Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG


Paronikia merupakan salah satu infeksi tersering yang mengenai tangan.1
Definisi paronikia adalah inflamasi atau infeksi pada jaringan lunak disekitar kuku
(periungual). Secara klinis, paronikia tampak sebagai suatu kondisi yang akut atau
kronis. Inflmasi atau infeksi yang terjadi bersifat terlokalisir dan superficial pada
perioncyhium, yaitu epidermis yang mengelilingi kuku, lebih sering mengenai jari
tangan daripada jari kaki. Paronikia terjadi ketika terdapat gangguan pada pelindung
antara lipatan proksimal kuku dan lempeng kuku. Factor predisposisi antara lain
adanya kebiasaan menggigit atau menghisap uku serta sering terpaparnya kuku pada
kondisi basah/lembab.1,2,3
Gejala klinis paronikia akut sering diabaikan oleh pasien, sehingga tidak
mendapatkan terpai yang adekuat akan berkembang menjadi suatu kondisi pronikia
kronis. Paronikia kronis yang bersifat rekalsitran, sebelumnya dianggap sebagai suatu
kondisi yang disebabkan oleh Candida. Namun, akhir-akhir ini data terbaru
menunjukkan bahwa paronikia kronis merupakan bentuk dermatitis pada tangan yang
disebabkan oleh paparan terhadap bahan iritan atau allergen. Munculan suatu sudut
pandang baru bahwa paronikia kronis bukan suatu penyakit mikosis melainkan suatu
kondisi eksematous dengan etiologi yang multifactorial.4
I.2 TUJUAN
Tujuan pembuatan referat ini agar dapat memahami penyebab, patofisiologi,
jenis-jenis, gambaran klinik sampai dengan terapi paronychia akut maupun kronis.

I.3 MANFAAT
1

Manfaat dari pembuatan referat ini adalah dapat menegakan diagnosis


dengan tepat pada praktek klinik sehingga dapat dilakukan tatalaksana yang sesuai
dengan penyakit tersebut.

BAB II
PEMBAHASAN
II.1 Anatomi Kuku
Kuku merupakan unit kompleks yang terdiri dari 5 bagian utama struktur
kutaneus yang termodifikasi, yaitu matriks kuku, lempeng kuku, dasar kuku, kutikula
(eponikium) dan lipatan kuku.5,6

Kuku muncul dari lipatan kuku proksimal dan membagi lipatan kuku menjadi
2 komponen, yaitu bagian dorsal roof dan ventral floor, dimana keduanya
mengandung germinal matrix. Kutikula tumbuh dari lipatan kuku proksimal dan
terletak diantara kulit jari dan lempeng kuku, menggabungkan kedua struktur ini
bersamaan. Konfigurasi ini membentuk suatu segel/perlindungan yang tahan air,
secara normal berfungsi mencegah bahan iritan eksternal, allergen dan organisme
pathogen memasuki area matriks proksimal. Sama halnya dengan dinding dan
lipatan kuku bagian lateral. Ketiga segel ini rusak, maka akan terbentuk suatu
3

celah sehingga bahan iritan atau pathogen dapat dengan mudah memasuki celah
tersebut, hal inilah yang dapat menyebabkan paronikia2,4
Lipatan Kuku Proksimal
Meliputi seperempat proksimal dari lempeng kuku . Memiliki dua permukaan epitel ,
dorsal dan ventral. Tanpa tanda dermatoglyphic dan kelenjar sebaceous. Bagian
dorsal secara anatomi serupa dengan kulit pada jari pada dorsal jari tetapi lebih tipis
tetapi tanpa unit pilosebaseus. Bagian depan melanjut menjadi matrix germinative
menutupi kira-kira seperempat lempeng kuku. Lipatan kuku proksimal berdekat
dengan permukaan lemnpeng kuku. Batas antara lipatan kuku proksimal dan matriks
kuku yaitu tempat hilangnya lapisan granular

Kutikula
Celah dua permukaan epitel PNF, bagiandistal ke permukaan kuku, menuup PNF dan
kuku. Melindungi struktur pada dasar kuku ( matriks germinative ) dari iritasi, alergi,
bakteri patogen / jamur . Kehilangan kutikula menghasilkan potensi ruang atau celah :
radang clah ini menyebabkan paronychia kronis
Lipatan Lateral
Biasanya menutupi bagian ujung lateral
Lunula

Dibagian bawah lipatan proksimal. Normalnya berwarna putih. Merupakan daerah


yang paling distal dari matriks
Matriks Kuku
Matriks kuku adalah jaringan yang melindungi kuku, bagian dari kuku yang terletak
di bawah kuku dan berisi saraf, getah bening dan pembuluh darah Matriks
bertanggung jawab. memproduksi sel-sel yang menjadi lempeng kuku. Lebar dan
ketebalan lempeng kuku ditentukan oleh ukuran, panjang, dan ketebalan dari matriks,
sedangkan bentuk dari ujung jari itu sendiri menunjukkan jika lempeng kuku yang
rata, melengkung atau bengkok Matriks akan terus tumbuh selama ia menerima
nutrisi dan tetap dalam kondisi sehat Seperti sel-sel kuku baru dibuat, mereka
mendorong sel-sel lempeng tua ke depan;. Dan dengan cara ini sel-sel tua tertekan,
datar, dan tembus. Hal ini membuat kapiler di kuku di bawah terlihat, menghasilkan
warna merah muda2
Hiponikium
Hiponikium adalah epitel terletak di bawah lempeng kuku di persimpangan antara
tepi bebas dan kulit ujung kuku. Ini membentuk bagian yang melindungi kuku. Pita
onychodermal adalah bagian antara lempeng kuku dan hyponychium tersebut. Hal ini
ditemukan tepat di bawah tepi bebas, yang sebagian dari kuku berakhir dan dapat
dikenali dengan warna keabu-abuan (pada orang berkulit putih)2.

Gambar 4. Histologi hyponychium


Sumber : http://classroom.sdmesa.edu/anatomy/Histologypages/integument.htm
5

Eponikium
Eponikium adalah bagian kecil dari epitel yang memanjang dari dinding kuku
posterior ke dasar kuku.Sering disebut lipatan proksimal atau kutikula, eponikium
adalah akhir dari lipatan proksimal merupakan epidermis lapisan kulit yang baru
membentuk lempeng kuku. Lapisan non-hidup, kulit yang hampir tidak terlihat
adalah kutikula merupakan permukaan lempeng kuku. Bersama-sama, eponychium
dan kutikula membentuk segel pelindung. Kutikula pada lempeng kuku adalah sel-sel
mati dan sering dihapus selama manikur. tapi eponychium ini sel-sel hidup dan tidak
boleh disentuh2.

Gambar 5. Eponychium (E)


II.2 Paronikia
II.2.1 Definisi
Paronikia adalah inflamasi dan atau infeksi pada area perioncyhium (yaitu
area disekitar kuku yang meliputi lipatan kuku lateral dan proksimal).1,2,3 Paronikia
dapat bersifat akut dan sebagian besar disebabkan oleh bakteri dan kronik yang
disebabkan oleh bahan iritan atau alergik serta infeksi sekunder oleh Candida2.
Paronikia kronis berlangsung selama lebih dari 6 minggu, bersifat rekalsitran dan
mengenai satu atau lebih dari tiga lipatan kuku (satu lipatn proksimal dan dua lipatan
lateral).1
II.2.2 Klasifikasi
A. Paronikia Akut
1. Etiologi dan Faktor Predisposisi
Paronychia akut kerupakan keluhan yang sering terjadi

dan biasanya

disebabkan oleh stafilokokus. Keadaan ini dapat disebabkan oleh trauma

langsung ataupun tidak langsung, misalnya kuku pecah, menggigit kuku,


menghisap kuku, kuku yang tumbuh ke dalam, akibat manikur, pemakaian
kuku palsu atau dapat pula terjadi tanpa trauma terlebih dahulu. Bakteri
patogen yang sering menyebabkan paronikia akut antara lain, Streptococcus
pyogenes , Pseudomonas pyocyaneaceae, Organisme koliform dan Proteus
Vulgaris, flora normal yang berasal dari mulut, bakteri anaerob gram negatif 3.
2. Manifestasi Klinis
Gejala klinis paronikia akut berupa nyeri yang terlokalisir, lipatan proksimal
kuku berwarna merah, membengkak dan teraba hangat. Jika tidak segera
diterapi, dapat muncul suatu kumpulan pus yang dapat membentuk sebuah
abses di bawah lipatan kuku. Fluktuasi dan purulensi local pada perbatasan
kuku dapat terjadi selama beberapa hari, lipatan kuku menjadi tegang dan
nyeri berdenyut merupakan gejala utamanya.2 Jika intervensi bedah terlambat
dilakukan, pus akan meluas ke bawah lipatan kuku proksimal, mengenai dasar
kuku dan meyebabkan matriks kuku mengalami inflamasi, hal ini yang
bertanggung jawab terhadap adanya distrofi lempeng kuku, baik sementara
atau permanen1,2

Gambar 8. Paronychia akut


Sumber
:http://derm-imaging.org/wp-content/uploads/DSCN8383-.jpg

3. Diagnosis
Diagnosis paronychia akut berdasar riwayat trauma, penemuan pada
pemeriksaan fisik lipat kuku. Tes tekan jari dapat membantu pada infeksi
stadium awal keberadaan atau luas abses Pengujian ini dilakukan meminta
pasien menjauhkan ibu jari dan jari yang terkena, kemudian memberi tekanan
ringan pada aspek volar distal digit yang terkena. Peningkatan tekanan di
dalam lipatan kuku (khususnya cavum abses) menyebabkan perubahan warna
menjadi putih dari kulit di atasnya dan demarkasi yang jelas dari abses. Pada
pasien dengan infeksi berat atau abses, spesimen harus diperoleh untuk
mengidentifikasi patogen yang bertanggung jawab dan untuk menyingkirkan
infeksi Staphylococcus aureus resisten metisilin (MRSA)3.
Selain gambaran klinis perlu dilakukan pemeriksaan penunjang, yaitu :
(1) pemeriksaan gram dan uji sensitivitas bacterial, (2) KOH jika dicurigai
adanya infeksi Candida, (3) Tzanck smear jika dicurigai adanya herpetic
whitlow, dan (4) biopsi jika terdapat kecurigaan adanya keganasan.
8

4. Tatalaksana
Penatalaksanaan paronikia akut antara lain rendam air hangat 3-4 kali
dalam sehari, terapi ini efektif di saat awal terjadinya penyakit disaat belum
terbentuk abses (tidak ada tanda fluktuasi). Namun jika infeksi tetap
berlangsung, rendam hangat dapat dilakukan sebagai terapi tambahan
penggunaan agen oral antistaphylokokus dan bebat untuk melindungi bagian
jari yang terkena.1 Jika terdapat abses maka perlu dilakukan insisi pada puncak
dimana

nyeri

paling

hebat

dirasakan,

bukan

pada

lokasi

dengan

pembengkakan yang maksimal, serta dilakukan drainase.2 Antibiotik oral yaitu


clindamycin dan kombinasi amoxicillin-asam clavulanate efektif melawan
pathogen Staphylococcu aureus dan memiliki aktivitas untuk kuman anaerob.
Antiseptic topical seperti chlorhexidine atau povidone-iodine serta rendam air
hangat dapat diberikan secara bersamaan dengan pemberian antibiotic
sistemik.2 Kultur aerob dan anaerob dari infeksi paronikia yang berat
disarankan sebekum pemberian antimicrobial. Jika kondisi paronikia
terabaikan, pus dapat menyebar ke bawah kuku melalui sulkus menuju sisi
yang berlawanan, sehingga mengangkat dan menisahkan lempeng kuku dari
matriks dibawahnya. Hal ini membutuhkan terapi yang kompleks, yaitu
pelepasan kuku untuk membuat drainase yang cukup.1,2
B. Paronikia Kronis
1. Etiologi dan Faktor Predisposisi
Paronychia kronik adalah penyakit inflamasi multifaktorial pada
lipatan kuku proximal terhadap iritan dan alergen. Penyakit ini sebagai hasil
berbagai kondisi seperti mencuci piring, menghisap jari, pengangkatan
kutikula pada manikur, kontak dengan bahan kimia.
Penyakit ini sering terjadi pada orang yang tangannya banyak terkena
air, pada orang yang diabetik. Lebih sering pada wanita daripada pria. Dapat
timbul pada umur berapa saja,tetapi kasus tersering adalah antara 30 sampai
60 tahun. Kadang-kadang terlihat pada anak-anak, terutama akibat pengisapan
jari atau jempol. Merupakan penyakit yang dominan pada ibu-ibu rumah
9

tangga dan orang yang mempunyai pekerjaan tertentu seperti juru masak,
pelayan bar, pedagang ikan, Gejala dimulai sebagai pembengkakan ringan,
jauh lebih ringan daripada paronychia akut.5 Kutikula dapat hilang dan
pus dapat terbentuk di bawah lipat kuku. Paronychia kronis dapat disebabkan
oleh infeksi Candida albicans, eksaserbasi akut dapat terjadi dan biasanya
disebabkan oleh

infeksi

bakteri

sekunder.

Berbagai

organisme

dapat ditemukan, termasuk Stafilokokus aureus atau albus, Proteus vulgaris,


Escherichia coli dan Pseudomonas pyocyanea5. Penggunaan obat sistemik,
seperti retinoid dan proteasem inhibitor, seperti indinavir, lamivudin dapat
menyebabka paronychia kronis. Indinavir paling sering menyebabkan
paronychia kronis atau rekuren pada jari kaki atau tangan pada orang yang
terinfeksi HIV. Mekanisme indinavir dan retinoid menyebabkana paronychia
kronis belum jelas. Paronychia dilaporkan juga terjadi pada pasien yang
mengonsumsi cetuximab, antibodi reseptor faktor pertumbuhan anti epidermal
yang digunakan untuk mengobati tumor1,3,5.

Gambar 9. Paronychia kronis dengan dermatitis pada tangan


2. Manifestasi Klinis
Gejala klinis paronikia kronis menyerupai paronikia akut biasanya
tidak supuratif dan tidak terdapat fluktuasi. Kemerahan, bengkak, lunak pada
lipatan kuku proksimal dan lateral.1,2,3 Serta keluhan adanya cairan dibawah
lipatan kuku, penebalan lempeng kuku dan perubahan warna kuku.4 Secara
morfologi, khas ditandai oleh indurasi paronychium, episode kekambuhan

10

dari inflamasi akut eponychial dan drainase. Dapat muncul suatu


onychomaidesis transverse striation, pitting, hypertrofi pada lempeng kuku
akibat inflamasi matriks kuku.11 Gejala ini menetap selama 6 minggu atau
lebih. Fluktuasi jarang didapatkan dan warna kemerahan sedikit berkurang
jika dibandingkan dengan paronikia akut.1,3 Kutikula hilang dan bagian ventral
lipatan kuku proksimal terpisah dari lempeng kuku membentuk celah untuk
berbagai mikroba untuk menginvasi.1 Lipatan kuku tertarik, menebal dan
membulat. Seiring berjalannya waktu, lempeng kuku menebal mengalami
perubahan warna menjadi kuning, coklat atau kehitaman; hal ini dapat meluas
hingga sebagian besar kuku dan kadangkala seluruh kuku dapat terkena.1,3
Permukaan kuku menjadi kasar dan rapuh, terdapat garis irregular yang
melintang akibat eksaserbasi akut yang berulang.1,2,3,4 Ukuran kuku mengecil,
akibat efek pendesakan dari proses inflamasi di jaringan lunak sekitar kuku.2

11

3. Penatalaksanaan
Dasar terapi paronikia kronis bertujuan untuk menghindari factor yang
merusak kutikula dan meminimalisir kerusakan lebih lanjut dengan
mengurangi manipulasi kuku. Yang pertama adalah dengan menghindari
paparan terhadap lingkungan yang lembab, serta bahan allergen atau atau

12

kontak iritan seperti sabun dan deterjen. Area yang terkena harus dijaga dalam
keadaan kering.2,12 Terapi lini pertama adalah dengan steroid topical dan
sistemik.4 Aplikasi steroid topical potensi tinggi (clobetasol propionate 0,05%)
sekali sehari tiap malam merupakan terapi lini pertama yang efektif. 2 Jika
didapatkan infeksi Candida, sebaiknya diberikan topical glongan imidazole
pada pagi hari. Terapi dengan kombinasi topical steroid dan agen antifungal
telah menunjukkan keberhasilan. Pada kasus berat, steroid intralesi atau
steroid sistemik (prednisone 20 mg/hari) dapat digunakan selama beberapa
hari untuk mengurangi inflamasi dan nyeri.2,13
Tacrolimus berperan pada fase elisitasi dermatitis kontak alergi dengan
menghambat migrasi sek dendritic menuju aliran kelenjar getah bening dan
menekan reaksi tes temple kontak dan iritan. 14,15 Tacrolimus ointment juga
dapat meningkatkan fungsi barrier pada peryonychium yang sedang
mengalami inflamasi.
Eksaserbasi akut paronikia kronis tidak memerlukan pemberian
antibiotic karena dapat reda sendiri secara spontan dalam waktu singkat. Pada
kondisi yang berpotensi terjadinya infeksi bacterial sekunder dapat diberikan
solusio atau salep antibacterial, larutan acetic acid, atau antibiotic oral.
Pemulihan sempurna biasanya membutuhkan waktu beberapa minggu dan
terpi sebaiknya diteruskan hingga kutikula tumbuh kembali. Kekambuhan
sering terjadi karena fungus barrier liapatn proksimal kuku masih belum
normal selama beberapa bulan atau tahun setelah episode paronikia kronis.2
Intervensi bedah dilakukan ketika paronikia kronis menjadi rekalsitran
dan tidak respon terhadap terapi medis,2,4 dengan tujuan melepas jaringan
inflamasI yang kronis, sehingga penetrasi obat topical maupun oral serta
regenerasi kutikula menjadi efektif.4 Intervensi bedah tersebut adalah melepas
lipatan kuku proksimal dan latelal bersamaan dengan lempeng kuku
proksimal, lalu diikuti dengan aplikasi salep antifungal-steroid pada dasar
kuku.1,2 Penyembuhan normal memakan waktu kira-kira 8 minggu setelah
prosedur ini.

13

Terdapat beberapa teknik intervensi bedah yang dapat dilakukan, yaitu


(1) teknik marsupialisaso eponychial, (2) teknik eksisi en bloc, dan (3) teknik
Swiss roll

14

BAB III
KESIMPULAN
Paronychia adalah salah satu

penyakit yang sering menyerang tangan.

Paronychia merupakan penyakit infeksi superfisial terlokalisir

atau abses pada

perionikiuim (lipat kuku) tangan, jarang pada kaki. Paronychia terjadi jika adanya
kerusakan pada daerah kulit lipat kuku yang berbatasan dengan lempeng kuku
sehingga kuman dapat masuk.
Paronychia akut kerupakan keluhan yang sering terjadi

dan biasanya

disebabkan oleh stafilokokus. Keadaan ini dapat disebabkan oleh trauma langsung
ataupun tidak langsung, misalnya kuku pecah, menggigit kuku, menghisap kuku,
Bakteri patogen yang sering menyebabkan paronikia akut antara lain, Streptokokus
pyogenes , Pseudomonas pyocyaneaceae, Organisme koliform dan Proteus Vulgaris,
flora normal yang berasal dari mulut, bakteri anaerob gram negatif.
Paronychia kronik adalah penyakit inflamasi multifaktorial pada lipatan
kuku proximal terhadap iritan dan alergen. Penyakit ini sebagai hasil berbagai kondisi
seperti mencuci piring, menghisap jari, pengangkatan kutikula pada manikur, kontak
dengan bahan kimia
Manifestasi paronikia akut Pada paronikia biasanya hanya satu jari kuku
yang terkena, Kondisi ini ditandai oleh eritema, edema, rasa nyeri pada lipat kuku
lateral dan proximal. Biasanya terjadi dua sampai lima hari serelah trauma.
Manifestasi klinis yang mirip dengan paronychia akut: eritema, nyeri, dan
bengkak, dengan terangkatnya lipatan kuku proksimal dan tidak adanya kutikula yang
15

berdekatan. Nanah bisa terbentuk di bawah lipat kuku. Satu atau beberapa kuku
biasanya terkena, biasanya ibu jari dan kedua atau ketiga tangan dominan. Lempeng
kuku menjadi tebal dan berwarna. Paronychia kronis umumnya terdapat selama
setidaknya enam minggu pada saat diagnosis.
Pengobatan paronikia akut dan kronis yang umum digunakan adalah
antibiotik peroral , antibiotik topikal, antimikotik, kortikosteroid topikal atau
kombinasi antara kortikosteroid topikal dan anti jamur.

DAFTAR PUSTAKA
1. Rockwell PG. Acute and chronic paronychia. Am Fam Physician
2001;63:1113-6

16

2. Baran R, Dawber RPR, Haneke E, Tost A, Bristow I, Thomas L, and Drape


JL. A text Atlas Of Nail Disorders. 3rd ed. New York : Martin Dunitz;
2003.p.114-32
3. Rich P. Scher RK. An Atlas of Diseases of The Nail. New York: Pathernon
Publishing Group; 2005.p.69-74
4. Relhan V, Goel K, Bansal S, Garg VK. Management Of Chronis Paronychia.
Indian J Dermatol 2014; 59 : 15-20
5. Fleckman P. Structure and Function Of The Nail Unit. In: Scher RK, Daniel
CR III, editors. Nails: Diagnosis, Therapy, Surgery. Oxford ; Elsevier Sanders;
2005.p.14
6. Tosti A, Piraccini BM. Biology Of Nails and Nail Disorder. In: Wolff K,
Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, editors.
Fitzpatrickss Dermatology in General Medicine, 8th ed. New York: The
McGraw Hill Companies;2012.p.1878
7. Gregorius S, Argyriou G, Larios G, Rigopoulos D. Nail Disirders and
Systemic Disease: What The Nails Tell Us. J Farm Pract.2008;57(8): 509-514
8. Habif TF. Clinical Dermatology: A Color Guide To Diagnoss and Theraphy.4th
ed. Edinburgh: Mosby; 2004.0.871-2
9. Roberts JR. Fingertrip Problems: acute paronychia. Am Fam Physician.
2010;77:12-15
10. Bednar MS, Lane LB. Eponychial marsupialization and nail removal for
surgical treatment of chronic paronychia. J Hand Surg Am 1991;16:3314-7
11. Grover C, Reddy BSN, Chaturvedi KU. Nail biopsy an assessment of
indication and outcome. Dermatology SUrg 2005;31:190-4
12. Rigopoulos D, Larios G, Gregorio S, Alevizos A. Acute and chronis
paronychia. Am Fam Physician 2008;77:339-48
13. Tosti A, Piraccini BM, Ghetti E, Colombo MD. Topical steroids versus
systemic antifungal in the treatment of chronic paronychia: An open
randomized double blind and double dummy study, J AM Acad Dermatol
2002;47:73-6
14. Rigopoulos D, Gregorio S, Belyayeva E, Larios G, Kontrochristopoulos G,
Katsambas A. Efficacy and bethamethason 17-valerate 0.1% in the treatment
of study. Br J Dermatol 2009;160:858-60

17

15. Lauerma AI, Stein BD, Homey B. topical FK 506: Suppression of allergic and
irritant contact dermatitis in the guinea pig. Arch Dermatol Res 1994;286:33740

18