay, waria, dan Laki pelanggan/ pasangan Seks dengan sesame
Laki (LSL)
e. Warga binaan lapas/rutan.
Kegiatan Promosi kesehatan dilakukan dengan
1) Promosi kesehatan dapat dilakukan terintegrasi dengan pelayanan
kesehatan maupun program promosi kesehatan lainnya.
Promosi kesehatan meliputi
(1) Iklan layanan masyarakat
(2) Kampanye penggunaan kondom pada setiap hubungan seks
berisiko penularan penyakit
(3) Promosi kesehatan bagi remaja dan dewasa muda
(4) Peningkatan

kapasitas

dalam

promosi

pencegahan

penyalahgunaan napza dan penularan HIV kepada tenaga


kesehatan, tenaga non kesehatan yang terlatih dan program
promosi kesehatan lainnya.
2) Promosi kesehatan yang terintegrasi pada pelayanan kesehatan
diutamakan pada pelayanan
(1) Kesehatan peduli remaja
(2) Kesehatan reproduksi dan keluarga berencana
15

(3) Pemeriksaan asuhan antenatal


(4) Infeksi menular seksual
(5) Rehabilitasi napza
(6) Tuberkulosis
2.1.5.Penatalaksanaan Pasien Human Immunodeficiency Virus (HIV) /
Acquired Imunnodeficiency Syndrome (AIDS)
Penanganan pada penderita HIV/AIDS di Indonesia berpedoman pada tata
Laksana Klinis Infeksi HIV dan Terapi Antiretroviral(Kemenkes, 2011), meliputi
perawatan (care), dukungan (support), dan pengobatan (treatment). Pasien sudah
ditetapkan positif HIV/AIDS maka langkah selanjutnya adalah menentukan
stadium klinis HIV/AIDS menurut WHO, skrining TB dan infeksi oportunistik
lainnya, pemeriksaan CD4 untuk menentukan PPK (pengobatan pencegahan
kotrimoksasol) dan ARV. Pemberian PPK jika tidak tersedia pemeriksaan CD4,
identifikasi kepatuhan, positive prevention dan konseling KB. Setelah langkah
langkah tersebut pasien dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan kesesuaian
pemberian terapi ARV yaitu pasien yang memenuhi syarat ARV, pasien belum
memenuhi syarat ARV dan pasien ada kendala kepatuhan (Kemenkes, 2011).
Pasien yang memenuhi syarat pemberian ARV bila tersedia pemeriksaan CD4
berdasarkan Kemenkes (2011) adalah:
1) Stadium III dan IV WHO, atau jumlah CD4 =350/mm
2) Jumlah CD4 > 350 - =500 /mm tanpa memandang stadium WHO
3) Pasien dengan koinfeksi TBC aktif tanpa memandang jumlah CD4 dan
stadium WHO
4) Pasien dengan koinfeksi HBV dengan dasar penyakit liver kronis tanpa
memandang jumlah CD4 dan stadium WHO
5) Pada pasangan dengan HIV negatif dan HIV positif untuk mengurangi
transmisi penyakit menjadi pasangan yang tidak infektif
6) Wanita hamil dan menyusui dengan HIV.
Lini pertama obat ARV yang ditetapkan oleh pemerintah adalah 2 NRTIs
(nucleoside reverse transcriptase inhibitors) disertai 1 NNRTIs (non-nucleoside
reverse transcriptase inhibitors), misalnya zidovudin diberikan bersama
lamivudin dan nevirapin. 2 NRTIs dan PIs (protease inhibitor) yang diperkuat
16

ritonavir merupakan lini ke dua, sedangkan lini ketiga adalah gabungan antara
integrase inhibitor, generasi ke dua dari NNRTIs dan PIs. Pasien HIV/AIDS yang
memulai terapi dengan ARV, data diri lengkap mereka akan dimasukkan ke dalam
rekam medis dan register terapi ARV. Pasien datang ke klinik VCT tiap bulan
sekali dengan waktu yang sudah ditetapkan yang tertera pada rekam medis dan
diberikan persediaan obat ARV untuk persediaan bulan selanjutnya. Hasil
tatalaksana pada pasien HIV/AIDS dapat diklasifikasikan menjadi terapi ARV
yang terkontrol, berhenti terapi, rujuk keluar, meninggal dunia, lost followup, dan
tidak diketahui (Kemenkes, 2011).
Hasil pemberian terapi ARV secara signifikan memberikan hasil yang baik
bagipasien HIV/AIDS. Pemberian terapi ARV selama infeksi HIV akut
memberikan efek yang baik pada pasien seperti memperpendek durasi
simptomatik infeksi, mengurangi sel yang terinfeksi, menyediakan cadangan
respon imun yang spesifik dan menurunkan setpoint virus dalam jangka waktu
yang lama. Beberapa studi mengatakan bahwa terapi pada infeksi HIV akut dapat
menurunkan viral load dan meningkatkan respon spesifik sel T helper (Kemenkes,
2011).
Pemberian terapi ARV merupakan terapi seumur hidup karena HIV/AIDS
sampai sekarang belum dapat disembuhkan. Tujuan pemberian ARV adalah
menjaga viral load dibawah 50 kopi/ml, dikatakan gagal terapi jika viral load
mencapai 1000 kopi/ml. Keberhasilan terapi ARV memerlukan kepatuhan terapi
bagi pasien HIV/AIDS. Kepatuhan pasien harus selalu dipantau dan dievaluasi
secara teratur pada setiap kunjungan. Kegagalan terapi ARV sering diakibatkan
oleh ketidakpatuhan pasien mengkonsumsi ARV (Kemenkes 2011).
2.1.6. Faktor Resiko HIV
Berdasarkan Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan RI tahun
2008, faktor-faktor yang mempercepat terjadinya penyebaran HIV pada
perempuan dapat ditelusuri melalui tiga unit sosial, yaitu:
1) Tingkat individu
Penyebab langsung dari penyebaran adalah terjadinya penularan inveksi
virus HIV, kerentana pada IMS dan tidak adanya ketahana psikososial,
karena hak-hak dan keamanan sosial tdak terjamin.
17

2) Tingkat keluarga
Penyebab tidak langsung meliputi faktor-faktor yang berkaitan dengan
kurangnya perhatian dan perlindungan terhadap perempuan dan anakanak, sehingga muncul

permasalahan

gender. Kondisi

ekonomi,

pembatasan wewenang dalam mengambil keputusan di tingkat keluarga,


tidak memadainya tingat kesehatan perempuan dan kuangnya akses
terhadap kebutuhna hidup dasar.
3) Pada tingkat masyarakat
Penyebab tidak langsung meliputi faktor-faktor kemiskinan, pendidikan
yang rendah, rendahnya dukungan kebijakan dan politik, kurangnya peran
perempuan dalam proses pengambilan keputusan, rendahnya keterlibatan
masyarakat dan rendahnya aksesibilitas masyarakat terhadap upaya
penyembuhan.

2.1.7. Pencegahan penularan HIV-AIDS


Pencegahan penularan HIV telah dijelaskan dalam Permenkes Nomor
21 tahun 2013 tentang penangguangan HIV-AIDS. Pencegahan penularan
HIV dapat dicapai secara efektif dengan cara menerapkan pola hidup aman
dan tidak berisiko. Pencegahan penulatan HIV dapat dilakukan dengan
upaya:
1) Pencegahan penularan HIV melalui hubungan seksual
Upaya pencegahan penularan HIV melalui hubungan seksual
dilakukan melalui upaya untuk:
(1) Tidak

melakukan

hubungan

seksual

sebelum

menikah

(Abstinensia);
(2) Setia dengan pasangan (Be Faithful)
(3) Menggunakan kondom secara konsisten (Condom use)
(4) Menghindari penyalahgunaan obat/zat adiktif (no Drug)
(5) Meningkatkan kemampuan pencegahan melalui edukasi termasuk
mengobati IMS sedini mungkin (Education)
(6) Melakukan pencegahan lain, antara lain melalui sirkumsisi.
2) Pencegahan penularan HIV melalui hubungan non seksual
18

Pencegahan penularan HIV melalui hubungan non seksual meliputi:


(1)

Uji saring darah pendonor

(2)

Pencegahan infeksi HIV pada tindakan medis dan non medis yang
melukai tubuh

(3)

Pengurangan dampak buruk pada pengguna napza suntik


(penasun) yang dilakukan dengan:
a.

Program layanan alat suntik steril (LASS) dengan konseling


perubahan perilaku serta dukungan psikososial

b.

Mendorong pengguna napza suntik khususnya pecandu


opiate menjalani prigram terapi rumatan

c.

Mendorong pengguna napza suntik untuk melakukan


pencegahan penularan seksual

d.

Layanan koseling dan tes HIV serta pencegahan/imunisasi


hepatitis.

3) Pencegahan penularan HIV dari ibu ke anaknya(PPIA)


Pencegahan penularan HIV dari ibu ke anaknya dilaksanakan melalui
empat kegiatan meliputi:
1)

Pencegahan penularan HIV pada perempuan usia reproduktif

2)

Pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan pada perempuan


dengan HIV

3)

Pencegahan penularan HIV dari ibu hamil dengan HIV ke bayi


yang dikandungnya

4)

Pemberian dukungan psikologis, sosial dan perawatan kepada ibu


dengan HIV beserta anak dan keluarga.

2.1.8

SUFA (Strategic Use of ARV)


Sewindu terakhir, perkembangan terus dilakukan dalam upaya
pengendalian HIV/AIDS di Indonesia mulai dari pencegahan penularan
dari jarum suntik disebut Harm Reduction pada tahun 2006, pencegahan
Penularan Melalui Transmisi Seksual (PMTS) mulai tahun 2010,
penguatan Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak (PPIA) pda tahun
2011, pengembangan Layanan Komprehensif Berkesinambungan (LKB)
19

di tingkat Puskesmas pada tahun 2012, hingga Kemenkes RI meluncurkan


inisiatif penggunaan Antiretroviral (ARV) untuk pengobatan dan
pencegahan atau dikenal dengan Strategic Use of ARV (SUFA) pada
pertengahan tahun 2013, dasar Kemenkes RI dalam mengambil kebijakan
ini adalah Treatment is prevention: HPTN 052 study shows 96% reduction
in

transmission

when

HIV-positive

partner

starts

treatment

early dan WHO issues new HIV recommendations calling for earlier ARV
initiation.

Tujuan

dari

SUFA

meningkatkan

cakupan

tes

HIV,

meningkatkan cakupan ART serta meningkatkan retensi terhadap ART.


SUFA telah dilaksanakan di 13 Kabupaten/Kota dan akan SUFA adalah
pemakaian ARV secara langsung begitu diketahui HIV positif tanpa
memandang nilai CD4, dikenal dengan Test and Treat. Tujuan lain dari
SUFA adalah mencegah penularan (menurunkan viral load) yang dikenal
dengan Treatment as Prevention (TasP). Implementasi SUFA menekankan
pada

TOP,

merupakan

kepanjangan

dari

Temukan,

Obati,

dan

Pertahankan. Temukan yang positif memiliki arti menawarkan tes HIV


kepada semua orang yang memiliki perilaku berisiko, penawaran tes HIV
rutin kepada ibu hamil, pasien TB, Hepatitis, IMS, pasangan ODHA.
Populasi kunci yang status HIV masih negatif, dilakukan tes ulang
minimal setiap 6 bulan selanjutnya adalah obati. Ditemukan, yaitu
memberikan pengobatan bagi mereka yang sudah memenuhi kriteria
diantaranya memulai pengobatan Antiretroviral (ARV) secara dini bila
jumlah CD4 350 atau memulai pengobatan ARV tanpa melihat jumlah
CD4-nya pada ODHA dengan stadium klinis AIDS 3 atau 4, ibu hamil,
pasien TB, pasien Hepatitis dan populasi kunci yang HIV (+). Obat ARV
dapat berupa kombinasi beberapa obat atau obat Kombinasi Dosis Tetap
atau Fixed Dose Combination (KDT/FDC). Pertahankan yang diobati
arrtinya, memastikan pasien patuh minum obat seumur hidup dengan
memberikan pendampingan terutama pada awal pengobatan, serta
memberikan dukungan yang tepat dari keluarga, komunitas, kelompok
dukungan sebaya dan layanan kesehatan.
Sebelum adanya SUFA
20

1)

Ketika masih menunggu CD4 <350, sekitar 75% dari sekitar 800 WPS
(Wanita Penjaja Seks) yang HIV positif (hasil VCT) di Denpasar tidak
memakai ARV, dari 800 hanya 200 yang pernah memakai ARV. 600
tidak memakai ARV dengan alasan CD4 masih tinggi, belum siap
memakai ARV, takut efek samping dan alasan-alasan lain.

2)

Odha WPS yang belum memakai ARV (600 orang), ternyata kebanyakan
hilang kontak dengan petugas lapangan dan sekitar setengah dari Odha
tersebut terdengar berita bahwa telah meninggal di kampungnya.

3)

Sehingga penyedia layanan ARV kehilangan kesempatan (lost of


opportunity)

Setelah adanya SUFA:


1)

WPS yang menjalani test HIV (melalui VCT) dan hasilnya HIV positif
langsung ditawarkan ARV jauh lebih banyak langsung mau menggunakan
ARV.

2)

Karena mereka langsung memakai ARV maka kontak antara WPS dengan
pemberi layanan ARV (CST) dan juga dengan pendamping (bila ada
pendampingnya) menjadi lebih intensif karena mereka memang harus
datang ke klinik untuk follow-up dan mengambil ARV.

3)

Memang terdapat cukup banyak efek samping FDC Tenofovir,


Lamivudine, Efavirenz pada WPS terutama pada 1 bulan pertama
pemakaian. Pendampingan WPS tidak bagus dilakukan, maka akan banyak
yang berhenti.

4)

Selain pendampingan harus baik, juga harus ditumbuhkan rasa percaya


dari WPS kepada pemberi pelayanan ARV (dokter, perawat, dll).

5)

Beberapa kasus, karena efek samping agak berat, maka WPS harus tidak
bekerja dalam 1 minggu atau lebih sehingga perlu diperhitungkan biaya
makan dan kehidupan sehari-hari WPS tersebut.

6)

Bila WPS telah melewati masa efek samping, maka tidak lagi diperlukan
pendampingan yang ketat namun faktor kepercayaan pada pemberi
pelayanan ARV harus tetap dijaga, hal ini untuk menjamin WPS mau
untuk datang kembali.

21

Peningkatan keberhasilan program SUFA pada Odha WPS, maka


tetap diperlukan pendampingan dan rasa percaya WPS kepada penyedia
layanan ARV. sedangkan untuk pembuktian secara ilmiah maka
diperlukan pemeriksaan Viral Load dalam 6 bulan setelah pemberian ARV
(SE Menkes RI No 129 Tahun 2013 tentang Pelaksanaan Pengendalian
HIV-AIDS dan Infeksi Menular Seksual, Consolidated Guidelines on the
Use of Antiretroviral Drugs for Treating and Preventing HIV Infection).
2.1.9

Pengobatan HIV-AIDS
Pengobatan HIV bertujuan untuk mengurangi risiko penularan
HIV,

menghambat

perburukan

infeksi

oportunistik

dengan

cara

menurunkan jumlah virus (viral load) HIV dalam darah, sehingga dapat
meningkatkan kualitas hidup pengidap HIV (Kementerian Kesehatan
Indonesia, 2014). Pengobatan HIV harus dilakukan bersamaan dengan
penapisan dan terapi infeksi oportunistik, pemberian kondom dan
konseling. Pengobatan HIV-AIDS dilakukan dengan cara pengobatan
terapeutik, profilaksis dan penunjang. Pengobatan terapeutik meliputi
pengobatan ARV, pengobatan IMS dan pengobatan infeksi oportunitis.
Pengobatan profilaksis meliputi pemberian ARV pasca pajanan dan
kotrimoksasol untuk terapi dan profilaksis. Pengobatan ARV diberikan
kepada penderita HIV yang telah menunjukkan stadium klinis 3 atau 4
atau jumlah sel limfosit T CD4 kurang dari atau sama dengan 350 sel/m3,
ibu hamil dengan HIV dan penderita HIV dengan tuberculosis. Pengobatan
ARV dimulai dirumah sakit dan dapat dilanjutkan di puskesmas atau
fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Pengobatan penunjangmeliputi
pengoabtan suportif, adjuvant dan perbaikan gizi.
2.1.10 Pengobatan Antiretroviral
Pengobatan anti retroviral merupakan bagian dari pengobatan HIV
dan AIDS. Penggunaan obat Antiretroviral (ARV) kombinasi pada tahun
1996 mendorong revolusi dalam pengobatan orang dengan HIV dan AIDS
(ODHA) seluruh dunia, meskipun belum mampu menyembuhkan HIV
secara menyeluruh dan menambah tantangan dalam hal efek samping serta
resistansi kronis terhadap obat. Indonesia, sejak tahun 1999 telah terjadi
22

peningkatan jumlah ODHA pada kelompok orang berperilaku risiko tinggi


tertular HIV yaitu para Pekerja Seks (PS) dan pengguna NAPZA suntikan
(penasun), kemudian diikuti dengan peningkatan pada kelompok lelaki
yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL) dan perempuan berisiko
rendah. Prevalensi rerata sebesar 0,4% sebagian besar wilayah di
Indonesia termasuk dalam kategori daerah dengan tingkat epidemi HIV
terkonsentrasi, sementara itu Papua sudah memasuki tingkat epidemi
meluas dengan prevalensi HIV sebesar 2,3%. Hasil estimasi tahun 2012, di
Indonesia terdapat 591.823 orang dengan HIV positif dan tersebar di
seluruh provinsi. Laporan bulanan Perawatan HIV dan AIDS di Indonesia
sampai dengan November 2014 tercatat jumlah ODHA yang mendapatkan
terapi ARV sebanyak 49.217 dari 34 provinsi dan 300 kabupaten/kota.
Kepatuhan minum obat ARV dipengaruhi oleh berbagai macam faktor
antara lain, pengetahuan tentang terapi ARV, persepsi pasien tentang
manfaat terapi, self efficacy, efek samping terapi, kemudahan akses
pelayanan, ketersediaan obat ARV. Memulai terapi ARV perlu dilakukan
pemeriksaan jumlah CD4 dan penentuan stadium klinis infeksi HIV
terlebih dahulu. WHO memberikan rekomendasi saat memulai terapi
kepada pasien ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) berdasarkan jumlah
CD4 dan stadium klinis HIV yakni pasien memiliki tingkat kepatuhan
yang rendah terhadap pengobatan ARV mengakibatkan adanya kegagalan
terapi. Resiko kegagalan terapi timbul jika pasien sering lupa untuk
minum obat. Penelitian menunjukkan bahwa untuk mencapai tingkat
supresi virus yang optimal, setidaknya 95% dari semua dosis tidak boleh
terlupakan. Kegagalan terapi seseorang ditentukan berdasarkan kriteria
klinis, imunologis, maupun virologis.
Kriteria kegagalan terapi menurut WHO yakni Jumlah CD4 saat
memulai pengobatan memang berdampak pada harapan hidup pasien
HIV/AIDS. Pasien dengan HIV yang menjalani terapi ARV dengan baik
disertai dengan jumlah CD4 di atas 500 memiliki tingkat kematian yang
serupa dengan pasien yang tidak terinfeksi HIV, namun hal ini tidak
terjadi pada pasien HIV dengan jumlah CD4 antara 350-500. Terdapat
23

beberapa faktor yang menjadi penyebab keterlambatan diagnosis, antara


lain ketidaktahuan atau kurangnya pengetahuan serta faktor sosial
ekonomi, stigma, hambatan keuangan, pengetahuan dari penyedia
pelayanan kesehatan. Terdapat bukti yang kuat bahwa laki-laki yang
disirkumsisi akan mengurangi risiko terinfeksi HIV melalui hubungan seks
heteroseksual sebesar 60%. WHO merekomendasikan bahwa sirkumsisi
pada laki-laki bisa dipertimbangkan sebagai pencegahan terhadap infeksi
HIV.
Pengobatan antiretroviral diberikan kepada (Permenkes, 2014);
1) Penderita HIV dewasa dan anak usia 5 (lima) tahun ke atas yang telah
menunjukkan stadium klinis 3 atau 4 atau jumlah sel Limfosit T CD4
kurang dari atau sama dengan 350 sel/mm3
2) Ibu hamil dengan HIV
3) Bayi lahir dari ibu dengan HIV
4) Penderita HIV bayi atau anak usia kurang dari 5 (lima) tahun
5) Penderita HIV dengan tuberculosis
6) Penderita HIV dengan hepatitis B dan hepatitis C
7) Penderita HIV pada populasi kunci (PS, penasun, LSL, waria) dan
kelompok khusus: pasien hepatitis, ibu hamil, pasangan serodiskordan,
pasien TB, pasien Infeksi Menular Seksual (IMS), dan Warga Binaan
Permasyarakatan (WBP).
8) Penderita HIV yang pasangannya negative dan atau
9) Penderita HIV pada populasi umum yang tinggal di daerah epidemi
HIV meluas
Pengobatan antiretroviral diberikan setelah mendapatkan konseling,
memiliki orang terdekat sebagai pengingat atau Pemantau Meminum Obat
(PMO) dan patuh meminum obat seumur hidup.
Konseling dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
Pengobatan antiretroviral dapat diberikan secara komprehensif dengan
pengobatan infeksi oportunistik dan komorbiditas serta pengobatan
penunjang lain yang diperlukan.
24

Pengobatan antiretroviral dimulai di rumah sakit yang sekurangkurangnya


kelas C dan dapat dilanjutkan di puskesmas atau fasilitas pelayanan
kesehatan lainnya yang memiliki kemampuan pengobatan antiretroviral.
Pada daerah dengan tingkat epidemi HIV meluas dan terkonsentrasi,
pengobatan antiretroviral dapat di mulai di puskesmas atau fasilitas
pelayanan kesehatan lainnya yang memiliki kemampuan pengobatan
antiretroviral.
Pedoman pengobatan antiretroviral merupakan Pedoman Nasional
Pelayanan Kedokteran untuk infeksi HIV dan AIDS yang harus dijadikan
acuan bagi pemberi pelayanan kesehatan dalam melaksanakan pengobatan
antiretroviral, dan bagi pengelola program, organisasi profesi atau
pemangku

kepentingan

lainnya

dalam

menunjang

pelaksanaan

pengobatan antiretroviral.
2.1.10.1Persiapan Pemberian ARV
Prinsip pemberian ARV adalah harus menggunakan 3 jenis obat
yang ketiganya harus terserap dan berada dalam dosis terapeutik dalam
darah, dikenal dengan highly active antiretroviral therapy (HAART).
Istilah HAART sering disingkat menjadi ART (antiretroviral therapy)
atau terapi ARV. Pemerintah menetapkan paduan yang digunakan dalam
pengobatan ARV dengan berdasarkan pada 5 aspek yaitu efektivitas, efek
samping/toksisitas, interaksi obat, kepatuhan, dan harga obat. Konseling
terapi yang memadai sangat penting untuk terapi seumur hidup dan
keberhasilan terapi jangka panjang. Isi dari konseling terapi ini termasuk:
kepatuhan minum obat, potensi/kemungkinan risiko efek samping atau
efek yang tidak diharapkan atau terjadinya sindrom pulih imun (Immune
Reconstitution Inflammatory Syndrome/IRIS) setelah memulai terapi ARV,
terutama pada ODHA dengan stadium klinis lanjut atau jumlah
Paduan ART Lini Pertama
Pilihan paduan ART lini pertama berikut ini berlaku untuk ODHA yang
belum pernah mendapatkan ARV sebelumnya (naive ARV).
1) Paduan ART lini pertama pada anak usia 5 tahun ke atas dan dewasa

25

termasuk ibu hamil dan menyusui, ODHA koinfeksi hepatitis B dan


ODHA dengan TB

Tabel 2.1 ARV lini pertama untuk dewasa.

Jangan memulai TDF jika creatine clearance test (CCT) hitung < 50
ml/menit, atau pada kasus diabetes lama, hipertensi tak terkontrol dan
gagal ginjal
Jangan memulai dengan AZT jika Hb < 10 g/dL sebelum terapi
Kombinasi 3 dosis tetap (KDT) yang tersedia: TDF + 3TC + EFV

2) Paduan ART lini pertama pada anak usia kurang dari 5 tahun
Paduan ART lini pertama pada anak sama seperti orang dewasa, yaitu
menggunakan kombinasi 2 NRTI dan 1 NNRTI.

Tabel 2.2 ARV lini pertama pada anak <5 tahun

Zidovudin (AZT) merupakan pilihan utama. Namun bila Hb anak < 7,5
g/dl maka dipertimbangkan pemberian Stavudin(d4T).

26

Adanya risiko efek samping pada penggunaan d4T jangka panjang, maka
dipertimbangkan mengubah d4T ke AZT (bila Hb anak > 10 gr/dl) setelah
pemakaian 6 12 bulan. Bila terdapat efek anemia berulang maka dapat
kembali ke d4T.
Tenofovir saat ini dapat digunakan pada anak usia di atas 2 tahun. Selain
itu perlu dipertimbangkan efek samping osteoporosis pada tulang anak
yang sedang bertumbuh karena penggunaan ARV diharapkan tidak
mengganggu pertumbuhan tinggi badan.
EFV dapat digunakan pada anak 3 tahun atau BB 10 kg, jangan
diberikan pada anak dengan gangguan psikiatrik berat. EFV adalah pilihan
pada anak dengan TB. Jika berat badan anak memungkinkan, sebaiknya
gunakan KDT.
Paduan ARV Lini Kedua
1) Paduan ARV lini kedua pada remaja dan dewasa
Resistansi silang dalam kelas ARV yang sama terjadi pada mereka yang
mengalami kegagalan terapi. Resistansi terjadi ketika HIV terus berproliferasi
meskipun dalam terapi ARV, jika kegagalan terapi terjadi dengan paduan
NNRTI atau 3TC, hampir pasti terjadi resistansi terhadap seluruh NNRTI dan
3TC. Penggunaan ARV menggunakan kombinasi 2 NRTI + boosted PI
menjadi rekomendasi sebagai terapi pilihan lini kedua untuk dewasa, remaja,
dan juga anak dengan paduan berbasis NNRTI, yang digunakan sebagai lini
pertama.
Prinsip pemilihan paduan ARV lini kedua adalah pilih kelas obat ARV
sebanyak mungkin, dan bila kelas obat yang sama akan dipilih maka pilihlah
obat yang sama sekali belum dipakai sebelumnya. Anak dengan paduan
berbasis PI untuk lini pertama, diubah (switch) ke NNRTI atau tetap berbasis
PI namun sesuaikan dengan umur yang direkomendasikan.

Tabel 2.3 Panduan ARV Lini kedua pada remaja dan dewasa.

27

Rifampisin sebaiknya tidak digunakan pada pemakaian LPV/r. Paduan


OAT yang dianjurkan adalah 2SHZE, selanjutnya diteruskan dengan 4HE
dengan evaluasi rutin kelainan mata. Namun, pada infeksi meningitis TB
yang perlu tetap menggunakan rifampisin maka LPV/r dapat digunakan
dengan dosis ganda LPV/r 800 mg/200 mg 2x sehari atau 2 x 2 tablet.

Tabel 2.4 Panduan ART Lini Kedua pada anak

Paduan ART Lini Ketiga


Kegagalan lini kedua jika terjadi maka perlu dilakukan terapi
penyelamatan yang efektif. Kriteria digunakan untuk penentuan kegagalan terapi
lini kedua harus menggunakan kriteria virologis (pemeriksaan HIV RNA seperti
pada penentuan gagal terapi lini pertama, penentuan kegagalan terapi lini kedua
harus dilakukan saat ODHA menggunakan ART lini kedua minimal 6 bulan
dalam keadaan kepatuhan yang baik). Tes resistansi genotyping diwajibkan
sebelum pindah ke lini ketiga. Penentuan indikasi dan memulai lini ketiga,

28

diperlukan konsultasi dengan rumah sakit rujukan yang sudah mempunyai


pengalaman.
Tabel 2.5 Paduan ART lini ketiga pada dewasa dan anak.

2.1.11 Pencatatan dan Pelaporan kasus HIV


Perawatan HIV yang berlangsung seumur hidup yang efektif, termasuk
pemberian terapi antiretroviral (ART), memerlukan pencatatan informasi pasien
yang penting yang direkam sebagai bagian dari rekam medis sejak pasien
diketahui

menderita

infeksi

HIV,

perawatan

follow-up

dan

riwayat

pengobatannya. Pemberi layanan kesehatan dalam tim medis (seperti dokter,


perawat, konselor, psikolog) perlu mengetahui rincian data klinis dan apa yang
dilakukan pada kunjungan yang lalu dan kemudian harus dilaporkan kepada
Dinkes Kabupaten/Kota, Dinkes Provinsi dan Kementerian Kesehatan. Pencatatan
dan pelaporan ini dapat dimanfaatkan oleh tim medis dalam melihat kemajuan
pengobatan dan selain itu berguna bagi program untuk perencanaan selanjutnya.
Prinsipnya, pencatatan dan pelaporan perawatan HIV termasuk pemberian ART
adalah termasuk dalam sistem monitoring dan evaluasi tatalaksana ARV yang
merupakan bagian dari sistem monitoring dan evaluasi program penanggulangan
HIV dan AIDS serta IMS Nasional. Data semua dari fasilitas layanan kesehatan
pemerintah dan non-pemerintah yang menyelenggarakan layanan perawatan dan
pengobatan HIV, harus mengikuti pedoman monitoring dan evaluasi nasional dan
terintegrasi dalam sistem informasi di tingkat kabupaten/kota, provinsi dan
nasional, terutama dalam pengumpulan semua indikator yang terpilah dalam
kelompok populasi.

2.1.11.1Pencatatan
Pencatatan perawatan HIV dan ART berisi informasi pasien yang dicatat
secara baku untuk semua pasien yang menderita infeksi HIV dan harus
29

diperbaharui pada setiap kunjungan pasien dengan menggunakan formulir yang


baku. Dokumen yang digunakan dalam pencatatan perawatan HIV dan ART
adalah sebagai berikut :
i.

Formulir Ikhtisar Perawatan HIV dan ART (Formulir 1)


Ikhtisar Perawatan HIV dan ART yang dicatat adalah:
Data Identitas Pasien
Setiap pasien HIV mendapat Nomor Register Nasional yang terdiri dari 11
digit sebagai kode fasilitas layanan kesehatan (dapat dari Rumah Sakit
atau Puskesmas) dan diikuti 4 digit nomor urut, yang berlaku secara
nasional, yang berarti bahwa jika pasien tersebut ingin berobat di daerah
lain, nomor register nasional tersebut tidak perlu diganti. Data identitas
pasien harus dicatat Nomor Induk Kependudukan, usia (tanggal lahir),
tanggal dan tempat tes HIV dilakukan, nama Pengawas Minum Obat serta
entry point (layanan tempat masuk) untuk tes HIV, riwayat pribadi yang
berisi mengenai pendidikan, pekerjaan dan faktor risikonya.
Riwayat keluarga/Mitra Seksual/Mitra Penasun, dengan maksud namanama yang diberitahukan akan dianjurkan untuk melakukan tes HIV untuk
menurunkan penyebaran HIV.
Riwayat terapi antiretroviral
Pemeriksaan Klinis dan Laboratorium sejak tanggal kunjungan pertama
(setelah diketahui status HIV positif), memenuhi syarat mendapat ART,
mulai ART, setelah 6 bulan ART, setelah 12 bulan dan selanjutnya setiap
12 bulan kemudian. Pemeriksan Klinis yang dicatat meliputi stadium
klinis, berat badan dan status fungsional. Pemeriksaan Laboratorium yang
dicatat meliputi pemeriksan jumlah CD4 yang diperiksa serta hasil
pemeriksaan laboratorium lain yang penting, seperti jumlah biral load.
Terapi Antiretroviral yang didapat, yang meliputi paduan ART yang
digunakan dan setiap tanggal kejadian substitusi, switch, stop dan restart
ART disertai alasannya serta paduan baru ART yang digunakan.
Pengobatan TB selama perawatan HIV, yang meliputi klasifikasi TB (paru
atau ekstra paru), tipe TB, paduan TB, tempat pengobatan TB, dan tanggal
mulai dan selesai terapi TB.
30

Indikasi Inisiasi ART, yang meliputi kelompok populasi kunci dan


populasi khusus.
Lembar follow-up perawatan HIV termasuk ART, yang meliputi
monitoring klinis, kejadian dan pengobatan infeksi oportunistik,
pengobatan pencegahan kotrimoksazol dan isoniazid, paduan ART yang
digunakan, kepatuhan pengobatan, efek samping yang terjadi, hasil
pemeriksaan laboratorium, pemberian kondom, serta akhir follow-up
(meninggal dunia, gagal follow-up dan rujuk keluar). Followup perawatan
ini dicatat setiap kali berkunjung ke klinik.
ii.

Kartu pasien
Kartu pasien diberikan kepada pasien dan wajib ditunjukkan pada setiap
kali kunjungan ke klinik. Maksudnya ialah agar pasien juga tahu
perkembangan penyakit dan kemajuan pengobatannya. Selain itu, kartu ini
juga dapat digunakan jika pasien lupa membawa obat jika kebetulan
sedang bepergian keluar dari tempat tinggalnya dan dengan menunjukkan
kartu pasien ini, ia akan dapat memperoleh obat secukupnya agar
kontinuitas pengobatan tidak terputus.

iii.

Register Pra-ART
Register Pra-ART adalah buku yang berisi informasi penting yang
diperlukan untuk memudahkan pembuatan laporan bulanan perawatan
HIV (LBPH) selama ia belum menerima pengobatan ARV.

iv.

Register ART
Register ART adalah buku yang berisi informasi penting yang diperlukan
untuk memudahkan pembuatan laporan bulanan perawatan HIV(LBPH)
setelah ia menerima pengobatan ARV.

v.

Register Pemberian Obat ARV


Setiap pengeluaran obat ARV yang diberikan kepada pasien HIV (baik
yang rutin berkunjung atau yang mengambil obat yang kebetulan tidak
dibawa atau habis dalam perjalanan) atau klien (dalam hal pencegahan
pasca pajanan) harus dicatat setiap hari dalam Register Pemberian Obat
ARV.

vi.

Register Stok Obat ARV


31

Setiap sediaan obat ARV masing-masing memiliki Register Stok Obat


ARV sendiri dan dicatat stok awal, stok yang diterima, stok yang
dikeluarkan (sesuai dengan jumlah yang dikeluarkan pada Register
Pemberian Obat ARV), stok kadaluwarsa, dan stok akhir, yang harus
dicatat setiap hari. Dan setiap akhir bulan akan diperoleh ringkasan stok
yang akan dilaporkan ke dalam laporan bulanan perawatan HIV bagian
farmasi.
vii.

Formulir Rujukan
Setiap pasien yang dirujuk keluar dari fasilitas layanan kesehatan harus
menggunakan formulir rujukan baku dengan disertai salinan ikhtisar
perawatan HIV dan ART selama di klinik tersebut, sehingga klinik yang
dituju akan mengetahui perjalanan penyakit dan pengobatan pasien
tersebut.

2.1.11.2Pelaporan
Pelaporan perawatan HIV berisi indikator yang akan diolah, dianalisis,
diinterpretasi, disajikan dan disebarluaskan untuk dimanfaatkan dalam
perencanaan. Data yang dikumpulkan harus valid (akurat, lengkap dan tepat
waktu).
Pelaporan perawatan HIV dan ART yang dimaksud terdiri dari:
(1) Laporan Bulanan Perawatan HIV dan ART (LBPHA)
(2) Laporan Bulanan Perawatan HIV dan ART terdiri dari variabel untuk
perawatan HIV dan layanan farmasi, yang harus dilaporkan setiap
bulan menurut jenis kelamin dan kelompok umur serta menurut
populasi kunci dan populasi khusus.
(3) Laporan Kohort Dampak ART
(4) Laporan Kohort Dampak ART merupakan laporan kinerja fasilitas
layanan kesehatan menurut tahun mendapat ART (tahun kohort).
Laporan ini akan diketahui jumlah orang yang meninggal dunia,
jumlah orang yang tidak hadir/gagal follow-up dan jumlah orang
dengan ART yang masih hidup (retensi) setelah mendapat ART 6
bulan, 12 bulan dan selanjutnya setiap tahun. Selain itu, dapat
32

diketahui jumlah proporsi orang dengan jumlah CD4 < 200 sel/mm3,
jumlah CD4 200 350 sel/mm3, dan jumlah CD4 > 350 sel/mm3
setelah mendapat ART 6 bulan, 12 bulan dan selanjutnya setiap tahun.
Jumlah proporsi orang dapat diketahui sesuai dengan status
fungsionalnya (kerja, ambulatori dan berbaring) setelah mendapat
ART 6 bulan, 12 bulan dan selanjutnya setiap tahun.
2.2 Indikator program pengendalian HIV/AIDS
Upaya pengendalian HIV/AIDS WHO telah menyusun indicator inti
untuk penanggulangan AIDS secara global (WHO, 2015). Indikator indikator
individu ini dapat digunakan untuk melacak lebih dari satu target,
Target
Target 1. Pengurangan
tansmisi seksual HIV
hingga 50% th 2015
Populasi umum

1.1

1.2
1.3

1.4

1.5

1.6

Pekerja seks

1.7
1.8
1.9

Laki seks dengan laki

1.10
1.11
1.12

1.13

Target 2
Pengurangan transmisi HIV
melalui napza suntik

1.14
2.1

2.2

Indikator
Persentase remaja wanita dan pria berusia 15-24 tahun
yang dapat mengidentifikasi cara penularan HIV melalui
hubungan seksual secara benar dan menolak konsep yang
salah tentang penularan HIV
Persentase remaja usia 15-24 tahun yang mulai
melakukan hubungan seksual sebelum berusia 15 tahun
Persentase wanita dan pria berusia 15-49 tahun yang
mempunyai pasangan seksual lebih dari satu dalam 12
bulan terakhir
Persentase wanita dan pria berusia 15-49 tahun yang
mempunyai pasangan seksual lebih dari satu dan
menggunakan kondom selama hubungan seksual terakhir
Persentase wanita dan laki-laki usia 15-49 tahun yang
menerima tes HIV pada bulan terakhir dan menerima
hasilnya
Persentase remaja wanita dan pria berusia 15-24 tahun
yanghidup dengan HIV*
Persentase pekerja seks yang tercapai/terjangkau dengan
program preventive HIV
Persentase pekerja seks yang dilaporkan menggunakan
kondom dengan klien/pelanggan
Persentase pekerja seks yang menerima test HIV dalam
12 bulan terakhir dan menegtahui hasil tesnya
Persentase pekerja seks yang hidup dengan HIV
Persentase LSL yang tercapai/terjangkau dengan
program preventive HIV
Persentase dari laki-laki yang melaporkan menggunakan
kondom pada hubungan seks anal dengan pasangan lakilaki mereka
Persentase LSL yang menerima test HIV dalam 12 bulan
terakhir dan menegtahui hasil tesnya
Persentase LSL yang hidup dengan HIV
Jumlah jarum suntik terdistribusi per orang yang
menggunakan napza suntik pertahun melalui program
alat suntik
Persentase dari pengguna Napza suntik (penasun) yang

33

2.3

2.4

2.5
Target 3
Eliminasi penderita HIV
baru dianatara anak2 pada
2015 dan pengurangan
kematian ibu terkait AIDS

3.1

3.1a
3.2
3.3

Target 4
Jangkauan 15 juta orang
HIV dengan ARV untuk
harapan hidup
Target 5
Pengungan kematian TBC
pada pengidap HIV hingga
50% pada 2015
Target 6
Menutup kesenjangan
global pada tahun 2015 dan
mencapai 22-24 miliar pada
negara-negara
berpenghasilan rendah dan
menengah
Target 7
Eliminasi ketidaksetaraan
gender

4.1

Target 8 Eliminasi stigma


dan diskriminasi
Target 9 Eliminasi
pembatasan bepergian
Target 10 Penguatan HIV
yang terintegrasi

8.1

4.2
5.1

6.1

belanja domestik dan internasional dengan kategori dan


sumber pembiayaan

7.1

proporsi wanita yang pernah menikah atau bermitra


berusia 15-49 tahun yang mengalami kekerasan fisik atau
seksual dari pasangan intim laki-laki dalam 12 bulan
terakhir
Diskriminasi sikap terhadap penderita HIV

9.1
10.1

10.2
Pertanyaan
kebijakan(relevan untuk 10
target)

melaporkan penggunaan kondom pada hubungan seksual


terakhir
Persentase dari pengguna Napza suntik (penasun) yang
melaporkan penggunaan peralatan steril pada kejadian
terakhir
Persentase dari pengguna Napza suntik (penasun)
menerima test HIV dalam 12 bulan terakhir dan
menegtahui hasil tesnya
Persentase dari pengguna Napza suntik (penasun) yang
hidup dengan HIV
Persentase wanita hamil positif HIV yang mendapatkan
ARV untuk mengurangi faktor risiko penularan ibu ke
anaknya
Persentase wanita positif HIV yang mendapatkan ARV
bagi dirinya sendiri atau bayinya pada masa menyususi
Persentase bayi lahir dari Ibu positif HIV dan
mendapatkan test HIV Pos dalam 2 bulan sejak kelahiran
Estimasi persentase anak yang terinfeksi HIV dari wanita
pos HIV dalam 12 bulan terakhir
Persentase remaja dan anak dgn HIV yang mendapatkan
terapi ARV
Persentase remaja dan anak dgn HIV yang menegtahui
untuk mendapakan terapi setelah inisiatif terapi ARV
Persentase dari estimasi pengidap HIV- posistif TB
yangmendapakan treatment TB dan HIV

Data pembatasan traveling di kumpulkan oleh Human


Right and Law Division di UNAIDS
kehadiran shcool saat ini di kalangan anak yatim dan non
yatim berusia 10-14
Proporsi dari rumah tangga tidak mampu yang mendapat
bantuan ekonomi dlm 3 bulan terakhir
National Commitmens and policy (NCPI)

Sumber : UNAIDS. 2014. Global AIDS response progress reporting 2014:


construction of core indicators for monitoring the 2011 UN political
declaration on HIV/AIDS. Diakses tanggal 13 Mei 2016

34

Indikator WHO kemudian diimplementasikan dalam Rencana Aksi


Nasional, bertujuan untuk memantau kemajuan dan menilai keberhasilan
program pengendalian HIV dan AIDS, juga merupakan indikator inti
komitmen terhadap UNGASS, dikelompokkan menjadi indikator masukan,
keluaran, hasil dan dampak.
1) Indikator masukan mencakup komitmen dan aksi nasional dengan
parameter:
(1) Pengeluaran domestik dan internasional berdasarkan kategori dan sumber
daya keuangan
(2) National Composite Policy Index (NCPI) mencakup area gender, program
dunia kerja, stigma dan diskriminasi, pencegahan, perawatan dan
dukungan, hak asasi manusia, keterlibatan masyarakat sipil, dan
monitoring evaluasi.
2) Indikator keluaran berupa program nasional dengan parameter
(1) Persentase unit darah donor yang ditapis untuk HIV sesuai standar.
(2) Persentase wanita hamil HIV positif yang menerima ART untuk
mengurangi penularan HIV dari ibu ke bayi.
(3) Persentase populasi risiko tinggi

yang dijangkau oleh program

pencegahan.
(4) Persentase sekolah yang menyediakan pendidikan ketrampilan hidup.
(5) Persentase wanita dan laki-laki usia 15-49 tahun yang menerima tes HIV
pada
bulan terakhir dan menerima hasilnya (khusus di Tanah Papua).
(6) Persentase populasi risiko tinggi yang menerima tes HIV pada 12 bulan
terakhir dan yang mengetahui hasilnya.
(7) Persentase orang dewasa dan anak dengan infeksi HIV tingkat lanjut yang
menerima ART.
(8) Persentase dari kasus tuberkulosis (TBC) yang positif yang menerima
pengobatan TBC dan HIV.
3) Indikator hasil berupa perubahan perilaku, yang memiliki parameter

35

(1) Persentase remaja wanita dan pria berusia 15-24 tahun yang dapat
mengidentifikasi cara penularan HIV melalui hubungan seksual secara
benar dan menolak konsep yang salah tentang penularan HIV.
(2) Persentase populasi risiko tinggi yang dapat mengidentifikasi cara
penularan HIV melalui hubungan seksual dengan benar dan menolak
konsep yang salah tentang penularan HIV.
(3) Persentase remaja usia 15-24 tahun yang mulai melakukan hubungan
seksual sebelum berusia 15 tahun.
(4) Persentase wanita dan pria berusia 15-49 tahun yang mempunyai pasangan
seksual lebih dari satu dalam 12 bulan terakhir (khusus di Tanah Papua).
(5) Persentase wanita dan pria berusia 15-49 tahun yang mempunyai pasangan
seksual lebih dari satu dan menggunakan kondom selama hubungan
seksual terakhir (khusus di Tanah Papua).
(6) Persentase wanita dan laki-laki pekerja seksual yang melaporkan
menggunakan kondom dengan klien terakhir mereka.
(7) Persentase dari laki-laki yang melaporkan menggunakan kondom pada
hubungan seks anal dengan pasangan laki-laki mereka.
(8) Persentase dari pengguna Napza suntik (penasun) yang melaporkan
penggunaan kondom pada hubungan seksual terakhir.
(9) Persentase penasun yang menggunakan alat suntik steril pada saat terakhir
menyuntik.
(10) Persentase orang berumur 15-49 tahun yang mengekspresikan dapat
menerima keberadaan ODHA.
4) Indikator dampak berupa prevalens HIV dengan parameter
(1) Persentase remaja wanita dan pria berumur 15-24 tahun yang terinfeksi
HIV (khusus di Tanah Papua).
(2) Persentase populasi risiko tinggi yang terinfeksi HIV.
(3) Persentase orang dewasa yang terinfeksi HIV di Tanah Papua.
(4) Persentase orang dewasa dan anak-anak dengan HIV positif yang masih
dalam pengobatan setelah 12 bulan mendapatkan ART.

36

Monitoring dan evaluasi tidak hanya menggunakan indikator yang


umumnya diperoleh melalui survei, juga menggunakan indikator cakupan
program. Indikator ini diperoleh secara rutin dari hasil pemantauan program.
Indikator ini dikelompokkan berdasarkan sub-populasi risiko tinggi termasuk
Tanah Papua, dan mencakup :
1) Indikator Penasun
(1) Persentase penasun yg dijangkau program perubahan perilaku.
(2) Persentase penasun yg mendapat layanan jarum dan alat suntik steril.
(3) Persentase penasun yang mengikuti VCT.
(4) Persentase penasun yang mendapat TRM.
2) Indikator WPS Langsung
(1) Persentase WPS langsung yg dijangkau program perubahan perilaku.
(2) Persentase WPS yg mendapat pengobatan berkala.
(3) Persentase WPS yang mendapat pelayanan penapisan IMS.
(4) Jumlah WPS yg mendapatkan VCT.
(5) Persentase WPS yang mendapatkan program perawatan dan
dukungan.
3) Indikator WPS Tidak Langsung
(1) Persentase WPS tidak langsung yang dijangkau oleh program
perubahan perilaku
(2) Persentase WPS tidak langsung yang mendapatkan pengobatan
berkala IMS
(3) Persentase WPS tidak langsung yang mendapatkan penapisan IMS
(4) Persentase WPS tidak langsung yang mengikuti VCT.
(5) Persentase WPS tidak langsung yang mendapatkan perawatan dan
dukungan.
4) Indikator Waria
(1) Persentase waria yang dijangkau program perubahan perilaku
intervensi perubahan perilaku.
(2) Persentase waria yang mendapatkan pengobatan berkala.
(3) Persentase waria yang mendapatkan penapisan IMS.
(4) Persentase waria yang mendapatkan VCT.
37

(5) Persentase waria yang mendapatkan perawatan dan dukungan.


5) Indikator LSL
(1) Persentase LSL yang dijangkau program perubahan perilaku.
(2) Persentase LSL yang mendapatkan pengobatan IMS.

2.3. Sistem Informasi HIV dan AIDS (SIHA) serta IMS


Perangkat lunak aplikasi pelaporan telah dikembangkan oleh Kementerian
Kesehatan yaitu SIHA yang merupakan sistem informasi manajemen yang
digunakan untuk melakukan manajemen data program penanggulangan HIV
dan AIDS serta IMS. SIHA adalah suatu perangkat lunak aplikasi system
informasi HIV dan AIDS serta IMS yang mampu menangkap data yang
berasal dari UPK, dengan memanfaatkan perangkat server Pusat Data dan
Informasi Kementerian Kesehatan.
Manfaat aplikasi SIHA terutama adalah :
(1) Mendukung manajemen data program penanggulangan HIV dan AIDS
serta IMS pada tingkat layanan, kabupaten/kota, provinsi dan tingkat
nasional.
(2) Meningkatkan kualitas informasi yang meliputi validitas, akurasi dan
ketepatan waktu.
(3) Meningkatkan efisiensi program dengan cara memproses dan menganalisis
data dalam jumlah besar dengan cepat. Sistem informasi dibuat
sedemikian rupa untuk meminimalkan kesalahan dalam memasukkan data.
SIHA dilengkapi dengan menu yang didesain sedemikian rupa untuk
menghindari kesalahan tersebut, namun sistem ini masih terdapat berbagai
kelemahan yang dapat diminimalkan dengan keakuratan informasi dari
data yang ada di rekam medis klien. Kualitas semua data yang dimasukkan
sangat tergantung pada keakuratan catatan medisnya, petugas administrasi
memiliki tugas untuk memasukan data ke dalam SIHA. Proses entry
petugas administrasi menemukan kejanggalan data klien maka proses
entry terhadap klien tersebut hendaknya ditunda hingga datanya benarbenar valid.
2.3.1

Alur Pelaporan
38

Alur pelaporan berguna untuk memantau jalannya proses pelaporan, alur


ini didesain dengan konsep berjenjang agar setiap tingkat dapat merespon data
yang masuk dan memberikan umpan balik sebagai bagian dari sistem
pelaporan. Pedoman ini akan dibahas alur pelaporan mulai dari tingkat
layanan hingga ke tingkat pusat.

Gambar 2.1 Alur pelaporan dari pasien hingga mencapai pusat data dan
informasi.
Bagan Proses pengisian data sampai pengiriman laporan dengan
menggunakan perangkat lunak aplikasi SIHA. Tiap fasilitas layanan kesehatan
yang melakukan kegiatan perawatan, dukungan dan pengobatan (PDP) wajib
melaporkan data hasil kegiatannya yaitu Laporan Bulanan Perawatan HIV dan
ART (LBPHA) setiap bulan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Data yang
diterima Dinas Kesehatan Provinsi dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
dilakukan tabulasi dan kajian tentang capaian/kendala/masalah/solusi untuk
dilaporkan ke Tingkat Kementerian Kesehatan khususnya Subdit AIDS dan
PMS setiap bulan, yang sudah ditandatangani oleh Kepala Dinas Kesehatan
Provinsi. Data yang diterima Subdit AIDS dan PMS akan dilakukan tabulasi
dan kajian tentang capaian/kendala/masalah/solusi untuk dilaporkan kepada
39

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.


Laporan Kohort Dampak ART dilaporkan setiap 6 bulan oleh fasilitas layanan
kesehatan yang arus pengiriman sama dengan arus pengiriman LBP.

40

BAB III
SISTEM SURVEILANS
3.1 Sistem
3.1.1 Pengertian sistem
Sistem adalah gabungan dari elemen-elemen (sub-sistem) di dalam suatu
proses atau struktur yang berhubungan serta saling mempengaruhi dan berfungsi
sebagai satu kesatuan organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
(Notoatmodjo, 2011; Azwar, 2008). Apabila salah satu bagian atau sub-sistem
tidak berjalan dengan baik, maka akan mempengaruhi bagian lain (Notoatmodjo,
2011).
Sistem dapat memiliki beberapa makna (Depkes RI,1999;Azwar, 1998)
1) Sistem adalah gabungan dari elemen-elemen yang saling dihubungkan oleh
suatu proses atau struktur dan berfungsi sebagai satu kesatuan organisasi
dalam upaya menghasilkan sesuatu yang telah ditetapkan (Ryans)
2) Sistem adalah suatu struktur konseptual yang terdiri dari fungsi-fungsi yang
saling berhubungan yang bekerja sebagai satu unit organik untuk mencapai
keluaran yang diinginkan secara efektif dan efisien (John McManama)
3) Sistem adalah kumpulan dari bagian-bagian yang berhubungan dan
membentuk satu kesatuan yang majemuk, dimana masing-masing bagian
bekerja sama secara bebas dan terkait untuk mencapai sasaran kesatuan dalam
suatu situasi yang majemuk pula
4) Sistem adalah suatu kesatuan yang utuh dan terpadu dari berbagai elemen
yang berhubungan serta saling mempengaruhi yang dengan sadar dipersiapkan
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
Jika diperhatikan dalam keempat pengertian sistem ini, tertihat bahwa
pengertian sistem secara umum dapat dibedakan menjadi dua macam, yakni sebagai
suatu wujud dan sebagai suatu metoda(Depkes RI,1999;Azwar, 1998)
1) Sistem sebagai suatu wujud
Suatu sistem disebut sebagai suatu wujud, apabila bagian-bagian atau elemenelemen yang terhimpun dalam sistem tersebut memberikan suatu wujud yang
ciri-cirinya dapat dideskripsikan dengan jelas.
41

2) Sistem sebagai suatu metoda


Suatu sistem disebut sebagai suatu metoda, apabila bagian atau elemen-elemen
yang terhimpun dalam sistem tersebut membentuk suatu metoda yang dapat
dipakai sebagai alat dalam melakukan pekerjaan administrasi. Pemahaman sistem
sebagai suatu metoda berperanan besar dalam membantu menyelesaikan masalahmasalah yang dihadapi oleh suatu sistem. Populer dengan sebutan pendekatan
sistem (system approach) yang pada akhir-akhir ini banyak dimanfaatkan pada
pekerjaan administrasi.
3.1.2 Unsur Sistem
Menurut Notoatmodjo (2011), secara garis besarnya elemen-elemen dalam
sistem itu adalah sebagai berikut:
1) Masukan (input)
2) Proses
3) Keluaran (Output)
4) Dampak (Impact)
5) Umpan Balik (feed back)
6) Lingkungan
Sedangkan menurut Azwar, 1998 unsur-unsur sistem terdiri dari :
1) Masukan (input)
Masukan adalah kumpulan bagian atau elemen yang terdapat dalam sistem
dan diperlukan untuk dapat berfungsinya sistem tersebut.
Dalam sistem pelayanan kesehatan, masukan terdiri dari tenaga (man),
dana (money), metode (method), sarana/material (material).
2) Proses (process)
Proses adalah kumpulan bagian atau elemen yang terdapat dalam sistem
dan yang berfungsi untuk mengubah masukan menjadi keluaran yang
direncanakan.
Dalam sistem pelayanan kesehatan terdiri dari perencanaan (planning),
pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating), dan penilaian
(evaluating).
3) Keluaran (output)

42

Keluaran adalah kumpulan bagian atau elemen yang dihasilkan dari


berlangsungnya proses dalam sistem.
Keluaran dari suatu sistem kesehatan adalah terselenggaranya pelayanan
kesehatan.
4) Umpan Balik (feed back)
Umpan balik adalah kumpulan dari bagian atau elemen yang merupakan
keluaran dari sistem dan sekaligus sebagai masukan bagi sistem tersebut.
5) Dampak (impact)
Dampak adalah akibat yang dihasilkan oleh keluaran suatu sistem.
Dampak yang diinginkan dari suatu sistem kesehatan adalah meningkatnya
derajat kesehatan dengan memenuhi need dan demand.
6) Lingkungan (environment)
Lingkungan adalah dunia di luar sistem yang tidak dikelola oleh sistem
tetapi mempunyai pengaruh besar terhadap sistem.
3.1.3 Pendekatan Sistem
Suatu sistem pada dasarnya dibentuk untuk mencapai suatu tujuan tertentu
yang telah ditetapkan. Untuk terbentuknya sistem tersebut, perlu dirangkai
berbagai unsur atau elemen sedemikian rupa sehingga secara keseluruhan
membentuk suatu kesatuan dan secara bersama-sama berfungsi untuk mencapai
tujuan. Apabila prinsip pokok atau cara kerja sistem ini diterapkan ketika
menyelenggarakan pekerjaan administrasi, maka prinsip pokok atau cara kerja ini
dikenal dengan nama pendekatan sistem (sistem approach) (Azwar, 1998).
Terdapat beberapa definisi dari pendekatan sistem, antara lain (Azwar, 1998):
a. Penerapan suatu prosedur yang logis dan rasional dalam merancang suatu
rangkaian komponen-komponen yang berhubungan sehingga dapat berfungsi
sebagai satu-kesatuan mencapai tujuan yang telah ditetapkan (L. James
Harvey).

43

b. Strategi yang menggunakan metode analisa, desain dan manajemen untuk


mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien.
c. Penerapan dari cara berpikir yang sistematis dan logis dalam membahas dan
mencari pemecahan dari suatu masalah atau keadaan yang dihadapi.
Dalam suatu pendekatan sistem, dua proses utama yang dikerjakan adalah (1)
menguraikan sesuatu untuk mencari masalah dan (2) membentuk sesuatu untuk
menyusun jalan keluar.11
Keuntungan dari pendekatan sistem adalah dapat menilai masukan secara
efisien, menilai proses secara efektif, menilai keluaran secara optimal, dan menilai
umpan balik secara adekuat. Akan tetapi, pendekatan sistem memiliki kelemahan,
yaitu terjebak pada detail sehingga sulit menarik kesimpulan (Azwar, 1998).
3.2 Evaluasi Program
Definisi evaluasi menurut The American Public Association adalah suatu
proses untuk menentukan nilai atau jumlah keberhasilan dari pelaksanaan suatu
program dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan, sedangkan menurut The
Internacional Clearing House on Adolescent Fertility Control for Population
Options, evaluasi adalah suatu proses yang teratur dan sistematis dalam
membandingkan hasil yang dicapai dengan tolak ukur atau kriteria yang telah
ditetapkan, dilanjutkan dengan pengambilan kesimpulan serta penyusunan saransaran, yang dapat dilakukan pada setiap tahap dari pelaksanaan program
(Ayuningtyas, 2014).
Berdasarkan

tujuannya,

evaluasi

dapat

dibagi

menjadi

tiga

jenis,

yaitu(Ayuningtyas, 2014):
a. Evaluasi formatif
Ini merupakan jenis evaluasi yang dilakukan pada tahap awal program.
Tujuan dari evaluasi formatif adalah untuk meyakinkan bahwa rencana
yang akan disusun benar-benar telah sesuai dengan masalah yang
ditemukan, sehingga nantinya dapat menyelesaikan masalah tersebut.
b. Evaluasi promotif

44

Ini merupakan jenis evaluasi yang dilakukan pada saat program sedang
dilaksanakan. Tujuan dari evaluasi promotif adalah untuk mengukur
apakah program yang sedang dilaksanakan tersebut telah sesuai dengan
rencana atau tidak dan apakah terjadi penyimpangan yang dapat
merugikan tujuan program.
c. Evaluasi sumatif
Ini merupakan jenis evaluasi yang dilaksanakan pada saat program telah
selesai. Tujuannya adalah untuk mengukur keluaran (output) atau dampak
(impact) bila memungkinkan. Jenis evaluasi ini yang dilakukan dalam
makalah ini.
Secara umum, langkah-langkah membuat evaluasi program meliputi (1)
penetapan indikator dari unsur keluaran, (2) penetapan tolak ukur dari tiap
indikator keluaran, (3) perbandingan pencapaian masing-masing indikator
keluaran program dengan tolak ukurnya, (4) penetapan prioritas masalah, (5)
pembuatan

kerangka

konsep

dari

masalah

yang

diprioritaskan,

(6)

pengidentifikasian penyebab masalah, (7) pembuatan alternatif pemecahan


masalah, (8) penentuan prioritas cara pemecahan masalah yang dirangkum dalam
kesimpulan dan saran (Depkes RI, 1999).
3.3 Sistem Surveilans Epidemiologi
3.3.1 Definisi Manajemen Surveilans Epidemiologi
Sistem surveilans epidemiologi adalah gabungan dari elemen-elemen (subsistem) di dalam suatu proses pengamatan yang dilakukan secara terus menerus,
sistematik, dan berkesinambungan terhadap suatu masalah kesehatan yang ada
melalui kegiatan pengumpulan data, analisis data, dan interpretasi data kesehatan,
serta disseminasi informasi yang berkaitan dengan program kesehatan sebagai
sebagai dasar pengambilan keputusan atau kebijakan dalam bidang pencegahan
dan penanggulangan penyakit untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang
lebih baik (Dirjen P2PL, 2003; Amiruddin, 2012).

3.3.2 Tujuan dan Kegunaan Surveilans Epidemiologi


Tujuan akhir surveilans adalah menentukan luasnya infeksi dan risiko
penularan penyakit sehingga tindakan Penanggulangan dapat dijalankan secara
45

efektif dan efisien. Pada perkembangan selanjutnya surveilans bertujuan untuk


menanggulangi masalah kesehatan masyarakat secara luas (Dirjen P2PL, 2003).
Secara umum, kegunaan surveilans epidemiologi antara lain untuk (Dirjen P2PL,
2003):
1) Mengetahui dan melengkapi gambaran epidemiologi dari suatu penyakit
2) Mengamati kecenderungan atau trend dan memeprkirakan besar masalah
kesehatan
3) Mendeteksi serta memprediksi adanya KLB dan wabah
4) Mengamati kemajuan suatu program pencegahan dan Penanggulangan
penyakit
5) Memperkirakan dampak program intervensi yang ada
6) Mengevaluasi program intervensi dan kebijakan program kesehatan
7) Mempermudah perencanaan program Penanggulangan

3.3.3 Kegiatan Surveilans Epidemiologi


Berdasarkan Kepmenkes RI No. 1479/Menkes/SK/X/2003 tentang
Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular dan
Tidak Menular Terpadu, maka pelaksanaan surveilans pada unit layanan tidak lagi
dipisahkan antara surveilans penyakit menular dan tidak menular. Namun untuk
kepentingan program yang sifatnya khusus, data hasil surveilan terhadap penyakit
menular dan tidak menular dapat digunakan secara sendiri-sendiri.
Dalam praktik pelaksanaannya, sistem surveilans epidemiologi penyakit
dibedakan menjadi 6 macam kegiatan, yaitu:
1. Sistem Surveilans Terpadu Penyakit
Sistem surveilans terpadu penyakit (SSTP) memanfaatkan data rutin dari
laporan kesakitan bulanan puskesmas (SP2TP/SP3/SIMPUS) serta laporan
morbiditas dan mortalitas rumah sakit terhadap 28 penyakit tertentu. Trend
morbiditas dari laporan tersebut sangat dibutuhkan bagi program serta sektor yang
memiliki kemampuan melakukan pennggulangannya (Dirjen P2PL, 2003: 6).

2. Sistem Surveilans Sentinel

46

Sistem surveilans sentinel adalah sejumlah unit pelaporan (biasanya pada


puskesmas atau rumah sakit) yang secara teliti mengumpulkan dan melaporkan
data yang diminta dalam upaya mendapatkan informasi kesakitan penyakit
tertentu yang dilengkapi dengan informasi pelaksanaan program penyakit secara
khusus, sehingga kualitas pelaksanaan program dapat dimonitor keberhasilannya
(Dirjen P2PL, 2003; Amiruddin, 2012).
Pelaksanaan sistem Surveilans Sentinel; merupakan upaya untuk mendapatkan
informasi penyakit tertentu secara lebih akurat dengan melihat variabel-variabel
faktor risiko serta morbiditas dan mortalitasnya pada populasi yang berisiko.

3. Surveilans Khusus
Surveilans khusus merupakan suatu kegiatan surveilans yang memiliki komitmen
tinggi dengan surveilans internasional dan nasional, sehingga harus dapat
mendukung pelaksanaannya secara optimal. Kegiatan surveilans yang termasuk
dalam kegiatan surveilans khusus yaitu surveilans Eliminasi Tetanus Neonatorum
(ETN), Surveilans Eradikasi Polio (Surveilans AFP), dan surveilans reduksi
campak (Dirjen P2PL, 2003: 6). Tujuan utama dari kegiatan surveilans khusus
yaitu untuk memantau hal-hal yang berpotensi untuk menimbulkan penyakit pada
manusia (Amiruddin, 2012).

4. Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) dan Penyelidikan KLB


Salah satu upaya mengurangi kerugian akibat yang ditimbulkan oleh letusan KLB
suatu penyakit adalah melakukan Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) terhadap
penyakit potensial KLB. Sistem kewaspadaan dini adalah suatu kegiatan
pengamatan yang mendukung sikap tanggap terhadap adanya suatu perubahan
atau penyimpangan dalam masyarakat (Dirjen P2PL, 2003). Tujuan dilakukannya
penyelidikan KLB adalah agar dapat melakukan tindakan penanggulangan dan
pencegahan terhadap munculnya penderita baru. Ada 4 tahapan dalam
melaksanakan kegiatan penyelidikan KLB yaitu persiapan kerja di lapangan,
penetapan adanya KLB, penetapan diagnosis, dan pengolahan data epidemiologi

5. Studi Khusus
47

Studi khusus yang dilakukan oleh lintas sektor terkait ataupun jejaring surveilans
epidemiologi dapat dimanfaatkan oleh petugas surveilans dalam melengkapi
kajian terhadap data maupun program terkait. Studi khusus dapat berupa survei
cepat, cohort study, dan lain-lain (Dirjen P2PL, 2003)

6. Analisis dan Interpretasi Data


Analisis dan kajian data dilakukan terhadap data surveilans yang dapat
dikumpulkan oleh unit surveilans serta pada data yang diperoleh program
Penanggulangan penyakit yang ada (Dirjen P2PL, 2003).

3.3.4

Tugas dan Fungsi Unit Surveilans


Tujuan pelaksanaan surveilans sebagaimana tertuang dalam Kepmenkes RI

No.

1479/Menkes/SK/X/2003

tentang

Pedoman

Penyelenggaraan

Sistem

Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular dan Tidak Menular Terpadu adalah


untuk diperolehnya informasi epidemiologi penyakit tertentu dan terdistribusinya
informasi tersebut kepada program terkait, pusat-pusat kajian dan pusat penelitian
serta unit surveilans yang lain. Dalam kaitan dengan hal tersebut, maka tugas dan
fungsi unit surveilans Dinas Kesehatan Provinsi adalah:
1) Menyelenggarakan Surveilans Terpadu Penyakit Bersumber Data
Puskesmas, Rumah Sakit dan Laboratorium.
2) Menyelenggarakan Surveilans Terpadu Penyakit Bersumber Data
Puskesmas Sentinel.
3) Menyelenggarakan Surveilans Terpadu Penyakit Bersumber Data
Rumah Sakit Sentinel.
4) Menyelenggarakan Surveilans Terpadu Penyakit Bersumber Data
Kejadian Luar Biasa.
5) Menyelenggarakan Manajemen Surveilans Terpadu Penyakit.
Butir 1 hingga butir 4 diatas, kegiatan yang dilakukan dalam bentuk
melakukan pengumpulan dan pengolahan data dari unit dibawah dinkes
provinsi yaitu dinkes kabupaten/kota, selanjutnya dilakukan analisis serta
rekomendasi tindak lanjut. Analisis berupa analisis bulanan dan tahunan
dengan memperhatikan variabel faktor risiko, perubahan lingkungan serta
48

perencanaan evaluasi program. Hasil analisis dapat dituangkan dalam


profil kesehatan wilayah, laporan tahunan serta dapat disampaikan sebagai
sumber kajian kepada pihak-pihak yang terkait seperti Ditjen PP&PL,
perguruan tinggi, lintas sektor dsb.
Butir 5 berupa kegiatan manajemen terpadu yang melibatkan semua
unsur-unsur terkait bidang kesehatan seperti puskesmas, rumah sakit,
dinkes kabupaten/kota, laboratorium, BBTKL, KKP dan sebagai
penanggungjawab di tingkat provinsi adalah dinas kesehatan provinsi.
Adapun kegiatan manajemen terpadu dapat berupa:
1) Advokasi dan sosialisasi
2) Pembentukan kelompok kerja
3) Penyusunan rencana kerja
4) Peningkatan Kapasitas SDM surveilans
5) Pembinaan dan pengawasan
6) Pertemuan berkala surveilans epidemiologi
7) Penerbitan buletin surveilans
8) Penyusunan pedoman
9) Membangun jejaring surveilans
10) Mengembangkan perpustakaan dan referensi
11) Mengembangkan komunikasi dan konsultasi ahli
12) Peningkatan pemanfaatan sarana dan pengembangan perangkat
lunak computer
13) Dukungan anggran pembiayaan.
Berikut ini alur distribusi dan pelaporan data surveilans terpadu
penyakit dari unit pelayanan kesehatan terkecil (puskesmas, puskesmas
sentinel, rumah sakit, rumah sakit sentinel) hingga ditjen PP&PL.

49

Gambar 3.1. Alur Distribusi dan Pelaporan Data Surveilan secara Nasional
(Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur)
Selain penyelenggaraan surveilans terpadu sebagaimana diuraikan
diatas, pada kesempatan kali ini lebih banyak dibahas mengenai
penyelenggaraan

surveilans

HIV-AIDS

terutama

penyelenggaraan

surveilan sentinel HIV-AIDS di Provinsi Jawa Timur.

3.4

Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular


Berdasarkan Kepmenkes RI No. 1479/Menkes/SK/X/2003 tentang
Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Penyakit
Menular dan Tidak Menular Terpadu, maka pelaksanaan surveilans pada
unit layanan tidak lagi dipisahkan antara surveilans penyakit menular dan
50

tidak menular. Kepentingan program yang sifatnya khusus, data hasil


surveilan terhadap penyakit menular dan tidak menular dapat digunakan
secara sendiri-sendiri.
Pengendalian penyakit menular di masyarakat, semua aspek yang
meliputi promotif, preventif, kuratif serta rehabilitatif harus mendapatkan
perhatian secara proporsional dan digunakan secara terpadu di dalam
sistem pengendaliannya. Program pengendalian penyakit menular di
masyarakat dapat berjalan optimal, maka diperlukan suatu proses
pengamatan yang sistematis dan berkelanjutan. Proses ini selanjutnya
dikenal dengan nama surveilans epidemiologi (SE) penyakit menular.
Melalui surveilans epidemiologi dapat dilihat dan dianalisis variabelvariabel serta indikator-indikator yang berpengaruh terhadap angka
kejadian penyakit di masyarakat. Hasil analisis dan interpretasi data
penyakit pada surveilans epidemiologi dapat dijadikan sebagai acuan
dalam perencanaan dan pelaksanaan suatu program kegiatan, penilaian
hasil kegiatan dan dapat digunakan dalam memperkirakan peningkatan
atau penurunan endemisitas (estimasi dan proyeksi) suatu penyakit di
populasi. Antisipasi dan pengendalian penyakit menular di masyarakat,
maka secara umum kegiatan surveilans meliputi:
1) Pelaksanaan sistem Surveilans Terpadu Penyakit (STP)
Sistem ini memanfaatkan data rutin laporan kesakitan bulanan
puskesmas (SP2TP/SIMPUS) serta laporan morbiditas dan mortalitas
rumah sakit terhadap 28 penyakit.
2) Pelaksanaan sistem Surveilans Sentinel
Upaya untuk mendapatkan informasi penyakit tertentu secara lebih
akurat dengan melihat variabel-variabel faktor risiko serta morbiditas
dan mortalitasnya pada populasi yang berisiko. Contoh yang paling
baik dalam pelaksanaan surveilans sentinel ini adalah program HIVAIDS pada populasi kunci.
3) Pelaksanaan Surveilans Khusus
Dilakukan berdasarkan komitmen yang telah ditetapkan secara
internasional dan harus menjadi program nasional. Umumnya WHO
51

akan menentukan penyakit menular apa saja yang termasuk dalam


surveilans khusus. Sejauh ini beberapa penyakit menular yang telah
ditetapkan untuk dilakukan surveilans khusus antara lain Eradikasi
Tetanus Neonatorum, surveilans Acute Flacid Paralysis, surveilans
reduksi campak, surveilans HIV-AIDS, Malaria, TB paru dsb.
4) Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) dan Penyelidikan KLB
5) Studi Khusus hasil riset yang dilakukan baik oleh suatu organisasi
atau pun perorangan dapat dipergunakan sebagai bagian dari data
surveilans.
6) Analisis dan Interpretasi Data

3.5

Estimasi dan Proyeksi Data HIV-AIDS melalui Surveilans


Surveilans HIV-AIDS adalah suatu cara untuk mengetahui besarnya
masalah dengan melakukan pengumpulan data secara sistematis, dan terus
menerus terhadap distribusi dan kecenderungan infeksi HIV yang
kemudian dapat digunakan melakukan tindakan pencegahan dan
pemberantasan infeksi HIV dan penyakit terkait lainnya.
Permenkes No. 21 Tahun 2013 tentang Penanggulangan HIV/AIDS,
maka ruang lingkup surveilans terhadap infeksi ini meliputi:
1) Pelaporan kasus HIV
2) Pelaporan kasus AIDS
3) Sero surveilans sentinel HIV dan sifilis
4) Surveilans IMS
5) Surveilans HIV berbasis layanan konseling dan tes HIV
6) Surveilans terpadu biologis dan perilaku
7) Survei cepat perilaku
8) Kegiatan pemantauan resistensi ARV
Pelaksanaan surveilans HIV sering diidentikkan dengan kegiatan
surveilans sentinel oleh karena pada surveilans sentinel kegiatan lebih
ditujukan kepada populasi dengan risiko tinggi. Angka ini dapat dijadikan
sebagai pedoman estimasi dan proyeksi HIV-AIDS di masyarakat.

52

Infeksi Human Imunodeficiency Virus dan Acquired Immuno


Deficiency Syndrome (HIV-AIDS) hingga saat ini masih menjadi salah
satu masalah kesehatan masyarakat dunia. Angka kesakitan dan kematian
karena HIV-AIDS meningkat dengan tajam sejak tiga dekade yang lalu
dan menjadi epidemi terutama pada negara-negara ekonomi menengah dan
rendah. Indonesia menjadi salah satu negara dengan peningkatan angka
kesakitan dan kematian HIV-AIDS yang cukup memprihatinkan.
Di Indonesia, sejak pertama kali dilaporkan pada tahun 1987 hingga
hari ini, HIV-AIDS telah menjadi pusat perhatian dikarenakan angka
insidennya di masyarakat yang cenderung meningkat. Diperkenalkannya
obat Anti retro viral (ARV), terjadi peningkatan angka prevalensi oleh
karena angka kematiannya yang dapat ditekan.
Karakteristik infeksi HIV yang tidak menunjukkan gejala sakit pada
awal onset membuat jumlah pasti penderita HIV-AIDS di masyarakat sulit
untuk ditentukan. Kementerian kesehatan bersama segenap organisasi
pemerhati HIV-AIDS membuat suatu estimasi dan proyeksi nasional
angka infeksi HIV-AIDS di masyarakat berdasarkan data-data surveilans
sentinel dari seluruh Indonesia. Data estimasi dan proyeksi secara garis
besar terkait infeksi HIV-AIDS di Indonesia.
Berdasarkan estimasi dan proyeksi terakhir, prevalensi HIV di
Indonesia pada populasi usia 15-49 tahun diperkirakan akan meningkat
dari 0,38% pada tahun 2011 menjadi 0,5% pada tahun 2016. Perhitungan
ini juga diperoleh proyeksi penurunan angka ODHA pada populasi
PENASUN yaitu dari 28.944 pada tahun 2011 menjadi 21.559 di tahun
2016. Peningkatan ODHA diproyeksi akan terjadi pada populasi laki-laki
risiko rendah dan wanita risiko rendah, yaitu dari 101.604 pada tahun 2011
menjadi 155.477 di tahun 2016 (pada laki-laki risiko rendah) dan dari
190.349 menjadi 279.276 (pada wanita risiko rendah). Hal ini tidak
terlepas dari pergeseran pola penularan yang dahulunya diyakini hanya
terjadi diantara populasi kunci dan populasi umum yang terbatas, saat ini
telah terjadi penularan kepada populasi umum yang lebih luas.

53

Infeksi baru HIV juga diproyeksikan meningkat secara signifikan


pada populasi berisiko terutama pada laki-laki seks dengan laki-laki (LSL)
yaitu dari 14.532 pada tahun 2011 menjadi 28.640 pada tahun 2016.
Tahun 2011 jumlah ODHA diperkirakan sebanyak 545.428 orang
dan akan meningkat pada Tahun 2016 menjadi sebanyak 785.821
penderita. Jumlah infeksi baru HIV juga diproyeksikan meningkat dari
Tahun 2011 hingga 2016, demikian juga dengan jumlah kematian yang
akan meningkat pada interval tahun tersebut.

Gambar 3.2 Estimasi dan Proyeksi Jumlah ODHA, Kematian AIDS dan Infeksi HIV
Baru Dewasa Usia 15 Tahun di Indonesia tahun 2011-2016
Kebutuhan ART untuk populasi usia 15-49 tahun diperkirakan
meingkat dari 145.766 (tahun 2011) menjadi 248.903 (tahun 2016).
Sedangkan ODHA penerima ART diestimasi sebesar 24.200 atau hanya
sekitar 16,60% (tahun 2011) dan meningkat menjadi 44,594 atau sekitar
18,0% (tahun 2016). Kedua data proyeksi ini dapat digunakan lebih jauh
sebagai dasar perencanaan penyediaan ART serta mengukur cakupan
layanan ART yang tersedia.

54

Gambar 3.3. Estimasi dan Proyeksi Jumlah ODHA dan Kebutuhan ART Dewasa Usia
Sama halnya
dengan
kelompok
15-49 tahun, estimasi
15
Tahunpopulasi
di Indonesia
tahunusia
2011-2016
dan proyeksi ODHA, infeksi baru HIV, kematian karena AIDS serta
kebutuhan ART anak juga terjadi peningkatan setiap tahunnya. Jumlah
ODHA anak diperkirakan meningkat dari 14.446 di tahun 2011 menjadi
26.977 di tahun 2016. Estimasi dan proyeksi jumlah ODHA anak dibawah
15 tahun yang tertular secara vertikal atau melalui ASI diperkirakan akan
meningkat dari 3.987 (tahun 2011) menjadi 5.565 di tahun 2016. Kematian
anak karena AIDS diproyeksi mengalami peningkatan dari 1.638 pada
tahun 2011 menjdai 2.746 di tahun 2016. Angka kebutuhan ART juga
akan meningkat dari 10.126 di tahun 2011 menjadi 17.626 di tahun 2016.
Data estimasi dan proyeksi epidemi HIV pada anak dapat digunakan oleh
berbagai pihak sebagai dasar perencanaan program-program terkait
pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi, penyediaan berbagai program
layanan kesehatan HIV-AIDS untuk anak, proses evaluasi serta sebagai
dasar advokasi kepada pemangku kebijakan di tingkat pusat maupun
daerah.

55

3.6 Surveilans Epidemiologi HIV-AIDS


Berdasarkan kepmenkes No. 1479/Menkes/SK/X/2003 tentang Pedoman
Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular dan Tidak
Menular Terpadu, maka pelaksanaan surveilans penyakit di unit pelayanan di
seluruh Indonesia bersifat terpadu. Pelaporan yang disampaikan ke unit yang lebih
tinggi tidak memisahkan antara laporan penyakit menular dan tidak menular.
Namun untuk mengakomodasi beberapa permasalahan yang bersifat spesifik,
maka dilakukan pengembangan pada sistem surveilans yang sudah ada. Salah satu
contoh pengembangan sistem ini terkait surveilans penyakit menular adalah
surveilans sentinel HIV. Oleh sebab itu pada bab ini akan lebih banyak diuraikan
mengenai sistem surveilans sentinel HIV.
3.7 Tujuan Surveilans HIV-AIDS
1) Menyediakan kajian yang akurat mengenai distribusi penyebaran penyakit
berdasarkan karakteristik individu, tempat, dan waktu.
2) Menyediakan informasi mengenai kecenderungan dan distribusi penyakit
berdasarkan geografis, sosio demografis atau keterpaparan terhadap
parameter tertentu.
3) Mengidentifikasi kelompok atau daerah/wilayah yang perlu diintervensi.
4) Menyediakan informasi untuk mengevaluasi efektivitas dari suatu program
intervensi.
5) Menyediakan

data

dasar

untuk

keperluan

pengelolaan

program

pencegahan.
6) Menyediakan data untuk pengembangan dan implementasi dari upayaupaya penelitian atau pengkajian.
3.8 Manfaat Surveilans HIV-AIDS
1) Merupakan Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) HIV/AIDS di Puskesmas
dan unit pelayanan kesehatan lainnya dalam rangka mencegah Kejadian
Luar Biasa (KLB) HIV/AIDS.
2) Menjelaskan pola penyakit HIV/AIDS yang sedang berlangsung dikaitkan
dengan tindakan intervensi kesehatan masyarakat yang telah dilaksanakan.

56

3) Mempelajari riwayat alamiah dan epidemiologi penyakit HIV/AIDS,


khususnya untuk mendeteksi adanya KLB/wabah. Pemahaman melalui
riwayat penyakit dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
a. Membantu menyusun hipotesis sebagai dasar pengambilan
keputusan untuk intervensi di masyarakat.
b. Membantu identifikasi penyakit untuk keperluan penelitian
epidemiologi.
c. Mengevaluasi program pencegahan dan pengendalian penyakit
HIV/AIDS yang sedang dilaksanakan.
4) Memberikan informasi dan data dasar untuk proyeksi kebutuhan pelayanan
kesehatan dimasa mendatang.
5) Data dasar penyakit HIV/AIDS digunakan untuk menyusun perencanaan
serta evaluasi output terhadap intervensi yang telah diberikan. Dengan
semakin kompleksnya permasalahan HIV-AIDS di masyarakat, maka
diperlukan data yang baik sehingga dapat mendeteksi adanya perubahan.
6) Membantu pelaksanaan dan daya guna program pengendalian khusus
dengan membandingkan besarnya masalah kejadian penyakit HIV/AIDS
sebelum dan sesudah pelaksanaan program.
7) Mengidentifikasi kelompok risiko tinggi menurut umur, pekerjaan, tempat
tinggal dimana penyakit HIV/AIDS sering terjadi dan variasi terjadinya
dari waktu ke waktu (musiman, dari tahun ke tahun), dan cara serta
dinamika penularannya.
8) Menghasilkan informasi yang cepat dan akurat yang dapat disebarluaskan
dan digunakan sebagai dasar penanggulangan HIV/AIDS yang cepat dan
tepat.

3.9

Komponen Utama Surveilans HIV-AIDS


1. Pelaporan kasus AIDS Untuk memonitor kesakitan akibat AIDS
pada populasi umum
-

Pelaporan rutin kasus AIDS dilakukan pada seluruh fasilitas


pelayanan kesehatan di suatu negara

Masalah utama adalah tingginya under-reporting


57

2. Sero-surveilans HIV (Surveilans Sentinel HIV-AIDS)


-

Untuk mengestimasi prevalensi infeksi HIV pada populasi


tertentu

Survei sero-prevalence pada populasi tertentu ini dilakukan


secara berkelanjutan

Mengukur tingkat prevalensi dan kecenderungan peningkatan


infeksi HIV pada kelompok tertentu di masyarakat

3. Surveilans HIV Generasi Kedua


-

Dikembangkan oleh WHO dan UNAIDS sebagai respon


terhadap semakin kompleksnya permasalahan terkait epidemi
HIV.

Dikembangkan dalam sistem surveilans yang sudah ada.

Menggambarkan suatu aktifitas surveilans dengan berbagai


tingkat kesulitan tergantung dari tingkatan epidemi.

Memberikan pemahaman yang lebih komprehensif terhadap


kecenderungan peningkatan HIV/AIDS.

Meningkatkan

efektivitas

upaya

pencegahan

dan

penanggulangan.
-

Bukan baru atau berbeda dengan surveilans sebelumnya tetapi


pengembangan (improved).

Dikembangkan berdasarkan lesson learnt dari surveilans HIV


dekade pertama.

Mampu mengetahui variasi dari epidemi HIV pada daerah


yang berbeda.

3.10

Surveilans Sentinel HIV


Surveilans sentinel HIV adalah suatu cara pengamatan epidemi
HIV dengan melakukan pengumpulan data HIV melalui pengambilan dan
pemeriksaan serum darah. Data yang diambil dapat berasal dari beberapa
program kegiatan atau layanan dengan fokus pada populasi berisiko.
Misalnya VCT dan mobile VCT terhadap narapidana atau WPS, PITC di
58

puskesmas yang terdapat beberapa lokalisasi di wilayahnya, Ante natal


care atau KIA pada wilayah generalized epidemic seperti di Papua atau
kegiatan sejenis lainnya. Beberapa populasi berisiko lainnya yang dapat
digunakan sebagai sampel adalah pengguna narkoba suntik (penasun),
kelompok LGBT, pelanggan WPS, ABK, ibu hamil dsb. Tidak menutup
kemungkinan dikemudian hari populasi berisiko akan meluas pada
kelompok-kelompok masyarakat lainnya.

Tujuan Umum
Untuk

mengetahui

besarnya

masalah

epidemi

dan

trend/

kecenderungan infeksi HIV di suatu wilayah.


Tujuan Khusus
1. Memantau seroprevalensi HIV pada suatu sub-populasi tertentu,
diantaranya Wanita Penjaja Seks (WPS), Pengguna NAPZA suntik
(Penasun), Narapidana pria, Waria, Ibu hamil pengunjung klinik
KIA, Pasien IMS pria, pasien TB. Ibu hamil pengunjung klinik KIA
akan menjadi sasaran surveilans sentinel bila prevalensi HIV pada
WPS sudah mencapai 5% atau lebih pada suatu wilayah tertentu.
Selain data pada sub-populasi tertentu diatas, data juga dapat diambil
dari sub-populasi masyarakat lainnya, seperti hasil skrining PMI,
hasil pemeriksaan TKI, ABK, calon anggota TNI dan POLRI, dsb.
2. Memantau trend/ kecenderungan infeksi HIV berdasarkan waktu dan
tempat.
3. Memantau dampak program.
4. Menyediakan data untuk estimasi dan proyeksi kasus HIV-AIDS di
Indonesia.
5. Menggunakan data prevalens untuk advokasi.
6. Menyelaraskan program pencegahan dengan perencanaan pelayanan
kesehatan.
7. Menyediakan informasi untuk program TB-HIV.

59

Perkiraan jumlah infeksi HIV dan tren/ kecenderungannya dapat


diamati melalui sistem surveilans HIV-AIDS yang diselenggarakan secara
nasional. Untuk kepentingan surveilans HIV, WHO dan UNAIDS telah
membuat klasifikasi yang menggambarkan tiga tingkat epidemi HIVAIDS, yaitu rendah, terkonsentrasi dan meluas. Klasifikasi ini dihitung
dengan menggunakan data prevalensi HIV pada populasi yang berbedabeda. Dengan metode sentinel ini, hasil surveilans HIV dapat
menggambarkan permasalahan HIV di masyarakat secara lebih baik, serta
dapat digunakan sebagai dasar estimasi dan proyeksi HIV pada cakupan
yang lebih luas. Tiga tingkat epidemi ini dapat menunjukkan bahwa suatu
wilayah dapat berubah dari satu tingkat ke tingkat lainnya seiring
perjalanan waktu serta terkait erat dengan upaya penanggulangan yang
dilakukan.
Tabel 3.1 Tiga tingkat epidemi infeksi HIV
Tingkat

Ciri-ciri

Indikator

Infeksi HIV telah ada selama beberapa tahun


namun belum menyebar luas di suatu subpopulasi tertentu. Infeksi yang tercatat
Rendah (low level

terbatas pada sejumlah individu yang

epidemic)

berperilaku risiko tinggi, misal penjaja seks,


pengguna Napza suntik, waria, LSL. Jejaring

Prevalensi HIV dalam


suatu sub-populasi tertentu
belum melebihi 5%

perilaku berisiko masih terbatas, dan atau


virus HIV baru penyebar ke populasi umum
HIV telah menyebar dengan cepat dalam
suatu sub-populasi tertentu namun belum
menyebar di populasi umum. Tingkat endemi
Terkonsentrasi

ini menunjukkan tingkat perilaku berisiko

(concentrated

yang cukup aktif menularkan di dalam suatu

epidemic)

sub-populasi tertentu. Perjalanan epidemi


akan ditentukan oleh jumlah dan sifat
hubungan antara kelompok berisiko tinggi

Prevalensi HIV secara


konsisten lebih dai 5% di
sub-populasi tertentu Dan
atau Prevalensi HIV
dibawah 1% diantara ibu
hamil di daerah perkotaan

dengan populasi umum.


Meluas

HIV sudah menyebar di populasi umum

(generalized

60

Prevalensi HIV lebih dari


1% diantara ibu hamil

epidemic)

3.10.1 Pelaksanaan Surveilans Sentinel HIV


1. Menetapkan

populasi

sentinel;

populasi

sentinel

merupakan

kelompok masyarakat berperilaku risiko tinggi atau rendah. Populasi


sentinel dipilih berdasarkan sub-populasi sasaran dan lokasi tertentu.
Contoh: Napi di LAPAS Krobokan Denpasar, WPS di kompleks
Manggarsari Balikpapan, dsb.
2. Melaksanakan prinsip HAM (hak asasi manusia) dalam pelaksanaan
surveilans HIV; menerapkan unliked anonymous dengan atau tanpa
informed consent.
3. Melakukan manajemen spesimen; pengambilan spesimen secara lage
artis dan dilanjutkan pemeriksaan laboratorium, setiap sampel
diperiksa dengan diawali menggunakan reagen bersensitifitas
tertinggi dan diakhiri dengan reagen berspesifisitas tertinngi.
4. Pelaporan hasil pemeriksaan; dilakukan secara berjenjang mulai dari
Balai

Laboratorium

Kesehatan

kepada

Dinas

Kesehatan

Kabupaten/Kota dan ditembuskan ke Dinkes Provinsi serta Ditjen


PP&PL cq Dit P2ML Subdit AIDS&PMS. Dinkes Provinsi akan
memakai laporan tersebut sebagai data dasar untuk dimasukkan
kedalam program komputer SSHIV.

3.10.2 Pengelolaan Data Surveilans Sentinel


Analisis Data
Di kabupaten/ kota dan provinsi pengelola program PMS dan HIV/AIDS
melakukan

analisis

sederhana

supaya

bisa

menunjukkan

tren/

kecenderungan prevalens HIV pada setiap sub- populasi sentinel menurut


waktu dan tempat dengan menggunakan grafik- grafik sederhana.
Di tingkat pusat, data yang terkumpul dari semua daerah akan disimpan
di Subdit AIDS & PMS Ditjen PPM & PL DepKes RI. Data tersebut
akan dianalisis untuk melihat tren/ kecenderungan prevalens infeksi HIV

61

berdasarkan orang, waktu dan tempat dalam bentuk grafik dan


ditambahkan penjelasan.

Interprestasi Data
Data surveilans sentinel HIV harus diinterpretasikan untuk menilai
seberapa cepat peningkatan atau penurunan prevalens HIV pada berbagai
sub-populasi sasaran di daerah masing-masing (populasi sentinel).

Umpan Balik Data


Direktorat P2ML Subdit AIDS& PMS akan memantau pelaporan
pelaksanaan kegiatan surveilans HIV di seluruh wilayah yang
melaksanakan kegiatan surveilans sentinel HIV. Selanjutnya mereka
akan membuat laporan singkat hasil surveilans sentinel. Laporan singkat
tersebut akan dikirimkan kepada semua pihak yang terkait baik di tingkat
nasional maupun di tingkat provinsi/kabupaten/kota yang terkait. Dinas
Kesehatan Provinsi juga perlu membuat laporan singkat yang berasal dari
kabupaten/ kota setempat, dan mengirimkannya kepada semua pihak
yang terkait di provinsi tersebut. Laporan umpan balik tersebut memuat
interpretasi analisis data sentinel surveilans HIV:
Ringkasan hasil prevalens HIV menurut populasi sentinel dan waktu:
tren/kecenderungan peningkatan atau penurunan prevalens infeksi-HIV
pada masing-masing populasi sentinel yang dipilih pada masing-masing
wilayah. Bila tersedia, hasil surveilans perilaku dilaporkan bersama hasil
sero-surveilans sentinel HIV.

3.10.3 Monitoring dan Evaluasi


Monitoring merupakan pengawasan rutin terhadap informasi penting dari
kegiatan surveilans sentinel yang sedang dilaksanakan dan hasil-hasil
program yang harus dicapai. Pada pelaksanaan surveilans sentinel,
monitoring dilakukan pada prosesnya melalui sistem pencatatan dan
pelaporan. Kegiatan ini dilaksanakan oleh petugas Dinas Kesehatan

62

Kabupaten/Kota, Dinas Kesehatan Provinsi, BLK dan Subdit AIDS&


PMS sesuai dengan protap.
Indikator yang digunakan untuk mengukur kegiatan surveilans sentinel
HIV adalah:
Indikator Proses:
- Semua kegiatan yang tercamtum pada protap harus dimasukkan
dalam daftar tilik pada saat supervisi dan menjadi indikator proses.
Indikator Output:
- Pencapaian populasi sentinel sesuai rencana, berdasarkan subpopulasi dan lokasi.
- Ketepatan waktu pelaksanaan kegiatan. Kegiatan surveilans
sentinel direncanakan setiap setahun sekali, dengan kurun waktu
pelaksanaan 2 bulan untuk masing-masing sub-populasi sasaran.
Individu yang sama tidak boleh terulang sebagai sampel. Bila
jumlah sampel sangat minimal, waktu pelaksanaan dapat
diperpanjang hingga 4 bulan.
- Ketepatan waktu pelaporan hasil kegiatan. Laporan hasil
pemeriksaan HIV dan sifilis dikirim dengan memakai formulir
HIV-2 paling lambat satu bulan setelah selesai pengumpulan
spesimen di lapangan.

Evaluasi program biasanya dilakukan pada akhir proyek, akan


tetapi karena surveilans sentinel bersifat berkesinambungan, maka
evaluasi dilakukan pada setiap akhir tahun anggaran, bersamaan dengan
penyusunan POA tahun berikutnya. Evaluasi kegiatan surveilans sentinel
dilakukan pada tahap input, proses pelaksanaan dan output.
Pada evaluasi input pemegang program Hiv dari semua tingkat
administrasi

perlu

mengevaluasi

berbagai

kebutuhan,

termasuk

menetapkan kerangka sampel yang benar serta melakukan pemetaan


lokasi sentinel. Tentunya yang tidak kalah penting adalah ketersediaan
SDM, bahan peralatan serta pembiayaan yang dibutuhkan.

63

Evaluasi proses perlu dilakukan untuk mengetahui efektifitas


pelaksanaan kegiatan. Pada tahap ini harus dapat digambarkan siapa
melakukan apa serta bagaimana caranya. Contohnya adalah apakah
petugas pengambil spesimen telah melakukan pengambilan sampel sesuai
protap serte telah melakukan pengkodean dengan benar pada tabung
sampel.
Evaluasi output harus menggambarkan kegunaan data, kualitas
serta cakupan survei. Evaluasi kegunaan hasil surveilans dilakukan dengan
menginterpretasikan kecenderungan prevalensi HIV pada sub-populasi
yang diamati. Evaluasi terhadap kualitas data dilakukan untuk mengetahui
seberapa valid data yang dihasilkan. Evaluasi terhadap cakupan survei
meliputi hal-hal yang menghambat pelaksanaan seperti jarak yang jauh,
jadwal pelaksanaan yang padat, baiaya serta keadaan sosial budaya
setempat.

64

BAB 4
HASIL & PEMBAHASAN

4.1

Hasil Surveilans HIV tahun 2012-2015

4.1.1

Gambaran umum kasus HIV-AIDS di Jawa Timur


Jawa Timur merupakan salah satu provinsi penyumbang terbanyak
kasus AIDS di Indonesia. Dari gambaran umum kasus HIV AIDS di
Provinsi Jawa Timur sampai Desember 2015, estimasi kasus HIV/AIDS
sebesar 57.321, dimana sebanyak 32.646 kasus ditemukan dan 24.675
kasus belum ditemukan. Sebanyak 15.461 penderita HIV menjadi AIDS
dan 17184 belum menjadi AIDS (HIV positif). Kasus HIV diperoleh dari
laporan klinik Voulantry Counseling and Testing (VCT) di masing-masing
Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) baik itu di Rumah Sakit maupun
Puskesmas. AIDS merupakan fase setelah penderita dinyatakan sebagai
HIV posistif. Kasus AIDS diperoleh dari laporan surveilens di masingmasing UPK yang menemukan kasus HIV yang sudah memiliki gejala
stadium 3 (tiga) dan stadium 4 (empat) dan juga laporan dari klinik Care
Support Treatment (CST).

Gambar 4.1 Gambaran umum kasus HIV-AIDS dan kematian AIDS di


Jawa Timur s/d Desember 2015 (Dinkesprov Jatim, 2016)
Perkembangan angka kasus AIDS tiap tahun mengalami fluktuatif.
Puncak tertinggi kasus AIDS pada tahun 2013, kemudian menurun di
tahun berikutnya sebanyak 1363 kasus, sedangkan kasus HIV menurun
65

sebanyak 280 kasus. Dengan adanya klinik VCT di UPK untuk penemuan
dini kasus HIV dan klinik CST dalam rangka tindak lanjut penemuan
kasus HIV, terlihat bahwa kondisi dari tahun 2014 hingga Maret tahun
2015 grafik garis antara kasus HIV dan AIDS melebar. Hal ini
menunjukkan keberhasilan UPK dalam menekan jumlah kasus AIDS
sehingga kematian karena AIDS juga semakin menurun.

4.1.2

Jumlah kasus penderita AIDS berdasarkan jenis kelamin.


6000
HIV

5000

5110

AIDS

4830

Mati

4000
3346
3000

2000

1000

3244
2646
2250

2746

2203
1560 1873
1691
1383
1131 1194
1235 1249
1143
836
591 335 376 422 382
422
226 115
491
11 25 59100121197
203 342
322
198
2 0 1 0 23 0 1 32 2 3 3
6
2 7 5 28 46 76 121 221
89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 00 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15
TAHUN

Grafik 4.1 Penderita AIDS berdasarkan jenis kelamin di Jawa Timur s/d
Maret 2015.
Sumber data: Laporan Klinik VCT dan CST di RS dan Puskesmas se Jawa
Timur.
Berdasarkan grafik diatas jumlah penderita AIDS terjadi pada
penderita berjenis kelamin laki-laki dibandingkan perempuan. Kasus
tertinggi terjadi pada tahun 2013 sebesar 1629 penderita laki-laki dan 1117
penderita perempuan. Besarnya kasus AIDS pada kelompok laki-laki bisa
disebabkan oleh berbagai macam faktor baik kondisi imunocompromised
maupun adanya penyakit oportunistik. Disamping itu kurangnya kesadaran
penderita untuk mengkonsumsi obat ARV secara teratur juga menjadi
salah satu faktor penyebab tingginya kasus AIDS pada penderita laki-laki.

66

4.1.3 Jumlah kasus AIDS di Provinsi Jawa Timur berdasarkan kelompok


umur s/d Desember 2015.

Grafik 4.2. Penderita AIDS berdasarkan usia di Jawa Timur s/d Desember
2015.
Sumber data: Laporan Klinik VCT dan CST di RS dan Puskesmas se Jawa
Timur.

Pada kelompok umur penderita, usia yang paling dominan


menderita penyakit AIDS yaitu usia 25-29 tahun sebanyak 3.279 kasus,
disusul kelompok usia 30-34 tahun sebanyak 3.137 kasus. Pada rentang
usia tersebut merupakan masa usia seksual aktif. Peningkatan hormon
seksual mempengaruhi untuk melakukan aktivitas seksual. Sehingga
banyak aktivitas free seks mempengaruhi insiden terjadinya HIV AIDS.
Disamping itu kemudahan akses terhadap pornografi diberbagai media
mulai handphone hingga internet yang menjadi salah satu penyebab pada
usia tersebut melakukan hubungan seks serta perilaku seksual yang
dilakukan cenderung tanpa menggunakan kondom. Disamping itu
penggunaan alat suntik bersama pada kasus penggunaan narkoba juga
menjadi faktor pemicu peningkatan jumlah kasus HIV AIDS.
Pada usia 0-4 tahun jumlah kasus AIDS sebanyak 373 kasus, ini
merupakan indikasi adanya Mother to Child Transmission (MTCT) atau
penulara dari HIV dari ibu ke anak selama kehamilan. Kondisi daya tahan
tubuh

yang

rendah

serta

adanya

67

penyakit

oportunistik

sangat

mempengaruhi kondisi fisik anak sehingga menyebabkan terjadinya HIV


AIDS.

4.1.4

Jumlah kumulatif kasus AIDS di Jawa Timur berdasarkan jenis


pekerjaan s/d Desember 2015.

Grafik 4.3 Penderita AIDS berdasarkan jenis pekerjaan di Jawa Timur s/d
Desember 2015.
Sumber data: Laporan Klinik VCT dan CST di RS dan Puskesmas se Jawa
Timur.
Pada kelompok jenis pekerjaan didominasi oleh Wiraswasta
sebanyak 2654 kasus. Pekerjaan wiraswasta mengacu pada kelompok
pekerjaan yang bersifat mandiri seperti pengusaha, pedagang, asisten
rumah tangga, tukang becak sopir, buruh bangunan, dan lain lain.
Pekerjaan pada kelompok wiraswasta tidak mengacu spesifik pada jenis
pekerjaan tertentu. Selain itu kriteria profesi

wiraswasta tidak dapat

digambarkan secara jelas dan terperinci, namun sangat dimungkinkan pada


saat survey pekerja seks komersial juga mengaku berprofesi sebagai
wiraswasta, sehingga memberikan nilai yang tinggi pada survey HIV
AIDS berdasarkan profesi. Nandasari dan Hendrati (2015) melakukan
penelitian pada sopir di daerah Sidoarjo, mengkategorikan bahwa
pekerjaan sopir juga merupakan pekerjaan wirasawata. Hasil penelitian
68

tersebut juga menyebutkan bahwa dari 62 responden 5% positif HIV, dan


berpotensi menularkan terhadap pasangannya. Dari sebagian penelitian,
menggambarkan bahwa kelompok wiraswasta merupakan jenis pekerjaan
yang luas jenisnya, sehingga penularan HIV belum dapat menggambarkan
secara spesifik berdasarkan jenis pekerjaan wiraswasta tertentu.
Pada urutan kedua jenis pekerjaan yang banyak terjadi kasus
HIV/AIDS adalah ibu rumah tangga sebanyak 2563 kasus. , Banyak faktor
yang mempengaruhi peningkatan insiden pada kaum ibu rumah tangga,
mulai dari tertular oleh suami (suami sering gonta-ganti pasangan) hingga
sebagian ibu rumah tangga melakukan perselingkuhan dengan alasan
suami bekerja ditempat yang jauh yang mempengaruhi penurunan
frekuensi hubungan seksual dengan suami.
Pada urutan terendah jenis pekerjaan yang berpotensi terjadinya
AIDS adalah pilot sebanyak 2 kasus, hal ini dikarenakan adanya skrining
yang berkelanjutan terhadap seorang pilot sebagai standart uji kelayakan
penerbangan dari segi kesehatan. Sehingga diagnosa secara dini dapat
membantu mencegah terjadinya peningkatan jumlah kasus AIDS.

4.1.5

Jumlah Kasus AIDS berdasarkan tempat tinggal di Provinsi Jawa


Timur s/d Desmber 2015.

Grafik 4.4 Penderita AIDS berdasarkan tempat tinggal di Jawa Timur s/d
Desember 2015.

69

Sumber data: Laporan Klinik VCT dan CST di RS dan Puskesmas se Jawa
Timur.
Daerah tertinggi kasus AIDS di Provinsi Jawa Timur yaitu kota
Surabaya sebanyak 7232 kasus. Kota Surabaya merupakan kota
metropolitan urutan kedua setelah Jakarta, sehingga banyak terjadi
urbanisasi ke kota Surabaya. Banyaknya populasi baik penduduk setempat
maupun maupun pendatang beresiko tinggi terjadinya penularan HIV
AIDS melalui kontak seksual. Disamping itu pola gaya hidup yang tinggi
membuat banyak masyarakat yang senang berkunjung ke tempat hiburan
malam yang tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan narkoba
secara bersama-sama dengan menggunakan jarum suntik.
Jumlah insiden kasus AIDS terendah yaitu Pamekasan sebanyak 16
kasus. Sebagian dari penduduk Pamekasan banyak yang bekerja sebagai
Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. Hal ini tidak menutup
kemungkinan para pekerja tertular HIV selama berada di luar negeri. Oleh
karena itu perlu adanya skrining berkelanjutan khususnya pada masyarakat
yang memang diduga beresiko tertular HIV salah satunya pada kelompok
pekerja (TKI) yang kembali ke kampung halaman.

4.1.6

Prosentase kasus AIDS berdasarkan faktor resiko di Provinsi Jawa


Timur s/d Desember 2015

Grafik 4.5. Penderita AIDS berdasarkan faktor resiko di Jawa Timur s/d
Desember 2015.
70

Sumber data: Laporan Klinik VCT dan CST di RS dan Puskesmas se Jawa
Timur.
Faktor resiko tertinggi terhadap HIV AIDS terjadi pada kelompok
heteroseksual sebesar 11 526. Potensi melakukan hubungan seksual terjadi
pada kelompok ini, karena secara normal melakukan hubungan seksual
dengan lawan jenis. Oleh karena itu kelompok ini menjadi resiko terbesar
dalam penularan HIV AIDS.
Urutan yang kedua sesuai dengan grafik diatas, yaitu penggunaan
bersama-sama obat-obat terlarang melalui jarum suntik sebesar 1713. Pada
kasus tersebut jumlah insidennya lebih tinggi dibandingkan kelompok
homoseksual sebesar 558, dikarenakan pada kelompok ini aktivitas
seksual terjadi hanya pada orang-orang tertentu atau pada suatu komunitas
pecinta sesama jenis. Sehingga angka insiden resiko kasus AIDS lebih
rendah dibandingkan kelompok heteroseksual.
Pada kelompok perinatal jumlah faktor resikonya sebesar

529

yang berarti tidak menutup kemungkinan terjadinya penularan HIV


melalui Mother to Child Transmission (MTCT). Di zaman yang modern
ini banyak terjadi kasus perselingkuhan yang menjadi awal penularan HIV
dalam suatu pasangan rumah tangga yang dapat mengakibatkan penularan
kepada janin.

4,1,7

Tren penemuan kasus HIV-AIDS di Jawa Timur tahun 1989 2015

Grafik 4.6 Tren penemuan Kasus HIV/AIDS di Jawa Timur tahun 19892015
71

Sumber data: Laporan Klinik VCT dan CST di RS dan Puskesmas se Jawa
Timur.
Berdasarkan grafik diatas trend penemuan kasus HIV AIDS di
Jawa Timur semakin tahun menunjukkan peningkatan yang signifikan. Hal
ini disebabkan banyak faktor. Pada tahun 1989 hingga 2004 kasus HIV
sebanyak 197 kasus dan 540 kasus HIV AIDS.
Kasus HIV tidak banyak terdeteksi namun jumlah penderita AIDS
yang tinggi menggambarkan deteksi dini HIV belum maksimal, hal ini
mungkin disebabkan karena pada masa tersebut penyakit tersebut masih
menjadi stigma di masyarakat, kurangnya pengetahuan dan pemahaman
masyakarat akan penyakit HIV AIDS, belum maksimalnya layanan
kesehatan primer dalam penanganan penderita HIV AIDS, kebijakan
kesehatan yang belum tertata dengan rapih, alokasi sumber daya (dana dan
SDM ) yang belum memadai dalam penanggulangan HIV AIDS baik di
Fasilitas Layanan Kesehatan maupun di masyarakat.
Mulai tahun 2005, berdasarkan grafik menunjukan trend kenaikan
penemuan kasus lebih banyak pada pengidap HIV daripada penderita
AIDS. Hal ini disebabkan system surveilans yang mulai berjalan, diiringi
dengan penguatan disarana kesehatan, dukungan logistic dana dan sumber
daya manusia, penguatan kebijakan HIV AIDS, yang kesemuanya
bertujuan dalam penaggulangan dan eliminasi HIV AIDS.
Tahun 2005 dilakukan program konseling tes secara sukarela
(KTS), yaitu konseling sukarela dan tes HIV yang dilakukan atas inisiatif
individu yang bersangkutan, dalam hal ini merupakan individu yang
berisiko tinggi terkena HIV/AIDS. Pada konseling tes sukarela
mengedepankan konfidensialitas (kerahasiaan pemeriksaan tes HIV), dan
hanya dibuka pada tenaga kesehatan yang menangani, keluarga terdekat
atau pasangan seksual individu tersebut. Sehingga kerahasiaan individu
akan terjaga dan terhindar dari stigma masyarakat akan penyakit HIV
AIDS.

Perkembangan

angka kasus

HIV

tiap tahun mengalami

peningkatan. Peningkatan penemuan kasus HIV sangat penting, karena

72

dengan ditemukannya pengidap HIV dapat dilakukan pencegahan sedini


mungkin terjadinya penularan atau peningkatan kejadian infeksi HIV.
Pada tahun 2011 dilakukan tes konseling inisiasi petugas
kesehatan, dan tahun 2014 dimulai program SUFA (Strategic Use of
ARV) yaitu penggunaan antiretroviral (ARV) untuk pengobatan dan
pencegahan HIV AIDS. SUFA bertujuan untuk meningkatkan cakupan tes
HIV, meninkatkan cakupan ART, serta meningkatkan retensi terhadap
ART (Kemenkes, 2016). Diharapkan dengan semakin dini penderita HIV
diberikan antiretroviral, maka jumlah virus dalam darahnya akan menurun
dan risiko penularan kepada orang lain juga berkurang, sehingga mutu
hidupnya juga lebih baik (Kemenkes, 2016).
Dukungan layanan HIV di sarana kesehatan juga semakin
membaik, dengan adanya klinik VCT di UPK untuk penemuan dini kasus
HIV dan klinik CST dalam rangka tindak lanjut penemuan kasus HIV,
terlihat bahwa kondisi dari tahun 2014 hingga Desember tahun 2015
grafik garis antara kasus HIV dan AIDS melebar. Hal ini menunjukkan
keberhasilan UPK dalam menekan jumlah kasus AIDS sehingga kematian
karena AIDS juga semakin menurun.

4.2

Pembahasan HIV-AIDS pada Ibu Rumah Tangga

4.2.1

Fenomena HIV-AIDS pada ibu rumah tangga


Kemenkes RI tahun 2014 menyatakan bahwa dalam tahun 1987
sampai dengan September 2014, jumlah kumulatif AIDS berdasarkan jenis
pekerjaan, didapatkan tertinggi pada ibu rumah tangga dengan 6.539
kasus, diikuti wiraswasta dengan 6.203 kasus, kemudian tenaga nonprofesional (karyawan) (5.638 kasus). Berdasarkan data tersebut, penderita
HIV /AIDS perempuan yang paling banyak adalah penderita yang
berprofesi sebagai ibu rumah tangga.
Ibu rumah tangga merupakan pekerjaan yang tidak memiliki
perilaku berisiko terjangkit HIV-AIDS. Hal ini disebabkan berbagai
macam

hal,

salah

satunya

adalah

73

penularan

melalui

hubungan

heteroseksual yaitu hubungan seksual dengan suami mereka yang mungkin


juga menderita HIV (Wahdini, 2012).

4.2.2

Faktor resiko kejadian HIV-AIDS pada ibu rumah tangga


Kajian sosiologi feminis menjelaskan perempuan ibu rumah tangga
rentan terinfeksi virus HIV-AIDS karena rendahnya daya tawar dan
negosiasi dalam hal hubungna seksual. Berikut adalah faktor yang dapat
meningkatkan risiko kejadian HIV-AIDS pada ibu rumah tangga:
1. Adanya kerentanan sosial bidaya dan ekonomi seperti mentoleransi
hubungan seksual diluar nikah, multi partner dan ketergantungan
financial perempuan kepada laki-laki (WHO, 2004)
2. Perempuan merasa aneh bila harus berdiskusi seksualitas termasuk
tentang kondom karena selalu mempercayai suami (IWGW 2004 dan
UNAIDS, 2009)
3. Tertular perilaku berisiko suami dalam hubungan perkawinan seperti
seks komersial dan narkoba suntik (Komisis Penanggulangan AIDS
Nasional, 2010)
4. Mobilitas penduduk, pembangunan fisik yang dilaukakan di daerah
perkotaan dan lapangan kerja yang sempit di daerah pedesaan
menyebabkan arus urbaniasi ke kota-kota besar di Indonesia
meningkat, yang membuat banyak penduduk desa yang melakukan
urbanisasi untuk bekerja di kota dengan pengetahuan yang sangat
minim tentang HIV-AIDS (Komisis Penanggulangan AIDS Nasional,
2010).

4.2.3

Faktor penyebab ibu rumah tangga beresiko terinfeksi HIV-AIDS


Beberapa hal yang berkaitan dengan faktor penyebab ibu rumah tangga
terinfeksi HIV AIDS ;

1. Daya tawar Lemah (bargaining power lemah)


Budaya patriarki yang masih kuat di Indonesia menempatkan ibu rumah
tangga pada posisi tawar yang lemah

74

2. Pendidikan yang rendah


Kurangnya pengetahun tentang penyakit HIV AIDS disebabkan karena
minimnya pengetahuan dan pendidikan yang rendah dikalangan ibu rumah
tangga, sehingga ibu rumah tangga tidak dapat melindungi kesehatan
dirinya
3. Stigma dan diskriminasi
Penyakit HIV AIDS merupakan penyakit yang mendapat stigma negative
dari masyarakat karena penderitanya dianggap tidak layak hidup
berdampingan dengan orang yang sehat, karena dianggap dapat
menularkan kepdaa siapa saja yang berinteraksi dengan penderita
HIV/AIDS. Apabila ibu rumah tangga mengidap HIV AIDS maka akan
menimbulkan

stigma

ganda

dan

pandangan

masyarakat

yang

negative.Stigma, diskriminasi dari keluarga, kerabat dan masyarakat


umum berakibat pada diskriminasi pada psikologi maupun fisik pada ibu
rumah tangga.
4. Sikap menerima dan pasrah akan kondisi kesehatan
Sikap pasrah dan menerima apa adanya merupakan gambaran ibu rumah
tangga menghadapi kondisinya yang mengidap HIV AIDS. Sikap
menerima dianggap sebagi resiko sebagai seorang istri.
5. Pengetahuan dan kesadaran
Sikap menerima pada ibu rumah tangga tidak terlepas dari pengetahuan
dan kesadaran tentang virus HIV AIDS terutama bahaya yang ditimbulkan
jika sudah terinfeksi. Ibu rumah tangga beranggapan virus HIV AIDS
yang berkaitan dengan kesehatan seksualitas bukanlah masalah utama
kesehatan individu.
6. Traficking
Sebagian ibu rumah tangga juga bisa terinfeksi HIV AIDS karena masa
lalunya yang buruk, slah satunya melalui trafiking .
7. Layannan VCT
Layanan

VCT

ditiap

daerah

yang

berbeda

beda

menyebabkan

penanganan,dan penanggulangan tidak tepat. Hal ini dapat menjadi faktor


penyebab peningkatan penyebaran virus HIV/AIDS, karena layanan
75

informasi masyarakat terkait reproduksi yang minim. Tidak tersedianya


layanan untuk bertanya atau berkomunikasi membuat masyarakat
beranggapan penyakit HIV tidak menjadi persoalan utama dan tidak bisa
dilakukan pencegahan.

76

BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN

1. Penatalaksanaan Kasus HIV AIDS di Indonesia berpedoman pada tata


Laksana Klinis Infeksi HIV dan Terapi Antiretroviral (Kemenkes, 2011),
meliputi perawatan (care), dukungan (support), dan pengobatan (treatment).
Jika pasien sudah ditetapkan positif HIV/AIDS maka langkah selanjutnya
adalah menentukan stadium klinis HIV/AIDS menurut WHO, skrining TB dan
infeksi oportunistik lainnya, pemeriksaan CD4 untuk menentukan PPK
(pengobatan pencegahan kotrimoksasol) dan ARV, pemberian PPK jika tidak
tersedia pemeriksaan CD4, identifikasi kepatuhan, positive prevention dan
konseling KB. Setelah langkah langkah tersebut pasien dibagi menjadi tiga
kelompok berdasarkan kesesuaian pemberian terapi ARV yaitu pasien yang
memenuhi syarat ARV, pasien belum memenuhi syarat ARV dan pasien ada
kendala kepatuhan (Kemenkes, 2011)

2. Pelaksanaan system surveilans HIV di Jawa Timur berpedoman pada


Kepmenkes No. 1479/Menkes/SK/X/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan
Sistem Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular dan Tidak Menular
Terpadu, dan Surveilans Sentinel HIV AIDS. Sistem Surveilans Epidemiologi
Penyakit Menular dan Tidak Menular Terpadu adalah sistem pelaopran
terpadu diseluruh Indonesia dimana pelaporan yang disampaikan ke unit yang
lebih tinggi tidak memisahkan antara laporan penyakit menular dan tidak
menular sedangkan Surveilans Sentinel HIV merupakan pengamatan epidemi
HIV dengan pengumpulan data HIV melalui pengambilan dan pemeriksaan
serum darah. Data berasal dari beberapa program kegiatan atau layanan
dengan fokus pada populasi berisiko seperti VCT dan mobile VCT terhadap
narapidana atau WPS, PITC di puskesmas yang terdapat beberapa lokalisasi di
wilayahnya, Ante natal care atau KIA pada wilayah generalized epidemic
seperti di Papua atau kegiatan sejenis.
77

3. Gambaran Kasus HIV AIDS di Provinsi Jawa Timur sampai Desember 2015,
estimasi kasus HIV/AIDS sebesar 57.321, dimana sebanyak 32.646 kasus
ditemukan dan 24.675 kasus belum ditemukan. Sebanyak 15.461 penderita
HIV menjadi AIDS dan 17184 belum menjadi AIDS (HIV positif).
4. Gambaran kasus HIV AIDS berdasarkan jenis pekerjaan, didominasi oleh
Wiraswasta sebanyak 2654 kasus, pada urutan kedua ibu rumah tangga
sebanyak 2563 kasus, dan terendah adalah profesi pilot sebanyak 2 orang.
5. Upaya penanggulangan HIV AIDS yang dilakukan Dinkes Provinsi Jatim;
a. Menjalankan program nasional dan meningkatkan wilayah cakupan
b. Mengembangkan system dukungan, perawatan dan penaggulangan HIV
AIDS dengan mengeluarkan peraturan daerah yang berhubungan dengan
upaya penanggulangan HIV AIDS seperti ;Perda Propinsi Jatim No 5
tahun 2004 tentang Pencegahan dan penaggulangn HIV AIDS dijawa
Timur; Perda Prov Jatim No 2 Tahun 2016 tentang upaya kesehatan
(Pemprov Jatim)
c. Kegiatan Surveilans Terpadu dan Surveilans Sentinel HIV,
d. Rencana aksi kegiatan;

Penyediaan logistik : 1) desentralisasi ARV ke Kabupaten /kota


2)Penguatan one gate policy

Penguatan keterlibatan UPT dalam program :Aktifasi layanan tes


HIVdi seluruh UPT RSU dan RSP/Kusta

Peningkatan keterlibatan stake holder : 1) penguatan koordinasi SUFA


2)Hari AIDS sedunia 3) Kampanye ABAT (Promkes)

Peningkatan capaian indicator program : 1) Intensifikasi SUFA 2)


Penguatan LKB 3) Implementasi layanan ARV di Puskesmas

Peningkatan mutu program : Pemantapan mutu Eksternal

5.2 SARAN

78

1. Penguatan upaya promosi kesehatan dalam upaya pencegahan dan


penanggulangan HIV AIDS terutama pada kelompok yang berisiko
tinggi menular pada ibu rumah tangga
2. Memberikan dukungan pada pihak keluarga dan masyarakat terhadap
pengidap HIV/ AIDS sehingga dapat membantu pencegahan dan
penanggulangan penyakit HIV AIDS.
3. Penguatan konseling HIV AIDS bagi penderita HIV/AIDS
4. Penguatan penanggulanan HIV AIDS dengan memberdayakan
masyarakat

melalui

program

berkesinambungan

79

program

yang

terintegrasi

dan

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan RI (2009). Pedoman Penatalaksanaan Infeksi Menular


Seksual. Jakarta : Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan
Penyehatan Lingkungan.
Ditjen PP dan PL Kemenkes RI. (2012). Laporan Situasi Perkembangan HIV
dan AIDS di Indonesia sampai Dengan Maret 2012.
http://www.pppl.depkes.go.id/_asset/_download/SITUASI_AIDS_TERKI
NI.pdf diakses tanggal 15 Mei 2016
Hidayat, A. , Azis, A., 2008, Pengantar Konsep Dasar Keperawatan, Salemba
Medika, Jakarta.
Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1507/MENKES/SK/X/2005.
Tentang Pedoman Pelayanan Konseling Dan Testing HIV/AIDS Secara
Sukarela (Voluntary Counselling And Testing).
Keputusan Menteri Kesehatan RI 241/MENKES/ SK/ IV/2006. Tentang
Standar Pelayanan Laboratorium Kesehatan Pemeriksa HIV dan Infeksi
Oportunistik
Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1278/MENKES/SKM/XII/2009
Tentang Pedoman Pelaksanaan Kolaborasi Pengendalian Penyakit TB dan
HIV
Keputusan Menteri Kesehatan RI, 2011. Tatalaksana Klinis Infeksi HIV dan
Terapi Antiretroviral pada orang Dewasa. Jakarta: Ditjen PP PL
Kementerian Kesehatan RI (2013). Pedoman Nasional Monitoring Dan
Evaluasi Program Pengendalian HIV dan AIDS serta IMS (Draf). Jakarta:
Ditjen PP&PL, Kementerian Kesehatan RI
Kementerian Kesehatan RI (2014). Pedoman pelaksanaan pencegahan
penularan HIV Dan sifilis dari ibu ke anak bagi tenaga kesehatan :
Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak
Kemenkes RI.2014. Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI,
Infodatin : Situasi dan Analisis HIV AIDS. Jakarta : Kemenkes RI

80

Kemenkes, 2014.Sufa , Inovasi baru dalam Upaya pengendalian HIV/AIDS di


Indonesia.

Jakarta

Kementerian

Kesehatan

RI

diakses

dari

www.depkes.go.id/article/view/201408140001 tanggal 15 Mei 2016


Kementerian Kesehatan RI (2015). Pedoman Teknis Surveilans Sentinel HIV .
Jakarta: :Ditjen PP&PL, Kementerian Kesehatan RI
Kementerian

Pemberdayaan

Perempuan

Republik

Indonesia,

2008,

Pemberdayaan Perempuan dalam Pencegahan Penyebaran HIV-AIDS,


Jakarta.
Kodim, N., 2011. Program HIV/AIDS untuk Rakyat. Kesmas, Jurnal
Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 5, No. 4, Februari 2011
Nasronudin, 2009, HIV & AIDS Pendekatan Biologi Molekuler, Klinis dan
Sosial, Airlangga University Press, Surabaya.
Nurbani, F. 2009, Dukungan Sosial pada ODHA, Universitas Gunadarma,
Bekasi.
Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 7 Tahun 2011 Tentang Pelayanan
Darah
Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 37 Tahun 2012 Tentang
Penyelenggaraan Laboratorium Pusat Kesehatan Masyarakat
Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 21 Tahun 2013 Tentang
Penanggulangan HIV dan AIDS
Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 46 Tahun 2014 Tentang Sistim
Informasi Kesehatan
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 87 Tahun 2014. Tentang Pedoman
Pengobatan Antiretroviral
Purwaningsih, Mitsutarno, Imamah, S.I 2015, Analisis Faktor Pemanfaatan
VCT pada Orang Risiko Tinggi HIV/AIDS, hal 5-67.
Sugiana, I.M., 2015. Analisis Kesiapan Layanan Puskesmas Sebagai Satelit
Antiretroviral Therapy bagi Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di
Kabupaten Badung. Denpasar: Universitas Udayana. Tesis
Syamsul, R., 2015. Peran Dinas Kesehatan dalam Penanggulangan HIV/
AIDS di Kabupaten Penajam Paser Utara. Jurnal Ilmu Pemerintahan, 3
(2), 2015: 812- 822
81

UNAIDS.

2013a.

The

Gap

Report.

Diakses

dari

http:/www.unaids.org/en/media/unaids, tanggal 13 Mei 2016


UNAIDS. 2013b. Global report: UNAIDS report on the global AIDS epidemic
2013. Diakses darihttp://www.unaids.org/en/media/unaids/
contentassets/documents/epidemiolog, tanggal 13 Mei 2016
UNAIDS. 2014. Global AIDS response progress reporting 2014: construction
of core indicators for monitoring the 2011 UN political declaration on
HIV/AIDS. Diakses tanggal 13 Mei 2016
USAID. 2014. Assessment of Primary Health Care Facilities for
Decentralization of HIV/AIDS Services in Nigeria. Available frome URL
http://www.cpc.unc.edu/measure/ publications/tr-13-93. Diakses tanggal
13 Mei 2016
Wahdini, Hafda Putri H.2015. Keinginan Melakukan Voluntary Counselling
And Testing (Vct) Pada Wanita Menikah Di Jatinangor. Jakarta.2015
Nandasari F., Hendrati Lucia Y.2015.Identifikasi Perilaku Seksual dan
kejadian HIV (human immunodeficiency virus) pada Sopir Angkutan
Umum di Kabupaten Sidoarjo. Jurnal Berkala Epidemiologi, Vol. 3, No. 1
Januari 2015: 377386
World

Health

Organization.UNAIDS.

Update.Switzerland:2016

82

2016.

Global

AIDS